Selasa, 01 April 2014

WAWASAN AL-QURANUL KARIM



SAHABATKU BUKU WAWASAN AL-QURANUL SAYA KUTIK PARA AHLI TAFSIR YANG TERKENAL PADA MASA INI.
 
WAWASAN AL-QURANUL KARIM


0
L
E
H

MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd







BAB I Pokok-pokok Keimanan
       Al-Qur'an:. Mengulas secara singkat mengenai Al-Qur'an.              3
       Tuhan: Mengulas secara singkat mengenai Tuhan menurut Al-Qur'an.      14 
       Nabi Muhammad saw.: ………………………………………………      41
       Takdir: ………………………………………………………………..       59
       Kematian: …………………………………………………………….       68
       Hari Akhirat: ………………………………………………………….      81
       Keadilan dan Kesejahteraan:………………………………………….       111 
BAB II Kebutuhan Pokok Manusia dan Soal-soal Muamalah
       Makanan: ……………………………………………………………..       134
       Pakaian: ………………………………………………………………       152
       Kesehatan: ……………………………………………………………       179
       Pernikahan: …………………………………………………………..        189
       Syukur: ………………………………………………………………        213
       Halal Bihalal: ………………………………………………………..         235
       Akhlak: ………………………………………………………………   252
             
BAB III Manusia dan Masyarakat
       Manusia: ……………………………………………………………..        273
       Perempuan: ………………………………………………………….         293
       Masyarakat ………………………………………………………….         318
       Umat ………………………………………………………………...         323    Kebangsaan: …………………………………………………………      328    Ahl Al-Kitab: ………………………………………………………          346 BAB IV Aspek-aspek Kegiatan Manusia
       Agama ………………………………………………………………… 366
       Seni: …………………………………………………………………..       376
       Ekonomi: ……………………………………………………………..       394
       Politik: ………………………………………………………………..       409
       Ilmu dan Teknologi: …………………………………………………        425
       Kemiskinan ………………………………………………………….         441
       Masjid ………………………………………………………………..        452
BAB V Soal-soal Penting Umat
       Musyawarah: ………………………………………………………….      459
       Ukhuwah: …………………………………………………………….       477
       Jihad: …………………………………………………………………       492
       Puasa: …………………………………………………………………      512
       Lailatul Qadar ………………………………………………………… 537 Waktu: ………………………………………………………………… 549














BAB  I
POKOK – POKOK KEIMANAN

A. AL-QUR’AN

Al-Quran  yang  secara  harfiah  berarti  "bacaan  yang sempurna" merupakan  suatu  nama  pilihan  Allah  yang  sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak  manusia  mengenal  tulis baca  lima  ribu tahun  yang  lalu  yang  dapat  menandingi Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu.
 
Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca oleh ratusan  juta orang  yang  tidak  mengerti  artinya  dan  atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal  huruf  demi  huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak.
 
Tiada   bacaan   melebihi   Al-Quran  dalam  perhatian  yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi  ayat,  baik  dari segi masa, musim, dan saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.

Tiada bacaan seperti Al-Quran yang  dipelajari  bukan  hanya susunan  redaksi  dan  pemilihan  kosakatanya,  tetapi  juga kandungannya yang tersurat, tersirat  bahkan  sampai  kepada kesan  yang  ditimbulkannya.  Semua  dituangkan dalam jutaan jilid  buku,  generasi  demi  generasi.  Kemudian  apa  yang dituangkan   dari   sumber   yang  tak  pernah  kering  itu, berbeda-beda   sesuai   dengan   perbedaan   kemampuan   dan kecenderungan  mereka,  namun  semua  mengandung  kebenaran.  Al-Quran layaknya sebuah  permata  yang  memancarkan  cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
 
Tiada   bacaan   seperti   Al-Quran   yang  diatur  tatacara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan,  dipertebal atau  diperhalus  ucapannya,  di mana tempat yang terlarang, atau boleh, atau harus memulai dan berhenti,  bahkan  diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.
 
Tiada  bacaan  sebanyak  kosakata  Al-Quran  yang  berjumlah 77.439 (tujuh  puluh  tujuh  ribu  empat  ratus  tiga  puluh sembilan)  kata, dengan jumlah huruf 323.015 (tiga ratus dua puluh tiga ribu  lima  belas)  huruf  yang  seimbang  jumlah kata-katanya,  baik  antara  kata  dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya.
 
Sebagai contoh  -sekali  lagi  sebagai  contoh-  kata  hayat terulang  sebanyak  antonimnya maut, masing-masing 145 kali; akhirat terulang 115  kali  sebanyak  kata  dunia;  malaikat terulang   88   kali   sebanyak   kata    setan;  thuma'ninah  (ketenangan)  terulang   13   kali   sebanyak   kata   dhijg (kecemasan); panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin.
 
Kata  infaq  terulang  sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan) masing-masing  73  kali;  kikir  sama dengan  akibatnya  yaitu  penyesalan  masing-masing 12 kali; zakat  sama  dengan   berkat   yakni   kebajikan   melimpah, masing-masing   32  kali.  Masih  amat  banyak  keseimbangan lainnya, seperti kata yaum  (hari)  terulang  sebanyak  365, sejumlah   hari-hari   dalam  setahun,  kata  syahr  (bulan) terulang 12 kali juga sejumlah  bulan-bulan  dalam  setahun.

Demikian
 
"Allah menurunkan kitab Al-Quran dengan penuh kebenaran dan keseimbangan (QS Al-Syura [42]: 17)."

Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk  seperti  itu?  Al-Quran menantang:
 
"Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya walaupun mereka bekerja sama" (QS Al-Isra,[17]: 88).


Orientalis H.A.R. Gibb  pernah  menulis  bahwa:  "Tidak  ada seorang   pun  dalam  seribu  lima  ratus  tahun  ini  telah memainkan 'alat' bernada nyaring  yang  demikian  mampu  dan berani,  dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran)."  Demikian  terpadu dalam    Al-Quran    keindahan   bahasa,   ketelitian,   dan keseimbangannya, dengan  kedalaman  makna,   kekayaan   dan kebenarannya,  serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya.
 
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).
 
Mengapa iqra,  merupakan  perintah  pertama  yang  ditujukan kepada  Nabi, padahal beliau seorang ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis)? Mengapa demikian?
 
Iqra' terambil dari akar  kata  yang  berarti  "menghimpun," sehingga tidak selalu harus diartikan "membaca teks tertulis dengan aksara tertentu."
 
Dari  "menghimpun"  lahir   aneka   ragam   makna,   seperti menyampaikan,  menelaah, mendalami, meneliti mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.
 
Iqra' (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca?  "Ma  aqra'?" tanya  Nabi  -dalam  suatu riwayat- setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s.
 
Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki  agar beliau  dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut Bismi Rabbik; dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.
 
Iqra'  berarti  bacalah,  telitilah,  dalamilah,  ketahuilah ciri-ciri  sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang  tertulis  dan  tidak  tertulis. Alhasil  objek  perintah  iqra' mencakup segala sesuatu yang  dapat dijangkaunya.
 
Demikian terpadu dalam perintah ini segala macam  cara  yang dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya.
 
Pengulangan  perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak  diperoleh kecuali  mengulang-ulangi  bacaan,  atau  membaca  hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal  kemampuan,  tetapi juga  untuk  mengisyaratkan  bahwa  mengulang-ulangi  bacaan Bismi  Rabbika  (demi  karena   Allah)   akan   menghasilkan pengetahuan  dan  wawasan  baru walaupun yang dibaca itu-itu juga.
 
Mengulang-ulang membaca ayat Al-Quran menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin.  Berulang-ulang  "membaca"  alam  raya, membuka   tabir  rahasianya  dan  memperluas  wawasan  serta menambah kesejahteraan lahir. Ayat Al-Quran yang  kita  baca dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang dibaca Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian, namun   pemahaman,   penemuan  rahasianya,  serta  limpahan kesejahteraan-Nya terus berkembang, dan  itulah  pesan  yang dikandung   dalam  Iqra'  wa  Rabbukal  akram  (Bacalah  dan Tuhanmulah  yang  paling  Pemurah).  Atas   kemurahan-Nyalah kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai.
 
Sungguh,  perintah  membaca  merupakan  sesuatu  yang paling berharga  yang  pernah  dan  dapat  diberikan  kepada   umat manusia.   "Membaca"  dalam  aneka  maknanya  adalah  syarat pertama dan utama pengembangan  ilmu  dan  teknologi,  serta syarat  utama  membangun  peradaban.  Semua  peradaban  yang berhasil bertahan  lama,  justru  dimulai  dari  satu  kitab (bacaan). Peradaban Yunani di mulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir  dengan  hadirnya Kitab  Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton  (1641-1727)  dan  berakhir  dengan  filsafat   Hegel (1770-1831).   Peradaban   Islam   lahir   dengan  kehadiran Al-Quran. Astaghfirullah menunjuk masa akhirnya, karena kita yakin  bahwa ia tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, selama umatnya ikut bersama Allah memeliharanya
  
"Sesungguhnya Kami (Allah bersama Jibril yang diperintahNya)
menurunkan Al-Quran, dan Kami (yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang memeliharanya"  (QS Al-Hijr [15]: 9).
 
Pengetahuan  dan  peradaban  yang  dirancang  oleh  Al-Quran adalah  pengetahuan  terpadu  yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya. Wahyu pertama AlQuran  menjelaskan  dua cara perolehan dan pengembangan ilmu. Berikut keterangannya.
 
Setiap  pengetahuan  memiliki  subjek dan objek. Secara umum subjek  dituntut  berperan  guna   memahami   objek.   Namun pengalaman   ilmiah   menunjukkan   bahwa   objek  terkadang memperkenalkan  dirinya  kepada  subjek  tanpa  usaha   sang subjek.  Komet  Halley,  memasuki  cakrawala,  hanya sejenak setiap 76 tahun. Dalam kasus  ini,  walaupun  para  astronom menyiapkan   diri   dan  alatalatnya  untuk  mengamati  dan mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang lebih berperan  adalah kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan diri.
 
Wahyu,  ilham,  intuisi, atau firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya  atau  apa  yang  diduga  sebagai "kebetulan" yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, kesemuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan  dengan  kasus komet di atas. Itulah pengajaran tanpa qalam yang ditegaskan wahyu pertama ini.

"Allah mengajar dengan pena (apa yang telah diketahui manusia sebelumnya), dan mengajar manusia (tanpa pena)  apa yang belum ia ketahui" (QS Al-'Alaq [96]: 4-5)

Sekali lagi terlihat betapa Al-Quran  sejak  dini  memadukan usaha  dan  pertolongan  Allah,  akal dan  kalbu, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa  kalbu  menjadikan  manusia seperti  robot, pikir tanpa zikir menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita  di  tangan  bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri.
 
Al-Quran    sebagai    kitab    terpadu,   menghadapi,   dan memperlakukan   peserta   didiknya dengan    memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya.
 
Ketika  Musa  a.s.  menerima  wahyu  Ilahi,  yang menjadikan beliau tenggelam dalam situasi spiritual, Allah menyentaknya dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi material:
 
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?" (QS Thaha [20]: 17).

Musa sadar sambil menjawab,
 
"Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan memukul (daun) dengannya untuk kambingku, disampingkeperluan-keperluan lain" (QS Thaha [20]: 18).

Di sisi lain, agar peserta didiknya tidak larut  dalam  alam material,  Al-Quran  menggunakan  benda-benda  alam, sebagai tali penghubung untuk mengingatkan  manusia  akan  kehadiran Allah  Swt.  dan  bahwa segala sesuatu yang teriadi –sekecil apa  pun-  adalah  di  bawah  kekuasaan,  pengetahuan,   dan pengaturan Tuhan Yang Mahakuasa.
 
"Tidak sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia  mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak juga sesuatu yang basah atau  kering kecuali tertulis dalam Kitab yang nyata (dalam jangkauan pengetahuannya)" (QS Al-An'am [6]: 59).

"Bukan kamu yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah-lah (yang menganugerahkan kemampuan sehingga) kamu mampu melempar" (QS Al-
Anfal [8]: 17).

Sungguh, ayat-ayat Al-Quran merupakan serat  yang  membentuk tenunan  kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran  berbicara tentang  satu  persoalan  menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya  akan menemukan  keserasian  hubungan  yang amat mengagumkan, sama dengan  keserasian  hubungan  yang  memadukan  gejolak   dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi atau aspek yang tadinya terkesan  kacau,  menjadi  terangkai dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya.
 
Salah satu tujuan  Al-Quran  memilih  sistematika  demikian, adalah  untuk mengingatkan manusia -khususnya kaum Muslimin- bahwa ajaran-ajaran Al-Quran adalah  satu  kesatuan  terpadu yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Keharaman  makanan  tertentu  seperti babi, ancaman terhadap yang enggan menyebarluaskan pengetahuan, anjuran bersedekah, kewajiban  menegakkan  hukum, wasiat sebelum mati, kewajiban puasa, hubungan  suami-istri,  dikemukakan  AlQuran  secara berurut   dalam   belasan  ayat  surat  Al-Baqarah.  Mengapa demikian? Mengapa  terkesan  acak?  Jawabannya  antara  lain adalah,  "Al-Quran  menghendaki  agar  umatnya  melaksanakan ajarannya secara terpadu." Tidakkah  babi  lebih  dianjurkan untuk  dihindari  daripada  keengganan menyebarluaskan ilmu. Bersedekah tidak  pula  lebih  penting  daripada  menegakkan hukum  dan  keadilan.  Wasiat sebelum mati dan menunaikannya tidak kalah dari  berpuasa  di  bulan  Ramadhan.  Puasa  dan ibadah  lainnya  tidak  boleh menjadikan seseorang lupa pada kebutuhan jasmaniahnya, walaupun itu  adalah  hubungan  seks antara    suami-istri.    
Demikian    terlihat   keterpaduan ajaran-ajarannya.
 
Al-Quran  menempuh  berbagai  cara  guna  mengantar  manusia kepada   kesempurnaan   kemanusiaannya  antara  lain  dengan mengemukakan  kisah  faktual  atau  simbolik.   Kitab   Suci Al-Quran  tidak  segan  mengisahkan  "kelemahan  manusiawi," namun itu digambarkannya dengan  kalimat  indah  lagi  sopan tanpa  mengundang  tepuk  tangan, atau membangkitkan potensi negatif, tetapi untuk menggarisbawahi akibat buruk kelemahan itu,  atau  menggambarkan  saat kesadaran manusia menghadapi godaan nafsu dan setan.
 
Ketika Qarun  yang  kaya  raya  memamerkan  kekayaannya  dan merasa  bahwa  kekayaannya  itu adalah hasil pengetahuan dan jerih payahnya, dan setelah  enggan  berkali-kali  mendengar nasihat,  terjadilah  bencana longsor sehingga seperti bunyi firman Allah:
 
"Maka Kami benamkan dia dan hartanya ke dalam bumi"(QS Al-Qashash [28]:
81).

Dan berkatalah orang-orang yang kemarin mendambakan kedudukan Qarun,
"Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki  dari  hamba - hamba-Nya dan mempersempitkannya. Kalau Allah tidak
melimpahkan karuniaNya atas kita, niscaya kita pun dibenamkannya. Aduhai
benarlah tidak beruntung orang-orang yang kikir (QS Al-Qashash [28]: 82).

Dalam konteks  menggambarkan  kelemahan  manusia,  Al-Quran, bahkan    mengemukakan    situasi,   langkah   konkret   dan kalimat-kalimat rayuan seorang wanita bersuami yang  dimabuk cinta   oleh   kegagahan  seorang  pemuda  yang  tinggal  di rumahnya,
  
Maksudnya,
 
"(Setelah berulang-ulang kali merayu dengan berbagai cara terselubung).
Ditutupnya semua pintu dengan amat rapat, seraya berkata (sambil menyerahkan dirinya kepada kekasihnya-setelah berdandan), "Ayolah kemari  lakukan itu!" (QS Yusuf [12]: 23).

Demikian,  tetapi  itu  sama  sekali  berbeda  dengan   ulah sementara  seniman,  yang  memancing  nafsu  dan  merangsang berahi. Al-Quran  menggambarkannya  sebagai  satu  kenyataan dalam  diri  manusia  yang tidak harus ditutup-tutupi tetapi tidak  juga  dibuka   lebar,   selebar   apa   yang   sering dipertontonkan, di layar lebar atau kaca.
 
Al-Quran  kemudian menguraikan sikap dan jawaban Nabi Yusuf, anak muda yang dirayu wanita itu, juga  dengan  tiga  alasan penolakan, seimbang dengan tiga cara rayuannya,
 
Yang pertama dan kedua adalah,
 
"Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya suamimu adalah tuanku, yang memperlakukan aku dengan baik" (QS Yusuf [12]: 23).

Yang ketiga, khawatir kedua alasan itu belum cukup.
 
"Dan sesungguhnya tidak pernah dapat berbahagia orang yang berlaku aniaya" (QS Yusuf [12]: 23).

Dalam bidang pendidikan, Al-Quran menuntut  bersatunya  kata dengan  sikap.  Karena  itu,  keteladanan  para pendidik dan tokoh masyarakat merupakan salah satu andalannya.
 
Pada saat Al-Quran mewajibkan anak menghormati  orangtuanya, pada   saat   itu  pula  ia  mewajibkan  orang-tua  mendidik anak-anaknya. Pada saat masyarakat diwajibkan menaati  Rasul dan  para  pemimpin,  pada  saat  yang  sama  Rasul dan para pemimpin diperintahkan menunaikan amanah,  menyayangi  yang dipimpin sambil bermusyawarah dengan mereka.
 
Demikian    Al-Quran    menuntut    keterpaduan   orang-tua, masyarakat, dan pemerintah. Tidak mungkin keberhasilan dapat tercapai  tanpa keterpaduan itu. Tidak mungkin kita berhasil kalau beban pendidikan hanya dipikul oleh satu  pihak,  atau hanya   ditangani   oleh  guru  dan  dosen  tertentu,  tanpa melibatkan seluruh unsur kependidikan.
 
Dua puluh dua  tahun  dua  bulan  dan  dua  puluh  dua  hari lamanya, ayat-ayat Al-Quran silih berganti turun, dan selama itu pula  Nabi  Muhammad  Saw.  dan  para  sahabatnya  tekun mengajarkan Al-Quran, dan membimbing umatnya. Sehingga, pada akhirnya,  mereka  berhasil  membangun  masyarakat  yang  di dalamnya  terpadu  ilmu  dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan ridha dan ampunan Ilahi.
 
Kita dapat bertanya mengapa 20 tahun lebih, baru selesai dan berhasil?  Boleh jadi jawabannya dapat kita simak dari hasil penelitian  seorang  guru  besar  Harvard  University,  yang dilakukannya   pada   40  negara,  untuk  mengetahui  factor kemajuan atau kemunduran negara-negara itu.
 
Salah satu faktor utamanya -menurut sang Guru Besar-  adalah materi  bacaan  dan  sajian yang disuguhkan khususnya kepada generasi muda. Ditemukannya bahwa dua puluh tahun  menjelang kemajuan atau kemunduran negara-negara yang ditelitinya itu, para  generasi  muda  dibekali  dengan  sajian  dan   bacaan tertentu. Setelah dua puluh tahun generasi muda itu berperan dalam  berbagai  aktivitas,  peranan  yang  pada  hakikatnya diarahkan  oleh  kandungan bacaan dan sajian yang disuguhkan itu. Demikian dampak bacaan, terlihat  setelah  berlalu  dua puluh tahun, sama dengan lama turunnya Al-Quran.
 
Kalau  demikian,  jangan  menunggu  dampak  bacaan  terhadap anak-anak kita kecuali 20 tahun kemudian.  Siapa  pun  boleh optimis  atau  pesimis,  tergantung  dari  penilaian tentang bacaan  dan  sajian  itu.  Namun  kalau  melihat  kegairahan anakanak dan remaja membaca Al-Quran, serta kegairahan umat mempelajari kandungannya, maka kita  wajar  optimis,  karena kita  sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Rasul dan generasi terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang  jaya  selama sekitar  delapan  ratus  tahun,  adalah karena Al-Quran yang mereka baca  dan  hayati  mendorong  pengembangan  ilmu  dan teknologi, serta kecerahan pikiran dan kesucian hati.
 
Kita wajar optimis, melihat kesungguhan pemerintah menangani pendidikan, serta tekadnya mencanangkan wajib belajar.
 
Ayat "wa tawashauw bil haq" dalam QS Al-'Ashr [103]: 3 bukan saja   mencanangkan   "wajib  belajar"  tetapi  juga  "wajib mengajar."  Bukankah  tawashauw  berarti  saling   berpesan, saling  mengajar,  sedang al-haq atau kebenaran adalah hasil pencarian  ilmu?  Mencari  kebaikan   menghasilkan   akhlak, mencari  keindahan  menghasilkan seni, dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu. Ketiga  unsur  itulah  yang  menghasilkan sekaligus mewarnai suatu peradaban.
 
Al-Quran  yang  sering kita peringati nuzulnya ini bertujuan antara lain:

1.      Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru sekalian alam, keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu  konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan umat manusia.
 
2.      Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab yakni bahwa umat manusia merupakan suatu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
 
3.      Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar suku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan  supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinisme, kesatuan sosial, politik dan ekonomi, dan kesemuanya berada di bawah satu keesaan, yaitu Keesaan Allah Swt.
 
4.      Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan.
 
5.      Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit, dan penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia, dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan juga agama.
 
6.      Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia
 
7.      Untuk memberi jalan tengah antara falsafah monopoli  kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
 
8.      Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi.
 
Demikian sebagian  tujuan  kehadiran  Al-Quran,  tujuan yang  tepadu  dan  menyeluruh, bukan sekadar mewajibkan pendekatan religius yang bersifat ritual  atau  mistik, yang  dapat  menimbulkan  formalitas  dan  kegersangan. Al-Quran adalah petunjuk-Nya yang bila dipelajari  akan membantu   kita   menemukan   nilainilai   yang  dapat dijadikan pedoman bagi  penyelesaian  berbagai  problem hidup.  Apabila  dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa, dan karsa kita mengarah kepada  realitas keimanan    yang   dibutuhkan   bagi   stabilitas   dan ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat
 
Itulah Al-Quran dengan gaya bahasanya  yang  merangsang akal  dan menyentuh rasa, dapat menggugah kita menerima dan memberi kasih dan keharuan  cinta,  sehingga  dapat mengarahkan  kita  untuk memberi sebagian dari apa yang kita miliki untuk  kepentingan  dan  kemaslahatan  umat manusia. Itulah Al-Quran yang ajarannya telah merupakan kekayaan spiritual bangsa kita, dan yang  telah  tumbuh subur dalam negara kita. 

B.   TUHAN

Kalau kita menengok  ke  belakang,  mempelajari  kepercayaan umat  manusia,  maka yang ditemukan adalah hampir semua umat manusia mempercayai adanya Tuhan yang mengatur alam raya ini. Orang-orang Yunani Kuno menganut paham politeisme (keyakinan banyak tuhan): bintang adalah  tuhan  (dewa),  Venus  adalah (tuhan)   Dewa  Kecantikan,  Mars  adalah  Dewa  Peperangan, Minerva adalah  Dewa  Kekayaan,  sedangkan  Tuhan  tertinggi adalah Apollo atau Dewa Matahari.  Orang-orang  Hindu  -masa lampau juga mempunyai banyak dewa, yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Keyakinan  itu  tercermin antara  lain  dalam  Hikayat  Mahabarata.  Masyarakat Mesir, tidak terkecuali. Mereka meyakini  adanya  Dewa  Iziz,  Dewi Oziris, dan yang tertinggi adalah Ra'. Masyarakat Persia pun demikian, mereka percaya bahwa ada  Tuhan  Gelap  dan  Tuhan Terang. Begitulah seterusnya.
 
Pengaruh  keyakinan  tersebut  merambah  ke masyarakat Arab, walaupun jika mereka ditanya tentang Penguasa  dan  Pencipta langit  dan bumi mereka menjawab, "Allah." Tetapi dalam saat yang sama mereka menyembah juga berhala-berhala Al-Lata, Al- Uzza,  dan  Manata, tiga berhala terbesar mereka, di samping ratusan berhala lainnya.
 
Al-Quran  datang  untuk  meluruskan  keyakinan  itu,  dengan membawa ajaran tauhid. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan wawasan Al-Quran tentang hal tersebut, meskipun harus diakui bahwa   tulisan   ini   tidak   mungkin   dapat   menjangkau keseluruhannya. Dapat  dibayangkan  betapa  luas  pembahasan tentang  Tuhan  Yang  Maha Esa bila akan dirujuk keseluruhan kata yang menunjuk Nya. Kata  
"Allah"  saja  dalam  Al-Quran terulang  sebanyak  2697  kali. Belum lagi kata-
kata semacamWahid, Ahad, Ar-Rab, Al-Ilah, atau  kalmiat  yang  menafikanadanya  sekutu  bagi-Nya  baik dalam perbuatan atau wewenang menetapkan hukum, atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya serta   penegasian   lain   yang  semuanya  mengarah  kepada penjelasan tentang tauhid.
 
I. FITRAH MANUSIA: KEYAKINAN TENTANG KEESAAN ALLAH
 
Kalau kita membuka lembaran-lembaran Al-Quran, hampir  tidak ditemukan  ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan Syaikh Abdul  Halim  Mahmud  dalam  bukunya  Al-Islam  wa   Al-'Aql menegaskan  bahwa,  "Jangankan  Al-Quran,  Kitab Taurat, dan Injil dalam bentuknya yang sekarang pun (Perjanjian Lama dan Baru) tidak menguraikan tentang wujud Tuhan." Ini disebabkan karena wujud-Nya sedemikian  jelas,  dan  "terasa"  sehingga tidak perlu dijelaskan.
 
Al-Quran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap  insan,  dan  bahwa  hal  tersebut  merupakan  fitrah (bawaan)  manusia  sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30): 30.
 
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah  atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah  itu.  Tiada  perubahan  pada  fitrah  Allah. (Itulah)  agama  yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Dalam ayat lain dikemukakan, bahwa:

"Dan  (ingatlah)  ketika  Tuhanmu   mengeluarkan   keturunan anak-anak 
Adam  dari  sulbi  mereka,  dan  Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku  ini  Tuhanmu?'  Mereka  menjawab: 
 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikan'" (QS Al-A'raf [7]: 172).

Apabila Anda duduk termenung  seorang  diri,  pikiran  mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi, terdengarlah  suara  nurani,  yang   mengajak   Anda   untuk berdialog,  mendekat  bahkan  menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha mutlak.
 
Suara itu mengantar Anda  untuk  menyadari  betapa  lemahnya manusia dihadapan-Nya. dan betapa kuasa dan perkasa Dia Yang Mahaagung itu. Suara yang Anda dengarkan itu,  adalah  suara fitrah  manusia.  Setiap  orang  memiliki  fitrah  itu,  dan terbawa serta  olehnya  sejak  kelahiran,  walau  seringkali -karena kesibukan dan dosa-dosa- ia terabaikan, dan suaranya  begitu lemah sehingga  tidak  terdengar  lagi.  Tetapi  bila diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertancap di dalam jiwa, maka  akan  hilanglah  segala  ketergantungan kepada  unsur-unsur  lain kecuali kepada Allah semata, tiada tempat bergantung, tiada tempat  menitipkan  harapan,  tiada tempat  mengabdi  kecuali kepada-Nya. La haula wa la quwwata illa billahi-'Aliyyil-'Azhim (Tiada  daya  untuk  memperoleh manfaat,  tiada  pula  kuasa  untuk menolak mudarat, kecuali bersumber dari Allah Yang Mahatinggi  lagi  Mahaagung).  Dan dengan  demikian  tidak  ada lagi rasa takut yang menghantui atau mencengkeram, tiada pula rasa sedih yang akan mencekam.
 
Sesungguhnya orang-orang  yang  berkata  (berprinsip)  bahwa Tuhan 
Pemelihara  kami adalah Allah, serta istiqamah dengan prinsip  itu,  akan  turun  kepada  mereka  malaikat  (untuk menenangkan  mereka  sambil  berkata)  "Jangan takut, jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan" (QS Fushshilat [41]: 30)

"Orang-orang  yang  beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram karena  mengingat  Allah.  Memang  hanya  dengan   mengingat Allahlah jiwa menjadi tenteram" (QS Al-Ra'd [13]: 28).

Memang  boleh  jadi  ada  saat-saat dalam hidup ini –singkat atau panjang-  dimana  manusia  mengalami  keraguan  tentang wujud-Nya,  bahkan boleh jadi keraguan tersebut mengantarnya untuk   menolak    kehadiran    Tuhan    dan    menanggalkan kepercayaannya,  tetapi  ketika itu keraguannya akan beralih menjadi kegelisahan, khususnya pada saat-saat ia merenung.
 
Di atas telah penulis katakan bahwa hampir  tidak  ditemukan ayat  yang  membicarakan  tentang  wujud  Tuhan. Ini, karena harus diakui bahwa ada beberapa  ayat  Al-Quran  yang  dapat dipahami sebagai berbicara tentang wujud Tuhan, dan ada pula beberapa ayat yang mengisyaratkan adanya segelintir  manusia yang ateis. Misalnya,
 
"Dan  mereka  berkata,  'Kehidupan  ini  tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada  yang  membinasakan  kita selain masa.'"
(QS Al-Jatsiyah [45]: 24)

Namun seperti bunyi lanjutan ayat di atas,
 
"Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."

Bahkan boleh jadi kita dapat berkata bahwa mereka yang tidak mempercayai wujud Tuhan adalah  orang-orang  yang  kehabisan akal   dan   keras  kepala  ketika  berhadapan  dengan  satu kenyataan yang tidak sesuai dengan "nafsu kotornya" itu.
 
Yang demikian dapat  dipahami  dari  ayat  yang  menguraikan diskusi  yang  terjadi antara Nabi Ibrahim a.s. dan penguasa masanya (Namrud) (QS  Al-Baqarah  [2]:  258),  atau  Fir'aun ketika  berhadapan  dengan  Musa  a.s. yang bertanya, "Siapa Tuhan semesta alam itu?" (QS Al-Syu'ara, 126]: 23).
 
Salah satu bukti bahwa pernyataan ini lahir dari sikap keras kepala  adalah  pengakuan
Fir'aun sendiri ketika ruhnya akan meninggalkan   jasadnya.   Dalam   konteks   ini   Al-Quran, menjelaskan  sikap  Fir'aun  yang  ketika itu kembali kepada fitrah, namun sayang dia telah terlambat.
 
"... hingga saat Fir'aun telah hampir tenggelam,  berkatalah dia.  'Saya  percaya  bahwa  tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang  dipercayai  oleh  Bani  Israil,  dan   saya   termasuk orang-orang  yang  berserah  diri  (kepada  Allah).' 
Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka  sejak  dahulu  dan  kamu  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?"
(QS Yunus [10]: 90-91).

Ayat  ini  sekaligus  membuktikan  bahwa   kehadiran   Tuhan merupakan  fitrah manusia yang merupakan kebutuhan hidupnya. Kalaupun  ada  yang   mengingkari   wujud   tersebut,   maka pengingkaran  tersebut  bersifat sementara. Dalam arti bahwa pada akhirnya -sebelum jiwanya berpisah dengan jasadnya-  ia akan     mengakui-Nya.     Memang,     kebutuhan     manusia bertingkat-tingkat, ada yang harus dipenuhi  segera  seperti kebutuhan  udara, ada yang dapat ditangguhkan untuk beberapa saat, seperti kebutuhan minum. Kebutuhan untuk makan,  dapat ditangguhkan  lebih  lama daripada kebutuhan minuman, tetapi kebutuhan pemenuhan seksual  bisa  lebih  lama  ditangguhkan daripada   kebutuhan   pada   makan   dan   minum;  demikian seterusnya. Kebutuhan yang paling  lama  dapat  ditangguhkan adalah  kebutuhan  tentang keyakinan akan adanya Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa.
 
II. TAUHID ADALAH PRINSIP DASAR AGAMA SAMAWI

Merujuk kepada Al-Quran, dapat kita temukan bahwa para  Nabi dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid.

"Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada  Tuhan  selain  Aku, maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).

"Wahai  kaumku,  sembahlah  Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya."

Demikian ucapan Nabi  Nuh,  Hud,  Shaleh  dan  Syu'aib  yang diabadikan AlQuran masing-masing secara berurut dalam surat Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85.
 
Demikian juga ajaran yang diterima Musa a.s. langsung  dari Allah:
 
"Aku  yang  memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang diwahyukan (padamu): 'Sesungguhnya Aku adalah  Allah,  tidak ada  Tuhan  selain Aku.
Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku'" (QS Thaha [20] 13-14)

Nabi Isa a.s. juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya:
 
"Isa  berkata  (kepada  Bani  Israil),  'Hai  Bani   Israil, sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesunguhnya siapa yang mempersekutukan-Nya maka
Allah mengharamkan  baginya  surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orarg yang aniaya." (QS Al-Maidah [5]: 72)

Namun, walaupun semua nabi membawa ajaran  tauhid,  terlihat melalui   ayat-ayat   Al-Quran  bahwa  ada  perbedaan  dalam pemaparan mereka tentang prinsip tauhid. Jelas sekali  bahwa Nabi  Muhammad  Saw.,  melalui Al-Quran diperkaya oleh Allah dengan  aneka  penjelasan  dan  bukti,  serta  jawaban  yang membungkam siapa pun yang mempersekutukan Tuhan
 
Allah  Swt.  menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berpikir umat mereka.  Karena  itu hampir tidak ada buktibukti logis yang dikemukakan oleh Nabi Nuh kepada umatnya, dan pada  akhirnya setelah  mereka  tetap  membangkang,  jatuhlah  sanksi  yang memusnahkan mereka:
 
"Maka  topan  membinasakan   mereka,   dan   mereka   adalah orang-orang aniaya"
(QS Al-'Ankabut [29]: 14).
 
Ketika  tiba  masa Nabi Hud a.s. -yang masanya belum terlalu jauh dari Nuh- pemaparan beliau hampir tidak berbeda, tetapi di  sana  sini  telah  jelas bahwa masyarakat yang diajaknya berdialog, memiliki kemampuan berpikir sedikit di atas  umat Nuh.  Karena  itu, pemaparan tentang tauhid yang dikemukakan oleh   Hud   a.s.   disertai   dengan   peringatan   tentang nikmat-nikmat  Allah  yang  mereka dapatkan. Dalam rangkaian ayat-ayat yang mengingatkan mereka akan keesaan  Allah,  Hud mengingatkan:
 
"Ingatlah  (nikmat  Allah)  oleh  kamu sekalian ketika Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang  berkuasa) sesudah  lenyapnya  kaum  Nuh; dan Tuhan melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada  kaum 
Nuh),  maka  ingatlah nikmat-nikmat  Allah  supaya kamu mendapat keberuntungan (QS Al-A'raf [7]:  69,  dan  juga  dalam  QS  Al-Syu'ara'  [26]:
123-140)

Nabi Shaleh yang datang sesudah Nabi Hud a.s. lebih luas dan rinci penjelasannya, karena wawasan umatnya lebih luas pula. Mereka misalnya diingatkan tentang asal kejadian mereka dari tanah atau tugas mereka memakmurkan bumi (QS Hud [11]: 61).
 
Akal yang mampu mencerna dapat memahami bahwa asal  kejadian manusia  berasal  dari  tanah  dalam arti bahwa sperma yang dituangkan  ke  rahim  istri  berasal  dari   makanan   yang dihasilkan  oleh bumi. Manusia yang memiliki akal yang dapat mencerna ini  atau  walau  hanya  memahaminya  secara  umum, pastilah  lebih  mampu  dari  mereka yang sekadar dipaparkan kepadanya nikmat nikmat Ilahi, sebagaimana halnya  kaum  Hud dan Nuh- Di samping itu ada bukti lain yang dikemukakan Nabi Shaleh:

"Dan kepada Tsamud (Kami mengutus)  saudara  mereka  Shaleh. Dia  berkata,  'Wahai  kaumku  sembahlah  Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-
Nya. Sesungguhnya telah dating bukti  yang  sangat  nyata  kepadamu;  unta betina Allah ini sebagai bukti untuk kamu ...'" (QS Al-A'raf [7]: 73).
 
Ketika tiba masa Syu'aib, ajakan dakwahnya lebih luas  lagi, melampaui batas yang disinggung oleh ketiga Nabi sebelumnya. Kali  ini  ajaran  tauhid  tidak   saja   dikaitkan   dengan bukti-bukti,  tetapi  juga  dirangkaikan  dengan hukum-hukum syariat.

"Dan kepada penduduk Madyan (Kami mengutus)  saudara  mereka Syu'aib.  
Ia   berkata,   'Hai   kaumku,  sembahlah  Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.  Sesungguhnya telah  datang  kepadamu  bukti  yang nyata
dan Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan  timbangan,  dan  janganlah  kamu kurangkan    bagi    manusia   barang-barang   takaran   dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan  di  bumi sesudah  Tuhan  memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu  benar-benar  orang  yang  beriman.'"  (QS Al-A'raf [7]: 85).

Ayat  ini  bahkan  menggugah  jiwa dan menuntut mereka untuk membangun satu masyarakat yang penuh dengan  kemakmuran  dan keadilan.
 
Setelah  itu,  datang  ajakan  Nabi  Ibrahim, yang merupakan periode baru dari tuntunan tentang Ketuhanan Yang Maha  Esa. Nabi  Ibrahim a.s. dikenal sebagai "Bapak Para Nabi," "Bapak Monoteisme,"  serta  "Proklamator  Keadilan  Ilahi"   karena agama-agama  samawi terbesar dewasa ini merujuk kepada agama beliau.
 
Ibrahim a.s.  menemukan  dan  membina  keyakinannya  melalui pencarian    dan   pengalaman-pengalaman   keruhanian   yang dilaluinya dan hal ini -secara Qurani- terbukti  bukan  saja dalam  penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam, sebagaimana diuraikan dalam surat        Al-An'am ayat  75,  tetapi juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan. Menarik untuk diketahui bahwa beliaulah  satusatunya  Nabi  yang  disebut Al-Quran bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan  beliau  itu dikabulkan Allah (QS Al-Baqarah [2]: 260)
 
Para  ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan manusia yang  mempengaruhi  atau  bahkan  mengubah  jalannya sejarah kemanusiaan. Tetapi, seperti ditulis Abbas Al-'Aqqad dalam Abu Al-Anbiyya': "Penemuan yang dikaitkan dengan  Nabi Ibrahim  a.s.  merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan. Ia  tidak  dapat  dibandingkan  dengan  penemuan  roda, api, listrik,  atau  rahasiarahasia  atom  betapapun   besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut- yang semua itu dikuasai oleh manusia.  Penemuan  Ibrahim  menguasai  jiwa  dan  raga manusia.   Penemuan  Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk kepada  alam  menjadi  mampu  menguasai  alam,  serta menilai baik buruknya.  Penemuan manusia dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang,  tetapi  kesewenangan-wenangan  ini tidak  mungkin  dilakukannya  selama  penemuan  Ibrahim a.s. tetap menghiasi jiwanya.  Penemuan tersebut berkaitan dengan apa   yang   diketahui   dan   tidak-diketahuinya  berkaitan kedudukannya  sebagai  makhluk,  dan  hubungan  makhluk  ini dengan Tuhan, alam raya, dan makhluk-makhluk sesamanya."

Karena  itu  ketika  memaparkan  tauhid kepada umatnya, Nabi mulia ini tidak lagi berkata  sebagai  Nabi-nabi  sebelumnya berkata,

"Sembahlah Allah, kalian tidak memiliki Tuhan selain-Nya,"

tetapi dinyatakannya,

"Sembahlah  Allah  dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian itu  lebih  baik  untukmu  kalau  kamu  mengetahuinya"   (QS Al-'Ankabut [29]: 16)
 
Dan  dinyatakannya  bahwa  Tuhan  yang disembah adalah Tuhan seru sekalian alam,  bukan  Tuhan  suku,  bangsa  dan  jenis makhluk tertentu saja.

"Sesungguhnya  aku  menghadapkan  wajahku  kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan  cenderung  kepada  agama yang  benar,  dan  aku  bukanlah  termasuk  orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS Al-'An'am [6]: 79).

"Dia (Ibrahim) berkata (kepada kaumnya),  'Sebenarnya  Tuhan kamu  adalah 
Tuhan  seluruh  langit  dan  bumi  yang  telah menciptakannya, dan  aku  termasuk  orang-orang  yang  dapat memberikan  bukti  atas  yang  demikian  itu" (QS Al-Anbiya, [21]: 56).

Terlihat juga dari Al-Quran  bagaimana  beliau  "berdiskusi" dengan  umatnya  dalam  rangka membuktikan kesesatan mereka, dan menunjukkan kebenaran akidah tauhid (antara  lain  surat Al-Anbiya, [21]: 51-67).
 
Demikianlah  tahap  baru dalam uraian tauhid, dan karena itu -seperti  ditulis  oleh 
Abdul-Karim  Al-Khatib  dalam  buku karyanya, Qadhiyat Al-Uluhiyyah baina AlFalsafah wa Ad-Din- sejak Nabi Ibrahim, sampai dengan nabi-nabi sesudahnya tidak dikenal   lagi   pemusnahan   total   bagi  umat  satu  Nabi sebagaimana yang terjadi terhadap umat-umat sebelumnya.
 
Pemaparan tauhid pun dari hari ke hari  semakin  mantap  dan jelas   hingga  mencapai  puncaknya  dengan  kehadiran  Nabi Muhammad Saw.
 
Uraian Al-Quran tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad Saw. dimulai  dengan  pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Ini terlihat secara jelas ketika wahyu pertama turun.

"Bacalah demi Tuhan-Mu yang  menciptakan  (segala  sesuatu). Dia  telah  menciptakan  manusia  dari  'alaq.  Bacalah  dan Tuhan-mulah yang  (bersifat) 
Maha  Pemurah,  yang  mengajar manusia  dengan  qalam,  mengajar  manusia  apa  yang  tidak diketahui(-nya)" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).
 
Dalam  rangkaian  wahyu-wahyu  pertama.  Al-Quran   menunjuk kepada kepadaTuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhan) Pemeliharamu (Wahai Muhammad), bukan kata "Allah."1
 
Hal ini untuk menggarisbawahi Wujud  Tuhan  Yang  Maha  Esa, yang dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatan-Nya.
 
Dari  satu  sisi  memang  dikenal  satu  ungkapan  yang oleh sementara pakar dinilai sebagai hadis Qudsi yang berbunyi:

"Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak  untuk dikenal, maka
Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku."
 
Di   sisi   lain,   tidak  digunakannya  kata  "Allah"  pada wahyu-wahyu pertama  itu,  adalah  dalam  rangka  meluruskan keyakinan  kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata "Allah" untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan  mereka tentang  Allah  berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam.
 
Mereka  misalnya  beranggapan  bahwa  ada  hubungan   antara "Allah"  dan  jin (QS
Al-Shaffat [37]: 158), dan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita  (QS  Al-Isra' 
[17]:  40),  serta manusia  tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan
Allah, karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para  malaikat dan      berhala-berhala      perlu     disembah     sebagai perantara-perantara antara mereka dengan Allah (QS  Al-Zumar [39]: 3)
 
Dan   kekeliruan-kekeliruan  itu,  maka  Al-Quran  melakukan pelurusan-pelurusan yang dipaparkannya dengan berbagai  gaya bahasa,  cara dan bukti. Sekali dengan pernyataan tegas yang didahului dengan sumpah, misalnya:

"Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan  demi 
(rombongan)  yang  melarang  (perbuatan  durhaka) dengan sebenar-benamya, dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran.   Sesungguhnya  Tuhanmu  benar-benar  Esa,  Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara  keduanya,  dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari" (QS Al-Shaffat [37]:
1-5).

Dalam ayat lain diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman,

"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang  banyak  bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?" (QS Yusuf [12]: 39).

Kemudian  Al-Quran  juga   menggunakan   gaya   perumpamaan, seperti:

"Perumpamaan  orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba  yang  membuat  rumah. Sesungguhnya rumah yang paling rapuh adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui"  (QS Al-'Ankabut [29]: 41).

Ayat  ini  memberi  perumpamaan  mengenai  orang-orang  yang meminta  perlindungan  kepada selain Allah, sebagai serangga yang berlindung ke sarang labalaba. Serangga itu tentu akan terjerat  menjadi  mangsa laba-laba, dan bukannya terlindung olehnya. Bahkan jangankan serangga yang berlainan  jenisnya, yang  satu  jenis  pun  seperti  jantan  laba-laba, berusaha diterkam  oleh       laba-laba  betina  begitu   mereka   selesai berhubungan  seks.  Kemudian telur-telur laba-laba yang baru saja menetas, saling tindih-menindih sehingga  yang  menjadi korban adalah yang tertindih.
 
Dalam  kesempatan lain, Al-Quran memaparkan kisah-kisah yang bertujuan menegakkan  tauhid,  seperti  kisah  Nabi  Ibrahim ketika   memorak-porandakan   berhala-berhala  kaumnya (QS Al-Anbiya' [21]: 51-71)

1. BUKTI-BUKTI KEESAAN TUHAN
 
Ada sementara orang yang menuntut bukti  wujud  dan  keesaan Tuhan   dengan  pembuktian  material.  Mereka  ingin  segera melihat-Nya di dunia ini. Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah bermohon agar Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya,
sehingga Tuhan berfirman sebagai jawaban atas permohonannya,

"'Engkau sekali-kali tidak  akan  dapat  melihat-Ku.  Tetapi lihatlah  ke  bukit itu, jika ia tetap di tempatnya [seperti keadaannya semula), niscaya kamu dapat
melihat-Ku.' Tatkala Tuhannya   tampak   bagi   gunung   itu,  kejadian  tersebut
menjadikan gunung  itu  hancur  luluh  dan  Musa  pun  jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Maha suci Engkau, aku bertobat  kepada-Mu,  dan  aku  orang  yang pertama  (dari  kelompok)  orang beriman'" (QS Al-A'raf [7]: 143).

Peristiwa ini membuktikan  bahwa  manusia  agung  pun  tidak berkemampuan   untuk   melihat-Nya   -paling   tidak-  dalam kehidupan   dunia   ini.   Agaknya   kenyataan   sehari-hari menunjukkan  bahwa  kita  dapat  mengakui keberadaan sesuatu tanpa harus melihatnya. Bukankah kita mengakui adanya angin, hanya dengan merasakan atau melihat bekas-bekasnya? Bukankah kita mengakui adanya "nyawa"  bukan  saja  tanpa  melihatnya bahkan tidak mengetahui substansinya?
 
Di  sisi  lain  ada dua faktor yang menjadikan makhluk tidak dapat melihat sesuatu. Pertama,  karena  sesuatu  yang  akan dilihat terlalu kecil apalagi dalam kegelapan. Sebutir pasir lebih-lebih di malam yang kelam tidak mungkin ditemukan oleh seseorang.  Namun  kegagalan  itu  tidak  berarti pasir yang dicari  tidak  ada  wujudnya.  Faktor  kedua  adalah  karena sesuatu  itu  sangat  terang. Bukankah kelelawar tidak dapat melihat di siang hari, karena  sedemikian  terangnya  cahaya matahari  dibanding  dengan kemampuan matanya untuk melihat? Tetapi bila malam tiba,  dengan;  mudah  ia  dapat  melihat. Demikian  pula  manusia tidak sanggup menatap matahari dalam beberapa saat saja, bahkan sesaat setelah menatapnya ia akan menemukan kegelapan Kalau demikian wajar jika mata kepalanya tak mampu melihat Tuhan Pencipta matahari itu.
 
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya  oleh  seorang  sahabatnya bernama Zi'lib AlYamani,

"Apakah   Anda   pernah  melihat  Tuhan?"  Beliau  menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang  tidak  pernah  saya  lihat?" "Bagaimana  Anda  melihat-
Nya?"  tanyanya  kembali. Imam Ali menjawab,"Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang  kasat,  tetapi  bisa  dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ..."

Mata hati  jauh  lebih  tajam  dan  dapat  lebih  meyakinkan daripada  pandangan  mata. Bukankah mata sering menipu kita?  Kayu yang lurus terlihat bengkok di  dalam  sungai,  bintang yang besar terlihat kecil dari kejauhan.
 
Dalam  kaitan dengan argumen-argumen dan bukti-bukti logika, kita dapat menyatakan bahwa  tidak  ada  satu  argumen  yang dikemukakan  oleh  para  filosof  tentang  Wujud dan Keesaan Tuhan yang tidak dikemukakan Al-Quran. Hanya  bedanya  bahwa kalimat-kalimat yang digunakan Al-Quran sedemikian sederhana dan  mudah  ditangkap,  berbeda  dengan  para  filosof  yang seringkali berbelit-belit.
 
Dahulu  dikenal  apa yang dinamai bukti ontologi, kosmologi, dan  teleologi.  Bukti  ontologi  menggambarkan  bahwa  kita mempunyai  ide  tentang  Tuhan, dan tidak dapat membayangkan adanya sesuatu yang lebih berkuasa dan-Nya. Bukti  kosmologi berdasar  pada  ide  "sebab dan akibat" yakni, tidak mungkin tertadi sesuatu tanpa ada penyebabnya, dan penyebab terakhir pastilah  Tuhan.  Bukti teleologi, berdasar pada keseragaman dan keserasian alam, yang tidak dapat terjadi tanpa ada satu kekuatan yang mengatur keserasian itu
 
Kini  para  filosof memperkenalkan bukti-bukti baru, seperti pengalaman moral. Pengalaman moral merupakan  tanda  tentang adanya  yang  real;  pengalaman ini tidak akan berarti tanpa adanya susunan moral yang objektif, dan ini pada  gilirannya tidak  akan  berarti  tanpa adanya satu Zat Yang Mahatinggi, Tuhan Yang Mahakuasa. Bukti lain adalah pengalaman  keagamaan  yang  dialami  oleh kebanyakan  manusia  yang  tidak diragukan kejujurannya, dan yang intinya mengandung informasi yang sama.
 
Bukti-bukti  yang  dipaparkan  di  atas,  dikemukakan   oleh Al-Quran   dengan   berbagai   cara,  baik  tersurat  maupun tersirat.
 
Secara umum kita dapat membagi uraian Al-Quran tentang bukti Keesaan Tuhan dengan tiga bagian pokok, yaitu:
 
1.  Kenyataan wujud yang tampak.
2.  Rasa yang terdapat dalam jiwa manusia.
3.  Dalil-dalil logika.
  
                              1. KENYATAAN WUJUD YANG TAMPAK
 
Dalam konteks ini Al-Quran menggunakan seluruh wujud sebagai bukti,  khususnya  keberadaan  alam  raya  ini dengan segala isinya. Berkali-kali manusia diperintahkan  untuk  melakukan nazhar, fikr, serta berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak mungkin terwujud tanpa  ada  yang mewujudkannya.

"Tidakkah  mereka  melihat kepada unta bagaimana diciptakan, dan ke langit bagaimana ia ditinggikan, ke gunung  bagaimana ia ditancapkan, serta ke bumi bagaimana ia dihamparkan?"
(QS Al-Ghasyiyah [88]: l7-20).
 
Dalam   uraian    Al-Quran    tentang    kenyataan    wujud, dikemukakannya keindahan dan keserasian alam raya.

"Tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan  langit  itu  tidak mempunyai  retak-
retak  sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi serta Kami letakkan padanya gunung-gunung  yang  kokoh,  dan Kami  tumbuhkan  padanya  segala  macam  tanaman  yang indah dipandang mata."  (QS Qaf [50]: 6-7).

Adapun keserasiannya, maka dinyatakannya:

"(Allah) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.  Kamu sama  sekali  tidak  melihat  pada  ciptaan  Tuhan Yang Maha Pengasih  sesuatu  yang  tidak  
seimbang.   Maka   lihatlah berulang-ulang,   adakah   sesuatu  yang  kamu  lihat  tidak seimbang?   Kemudian   pandanglah   sekali   lagi,   niscaya penglihatanmu 
akan  kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu pun yang cacat,  dan  penglihatanmu  itu  pun  dalam keadaan payah" (QS Al-Mulk [67]: 3-4).

2. RASA YANG TERDAPAT DALAM JIWA MANUSIA

Dalam konteks ini, Al-Quran misalnya mengingatkan manusia,

"Katakanlah   (hai   Muhammad  kepada  yang  mempersekutukan Tuhan),
'Jelaskanlah  kepadaku  jika  datang  siksaan  Allah kepadamu,  atau  datang  hari  kiamat,  apakah  kamu menyeru
(tuhan) selain Allah, jika  kamu  orang-orang  yang  benar?' Tidak!  Tetapi  hanya  kepada-Nya  kamu  bermohon,  maka Dia menyisihkan bahaya yang
karenanya  kamu  berdoa  kepada-Nya, jika  Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang  kamu  sekutukan  (dengan  Allah)"  (QS  Al-An'am  [6]: 40-41).

"Dialah   Tuhan  yang  menjadikan  kamu  dapat  berjalan  di daratan, dan
(berlayar) di lautan. Sehingga bila kamu berada di  dalam  bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa para penumpangnya dengan  tiupan  angin  yang  baik,  dan  mereka bergembira  karenanya:  (kemudian) datanglah angin badai dan apabila  gelombang  dari  segenap  penjuru  menimpanya,  dan
mereka  yakin  bahwa  mereka  telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa
kepada  Allah  dengan  mengikhlaskan  ketaatan kepada-Nya  semata-mata.
(Mereka berkata) 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari  bahaya  ini,  pastilah  kami akan  termasuk  orang-orang yang bersyukur'" (QS Yunus [10]: 22).
 
Demikian Al-Quran menggambarkan  hati  manusia.  Karena  itu sungguh  tepat  pandangan  sementara filosof yang menyatakan bahwa manusia dapat  dipastikan  akan  terus  mengenal  dari berhubungan  dengan  Tuhan sampai akhir zaman, walaupun ilmu pengetahuan membuktikan lawan dari hal tersebut. Ini  selama tabiat  kemanusiaan  masih  sama  seperti  sediakala,  yakni memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut,  karena  kepada siapa  lagi  jiwanya  akan  mengarah  jika  rasa  takut atau harapannya tidak lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak pernah akan putus.
 
                                       3. DALIL-DALIL LOGIKA
 
Bertebaran  (ayat-ayat  yang  menguraikan dalil-dalil aqliah tentang Keesaan Tuhan- Misalnya,

"Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia  tidak  mempunyai istri.   Dia   yang  menciptakan  segala  sesuatu,  dan  Dia mengetahui segala sesuatu" (QS Al-An'am [6]: 101)

"Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada  dua  Tuhan, maka pastilah keduanya binasa" (QS Al-Anbiya' [21]: 22)
 
Maksud  ayat  ini  adalah "seandainya ada dua pencipta, maka akan  kacau  ciptaan,  karena  jika  masing-masing  Pencipta menghendaki  sesuatu  yang tidak dikehendaki oleh yang lain, maka kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun  akan  kacau  atau tidak  akan mewujud; kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah  bukan  Tuhan;  dan  apabila  mereka  berdua bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan,  karena  Tuhan  tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu."
 
Pengalaman   ruhani   pun  disebutkan  oleh  Al-Quran  yaitu pengalaman para Nabi dan  Rasul.  Misalnya  pengalaman  Nabi Musa   a.s.  (Baca  QS  Thaha  [20]:  9-47).  Demikian  juga pengalaman  Nabi  Ibrahim  dan  Nabi  Muhammad  Saw.,  serta nabinabi yang lain dengan berbagai rinciannya yang berbeda, namun semuanya bermuara pada tauhid atau Keesaan Tuhan.
 
Di samping mengemukakan dalil-dalil di atas,  Al-Quran  juga mengajak  mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk memaparkan hujjah mereka

"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah, 'Kemukakan bukti kalian!'"
(QS Al-Anbiya' [21]: 24).

"Katakanlah,  'Jelaskanlah  kepadaku  tentang  apa yang kamu sembah selain
Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka  ciptakan dan bumi ini, atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit.  Bawalah  kepadaku kitab   sebelum   (Al-Quran)   ini,   atau  peninggalan  dan pengetahuan   (orang-orang   dahulu)   jika   kamu    adalah orang-orang yang benar'" (QS Al-Ahqaf [46]: 4)

                                         MACAM-MACAM KEESAAN
 
Berbicara  tentang  macam-macam  keesaan  Allah mengantarkan kita untuk memahami paling tidak surat Al-Ikhlas, sedikitnya tentang ayatnya yang pertama,

"Katakanlah! Dia Allah Yang Maha Esa."

Abu As-Su'ud, salah seorang pakar tafsir dan tasawuf menulis dalam tafsirnya, bahwa Al-Quran menempatkan kata huwa  untuk menunjuk  kepada  Allah,  padahal  sebelumnya  tidak  pernah disebut dalam susunan redaksi ayat ini  kata  yang  menunjuk kepada-Nya.  Ini,  menurutnya, untuk memberi kesan bahwa Dia Yang Mahakuasa itu, sedemikian terkenal dan nyata,  sehingga hadir  dalam  benak setiap orang dan hanya kepada-Nya selalu tertuju segala isyarat.
 
Ahad yang diterjemahkan dengan kata Esa terambil  dari  akar kata wahdat yang berarti "kesatuan," seperti juga kata wahid yang berarti "satu." Kata ini  sekali  berkedudukan  sebagai nama,  dan  sekali  sebagai  sifat  bagi sesuatu. Apabila ia berkedudukan sebagai sifat, maka ia  hanya  digunakan  untuk Allah Swt. semata.
 
Dalam  ayat di atas, kata Ahad berfungsi sebagai sifat Allah Swt., dalam arti bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.
 
Dari  segi  bahasa,  kata  Ahad walaupun berakar sama dengan Wahid, tetapi masingmasing memiliki  makna  dan  penggunaan tersendiri.  Kata  Ahad  hanya  digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan  baik  dalam  benak  apalagi dalam  kenyataan,  karena  itu  kata  ini  -ketika berfungsi sebagai  sifat-  tidak  termasuk  dalam  rentetan  bilangan, berbeda  halnya  dengan wahid (satu); Anda dapat menambahnya sehingga  menjadi  dua,  tiga,  dan   seterusnya,   walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.
 
Berbicara  tentang  angka  -dalam  kaitannya  dengan bahasan tauhid- agaknya menarik untuk  dihayati  bahwa  kata  "Ahad" terulang  di  dalam  Al-Quran  sebanyak 85 kali, namun hanya sekali yang menjadi sifat Tuhan yakni firman-Nya dalam surat Al-Ikhlas,   "Qul   Huwa  Allahu  Ahad."  Seakan-akan  Allah bermaksud untuk  menekankan  keyakinan  tauhid,  bukan  saja dalam  maknanya,  tetapi  juga  dalam  bilangan  pengulangan lafalnya,  serta  kandungan  lafal  itu.  Ini  menggambarkan kemurnian  mutlak  dalam  keesaan.  Bukankah kata Wahid yang berarti "satu," dapat  berbilang  unsurnya,  berbeda  dengan kata  Ahad  yang mutlak tidak berbilang, walau hanya sekadar unsurnya?
 
Benar! Allah  terkadang  juga  disifati  dengan  kata  Wahid seperti antara lain dalam firman-Nya:
  
"Tuhan-Mu  adalah  Tuhan yang Wahid, tiada Tuhan selain Dia, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"  (QS  Al-Baqarah [2]: 163)
 
Sementara  ulama  berpendapat bahwa kata Wahid dalam ayat di atas,  menunjuk  kepada  keesaan  Zat-Nya  disertai   dengan keragaman  sifat-sifat-Nya, bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang,  Mahakuat,  Maha  Mengetahui,   dan   sebagainya, sedangkan  kata  Ahad  dalam  surat  Al-Ikhlas  itu, mengacu kepada keesaan Zat-Nya saja, tanpa memperlihatkan  keragaman sifat-sifat tersebut.
 
Terlepas  dari  setutu  atau tidak dengan pembedaan terakhir ini, namun yang jelas bahwa Allah Maha Esa, dan  Keesaan-Nya itu mencakup empat macam keesaan
  
1.  Keesaan Zat
2.  Keesaan Sifat
3.  Keesaan Perbuatan, dan
4.  Keesaan dalam beribadah kepada-Nya.
 
                                          1. KEESAAN ZAT-NYA
 
Keesaan Zat  mengandung  pengertian  bahwa  seseorang  harus percaya  bahwa  Allah  Swt.  tidak terdiri dari unsur-unsur, atau bagian-bagian,  karena  bila  Zat  Yang  Mahakuasa  itu terdiri  dari dua unsur atau lebih -betapapun kecilnya unsure atau bagian itu- maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian  itu.  Atau  dengan  kata  lain unsur atau bagian itu merupakan syarat bagi wujud-Nya. Ambil sebagai contoh sebuah jam   tangan.  Anda  menemukan  jam  tersebut  terdiri  dari beberapa bagian, ada jarum yang menunjuk angka,  ada  logam, ada  karet, dan lain-lain. Bagian-bagian tersebut dibutuhkan oleh sebuah jam tangan, karena tanpa bagian  itu,  ia  tidak dapat  menjadi  jam  tangan.  Nah,  ketika itu, walaupun jam tangan ini hanya  satu,  tetapi  ia  tidak  esa,  karena  ia terdiri  dari  bagian-bagian  tersebut.  Jika  demikian, Zat Tuhan pasti tidak  terdiri  dari  unsur  atau  bagianbagian betapapun  kecilnya,  karena  jika  demikian, Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Benak kita  tidak  dapat  membayangkan  Tuhan membutuhkan sesuatu dan Al-Quran pun menegaskan demikian:

"Wahai  seluruh  manusia kamulah yang butuh kepada Allah dan Allah Mahakaya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha  Terpuji" (QS Fathir [35]:
15).

Setiap penganut paham tauhid berkeyakinan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan Dia sendiri tidak  bersumber  dari sesuatu pun. Al-Quran menegaskan bahwa,

"Tidak  ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS Al-Syura [42]: 11)
 
Perhatikan redaksi ayat di atas, "Tidak ada sesuatupun  yang serupa  denganNya."  Yang  serupa dengan-Nya pun tidak ada, apalagi yang seperti Dia. lebih-lebih yang sama  dengan-Nya. Karena itu, jangankan secara faktual di dunia nyata ada yang seperti dengan-Nya, yang secara  imajinatif  pun  tidak  ada yang serupa dengan-Nya.
 
Keragaman  dan  bilangan  lebih  dari  satu adalah substansi setiap makhluk, bukan ciri  Khaliq.  Itulah  sebagian  makna Keesaan dalam Zat-Nya.
 
2. KEESAAN SIFAT-NYA
 
Adapun keesaan sifat-Nya, maka itu antara lain berarti bahwa Allah memiliki sifat yang tidak  sama  dalam  substansi  dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa kata yang digunakan  untuk  menunjuk  sifat  tersebut  sama.
Sebagai  contoh,  kata  Rahim  merupakan  sifat  bagi Allah, tetapi juga  digunakan  untuk  menunjuk  rahmat  atau  kasih sayang  makhluk.  Namun  substansi  dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya.
 
Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang  menyamai substansi dan kapasitas sifat tersebut.
 
Sementara  ulama  memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu, dalam  arti  bahwa  Zat-Nya  sendiri  merupakan   sifat-Nya. Demikian  mereka  memahami keesaan secara amat murni. Mereka menolak adanya "sifat" bagi  Allah,  walaupun  mereka  tetap yakin   dan   percaya  bahwa  Allah  Maha  Mengetahui,  Maha Pengampun, Maha Penyantun, dan lain-lain  yang  secara  umum dikenal  ada  sembilan  puluh sembilan. Mereka yakin tentang hal tersebut, tetapi mereka menolak menamainya  sifat-sifat. Lebih  jauh penganut paham ini berpendapat bahwa "sifat-Nya" merupakan satu kesatuan, sehingga kalau dengan  tauhid  Zat, dinafikan segala unsur keterbilangan pada Zat-Nya, betapapun kecilnya unsur  itu,  maka  dengan  tauhid  sifat  dinafikan segala  macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan bagi sifatsifat Allah.  Berapa  jumlah  sifat  Allah  itu?  Yang populer  menurut  sebuah hadis ada 99 sifat. Tetapi Muhammad Husain  Ath-Thabathaba'i,   setelah   menelusuri   ayat-ayat Al-Quran,  menyimpulkan  bahwa ada 127 nama atau sifat Allah yang  ditemukan   dalam   Al-Quran,   kesemuanya   merupakan Al-Asma',     AlHusna.    Rincian    sifat/nama-nama    itu dikemukakannya dalam Tafsirnya AlMizan  ketika  menafsirkan QS Al-A'raf [7]: 180.

3. KEESAAN PERBUATAN-NYA

Keesaan ini mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada di alam raya ini, baik  sistem  kerjanya  maupun  sebab  dan wujud-Nya,  kesemuanya  adalah hasil perbuatan Allah semata. Apa  yang  dikehendaki-Nya  terJadi,  dan  apa  yang   tidak dikehendaki-Nya  tidak  akan  terjadi, tidak ada daya (untuk memperoleh manfaat),  tidak  pula  kekuatan  (untuk  menolak madarat), kecuali bersumber dari Allah Swt., itulah makna:
 
[tulisan Arab]
 
Tetapi   ini   bukan   berarti   bahwa  Allah  Swt.  Berlaku sewenang-wenang,   atau   "bekerJa"   tanpa   sistem    yang ditetapkanNya.   Keesaan   perbuatan-Nya   dikaitkan  dengan hukum-hukum,    atau    takdir    dan    sunnatullah    yang ditetapkan-Nya.
 
Dalam mewujudkan kehendak-Nya Dia tidak membutuhkan apa pun.

"Sesungguhnya   keadaan-Nya  bila  Dia  menghendaki  sesuatu hanyalah berkata, 'Jadilah!' Maka jadilah  ia"  (QS  Ya  Sin [36]: 82)
 
Tetapi  ini  bukan juga berarti bahwa Allah membutuhkan kata "jadilah;" ayat ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa pada hakikatnya  dalam  mewujudkan  sesuatu Dia tidak membutuhkan apa pun. Ayat ini juga tidak berarti  bahwa  segala  sesuatu yang  diciptakan-Nya  tercipta  dalam sekejap, tanpa proses, sesuai dengan kehendak-Nya. Bukankah Isa a.s. dinyatakan-Nya sebagai tercipta dengan kun.

"Sesungguhnya  keadaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, diciptakan dari  tanah  kemudian  Dia  katakana kepadanya  kun  (jadilah),  maka jadilah dia" 
(QS Ali 'Imran [3]: 59).

Pada ayat lain, Al-Quran menggambarkan proses kejadian  Isa, yang   dimulai  dengan  kehadiran  malaikat  kepada  Maryam, kehamilannya, sakit perut menjelang kelahiran, dan  akhirnya lahir (Baca QS Maryam [19]: 16-26).
 
Sekali  lagi,  kata  kun  bukan berarti bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi serta-merta tanpa suatu proses.




4. KEESAAN DALAM BERIBADAH KEPADA-NYA
 
Kalau ketiga keesaan di atas merupakan  hal-hal  yang  harus diketahui  dan  diyakini, maka keesaan keempat ini merupakan perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu.
 
Ibadah itu beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Salah satu ragamnya  yang  paling  jelas,  adalah  amalan tertentu yang ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh  Allah  atau melalui  Rasul-Nya,  dan  yang secara populer dikenal dengan istilah ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah dalam pengertiannya yang  umum,  mencakup  segala macam aktivitas yang dilakukan demi karena Allah.
 
Nah, mengesakan  Tuhan  dalam  beribadah,  menuntut  manusia untuk  melaksanakan  segala  sesuatu demi karena Allah, baik sesuatu itu dalam  bentuk  ibadah  mahdhah 
(murni),  maupun selainnya.   Walhasil,   keesaan   Allah   dalam   beribadah kepadaNya adalah dengan  melaksanakan  apa  yang  tergambar dalam firman-Nya,

"Katakanlah,  'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku,
(seterusnya) karena Allah, Pemelihara seluruh alam'" (QS Al-An'am [6]: 162).

                               ALLAH DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
 
Salah  satu  ayat  yang menggambarkan dampak kehadiran Allah dalam jiwa manusia adalah 
firman-Nya,

"Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang  lelaki  (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat dan saling berselisih (buruk perangai  mereka),  dengan  seorang  budak yang  menjadi milik penuh dari seorang saja.
Adakah keduanya (budak-budak itu)  sama  halnya?  Segala  puji  bagi  Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui  (QS Al-Zumar [39]: 29).

Ayat ini bermaksud menggambarkan bagaimana keadaan seseorang yang harus taat kepada sekian banyak orang yang memilikinya, tetapi pemilik-pemiliknya itu saling  berselisih  dan  buruk perangainya.  Alangkah  bingung  ia.  Yang ini memerintahkan satu hal, belum lagi selesai datang yang lain mencegah  atau memerintahkannya  dengan  perintah  lain,  yang  ketiga  pun demikian. Begitu seterusnya, sehingga  pada  akhirnya  budak itu  hidup  dalam  kompleks  kejiwaan  yang  tidak diketahui bagaimana  cara  menanggulanginya.  Bandingkanlah  hal   itu dengan  seorang  budak  lain  yang hanya menjadi milik penuh seseorang  sehingga  ia  tidak  mengalami  kebingungan  atau kontradiksi dalam kesehariannya.
 
Menarik  dikemukakan  alasan  Murtadha  Muthahhari yang juga memahami sebagaimana ulama-ulama  lain  -arti  kata  rajulan pada  ayat  di  atas  dengan "budak." Ulama tersebut menulis dalam bukunya Allah dalam Kehidupan Manusia bahwa: Sementara orang  ada  yang  membuat  kemungkinan  berikut, yakni bahwa manusia berkeinginan  untuk  hidup  bebas  (tanpa  kendali). Sesungguhnya  keinginan ini (walaupun merupakan sesuatu yang mustahil) menjadikan  manusia  keluar  dari  kemanusiaannya, karena  ini  berarti  bahwa  ketika  itu  dia tidak mengakui adanya hukum, tujuan, keinginan atau  ide  -dalam  arti  dia kosong  sama  sekali  dari  keyakinan  tertentu, dan keadaan demikian  mencabutnya  dari  hakikat  kemanusiaan.   Keadaan semacam  ini  tidak  ada wujudnya dalam kehidupan manusia di dunia.  Orang-orang  yang  menghendaki   kehidupan   sebebas mungkin,  serta tidak mengakui adanya sedikit peraturan pun, pasti  hidup  mereka  pun  dilandasi  oleh  keyakinan   (ide tertentu)  atau  berusaha  mencari  ide/keyakinan  tertentu.
Usaha ini menunjukkan bahwa manusia harus menerima  wewenang
pengaturan  dari  keyakinan (ide  yang ada dalam benaknya). Jika  demikian,  tidak  heran  jika   Al-Quran   menggunakan istilah-istilah  yang  mengandung arti budak (seseorang yang dimiliki oleh pihak lain).
 
Keadaan  yang  digambarkan  oleh  ayat  di  atas,   terbukti kebenarannya  dalam  kenyataan  hidup orang-orang yang lemah imannya, atau memiliki sekian banyak ide atau keyakinan yang saling bertentangan. Sekali dia taat kepada Tuhan, lain kali dia taat kepada setan, sekali dia ke masjid,  lain  kali  ke klub  malam.  Orang  semacam ini dikuasai atau menjadi budak sekian penguasa yang buruk perangainya sehingga pada akhimya ia  mengidap  kepribadian  ganda  (split  personality), yang merupakan  salah  satu  bentuk  dari  sekian  banyak  bentuk penyakit   kejiwaan.  Kalau  demikian  wajar  jika  Al-Quran menegaskan bahwa,

"Orang-orang yang beriman dan hati  mereka  tenteram  dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS AlRa'd [13]: 28).

Kalau dalam ayat lain Al-Quran menegaskan  bahwa  seandainya pada  keduanya  (langit  dan  bumi)  terdapat  banyak  Tuhan (Pengusa yang mengatur alam)  selain  Allah,  maka  pastilah keduanya akan binasa (QS Al-Anbiya, [21]: 22), maka dalam QS Al-Zumar [39]: 29 di atas, Allah berpesan  bahwa  seandainya di  dalam jiwa seseorang ada banyak tuhan atau penguasa yang mengatur  hidupnya,  maka  pasti  pula  jiwanya  akan  rusak binasa.
 

Kalau  uraian  di  atas  membuktikan  kebutuhan jiwa manusia kepada akidah  tauhid,  maka  rangkaian  pertanyaan  berikut dapat  menjadi  salah  satu  bukti tentang kebutuhan akalnya terhadap akidah ini. Pertanyaan dimaksud adalah: "Siapa yang menjamin  bila  Anda  melontar ke depan, maka batu itu tidak mengarah ke belakang? Apa yang  menjamin  bahwa  air  selalu mencari tempat yang rendah? Apa yang mengantar ilmuwan untuk memperoleh semacam,  kepastian,  dalam  langkahlangkahnya?" Kepastian  tersebut  tidak  mungkin  dapat diperoleh kecuali melalui keyakinan tentang wujud Tuhan Yang Maha Esa.  Karena jika  Tuhan  berbilang,  maka sekali tuhan ini yang mengatur alam dan menetapkan kehendak-Nya dan kali  lain  tuhan  yang itu.  Apa yang menjamin kepastian itu, seandainya Tuhan Yang mengatur hukum-hukum dan tata kerta alam  raya,  juga  butuh kepada  sesuatu? Sudah dapat dipastikan tidak ada yang dapat menjamin!
 
Jika demikian, tauhid bukan saja merupakan hakikat kebenaran yang  harus  diakui  karena  diperlukan  oleh  jiwa manusia, tetapi juga merupakan kebutuhan akalnya  demi  kemajuan  dan kesejahteraan   umat   manusia.   Wajar   jika  perkembangan pemikiran manusia tentang Tuhan,  berakhir  pada  monoteisme murni,  setelah  pada  awalnya menganut keyakinan politeisme (banyak  tuhan),  kemudian   dua   tuhan,   disusul   dengan kepercayaan  tentang  adanya satu Tuhan. dan berakhir dengan tauhid murni (keesaan mutlak) yang dianut oleh umat Islam.
 
Apabila  seseorang  telah  menganut  akidah   tauhid   dalam pengertian  yang  sebenarnya,  maka  akan lahir dari dirinya berbagai aktivitas, yang kesemuanya merupakan ibadah  kepada Allah,  baik  ibadah dalam pengertiannya yang sempit (ibadah murni) maupun pengertiannya yang luas. Ini disebabkan karena akidah  tauhid  merupakan satu prinsip lengkap yang menembus semua dimensi dan aksi manusia. Karena itu,

"Allah  tidak  mengampuni  siapa  yang   mempersekutukan-Nya dengan  sesuatu,  dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki (QS Al-Nisa, [4]: 48).

Kalau dalam alam raya ini ada matahari yang  menjadi  sumber kehidupan   makhluk   di   permukaan   bumi  ini,  dan  yang berkeliling padanya  planet-planet  tata  surya  yang  tidak dapat  melepaskan diri darinya, maka akidah tauhid merupakan matahari kehidupan ruhani dan yang berkeliling di sekitarnya kesatuan-kesatuan yang tidak dapat pula melepaskan diri atau dilepaskan darinya. Kesatuan  dimaksud  antara  lain  adalah kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan supranatural, kesatuan  ilmu,  kesatuan agama,   kesatuan   kemanusiaan,   kesatuan  umat,  kesatuan kepribadian manusia, dan lain-lain.
 
Prinsip lengkap ini harus terus-menerus dipelihara,  diasah, dan  diasuh.  Memang  boleh  jadi  seorang  Muslim mengalami godaan sehingga  timbul  tanda  tanya  menyangkut  kehadiran Allah  Yang  Maha  Esa itu. Yang demikian adalah wajarwajar saja, asal ia selalu berupaya untuk mengusir godaan itu. Hal ini  dialami  juga  oleh  para sahabat Nabi Saw. Mereka yang mengadukan pengalamannya kepada beliau ditanggapi oleh  Nabi Saw. dengan bersabda,

"Segala  puji  bagi  Allah  yang menangkal tipuannya (setan) menjadi waswasah (bisikan)."

Sahabat Nabi, Ibnu Abbas,  pernah  ditanya  oleh  Abu  Zamil Sammak  ibn  Al-Walid,  "Apakah  yang  saya rasakan di dalam dadaku (ini)?" "Apakah itu," tanya Ibnu Abbas.  "Demi  Allah saya  tidak  akan mengatakannya." Ibnu Abbas bertanya balik, "Apakah semacam syak atau keraguan?" Si penanya  mengiyakan. Ibnu  Abbas kemudian berkata, "Tidak seorang pun (dari kami) yang terbebaskan dari yang  demikian,  sampai  turun  firman Allah:

"Apabila  kamu  dalam  keraguan  dari apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang  yang  membaca kitab sebelum kamu" (QS Yunus [10]: 94).

Apabila  engkau  mendapatkan hal itu bacalah, Dia yang Awal, Dia  Yang   Akhir,   Dia   Yang   Zhahir   (tampak   melalui ciptaan-Nya),  Dia  juga  Yang  Batin  (tak  tampak  hakikat Zat-Nya), dan Dia. Maha Mengetahui segala sesuatu."
 
Demikian Allah Swt. Karena itu wajar kita bermohon:
 
"Wahai  Tuhan  kami,  janganlah  Engkau  jadikan  hati  kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,  karuniakanlah  kepada 
kami  rahmat   dari   sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi anugerah" (QS Ali 'Imran 13]: 8).[]
 

Catatan kaki:
-------------
Wahyu pertama adalah lima ayat pertama surat Al-'Alaq.  Di sana  tidak  ada  kata "Allah.". Wahyu kedua adalah beberapa ayat dari surat Al-Qalam. dalam  surat  ini  tidak  disebut kata  "Allah."  Wahyu  ketiga adalah awal surat Al-Muzammil. Dalam surat ini kata Rabbika ditemukan dua  kali,  dan  kata "Allah"  tujuh kali, yaitu pada ayat terakhir (kedua puluh). Dapat dipastikan bahwa ayat terakhir tersebut turun  setelah Nabi  hijrah  ke  Madinah,  karena  ayat  tersebut berbicara tentang  keterlibatan   para   sahabat   dalam   peperangan, sedangkan  peperangan  pertama baru terjadi pada tahun kedua Hijriah.
 
Wahyu keempat adalah awal  suratAl-Muddatstsir  (tujuh  ayat pertama).  Dalam  tujuh ayat pertama tersebut kata pengganti Tuhan Yang Maha Esa adalah "Rabbika" yang  disebut  sebanyak dua  kali.  Benar  bahwa dalam surat tersebut ditemukan kata "Allah"  sebanyak  empat  kali,  tetapi  ayat-ayatnya  bukan merupakan rangkaian wahyu-wahyu pertama.
 
Wahyu  kelima  adalah  surat Al-Lahab (Tabbat) . Dalam surat ini tidak ditemukan kata apa  pun  yang  menunjukkan  kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  
Wahyu  keenam  adalah  surat  At-Takwir.  Pada ayat terakhir (ke-29) surat ini, ditemukan  kata  dengan  predikat  Rabbul 'Alamin,  namun seperti yang diriwayatkan oleh banyak ulama, ayat itu turun terpisah dari ayat-ayat sebelumnya.
 
Wahyu ketujuh adalah surat  "Sabbihisma."  Dalam  surat  ini disebutkan  katakata  "Rabbuka,"  "Allah,"  dan  "Rabbihi" masing-masing sekali. Di  sõnilah  kata  "Allah"  disebutkan untuk  pertama kalinya dalam rangkaian wahyu-wahyu Al-Quran. Namun perlu digarisbawahi bahwa surat ini justru menjelaskan sifat-sifat    Allah   Yang   Mahasuci,   serta   perbuatan- perbuatan-Nya.
 
Wahyu  kedelapan  adalah  Alam  Nasyrah,  wahyu   kesembilan Al-Ashr, wahyu kesepuluh Al-Fajr, wahyu kesebelas Adh-Dhuha, wahyu kedua belas Al-Lail, wahyu  ketiga  belas  Al-'Adiyat, wahyu   keempat   belas   Al-Kautsar,   wahyu  kelima  belas At-Takwir, wahyu keenam  belas  At-Takatsur,  wahyu  ketujuh belas Al-Ma'un, wahyu kedelapan belas Al-Fil.
 
Dalam  Wahyu  kedelapan  hingga  kedelapan belas tersebut di atas,  tidak  terdapat  kata  "Allah."  Nanti   pada   wahyu kesembilan  belas  yaitu, Qul Huwa Allahu Ahad, barulah kata Allah dijelaskan secara rinci, sebagai jawaban terhadap kaum musyrik yang mempertanyakan tentang Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad Saw.

NABI MUHAMMAD SAW

Disadari atau tidak, wujud Tuhan  pasti  dirasakan  oleh  jiwa manusia  baik  redup  atau  benderang. Manusia menyadari bahwa suatu ketika dirinya akan mati. Kesadaran ini  mengantarkannya kepada  pertanyaan  tentang  apa  yang  akan  terjadi  sesudah kematian,  bahkan  menyebabkan  manusia  berusaha   memperoleh kedamaian dan keselamatan di negeri yang tak dikenal itu.
 
Wujud   Tuhan   yang   dirasakan,  serta  hal-ihwal  kematian, merupakan dua dari  sekian  banyak  faktor  pendorong  manusia untuk  berhubungan  dengan Tuhan dan memperoleh informasi yang pasti. Sayangnya tidak semua manusia mampu melakukan hal  itu. Namun,   kemurahan   Allah   menyebabkan-Nya  memilih  manusia tertentu untuk  menyampaikan  pesan-pesan  Allah,  baik  untuk periode  dan  masyarakat tertentu maupun untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat. Mereka yang mendapat tugas  itulah yang dinamai Nabi (penyampai berita) dan Rasul (Utusan Tuhan).
 
Jumlah  mereka  secara  pasti  tidak diketahui. Al-Quran hanya menginforrnasikan bahwa,

"Tidak satu  umat  (kelompok  masyarakat)  pun  kecuali  telah pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS Fathir [35]: 24).

Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa,
 
"Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara  mereka ada  yang  telah  kami  sampaikan  kisahnya, dan ada pula yang tidak Kami sampaikan kepadamu" (QS Al-Mu'min [40]: 78)
 
Al-Quran  menyebutkan  secara  tegas  nama  dua   puluh   lima
Nabi/Rasul;   delapan  belas  di  antaranya  disebutkan  dalam Al-Quran surat Al-An'am (6): 83-86,  sisanya  didapatkan  dari berbagai ayat.
 
Nabi  Muhammad Saw. seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf (7): 158 -diutus kepada seluruh manusia, dan beliau  merupakan khataman nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).
 
Masa Prakelahiran
 
Al-Quran  menegaskan  bahwa  para  nabi  telah pernah diangkat janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad Saw.
 
"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi, 'Sungguh  apa  saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan  kamu,  niscaya  kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan  menolongnya.'  Allah  berfirman,  'Apakah  kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?' Mereka
menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS Ali'Imran [3]: 81)
 
Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda,
 
"Demi  (Allah)  yang   jiwaku   berada   pada   genggaman-Nya, seandainya  Musa  a.s.  hidup,  dia  tidak  dapat mengelak dan mengikutiku" (HR Imam Ahmad)
 
Tidak jelas kapan dan  bagaimana  perjanjian  yang  disinggung ayat  tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa Allah Swt. telah merencanakan sesuatu  untuk  Nabi  Muhammad  Saw.,  jauh sebelum  kelahiran  beliau.  Karena  itu  pula sementara pakar menyatakan  bahwa  kematian  ayah  beliau  sebelum  kelahiran, kepergiannya    ke    pedesaan    menjauhi    ibunya,    serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi  yang dipersiapkan  Tuhan  kepada  beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak.
 
Bahkan ulama lain meyakini bahwa  pemilihan  hal-hal  tertentu berkaitan  dengan  beliau  bukanlah  kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada  bulan  Rabi'ul  Awal  (musim bunga).  Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah)  ,  ibunya  Aminah  (yang  memberi  rasa  aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama  Asy-Syifa'  (yang  sempurna  dan  sehat),  serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur).  Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad Saw. Makna nama-nama  tersebut  memiliki  kaitan yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.
 
Al-Quran  surat  Al-A'raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa Nabi Muhammad Saw. pada hakikatnya  dikenal  oleh  orang-orang Yahudi  dan  Nasrani.  Hal  ini  antara lain disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil  (QS
Al-A'raf [7]: 157).
 
Menurut  pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu, dapat terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan
33 ayat 2:
 
"...  bahwa  Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan  gemerlapan cahayanya dari gunung Paran."
 
Pemahaman  mereka berdasarkan analisis berikut: "Gunung Paran" menurut Kitab Pertanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat putra   Ibrahim  -yakni  Nabi  Ismail-  bersama  ibunya  Hajar memperoleh air (Zam-Zam). Ini berarti  bahwa  tempat  tersebut adalah  Makkah, dan dengan demikian yang tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya wahyu Ilahi: Thur Sina tempat Nabi Musa a.s., Seir tempat Nabi Isa a.s. ,  dan  Makkah  tempat  Nabi  Muhammad  Saw.  Sejarah membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah.
 
Karena  itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146 menyatakan bahkan  mereka  itu  mengenalnya  (Muhammad  Saw.), sebagaimana  mereka  mengenal  anak-anak  mereka, bahkan salah seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu Abdullah  bin  Salam  pernah berkata, "Kami lebih mengenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad Saw. daripada pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan kami menyeleweng."
 
Masa Prakenabian
 
Ada  beberapa  ayat  Al-Quran  yang  berbicara  tentang   Nabi
Muhammad Saw. sebelum kenabian beliau. Antara lain,
 
"Bukankah  Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia  melindungimu,  dan  Dia  mendapatimu  bimbang,  lalu  Dia memberi  petunjuk  kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?" (QS Al-Dhuha [93]: 6-8).
 
Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan dilindungi oleh paman dan  kakeknya.  Beliau  hidup  di  dalam keresahan  dan  kebimbangan  melihat sikap masyarakatnya, lalu Allah memberinya petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi  dan Rasul.  Beliau  hidup miskin karena ayahnya tidak meninggalkan warisan untuknya, kecuali  beberapa  ekor  kambing  dan  harta lainnya yang tidak berarti. Tetapi Allah memberinya kecukupan, khususnya menjelang  dan  saat  hidup  berumah  tangga  dengan istrinya, Khadijah a.s.
 
Ayat  lain  yang  oleh  ulama  dianggap berbicara tentang Nabi
Muhammad Saw. pada  masa  kanak-kanaknya,  adalah  surat  Alam
Nasyrah ayat pertama:
 
"Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada untukmu?"
 
Sebagian     ulama    mengartikan    kata    nasyrah    dengan "memotong/membedah." Memang,  bila  dikaitkan  dengan  sesuatu yang  bersifat  materi,  artinya  demikian.  Apabila dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat nonmateri,  kata  itu  mengandung arti  membuka,  memberi  pemahaman, menganugerahkan ketenangan dan semaknanya.
 
Yang mengaitkan dengan hal-hal materi berpendapat  bahwa  ayat ini  berbicara tentang "pembedahan" yang pernah dilakukan oleh para malaikat terhadap Nabi Muhammad Saw. kala beliau  remaja. Pendapat   ini   antara   lain  dikemukakan  oleh  mufasir  An
-Naisaburi.
 
Tetapi  sepanjang  penelitian  penulis  kata  tersebut  dengan berbagai  bentuknya  terulang  sebanyak 5 kali, dan tidak satu pun yang  digunakan  dengan  arti  harfiah,  apalagi  bermakna pembedahan.  Akan  lebih  jelas lagi jika hal itu disejajarkan dengan ayat yang berbicara tentang doa Nabi Musa a.s. di dalam Al-Quran.
 
"Wahai   Tuhanku,  lapangkanlah  dadaku,  mudahkanlah  untukku urusanku  dan  lepaskanlah  kekakuan  lidahku,  supaya  mereka
mengerti perkataanku" (QS Thaha [20]: 25-28)
 
Selanjutnya Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak pernah membaca satu  kitab  atau  menulis  satu  kata  sebelum datangnya wahyu Al-Quran.
 
"Engkau   tidak   pernah  membaca  satu  kitab  pun  sebelumnya
(Al-Quran), tidak juga menulis satu tulisan  dengan  tanganmu, (andai  kata  kamu  pernah  membaca  dan  menulis)  pasti akan benar-benar   ragulah   orang   yang   mengingkari-(mu)"   (QS
Al-'Ankabut [29]: 48).
 
Ayat  ini  secara  pasti  menyatakan  bahwa beliau Saw. adalah orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang memahami  bahwa  kendatipun  kemudian  Nabi  Saw. menganjurkan umatnya belajar membaca  dan  menulis,  namun  beliau  sendiri tidak  melakukannya, karena Allah Swt. ingin menjadikan beliau sebagai bukti bahwa informasi  yang  diperolehnya  benar-benar bukan bersumber dari manusia, melainkan dari Allah Swt.
 
Ada  juga  ulama  yang  memahami  bahwa  ketidakmampuan beliau membaca  hanya  terbatas  sampai  sebelum  terbukti  kebenaran ajaran Islam. Setelah kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah ke Madinah- beliau telah pandai membaca. Menurut  pendukungnya ide  ini  dikuatkan  antara  lain  oleh kata "sebelumnya" yang terdapat pada ayat di atas.
 
Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam Al-Quran  (QS
Al-A'raf  [7]  157  dan 158) , dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad Saw. Memang kedua ayat itu turun di Makkah,  meskipun
ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan,
 
"Dia  (Allah)  yang  mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta huruf), seorang Rasul di antara mereka" (QS Al-Jum'ah [62]: 2)
 
Di sisi lain, harus disadari bahwa  masyarakat  beliau  ketika itu  menganggap  kemampuan  menulis  sebagai  bukti  kelemahan seseorang.
 
Pada masa  itu  sarana  tulis-menulis  amat  langka,  sehingga masyarakat  amat  mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki kemampuan menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis, dan ketika ia  sadar  bahwa  ada  orang  yang  melihatnya,  ia bermohon,
 
"Jangan  beri  tahu  siapa pun, karena ini (kemampuan menulis) bagi kami adalah aib."
 
Memang, nilai-nilai dalam  masyarakat  berubah,  sehingga  apa yang  dianggap  baik  pada  hari  ini,  boleh  jadi sebelumnya dinilai  buruk.  Pada  masa  kini  kemampuan  menghafal  tidak sepenting  masa lalu, karena sarana tulis-menulis dengan mudah diperoleh.
 
Masa Kenabian
 
Pada usia 40 tahun, yang disebut oleh Al-Quran surat  Al-Ahqaf ayat  15  sebagai  usia  kesempurnaan,  Muhammad Saw. diangkat menjadi Nabi. Ditandai dengan  turunnya  wahyu  pertama  Iqra' bismi Rabbik.
 
Sebelumnya beliau tidak pernah menduga akan mendapat tugas dan kedudukan  yang  demikian  terhormat.  Karena  itu   ditemukan ayat-ayat  Al-Quran  yang  menguraikan  sikap  beliau terhadap wahyu dan memberi kesan  bahwa  pada  mulanya  beliau  sendiri "ragu"  dan  gelisah  mengenai  hal  yang dialaminya. QS Yunus
(10): 94 mengisyaratkan bahwa,
 
"Kalau engkau ragu terhadap apa yang Kami  turunkan  kepadamu, maka  tanyakanlah  kepada  orang-orang yang membaca Kitab Suci sebelum kamu (QS Yunus [10]: 94).

Kegelisahan itu bertambah besar pada saat  wahyu  yang  beliau nanti-nantikan  tidak  kunjung datang, hingga menurut beberapa riwayat beliau sedemikian gelisah, sampai-sampai konon  beliau hampir saja mencelakakan dirinya. Rupanya Allah Swt. bermaksud menjadikan beliau lebih  merindukan  lagi  "sang  kekasih  dan firman-firman-Nya"    agar   semakin   mantap   cinta   beliau kepada-Nya.
 
Surat  Adh-Dhuha  menyatakan  sekelumit  hal  itu,   sekaligus sekilas  kedudukan  beliau  di  sisi  Allah.  Surat  ini turun berkenaan  dengan  kegelisahan  Nabi  Muhammad   Saw.   karena ketidakhadiran  Malaikat  Jibril  membawa wahyu setelah sekian kali sebelumnya datang.
 
"Demi  adh-dhuha,  dan  malam  ketika  hening.  Tuhanmu  tidak meninggalkan kamu dan tidak pula membenci-(mu dan siapa pun).
 
Mengapa     adh-dhuha    -yakni    "matahari    ketika    naik sepenggalah"-yang dipilih berkaitan  dengan  wahyu-wahyu  yang diterima  oleh  Nabi Saw., atau apakah adh-dhuha ada kaitannya dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?
 
Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan  panasnya  memberikan kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan.
 
Di  sini  Allah  Swt.  melambangkan kehadiran wahyu selama ini sebagai  kehadiran  cahaya  matahari  yang  sinarnya  demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
 
Dari kedua hal yang bertolak  belakang  itu,  Allah  menafikan dugaan  atau  tanggapan  yang  menyatakan  bahwa Muhammad Saw. telah ditinggalkan oleh  Tuhannya,  atau  bahkan  Tuhan  telah membencinya.  Kehadiran malam tidak menjadikan seseorang boleh berkata  bahwa  matahari  tidak  akan  terbit   lagi,   karena kenyataan  sehari-hari  membuktikan  kekeliruan ucapan seperti itu. Nah,  ketidakhadiran  wahyu  beberapa  saat  tidak  dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa wahyu tidak akan hadir lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.
 
Ketidakhadiran  antara  lain  menjadi  isyarat   kepada   Nabi
Muhammad  Saw.  untuk  beristirahat,  karena "malam" dijadikana
Tuhan sebagai waktu "beristirahat."
 
Dapat juga dikatakan bahwa ketidakhadiran  wahyu  justru  pada saat  Nabi  Muhammad  menanti-nantikannya,  membuktikan  bahwa wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri. Walaupun  keinginan  Nabi Saw.  meluap-luap  menantikan  kehadirannya,  namun jika Tuhan tidak menghendaki, wahyu tidak akan  datang.  Ini  membuktikan bahwa wahyu bukan merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.
 
Kenabian Muhammad Saw. bukan merupakan hal yang baru bagi umat manusia.  Nabi  Muhammad  secara  tegas  diperintahkan   untuk menyatakan hal itu,
 
"Katakanlah,  'Aku  bukanlah  rasul  yang  pertama  di  antara rasul-rasul. Aku tidak mengetahui yang  diperbuat  terhadapku, tidak  juga  terhadapmu.  Aku  tidak lain hanya mengikuti yang diwahyukan  kepadaku  dan  aku  tidak  lain  seorang   pemberi
peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)
 
Namun demikian' kenabian Muhammad Saw. berbeda dengan kenabian utusan Tuhan yang lain. Sebelum beliau, para  Nabi  dan  Rasul diutus  untuk  masyarakat  dan  waktu  tertentu,  tetapi  Nabi Muhammad Saw. diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat,
 
"Katakanlah    (hai   Muhammad),   'Wahai   seluruh   manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk  kamu  semua'"  (QS
Al-A'raf [7]: 158)
 
Ada  sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi Muhammad Saw.  hanya  bermaksud  mengajarkan  agamanya  kepada orang-orang  Arab,  tetapi setelah beliau berhasil di Madinah, beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.
 
Pendapat ini sungguh keliru, karena  sejak  di  Makkah  beliau telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia. "Katakanlah    (hai   Muhammad),   'Wahai   seluruh   manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu  semua.'"  (QS
Al-A'raf [7]: 158).
 
Ayat  ini  turun  ketika  Nabi  Saw.  sedang berada di Makkah, bahkan menurut  sementara  ulama,  semua  ayat  Al-Quran  yang dimulai  dengan  panggilan  "Wahai  seluruh manusia," semuanya turun di Makkah kecuali beberapa ayat.
 
Perbedaan yang lain adalah para  nabi  sebelum  beliau  selalu mengaitkan    kenabian    dengan    hal-hal    yang   bersifat suprarasional,  baik  berbentuk   sihir,   pengetahuan   gaib, mimpi-mimpi, dan lain-lain.
 
Isa a.s. misalnya bersabda,
 
"Sesungguhnya  Aku  telah datang kepadamu dengan membawa bukti (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat burung  untuk  kamu dari  tanah, kemudian aku meniupnya sehingga ia menjadi burung dengan seizin Allah, dan  aku  menyembuhkan  orang  yang  buta sejak lahir, dan orang yang berpenyakit sopak (lepra), dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku  kabarkan kepadamu  yang  kamu  makan  dan  yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya yang demikian itu adalah  suatu  tanda  (mukjizat tentang    kebenaran    kerasulanku)    bagimu,    jika   kamu
sungguh-sungguh beriman." (QS Ali 'Imran [3]: 49)
 
Dalam Perjanjian  Baru,  Isa  a.s.  juga  menyatakan,  "Jangan percaya  padaku,  jika  aku  tidak mengerjakan pekerjaan Bapak
..."
 
Demikian halnya Isa a.s. dan para nabi sebelumnya. Oleh karena itu,  ketika  masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti yang bersifat suprarasional, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk menyampaikan kalimat-kalimat berikut:
 
"Katakanlah,  'Sesungguhnya  bukti-bukti  itu  bersumber  dari
Allah, sedang aku hanya pembawa peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-'Ankabut [29]: 50)
 
Dr.  Nazme  Luke,  seorang  pendeta  Mesir,  berkomentar bahwa menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta, dan  lain-lain  adalah hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi tidak berarti apa-apa jika digunakan untuk  membuktikan  bahwa
2+2 = 5.
 
Masyarakat  pada  masa  Isa  a.s. membutuhkan bukti-bukti yang bersifat suprarasional, karena mereka belum  mencapai  tingkat kedewasan   yang  memadai.  Hal  ini,  tulisnya,  sama  dengan membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika telah dewasa, ia akan makan tanpa dibujuk.
 
Memang  Nabi  Muhammad  Saw.  tidak  mengandalkan hal-hal yang bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
 
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran  dan diri  beliau  sendiri  yang  ummi  (tidak  pandai  membaca dan menulis). Para pakar bersepakat  dengan  menggunakan  berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
 
Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes, Hero,  Worship  and  the  Heros  in History dengan menggunakan tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant  dalam  The Story  of  Civilization  in  the World dengan tolok ukur hasil karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan tolok   ukur  keberanian  moral,  Nazme  Luke  dalam  Muhammad Al-Rasul wa Al-Risalah dengan  tolok  ukur  metode  pembuktian ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah, dengan tolok ukur pengaruh serta sederetan pakar lainnya.
 
"Mustahil  bagi  siapa  pun  yang  mempelajari  kehidupan  dan karakter Muhammad (Saw.), hanya mempunyai perasaan hormat saja terhadap   Nabi  mulia  itu.  Ia  akan  melampauinya  sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar  dari sang  Pencipta,"  demikian Annie Besant menulis dalam The Life and Teachings of Muhammad.
 
Dalam  konteks  ini  Al-Quran  surat  Alam  Nasyrah   ayat   4 menyatakan,
 
"Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."
 
Dalam ayat lain dinyatakan:
 
"Wahai  seluruh  manusia,  telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad Saw.), dan Kami telah (pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" (QS
Al-Nisa' [4]: 174).
 
Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Saw.
 
Al-Quran  mengakui  secara  tegas  bahwa  Nabi  Muhammad  Saw. memiliki  akhlak  yang  sangat  agung.  Bahkan dapat dikatakan bahwa  konsideran  pengangkatan  beliau  sebagai  nabi  adalah keluhuran  budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan bahwa:
 
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada  di  atas  akhlak  yang agung" (QS Al-Qalam [68]: 4).
 
Kata  "di  atas"  tentu  mempunyai  makna  yang  sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan  akhlak mulia
 
Seperti  dikemukakan  di atas, Al-Quran surat Al-An'am ayat 90 menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18  nama  Nabi/Rasul. Setelah  kedelapan  belas  nama disebut, Allah berpesan kepada
Nabi Muhammad Saw.,
 
"Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh."
 
Ulama-ulama   tafsir   menyatakan   bahwa   Nabi   Saw.  pasti memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti  antara  lain, ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau saat membagi harta rampasan perang, beliau  menahan  amarahnya dan menyabarkan diri dengan berkata,
 
"Semoga  Allah merahmati Musa a s. Dia telah diganggu melebihi gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar  (maka  aku  lebih
wajar bersabar daripada Musa a s.)."
 
Karena  itu  pula  sebagian  ulama  tafsir menyimpulkan, bahwa pastilah  Nabi  Muhammad  Saw.  telah  meneladani  sifat-sifat
terpuji para nabi sebelum beliau
 
Nabi  Nuh  a.s.  dikenal  sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam berdakwah. Nabi Ibrahim  a.s.  dikenal  sebagai  seorang yang  amat  pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Daud a.s. dikenal  sebagai  nabi  yang amat  menonjolkan  rasa  syukur  serta penghargaannya terhadap nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s., Yahya  a.s.,  dan  Isa  a.s., adalah  nabi-nabi  yang  berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.
 
Nabi Yusuf a.s.  terkenal  gagah,  dan  amat  bersyukur  dalam nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a. s. diketahui sebagai nabi  yang  amat  khusyuk  ketika  berdoa,  Nabi  Musa terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan, Nabi Harun  a.s.  sebaliknya,  adalah  nabi   yang   penuh   dengan kelemahlembutan.  Demikian  seterusnya, dan Nabi Muhammad Saw. meneladani semua keistimewaan mereka itu.
 
Ada beberapa sifat Nabi Muhammad  Saw.  yang  ditekankan  oleh
Al-Quran, antara lain,
 
"Sesungguhnya  telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya  penderitaanmu  (umat  manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang  terhadap  orang-orang mukmin" (QS Al-Tawbah [9]: 128).
 
Begitu   besar  perhatiannya  kepada  umat  manusia,  sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi  mengajak  mereka beriman  (baca  QS  Syu'ara  [26]:  3). Begitu luas rahmat dan kasih  sayang  yang  dibawanya,  sehingga  menyentuh  manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.
 
Sebelum  Eropa  memperkenalkan  Organisasi  Pencinta Binatang,
Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan,
 
"Bertakwalah   kepada   Allah   dalam   perlakuanmu   terhadap binatang-binatang, kendarailah dan makanlah dengan baik."
 
"Seorang  wanita  terjerumus  ke  dalam  neraka  karena seekor kucing yang dikurungnya."
 
"Seorang wanita yang bergelimang dosa  diampuni  Tuhan  karena memberi minum seekor anjing yang kehausan."
 
Rahmat  dan  kasih  sayang yang dicurahkannya sampai pula pada benda-benda tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai, pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan benda-benda  tak  bernyawa  itu  mempunyai  kepribadian   yang membutuhkan   uluran   tangan,   rahmat,   kasih  sayang,  dan persahabatan.
 
Diakui  bahwa  Muhammad   Saw.   diperintahkan   Allah   untuk menegaskan bahwa,
 
"Aku  tidak  lain  kecuali  manusia seperti kamu, (tetapi aku) diberi wahyu ..." (QS Al-Kahf [18]: 110).

Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam  naluri, fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan  Tuhan  dan kedudukan   istimewa  di  sisi-Nya,  sedang  yang  lain  tidak demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu  yang  sama jenisnya  dengan  batu  yang  di  jalan,  tetapi  ia  memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh  batu-batu  lain.  Dalam bahasa  tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain adalah basyariyah bukan  pada  insaniyah."  Perhatikan  bunyi  firman tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.
 
Atas  dasar  sifat-sifat  yang agung dan menyeluruh itu, Allah Swt. menjadikan beliau sebagai  teladan  yang  baik  sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)
 
"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang  mengharapkan  (ridha)  Allah  dan   ganjaran   di   hari kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l).
 
Keteladanan  tersebut  dapat  dilakukan  oleh  setiap manusia, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji  yang  dapat dimiliki oleh manusia
 
Dalam  konteks  ini,  Abbas  Al-Aqqad,  seorang  pakar  Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia  dapat  diklasifikasikan ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun beribadah.
 
Sejarah hidup Nabi  Muhammad  Saw.  membuktikan  bahwa  beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut. Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya  sungguh  mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim  akan  kagum berganda  kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu  dan  kemanusiaan,  dan  kedua  kali  pada  saat memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
 
Banyak  fungsi  yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw., antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)  (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
 
Di sini fungsi beliau sebagai  syahid/syahid  akan  dijelaskan agak mendalam.
 
Demikian  itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.) menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]: 143)
 
Kata  syahid/syahid  antara  lain  berarti "menyaksikan," baik dengan   pandangan   mata   maupun   dengan   pandangan   hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi  tengah,  agar  mereka  tidak  hanyut   pada   pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada  di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam  arti  patron/teladan  dan  skala  kebenaran  bagi umat-umat  yang  lain,  sedangkan  Rasulullah  Saw.  yang juga berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan  teladan bagi  umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan  menjadi  saksi di  hari  kemudian  terhadap  umatnya dan umat-umat terdahulu, seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa'  (4): 41:
 
Maka  bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami menghadirkan  seorang  saksi  dari  tiap-tiap  umat  dan  Kami hadirkan  pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka
(QS Al-Nisa, [4]: 41).
 
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih  oleh  mereka  yang menelusuri  jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang  menurut  Ibnu  Sina  disebut  "orang  yang  arif," mampu memandang rahasia Tuhan  yang  terbentang  melalu  qudrat-Nya. Tokoh  dari  segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang secara tegas  di  dalam  ayat  ini  dinyatakan  "diutus  untuk menjadi syahid (saksi)."
 
Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.
 
Dari  penelusuran  terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru  oleh  Allah dengan  nama-nama  mereka;  Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa..., dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt. sering  memanggilnya  dengan  panggilan  kemuliaan, seperti Ya ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan  mesra,  seperti  Ya  ayyuhal muddatstsir, atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau pun  ada  ayat  yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan.  Perhatikan  firman-Nya  dalam  surat Ali-'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan
Al-Shaff (61): 6.
 
Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa  Al-Quran  berpesan kepada kaum mukmin.
 
"Janganlah  kamu  menjadikan  panggilan kepada Rasul di antara kamu, seperti panggilan sebagian  kamu  kepada  sebagian  yang lain... (QS Al-Nur [24]: 63).
 
Sikap  Allah  kepada  Rasul  Saw.  dapat  juga  dilihat dengan membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s.
 
Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah  menganugerahkan  kepadanya kelapangan  dada,  serta  memohon agar Allah memudahkan segala persoalannya.
 
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku  dan  mudahkanlah  untukku urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).
 
Sedangkan  Nabi  Muhammad  Saw. memperoleh anugerah kelapangan dada tanpa  mengajukan  permohonan.  Perhatikan  firman  Allah dalam  surat  Alam  Nasyrah,  Bukankah  Kami telah melapangkan dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).
 
Dapat diambil kesimpulan  bahwa  yang  diberi  tanpa  bermohon tentunya   lebih   dicintai   daripada   yang  bermohon,  baik permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.
 
Permohonan Nabi Musa a.s. adalah  agar  urusannya  dipermudah, sedangkan   Nabi  Muhammad  Saw.  bukan  sekadar  urusan  yang dimudahkan Tuhan, melainkan beliau  sendiri  yang  dianugerahi kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi -dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu  menyelesaikannya.
Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad dalam surat Al-A'la (87): 8:
 
"Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
 
Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena  satu dan  lain  sebab-tidak  mampu  menghadapinya. Tetapi jika yang bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan tetap akan terselesaikan.
 
Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja. Juga dengan  keistimewaan  kedua,  yaitu  "jalan  yang  beliau tempuh  selalu  dimudahkan  Tuhan"  sebagaimana tersurat dalam firman Allah, "Dan Kami mudahkan kamu ke  jalan  yang  mudah."
(QS Al-A'la [87]: 8).
 
Dari  sini  jelas  bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa  a.s.,  karena beliau  tanpa  bermohon  pun  memperoleh  kemudahan  berganda, sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh  anugerah  "kemudahan urusan" setelah mengajukan permohonannya.
 
Itu  bukan  berarti  bahwa  Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh Allah, sehingga beliau tidak akan  ditegur  apabila  melakukan sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.
 
Dari  Al-Quran  ditemukan  sekian banyak teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut
 
Perhatikan teguran firman Allah  ketika  beliau  memberi  izin kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.
 
"Allah   telah  memaafkan  kamu.  Mengapa  engkau  mengizinkan mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah  terbukti bagimu  siapa  yang  berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)
 
Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa  beliau telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."   Teguran  keras  baru  akan  diberikan  kepada  beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui  secara  pasti orang  yang  diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun ketika  beliau  merasa  dapat  menetapkan  siapa  yang  berhak disiksa.
 
"Engkau  tidak  mempunyai  sedikit  urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali 'Imran [3]: 128).
 
Perhatikan  teguran  Allah  dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani  orang  buta  yang datang  meminta  untuk  belajar  pada  saat  Nabi  Saw. sedang melakukan  pembicaraan  dengan  tokoh-tokoh  kaum  musyrik  di
Makkah
 
"Dia  (Muhammad)  bermuka  masam  dan  berpaling, karena telah
datang seorang buta kepadanya..."
 
Teguran ini dikemukakan dengan  rangkaian  sepuluh  ayat,  dan diakhiri dengan:
 
"Sekali-kali  jangan  (demikian).  Sesungguhnya  ajaran-ajaran
Allah adalah suatu peringatan" (QS 'Abasa [80]: 11).
 
Nabi berpaling dan  sekadar  bermuka  masam  ketika  seseorang mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat; hakikatnya dapat dinilai sudah  sangat  baik  bila  dikerjakan oleh  manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yang  dalam istilah Al-Quran disebut zanb (dosa).
 
Dalam  hal  ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar, sayyiat al-muqarrabin, yang berarti "kebajikan-kebajikan  yang dilakukan  oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa
(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan."
 
                          --oo0oo--
 
Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang  Nabi  Muhammad  Saw. amat  panjang,  yang  dapat  diperoleh  secara tersirat maupun tersurat dalam Al-Quran,  maupun  dari  sunnah,  riwayat,  dan pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau dan  menguraikan  seluruhnya,   karena   itu   sungguh   tepat kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri,
 
"Batas  pengetahuan  tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah seorang manusia, dan bahwa beliau adalah  sebaik-baik  makhluk
Allah seluruhnya."
 
Allahumma shalli wa sallim 'alaih. [] 

TAKDIR


Ketika Mu'awiyah ibn Abi Sufyan  menggantikan  Khalifah  IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah  ibn  Syu'bah  menanyakan, "Apakah  doa  yang  dibaca  Nabi  setiap selesai shalat?" Ia
memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah,
 
"Tiada Tuhan selain  Allah,  tiada  sekutu  bagi-Nya.  Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang  Engkau  halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari).
 
Doa ini dipopulerkannya untuk  memberi  kesan  bahwa  segala sesuatu  telah  ditentukan  Allah,  dan  tiada usaha manusia sedikit pun. Kebijakan mempopulerkan doa ini,  dinilai  oleh banyak  pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah  melegitimasi  kesewenangan pemerintahan  mereka,  sebagai  kehendak Allah. Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam
Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam (hlm- 203).
 
Tentu   saja,   pandangan   tersebut   tidak  diterima  oleh kebanyakan ulama.  Ada  yang  demikian  menggebu  menolaknya sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir).  Manusia  bebas  melakukan  apa saja,  bukankah  Allah  telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau  dia  tidak  memiliki  kebebasan  itu?  Bukankah Allah sendiri menegaskan,
 
"Siapa yang  hendak  beriman  silakan  beriman,  siapa  yang hendak kufur silakan juga kufur" (QS Al-Kahf [18]: 29).
 
Masing-masing    bertanggung    jawab    pada   perbuatannya sendiri-sendiri.  Namun   demikian,   pandangan   ini   juga disanggah.  Ini  mengurangi  kebesaran  dan kekuasaan Allah.
Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah
 
"Allah menciptakan kamu  dan  apa  yang  kamu  lakukan"  (QS
Al-Shaffat [37]: 96).
 
Tidakkah  ayat  ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian  mereka  berargumentasi.  Selanjutnya bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
 
"Apa  yang  kamu  kehendaki, (tidak dapatterlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua" (QS Al-Insan [76]: 30).
 
Demikian sedikit dari banyak  perdebatan  yang  tak  kunjung habis   di  antara  para  teolog.  Masing-masing  menjadikan Al-Quran sebagai  pegangannya,  seperti  banyak  orang  yang mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri tidak mengenal mereka.
 
Kemudian  didukung  oleh  penguasa yang ingin mempertahankan kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam berbagai  bidang, meluaslah paham takdir dalam arti kedua di atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya
 
Yang jelas, Nabi dan  sahabat-sahabat  utama  beliau,  tidak pernah  mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para teolog itu. Mereka sepenuhnya  yakin  tentang  takdir  Allah yang   menyentuh  semua  makhluk  termasuk  manusia,  tetapi sedikit  pun  keyakinan   ini   tidak   menghalangi   mereka menyingsingkan   lengan  baju,  berjuang,  dan  kalau  kalah sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada  Allah. Sikap  Nabi  dan  para sahabat tersebut lahir, karena mereka tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat  demi ayat,   atau  sepotong-sepotong  terlepas  dari  konteksnya, tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana  diajarkan  oleh
Rasulullah Saw.

Takdir dalam Bahasa Al-Quran
 
Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal  dari akar  kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah  telah menakdirkan   demikian,"  maka  itu  berarti,  "Allah  telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat,  atau
kemampuan maksimal makhluk-Nya."
 
Dari  sekian  banyak  ayat  Al-Quran  dipahami  bahwa  semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka  tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka arah  yang  seharusnya  mereka  tuju. Begitu  dipahami  antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat
Al-A'la (Sabihisma),
 
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,  yang  menciptakan (semua  mahluk)  dan  menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3).
 
Karena itu ditegaskannya bahwa:
 
"Dan matahari beredar di tempat peredarannya Demikian itulah takdir  yang  ditentukan  oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi
Maha Mengetahui" (QS Ya Sin [36]: 38).
 
Demikian pula bulan,  seperti  firman-Nya  sesudah  ayat  di atas:  
"Dan    telah    Kami    takdirkan/tetapkan    bagi    bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke  manzilah yang  terakhir)  kembalilah  dia  sebagai bentuk tandan yang tua" (QS Ya Sin [36]: 39)
 
Bahkan  segala  sesuatu  ada  takdir  atau  ketetapan  Tuhan atasnya,
 
"Dia  (Allah)  Yang  menciptakan  segala  sesuatu,  lalu Dia menetapkan     atasnya     qadar     (ketetapan)      dengan sesempurna-sempurnanya" (QS Al-Furqan [25]: 2).
 
"Dan  tidak  ada  sesuatu  pun  kecuali  pada  sisi  Kamilah khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak  menurunkannya  kecuali dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21).
 
Makhluk-Nya  yang  kecil  dan  remeh  pun diberi-Nya takdir. Lanjutan  ayat  Sabihisma  yang  dikutip  di  atas  menyebut contoh, yakni rerumputan.
 
"Dia    Allah    yang   menjadikan   rumput-rumputan,   lalu dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman" (QS
Sabihisma [87]: 4-53)
 
Mengapa  rerumputan  itu  tumbuh  subur, dan mengapa pula ia layu dan kering. Berapa kadar kesuburan  dan  kekeringannya, kesemuanya   telah   ditetapkan  oleh  Allah  Swt.,  melalui hukum-hukum-Nya yang berlaku pada alam raya ini. Ini berarti jika   Anda  ingin  melihat  rumput  subur  menghijau,  maka siramilah   ia,   dan   bila   Anda   membiarkannya    tanpa pemeliharaan,  diterpa panas matahari yang terik, maka pasti ia  akan  mati  kering  kehitam-hitaman  atau  ghutsan  ahwa seperti bunyi ayat di atas. Demikian takdir Allah menjangkau seluruh makhluk-Nya. Walhasil,
 
"Allah telah menetapkan bagi segala  sesuatu  kadarnya"  (QS
Al-Thalaq [65]: 3)
 
Peristiwa-peristiwa  yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu,  pada  tempat dan  waktu  tertentu,  dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi  tanpa  takdir,  termasuk  manusia. Peristiwa-peristiwa  tersebut  berada  dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan  dalam  istilah  sunnatullah,  atau  yang sering
secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam."
 
Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan sunnatullah dengan   takdir.  Karena  sunnatullah  yang  digunakan  oleh Al-Quran adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang  pasti  berlaku bagi   masyarakat,   sedang   takdir   mencakup  hukum-hukum kemasyarakatan  dan   hukum-hukum   alam.   Dalam   Al-Quran "sunnatullah"  terulang  sebanyak  delapan kali, "sunnatina" sekali, "sunnatul awwalin" terulang  tiga  kali;  kesemuanya mengacu   kepada   hukum-hukum   Tuhan   yang  berlaku  pada masyarakat. Baca misalnya QS  Al-Ahzab  (33):  38,  62  atau
Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain.
 
Matahari,  bulan,  dan  seluruh  jagat raya telah ditetapkan
oleh Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar,
 
"Datanglah (hai langit dan bumi) menurut  perintah-Ku,  suka atau  tidak  suka!"  Keduanya  berkata,  "Kami datang dengar penuh ketaatan."
 
Demikian  surat   Fushshilat   (41)   ayat   11   melukiskan
"keniscayaan takdir dan ketiadaan pilihan bagi jagat raya."  
Apakah  demikian  juga  yang berlaku bagi manusia? Tampaknya tidak sepenuhnya sama.

Manusia mempunyai kemampuan terbatas  sesuai  dengan  ukuran yang  diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah  satu  ukuran  atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya,  kecuali  jika  ia  menggunakan  akalnya untuk  menciptakan  satu  alat, namun akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui.  Di  sisi  lain,  manusia berada  di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun  tidak  terlepas  dari  hukum-hukum  yang  telah mempunyai  kadar  dan  ukuran  tertentu.  Hanya  saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka kita  dapat  memilih  yang  mana  di  antara   takdir   yang ditetapkan   Tuhan   terhadap  alam  yang  kita  pilih.  Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan  atau  dingin;  itu  takdir  Tuhan  -manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di  sinilah pentingnya  pengetahuan  dan  perlunya  ilham  atau petunjuk
Ilahi. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:
 
"Wahai Allah, jangan  engkau  biarkan  aku  sendiri  (dengan
pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."
 
Ketika  di  Syam  (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar  ibn  Al-Khaththab  yang  ketika  itu  bermaksud berkunjung  ke  sana  membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya:
 
"Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?"
 
Umar r.a. menjawab,
 
"Saya lari/menghindar dan  takdir  Tuhan  kepada  takdir-Nya yang lain."
  
Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh,  beliau  pindah  ke  tempat lain.  Beberapa  orang  di  sekelilingnya  bertanya  seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali  ibn  Thalib,  sama  intinya dengan   jawaban   Khalifah   Umar   r.a.  Rubuhnya  tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan  hukum-hukum  yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat  yang  menimpanya  itu  juga adalah  takdir,  tetapi  bila  ia  menghindar dan luput dari marabahaya  maka  itu  pun  takdir.  Bukankah  Tuhan   telah menganugerahkan   manusia  kemampuan  memilah  dan  memilih?
Kemampuan ini  pun  antara  lain  merupakan  ketetapan  atau takdir  yang  dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari  takdir,  yang  baik  maupun  buruk.  Tidak bijaksana  jika  hanya  yang  merugikan  saja  yang  disebut takdir,  karena  yang  positif  pun  takdir.  Yang  demikian merupakan  sikap 'tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,'  "...  dan  kamu  harus  percaya kepada  takdir-Nya  yang  baik  maupun  yang  buruk." Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi  manusia untuk berusaha menentukan masa depannya
sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi
 
Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman?
 
Perlu digarisbawahi bahwa dari sudut pandang studi Al-Quran, kewajiban  mempercayai  adanya  takdir tidak secara otomatis menyatakannya sebagai satu di antara rukun iman  yang  enam. Al-Quran  tidak  menggunakan  istilah  "rukun" untuk takdir, bahkan  tidak  juga  Nabi  Saw.  dalam  hadis-hadis  beliau. Memang,  dalam  sebuah  hadis  yang diriwayatkan oleh banyak pakar hadis, melalui sahabat  Nabi  Umar  ibn  Al-Khaththab, dinyatakan   bahwa   suatu   ketika  datang  seseorang  yang berpakaian sangat  putih,  berambut  hitam  teratur,  tetapi tidak  tampak pada penampilannya bahwa ia seorang pendatang, namun, "tidak  seorang  pun  di  antara  kami  mengenalnya." Demikian  Umar r.a. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan saat kiamat serta tanda-tandanya. Nabi  menjawab  antara lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada
Allah,  malaikat-malaikat-Nya,  kitab-kitab-Nya,  Rasul- rasulNya, hari  kemudian, dan "percaya  tentang takdir-Nya yang baik dan yang buruk." Setelah sang penanya pergi, Nabi  menjelaskan bahwa,
 
"Dia itu Jibril, datang untuk mengajar kamu, agama kamu."  
Dari  hadis  ini,  banyak  ulama  merumuskan enam rukun Iman tersebut.
 
Seperti dikemukan di atas, Al-Quran tidak  menggunakan  kata rukun,  bahkan  Al-Quran  tidak  pernah menyebut kata takdir dalam satu rangkaian  ayat  yang  berbicara  tentang  kelima perkara  lain  di  atas.  Perhatikan  firman-Nya dalam surat
Al-Baqarah (2): 285,
 
"Rasul percaya tentang apa yang  diturunkan  kepadanya  dari Tuhannya, demikian juga orang-orang Mukmin. Semuanya percaya kepada   Allah,   malaikat-malaikat-Nya,    kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian."
 
Dalam QS Al-Nisa' (4): 136 disebutkan:
 
"Wahai  orang-orang  yang beriman, (tetaplah) percaya kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya,  dan  kitab  yang  disusunkan sebelum (Al-Quran). Barangsiapa yang tidak percaya kepada  Allah,  malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,  Rasul-rasul-Nya,  dan  hari kemudiam, maka
sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya."
 
Bahwa kedua ayat di atas tidak menyebutkan  perkara  takdir, bukan  berarti  bahwa  takdir tidak wajib dipercayai. Tidak! Yang  ingin   dikemukakan   ialah   bahwa   Al-Quran   tidak menyebutnya sebagai rukun, tidak pula merangkaikannya dengan kelima perkara lain yang disebut dalam hadis Jibril di atas. Karena  itu, agaknya dapat dimengerti ketika sementara ulama tidak menjadikan  takdir  sebagai  salah  satu  rukun  iman, bahkan dapat dimengerti jika sementara mereka hanya menyebut tiga hal pokok, yaitu keimanan kepada Allah,  malaikat,  dan hari  kemudian.  Bagi penganut pendapat ini, keimanan kepada malaikat mencakup keimanan tentang apa yang mereka sampaikan (wahyu Ilahi), dan kepada siapa disampaikan, yakni para Nabi dan Rasul.
 
Bahkan  jika  kita  memperhatikan   beberapa   hadis   Nabi, seringkali  beliau hanya menyebut dua perkara, yaitu percaya kepada Allah dan hari kemudian.
 
"Siapa yang percaya kepada Allah  dan  hari  kemudian,  maka hendaklah  ia  menghormati tamunya. Siapa yangpercaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia  menyambung  tali kerabatnya.   Siapa  yang  percaya  kepada  Allah  dan  hari kemudian, maka hendaklah ia berkata benar atau diam."
 
Demikian salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh  Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah.
 
Al-Quran  juga  tidak  jarang  hanya  menyebut dua di antara hal-hal yang wajib  dipercayai.  Perhatikan  misalnya  surat
Al-Baqarah (2): 62,
 
"Sesungguhnya  orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang  mengikuti  syariat  Nabi zaman  dahulu,  atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di  antara  mereka  yang  benar-benar beriman  kepada  Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima  ganjaran  mereka  di  sisi  Tuhan mereka,  tidak  ada  rasa  takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih."
 
Ayat ini  tidak  berarti  bahwa  yang  dituntut  dari  semua kelompok yang disebut di atas hanyalah iman kepada Allah dan hari kemudian, tetapi bersama keduanya  adalah  iman  kepada Rasul,   kitab  suci,  malaikat,  dan  takdir.  Bahkan  ayat tersebut dan semacamnya hanya menyebut dua hal pokok, tetapi tetap  menuntut  keimanan  menyangkut  segala  sesuatu  yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., baik  dalam  enam  perkara yang  disebut  oleh  hadis  Jibril  di  atas, maupun perkara lainnya yang tidak disebutkan.
 
Demikianlah pengertian takdir dalam  bahasa  dan  penggunaan
Al-Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar