KEMATIAN
Sebelum membicarakan
wawasan Al-Quran tentang
kematian, terlebih dahulu perlu
digarisbawahi bahwa kematian
dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi
sekali, tetapi dua kali. Surat Ghafir ayat 11 mengabadikan
sekaligus membenarkan ucapan orang-orang kafir di hari kemudian:
"Mereka
berkata, 'Wahai Tuhan kami, Engkau telah
mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami
menyadari dosa-dosa kami maka adakah
jalan bagi kami untuk
keluar (dari
siksa neraka)?"
Kematian oleh
sementara ulama didefinisikan sebagai "ketiadaan hidup,"
atau "antonim dari
hidup." Kematian pertama
dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya;
sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia yang
fana ini. Kehidupan pertama
dialami oleh manusia pada saat manusia menarik dan
menghembuskan nafas di dunia, sedang kehidupan kedua saat
ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari
akhirat.
Al-Quran berbicara
tentang kematian dalam
banyak ayat, sementara pakar
memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara tentang
berbagai aspek kematian
dan kehidupan sesudah kematian kedua.
KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN
Secara umum
dapat dikatakan bahwa
pembicaraan tentang kematian
bukan sesuatu yang
menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu
saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran pun
melukiskan keinginan
sekelompok manusia untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah
[2]: 96). Iblis berhasil merayu Adam
dan Hawa melalui "pintu" keinginan
untuk hidup kekal selama-lamanya.
"Maukah engkau kutunjukkan pohon
kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang
tidak akan lapuk? (QS Thaha
[20]: 120).
DEMIKIAN IBLIS MERAYU ADAM.
Banyak faktor yang membuat
seseorang enggan mati. Ada orang
yang enggan mati
karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian;
mungkin juga karena
menduga bahwa yang dimiliki
sekarang lebih baik
dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan
betapa sulit dan pedih
pengalaman mati dan
sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan
dan prihatin terhadap keluarga yang
ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati,
dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi
kematian.
Dari sini
lahir pandangan-pandangan optimistis
dan pesimistis terhadap
kematian dan kehidupan,
bahkan dari kalangan para pemikir
sekalipun.
Manusia, melalui
nalar dan pengalamannya
tidak mampu mengetahui hakikat
kematian, karena itu
kematian dinilai sebagai salah
satu gaib nisbi yang paling
besar. Walaupun pada hakikatnya kematian
merupakan sesuatu yang
tidak diketahui, namun setiap
menyaksikan bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup manusia
semakin terdorong untuk mengetahui hakikatnya
atau, paling tidak, ketika itu
akan terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika ia
pun pasti mengalami nasib yang
sama.
Manusia menyaksikan
bagaimana kematian tidak memilih
usia atau tempat, tidak pula menangguhkan
kehadirannya sampai
terpenuhi semua keinginan.
Di kalangan sementara orang, kematian menimbulkan
kecemasan, apalagi bagi
mereka yang memandang bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini
saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini
sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, mereka menganjurkan
agar melupakan kematian dan menghindari
sedapat mungkin segala kecemasan yang
ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa
kendali, demi mewujudkan eksistensi manusia. Bukankah kematian akhir
dari segala sesuatu? Kilah mereka.
Sebenarnya akal dan
perasaan manusia pada
umumnya enggan menjadikan kehidupan
atau eksistensi mereka terbatas
pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa mereka harus mati, namun pada umumnya menilai
kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai
kematian sebagai kepunahan tercermin antara lain melalui penciptaan
berbagai cara untuk menunjukkan
eksistensinya. Misalnya,
dengan menyediakan kuburan,
atau tempat-tenapat tersebut
dikunjunginya dari saat ke saat sebagai
manifestasi dari keyakinannya bahwa
yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad
mereka telah tiada.
Hubungan antara yang hidup
dan yang
telah meninggal amat berakar
pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum
kehadiran agama-agama besar dianut oleh
umat manusia dewasa
ini. Sedemikian berakar hal tersebut
sehingga orang-orang Mesir Kuno misalnya,
meyakini benar keabadian manusia,
sehingga mereka menciptakan teknik-teknik yang dapat mengawetkan mayat-mayat
mereka ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.
Konon Socrates pernah
berkata, sebagaimana dikutip oleh
Asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297),
"Ketika aku
menemukan kehidupan (duniawi)
kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku
pun menemukan kehidupan abadi.
Karena itu, kita harus prihatin
dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira
dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup."
Demikian gagasan
keabadian hidup manusia
hadir bersama manusia sepanjang
sejarah kemanusiaan. Kalau
keyakinan orang-orang Mesir Kuno mengantar mereka
untuk menciptakan teknik pengawetan
jenazah dan pembangunan
piramid, maka dalam pandangan pemikir-pemikir modern,
keabadian manusia dibuktikan oleh
karya-karya besar mereka.
Abdul Karim
Al-Khatib dalam bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah (I:214) mengutip
tulisan Goethe (1749-1833
M) yang menyatakan:
"Sesungguhnya
usaha sungguh-sungguh yang lahir
dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti yang amat jelas tentang keabadian. Jika
saya telah mencurahkan seluruh hidup
saya untuk berkarya, maka adalah
merupakan hak saya atas alam ini untuk
menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan saya terkuras dan jasad ini tidak lagi
memikul beban jiwa."
Demikian filosof Jerman itu
menjadikan kehidupan duniawi ini sebagai
arena untuk bekerja keras, dan kematian merupakan pintu gerbang
menuju kehidupan baru
guna merasakan ketenangan dan
keterbebasan dari segala macam beban.
PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN
Agama, khususnya
agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian.
Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang
dalam evolusi manusia,
di mana selanjutnya ia akan
memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa
dan kenistaan.
Kematian dalam
agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar
dalam memantapkan akidah
serta menumbuhkembangkan
semangat pengabdian. Tanpa
kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah
mati, dan tidak akan
mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan
manusia untuk berpikir
tentang kematian. Rasul Muhammad
Saw., misalnya bersabda, "Perbanyaklah mengingat
pemutus segala kenikmatan
duniawi
(kematian)."
Dapat dikatakan
bahwa inti ajakan
para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada
Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah
kematian.
Dari Al-Quran
ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam-macam dan
bertingkat-tingkat. Ada kehidupan tumbuhan, binatang,
manusia, jin, dan malaikat,
sampai ke tingkat tertinggi yaitu kehidupan
Yang Mahahidup dan Pemberi Kehidupan. Di sisi lain, berulang
kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di
dunia dan ada
pula kehidupan di akhirat.
Yang pertama dinamai
Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan
yang kedua dinamainva al-hayawan (kehidupan yang
sempurna).
"Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah
al-hayawan (kehidupan yang
sempurna" (QS Al-'Ankabut [29]:
64).
Dijelaskan pula bahwa,
"Kesenangan di
dunia ini hanya sebentar, sedang
akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang
tidak) tidak akan dianiaya
sedikitpun (QS Al-Nisa' 14]: 77)
Di lain ayat dinyatakan,
"Hai
orang-orang yang beriman, mengapa jika
dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berjuang di jalan Allah, kamu merasa berat dan
ingin tinggal tetap di tempatmu?
Apakah kamu puas dengan kehidupan di
dunia sebagai ganti kehidupan di
akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibanding dengan akhirat (nilai kehidupan
duniawi dibandingkan dengan nilai
kehidupan) di akhirat hanyalah
sedikit (QS At-Tawbah [9]: 38).
Betapa kehidupan ukhrawi
itu tidak sempurna,
sedang di sanalah diperoleh
keadilan sejati yang
menjadi dambaan setiap manusia,
dan di sanalah diperoleh kenikmatan
hidup yang tiada taranya.
Satu-satunya
jalan untuk mendapatkan
kenikmatan dan kesempurnaan itu,
adalah kematian, karena
menurut Raghib
Al-Isfahani:
"Kematian, yang dikenal sebagai
berpisahnya ruh dari badan,
merupakan sebab yang mengantar manusia
menuju kenikmatan
abadi. Kematian adalah perpindahan
dari satu negeri ke negeri yang lain,
sebagaimana dirtwayatkan bahwa, "Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi,
tetapi kalian harus berpindah dan
satu negen ke negen (yang lain)
sehingga kalian menetap di satu tempat."
(Abdul Karim
AL-Khatib, I:217)
Kematian walaupun kelihatannya
adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya
adalah kelahiran yang
kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya
telur-telur. Anak ayam yang
terkurung dalam telur,
tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali
apabila ia menetas. Demikian juga
manusia, mereka tidak
akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini
(mati).
Ada beberapa istilah yang
digunakan Al-Quran untuk menunjuk
kepada kematian, antara
lain al-wafat (wafat),
imsak
(menahan).
Dalam surat Al-Zumar (39): 42
dinyatakan bahwasanya,
"Allah mewafatkan jiwa pada saat
kematiannya, dan jiwa orang yang
belum mati dalam tidurnya, maka
Allah yumsik
(menahan) jiwa yang ditetapkan
baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu
tertentu."
Ar-Raghib menjadikan istilah-istilah tersebut sebagai salah satu
isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan menuju
perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang
lebih mulia dan baik
dibanding dengan kehidupan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang
berarti kesempurnaan serta imsak yang
berarti menahan (di sisi-Nya)?
Memang, Al-Quran
juga menyifati kematian sebagai musibah malapetaka (baca
surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi
agaknya istilah ini lebih
banyak ditujukan kepada
manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang
ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan
musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka
yang mati tanpa membawa
bekal yang cukup
untuk hidup di
negeri seberang.
Kematian juga
dikemukakan oleh Al-Quran
dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat-Nya kepada
manusia. Dalam surat Al-Baqarah (2): 28 Allah mempertanyakan kepada
orang-orang kafir.
"Bagaimana
kamu mengingkari (Allah) sedang kamu
tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan
kepada-Nya."
Nikmat yang diakibatkan oleh
kematian, bukan saja
dalam kehidupan ukhrawi nanti,
tetapi juga dalam
kehidupan duniawi, karena tidak dapat
dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas arealnya
ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami
kematian.
Muhammad Iqbal menegaskan bahwa
mustahil sama sekali
bagi makhluk manusia yang
mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk dilemparkan begitu
saja bagai barang
yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia
mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan
jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh.
Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
"Mahasuci
Allah Yang di dalam genggaman
kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan
mati dan hidup untuk menguji kamu
siapakah di antara kamu yang paling
baik amalnya, dan sesungguhnya Dia
Mahamulia lagi Maha Pengampun" (QS Al-Mulk [67]:
1-2).1
Demikian terlihat
bahwa kematian dalam
pandangan Islam bukanlah sesuatu
yang buruk, karena di samping mendorong manusia
untuk meningkatkan pengabdiannya
dalam kehidupan dunia ini,
ia juga merupakan pintu gerbang
untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
KEMATIAN HANYA KETIADAAN HIDUP DI DUNIA
Ayat-ayat Al-Quran dan hadis
Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah
ketiadaan hidup secara
mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia, dalam
arti bahwa manusia
yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan
cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.
"Janganlah
kamu menduga bahwa orang-orang yang
gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat
rezeki" (QS
Ali-'Imran [3]:
169).
"Janganlah
kamu mengatakan terhadap orang-orang
yang meninggal di jalan Allah bahwa 'mereka itu telah mati,' sebenarnya mereka hidup,
tetapi kamu tidak menyadarinya"
(QS Al-Baqarah [2]: 154).
Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara' bin
Azib, bahwa
Rasulullah Saw., bersabda ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia,
"Sesungguhnya untuk dia (Ibrahim)
ada seseorang yang menyusukannya di surga."
Sejarawan Ibnu Ishak dan
lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang
musyrik yang tewas
dalam peperangan Badar dikuburkan dalam
satu perigi oleh
Nabi dan sahabat-sahabatnya,
beliau "bertanya" kepada
mereka yang telah tewas
itu, "Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi'ah,
Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai
Abu Jahl bin Hisyam,
(seterusnya beliau menyebutkan
nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per satu).
Wahai penghuni perigi! Adakah
kamu telah menemukan
apa yang dijanjikanTuhanmu itu
benar-benar ada? Aku telah mendapati
apa yang telah dijanjikan Tuhanku."
"Rasul. Mengapa Anda
berbicara dengan orang
yang sudah tewas?" Tanya
para sahabat. Rasul menjawab: "Ma antum hi asma' mimma
aqul minhum, walakinnahum la
yastathi'una an yujibuni (Kamu
sekalian tidak lebih mendengar dari mereka,
tetapi mereka tidak dapat menjawabku)."2
Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk
membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran dan kehidupan
baru.
MENGAPA TAKUT MATI?
Di atas telah dikemukakan beberapa faktor yang
menyebabkan seseorang merasa cemas dan takut terhadap kematian.
Di sini akan dicoba untuk
melihat lebih jauh betapa sebagian dari
faktor-faktor tersebut pada
hakikatnya bukan pada tempatnya.
Al-Quran seperti
dikemukakan berusaha
menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia.
"Sesungguhnya akhirat itu lebih baik
untukmu daripada dunia" (QS
Al-Dhuha [93]: 4).
Musthafa Al-Kik
menulis dalam bukunya
Baina Alamain bahwasanya kematian
yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti
serangan jantung, tabrakan,
dan sebagainya, dan dapat
juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua
secara perlahan. Yang
mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya mengalami apa yang
dinamai sakarat al-maut (sekarat)
yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh
lepasnya ruh dan jasad.
Dalam keadaan
mati mendadak, sakarat al-maut
itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa
sangat sakit karena
kematian yang dihadapinya ketika
itu diibaratkan oleh Nabi Saw.- seperti "duri yang berada dalam kapas,
dan yang dicabut dengan
keras." Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi
malaikat-malaikat yang mencabut
nyawa dengan keras)
(QS An-Nazi'at [79]:
1), sebagai isyarat kematian mendadak.
Sedang lanjutan ayat surat
tersebut yaitu Wan
nasyithati nasytha (malaikat-malaikat
yang mencabut ruh dengan lemah
lembut) sebagai isyarat kepada
kematian yang dialami
secara perlahan-lahan.3
Kematian yang melalui proses
lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat
di atas sebagai "dicabut dengan lemah lembut,"
sama keadaannya dengan proses yang
dialami seseorang pada saat
kantuk sampai dengan
tidur. Surat Al-Zumar (39): 42 yang
dikutip sebelum ini
mendukung pandangan yang mempersamakan mati
dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan
kematian. Bukankah doa yang
diajarkan Rasulullah Saw.
untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah:
"Segala puji
bagi Allah yang menghidupkan kami
(membangunkan
dari tidur) setelah mematikan kami
(menidurkan). Dan
kepada-Nya jua kebangkitan
(kelak)."
Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi,
mengomentari surat Al-Zumar (39): 42 sebagai berikut:
"Yang pasti
adalah tidur dan mati merupakan dua
hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna,
sedang tidur adalah putusnya
hubungan tidak sempurna
dilihat dari
beberapa segi."
Kalau demikian. mati
itu sendiri "lezat
dan nikmat," bukankah tidur
itu demikian? Tetapi
tentu saja ada faktor-faktor ekstern yang dapat
menjadikan kematian lebih lezat dari tidur atau menjadikannya
amat mengerikan melebihi ngerinya
mimpi-mimpi buruk yang
dialami manusia.
Faktor-faktor ekstern tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal
manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini
Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad menjelaskan bahwa,
"Seorang mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi
oleh malaikat sambil menyampaikan dan
memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian.
Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya
kecuali bertemu dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan
orang kafir yang
juga diperlihatkannya
kepadanya apa yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak
ada sesuatu yang lebih dibencinya
daripada bertemu dengan
Tuhan."
Dalam surat Fushshilat (41):
30 Allah berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa
Tuhan kami ialah
Allah, kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah
kamu merasa takut dan jangan pula
bersedih, serta bergembiralah dengan
surga yang dijanjikan Allah kepada
kamu.'"
Turunnya malaikat
tersebut menurut banyak
pakar tafsir adalah ketika
seseorang yang sikapnya seperti
digambarkan ayat di atas sedang menghadapi
kematian. Ucapan malaikat, "Janganlah kamu
merasa takut" adalah
untuk menenangkan mereka
menghadapi maut dan sesudah
maut, sedang "jangan bersedih" adalah
untuk menghilangkan kesedihan
mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan seperti
anak, istri, harta, atau hutang.
Sebaliknya Al-Quran
mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang kafir ketika menghadapi kematian sulit
terlukiskan:
"Kalau
sekuanya kamu dapat melihat
malaikat-malaikat
mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang
mereka serta berkata, 'Rasakanlah
olehmu siksa neraka yang membakar'
(niscaya kamu akan merasa sangat
ngeri)" (QS
Al-Anfal [8]: 50)
"Alangkah
dahsyatnya sekiranya kamu melihat di
waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang
para malaikat memukul dengan
tangannya sambil berkata,
'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan
karena kamu selalu mengatakan
terhadap Allah perkataan yang tidak
benar, dan karena kamu selalu menyombongkan
diri terhadap ayat-ayat-Nya" (QS Al-An'am [6]:
93).
Di sisi
lain, manusia dapat
"menghibur"
dirinya dalam menghadapi kematian
dengan jalan selalu
mengingat dan meyakini bahwa
semua manusia pasti akan mati. Tidak
seorang pun akan luput
darinya, karena "kematian adalah risiko
hidup." Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa,
"Setiap jiwa
akan merasakan kematian?" (QS Ali
'Imran [3]: 183)
"Kami tidak
menganugerahkan hidup abadi untuk
seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi?
(QS
Al-Anbiya' [21]: 34)
Keyakinan akan
kehadiran maut bagi
setiap jiwa dapat membantu meringankan beban musibah
kematian. Karena, seperti diketahui, "semakin banyak yang terlibat
dalam kegembiraan, semakin besar
pengaruh kegembiraan itu
pada jiwa; sebaliknya, semakin
banyak yang tertimpa
atau terlibat
musibah, semakin ringan musibah itu dipikul."
Demikian Al-Quran
menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia taat dan durhaka,
dan demikian kitab suci irõi menginformasikan tentang
kematian yang dapat
mengantar seorang mukmin agar
tidak merasa khawatir
menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak
untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan.
Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.
[]
Catatan kaki:
1 Tajdid
Al-Fikr Al-lslami, 134.
2 Muhammad
Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad: 259.
3 Musthafa
Al-Kik, hlm. 67
HARI AKHIRAT
HARI AKHIRAT
(1/4)
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Ada dua hal pokok
berkaitan dengan keimanan
yang mengambil tempat tidak sedikit dalam ayat-ayat Al-Quran.
Pertama adalah uraian serta pembuktian tentang keesaan Allah Swt.; dan kedua adalah
uraian dan pembuktian tentang hari akhir. Al-Quran dan hadis Nabi Saw.
tidak jarang menyebut kedua hal itu saja untuk
"mewakili" rukun-rukun iman lainnya. Perhatikan
misalnya:
Dan ada orang-orang
yang berkata, "Kami telah beriman
kepada Allah dan hari kemudian", padahal (sebenarnya) mereka bukan orang-orang mukmin (QS
Al-Baqarah [2]:
8).
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid
Allah adalah yang beriman kepada Allah
dan hari kemudian (QS
Al-Tawbah [9]: 18).
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang
Yahudi, Shabiin, dan
orang-orang Nasrani, siapa saja
diantara mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak
ada kekhawatiran untuk mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati (QS
Al-Ma'idah [5]: 69).
Perhatikan juga sabda Nabi Saw.
yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah yang menyatakan:
Siapa yang beriman
kepada Allah dan hari kemudian, maka
hendaklah dia berkata benar atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,
maka hendaklah ia menghormati tamunya.
Demikian terlihat bahwa
keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan
keimanan kepada hari kemudian.
Memang keimanan kepada Allah tidak
sempurna kecuali dengan
keimanan kepada hari akhir.
Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan,
sedangkan amal perbuatan baru sempurna
motivasinya dengan
keyakinan tentang adanya
hari kemudian. Karena kesempurnaan ganjaran dan balasannya
hanya ditemukan di hari kemudian nanti.
Banyak redaksi yang digunakan Al-Quran untuk
menguraikan hari akhir, misalnya yaum
Al-Ba'ts (hari kebangkitan) yaum Al-Qiyamah (hari kiamat),' yaum Al-Fashl (hari pemisah
antara pelaku kebaikan dan kejahatan), dan masih banyak lainnya.
Al-Quran Al-Karim
menguraikan masalah kebangkitan
secara panjang lebar dengan
menggunakan beberapa metode
dan pendekatan. Kata "Al-Yaum Al-Akhir" saja terulang
sebanyak 24 kali, di
samping kata "akhirat" yang terulang sebanyak
115 kali. Belum lagi kata-kata padanannya. Ini menunjukkan betapa besar perhatian Al-Quran dan betapa
penting permasalahan ini.
Banyak juga sisi dari
"hari" tersebut yang diuraikan Al-Quran, dan uraian itu -yang tidak
jarang berbeda informasinya; bahkan berlawanan- diletakkan
dalam berbagai surat.
Seakan-akan Al-Quran
bermaksud untuk memantapkan
keyakinan tersebut -bagian demi
bagian serta fasal
demi fasal- dalam
jiwa pemeluknya. Di sisi
lain, banyak pula
cara yang ditempuh Al-Quran ketika menguraikan masalah
tersebut serta banyak pula pembuktiannya.
Penafsir besar
Al-Biqa'i (809-885 H)
mengamati bahwa
"kebiasaan Allah Swt. adalah bahwa
Dia tidak menyebut keadaan hari kebangkitan, kecuali Dia
menetapkan dua dasar pokok,
yaitu qudrat (kemampuan)
terhadap segala yang
sifatnya mungkin1 dan pengetahuan tentang segala
sesuatu yang dapat diketahui baik
yang bersifat kulli
(umum) maupun juz'i (rinci). Karena, siapa pun tidak
dapat melakukan kebangkitan kecuali yang
menghimpun kedua sifat
tersebut." Untuk membuktikan
hipotesisnya, Al-Biqa'i mengutip surat
Al-An'am (6): 72-73.
Walaupun berdasarkan
penelitian yang penulis lakukan dalam rangka menyusun
disertasi, apa yang dikemukakan di atas
tidak sepenuhnya benar. Namun
dapat dikatakan bahwa kebanyakan ayat Al-Qur'an
yang berbicara tentang
hari kebangkitan memang sifatnya demikian,
apalagi jika dirangkaikan
dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
Penyebutan kedua sifat
itu agaknya merupakan argumen
singkat menghadapi keraguan atau penolakan kaum musyrik menyangkut
hari kiamat yang
berdalih: "Apakah Tuhan mampu
menghidupkan kembali tulang-belulang dan yang telah menyatu
dengan tanah? Apakah
Dia mengetahui bagian-bagian
tubuh manusia yang telah berserakan bahkan telah bercampur dengan sekian banyak
makhluk selainnya?"
Tentu saja tulisan ini tidak
dapat menguraikan secara
rinci seluruh persoalan "hari
akhir" yang dikemukakan Al-Quran. Namun, semoga hal-hal
pokok yang berkaitan
dengannya dapat dikemukakan.
AL-QURAN MENGHADAPI PENGINGKAR HARI AKHIR
Menghadapi para pengingkar, Al-Qur'an seringkali
mengemukakan alasan-alasan
pengingkaran, baru kemudian
menanggapi dan menolaknya. Hal
demikian terlihat dengan jelas
dalam uraian Al-Qur'an tentang hari akhir.
Pada umumnya masyarakat
Arab meragukan bahkan
mengingkari adanya hari akhir;
sementara yang percaya
pun memiliki kepercayaan keliru.
Mereka berkata:
"Jika kami telah menjadi
tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah benar-benar kami masih akan dibangkitkan dalam
bentuk makhluk yang baru?" (QS
Al-Isra, [17]: 49).
Mereka berkata:
"Ia (hidup ini) tidak lain kecuali
kehidupan kita di dunia (saja) dan kita tidak akan dibangkitkan!" (QS Al-An'am [6]: 29).
Bahkan
Mereka bersumpah demi
Allah dengan sumpah yang
sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati" (QS Al-Nahl [16]: 38).
Aneka ragam cara Al-Qur'an
menyanggah pandangan keliru
itu, sekali secara langsung
dan di kali yang lain tidak secara langsung.
Dengarkan misalnya Al-Qur'an ketika menyatakan:
Sesungguhnya
merugilah orang-orang yang mendustakan
pertemuan dengan Allah. Apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata:
"Alangkah besarnya penyesalan
kami terhadap kelalaian kami tentang
kiamat"; sambil mereka memikul dosa-dosa
mereka di atas punggung mereka. Sungguh amat buruk apa yang mereka pikul itu (QS Al-An'am [6]:
31).
Orang-orang kafir
(mendustakan) ayat-ayat Allah dan
pertemuan dengan-Nya Mereka itulah yang berputus asa dari rahmatKu, dan buat mereka siksa yang
pedih (QS
Al-'Ankabut [29]:
23).
Anda lihat ayat-ayat
di atas dan
semacamnya tidak secara langsung menuding
si pengingkar, tetapi kandungan
ayat-ayat itu sedemikian jelas dan tegas menyentuh setiap pengingkar.
Abdul-Karim Al-Khatib dalam
bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah baina Al-Falsafah
wa Ad-Din, mengibaratkan
gaya bahasa demikian dengan keadaan
satu kelompok yang
berbicara tentang
pembunuhan. Ketika itu tampil seorang
yang menguraikan kekejaman
pembunuh dan akibat-akibat yang
akan dialaminya. Ketika menguraikan
hal tersebut, si
pembunuh ikut hadir mendengarkan ucapan-ucapan tadi. Tentu
saja, pelaku pembunuhan dalam hal ini
akan merasa bahwa pembicaraan pada hakikatnya ditujukan kepadanya
walaupun dari segi redaksi tidak demikian. Namun justru
karena itu, hal ini malah bisa membawa pengaruh ke dalam jiwanya,
sehingga diharapkan dapat
menimbulkan rasa takut, atau
penyesalan yang mengantarkannya kepada kesadaran dan pengakuan. Dampak
psikologis ini tentu akan berbeda bila sejak
semula pembicara menuding
si pelaku kejahatan secara langsung. Kemungkinan besar ia malahan akan
menyangkal. Jadi, dalam gaya
demikian, redaksi-redaksi Al-Quran
tidak lagi mengarah kepada akal
manusia, tetapi lebih banyak
diarahkan kepada jiwanya dengan menggunakan bahasa "hati".
Seperti diketahui,
bahasa hati tidak
(selalu) membutuhkan argumentasi-argumentasi logis.
Karena itu, uraian-uraian Al-Quran dalam
berbagai masalah tidak selalu
disertai bukti argumentatif. Namun hal ini bukan berarti ayat-ayat lain yang menguraikan hari
kebangkitan tidak menggunakan argumentasi sebagai bahasa untuk
akal.
Perhatikan misalnya surat Yasin
(36): 78-81 yang mengemukakan argumentasi filosofis,
atau surat Al-Baqarah (2): 259-260, serta surat
Al-Kahf (18): 9-26
yang mengemukakan alasan historis, atau
surat Al-Hajj (22):
5-7 yang menggunakan analogi, serta
surat Al-Najm (53):
31 yang menguraikan keniscayaannya dari
segi tujuan dan hikmah. Berikut ini akan dikemukakan sekilas beberapa
ayat yang menguraikan dalil-dalil tersebut.
BUKTI-BUKTI KENISCAYAAN HARI AKHIR
Perlukah bukti
tentang adanya hari akhir?
Kehidupan sesudah mati pasti adanya. Bukankah
makhluk yang termulia
adalah makhluk yang berjiwa?
Bukankah yang termulia di antara mereka adalah yang memiliki kehendak dan
kebebasan memilih? Kemudian yang
termulia dari kelompok ini adalah yang mampu melihat jauh ke depan,
serta mempertimbangkan dampak
kehendak dan
pilihan-pilihannya. Demikian logika
kita berkata. Dari sini pula jiwa manusia memulai pertanyaan-pertanyaan
baru. Sudahkah semua orang melihat dan
merasakan akibat
perbuatan-perbuatannya yang didasarkan
oleh kehendak dan pilihannya itu?
Sudahkah yang berbuat
baik memetik buah perbuatannya? Sudahkah
yang berbuat jahat
menerima nista kejahatannya? Jelas tidak, atau belum, bahkan alangkah
banyak manusia-manusia baik yang
dicambuk oleh kehidupan
dengan cemeti-cemetinya, dan alangkah banyak pula orang-orang jahat yang
disuapi oleh dunia dengan kenikmatan-kenikmatannya.
Kemah-kemah para
perusak sangat menyenangkan. Mereka
yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua dilihat oleh mataku, didengar oleh
telingaku dan kuketahui sepenahnya.
Demikian Nabi Ayyub
a.s. yang mengalami
kepahitan hidup mengeluh kepada
Tuhan.
Karena itu,
demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru di mana semua pihak
akan memperoleh secara
adil dan sempurna hasil-hasil
perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing. Itu sebabnya Al-Quran
menamai hidup di akhirat sebagai al-hayawan
yang berarti "hidup yang sempurna"; dan kematian dinamainya
wafat yang arti
harfiahnya adalah
"kesempurnaan."
Sekian banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan hakikat
di atas, antara lain:
Sesungguhnya saat
(hari kiamat) akan datang. Aku dengan
sengaja merahasiakan (waktu)-nya. Agar setiap
jiwa diberi balasan (dan ganjaran) sesuai hasil usahanya (QS Thaha [20]: 15).
Orang-orang kafir
berkata: "Hari kebangkitan tidak
akan datang kepada kami." Katakanlah: "Pasti datang. Demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib,
sesungguhnya kiamat itu pasti akan
datang kepada kamu. Tidak ada yang
tersembunyi bagi-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan di bumi, dan tidak ada pula
yang lebih kecil daripada itu atau
lebih besar, kecuali termaktub dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Supaya Allah
memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka itu adalah
orang-orang yang baginya ampunan dan
rezeki yang mulia; dan orang-orang
yang berusahn (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melepaskan diri dan
siksa (Kami). Mereka itu memperoleh
azab yakni (jenis) siksa yang sangat
pedih (QS Saba' [34): 3-5).
Memang ada saja orang-orang
yang tidak sabar dan tidak tahan menunggu. Mereka
menghendaki agar perhitungan,
ganjaran dan balasan diadakan segera
-paling tidak di
dunia ini juga. Tetapi mereka lupa bahwa hidup dan mati
adalah ujian:
(Allah) yang
menciptakan kematian dan kehidupan untuk
menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya (QS Al-Mulk [67]: 2).
Apakah mereka yang ingin segera
melihat balasan itu
menduga bahwa si pembunuh
akan melangkah jika
balasan segera ditimpakan
kepadanya? Kemudian apakah masih
bermakna suatu kebaikan bila segera pula dirasakan kesempurnaan
ganjarannya? Jika demikian di mana letak ujiannya?
Manusia dapat menyadari hal-hal di atas. Namun, Al-Quran masih
tetap melayani mereka yang ragu dengan menampilkan dalil-dalil yang membungkam
mereka. Berikut beberapa di antara dalil-dalil dimaksud.
Pertama, dalam surat Ya Sin
(36): 78-83 Allah berfirman,
Dan dia (manusia durhaka) membuat
perumpamaan bagi kami dan dia lupa
kepada kejadiannya. Dia berkata,
"Siapakah yang
dapat menghidupkan tulang-belulang yang
telah hancur luluh?" Katakanlah (hai Muhammad), "Ia akan dihidupkan oleh yang menciptakannya
kali yang pertama (Allah). Dia Maha
Mengetahui tentang segala makhluk.
Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari
kayu yang hijau; maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu (memperoleh bahan bakar
darinya). Dan tidakkah Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi berkuasa
untuk menciptakan yang serupa dengan itu?
Benar. Dia berkuasa
dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha
Mengetahui. "Sesungguhnya keadaannya
apabila Dia menghendaki sesuatu,
hanyalah berkata kepadanya,
"Jadilah,"
maka terjadilah ia. Mahasuci Dia yang di
tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.
Mari kita dengar uraian
filosof Muslim, Al-Kindi,
tentang kandungan ayat tersebut,
sebagaimana dikutip oleh Abdul-Halim Mahmud dalam bukunya At-Tafkir Al-Falsafi
Al-Islam (hlm. 73). Menurut Al-Kindi:
Ayat ini menegaskan bahwa:
(a)Keberadaan kembali sesuatu setelah kepunahannya adalah bisa atau mungkin. Karena menghimpun
sesuatu yang telah berpisah-pisah atau
mengadakan sesuatu yang tadinya belum
pernah ada, lebih mudah daripada mewujudkannya pertama kali. Meskipun demikian, bagi Allah tidak ada
istilah "lebih mudah atau lebih
sulit". Hakikat ini diungkapkan oleh ayat di atas ketika menyatakan: Katakanlah bahwa ia akan
dihidupkan oleh yang menciptakannya
kalipertama.
(b)Kehadiran atau wujud sesuatu
dari sumber yang berlawanan dengannya
bisa terjadi, sebagaimana terciptanya api dari daun
hijau (yang
mengandung air). Ini diinformasikan oleh ayat yang berbunyi: Yang menjadikan untukmu api dari
kayu yang hijau.
(c)Menciptakan manusia dan menghidupkannya setelah kematiannya, (lebih mudah bagi Allah)
daripada menciptakan alam raya yang
sebelumnya tidak pernah ada. Ini dipahami dari
firman-Nya: Dan tidakkah Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi itu berkuasa
menciptakan yang serupa dengan itu?
(d)Untuk menciptakan dan atau melakukan sesuatu, betapa
pun besar dan agungnya ciptaan itu,
bagi Tuhan tidak diperlukan adanya
waktu atau materi. Ini jelas berbeda dengan makhluk yang selalu membutuhkan keduanya. Hal ini
bisa dipahami dari firman-Nya:
Jadilah, maka terjadilah ia.
Manusia mana yang
mampu dengan fasafah manusia,
menghimpun (informasi) dalam ucapan sebanyak huruf-huruf ayat diatas, sebagaimana yang
telah dthimpun oleh Allah untuk
Rasul-Nya Saw.
Demikian komentar filosof Al-Kindi tentang ayat-ayat di
atas.
Kedua, lihat
misalnya surat Al-Isra'
yang menguraikan bagaimana pembuktian
tentang kepastian hari
kiamat -pada akhirnya ditemukan
sendiri melalui tuntunan
Al-Quran- oleh mereka yang
tadinya meragukannya. Gaya
ini digunakan oleh Al-Quran agar manusia merasa bahwa
ia ikut berperan
dalam menemukan satu kebenaran
dan dengan demikian
ia merasa memilikinya serta
bertanggung jawab untuk mempertahankannya.
(Mereka bertanya),
"Apakah bila kami telah menjadi
tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, masih dapat dibangkitkan kembali sebagai
makhluk-makhluk yang baru?"
Katakanlah, "Jadilah kalian batu, atau
besi, atau apa saja yang menuntut pikiran kalian lebih mustahil untuk diciptakan kembali."
Maka mereka akan bertanya,
"Siapakah yang akan menghidupkan kami
kembali?" Katakanlah, "Yang telah menciptakan kamu
pada kali
pertama." Lalu mereka akan
menggeng-gelengkan
kepala mereka kepadamu dan berkata,
"Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah, "Boleh jadi (dalam waktu) dekat" (QS Al-Isra'
[17]: 49-51).
Al-Quran -yang bermaksud melibatkan
manusia dalam penemuan keyakinan tentang
hari kebangkitan ini-
tidak menjawab pertanyaan kaum
musyrik tadi degan "ya" atau "tidak". Tetapi, diajukan-Nya suatu
problem baru yang belum terlintas dalam benak si penanya,
yaitu dengan pernyataan yang diperintahkan kepada Nabi
Saw. untuk disampaikan seperti
terbaca di atas. Seakan-akan
penggalan kata tersebut
berbunyi, "Bagaimana
seandainya setelah kematian
nanti kalian bukan
menjadi tulang-belulang yang pernah mengalami hidup, tetapi
batu-batu atau besi-besi atau
makhluk apa saja yang sama sekali belum pernah mengalami 'hidup'
dan menurut kalian
lebih mustahil untuk dihidupkan?"
Pada saat itu Al-Quran mengajak akal mereka mengajukan pertanyaan yang mereka
ajukan semula, "Siapakah yang akan menghidupkan itu semua kembali?"
Jawabannya adalah, "Dia yang pertama
kali mewujudkannya sebelum
tadinya ia tiada." Bukankah
mewujudkan sesuatu yang
pernah mengalami "hidup" lebih mudah daripada mewujudkan
sesuatu yang belum pernah berwujud sama sekali.
Di sini terlihat bahwa problem yang mereka
ajukan sudah tidak berarti sama sekali. Bahkan "akal" mereka sendiri
kelihatannya telah menyadari kelemahan
argumen merreka, sehingga menimbulkan pertanyaan baru.
Ketiga, bertitik
tolak dan hakikat
di atas, seringkali Al-Quran menganalogikan hari kebangkitan dengan
keadaan hujan yang menimpa tanah yang gersang. Surat Al-Hajj menyeru seluruh
manusia:
Wahai seluruh
manusia, kalau kamu sekalian meragukan
hari kebangkitan, maka (sadarilah bahwa) Kami menciptakan kamu dari tanah, kemudian
nuthfah, kemudian 'alaqah, kemudian
mudhgah (sekerat daging) yang sempurna
penciptaannya atau tidak sempurna
penciptaannya, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan di dalam rahim apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang telah
ditentukan. Kemudian Kami keluarkan
kamu sebagai bayi, dan (secara berangsur-angsur) kamu sampai kepada (usia) kedewasaan. Di antara
kamu ada yang diwafatkan dan ada pula
yang dipanjangkan usianya sampai
pikun, supaya (sehingga) dia tidak mengetahui
lagi apa yang tadinya telah diketahui. Dan kamu lihat bumi itu tandus/mati, kemudian apabila Kami
turunkan air (hujan) di atasnya
hiduplah bumi itu dan suburlah ia
serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu karena
sesungguhnya Allah adalah Yang Hak,
Dia yang menghidupkan yang mati, Dia Mahakuasa
atas segala sesuatu, dan hari kiamat
pasti datang. Tidak ada keraguan atasnya dan
Allah membangkitkan semua yang dikubur (QS Al-Hajj
[22]: 5-7).
Manusia berasal dari tanah;
bukankah makanannya berasal dari tumbuhan-tumbuhan dan
binatang yang memakan
apa yang terbentang di
bumi Allah? Makanan
tersebut diolah oleh tubuhnya, sehingga
menghasilkan sperma. Pertemuan sperma dan ovum menghasilkan 'alaqah'
sesuatu yang bergantung di dinding
rahim. Kemudian ini
melalui tahap-tahap seperti
yang dikemukakan di atas, sehingga akhirnya manusia mati
terkubur di bawah tanah atau
menjadi tanah lagi. Nah apakah mustahil yang kini menjadi tanah, hidup lagi
dengan kehidupan baru? Bukankah sebelumnya
ia pun berasal
dari tanah? Bukankah sehari-hari terlihat pula tanah yang
gersang setelah dicurahi hujan -ditumbuhi pepohonan yang hijau? Kalau
demikian mengapa meragukan kebangkitan? Demikian lebih kurang peringatan
ayat di atas.
Keempat,
kematian sama dengan
tidur. Begitu pernyataan
Al-Quran.
Allah yang memegang
jiwa (orang) saat kematiannya, dan
(memegang) yang belum mati pada saat tidurnya.
Maka
Dia tahan jiwa
(orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya, dan Dia melepaskan jiwa yang lain (yang tidur dengan membangunkannya) sampai waktu
yang Dia tentukan ... (QS Al-Zumar
[39]: 42).
Untuk membuktikan adanya kebangkitan,
Al-Quran menceritakan apa yang dilakukan Allah terhadap seorang yang
mempertanyakan tentang
"bagaimana
kebangkitan". Maka ditidurkannya yang bersangkutan selama
seratus tahun, dan
Dia menjadikan makanannya tetap
utuh tidak rusak,
sedangkan keledainya menjadi
tulang-belulang. (Baca QS Al-Baqarah [2]: 259)
Bahkan sekelompok
pemuda yang beriman
-yang terpaksa berlindung ke
sebuah gua karena khawatir kekejaman
penguasa masanya-ditidurkan
selama tiga ratus
tahun lebih, kemudian dibangunkan kembali oleh Allah. Kisah mereka
diuraikan secara panjang lebar
dalam surat Al-Kahf (18): 9-26 dan bekas-bekas peninggalan mereka
berupa gua tempat
persembunyian telah ditemukan beberapa
kilometer dari kota Amman, Yordania. Kini gua itu
menjadi salah satu
objek yang dikunjungi
para wisatawan dan peziarah.
Demikian sedikit
dari dalil dan bukti-bukti yang dikemukakan Al-Quran untuk
menyingkirkan keraguan tentang hari kebangkitan.
KEHIDUPAN DI ALAM BARZAKH
Al-Quran tidak
hanya menjelaskan tentang hari
akhir, tetapi juga memberikan sekian
banyak informasi menyangkut kejadian-kejadian saat
kematian. kehidupan barzakh,
dan peristiwa-peristiwa
sesudahnya. Dengan kematian,
seseorang beranjak untuk memasuki
saat pertama dari hari akhir. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa:
Siapa yang
meninggal, maka kiamatnya telah bangkit.
Kiamat ini dinamai "kiamat kecil". Saat itu yang bersangkutan dan semua yang meninggal
sebelumnya hidup dalam satu alam yang dinamai "alam barzakh". Mereka
semua menanti kedatangan kiamat besar,
yang ditandai dengan
peniupan sangkakala pertama sebagaimana akan diuraikan nanti.
... sehingga apabila
datang kematian kepada seorang di
antara mereka (yang kafir) ia berkata: "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku berbnat amal
saleh terhadap yang telah aku
tinggalkan." (Allah berftrman),
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu
hanyalah perkatan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (pemisah) sampai
hari mereka dibangkitkan" (QS
Al-Mu'minun [23]: 99-100).
Dari segi bahasa, "barzakh" berarti
"pemisah". Para ulama mengartikan alam
barzakh sebagai "periode antara kehidupan dunia dan
akhirat". Keberadaan di sana memungkinkan
seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di
sana bagaikan keberadaan dalam suatu ruangan terpisah yang terbuat dari
kaca. Ke depan penghuninya dapat melihat
hari kemudian, sedangkan ke belakang mereka melihat kita yang hidup di pentas
bumi ini.
Al-Quran melukiskan
keadaan orang-orang kafir
ketika itu dengan firman-Nya:
... Fir'aun beserta
kaum (pengikut)-nya dikepung oleh
siksa yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan (nanti)
pada hari terjadinya kiamat,
(dikatakan kepada malaikat):
"Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras" (QS Al-Mu'min [40]:
45-46).
Para syuhada ketika itu
dilukiskan sebagai orang-orang
yang hidup dan mendapatkan rezeki.
Dan janganlah kamu
mengatakan terhadap orang-orang yang
gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati.
Sebenamya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya (QS Al-Baqarah [2]: 154).
Jangan sekali-kali
menduga yang gugur di jalan Allah
adalah orang-orang mati. Sebenarnya mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka memperoleh
rezeki (QS Ali
'Imran [3]: 169).
Sementara orang memahami
"ketidakmatian atau kehidupan mereka" dalam arti
keharuman dan kelanggengan nama mereka di dunia ini. Kalau
demikian, mengapa surat Al-Baqarah [2]: 154 di atas menyatakan "tetapi kamu
tidak menyadarinya"? Bukankah keharuman nama itu
kita sadari? Kemudian
apakah ganjaran "kekekalan nama"
ini merupakan suatu keistimewaan?
Bukankah ada yang gugur dan dikenal
namanya secara harum,
padahal hakikatnya ia tidak
dinilai Allah sebagai
syuhada karena kematiannya
bukan fi sabilillah?
Apakah dengan demikian dipersamakan antara
yang baik dan yang buruk? Di sisi
lain, bagaimana pula halnya dengan para syuhada yang tidak
dikenal dan alangkah banyaknya mereka. Bukankah Allah menyatakan bahwa
mereka hidup dan mendapat rezeki? Kalau
demikian apa rezeki mereka yang
tidak dikenal itu?
Apakah mereka tidak mendapatkannya? Kalau demikian di mana
keadilan Ilahi?
Cukup banyak ayat yang dapat
dijadikan titik pijak bagi adanya apa
yang dinamai kehidupan di alam
barzakh. Bacalah misalnya surat
Al-Baqarah (2): 28,
Al-Mu'min (40): 11,
dan lain sebagainya. Memang
ada juga yang berpegang pada surat Ya Sin [36]: 52 yang
menceritakan ucapan orang-orang
kafir saat ditiupnya sangkakala
pertama yaitu:
Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan
kami dari tempat tidur kami?
Mereka menyatakan bahwa ayat
ini menginformasikan bahwa kaum kafir ketika itu merasa diri mereka
tidur dan terhentak bangun dengan
tiupan sangkakala. Jadi,
dalih mereka selanjutnya adalah "Kalau memang mereka tidur dan terhentak
dengan tiupan sangkakala, maka bagaimana bisa dinyatakan bahwa ada kehidupan di
alam barzakh? Atau ada siksa dan nikmat kubur?"
Hemat penulis,
pandangan ini bisa
dipertimbangkan untuk
diterima jika ayat
tersebut berkata: "Siapakah yang membangkitkan kami dari tidur
kami?" Tetapi, redaksinya adalah "dari tempat tidur kami" yakni
kubur. Di sisi
lain harus dipahami bahwa
kubur yang dimaksud di sini bukannya sebidang tanah tempat jasad mereka
dikuburkan, tetapi satu alam
yang kita tidak tahu persis
bagaimana keadaannya. Kalaulah ayat di atas dianggap "tidak jelas
maknanya" atau yang
diistilahkan oleh para ulama
dengan mutasyabih, maka ayat-ayat lain yang maknanya cukup jelas
(muhkam) seperti sekian banyak ayat yang
telah disinggung sebelum
ini -dapat menjadi patokan untuk memahaminya.
Hadis-hadis Nabi pun
-dengan kualitas yang
beraneka ragam- amat banyak yang
berbicara tentang alam barzakh, sehingga amat riskan untuk
menolak keberadaan alam
itu hanya dengan menggunakan satu atau dua ayat yang sepintas terlihat
berbeda dengan keterangan-keterangan tersebut. Ketika putra Nabi yang bernama Ibrahim meninggal dunia, Nabi
Saw. bersabda:
Sesungguhnya ada
yang menyusukannya di surga (HR
Bukhari).
Imam Ahmad ibn Hanbal, Ath-Thabarani, Ibnu Abi Ad-Dunya,
dan
Ibnu Majah meriwayatkan
melalui sahabat Nabi,
Abu Said
Al-Khudri, bahwa Nabi Saw. bersabda:
Sesungguhnya yang
meninggal mengetahui siapa yang
memandikannya, yang mengangkatnya, yang mengafaninya, dan siapa yang menurunkannya ke kubur.
Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa,
Apabila salah seorang
di antara kamu meninggal, maka
diperlihatkan kepadanya setiap pagi dan petang tempat tinggalnya (kelak di hari kiamat). Kalau
dia penghuni surga, maka diperlihatkan
kepadanya (tempat) penghuni surga; dan
kalau penghuni neraka, maka diperlihatkan
(tempat) penghuni neraka. Disampaikan kepadanya bahwa inilah tempatmu sampai Allah
membangkitkanmu ke sana
(HR Bukhari).
Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya
menuturkan sebuah riwayat
bahwa Nabi Saw. setelah
selesainya Perang Badar,
menuju tempat pemakaman pemuka-pemuka kaum musyrik yang tewas
ketika itu, dan memanggil
nama-nama mereka satu per satu:
"Wahai
penghuni al-qalib (sumur atau kubur). Hai
'Utbah bin Rabi'ah.
Hai Syaibah bin Rabi'ah. Hai
Umayyah bin Khalaf.
Hai Abu Jahl bin Hisyam. Apakah kalian
telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan
kalian dengan benar? Karena sesungguhnya aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku
dengan benar." Kaum Muslim yang
ada di sekitar Nabi bertanya: "Wahai
Rasulullah, apakah
engkau memanggil/berbicara dengan kaum
yang telah menjadi bangkai (mati)?" Beliau menjawab: "Kamu tidak lebih mendengar
dari mereka (tentang) apa yang saya
ucapkan, hanya saja mereka tidak dapat
menjawab saya."
Di sisi lain Imam Muslim meriwayatkan bahwa Masruq berkata:
"Kami bertanya
(atau aku bertanya) kepada Abdullah bin
Mas'ud tentang ayat, Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah
adalah orang-orang mati, bahkan mereka
hidup di sisi Tuhan mereka dengan
mendapatkan rezeki (QS Ali 'Imran [2]:
169)." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Sesungguhnya kami telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah
Saw., dan beliau bersabda, 'Arwah
mereka di dalam rongga burung
(berwarna) hijau dengan pelita-pelita yang tergantung di 'Arsy, terbang dengan mudah di surga ke
manapun mereka kehendaki, kemudian
kembali lagi ke pelita-pelita itu.
Tuhan mereka "mengunjungi" mereka
dengan kunjungan sekilas dan berfirman: "Apakah kalian menginginkan sesuatu?" Mereka
menjawab: "Apalagi yang kami
inginkan sedangkan kami terbang dengan mudahaya di surga, ke mana pun kami kehendaki?"
Tuhan melakukan hal yang demikian
terhadap mereka tiga kali dan ketika
mereka sadar bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa meminta sesuatu, mereka berkata:
"Wahai Tuhan, kami ingin agar
arwah kami dikembalikan ke jasad kami
sehingga kami dapat gugur terbunuh pada jalan-Mu
(sabilillah) sekali
lagi. Setelah Tuhan melihat bahwa
mereka tidak memiliki keinginan lagi di sana (lebih dari apa yang mereka peroleh selama ini)
maka mereka dibiarkan."'
Ada juga riwayat yang
dinisbahkan kepada Ali bin Abi
Thalib bahwa beliau bertanya
kepada Yunus bin Zibyan: "Bagaimana pendapat orang
tentang arwah orang-orang
mukmin?" Yunus menjawab: "Mereka
berkata bahwa arwahnya
berada di rongga burung berwarna hijau di dalam pelita-pelita di
bawah 'Arsy llahi." Ali bin
Abi Thalib berkomentar:
Mahasuci Allah.
Seorang mukmin lebih mulia di sisi
Allah untuk
ditempatkan ruhnya di rongga burung hijau,
wahai Yunus. Seorang mukmin bila diwafatkan Allah, ruhnya ditempatkan pada satu wadah
sebagaimana wadahnya ketika di dunia.
Mereka makan dan minum, sehingga bila
ada yang datang kepadanya, mereka
mengenalnya dengan keadaannya semasa di dunia.
Boleh jadi ada saja yang bertanya
bagaimana kehidupan itu? Kita
tidak dapat menjelaskan. Memang ada saja yang berusaha
mengilmiahkan kehidupan di sana, tetapi agaknya hal
tersebut lebih banyak merupakan
kemungkinan, walaupun ada
sekian rtwayat yang dijadikan pegangan.
Mustafa Al-Kik, misalnya,
berpendapat bahwa manusia memiliki "jasad berganda": pertama,
jasad duniawi; dan kedua, jasad
barzakhi. Mustafa dalam --Baina
'Alamain-- setelah mengutip sekian banyak
pendapat ulama tentang hal di atas, berusaha untuk
menjelaskan hal tersebut dengan
teori frekuensi dan gelombang-gelombang suara. Contoh konkret yang dikemukakannya
adalah radio yang dapat menangkap
sekian banyak suara
yang berbeda-beda melalui
gelombang yang berbeda-beda. Walaupun ia saling
masuk-memasuki, namun ia
tidak menyatu dan
tetap berbeda. Ini pula
yang menjadikan kita
tak dapat melihat sesuatu yang sebenarnya "ada" namun kita tak
melihatnya akibat perbedaan
frekuensi dan gelombang-gelombang itu.
Apa yang dikemukakan ini -menurutnya sejalan dengan informasi Al-Quran,
antara lain yang berbicara tentang keadaan seorang yang sedang sekarat:
Maka mengapa ketika
nyawa telah sampai ke kerongkongan,
padahal kamu ketika itu melihat (yang
sekarat), sedangkan (malaikat) Kami lebih dekat kepadanya darimu, tetapi kamu tidak melihat
(QS
AlWaqi'ah [56]:
83-85).
Atau firman-Nya:
Aku (Allah) tidak bersumpah dengan apa yang
kamu lihat dan yang kamu tidak lihat
(QS Al-Haqqah [69]: 38-39).
Kedua ayat mulia di
atas mengemukakan teori gelombang dan
getaran yang sangat jelas dan gamblang. Keduanya telah membagi materi menjadi dua macam,
yang sejalan dengan tingkat bumi
sehingga dapat dilihat oleh mata, dan
yang tidak sejalan karena tingginya gelombangnya, sehingga tersembunyi dari pandangan dan
tidak terlihat oleh mata. Dengan
demikian kedua ayat tersebut menunjuk ke alam materi yang terasa oleh kita
semua, dan alam lain yang tinggi yang
tersembunyi dari mata kita. Teori ini
juga menafsirkan kepada kita jawaban
Nabi Saw. ketika kaum Muslim mempertanyakan pembicaraan beliau dengan Ahl Al-Qalib (tokoh-tokoh kaum musyrik yang gugur dalam peperangan
Badar) sebagaimana dikemukakan di
atas. (Mustafa Al-Kik dalam
Baina 'Alamain hlm.
51)
Akhirnya betapa
pun terdapat sekian
banyak ayat dengan penafsiran-penafsiran di atas, serta ada pula riwayat-riwayat dari
berbagai sumber dan kualitas, namun
kita tidak dapat mencap
mereka yang mengingkari
kehidupan barzakh, sebagai
orang-orang yang keluar dari
keimanan atau ajaran
Islam, selama mereka tetap
mengucapkan dua kalimat syahadat. Ini disebabkan karena
akidah harus diangkat dari nash
keagamaan yang pasti, yaitu
Al-Quran dan maknanya
pun harus pasti. sedangkan penafsiran-penafsiran yang dikemukakan di
atas belum mencapai tingkat kepastian yang dapat dijadikan akidah.
KEHIDUPAN AKHIRAT
Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala:
Maka apabila
sangkakala ditiup sekali tiup, dan
diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka hari itu
terjadilah hari kiamat, dan
terbelahlah langit sehingga hari itu
langit menjadi lemah (QS Al-Haqqah [69]: 13-16).
Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:
... dan ditiup
sangkakala sehingga matilah siapa
(rnakhluk) yang di langit dan di bumi,
kecuali siapa yang dikehendaki Allah (QS Al-Zumar [39]:
68).
Yang dikecualikan antara
lain adalah malaikat
Israfil yang bertugas meniup
sangkakala itu. Ini
karena masih akan ada peniupan kedua sebagaimana lanjutan ayat di atas:
Kemudian ditiupkan
sangkakala itu sekali lagi, maka
tiba-tiba mereka (semua yang telah mati) berdiri menunggu (putusan Tuhan terhadap
masing-masing) (QS
Al-Zumar [39]: 68).
Banyak sekali ayat Al-Quran
yang berbicara tentang kehancuran alam raya, matahari digulung, bulan terbelah,
bintang-bintang pudar cahayanya, gunung dihancurkan sehingga menjadi debu yang
beterbangan bagaikan kapas,
dan sebagainya. Itu
semua merupakan kehancuran total, bukan kehancuran bagian
tertentu saja dari alam raya ini.
Begitu manusia dihidupkan kembali dengan peniupan sangkakala
kedua, tiba-tiba:
Sambil menundukkan
pandangan, mereka keluar dari kubur
mereka bagaikan belalang yang beterbangan. Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu.
Orang-orang kafir -ketika itu-
berkata: "Ini adalah hari yang
sulit." (QS Al-Qamar [54]: 7-8).
Ada jarak waktu antara peniupan
pertama dan kedua. Hanya Allah yang
mengetahui kadar waktu
itu. Dan ketika semua makhluk
telah meninggal, termasuk Israfil, Allah
Swt. "berseru" dan
"bertanya":
Kepunyaan siapakah
kerajaan/kekuasaan hari ini?
(Kemudian Allah
menjawabnya sendiri): "Kepunyaan Allah
yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan" (QS Mu'min [40]: 16).
Saat peniupan kedua, manusia
sadar bahwa kehidupan di
dunia hanya sebentar (QS
Al-Isra' [17]: 43) bahkan mereka
merasa hanya bagaikan boberapa saat di
sore atau pagi
hari (QS
Al-Nazi'at [79]: 46).
Dari sana manusia
digiring ke mahsyar (tempat berkumpul untuk menghadapi pengadilan Ilahi):
Setiap jiwa datang dengan satu penggiring
dan satu penyaksi (QS Qaf [50]: 21).
Penggiring adalah malaikat dan
penyaksi adalah diri
manusia sendiri yang tidak
dapat mengelak, atau amal perbuatannya masing-masing. Begitu
penafsiran para ulama.
Dan ketika itu terjadilah pengadilan agung.
Pada hari itu yang
menjadi saksi atas mereka adalah
lidah, tangan, dan kaki mereka, menyangkut apa yang dahulu mereka lakukan (QS Al-Nur [24]: 24).
Bahkan boleh jadi, mulut
mereka ditutup dan
yang berbicara adalah tangan
mereka kemudian kaki
mereka yang menjadi saksi-saksinya Sebagaimana ditegaskan
dalam surat Ya Sin (36):
65.
Yang ingin
diinformasikan oleh ayat-ayat
di atas dan semacamnya adalah bahwa pada hari
itu tidak ada yang dapat mengelak, tidak ada juga yang dapat menyembunylkan
sesuatu di hadapan pengadilan yang maha agung itu.
Siapa yang mengerjakan (walau) sebesar
zarrah (dari kebaikan). maka dia akan
melihat (ganjarannya) (QS
Az-Zilzal [99]: 7).
Demikian pula sebaliknya (baca surat Al-Zilzal [99]: 8).
Pengadilan Ilahi itu akan
diadakan terhadap setiap
pribadi mukalaf,
"Tidak ada
satupun di langit dan di bumi kecuali akan
datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Tuhan telah menentukan
jumlah mereka dan menghitung mereka
dengan hitungan yang teliti. Dan
tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah
dengan sendiri-sendiri (QS Maryam [19]: 93-95)
Pengadilan itu menggunakan
"timbangan" yang hak sehingga tidak ada yang
teraniaya karena walau sebesar
biji sawi pun Tuhan akan mendatangkan ganjarannya. (Baca QS Al-Anbiyat [21]: 47). Apakah timbangan itu sesuatu yang
bersifat material atau hanya kiasan tentang keadilan mutlak, tidaklah
banyak pengaruhnya dalam akidah, selama diyakini bahwa ketika itu
tidak ada lagi sedikit penganiayaan pun. Yang pasti adalah:
Timbangan pada hari
itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang
berat timbangan (amal salehnya) maka mereka
adalah orang-orang beruntung, dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka itulah
orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri disebabkan mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami (QS Al-A'raf [7]: 8-9)
Hasil pencatatan amal
manusia yang ditimbang
itu, akan diserahkan kepada
setiap orang:
Adapun orang-orang
yang diberikan kepadanya kitab
(catatan amalnya)
dari arah kanannya, maka (dengan
gembira) ia berkata: "Inilah, bacalah kitabku ini. Sesungguhnya (sejak dahulu di dunia) aku
yakin bahwa sesungguhnya aku akan
menemui hisab (perhitungan) atas
diriku." Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai; dalam surga yang tinggi,
buah-buahannya dekat. (Kepada mereka
dikatakan): "Makan dan minumlah
dengan sedap dikarenakan amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari terdahulu (di
dunia)." Adapun yang diberikan
kepadanya kitabnya dari arah kirinya, maka dia berkata: "Aduhai, alangkah
baiknya kiranya tidak diberikan
kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak
mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku. Aduhai, kiranya kematian itulah yang
menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku
sama sekali tidak memberi manfaat
bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku" (QS
Al-Haqqah [69]:
19-29).
Dari mahsyar (tempat
berkumpul), manusia menuju
surga atau neraka. Beberapa
ayat dalam Al-Quran
menginformasikan bahwa dalam perjalanan ke sana mereka melalui apa
yang dinamai " shirath" .
Antarlah mereka
(hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim
(QS Al-Shaffat
[37]: 23).
Dalam konteks pembicaraan
tentang hari akhirat,
Allah berfirman:
Dan jika Kami
menghendaki, pastilah Kami hapuskan
penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba (mencari) ash-shirath (jalan). Maka,
bagaimana mereka dapat melihatnya? (QS
Ya Sin [36]: 66).
Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa:
Dan tidak seorang pun
di antara kamu kecuali melewatinya
(neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah
suatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. Kemudian
Kami menyelamatkan
orang-orang yang bertakwa dan
membiarkan orang-orang yang zalim, di dalam neraka dalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]:
71-72).
Berdasar ayat-ayat tersebut,
sementara ulama berpendapat bahwa ada yang dinamai "shirath" -berupa
jembatan yang harus dilalui setiap orang menuju
surga. Di bawah
jalan (jembatan) itu terdapat neraka dengan segala
tingkatannya. Orang-orang mukmin akan
melewatinya dengan kecepatan
sesuai dengan kualitas ketakwaan mereka.
Ada yang melewatinya bagaikan
kilat, atau seperti angin berhembus, atau secepat lajunya kuda;
dan ada juga yang
merangkak, tetapi akhirnya
tiba juga. Sedangkan orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi
mereka jatuh ke neraka di tingkat yang
sesuai dengan kedurhakaan mereka.
Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam
dari pedang,
[kalimat dalam
bahasa Arab]
Demikian kata Abu Sa'id
sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim.
Para ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang
sangat rasional menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di atas, lebih-lebih melukiskannya
"dengan sehelai rambut
di belah tujuh".
Memang, melukiskannya seperti
itu, paling tidak, bertentangan dengan
pengertian kebahasaan dari kata shirath. Kata tersebut berasal dari kata
saratha yang arti harfiahnya adalah "menelan". Kata
shirath antara lain diartikan "jalan yang lebar", yang karena
lebarnya maka seakan-akan ia menelan
setiap yang berjalan di atasnya.
Betapapun, pada
akhirnya hanya ada
dua tempat, surga atau neraka. Pembahasan tentang surga dan neraka, kita
tangguhkan sampai dengan kesempatan lain. Ini disebabkan karena
luasnya jangkauan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakannya. Bukan saja uraian
tentang aneka kenikmatan dan siksanya, tetapi sampai kepada
rincian peristiwa-peristiwa yang
digambarkan Al-Quran menyangkut
perorangan atau kelompok, dan lain sebagainya.
KAPAN HARI AKHIR TIBA?
Al-Quran -demikian juga hadis-hadis Nabi Saw.- yang
berbicara panjang lebar tentang hari
akhir dari bermacam-macam aspek itu,
tidak membicarakan sedikit
pun tentang masa kedatangannya. Bahkan secara tegas
dalam berbagai ayat serta hadis
dinyatakan bahwa tidak
seorang pun mengetahui kapan
kehadirannya.
Mereka (orang-orang
kafir) bertanya kepadamu tentang hari
akhir, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada
Tuhanmulah dikembalikan kesudahan
(ketentuan waktunya) (QS
Al-Nazi'at [79]:
42-44).
Sekian banyak ayat
Al-Quran yang mengandung
makna serupa, demikian pula
hadis-hadis Nabi Saw. menginformasikannya.
Dalam sebuah
hadis dinyatakan bahwa malaikat Jibril pernah bertanya kepada
Nabi Muhammad Saw. -dalam rangka mengajar umat Islam- "Kapan hari
kiamat?" Nabi Saw. menjawab: "Tidaklah yang ditanya tentang hal itu
lebih mengetabui dari yang
bertanya." (Diriwayatkan
oleh Muslim melalui
sahabat Nabi Umar
bin
Khaththab).
Memang ada beberapa ayat yang
menjelaskan bahwa kedatangannya tidak
lama lagi. Misalnya surat Al-Isra' ( 17): 51,
"Kapankah itu
(hari kiamat)?"
Demikian tanya kaum musyrik. Lalu Nabi Saw. diperintahkan
oleh Allah untuk menjawab:
Katakanlah,
"Boleh jadi ia dekat."
Surat Al-Qamar (54): 1 juga menyatakan bahwa:
Telah dekat hari
kiamat dan telah terbelah bulan.
Dan surat Al-Anbiya' (21): 1, menyatakan:
Telah dekat kepada
manusia hari perhitungan (kiamat)
sedangkan mereka berada dalam kelalaian, lagi berpaling (darinya).
Nabi Saw. juga bersabda:
Aku diutus (dan
perbandingan antara masa diutusku
dengan) hari kiamat adalah seperti ini (sambil menggandengkan kedua jari-jarinya, yaitu
jari telunjuk dan tengah).
(Diriwayatkan oleh Muslim melalui Jabir
bin Abdillah).
Apakah hadis dan ayat-ayat di
atas menunjukkan kedekatan hari
akhirat dari segi waktu? Boleh jadi. Tetapi ketika itu
tidak dapat dipahami bahwa kedekatan itu
hanya dalam arti
besok, seribu atau sepuluh
ribu tahun ke depan. Kedekatannya boleh jadi juga jika dibandingkan
dengan umur dunia
yang telah berlalu sekian ratus juta tahun. Tetapi boleh jadi juga
hadis dan ayat-ayat tersebut tidak menginformasikan kedekatan dalam arti waktu.
Bila kita cermati tentang kapan hari akhir tiba,
maka jawaban yang diperintahkan kepada Nabi
Saw. untuk diucapkan
adalah "Boleh jadi ia
dekat." Di sisi
lain, ayat Al-Qamar dan Al-Anbiya' di atas, yang
menggunakan bentuk kata kerja
masa lampau untuk satu
peristiwa kiamat yang belum lagi terjadi, mengandung makna kepastian
sehingga kedekatan dalam hal
ini dipahami dalam arti "pasti kedatangannya". Karena
"segala yang akan datang adalah dekat, dan segala yang telah
berlalu dan tidak kembali adalah
jauh."
Agaknya informasi
Al-Quran tentang kedekatan
ini, lebih dimaksudkan untuk
menjadikan manusia selalu siap
menghadapi kehadirannya. Karena itu pula, tidak satu atau dua ayat yang
menegaskan bahwa kedatangannya
sangat tiba-tiba, seperti misalnya firman berikut:
Apakah mereka merasa
aman dari kedatangan siksa Allah yang
meliputi mereka atau kedatangan kiamat kepada
mereka secara tiba-tiba sedangkan mereka tidak menghindarinya? (QS Yusuf [ 12]: 107).
Di sisi lain, ditemukan
bahwa yang bertanya
tentang waktu kedatangannya
adalah orang-orang musyrik, bukan orang beriman.
Orang-orang yang
tidak beriman menyangkut hari kiamat,
meminta supaya hari itu segera didatangkan, sedangkan orang-orang yang beriman merasa takut
akan kedatangannya Mereka yakin bahwa
kiamat adalah benar
(akan terjadi).
Ketahuilah bahwa orang-orang yang
membantah tentang terjadinya kiamat benar-benar dalam kesesatan yang jauh (QS Al-Syura [42]: 18).
Ketakutan tentang hari
kiamat akan mengantarkan
orang yang percaya untuk
berbuat sebanyak mungkin amal ibadah, sehingga mereka dapat menggapai
kebahagiaan abadi di sana.
BUAH KEPERCAYAAN TENTANG HARI KEBANGKITAN
Al-Quran menghendaki agar
keyakinan akan adanya
hari akhir mengantar manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas
positif dalam kehidupannya, walaupun aktivitas itu tidak menghasilkan keuntungan materi
dalam kehidupan dunianya. Salah satu surat yang berbicara tentang hal
ini adalah surat Al-Ma'un (107).
Dalam beberapa riwayat,
dikemukakan bahwa surat tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan atau Abu Jahl, yang setiap
minggu menyembelih seekor unta.
Suatu ketika, seorang
anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah
disembelih itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir.
Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan:
Tahukah kamu orang
yang mendustakan ad-din?
Kata ad-din dalam surat ini,
secara sangat populer, diartikan
dengan agama, tetapi
ad-din dapat juga berarti
pembalasan. Dengan demikian yukadzdzibu
biddin dapat pula
berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir
ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan
bahwa Al-Quran bila menggandengkan kata
ad-din dengan yukadzdzibu,
maka konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan
surat Al-Infithar (82): 9 dan juga surat Al-Tin (95): 7.
Kemudian, kalau
kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan membantu
anak yatim atau
orang miskin karena menduga
bahwa bantuannya kepada
mereka tidak menghasilkan apa-apa,
maka itu berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka
itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari)
pembalasan. Bukankah yang percaya
meyakini bahwa kalaulah bantuan
yang diberikannya tidak menghasilkan sesuatu di
dunia, maka pasti
ganjaran atau balasan perbuatannya akan
diperoleh di akhirat kelak?
Bukankah yang percaya hari kemudian
meyakini bahwa Allah
tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?
Seseorang yarlg
kehidupannya dikuasai oleh
kekinian dan kedisinian, tidak
akan memandang ke hari kemudian yang
berada di depan sana.
Sikap demikian merupakan pengingkaran atau pendustaan
ad-din, baik dalam arti "agama",
lebih-lebih lagi dalam arti hari
kemudian.
Ad-din menuntut adanya
kepercayaan kepada yang gaib. Kata gaib di sini, bukan sekadar kepercayaan
kepada Allah atau malaikat tetapi ia berkaitan dengan banyak hal, termasuk janji-janji Allah
melipatgandakan anugerah-Nya kepada
setiap orang yang memberi
bantuan. Kepercayaan ini
mengantarkannya meyakini
janji Ilahi itu,
melebihi keyakinannya menyangkut
segala sesuatu yang didasari
oleh perhitungan-perhitungan
akalnya semata-mata. Sehingga ketika itu, walaupun akalnya membisikkan
bahwa "sikap yang
akan diambilnya merugikan/tidak menguntungkan", namun
jiwanya yang percaya itu mengantarkannya untuk
melakukannya karena yang
demikian sejalan dengan keyakinannya itu.
"Apa yang berada
di tangan Allah lebih meyakinkan Anda
daripada apa yang terdapat dalam genggaman tangan sendiri."
Dengan pertanyaan tersebut,
ayat pertama surat Al-Ma'un
ini mengajak manusia untuk
menyadari salah satu
bukti utama kesadaran beragama
atau kesadaran berkeyakinan tentang
hari akhir, yang tanpa itu, keberagamaannya dinilai sangat
lemah, kalau enggan berkata keberagamaannya nihil.
Surat Al-Ma'un yang
terdiri dari tujuh
ayat pendek ini, berbicara tentang
suatu hakikat yang sangat penting, di mana terlihat secara tegas dan
jelas bahwa ajaran
Islam tidak memisahkan upacara
ritual dan ibadah
sosial, atau membiarkannya
berjalan sendiri-sendiri. Ajaran ini sebagaimana tergambar dalam
ayat di atas -menekankan bahwa ibadah
dalam pengertiannya yang sempit pun mengandung dalam jiwanya dimensi sosial,
sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi maka pelaksanaan ibadah
dimaksud tidak akan banyak artinya.
Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur'an menulis:
Mungkin ini (jawaban Al-Quran
tentang siapa yang mendustakan agama/hari kemudian
yang dikemukakan dalam
surat ini) mengagetkan jika
dibandingkan dengan pengertian iman
secara tradisional. Tetapi, yang demikian itulah inti persoalan dan hakikatnya.
Hakikat pembenaran ad-din bukannya
ucapan dengan lidah, tetapi
ia adalah perubahan dalam jiwa
yang mendorong kepada kebaikan dan
kebajikan terhadap saudara-saudara sekemanusiaan, terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan
dan perlindungan. Allah tidak
menghendaki dari manusia kalimat-kalimat yang
dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya-karya
nyata, yang membenarkan
(kalimat yang diucapkan itu). Sebab kalau tidak, maka itu semua hampa
tidak berarti di sisi-Nya dan tidak dipandang-Nya.
Selanjutnya Sayyid Quthb menulis:
Kita tidak ingin memasuki
diskusi dalam bidang hukum sekitar batas-batas iman
dan Islam, karena batasan-batasan para ahli itu, berkaitan dengan
interaksi sosial keagamaan.
Sedangkan surat ini (Al-Ma'un) menegaskan hakikat persoalan dari
sudut pandang dan penilaian Ilahi, yang
tentunya berbeda dengan kenyataan-kenyataan lahiriah
yang menjadi landasan penilaian interaksi antarmanusia.
Demikian surat ini menjelaskan hakikat dan
buah kepercayaan tentang hari
akhir.
Akhirnya perlu
digarisbawahi bahwa perhatian Al-Quran yang sedemikian besar menyangkut
persoalan hari akhir,
membawa berbagai dampak di
kalangan ilmuwan, agamawan, dan filosof. Antara lain berupa kegiatan
diskusi yang menyita
waktu dan energi mereka,
khususnya detail kebangkitan
tersebut apakah kebangkitan ruh dan jasad atau hanya ruh saja.
Dalam hal ini kita ingin menggarisbawahi bahwa seorang Muslim dituntut oleh agamanya untuk meyakini adanya hari
kebangkitan setelah kematiannya di mana ketika itu ia menyadari eksistensi
dirinya secara sempurna. Apa pun bentuk kebangkitan tersebut
-apakah dengan ruh dan jasad atau dengan ruh saja- yang pokok adalah bahwa ketika itu setiap manusia
mengenal dirinya, tidak kurang dari pengenalannya ketika ia hidup di dunia.
Adapun keterangan tentang
hakikat kebangkitan, bentuk, waktu dan
tempatnya, maka kesemua hal ini berada di luar tuntunan
agama. Karena itu, sangat boleh jadi pembahasan
para filosof dan ulama
tentang soal tersebut lebih banyak didorong oleh
kepentingan kepuasan penalaran
akal daripada dorongan kehangatan iman.
Wa Allahu 'Alam. []
Catatan
kaki:
1 Ada tiga kemungkinan
yang dapat tergambar dalam benak bagi
sesuatu. Pertama, mustahil wujudnya, misalnya tiga lebih banyak dari lima. Kedua, mungkin (boleh
jadi), misalnya Si A kaya atau miskin,
hidup atau mati. Dan ketiga, pasti wujudnya,
itulah Allah Swt.,
yang mustahil tergambar dalam benak kita
tentang ketiadaan-Nya.
KEADILAN DAN KESEJAHTERAAN
Dr. M. Quraish
Shihab, M.A.
Judul bahasan
ini mendahulukan kata
keadilan daripada
kesejahteraan. Memang, terjadi
silang pendapat mengenai apa yang harus didahulukan, apakah kesejahteraan
atau keadilan? Dari sekian
ayat ditemukan isyarat
perlunya mendahulukan keadilan.
Perhatikan misalnya surat Al-Ma-idah (5): 8,
Berlaku adillah! Karena adil itu lebih dekat
kepada takwa.
Lalu hubungkanlah dengan firman-Nya:
Jika sekiranya
penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (Tetapi)
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya (QS Al-A'raf [7]: 96)
Maka aku (Nuh)
katakan kepada mereka, "Mohonlah ampun
kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan lebat kepadamu, memperbanyak
harta dan anak-anakmu, dan mengadakan
untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula
di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Nuh [71]:
10-12).
Dari rangkaian ayat di
atas terlihat bahwa
keadilan akan mengantarkan kepada
ketakwaan, dan ketakwaan
menghasilkan kesejahteraan.
Atas dasar pertimbangan tersebut,
maka pembahasan pertama tulisan ini adalah tentang keadilan.
MAKNA KEADILAN
Keadilan adalah
kata jadian dari kata "adil" yang terambil dari bahasa
Arab " 'adl".
Kamus-kamus bahasa Arab menginformasikan bahwa
kata ini pada mulanya berarti "sama".
Persamaan tersebut
sering dikaitkan dengan
hal-hal yang bersifat imaterial.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "adil" diartikan: (1)
tidak berat sebelah/tidak memihak, (2) berpihak kepada
kebenaran, dan (3)
sepatutnya/tidak sewenang-wenang.
"Persamaan" yang
merupakan makna asal kata "adil" itulah yang menjadikan pelakunya "tidak berpihak", dan
pada dasarnya pula seorang yang adil "berpihak kepada yang
benar" karena baik yang
benar maupun yang
salah sama-sama harus
memperoleh haknya. Dengan demikian, ia
melakukan sesuatu "yang
patut" lagi "tidak sewenang-wenang".
Keadilan diungkapkan
oleh Al-Quran antara
lain dengan kata-kata al-'adl,
al-qisth, al-mizan, dan dengan
menafikan kezaliman,
walaupun pengertian keadilan
tidak selalu menjadi antonim kezaliman. 'Adl, yang berarti "sama", memberi
kesan adanya dua pihak
atau lebih; karena jika hanya
satu pihak, tidak akan terjadi "persamaan".
Qisth arti asalnya adalah
"bagian" (yang wajar dan patut). Ini tidak harus
mengantarkan adanya "persamaan". Bukankah bagian dapat saja
diperoleh oleh satu pihak? Karena itu,
kata qisth lebih umum
daripada kata 'adl,
dan karena itu pula ketika Al-Quran
menuntut seseorang untuk
berlaku adil terhadap dirinya sendiri,
kata qisth itulah
yang digunakannya.
Perhatikan firman Allah dalam
surat Al-Nisa' (4): 135,
Wahai orang-orang
yang beriman, jadilah kamu penegak
al-qisth (keadilan), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri...
Mizan berasal dari akar kata
wazn yang berarti timbangan. Oleh karena
itu, mizan, adalah "alat untuk menimbang". Namun dapat pula
berarti "keadilan",
karena bahasa seringkali
menyebut
"alat" untuk makna "hasil penggunaan alat
itu".
KEADILAN DALAM AL-QURAN
Keadilan yang
dibicarakan dan dituntut
oleh Al-Quran amat beragam, tidak hanya pada proses penetapan hukum atau
terhadap pihak yang berselisih,
melainkan Al-Quran juga
menuntut keadilan terhadap diri sendiri, baik ketika berucap, menulis, atau bersikap batin.
Dan apabila kamu
berkata, maka hendaklah kamu berlaku
adil walaupun terhadap kerabat...! (QS Al-An'am [6]: 152).
Dan hendaklah ada di antara kamu seorang
penulis yang menulis dengan adil (QS
Al-Baqarah [2]: 282).
Kehadiran para Rasul
ditegaskan Al-Quran bertujuan
untuk menegakkan sistem kemanusiaan yang adil.
Sesungguhnya Kami
telah mengutus rasul-rasul, dengan
membawa bukti-bukti nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca
(keadilan) agar manusia dapat
melaksanakan keadilan (QS Al-Hadid [57]:
25).
Al-Quran memandang kepemimpinan
sebagai "perjanjian Ilahi" yang melahirkan
tanggung jawab menentang
kezaliman dan menegakkan
keadilan.
Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu
(hai Ibrahim)
pemimpin untuk seluruh manusia." Dia
(Ibrahim) berkata,
(Saya bermohon agar) termasuk juga
keturunan-keturunanku "Allah berfirman, "Perjanjian-Ku ini tidak akan diterima oleh orang-orang
yang zalim"
(QS Al-Baqarah [2]:
124).
Demikian terlihat bahwa
kepemimpinan dalam pandangan ayat di atas bukan sekadar kontrak sosial, tetapi
juga menjadi kontrak atau
perjanjian antara Allah
dan sang pemimpin
untuk menegakkan keadilan.
Bahkan Al-Quran menegaskan bahwa
alam raya ini ditegakkan atas dasar keadilan:
Dan langit
ditegakkan dan Dia menetapkan al-mizan
(neraca
kesetimbangan) (QS Al-Rahman [55]: 7)
Walhasil, dalam Al-Quran dapat
ditemukan pembicaraan tentang keadilan, dari
tauhid sampai keyakinan
mengenai hari kebangkitan, dari
nubuwwah (kenabian) hingga kepemimpinan, dan dari individu
hingga masyarakat. Keadilan adalah syarat bagi terciptanya kesempurnaan
pribadi, standar kesejahteraan masyarakat, dan
sekaligus jalan terdekat menuju
kebahagiaan ukhrawi.
RAGAM MAKNA KEADILAN
Ketiga kata -qisth, 'adl, dan mizan- pada berbagai
bentuknya digunakan oleh Al-Quran
dalam konteks perintah kepada manusia untuk berlaku adil.
Katakanlah, "Tuhanku memerintahkan
menjalankan al-qisth (keadilan)"
(QS Al-A'raf [7]: 29)
Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku
adil dan berbuat ihsan (kebajikan) (QS
Al-Nahl [16]: 90)
Dan langit
ditinggikan-Nya dan Dia meletakkan neraca
(keadilan) agar kamu tidak melampaui batas
tentang neraca itu (QS Al-Rahman [55]:
7-8).
Ketika Al-Quran menunjuk Zat
Allah yang memiliki sifat adil, kata yang digunakanNya hanya Al-qisth
(QS Ali 'Imran [31: 18).
Kata 'adl
yang dalam berbagai
bentuk terulang dua puluh delapan kali dalam Al-Quran, tidak
satu pun yang dinisbatkan kepada Allah
menjadi sifat-Nya. Di
sisi lain, seperti dikemukakan di atas, beragam aspek
dan objek keadilan
telah dibicarakan oleh Al-Quran; pelakunya pun demikian. Keragaman
tersebut mengakibatkan keragaman makna keadilan.
Paling tidak ada empat makna
keadilan yang dikemukakan
oleh para pakar agama.
Pertama, adil dalam arti "sama"
Anda dapat
berkata bahwa si A adil, karena
yang Anda maksud adalah bahwa dia
memperlakukan sama atau
tidak membedakan seseorang dengan
yang lain. Tetapi harus digarisbawahi bahwa persamaan yang dimaksud adalah
persamaan dalam hak.
Dalam
surat Al-Nisa' (4): 58 dinyatakan bahwa,
Apabila kamu memutuskan perkara di antara
manusia, maka hendaklah engkau
memutuskannya dengan adil...
Kata "adil"
dalam ayat ini
-bila diartikan "sama"- hanya mencakup sikap
dan perlakuan hakim
pada saat proses pengambilan keputusan.
Ayat ini menuntun sang hakim
untuk menempatkan pihak-pihak yang bersengketa
di dalam posisi yang sama, misalnya ihwal tempat
duduk, penyebutan nama (dengan atau
tanpa embel-embel
penghormatan), keceriaan wajah,
kesungguhan mendengarkan, dan memikirkan ucapan mereka, dan sebagainya
yang termasuk dalam proses
pengambilan keputusan. Apabila
persamaan dimaksud mencakup
keharusan mempersamakan apa yang mereka
terima dari keputusan, maka
ketika itu persamaan tersebut
menjadi wujud nyata kezaliman.
Al-Quran mengisahkan dua orang
berperkara yang datang kepada Nabi
Daud a.s. untuk mencari keadilan. Orang pertama memiliki sembilan puluh
sembilan ekor kambing betina,
sedangkan orang kedua hanya
memiliki seekor. Pemilik
kambing yang banyak mendesak agar
diberi pula yang seekor itu agar genap
seratus. Nabi Daud tidak
memutuskan perkara ini
dengan membagi kambing-kambing itu
dengan jumlah yang
sama, melainkan menyatakan bahwa
pemilik sembilan puluh sembilan kambing itu telah berlaku aniaya atas
permintaannya itu (QS
Shad [38]: 23).
Kedua, adil dalam arti "seimbang"
Keseimbangan ditemukan
pada suatu kelompok yang di
dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju
satu tujuan tertentu, selama syarat dan kadar tertentu
terpenuhi oleh setiap bagian. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok itu
dapat bertahan dan berjalan
memenuhi tujuan kehadirannya.
Wahai manusia, apakah
yang memperdayakan kamu (berbuat
durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang menciptakan kamu lalu menyempurnakan
kejadianmu, dan mengadilkan kamu
(menjadikan susunan tubuhmu seimbang)
(QS Al-Infithar
[82]: 6-7).
Seandainya ada salah satu anggota tubuh manusia berlebih atau berkurang dari
kadar atau syarat yang seharusnya, maka pasti tidak akan terjadi
kesetimbangan (keadilan).
Contoh lain tentang
keseimbangan adalah alam
raya bersama
ekosistemnya. Al-Quran menyatakan bahwa,
(Allah) Yang
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sama sekali
tidak melihat pada ciptaan Yang Maha
Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang.
Amatilah berulang-ulang! Adakah kamu
melihat sesuatu yang tidak
seimbang? (QS
Al-Mulk [67]: 3)
Di sini,
keadilan identik dengan
kesesuaian (keproporsionalan),
bukan lawan kata
"kezaliman". Perlu
dicatat bahwa keseimbangan tidak mengharuskan persamaan kadar dan
syarat bagi semua
bagian unit agar seimbang. Bisa saja satu bagian berukuran kecil atau
besar, sedangkan kecil
dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya.
Petunjuk-petunjuk Al-Quran
yang membedakan satu dengan yang
lain, seperti pembedaan lelaki dan perempuan pada beberapa hak waris dan
persaksian -apabila ditinjau
dari sudut pandang keadilan-
harus dipahami dalam
arti keseimbangan, bukan persamaan.
Keadilan dalam
pengertian ini menimbulkan
keyakinan bahwa Allah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui menciptakan
dan mengelola segala sesuatu
dengan ukuran, kadar,
dan waktu tertentu guna mencapai
tujuan. Keyakinan ini
nantinya mengantarkan kepada pengertian Keadilan Ilahi.
Matahari dan bulan beredar dengan
perhitungan yang amat teliti (QS
Al-Rahman [55]: 5).
Sesungguhuga Kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukurannya (QS Al-Qamar [54]:
49)
Ketiga, adil adalah "perhatian terhadap hak-hak individu
dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya"
Pengertian inilah
yang didefinisikan dengan
"menempatkan sesuatu pada tempatnya" atau
"memberi pihak lain
haknya melalui jalan yang
terdekat". Lawannya adalah "kezaliman",
dalam arti pelanggaran terhadap
hak-hak pihak lain.
Dengan demikian menyirami tumbuhan adalah keadilan dan menyirami duri
adalah lawannya. Sungguh
merusak permainan (catur),
jika menempatkan gajah di
tempat raja, demikian ungkapan seorang sastrawan yang arif.
Pengertian keadilan seperti ini, melahirkan keadilan sosial.
Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi
Adil di sini berarti "memelihara kewajaran atas
berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan
perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu."
Semua wujud tidak memiliki hak
atas Allah. Keadilan Ilahi pada dasarnya
merupakan rahmat dan
kebaikan-Nya. KeadilanNya
mengandung konsekuensi bahwa rahmat A h
Swt. tidak tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu
dapat meraihnya.
Sering dinyatakan bahwa
ketika A mengambil hak dari B, maka pada saat itu juga B mengambil hak
dari A. Kaidah ini
tidak berlaku untuk Allah Swt., karena Dia memiliki hak atas
semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki sesuatu
di sisi-Nya.
Dalam pengertian
inilah harus dipahami kandungan
firman-Nya yang menunjukkan Allah Swt. sebagai
qaiman bilqisth (yang menegakkan keadilan)
(QS Ali 'Imram [3]: 18), atau ayat lain yang mengandung arti
keadilan-Nya seperti:
Dan Tuhanmu tidak berlaku
aniaya kepada hamba-hambaNya
(QS Fushshilat
[41]: 46).
KEADILAN MENCAKUP SEMUA HAL
Seperti dikemukakan di atas,
Allah menciptakan dan mengelola alam raya
ini dengan keadilan,
dan menuntut agar keadilan mencakup semua aspek kehidupan. Akidah, syariat
atau hukum, akhlak, bahkan cinta
dan benci.
Dan Kamu pasti tidak
akan dapat berlaku adil di antara
wanita-wanita (istri-istrimu dalam hal cinta), walaupun kamu berusaha keras ingin berbuat
demikian. Karena itu janganlah kamu
terlalu cenderung (kepada yang kamu
cintai), dan membiarkan yang lain
terkatung-katung (QS Al-Nisa' [4]: 129).
Hai orang-orang yang
beriman, jadilah kamu penegak
keadilan, menjadi saksi karena Allah, biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan
kerabatmu.
Jika ia (yang tergugat atau terdakwa) kaya
atau miskin, maka Allah lebih utama
dari keduanya... (QS
Al-Nisa' [14]: 135)
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap suatu kelompok menjadikan
kamu tidak berlaku adil (QS
Al-Ma-idah [5]: 8)
Kebencian tidak
pernah dapat dijadikan
alasan untuk mengorbankan keadilan,
walaupun kebencian itu tertuju kepada kaum non-Muslim, atau didorong
oleh upaya memperoleh ridhaNya.
Itu sebabnya Rasul Saw. mewanti-wanti agar,
Berhati-hatilah
terhadap doa (orang) yang teraninya,
walaupun dia kafir, karena tidak ada pemisah antara doanya dengan Tuhan.
Allah tidak
melarang kamu untuk berbuat baik dan
"tuqsithu"
(berlaku adil) terhadap orang-orang (kafir)
yang tidak menerangimu karena agama, dan tidak mengusirmu dari negerimu atau membantu
orang lain untuk mengusir kamu... (QS
Al-Mumtahanah [60]: 8).
Ibnu 'Arabi, pakar tafsir dan
hukum Islam bermazhab
Maliki, tidak sependapat dengan
mereka yang memahami kata taqshithu pada firman Allah di atas dalam
arti berlaku adil.
"Berlaku adil", tulisnya, "adalah
wajib terhadap orang-orang kafir (baik yang memerangi maupun
yang tidak)." Kata
taqsithu di sini menurutnya
adalah "memberi bagian
dari harta guna menjalin hubungan baik".
Keadilan harus ditegakkan di
mana pun, kapan pun, dan terhadap siapa
pun. Bahkan, jika
perlu dengan tindakan tegas. Salah satu ayat Al-Quran menggandengkan
"timbangan" (alat ukur yang
adil) dengan "besi" yang
antara lain digunakan
sebagai senjata. Ini untuk
memberi isyarat bahwa
kekerasan adalah salah satu cara
untuk menegakkan keadilan.
Sesungguhnya Kami
telah mengutus rasul-rasul dengan
membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Al-Mizan
(neraca keadilan), dan Kami ciptakan
besi yang padanya terdapat kekuatan
hebat dan berbagai manfaat bagi
manusia (supaya besi itu digunakan). Allah mengetahui siapa yang menolong (memperguangkan
nilai-nilai) agama-Nya dan membantu rasul-rasul-Nya,
walaupun Allah gaib dari pandangan
mata mereka [QS Al-Hadid [57]:
25).
Apabila dua kelompok
Mukmin berselisih, lakukanlah ishlah
(perdamaian) di antara keduanya. Bila salah
satu dari kedua kelompok itu membangkang, maka perangi
(ambil tindakan tegas terhadap) yang
membangkang, sehingga ia menerima
ketetapan Allah (QS Al-Hujurat
[49]: 9)
Lanjutan ayat ini perlu mendapat perhatian, yakni:
Apabila ia (kelompok
yang membangkang itu) telah kembali
(taat) maka lakukanlah perdamaian dengan adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berlaku
adil (QS Al-Hujurat
[49]: 9)
Sungguh tepat
menggandengkan perintah mendamaikan
pada lanjutan ayat ini
dengan "keharusan berlaku adil". Karena walaupun
keadilan dituntut dalam
setiap sikap sejak
awal proses perdamaian, tetapi
sikap itu lebih dibutuhkan untuk
para juru damai
setelah mereka terlibat
menindak tegas kelompok pembangkang. Ini karena besar kemungkinan
mereka pun mengalami kerugian, harta, jiwa, atau paling tidak harga diri akibat
ulah para pembangkang.
Kerugian tersebut dapat mendorongnya untuk berlaku tidak
adil, karena itu
ayat ini menekankan terhadap
mereka kewajiban berlaku adil.
Begitu luas
pesan keadilan Al-Quran, sehingga seseorang yang merasa sempit
dari keadilan, pasti
akan merasakan bahwa ketidakadilan jauh lebih sempit. KEADILAN ILAHI
Pembicaraan tentang keadilan Ilahi bukanlah sesuatu yang
baru.
Persoalan ini hadir sejak manusia
mengenal baik dan
buruk Pertanyaan-pertanyaan
seperti mengapa ada
kejahatan, ada penyakit dan
kemiskinan, bahkan mengapa Tuhan
menganugerahkan si A segala kenikmatan, dan menjadikan si B tenggelam ke
dalam bencana? Kesemua pertanyaan itu dapat menjadi wajar.
Tetapi tidak mudah
memahami -apalagi menjelaskan-
persoalan ini jika dikaitkan dengan keadilan Ilahi. Ia merupakan
salah satu hal yang amat muskil, khususnya
bila ingin memuaskan semua nalar.
Itu sebabnya yang merasakan Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan
Tuhan biasanya hanya berkata, "Ada hikmah di balik setiap
peristiwa, baik yang
dinilai sebagai ketidakadilan
(kejahatan) maupun sebaliknya." Jawaban
semacam ini jelas tidak memuaskan nalar.
Pada masyarakat
primitif terdapat keyakinan adanya dua Tuhan: Tuhan Cahaya (Kebaikan) dan Tuhan
Kegelapan. Keyakinan seperti ini
-yang sekaligus merupakan
jawaban- ditolak oleh penganut monoteisme. Al-Quran secara tegas menolak
dualisme, baik pada penciptaan,
penguasaan, maupun pengaturan alam raya.
Segala puji bagi Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi, dan yang
menjadikan kegelapan dan cahaya (QS
Al-An'am [6]: 1)
Sebagian pakar
agama termasuk agama
Islam menyelesaikan persoalan
ini dengan menyatakan bahwa yang dinamakan kejahatan atau keburukan sebenarnya
tidak ada, atau paling tidak hanya terdapat pada
nalar manusia yang memandang secara parsial.
Bukankah Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa,
Dialah yang membuat segala sesuatu
dengan sebaik-baiknya (QS Al-Ahzab
[32]: 7).
Kalau demikian, segala sesuatu
diciptakan oleh Allah,
dan segala sesuatu yang bersumber dari Allah pasti baik. Keburukan
adalah akibat dari keterbatasan
pandangan. Segala sesuatu sebenarnya tidak
buruk, tetapi nalar
manusia mengiranya demikian.
Boleh jadi engkau
membenci sesuatu, padahal ia baik
bagimu, dan bolehjadi engkau menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui
dan kamu tidak mengetahui (QS
Al-Baqarah [2]: 216).
Nalar tidak dapat menembus
semua dimensi. Seringkali
ketika seseorang memandang sesuatu secara mikro, hal itu dinilainya
buruk dan jahat, tetapi
jika dipandang secara
makro dan menyeluruh, justru
hal itu merupakan
unsur keindahan dan kebaikan.
Bukankah jika pandangan hanya ditujukan kepada
tahi lalat di wajah
seorang wanita akan terlihat
buruk? Tetapi, bila wajah dipandang secara menyeluruh, tahi lalat tadi justru
menjadi unsur utama
kecantikannya! Bukankah jika Anda hanya melihat kaki seseorang dipotong,
Anda akan menilainya kejam, tetapi bila
Anda mengetahui bahwa
sang dokterlah yang mengamputasi pasiennya, Anda justru akan
berterima kasih dan memujinya? Karena
itu, jangan memandang
kebijaksanaan Allah secara mikro. Kalaupun Anda tidak mampu
memandangnya secara makro,
yakinilah bahwa ada hikmah di balik semua itu.
Boleh jadi nalar
Anda belum puas. Sekali lagi,
mengapa ada kejahatan, ada setan yang diciptakan-Nya untuk menggoda, atau ada nasib baik dan nasib buruk yang
dialami manusia?
Al-Quran menyatakan bahwa jenis manusia adalah satu
kesatuan,
"Manusia itu
adalah untuk umat yang satu" (QS
Al-Baqarah [2]:
213)
Bahkan seluruh jagat raya merupakan satu kesatuan.
Dan tiadalah
binatang-binatang yang ada di bumi dan
burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan adalah umat (satu kesatuan)
seperti kamu juga. Tidak Kami alpakan
sesuatu pun di dalam Al-Kitab
(pengetahuan Tuhan). Kemudian kepada Tuhanmulah mereka dihimpunkan (QS Al-An'am [6]: 38).
Jika demikian, pribadi demi
pribadi secara sadar atau tidak, bekerja sama dan saling menopang demi
kebahagiaan bersama, dan untuk itu ada di antara mereka
yang menjadi "korban" demi kebahagiaan makhluk
secara keseluruhan. Pengorbanan
itu merupakan syarat kesempurnaan jenis makhluk, termasuk manusia.
Korban (yang mengalami "keburukan") harus ada, demi mewujudnya
kebaikan dan keindahan. Bagaimana mungkin
manusia mengetahui arti berani,
jika tidak ada
bahaya? Bagaimana mereka mengetahui nikmatnya sehat, bila
tidak merasakan sakit?
Apa artinya kesabaran jika
tidak ada malapetaka? Nah,
siapakah yang harus mengalami semua itu? Jika bukan makhluk juga?
Apabila penderitaan
itu terjadi karena
kesalahan, maka setimpallah akibat
dengan ulahnya. Sedangkan apabila tidak bersalah, maka
pengorbanan manusia akan beroleh ganjaran
di sisi Allah, yakni pengampunan dosa dan ketinggian derajat
di akhirat sana (QS Al-Baqarah [2]: 155-157).
Patut dicatat bahwa Allah memberikan potensi
kepada manusia untuk mampu
memikul kesedihan dan
melupakannya, begitu kata pakar psikologi dan begitu juga isyarat Al-Quran.
Tidak satu petaka pun yang menimpa seseorang
kecuali dengan izin Allah; dan
barangsiapa yang beriman kepada
Allah, niscaya Dia
(Allah) akan memberi petunjuk kepada
hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu (QS Al-Taghabun [64]: 11).
Manusia harus bekerja sama memikul bencana untuk
mencapai dan memahami tujuan
keberadaannya.
Anda boleh
bertanya, "Mengapa kerja
sama itu harus ada? Bukankah Allah
Mahamutlak kesempurnaan dan
kekuasaanNya, sehingga Dia kuasa
menciptakan alam tanpa kekurangan atau pun tanpa kerja sama?"
Benar! Allah Mahamutlak kesempurnaan-Nya, karena
Bagi Allahlah
segala sifat yang terpuji (QS Al-A'raf
[7]: 180).
Dia Mahakuasa, tiada sedikit
pun kekurangan-Nya. Apakah nalar Anda
menuntut agar Dia menciptakan suatu ciptaan yang memiliki kesempurnaan mutlak
seperti kesempurnaan-Nya? Jika itu
yang diinginkan, akan terdapat dua Tuhan, dan ini mustahil. Bukan
saja dari segi
redaksional kata "mutlak" (kemutlakan mengandung arti
kesendirian), melainkan juga mustahil dari sisi keyakinan
"keesaan-Nya", serta bertentangan
pula dengan firman-Nya,
Tiada yang serupa
dengan-Nya satu pun (QS [42]: 11).
Yakni, jangankan yang
sama dengan-Nya, yang
serupa dengan serupa-Nya pun
tiada.
Adalah logis
bahwa Pencipta harus
berbeda dengan yang diciptakan. Yang diciptakan kurang
sempurna dibandingkan sang
pencipta. Kekurangan dan
ketidaksempurnaan itu mencakup apa yang dinamai atau diduga sebagai
keburukan. Jangan lupa bahwa yang dinamakan
dan dikeluhkan manusia
itu tidak mencakup seluruh alam
sebagai suatu unit dan serentak, melainkan
hanya diderita oleh sebagian unsur-unsurnya. Bahkan sering kejahatan
yang diderita seseorang dapat menjadi
nikmat bagi dirinya sendiri di masa datang, atau merupakan nikmat bagi
yang lain. Harus diingat juga bahwa terdapat
banyak makhluk Allah
dan sebagian besar tidak
diketahui manusia, sebab
seperti firman-Nya,
Dia menciptakan
(makhluk) yang tidak kamu ketahui (QS
Al-Nahl [16]: 8).
Konon pengetahuan manusia
baru dapat menjangkau
sekitar 3% dari seluruh alam raya
ini.
Apakah nalar manusia
menginginkan agar Tuhan tidak menciptakan manusia sama sekali? Jangan
berkeinginan seperti itu, karena ini
bertentangan dengan makna kekuasaan-Nya. Bukankah wujud dan kekuasaan-Nya
tidak dapat tercermin
kecuali melalui ciptaan-Nya?
Boleh jadi
Anda berkata bahwa yang dikemukakan di atas ini adalah
tinjauan kekuasaan dan kodrat Ilahi, bukan
dari sudut pandang rahmat
dan nikmat-Nya. Bukankah dari
sudut tinjauan ini, "tidak menciptakan sama sekali justru
jauh lebih baik daripada
menciptakan sesuatu yang disertai dengan kepedihan dan
kejahatan?"
Barangkali demikian. Tetapi,
mungkin juga pernyataan "mencipta dan
memelihara hak atas
berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi, dan
memperoleh rahmat sewaktu terdapat kemungkinan
eksis atau potensi
untuk mencapai kesempurnaan"
(seperti makna keadilan Ilahi yang dikemukakan sebelum ini), jauh lebih baik.
Jika seperti
itu adanya, persoalan
keadilan Ilahi bukan problem nalar, melainkan problem rasa,
sebagai akibat dari keinginan manusia untuk selalu mendapatkan yang terbaik
untuk diri, keluarga, atau jenisnya
saja, hingga melupakan
pihak lain. Jika problemnya
demikian, yang mampu menanggulanginya adalah rasa juga. Di sinilah agama
dan keyakinan berperan amat besar.
KEADILAN SOSIAL
Al-Quran menetapkan
bahwa salah satu
sendi kehidupan bermasyarakat
adalah keadilan. Tidak lebih dan
tidak kurang. Berbuat baik
melebihi keadilan --seperti
memaafkan yang bersalah atau memberi
bantuan kepada yang malas-- akan dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat.
Memang Al-Quran
memerintahkan perbuatan adil dan kebajikan seperti bunyi firman-Nya,
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan
berbuat kebajikan" (QS
Al-Nahl 116]: 90), karena ihsan (kebajikan) dinilai sebagai sesuatu yang
melebihi keadilan. Namun dalam kehidupan
bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada kedermawanan atau ihsan.
Ihsan adalah
memperlakukan pihak lain
lebih baik dari perlakuannya, atau
memperlakukan yang bersalah
dengan perlakuan yang baik. Ihsan dan kedermawanan merupakan hal-hal yang
baik pada tingkat antar individu, tetapi dapat berbahaya jika dilakukan
pada tingkat masyarakat.
Imam Ali r.a. bersabda,
"Adil adalah menempatkan sesuatu
pada tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkannya bukan
pada tempatnya." Jika
hal ini menjadi
sendi kehidupan
bermasyarakat, maka masyarakat
tidak akan menjadi seimbang. Itulah sebabnya, mengapa Nabi Saw.
menolak memberikan maaf kepada
seorang pencuri setelah diajukan
ke pengadilan, walau pemilik harta telah memaafkannya.
Shafwan bin Umayyah dicuri
pakaiannya oleh seseorang.
Dia menangkap pencurinya dan
membawanya kepada Nabi Saw. Beliau memerintahkan memotong
tangan pencuri, tetapi
Shafwan memaafkan, maka Nabi Saw. bersabda.
"Seharusnya ini (pemanfaan) sebelum
engkau membawanya kepadaku"
(Diriwayatkan oleh Ahmad At-Tirmidzi dan
An-Nasa'i).
Hidup adalah
perjuangan. Yang baik
dan bermanfaat akan bertahan, sedang
yang buruk akhirnya
hancur. Demikian ketetapan Ilahi.
Adapun buih itu akan
hilang sebagai sesuatu yang tak ada
harganya, sedangkan yang memben manfaat bagi
manusia itulah yang tetap bertahan di bumi.
Demikianlah Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan (QS
Al-Raid [13]: 17).
Potensi dan kemampuan manusia
berbeda-beda, bahkan potensi dan kemampuan
para rasul pun demikian (QS Al-Baqarah [2]: 253).
Perbedaan adalah sifat masyarakat, namun hal itu tidak
boleh mengakibatkan
pertentangan. Sebaliknya, perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja
sama yang menguntungkan semua pihak. Demikian
kandungan makna firman-Nya
pada surat Al-Hujurat (49): 13.
Dalam surat Az-Zukhruf
(43): 32 tujuan
perbedaan itu dinyatakan:
Apakah mereka yang
membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami
telah menentukan di
antara mereka (melalui sunnatullah)
penghidupan mereka di dunia, dan Kami
telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beaberapa tingkatan, agar mereka dapat
saling menggunakan (memanfaatkan
kelebihan dan kekurangan
masing-masing) rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Setiap anggota masyarakat
dituntut untuk fastabiqul
khairat (berlomba-lombalah
di dalam kebajikan)
(QS Al-Baqarah [2]: 148).
Setiap perlombaan menjanjikan
"hadiah". Di sini hadiahnya adalah
mendapatkan keistimewaan bagi
yang berprestasi. Tentu akan
tidak adil jika
peserta lomba dibedakan atau
tidak diberi kesempatan
yang sama. Tetapi, tidak adil juga bila setelah berlomba
dengan prestasi yang berbeda,
hadiahnya dipersamakan, sebab
akal maupun agama menolak hal ini.
Tidaklah sama antara
Mukmin yang duduk (tidak berjuang)
kecuali yang uzur, dengan orang yang
berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
Allah melebihkan
orang-orang yang berjihad dengan harta
dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk
(tidak ikut berjuang karena uzur) satu derajat. Dan kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan imbalan baik... (QS
Al-Nisa' [4]: 95).
Adakah sama orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui? (QS
Al-Zumar [39]: 9).
Keadilan sosial seperti terlihat di atas, bukan mempersamakan semua anggota masyarakat,
melainkan mempersamakan mereka dalam kesempatan mengukir prestasi.
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia,
keadilan sosial
didefinisikan sebagai "kerja sama
untuk mewujudkan masyarakat yang
bersatu secara organik,
sehingga setiap anggota masyarakat memiliki
kesempatan yang sama
dan nyata untuk
tumbuh berkembang sesuai kemampuan masing-masing."
Nah, jika di
antara mereka ada
yang tidak dapat
meraih prestasi atau memenuhi
kebutuhan pokoknya, masyarakat
yang berkeadilan sosial terpanggil
untuk membantu mereka
agar mereka pun dapat
menikmati kesejahteraan. Keadilan sosial semacam inilah yang akan
melahirkan kesejahteraan sosial.
Bukankah telah dikemukakan pada
awal uraian ini bahwa keadilan akan mengantarkan kita kepada kesejahteraan?
Dengan kata lain, bukti atau anak sah
keadilan sosial adalah
kesejahteraan sosial.
KESEJAHTERAAN SOSIAL
"Sejahtera" menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah "aman, sentosa dan makmur;
selamat (terlepas) dari
segala macam gangguan, kesukaran
dan sebagainya." Dengan
demikian kesejahteraan
sosial, merupakan keadaan
masyarakat yang sejahtera.
Sebagian pakar
menyatakan bahwa kesejahteraan
sosial yang didambakan Al-Quran tecermin dari surga yang dihuni
oleh Adam dan istrinya,
sesaat sebelum turunnya
mereka melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi. Seperti telah diketahui,
sebelum Adam dan istrinya diperintahkan turun ke bumi, mereka terlebih
dahulu ditempatkan di surga.
Surga diharapkan
menjadi arah pengabdian
Adam dan Hawa, sehingga bayang-bayang surga itu diwujudkannya di
bumi, serta kelak dihuninya secara hakiki di
akhirat. Masyarakat yang mewujudkan bayang-bayang
surga itu adalah
masyarakat yang berkesejahteraan.
Kesejahteraan surgawi dilukiskan antara lain dalam peringatan
Allah kepada Adam:
Hai Adam,
sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu
dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang
akibatnya engkau akan bersusah payah.
Sesungguhnya engkau tidak akan
kelaparan di sini (surga), tidak pula akan
telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak akan merasa dahaga maupun kepanasan (QS Thaha [20]:
117- 119)
Dari ayat ini jelas bahwa pangan,
sandang, den papan
yang diistilahkan dengan tidak
lapar, dahaga, telanjang,
dan kepanasan semuanya telah
terpenuhi di sana.
Terpenuhinya kebutuhan ini
merupakan unsur pertama dan utama kesejahteraan sosial.
Dari ayat lain diperoleh
informasi bahwa masyarakat di surga hidup
dalam suasana damai,
harmonis, tidak terdapat suatu
dosa, dan tidak ada sesuatu yang tidak
wajar, serta tiada pengangguran ataupun sesuatu yang
sia-sia:
Mereka tidak
mendengar di dalamnya (surga) perkataan
sia-sia; tidak pula (terdengar adanya) dosa, tetapi ucapan salam dan salam (sikap damai) (QS
Al-Waqi'ah
[56]: 25 dan 26).
Mereka hidup bahagia bersama
sanak keluarganya yang
beriman (Baca surat Ya Sin [36]: 55-58, dan Al-Thur [52]: 21).
Adam bersama
istrinya diharapkan dapat
mewuJudkan bayang-bayang surga itu di permukaan bumi
ini dengan usaha sungguh-sungguh, berpedoman kepada
petunjuk-petunjuk Ilahi.
Kemudian jika datang
petunjuk-Ku kepadamu (hai Adam,
setelah engkau berada di dunia, maka ikutilah). Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tiada ketakutan menimpa mereka
dan tiada pula kesedihan (QS
Al-Baqarah [2]:
38).
Itulah rumusan kesejahteraan
yang dikemukakan oleh Al-Quran. Rumusan ini dapat mencakup berbagai
aspek kesejahteraan sosial yang pada kenyataannya dapat
menyempit atau meluas
sesuai dengan kondisi pribadi, masyarakat, serta perkembangan zaman.
Untuk masa
kini, kita dapat
berkata bahwa yang sejahtera
adalah yang terhindar dari rasa takut
terhadap penindasan, kelaparan,
dahaga, penyakit, kebodohan, masa depan diri, sanak keluarga, bahkan
lingkungan. Sayyid Quthb mengatakan bahwa:
Sistem kesejahteraan sosial
yang diajarkan Islam bukan sekadar bantuan
keuangan --apa pun bentuknya.
Bantuan keuangan hanya merupakan satu dari
sekian bentuk bantuan
yang dianjurkan
Islam.1
DARI MANAKAH MEMULAINYA?
Kesejahteraan sosial
dimulai dari perjuangan
mewujudkan dan menumbuhsuburkan
aspek-aspek akidah dan
etika pada diri pribadi, karena
dari diri pribadi yang seimbang akan lahir masyarakat
seimbang. Masyarakat Islam pertama lahir dari
Nabi Muhammad Saw., melalui
kepribadian beliau yang
sangat mengagumkan. Pribadi ini
melahirkan keluarga seimbang: Khadijah, Ali
bin Abi Thalib,
Fathimah Az-Zahra', dan lain-lain. Kemudian lahir di
luar keluarga itu
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.,
dan sebagainya, yang
juga membentuk keluarga, dan demikian
seterusnya, sehingga pada
akhirnya terbentuklah
masyarakat yang seimbang
antara keadilan dan kesejahteraan
sosialnya.
Kesejahteraan sosial dimulai
dengan "Islam", yaitu
penyerahan diri sepenuhnya kepada
Allah Swt. Tidak mungkin jiwa akan merasakan ketenangan
apabila kepribadian terpecah
(split personality):
Allah membuat
perumpamaan seorang budak yang dimiliki
oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang budak yang
menjadi milik penuh seseorang. Adakah
kedua budak itu sama halnya? Segala
puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Zumar [39]: 29).
Kesejahteraan sosial
dimulai dari kesadaran
bahwa pilihan Allah --apa
pun bentuknya, setelah usaha maksimal-- adalah pilihan
terbaik, dan selalu mengandung
hikmah. Karena itu Allah
memerintahkan kepada manusia
berusaha semaksimal mungkin,
kemudian berserah diri kepada-Nya, disertai kesadaran bahwa:
Tiada satu bencana
pun yang menimpa di bumi, dan tidak
pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
demikian itu mudah bagi Allah. (Kami
jelaskan ini) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap sesuatu yang luput dari kamu, dan jangan juga terlalu gembira (melampaui
batas) terhadap hal yang diberikannya
kepada kamu... (QS
Al-Hadid [57]:
22-23).
Ini dimulai dengan pendidikan
kejiwaan bagi setiap
pribadi, keluarga, dan
masyarakat, sehingga akhirnya tercipta hubungan yang serasi di antara
semua anggota masyarakat,
yang salah satu cerminannya
adalah kesediaan mengulurkan tangan sebelum diminta oleh yang
membutuhkan, atau kesediaan
berkorban demi kepentingan orang
banyak.
Mereka mengutamakan
(orang lain) atas diri mereka sendiri,
sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka
berikan itu) (QS Al-Hasyr [59]: 9).
Setiap pribadi bertanggung
jawab untuk mensucikan
jiwa dan hartanya, kemudian
keluarganya, dengan memberikan
perhatian secukupnya terhadap pendidikan anak-anak dan
istrinya, baik dari segi jasmani maupun ruhani. Tentunya,
tanggung jawab ini mengandung konsekuensi keuangan dan pendidikan.
Dari sini Al-Quran memerintahkan
penyisihan sebagian hasil usaha
untuk menghadapi masa depan.
Salah satu penggalan ayat yang
diulang-ulang Al-Quran sebagai
tanda orang bertakwa adalah,
Dan sebagian dari
yang Kami anugerahkan kepada mereka,
mereka nafkahkan (QS Al-Baqarah [2]: 3)
Sebagian lain
(yang tidak mereka
nafkahkan itu), mereka tabung, demikian
tulis Muhammad Abduh, guna menciptakan rasa aman menghadapi masa depan,
diri, dan keluarga.
Dan hendaklah takut
(kepada Allah) orang-orang yang
seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejabteraannya).
Oleh sebab itu, hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS Al-Nisa' [4]: 9).
Dari keluarga,
kewajiban beralih kepada
seluruh anggota masyarakat, sehingga
dikenal adanya kewajiban timbal balik antara pribadi
dan masyarakat, serta
masyarakat terhadap pribadi. Kewajiban
tersebut --sebagaimana halnya
setiap kewajiban-- melahirkan hak-hak tertentu yang sifatnya
adalah keserasian dan keseimbangan
di antara keduanya. Sekali lagi kewajiban dan
hak tersebut tidak
terbatas pada bentuk penerimaan maupun
penyerahan harta benda,
tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan.
Siapa di antara kamu
yang melihat kemunkaran, maka
hendaklah ia meluruskannya dengan tangan. Bila tak mampu maka dengan lidah, dan bila (inipun)
ia tak mampu, maka dengan hati dan
inilah selemah-lemahnya iman
(Diriwayatkan oleh Muslim).
Demikian sabda Nabi Saw. yang
pada akhirnya melahirkan pesan, bahwa,
paling tidak, seorang Muslim harus merasakan manis atau pahitnya sesuatu yang
terjadi di dalam masyarakatnya, bukan bersikap tak
acuh dan tak peduli. Terdapat
puluhan ayat dan ratusan hadis yang menekankan
keterikatan iman dengan
rasa senasib dan sepenanggungan, di antaranya:
Tahukah kamu orang
yang mendustakan agama? Mereka itulah
orang yang menghardik anak yatim, dan tidak
menganjurkan memberi pangan kepada orang miskin (QS Al-Ma'un [107]: 1-3)
Redaksi ayat di atas bukanlah
"tidak memberi makan", melainkan "tidak menganjurkan memberi
pangan". Ini mencerrninkan kepedulian. Yang tidak memiliki
kemampuan memberi, minimal harus menganjurkan pemberian
itu. Jika ini
pun tidak dilakukannya, sesuai
ayat di
atas ia termasuk
orang yang mendustakan agama dan
hari pembalasan.
Setiap orang berkewajiban
bekerja. Masyarakat atau mereka yang berkemampuan harus membantu
menciptakan lapangan pekerjaan untuk setiap
anggotanya yang berpotensi.
Karena itulah monopoli
dilarang-Nya. Jangankan di dalam bidang ekonomi, pada tempat duduk
pun diperintahkan agar
memberi peluang dan kelapangan:
Hai orang-orang yang
beriman, apabila dikatakan kepada
kamu, "Berlapang-lapanglah di dalam majelis!", maka lapangkanlah. Niscaya Allah memberi
kelapangan untuk kamu (QS Al-Mujadilah
[58]: 11).
Setiap insan harus memperoleh
perlindungan jiwa, harta,
dan kehormatannya. Jangankan membunuh atau merampas harta secara tidak
sah, mengancam atau mengejek dengan sindiran halus, atau menggelari dengan
sebutan yang tidak senonoh, berprasangka buruk tanpa
dasar, mencari-cari kesalahan,
dan sebagainya. Kesemuanya ini terlarang dengan tegas, karena semua itu
dapat menimbulkan rasa takut, tidak aman,
maupun kecemasan yang mengantarkan kepada tidak terciptanya kesejahteraan lahir
dan batin yang didambakan (QS Al-Hujurat [49]: 11-12).
Bantuan keuangan
baru boleh diberikan
apabila seseorang ternyata tidak
dapat memenuhi kebutuhannya. Ketika seseorang datang kepada Nabi Saw.
mengadukan kemiskinannya, Nabi
Saw. tidak memberinya uang
tetapi kapak agar
digunakan untuk mengambil dan
mengumpulkan kayu.
Di sisi lain,
perlu diingat bahwa
Al-Quran menegaskan perkataan
yang baik pada saat menolak, serta memaafkan tingkah laku yang kurang sopan
dari si peminta, akan jauh lebih baik daripada
memberi namun dibarengi sikap dan
tingkah laku yang menyakitkan.
Perkataan yang baik
dan pemberian maaf lebih baik daripada
sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang
menyakitkan (QS Al-Baqarah [2]: 263).
Demi mewujudkan
kesejahteraan sosial, Al-Quran
melarang beberapa praktek yang
dapat mengganggu keserasian
hubungan antar anggota masyarakat, seperti larangan riba (QS Al-Baqarah
[2]: 275), dan larangan melakukan transaksi bukan atas
dasar kerelaan (QS Al-Nisa' [4]: 29).
Di samping itu,
ditetapkan bahwa pada harta milik pribadi terdapat hak orang-orang
yang membutuhkan dan harus disalurkan,
baik berupa zakat
maupun sedekah (QS Al-Dzariyat [51]: 19).
***
Demikian
sekelumit wawasan Al-Quran
tentang keadilan dan kesejahteraan.
Tidak dipungkiri
bahwa uraian ini sangat terbatas
dibanding dengan wawasan Al-Quran
tentang topik di
atas. Namun,
prinsip-prinsip dasar dari wawasan
Al-Quran kiranya --melalui
tulisan singkat ini-- telah dapat tercerminkan. []
Catatan kaki:
1 Sayyid Quthb, Dirasat Islamiyah,
Al-Ma'arif, Kairo,
1967, hlm. 63

Tidak ada komentar:
Posting Komentar