Selasa, 01 April 2014

KEMATIAN







KEMATIAN

Sebelum  membicarakan  wawasan  Al-Quran  tentang  kematian, terlebih  dahulu  perlu  digarisbawahi  bahwa kematian dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi  sekali,  tetapi  dua kali. Surat Ghafir ayat 11 mengabadikan sekaligus membenarkan ucapan orang-orang kafir di hari kemudian:
 
     "Mereka berkata, 'Wahai Tuhan kami, Engkau telah      mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan      kami dua kali (pula), lalu kami menyadari      dosa-dosa kami maka adakah jalan bagi kami untuk
     keluar (dari siksa neraka)?"
 
Kematian  oleh   sementara   ulama   didefinisikan   sebagai "ketiadaan  hidup,"  atau  "antonim  dari  hidup."  Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum  Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya; sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia  yang  fana  ini. Kehidupan  pertama  dialami  oleh  manusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia,  sedang  kehidupan kedua  saat  ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat.
 
Al-Quran  berbicara  tentang  kematian  dalam  banyak  ayat, sementara pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara  tentang  berbagai  aspek  kematian  dan kehidupan sesudah kematian kedua.
 
KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN
 
Secara   umum  dapat  dikatakan  bahwa  pembicaraan  tentang kematian bukan  sesuatu  yang  menyenangkan.  Namun  manusia bahkan  ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran  pun  melukiskan keinginan  sekelompok  manusia  untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil  merayu  Adam  dan Hawa   melalui   "pintu"   keinginan   untuk   hidup   kekal selama-lamanya.
 
     "Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup)      dan kekuasaan yang tidak akan lapuk? (QS Thaha
     [20]: 120).
 
DEMIKIAN IBLIS MERAYU ADAM.
 
Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada  orang yang  enggan  mati  karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; mungkin  juga  karena  menduga bahwa  yang  dimiliki  sekarang  lebih  baik  dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit  dan  pedih  pengalaman  mati  dan  sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir  memikirkan  dan  prihatin  terhadap keluarga  yang  ditinggalkan,  atau  karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.
 
Dari   sini   lahir   pandangan-pandangan   optimistis   dan pesimistis terhadap  kematian  dan  kehidupan,  bahkan  dari kalangan para pemikir sekalipun.
 
Manusia,   melalui   nalar  dan  pengalamannya  tidak  mampu mengetahui hakikat kematian,  karena  itu  kematian  dinilai sebagai  salah  satu  gaib nisbi yang paling besar. Walaupun pada  hakikatnya  kematian  merupakan  sesuatu  yang   tidak diketahui,   namun  setiap  menyaksikan  bagaimana  kematian merenggut nyawa yang hidup manusia semakin  terdorong  untuk mengetahui  hakikatnya  atau,  paling tidak, ketika itu akan terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika  ia  pun  pasti mengalami nasib yang sama.
 
Manusia  menyaksikan  bagaimana  kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak  pula  menangguhkan  kehadirannya  sampai terpenuhi  semua  keinginan.  Di  kalangan  sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan,  apalagi  bagi  mereka  yang memandang  bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai  kehidupan ini  sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan  menghindari sedapat  mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas  tanpa  kendali,  demi mewujudkan  eksistensi manusia. Bukankah kematian akhir dari segala sesuatu? Kilah mereka.
 
Sebenarnya akal dan perasaan  manusia  pada  umumnya  enggan menjadikan  kehidupan  atau  eksistensi mereka terbatas pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa  mereka harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian sebagai  kepunahan  tercermin antara lain melalui penciptaan berbagai cara  untuk  menunjukkan  eksistensinya.  Misalnya, dengan  menyediakan  kuburan,  atau  tempat-tenapat tersebut dikunjunginya dari saat ke  saat  sebagai  manifestasi  dari keyakinannya  bahwa  yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada.
 
Hubungan antara yang hidup dan  yang  telah  meninggal  amat berakar  pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum kehadiran agama-agama besar dianut  oleh umat  manusia  dewasa  ini.  Sedemikian berakar hal tersebut sehingga orang-orang Mesir  Kuno  misalnya,  meyakini  benar keabadian manusia, sehingga mereka menciptakan teknik-teknik yang dapat mengawetkan  mayat-mayat  mereka  ratusan  bahkan ribuan tahun lamanya.
 
Konon  Socrates  pernah  berkata,  sebagaimana  dikutip oleh
Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297),
 
     "Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi)      kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian,      namun ketika aku menemukan kematian, aku pun      menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus      prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira      dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati      untuk hidup."
 
Demikian  gagasan  keabadian  hidup  manusia  hadir  bersama manusia   sepanjang  sejarah  kemanusiaan.  Kalau  keyakinan orang-orang Mesir Kuno mengantar  mereka  untuk  menciptakan teknik  pengawetan  jenazah  dan  pembangunan  piramid, maka dalam pandangan pemikir-pemikir  modern,  keabadian  manusia dibuktikan oleh karya-karya besar mereka.
 
Abdul  Karim  Al-Khatib  dalam  bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah (I:214)  mengutip  tulisan   Goethe   (1749-1833   M)   yang menyatakan:
 
     "Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir      dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti      yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah      mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya,      maka adalah merupakan hak saya atas alam ini untuk      menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan      saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul      beban jiwa."
 
Demikian filosof Jerman itu menjadikan kehidupan duniawi ini sebagai  arena  untuk  bekerja keras, dan kematian merupakan pintu  gerbang  menuju   kehidupan   baru   guna   merasakan ketenangan dan keterbebasan dari segala macam beban.
 
PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN
 
Agama,  khususnya  agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal  dari  satu perjalanan   panjang   dalam   evolusi   manusia,   di  mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.
 
Kematian  dalam  agama-agama  samawi  mempunyai peranan yang sangat    besar    dalam    memantapkan     akidah     serta menumbuhkembangkan   semangat  pengabdian.  Tanpa  kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa  sesudah  mati,  dan tidak  akan  mempersiapkan  diri  menghadapinya. Karena itu, agama-agama  menganjurkan  manusia  untuk  berpikir  tentang kematian.    Rasul   Muhammad   Saw.,   misalnya   bersabda, "Perbanyaklah mengingat pemutus  segala  kenikmatan  duniawi
(kematian)."
 
Dapat  dikatakan  bahwa  inti  ajakan  para  Nabi  dan Rasul setelah kewajiban percaya  kepada  Tuhan,  adalah  kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian.
 
Dari  Al-Quran  ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam-macam   dan   bertingkat-tingkat.   Ada   kehidupan tumbuhan,  binatang,  manusia,  jin, dan malaikat, sampai ke tingkat tertinggi  yaitu  kehidupan  Yang    Mahahidup   dan Pemberi Kehidupan. Di sisi lain, berulang kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di  dunia  dan  ada  pula  kehidupan  di akhirat.  Yang  pertama  dinamai  Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah),  sedangkan  yang  kedua  dinamainva al-hayawan (kehidupan yang sempurna).
 
     "Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan      (kehidupan yang sempurna" (QS Al-'Ankabut [29]:
     64).
 
Dijelaskan pula bahwa,
 
     "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang      akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan      kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak      akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa' 14]: 77)
 
Di lain ayat dinyatakan,
 
     "Hai orang-orang yang beriman, mengapa jika      dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berjuang      di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin      tinggal tetap di tempatmu? Apakah kamu puas dengan      kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di      akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini      dibanding dengan akhirat (nilai kehidupan duniawi      dibandingkan dengan nilai kehidupan) di akhirat      hanyalah sedikit (QS At-Tawbah [9]: 38).
 
Betapa kehidupan  ukhrawi  itu  tidak  sempurna,  sedang  di sanalah  diperoleh  keadilan  sejati  yang  menjadi  dambaan setiap manusia, dan di sanalah  diperoleh  kenikmatan  hidup yang tiada taranya.
 
Satu-satunya   jalan   untuk   mendapatkan   kenikmatan  dan kesempurnaan itu, adalah  kematian,  karena  menurut  Raghib
Al-Isfahani:
 
     "Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh      dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia
     menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah      perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain,      sebagaimana dirtwayatkan bahwa, "Sesungguhnya      kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian      harus berpindah dan satu negen ke negen (yang      lain) sehingga kalian menetap di satu tempat."
     (Abdul Karim AL-Khatib, I:217)
 
Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya  adalah  kelahiran  yang  kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur.  Anak  ayam yang   terkurung   dalam   telur,   tidak   dapat   mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas. Demikian juga  manusia,  mereka  tidak  akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini (mati).
 
Ada beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk  menunjuk kepada   kematian,   antara  lain  al-wafat  (wafat),  imsak
(menahan).
 
Dalam surat Al-Zumar (39): 42 dinyatakan bahwasanya,  
     "Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan      jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka
     Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan      baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang      yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu."
 
Ar-Raghib menjadikan istilah-istilah tersebut sebagai  salah satu  isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang  lebih mulia  dan  baik  dibanding dengan kehidupan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta  imsak yang berarti menahan (di sisi-Nya)?
 
Memang,  Al-Quran  juga  menyifati  kematian sebagai musibah malapetaka (baca surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi  agaknya istilah  ini  lebih  banyak  ditujukan  kepada  manusia yang durhaka, atau terhadap mereka  yang  ditinggal  mati.  Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi  mereka  yang  mati tanpa  membawa  bekal  yang  cukup  untuk  hidup  di  negeri seberang.

Kematian  juga  dikemukakan  oleh  Al-Quran  dalam   konteks menguraikan  nikmat-nikmat-Nya  kepada  manusia. Dalam surat Al-Baqarah (2): 28 Allah mempertanyakan  kepada  orang-orang kafir.
 
     "Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu      tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya),      kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya      kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya."
 
Nikmat yang diakibatkan  oleh  kematian,  bukan  saja  dalam kehidupan   ukhrawi   nanti,  tetapi  juga  dalam  kehidupan duniawi, karena tidak dapat  dibayangkan  bagaimana  keadaan dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian.
 
Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil  sama  sekali  bagi makhluk  manusia  yang  mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk  dilemparkan  begitu  saja  bagai  barang  yang  tidak berharga.  Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa  itu dengan  jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
 
     "Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman      kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa      atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan      hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu      yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia      Mahamulia lagi Maha Pengampun" (QS Al-Mulk [67]:
     1-2).1
 
Demikian  terlihat  bahwa  kematian  dalam  pandangan  Islam bukanlah  sesuatu  yang  buruk,  karena di samping mendorong manusia untuk  meningkatkan  pengabdiannya  dalam  kehidupan dunia  ini,  ia  juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
 
KEMATIAN HANYA KETIADAAN HIDUP DI DUNIA
 
Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah  ketiadaan  hidup  secara  mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia,  dalam  arti  bahwa  manusia  yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.
 
     "Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang      gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu      hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS
     Ali-'Imran [3]: 169).
     
     "Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang      yang meninggal di jalan Allah bahwa 'mereka itu      telah mati,' sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu      tidak menyadarinya" (QS Al-Baqarah [2]: 154).
 
Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara'  bin
Azib,  bahwa  Rasulullah Saw., bersabda ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, "Sesungguhnya untuk dia  (Ibrahim)
ada seseorang yang menyusukannya di surga."
 
Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang  musyrik  yang  tewas  dalam  peperangan   Badar dikuburkan    dalam    satu    perigi    oleh    Nabi    dan sahabat-sahabatnya, beliau  "bertanya"  kepada  mereka  yang telah  tewas  itu,  "Wahai  penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai  Abu Jahl   bin   Hisyam,  (seterusnya  beliau  menyebutkan  nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per  satu).  Wahai penghuni  perigi!  Adakah  kamu  telah  menemukan  apa  yang dijanjikanTuhanmu itu benar-benar ada? Aku  telah  mendapati
apa yang telah dijanjikan Tuhanku."
 
"Rasul. Mengapa  Anda  berbicara  dengan  orang  yang  sudah tewas?"  Tanya  para  sahabat.  Rasul menjawab: "Ma antum hi asma' mimma aqul minhum,  walakinnahum  la  yastathi'una  an yujibuni  (Kamu  sekalian tidak lebih mendengar dari mereka,
tetapi mereka tidak dapat menjawabku)."2
 
Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran dan kehidupan baru.
 
MENGAPA TAKUT MATI?
 
Di atas telah dikemukakan beberapa faktor  yang  menyebabkan seseorang merasa cemas dan takut terhadap kematian.
 
Di sini akan dicoba untuk melihat lebih jauh betapa sebagian dari  faktor-faktor  tersebut  pada  hakikatnya  bukan  pada tempatnya.
 
Al-Quran  seperti  dikemukakan  berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia.
 
     "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu      daripada dunia" (QS Al-Dhuha [93]: 4).
 
Musthafa  Al-Kik  menulis  dalam   bukunya   Baina   Alamain bahwasanya  kematian  yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan  jantung,  tabrakan,  dan sebagainya,  dan  dapat  juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses  menua  secara  perlahan.  Yang  mati mendadak  maupun  yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat)  yakni  semacam  hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad.
 
Dalam  keadaan  mati  mendadak,  sakarat  al-maut  itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat  sakit  karena  kematian  yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti "duri yang berada  dalam kapas,  dan  yang dicabut dengan keras." Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut  nyawa  dengan  keras)  (QS  An-Nazi'at  [79]:  1), sebagai isyarat  kematian  mendadak.  Sedang  lanjutan  ayat surat     tersebut     yaitu    Wan    nasyithati    nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh  dengan  lemah  lembut) sebagai   isyarat   kepada   kematian  yang  dialami  secara perlahan-lahan.3
 
Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang  dinyatakan oleh  ayat  di  atas  sebagai "dicabut dengan lemah lembut," sama keadaannya dengan proses yang  dialami  seseorang  pada saat  kantuk  sampai  dengan  tidur. Surat Al-Zumar (39): 42 yang  dikutip   sebelum   ini   mendukung   pandangan   yang mempersamakan  mati  dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa  yang diajarkan  Rasulullah  Saw.  untuk  dibaca  pada saat bangun tidur adalah:
 
     "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami
     (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami
     (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan
     (kelak)."
 
Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar (39): 42 sebagai berikut:
 
     "Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua      hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian      adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang      tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna
     dilihat dari beberapa segi."
 
Kalau  demikian.  mati  itu  sendiri  "lezat  dan   nikmat," bukankah   tidur   itu   demikian?  Tetapi  tentu  saja  ada faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan  kematian  lebih lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya   mimpi-mimpi   buruk   yang    dialami    manusia. Faktor-faktor  ekstern  tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini
 
Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam   Ahmad   menjelaskan   bahwa,  "Seorang  mukmin,  saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh  malaikat  sambil menyampaikan  dan  memperlihatkan  kepadanya  apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya  kecuali  bertemu  dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya  dengan  orang  kafir  yang   juga   diperlihatkannya kepadanya  apa  yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya  daripada  bertemu  dengan
Tuhan."
 
Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman,  
     "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa
     Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan      pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada      mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu merasa      takut dan jangan pula bersedih, serta      bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah      kepada kamu.'"
 
Turunnya  malaikat  tersebut  menurut  banyak  pakar  tafsir adalah  ketika  seseorang  yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi  kematian.  Ucapan  malaikat, "Janganlah  kamu  merasa  takut"  adalah  untuk  menenangkan mereka menghadapi maut  dan  sesudah  maut,  sedang  "jangan bersedih"   adalah   untuk  menghilangkan  kesedihan  mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan  seperti  anak, istri, harta, atau hutang.
 
Sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan:
 
     "Kalau sekuanya kamu dapat melihat
     malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang      kafir seraya memukul muka dan belakang mereka      serta berkata, 'Rasakanlah olehmu siksa neraka      yang membakar' (niscaya kamu akan merasa sangat
     ngeri)" (QS Al-Anfal [8]: 50)
     
     "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di      waktu orang-orang yang zalim berada dalam      tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para      malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata,      'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas      dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu      selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang      tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan      diri terhadap ayat-ayat-Nya" (QS Al-An'am [6]:
     93).
 
Di  sisi  lain,  manusia  dapat  "menghibur"  dirinya  dalam menghadapi   kematian  dengan  jalan  selalu  mengingat  dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak  seorang pun  akan  luput  darinya,  karena  "kematian  adalah risiko
hidup." Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa,
 
     "Setiap jiwa akan merasakan kematian?" (QS Ali
     'Imran [3]: 183)
     
     "Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk      seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu      meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS
     Al-Anbiya' [21]: 34)
 
Keyakinan  akan  kehadiran  maut  bagi  setiap  jiwa   dapat membantu meringankan beban musibah kematian. Karena, seperti diketahui, "semakin banyak yang terlibat dalam  kegembiraan, semakin   besar   pengaruh   kegembiraan   itu   pada  jiwa; sebaliknya,  semakin  banyak  yang  tertimpa  atau  terlibat
musibah, semakin ringan musibah itu dipikul."
 
Demikian  Al-Quran  menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia taat dan durhaka, dan demikian kitab suci  irõi menginformasikan   tentang  kematian  yang  dapat  mengantar seorang mukmin agar  tidak  merasa  khawatir  menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan.
 
Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.
[]
 
Catatan kaki:
1  Tajdid Al-Fikr Al-lslami, 134.
2  Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad: 259.
3  Musthafa Al-Kik, hlm. 67

HARI AKHIRAT


HARI AKHIRAT                                             (1/4)
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
 
Ada dua hal pokok berkaitan  dengan  keimanan  yang  mengambil tempat  tidak sedikit dalam ayat-ayat Al-Quran. Pertama adalah uraian serta pembuktian tentang keesaan Allah Swt.; dan  kedua adalah  uraian dan pembuktian tentang hari akhir. Al-Quran dan hadis Nabi Saw. tidak jarang menyebut kedua hal itu saja untuk
"mewakili" rukun-rukun iman lainnya. Perhatikan misalnya:
 
   Dan ada orang-orang yang berkata, "Kami telah beriman    kepada Allah dan hari kemudian", padahal (sebenarnya)    mereka bukan orang-orang mukmin (QS Al-Baqarah [2]:
   8).
 
   Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah    adalah yang beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS
   Al-Tawbah [9]: 18).
   
   Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang
   Yahudi, Shabiin, dan orang-orang Nasrani, siapa saja    diantara mereka yang beriman kepada Allah, hari    kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada    kekhawatiran untuk mereka dan tidak (pula) mereka    bersedih hati (QS Al-Ma'idah [5]: 69).
 
Perhatikan juga sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah yang menyatakan:
 
   Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,    maka hendaklah dia berkata benar atau diam. Siapa yang    beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah    ia menghormati tamunya.
 
Demikian terlihat bahwa keimanan kepada Allah  berkaitan  erat dengan  keimanan  kepada hari kemudian. Memang keimanan kepada Allah tidak  sempurna  kecuali  dengan  keimanan  kepada  hari akhir.  Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna  motivasinya dengan   keyakinan   tentang   adanya  hari  kemudian.  Karena kesempurnaan ganjaran dan balasannya hanya ditemukan  di  hari kemudian nanti.
 
Banyak  redaksi yang digunakan Al-Quran untuk menguraikan hari akhir,  misalnya  yaum  Al-Ba'ts   (hari   kebangkitan)   yaum Al-Qiyamah  (hari kiamat),' yaum Al-Fashl (hari pemisah antara pelaku kebaikan dan kejahatan), dan masih banyak lainnya.
 
Al-Quran  Al-Karim  menguraikan  masalah  kebangkitan   secara panjang   lebar   dengan   menggunakan   beberapa  metode  dan pendekatan. Kata "Al-Yaum Al-Akhir" saja terulang sebanyak  24 kali,  di  samping  kata  "akhirat" yang terulang sebanyak 115 kali. Belum lagi kata-kata padanannya. Ini menunjukkan  betapa besar perhatian Al-Quran dan betapa penting permasalahan ini.
 
Banyak juga sisi dari "hari" tersebut yang diuraikan Al-Quran, dan uraian itu -yang tidak jarang berbeda informasinya; bahkan berlawanan-   diletakkan  dalam  berbagai  surat.  Seakan-akan Al-Quran  bermaksud  untuk  memantapkan   keyakinan   tersebut -bagian  demi  bagian  serta  fasal  demi  fasal-  dalam  jiwa pemeluknya. Di sisi  lain,  banyak  pula  cara  yang  ditempuh Al-Quran ketika menguraikan masalah tersebut serta banyak pula pembuktiannya.
 
Penafsir  besar  Al-Biqa'i   (809-885   H)   mengamati   bahwa "kebiasaan  Allah Swt. adalah bahwa Dia tidak menyebut keadaan hari kebangkitan, kecuali  Dia  menetapkan  dua  dasar  pokok, yaitu   qudrat   (kemampuan)  terhadap  segala  yang  sifatnya mungkin1 dan pengetahuan tentang  segala  sesuatu  yang  dapat diketahui   baik  yang  bersifat  kulli  (umum)  maupun  juz'i (rinci). Karena, siapa pun tidak dapat  melakukan  kebangkitan kecuali   yang   menghimpun   kedua   sifat  tersebut."  Untuk membuktikan hipotesisnya, Al-Biqa'i  mengutip  surat  Al-An'am (6): 72-73.
 
Walaupun  berdasarkan  penelitian  yang  penulis lakukan dalam rangka menyusun disertasi, apa yang dikemukakan di atas  tidak sepenuhnya  benar. Namun dapat dikatakan bahwa kebanyakan ayat Al-Qur'an  yang  berbicara  tentang  hari  kebangkitan  memang sifatnya  demikian,  apalagi  jika  dirangkaikan  dengan  ayat sebelum dan sesudahnya. Penyebutan  kedua  sifat  itu  agaknya merupakan  argumen  singkat menghadapi keraguan atau penolakan kaum musyrik menyangkut hari  kiamat  yang  berdalih:  "Apakah Tuhan  mampu  menghidupkan  kembali  tulang-belulang  dan yang telah   menyatu   dengan   tanah?   Apakah   Dia    mengetahui bagian-bagian tubuh manusia yang telah berserakan bahkan telah bercampur dengan sekian banyak makhluk selainnya?"
 
Tentu saja tulisan ini tidak dapat  menguraikan  secara  rinci seluruh  persoalan  "hari  akhir"  yang  dikemukakan Al-Quran. Namun, semoga hal-hal pokok  yang  berkaitan  dengannya  dapat dikemukakan.
 
AL-QURAN MENGHADAPI PENGINGKAR HARI AKHIR
 
Menghadapi  para pengingkar, Al-Qur'an seringkali mengemukakan alasan-alasan  pengingkaran,  baru  kemudian  menanggapi   dan menolaknya.  Hal  demikian  terlihat dengan jelas dalam uraian Al-Qur'an tentang hari akhir.
 
Pada umumnya  masyarakat  Arab  meragukan  bahkan  mengingkari adanya   hari  akhir;  sementara  yang  percaya  pun  memiliki kepercayaan keliru.
 
   Mereka berkata: "Jika kami telah menjadi    tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah    benar-benar kami masih akan dibangkitkan dalam bentuk    makhluk yang baru?" (QS Al-Isra, [17]: 49).
   
   Mereka berkata: "Ia (hidup ini) tidak lain kecuali    kehidupan kita di dunia (saja) dan kita tidak akan    dibangkitkan!" (QS Al-An'am [6]: 29).
 
Bahkan
 
   Mereka bersumpah demi Allah dengan sumpah yang    sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang    yang mati" (QS Al-Nahl [16]: 38).
 
Aneka ragam cara Al-Qur'an menyanggah  pandangan  keliru  itu, sekali  secara  langsung  dan  di  kali yang lain tidak secara langsung. Dengarkan misalnya Al-Qur'an ketika menyatakan:
 
   Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan    pertemuan dengan Allah. Apabila kiamat datang kepada    mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah    besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami    tentang kiamat"; sambil mereka memikul dosa-dosa    mereka di atas punggung mereka. Sungguh amat buruk apa    yang mereka pikul itu (QS Al-An'am [6]: 31).
   
   Orang-orang kafir (mendustakan) ayat-ayat Allah dan    pertemuan dengan-Nya Mereka itulah yang berputus asa    dari rahmatKu, dan buat mereka siksa yang pedih (QS
   Al-'Ankabut [29]: 23).
 
Anda lihat ayat-ayat  di  atas  dan  semacamnya  tidak  secara langsung  menuding  si  pengingkar, tetapi kandungan ayat-ayat itu sedemikian jelas dan tegas menyentuh setiap pengingkar.
 
Abdul-Karim Al-Khatib dalam bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah baina Al-Falsafah  wa  Ad-Din,  mengibaratkan  gaya  bahasa demikian dengan  keadaan   satu   kelompok   yang   berbicara   tentang pembunuhan.   Ketika   itu  tampil  seorang  yang  menguraikan kekejaman pembunuh dan  akibat-akibat  yang  akan  dialaminya. Ketika  menguraikan  hal  tersebut,  si  pembunuh  ikut  hadir mendengarkan ucapan-ucapan tadi. Tentu saja, pelaku pembunuhan dalam  hal  ini  akan merasa bahwa pembicaraan pada hakikatnya ditujukan kepadanya walaupun dari segi redaksi tidak demikian. Namun  justru  karena itu, hal ini malah bisa membawa pengaruh ke dalam jiwanya, sehingga diharapkan dapat  menimbulkan  rasa takut,  atau  penyesalan yang mengantarkannya kepada kesadaran dan pengakuan. Dampak psikologis ini tentu akan  berbeda  bila sejak  semula  pembicara  menuding  si pelaku kejahatan secara langsung. Kemungkinan besar ia malahan akan menyangkal.  Jadi, dalam  gaya  demikian,  redaksi-redaksi  Al-Quran  tidak  lagi mengarah kepada akal manusia, tetapi  lebih  banyak  diarahkan kepada jiwanya dengan menggunakan bahasa "hati".
 
Seperti  diketahui,  bahasa  hati  tidak  (selalu) membutuhkan argumentasi-argumentasi  logis.  Karena   itu,   uraian-uraian Al-Quran  dalam  berbagai  masalah tidak selalu disertai bukti argumentatif. Namun hal ini bukan berarti ayat-ayat lain  yang menguraikan  hari  kebangkitan  tidak  menggunakan argumentasi sebagai bahasa untuk akal.
 
Perhatikan misalnya surat Yasin (36): 78-81 yang  mengemukakan argumentasi  filosofis,  atau  surat  Al-Baqarah (2): 259-260, serta  surat  Al-Kahf  (18):  9-26  yang  mengemukakan  alasan historis,  atau  surat  Al-Hajj  (22):  5-7  yang  menggunakan analogi,  serta  surat  Al-Najm  (53):  31  yang   menguraikan keniscayaannya  dari  segi tujuan dan hikmah. Berikut ini akan dikemukakan sekilas beberapa ayat yang menguraikan dalil-dalil tersebut.
 
BUKTI-BUKTI KENISCAYAAN HARI AKHIR
 
Perlukah  bukti  tentang  adanya hari akhir? Kehidupan sesudah mati pasti  adanya.  Bukankah  makhluk  yang  termulia  adalah makhluk  yang berjiwa? Bukankah yang termulia di antara mereka adalah yang memiliki kehendak dan kebebasan memilih?  Kemudian yang termulia dari kelompok ini adalah yang mampu melihat jauh ke  depan,  serta   mempertimbangkan   dampak   kehendak   dan pilihan-pilihannya.  Demikian  logika  kita berkata. Dari sini pula jiwa manusia memulai pertanyaan-pertanyaan baru. Sudahkah semua      orang      melihat     dan     merasakan     akibat perbuatan-perbuatannya  yang  didasarkan  oleh  kehendak   dan pilihannya  itu?  Sudahkah  yang  berbuat  baik  memetik  buah perbuatannya?  Sudahkah  yang  berbuat  jahat  menerima  nista kejahatannya?  Jelas tidak, atau belum, bahkan alangkah banyak manusia-manusia  baik  yang  dicambuk  oleh  kehidupan  dengan cemeti-cemetinya,  dan  alangkah banyak pula orang-orang jahat yang disuapi oleh dunia dengan kenikmatan-kenikmatannya.
 
   Kemah-kemah para perusak sangat menyenangkan. Mereka    yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua    dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan    kuketahui sepenahnya.
 
Demikian  Nabi  Ayyub  a.s.  yang  mengalami  kepahitan  hidup mengeluh kepada Tuhan.
 
Karena  itu,  demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru di mana semua  pihak  akan  memperoleh  secara  adil  dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing. Itu sebabnya Al-Quran menamai hidup di  akhirat sebagai  al-hayawan  yang  berarti  "hidup yang sempurna"; dan kematian  dinamainya  wafat  yang   arti   harfiahnya   adalah
"kesempurnaan."
 
Sekian  banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan hakikat di atas, antara lain:
 
   Sesungguhnya saat (hari kiamat) akan datang. Aku    dengan sengaja merahasiakan (waktu)-nya. Agar setiap    jiwa diberi balasan (dan ganjaran) sesuai hasil    usahanya (QS Thaha [20]: 15).
 
   Orang-orang kafir berkata: "Hari kebangkitan tidak    akan datang kepada kami." Katakanlah: "Pasti datang.    Demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya    kiamat itu pasti akan datang kepada kamu. Tidak ada    yang tersembunyi bagi-Nya sebesar zarrahpun yang ada    di langit dan di bumi, dan tidak ada pula yang lebih    kecil daripada itu atau lebih besar, kecuali termaktub    dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Supaya Allah    memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan    beramal saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang    baginya ampunan dan rezeki yang mulia; dan orang-orang    yang berusahn (menentang) ayat-ayat Kami dengan    anggapan mereka dapat melepaskan diri dan siksa    (Kami). Mereka itu memperoleh azab yakni (jenis) siksa    yang sangat pedih (QS Saba' [34): 3-5).
 
Memang ada saja orang-orang yang tidak sabar dan  tidak  tahan menunggu.  Mereka  menghendaki  agar perhitungan, ganjaran dan balasan diadakan segera  -paling  tidak  di  dunia  ini  juga. Tetapi mereka lupa bahwa hidup dan mati adalah ujian:
 
   (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk    menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik    amalnya (QS Al-Mulk [67]: 2).
 
Apakah mereka yang ingin segera melihat  balasan  itu  menduga bahwa   si   pembunuh   akan  melangkah  jika  balasan  segera ditimpakan kepadanya? Kemudian  apakah  masih  bermakna  suatu kebaikan  bila segera pula dirasakan kesempurnaan ganjarannya? Jika demikian di mana letak ujiannya?
 
Manusia dapat menyadari hal-hal di atas. Namun, Al-Quran masih tetap melayani mereka yang ragu dengan menampilkan dalil-dalil yang membungkam mereka. Berikut beberapa di antara dalil-dalil dimaksud.

Pertama, dalam surat Ya Sin (36): 78-83 Allah berfirman,  
   Dan dia (manusia durhaka) membuat perumpamaan bagi    kami dan dia lupa kepada kejadiannya. Dia berkata,
   "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang    telah hancur luluh?" Katakanlah (hai Muhammad), "Ia    akan dihidupkan oleh yang menciptakannya kali yang    pertama (Allah). Dia Maha Mengetahui tentang segala    makhluk. Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari    kayu yang hijau; maka tiba-tiba kamu nyalakan (api)    dari kayu itu (memperoleh bahan bakar darinya). Dan    tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi    berkuasa untuk menciptakan yang serupa dengan itu?
   Benar. Dia berkuasa dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha
   Mengetahui. "Sesungguhnya keadaannya apabila Dia    menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya,
   "Jadilah," maka terjadilah ia. Mahasuci Dia yang di    tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan    kepadaNyalah kamu dikembalikan.
 
Mari kita dengar  uraian  filosof  Muslim,  Al-Kindi,  tentang kandungan  ayat tersebut, sebagaimana dikutip oleh Abdul-Halim Mahmud dalam bukunya At-Tafkir Al-Falsafi Al-Islam (hlm.  73). Menurut Al-Kindi:
 
Ayat ini menegaskan bahwa:
 
(a)Keberadaan kembali sesuatu setelah kepunahannya adalah    bisa atau mungkin. Karena menghimpun sesuatu yang telah    berpisah-pisah atau mengadakan sesuatu yang tadinya belum    pernah ada, lebih mudah daripada mewujudkannya pertama kali.    Meskipun demikian, bagi Allah tidak ada istilah "lebih mudah    atau lebih sulit". Hakikat ini diungkapkan oleh ayat di atas    ketika menyatakan: Katakanlah bahwa ia akan dihidupkan oleh    yang menciptakannya kalipertama.
   
(b)Kehadiran atau wujud sesuatu dari sumber yang berlawanan    dengannya bisa terjadi, sebagaimana terciptanya api dari daun
   hijau (yang mengandung air). Ini diinformasikan oleh ayat yang    berbunyi: Yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau.
   
(c)Menciptakan manusia dan menghidupkannya setelah    kematiannya, (lebih mudah bagi Allah) daripada menciptakan    alam raya yang sebelumnya tidak pernah ada. Ini dipahami dari
   firman-Nya: Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan    bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu?
   
(d)Untuk menciptakan dan atau melakukan sesuatu, betapa pun    besar dan agungnya ciptaan itu, bagi Tuhan tidak diperlukan    adanya waktu atau materi. Ini jelas berbeda dengan makhluk    yang selalu membutuhkan keduanya. Hal ini bisa dipahami dari    firman-Nya: Jadilah, maka terjadilah ia.
 
   Manusia mana yang mampu dengan fasafah manusia,    menghimpun (informasi) dalam ucapan sebanyak    huruf-huruf ayat diatas, sebagaimana yang telah    dthimpun oleh Allah untuk Rasul-Nya Saw.
 
Demikian komentar filosof Al-Kindi tentang ayat-ayat di atas.
 
Kedua,  lihat  misalnya  surat   Al-Isra'   yang   menguraikan bagaimana  pembuktian  tentang  kepastian  hari  kiamat  -pada akhirnya ditemukan sendiri  melalui  tuntunan  Al-Quran-  oleh mereka  yang  tadinya  meragukannya.  Gaya  ini digunakan oleh Al-Quran agar manusia merasa  bahwa  ia  ikut  berperan  dalam menemukan   satu  kebenaran  dan  dengan  demikian  ia  merasa memilikinya serta bertanggung jawab untuk mempertahankannya.
 
   (Mereka bertanya), "Apakah bila kami telah menjadi    tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, masih    dapat dibangkitkan kembali sebagai makhluk-makhluk    yang baru?" Katakanlah, "Jadilah kalian batu, atau    besi, atau apa saja yang menuntut pikiran kalian lebih    mustahil untuk diciptakan kembali." Maka mereka akan    bertanya, "Siapakah yang akan menghidupkan kami    kembali?" Katakanlah, "Yang telah menciptakan kamu
   pada kali pertama." Lalu mereka akan
   menggeng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata,    "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah, "Boleh jadi    (dalam waktu) dekat" (QS Al-Isra' [17]: 49-51).
 
Al-Quran -yang bermaksud  melibatkan  manusia  dalam  penemuan keyakinan   tentang   hari  kebangkitan  ini-  tidak  menjawab pertanyaan kaum musyrik tadi degan "ya" atau "tidak".  Tetapi, diajukan-Nya  suatu  problem  baru  yang belum terlintas dalam benak si penanya, yaitu dengan pernyataan  yang  diperintahkan kepada  Nabi  Saw.  untuk disampaikan seperti terbaca di atas. Seakan-akan  penggalan  kata  tersebut  berbunyi,   "Bagaimana seandainya   setelah   kematian  nanti  kalian  bukan  menjadi tulang-belulang yang pernah mengalami hidup,  tetapi  batu-batu atau  besi-besi  atau  makhluk apa saja yang sama sekali belum pernah mengalami 'hidup' dan  menurut  kalian  lebih  mustahil untuk dihidupkan?" Pada saat itu Al-Quran mengajak akal mereka mengajukan pertanyaan yang  mereka  ajukan  semula,  "Siapakah yang  akan menghidupkan itu semua kembali?" Jawabannya adalah, "Dia  yang  pertama  kali  mewujudkannya  sebelum  tadinya  ia tiada."  Bukankah  mewujudkan  sesuatu  yang  pernah mengalami "hidup" lebih mudah daripada  mewujudkan  sesuatu  yang  belum pernah berwujud sama sekali.
 
Di  sini terlihat bahwa problem yang mereka ajukan sudah tidak berarti sama sekali. Bahkan "akal" mereka sendiri kelihatannya telah    menyadari   kelemahan   argumen   merreka,   sehingga menimbulkan pertanyaan baru.
 
Ketiga,  bertitik  tolak  dan  hakikat  di  atas,   seringkali Al-Quran  menganalogikan hari kebangkitan dengan keadaan hujan yang menimpa tanah yang gersang. Surat Al-Hajj menyeru seluruh manusia:
 
   Wahai seluruh manusia, kalau kamu sekalian meragukan    hari kebangkitan, maka (sadarilah bahwa) Kami    menciptakan kamu dari tanah, kemudian nuthfah,    kemudian 'alaqah, kemudian mudhgah (sekerat daging)    yang sempurna penciptaannya atau tidak sempurna    penciptaannya, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami    tetapkan di dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai    waktu yang telah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan    kamu sebagai bayi, dan (secara berangsur-angsur) kamu    sampai kepada (usia) kedewasaan. Di antara kamu ada    yang diwafatkan dan ada pula yang dipanjangkan usianya    sampai pikun, supaya (sehingga) dia tidak mengetahui    lagi apa yang tadinya telah diketahui. Dan kamu lihat    bumi itu tandus/mati, kemudian apabila Kami turunkan    air (hujan) di atasnya hiduplah bumi itu dan suburlah    ia serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan    yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya    Allah adalah Yang Hak, Dia yang menghidupkan yang    mati, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, dan hari    kiamat pasti datang. Tidak ada keraguan atasnya dan    Allah membangkitkan semua yang dikubur (QS Al-Hajj
   [22]: 5-7).
 
Manusia berasal dari tanah; bukankah makanannya  berasal  dari tumbuhan-tumbuhan   dan   binatang   yang   memakan  apa  yang terbentang  di  bumi  Allah?  Makanan  tersebut  diolah   oleh tubuhnya,  sehingga  menghasilkan sperma. Pertemuan sperma dan ovum menghasilkan 'alaqah' sesuatu yang bergantung di  dinding rahim.   Kemudian   ini   melalui   tahap-tahap  seperti  yang dikemukakan di atas, sehingga akhirnya manusia  mati  terkubur di  bawah  tanah  atau menjadi tanah lagi. Nah apakah mustahil yang kini menjadi tanah, hidup  lagi  dengan  kehidupan  baru? Bukankah  sebelumnya  ia  pun  berasal  dari  tanah?  Bukankah sehari-hari terlihat pula tanah yang gersang setelah  dicurahi hujan  -ditumbuhi pepohonan yang hijau? Kalau demikian mengapa meragukan kebangkitan? Demikian lebih kurang  peringatan  ayat di atas.
 
Keempat,   kematian   sama  dengan  tidur.  Begitu  pernyataan
Al-Quran.
 
   Allah yang memegang jiwa (orang) saat kematiannya, dan
   (memegang) yang belum mati pada saat tidurnya. Maka
   Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan    kematiannya, dan Dia melepaskan jiwa yang lain (yang    tidur dengan membangunkannya) sampai waktu yang Dia    tentukan ... (QS Al-Zumar [39]: 42).
 
Untuk membuktikan adanya  kebangkitan,  Al-Quran  menceritakan apa  yang dilakukan Allah terhadap seorang yang mempertanyakan tentang  "bagaimana  kebangkitan".  Maka  ditidurkannya   yang bersangkutan   selama   seratus   tahun,  dan  Dia  menjadikan makanannya  tetap  utuh  tidak  rusak,  sedangkan   keledainya menjadi tulang-belulang. (Baca QS Al-Baqarah [2]: 259)
 
Bahkan   sekelompok   pemuda   yang   beriman  -yang  terpaksa berlindung ke sebuah gua karena  khawatir  kekejaman  penguasa masanya-ditidurkan  selama  tiga  ratus  tahun lebih, kemudian dibangunkan kembali oleh Allah. Kisah mereka diuraikan  secara panjang  lebar  dalam surat Al-Kahf (18): 9-26 dan bekas-bekas peninggalan  mereka  berupa  gua  tempat  persembunyian  telah ditemukan  beberapa  kilometer dari kota Amman, Yordania. Kini gua  itu  menjadi  salah  satu  objek  yang  dikunjungi   para wisatawan dan peziarah.
 
Demikian  sedikit  dari dalil dan bukti-bukti yang dikemukakan Al-Quran   untuk   menyingkirkan   keraguan    tentang    hari kebangkitan.
 
KEHIDUPAN DI ALAM BARZAKH
 
Al-Quran  tidak  hanya  menjelaskan tentang hari akhir, tetapi juga   memberikan   sekian   banyak    informasi    menyangkut kejadian-kejadian   saat   kematian.  kehidupan  barzakh,  dan peristiwa-peristiwa  sesudahnya.  Dengan  kematian,  seseorang beranjak  untuk  memasuki  saat pertama dari hari akhir. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa:
 
   Siapa yang meninggal, maka kiamatnya telah bangkit.
 
Kiamat ini dinamai "kiamat kecil". Saat itu yang  bersangkutan dan semua yang meninggal sebelumnya hidup dalam satu alam yang dinamai "alam barzakh". Mereka semua menanti kedatangan kiamat besar,   yang  ditandai  dengan  peniupan  sangkakala  pertama sebagaimana akan diuraikan nanti.
 
   ... sehingga apabila datang kematian kepada seorang di    antara mereka (yang kafir) ia berkata: "Ya Tuhanku,    kembalikanlah aku, agar aku berbnat amal saleh    terhadap yang telah aku tinggalkan." (Allah    berftrman), "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu    hanyalah perkatan yang diucapkannya saja. Dan di    hadapan mereka ada barzakh (pemisah) sampai hari    mereka dibangkitkan" (QS Al-Mu'minun [23]: 99-100).
 
Dari segi bahasa,  "barzakh"  berarti  "pemisah".  Para  ulama mengartikan  alam  barzakh  sebagai  "periode antara kehidupan dunia dan akhirat". Keberadaan di sana memungkinkan  seseorang untuk  melihat  kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di sana bagaikan keberadaan dalam suatu ruangan terpisah yang  terbuat dari  kaca.  Ke depan penghuninya dapat melihat hari kemudian, sedangkan ke belakang mereka melihat kita yang hidup di pentas bumi ini.
 
Al-Quran  melukiskan  keadaan  orang-orang  kafir  ketika  itu dengan firman-Nya:
 
   ... Fir'aun beserta kaum (pengikut)-nya dikepung oleh    siksa yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan    neraka pada pagi dan petang. Dan (nanti) pada hari    terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat):    "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang    sangat keras" (QS Al-Mu'min [40]: 45-46).
 
Para syuhada ketika itu dilukiskan  sebagai  orang-orang  yang hidup dan mendapatkan rezeki.
 
   Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang    yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati.    Sebenamya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak    menyadarinya (QS Al-Baqarah [2]: 154).
   
   Jangan sekali-kali menduga yang gugur di jalan Allah    adalah orang-orang mati. Sebenarnya mereka hidup di    sisi Tuhan mereka dan mereka memperoleh rezeki (QS Ali
   'Imran [3]: 169).
 
Sementara orang memahami "ketidakmatian atau kehidupan mereka" dalam  arti  keharuman  dan  kelanggengan nama mereka di dunia ini. Kalau demikian, mengapa surat Al-Baqarah [2]: 154 di atas menyatakan   "tetapi   kamu   tidak   menyadarinya"?  Bukankah keharuman nama  itu  kita  sadari?  Kemudian  apakah  ganjaran "kekekalan  nama"  ini  merupakan suatu keistimewaan? Bukankah ada yang gugur  dan  dikenal  namanya  secara  harum,  padahal hakikatnya  ia  tidak  dinilai  Allah  sebagai  syuhada karena kematiannya  bukan  fi  sabilillah?  Apakah  dengan   demikian dipersamakan  antara  yang  baik dan yang buruk? Di sisi lain, bagaimana pula halnya dengan para syuhada yang  tidak  dikenal dan alangkah banyaknya mereka. Bukankah Allah menyatakan bahwa mereka hidup dan mendapat rezeki? Kalau  demikian  apa  rezeki mereka   yang   tidak   dikenal   itu?   Apakah  mereka  tidak mendapatkannya? Kalau demikian di mana keadilan Ilahi?
 
Cukup banyak ayat yang dapat dijadikan titik pijak bagi adanya apa  yang  dinamai kehidupan di alam barzakh. Bacalah misalnya surat  Al-Baqarah  (2):  28,  Al-Mu'min  (40):  11,  dan  lain sebagainya.  Memang  ada juga yang berpegang pada surat Ya Sin [36]: 52  yang  menceritakan  ucapan  orang-orang  kafir  saat ditiupnya sangkakala pertama yaitu:
 
   Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari    tempat tidur kami?
 
Mereka menyatakan bahwa ayat ini menginformasikan  bahwa  kaum kafir ketika itu merasa diri mereka tidur dan terhentak bangun dengan  tiupan  sangkakala.  Jadi,  dalih  mereka  selanjutnya adalah  "Kalau memang mereka tidur dan terhentak dengan tiupan sangkakala, maka bagaimana bisa dinyatakan bahwa ada kehidupan di alam barzakh? Atau ada siksa dan nikmat kubur?"   
Hemat   penulis,  pandangan  ini  bisa  dipertimbangkan  untuk diterima  jika   ayat   tersebut   berkata:   "Siapakah   yang membangkitkan kami dari tidur kami?" Tetapi, redaksinya adalah "dari tempat tidur kami"  yakni  kubur.  Di  sisi  lain  harus dipahami  bahwa  kubur yang dimaksud di sini bukannya sebidang tanah tempat jasad mereka dikuburkan, tetapi  satu  alam  yang kita  tidak tahu persis bagaimana keadaannya. Kalaulah ayat di atas dianggap "tidak jelas maknanya"  atau  yang  diistilahkan oleh  para  ulama  dengan mutasyabih, maka ayat-ayat lain yang maknanya cukup jelas (muhkam) seperti sekian banyak ayat  yang telah  disinggung  sebelum  ini  -dapat  menjadi patokan untuk memahaminya.
 
Hadis-hadis Nabi pun -dengan  kualitas  yang  beraneka  ragam- amat banyak yang berbicara tentang alam barzakh, sehingga amat riskan  untuk  menolak  keberadaan  alam  itu   hanya   dengan menggunakan  satu atau dua ayat yang sepintas terlihat berbeda dengan keterangan-keterangan tersebut. Ketika putra Nabi  yang bernama Ibrahim meninggal dunia, Nabi Saw. bersabda:
 
   Sesungguhnya ada yang menyusukannya di surga (HR
   Bukhari).
 
Imam Ahmad ibn Hanbal, Ath-Thabarani, Ibnu Abi  Ad-Dunya,  dan
Ibnu   Majah  meriwayatkan  melalui  sahabat  Nabi,  Abu  Said
Al-Khudri, bahwa Nabi Saw. bersabda:
 
   Sesungguhnya yang meninggal mengetahui siapa yang    memandikannya, yang mengangkatnya, yang mengafaninya,    dan siapa yang menurunkannya ke kubur.
 
Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa,
 
   Apabila salah seorang di antara kamu meninggal, maka    diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang tempat    tinggalnya (kelak di hari kiamat). Kalau dia penghuni    surga, maka diperlihatkan kepadanya (tempat) penghuni    surga; dan kalau penghuni neraka, maka diperlihatkan    (tempat) penghuni neraka. Disampaikan kepadanya bahwa    inilah tempatmu sampai Allah membangkitkanmu ke sana
   (HR Bukhari).
Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menuturkan  sebuah  riwayat  bahwa Nabi  Saw.  setelah  selesainya  Perang  Badar,  menuju tempat pemakaman pemuka-pemuka kaum musyrik yang  tewas  ketika  itu, dan memanggil nama-nama mereka satu per satu:
 
   "Wahai penghuni al-qalib (sumur atau kubur). Hai
   'Utbah bin Rabi'ah. Hai Syaibah bin Rabi'ah. Hai
   Umayyah bin Khalaf. Hai Abu Jahl bin Hisyam. Apakah    kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan    kalian dengan benar? Karena sesungguhnya aku telah    menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku dengan benar."    Kaum Muslim yang ada di sekitar Nabi bertanya: "Wahai
   Rasulullah, apakah engkau memanggil/berbicara dengan    kaum yang telah menjadi bangkai (mati)?" Beliau    menjawab: "Kamu tidak lebih mendengar dari mereka    (tentang) apa yang saya ucapkan, hanya saja mereka    tidak dapat menjawab saya."
 
Di sisi lain Imam Muslim meriwayatkan bahwa Masruq berkata:
 
   "Kami bertanya (atau aku bertanya) kepada Abdullah bin    Mas'ud tentang ayat, Janganlah kamu mengira    orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah    orang-orang mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan    mereka dengan mendapatkan rezeki (QS Ali 'Imran [2]:    169)." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Sesungguhnya kami    telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw., dan    beliau bersabda, 'Arwah mereka di dalam rongga burung    (berwarna) hijau dengan pelita-pelita yang tergantung    di 'Arsy, terbang dengan mudah di surga ke manapun    mereka kehendaki, kemudian kembali lagi ke    pelita-pelita itu. Tuhan mereka "mengunjungi" mereka    dengan kunjungan sekilas dan berfirman: "Apakah kalian    menginginkan sesuatu?" Mereka menjawab: "Apalagi yang    kami inginkan sedangkan kami terbang dengan mudahaya    di surga, ke mana pun kami kehendaki?" Tuhan melakukan    hal yang demikian terhadap mereka tiga kali dan ketika    mereka sadar bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa    meminta sesuatu, mereka berkata: "Wahai Tuhan, kami    ingin agar arwah kami dikembalikan ke jasad kami    sehingga kami dapat gugur terbunuh pada jalan-Mu
   (sabilillah) sekali lagi. Setelah Tuhan melihat bahwa    mereka tidak memiliki keinginan lagi di sana (lebih    dari apa yang mereka peroleh selama ini) maka mereka    dibiarkan."'
 
Ada juga riwayat yang dinisbahkan kepada Ali  bin  Abi  Thalib bahwa  beliau  bertanya  kepada  Yunus  bin Zibyan: "Bagaimana pendapat  orang  tentang  arwah  orang-orang  mukmin?"   Yunus menjawab:  "Mereka  berkata  bahwa  arwahnya  berada di rongga burung berwarna hijau di dalam pelita-pelita  di  bawah  'Arsy llahi." Ali bin Abi Thalib berkomentar:
 
   Mahasuci Allah. Seorang mukmin lebih mulia di sisi
   Allah untuk ditempatkan ruhnya di rongga burung hijau,    wahai Yunus. Seorang mukmin bila diwafatkan Allah,    ruhnya ditempatkan pada satu wadah sebagaimana    wadahnya ketika di dunia. Mereka makan dan minum,    sehingga bila ada yang datang kepadanya, mereka    mengenalnya dengan keadaannya semasa di dunia.
 
Boleh jadi ada saja yang  bertanya  bagaimana  kehidupan  itu? Kita  tidak  dapat  menjelaskan. Memang ada saja yang berusaha mengilmiahkan kehidupan di sana, tetapi agaknya  hal  tersebut lebih   banyak  merupakan  kemungkinan,  walaupun  ada  sekian rtwayat yang dijadikan pegangan.
 
Mustafa Al-Kik, misalnya, berpendapat bahwa  manusia  memiliki "jasad  berganda":  pertama,  jasad  duniawi; dan kedua, jasad barzakhi. Mustafa dalam --Baina  'Alamain--  setelah  mengutip sekian  banyak  pendapat  ulama  tentang hal di atas, berusaha untuk menjelaskan hal  tersebut  dengan  teori  frekuensi  dan gelombang-gelombang  suara. Contoh konkret yang dikemukakannya adalah radio yang dapat menangkap  sekian  banyak  suara  yang berbeda-beda  melalui gelombang yang berbeda-beda. Walaupun ia saling  masuk-memasuki,  namun  ia  tidak  menyatu  dan  tetap berbeda.  Ini  pula  yang  menjadikan  kita  tak dapat melihat sesuatu yang sebenarnya "ada" namun kita tak melihatnya akibat perbedaan  frekuensi  dan  gelombang-gelombang  itu.  Apa yang dikemukakan ini -menurutnya sejalan dengan informasi Al-Quran, antara lain yang berbicara tentang keadaan seorang yang sedang sekarat:
 
   Maka mengapa ketika nyawa telah sampai ke    kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (yang    sekarat), sedangkan (malaikat) Kami lebih dekat    kepadanya darimu, tetapi kamu tidak melihat (QS
   AlWaqi'ah [56]: 83-85).
 
Atau firman-Nya:
 
   Aku (Allah) tidak bersumpah dengan apa yang kamu lihat    dan yang kamu tidak lihat (QS Al-Haqqah [69]: 38-39).
 
   Kedua ayat mulia di atas mengemukakan teori gelombang    dan getaran yang sangat jelas dan gamblang. Keduanya    telah membagi materi menjadi dua macam, yang sejalan    dengan tingkat bumi sehingga dapat dilihat oleh mata,    dan yang tidak sejalan karena tingginya gelombangnya,    sehingga tersembunyi dari pandangan dan tidak terlihat    oleh mata. Dengan demikian kedua ayat tersebut    menunjuk ke alam materi yang terasa oleh kita semua,    dan alam lain yang tinggi yang tersembunyi dari mata    kita. Teori ini juga menafsirkan kepada kita jawaban    Nabi Saw. ketika kaum Muslim mempertanyakan    pembicaraan beliau dengan Ahl Al-Qalib (tokoh-tokoh    kaum musyrik yang gugur dalam peperangan Badar)    sebagaimana dikemukakan di atas. (Mustafa Al-Kik dalam
   Baina 'Alamain hlm. 51)
 
Akhirnya  betapa  pun  terdapat  sekian  banyak  ayat   dengan penafsiran-penafsiran  di atas, serta ada pula riwayat-riwayat dari berbagai sumber dan  kualitas,  namun  kita  tidak  dapat mencap  mereka  yang  mengingkari  kehidupan  barzakh, sebagai orang-orang yang  keluar  dari  keimanan  atau  ajaran  Islam, selama  mereka  tetap  mengucapkan  dua  kalimat syahadat. Ini disebabkan karena akidah harus diangkat  dari  nash  keagamaan yang  pasti,  yaitu  Al-Quran  dan  maknanya  pun harus pasti. sedangkan penafsiran-penafsiran yang dikemukakan di atas belum mencapai tingkat kepastian yang dapat dijadikan akidah.
 
KEHIDUPAN AKHIRAT
 
Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala:
 
   Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan    diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan    keduanya sekali bentur. Maka hari itu terjadilah hari    kiamat, dan terbelahlah langit sehingga hari itu    langit menjadi lemah (QS Al-Haqqah [69]: 13-16).
 
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:
 
   ... dan ditiup sangkakala sehingga matilah siapa
   (rnakhluk) yang di langit dan di bumi, kecuali siapa    yang dikehendaki Allah (QS Al-Zumar [39]: 68).
 
Yang dikecualikan antara lain  adalah  malaikat  Israfil  yang bertugas  meniup  sangkakala  itu.  Ini  karena masih akan ada peniupan kedua sebagaimana lanjutan ayat di atas:
 
   Kemudian ditiupkan sangkakala itu sekali lagi, maka    tiba-tiba mereka (semua yang telah mati) berdiri    menunggu (putusan Tuhan terhadap masing-masing) (QS
   Al-Zumar [39]: 68).
 
Banyak sekali ayat Al-Quran yang berbicara tentang  kehancuran alam  raya, matahari digulung, bulan terbelah, bintang-bintang pudar cahayanya, gunung dihancurkan sehingga menjadi debu yang beterbangan   bagaikan   kapas,   dan  sebagainya.  Itu  semua merupakan kehancuran total, bukan kehancuran  bagian  tertentu saja dari alam raya ini.
 
Begitu  manusia  dihidupkan kembali dengan peniupan sangkakala kedua, tiba-tiba:
 
   Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kubur    mereka bagaikan belalang yang beterbangan. Mereka    datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang    kafir -ketika itu- berkata: "Ini adalah hari yang    sulit." (QS Al-Qamar [54]: 7-8).
 
Ada jarak waktu antara peniupan pertama dan kedua. Hanya Allah yang  mengetahui  kadar  waktu  itu.  Dan ketika semua makhluk telah meninggal, termasuk Israfil, Allah  Swt.  "berseru"  dan
"bertanya":
 
   Kepunyaan siapakah kerajaan/kekuasaan hari ini?
   (Kemudian Allah menjawabnya sendiri): "Kepunyaan Allah    yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan" (QS Mu'min [40]:    16).
 
Saat peniupan kedua, manusia sadar bahwa  kehidupan  di  dunia hanya  sebentar  (QS  Al-Isra'  [17]: 43) bahkan mereka merasa hanya bagaikan boberapa  saat  di  sore  atau  pagi  hari  (QS
Al-Nazi'at [79]: 46).
 
Dari  sana manusia digiring ke mahsyar (tempat berkumpul untuk menghadapi pengadilan Ilahi):
 
   Setiap jiwa datang dengan satu penggiring dan satu    penyaksi (QS Qaf [50]: 21).
 
Penggiring adalah malaikat dan penyaksi  adalah  diri  manusia sendiri  yang  tidak  dapat  mengelak,  atau amal perbuatannya masing-masing. Begitu penafsiran para ulama.
 
Dan ketika itu terjadilah pengadilan agung.
 
   Pada hari itu yang menjadi saksi atas mereka adalah    lidah, tangan, dan kaki mereka, menyangkut apa yang    dahulu mereka lakukan (QS Al-Nur [24]: 24).
 
Bahkan boleh jadi, mulut mereka  ditutup  dan  yang  berbicara adalah   tangan  mereka  kemudian  kaki  mereka  yang  menjadi saksi-saksinya Sebagaimana ditegaskan dalam surat Ya Sin (36):
65.
 
Yang   ingin   diinformasikan   oleh  ayat-ayat  di  atas  dan semacamnya adalah bahwa pada hari itu  tidak  ada  yang  dapat mengelak,  tidak ada juga yang dapat menyembunylkan sesuatu di hadapan pengadilan yang maha agung itu.
 
   Siapa yang mengerjakan (walau) sebesar zarrah (dari    kebaikan). maka dia akan melihat (ganjarannya) (QS
   Az-Zilzal [99]: 7).
 
Demikian pula sebaliknya (baca surat Al-Zilzal [99]: 8).
 
Pengadilan Ilahi itu akan  diadakan  terhadap  setiap  pribadi mukalaf,
 
   "Tidak ada satupun di langit dan di bumi kecuali akan    datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang    hamba. Sesungguhnya Tuhan telah menentukan jumlah    mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang    teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah    dengan sendiri-sendiri (QS Maryam [19]: 93-95)
 
Pengadilan itu menggunakan "timbangan" yang hak sehingga tidak ada  yang  teraniaya  karena walau sebesar biji sawi pun Tuhan akan mendatangkan ganjarannya. (Baca QS Al-Anbiyat [21]:  47). Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak,  tidaklah  banyak  pengaruhnya dalam  akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi sedikit penganiayaan pun. Yang pasti adalah:
 
   Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa    yang berat timbangan (amal salehnya) maka mereka    adalah orang-orang beruntung, dan siapa yang ringan    timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang    merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu    mengingkari ayat-ayat Kami (QS Al-A'raf [7]: 8-9)
 
Hasil  pencatatan  amal  manusia  yang  ditimbang  itu,   akan diserahkan kepada setiap orang:
 
   Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab
   (catatan amalnya) dari arah kanannya, maka (dengan    gembira) ia berkata: "Inilah, bacalah kitabku ini.    Sesungguhnya (sejak dahulu di dunia) aku yakin bahwa    sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) atas    diriku." Maka orang itu berada dalam kehidupan yang    diridhai; dalam surga yang tinggi, buah-buahannya    dekat. (Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah    dengan sedap dikarenakan amal-amal yang telah kamu    kerjakan di hari-hari terdahulu (di dunia)." Adapun    yang diberikan kepadanya kitabnya dari arah kirinya,    maka dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya kiranya    tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak    mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku.    Aduhai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan    segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak memberi    manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku" (QS
   Al-Haqqah [69]: 19-29).
 
Dari mahsyar (tempat berkumpul),  manusia  menuju  surga  atau neraka.  Beberapa  ayat  dalam Al-Quran menginformasikan bahwa dalam perjalanan ke sana mereka melalui  apa  yang  dinamai  " shirath" .
 
   Antarlah mereka (hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim
   (QS Al-Shaffat [37]: 23).
 
Dalam  konteks  pembicaraan  tentang   hari   akhirat,   Allah berfirman:
 
   Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan    penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba    (mencari) ash-shirath (jalan). Maka, bagaimana mereka    dapat melihatnya? (QS Ya Sin [36]: 66).
 
Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa:
  
   Dan tidak seorang pun di antara kamu kecuali    melewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah    suatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. Kemudian
   Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan    membiarkan orang-orang yang zalim, di dalam neraka    dalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]: 71-72).
 
Berdasar ayat-ayat tersebut, sementara ulama berpendapat bahwa ada yang dinamai "shirath" -berupa jembatan yang harus dilalui setiap orang menuju  surga.  Di  bawah  jalan  (jembatan)  itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya. Orang-orang mukmin akan  melewatinya  dengan  kecepatan  sesuai  dengan  kualitas ketakwaan  mereka.  Ada  yang melewatinya bagaikan kilat, atau seperti angin berhembus, atau secepat lajunya  kuda;  dan  ada juga  yang  merangkak,  tetapi  akhirnya  tiba juga. Sedangkan orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi mereka  jatuh ke neraka di tingkat yang sesuai dengan kedurhakaan mereka.
 
Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang,
  
   [kalimat dalam bahasa Arab]
 
Demikian kata Abu Sa'id sebagaimana diriwayatkan oleh  Bukhari dan Muslim.
 
Para  ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang sangat rasional menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di  atas, lebih-lebih  melukiskannya  "dengan  sehelai  rambut  di belah tujuh".  Memang,  melukiskannya  seperti  itu,  paling  tidak, bertentangan  dengan  pengertian kebahasaan dari kata shirath. Kata tersebut berasal dari kata saratha yang  arti  harfiahnya adalah  "menelan".  Kata  shirath antara lain diartikan "jalan yang lebar", yang karena lebarnya maka seakan-akan ia  menelan setiap yang berjalan di atasnya.

Betapapun,  pada  akhirnya  hanya  ada  dua tempat, surga atau neraka. Pembahasan tentang surga dan neraka,  kita  tangguhkan sampai  dengan  kesempatan lain. Ini disebabkan karena luasnya jangkauan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakannya. Bukan  saja uraian  tentang  aneka  kenikmatan dan siksanya, tetapi sampai kepada rincian peristiwa-peristiwa yang  digambarkan  Al-Quran menyangkut perorangan atau kelompok, dan lain sebagainya.
 
KAPAN HARI AKHIR TIBA?
 
Al-Quran  -demikian juga hadis-hadis Nabi Saw.- yang berbicara panjang lebar tentang hari  akhir  dari  bermacam-macam  aspek itu,    tidak    membicarakan   sedikit   pun   tentang   masa kedatangannya. Bahkan secara tegas dalam berbagai  ayat  serta hadis  dinyatakan  bahwa  tidak  seorang  pun mengetahui kapan kehadirannya.
 
   Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu tentang    hari akhir, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka)    dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah    dikembalikan kesudahan (ketentuan waktunya) (QS
   Al-Nazi'at [79]: 42-44).
 
Sekian banyak ayat  Al-Quran  yang  mengandung  makna  serupa, demikian pula hadis-hadis Nabi Saw. menginformasikannya.
 
Dalam  sebuah  hadis  dinyatakan  bahwa malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. -dalam rangka mengajar umat Islam- "Kapan hari kiamat?" Nabi Saw. menjawab: "Tidaklah yang ditanya tentang hal itu lebih mengetabui dari yang  bertanya." (Diriwayatkan  oleh  Muslim  melalui  sahabat  Nabi  Umar  bin
Khaththab).
 
Memang ada beberapa ayat yang menjelaskan bahwa  kedatangannya tidak lama lagi. Misalnya surat Al-Isra' ( 17): 51,
 
   "Kapankah itu (hari kiamat)?"
 
Demikian tanya kaum musyrik. Lalu Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk menjawab:
  
   Katakanlah, "Boleh jadi ia dekat."
 
Surat Al-Qamar (54): 1 juga menyatakan bahwa:
 
   Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan.
 
Dan surat Al-Anbiya' (21): 1, menyatakan:
 
   Telah dekat kepada manusia hari perhitungan (kiamat)    sedangkan mereka berada dalam kelalaian, lagi    berpaling (darinya).
 
Nabi Saw. juga bersabda:
 
   Aku diutus (dan perbandingan antara masa diutusku    dengan) hari kiamat adalah seperti ini (sambil    menggandengkan kedua jari-jarinya, yaitu jari telunjuk    dan tengah). (Diriwayatkan oleh Muslim melalui Jabir    bin Abdillah).
 
Apakah hadis dan ayat-ayat di atas menunjukkan kedekatan  hari akhirat  dari  segi waktu? Boleh jadi. Tetapi ketika itu tidak dapat dipahami bahwa kedekatan itu  hanya  dalam  arti  besok, seribu  atau  sepuluh  ribu tahun ke depan. Kedekatannya boleh jadi juga jika  dibandingkan  dengan  umur  dunia  yang  telah berlalu  sekian ratus juta tahun. Tetapi boleh jadi juga hadis dan ayat-ayat tersebut tidak menginformasikan kedekatan  dalam arti waktu.
 
Bila  kita cermati tentang kapan hari akhir tiba, maka jawaban yang diperintahkan kepada Nabi  Saw.  untuk  diucapkan  adalah "Boleh  jadi  ia  dekat."  Di  sisi  lain,  ayat  Al-Qamar dan Al-Anbiya' di atas, yang menggunakan bentuk  kata  kerja  masa lampau  untuk  satu  peristiwa kiamat yang belum lagi terjadi, mengandung makna kepastian sehingga kedekatan  dalam  hal  ini dipahami dalam arti "pasti kedatangannya". Karena "segala yang akan datang adalah dekat, dan segala yang  telah  berlalu  dan tidak kembali adalah jauh."
 
Agaknya   informasi  Al-Quran  tentang  kedekatan  ini,  lebih dimaksudkan untuk menjadikan manusia  selalu  siap  menghadapi kehadirannya.  Karena  itu pula, tidak satu atau dua ayat yang menegaskan  bahwa  kedatangannya  sangat  tiba-tiba,   seperti misalnya firman berikut:
 
   Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah    yang meliputi mereka atau kedatangan kiamat kepada    mereka secara tiba-tiba sedangkan mereka tidak    menghindarinya? (QS Yusuf [ 12]: 107).
 
Di sisi lain, ditemukan  bahwa  yang  bertanya  tentang  waktu kedatangannya adalah orang-orang musyrik, bukan orang beriman.
 
   Orang-orang yang tidak beriman menyangkut hari kiamat,    meminta supaya hari itu segera didatangkan, sedangkan    orang-orang yang beriman merasa takut akan    kedatangannya Mereka yakin bahwa kiamat adalah benar
   (akan terjadi). Ketahuilah bahwa orang-orang yang    membantah tentang terjadinya kiamat benar-benar dalam    kesesatan yang jauh (QS Al-Syura [42]: 18).
 
Ketakutan tentang hari kiamat  akan  mengantarkan  orang  yang percaya  untuk  berbuat sebanyak mungkin amal ibadah, sehingga mereka dapat menggapai kebahagiaan abadi di sana.
 
BUAH KEPERCAYAAN TENTANG HARI KEBANGKITAN
 
Al-Quran menghendaki agar keyakinan  akan  adanya  hari  akhir mengantar  manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif dalam kehidupannya, walaupun aktivitas itu tidak  menghasilkan keuntungan  materi  dalam kehidupan dunianya. Salah satu surat yang berbicara tentang hal ini adalah surat Al-Ma'un (107).
 
Dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat tersebut turun berkenaan  dengan Abu Sufyan atau Abu Jahl, yang setiap minggu menyembelih seekor unta.  Suatu  ketika,  seorang  anak  yatim datang  kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir.
 
Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan:
 
   Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-din?
 
Kata ad-din dalam surat ini, secara sangat populer,  diartikan dengan  agama,  tetapi  ad-din  dapat juga berarti pembalasan. Dengan  demikian  yukadzdzibu  biddin   dapat   pula   berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan  bahwa  Al-Quran bila  menggandengkan  kata  ad-din  dengan  yukadzdzibu,  maka konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan surat Al-Infithar (82): 9 dan juga surat Al-Tin (95): 7.
 
Kemudian,  kalau  kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan  membantu  anak  yatim  atau  orang  miskin karena   menduga   bahwa   bantuannya   kepada   mereka  tidak menghasilkan apa-apa, maka itu berarti bahwa  pada  hakikatnya sikap  mereka  itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari) pembalasan. Bukankah yang percaya  meyakini bahwa  kalaulah  bantuan  yang diberikannya tidak menghasilkan sesuatu  di  dunia,   maka   pasti   ganjaran   atau   balasan perbuatannya  akan  diperoleh  di akhirat kelak? Bukankah yang percaya   hari   kemudian   meyakini   bahwa    Allah    tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?
 
Seseorang   yarlg  kehidupannya  dikuasai  oleh  kekinian  dan kedisinian, tidak akan memandang ke hari kemudian yang  berada di  depan  sana.  Sikap  demikian  merupakan pengingkaran atau pendustaan ad-din, baik dalam arti "agama",  lebih-lebih  lagi dalam arti hari kemudian.
 
Ad-din menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib. Kata gaib di sini, bukan sekadar kepercayaan kepada Allah atau  malaikat tetapi  ia  berkaitan  dengan banyak hal, termasuk janji-janji Allah melipatgandakan anugerah-Nya kepada  setiap  orang  yang memberi  bantuan.  Kepercayaan  ini  mengantarkannya  meyakini janji  Ilahi  itu,  melebihi  keyakinannya  menyangkut  segala sesuatu  yang  didasari  oleh  perhitungan-perhitungan akalnya semata-mata. Sehingga ketika itu, walaupun akalnya membisikkan bahwa    "sikap    yang    akan   diambilnya   merugikan/tidak menguntungkan", namun jiwanya yang percaya itu mengantarkannya untuk   melakukannya   karena  yang  demikian  sejalan  dengan keyakinannya itu.
 
   "Apa yang berada di tangan Allah lebih meyakinkan Anda    daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan    sendiri."
 
Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama  surat  Al-Ma'un  ini mengajak  manusia  untuk  menyadari  salah  satu  bukti  utama kesadaran beragama atau kesadaran  berkeyakinan  tentang  hari akhir,  yang  tanpa itu, keberagamaannya dinilai sangat lemah, kalau enggan berkata keberagamaannya nihil.
 
Surat Al-Ma'un  yang  terdiri  dari  tujuh  ayat  pendek  ini, berbicara  tentang  suatu hakikat yang sangat penting, di mana terlihat secara tegas  dan  jelas  bahwa  ajaran  Islam  tidak memisahkan    upacara   ritual   dan   ibadah   sosial,   atau membiarkannya berjalan sendiri-sendiri. Ajaran ini sebagaimana tergambar  dalam  ayat  di atas -menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial, sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah dimaksud tidak akan banyak artinya.
 
Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur'an menulis:
  
Mungkin ini (jawaban Al-Quran tentang siapa  yang  mendustakan agama/hari   kemudian   yang   dikemukakan  dalam  surat  ini) mengagetkan jika dibandingkan dengan  pengertian  iman  secara tradisional.  Tetapi,  yang demikian itulah inti persoalan dan hakikatnya. Hakikat pembenaran ad-din bukannya  ucapan  dengan lidah,  tetapi  ia  adalah perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada  kebaikan  dan   kebajikan   terhadap   saudara-saudara sekemanusiaan,  terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan.   Allah   tidak   menghendaki    dari    manusia kalimat-kalimat  yang  dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah  karya-karya  nyata,  yang  membenarkan  (kalimat  yang diucapkan  itu). Sebab kalau tidak, maka itu semua hampa tidak berarti di sisi-Nya dan tidak dipandang-Nya.
 
Selanjutnya Sayyid Quthb menulis:
 
Kita tidak ingin memasuki diskusi dalam bidang  hukum  sekitar batas-batas  iman  dan Islam, karena batasan-batasan para ahli itu, berkaitan dengan interaksi  sosial  keagamaan.  Sedangkan surat  ini  (Al-Ma'un) menegaskan hakikat persoalan dari sudut pandang dan penilaian  Ilahi,  yang  tentunya  berbeda  dengan kenyataan-kenyataan  lahiriah  yang menjadi landasan penilaian interaksi antarmanusia.
 
Demikian surat ini menjelaskan hakikat  dan  buah  kepercayaan tentang hari akhir.
 
Akhirnya  perlu  digarisbawahi  bahwa  perhatian Al-Quran yang sedemikian besar  menyangkut  persoalan  hari  akhir,  membawa berbagai  dampak  di  kalangan ilmuwan, agamawan, dan filosof. Antara lain berupa kegiatan diskusi  yang  menyita  waktu  dan energi  mereka,  khususnya  detail kebangkitan tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
 
Dalam hal ini kita ingin menggarisbawahi bahwa seorang  Muslim dituntut  oleh agamanya untuk meyakini adanya hari kebangkitan setelah kematiannya di mana ketika itu ia menyadari eksistensi dirinya  secara  sempurna. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut -apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja- yang  pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika ia hidup di dunia.
 
Adapun keterangan tentang hakikat kebangkitan,  bentuk,  waktu dan  tempatnya,  maka  kesemua hal ini berada di luar tuntunan agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan  para  filosof dan  ulama  tentang  soal  tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan  kepuasan   penalaran   akal   daripada   dorongan kehangatan iman.
  
Wa Allahu 'Alam. []
 
Catatan kaki:
 
 1 Ada tiga kemungkinan yang dapat tergambar dalam benak bagi    sesuatu. Pertama, mustahil wujudnya, misalnya tiga lebih    banyak dari lima. Kedua, mungkin (boleh jadi), misalnya Si A    kaya atau miskin, hidup atau mati. Dan ketiga, pasti wujudnya,
   itulah Allah Swt., yang mustahil tergambar dalam benak kita    tentang ketiadaan-Nya.
 



























KEADILAN DAN KESEJAHTERAAN  

Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
 
Judul  bahasan  ini  mendahulukan   kata   keadilan   daripada kesejahteraan.  Memang,  terjadi  silang pendapat mengenai apa yang harus didahulukan, apakah  kesejahteraan  atau  keadilan? Dari  sekian  ayat  ditemukan  isyarat  perlunya  mendahulukan keadilan. Perhatikan misalnya surat Al-Ma-idah (5): 8,
 
   Berlaku adillah! Karena adil itu lebih dekat kepada    takwa.
 
Lalu hubungkanlah dengan firman-Nya:
 
   Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan    bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka    berkah dari langit dan bumi. (Tetapi) mereka    mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa    mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A'raf [7]: 96)
 
   Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, "Mohonlah ampun    kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha    Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat    kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan    mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula    di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh [71]:
   10-12).
 
Dari rangkaian ayat  di  atas  terlihat  bahwa  keadilan  akan mengantarkan  kepada  ketakwaan,  dan  ketakwaan  menghasilkan kesejahteraan.  Atas   dasar   pertimbangan   tersebut,   maka pembahasan pertama tulisan ini adalah tentang keadilan.
 
MAKNA KEADILAN
 
Keadilan  adalah  kata  jadian  dari kata "adil" yang terambil dari  bahasa   Arab   "   'adl".   Kamus-kamus   bahasa   Arab menginformasikan  bahwa  kata ini pada mulanya berarti "sama".
Persamaan  tersebut  sering  dikaitkan  dengan  hal-hal   yang bersifat  imaterial.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "adil" diartikan: (1) tidak berat sebelah/tidak  memihak,  (2) berpihak    kepada   kebenaran,   dan   (3)   sepatutnya/tidak sewenang-wenang.
 
"Persamaan" yang merupakan makna asal kata "adil" itulah  yang menjadikan  pelakunya "tidak berpihak", dan pada dasarnya pula seorang yang adil "berpihak kepada  yang  benar"  karena  baik yang  benar  maupun  yang  salah  sama-sama  harus  memperoleh haknya. Dengan demikian, ia  melakukan  sesuatu  "yang  patut" lagi "tidak sewenang-wenang".
 
Keadilan   diungkapkan   oleh   Al-Quran  antara  lain  dengan kata-kata al-'adl, al-qisth, al-mizan,  dan  dengan  menafikan kezaliman,  walaupun  pengertian keadilan tidak selalu menjadi antonim kezaliman. 'Adl, yang berarti  "sama",  memberi  kesan adanya  dua  pihak  atau  lebih; karena jika hanya satu pihak, tidak akan terjadi "persamaan".
 
Qisth arti asalnya adalah "bagian" (yang wajar dan patut). Ini tidak  harus  mengantarkan adanya "persamaan". Bukankah bagian dapat saja diperoleh oleh satu pihak? Karena itu,  kata  qisth lebih  umum  daripada  kata  'adl,  dan karena itu pula ketika Al-Quran  menuntut  seseorang  untuk  berlaku  adil   terhadap dirinya   sendiri,   kata   qisth  itulah  yang  digunakannya.
Perhatikan firman Allah dalam surat Al-Nisa' (4): 135,  
   Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak    al-qisth (keadilan), menjadi saksi karena Allah,    walaupun terhadap dirimu sendiri...
 
Mizan berasal dari akar kata wazn yang berarti timbangan. Oleh karena  itu, mizan, adalah "alat untuk menimbang". Namun dapat pula berarti "keadilan",  karena  bahasa  seringkali  menyebut
"alat" untuk makna "hasil penggunaan alat itu".
 

KEADILAN DALAM AL-QURAN

 
Keadilan  yang  dibicarakan  dan  dituntut  oleh Al-Quran amat beragam, tidak hanya pada proses penetapan hukum atau terhadap pihak   yang  berselisih,  melainkan  Al-Quran  juga  menuntut keadilan terhadap diri sendiri, baik ketika berucap,  menulis, atau bersikap batin.
 
   Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku    adil walaupun terhadap kerabat...! (QS Al-An'am [6]:    152).
 
   Dan hendaklah ada di antara kamu seorang penulis yang    menulis dengan adil (QS Al-Baqarah [2]: 282).
 
Kehadiran  para  Rasul  ditegaskan  Al-Quran  bertujuan  untuk menegakkan sistem kemanusiaan yang adil.
 
   Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul, dengan    membawa bukti-bukti nyata, dan telah Kami turunkan    bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) agar    manusia dapat melaksanakan keadilan (QS Al-Hadid [57]:    25).
 
Al-Quran memandang  kepemimpinan  sebagai  "perjanjian  Ilahi" yang   melahirkan   tanggung  jawab  menentang  kezaliman  dan menegakkan keadilan.
 
   Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu
   (hai Ibrahim) pemimpin untuk seluruh manusia." Dia
   (Ibrahim) berkata, (Saya bermohon agar) termasuk juga    keturunan-keturunanku "Allah berfirman, "Perjanjian-Ku    ini tidak akan diterima oleh orang-orang yang zalim"
   (QS Al-Baqarah [2]: 124).
 
Demikian terlihat bahwa kepemimpinan dalam pandangan  ayat  di atas bukan sekadar kontrak sosial, tetapi juga menjadi kontrak atau  perjanjian  antara  Allah  dan   sang   pemimpin   untuk menegakkan keadilan.
 
Bahkan Al-Quran menegaskan bahwa alam raya ini ditegakkan atas dasar keadilan:
 
   Dan langit ditegakkan dan Dia menetapkan al-mizan
   (neraca kesetimbangan) (QS Al-Rahman [55]: 7)
 
Walhasil, dalam Al-Quran dapat ditemukan  pembicaraan  tentang keadilan,   dari   tauhid   sampai   keyakinan  mengenai  hari kebangkitan, dari nubuwwah (kenabian) hingga kepemimpinan, dan dari  individu  hingga masyarakat. Keadilan adalah syarat bagi terciptanya  kesempurnaan   pribadi,   standar   kesejahteraan masyarakat,  dan  sekaligus  jalan terdekat menuju kebahagiaan ukhrawi.
 

RAGAM MAKNA KEADILAN

 
Ketiga kata -qisth, 'adl, dan mizan- pada  berbagai  bentuknya digunakan  oleh Al-Quran dalam konteks perintah kepada manusia untuk berlaku adil.
 
   Katakanlah, "Tuhanku memerintahkan menjalankan    al-qisth (keadilan)" (QS Al-A'raf [7]: 29)
   
   Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan    berbuat ihsan (kebajikan) (QS Al-Nahl [16]: 90)
 
   Dan langit ditinggikan-Nya dan Dia meletakkan neraca
   (keadilan) agar kamu tidak melampaui batas tentang    neraca itu (QS Al-Rahman [55]: 7-8).
 
Ketika Al-Quran menunjuk Zat Allah yang memiliki  sifat  adil, kata yang digunakanNya hanya Al-qisth (QS Ali 'Imran [31: 18).
 
Kata  'adl  yang  dalam  berbagai  bentuk  terulang  dua puluh delapan kali dalam Al-Quran, tidak satu pun  yang  dinisbatkan kepada   Allah   menjadi  sifat-Nya.  Di  sisi  lain,  seperti dikemukakan di atas, beragam aspek dan  objek  keadilan  telah dibicarakan  oleh  Al-Quran; pelakunya pun demikian. Keragaman tersebut mengakibatkan keragaman makna keadilan.
 
Paling tidak ada empat makna keadilan  yang  dikemukakan  oleh para pakar agama.
 
Pertama, adil dalam arti "sama"
 
Anda  dapat  berkata  bahwa si A adil, karena yang Anda maksud adalah bahwa dia  memperlakukan  sama  atau  tidak  membedakan seseorang  dengan  yang lain. Tetapi harus digarisbawahi bahwa persamaan yang dimaksud  adalah  persamaan  dalam  hak.  Dalam
surat Al-Nisa' (4): 58 dinyatakan bahwa,
 
   Apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia,    maka hendaklah engkau memutuskannya dengan adil...
 
Kata "adil" dalam  ayat  ini  -bila  diartikan  "sama"-  hanya mencakup   sikap   dan   perlakuan   hakim  pada  saat  proses pengambilan keputusan.
 
Ayat ini menuntun sang  hakim  untuk  menempatkan  pihak-pihak yang  bersengketa  di  dalam  posisi yang sama, misalnya ihwal tempat duduk, penyebutan nama (dengan atau  tanpa  embel-embel penghormatan),  keceriaan wajah, kesungguhan mendengarkan, dan memikirkan ucapan mereka, dan sebagainya yang  termasuk  dalam proses   pengambilan  keputusan.  Apabila  persamaan  dimaksud mencakup keharusan mempersamakan apa yang mereka  terima  dari keputusan,  maka  ketika  itu persamaan tersebut menjadi wujud nyata kezaliman.
 
Al-Quran mengisahkan dua orang berperkara yang  datang  kepada Nabi  Daud a.s. untuk mencari keadilan. Orang pertama memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,  sedangkan  orang kedua  hanya  memiliki  seekor.  Pemilik  kambing  yang banyak mendesak agar diberi pula yang seekor itu agar genap  seratus. Nabi   Daud   tidak  memutuskan  perkara  ini  dengan  membagi kambing-kambing  itu  dengan  jumlah  yang   sama,   melainkan menyatakan  bahwa  pemilik sembilan puluh sembilan kambing itu telah berlaku aniaya atas permintaannya  itu  (QS  Shad  [38]: 23).
 
Kedua, adil dalam arti "seimbang"
 
Keseimbangan  ditemukan  pada  suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian  yang  menuju  satu  tujuan  tertentu, selama syarat dan kadar tertentu terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok  itu  dapat  bertahan dan berjalan memenuhi tujuan kehadirannya.
 
   Wahai manusia, apakah yang memperdayakan kamu (berbuat    durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang    menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu, dan    mengadilkan kamu (menjadikan susunan tubuhmu seimbang)
   (QS Al-Infithar [82]: 6-7).
 
Seandainya ada salah satu anggota tubuh manusia berlebih  atau berkurang  dari  kadar atau syarat yang seharusnya, maka pasti tidak akan terjadi kesetimbangan (keadilan).
 
Contoh lain tentang  keseimbangan  adalah  alam  raya  bersama
ekosistemnya. Al-Quran menyatakan bahwa,
 
   (Allah) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
   Kamu sama sekali tidak melihat pada ciptaan Yang Maha
   Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang. Amatilah    berulang-ulang! Adakah kamu melihat sesuatu yang tidak
   seimbang? (QS Al-Mulk [67]: 3)
 
Di    sini,     keadilan     identik     dengan     kesesuaian (keproporsionalan),   bukan   lawan  kata  "kezaliman".  Perlu dicatat bahwa keseimbangan tidak mengharuskan persamaan  kadar dan  syarat  bagi  semua  bagian unit agar seimbang. Bisa saja satu bagian berukuran kecil atau besar,  sedangkan  kecil  dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya.
 
Petunjuk-petunjuk  Al-Quran  yang  membedakan satu dengan yang lain, seperti pembedaan lelaki dan perempuan pada beberapa hak waris  dan  persaksian  -apabila  ditinjau  dari sudut pandang keadilan-  harus  dipahami  dalam  arti  keseimbangan,   bukan persamaan.
 
Keadilan  dalam  pengertian  ini  menimbulkan  keyakinan bahwa Allah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui  menciptakan  dan mengelola  segala  sesuatu  dengan  ukuran,  kadar,  dan waktu tertentu  guna  mencapai  tujuan.   Keyakinan   ini   nantinya mengantarkan kepada pengertian Keadilan Ilahi.
 
   Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan yang    amat teliti (QS Al-Rahman [55]: 5).
   
   Sesungguhuga Kami menciptakan segala sesuatu menurut    ukurannya (QS Al-Qamar [54]: 49)
 
Ketiga, adil adalah "perhatian terhadap hak-hak  individu  dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya"
 
Pengertian   inilah  yang  didefinisikan  dengan  "menempatkan sesuatu  pada  tempatnya"  atau  "memberi  pihak  lain  haknya melalui  jalan  yang  terdekat".  Lawannya adalah "kezaliman", dalam arti pelanggaran terhadap  hak-hak  pihak  lain.  Dengan demikian menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri adalah  lawannya.  Sungguh  merusak  permainan  (catur),  jika menempatkan  gajah  di  tempat raja, demikian ungkapan seorang sastrawan yang arif.
 
Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.
 
Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi
 
Adil di sini berarti "memelihara kewajaran  atas  berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu."
 
Semua wujud tidak memiliki hak atas Allah. Keadilan Ilahi pada dasarnya   merupakan   rahmat  dan  kebaikan-Nya.  KeadilanNya mengandung konsekuensi bahwa rahmat A h  Swt.  tidak  tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
 
Sering  dinyatakan  bahwa  ketika A mengambil hak dari B, maka pada saat itu juga B mengambil hak dari A.  Kaidah  ini  tidak berlaku  untuk  Allah Swt., karena Dia memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki  sesuatu  di sisi-Nya.
 
Dalam  pengertian  inilah  harus dipahami kandungan firman-Nya yang menunjukkan Allah  Swt.  sebagai  qaiman  bilqisth  (yang menegakkan  keadilan)  (QS Ali 'Imram [3]: 18), atau ayat lain yang mengandung arti keadilan-Nya seperti:
 
   Dan Tuhanmu tidak berlaku aniaya kepada hamba-hambaNya
   (QS Fushshilat [41]: 46).
 

KEADILAN MENCAKUP SEMUA HAL

 
Seperti dikemukakan di atas, Allah menciptakan  dan  mengelola alam  raya  ini  dengan  keadilan,  dan menuntut agar keadilan mencakup semua aspek kehidupan. Akidah,  syariat  atau  hukum, akhlak, bahkan cinta dan benci.
 
   Dan Kamu pasti tidak akan dapat berlaku adil di antara    wanita-wanita (istri-istrimu dalam hal cinta),    walaupun kamu berusaha keras ingin berbuat demikian.    Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada    yang kamu cintai), dan membiarkan yang lain    terkatung-katung (QS Al-Nisa' [4]: 129).
   
   Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak    keadilan, menjadi saksi karena Allah, biar pun    terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kerabatmu.
   Jika ia (yang tergugat atau terdakwa) kaya atau    miskin, maka Allah lebih utama dari keduanya... (QS
   Al-Nisa' [14]: 135)
   
   Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu    kelompok menjadikan kamu tidak berlaku adil (QS
   Al-Ma-idah  [5]: 8)
 
Kebencian  tidak   pernah   dapat   dijadikan   alasan   untuk mengorbankan  keadilan,  walaupun kebencian itu tertuju kepada kaum non-Muslim, atau didorong oleh upaya memperoleh ridhaNya.
Itu sebabnya Rasul Saw. mewanti-wanti agar,
 
   Berhati-hatilah terhadap doa (orang) yang teraninya,    walaupun dia kafir, karena tidak ada pemisah antara    doanya dengan Tuhan.
   
   Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan
   "tuqsithu" (berlaku adil) terhadap orang-orang (kafir)    yang tidak menerangimu karena agama, dan tidak    mengusirmu dari negerimu atau membantu orang lain    untuk mengusir kamu... (QS Al-Mumtahanah [60]: 8).

Ibnu 'Arabi, pakar tafsir dan hukum  Islam  bermazhab  Maliki, tidak  sependapat  dengan  mereka yang memahami kata taqshithu pada firman Allah di atas dalam arti  berlaku  adil.  "Berlaku adil",  tulisnya,  "adalah  wajib  terhadap  orang-orang kafir (baik yang memerangi maupun yang  tidak)."  Kata  taqsithu  di sini   menurutnya  adalah  "memberi  bagian  dari  harta  guna menjalin hubungan baik".
 
Keadilan harus ditegakkan di mana pun, kapan pun, dan terhadap siapa  pun.  Bahkan,  jika  perlu dengan tindakan tegas. Salah satu ayat Al-Quran menggandengkan "timbangan" (alat ukur  yang adil)   dengan  "besi"  yang  antara  lain  digunakan  sebagai senjata. Ini untuk  memberi  isyarat  bahwa  kekerasan  adalah salah satu cara untuk menegakkan keadilan.
 
   Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul dengan    membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan    bersama mereka Al-Kitab dan Al-Mizan (neraca    keadilan), dan Kami ciptakan besi yang padanya    terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi    manusia (supaya besi itu digunakan). Allah mengetahui    siapa yang menolong (memperguangkan nilai-nilai)    agama-Nya dan membantu rasul-rasul-Nya, walaupun Allah    gaib dari pandangan mata mereka [QS Al-Hadid [57]:
   25).
   
   Apabila dua kelompok Mukmin berselisih, lakukanlah    ishlah (perdamaian) di antara keduanya. Bila salah    satu dari kedua kelompok itu membangkang, maka perangi
   (ambil tindakan tegas terhadap) yang membangkang,    sehingga ia menerima ketetapan Allah (QS Al-Hujurat
   [49]: 9)
 
Lanjutan ayat ini perlu mendapat perhatian, yakni:
 
   Apabila ia (kelompok yang membangkang itu) telah    kembali (taat) maka lakukanlah perdamaian dengan adil.    Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku
   adil (QS Al-Hujurat [49]: 9)
 
Sungguh  tepat  menggandengkan   perintah   mendamaikan   pada lanjutan  ayat  ini  dengan  "keharusan  berlaku adil". Karena walaupun keadilan  dituntut  dalam  setiap  sikap  sejak  awal proses  perdamaian,  tetapi  sikap  itu lebih dibutuhkan untuk para  juru  damai  setelah  mereka  terlibat  menindak   tegas kelompok  pembangkang. Ini karena besar kemungkinan mereka pun mengalami kerugian, harta, jiwa, atau paling tidak harga  diri akibat   ulah   para   pembangkang.  Kerugian  tersebut  dapat mendorongnya untuk berlaku tidak adil,  karena  itu  ayat  ini menekankan terhadap mereka kewajiban berlaku adil.
 
Begitu  luas  pesan keadilan Al-Quran, sehingga seseorang yang merasa  sempit  dari  keadilan,  pasti  akan  merasakan  bahwa ketidakadilan jauh lebih sempit. KEADILAN ILAHI
 
Pembicaraan tentang keadilan Ilahi bukanlah sesuatu yang baru.
Persoalan ini hadir sejak  manusia  mengenal  baik  dan  buruk Pertanyaan-pertanyaan   seperti  mengapa  ada  kejahatan,  ada penyakit dan kemiskinan, bahkan mengapa Tuhan  menganugerahkan si A segala kenikmatan, dan menjadikan si B tenggelam ke dalam bencana? Kesemua pertanyaan itu dapat menjadi wajar.
 
Tetapi tidak mudah memahami  -apalagi  menjelaskan-  persoalan ini  jika  dikaitkan dengan keadilan Ilahi. Ia merupakan salah satu hal yang amat  muskil,  khususnya  bila  ingin  memuaskan semua  nalar.  Itu  sebabnya  yang merasakan Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan Tuhan biasanya hanya berkata, "Ada hikmah di balik    setiap   peristiwa,   baik   yang   dinilai   sebagai ketidakadilan (kejahatan) maupun sebaliknya." Jawaban  semacam ini jelas tidak memuaskan nalar.
 
Pada  masyarakat primitif terdapat keyakinan adanya dua Tuhan: Tuhan Cahaya (Kebaikan) dan Tuhan Kegelapan. Keyakinan seperti ini  -yang  sekaligus merupakan jawaban- ditolak oleh penganut monoteisme. Al-Quran secara tegas menolak dualisme, baik  pada penciptaan, penguasaan, maupun pengaturan alam raya.
 
   Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit    dan bumi, dan yang menjadikan kegelapan dan cahaya (QS
   Al-An'am [6]: 1)
 
Sebagian  pakar  agama  termasuk  agama  Islam   menyelesaikan persoalan ini dengan menyatakan bahwa yang dinamakan kejahatan atau keburukan sebenarnya tidak ada, atau paling  tidak  hanya terdapat  pada  nalar  manusia  yang memandang secara parsial.
Bukankah Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa,
 
   Dialah yang membuat segala sesuatu dengan    sebaik-baiknya (QS Al-Ahzab [32]: 7).
 
Kalau demikian, segala  sesuatu  diciptakan  oleh  Allah,  dan segala sesuatu yang bersumber dari Allah pasti baik. Keburukan adalah akibat  dari  keterbatasan  pandangan.  Segala  sesuatu sebenarnya   tidak  buruk,  tetapi  nalar  manusia  mengiranya demikian.
 
   Boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia baik    bagimu, dan bolehjadi engkau menyenangi sesuatu    padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu    tidak mengetahui (QS Al-Baqarah [2]: 216).
 
Nalar tidak dapat menembus semua  dimensi.  Seringkali  ketika seseorang  memandang  sesuatu secara mikro, hal itu dinilainya buruk dan  jahat,  tetapi  jika  dipandang  secara  makro  dan menyeluruh,  justru  hal  itu  merupakan  unsur  keindahan dan kebaikan. Bukankah jika pandangan hanya ditujukan kepada  tahi lalat  di  wajah  seorang  wanita akan terlihat buruk? Tetapi, bila wajah dipandang secara menyeluruh, tahi lalat tadi justru menjadi  unsur  utama  kecantikannya! Bukankah jika Anda hanya melihat kaki seseorang dipotong, Anda akan  menilainya  kejam, tetapi   bila   Anda  mengetahui  bahwa  sang  dokterlah  yang mengamputasi pasiennya, Anda justru akan berterima  kasih  dan memujinya?  Karena  itu,  jangan memandang kebijaksanaan Allah secara mikro. Kalaupun Anda tidak  mampu  memandangnya  secara makro, yakinilah bahwa ada hikmah di balik semua itu.
 
Boleh  jadi  nalar  Anda  belum puas. Sekali lagi, mengapa ada kejahatan, ada setan yang diciptakan-Nya untuk menggoda,  atau ada nasib baik dan nasib buruk yang dialami manusia?
 
Al-Quran menyatakan bahwa jenis manusia adalah satu kesatuan,
 
   "Manusia itu adalah untuk umat yang satu" (QS
   Al-Baqarah [2]: 213)
 
Bahkan seluruh jagat raya merupakan satu kesatuan.
 
   Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan    burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya,    melainkan adalah umat (satu kesatuan) seperti kamu    juga. Tidak Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab    (pengetahuan Tuhan). Kemudian kepada Tuhanmulah mereka    dihimpunkan (QS Al-An'am [6]: 38).
 
Jika demikian, pribadi demi pribadi secara sadar  atau  tidak, bekerja sama dan saling menopang demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu ada di antara  mereka  yang  menjadi  "korban"  demi kebahagiaan   makhluk   secara  keseluruhan.  Pengorbanan  itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia. Korban (yang mengalami "keburukan") harus ada, demi mewujudnya kebaikan dan keindahan. Bagaimana mungkin  manusia  mengetahui arti   berani,   jika   tidak  ada  bahaya?  Bagaimana  mereka mengetahui nikmatnya sehat, bila tidak  merasakan  sakit?  Apa artinya  kesabaran  jika  tidak  ada malapetaka? Nah, siapakah yang harus mengalami semua itu? Jika bukan makhluk juga?
 
Apabila  penderitaan  itu  terjadi  karena   kesalahan,   maka setimpallah  akibat  dengan  ulahnya.  Sedangkan apabila tidak bersalah, maka pengorbanan manusia akan  beroleh  ganjaran  di sisi  Allah,  yakni pengampunan dosa dan ketinggian derajat di akhirat sana (QS Al-Baqarah [2]: 155-157).
 
Patut dicatat bahwa Allah memberikan  potensi  kepada  manusia untuk  mampu  memikul  kesedihan dan melupakannya, begitu kata pakar psikologi dan begitu juga isyarat Al-Quran.
 
   Tidak satu petaka pun yang menimpa seseorang kecuali    dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada
   Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk    kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala    sesuatu (QS Al-Taghabun [64]: 11).
 
Manusia harus bekerja sama memikul bencana untuk mencapai  dan memahami tujuan keberadaannya.
 
Anda  boleh  bertanya,  "Mengapa  kerja  sama  itu  harus ada? Bukankah  Allah  Mahamutlak  kesempurnaan  dan   kekuasaanNya, sehingga  Dia kuasa menciptakan alam tanpa kekurangan atau pun tanpa kerja sama?"
 
Benar! Allah Mahamutlak kesempurnaan-Nya, karena
 
   Bagi Allahlah segala sifat yang terpuji (QS Al-A'raf
   [7]: 180).
 
Dia Mahakuasa, tiada sedikit pun kekurangan-Nya. Apakah  nalar Anda menuntut agar Dia menciptakan suatu ciptaan yang memiliki kesempurnaan mutlak seperti kesempurnaan-Nya?  Jika  itu  yang diinginkan,  akan  terdapat dua Tuhan, dan ini mustahil. Bukan saja  dari  segi   redaksional   kata   "mutlak"   (kemutlakan mengandung  arti  kesendirian),  melainkan  juga mustahil dari sisi keyakinan "keesaan-Nya", serta bertentangan  pula  dengan firman-Nya,
 
   Tiada yang serupa dengan-Nya satu pun (QS [42]: 11).
 
Yakni, jangankan yang  sama  dengan-Nya,  yang  serupa  dengan serupa-Nya pun tiada.
 
Adalah   logis   bahwa  Pencipta  harus  berbeda  dengan  yang diciptakan. Yang diciptakan kurang sempurna dibandingkan  sang pencipta.  Kekurangan  dan  ketidaksempurnaan itu mencakup apa yang dinamai atau diduga sebagai keburukan. Jangan lupa  bahwa yang  dinamakan  dan  dikeluhkan  manusia  itu  tidak mencakup seluruh alam sebagai suatu unit dan serentak, melainkan  hanya diderita oleh sebagian unsur-unsurnya. Bahkan sering kejahatan yang diderita seseorang  dapat  menjadi  nikmat  bagi  dirinya sendiri  di masa datang, atau merupakan nikmat bagi yang lain. Harus diingat juga bahwa terdapat  banyak  makhluk  Allah  dan sebagian   besar   tidak   diketahui  manusia,  sebab  seperti firman-Nya,
 
   Dia menciptakan (makhluk) yang tidak kamu ketahui (QS
   Al-Nahl [16]: 8).
 
Konon pengetahuan manusia baru  dapat  menjangkau  sekitar  3% dari seluruh alam raya ini.
 
Apakah nalar manusia menginginkan agar Tuhan tidak menciptakan manusia sama sekali? Jangan berkeinginan seperti  itu,  karena ini  bertentangan  dengan  makna kekuasaan-Nya. Bukankah wujud dan  kekuasaan-Nya  tidak  dapat  tercermin  kecuali   melalui ciptaan-Nya?
 
Boleh  jadi  Anda  berkata  bahwa yang dikemukakan di atas ini adalah tinjauan kekuasaan dan kodrat Ilahi, bukan  dari  sudut pandang  rahmat  dan  nikmat-Nya. Bukankah dari sudut tinjauan ini, "tidak menciptakan sama sekali  justru  jauh  lebih  baik daripada  menciptakan  sesuatu  yang disertai dengan kepedihan dan kejahatan?"
 
Barangkali demikian. Tetapi, mungkin juga pernyataan "mencipta dan   memelihara   hak  atas  berlanjutnya  eksistensi,  tidak mencegah kelanjutan eksistensi, dan memperoleh rahmat  sewaktu terdapat   kemungkinan   eksis  atau  potensi  untuk  mencapai kesempurnaan" (seperti makna keadilan Ilahi  yang  dikemukakan sebelum ini), jauh lebih baik.
 
Jika  seperti  itu  adanya,  persoalan  keadilan  Ilahi  bukan problem nalar, melainkan problem  rasa,  sebagai  akibat  dari keinginan  manusia untuk selalu mendapatkan yang terbaik untuk diri, keluarga, atau jenisnya  saja,  hingga  melupakan  pihak lain.  Jika  problemnya  demikian, yang mampu menanggulanginya adalah rasa juga. Di sinilah agama dan keyakinan berperan amat besar.
 

KEADILAN SOSIAL

 
Al-Quran   menetapkan   bahwa   salah   satu  sendi  kehidupan bermasyarakat adalah keadilan. Tidak lebih dan  tidak  kurang. Berbuat   baik  melebihi  keadilan  --seperti  memaafkan  yang bersalah atau memberi bantuan kepada yang malas--  akan  dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.
 
Memang  Al-Quran  memerintahkan  perbuatan  adil dan kebajikan seperti bunyi firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh  (kamu) berlaku  adil  dan  berbuat  kebajikan" (QS Al-Nahl 116]: 90), karena ihsan (kebajikan) dinilai sebagai sesuatu yang melebihi keadilan.  Namun dalam kehidupan bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada kedermawanan atau ihsan.
 
Ihsan  adalah  memperlakukan  pihak  lain  lebih   baik   dari perlakuannya,   atau   memperlakukan   yang   bersalah  dengan perlakuan yang baik. Ihsan dan kedermawanan merupakan  hal-hal yang  baik pada tingkat antar individu, tetapi dapat berbahaya jika dilakukan pada tingkat masyarakat.
 
Imam Ali r.a. bersabda, "Adil adalah menempatkan sesuatu  pada tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkannya bukan pada  tempatnya."  Jika  hal  ini  menjadi   sendi   kehidupan bermasyarakat,  maka  masyarakat  tidak akan menjadi seimbang. Itulah sebabnya, mengapa Nabi  Saw.  menolak  memberikan  maaf kepada  seorang  pencuri setelah diajukan ke pengadilan, walau pemilik harta telah memaafkannya.
 
Shafwan bin Umayyah  dicuri  pakaiannya  oleh  seseorang.  Dia menangkap  pencurinya  dan  membawanya kepada Nabi Saw. Beliau memerintahkan  memotong   tangan   pencuri,   tetapi   Shafwan memaafkan, maka Nabi Saw. bersabda.
 
   "Seharusnya ini (pemanfaan) sebelum engkau membawanya    kepadaku" (Diriwayatkan oleh Ahmad At-Tirmidzi dan
   An-Nasa'i).
 
Hidup  adalah  perjuangan.  Yang  baik  dan  bermanfaat   akan bertahan,   sedang   yang   buruk  akhirnya  hancur.  Demikian ketetapan Ilahi.
 
   Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak    ada harganya, sedangkan yang memben manfaat bagi    manusia itulah yang tetap bertahan di bumi.
   Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (QS
   Al-Raid [13]: 17).
 
Potensi dan kemampuan manusia berbeda-beda, bahkan potensi dan kemampuan  para  rasul  pun demikian (QS Al-Baqarah [2]: 253). Perbedaan adalah sifat masyarakat, namun hal itu  tidak  boleh mengakibatkan  pertentangan.  Sebaliknya,  perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja sama yang menguntungkan semua pihak. Demikian  kandungan  makna  firman-Nya  pada  surat Al-Hujurat (49): 13.
 
Dalam  surat  Az-Zukhruf  (43):  32   tujuan   perbedaan   itu dinyatakan:
 
   Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami
   telah menentukan di antara mereka (melalui    sunnatullah) penghidupan mereka di dunia, dan Kami    telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang    lain beaberapa tingkatan, agar mereka dapat saling    menggunakan (memanfaatkan kelebihan dan kekurangan    masing-masing) rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang    mereka kumpulkan.
 
Setiap anggota masyarakat dituntut  untuk  fastabiqul  khairat (berlomba-lombalah  di  dalam  kebajikan)  (QS Al-Baqarah [2]: 148).  Setiap  perlombaan  menjanjikan   "hadiah".   Di   sini hadiahnya    adalah   mendapatkan   keistimewaan   bagi   yang berprestasi.  Tentu  akan  tidak  adil  jika   peserta   lomba dibedakan  atau  tidak  diberi  kesempatan  yang sama. Tetapi, tidak adil juga bila setelah  berlomba  dengan  prestasi  yang berbeda,  hadiahnya  dipersamakan,  sebab  akal  maupun  agama menolak hal ini.
 
   Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (tidak    berjuang) kecuali yang uzur, dengan orang yang    berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
   Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan    harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk    (tidak ikut berjuang karena uzur) satu derajat. Dan    kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan imbalan    baik... (QS Al-Nisa' [4]: 95).
   
   Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang    yang tidak mengetahui? (QS Al-Zumar [39]: 9).

Keadilan sosial seperti terlihat di atas, bukan  mempersamakan semua anggota masyarakat, melainkan mempersamakan mereka dalam kesempatan mengukir prestasi.
 
Dalam  Kamus   Besar   Bahasa   Indonesia,   keadilan   sosial didefinisikan  sebagai "kerja sama untuk mewujudkan masyarakat yang  bersatu  secara   organik,   sehingga   setiap   anggota masyarakat  memiliki  kesempatan  yang  sama  dan  nyata untuk
tumbuh berkembang sesuai kemampuan masing-masing."
 
Nah, jika  di  antara  mereka  ada  yang  tidak  dapat  meraih prestasi  atau  memenuhi  kebutuhan  pokoknya, masyarakat yang berkeadilan  sosial  terpanggil  untuk  membantu  mereka  agar mereka  pun  dapat  menikmati  kesejahteraan.  Keadilan sosial semacam inilah yang akan melahirkan kesejahteraan sosial.
 
Bukankah telah dikemukakan pada awal uraian ini bahwa keadilan akan mengantarkan kita kepada kesejahteraan? Dengan kata lain, bukti atau  anak  sah  keadilan  sosial  adalah  kesejahteraan sosial.

 

KESEJAHTERAAN SOSIAL

 
"Sejahtera" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah "aman, sentosa dan  makmur;  selamat  (terlepas)  dari  segala  macam gangguan,   kesukaran   dan   sebagainya."   Dengan   demikian kesejahteraan  sosial,  merupakan  keadaan   masyarakat   yang sejahtera.
 
Sebagian  pakar  menyatakan  bahwa  kesejahteraan  sosial yang didambakan Al-Quran tecermin dari surga yang dihuni oleh  Adam dan  istrinya,  sesaat  sebelum  turunnya  mereka melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi. Seperti telah  diketahui,  sebelum Adam dan istrinya diperintahkan turun ke bumi, mereka terlebih dahulu ditempatkan di surga.
 
Surga  diharapkan  menjadi  arah  pengabdian  Adam  dan  Hawa, sehingga  bayang-bayang surga itu diwujudkannya di bumi, serta kelak dihuninya secara  hakiki  di  akhirat.  Masyarakat  yang mewujudkan  bayang-bayang  surga  itu  adalah  masyarakat yang berkesejahteraan.
 
Kesejahteraan surgawi dilukiskan antara lain dalam  peringatan
Allah kepada Adam:
 
   Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu    dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia    mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang akibatnya    engkau akan bersusah payah. Sesungguhnya engkau tidak    akan kelaparan di sini (surga), tidak pula akan    telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan merasa    dahaga maupun kepanasan (QS Thaha [20]: 117- 119)
 
Dari ayat ini jelas bahwa  pangan,  sandang,  den  papan  yang diistilahkan   dengan  tidak  lapar,  dahaga,  telanjang,  dan kepanasan  semuanya  telah  terpenuhi  di  sana.  Terpenuhinya kebutuhan  ini merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial.
 
Dari ayat lain diperoleh informasi bahwa masyarakat  di  surga hidup  dalam  suasana  damai,  harmonis,  tidak terdapat suatu dosa, dan tidak ada sesuatu  yang  tidak  wajar,  serta  tiada pengangguran ataupun sesuatu yang sia-sia:
 
   Mereka tidak mendengar di dalamnya (surga) perkataan    sia-sia; tidak pula (terdengar adanya) dosa, tetapi    ucapan salam dan salam (sikap damai) (QS Al-Waqi'ah
   [56]: 25 dan 26).
 
Mereka hidup bahagia bersama sanak  keluarganya  yang  beriman (Baca surat Ya Sin [36]: 55-58, dan Al-Thur [52]: 21).
 
Adam    bersama    istrinya    diharapkan   dapat   mewuJudkan bayang-bayang surga itu di permukaan  bumi  ini  dengan  usaha sungguh-sungguh, berpedoman kepada petunjuk-petunjuk Ilahi.
 
   Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu (hai Adam,    setelah engkau berada di dunia, maka ikutilah). Maka    barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tiada    ketakutan menimpa mereka dan tiada pula kesedihan (QS
   Al-Baqarah [2]: 38).
 
Itulah rumusan kesejahteraan yang dikemukakan  oleh  Al-Quran. Rumusan ini dapat mencakup berbagai aspek kesejahteraan sosial yang pada kenyataannya  dapat  menyempit  atau  meluas  sesuai dengan kondisi pribadi, masyarakat, serta perkembangan zaman.
 
Untuk  masa  kini,  kita  dapat  berkata  bahwa yang sejahtera adalah yang terhindar dari  rasa  takut  terhadap  penindasan, kelaparan, dahaga, penyakit, kebodohan, masa depan diri, sanak keluarga, bahkan lingkungan. Sayyid Quthb mengatakan bahwa:
 
Sistem kesejahteraan sosial yang diajarkan Islam bukan sekadar bantuan  keuangan  --apa pun bentuknya. Bantuan keuangan hanya merupakan satu dari  sekian  bentuk  bantuan  yang  dianjurkan
Islam.1
 
DARI MANAKAH MEMULAINYA?
 
Kesejahteraan  sosial  dimulai  dari perjuangan mewujudkan dan menumbuhsuburkan  aspek-aspek  akidah  dan  etika  pada   diri pribadi,  karena  dari  diri  pribadi yang seimbang akan lahir masyarakat seimbang. Masyarakat Islam pertama lahir dari  Nabi Muhammad   Saw.,   melalui   kepribadian  beliau  yang  sangat mengagumkan.  Pribadi  ini   melahirkan   keluarga   seimbang: Khadijah,   Ali   bin  Abi  Thalib,  Fathimah  Az-Zahra',  dan lain-lain. Kemudian lahir  di  luar  keluarga  itu  Abu  Bakar Ash-Shiddiq   r.a.,   dan   sebagainya,  yang  juga  membentuk keluarga, dan  demikian  seterusnya,  sehingga  pada  akhirnya terbentuklah  masyarakat  yang  seimbang  antara  keadilan dan kesejahteraan sosialnya.
 
Kesejahteraan sosial dimulai dengan "Islam", yaitu  penyerahan diri  sepenuhnya  kepada  Allah  Swt.  Tidak mungkin jiwa akan merasakan  ketenangan  apabila  kepribadian  terpecah   (split personality):
 
   Allah membuat perumpamaan seorang budak yang dimiliki    oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam    perselisihan, dan seorang budak yang menjadi milik    penuh seseorang. Adakah kedua budak itu sama halnya?    Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak    mengetahui (QS Al-Zumar [39]: 29).
 
Kesejahteraan sosial  dimulai  dari  kesadaran  bahwa  pilihan Allah  --apa  pun  bentuknya,  setelah usaha maksimal-- adalah pilihan terbaik, dan  selalu  mengandung  hikmah.  Karena  itu Allah   memerintahkan   kepada   manusia  berusaha  semaksimal mungkin, kemudian berserah diri kepada-Nya, disertai kesadaran bahwa:
 
   Tiada satu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak    pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis di    dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami    menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah    bagi Allah. (Kami jelaskan ini) supaya kamu jangan    berduka cita terhadap sesuatu yang luput dari kamu,    dan jangan juga terlalu gembira (melampaui batas)    terhadap hal yang diberikannya kepada kamu... (QS
   Al-Hadid [57]: 22-23).
 
Ini dimulai dengan pendidikan kejiwaan  bagi  setiap  pribadi, keluarga,  dan masyarakat, sehingga akhirnya tercipta hubungan yang serasi di antara semua  anggota  masyarakat,  yang  salah satu  cerminannya  adalah kesediaan mengulurkan tangan sebelum diminta oleh yang membutuhkan, atau kesediaan  berkorban  demi kepentingan orang banyak.
 
   Mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka    sendiri, sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka    berikan itu) (QS Al-Hasyr [59]: 9).
 
Setiap pribadi bertanggung jawab  untuk  mensucikan  jiwa  dan hartanya,  kemudian  keluarganya,  dengan memberikan perhatian secukupnya terhadap pendidikan anak-anak  dan  istrinya,  baik dari  segi jasmani maupun ruhani. Tentunya, tanggung jawab ini mengandung konsekuensi keuangan dan pendidikan.
 
Dari sini Al-Quran  memerintahkan  penyisihan  sebagian  hasil usaha  untuk  menghadapi masa depan. Salah satu penggalan ayat yang  diulang-ulang  Al-Quran  sebagai  tanda  orang  bertakwa adalah,
 
   Dan sebagian dari yang Kami anugerahkan kepada mereka,    mereka nafkahkan (QS Al-Baqarah [2]: 3)
 
Sebagian  lain  (yang  tidak  mereka  nafkahkan  itu),  mereka tabung,  demikian  tulis Muhammad Abduh, guna menciptakan rasa aman menghadapi masa depan, diri, dan keluarga.
 
   Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang    seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak    lemah, yang mereka khawatir terhadap
   (kesejabteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka    bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan    perkataan yang benar (QS Al-Nisa' [4]: 9).
 
Dari  keluarga,  kewajiban  beralih  kepada  seluruh   anggota masyarakat,  sehingga  dikenal  adanya  kewajiban timbal balik antara  pribadi  dan  masyarakat,  serta  masyarakat  terhadap pribadi.   Kewajiban   tersebut  --sebagaimana  halnya  setiap kewajiban-- melahirkan hak-hak tertentu yang  sifatnya  adalah keserasian  dan  keseimbangan  di antara keduanya. Sekali lagi kewajiban  dan  hak  tersebut  tidak  terbatas   pada   bentuk penerimaan  maupun  penyerahan  harta  benda,  tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan.
 
   Siapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka    hendaklah ia meluruskannya dengan tangan. Bila tak    mampu maka dengan lidah, dan bila (inipun) ia tak    mampu, maka dengan hati dan inilah selemah-lemahnya    iman (Diriwayatkan oleh Muslim).
 
Demikian sabda Nabi Saw. yang pada akhirnya melahirkan  pesan, bahwa, paling tidak, seorang Muslim harus merasakan manis atau pahitnya sesuatu yang terjadi di  dalam  masyarakatnya,  bukan bersikap  tak  acuh  dan tak peduli. Terdapat puluhan ayat dan ratusan hadis yang menekankan  keterikatan  iman  dengan  rasa senasib dan sepenanggungan, di antaranya:
 
   Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka    itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak    menganjurkan memberi pangan kepada orang miskin (QS    Al-Ma'un [107]: 1-3)
 
Redaksi ayat di atas bukanlah "tidak memberi makan", melainkan "tidak   menganjurkan   memberi   pangan".  Ini  mencerrninkan kepedulian. Yang tidak  memiliki  kemampuan  memberi,  minimal harus   menganjurkan   pemberian   itu.  Jika  ini  pun  tidak dilakukannya, sesuai ayat  di  atas  ia  termasuk  orang  yang mendustakan agama dan hari pembalasan.
 
Setiap orang berkewajiban bekerja. Masyarakat atau mereka yang berkemampuan harus  membantu  menciptakan  lapangan  pekerjaan untuk   setiap   anggotanya  yang  berpotensi.  Karena  itulah monopoli dilarang-Nya. Jangankan di dalam bidang ekonomi, pada tempat  duduk  pun  diperintahkan  agar  memberi  peluang  dan kelapangan:
 
   Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada    kamu, "Berlapang-lapanglah di dalam majelis!", maka    lapangkanlah. Niscaya Allah memberi kelapangan untuk    kamu (QS Al-Mujadilah [58]: 11).
 
Setiap insan harus memperoleh perlindungan  jiwa,  harta,  dan kehormatannya.  Jangankan  membunuh atau merampas harta secara tidak sah, mengancam atau mengejek dengan sindiran halus, atau menggelari  dengan  sebutan  yang  tidak senonoh, berprasangka buruk tanpa dasar,  mencari-cari  kesalahan,  dan  sebagainya. Kesemuanya  ini terlarang dengan tegas, karena semua itu dapat menimbulkan rasa takut,  tidak  aman,  maupun  kecemasan  yang mengantarkan  kepada tidak terciptanya kesejahteraan lahir dan batin yang didambakan (QS Al-Hujurat [49]: 11-12).
 
Bantuan  keuangan  baru  boleh  diberikan  apabila   seseorang ternyata  tidak  dapat memenuhi kebutuhannya. Ketika seseorang datang kepada Nabi Saw. mengadukan  kemiskinannya,  Nabi  Saw. tidak  memberinya  uang  tetapi  kapak  agar  digunakan  untuk mengambil dan mengumpulkan kayu.
 
Di  sisi  lain,  perlu  diingat  bahwa   Al-Quran   menegaskan perkataan yang baik pada saat menolak, serta memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari si peminta, akan jauh  lebih  baik daripada  memberi  namun dibarengi sikap dan tingkah laku yang menyakitkan.
 
   Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik    daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang    menyakitkan (QS Al-Baqarah [2]: 263).
 
Demi  mewujudkan  kesejahteraan  sosial,   Al-Quran   melarang beberapa  praktek  yang  dapat  mengganggu keserasian hubungan antar anggota masyarakat, seperti larangan riba (QS Al-Baqarah [2]:  275),  dan larangan melakukan transaksi bukan atas dasar kerelaan (QS Al-Nisa' [4]: 29).  Di  samping  itu,  ditetapkan bahwa  pada  harta milik pribadi terdapat hak orang-orang yang membutuhkan dan harus disalurkan,  baik  berupa  zakat  maupun sedekah (QS Al-Dzariyat [51]: 19).
 
                           ***
 
Demikian  sekelumit  wawasan  Al-Quran  tentang  keadilan  dan kesejahteraan.
 
Tidak  dipungkiri  bahwa  uraian ini sangat terbatas dibanding dengan  wawasan  Al-Quran  tentang  topik  di   atas.   Namun, prinsip-prinsip  dasar dari wawasan Al-Quran kiranya --melalui
tulisan singkat ini-- telah dapat tercerminkan. []
 
Catatan kaki:
 
1 Sayyid Quthb, Dirasat Islamiyah,
  Al-Ma'arif, Kairo, 1967, hlm. 63
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar