SAHABATKU BUKU WAWASAN AL-QURANUL SAYA KUTIK PARA AHLI TAFSIR YANG TERKENAL PADA MASA INI.
WAWASAN AL-QURANUL KARIM
0
L
E
H
MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd
BAB
I Pokok-pokok Keimanan
• Al-Qur'an:.
Mengulas secara singkat mengenai Al-Qur'an.
3
• Tuhan:
Mengulas secara singkat mengenai Tuhan menurut Al-Qur'an. 14
• Nabi
Muhammad saw.: ……………………………………………… 41
• Takdir:
……………………………………………………………….. 59
• Kematian:
……………………………………………………………. 68
• Hari
Akhirat: …………………………………………………………. 81
• Keadilan
dan Kesejahteraan:…………………………………………. 111
BAB
II Kebutuhan Pokok Manusia dan Soal-soal Muamalah
• Makanan:
…………………………………………………………….. 134
• Pakaian:
……………………………………………………………… 152
• Kesehatan:
…………………………………………………………… 179
• Pernikahan:
………………………………………………………….. 189
• Syukur:
……………………………………………………………… 213
• Halal
Bihalal: ……………………………………………………….. 235
• Akhlak:
……………………………………………………………… 252
BAB
III Manusia dan Masyarakat
• Manusia:
…………………………………………………………….. 273
• Perempuan:
…………………………………………………………. 293
• Masyarakat
…………………………………………………………. 318
• Umat
………………………………………………………………... 323 • Kebangsaan:
………………………………………………………… 328 • Ahl
Al-Kitab: ……………………………………………………… 346
BAB IV Aspek-aspek Kegiatan Manusia
• Agama
………………………………………………………………… 366
• Seni:
………………………………………………………………….. 376
• Ekonomi:
…………………………………………………………….. 394
• Politik:
……………………………………………………………….. 409
• Ilmu dan
Teknologi: ………………………………………………… 425
• Kemiskinan
…………………………………………………………. 441
• Masjid
……………………………………………………………….. 452
BAB
V Soal-soal Penting Umat
• Musyawarah:
…………………………………………………………. 459
• Ukhuwah:
……………………………………………………………. 477
• Jihad:
………………………………………………………………… 492
• Puasa:
………………………………………………………………… 512
• Lailatul
Qadar ………………………………………………………… 537 • Waktu:
………………………………………………………………… 549
BAB I
POKOK
– POKOK KEIMANAN
A. AL-QUR’AN
Al-Quran yang
secara harfiah berarti "bacaan
yang sempurna" merupakan
suatu nama pilihan
Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun
sejak manusia mengenal
tulis baca lima ribu tahun
yang lalu yang
dapat menandingi Al-Quran
Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu.
Tiada
bacaan semacam Al-Quran yang dibaca oleh ratusan juta orang
yang tidak mengerti
artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya.
Bahkan dihafal huruf demi
huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak.
Tiada bacaan
melebihi Al-Quran dalam
perhatian yang diperolehnya,
bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat,
baik dari segi masa, musim, dan
saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.
Tiada
bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan
hanya susunan redaksi dan
pemilihan kosakatanya, tetapi
juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan
sampai kepada kesan yang
ditimbulkannya.
Semua dituangkan dalam jutaan
jilid buku, generasi
demi generasi. Kemudian
apa yang dituangkan dari
sumber yang tak
pernah kering itu, berbeda-beda sesuai
dengan perbedaan kemampuan
dan kecenderungan mereka, namun
semua mengandung kebenaran.
Al-Quran layaknya sebuah
permata yang memancarkan
cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Tiada bacaan
seperti Al-Quran yang
diatur tatacara membacanya,
mana yang dipendekkan, dipanjangkan,
dipertebal atau diperhalus ucapannya,
di mana tempat yang terlarang, atau boleh, atau harus memulai dan
berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika
membacanya.
Tiada bacaan
sebanyak kosakata Al-Quran
yang berjumlah 77.439 (tujuh puluh
tujuh ribu empat
ratus tiga puluh sembilan) kata, dengan jumlah huruf 323.015 (tiga ratus
dua puluh tiga ribu lima belas)
huruf yang seimbang
jumlah kata-katanya, baik antara
kata dengan padanannya, maupun
kata dengan lawan kata dan dampaknya.
Sebagai
contoh -sekali lagi sebagai
contoh- kata hayat
terulang sebanyak antonimnya maut, masing-masing 145 kali; akhirat terulang 115 kali
sebanyak kata dunia;
malaikat terulang 88
kali sebanyak kata
setan; thuma'ninah (ketenangan)
terulang 13 kali
sebanyak kata dhijg (kecemasan); panas terulang 4 kali
sebanyak kata dingin.
Kata infaq terulang
sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan) masing-masing
73 kali;
kikir sama dengan akibatnya
yaitu penyesalan masing-masing 12 kali;
zakat sama
dengan berkat yakni kebajikan melimpah, masing-masing 32 kali.
Masih amat banyak
keseimbangan lainnya, seperti kata yaum (hari)
terulang sebanyak 365, sejumlah hari-hari
dalam setahun, kata syahr
(bulan) terulang 12 kali juga sejumlah bulan-bulan
dalam setahun.
Demikian
"Allah menurunkan kitab
Al-Quran dengan penuh kebenaran dan keseimbangan (QS Al-Syura [42]: 17)."
Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk seperti
itu? Al-Quran menantang:
"Katakanlah, Seandainya manusia
dan jin berkumpul untuk menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan
berhasil menyusun semacamnya walaupun mereka bekerja sama" (QS
Al-Isra,[17]: 88).
Orientalis
H.A.R.
Gibb pernah menulis
bahwa: "Tidak ada seorang
pun dalam seribu
lima ratus tahun
ini telah memainkan 'alat'
bernada nyaring yang demikian
mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang
diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran)." Demikian
terpadu dalam Al-Quran keindahan
bahasa, ketelitian, dan keseimbangannya, dengan kedalaman
makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan
yang ditimbulkannya.
"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia telah
menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan
Tuhanmulah
yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang belum diketahuinya" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).
Mengapa iqra, merupakan
perintah pertama yang
ditujukan kepada Nabi, padahal
beliau seorang ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis)? Mengapa demikian?
Iqra' terambil
dari akar kata yang
berarti "menghimpun," sehingga tidak selalu harus diartikan
"membaca teks tertulis dengan aksara tertentu."
Dari "menghimpun" lahir
aneka ragam makna,
seperti menyampaikan, menelaah,
mendalami, meneliti mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis
maupun tidak.
Iqra'
(Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca? "Ma aqra'?" tanya Nabi
-dalam suatu riwayat- setelah
beliau kepayahan dirangkul dan
diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s.
Pertanyaan itu tidak dijawab, karena
Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan
tersebut Bismi Rabbik; dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.
Iqra' berarti
bacalah, telitilah, dalamilah,
ketahuilah ciri-ciri sesuatu,
bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis
dan tidak tertulis. Alhasil objek
perintah iqra' mencakup segala
sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Demikian terpadu dalam perintah ini segala macam cara
yang dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini,
bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-ulangi bacaan,
atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas
maksimal kemampuan, tetapi juga
untuk mengisyaratkan bahwa
mengulang-ulangi bacaan Bismi
Rabbika (demi karena
Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan
wawasan baru walaupun yang dibaca
itu-itu juga.
Mengulang-ulang
membaca ayat Al-Quran menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan
menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang "membaca" alam
raya, membuka tabir rahasianya
dan memperluas wawasan
serta menambah kesejahteraan lahir. Ayat Al-Quran yang kita
baca dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang dibaca
Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian, namun pemahaman,
penemuan rahasianya, serta
limpahan kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan itulah
pesan yang dikandung dalam
Iqra' wa
Rabbukal akram (Bacalah
dan Tuhanmulah yang paling
Pemurah). Atas kemurahan-Nyalah kesejahteraan demi
kesejahteraan tercapai.
Sungguh, perintah
membaca merupakan sesuatu
yang paling berharga yang pernah
dan dapat diberikan
kepada umat manusia. "Membaca" dalam
aneka maknanya adalah
syarat pertama dan utama pengembangan
ilmu dan teknologi,
serta syarat utama membangun
peradaban. Semua peradaban
yang berhasil bertahan lama, justru
dimulai dari satu
kitab (bacaan). Peradaban Yunani di mulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan
hadirnya Kitab Perjanjian Baru.
Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton
(1641-1727) dan berakhir
dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban
Islam lahir dengan
kehadiran Al-Quran. Astaghfirullah menunjuk masa akhirnya, karena kita
yakin bahwa ia tidak akan lekang oleh
panas dan tidak lapuk oleh hujan, selama umatnya ikut bersama Allah
memeliharanya
"Sesungguhnya
Kami (Allah bersama Jibril yang diperintahNya)
menurunkan Al-Quran, dan Kami (yakni Allah dengan
keterlibatan manusia) yang memeliharanya"
(QS Al-Hijr [15]: 9).
Pengetahuan dan
peradaban yang dirancang
oleh Al-Quran adalah pengetahuan
terpadu yang melibatkan akal dan
kalbu dalam perolehannya. Wahyu pertama AlQuran
menjelaskan dua cara perolehan
dan pengembangan ilmu. Berikut keterangannya.
Setiap pengetahuan
memiliki subjek dan objek. Secara
umum subjek dituntut berperan
guna memahami objek.
Namun pengalaman ilmiah menunjukkan
bahwa objek terkadang memperkenalkan dirinya
kepada subjek tanpa
usaha sang subjek. Komet Halley,
memasuki cakrawala, hanya sejenak setiap 76 tahun. Dalam
kasus ini, walaupun
para astronom menyiapkan diri
dan alatalatnya untuk
mengamati dan mengenalnya, tetapi
sesungguhnya yang lebih berperan adalah
kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan diri.
Wahyu, ilham,
intuisi, atau firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci
jiwanya atau apa
yang diduga sebagai "kebetulan"
yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, kesemuanya tidak lain kecuali
bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan dengan
kasus komet di atas. Itulah pengajaran tanpa qalam yang ditegaskan wahyu
pertama ini.
"Allah mengajar dengan pena
(apa yang telah diketahui manusia sebelumnya), dan mengajar manusia (tanpa
pena) apa yang belum ia ketahui"
(QS Al-'Alaq [96]: 4-5)
Sekali lagi terlihat betapa
Al-Quran sejak dini
memadukan usaha dan pertolongan
Allah, akal dan kalbu, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal
tanpa kalbu menjadikan
manusia seperti robot, pikir
tanpa zikir menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan
pelita di tangan
bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri.
Al-Quran sebagai
kitab terpadu, menghadapi,
dan memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi,
jiwa, akal, dan jasmaninya.
Ketika Musa
a.s. menerima wahyu
Ilahi, yang menjadikan beliau
tenggelam dalam situasi spiritual, Allah menyentaknya dengan pertanyaan yang
berkaitan dengan kondisi material:
"Apakah
itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" (QS Thaha [20]: 17).
Musa sadar sambil menjawab,
"Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan
memukul (daun) dengannya untuk kambingku, disampingkeperluan-keperluan
lain" (QS Thaha [20]: 18).
Di sisi lain, agar peserta didiknya
tidak larut dalam alam material, Al-Quran
menggunakan benda-benda alam, sebagai tali penghubung untuk
mengingatkan manusia akan
kehadiran Allah Swt. dan
bahwa segala sesuatu yang teriadi –sekecil
apa pun- adalah
di bawah kekuasaan,
pengetahuan, dan pengaturan Tuhan
Yang Mahakuasa.
"Tidak
sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia
mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi,
tidak juga sesuatu yang basah atau
kering kecuali tertulis dalam Kitab yang nyata (dalam jangkauan
pengetahuannya)" (QS Al-An'am [6]: 59).
"Bukan
kamu yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah-lah (yang menganugerahkan
kemampuan sehingga) kamu mampu melempar" (QS Al-
Anfal [8]:
17).
Sungguh,
ayat-ayat Al-Quran merupakan serat
yang membentuk tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi
rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran berbicara tentang satu
persoalan menyangkut satu dimensi
atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau
dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi
orang yang tekun mempelajarinya akan
menemukan keserasian hubungan
yang amat mengagumkan, sama dengan
keserasian hubungan yang
memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga
pada akhirnya dimensi atau aspek yang tadinya terkesan kacau,
menjadi terangkai dan terpadu
indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya.
Salah satu tujuan Al-Quran
memilih sistematika demikian, adalah untuk mengingatkan manusia -khususnya kaum
Muslimin- bahwa ajaran-ajaran Al-Quran
adalah satu kesatuan
terpadu yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Keharaman makanan
tertentu seperti babi, ancaman
terhadap yang enggan menyebarluaskan pengetahuan, anjuran bersedekah,
kewajiban menegakkan hukum, wasiat sebelum mati, kewajiban puasa,
hubungan suami-istri, dikemukakan
AlQuran secara berurut dalam
belasan ayat surat
Al-Baqarah. Mengapa demikian?
Mengapa terkesan acak?
Jawabannya antara lain adalah,
"Al-Quran menghendaki
agar umatnya melaksanakan ajarannya secara terpadu."
Tidakkah babi lebih
dianjurkan untuk dihindari daripada
keengganan menyebarluaskan ilmu. Bersedekah tidak pula
lebih penting daripada
menegakkan hukum dan keadilan.
Wasiat sebelum mati dan menunaikannya tidak kalah dari berpuasa
di bulan Ramadhan.
Puasa dan ibadah lainnya
tidak boleh menjadikan seseorang
lupa pada kebutuhan jasmaniahnya, walaupun itu
adalah hubungan seks antara
suami-istri.
Demikian
terlihat keterpaduan
ajaran-ajarannya.
Al-Quran menempuh
berbagai cara guna
mengantar manusia kepada kesempurnaan kemanusiaannya antara
lain dengan mengemukakan kisah
faktual atau simbolik.
Kitab Suci Al-Quran tidak
segan mengisahkan "kelemahan manusiawi," namun itu digambarkannya
dengan kalimat indah
lagi sopan tanpa mengundang
tepuk tangan, atau membangkitkan
potensi negatif, tetapi untuk menggarisbawahi akibat buruk kelemahan itu, atau
menggambarkan saat kesadaran
manusia menghadapi godaan nafsu dan setan.
Ketika Qarun yang
kaya raya memamerkan
kekayaannya dan merasa bahwa
kekayaannya itu adalah hasil
pengetahuan dan jerih payahnya, dan setelah
enggan berkali-kali mendengar nasihat, terjadilah
bencana longsor sehingga seperti bunyi firman Allah:
"Maka
Kami benamkan dia dan hartanya ke dalam bumi"(QS Al-Qashash [28]:
81).
Dan
berkatalah orang-orang yang kemarin mendambakan kedudukan Qarun,
"Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa
yang Dia kehendaki dari hamba - hamba-Nya dan mempersempitkannya.
Kalau Allah tidak
melimpahkan
karuniaNya atas kita, niscaya kita pun dibenamkannya. Aduhai
benarlah
tidak beruntung orang-orang yang kikir (QS Al-Qashash [28]: 82).
Dalam konteks menggambarkan
kelemahan manusia, Al-Quran, bahkan mengemukakan situasi,
langkah konkret dan kalimat-kalimat rayuan seorang wanita
bersuami yang dimabuk cinta oleh
kegagahan seorang pemuda
yang tinggal di rumahnya,
Maksudnya,
"(Setelah
berulang-ulang kali merayu dengan berbagai cara terselubung).
Ditutupnya
semua pintu dengan amat rapat, seraya berkata (sambil menyerahkan dirinya
kepada kekasihnya-setelah berdandan), "Ayolah kemari lakukan itu!" (QS Yusuf [12]: 23).
Demikian, tetapi
itu sama sekali
berbeda dengan ulah sementara seniman,
yang memancing nafsu
dan merangsang berahi.
Al-Quran menggambarkannya sebagai
satu kenyataan dalam diri
manusia yang tidak harus ditutup-tutupi
tetapi tidak juga dibuka
lebar, selebar apa
yang sering dipertontonkan, di
layar lebar atau kaca.
Al-Quran kemudian menguraikan sikap dan jawaban Nabi Yusuf, anak muda yang dirayu wanita itu,
juga dengan tiga
alasan penolakan, seimbang dengan tiga cara rayuannya,
Yang pertama dan kedua adalah,
"Aku
berlindung kepada Allah, sesungguhnya suamimu adalah tuanku, yang memperlakukan
aku dengan baik" (QS Yusuf [12]: 23).
Yang ketiga, khawatir kedua alasan itu belum cukup.
"Dan sesungguhnya tidak pernah dapat berbahagia orang
yang berlaku aniaya" (QS Yusuf [12]: 23).
Dalam bidang pendidikan, Al-Quran
menuntut bersatunya kata dengan
sikap. Karena itu,
keteladanan para pendidik dan
tokoh masyarakat merupakan salah satu andalannya.
Pada saat Al-Quran mewajibkan anak
menghormati orangtuanya, pada saat
itu pula ia
mewajibkan orang-tua mendidik anak-anaknya. Pada saat masyarakat
diwajibkan menaati Rasul dan para
pemimpin, pada saat
yang sama Rasul dan para pemimpin diperintahkan
menunaikan amanah, menyayangi yang dipimpin sambil bermusyawarah dengan
mereka.
Demikian Al-Quran
menuntut keterpaduan orang-tua, masyarakat, dan pemerintah. Tidak
mungkin keberhasilan dapat tercapai
tanpa keterpaduan itu. Tidak mungkin kita berhasil kalau beban
pendidikan hanya dipikul oleh satu
pihak, atau hanya ditangani
oleh guru dan
dosen tertentu, tanpa melibatkan seluruh unsur kependidikan.
Dua puluh dua
tahun dua bulan
dan dua puluh
dua hari lamanya, ayat-ayat
Al-Quran silih berganti turun, dan selama itu pula Nabi
Muhammad Saw. dan
para sahabatnya tekun mengajarkan Al-Quran, dan membimbing
umatnya. Sehingga, pada akhirnya, mereka berhasil
membangun masyarakat yang
di dalamnya terpadu ilmu
dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan
ridha dan ampunan Ilahi.
Kita dapat bertanya mengapa 20 tahun
lebih, baru selesai dan berhasil? Boleh
jadi jawabannya dapat kita simak dari hasil penelitian seorang
guru besar Harvard
University, yang
dilakukannya pada 40
negara, untuk mengetahui
factor kemajuan atau kemunduran negara-negara itu.
Salah satu
faktor utamanya -menurut sang Guru
Besar- adalah materi bacaan
dan sajian yang disuguhkan
khususnya kepada generasi muda. Ditemukannya bahwa dua puluh tahun menjelang kemajuan atau kemunduran
negara-negara yang ditelitinya itu, para
generasi muda dibekali
dengan sajian dan
bacaan tertentu. Setelah dua puluh tahun generasi muda itu berperan dalam berbagai
aktivitas, peranan yang
pada hakikatnya diarahkan oleh
kandungan bacaan dan sajian yang disuguhkan itu. Demikian dampak bacaan,
terlihat setelah berlalu
dua puluh tahun, sama dengan lama turunnya Al-Quran.
Kalau demikian,
jangan menunggu dampak
bacaan terhadap anak-anak kita
kecuali 20 tahun kemudian. Siapa pun
boleh optimis atau pesimis,
tergantung dari penilaian tentang bacaan dan
sajian itu. Namun
kalau melihat kegairahan anakanak dan remaja membaca
Al-Quran, serta kegairahan umat mempelajari kandungannya, maka kita wajar
optimis, karena kita sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Rasul dan
generasi terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang jaya
selama sekitar delapan ratus
tahun, adalah karena Al-Quran
yang mereka baca dan hayati
mendorong pengembangan ilmu
dan teknologi, serta kecerahan pikiran dan kesucian hati.
Kita wajar optimis, melihat kesungguhan pemerintah menangani
pendidikan, serta tekadnya mencanangkan wajib belajar.
Ayat
"wa tawashauw bil haq" dalam QS Al-'Ashr [103]: 3 bukan
saja mencanangkan "wajib belajar"
tetapi juga "wajib mengajar." Bukankah
tawashauw berarti saling
berpesan, saling mengajar, sedang al-haq atau kebenaran adalah hasil
pencarian ilmu? Mencari
kebaikan menghasilkan akhlak, mencari keindahan
menghasilkan seni, dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu. Ketiga unsur
itulah yang menghasilkan sekaligus mewarnai suatu
peradaban.
Al-Quran yang
sering kita peringati nuzulnya ini bertujuan antara lain:
1.
Untuk membersihkan
akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan
keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru sekalian alam,
keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu
konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan umat manusia.
2.
Untuk mengajarkan
kemanusiaan yang adil dan beradab yakni bahwa umat manusia merupakan suatu
umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan
pelaksanaan tugas kekhalifahan.
3.
Untuk menciptakan
persatuan dan kesatuan, bukan saja antar suku atau bangsa, tetapi kesatuan
alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan rasio,
kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan
determinisme, kesatuan sosial, politik dan ekonomi, dan kesemuanya berada di
bawah satu keesaan, yaitu Keesaan Allah Swt.
4.
Untuk mengajak manusia berpikir
dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui
musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan.
5.
Untuk membasmi
kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit, dan penderitaan
hidup, serta pemerasan manusia atas manusia, dalam bidang sosial, ekonomi,
politik, dan juga agama.
6.
Untuk memadukan
kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan
keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia
7.
Untuk memberi jalan
tengah antara falsafah monopoli
kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan
wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
8.
Untuk menekankan
peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan
jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi.
Demikian sebagian tujuan
kehadiran Al-Quran,
tujuan yang tepadu dan
menyeluruh, bukan sekadar mewajibkan pendekatan religius yang
bersifat ritual atau mistik, yang
dapat menimbulkan formalitas
dan kegersangan. Al-Quran adalah petunjuk-Nya yang bila
dipelajari akan membantu kita
menemukan nilainilai yang
dapat dijadikan pedoman bagi
penyelesaian berbagai problem hidup. Apabila
dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa, dan karsa kita
mengarah kepada realitas keimanan yang
dibutuhkan bagi stabilitas
dan ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat
Itulah Al-Quran dengan gaya
bahasanya yang merangsang akal dan menyentuh rasa, dapat menggugah kita
menerima dan memberi kasih dan keharuan
cinta, sehingga dapat mengarahkan kita
untuk memberi sebagian dari apa yang kita miliki untuk kepentingan
dan kemaslahatan umat manusia. Itulah Al-Quran yang ajarannya
telah merupakan kekayaan spiritual bangsa kita, dan yang telah
tumbuh subur dalam negara kita.
B.
TUHAN
Kalau kita
menengok ke belakang,
mempelajari kepercayaan umat manusia,
maka yang ditemukan adalah hampir
semua umat manusia mempercayai adanya Tuhan yang mengatur alam raya ini.
Orang-orang Yunani Kuno menganut
paham politeisme (keyakinan banyak
tuhan): bintang adalah tuhan
(dewa), Venus adalah (tuhan) Dewa
Kecantikan, Mars adalah
Dewa Peperangan, Minerva adalah Dewa
Kekayaan, sedangkan Tuhan
tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari. Orang-orang
Hindu -masa lampau juga mempunyai
banyak dewa, yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Keyakinan itu
tercermin antara lain dalam
Hikayat Mahabarata. Masyarakat Mesir, tidak terkecuali. Mereka meyakini adanya
Dewa Iziz,
Dewi Oziris, dan yang tertinggi adalah Ra'. Masyarakat Persia pun
demikian, mereka percaya bahwa ada
Tuhan Gelap dan
Tuhan Terang. Begitulah seterusnya.
Pengaruh keyakinan
tersebut merambah ke masyarakat
Arab, walaupun jika mereka ditanya tentang Penguasa dan Pencipta langit dan bumi mereka menjawab, "Allah."
Tetapi dalam saat yang sama mereka menyembah
juga berhala-berhala Al-Lata, Al- Uzza,
dan Manata, tiga berhala
terbesar mereka, di samping ratusan berhala lainnya.
Al-Quran datang
untuk meluruskan keyakinan
itu, dengan membawa ajaran
tauhid. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan wawasan Al-Quran
tentang hal tersebut, meskipun harus diakui bahwa tulisan
ini tidak mungkin
dapat menjangkau keseluruhannya.
Dapat dibayangkan betapa
luas pembahasan tentang Tuhan
Yang Maha Esa bila akan dirujuk
keseluruhan kata yang menunjuk Nya. Kata
"Allah" saja
dalam Al-Quran terulang sebanyak
2697 kali. Belum lagi kata-
kata
semacamWahid, Ahad, Ar-Rab, Al-Ilah, atau kalmiat
yang menafikanadanya sekutu
bagi-Nya baik dalam perbuatan
atau wewenang menetapkan hukum, atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya
serta penegasian lain
yang semuanya mengarah
kepada penjelasan tentang tauhid.
I. FITRAH
MANUSIA: KEYAKINAN TENTANG KEESAAN ALLAH
Kalau kita membuka lembaran-lembaran
Al-Quran, hampir tidak ditemukan ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan
Syaikh Abdul Halim Mahmud
dalam bukunya Al-Islam
wa Al-'Aql menegaskan bahwa, "Jangankan Al-Quran,
Kitab Taurat, dan Injil dalam bentuknya yang sekarang pun (Perjanjian
Lama dan Baru) tidak menguraikan tentang wujud Tuhan." Ini disebabkan
karena wujud-Nya sedemikian jelas, dan
"terasa" sehingga
tidak perlu dijelaskan.
Al-Quran mengisyaratkan bahwa
kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap
insan, dan bahwa
hal tersebut merupakan
fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami
dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30):
30.
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tiada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama
yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Dalam ayat lain dikemukakan, bahwa:
"Dan (ingatlah)
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi
mereka, dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah
Aku ini
Tuhanmu?' Mereka menjawab:
'Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menyaksikan'" (QS Al-A'raf [7]: 172).
Apabila Anda duduk termenung seorang
diri, pikiran mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati
telah dapat teratasi, terdengarlah
suara nurani, yang
mengajak Anda untuk berdialog, mendekat
bahkan menyatu dengan suatu
totalitas wujud Yang Maha mutlak.
Suara itu
mengantar Anda untuk menyadari
betapa lemahnya manusia
dihadapan-Nya. dan betapa kuasa dan perkasa Dia Yang Mahaagung itu. Suara yang
Anda dengarkan itu, adalah suara fitrah
manusia. Setiap orang
memiliki fitrah itu,
dan terbawa serta olehnya sejak
kelahiran, walau seringkali -karena kesibukan dan dosa-dosa-
ia terabaikan, dan suaranya begitu lemah
sehingga tidak terdengar
lagi. Tetapi bila diusahakan untuk didengarkan, kemudian
benar-benar tertancap di dalam jiwa, maka
akan hilanglah segala
ketergantungan kepada
unsur-unsur lain kecuali kepada
Allah semata, tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan
harapan, tiada tempat mengabdi
kecuali kepada-Nya. La haula wa
la quwwata illa billahi-'Aliyyil-'Azhim (Tiada
daya untuk memperoleh manfaat, tiada
pula kuasa untuk menolak mudarat, kecuali bersumber dari
Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung). Dan dengan
demikian tidak ada lagi rasa takut yang menghantui atau
mencengkeram, tiada pula rasa sedih yang akan mencekam.
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata
(berprinsip) bahwa Tuhan
Pemelihara kami
adalah Allah, serta istiqamah dengan prinsip
itu, akan turun
kepada mereka malaikat
(untuk menenangkan mereka sambil
berkata) "Jangan takut,
jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan" (QS
Fushshilat [41]: 30)
"Orang-orang
yang beriman dan jiwa mereka
menjadi tenteram karena mengingat Allah.
Memang hanya dengan
mengingat Allahlah jiwa menjadi tenteram" (QS Al-Ra'd [13]: 28).
Memang boleh
jadi ada saat-saat dalam hidup ini –singkat atau panjang- dimana
manusia mengalami keraguan
tentang wujud-Nya, bahkan boleh
jadi keraguan tersebut mengantarnya untuk
menolak kehadiran Tuhan
dan menanggalkan
kepercayaannya, tetapi ketika itu keraguannya akan beralih menjadi
kegelisahan, khususnya pada saat-saat ia merenung.
Di atas telah penulis katakan bahwa
hampir tidak ditemukan ayat yang
membicarakan tentang wujud
Tuhan. Ini, karena harus diakui bahwa ada beberapa ayat
Al-Quran yang dapat dipahami sebagai berbicara tentang
wujud Tuhan, dan ada pula beberapa ayat yang mengisyaratkan adanya
segelintir manusia yang ateis. Misalnya,
"Dan mereka berkata,
'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja,
kita mati dan kita hidup, dan tidak ada
yang membinasakan kita selain masa.'"
(QS
Al-Jatsiyah [45]: 24)
Namun seperti bunyi lanjutan ayat di atas,
"Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang
itu, dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."
Bahkan boleh jadi kita dapat berkata
bahwa mereka yang tidak mempercayai wujud Tuhan adalah orang-orang
yang kehabisan akal dan
keras kepala ketika
berhadapan dengan satu kenyataan yang tidak sesuai dengan
"nafsu kotornya" itu.
Yang demikian dapat dipahami
dari ayat yang
menguraikan diskusi yang terjadi antara Nabi Ibrahim a.s. dan penguasa
masanya (Namrud) (QS Al-Baqarah [2]:
258), atau Fir'aun ketika berhadapan
dengan Musa a.s. yang bertanya, "Siapa Tuhan semesta alam itu?" (QS Al-Syu'ara, 126]: 23).
Salah satu bukti bahwa pernyataan ini lahir dari sikap keras
kepala adalah pengakuan
Fir'aun sendiri ketika ruhnya akan
meninggalkan jasadnya. Dalam
konteks ini Al-Quran, menjelaskan sikap
Fir'aun yang ketika itu kembali kepada fitrah, namun
sayang dia telah terlambat.
"... hingga saat Fir'aun telah hampir tenggelam, berkatalah dia. 'Saya
percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai
oleh Bani Israil,
dan saya termasuk orang-orang yang
berserah diri (kepada
Allah).'
Apakah sekarang (baru kamu percaya)
padahal sesungguhnya kamu telah durhaka
sejak dahulu dan
kamu termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan?"
(QS Yunus
[10]: 90-91).
Ayat
ini sekaligus membuktikan
bahwa kehadiran Tuhan merupakan fitrah manusia yang merupakan kebutuhan
hidupnya. Kalaupun ada yang
mengingkari wujud tersebut,
maka pengingkaran tersebut bersifat sementara. Dalam arti bahwa pada
akhirnya -sebelum jiwanya berpisah dengan jasadnya- ia akan
mengakui-Nya. Memang, kebutuhan manusia bertingkat-tingkat, ada yang harus
dipenuhi segera seperti kebutuhan udara, ada yang dapat ditangguhkan untuk
beberapa saat, seperti kebutuhan minum. Kebutuhan untuk makan, dapat ditangguhkan lebih
lama daripada kebutuhan minuman, tetapi kebutuhan pemenuhan seksual bisa
lebih lama ditangguhkan daripada kebutuhan
pada makan dan
minum; demikian seterusnya.
Kebutuhan yang paling lama dapat
ditangguhkan adalah
kebutuhan tentang keyakinan akan
adanya Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa.
II. TAUHID
ADALAH PRINSIP DASAR AGAMA SAMAWI
Merujuk kepada Al-Quran, dapat kita temukan bahwa para Nabi dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid.
"Kami
tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali Kami wahyukan kepadanya
bahwa tidak ada Tuhan selain
Aku, maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).
"Wahai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu
selain-Nya."
Demikian
ucapan Nabi Nuh,
Hud, Shaleh dan
Syu'aib yang diabadikan
AlQuran masing-masing secara berurut dalam surat
Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85.
Demikian juga ajaran yang diterima Musa a.s. langsung dari
Allah:
"Aku yang
memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang diwahyukan (padamu):
'Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada
Tuhan selain Aku.
Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk
mengingat-Ku'" (QS Thaha [20] 13-14)
Nabi Isa
a.s. juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya:
"Isa berkata
(kepada Bani Israil),
'Hai Bani Israil, sembahlah Allah
Tuhanku
dan Tuhanmu.' Sesunguhnya siapa yang mempersekutukan-Nya maka
Allah
mengharamkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada
penolong bagi orang-orarg yang aniaya." (QS Al-Maidah [5]: 72)
Namun,
walaupun semua nabi membawa ajaran
tauhid, terlihat melalui ayat-ayat
Al-Quran bahwa ada
perbedaan dalam pemaparan mereka
tentang prinsip tauhid. Jelas
sekali bahwa Nabi Muhammad
Saw., melalui Al-Quran diperkaya
oleh Allah dengan aneka penjelasan
dan bukti, serta
jawaban yang membungkam siapa pun
yang mempersekutukan Tuhan
Allah Swt.
menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada para Nabi-Nya sesuai
dengan tingkat kedewasaan berpikir umat mereka.
Karena itu hampir tidak ada
buktibukti logis yang dikemukakan oleh Nabi
Nuh kepada umatnya, dan pada akhirnya
setelah mereka tetap
membangkang, jatuhlah sanksi
yang memusnahkan mereka:
"Maka topan membinasakan
mereka, dan mereka
adalah orang-orang aniaya"
(QS
Al-'Ankabut [29]: 14).
Ketika tiba
masa Nabi Hud a.s. -yang masanya belum terlalu jauh dari Nuh- pemaparan
beliau hampir tidak berbeda, tetapi di
sana sini telah
jelas bahwa masyarakat yang diajaknya berdialog, memiliki kemampuan
berpikir sedikit di atas umat Nuh. Karena
itu, pemaparan tentang tauhid yang dikemukakan oleh Hud
a.s. disertai dengan
peringatan tentang
nikmat-nikmat Allah yang
mereka dapatkan. Dalam rangkaian ayat-ayat yang mengingatkan mereka akan
keesaan Allah, Hud mengingatkan:
"Ingatlah (nikmat
Allah) oleh kamu sekalian ketika Allah menjadikan kamu
sebagai pengganti-pengganti (yang
berkuasa) sesudah lenyapnya kaum
Nuh; dan Tuhan melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum
Nuh), maka
ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS
Al-A'raf [7]: 69, dan
juga dalam QS
Al-Syu'ara' [26]:
123-140)
Nabi Shaleh yang datang sesudah Nabi
Hud a.s. lebih luas dan rinci penjelasannya, karena wawasan umatnya lebih luas
pula. Mereka misalnya diingatkan tentang asal kejadian mereka dari tanah atau
tugas mereka memakmurkan bumi (QS Hud [11]: 61).
Akal yang mampu mencerna dapat
memahami bahwa asal kejadian
manusia berasal dari
tanah dalam arti bahwa sperma
yang dituangkan ke rahim
istri berasal dari
makanan yang dihasilkan oleh bumi. Manusia yang memiliki akal yang
dapat mencerna ini atau walau
hanya memahaminya secara
umum, pastilah lebih mampu
dari mereka yang sekadar
dipaparkan kepadanya nikmat nikmat Ilahi, sebagaimana halnya kaum
Hud dan Nuh- Di samping itu ada bukti lain yang dikemukakan Nabi Shaleh:
"Dan
kepada Tsamud (Kami mengutus)
saudara mereka Shaleh. Dia
berkata, 'Wahai kaumku
sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain-
Nya. Sesungguhnya telah dating bukti yang
sangat nyata kepadamu;
unta betina Allah ini sebagai bukti untuk kamu ...'" (QS Al-A'raf
[7]: 73).
Ketika tiba masa Syu'aib, ajakan
dakwahnya lebih luas lagi, melampaui
batas yang disinggung oleh ketiga Nabi sebelumnya. Kali ini
ajaran tauhid tidak
saja dikaitkan dengan bukti-bukti, tetapi
juga dirangkaikan dengan hukum-hukum syariat.
"Dan
kepada penduduk Madyan (Kami mengutus)
saudara mereka Syu'aib.
Ia berkata, 'Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain-Nya. Sesungguhnya telah datang
kepadamu bukti yang nyata
dan Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan,
dan janganlah kamu kurangkan bagi
manusia barang-barang takaran
dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di
bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik
bagimu, jika kamu benar-benar orang
yang beriman.'" (QS Al-A'raf [7]: 85).
Ayat ini bahkan
menggugah jiwa dan menuntut
mereka untuk membangun satu masyarakat yang penuh dengan kemakmuran
dan keadilan.
Setelah itu,
datang ajakan Nabi
Ibrahim, yang merupakan periode baru dari tuntunan tentang Ketuhanan
Yang Maha Esa. Nabi Ibrahim a.s. dikenal
sebagai "Bapak Para Nabi," "Bapak Monoteisme," serta
"Proklamator Keadilan Ilahi"
karena agama-agama samawi
terbesar dewasa ini merujuk kepada agama beliau.
Ibrahim a.s. menemukan
dan membina keyakinannya
melalui pencarian dan pengalaman-pengalaman keruhanian
yang dilaluinya dan hal ini -secara Qurani- terbukti bukan
saja dalam penemuannya tentang
keesaan Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana diuraikan dalam surat Al-An'am ayat 75,
tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan. Menarik untuk
diketahui bahwa beliaulah
satusatunya Nabi yang
disebut Al-Quran bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana
cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan
beliau itu dikabulkan Allah (QS
Al-Baqarah [2]: 260)
Para
ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang mempengaruhi
atau bahkan mengubah
jalannya sejarah kemanusiaan. Tetapi, seperti ditulis Abbas Al-'Aqqad
dalam Abu Al-Anbiyya': "Penemuan
yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim a.s.
merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan yang tidak dapat
diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan. Ia
tidak dapat dibandingkan
dengan penemuan roda, api, listrik, atau
rahasiarahasia atom betapapun
besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut- yang semua itu dikuasai
oleh manusia. Penemuan Ibrahim
menguasai jiwa dan
raga manusia. Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya
tunduk kepada alam menjadi
mampu menguasai alam,
serta menilai baik buruknya.
Penemuan manusia dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tetapi
kesewenangan-wenangan ini
tidak mungkin dilakukannya
selama penemuan Ibrahim a.s. tetap menghiasi jiwanya. Penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang
diketahui dan tidak-diketahuinya berkaitan kedudukannya sebagai
makhluk, dan hubungan
makhluk ini dengan Tuhan, alam
raya, dan makhluk-makhluk sesamanya."
Karena itu ketika
memaparkan tauhid kepada umatnya,
Nabi mulia ini tidak lagi berkata
sebagai Nabi-nabi sebelumnya berkata,
"Sembahlah
Allah, kalian tidak memiliki Tuhan selain-Nya,"
tetapi dinyatakannya,
"Sembahlah Allah
dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu lebih
baik untukmu kalau
kamu mengetahuinya" (QS Al-'Ankabut [29]: 16)
Dan
dinyatakannya bahwa Tuhan
yang disembah adalah Tuhan seru sekalian alam, bukan
Tuhan suku, bangsa
dan jenis makhluk tertentu saja.
"Sesungguhnya
aku menghadapkan wajahku
kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung
kepada agama yang benar,
dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan" (QS Al-'An'am [6]: 79).
"Dia
(Ibrahim) berkata (kepada kaumnya),
'Sebenarnya Tuhan kamu adalah
Tuhan seluruh langit
dan bumi yang
telah menciptakannya, dan
aku termasuk orang-orang
yang dapat memberikan bukti
atas yang demikian
itu" (QS Al-Anbiya, [21]: 56).
Terlihat juga dari Al-Quran bagaimana
beliau "berdiskusi"
dengan umatnya dalam
rangka membuktikan kesesatan mereka, dan menunjukkan kebenaran akidah
tauhid (antara lain surat Al-Anbiya, [21]: 51-67).
Demikianlah
tahap baru dalam uraian tauhid,
dan karena itu -seperti ditulis oleh
Abdul-Karim Al-Khatib
dalam buku karyanya, Qadhiyat
Al-Uluhiyyah baina AlFalsafah wa Ad-Din- sejak Nabi Ibrahim, sampai dengan
nabi-nabi sesudahnya tidak dikenal
lagi pemusnahan total
bagi umat satu
Nabi sebagaimana yang terjadi terhadap umat-umat sebelumnya.
Pemaparan tauhid pun dari hari ke hari semakin
mantap dan jelas hingga
mencapai puncaknya dengan
kehadiran Nabi Muhammad Saw.
Uraian Al-Quran tentang Tuhan kepada
umat Nabi Muhammad Saw. dimulai dengan
pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Ini terlihat secara jelas
ketika wahyu pertama turun.
"Bacalah
demi Tuhan-Mu yang menciptakan (segala
sesuatu). Dia telah menciptakan
manusia dari 'alaq.
Bacalah dan Tuhan-mulah yang (bersifat)
Maha Pemurah, yang
mengajar manusia dengan qalam,
mengajar manusia apa
yang tidak diketahui(-nya)"
(QS Al-'Alaq [96]: 1-5).
Dalam rangkaian
wahyu-wahyu pertama. Al-Quran
menunjuk kepada kepadaTuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhan)
Pemeliharamu (Wahai Muhammad), bukan kata "Allah."1
Hal ini untuk menggarisbawahi Wujud Tuhan
Yang Maha Esa, yang dapat dibuktikan melalui ciptaan
atau perbuatan-Nya.
Dari satu sisi
memang dikenal satu
ungkapan yang oleh sementara
pakar dinilai sebagai hadis Qudsi yang
berbunyi:
"Aku
adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak untuk dikenal, maka
Kuciptakan
makhluk agar mereka mengenal-Ku."
Di
sisi lain, tidak
digunakannya kata "Allah" pada wahyu-wahyu pertama itu,
adalah dalam rangka
meluruskan keyakinan kaum
musyrik, karena mereka juga menggunakan kata "Allah" untuk menunjuk
kepada Tuhan, namun keyakinan mereka
tentang Allah berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh
Islam.
Mereka misalnya beranggapan
bahwa ada hubungan
antara "Allah" dan
jin (QS
Al-Shaffat
[37]: 158), dan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita (QS
Al-Isra'
[17]: 40),
serta manusia tidak mampu
berhubungan dan berdialog dengan
Allah,
karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para malaikat dan berhala-berhala perlu
disembah sebagai
perantara-perantara antara mereka dengan Allah (QS Al-Zumar [39]: 3)
Dan
kekeliruan-kekeliruan itu, maka
Al-Quran melakukan pelurusan-pelurusan
yang dipaparkannya dengan berbagai gaya
bahasa, cara dan bukti. Sekali dengan
pernyataan tegas yang didahului dengan sumpah, misalnya:
"Demi
(rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan demi
(rombongan) yang melarang
(perbuatan durhaka) dengan
sebenar-benamya, dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya
Tuhanmu benar-benar Esa, Tuhan
langit dan bumi serta apa yang ada di antara
keduanya, dan Tuhan tempat-tempat
terbitnya matahari" (QS Al-Shaffat [37]:
1-5).
Dalam ayat lain diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman,
"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang banyak
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?"
(QS Yusuf [12]: 39).
Kemudian
Al-Quran juga menggunakan
gaya perumpamaan, seperti:
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil
pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang
membuat rumah. Sesungguhnya rumah
yang paling rapuh adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui" (QS Al-'Ankabut [29]: 41).
Ayat
ini memberi perumpamaan mengenai
orang-orang yang meminta perlindungan
kepada selain Allah, sebagai serangga yang berlindung ke sarang
labalaba. Serangga itu tentu akan terjerat
menjadi mangsa laba-laba, dan
bukannya terlindung olehnya. Bahkan jangankan serangga yang berlainan jenisnya, yang satu
jenis pun seperti
jantan laba-laba, berusaha
diterkam oleh laba-laba betina
begitu mereka selesai berhubungan seks.
Kemudian telur-telur laba-laba yang baru saja menetas, saling
tindih-menindih sehingga yang menjadi korban adalah yang tertindih.
Dalam kesempatan lain, Al-Quran memaparkan
kisah-kisah yang bertujuan menegakkan
tauhid, seperti kisah
Nabi Ibrahim ketika memorak-porandakan berhala-berhala kaumnya (QS Al-Anbiya' [21]: 51-71)
1. BUKTI-BUKTI
KEESAAN TUHAN
Ada sementara orang yang menuntut
bukti wujud dan
keesaan Tuhan dengan pembuktian
material. Mereka ingin
segera melihat-Nya di dunia ini. Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah
bermohon agar Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya,
sehingga Tuhan berfirman sebagai jawaban atas permohonannya,
"'Engkau sekali-kali tidak akan
dapat melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke
bukit itu, jika ia tetap di tempatnya [seperti keadaannya semula),
niscaya kamu dapat
melihat-Ku.'
Tatkala Tuhannya tampak bagi
gunung itu, kejadian
tersebut
menjadikan gunung
itu hancur luluh
dan Musa pun
jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Maha suci
Engkau, aku bertobat kepada-Mu, dan
aku orang yang pertama
(dari kelompok) orang beriman'" (QS Al-A'raf [7]: 143).
Peristiwa
ini membuktikan bahwa manusia
agung pun tidak berkemampuan untuk
melihat-Nya -paling tidak- dalam kehidupan dunia
ini. Agaknya kenyataan
sehari-hari menunjukkan
bahwa kita dapat
mengakui keberadaan sesuatu tanpa harus melihatnya. Bukankah kita
mengakui adanya angin, hanya dengan merasakan atau melihat bekas-bekasnya?
Bukankah kita mengakui adanya "nyawa"
bukan saja
tanpa melihatnya bahkan tidak
mengetahui substansinya?
Di sisi
lain ada dua faktor yang
menjadikan makhluk tidak dapat melihat sesuatu. Pertama, karena
sesuatu yang akan dilihat terlalu kecil apalagi dalam
kegelapan. Sebutir pasir lebih-lebih di malam yang kelam tidak mungkin
ditemukan oleh seseorang. Namun kegagalan
itu tidak berarti pasir yang dicari tidak
ada wujudnya. Faktor
kedua adalah karena sesuatu itu
sangat terang. Bukankah kelelawar
tidak dapat melihat di siang hari, karena
sedemikian terangnya cahaya matahari dibanding
dengan kemampuan matanya untuk melihat? Tetapi bila malam tiba, dengan;
mudah ia dapat
melihat. Demikian pula manusia tidak sanggup menatap matahari dalam
beberapa saat saja, bahkan sesaat setelah menatapnya ia akan menemukan
kegelapan Kalau demikian wajar jika mata kepalanya tak mampu melihat Tuhan
Pencipta matahari itu.
Sayyidina
Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang
sahabatnya bernama Zi'lib AlYamani,
"Apakah
Anda pernah melihat
Tuhan?" Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah
yang tidak pernah
saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-
Nya?" tanyanya
kembali. Imam Ali menjawab,"Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan
pandangannya yang kasat, tetapi
bisa dilihat oleh hati dengan
hakikat keimanan ..."
Mata hati jauh
lebih tajam dan
dapat lebih meyakinkan daripada pandangan
mata. Bukankah mata sering menipu kita?
Kayu yang lurus terlihat bengkok di
dalam sungai, bintang yang besar terlihat kecil dari
kejauhan.
Dalam kaitan dengan argumen-argumen dan bukti-bukti
logika, kita dapat menyatakan bahwa
tidak ada satu
argumen yang dikemukakan oleh
para filosof tentang
Wujud dan Keesaan Tuhan yang tidak dikemukakan Al-Quran. Hanya bedanya
bahwa kalimat-kalimat yang digunakan Al-Quran sedemikian sederhana
dan mudah ditangkap,
berbeda dengan para
filosof yang seringkali
berbelit-belit.
Dahulu dikenal
apa yang dinamai bukti ontologi, kosmologi, dan teleologi.
Bukti ontologi menggambarkan
bahwa kita mempunyai ide
tentang Tuhan, dan tidak dapat
membayangkan adanya sesuatu yang lebih berkuasa dan-Nya. Bukti kosmologi berdasar pada
ide "sebab dan akibat" yakni, tidak mungkin tertadi sesuatu tanpa
ada penyebabnya, dan penyebab terakhir pastilah
Tuhan. Bukti teleologi, berdasar
pada keseragaman dan keserasian alam, yang tidak dapat terjadi tanpa ada satu
kekuatan yang mengatur keserasian itu
Kini
para filosof memperkenalkan
bukti-bukti baru, seperti pengalaman moral. Pengalaman moral merupakan tanda
tentang adanya yang real;
pengalaman ini tidak akan berarti tanpa adanya susunan moral yang
objektif, dan ini pada gilirannya
tidak akan berarti
tanpa adanya satu Zat Yang Mahatinggi, Tuhan Yang Mahakuasa. Bukti lain
adalah pengalaman keagamaan yang
dialami oleh kebanyakan manusia
yang tidak diragukan
kejujurannya, dan yang intinya mengandung informasi yang sama.
Bukti-bukti yang dipaparkan
di atas, dikemukakan
oleh Al-Quran dengan berbagai
cara, baik tersurat
maupun tersirat.
Secara umum kita dapat membagi
uraian Al-Quran tentang bukti Keesaan Tuhan dengan tiga bagian pokok, yaitu:
1.
Kenyataan
wujud yang tampak.
2.
Rasa yang
terdapat dalam jiwa manusia.
3.
Dalil-dalil
logika.
1. KENYATAAN
WUJUD YANG TAMPAK
Dalam konteks ini Al-Quran
menggunakan seluruh wujud sebagai bukti,
khususnya keberadaan alam
raya ini dengan segala isinya.
Berkali-kali manusia diperintahkan
untuk melakukan nazhar, fikr,
serta berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak
mungkin terwujud tanpa ada yang mewujudkannya.
"Tidakkah mereka
melihat kepada unta bagaimana diciptakan, dan ke langit bagaimana ia
ditinggikan, ke gunung bagaimana ia
ditancapkan, serta ke bumi bagaimana ia dihamparkan?"
(QS Al-Ghasyiyah
[88]: l7-20).
Dalam uraian Al-Quran
tentang kenyataan wujud, dikemukakannya keindahan dan
keserasian alam raya.
"Tidakkah
mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan
menghiasinya dan langit itu tidak
mempunyai retak-
retak sedikit pun?
Dan Kami hamparkan bumi serta Kami letakkan padanya gunung-gunung yang
kokoh, dan Kami tumbuhkan
padanya segala macam
tanaman yang indah dipandang
mata." (QS Qaf [50]: 6-7).
Adapun keserasiannya, maka dinyatakannya:
"(Allah)
yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sama sekali tidak
melihat pada ciptaan
Tuhan Yang Maha Pengasih
sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah
sesuatu yang kamu
lihat tidak seimbang? Kemudian
pandanglah sekali lagi,
niscaya penglihatanmu
akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan
sesuatu pun yang cacat, dan penglihatanmu
itu pun dalam keadaan payah" (QS Al-Mulk [67]:
3-4).
2. RASA YANG TERDAPAT DALAM JIWA
MANUSIA
Dalam konteks ini, Al-Quran misalnya mengingatkan manusia,
"Katakanlah (hai
Muhammad kepada yang
mempersekutukan Tuhan),
'Jelaskanlah
kepadaku jika datang
siksaan Allah kepadamu, atau
datang hari kiamat,
apakah kamu menyeru
(tuhan) selain Allah, jika
kamu orang-orang yang
benar?' Tidak! Tetapi hanya
kepada-Nya kamu bermohon,
maka Dia menyisihkan bahaya yang
karenanya kamu
berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan
sembahan-sembahan yang kamu sekutukan
(dengan Allah)" (QS
Al-An'am [6]: 40-41).
"Dialah Tuhan
yang menjadikan kamu
dapat berjalan di daratan, dan
(berlayar) di lautan. Sehingga bila kamu berada di dalam
bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa para penumpangnya
dengan tiupan angin
yang baik, dan
mereka bergembira karenanya: (kemudian) datanglah angin badai dan
apabila gelombang dari segenap
penjuru menimpanya, dan
mereka yakin
bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa
kepada Allah
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata.
(Mereka berkata) 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan
kami dari bahaya ini,
pastilah kami akan termasuk
orang-orang yang bersyukur'" (QS Yunus [10]: 22).
Demikian Al-Quran menggambarkan hati
manusia. Karena itu sungguh
tepat pandangan sementara filosof yang menyatakan bahwa
manusia dapat dipastikan akan
terus mengenal dari berhubungan dengan
Tuhan sampai akhir zaman, walaupun ilmu pengetahuan membuktikan lawan
dari hal tersebut. Ini selama
tabiat kemanusiaan masih
sama seperti sediakala,
yakni memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut, karena
kepada siapa lagi jiwanya
akan mengarah jika
rasa takut atau harapannya tidak
lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia
tidak pernah akan putus.
3. DALIL-DALIL LOGIKA
Bertebaran
(ayat-ayat yang menguraikan dalil-dalil aqliah tentang
Keesaan Tuhan- Misalnya,
"Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak
mempunyai istri. Dia yang
menciptakan segala sesuatu,
dan Dia mengetahui segala sesuatu"
(QS Al-An'am [6]: 101)
"Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada dua
Tuhan, maka pastilah keduanya binasa" (QS Al-Anbiya' [21]: 22)
Maksud ayat
ini adalah "seandainya ada dua pencipta, maka akan kacau
ciptaan, karena jika
masing-masing Pencipta
menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang lain, maka
kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun
akan kacau atau tidak
akan mewujud; kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah bukan
Tuhan; dan apabila
mereka berdua bersepakat, maka
itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan mereka, sehingga keduanya bukan
Tuhan, karena Tuhan
tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu."
Pengalaman ruhani
pun disebutkan oleh
Al-Quran yaitu pengalaman para
Nabi dan Rasul. Misalnya
pengalaman Nabi Musa a.s.
(Baca QS Thaha
[20]: 9-47). Demikian
juga pengalaman Nabi Ibrahim
dan Nabi Muhammad
Saw., serta nabinabi yang lain
dengan berbagai rinciannya yang berbeda, namun semuanya bermuara pada tauhid
atau Keesaan Tuhan.
Di samping
mengemukakan dalil-dalil di atas,
Al-Quran juga mengajak mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk
memaparkan hujjah mereka
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya?
Katakanlah, 'Kemukakan bukti kalian!'"
(QS
Al-Anbiya' [21]: 24).
"Katakanlah, 'Jelaskanlah
kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain
Allah;
perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka
ciptakan dan bumi ini, atau adakah mereka berserikat (dengan Allah)
dalam (penciptaan) langit. Bawalah kepadaku kitab sebelum
(Al-Quran) ini, atau
peninggalan dan pengetahuan (orang-orang dahulu)
jika kamu adalah orang-orang yang benar'" (QS
Al-Ahqaf [46]: 4)
MACAM-MACAM KEESAAN
Berbicara
tentang macam-macam keesaan
Allah mengantarkan kita untuk memahami paling tidak surat Al-Ikhlas,
sedikitnya tentang ayatnya yang pertama,
"Katakanlah!
Dia Allah Yang Maha Esa."
Abu As-Su'ud, salah seorang pakar
tafsir dan tasawuf menulis dalam tafsirnya, bahwa Al-Quran menempatkan kata
huwa untuk menunjuk kepada
Allah, padahal sebelumnya
tidak pernah disebut dalam
susunan redaksi ayat ini kata yang
menunjuk kepada-Nya. Ini, menurutnya, untuk memberi kesan bahwa Dia
Yang Mahakuasa itu, sedemikian terkenal dan nyata, sehingga hadir dalam
benak setiap orang dan hanya kepada-Nya selalu tertuju segala isyarat.
Ahad yang diterjemahkan dengan kata
Esa terambil dari akar kata wahdat yang berarti "kesatuan," seperti juga kata
wahid yang berarti "satu."
Kata ini sekali berkedudukan
sebagai nama, dan sekali
sebagai sifat bagi sesuatu. Apabila ia berkedudukan sebagai
sifat, maka ia hanya digunakan
untuk Allah Swt. semata.
Dalam ayat di atas, kata Ahad berfungsi sebagai
sifat Allah Swt., dalam arti bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersendiri yang
tidak dimiliki oleh selain-Nya.
Dari
segi bahasa, kata
Ahad walaupun berakar sama dengan Wahid, tetapi masingmasing
memiliki makna dan
penggunaan tersendiri. Kata Ahad
hanya digunakan untuk sesuatu
yang tidak dapat menerima penambahan
baik dalam benak
apalagi dalam kenyataan, karena
itu kata ini -ketika
berfungsi sebagai sifat- tidak
termasuk dalam rentetan
bilangan, berbeda halnya dengan wahid (satu); Anda dapat menambahnya
sehingga menjadi dua,
tiga, dan seterusnya,
walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.
Berbicara tentang
angka -dalam kaitannya
dengan bahasan tauhid- agaknya menarik untuk dihayati
bahwa kata "Ahad"
terulang di dalam
Al-Quran sebanyak 85 kali, namun hanya sekali yang menjadi sifat Tuhan yakni
firman-Nya dalam surat Al-Ikhlas, "Qul
Huwa Allahu Ahad." Seakan-akan
Allah bermaksud untuk
menekankan keyakinan tauhid,
bukan saja dalam maknanya,
tetapi juga dalam
bilangan pengulangan
lafalnya, serta kandungan
lafal itu. Ini
menggambarkan kemurnian mutlak dalam
keesaan. Bukankah kata Wahid yang
berarti "satu," dapat
berbilang unsurnya, berbeda
dengan kata Ahad yang mutlak tidak berbilang, walau hanya
sekadar unsurnya?
Benar! Allah
terkadang juga disifati
dengan kata Wahid seperti antara lain dalam firman-Nya:
"Tuhan-Mu
adalah Tuhan yang Wahid, tiada
Tuhan selain Dia, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" (QS
Al-Baqarah [2]: 163)
Sementara ulama
berpendapat bahwa kata Wahid dalam ayat di atas, menunjuk
kepada keesaan Zat-Nya
disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya, bukankah Dia Maha Pengasih,
Maha Penyayang, Mahakuat, Maha
Mengetahui, dan sebagainya, sedangkan kata
Ahad dalam surat
Al-Ikhlas itu, mengacu kepada
keesaan Zat-Nya saja, tanpa memperlihatkan
keragaman sifat-sifat tersebut.
Terlepas dari setutu
atau tidak dengan pembedaan terakhir ini, namun yang jelas bahwa Allah
Maha Esa, dan Keesaan-Nya itu mencakup
empat macam keesaan
1.
Keesaan
Zat
2.
Keesaan
Sifat
3.
Keesaan
Perbuatan, dan
4.
Keesaan
dalam beribadah kepada-Nya.
1.
KEESAAN ZAT-NYA
Keesaan
Zat mengandung pengertian
bahwa seseorang harus percaya
bahwa Allah Swt.
tidak terdiri dari unsur-unsur, atau bagian-bagian, karena
bila Zat Yang
Mahakuasa itu terdiri dari dua unsur atau lebih -betapapun kecilnya
unsure atau bagian itu- maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian itu.
Atau dengan kata
lain unsur atau bagian itu merupakan syarat bagi wujud-Nya. Ambil
sebagai contoh sebuah jam tangan. Anda
menemukan jam tersebut
terdiri dari beberapa bagian, ada
jarum yang menunjuk angka, ada logam, ada
karet, dan lain-lain. Bagian-bagian tersebut dibutuhkan oleh sebuah jam
tangan, karena tanpa bagian itu, ia
tidak dapat menjadi jam
tangan. Nah, ketika itu, walaupun jam tangan ini
hanya satu, tetapi
ia tidak esa,
karena ia terdiri dari
bagian-bagian tersebut. Jika
demikian, Zat Tuhan pasti tidak
terdiri dari unsur
atau bagianbagian betapapun kecilnya,
karena jika demikian, Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Benak
kita tidak dapat
membayangkan Tuhan membutuhkan
sesuatu dan Al-Quran pun menegaskan demikian:
"Wahai
seluruh manusia kamulah yang
butuh kepada Allah dan Allah Mahakaya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha Terpuji" (QS Fathir [35]:
15).
Setiap penganut paham tauhid
berkeyakinan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan Dia sendiri
tidak bersumber dari sesuatu pun. Al-Quran menegaskan bahwa,
"Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat" (QS Al-Syura [42]: 11)
Perhatikan redaksi ayat di atas, "Tidak ada sesuatupun yang
serupa denganNya." Yang
serupa dengan-Nya pun tidak ada, apalagi yang seperti Dia. lebih-lebih
yang sama dengan-Nya. Karena itu,
jangankan secara faktual di dunia nyata ada yang seperti dengan-Nya, yang
secara imajinatif pun
tidak ada yang serupa dengan-Nya.
Keragaman dan
bilangan lebih dari
satu adalah substansi setiap makhluk, bukan ciri Khaliq.
Itulah sebagian makna Keesaan dalam Zat-Nya.
2. KEESAAN
SIFAT-NYA
Adapun keesaan sifat-Nya, maka itu
antara lain berarti bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama
dalam substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk,
walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan
untuk menunjuk sifat
tersebut sama.
Sebagai contoh,
kata Rahim merupakan
sifat bagi Allah, tetapi
juga digunakan untuk
menunjuk rahmat atau
kasih sayang makhluk. Namun
substansi dan kapasitas rahmat
dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya.
Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang menyamai substansi dan kapasitas sifat
tersebut.
Sementara ulama
memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu, dalam arti
bahwa Zat-Nya sendiri
merupakan sifat-Nya.
Demikian mereka memahami keesaan secara amat murni. Mereka
menolak adanya "sifat"
bagi Allah, walaupun
mereka tetap yakin dan
percaya bahwa Allah
Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Penyantun, dan
lain-lain yang secara
umum dikenal ada sembilan
puluh sembilan. Mereka yakin tentang hal tersebut, tetapi mereka menolak
menamainya sifat-sifat. Lebih jauh penganut paham ini berpendapat bahwa "sifat-Nya" merupakan satu
kesatuan, sehingga kalau dengan
tauhid Zat, dinafikan segala
unsur keterbilangan pada Zat-Nya, betapapun kecilnya unsur itu,
maka dengan tauhid
sifat dinafikan segala macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan
bagi sifatsifat Allah. Berapa jumlah
sifat Allah
itu? Yang populer menurut
sebuah hadis ada 99 sifat.
Tetapi Muhammad Husain Ath-Thabathaba'i, setelah
menelusuri ayat-ayat
Al-Quran, menyimpulkan bahwa ada
127 nama atau sifat Allah yang
ditemukan dalam Al-Quran,
kesemuanya merupakan
Al-Asma', AlHusna. Rincian
sifat/nama-nama itu
dikemukakannya dalam Tafsirnya AlMizan
ketika menafsirkan QS Al-A'raf
[7]: 180.
3. KEESAAN
PERBUATAN-NYA
Keesaan ini mengandung arti bahwa
segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik sistem
kerjanya maupun sebab
dan wujud-Nya, kesemuanya adalah hasil perbuatan Allah semata. Apa yang
dikehendaki-Nya terJadi, dan
apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak
akan terjadi, tidak ada daya
(untuk memperoleh manfaat), tidak pula
kekuatan (untuk menolak madarat), kecuali bersumber dari
Allah Swt., itulah makna:
[tulisan Arab]
Tetapi ini
bukan berarti bahwa
Allah Swt. Berlaku sewenang-wenang, atau
"bekerJa" tanpa
sistem yang ditetapkanNya. Keesaan
perbuatan-Nya dikaitkan dengan hukum-hukum, atau
takdir dan sunnatullah yang ditetapkan-Nya.
Dalam mewujudkan kehendak-Nya Dia tidak membutuhkan apa pun.
"Sesungguhnya
keadaan-Nya bila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah
berkata, 'Jadilah!' Maka jadilah
ia" (QS Ya Sin
[36]: 82)
Tetapi ini
bukan juga berarti bahwa Allah membutuhkan kata "jadilah;"
ayat ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa pada hakikatnya dalam
mewujudkan sesuatu Dia tidak
membutuhkan apa pun. Ayat ini juga tidak berarti bahwa
segala sesuatu yang diciptakan-Nya tercipta
dalam sekejap, tanpa proses, sesuai dengan kehendak-Nya. Bukankah Isa
a.s. dinyatakan-Nya sebagai tercipta dengan kun.
"Sesungguhnya
keadaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, diciptakan
dari tanah kemudian
Dia katakana kepadanya kun
(jadilah), maka jadilah dia"
(QS Ali
'Imran [3]: 59).
Pada ayat lain, Al-Quran
menggambarkan proses kejadian Isa,
yang dimulai dengan
kehadiran malaikat kepada
Maryam, kehamilannya, sakit perut menjelang kelahiran, dan akhirnya lahir (Baca QS Maryam [19]: 16-26).
Sekali lagi,
kata kun bukan berarti bahwa segala sesuatu yang
dikehendaki-Nya terjadi serta-merta tanpa suatu proses.
4. KEESAAN DALAM BERIBADAH
KEPADA-NYA
Kalau ketiga keesaan di atas
merupakan hal-hal yang
harus diketahui dan diyakini, maka keesaan keempat ini merupakan
perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu.
Ibadah itu beraneka ragam dan
bertingkat-tingkat. Salah satu ragamnya
yang paling jelas,
adalah amalan tertentu yang
ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh
Allah atau melalui Rasul-Nya,
dan yang secara populer dikenal
dengan istilah ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah dalam pengertiannya yang umum,
mencakup segala macam aktivitas
yang dilakukan demi karena Allah.
Nah, mengesakan Tuhan
dalam beribadah, menuntut
manusia untuk melaksanakan segala
sesuatu demi karena Allah, baik sesuatu itu dalam bentuk
ibadah mahdhah
(murni), maupun selainnya. Walhasil,
keesaan Allah dalam
beribadah kepadaNya adalah dengan
melaksanakan apa yang tergambar
dalam firman-Nya,
"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku,
dan matiku,
(seterusnya)
karena Allah, Pemelihara seluruh alam'" (QS Al-An'am [6]: 162).
ALLAH DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Salah satu
ayat yang menggambarkan dampak
kehadiran Allah dalam jiwa manusia adalah
firman-Nya,
"Allah
membuat perumpamaan, (yaitu) seorang
lelaki (budak) yang dimiliki oleh
beberapa orang yang berserikat dan saling berselisih (buruk perangai mereka),
dengan seorang budak yang
menjadi milik penuh dari seorang saja.
Adakah keduanya (budak-budak itu) sama
halnya? Segala puji
bagi Allah, tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui (QS Al-Zumar
[39]: 29).
Ayat ini bermaksud menggambarkan
bagaimana keadaan seseorang yang harus taat kepada sekian banyak orang yang
memilikinya, tetapi pemilik-pemiliknya itu saling berselisih
dan buruk perangainya. Alangkah
bingung ia. Yang ini memerintahkan satu hal, belum lagi
selesai datang yang lain mencegah atau
memerintahkannya dengan perintah
lain, yang ketiga
pun demikian. Begitu seterusnya, sehingga pada
akhirnya budak itu hidup
dalam kompleks kejiwaan
yang tidak diketahui
bagaimana cara menanggulanginya. Bandingkanlah
hal itu dengan seorang
budak lain yang hanya menjadi milik penuh seseorang sehingga
ia tidak mengalami
kebingungan atau kontradiksi
dalam kesehariannya.
Menarik dikemukakan
alasan Murtadha Muthahhari yang juga memahami sebagaimana
ulama-ulama lain -arti
kata rajulan pada ayat
di atas dengan "budak."
Ulama tersebut menulis dalam bukunya Allah dalam Kehidupan Manusia bahwa:
Sementara orang ada yang
membuat kemungkinan berikut, yakni bahwa manusia
berkeinginan untuk hidup
bebas (tanpa kendali). Sesungguhnya keinginan ini (walaupun merupakan sesuatu
yang mustahil) menjadikan manusia keluar
dari kemanusiaannya, karena ini
berarti bahwa ketika
itu dia tidak mengakui adanya
hukum, tujuan, keinginan atau ide -dalam
arti dia kosong sama
sekali dari keyakinan
tertentu, dan keadaan demikian
mencabutnya dari hakikat
kemanusiaan. Keadaan
semacam ini tidak
ada wujudnya dalam kehidupan manusia di dunia. Orang-orang
yang menghendaki kehidupan
sebebas mungkin, serta tidak
mengakui adanya sedikit peraturan pun, pasti
hidup mereka pun
dilandasi oleh keyakinan
(ide tertentu) atau berusaha
mencari ide/keyakinan tertentu.
Usaha
ini menunjukkan bahwa manusia harus menerima
wewenang
pengaturan dari
keyakinan (ide yang ada dalam
benaknya). Jika demikian, tidak
heran jika Al-Quran
menggunakan istilah-istilah
yang mengandung arti budak
(seseorang yang dimiliki oleh pihak lain).
Keadaan yang digambarkan
oleh ayat di atas,
terbukti kebenarannya dalam kenyataan
hidup orang-orang yang lemah imannya, atau memiliki sekian banyak ide
atau keyakinan yang saling bertentangan. Sekali dia taat kepada Tuhan, lain
kali dia taat kepada setan, sekali dia ke masjid, lain
kali ke klub malam.
Orang semacam ini dikuasai atau
menjadi budak sekian penguasa yang buruk perangainya sehingga pada akhimya
ia mengidap kepribadian
ganda (split personality), yang merupakan salah
satu bentuk dari
sekian banyak bentuk penyakit kejiwaan.
Kalau demikian wajar
jika Al-Quran menegaskan bahwa,
"Orang-orang
yang beriman dan hati mereka tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram" (QS AlRa'd [13]: 28).
Kalau dalam ayat lain Al-Quran
menegaskan bahwa seandainya pada keduanya
(langit dan bumi)
terdapat banyak Tuhan (Pengusa
yang mengatur alam) selain Allah,
maka pastilah keduanya akan
binasa (QS Al-Anbiya, [21]: 22), maka dalam QS Al-Zumar [39]: 29 di atas, Allah
berpesan bahwa seandainya di
dalam jiwa seseorang ada banyak tuhan atau penguasa yang mengatur hidupnya,
maka pasti pula
jiwanya akan rusak binasa.
Kalau uraian
di atas membuktikan
kebutuhan jiwa manusia kepada akidah
tauhid, maka rangkaian
pertanyaan berikut dapat menjadi
salah satu bukti tentang kebutuhan akalnya terhadap
akidah ini. Pertanyaan dimaksud adalah: "Siapa
yang menjamin bila Anda
melontar ke depan, maka batu itu tidak mengarah ke belakang? Apa
yang menjamin bahwa
air selalu mencari tempat yang
rendah? Apa yang mengantar ilmuwan untuk memperoleh semacam, kepastian,
dalam langkahlangkahnya?"
Kepastian tersebut tidak
mungkin dapat diperoleh kecuali
melalui keyakinan tentang wujud Tuhan
Yang Maha Esa. Karena jika Tuhan
berbilang, maka sekali tuhan ini
yang mengatur alam dan menetapkan kehendak-Nya dan kali lain
tuhan yang itu. Apa yang menjamin kepastian itu, seandainya
Tuhan Yang mengatur hukum-hukum dan tata kerta alam raya,
juga butuh kepada sesuatu? Sudah dapat dipastikan tidak ada
yang dapat menjamin!
Jika demikian, tauhid bukan saja
merupakan hakikat kebenaran yang
harus diakui karena
diperlukan oleh jiwa manusia, tetapi juga merupakan kebutuhan
akalnya demi kemajuan
dan kesejahteraan umat manusia.
Wajar jika perkembangan pemikiran manusia tentang
Tuhan, berakhir pada
monoteisme murni, setelah pada
awalnya menganut keyakinan politeisme (banyak tuhan),
kemudian dua tuhan,
disusul dengan kepercayaan tentang
adanya satu Tuhan. dan berakhir dengan tauhid murni (keesaan mutlak)
yang dianut oleh umat Islam.
Apabila seseorang
telah menganut akidah
tauhid dalam pengertian yang
sebenarnya, maka akan lahir dari dirinya berbagai aktivitas,
yang kesemuanya merupakan ibadah kepada
Allah, baik ibadah dalam pengertiannya yang sempit (ibadah murni) maupun pengertiannya
yang luas. Ini disebabkan karena akidah tauhid merupakan satu prinsip lengkap yang menembus
semua dimensi dan aksi manusia. Karena itu,
"Allah
tidak mengampuni siapa
yang mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu, dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa
yang Dia kehendaki (QS Al-Nisa, [4]: 48).
Kalau dalam alam raya ini ada
matahari yang menjadi sumber kehidupan makhluk
di permukaan bumi
ini, dan yang berkeliling padanya planet-planet
tata surya yang
tidak dapat melepaskan diri
darinya, maka akidah tauhid merupakan matahari kehidupan ruhani dan yang
berkeliling di sekitarnya kesatuan-kesatuan yang tidak dapat pula melepaskan
diri atau dilepaskan darinya. Kesatuan
dimaksud antara lain
adalah kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat,
kesatuan natural dan supranatural, kesatuan
ilmu, kesatuan agama, kesatuan
kemanusiaan, kesatuan umat,
kesatuan kepribadian manusia, dan lain-lain.
Prinsip lengkap ini harus
terus-menerus dipelihara, diasah,
dan diasuh. Memang
boleh jadi seorang
Muslim mengalami godaan sehingga
timbul tanda tanya
menyangkut kehadiran Allah Yang
Maha Esa itu. Yang demikian
adalah wajarwajar saja, asal ia selalu berupaya untuk mengusir godaan itu. Hal
ini dialami juga
oleh para sahabat Nabi Saw.
Mereka yang mengadukan pengalamannya kepada beliau ditanggapi oleh Nabi Saw. dengan bersabda,
"Segala
puji bagi Allah
yang menangkal tipuannya (setan) menjadi waswasah (bisikan)."
Sahabat Nabi, Ibnu Abbas, pernah
ditanya oleh Abu
Zamil Sammak ibn Al-Walid,
"Apakah yang saya rasakan di dalam dadaku (ini)?"
"Apakah itu," tanya Ibnu Abbas.
"Demi Allah saya tidak
akan mengatakannya." Ibnu Abbas bertanya balik, "Apakah semacam
syak atau keraguan?" Si penanya
mengiyakan. Ibnu Abbas kemudian
berkata, "Tidak seorang pun (dari kami) yang terbebaskan dari yang demikian,
sampai turun firman Allah:
"Apabila kamu
dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepadamu, maka
tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu" (QS Yunus
[10]: 94).
Apabila engkau
mendapatkan hal itu bacalah, Dia yang Awal, Dia Yang
Akhir, Dia Yang
Zhahir (tampak melalui ciptaan-Nya), Dia
juga Yang Batin
(tak tampak hakikat Zat-Nya), dan Dia. Maha Mengetahui
segala sesuatu."
Demikian Allah Swt. Karena itu wajar kita bermohon:
"Wahai Tuhan
kami, janganlah Engkau
jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau
beri petunjuk kepada kami,
karuniakanlah kepada
kami rahmat
dari sisi-Mu. Sesungguhnya
Engkaulah Maha Pemberi anugerah" (QS Ali 'Imran 13]: 8).[]
Catatan
kaki:
-------------
Wahyu
pertama adalah lima ayat pertama surat Al-'Alaq. Di sana
tidak ada kata "Allah.". Wahyu kedua adalah
beberapa ayat dari surat Al-Qalam. dalam
surat ini tidak
disebut kata "Allah."
Wahyu ketiga adalah awal surat
Al-Muzammil. Dalam surat ini kata Rabbika ditemukan dua kali,
dan kata "Allah" tujuh kali, yaitu pada ayat terakhir (kedua
puluh). Dapat dipastikan bahwa ayat terakhir tersebut turun setelah Nabi
hijrah ke Madinah,
karena ayat tersebut berbicara tentang keterlibatan
para sahabat dalam
peperangan, sedangkan peperangan pertama baru terjadi pada tahun kedua
Hijriah.
Wahyu
keempat adalah awal
suratAl-Muddatstsir (tujuh ayat pertama). Dalam
tujuh ayat pertama tersebut kata pengganti Tuhan Yang Maha Esa adalah "Rabbika" yang disebut
sebanyak dua kali. Benar
bahwa dalam surat tersebut ditemukan kata "Allah" sebanyak
empat kali, tetapi
ayat-ayatnya bukan merupakan
rangkaian wahyu-wahyu pertama.
Wahyu kelima
adalah surat Al-Lahab (Tabbat) . Dalam
surat ini tidak ditemukan kata apa
pun yang menunjukkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Wahyu keenam
adalah surat At-Takwir.
Pada ayat terakhir (ke-29) surat ini, ditemukan kata
dengan predikat Rabbul 'Alamin, namun seperti yang diriwayatkan oleh banyak
ulama, ayat itu turun terpisah dari ayat-ayat sebelumnya.
Wahyu
ketujuh adalah surat
"Sabbihisma."
Dalam surat ini disebutkan katakata
"Rabbuka,"
"Allah," dan "Rabbihi" masing-masing sekali.
Di sõnilah kata
"Allah" disebutkan
untuk pertama kalinya dalam rangkaian
wahyu-wahyu Al-Quran. Namun perlu digarisbawahi bahwa surat ini justru
menjelaskan sifat-sifat Allah Yang
Mahasuci, serta perbuatan- perbuatan-Nya.
Wahyu kedelapan adalah
Alam Nasyrah, wahyu kesembilan Al-Ashr, wahyu kesepuluh Al-Fajr,
wahyu kesebelas Adh-Dhuha, wahyu kedua belas Al-Lail, wahyu ketiga
belas Al-'Adiyat, wahyu keempat
belas Al-Kautsar, wahyu
kelima belas At-Takwir, wahyu
keenam belas At-Takatsur,
wahyu ketujuh belas Al-Ma'un,
wahyu kedelapan belas Al-Fil.
Dalam Wahyu
kedelapan hingga kedelapan belas tersebut di atas, tidak
terdapat kata "Allah." Nanti
pada wahyu kesembilan belas
yaitu, Qul Huwa Allahu Ahad, barulah kata Allah dijelaskan secara rinci,
sebagai jawaban terhadap kaum musyrik yang mempertanyakan tentang Tuhan yang
disembah oleh Nabi Muhammad Saw.
NABI
MUHAMMAD SAW
Disadari
atau tidak, wujud Tuhan pasti dirasakan
oleh jiwa manusia baik
redup atau benderang. Manusia menyadari bahwa suatu
ketika dirinya akan mati. Kesadaran ini
mengantarkannya kepada
pertanyaan tentang apa
yang akan terjadi
sesudah kematian, bahkan menyebabkan
manusia berusaha memperoleh kedamaian dan keselamatan di
negeri yang tak dikenal itu.
Wujud Tuhan
yang dirasakan, serta
hal-ihwal kematian, merupakan dua
dari sekian banyak
faktor pendorong manusia untuk
berhubungan dengan Tuhan dan
memperoleh informasi yang pasti. Sayangnya tidak semua manusia mampu melakukan
hal itu. Namun, kemurahan
Allah menyebabkan-Nya memilih
manusia tertentu untuk menyampaikan pesan-pesan
Allah, baik untuk periode
dan masyarakat tertentu maupun
untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat. Mereka yang mendapat
tugas itulah yang dinamai Nabi
(penyampai berita) dan Rasul (Utusan Tuhan).
Jumlah mereka
secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya menginforrnasikan
bahwa,
"Tidak
satu umat (kelompok
masyarakat) pun kecuali
telah pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS
Fathir [35]: 24).
Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa,
"Kami telah mengutus
nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka
ada yang
telah kami sampaikan
kisahnya, dan ada pula yang tidak Kami sampaikan kepadamu" (QS
Al-Mu'min [40]: 78)
Al-Quran
menyebutkan secara tegas
nama dua puluh
lima
Nabi/Rasul; delapan
belas di antaranya
disebutkan dalam Al-Quran surat
Al-An'am (6): 83-86, sisanya didapatkan
dari berbagai ayat.
Nabi Muhammad Saw.
seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf (7): 158 -diutus kepada seluruh
manusia, dan beliau merupakan khataman
nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).
Masa Prakelahiran
Al-Quran
menegaskan bahwa para
nabi telah pernah diangkat
janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad Saw.
"Dan ingatlah ketika Allah
mengambil perjanjian dan para Nabi, 'Sungguh
apa saja yang Aku berikan
kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad)
yang membenarkan kamu, niscaya
kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.'
Allah berfirman, 'Apakah
kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?' Mereka
menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS Ali'Imran [3]: 81)
Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda,
"Demi (Allah)
yang jiwaku berada
pada genggaman-Nya,
seandainya Musa a.s.
hidup, dia tidak
dapat mengelak dan mengikutiku" (HR Imam Ahmad)
Tidak jelas kapan dan bagaimana
perjanjian yang disinggung ayat tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa
Allah Swt. telah merencanakan sesuatu
untuk Nabi Muhammad
Saw., jauh sebelum kelahiran
beliau. Karena itu
pula sementara pakar menyatakan
bahwa kematian ayah
beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke
pedesaan menjauhi ibunya,
serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang dipersiapkan Tuhan
kepada beliau untuk dijadikan
utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak.
Bahkan ulama lain meyakini
bahwa pemilihan hal-hal
tertentu berkaitan dengan beliau
bukanlah kebetulan. Misalnya
bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada
bulan Rabi'ul Awal
(musim bunga). Nama beliau
Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah) , ibunya Aminah
(yang memberi rasa
aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang
tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa'
(yang sempurna dan
sehat), serta yang menyusukannya
adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan
berkaitan dengan Nabi Muhammad Saw. Makna nama-nama tersebut
memiliki kaitan yang erat dengan
kepribadian Nabi Muhammad Saw.
Al-Quran surat Al-A'raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa
Nabi Muhammad Saw. pada hakikatnya
dikenal oleh orang-orang Yahudi dan
Nasrani. Hal ini
antara lain disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam
Taurat dan Injil (QS
Al-A'raf [7]: 157).
Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh
Al-Quran itu, dapat terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan
33 ayat 2:
"... bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah
terbit untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran."
Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut:
"Gunung Paran" menurut Kitab Pertanjian Lama, Kejadian ayat 21,
adalah tempat putra Ibrahim -yakni
Nabi Ismail- bersama
ibunya Hajar memperoleh air
(Zam-Zam). Ini berarti bahwa tempat
tersebut adalah Makkah, dan
dengan demikian yang tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisyaratkan tiga
tempat terpancarnya cahaya wahyu Ilahi: Thur Sina tempat Nabi Musa a.s., Seir
tempat Nabi Isa a.s. , dan Makkah
tempat Nabi Muhammad
Saw. Sejarah membuktikan bahwa
beliau satu-satunya Nabi dari Makkah.
Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah
ayat 146 menyatakan bahkan mereka itu
mengenalnya (Muhammad Saw.), sebagaimana mereka
mengenal anak-anak mereka, bahkan salah seorang penganut agama
Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu Abdullah bin
Salam pernah berkata, "Kami
lebih mengenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad Saw. daripada
pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan kami
menyeleweng."
Masa Prakenabian
Ada beberapa ayat
Al-Quran yang berbicara
tentang Nabi
Muhammad Saw. sebelum kenabian beliau. Antara lain,
"Bukankah Dia
(Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia
melindungimu, dan Dia
mendapatimu bimbang, lalu
Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?" (QS Al-Dhuha [93]: 6-8).
Beliau yatim sejak di dalam
kandungan, kemudian dipelihara dan dilindungi oleh paman dan kakeknya.
Beliau hidup di
dalam keresahan dan kebimbangan
melihat sikap masyarakatnya, lalu Allah memberinya petunjuk, dan
mengangkatnya sebagai Nabi dan
Rasul. Beliau hidup miskin karena ayahnya tidak
meninggalkan warisan untuknya, kecuali
beberapa ekor kambing
dan harta lainnya yang tidak
berarti. Tetapi Allah memberinya kecukupan, khususnya menjelang dan
saat hidup berumah
tangga dengan istrinya, Khadijah
a.s.
Ayat lain yang
oleh ulama dianggap berbicara tentang Nabi
Muhammad Saw. pada
masa kanak-kanaknya, adalah
surat Alam
Nasyrah ayat pertama:
"Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada
untukmu?"
Sebagian ulama
mengartikan kata nasyrah
dengan "memotong/membedah." Memang, bila
dikaitkan dengan sesuatu yang
bersifat materi, artinya
demikian. Apabila dikaitkan dengan
sesuatu yang bersifat nonmateri,
kata itu mengandung arti membuka,
memberi pemahaman,
menganugerahkan ketenangan dan semaknanya.
Yang mengaitkan dengan hal-hal
materi berpendapat bahwa ayat ini
berbicara tentang "pembedahan" yang pernah dilakukan oleh para
malaikat terhadap Nabi Muhammad Saw. kala beliau remaja. Pendapat ini
antara lain dikemukakan
oleh mufasir An
-Naisaburi.
Tetapi sepanjang
penelitian penulis kata
tersebut dengan berbagai bentuknya
terulang sebanyak 5 kali, dan
tidak satu pun yang digunakan dengan
arti harfiah, apalagi
bermakna pembedahan. Akan lebih
jelas lagi jika hal itu disejajarkan dengan ayat yang berbicara tentang
doa Nabi Musa a.s. di dalam Al-Quran.
"Wahai
Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
mudahkanlah untukku urusanku dan
lepaskanlah kekakuan lidahku,
supaya mereka
mengerti perkataanku" (QS Thaha [20]: 25-28)
Selanjutnya Al-Quran menegaskan
bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak pernah membaca satu kitab
atau menulis satu
kata sebelum datangnya wahyu
Al-Quran.
"Engkau tidak pernah
membaca satu kitab
pun sebelumnya
(Al-Quran), tidak juga menulis satu tulisan dengan
tanganmu, (andai kata kamu
pernah membaca dan
menulis) pasti akan benar-benar ragulah
orang yang mengingkari-(mu)" (QS
Al-'Ankabut [29]: 48).
Ayat ini
secara pasti menyatakan
bahwa beliau Saw. adalah orang yang tidak pandai membaca dan menulis.
Banyak ulama yang memahami bahwa kendatipun
kemudian Nabi Saw. menganjurkan umatnya belajar
membaca dan menulis,
namun beliau sendiri tidak
melakukannya, karena Allah Swt. ingin menjadikan beliau sebagai bukti
bahwa informasi yang diperolehnya
benar-benar bukan bersumber dari manusia, melainkan dari Allah Swt.
Ada juga
ulama yang memahami
bahwa ketidakmampuan beliau membaca hanya
terbatas sampai sebelum
terbukti kebenaran ajaran Islam.
Setelah kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah ke Madinah- beliau telah
pandai membaca. Menurut pendukungnya
ide ini
dikuatkan antara lain
oleh kata "sebelumnya" yang terdapat pada ayat di atas.
Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam
Al-Quran (QS
Al-A'raf [7] 157
dan 158) , dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad Saw. Memang kedua
ayat itu turun di Makkah, meskipun
ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan,
"Dia
(Allah) yang mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta
huruf), seorang Rasul di antara mereka" (QS Al-Jum'ah [62]: 2)
Di sisi lain, harus disadari bahwa masyarakat
beliau ketika itu menganggap
kemampuan menulis sebagai
bukti kelemahan seseorang.
Pada masa itu
sarana tulis-menulis amat
langka, sehingga masyarakat amat
mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki
kemampuan menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah pernah
ditemukan sedang menulis, dan ketika ia
sadar bahwa ada
orang yang melihatnya,
ia bermohon,
"Jangan beri
tahu siapa pun, karena ini
(kemampuan menulis) bagi kami adalah aib."
Memang, nilai-nilai dalam masyarakat
berubah, sehingga apa yang
dianggap baik pada
hari ini, boleh
jadi sebelumnya dinilai
buruk. Pada masa
kini kemampuan menghafal
tidak sepenting masa lalu, karena
sarana tulis-menulis dengan mudah diperoleh.
Masa Kenabian
Pada usia 40 tahun, yang
disebut oleh Al-Quran surat Al-Ahqaf
ayat 15
sebagai usia kesempurnaan,
Muhammad Saw. diangkat menjadi Nabi. Ditandai dengan turunnya
wahyu pertama Iqra' bismi Rabbik.
Sebelumnya beliau tidak pernah
menduga akan mendapat tugas dan kedudukan
yang demikian terhormat.
Karena itu ditemukan ayat-ayat Al-Quran
yang menguraikan sikap
beliau terhadap wahyu dan memberi kesan
bahwa pada mulanya
beliau sendiri
"ragu" dan gelisah
mengenai hal yang dialaminya. QS Yunus
(10): 94 mengisyaratkan bahwa,
"Kalau engkau ragu terhadap apa yang Kami turunkan
kepadamu, maka tanyakanlah kepada
orang-orang yang membaca Kitab Suci sebelum kamu (QS Yunus [10]: 94).
Kegelisahan itu bertambah besar pada saat wahyu
yang beliau nanti-nantikan tidak
kunjung datang, hingga menurut beberapa riwayat beliau sedemikian
gelisah, sampai-sampai konon beliau
hampir saja mencelakakan dirinya. Rupanya Allah Swt. bermaksud menjadikan
beliau lebih merindukan lagi
"sang kekasih dan firman-firman-Nya" agar
semakin mantap cinta
beliau kepada-Nya.
Surat Adh-Dhuha
menyatakan sekelumit hal
itu, sekaligus sekilas kedudukan
beliau di sisi
Allah. Surat ini turun berkenaan dengan
kegelisahan Nabi Muhammad
Saw. karena ketidakhadiran Malaikat
Jibril membawa wahyu setelah
sekian kali sebelumnya datang.
"Demi
adh-dhuha, dan malam
ketika hening. Tuhanmu
tidak meninggalkan kamu dan tidak pula membenci-(mu dan siapa pun).
Mengapa adh-dhuha -yakni
"matahari ketika naik sepenggalah"-yang dipilih
berkaitan dengan wahyu-wahyu
yang diterima oleh Nabi Saw., atau apakah adh-dhuha ada
kaitannya dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?
Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi
seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak menyebabkan
gangguan sedikit pun, bahkan
panasnya memberikan kesegaran,
kenyamanan, dan kesehatan.
Di sini
Allah Swt. melambangkan kehadiran wahyu selama ini
sebagai kehadiran cahaya
matahari yang sinarnya
demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran
wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
Dari kedua hal yang
bertolak belakang itu,
Allah menafikan dugaan atau
tanggapan yang menyatakan
bahwa Muhammad Saw. telah ditinggalkan oleh Tuhannya,
atau bahkan Tuhan
telah membencinya. Kehadiran
malam tidak menjadikan seseorang boleh berkata
bahwa matahari tidak
akan terbit lagi,
karena kenyataan sehari-hari membuktikan
kekeliruan ucapan seperti itu. Nah,
ketidakhadiran wahyu beberapa
saat tidak dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa
wahyu tidak akan hadir lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.
Ketidakhadiran
antara lain menjadi
isyarat kepada Nabi
Muhammad Saw. untuk
beristirahat, karena
"malam" dijadikana
Tuhan sebagai waktu "beristirahat."
Dapat juga dikatakan bahwa
ketidakhadiran wahyu justru
pada saat Nabi Muhammad
menanti-nantikannya, membuktikan bahwa wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri.
Walaupun keinginan Nabi Saw.
meluap-luap menantikan kehadirannya,
namun jika Tuhan tidak menghendaki, wahyu tidak akan datang.
Ini membuktikan bahwa wahyu bukan
merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.
Kenabian Muhammad Saw. bukan
merupakan hal yang baru bagi umat manusia.
Nabi Muhammad secara
tegas diperintahkan untuk menyatakan hal itu,
"Katakanlah, 'Aku
bukanlah rasul yang
pertama di antara rasul-rasul. Aku tidak mengetahui
yang diperbuat terhadapku, tidak juga
terhadapmu. Aku tidak lain hanya mengikuti yang
diwahyukan kepadaku dan
aku tidak lain
seorang pemberi
peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)
Namun demikian' kenabian
Muhammad Saw. berbeda dengan kenabian utusan Tuhan yang lain. Sebelum beliau,
para Nabi dan
Rasul diutus untuk masyarakat
dan waktu tertentu,
tetapi Nabi Muhammad Saw. diutus
untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat,
"Katakanlah
(hai Muhammad), 'Wahai
seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu
semua'" (QS
Al-A'raf [7]: 158)
Ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada
mulanya Nabi Muhammad Saw. hanya bermaksud
mengajarkan agamanya kepada orang-orang Arab,
tetapi setelah beliau berhasil di Madinah, beliau memperluas dakwahnya
untuk seluruh manusia.
Pendapat ini sungguh keliru,
karena sejak di
Makkah beliau telah menegaskan
bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia. "Katakanlah (hai
Muhammad), 'Wahai seluruh
manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua.'"
(QS
Al-A'raf [7]: 158).
Ayat ini
turun ketika Nabi Saw. sedang berada di Makkah, bahkan menurut sementara
ulama, semua ayat
Al-Quran yang dimulai dengan
panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya turun di
Makkah kecuali beberapa ayat.
Perbedaan yang lain adalah
para nabi sebelum
beliau selalu mengaitkan kenabian
dengan hal-hal yang
bersifat suprarasional, baik berbentuk
sihir, pengetahuan gaib, mimpi-mimpi, dan lain-lain.
Isa a.s. misalnya bersabda,
"Sesungguhnya Aku
telah datang kepadamu dengan membawa bukti (mukjizat) dari Tuhanmu,
yaitu aku membuat burung untuk kamu dari
tanah, kemudian aku meniupnya sehingga ia menjadi burung dengan seizin
Allah, dan aku menyembuhkan
orang yang buta sejak lahir, dan orang yang berpenyakit
sopak (lepra), dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan
aku kabarkan kepadamu yang
kamu makan dan
yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah suatu
tanda (mukjizat tentang kebenaran
kerasulanku) bagimu, jika
kamu
sungguh-sungguh beriman." (QS Ali 'Imran [3]: 49)
Dalam Perjanjian
Baru, Isa a.s.
juga menyatakan, "Jangan percaya padaku,
jika aku tidak mengerjakan pekerjaan Bapak
..."
Demikian halnya Isa a.s. dan para nabi sebelumnya. Oleh karena
itu, ketika masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti
yang bersifat suprarasional, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk
menyampaikan kalimat-kalimat berikut:
"Katakanlah,
'Sesungguhnya bukti-bukti itu
bersumber dari
Allah, sedang aku hanya pembawa peringatan yang
menjelaskan.'" (QS Al-'Ankabut [29]: 50)
Dr. Nazme
Luke, seorang pendeta
Mesir, berkomentar bahwa
menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta, dan lain-lain
adalah hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi tidak berarti apa-apa
jika digunakan untuk membuktikan bahwa
2+2 = 5.
Masyarakat pada
masa Isa a.s. membutuhkan bukti-bukti yang bersifat
suprarasional, karena mereka belum
mencapai tingkat kedewasan yang
memadai. Hal ini,
tulisnya, sama dengan membujuk anak kecil untuk makan,
padahal jika telah dewasa, ia akan makan tanpa dibujuk.
Memang Nabi Muhammad
Saw. tidak mengandalkan hal-hal yang bersifat
suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Bukti kebenaran kenabian dan
kerasulannya adalah Al-Quran dan
diri beliau sendiri
yang ummi (tidak
pandai membaca dan menulis). Para
pakar bersepakat dengan menggunakan
berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang
pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
Demikianlah kesimpulan Thomas
Carlyle dalam bukunya On Heroes, Hero,
Worship and the
Heros in History dengan
menggunakan tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam
The Story of Civilization
in the World dengan tolok ukur
hasil karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan tolok ukur
keberanian moral, Nazme
Luke dalam Muhammad Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok
ukur metode pembuktian ajaran, serta Michael Hart dalam
bukunya tentang seratus tokoh dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah,
dengan tolok ukur pengaruh serta sederetan pakar lainnya.
"Mustahil bagi
siapa pun yang
mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad (Saw.), hanya mempunyai
perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia
itu. Ia akan
melampauinya sehingga meyakini
bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar
dari sang Pencipta," demikian Annie Besant menulis dalam The Life
and Teachings of Muhammad.
Dalam konteks ini
Al-Quran surat Alam
Nasyrah ayat 4 menyatakan,
"Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."
Dalam ayat lain dinyatakan:
"Wahai
seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat
jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad Saw.), dan Kami telah (pula) menurunkan
cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" (QS
Al-Nisa' [4]: 174).
Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Saw.
Al-Quran mengakui
secara tegas bahwa
Nabi Muhammad Saw. memiliki
akhlak yang sangat
agung. Bahkan dapat dikatakan
bahwa konsideran pengangkatan
beliau sebagai nabi
adalah keluhuran budi pekertinya.
Hal ini dipahami dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan bahwa:
"Sesungguhnya engkau
(Muhammad) berada di atas
akhlak yang agung" (QS
Al-Qalam [68]: 4).
Kata "di
atas" tentu mempunyai
makna yang sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya,
pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia
Seperti
dikemukakan di atas, Al-Quran
surat Al-An'am ayat 90 menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama
Nabi/Rasul. Setelah
kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada
Nabi Muhammad Saw.,
"Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari
Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh."
Ulama-ulama
tafsir menyatakan bahwa
Nabi Saw. pasti memperhatikan benar pesan ini. Hal itu
terbukti antara lain, ketika salah seorang pengikutnya mengecam
kebijaksanaan beliau saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan
amarahnya dan menyabarkan diri dengan berkata,
"Semoga Allah
merahmati Musa a s. Dia telah diganggu melebihi gangguan yang kualami ini, dan
dia bersabar (maka aku
lebih
wajar bersabar daripada Musa a s.)."
Karena itu pula
sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa pastilah Nabi
Muhammad Saw. telah
meneladani sifat-sifat
terpuji para nabi sebelum beliau
Nabi Nuh
a.s. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam
berdakwah. Nabi Ibrahim a.s. dikenal
sebagai seorang yang amat
pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan diri kepada Allah.
Nabi Daud a.s. dikenal sebagai nabi
yang amat menonjolkan rasa
syukur serta penghargaannya
terhadap nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s., Yahya
a.s., dan Isa
a.s., adalah nabi-nabi yang
berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah
Swt.
Nabi Yusuf a.s. terkenal
gagah, dan amat
bersyukur dalam nikmat dan
bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a. s. diketahui sebagai nabi yang
amat khusyuk ketika
berdoa, Nabi Musa terbukti sebagai nabi yang berani dan
memiliki ketegasan, Nabi Harun a.s. sebaliknya,
adalah nabi yang
penuh dengan
kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad Saw. meneladani
semua keistimewaan mereka itu.
Ada beberapa sifat Nabi Muhammad Saw. yang
ditekankan oleh
Al-Quran, antara lain,
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari
kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan
untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap
orang-orang mukmin" (QS Al-Tawbah [9]: 128).
Begitu besar perhatiannya
kepada umat manusia,
sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak
mereka beriman (baca QS
Syu'ara [26]: 3). Begitu luas rahmat dan kasih sayang
yang dibawanya, sehingga
menyentuh manusia, binatang,
tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.
Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi
Pencinta Binatang,
Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan,
"Bertakwalah
kepada Allah dalam
perlakuanmu terhadap binatang-binatang,
kendarailah dan makanlah dengan baik."
"Seorang wanita
terjerumus ke dalam
neraka karena seekor kucing yang
dikurungnya."
"Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni
Tuhan karena memberi minum seekor
anjing yang kehausan."
Rahmat dan
kasih sayang yang dicurahkannya
sampai pula pada benda-benda tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai,
pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan benda-benda tak
bernyawa itu mempunyai
kepribadian yang
membutuhkan uluran tangan,
rahmat, kasih sayang,
dan persahabatan.
Diakui bahwa Muhammad
Saw. diperintahkan Allah
untuk menegaskan bahwa,
"Aku tidak
lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku) diberi
wahyu ..." (QS Al-Kahf [18]: 110).
Beliau adalah manusia seperti
manusia yang lain dalam naluri, fungsi
fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya,
karena beliau mendapat bimbingan
Tuhan dan kedudukan istimewa
di sisi-Nya, sedang
yang lain tidak demikian. Seperti halnya permata adalah
jenis batu yang sama jenisnya
dengan batu yang
di jalan, tetapi
ia memiliki keistimewaan yang
tidak dimiliki oleh batu-batu lain.
Dalam bahasa tafsir Al-Quran,
"Yang sama dengan manusia lain adalah basyariyah bukan pada
insaniyah." Perhatikan bunyi
firman tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.
Atas dasar
sifat-sifat yang agung dan
menyeluruh itu, Allah Swt. menjadikan beliau sebagai teladan
yang baik sekaligus sebagai syahid (pembawa berita
gembira dan pemberi peringatan)
"Sesungguhnya terdapat
dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang
mengharapkan (ridha) Allah
dan ganjaran di
hari kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l).
Keteladanan tersebut
dapat dilakukan oleh
setiap manusia, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang
dapat dimiliki oleh manusia
Dalam konteks
ini, Abbas Al-Aqqad,
seorang pakar Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat
diklasifikasikan ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan
yang tekun beribadah.
Sejarah hidup Nabi Muhammad
Saw. membuktikan bahwa
beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta
pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap
objektif. Karena itu pula seorang Muslim
akan kagum berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya
melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan,
dan kedua kali
pada saat memandangnya dengan
kacamata iman dan agama.
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad
Saw., antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang
pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Di sini fungsi beliau
sebagai syahid/syahid akan
dijelaskan agak mendalam.
Demikian itulah Kami
jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan
agar Rasul (Muhammad Saw.) menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]:
143)
Kata syahid/syahid antara
lain berarti
"menyaksikan," baik dengan
pandangan mata maupun
dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan
keberadaan umat Islam pada posisi
tengah, agar mereka
tidak hanyut pada
pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam
ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di antara keduanya (posisi tengah), sehingga
mereka dapat menjadi saksi dalam
arti patron/teladan dan
skala kebenaran bagi umat-umat yang
lain, sedangkan Rasulullah
Saw. yang juga berkedudukan sebagai
syahid (saksi) adalah patron dan teladan
bagi umat Islam. Kendati ada juga yang
berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan menjadi
saksi di hari kemudian
terhadap umatnya dan umat-umat
terdahulu, seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4): 41:
Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti
apabila Kami menghadirkan seorang saksi
dari tiap-tiap umat
dan Kami hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas
mereka
(QS Al-Nisa, [4]: 41).
Tingkat syahadat (persaksian)
hanya diraih oleh mereka
yang menelusuri jalan lurus
(shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik
yang tersurat. Mereka yang menurut Ibnu
Sina disebut "orang
yang arif," mampu memandang
rahasia Tuhan yang terbentang
melalu qudrat-Nya. Tokoh dari
segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang secara tegas di
dalam ayat ini
dinyatakan "diutus untuk menjadi syahid (saksi)."
Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.
Dari penelusuran
terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Nabi
Muhammad Saw. telah diseru oleh Allah dengan
nama-nama mereka; Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa..., dan
sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt. sering memanggilnya
dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar
Rasul..., atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra,
seperti Ya ayyuhal muddatstsir, atau ya ayyuhal
muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau pun ada
ayat yang menyebut namanya, nama
tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan.
Perhatikan firman-Nya dalam
surat Ali-'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan
Al-Shaff (61): 6.
Dalam konteks ini dapat dimengerti
mengapa Al-Quran berpesan kepada kaum mukmin.
"Janganlah kamu
menjadikan panggilan kepada Rasul
di antara kamu, seperti panggilan sebagian
kamu kepada sebagian
yang lain... (QS Al-Nur [24]: 63).
Sikap Allah kepada
Rasul Saw. dapat
juga dilihat dengan membandingkan
sikap-Nya terhadap Musa a.s.
Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya kelapangan dada,
serta memohon agar Allah
memudahkan segala persoalannya.
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan
mudahkanlah untukku urusanku (QS
Thaha [20]: 25-26).
Sedangkan Nabi
Muhammad Saw. memperoleh anugerah
kelapangan dada tanpa mengajukan permohonan.
Perhatikan firman Allah dalam
surat Alam Nasyrah,
Bukankah Kami telah melapangkan
dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).
Dapat diambil kesimpulan bahwa
yang diberi tanpa
bermohon tentunya lebih dicintai
daripada yang bermohon,
baik permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.
Permohonan Nabi Musa a.s.
adalah agar urusannya
dipermudah, sedangkan Nabi Muhammad
Saw. bukan sekadar
urusan yang dimudahkan Tuhan,
melainkan beliau sendiri yang
dianugerahi kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang
dihadapi -dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu menyelesaikannya.
Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi
Muhammad dalam surat Al-A'la (87): 8:
"Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
Mungkin saja urusan telah
mudah, namun seseorang, karena satu
dan lain
sebab-tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang bersangkutan
telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan tetap akan terselesaikan.
Keistimewaan yang dimiliki
beliau tidak berhenti di sana saja. Juga dengan
keistimewaan kedua, yaitu
"jalan yang beliau tempuh
selalu dimudahkan Tuhan"
sebagaimana tersurat dalam firman Allah, "Dan Kami mudahkan kamu
ke jalan
yang mudah."
(QS Al-A'la [87]: 8).
Dari sini
jelas bahwa apa yang diperoleh
oleh Nabi Muhammad Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa a.s.,
karena beliau tanpa bermohon
pun memperoleh kemudahan
berganda, sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh anugerah
"kemudahan urusan" setelah mengajukan permohonannya.
Itu bukan
berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh Allah,
sehingga beliau tidak akan ditegur apabila
melakukan sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.
Dari Al-Quran
ditemukan sekian banyak
teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah
lembut
Perhatikan teguran firman
Allah ketika beliau
memberi izin kepada beberapa
orang munafik untuk tidak ikut berperang.
"Allah telah
memaafkan kamu. Mengapa
engkau mengizinkan mereka? (Seharusnya
izin itu engkau berikan) setelah
terbukti bagimu siapa yang
berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar (QS
Al-Tawbah [9]: 43)
Dalam ayat tersebut Allah
mendahulukan penegasan bahwa beliau
telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya." Teguran
keras baru akan
diberikan kepada beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa
beliau mengetahui secara pasti orang
yang diampuni Allah, dan yang
akan disiksa-Nya, maupun ketika
beliau merasa dapat
menetapkan siapa yang
berhak disiksa.
"Engkau tidak
mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat
mereka atau menyiksa mereka (QS Ali 'Imran [3]: 128).
Perhatikan teguran
Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2
kepada Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani orang
buta yang datang meminta
untuk belajar pada
saat Nabi Saw. sedang melakukan pembicaraan
dengan tokoh-tokoh kaum
musyrik di
Makkah
"Dia
(Muhammad) bermuka masam
dan berpaling, karena telah
datang seorang buta kepadanya..."
Teguran ini dikemukakan dengan rangkaian
sepuluh ayat, dan diakhiri dengan:
"Sekali-kali
jangan (demikian). Sesungguhnya
ajaran-ajaran
Allah adalah suatu peringatan" (QS 'Abasa [80]: 11).
Nabi berpaling dan sekadar
bermuka masam ketika
seseorang mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat;
hakikatnya dapat dinilai sudah
sangat baik bila
dikerjakan oleh manusia biasa.
Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia pilihan, sikap dernikian itu dinilai
kurang tepat, yang dalam istilah
Al-Quran disebut zanb (dosa).
Dalam hal ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat
al-abrar, sayyiat al-muqarrabin, yang berarti "kebajikan-kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang baik, (dapat dinilai
sebagai) dosa
(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada
Tuhan."
--oo0oo--
Disadari sepenuhnya bahwa
uraian tentang Nabi Muhammad
Saw. amat panjang, yang
dapat diperoleh secara tersirat maupun tersurat dalam
Al-Quran, maupun dari
sunnah, riwayat, dan pandangan para pakar. Tidak mungkin
seseorang dapat menjangkau dan
menguraikan seluruhnya, karena
itu sungguh tepat kesimpulan yang diberikan oleh penyair
Al-Bushiri,
"Batas
pengetahuan tentang beliau, hanya
bahwa beliau adalah seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik
makhluk
Allah seluruhnya."
Allahumma shalli wa sallim
'alaih. []
TAKDIR
Ketika Mu'awiyah ibn Abi
Sufyan menggantikan Khalifah
IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang
sahabat Nabi, Al-Mughirah ibn Syu'bah
menanyakan, "Apakah doa yang
dibaca Nabi setiap selesai shalat?" Ia
memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah,
"Tiada Tuhan selain Allah,
tiada sekutu bagi-Nya.
Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak
juga ada yang mampu memberi apa yang
Engkau halangi, tidak berguna
upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari).
Doa ini dipopulerkannya
untuk memberi kesan
bahwa segala sesuatu telah
ditentukan Allah, dan
tiada usaha manusia sedikit pun. Kebijakan mempopulerkan doa ini, dinilai
oleh banyak pakar sebagai
"bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti
Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka,
sebagai kehendak Allah. Begitu
tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam
Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam (hlm- 203).
Tentu saja, pandangan
tersebut tidak diterima
oleh kebanyakan ulama. Ada yang
demikian menggebu menolaknya sehingga secara sadar atau tidak
-mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir). Manusia
bebas melakukan apa saja,
bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia
kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia
tidak memiliki kebebasan
itu? Bukankah Allah sendiri
menegaskan,
"Siapa yang hendak
beriman silakan beriman,
siapa yang hendak kufur silakan juga
kufur" (QS Al-Kahf [18]: 29).
Masing-masing
bertanggung jawab pada
perbuatannya sendiri-sendiri.
Namun demikian, pandangan
ini juga disanggah. Ini
mengurangi kebesaran dan kekuasaan Allah.
Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah
"Allah menciptakan kamu
dan apa yang
kamu lakukan" (QS
Al-Shaffat [37]: 96).
Tidakkah ayat
ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian mereka
berargumentasi. Selanjutnya
bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
"Apa yang
kamu kehendaki, (tidak
dapatterlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua" (QS Al-Insan [76]:
30).
Demikian sedikit dari
banyak perdebatan yang
tak kunjung habis di
antara para teolog.
Masing-masing menjadikan Al-Quran
sebagai pegangannya, seperti
banyak orang yang mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri
tidak mengenal mereka.
Kemudian didukung
oleh penguasa yang ingin
mempertahankan kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam
berbagai bidang, meluaslah paham takdir
dalam arti kedua di atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya
Yang jelas, Nabi dan sahabat-sahabat utama
beliau, tidak pernah mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan
oleh para teolog itu. Mereka sepenuhnya
yakin tentang takdir
Allah yang menyentuh semua
makhluk termasuk manusia,
tetapi sedikit pun keyakinan
ini tidak menghalangi
mereka menyingsingkan
lengan baju, berjuang,
dan kalau kalah sedikit pun mereka tidak menimpakan
kesalahan kepada Allah. Sikap Nabi
dan para sahabat tersebut lahir,
karena mereka tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat demi ayat,
atau sepotong-sepotong terlepas
dari konteksnya, tetapi
memahaminya secara utuh, sebagaimana
diajarkan oleh
Rasulullah Saw.
Takdir dalam Bahasa Al-Quran
Kata takdir (taqdir) terambil
dan kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti
mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata,
"Allah telah menakdirkan demikian," maka
itu berarti, "Allah
telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau
kemampuan maksimal makhluk-Nya."
Dari sekian
banyak ayat Al-Quran
dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh
Allah. Mereka tidak dapat melampaui
batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka arah yang
seharusnya mereka tuju. Begitu
dipahami antara lain dari
ayat-ayat permulaan Surat
Al-A'la (Sabihisma),
"Sucikanlah nama Tuhanmu
Yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua mahluk)
dan menyempurnakannya, yang
memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3).
Karena itu ditegaskannya bahwa:
"Dan matahari beredar di
tempat peredarannya Demikian itulah takdir
yang ditentukan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi
Maha Mengetahui" (QS Ya Sin [36]: 38).
Demikian pula bulan, seperti
firman-Nya sesudah ayat
di atas:
"Dan telah
Kami takdirkan/tetapkan bagi
bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang
terakhir) kembalilah dia
sebagai bentuk tandan yang tua" (QS Ya Sin [36]: 39)
Bahkan segala
sesuatu ada takdir
atau ketetapan Tuhan atasnya,
"Dia (Allah)
Yang menciptakan segala
sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya
qadar (ketetapan) dengan sesempurna-sempurnanya" (QS
Al-Furqan [25]: 2).
"Dan tidak
ada sesuatu pun
kecuali pada sisi
Kamilah khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak menurunkannya
kecuali dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21).
Makhluk-Nya yang
kecil dan remeh
pun diberi-Nya takdir. Lanjutan
ayat Sabihisma yang
dikutip di atas
menyebut contoh, yakni rerumputan.
"Dia
Allah yang menjadikan
rumput-rumputan, lalu
dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman" (QS
Sabihisma [87]: 4-53)
Mengapa rerumputan
itu tumbuh subur, dan mengapa pula ia layu dan kering.
Berapa kadar kesuburan dan kekeringannya, kesemuanya telah
ditetapkan oleh Allah
Swt., melalui hukum-hukum-Nya
yang berlaku pada alam raya ini. Ini berarti jika Anda
ingin melihat rumput
subur menghijau, maka siramilah ia,
dan bila Anda
membiarkannya tanpa
pemeliharaan, diterpa panas matahari
yang terik, maka pasti ia akan mati
kering kehitam-hitaman atau
ghutsan ahwa seperti bunyi ayat
di atas. Demikian takdir Allah menjangkau seluruh makhluk-Nya. Walhasil,
"Allah telah menetapkan bagi segala sesuatu
kadarnya" (QS
Al-Thalaq [65]: 3)
Peristiwa-peristiwa
yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau
ukuran tertentu, pada tempat dan
waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada
sesuatu yang terjadi tanpa takdir,
termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut
berada dalam pengetahuan dan
ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam
istilah sunnatullah, atau
yang sering
secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam."
Penulis tidak sepenuhnya
cenderung mempersamakan sunnatullah dengan
takdir. Karena sunnatullah
yang digunakan oleh Al-Quran adalah untuk hukum-hukum Tuhan
yang pasti berlaku bagi
masyarakat, sedang takdir
mencakup hukum-hukum
kemasyarakatan dan hukum-hukum
alam. Dalam Al-Quran "sunnatullah" terulang
sebanyak delapan kali,
"sunnatina" sekali, "sunnatul awwalin" terulang tiga
kali; kesemuanya mengacu kepada
hukum-hukum Tuhan yang
berlaku pada masyarakat. Baca
misalnya QS Al-Ahzab (33):
38, 62 atau
Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain.
Matahari, bulan, dan
seluruh jagat raya telah
ditetapkan
oleh Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar,
"Datanglah (hai langit dan
bumi) menurut perintah-Ku, suka atau
tidak suka!" Keduanya
berkata, "Kami datang dengar
penuh ketaatan."
Demikian surat Fushshilat
(41) ayat 11
melukiskan
"keniscayaan takdir dan
ketiadaan pilihan bagi jagat raya."
Apakah demikian
juga yang berlaku bagi manusia?
Tampaknya tidak sepenuhnya sama.
Manusia mempunyai kemampuan
terbatas sesuai dengan
ukuran yang diberikan oleh Allah
kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu
ukuran atau batas kemampuan yang
dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya, kecuali
jika ia menggunakan
akalnya untuk menciptakan satu
alat, namun akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu
dilampaui. Di sisi
lain, manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala
yang kita lakukan pun tidak terlepas
dari hukum-hukum yang
telah mempunyai kadar dan
ukuran tertentu. Hanya
saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan
memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka kita dapat
memilih yang mana
di antara takdir
yang ditetapkan Tuhan terhadap
alam yang kita
pilih. Api ditetapkan Tuhan panas
dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan
atau dingin; itu
takdir Tuhan -manusia boleh memilih api yang membakar atau
angin yang sejuk. Di sinilah
pentingnya pengetahuan dan
perlunya ilham atau petunjuk
Ilahi. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:
"Wahai Allah, jangan
engkau biarkan aku
sendiri (dengan
pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."
Ketika di
Syam (Syria, Palestina, dan
sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khaththab
yang ketika itu bermaksud
berkunjung ke sana
membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya:
"Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?"
Umar r.a. menjawab,
"Saya lari/menghindar
dan takdir Tuhan
kepada takdir-Nya yang
lain."
Demikian juga ketika Imam Ali
r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau
pindah ke tempat lain.
Beberapa orang di
sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn
Thalib, sama intinya dengan jawaban
Khalifah Umar r.a.
Rubuhnya tembok, berjangkitnya
penyakit adalah berdasarkan
hukum-hukum yang telah
ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya.
Akibat yang menimpanya
itu juga adalah takdir,
tetapi bila ia
menghindar dan luput dari marabahaya
maka itu pun
takdir. Bukankah Tuhan
telah menganugerahkan
manusia kemampuan memilah
dan memilih?
Kemampuan ini pun
antara lain merupakan
ketetapan atau takdir yang
dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir,
yang baik maupun
buruk. Tidak bijaksana jika
hanya yang merugikan
saja yang disebut takdir, karena
yang positif pun
takdir. Yang demikian merupakan sikap 'tidak menyucikan Allah, serta
bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,'
"... dan kamu
harus percaya kepada takdir-Nya
yang baik maupun
yang buruk." Dengan
demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa
depannya
sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi
Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman?
Perlu digarisbawahi bahwa dari sudut pandang studi Al-Quran,
kewajiban mempercayai adanya
takdir tidak secara otomatis menyatakannya sebagai satu di antara rukun
iman yang enam. Al-Quran tidak
menggunakan istilah "rukun" untuk takdir, bahkan tidak
juga Nabi Saw.
dalam hadis-hadis beliau. Memang, dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh banyak pakar hadis,
melalui sahabat Nabi Umar
ibn Al-Khaththab, dinyatakan bahwa
suatu ketika datang
seseorang yang berpakaian
sangat putih, berambut
hitam teratur, tetapi tidak
tampak pada penampilannya bahwa ia seorang pendatang, namun,
"tidak seorang pun
di antara kami
mengenalnya." Demikian Umar
r.a. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan saat kiamat serta
tanda-tandanya. Nabi menjawab antara lain dengan menyebut enam perkara
iman, yakni percaya kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul- rasulNya, hari kemudian, dan "percaya tentang takdir-Nya yang baik dan yang
buruk." Setelah sang penanya pergi, Nabi
menjelaskan bahwa,
"Dia itu Jibril, datang
untuk mengajar kamu, agama kamu."
Dari hadis ini,
banyak ulama merumuskan enam rukun Iman tersebut.
Seperti dikemukan di atas, Al-Quran tidak menggunakan
kata rukun, bahkan Al-Quran
tidak pernah menyebut kata takdir
dalam satu rangkaian ayat yang
berbicara tentang kelima perkara lain
di atas. Perhatikan
firman-Nya dalam surat
Al-Baqarah (2): 285,
"Rasul percaya tentang apa
yang diturunkan kepadanya
dari Tuhannya, demikian juga orang-orang Mukmin. Semuanya percaya kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian."
Dalam QS Al-Nisa' (4): 136 disebutkan:
"Wahai
orang-orang yang beriman,
(tetaplah) percaya kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan kepada
kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya,
dan kitab yang
disusunkan sebelum (Al-Quran). Barangsiapa yang tidak percaya
kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan
hari kemudiam, maka
sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya."
Bahwa kedua ayat di atas tidak
menyebutkan perkara takdir, bukan
berarti bahwa takdir tidak wajib dipercayai. Tidak!
Yang ingin dikemukakan
ialah bahwa Al-Quran
tidak menyebutnya sebagai rukun, tidak pula merangkaikannya dengan
kelima perkara lain yang disebut dalam hadis Jibril di atas. Karena itu, agaknya dapat dimengerti ketika
sementara ulama tidak menjadikan
takdir sebagai salah
satu rukun iman, bahkan dapat dimengerti jika sementara
mereka hanya menyebut tiga hal pokok, yaitu keimanan kepada Allah, malaikat,
dan hari kemudian. Bagi penganut pendapat ini, keimanan kepada
malaikat mencakup keimanan tentang apa yang mereka sampaikan (wahyu Ilahi), dan
kepada siapa disampaikan, yakni para Nabi dan Rasul.
Bahkan jika
kita memperhatikan beberapa
hadis Nabi, seringkali beliau hanya menyebut dua perkara, yaitu
percaya kepada Allah dan hari kemudian.
"Siapa yang percaya kepada Allah dan
hari kemudian, maka hendaklah ia
menghormati tamunya. Siapa yangpercaya kepada Allah dan hari kemudian,
maka hendaklah ia menyambung tali kerabatnya. Siapa
yang percaya kepada
Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata
benar atau diam."
Demikian salah satu sabdanya
yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim melalui Abu Hurairah.
Al-Quran juga
tidak jarang hanya
menyebut dua di antara hal-hal yang wajib dipercayai.
Perhatikan misalnya surat
Al-Baqarah (2): 62,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi,
Nasrani, Shabiin (orang-orang yang
mengikuti syariat Nabi zaman
dahulu, atau orang-orang yang
menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara
mereka yang benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan
menerima ganjaran mereka
di sisi Tuhan mereka,
tidak ada rasa
takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih."
Ayat ini tidak
berarti bahwa yang
dituntut dari semua kelompok yang disebut di atas hanyalah
iman kepada Allah dan hari kemudian, tetapi bersama keduanya adalah
iman kepada Rasul, kitab
suci, malaikat, dan
takdir. Bahkan ayat tersebut dan semacamnya hanya menyebut
dua hal pokok, tetapi tetap
menuntut keimanan menyangkut
segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.,
baik dalam enam
perkara yang disebut oleh
hadis Jibril di
atas, maupun perkara lainnya yang tidak disebutkan.
Demikianlah pengertian takdir dalam bahasa
dan penggunaan
Al-Quran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar