Selasa, 01 April 2014

BAB III Manusia dan Masyarakat



BAB III

Manusia dan Masyarakat

1. MANUSIA  

                                                
Dalam bukunya, Man the  Unknown,  Dr.  A.  Carrel  menjelaskan tentang  kesukaran  yang  dihadapi  untuk  mengetahui  hakikat manusia.   Dia   mengatakan    bahwa    pengetahuan    tentang makhluk-makhluk  hidup secara umum dan manusia khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya. Selanj utnya ia menulis:
 
     Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan      usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya,      kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup      banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof,      sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian      sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu      mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita      tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita      ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari      bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya      dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada      hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang      diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia --kepada      diri mereka-- hingga kini masih tetap tanpa jawaban.
 
Keterbatasan   pengetahuan   manusia   tentang   dirinya   itu disebabkan oleh:
 
1.  Pembahasan tentang masalah manusia terlambat      dilakukan, karena pada mulanya perhatian manusia hanya      tertuju pada penyelidikan tentang alam materi. Pada      zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk      menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti      upaya membuat senjata-senjata melawan      binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian,      peternakan, dan sebagainya sehingga mereka tidak      mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka      sebagai manusia. Demikian pula halnya Pada Zaman      Kebangkitan (Renaisans) ketika para ahli digiurkan      oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping      menghasilkan keuntungan material, juga menyenangkan      publik secara umum karena penemuan-penemuan tersebut      mempermudah dan memperindah kehidupan ini.
     
2.  Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung      memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan      oleh sifat aka1 kita seperti yang dinyatakan oleh
     Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
     
3.  Multikompleksnya masalah manusia.
 
Dari penjelasan di atas,  agamawan  dapat  berkomentar,  bahwa pengetahuan  tentang  manusia  demikian  itu disebabkan karena manusia  adalah  satu-satunya   makhluk   yang   dalam   unsur penciptaannya  terdapat  ruh Ilahi sedang manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit  (QS  Al-Isra'  [17]: 85).
 
Jika  apa  yang  dikemukakan oleh A. Carrel itu diterima, maka satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik  siapa  manusia, adalah  merujuk  kepada wahyu Ilahi, agar kita dapat menemukan jawabannya.
 
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan  hanya  merujuk kepada  satu  dua ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua ayat  Al-Quran  (atau  paling  tidak  ayat-ayat  pokok)   yang berbicara  tentang  masalah  yang  dibahas, dengan mempelajari konteksnya masing-masing, dan mencari penguat-penguatnya  baik dari  penjelasan  Rasul,  maupun  hakikat-hakikat  ilmiah yang telah mapan. Cara ini dikenal  dalam  disiplin  ilmu  Al-Quran dengan metode maudhu'i (tematis).
 
Istilah Manusia dalam Al-Quran
 
Ada  tiga  kata  yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia.
 
  l. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun,      dan sin, semacam insan, ins, nas, atau unas.
     
2.  Menggunakan kata basyar.
     
3.  Menggunakan kata Bani Adam, dan zuriyat Adam.
 
Uraian ini akan mengarahkan  pandangan  secara  khusus  kepada kata basyar dan kata insan.
 
Kata  basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata  yang sama  lahir  kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan  kulit binatang yang lain.
 
Al-Quran  menggunakan  kata  ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia  dari  sudut  lahiriahnya  serta  persamaannya  dengan manusia   seluruhnya.   Karena   itu   Nabi   Muhammad    Saw. diperintahkan untuk menyampaikan bahwa,
 
     Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi      wahyu (QS Al-Kahf [18]: 110).
 
Dari sisi lain diamati bahwa banyak  ayat-ayat  Al-Quran  yang menggunakan  kata  basyar  yang  mengisyaratkan  bahwa  proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap  sehingga mencapai tahap kedewasaan.
 
     Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah)      menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu      menjadi basyar kamu bertebaran (QS Al-Rum [30]: 20).
 
Bertebaran  di  sini  bisa  diartikan  berkembang  biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki.  Kedua  hal  ini tidak  dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena  itu  pula  Maryam  a.s. mengungkapkan  keheranannya dapat memperoleh anak, padahal dia belum pernah disentuh oleh basyar (manusia dewasa  yang  mampu berhubungan  seks)  (QS Ali 'Imran [3]: 47). Kata basyiruhunna yang digunakan oleh Al-Quran sebanyak dua kali (QS  Al-Baqarah
[2]: 187), juga diartikan dengan hubungan seks.
 
Demikian  terlihat  basyar  dikaitkan  dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu  memikul  tanggung jawab.  Dan  karena  itu  pula,  tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar {perhatikan QS Al-Hijr 115): 28 yang menggunakan kata  basyar), dan QS Al-Baqarah (2): 30 yang menggunakan kata khalifah, yang keduanya mengandung  pemberitaan  Allah  kepada malaikat tentang manusia.
 
Kata  insan  terambil  dari  akar kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Pendapat ini, jika ditinjau  dari  sudut pandang  Al-Quran  lebih  tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil   dan   kata   nasiya   (lupa),   atau    nasa-yanusu
(berguncang).
 
Kitab  Suci  Al-Quran  --seperti  tulis  Bint Al-Syathi' dalam Al-Quran wa Qadhaya Al-Insan-- seringkali memperhadapkan insan dengan  jin/jan.  Jin  adalah makhluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah.
 
Kata insan, digunakan Al-Quran untuk menunjuk  kepada  manusia dengan  seluruh  totalitasnya,  jiwa  dan  raga.  Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang  lain,  akibat  perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.
 
Produksi dan Reproduksi Manusia
 
Al-Quran menguraikan produksi dan reproduksi  manusia.  Ketika berbicara   tentang   penciptaan   manusia  pertama,  Al-Quran menunjuk kepada sang  Pencipta  dengan  menggunakan  pengganti nama berbentuk tunggal:
 
     Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dan tanah
     (QS Shad [38]: 71).
     
     Apa yang menghalangi kamu (iblis) sujud kepada apa      yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? (0S Shad
     [38]: 75).
 
Tetapi ketika  berbicara  tentang  reproduksi  manusia  secara umum,  Yang  Maha  Pencipta ditunjuk dengan menggunakan bentuk jamak. Demikian kesimpulan kita  kalau  membaca  surat  At-Tin ayat 4:
 
     Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam      bentuk yang sebaik-baiknya.
 
Ha1 itu untuk menunjukkan perbedaan  proses  kejadian  manusia secara  umum  dan proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia secara  umum,  melalui  proses  keterlibatan   Tuhan   bersama selain-Nya,  yaitu  ibu  dan bapak. Keterlibatan ibu dan bapak mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik  dan  psikis  anak, sedangkan  dalam  penciptaan Adam, tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak.
 
Al-Quran tidak menguraikan secara rinci proses kejadian  Adam, yang  oleh  mayoritas  ulama  dinamai  manusia  pertama.  Yang disampaikannya dalam konteks ini hanya:
 
a.  Bahan awal manusia adalah tanah.
     
b.  Bahan tersebut disempurnakan.
     
c.  Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan      kepadanya ruh Ilahi (QS Al-Hijr [15]: 28-29; Shad
     [38]: 71-72).
 
Apa dan bagaimana penyempurnaan  itu,  tidak  disinggung  oleh Al-Quran.  Dari  sini,  terdapat sekian banyak cendekiawan dan ulama Islam, jauh sebelum Darwin yang  melakukan  penyelidikan dan  analisis  sehingga berkesimpulan bahwa manusia diciptakan melalui  fase   atau   evolusi   tertentu,   dan   bahwa   ada tingkat-tingkat  tertentu  menyangkut ciptaan Allah. Nama-nama seperti Al-Farabi (783-950 M), Ibnu Miskawaih (Wafat 1030  M), Muhammad  bin  Syakir  Al-Kutubi  (1287- 1363 M), Ibnu Khaldun (1332-1406 M) dapat disebut sebagai tokoh-tokoh paham  evolusi sebelum  lahirnya  teori  evolusi  Darwin (1804-1872 M). Perlu ditambahkan  bahwa  kesimpulan  ulama-ulama   tersebut   tidak sepenuhnya  sama  dalam  rincian teori evolusi yang dirumuskan oleh Darwin.
 
Dari sini pula dapat dimengerti  uraian  pakar  tafsir  Syaikh Muhammad  Abduh  yang menyatakan bahwa seandainya teori Darwin tentang   proses   penciptaan   manusia    dapat    dibuktikan kebenarannya   secara  ilmiah,  maka  tidak  ada  alasan  dari Al-Quran untuk menolaknya. Al-Quran hanya  menguraikan  proses pertama,  pertengahan,  dan  akhir.  Apa  yang  terjadi antara proses pertama dan pertengahan, serta antara  pertengahan  dan akhir, tidak dijelaskannya
 
Abbas  Al-Aqad,  seorang  ilmuwan dan ulama Mesir kontemporer, dalam bukunya Al-Insan fi Al-Quran  (Manusia  dalam  Al-Quran) mempersilakan  setiap  Muslim,  untuk  --menerima atau menolak teori itu-- berdasarkan penelitian  ilmiah,  tanpa  melibatkan Al-Quran  sedikit  pun, karena Al-Quran tidak berbicara secara rinci tentang proses kejadian manusia pertama.
 
Potensi Manusia
 
Yang banyak dibicarakan oleh Al-Quran tentang  manusia  adalah sifat-sifat  dan  potensinya.  Dalam hal ini, ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan  manusia,  seperti  pernyataan tentang  terciptanya  manusia  dalam  bentuk  dan keadaan yang sebaik-baiknya (QS Al-Tin  [95]:  5),  dan  penegasan  tentang dimuliakannya   makhluk   ini   dibanding   dengan  kebanyakan makhluk-makhluk Allah yang lain (QS Al-Isra' [17]: 70) Tetapi, di  samping  itu  sering  pula  manusia  mendapat celaan Tuhan karena ia amat aniaya dan mengingkari nikmat (QS Ibrahlm [14]: 34),  sangat  banyak  membantah  (QS  Al-Kahf  [18]:  54), dan bersifat keluh kesah lagi kikir (QS Al-Ma'arij [70]: l9),  dan masih banyak lagi lainnya.
 
Ini  bukan  berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu dengan lainnya, akan  tetapi  ayat-ayat  tersebut  menunjukkan beberapa  kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Disamping menunjukkan bahwa makhluk ini  mempunyai  potensi  (kesediaan) untuk  menempati  tempat  tertinggi  sehingga ia terpuji, atau berada di tempat yang rendah sehingga ia tercela.
 
Seperti  dikemukakan  di  atas,  Al-Quran  menjelaskan   bahwa manusia diciptakan dari tanah dan setelah sempurna kejadiannya dihembuskanlah kepadanya Ruh Ilahi (QS Shad [38]: 71-72) .
 
Dari sini jelas bahwa manusia  merupakan  kesatuan  dua  unsur pokok, yang tidak dapat dipisahkan karena bila dipisahkan maka ia bukan manusia lagi. Sebagaimana halnya air  yang  merupakan perpaduan   antara  oksigen  dan  hidrogen  dalam  kadar-kadar tertentu. Bila kadar oksigen dan hidrogennya dipisahkan,  maka ia tidak akan menjadi air lagi.
 
Potensi  manusia  dijelaskan oleh Al-Quran antara lain melalui kisah Adam dan Hawa (QS Al-Baqarah [2]: 30-39).
 
Dalam ayat itu dijelaskan bahwa sebelum kejadian  Adam,  Allah telah   merencanakan   agar  manusia  memikul  tanggung  jawab kekhalifahan di bumi. Untuk maksud tersebut di  samping  tanah (jasmani)  dan  Ruh  Ilahi  (akal  dan  ruhani),  makhluk  ini dianugerahi pula:
 
a.  Potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda-benda alam.
 
Dari  sini  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  manusia  adalah makhluk   yang   berkemampuan  untuk  menyusun  konsep-konsep, mencipta,  mengembangkan,  dan  mengemukakan  gagasan,   serta melaksanakannya.  Potensi  ini adalah bukti yang membungkamkan malaikat, yang tadinya merasa wajar untuk  dijadikan  khalifah di bumi, dan karenanya mereka bersedia sujud kepada Adam.
 
b.  pengalaman hidup di surga, baik yang berkaitan    dengan kecukupan dan kenikmatannya, maupun rayuan
   Iblis dan akibat buruknya.
 
Pengalaman di  surga  adalah  arah  yang  harus  dituju  dalam membangun  dunia  ini,  kecukupan  sandang, pangan, dan papan, serta rasa aman terpenuhi (QS Thaha [20]: 116-ll9),  sekaligus arah  terakhir  bagi  kehidupannya di akhirat kelak. Sedangkan godaan Iblis, dengan akibat  yang  sangat  fatal  itu,  adalah pengalaman yang amat berharga dalam menghadapi rayuan Iblis di dunia, sekaligus peringatan bahwa jangankan yang belum  masuk, yang  sudah  masuk ke surga pun, bila mengikuti rayuannya akan terusir.
c.Petunjuk-petunjuk keagamaan.
 
Masih banyak ayat-ayat lain  yang  dapat  dikemukakan  tentang sifat dan potensi manusia serta arah yang harus ia tuju.
 
Dari  kitab  suci Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. diperoleh informasi  serta  isyarat-isyarat  yang   boleh   jadi   dapat mengungkap  sebagian  misteri  makhluk  ini.  Namun  demikian, pemahaman atau informasi  dan  isyarat  tersebut  tidak  dapat dilepaskan  dari  subjektivitas  manusia,  sehingga  ia  tetap mengandung kemungkinan benar atau salah, seperti  halnya  yang dikemukakan oleh tulisan ini.
 
Secara  tegas  Al-Quran  mengemukakan  bahwa  manusia  pertama diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi melalui proses yang  tidak dijelaskan  rinciannya, sedangkan reproduksi manusia, walaupun dikemukakan tahapan-tahapannya, namun tahapan  tersebut  lebih banyak berkaitan dengan unsur tanahnya.
 
Isyarat  yang  menyangkut  unsur  immaterial, ditemukan antara lain dalam uraian tentang sifat-sifat manusia, dan dari uraian tentang  fithrah,  nafs,  qalb, dan ruh yang menghiasi makhluk manusia.  Berikut  dicoba   untuk   memahami   istilah-istilah tersebut.  
Fithrah
 
Dari  segi  bahasa,  kata  fithrah  terambil  dari  akar  kata al-fathr  yang  berarti  belahan,  dan  dari  makna  ini lahir makna-makna lain antara lain "penciptaan" atau "kejadian".
 
Konon sahabat Nabi, Ibnu Abbas tidak tahu  persis  makna  kata fathir pada ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan langit dan bumi sampai ia mendengar pertengkaran  tentan  kepemilikan satu  sumur.  Salah  seorang  berkata, "Ana fathar tuhu". Ibnu Abbas memahami kalimat ini dalam arti, "Saya  yang  membuatnya pertama  kali."  Dan  dari situ Ibnu Abbas memahami bahwa kata ini digunakan untuk penciptaan atau kejadian sejak awal.
 
Fithrah manusia adalah kejadiannya sejak  semula  atau  bawaan sejak lahirnya.
 
Dalam  Al-Quran  kata  ini  dalam  berbagai bentuknya terulang sebanyak dua puluh delapan kali, empat belas diantaranya dalam konteks  uraian  tentang  bumi  dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia  baik  dari  sisi  pengakuan  bahwa penciptanya  adalah  Allah,  maupun  dari  segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu  pada surat Al-Rum ayat 30:
 
Maka  hadapkanlah wajahmu kepada agama, (pilihan) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia  atas  fitrah  itu.  Tidak  ada perubahan  pada  fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
 
Merujuk kepada fitrah yang dikemukakan di atas, dapat  ditarik kesimpulan  bahwa  manusia  sejak  asal  kejadiannya,  membawa potensi beragama yang lurus,  dan  dipahami  oleh  para  ulama sebagai tauhid.
 
Selanjutnya  dipahami  juga,  bahwa  fitrah  adalah bagian dan khalq (penciptaan) Allah.
 
Kalau kita memahami kata la  pada  ayat  tersebut  dalam  arti "tidak",   maka   ini  berarti  bahwa  seseorang  tidak  dapat menghindar dari fitrah itu. Dalam konteks ayat ini, ia berarti bahwa  fitrah  keagamaan  akan melekat pada diri manusia untuk selama  lamanya,  walaupun  boleh  jadi  tidak   diakui   atau diabaikannya.
 
Tetapi  apakah  fitrah  manusia  hanya  terbatas  pada  fitrah keagamaan? Jelas tidak. Bukan saja  karena  redaksi  ayat  ini tidak  dalam  bentuk  pembatasan  tetapi juga karena masih ada ayat-ayat lain yang membicarakan  tentang  penciptann  potensi manusia  --walaupun  tidak  menggunakan  kata  fitrah, seperti misalnya:
 
     Telah dihiaskan kepada manusia kecenderungan hati      kepada perempuan (atau lelaki), anak lelaki (dari      perempuan), serta harta yang banyak berupa emas,      perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang
     (QS Ali 'Imran [3]: 14).
  
Karena itu agaknya tepat kesimpulan Muhammad bin  Asyur  dalam tafsirnya  tentang  surat  Al-Rum  (30):  30,  yang menyatakan bahwa:
 
     Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah      pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan      manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia      yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta      ruhnya).
 
Manusia berjalan dengan  kakinya  adalah  fitrah  jasadiahnya, sementara  menarik  kesimpulan  melalui  premis-premis  adalah fitrah  akliahnya.  Senang  menerima  nikmat  dan  sedih  bila ditimpa musibah juga adalah fitrahnya.
 
Nafs
 
Kata   nafs  dalam  Al-Quran  mempunyai  aneka  makna,  sekali diartikan  sebagai  totalitas  manusia,  seperti  antara  lain maksud  surat  Al-Maidah  ayat  32,  di  kali lain ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang  menghasilkan tingkah laku seperti maksud kandungan firman Allah.
 
     Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu      masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat
     dalam diri mereka (QS Al-Ra'd [13]: 11)
 
Kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada  "diri  Tuhaan" (kalau  istilah  ini dapat diterima), seperti dalam firman-Nya dalam surat Al-An'am {6): 19:
 
     Allah mewajibkan atas diri-Nya menganugerahkan rahmat.
 
Secara  umum  dapat  dikatakan  bahwa   nafs   dalam   konteks pembicaraan   tentang  manusia,  menunjuk  kepada  sisi  dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk.
 
Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah dalam  keadaan sempurna  untuk  berfungsi  menampung  serta mendorong manusia berbuat kebaikan dar1 keburukan, dan  karena  itu  sisi  dalam manusia  inilah  yang  oleh  Al-Quran  dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.
 
     Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah      mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwann (QS
     Al-Syams [91]: 7-8).
 
Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan.
 
Di sini antara lain terlihat  perbedaan  pengertian  kata  ini menurut  Al-Quran  dengan  terminologi  kaum  sufi,  yang oleh Al-Qusyairi dalam risalahnya  dinyatakan  bahwa,  "Nafs  dalam pengertian  kaum  sufi  adalah  sesuatu  yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk." Pengertian  kaum  sufi  ini  sama dengan  penjelasan  Kamus  Besar Bahasa Indonesia, yang antara lain, menjelaskan arti kata nafsu, sebagai "dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik".
 
Walaupun Al-Quran menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun diperoleh pula isyarat  bahwa  pada  hakikatnya potensi  positif  manusia  lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih  kuat  dari  daya  tarik kebaikan. Karena itu manusia dituntut agar memelihara kesucian nafs, dan tidak mengotorinya,
 
     Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang      menyucikannya dan merugilah orang-orang yang      mengotorinya (QS Al-Syams [91]: 9-10)
 
Bahwa kecenderungannya kepada  kebaikan  lebih  kuat  dipahami dari isyarat beberapa ayat, antara lain firman-Nya:
 
     Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai      dengan kesanggupannya. Nafs memperoleh ganjaran dan      apa yang diusahakannya, dan memperoleh siksa dari apa
     yang diusahakannya (QS Al-Baqarah [2]: 286)
 
Kata kasabat yang dalam ayat di  atas  menunjuk  kepada  usaha baik   sehingga   memperoleh   ganjaran,  adalah  patron  yang digunakan  bahasa  Arab  untuk  menggambarkan  pekerjaan  yang dilakukan dengan mudah, sedangkan iktasabat adalah patron yang digunakan untuk menunjuk kepada hal-hal yang sulit lagi berat. Ini  --menurut  pakar Al-Quran Muhammad Abduh-- mengisyaratkan bahwa nafs pada hakikatnya lebih mudah melakukan hal-hal  yang baik   daripada   melakukan  kejahatan,  dan  pada  gilirannya mengisyaratkan bahwa manusia pada  dasarnya  diciptakan  Allah untuk melakukan kebaikan.
 
Ayat   lain  yang  sejalan  dengan  isyarat  di  atas,  adalah firman-Nya
 
     Wahai manusia! Apa yang memperdayakanmu (berbuat dosa)      terhadap Tuhanmu yang telah menciptakan engkau,      menyempurnakan kejadianmu, dan menjadikan engkau      "adil" (seimbang atau cenderung kepada keadilan) (QS
     Al-Infithar [82): 6-7).
 
Kata "menjadikan engkau adil" dipahami  oleh  sementara  pakar seperti Yusuf Ali sebagai kecenderungan berbuat adil. Pendapat ini cukup beralasan,  karena  dengan  pemahaman  semacam  itu, menjadi   amat  lurus  kecaman  Allah  terhadap  manusia  yang mendurhakainya.
 
Al-Quran  juga  mengisyaratkan   keanekaragaman   nafs   serta peringkat-peringkatnya,  secara  eksplisit  disebutkan tentang an-nafs al-lawamah, ammarah, dan muthmainnah.
 
Di sisi lain  ditemukan  pula  isyarat  bahwa  nafs  merupakan wadah.Firman  Allah  dalam surat Al-Ra'd (13): 11 yang dikutip di atas, mengisyaratkan  bahwa  nafs  menampung  paling  tidak gagasan dan  kemauan.  Suatu kaum tidak dapat berubah  keadaan lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dulu apa  yang  ada dalam  wadah  nafs-nya.  Yang  ada  di sini antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad  untuk  berubah.  Gagasan  yang benar,  yang disertai dengan kemauan satu kelompok masyarakat, dapat mengubah keadaan masyarakat  itu.  Tetapi  gagasan  saja tanpa  kemauan,  atau  kemauan  saja  tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.
 
Yang terdapat dalam wadah nafs bukan hanya gagasan dan kemauan yang disadari manusia, tetapi juga menampung sekian banyak hal lainnya, bahkan boleh jadi ada hal-hal yang sudah hilang  dari ingatan pemiliknya.
 
Al-Quran mengisyaratkan hal tersebut,
 
     Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguh nya
     Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (QS
     Thaha [20]: 7).
 
Yang lebih tersembunyi dan rahasia adalah yang terdapat  dalam "bawah sadar manusia", sedangkan yang tersembunyi adalah "yang disadari manusia namun dirahasiakannya."
 
Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
 
     Tidak seorangpun menyembunyikan sesuatu kecuali tampak      pada salah ucapnya atau air mukanya.
 
Apa yang ada dalam nafs dapat juga muncul  dalam  mimpi,  yang oleh  Al-Quran  pada  garis  besarnya  dibagi dalam dua bagian pokok.  Pertamaa  dinamainya  ru'ya   dan   kedua   dinamainya adhghatsu  ahlam.  Yang pertama dipahami sebagai gambaran atau simbol dari peristiwa yang telah, sedang, atau  akan  dialami, dan   yang   belum  atau  tidak  terlintas  dalam  benak  yang memimpikannya. Yang kedua lahir dan keresahan  atau  perhatian manusia  terhadap  sesuatu  dan  hal-hal  yang telah berada di bawah sadarnya.
 
Dalam wadah nams terdapat qalb.
 
Qalb
 
Kata qalb terambil  dari  akar  kata  yang  bermakna  membalik karena  seringkali  ia  berbolak-balik,  sekali  senang sekali susah, sekali setuju dan sekali menolak. qa1b amat  berpotensi untuk  tidak  konsisten.  Al-Quran pun menggambarkan demikian, ada yang baik, ada pula sebaliknya. Berikut beberapa contoh.
 
a.     Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat      peringatan bagi orang-orang yang memiliki kalbu, atau      yang mencurahkan pendengaran lagi menjadi saks~ (QS
     Qaf [50]: 37)
     
b.     Kami jadikan dalam kalbu orang-orang yang mengikuti      (Isa a.s ) kasih sagang dan rahmat (QS Al-Hadid [57]:      27).
     
c.     Kami akan mencampakkan ke dalam hati orang-orang      kafir rasa takut (QS Ali 'Imran [3]: 151).
     
d.     Dia (Allah) menjadikan kamu cinta kepada keimanan,      dan menghiasinya indah dalam kalbumu (QS Al-Hujurat
     [49]: 7).
 
Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa kalbu adalah wadah  dari pengajaran,  kasih sayang, takut, dan keimanan. Dari isi kalbu yang  dijelaskan  oleh  ayat-ayat  di  atas   (demikian   juga ayat-ayat  lainnya),  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  kalbu memang menampung hal-hal yang disadari  oleh  pemiliknya.  Ini merupakan salah satu perbedaan antara kalbu dan nafs. Bukankah seperti yang dinyatakan sebelumnya bahwa  nafs  menampung  apa yang  berada  di  bawah  sadar,  dan  atau  sesuatu yang tidak diingat lagi?
 
Dari  sini  dapat  dipahami  mengapa   yang   dituntut   untuk dipertanggungiawabkan hanya isi kalbu bukan isi nafs,
 
     Allah menuntut tanggungjawab kau menyangkut apa yang      dilakukan oleh kalbu kamu (95 Al-Baqarah [2]: 225).
 
Namun dinyatakan bahwa,
 
     Allah lebih mengetahui (dari kamu sendiri) apa yang      terdapat dalam nafs (diri kamu) (QS Al-Isra' [17]: 25)
 
Di sisi lain seperti dikemukakan di atas,  bahwa  nafs  adalah "sisi  dalam"  manusia,  kalbu  pun demikian, hanya saja kalbu berada dalam satu kotak tersendiri  yang  berada  dalam  kotak besar nafs.
 
Dalam keadaannya sebagai kotak, maka tentu saja ia dapat diisi dan atau diambil isinya, seperti  yang  digambarkan  ayat-ayat berikut ini:
 
     Kami cabut apa yang terdapat dalam kalbu mereka rasa      iri, sehingga mereka semua merasa bersaudara duduk      berhadap-hadapan di atas dipan-dipan (QS Al-Hijr [15]:
     47)
 
     Belum lagi masuk keimanan ke dalam kalbu kamu (QS
     Al-Hujurat [49]: 14).
 
Bahkan Al-Quran menggambarkan bahwa ada  kalbu  yang  disegel: Allah telah mengunci mati kalbu mereka (QS Al-Baqarah [2]: 7), sehingga wajar jika Al-Quran menyatakan bahwa ada  kunci-kunci penutup   kalbu  (QS  Muhammad  [47]:24).  Wadah  kalbu  dapat diperbesar, diperkecil, atau dipersempit. Ia diperlebar dengan amal-amal  kebajikan  serta  olah  jiwa.  Al-Quran mengatakan, "mereka itulah yang diperluas kalbunya untuk menampung  takwa" (QS  Al-Hujurat  [49]:  3).  Bukankah  kami  telah  memperluas dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1). Dan siapa yang  dikehendaki Allah kesesatannya, Dia menjadikan dada (kalbu)nya sempit lagi sesak (QS Al-An'am [6]: 125).
 
Perlu ditambahkan bahwa Al-Quran --sesuai dengan kaidah bahasa Arab--   seringkali  menggunakan  bagian  dari  sesuatu  untuk menunjuk  keseluruhan  bagian-bagiannya,  seperti  menggunakan kata sujud dalam arti shalat yang mencakup berdiri, rukuk, dan lain-lain.  Al-Quran  juga   biasa   menyebut   sesuatu   yang menggambarkan  keseluruhan bagian-bagian, tetapi yang dimaksud hanyalah  salah  satu  bagiannya  seperti  firman-Nya  "mereka memasukkan   jari-jari   mereka   ke   dalam  telinganya"  (QS Al-Baqarah [2]:  19)  dalam  arti  ujung  jari-jari.  Al-Quran terkadang  menggunakan  kata nafs dalam arti kalbu. Biasa juga menyebut tempat sesuatu tetapi yang  dimaksud  adalah  isinya, seperti  "tanyakanlah  kampung"  (QS  Yusuf  [12]:  82),  yang dimaksud adalah penghuninya, demikian seterusnya.
 
Kata dada dalam ayat di atas adalah tempat kalbu sebagai  mana ditegaskan
 
     Sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi kalbu yang      berada di dalam dada (QS Al-Hajj [22]: 46).
 
Dalam beberapa ayat,  kata  qalb  yang  merupakan  wadah  itu, dipahami  dalam  arti  "alat" seperti dalam firman-Nya: Mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak  dõgunakan  untuk  memahami  (QS Al-A'raf [7]: 179). Kalbu sebagai alat, dilukiskan pula dengan fu'ad (seperti dalam firman-Nya: Allah mengeluarkan  kamu  dan perut  ibumu  da1am keadaan tidak mengetahui sesuatu. Maka Dia memberikanmu (alat-alat) pendengaran, (alat-alat) penglihatan, serta  (banyak) hati agar kamu bersyukur (menggunakannya untuk memperoleh pengetahuan) (QS Al-Nahl [16]: 78) .
 
Membersihkan kalbu, adalah salah satu  cara  untuk  memperoleh pengetahuan.  Imam  Al-Ghazali  memberi  contoh mengenai kalbu sebagai wadah pengetahuan, serta cara mengisinya. "Kalau  kita membayangkan  satu  kolam  yang  digali  di  tanah, maka untuk mengisinya  dapat  dilakukan  dengan  mengalirkan  air  sungai --dari  atas--  ke  dalam  kolam  itu. Tetapi bisa juga dengan menggali dan menyisihkan tanah yang menutupi  mata  air.  Jika itu dilakukan, maka air akan mengalir dari bawah ke atas untuk memenuhi kolam, dan air itu, jauh lebih jernih dari air sungai yang  mengalir  dari  atas.  Kolam  adalah  kalbu,  air adalah pengetahuan, sungai adalah pancaindera dan eksperimen.  Sungai (pancaindera)  dapat dibendung atau ditutup, selama tanah yang berada di kolam (kalbu)  dibersihkan  agar  air  (pengetahuan) dari mata air memancar ke atas (kolam).
 
Al-Quran  juga  menegaskan  bahwa  Allah Swt. dapat mendinding manusia dengan kalbunya.
 
     Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding      antara manusia dan hatinya (0S Al-Anfal [8]: 24).
 
Salah satu makna ayat ini adalah bahwa Allah  menguasai  kalbu manusia,   sehingga   mereka  yang  merasakan  kegundahan  dan kesulitan  dapat  bermohon  kepada-Nya   untuk   menghilangkan kerisauan dan penyakit kalbu yang dideritanya. Ayat ini sangat berkaitan dengan firman-Nya dalam Al-Ra'd (13): 28:
 
     Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati akan      tenteram.
 
Demikian sekelumit  dari  pengertian  dan  peranan  hati  yang diperoleh dari isyarat-isyarat Al-Quran.
 
Ruh
 
Berbicara  tentang  ruh,  Al-Quran  mengingatkan   kita   akan firman-Nya:
 
     Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,
     "Ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu      kecuali sedikit" (QS Al-Isra' [17]: 85)
 
Apa yang dimaksud  dengan  pertanyaan  tentang  ruh  di  sini? Apakah  substansinya?  Kekekalan atau kefanaannya, kebahagiaan atau  kesengsaraannya?  Tidak  jelas.  Selain  itu,  apa  yang dimaksud dengan "kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit"? Yang sedikit itu apa? Apakah yang berkaitan  dengan  ruh?  Sehingga ada  informasi sedikit tentang ruh, misalnya gejala-gejalanya? Ataukah "yang sedikit itu" adalah ilmu pengetahuan kita, tidak termasuk di dalamnya ruh, karena ilmu kita hanya sedikit.
 
Yang   menambah  sulitnya  persoalan  adalah  bahwa  kata  ruh terulang di dalam  Al-Quran  sebanyak  dua  puluh  empat  kali dengan  berbagai  konteks  dan berbagai makna, dan tidak semua berkaitan  dengan  manusia.  Dalam  surat  Al-Qadar   misalnya dibicarakan  tentang  turunnya  malaikat  dan  ruh  pada malam Lailat Al-Qadr. Ada  juga  uraian  tentang  ruh  yang  membawa
Al-Quran.
 
Kata ruh yang dikaitkan dengan manusia juga dalam konteks yang bermacam-macam, ada  yang  hanya  dianugerahkan  Allah  kepada manusia pilihan-Nya (QS Al-Mu'min [40]: 15) yang dipahami oleh sementara pakar sebagai wahyu yang dibawa malaikat Jibril, ada juga  yang  dianugerahkannya  kepada  orang-orang  Mukmin  (QS Al-Mujadilah [58]: 22) dan di sini dipahami  sebagai  dukungan dan  peneguhan  hati  atau  kekuatan  batin; dan ada juga yang
dianugerahkannya kepada seluruh manusia,
 
     Kemudian Kuhembuskan kepadanya dan ruh-Ku.
 
Apakah  di  sini  dia  berarti  nyawa?  Ada  yang  berpendapat demikian,  ada  juga  yang  menolak pendapat ini, karena dalam Surat Al-Mu'minun dijelaskan  bahwa  dengan  ditiupkannya  ruh maka  menjadilah  makhluk ini khalq akhar (makhluk yang unik), yang berbeda dari makhluk lain. Sedangkan nyawa juga  dimiliki oleh  orang  utan,  misalnya. Kalau demikian nyawa bukan unsur yang menjadikan manusia makhluk yang unik.
 
Demikian terlihat Al-Quran berbicara tentang ruh  dalam  makna yang  beraneka  ragam, sehingga sungguh sulit untuk menetapkan maknanya apalagi berbicara tentang substansinya.
 
Dalam beberapa hadis, ada  disinggung  tentang  ruh,  misalnya sabda Nabi Saw.,
 
     Ruh-ruh adalah himpunan yang terorganisasi, yang      saling mengenal akan bergabung, dan yang tidak saling      mengenal akan berselisih.
 
Hadis di atas seringkali  dirangkaikan  dengan  ungkapan  yang dikenal luas dalam literatur keagamaan:
 
     Burung-burung akan bergabung dengan jenisnya.
 
Hadis ini, sekali lagi tidak membicarakan apa yang disebut ruh tersebut?  Dia hanya mengisyaratkan tentang keanekaragamannya, dan bahwa manusia mempunyai kecenderungan  yang  berbeda-beda, dan setiap pemilik kecenderungan jiwanya akan bergabung dengan sesamanya.
 
Demikian kembali kita bertanya, "Apa  ruh  itu  dan  bagaimana ia?" Penulis lebih tenang dan mantap menjawab,
 
     Katakanlah, "Ruh adalah urusan Tuhan-Ku." Kamu tidak      diberi pengetahuan kecuali sedikit.
 
'Aql
 
Kata 'aql (akal) tidak  ditemukan  dalam  Al-Quran,  yang  ada adalah  bentuk  kata  kerja  --masa  kini,  dan  lampau.  Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali  pengikat, penghalang.   Al-Quran   menggunakannya   bagi  "sesuatu  yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau  dosa." Apakah sesuatu itu? Al-Quran tidak menjelaskannya secara  eksplisit,   namun   dari   konteks   ayat-ayat   yang menggunakan akar kata 'aql dapat dipahami bahwa ia antara lain adalah:
 
a. Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu,    seperti firman-Nya dalam QS Al-'Ankabut (29): 43.
 
     Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami      berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang      memahaminya kecuali orang-orang alim (berpengetahuan)
     (QS Al-'Ankabut [29]: 43)
 
Daya manusia dalam  hal  ini  berbeda-beda.  Ini  diisyaratkan Al-Quran  antara  lain  dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam  dan  siang, dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah Swt. bagi  "orang-orang  berakal"  (QS  Al-Baqarah  [2]: 164),  dan  ada  juga  bagi  Ulil Albab yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih  tajam  dari  sekadar memiliki pengetahuan.
 
Keanekaragaman   akal   dalam   konteks   menarik   makna  dan menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan  istilah-istilah semacam  nazhara,  tafakkur,  tadabbur,  dan  sebagainya  yang semuanya mengandung  makna  mengantar  kepada  pengertian  dan kemampuan pemahaman.
 
b.  Dorongan moral, seperti firman-Nya,
 
     ... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan      keji, baik yang nampak atau tersembunyi, dan jangan      kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah dengan sebab      yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu,      semoga kamu memiliki dorongan moral untuk      meninggalkannya (QS Al-'Anam [6]: 151).
 
c.  Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta
   "hikmah"
 
Untuk maksud ini  biasanya  digunakan  kata  rusyd.  Daya  ini menggabungkan  kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, serta  dorongan moral yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya  nalar yang  kuat,  dan  boleh jadi juga seseorang yang memiliki daya pikir  yang  kuat,  tidak  memiliki  dorongan  moral,   tetapi seseorang  yang  memiliki  rusyd, maka dia telah menggabungkan kedua  keistimewaan  tersebut.  Dari  sini  dapat   dimengerti
mengapa penghuni neraka di hari kemudian berkata,
 
     Seandainya kami mendengar dan berakal maka pasti kami      tidak termasuk penghuni neraka (QS Al-Mulk [67]: l0)
 
Demikian sekilas tentang pengertian kata-kata yang boleh  jadi dapat  menggambarkan  sekilas  tentang manusia dalam pandangan Al-Quran. Penulis sepenuhnya sadar bahwa uraian di  atas  amat terbatas.  Uraian  yang memadai mungkin dapat diperoleh dengan kerja sama pakar-pakar Al-Quran dengan  Pakar  dalam  berbagai disiplin ilmu lain. []
 
2. Perempuan
 
Sejarah menginformasikan  bahwa  sebelum  turunnya  Al-Quran terdapat  sekian  banyak  peradaban  besar,  seperti Yunani, Romawi. India, dan Cina.  Dunia  juga  mengenal  agama-agama seperti Yahudi, Nasrani, Buddha, Zoroaster, dan sebagainya.
 
Masyarakat  Yunani  yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran filsafatnya, tidak banyak  membicarakan  hak  dan  kewajiban wanita.  Di kalangan elite mereka, wanita-wanita ditempatkan (disekap) dalam istana-istana. Dan di kalangan bawah,  nasib wanita    sangat   menyedihkan.   Mereka   diperjualbelikan, sedangkan yang berumah tangga  sepenuhnya  berada  di  bawah kekuasaan  suaminya.  Mereka  tidak  memiliki hak-hak sipil, bahkan hak  waris  pun  tidak  ada.  Pada  puncak  peradaban Yunani,   wanita  diberi  kebebasan  sedemikian  rupa  untuk memenuhi kebutuhan dan selera lelaki. Hubungan seksual  yang bebas  tidak  dianggap  melanggar  kesopanan,  tempat-tempat pelacuran   menjadi   pusat-pusat   kegiatan   politik   dan sastra/seni   Patung-patung   telanjang   yang  terlihat  di negara-negara Barat adalah bukti atau  sisa  pandangan  itu. Dalam  pandangan  mereka, dewa-dewa melakukan hubungan gelap dengan rakyat bawahan, dan dari hubungan gelap itu  lahirlah
"Dewi Cinta" yang terkenal dalam peradaban Yunani.
 
Dalam  peradaban  Romawi,  wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut  pindah ke  tangan  sang  suami.  Kekuasaan  ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh Keadaan tersebut berlangsung  terus  sampai  abad  ke-6  Masehi. Segala hasil usaha wanita, menjadi hak milik keluarganya yang  laki-laki. Pada  zaman  Kaisar  Constantine  terjadi  sedikit perubahan yaitu dengan  diundangkannya  hak  pemilikan  terbatas  bagi wanita,   dengan   catatan   bahwa  setiap  transaksi  harus disetujui oleh keluarga (suami atau ayah).
 
Peradaban   Hindu   dan   Cina   tidak   lebih   baik   dari peradabanperadaban  Yunani  dan  Romawi.  Hak  hidup seorang wanita yang  bersuami  harus  berakhir  pada  saat  kematian suaminya;  istri  harus  dibakar hidup-hidup pada saat mayat suaminya dibakar. Ini baru berakhir pada abad ke-17  Masehi. Wanita  pada  masyarakat  Hindu  ketika itu sering dijadikan sesajen bagi  apa  yang  mereka  namakan  dewa-dewa.  Petuah sejarah  kuno  mereka me ngatakan bahwa "Racun, ular dan api tidak lebih jahat  daripada  wanita."  Sementara  itu  dalam petuah Cina kuno diajarkan "Anda boleh mendengar pembicaraan wanita tetapi sama sekali jangan mempercayai kebenarannya."
 
Dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama  dengan  pembantu.
Ayah  berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menganggap  wanita  sebagai sumber  laknat  karena  dialah yang menyebabkan Adam terusir dari surga.
 
Dalam pandangan sementara pemuka/pengamat Nasrani  ditemukan bahwa wanita adalah senjata Iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 Masehi  diselenggarakan  suatu  konsili  yang memperbincangkan  apakah  wanita  mempunyai ruh atalu tidak, Akhirnya terdapat kesimpulan bahwa  wanita  tidak  mempunyai ruh yang suci. Bahkan pada abad ke-6 Masehi disselenggarakan suatu pertemuan untuk membahas apakah  wanita  manusia  atau bukan  manusia. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan  semata-mata  untuk  melayani laki-laki.  Sepanjang  abad  pertengahan, nasib wanita tetap sangat   memprihatinkan,   bahkan    sampai    tahun    1805 perundang-undangan  Inggris mengakui hak suami untuk menjual istrinya, dan sampai tahun 1882 wanita  Inggris  belum  lagi memiliki  hak  pemilikan  harta  benda secara penuh, dan hak menuntut ke pengadilan.
 
Ketika Elizabeth Blackwill - yang  merupakan  dokter  wanita pertama   di   dunia  -  menyelesaikan  studinya  di  Geneve University pada tahun 1849,  teman-temannya  yang  bertempat tinggal  dengannya  memboikotnya  dengan  dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran,  Bahkan  ketika  sementara dokter bermaksud mendirikan Institut Kedokteran untuk wanita di Philadelphia, Amerika  Serikat,  Ikatan  Dokter  setempat mengancam   untuk   memboikot  semua  dokter  yang  bersedia mengajar di  sana.
 
Demikian  selayang   pandang   kedudukan   wanita   sebelum, menjelang,  dan sesudah kehadiran Al-Quran. Nah, situasi dan pandangan  yang  demikian  tentunya  tidak  sejalan   dengan petunjuk-petunjuk Al-Quran. Disisi lain, sedikit atau banyak pandangan demikian mempengaruhi  pemahaman  sementara  pakar terhadap redaksi petunjuk-petunjuk Al-Quran sebagaimana akan disinggung berikut ini.
 
ASAL KEJADIAN PEREMPUAN
 
Berbicara mengenai kedudukan wanita, mengantarkan kita  agar terlebih  dahulu mendudukkan pandangan Al-Quran tentang asal kejadian perempuan. Dalam hal  ini,  salah  satu  ayat  yang dapat  diangkat  adalah  firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13,
 
"Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah  menciptakan kamu  (terdiri)  dan  lelaki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa  dan  bersuku-suku  agar  kamu  saling mengenal.  Sesungguhnya  yang  paling  mulia  di antara kamu adalah yang paling bertakwa."
 
Ayat ini berbicara  tentang  asal  kejadian  manusia  -  dan seorang  lelaki  dan perempuan - sekaligus berbicara tentang kemuliaan manusia - baik  lelaki  maupun  perempuan  -  yang dasar   kemuliaannya   bukan  keturunan,  suku,  atau  jenis kelamin, tetapi ketakwaan kepada Allah Swt.  Memang,  secara tegas   dapat  dikatakan  bahwa  perempuan  dalam  pandangan
Al-Quran mempunyai kedudukan terhormat.
 
Dalam hal ini Mahmud Syaltut, mantan Syekh Al-Azhar, menulis
dalam bukunya Min Tawjihat Al-Islam bahwa,
 
"Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan)  sama.  Allah   telah   menganugerahkan   kepada perempuan-   sebagaimana  menganugerahkan  kepada  lelaki  - potensi dan kemampuan  yang  cukup  untuk  memikul  tanggung jawab,   dan   menjadikan  kedua  jenis  kelamin  ini  dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat  umum  maupun khusus.  Karena  itu,  hukum-hukum  syariat  pun  meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual  dan membeli,  mengawinkan  dan  kawin,  melanggar  dan  dihukum, menuntut dan menyaksikan,  dan  yang  itu  (perempuan)  juga demikian,  dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, serta menuntut dan menyaksikan."
 
Ayat  Al-Quran  yang   populer   dijadikan   rujukan   dalam pembicaraan  tentang  asal  kejadian perempuan adalah firman
Allah dalam surat An-Nisa, ayat 1:
 
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan  kamu  dari  nafs  yang satu (sama), dan darinya Allah  menciptakan  pasangannya,  dan  dari  keduanya  Allah memperkembang-biakkan lelaki dan perempuan yang banyak."
 
Banyak  sekali  pakar  tafsir yang memahami kata nafs dengan
Adam, seperti misalnya Jalaluddin As-Suyuthi,  Ibnu  Katsir,
Al-Qurthubi,  Al-Biqa'i, Abu As-Su'ud, dan lain-lain. Bahkan
At-Tabarsi, salah  seorang  ulama  tafsir  bermazhab  Syi'ah (abad  ke-6  H)  mengemukakan  dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.
 
Beberapa pakar tafsir seperti Muhammad 'Abduh, dalam  tafsir
Al-Manar,  tidak  berpendapat demikian; begitu juga rekannya
Al-Qasimi, Mereka memahami arti  nafs  dalam  arti  "jenis." Namun  demikian,  paling  tidak  pendapat  yang  dikemukakan pertama itu, seperti yang ditulis  Tim  Penerjemah  Al-Quran yang  diterbitkan  oleh  Departemen  Agama.  adalah pendapat mayoritas ulama.
 
Dari pandangan yang  berpendapat  bahwa  nafs  adalah  Adam, dipahami  pula  bahwa  kata  zaujaha,  yang  arti harfiahnya adalah "pasangannya," mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa.
 
Agaknya  karena  ayat  diatas  menerangkan  bahwa   pasangan tersebut  diciptakan  dari  nafs  yang  berarti  Adam,  para penafsir terdahulu memahami  bahwa  istri  Adam  (perempuan) diciptakan   dari  Adam  sendiri.  Pandangan  ini,  kemudian melahirkan  pandangan  negatif  terhadap  perempuan,  dengan menyatakan  bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki. Tanpa lelaki, perempuan tidak  akan  ada.  Al-Qurthubi,  misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri  yang  bengkok,  dan  karena  itu  "wanita
bersifat 'auja' (bengkok atau tidak lurus)."
 
Kitab-kitab  tafsir  terdahulu hampir sepakat mengartikannya demikian- Pandangan ini agaknya bersumber dari sebuah  hadis yang menyatakan:
 
"Saling   pesan-memesanlah   untuk   berbuat   baik   kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang  rusuk  yang bengkok... (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).
 
Hadis  diatas  dipahami  oleh  ulama-ulama  terdahulu secara harfiah. Namun tidak sedikit ulama  kontemporer  memahaminya secara   metafora,   bahkan   ada   yang  menolak  kesahihan
(kebenaran) hadis tersebut.
 
Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadis diatas memperingatkan  para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena ada  sifat,  karakter,  dan  kecenderungan mereka  yang  tidak sama dengan lelaki - hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantarkan kaum lelaki bersikap  tidak wajar.  Mereka  tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalaupun mereka  berusaha  akibatnya  akan fatal,  sebagaimana  fatalnya  meluruskan  tulang rusuk yang bengkok.
 
Ath-Thabathaba'i dalam tafsirnya menulis, bahwa ayat  diatas menegaskan  bahwa  "perempuan  (istri  Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut  sedikit  pun tidak  mendukung  paham  sementara  mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan  dari  tulung  rusuk  Adam.  Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat Al-Quran yang dapat mengantarkan kita untuk  menyatakan bahwa  perempuan  diciptakan  dari  tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan lelaki. Ide ini,  seperti ditulis  Rasyid  Ridha dalam Tafsir Al-Manar-nya, timbul dan ide yang  termaktub  dalam  Perjanjian  Lama  (Kejadian  II: 21-22)  yang  menyatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil   oleh   Allah   sebilah   tulang   rusuknya,   lalu ditutupkannya  pula  tempat  itu  dengan  daging.  Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dan  Adam  itu,  dibuat  Tuhan seorang perempuan.
 
"Seandainya  tidak  tercantum  kisah  kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama seperti redaksi diatas,  niscaya pendapat yang menyatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam  benak  seorang
Muslim," demikian Rasyid Ridha- (Tafsir Al-Manar IV: 330)  
Bahkan kita dapat berkata bahwa sekian banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur  kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat
Al-Isra' ayat 70,
 
"Sesungguhnya Kami telah  memuliakan  anak-anak  Adam,  Kami angkut  mereka  di  daratan  dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan).  Kami  beri  mereka  rezeki  yang baik-baik,  dan  Kami  lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan."
 
Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, Demikian  pula  penghorrnatan  Tuhan  yang diberikan-Nya itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya,  baik  perempuan  maupun lelaki.  Pemahaman  ini dipertegas oleh surat Ali-Imran ayat
195 yang menyatakan,
 
"Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain ..."  
Ini dalam arti bahwa sebagian kamu (hai  umat  manusia  yang berjenis  lelaki)  berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (hai umat manusia  yang berjenis   perempuan)  demikian  juga  halnya.  Kedua  jenis kelamin ini  sama-sama  manusia,  dan  tidak  ada  perbedaan diantara    mereka    dari    segi   asal   kejadian   serta kemanusiaannya.
                    
Dengan konsiderans ini, Tuhan menegaskan bahwa:
 
Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang  yang beramal,  baik  lelaki  maupun perempuan (QS Ali 'Imran [3]:
195)
 
Ayat ini dan semacamnya adalah usaha Al-Quran untuk mengikis habis   segala   pandangan  yang  membedakan  lelaki  dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.
 
Dalam  konteks  pembicaraan  tentang  asal   kejadian   ini, sementara  ulama  menyinggung  bahwa seandainya bukan karena Hawa, niscaya kita tetap akan berada di surga. Disini sekali lagi ditemukan semacam upaya mempersalahkan perempuan.
 
Pandangan semacam itu jelas sekali keliru, bukan saja karena sejak semula  Allah  telah  menyampaikan  rencana-Nya  untuk menugaskan  manusia  sebagai  khalifah  di  bumi (QS 2: 30), tetapi juga karena dari ayat-ayat Al-Quran  ditemukan  bahwa godaan  dan  rayuan  Iblis  itu  tidak  hanya tertuju kepada perempuan (Hawa) tetapi juga kepada lelaki.  Ayat-ayat  yang membicarakan  godaan,  rayuan  setan,  serta ketergelinciran Adam dan Hawa diungkapkan dalam bentuk kata yang menunjukkan
kesamaan keduanya tanpa perbedaan, seperti,
 
Maka  setan  membisikkan pikiran jahat kepada keduanya... (QS, Al-A'raf [7]: 20).
 
Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dan  surga  itu,  dan keduanya  dikeluarkan  dari  keadaan  yang  mereka (nikmati) sebelumnya... (QS Al-Baqarah [2]: 36).
 
Kalaupun ada ayat yang membicarakan godaan atau rayuan setan berbentuk tunggal, maka ayat itu justru menunjuk kepada kaum lelaki (Adam),  yang  bertindak  sebagai  pemimpin  terhadap
istrinya, seperti dalam firman Allah,
 
Kemudian  setan  membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam), dan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi  dan kerajaan yang tidak akan punah?" (QS Thaha [20]: 120).
 
Demikian terlihat Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya, serta meluruskan segala pandangan salah dan keliru yang berkaitan dengan  kedudukan  dan  asal  kejadian kaum perempuan.
 
HAK-HAK PEREMPUAN
 
Al-Quran  berbicara  tentang perempuan dalam berbagai surat, dan pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada  ayat  yang  berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada pula yang  menguraikan  keistimewaan  tokoh-tokoh  perempuan dalam sejarah agama dan kemanusiaan.
 
Secara  umum  surat  An-Nisa'  ayat  32  menunjukkan hak-hak perempuan:
 
"(Karena) bagi lelaki dianugerahkan  hak  (bagian)  dan  apa yang  diusahakannya,  dan  bagi  perempuan dianugerahkan hak
(bagian) dan apa yang diusahakannya."
 
Berikut ini akan dikemukakan beberapa hak yang dimiliki oleh kaum perempuan menurut pandangan ajaran Islam.
  
Hak-hak perempuan di luar rumah
 
Pembahasan  menyangkut keberadaan perempuan di dalam atau di luar rumah dapat bermula dari surat Al-Ahzab ayat  33,  yang antara lain berbunyi,
 
"Dan  hendaklah  kamu  tetap  di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah  laku  seperti  orang-orang  Jahiliah terdahulu."
 
Ayat ini seringkali dijadikan dasar untuk menghalangi wanita ke luar rumah. Al-Qurthubi (w 671 H) - yang dikenal  sebagai salah  seorang  pakar  tafsir khususnya dalam bidang hukum - menulis antara lain: "Makna ayat  di  atas  adalah  perintah untuk  menetap di rumah, Walaupun redaksi ayat ini ditujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad Saw.,  tetapi  selain  dari mereka  juga  tercakup dalam perintah tersebut." Selanjutnya mufasir  tersebut  menegaskan  bahwa  agama  dipenuhi   oleh tuntunan  agar  Wanita-wanita tinggal di rumah, dan tidak ke luar rumah kecuali karena keadaan darurat.
 
Pendapat yang sama  dikemukakan  juga  oleh  Ibnu  Al-'Arabi (1076   -  1148  M)  dalam  tafsir  Ayat-ayat  Al-Ahkam-nya.
Sementara  itu,  penafsiran  Ibnu  Katsir   lebih   moderat. Menurutnya  ayat  tersebut  merupakan  larangan  bagi wanita untuk keluar rumah, jika tidak ada kebutuhan yang dibenarkan agama, seperti shalat, misalnya.
 
Al-Maududi,  pemikir  Muslim  Pakistan  kontemporer menganut paham yang mirip dengan  pendapat  di  atas.  Dalam  bukunya Al-Hijab,  ulama  ini  antara  lain  menulis bahwa para ahli qiraat dari Madinah dan sebagian ulama  Kufah  membaca  ayat tersebut  dengan waqarna; dan bila dibaca demikian, berarti, "tinggallah di rumah kalian dan tetaplah  berada  di  sana." Sementara  itu,  ulama-ulama  Bashrah  dan  Kufah membacanya waqimah dalam  arti,  "tinggallah  di  rumah  kalian  dengan tenang  dan  hormat."  Sedangkan tabarruj yang dilarang oleh ayat ini adalah "menampakkan perhiasan  dan  keindahan  atau
keangkuhan dan kegenitan berjalan."
 
Selanjutnya Al-Maududi menjelaskan bahwa:
 
Tempat  wanita adalah di rumah, mereka tidak dibebaskan dari pekerjaan luar rumah kecuali agar mereka  selalu  berada  di rumah  dengan  tenang  dan  hormat,  sehingga  mereka  dapat melaksanakan kewajiban rumah tangga. Adapun kalau ada  hajat keperluannya  untuk  keluar,  maka  boleh saja mereka keluar rumah dengan syarat memperhatikan  segi  kesucian  diri  dan memelihara rasa malu.
 
Terbaca  bahwa  Al-Maududi  tidak menggunakan kata "darurat" tetapi "kebutuhan atau keperluan."  Hal  serupa  dikemukakan oleh   Tim   yang  menyusun  tafsir  yang  diterbitkan  oleh Departemen Agama RI. Ini  berarti  bahwa  ada  peluang  bagi wanita   untuk   keluar  rumah.  Persoalannya  adalah  dalam batas-batas apa  saja  izin  tersebut?  Misalnya,  "Bolehkah mereka bekerja?"
 
Muhammad  Quthb,  salah  seorang  pemikir Ikhwan Al-Muslimun menulis, dalam bukunya Ma'rakat At-Taqalid, bahwa "ayat  itu bukan  berarti bahwa wanita tidak boleh bekerja karena Islam tidak  melarang  wanita  bekerja.  Hanya  saja  Islam  tidak mendorong  hal  tersebut,  Islam  membenarkan mereka bekerja sebagai darurat dan tidak menjadikannya sebagai dasar."
 
Dalam bukunya Syubuhat Haula Al-Islam, Muhammad Quthb  lebih jauh menjelaskan:
 
Perempuan  pada awal zaman Islam pun bekerja, ketika kondisi menuntut mereka untuk  bekerja.  Masalahnya  bukan  terletak pada  ada atau tidaknya hak mereka untuk bekerja, masalahnya adalah bahwa Islam tidak cenderung mendorong  wanita  keluar rumah  kecuali  untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat perlu, yang dibutuhkan oleh masyarakat, atau atas  dasar  kebutuhan wanita  tertentu.  Misalnya  kebutuhan  untuk bekerja karena tidak  ada  yang  membiayai  hidupnya,  atau   karena   yang menanggung hidupnya tidak mampu mencukupi kebutuhannya.
 
Sayyid  Quthb,  dalam  tafsirnya  Fi Zhilal Al-Quran menulis bahwa  arti  waqarna  dalam   firman   Allah,   Waqarna   fi buyutikunna,  berarti, "Berat, mantap, dan menetap." Tetapi, tulisnya lebih jauh, ,'Ini bukan berarti bahwa mereka  tidak boleh  meninggalkan  rumah.  Ini  mengisyaratkan bahwa rumah tangga adalah tugas pokoknya, sedangkan  selain  itu  adalah tempat ia tidak menetap atau bukan tugas pokoknya."
 
Sa'id   Hawa   salah   seorang  ulama  Mesir  kontemporer  - memberikan  contoh  tentang   apa   yang   dimaksud   dengan kebutuhan,  seperti  mengunjungi  orang tua dan belajar yang sifatnya  fardhu  'ain  atau  kifayah,  dan  bekerja   untuk memenuhi  kebutuhan  hidup karena tidak ada orang yang dapat menanggungnya.
 
IsaAbduh,  seorang  ulama-ekonom  Muslim  Mesir,  menekankan bahwa surat Thaha ayat 117 memberikan isyarat bahwa Al-Quran meletakkan kewajiban mencari nafkah di  atas  pundak  lelaki dan bukan perempuan. Ayat yang dimaksud adalah:
 
"Maka  Kami berfirman, "Wahai Adam, sesunggahnya ini (Iblis) adalah musuh  bagimu  dan  bagi  istrimu,  maka  sekali-kali janganlah  sampai  ia  mengeluarkan  kamu berdua dari surga, yang akan menyebabkan engkau  (dalam  bentuk  tunggal  untuk pria) bersusah payah."
 
Yakni bersusah payah dalam memenuhi kebutuhan sandang, papan dan  pangan,  sebagaimana  disebutkan  dalam  lanjutan  ayat tersebut.
 
Menurut  Isa  Abduh,  penggunaan bentuk tunggal pada redaksi engkau bersusah-payah  memberikan  isyarat  bahwa  kewajiban bekerja   untuk   memenuhi  kebutuhan  istri  dan  anak-anak terletak di atas pundak suami atau ayah.
 
Pendapat para  pemikir  Islam  kontemporer  di  atas,  masih dikembangkan  lagi oleh sekian banyak pemikir Muslim, dengan menelaah keterlibatan perempuan dalam  pekerjaan  pada  masa Nabi  Saw.,  sahabat-sahabat beliau, dan para tabiiin. Dalam hal ini, ditemukan sekian banyak jenis dan  ragam  pekerjaan yang dilakukan oleh kaum wanita.
 
Nama-nama seperti Ummu Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laila Al-Ghaffariyah,  Ummu  Sinam  Al-Aslamiyah,  dan  lain-lain, tercatat sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam peperangan. Ahli hadis Imam  Bukhari,  membukukan  bab-bab  dalam  kitab
Shahih-nya  tentang  kegiatan  kaum  wanita,  seperti:  "Bab
Keterlibatan  Perempuan  dalam   Jihad,"   "Bab   Peperangan
Perempuan  di  Lautan,"  "Bab Keterlibatan Perempuan Merawat
Korban," dan lain-lain .
 
Disamping itu, para perempuan pada masa Nabi Saw. aktif pula dalam  berbagai  bidang  pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai perias pengantin seperti Ummu Salim binti Malhan yang merias antara  lain Shafiyah binti Huyay, istri Nabi Muhammad Saw., serta ada juga yang menjadi perawat, bidan, dan sebagainya.
 
Dalam bidang perdagangan,  nama  istri  Nabi  yang  pertama, Khadijah binti Khuwailid, tercatat sebagai seorang perempuan yang sangat sukses. Demikian juga Qilat Ummi Bani Anmar yang tercatat sebagai seorang perempuan yang pernah datang kepada Nabi meminta petunjuk-petunjuk jual-beli. Zainab binti Jahsy juga  aktif  bekerja  menyamak  kulit  binatang,  dan  hasil usahanya itu beliau sedekahkan.
 
Raithah, istri  sahabat  Nabi  yang  bernama  Abdullah  Ibnu Mas'ud,  sangat  aktif  bekerja,  karena  suami  dan anaknya ketika itu tidak mampu mencukupi  kebutuhan  hidup  keluarga ini. Sementara itu, Al-Syifa', seorang perempuan yang pandai menulis, ditugaskan oleh Khalifah Umar r.a. sebagai  petugas yang menangani pasar kota Madinah.
 
Demikian  sedikit  dari banyak contoh yang terjadi pada masa Rasulullah   Saw.,   dan    sahabat    beliau,    menyangkut keikutsertaan  perempuan  dalam  berbagai  bidang  usaha dan pekerjaan.
 
Tentu saja tidak  semua  bentuk  dan  ragam  pekerjaan  yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi Saw. Namun, betapapun,   sebagian   ulama   menyimpulkan   bahwa   Islam membenarkan  kaum wanita aktif dalam berbagai kegiatan, atau bekerja dalam  berbagai  bidang  di  dalam  maupun  di  luar rumahnya  secara  mandiri,  bersama  orang lain, atau dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan  tersebut dilakukan dalam suasana terhormat, sopan, serta mereka dapat memelihara   agamanya,   dan   dapat   pula    menghindarkan dampak-dampak  negatif  pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.
 
Secara  singkat   dapat   dikemukakan   rumusan   menyangkut pekerjaan  perempuan,  yaitu  perempuan  mempunyai hak untuk bekerja,  selama  ia  membutuhkannya,  atau  pekerjaan   itu membutuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.
HAK DAN KEWAJIBAN BELAJAR
 
Amat banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi Saw. yang berbicara tentang kewajiban belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan
kepada lelaki maupun perempuan, di antaranya,
 
"Menuntut  ilmu  adalah   kewajiban   setiap   Muslim   (dan
Muslimah)" (HR Al-Thabarani melalui Ibnu Mas'ud)
 
Para  perempuan di zaman Nabi Saw. menyadari benar kewajiban ini,  sehingga  mereka  memohon  kepada  Nabi  agar   beliau bersedia  menyisihkan waktu tertentu dan khusus untuk mereka agar dapat menuntut ilmu pengetahuan. Permohonan  ini  tentu saja dikabulkan oleh Nabi Muhammad Saw.
 
Al-Quran  memberikan pujian kepada ulul albab, yang berzikir dan memikirkan kejadian langit dan bumi. Zikir dan pemikiran menyangkut  hal  tersebut  mengantarkan  manusia  mengetahui rahasia-rahasia alam raya. Mereka yang  dinamai  ulul  albab tidak  terbatas  pada  kaum lelaki saja, melainkan juga kaum perempuan. Hal ini terbukti dari lanjutan ayat di atas, yang menguraikan   tentang   sifat-sifat   ulul  albab,  Al-Quran menegaskan bahwa:
 
"Maka Tuhan  mereka  mengabulkan  permohonan  mereka  dengan berfirman,  "Sesunggahnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki  maupun perempuan." (QS Ali 'Imran [3]: 195) .
 
Ini   berarti   bahwa   kaum   perempuan   dapat   berpikir, mempelajari, dan kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati setelah  berzikir kepada Allah serta apa yang mereka ketahui dari alam raya ini.
 
Pengetahuan tentang  alam  raya  tentunya  berkaitan  dengan berbagai   disiplin  ilmu,  sehingga  dari  ayat  ini  dapat dipahami bahwa perempuan bebas untuk mempelajari  apa  saja, sesuai  dengan  keinginan  dan  kecenderungan masing-masing. Sejarah membuktikan bahwa banyak wanita yang sangat menonjol pengetahuannya   dalam  berbagai  bidang  ilmu  pengetahuan, sehingga menjadi rujukan sekian banyak tokoh lelaki.
 
Istri Nabi, Aisyah r.a., adalah salah seorang yang mempunyai pengetahuan  sangat  dalam  serta  termasyhur  pula  sebagai seorang kritikus, sampai-sampai ada ungkapan  terkenal  yang dinisbahkan  oleh  sementara  ulama  sebagai pernyataan Nabi
Muhammad Saw.:
 
Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari  Al-Humaira,
(yakni Aisyah).
 
Demikian  juga  As-Sayyidah  Sakinah putri Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian, Al-Syaikhah Syuhrah yang  bergelar "Fakhr Al-Nisa', (Kebanggaan Perempuan) adalah salah seorang guru Imam Syafi'i, tokoh mazhab yang  pandangan-pandangannya menjadi anutan banyak umat Islam di seluruh dunia. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
 
Beberapa wanita lain mempunyai kedudukan ilmiah yang  sangat terhormat, misalnya Al-Khansa' dan Rabi'ah Al-Adawiyah.
 
Rasulullah  Saw.  tidak  membatasi  kewajiban  belajar hanya kepada perempuan-perempuan  merdeka  (yang  memiliki  status sosial  tinggi),  tetapi  juga  para budak belian dan mereka yang bersatus sosial rendah.  Karena  itu  sejarah  mencatat sekian  banyak  perempuan yang tadinya budak belian kemudian mencapai tingkat pendidikan yang sangat tinggi.
 
Al-Muqari dalam bukunya Nafhu Ath-Thib, sebagaimana  dikutip oleh   Dr.   Abdul   Wahid  Wafi,  memberitakan  bahwa  Ibnu Al-Mutharraf, seorang  pakar  bahasa  pada  masanya,  pernah mengajarkan   seorang   perempuan   liku-liku  bahasa  Arab. Sehingga sang wanita pada akhirnya memiliki  kemampuan  yang melebihi  gurunya  sendiri,  khususnya  dalam  bidang puisi, sampai  ia  dikenal   dengan   nama   Al-'Arudhiyat   karena keahliannya dalam bidang ini.
 
Harus  diakui  hahwa  pembidangan  ilmu pada masa awal Islam belum sebanyak dan seluas sekarang ini.  Namun  Islam  tidak membedakan  satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya, sehingga seandainya mereka  yang  disebut  namanya  di  atas hidup  pada masa kini, tidak mustahil mereka akan tekun pula mempelajari disiplin-disiplin ilmu  yang  berkembang  dewasa ini.
 
Dalam hal ini Syaikh Muhammad Abduh menulis:
 
Kalaulah  kewajiban perempuan mempelajari hukum-hukum akidah kelihatannya amat terbatas,  sesungguhnya  kewajiban  mereka untuk   mempelajari  hal-hal  yang  berkaitan  dengan  rumah tcelgga,  pendidikan   anak,   dan   sebagainya,   merupakan persoalan-persoalan  duniawi (dan yang berbeda sesuai dengan perbedaan waktu, tempat,  dan  kondisi)  jauh  lebih  banyak daripada soal-soal akidah atau keagamaan.
 
Demikianlah  sekilas  menyangkut hak dan kewajiban perempuan dalam bidang  pendidikan.  Kalau  demikian  halnya,  mengapa timbul pandangan yang membatasi wanita untuk belajar? Sekali lagi,  salah  satu  penyebabnya  adalah  ayat   waqarna   fi buyutikunna yang dikemukakan di atas.
 
PERANAN ISTRI DALAM RUMAH TANGGA
 
Berbicara mengenai hal ini, ayat Ar-rijalu  qawammuna  'alan nisa'  biasanya dijadikan sebagai salah satu rujukan, karena ayat  tersebut  berbicara  tentang  pembagian  kerja  antara suami-istri.  Memahami pesan ayat ini, mengundang kita untuk menggarisbawahi  terlebih  dahulu  dua  butir  prinsip  yang melandasi hak dan kewajiban suami-istri:
 
1.     Terdapat perbedaan antara pria dan wanita, bukan hanya    pada bentuk fisik mereka, tetapi juga dalam bidang psikis.    Bahkan menurut Dr. Alexis Carrel salah seorang dokter yang    pernah meraih dua kali hadiah Nobel -perbedaan tersebut    berkaitan juga dengan kelenjar dan darah masing-masing    kelamin.
 
   Pembagian harta, hak, dan kewajiban yang ditetapkan agama    terhadap kedua jenis manusia itu didasarkan oleh    perbedaan-perbedaan itu.
 
2.     Pola pembagian kerja yang ditetapkan agama tidak    menjadikan salah satu pihak bebas dan tuntutan - minimal    dari segi moral - untuk membantu pasangannya.
 
Dalam surat Al-Baqarah ayat 228 dinyatakan,
 
 
"Bagi lelaki (suami)  terhadap  mereka  (wanita/istri)  satu derajat (lebih tinggi)."
 
Derajat  lebih  tinggi  yang  dimaksud  dalam  ayat  di atas dijelaskan oleh surat  An-Nisa'  ayat  34,  yang  menyatakan bahwa  "lelaki  (suami)  adalah  pemimpin terhadap perempuan
(istri)."
 
Kepemimpinan untuk setiap unit merupakan  hal  yang  mutlak, lebih-lebih  bagi  setiap  keluarga,  karena  mereka  selalu bersama,  serta  merasa  memiliki  pasangan  dan   keluarga, Persoalan  yang dihadapi suami-istri, muncul dari sikap jiwa manusia  yang  tercermin  dari  keceriaan  atau  cemberutnya wajah.  Sehingga  persesuaian  dan perselisihan dapat muncul seketika, tetapi boleh juga sirna seketika dan  dimana  pun. Kondisi seperti ini membutuhkan adanya seorang pemimpin yang melebihi kebutuhan suatu perusahaan  yang  sekadar  bergelut dengan  angka,  dan  bukannya  dengan perasaaan serta diikat oleh perjanjian yang bisa diselesaikan melalui pengadilan.
 
Hak kepemimpinan menurut Al-Quran seperti yang dikutip  dari ayat  di  atas,  dibebankan  kepada  suami.  Pembebanan  itu disebabkan oleh dua hal, yaitu:
 
a.     Adanva sifat-sifat fisik dan psikis pada suami yang lebih    dapat menunjang suksesnya kepemimpinan rumah tangga jika    dibandingkan dengan istri.
   
b.     Adanya kewajiban memberi nafkah kepada istri dan anggota    keluarganya.
 
Ibnu Hazm - seorang ahli hukum  Islam  -  berpendapat  bahwa wanita pada dasarnya tidak berkewajiban melayani suami dalam hal menyediakan makanan, menjahit,  dan  sebagainya.  Justru sang suamilah yang berkewajiban menyiapkan pakaian jadi, dan makanan yang siap dimakan untuk istri dan anak-anaknya.
 
Walaupun diakui dalam kenyataan  terdapat  istri-istri  yang memiliki  kemampuan  berpikir  dan materi melebihi kemampuan suami, tetapi semua itu merupakan  kasus  yang  tidak  dapat dijadikan  dasar untuk menetapkan suatu kaidah yang bersifat umum
 
Sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa  pembagian  kerja  ini tidak membebaskan masing-masing pasangan - paling tidak dari segi kewajiban moral - untuk membantu pasangannya dalam  hal yang berkaitan dengan kewajiban masing-masing. Dalam hal ini Abu Tsaur, seorang  pakar  hukum  Islam,  berpendapat  bahwa seorang  istri hendaknya membantu suaminya dalam segala hal. Salah satu alasan yang  dikemukakannya  adalah  bahwa  Asma, putri  Khalifah Abu Bakar, menjelaskan bahwasanya ia dibantu oleh suaminya dalam mengurus rumah tangga, tetapi Asma, juga membantu   suaminya   antara   lain  dalam  memelihara  kuda suaminya, menyabit  rumput,  menanam  benih  di  kebun,  dan sebagainya.
 
Tentu  saja  di  balik  kewajiban suami tersebut, suami juga mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi oleh  istrinya.  Suami wajib  ditaati selama tidak bertentangan dengan ajaran agama dan hak pribadi sang  istri.  Sedemikian  penting  kewajiban ini, sampai-sampai Rasulullah Saw. bersabda, "Seandainya aku memerintahkan  seseorang  untuk  sujud   kepada   seseorang, niscaya  akan  kuperintahkan  para  istri untuk sujud kepada suaminya." Bahkan Islam juga melarang seorang istri berpuasa sunnah  tanpa  seizin  suaminya.  Hal  ini disebabkan karena seorang  suami   mempunyai   hak   untuk   memenuhi   naluri seksualnya.
 
Dapat  ditambahkan  bahwa  Rasulullah  Saw. menegaskan bahwa seorang istri memimpin rumah tangga  dan  bertanggung  Jawab atas keuangan suaminya. Pertanggungjawaban tersebut terlihat dalam tugas-tugas yang  harus  dipenuhi,  serta  peran  yang diembannya  saat  memelihara  rumah  tangga,  baik dari segi kebersihan, keserasian tata ruang, pengaturan menu  makanan, maupun  pada  keseimbangan  anggaran.  Bahkan pun istri ikut bertanggung  jawab  -  bersama  suami  -  untuk  menciptakan ketenangan  bagi  seluruh  anggota keluarga, misalnya, untuk tidak menerima tamu pria atau wanita  yang  tidak  disenangi oleh  sang  suami.  Pada  tugas-tugas  rumah  tangga  inilah Rasulullah Saw. membenarkan seorang istri  melayani  bersama suaminya tamu pria yang mengunjungi rumahnya.
 
Pada  konteks  inilah  perintah Al-Quran harus dipahami agar para istri berada di rumah.
 
Firman Allah waqarna fi buyutikunna  (Dan  tetaplah  tinggal berdiam  di  rumah  kalian)  dalam  surat  Al-Ahzab ayat 33, menurut kalimatnya ditujukan untuk istri-istri Nabi  kendati dapat  dipahami  sebagai  acuan  kepada  semua wanita. Namun tidak berarti bahwa wanita  harus  terus-menerus  berada  di rumah    dan    tidak    diperkenalkan   keluar,   melainkan mengisyaratkan bahwa tugas pokok  yang  harus  diemban  oleh seorang istri adalah memelihara rumah tangganya.
 
Kesimpulannya,  peranan  seorang  istri  sebagai  ibu  rumah tangga adalah untuk  menjadikan  rumah  itu  sebagai  sakan, yakni  "tempat  yang  menenangkan  dan menenteramkan seluruh anggotanya."  Dan  dalam  konteks  inilah  Rasulullah   Saw. menggarisbawahi  sifat-sifat  seorang  istri yang baik yakni yang menyenangkan suami bila  ia  dipandang,  menaati  suami bila  ia  diperintah,  dan  ia  memelihara  diri, harta, dan anak-anaknya, bila suami jauh darinya.
 
Sebagai ibu, seorang istri adalah pendidik pertama dan utama bagi  anak-anaknya, khususnya pada masa-masa balita. Memang, keibuan  adalah  rasa  yang  dimiliki  oleh  setiap  wanita, karenanya  wanita  selalu  mendambakan  seorang  anak  untuk menyalurkan rasa keibuan tersebut. Mengabaikan potensi  ini, berarti  mengabaikan jati diri wanita. Pakar-pakar ilmu jiwa menekankan bahwa  anak  pada  periode  pertama  kelahirannya sangat  membutuhkan kehadiran ibu-bapaknya. Anak yang merasa kehilangan perhatian  (misalnya  dengan  kelahiran  adiknya) atau rnerasa diperlakukan tidak wajar, dengan dalih apa pun, dapat mengalami ketimpangan kepribadian.
 
Rasulullah Saw. pernah menegur seorang  ibu  yang  merenggut anaknya  secara  kasar dari pangkuan Rasulullah, karena sang anak pipis, sehingga  membasahi  pakaian  Rasul.  Rasulullah bersabda,
 
"Jangan  engkau  menghentikan  pipisnya. (Pakaian) ini dapat dibersihkan   dengan   air   tetapi   apakah   yang    dapat menghilangkan   kekeruhan   dalam   jiwa  anak  ini  (akibat perlakuan kasar itu)?
 
Para ilmuwan juga berpendapat bahwa, sebagian besar kompleks kejiwaan yang dialami oleh orang dewasa adalah akibat dampak negatif dari perlakuan yang dialaminya waktu kecil.
 
Oleh karena  itu,  dalam  rumah  tangga  dibutuhkan  seorang penanggung jawab utama terhadap perkembangan jiwa dan mental anak, khususnya saat usia dini (balita). Disini  pula  agama menoleh  kepada  ibu,  yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki sang ayah, bahkan tidak dimiliki oleh wanita-wanita selain ibu kandung seorang anak.
 
HAK-HAK DALAM BIDANG POLITIK
 
Apakah wanita memiliki hak-hak dalam bidang politik?
 
Paling tidak ada tiga alasan yang sering dikemukakan sebagai larangan keterlibatan mereka.
 
1.     Ayat Ar-rijal qawwamuna 'alan-nisa' (Lelaki adalah    pemimpin bagi kaum wanita) (QS An-Nisa, [4]: 34)
 
2.     Hadis yang menyatakan bahwa akal wanita kurang cerdas    dibandingkan dengan akal lelaki; keberagamaannya pun    demikian.
 
3.     Hadis yang mengatakan: Lan yaflaha qaum wallauw amrahum    imra'at (Tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan    urusan mereka kepada perempuan).
 
Ayat dan hadis-hadis di atas menurut  mereka  mengisyaratkan bahwa  kepemimpinan  hanya untuk kaum lelaki, dan menegaskan bahwa wanita harus mengakui kepemimpinan lelaki. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menulis tentang makna ayat di atas:
 
Para  lelaki  (suami)  didahulukan (diberi hak kepemimpinan, karena lelaki berkewajiban memberikan nafkah  kepada  wanita dan  membela mereka, juga (karena) hanya lelaki yang menjadi penguasa, hakim, dan juga ikut  bertempur.  Sedangkan  semua itu tidak terdapat pada wanita.
 
Selanjutnya penafsir ini, menegaskan bahwa:
 
Ayat  ini menunjukkan bahwa lelaki berkewajiban mengatur dan mendidik wanita, serta menugaskannya  berada  di  rumah  dan melarangnya   keluar.   Wanita   berkewajiban   menaati  dan melaksanakan perintahnya selama itu bukan perintah maksiat.
 
Pendapat ini diikuti oleh  banyak  mufasir  lainnya.  Namun, sekian  banyak mufasir dan pemikir kontemporer melihat bahwa ayat di atas tidak harus  dipahami  demikian,  apalagi  ayat tersebut berbicara dalam konteks kehidupan berumah tangga.
 
Seperti  dikemukakan  sebelumnya,  kata  ar-rijal dalam ayat ar-rijalu qawwamuna 'alan nisa', bukan berarti lelaki secara umum,  tetapi  adalah  "suami"  karena  konsiderans perintah tersebut seperti ditegaskan pada lanjutan ayat adalah karena mereka   (para   suami)  menafkahkan  sebagian  harta  untuk istri-istri mereka. Seandainya  yang  dimaksud  dengan  kata "lelaki"  adalah kaum pria secara umum, tentu konsideransnya tidak demikian. Terlebih lagi lanjutan ayat tersebut  secara jelas  berbicara  tentang  para  istri  dan  kehidupan rumah tangga. Ayat ini  secara  khusus  akan  dibahas  lebih  jauh ketika  menyajikan  peranan,  hak,  dan  kewajiban perempuan dalam rumah tangga Islam.
 
Adapun mengenai  hadis,  "tidak  beruntung  satu  kaum  yang menyerahkan   urusan   mereka   kepada   perempuan,"   perlu digarisbawahi bahwa  hadis  ini  tidak  bersifat  umum.  Ini terbukti  dan  redaksi  hadis  tersebut secara utuh, seperti diriwayatkan  Bukhari,  Ahmad,  An-Nasa'i  dan  At-Tirmidzi, melalui Abu Bakrah.
 
Ketika  Rasulullah  Saw.  mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat  putri  Kisra  sebagai  penguasa  mereka,  beliau bersabda,  "Tidak  akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan." (Diriwayatkan oleh Bukhari,
An-Nasa'i, dan Ahmad melalui Abu Bakrah).
 
Jadi  sekali  lagi  hadis  tersebut di atas ditujukan kepada masyarakat  Persia  ketika   itu,   bukan   terhadap   semua masyarakat dan dalam semua urusan.
 
Kita   dapat   berkesimpulan  bahwa,  tidak  ditemukan  satu ketentuan agama pun yang  dapat  dipahami  sebagai  larangan keterlibatan perempuan dalam bidang politik, atau ketentuarl agama  yang  membatasi  bidang  tersebut  hanya  untuk  kaum lelaki. Di sisi lain, cukup banyak ayat dan hadis yang dapat dijadikan dasar pemahaman untuk  menetapkan  adanya  hak-hak tersebut.
 
Salah  satu  ayat  yang sering dikemukakan oleh para pemikir Islam berkaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah surat At-Taubah ayat 71:
 
"Dan   orang-orang   yang  beriman,  lelaki  dan  perempuan, sebagian mereka adalah  awliya'  bagi  sebagian  yang  lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang makruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada  Allah  dan  Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh   Allah.   Sesungguhnya    Allah    Mahaperkasa    lagi Mahabijaksana."
 
Secara  umum  ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antara lelaki  dan  perempuan untuk  berbagai  bidang  kehidupan  yang  ditunjukkan dengan kalimat "menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah  yang munkar."
 
Pengertian  kata  awliya'  mencakup kerja sama, bantuan, dan penguasaan; sedangkan pengertian yang terkandung dalam frase "menyuruh  mengerjakan  yang  makruf"  mencakup  segala segi kebaikan  dan  perbaikan  kehidupan,   termasuk   memberikan nasihat  atau kritik kepada penguasa, sehingga setiap lelaki dan  perempuan  Muslim  hendaknya   mengikuti   perkembangan masyarakat  agar  masing-masing  mampu  melihat  dan memberi saran atau nasihat untuk berbagai bidang kehidupan.
 
Menurut sementara pemikir, sabda Nabi Saw. yang berbunyi,  
"Barangsiapa yang tidak memperhatikan  kepentingan  (urusan) kaum Muslim, maka ia tidak termasuk golongan mereka."
 
Hadis  ini mencakup kepentingan atau urusan kaum Muslim yang dapat menyempit ataupun meluas sesuai dengan latar  belakang dan tingkat pendidikan seseorang, termasuk bidang politik.
 
Di  sisi  lain,  Al-Quran  juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) agar bermusyawarah, melalui "pujian Tuhan  kepada mereka yang selalu melakukannya."
 
"Urusan  mereka  (selalu)  diputuskan  dengan musyawarah
(QS Al-Syura [42]: 38).
 
Ayat ini dijadikan dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan perempuan.
 
Syura  (musyawarah)  menurut  Al-Quran  hendaknya  merupakan salah  satu  prinsip  pengelolaan  bidang-bidang   kehidupan bersama,  termasuk  kehidupan  politik. Ini dalam arti bahwa setiap warga negara dalam hidup bermasyarakat dituntut untuk senantiasa   mengadakan   musyawarah.   Sejarah  Islam  juga menunjukkan betapa kaum  perempuan  tanpa  kecuali  terlibat dalam  berbagai  bidang kemasyarakatan. Al-Quran menguraikan permintaan para perempuan di zaman Nabi Saw. untuk melakukan bai'at  (janji setia kepada Nabi dan ajarannya), sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mumtahanah ayat 12.
 
Sementara pakar agama Islam menjadikan bai'at para perempuan sebagai   bukti   kebebasan   untuk   rnenentukan  pandangan berkaitan dengan kehidupan serta hak untuk mempunyai pilihan yang  berbeda  dengan pandangan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, bahkan terkadang berbeda dengan pandangan  suami dan ayah mereka sendiri.
 
Kenyataan  sejarah  menunjukkan  sekian  banyak  wanita yang terlibat pada persoalan politik praktis, Ummu Hani, misalnya dibenarkan  sikapnya  oleh Nabi Muhammad Saw. ketika memberi jaminan keamanan  kepada  sebagian  orang  musyrik  (jaminan keamanan  merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan istri Nabi  Muhammad  Saw.  sendiri,  yakni  Aisyah  r.a.  , memimpin langsung peperangan melawan Ali bin Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan kepala negara. Dan isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah suksesi setelah terhunuhnya Khalifah ketiga 'Utsman r.a. Peperangan  ini  dikenal  dalam sejarah  Islam dengan nama Perang Unta (656 M). Keterlibatan Aisyah  r.a.  bersama  sekian  banyak   sahabat   Nabi   dan kepemimpinannya  dalam  peperangan  itu,  menunjukkan  bahwa beliau bersama  para  pengikutnya  membolehkan  keterlibatan perempuan dalam bidang politik praktis sekalipun.
 
Dengan  ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum  wanita,  mereka  mempunyai  hak untuk   bekerja  dan  menduduki  jabatan-jabatan  tertinggi, kendati ada jabatan yang oleh sebagian ulama dianggap  tidak boleh diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan kepala negara (Al-Imamah   Al-Uzhma)   dan   hakim,   namun   perkembangan masyarakat dari saat ke saat mengurangi pendukungan larangan tersebut, khususnya persoalan  kedudukan  perempuan  sebagai hakim,
 
Dalam   beberapa   kitab  hukum  Islam,  seperti  Al-Mughni, ditegaskan  bahwa  setiap  orang  yang  memiliki  hak  untuk melakukan  sesuatu, maka sesuatu itu dapat diwakilkan kepada orang lain, atau menerima perwakilan dari orang lain.
 
Atas dasar kaidah di atas, Dr.  Jamaluddin  Muhammad  Mahmud berpendapat  bahwa  berdasarkan  kitab  fiqih  - bukan hanya sekadar pertimbangan perkembangan masyarakat  -  kita  dapat menyatakan  bahwa  perempuan dapat bertindak sebagai pembela maupun penuntut dalam berbagai bidang.
 
Tentu masih banyak  lagi  yang  dapat  dikemukakan  mengenai hak-hak  perempuan  untuk berbagai bidang. Namun, kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah bahwa mereka adalah  Syaqaiq Ar-Rijal (saudara sekandung kaum lelaki), sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama.  Kalaupun  ada perbedaan  hanyalah  akibat  fungsi  dan  tugas  utama  yang dibebankan  Tuhan  kepada   masing-masing   jenis   kelamin, sehingga perbedaan yang ada tidaklah mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan daripada yang lain:
 
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang  dikaruniakan Allah  kepada  sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi lelaki ada bagian dari apa  yang  mereka usahakan,  dan  bagi  perempuan  juga  ada  bagian dari yang mereka usahakan, dan bermohonlah kepada Allah sebagian  dari karunia-Nya,   sesungguhnya  Allah  Maha  Mengetahui  segala sesuatu." (QS An-Nisa, [4]: 32)
 
                              ***
 
Di atas telah dikemukakan berbagai penafsiran  yang  sedikit banyak berbeda satu dengan lainnya. Hemat penulis, perbedaan pendapat tersebut muncul karena  perbedaan  kondisi  sosial, adat   istiadat,  serta  kecenderungan  masing-masing,  yang kemudian mempengaruhi cara  pandang  dan  kesimpulan  mereka menyangkut ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw.
 
Tidak  mustahil,  jika  para  pakar  terdahulu hidup bersama putra-putri abad kedua puluh, dan mengalami  apa  yang  kita alami,  serta  mengetahui perkembangan masyarakat dan iptek, mereka pun  akan  memahami  ayat-ayat  Al-Quran  sebagaimana pemahaman  generasi  masa  kini. Sebaliknya, seandainya kita berada di kurun waktu saat mereka hidup, tidak mustahil kita berpendapat   seperti  mereka.  Ini  berarti  bahwa  seluruh pendapat yang dikemukakan, baik dari para  pendahulu  maupun pakar  yang  akan datang, semuanya bermuara kepada teks-teks keagamaan. []

3. Masyarakat

Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu --kecil atau besar-- yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas, dan  hidup  bersama.  Demikian   satu   dari   sekian   banyak definisinya.  Ada  beberapa kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia. Antara lain: qawm, ummah, syu'ub, dan qabail. Di samping itu, Al-Quran juga memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat tertentu, seperti al-mala', al-mustakbirun, al-mustadh'afun, dan lain-lain.
 
Walaupun Al-Quran bukan kitab ilmiah --dalam pengertian umum-- namun  Kitab  Suci  ini  banyak   sekali   berbicara   tentang masyarakat.  Ini disebabkan karena fungsi utama Kitab Suci ini adalah mendorong lahirnya  perubahan-perubahan  positif  dalam masyarakat,  atau  dalam  istilah  Al-Quran: litukhrija an-nas minazh-zhulumati ilan nur  (mengeluarkan  manusia  dari  gelap gulita  menuju  cahaya  terang  benderang). Dengan alasan yang sama,  dapat  dipahami  mengapa  Kitab  Suci  umat  Islam  ini memperkenalkan sekian banyak hukum-hukum yang berkaitan dengan bangun runtuhnya suatu  masyarakat.  Bahkan  tidak  berlebihan jika  dikatakan  bahwa  Al-Quran  merupakan  buku pertama yang memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.
 
Manusia adalah "makhluk sosial". Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw., dapat dipahami sebagai salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut.  Khalaqal  insan  min 'alaq  bukan  saja diartikan sebagai "menciptakan manusia dari segumpal  darah"  atau  "sesuatu  yang  berdempet  di  dinding rahim", tetapi juga dapat dipahami sebagai "diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain  atau  tidak dapat hidup sendiri." Ayat lain dalam konteks ini adalah surat Al-Hujurat  ayat  13.  Dalam  ayat   tersebut   secara   tegas dinyatakan  bahwa  manusia  diciptakan terdiri dari lelaki dan perempuan,  bersuku-suku  dan  berbangsa-bangsa,  agar  mereka saling   mengenal.  Dengan  demikian  dapat  dikatakan  bahwa, menurut Al-Quran, manusia secara fitri adalah  makhluk  sosial dan   hidup  bermasyarakat  merupakan  satu  keniscayaan  bagi mereka.
 
Tingkat  kecerdasan,  kemampuan,  dan  status  sosial  manusia menurut Al-Quran berbeda-beda:
 
     Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami      yang membagi antara mereka penghidupan mereka dalam      kehidupan dunia ini. Dan Kami telah meninggikan      sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa      tingkat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan      sebagian yang lain, dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari      apa yang mereka kumpulkan (0S Al-Zukhruf [43]: 32).
 
Seperti  terbaca   di   atas,   perbedaan-perbedaan   tersebut bertujuan  agar  mereka  saling  memanfaatkan (sebagian mereka dapat memperoleh manfaat dari  sebagian  yang  lain)  sehingga dengan   demikian   semua  saling  membutuhkan  dan  cenderung berhubungan dengan yang lain. Ayat ini, di samping  menekankan kehidupan   bersama,   juga   sekali   lagi  menekankan  bahwa bermasyarakat adalah sesuatu yang lahir  dari  naluri  alamiah masing-masing manusia.
 
CIRI KHAS SETIAP MASYARAKAT
 
Setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan  hidupnya.
Mereka  melangkah  berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut.
Inilah yang melahirkan watak  dan  kepribadiannya  yang  khas. Dalam hal ini, Al-Quran menyatakan:
 
     Demikianlah, Kami jadikan indah (di mata) setiap      masyarakat perbuatan mereka (QS A1-An'am [6]: 108).
 
Suasana kemasyarakatan  dengan  sistem  nilai  yang  dianutnya mempengaruhi  sikap  dan  cara  pandang  masyarakat  itu. Jika sistem nilai atau pandangan mereka terbatas pada "kini dan  di sini"  maka upaya dan ambisinya menjadi terbatas pada kini dan di sini pula. Allah menjanjikan masyarakat ini --bila memenuhi sunnatullah--   akan   mencapai  sukses,  tetapi  sukses  yang terbatas pada "kini dan di sini" dan setelah itu, mereka  akan jenuh, mandek, akibat rutinitas, kemudian menemui ajalnya. Ini dikemukakan Al-Quran dalam surat Al-Isra' ayat 18.
 
     Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi)      maka Kami segerakan baginya sekarang (di dunia) ini,      apa yang Kami kehendaki bagi yang Kami kehendaki,      kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahannam. Ia akan      memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
 
Al-Quran menekankan  kebersamaan  anggota  masyarakat  seperti gagasan  sejarah  bersama,  tujuan  bersama, catatan perbuatan bersama, bahkan kebangkitan, dan kematian bersama.  Dari  sini lahir gagasan amar ma'ruf dan nahi munkar, serta konsep fardhu kifayah dalam arti semua anggota masyarakat memikul dosa  bila sebagian mereka tidak melaksanakan kewajiban tertentu.
 
Meskipun  Al-Quran  menisbahkan watak, kepribadian, kesadaran, kehidupan dan kematian kepada masyarakat, namun Al-Quran tetap mengakui peranan individu, agar setiap orang bertanggung jawab atas  diri  dan  masyarakatnya.  Banyak   sekali   kisah-kisah Al-Quran  yang  menguraikan  penampilan  satu  individu  untuk membangun   masyarakatnya   atau    menentang    kebejatannya. Keberhasilan  mereka pun berdasarkan satu hukum kemasyarakatan yang pasti.

 
HUKUM-HUKUM KEMASYARAKATAN
 
Al-Quran sarat dengan uraian tentang hukum-hukum yang mengatur lahir,  tumbuh,  dan  runtuhnya  suatu masyarakat. Sebagian di antaranya telah disinggung di  atas.  Hukum-hukum  itu  --dari segi  kepastiannya--  tidak  berbeda  dengan hukum-hukum alam. Hukum-hukum  itu  dinamai  oleh  Al-Quran   sunnatullah,   dan berulang kali dinyatakannya:
 
     Engkau tidak akan mendapatkan perubahan terhadap      sunnatullah (QS Al-Ahzab [33]: 62).
 
Salah satu hukum kemasyarakatan yang amat  populer  --walaupun sering  diterjemahkan  dan  dipahami  secara  keliru--  adalah
firman Allah yang berbicara tentang hukum perubahan
 
     Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang      terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat),      sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri
     (sikap mental) mereka (QS Ar-Ra'd [13]: 11).
 
Dalam buku penulis, "Membumikan" Al-Quran, dikemukakan bahwa:
 
     Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan      dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang      pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan      diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah      manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara
     pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang      ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih      kasih atau membedakan antara satu masyarakat/kelompok      dengan masyarakat/kelompok lain ...
 
Ma bi anfusihim yang diterjemahkan dengan "apa  yang  terdapat dalam  diri  mereka",  terdiri  dari  dua  unsur  pokok, yaitu nilai-nilai  yang  dihayati  dan  iradah  (kehendak)  manusia. Perpaduan   keduanya   menciptakan   kekuatan  pendorong  guna melakukan sesuatu.
 
Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya,  dan dalam  kedudukannya  sebagai  kelompok,  bukan  sebagai  wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim    (diri-diri    mereka)    tertuju    kepada   qawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang,  betapapun hebatnya,  tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian  banyak  orang, yang  pada  gilirannya  menghasilkan  gelombang,  atau  paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.
 
Pentingnya keterkaitan antara pribadi  dan  masyarakat,  serta besarnya      perhatian     Al-Quran     terhadap     lahirnya perubahan-perubahan  positif,  mengantar  kepada   berulangnya ayat-ayatnya  yang  menekankan  tanggung  jawab perorangan dan tanggung jawab kolektif.
 
     Tidak ada satu makhluk (berakal) pun di langit dan di      bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah      sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan      jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan      gang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada      Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS
     Maryam [19]: 93-95).
 
Ayat di atas adalah  satu  dari  sekian  ayat  yang  berbicara tentang  tanggungjawab pribadi. Namun di samping itu, terdapat sekian ayat yang berbicara tentang  tanggung  jawab  kolektif, seperti dalam surat Al-Jatsiyah (45): 28,
 
     (Di hari kemudian) kamu akan melihat setiap umat/      masyarakat bertekuk lutut, setiap masyarakat diajak      untuk membaca kitab amalnya ...
 
Al-Quran  juga  menginformasikan   bahwa   setiap   masyarakat mempunyai usia:
 
     Setiap masyarakat mempunyai ajal (QS Al-A'raf [7]:      34).
 
Kedua ayat di atas tidak berbicara  tentang  ajal  perorangan, tetapi ajal masyarakat. Lengah akan adanya usia atau ajal bagi setiap   masyarakat,   dapat   mengantar   kepada   kekeliruan penafsiran.
 
Dalam   Al-Quran   dan   Terjemahnya  yang  disusun  oleh  Tim
Departemen Agama, ditemukan komentar menyangkut ayat 76  surat
Al-Isra':
 
     Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu      gelisah di negeri (Makkah) untuk mengusirmu dari sana,      dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu      mereka tidak tinggal melainkan sebentar saja.
 
Komentarnya adalah: "Kalau sampai terjadi Nabi Muhammad diusir oleh  penduduk Makkah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah  Nabi ke  Madinah  bukan  karena  pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata karena perintah Allah." Komentar ini sangat  sulit diterima,  karena  Al-Quran  sendiri  secara  tegas menyatakan
bahwa Rasulullah Saw. diusir dari Makkah,
 
     Jikalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad Saw.)      maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika      orang-orang kafir (musyrik Makkah) mengeluarkannya      (mengusirnya) dari Makkah ... (QS Al-Tawbah [9]: 40)
 
Menurut pendapat penulis, ayat 76  di  atas  justru  berbicara tentang  salah  satu  hukum kemasyarakatan, yaitu apabila satu kelompok masyarakat telah mencapai puncak  kebejatannya,  maka mereka  sebagai  satu  kelompok  (bukan orang per orang) tidak lama lagi akan mengalami kebinasaan. Dalam kasus Nabi Muhammad Saw.,  puncak  kebejatan  itu adalah usaha untuk membunuh Nabi dan pengusiran dari Makkah, sehingga seperti bunyi ayat, tidak lama  sesudah  itu  --yakni sekitar sepuluh tahun-- masyarakat kaum musyrik di Makkah sampai kepada ajalnya.
 
Kehancuran satu masyarakat --atau dengan kata lain:  kehadiran ajalnya-- tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya, bahkan boleh jadi mereka semua secara  individual tetap  hidup.  Namun,  kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan masyarakat   berubah   total,   digantikan   oleh   kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan yang berbeda dengan sebelumnya.
 
Demikianlah  gambaran  singkat  tentang  beberapa  aspek dari sekian  banyak  aspek  yang   dikemukakan   Al-Quran   tentang masyarakat. []

4. UMAT

Dalam Kamus Besar  Bahasa  Indonesia,  kata  "umat"  diartikan sebagai:

(1)  para penganut atau pengikut suatu agama

(2)  makhluk manusia

Dalam beberapa ensiklopedi,  kata  tersebut  diartikan  dengan berbagai  arti.  Ada  yang  memahaminya sebagai bangsa seperti keterangan Ensiklopedi Filsafat  yang  ditulis  oleh  sejumlah Akademisi  Rusia,  dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Samir Karam, Beirut  1974  M;  ada  juga  yang  mengartikannya negara  seperti  dalam Al-Mu'jam Al-Falsafi, yang disusun oleh Majma' Al-Lughah Al-'Arabiyah (Pusat Bahasa Arab), Kairo 1979 
Pengertian-pengertian seperti yang telah diungkapkan  di  atas dapat  mengakibatkan kerancuan pemahaman terhadap konsep ummat yang ada dalam Al-Quran. Bahkan, bisa jadi,  akan  menimbulkan kesalahpahaman di kalangan umat Islam sendiri.

Kata  ummat  terambil  dari  kata [tulisan arab] (amma-yaummu) Yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Dari  akar  yang sama,  lahir  antara  lain kata um yang berarti "ibu" dan imam yang maknanya "pemimpin";  karena  keduanya  menjadi  teladan, tumpuan pandangan, dan harapan anggota masyarakat.

Pakar-pakar  bahasa  berbeda  pendapat  tentang jumlah anggota satu umat. Ada yang merujuk ke riwayat yang dinisbahkan kepada
Nabi Saw. bahwa beliau bersabda,

     Tidak seorang mayat pun yang dishalatkan oleh umat
     dari kaum Muslim sebanyak seratus orang, dan      memohonkan kepada Allah agar diampuni, kecuali      diampuni oleh-Nya (HR An-Nasa'i).

Ada juga yang mengatakan bahwa, angka empat puluh  sudah  bisa disebut  umat.  Pakar  hadis An-Nasa'i yang meriwayatkan hadis serupa menyatakan bahwa Abu Al-Malih ditanyai  tentang  jumlah orang yang shalat itu, dan menjawab, "Empat puluh orang."

Kalau   kita   merujuk  kepada  Al-Quran,  agaknya  penjelasan
Ar-Raghib dapat dipertanggungjawabkan.

Pakar bahasa Al-Quran itu (w.  508  H/1108  M)  dalam  bukunya Al-Mufradat  fi  Gharib  Al-Qur'an, menjelaskan bahwa kata ini didefinisikan  sebagai  semua  kelompok  yang  dihimpun   oleh sesuatu,  seperti  agama,  waktu,  atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka.

Secara tegas Al-Quran dan  hadis  tidak  membatasi  pengertian umat hanya pada kelompok manusia.

     Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi, dan      burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya      kecuali umat-umat juga seperti kamu (QS Al-An'am [6]:      38).

Rasulullah Saw. bersabda:

     Semut (juqa) merupakan umat dan umat-umat (Tuhan) (HR.      Muslim).

     Seandainya anjing-anjing bukan umat dan umat-umat
     (Tuhan) niscaya saya perintahkan untuk dibunuh (HR
     At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

Ikatan persamaan apa pun yang menyatukan makhluk hidup manusia --atau  binatang-- seperti jenis, suku, bangsa, ideologi, atau agama, dan sebagainya, maka ikatan itu telah menjadikan mereka satu   umat.  Bahkan  Nabi  Ibrahim  a.s.  --sendirian--  yang menyatukan sekian banyak sifat terpuji dalam dirinya,  disebut oleh  Al-Quran  sebagai  "umat"  (QS Al- Nahl [16]: 120), dari sini  beliau  kemudian  menjadi  imam,  yakni  pemimpin   yang diteladani.

Kata  umat  tidak  hanya  digunakan untuk manusia-manusia yang taat beragama, karena  dalam  sebuah  hadis  dinyatakan  bahwa
Rasul Saw. bersabda,

     "Semua umatku masuk surga, kecuali yang enggan."
     Beliau ditanyai, "Siapa yang enggan itu?" Dõjawabnya,
     "Siapa yang taat kepadaku dia akan masuk surga, dan      yang durhaka maka ia telah enggan" (HR Bukhari melalui
     Abu Hurairah).

Al-Quran surat Al-Ra'd ayat 30 menggunakan  kata  ummat  untuk menunjuk  orang-orang  yang enggan menjadi pengikut para Nabi. Begitu kesimpulan Ad-Damighani  (abad  ke-ll  H)  dalam  Kamus
Al-Quran yang disusunnya.

Kata  ummat  dalam bentuk tunggal terulang lima puluh dua kali dalam Al-Quran. Ad-Damighani menyebutkan sembilan  arti  untuk kata itu, yaitu, kelompok, agama (tauhid), waktu yang panjang, kaum, pemimpin, generasi lalu, umat Islam, orang-orang  kafir, dan manusia seluruhnya.

Benang  merah  yang  menggabungkan  makna-makna di atas adalah
"himpunan".

Sungguh indah, luwes, dan  lentur  kata  ini,  sehingga  dapat mencakup  aneka  makna,  dan  dengan  demikian dapat menampung
--dalam kebersamaannya-- aneka perbedaan.

Al-Quran  memilih  kata  ini  untuk  menunjukkan  antara  lain "himpunan  pengikut  Nabi Muhammad Saw. (umat Islam)", sebagai isyarat    bahwa    ummat    dapat     menampung     perbedaan kelompok-kelompok, betapapun kecil jumlah mereka, selama masih pada arah yang sama, yaitu Allah Swt.

     Sesungguhnya umatmu ini (agama tauhid) adalah umat
     (agama) yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka      sembahlah Aku (QS Al-Anbiya' [21]: 92).

Dalam kata "umat" terselip makna-makna yang cukup dalam.  Umat mengandung  arti gerak dinamis, arah, waktu, jalan yang jelas, serta gaya dan cara hidup. Untuk menuju pada satu arah,  harus jelas jalannya, serta harus bergerak maju dengan gaya dan cara tertentu, dan pada saat  yang  sama  membutuhkan  waktu  untuk mencapainya.  Al-Quran  surat  Yusuf (12): 45 menggunakan kata umat untuk arti waktu. Sedangkan  surat  Al-Zukhruf  (43):  22
untuk arti jalan, atau gaya dan cara hidup,

Ali  Syariati  dalam bukunya Al-Ummah wa Al-Imamah menyebutkan keistimewaan kata ini dibandingkan kata  semacam  nation  atau qabilah  (suku).  Pakar  ini  mendefinisikan kata umat --dalam konteks sosiologis-- sebagai "himpunan manusiawi yang  seluruh anggotanya  bersama-sama  menuju  satu arah, bahu membahu, dan bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama."

Umat Islam disebut oleh Al-Quran  surat  Al-Baqarah  {2):  143 sebagai ummat(an) wasatha.

     Demikianlah itu Kami menjadikan kamu ummatan wasatha      agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan      agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)      kamu.

Mulanya, kata wasath berarti segala yang  baik  sesuai  dengan obyeknya.  Sesuatu  yang baik berada pada posisi di antara dua ekstrem.  Keberanian  adalah  pertengahan  sifat  ceroboh  dan takut.  Kedermawanan  merupakan pertengahan antara sikap boros dan kikir. Kesucian merupakan pertengahan  antara  kedurhakaan karena  dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi. Dari sini, kata wasath berkembang maknanya menjad tengah.

Yang menghadapi dua pihak  berseteru  dituntut  untuk  menjadi wasath  (wasit)  dan  berada  pada  posisi tengah agar berlaku adil. Dari sini, lahirlah makna ketiga wasath, yaitu adil.

Ummatan wasatha adalah umat moderat, yang posisinya berada  di tengah,  agar  dilihat  oleh  semua  pihak,  dan  dari segenap penjuru.

Mereka dijadikan demikian --menurut lanjutan  ayat  di  atas-- agar mereka menjadi syuhada (saksi), sekaligus menjadi teladan dan patron bagi yang lain, dan  pada  saat  yang  sama  mereka menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai patron teladan dan saksi pembenaran bagi semua aktivitasnya.

Keberadaan umat Islam dalam posisi tengah  menyebabkan  mereka tidak  seperti  umat yang hanyut oleh materialisme, tidak pula mengantarnya membumbung tinggi ke alam ruhani, sehingga  tidak lagi  berpijak  di bumi. Posisi tengah menjadikan mereka mampu memadukan aspek ruhani dan jasmani,  material,  dan  spiritual dalam segala sikap dan aktivitas.

Wasathiyat (moderasi atau posisi tengah) mengundang umat Islam untuk berinteraksi, berdialog, dan terbuka dengan semua  pihak (agama,  budaya,  dan  peradaban),  karena  mereka tidak dapat menjadi saksi maupun berlaku adil jika  mereka  tertutup  atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.[]

5. KEBANGSAAN
"Kebangsaan" terbentuk dari kata  "bangsa"  yang  dalam  Kamus Besar    Bahasa   Indonesia,   diartikan   sebagai   "kesatuan orang-orang yang bersamaan asal keturunan,  adat,  bahasa  dan sejarahnya,    serta   berpemerintahan   sendõri."   Sedangkan kebangsaan diartikan sebagai "ciri-ciri yang menandai golongan bangsa."

Para  pakar  berbeda  pendapat  tentang unsur-unsur yang harus terpenuhi untuk menamai suatu kelompok manusia sebagai bangsa. Demikian  pula  mereka berbeda pendapat tentang ciri-ciri yang mutlak harus terpenuLi guna  terwujudnya  sebuah  bangsa  atau kebangsaan.  Hal  ini  merupakan kesulitan tersendiri di dalam upaya memahami pandangan Al-Quran tentang paham kebangsaan.

Di sisi lain, paham kebangsaan --pada dasarnya-- belum dikenal pada  masa  turunnya  Al-Quran.  Paham  ini  baru  muncul  dan berkembang di Eropa sejak akhir  abad  ke-18,  dan  dari  sana menyebar ke seluruh dunia Islam.

Memang,  keterikatan  kepada tanah tumpah darah, adat istiadat leluhur, serta penguasa setempat  telah  menghiasi  jiwa  umat manusia   sejak   dahulu   kala,   tetapi   paham   kebangsaan (nasionalisme) dengan pengertiannya  yang  lumrah  dewasa  ini baru dikenal pada akhir abad ke-18.

Yang  pertama kali memperkenalkan paham kebangsaan kepada umat Islam adalah Napoleon pada saat ekspedisinya ke Mesir. Lantas, seperti  telah  diketahui,  setelah  Revolusi  1789,  Perancis menjadi salah  satu  negara  besar  yang  berusaha  melebarkan sayapnya.  Mesir yang ketika itu dikuasai oleh para Mamluk dan berada di bawah naungan kekhalifahan Utsmani, merupakan  salah satu wilayah yang diincarnya. Walaupun penguasa-penguasa Mesir itu beragama  Islam,  tetapi  mereka  berasal  dari  keturunan orang-orang  Turki.  Napoleon  mempergunakan  sisi  ini  untuk memisahkan  orang-orang  Mesir  dan  menjauhkan  mereka   dari penguasa  dengan  menyatakan  bahwa  orang-orang Mamluk adalah orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam maklumatnya, Napoleon memperkenalkan  istilah Al-Ummat Al-Mishriyah, sehingga ketika itu istilah baru ini mendampingi istilah yang selama ini telah
amat dikenal, yaitu Al-Ummah Al-Islamiyah

Al-Ummah  Al-Mishriyah  dipahami dalam arti bangsa Mesir. Pada perkembangan   selanjutnya   lahirlah   ummah    lain,    atau bangsa-bangsa lain.

MENEMUKAN WAWASAN KEBANGSAAN DALAM AL-QURAN

Untuk  memahami  wawasan  Al-Quran  tentang  paham kebangsaan, salah satu pertanyaan yang dapat muncul adalah,  "Kata  apakah yang   sebenarnya  dipergunakan  oleh  kitab  suci  itu  untuk menunjukkan konsep bangsa atau kebangsaan? Apakah sya'b, qaum, atau ummah?"

Kata  qaum dan qaumiyah sering dipahami dengan arti bangsa dan kebangsaan. Kebangsaan Arab dinyatakan oleh  orang-orang  Arab dewasa    ini   dengan   istilah   Al-Qaumiyah   Al-'Arabiyah. Sebelumnya, Pusat Bahasa Arab  Mesir  pada  1960,  dalam  buku Mu'jam Al-Wasith menerjemahkan "bangsa" dengan kata ummah.

Kata   sya'b   juga  diterjemahkan  sebagai  "bangsa"  seperti ditemukan  dalam  terjemahan  Al-Quran   yang   disusun   oleh Departemen Agama RI, yaitu ketika menafsirkan surat Al-Hujurat (49): 13.

Apakah  untuk  memahami   wawasan   Al-Quran   tentang   paham kebangsaan  perlu  merujuk  kepada  ayat-ayat yang menggunakan kata-kata tersebut, sebagaimana ditempuh oleh  sebagian  orang selama   ini?  Misalnya,  dengan  menunjukkan  Al-Quran  surat
Al-Hujurat (49): 13 yang bisa diterjemahkan:

     Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telahi      menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang      perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa      dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal.      Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
     Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
     Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Apakah dari ayat  ini,  nampak  bahwa  Islam  mendukung  paham kebangsaan karena Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa?

Mestikah untuk mendukung atau menolak paham  kebangsaan,  kata qaum  yang  ditemukan  dalam  Al-Quran  sebanyak  322 kali itu ditoleh? Dapatkah dikatakan bahwa pengulangan yang  sedemikian banyak,   merupakan   bukti  bahwa  Al-Quran  mendukung  paham kebangasaan? Bukankah para Nabi menyeru masyarakatnya  dengan, "Ya  Qaumi"  (Wahai  kaumku/bangsaku),  walaupun  mereka tidak beriman kepada ajarannya? (Perhatikan misalnya Al-Quran  surat
Hud (11): 63, 64, 78, 84, dan lain-lain!).

Di  sisi  lain,  dapatkah  dibenarkan pandangan sebagian orang yang bermaksud mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan, dengan    menyatakan   bahwa   Allah   Swt.   dalam   Al-Quran memerintahkan Nabi Saw. untuk menyeru masyarakat tidak  dengan kata  qaumi, tetapi, "Ya ayyuhan nas" (wahai seluruh manusia), serta menyeru kepada masyarakat yang mengikutinya  dengan  "Ya ayyuhal   ladzina   'amanu?"  Benarkah  dalam  Al-Quran  tidak ditemukan bahwa Nabi Muhammad Saw. menggunakan kata qaum untuk menunjuk  kepada  masyarakatnya, seperti yang ditulis sebagian orang? [1]

Catatan kaki:

 [1] Pernyataan terakhir ini dapat dipastikan tidak      benar, karena dalam Al-Quran surat Al-Furqan (25): 30      secara tegas dinyatakan, bahwa Rasulullah saw.
     mengeluh kepada Allah, dengan mengatakan,
     "Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu      yang tidak diacuhkan."

Hemat penulis untuk menemukan wawasan Al-Quran  tentang  paham kebangsaan,  tidak  cukup  sekadar  menoleh  kepada  kata-kata tersebut  yang  digunakan  oleh  Al-Quran,  karena  pengertian semantiknya  dapat  berbeda  dengan  pengertian yang dikandung oleh kata bangsa atau kebangsaan. Kata sayyarah yang ditemukan dalam  Al-Quran misalnya, masih digunakan dewasa ini, meskipun maknanya sekarang  telah  berubah  menjadi  mobil.  Makna  ini tentunya  berbeda  dengan  maksud Al-Quran ketika menceritakan ucapan saudara-saudara Nabi Yusuf  a.s.  yang  membuangnya  ke dalam  sumur  dengan  harapan  dipungut  oleh  sayyarah  yakni kafilah atau rombongan musafir. (Baca QS Yusuf [12]: 10).

Kata qaum misalnya, pada mulanya terambil dari kata qiyam yang berarti "berdiri atau bangkit". Kata qaum agaknya dipergunakan untuk  menunjukkan  sekumpulan  manusia  yang  bangkit   untuk berperang  membela  sesuatu. Karena itu, kata ini pada awalnya hanya digunakan untuk lelaki, bukan  perempuan  seperti  dalam firman Allah:

     Janganlah satu qaum (kumpulan lelaki) mengejek qaum      (kumpulan lelaki) yang lain. Jangan pula (kumpulan      perempuan) mengejek (kumpulan) perempuan yang lain,      karena boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik      daripada mereka (yang mengejek) (QS Al-Hujurat [49]:      11).

Kata sya'b, yang hanya sekali ditemukan  dalam  Al-Quran,  itu pun  berbentuk  plural,  dan pada mulanya mempunyai dua makna, cabang dan rumpun. Pakar bahasa Abu 'Ubaidah --seperti dikutip oleh  At-Tabarsi  dalam tafsirnya-- memahami kata sya'b dengan arti kelompok non-Arab, sama dengan  qabilah  untuk  suku-suku
Arab.

Betapapun,  kedua  kata  yang  disebutkan  tadi, dan kata-kata lainnya,  tidak  menunjukkan  arti  bangsa  sebagaimana   yang dimaksud pada istilah masa kini.

Hal  yang  dikemukakan  ini,  tidak  lantas  menjadikan  surat Al-Hujurat  yang   diajukan   tertolak   sebagai   argumentasi pandangan  kebangsaan yang direstui Al-Quran. Hanya saja, cara pembuktiannya tidak sekadar menyatakan bahwa kata  sya'b  sama dengan bangsa atau kebangsaan.

APAKAH YANG DIMAKSUD PAHAM KEBANGSAAN?

Apakah yang dimaksud dengan paham kebangsaan?  Sungguh  banyak pendapat  yang  berbeda  satu  dengan yang lain. Demikian pula dengan pertanyaan yang muncul disertai jawaban  yang  beragam, misalnya:

Apakah mutlak adanya kebangsaan, kesamann asal keturunan, atau bahasa? Apakah yang  dimaksud  dengan  keturunan  dan  bahasa? Apakah kebangsaan merupakan persamaan ras, emosi, sejarah, dan cita-cita meraih masa depan? Unsur-unsur apakah yang mendukung terciptanya kebangsaan? Dan masih ada sekian banyak pertanyaan lain. Sehingga mungkin benar  pula  pendapat  yang  menyatakan bahwa  paham  kebangsaan adalah sesuatu yang bersifat abstrak, tidak dapat disentuh; bagaikan listrik, hanya diketahui gejala dan bukti keberadaannya, namun bukan unsur-unsurnya.

Pertanyaan  yang  antara lain ingin dimunculkan adalah "Apakah unsur-unsur tersebut dapat  diterima,  didukung,  atau  bahkan inklusif  di dalam ajaran Al-Quran? Dapatkah Al-Quran menerima wadah  yang  menghimpun  keseluruhan  unsur   tersebut   tanpa mempertimbangkan  kesatuan  agama? Berikut ini akan dijekaskan beberapa konsep yang mendasari paham kebangsaan.

1. Kesatuan/Persatuan

Tidak dapat disangkal bahwa Al-Quran  memerintahkan  persatuan dan  kesatuan.  Sebagaimana  secara  jelas pula Kitab suci ini menyatakan bahwa "Sesungguhnya umatmu  ini  adalah  umat  yang satu" (QS Al-Anbiya' [2l]: 92, dan Al-Mu'minun [23]: 52).

Pertanyaan  yang  dapat  saja muncul berkaitan dengan ayat ini adalah:

a)  Apakah ayat ini dan semacamnya mengharuskan      penyatuan seluruh umat Islam dalam satu wadah      kenegaraan?
     
b)  Kalau tidak, apakah dibenarkan adanya
     persatuan/kesatuan yang diikat oleh unsur-unsur yang      disebutkan di atas, yakni persamaan asal keturunan,      adat, bahasa, dan sejarah?

Yang  harus  dipahami  pertama  kali  adalah  pengertian   dan penggunaan  Al-Quran terhadap kata ummat. Kata ini terulang 51 kali dalam Al-Quran, dengan makna yang berbeda-beda.

Ar-Raghib  Al-Isfahani  --pakar  bahasa  yang  menyusun  kamus Al-Quran  Al-Mufradat  fi  Ghanb  Al-Quran-- menjelaskan bahwa ummat  adalah  "kelompok  yang  dihimpun  oleh  sesuatu,  baik persamaan  agama,  waktu,  atau tempat, baik pengelompokan itu
secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri."

Memang, tidak hanya manusia yang berkelompok  dinamakan  umat, bahkan binatang pun demikian.

     Dan tiadalah binatang-binatang melata yang ada yang di      bumi, tiada juga burung-burung yang terbang dengan      kedua sayapnya, kecuali umat-umat seperti kamu ... (0S
     Al-An'am [6]: 38).

Jumlah anggota suatu umat tidak dijelaskan oleh Al-Quran.  Ada yang  berpendapat  minimal  empat  puluh  atau  seratus orang. Tetapi, sekali lagi Al-Quran pun menggunakan kata umat  bahkan untuk  seseorang yang memiliki sekian banyak keistimewaan atau jasa, yang biasanya hanya dimiliki  oleh  banyak  orang.  Nabi Ibrahim a.s. misalnya disebut sebagai umat oleh Al-Quran surat
An-Nahl (16): 20 karena alasan itu.

     Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat      dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah, hanif dan      tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan
     (Tuhan) (QS An-Nahl [16]: 120).

Kalau demikian, dapat dikatakan bahwa makna  kata  umat  dalam Al-Quran sangat lentur, dan mudah menyesuaikan diri. Tidak ada batas  minimal  atau  maksimal  untuk  suatu  persatuan.  Yang membatasi  hanyalah  bahasa,  yang  tidak  menyebutkan  adanya persatuan tunggal.

Di sisi lain, dalam Al-Quran ternyata ditemukan sembilan  kali kata  ummat  yang  digandengkan  dengan  kata wahidah, sebagai sifat umat. Tidak  sekali  pun  Al-Quran  menggunakan  istilah Wahdat  Al-Ummah  atau  Tauhid  Al-Ummah  (Kesatuan/ penyatuan umat). Karena itu, sungguh tepat analisis Mahmud Hamdi Zaqzuq, mantan   Dekan   Fakultas   Ushuluddin  Al-Azhar  Mesir,  yang disampaikan pada pertemuan Cendekiawan Muslim di Aljazair 1409 H/ 1988 M, bahwa Al-Quran menekankan sifat umat yang satu, dan bukan pada penyatuan umat, ini juga berarti bahwa  yang  pokok adalah persatuan, bukan penyatuan.

Perlu  pula  digarisbawahi,  bahwa  makna  umat  dalam konteks tersebut adalah pemeluk agama Islam.  Sehingga  ayat  tersebut pada hakikatnya menyatakan bahwa agama umat Islam adalah agama yang satu dalam prinsip-prinsip (ushul)-nya,  tiada  perbedaan dalam  akidahnya,  walaupun  dapat  berbeda-beda dalam rincian (furu')  ajarannya.   Artinya,   kitab   suci   ini   mengakui kebhinekaan dalam ketunggalan.
 
Ini  juga  sejalan  dengan  kehendak  Ilahi,  antara lain yang dinyatakan-Nya dalam Al-Quran surat Al-Ma-idah (5): 48:

     Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan      kamu satu umat (saja).

Tetapi itu tidak dikehendaki-Nya. Sebagaimana  terpahami  dari perandaian  kata  lauw,  yang  oleh  para  ulama  dinamai harf imtina' limtina',  atau  dengan  kata  lain,  mengandung  arti kemustahilan.

Kalau demikian, tidak dapat dibuktikan bahwa Al-Quran menuntut penyatuan umat Islam seluruh dunia pada satu  wadah  persatuan saja, dan menolak paham kebangsaan.

Jamaluddin  Al-Afghani, yang dikenal sebagai penyeru persatuan Islam (Liga Islam atau Pan-Islamisme), menegaskan bahwa idenya itu  bukan  menuntut  agar  umat  Islam  berada  di bawah satu kekuasaan,  tetapi  hendaknya  mereka  mengarah  kepada   satu tujuan,   serta   saling  membantu  untuk  menjaga  keberadaan masing-masing.

     Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang      berkelompok-kelompok dan berselisih, setelah datang      penjelasan kepada mereka ... (QS Ali 'Imran [3]: 105).

Kalimat "dan  berselisih"  digandengkan  dengan  "berkelompok" untuk mengisyaratkan bahwa yang terlarang adalah pengelompokan yang mengakibatkan perselisihan.

Kesatuan umat Islam tidak berarti dileburnya segala perbedaan, atau   ditolaknya   segala   ciri/sifat   yang  dimiliki  oleh perorangan, kelompok, asal keturunan, atau bangsa.

Kelenturan kandungan  makna  ummat  seperti  yang  dikemukakan terdahulu mendukung pandangan ini. Sekaligus membuktikan bahwa dalam banyak hal Al-Quran hanya mengamanatkan nilai-nilai umum dan  menyerahkan  kepada masyarakat manusia untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai umum itu.  Ini  merupakan  salah  satu keistimewaan  Al-Quran  dan  salah  satu  faktor kesesuaiannya dengan setiap waktu dan tempat.

Dengan demikian,  terjawablah  pertanyaan  pertama  itu  yakni Al-Quran  tidak  mengharuskan  penyatuan seluruh umat Islam ke dalam  satu  wadah  kenegaraan.  Sistem  kekhalifahan   --yang dikenal  sampai masa kekhalifahan Utsmaniyah-- hanya merupakan salah  satu  bentuk  yang  dapat  dibenarkan,   tetapi   bukan satu-satunya bentuk baku yang ditetapkan. Oleh sebab itu, jika perkembangan  pemikiran  manusia  atau  kebutuhan   masyarakat menuntut  bentuk  lain,  hal  itu  dibenarkan pula oleh Islam, selama  nilai-nilai  yang   diamanatkan   maupun   unsur-unsur perekatnya tidak bertentangan dengan Islam.

2. Asal Keturunan

Tanpa  mempersoalkan  perbedaan makna dan pandangan para pakar tentang kemutlakan  unsur  "persamaan  keturunan",  dalam  hal kebangsaan,  atau  melihat  kenyataan  bahwa tiada satu bangsa yang hidup pada masa kini  yang  semua  anggota  masyarakatnya berasal  dari  keturunan  yang  sama,  tanpa mempersoalkan itu semua dapat ditegaskan bahwa salah satu tujuan kehadiran agama adalah  memelihara keturunan. Syariat perkawinan dengan syarat dan rukun-rukunnya, siapa yang boleh dan tidak boleh  dikawini dan  sebagainya,  merupakan  salah  satu  cara  Al-Quran untuk memelihara keturunan.

Al-Quran menegaskan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia  dari satu  keturunan dan bersuku-suku (demikian juga rumpun dan ras manusia), agar mereka saling  mengenal  potensi  masing-masing dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Ini  berarti bahwa Al-Quran merestui pengelompokan berdasarkan keturunan,  selama  tidak   menimbulkan   perpecahan,   bahkan mendukungnya demi mencapai kemaslahatan bersama.

Dari beberapa ayat Al-Quran, dapat ditarik pembenaran hal ini, atau paling  tidak  "tiada  penolakan"  terhadapnya.  Misalnya dalam Al-Quran surat Al-A'raf (7): 160:

     Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang      masing-masing menjadi umat, dan Kami wahyukan kepada      Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, "Pukullah      batu itu dengan tongkatmu!" Maka memancarlah darinya      dua belas mata air...

Rasul Muhammad Saw. sendiri pernah diperintahkan oleh Al-Quran surat  AsyS-yu'ara'  ayat  214  agar memberi peringatan kepada kerabat dekatnya. Hal itu menunjukkan bahwa penggabungan  diri ke dalam satu wadah kekerabatan dapat disetujui oleh Al-Quran, apalagi menggabungkan diri pada wadah yang lebih besar semacam kebangsaan.

Piagam Madinah (Kitabun Nabi) yang diprakarsai oleh Rasulullah Saw.  ketika  beliau  baru  tiba  di   Madinah   yang   berisi ketentuan/kesepakatan  yang mengikat masyarakat Madinah justru mengelompokkan  anggotanya  pada   suku-suku   tertentu,   dan masing-masing  dinamai  ummat.  Kemudian,  mereka yang berbeda agama itu bersepakat menjalin persatuan  ketika  membela  kota
Madinah dari serangan musuh.

Nabi  Luth  a.s.  sebagaimana  dikemukakan  Al-Quran, mengeluh karena  kaum  atau  bangsanya  tidak  menerima  dakwahnya.  Ia mengeluh sambil berkata:

     Seandainya aku mempunyai kekuatan denganmu, atau kalau      aku dapat berlindung niscaya aku lakukan (QS Hud [11]:      80).

Yang dimaksud dengan "kekuatan" adalah pembela  dan  pembantu, yang  dimaksud dengan perlindungan adalah keluarga dan anggota masyarakat atau bangsa.

Rasulullah Saw. sendiri dalam  perjuangan  di  Makkah,  justru mendapat  pembelaan  dari  keluarga  besar  beliau,  baik yang percaya maupun yang tidak. Dan ketika terjadi pemboikotan dari penduduk Makkah, mereka memboikot Nabi dan keluarga besar Bani Hasyim. Abu Thalib yang bukan anggota masyarakat Muslim ketika itu  dengan  tegas  berkata,  "Demi  Allah'  kami  tidak  akan menyerahkannya (Nabi Muhammad Saw.) sampai yang terakhir  dari kami gugur."

Sejalan  dengan  kenyataan  di  atas  Nabi Saw. pernah khutbah dengan menyatakan:

     Sebaik-baik kamu adalah pembela keluarga besarnya      selama (pembelaannya) bukan dosa (HR Abu Daud melalui      sahabat Suraqah bin Malik).

Hanya  saja  pengelompokan  dalam  suku  bangsa  tidak   boleh menyebabkan   fanatisme   buta,   apalagi   menimbulkan  sikap superioritas, dan pelecehan.  Rasulullah  Saw.  mengistilahkan hal itu dengan al-'ashabiyah.

     Bukanlah dari kelompok kita yang mengajak kepada
     'ashabiyyah, bukan juga yang berperang atas dasar
     'ashabiyah, bukan juga yang mati dengan keadaan
     (mendukung) 'ashabiyyah (HR Abu Daud dari sahabat
     Jubair bin Muth'im).

Rasulullah  Saw.  mempergunakan  ungkapan  yang   populer   di kalangan   orang-orang  Arab  sebelum  Islam,  "Unshur  akhaka zhalim(an) au mazhlum(an)" (Belalah saudaramu yang  menganiaya atau  dianiaya),  sambil  menjelaskan bahwa pembelaan terhadap orang yang melakukan penganisyaan  adalah  dengan  mencegahnya melakukan penganiayaan (HR Bukhari melalui Anas bin Malik).

Walaupun   Al-Quran   mengakui  adanya  kelompok  suku,  namun Al-Quran  juga  mengisyaratkan  bahwa  sesuatu  yang  memiliki kesamaan  sifat  dapat  digabungkan ke dalam satu wadah. Iblis yang dalam Al-Quran surat Al-Kahf  (18):  50  dinyatakan  dari jenis  jin.  Sesungguhnya  ia  (Iblis)  adalah dari jenis Jin, dimasukkan Allah dalam kelompok  malaikat  yang  diperintahkan sujud  kepada  Adam.  Karena,  ketika  itu,  Iblis begitu taat beragama,  tidak  kalah  dari  ketaatan  para  malaikat.   Itu sebabnya  walaupun  yang  diperintah  untuk  sujud kepada Adam adalah para malaikat (QS Al-A'raf [7]: 11) tetapi  Iblis  yang dari  kelompok  jin  yang  telah bergabung dengan malaikat itu termasuk diperintah, karenanya ketika enggan  ia  dikecam  dan dikutuk Tuhan.

Dalam  konteks  paham  kebangsaan,  Rasulullah Saw. memasukkan sahabatnya  Salman,  Suhaib,  dan  Bilal  yang   masing-masing berasal  dari  Persia, Romawi, dan Habasyah (Etiopia) ke dalam kelompok orang Arab.

Ibnu 'Asakir dalam  tarikhnya  meriwayatkan,  ketika  sebagian sahabat meremehkan ketiga orang tersebut, Nabi Saw. bersabda:

     Kearaban yang melekat dalam diri kalian bukan      disebabkan karena ayah dan tidak pula karena ibu,      tetapi karena bahasa, sehingga siapapun yang berbahasa
     Arab, dia adalah orang Arab.

Bahkan Salman Al-Farisi dinyatakan  Nabi  sebagai  "minna  Ahl Al-Bait  (dari  kelompok  kita  [Ahl  Al-Bait]), karena beliau begitu dekat secara pribadi kepada Nabi dan keluarganya, serta memiliki pandangan hidup yang sama dengan Ahl Al-Bait.

Keterikatan kepada asal keturunan sama sekali tidak terhalangi oleh agama,  bahkan  inklusif  di  dalam  ajarannya.  Bukankah Al-Quran  dalam  surat  Al-Ahzab  ayat  5  memerintahkan untuk memelihara keturunan dan  memerintahkan  untuk  menyebut  nama seseorang bergandengan dengan nama orang tuanya?

     Panggillah mereka (anak-anak angkat) dengan
     (menggandengkan namanya dengan nama) bapak-bapak      mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah (QS
     Al-Ahzab [33]: 5).

3. Bahasa

Al-Quran menegaskan dalam surat Al-Rum (30):

     Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, adalah penciptaan      langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu, dan      warna kulitmu ...

Al-Quran demikian menghargai bahasa dan  keragamannya,  bahkan mengakui penggunaan bahasa lisan yang beragam.

Perlu  ditandaskan  bahwa  dalam  konteks  pembicaraan tentang paham   kebangsaan,   Al-Quran   amat    menghargai    bahasa, sampai-sampai seperti yang disabdakan Nabi Saw.,

     Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa (HR Muslim,      At-Tirmidzi, dan Ahmad dengan riwayat yang      berbeda-beda tetapi dengan makna yang sama).

Pengertian "tujuh bahasa" antara lain  adalah,  tujuh  dialek. Menurut   sekian  keterangan,  ayat-ayat  Al-Quran  diturunkan dengan  dialek  suku  Quraisy,  tetapi  dialek  ini   --ketika Al-Quran   turun--   belum   populer   untuk  seluruh  anggota masyarakat.  Sehingga  apabila  ada  yang   mengeluh   tentang sulitnya  pengucapan atau pengertian makna kata yang digunakan oleh ayat tertentu, Allah menurunkan wahyu lagi  yang  berbeda kata-katanya agar menjadi mudah dibaca dan dimengerti. Sebagai contoh  dalam  Al-Quran  surat  Al-Dukhan  (44):  43-44   yang berbunyi,  "Inna  syajarat  al-zaqqum  tha'amul  atsim, pernah diturunkan dengan mengganti kata atsim dengan fajir,  kemudian turun  lagi  dengan  kata al-laim. Setelah bahasa suku Quraisy populer di kalangan seluruh masyarakat,  maka  atas  inisiatif Utsman  bin  Affan  (khalifah ketiga) bacaan disatukan kembali sebagaimana tercantum dalam mushaf yang dibaca dewasa ini.

Pengertian  lain   dari   hadis   tersebut   adalah   Al-Quran menggunakan  kosa  kata  dari  tujuh  (baca:  banyak)  bahasa, seperti bahasa Romawi, Persia, dan Ibrani, misalnya kata-kata:
zamharir, sijjil, qirthas, kafur, dan lain-lain.

Untuk  menghargai perbedaan bahasa dan dialek, Nabi Saw. tidak jarang  menggunakan  dialek   mitra   bicaranya.   Semua   itu menunjukkan  betapa  Al-Quran  dan Nabi Saw. sangat menghargai keragaman bahasa dan dialek. Bukankah seperti yang dikemukakan tadi,   Allah  menjadikan  keragaman  itu  bukti  keesaan  dan kemahakuasaan-Nya?

Nah,  bagaimana  kaitan  bahasa  dan  kebangsaan?  Tadi  telah dikemukakan   hadis   yang   diriwayatkan  oleh  Ibnu  'Asakir berkaitan dengan Salman, Bilal, dan Suhaib.  Pada  hakikatnya, bahasa  memang  bukan  digunakan  sekadar  untuk  menyampaikan tujuan pembicaraan dan yang  diucapkan  oleh  lidah.  Bukankah sering  seseorang  berbicara  dengan dirinya sendiri? Bukankah ada pula yang berpikir  dengan  suara  keras.  Kalimat-kalimat yang   dipikirkan   dan   didendangkan   itu  merupakan  upaya menyatakan pikiran dan  perasaan  seseorang?  Di  sini  bahasa merupakan jembatan penyalur perasaan dan pikiran.

Karena  itu  pula  kesatuan bahasa mendukung kesatuan pikiran. Masyarakat   yang   memelihara   bahasanya   dapat   memeliara identitasnya,  sekaligus  menjadi  bukti keberadaannya. Itulah sebabnya  mengapa  para  penjajah  sering  berusaha  menghapus bahasa   anak   negeri  yang  dijajahnya  dengan  bahasa  sang penjajah.

Al-Quran menuntut setiap pembicara agar hanya mengucapkan  hal yang  diyakini,  dirasakan,  serta  sesuai  dengan  kenyataan. Karena itu, tidak jarang Kitab Suci ini menggunakan kata  qala atau  yaqulu  (dia  berkata,  dalam  arti  meyakini),  seperti misalnya dalam surat Al-Baqarah (2): 116:

     Mereka berkata, "Allah mengambil anak". Mahasuci
     Allah, dengan arti mereka meyakini bahwa Allah      mempunyai anak.

Salah satu sifat Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah  yang  baik) yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan (25): 65 adalah:

     Mereka yang berkata, "Jauhkanlah siksa jahanam dari
     kami". Sesungguhnya azab-Nya adalah kebinasaan yang      kekal

Ucapan  ini  bukan  sekadar  dengan  lidah  atau   permohonan, melainkan  peringatan  sikap,  keyakinan  dan perasaan mereka, karena  kalau  sekadar  permohonan,  apalah   keistimewaannya? Bukankah  semua  orang  dapat bermohon seperti itu? Karena itu tidak menyimpang jika dinyatakan bahwa bahasa pada  hakikatnya berfungsi  menyatakan  perasaan  pikiran, keyakinan, dan sikap pengucapnya.

Dalam konteks paham kebangsaan, bahasa pikiran, dan  perasaan, jauh  lebih  penting  ketimbang  bahasa lisan, sekalipun bukan berarti  mengabaikan  bahasa   lisan,   karena   sekali   lagi ditekankan bahwa bahasa lisan adalah jembatan perasaan.

Orang-orang  Yahudi  yang bahasanya satu, yaitu bahasa Ibrani, dikecam oleh Al-Quran dalam surat  Al-Hasyr  ayat  14,  dengan menyatakan:

     Engkau menduga mereka bersatu, padahal hati mereka      berkeping-keping.

Atas dasar semua itu, terlihat bahwa  bahasa,  saat  dijadikan sebagai  perekat  dan  unsur  kesatuan umat, dapat diakui oleh Al-Quran,  bahkan  inklusif  dalam   ajarannya.   Bahasa   dan keragamannya  merupakan salah satu bukti keesaan dan kebesaran Allah. Hanya saja harus diperhatikan bahwa dari  bahasa  harus lahir  kesatuan  pikiran  dan  perasaan,  bukan  sekadar  alat menyampaikan informasi.

4. Adat Istiadat

Pikiran dan perasaan satu kelompok/umat tercermin antara  lain dalam adat istiadatnya.

Dalam konteks ini, kita dapat merujuk perintah Al-Quran antara lain:

     Hendaklah ada sekelompok di antara kamu yang mengajak      kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf dan      mencegah yang mungkar (QS Ali 'Imran [3]: 104)

     Jadilah engkau pemaaf; titahkanlah yang 'urf (adat      kebiasaan yang baik), dan berpalinglah dari orang yang      jahil (QS Al-A'raf [7]: 199).

Kata  'urf  dan  ma'ruf  pada  ayat-ayat  itu  mengacu  kepada kebiasaan  dan  adat  istiadat  yang tidak bertentangan dengan al-khair, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam.

Rincian dan penjabaran kebaikan dapat  beragam  sesuai  dengan kondisi dan situasi masyarakat. Sehingga, sangat mungkin suatu masyarakat berbeda pandangan dengan masyarakat  lain.  Apabila rincian   maupun  penjabaran  itu  tidak  bertentangan  dengan prinsip ajaran agama, maka itulah yang dinamai 'urf/ma'ruf.

Imam  Bukhari  meriwayatkan,   bahwa   suatu   ketika   Aisyah mengawinkan  seorang  gadis  yatim  kerabatnya  kepada seorang pemuda dari kelompok Anshar (penduduk kota Madinah). Nabi yang tidak  mendengar  nyanyian  pada  acara  itu,  berkata  kepada Aisyah,   "Apakah   tidak   ada   permainan/nyanyian?   Karena orang-orang Anshar senang mendengarkan nyanyian ..." Demikian,
Nabi Saw. menghargai adat-kebiasaan masyarakat Anshar.

Pakar-pakar hukum menetapkan bahwa adat kebiasaan dalam  suatu masyarakat  selama  tidak  bertentangan  dengan prinsip ajaran Islam, dapat dijadikan sebagai salah satu  pertimbangan  hukum (al-adat  muhakkimah). Demikian ketentuan yang mereka tetapkan setelah   menghimpun   sekian   banyak   rincian   argumentasi keagamaan.

5.  Sejarah

Agaknya,  persamaan  sejarah  muncul  sebagai unsur kebangsaan karena unsur ini merupakan salah  satu  yang  terpenting  demi menyatukan  perasaan, pikiran, dan langkah-langkah masyarakat. Sejarah menjadi penting, karena  umat,  bangsa,  dan  kelompok dapat  melihat  dampak  positif  atau  negatif pengalaman masa lalu,  kemudian  mengambil  pelajaran  dari   sejarah,   untuk melangkah  ke  masa  depan.  Sejarah  yang gemilang dari suatu kelompok akan dibanggakan anggota kelompok serta keturunannya, demikian pula sebaliknya.

Al-Quran  sangat menonjol dalam menguraikan peristiwa sejarah. Bahkan  tujuan  utama  dari  uraian  sejarahnya  adalah   guna mengambil   i'tibar   (pelajaran),   guna  menentukan  langkah berikutnya.  Secara  singkat  dapat  dikatakan   bahwa   unsur kesejarahan  sejalan  dengan  ajaran  Al-Quran. Sehingga kalau unsur  ini  dijadikan  salah  satu   faktor   lahirnya   paham kebangsaan,  hal ini inklusif di dalam ajaran Al-Quran, selama uraian kesejarahan itu diarahkan untuk mencapai  kebaikan  dan kemaslahatan

6.  Cinta Tanah Air

Rasa   kebangsaan   tidak   dapat   dinyatakan  adanya,  tanpa dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air.

Cinta tanah  air  tidak  bertentangan  dengan  prinsip-prinsip agama,  bahkan  inklusif  di dalam ajaran Al-Quran dan praktek
Nabi Muhammad Saw.

Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang dinilai  oleh  sebagian  orang sebagai hadis Nabi Saw., Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian  dari  iman), melainkan  justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad Saw., baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.

Ketika Rasulullah Saw. berhijrah  ke  Madinah,  beliau  shalat menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan, rupanya  beliau  rindu  kepada  Makkah  dan   Ka'bah,   karena merupakan  kiblat  leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab. Begitu  tulis  Al-Qasimi   dalam   tafsirnya.   Wajah   beliau berbolak-balik  menengadah  ke  langit,  bermohon  agar kiblat diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini  dengan menurunkan firman-Nya:

     Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke      langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke      kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
     Masjid Al-Haram... (QS Al-Baqarah [2]: 144).

Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak  pula  ketika meninggalkan  kota  Makkah  dan  berhijrah  ke Madinah. Sambil menengok ke kota Makkah beliau berucap:

     Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang      paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat      tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan      meninggalkannya.

Sahabat-sahabat Nabi Saw.  pun  demikian,  sampai-sampai  Nabi
Saw. bermohon kepada Allah:

     Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami,      sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada      kami, bahkan lebih (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).

Memang, cinta  kepada  tanah  tumpah  darah  merupakan  naluri manusia,  dan  karena itu pula Nabi Saw. menjadikan salah satu tolok ukur kebahagiaan adalah "diperolehnya rezeki dari  tanah tumpah  darah".  Sungguh benar ungkapan, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih  senang  di  negeri sendiri."

Bahkan  Rasulullah  Saw.  mengatakan  bahwa  orang  yang gugur karena membela  keluarga,  mempertahankan  harta,  dan  negeri sendiri  dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela ajaran agama. Bahkan Al-Quran menggandengkan  pembelaan  agama dan pembelaan negara dalam firman-Nya:

     Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi      sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang      tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula      mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah      menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya      Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu      orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir      kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu
     (QS Al-Mumtahanah [60]: 8-9). 
                              ***

Dari uraian di  atas  terlihat  bahwa  paham  kebangsaan  sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah.

Bahkan  semua  unsur  yang melahirkan paham tersebut, inklusif dalam ajaran  Al-Quran,  sehingga  seorang  Muslim  yang  baik pastilah seorang anggota suatu bangsa yang baik. Kalau anggota suatu  bangsa  terdiri  dari  beragam  agama,   atau   anggota masyarakat  terdiri  dari  berbagai  bangsa,  hendaknya mereka dapat menghayati firman-Nya dalam  Al-Quran  surat  Al-Baqarah ayat 148:

     Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat (arah yang      ditujunya), dia menghadap ke arah itu. Maka      berlomba-lombalah kamu (melakukan) kebaikan. Di mana      saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu      sekalian. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala      sesuatu.[]
 

6. AHL AL-KITAB


Berbicara mengenai wawasan Al-Qur'an tentang  suatu  masalah tidak   akan   sempurna,  bahkan  boleh  jadi  keliru,  jika pandangan hanya tertuju kepada satu dua ayat yang  berbicara menyangkut   hal   tersebut.   Karena   cara  demikian  akan melahirkan  pandangan  parsial  yang  tidak  sejalan  dengan tujuan   pemahaman   wawasan,   lebih-lebih   bila  analisis dilakukan terlepas dari konteks (munasabah)  ayat,  sejarah, asbab  al-nuzul  (latar  belakang turunnya ayat), penjelasan Nabi  (As-Sunnah),  dan  sebagainya,  yang   dihimpun   oleh pakar-pakar  Al-Qur'an  dengan  istilah pendekatan "tematis" (maudhu'i).
 
Bahasan ini mencoba  menerapkan  metode  tersebut,  walaupun dalam  bentuk  yang  terbatas  -  karena penerapannya secara sempurna membutuhkan waktu yang tidak singkat, rujukan  yang memadai,   serta   kemampuan   analisis  yang  dalam.  Namun demikian,  keterbatasan  di  atas,  akan  diusahakan   untuk ditutupi   dengan   menyajikan   pandangan   beberapa  pakar berkompeten dalam bidang Al-Qur'an.
 
ISTILAH-ISTILAH AL-QUR'AN
 
Salah  satu   keistimewaan   Al-Qur'an   adalah   ketelitian redaksinya.  Tidak  heran, karena redaksi tersebut bersumber langsung dari Allah swt. Hal ini perlu digarisbawahi,  bukan saja   karena   sekian   banyak   ulama  melakukan  analisis kebahasaan  dalam  mengemukakan  dan   atau   menolak   satu pendapat,  tetapi  juga  karena  Kitab  Suci ini menggunakan beberapa istilah yang berbeda ketika menunjuk  kepada  orang Yahudi  dan  Nasrani,  dua  kelompok masyarakat yang minimal disepakati oleh seluruh ulama sebagai Ahl Al-Kitab.
 
Selain istilah  Ahl  Al-Kitab,  Al-Qur'an  juga  menggunakan istilah  Utu  Al-Kitab,  Utu nashiban minal kitab, Al-Yahud, Al-Ladzina  Hadu,  Bani  Israil,  An  Nashara,  dan  istilah lainnya.
 
Kata  Ahl Al-Kitab terulang di dalam Al-Qur'an sebanyak tiga puluh satu  kali,  Utu  Al-Kitab  delapan  belas  kali,  Utu nashiban  minal  kitab  tiga  kali,  Al-Yahud  delapan kali, Al-Ladzina Hadu sepuluh kali, An-Nashara empat  belas  kali, dan Bani/Banu Isra'il empat puluh satu kali
 
Kesan  umum  diperoleh bahwa bila Al-Qur'an menggunakan kata Al-Yahud maka isinya adalah kecaman  atau  gambaran  negatif tentang   mereka.  Perhatikan  misalnya  firman-Nya  tentang kebencian orang Yahudi terhadap kaum  Muslim  (QS  Al-Maidah [5]:  82), atau ketidakrelaan orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kaum Muslim sebelum umat Islam mengikuti mereka (QS Al-Baqarah  [2]:  120),  atau  pengakuan  mereka bahwa orang Yahudi dan Nasrani adalah putra-putra dan kinasih Allah  (QS Al-Ma-idah  [5]:  18),  atau  pernyataan  orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu (kikir) (QS Al-Maidah [5]: 64), dan sebagainya. Bila Al-Qur'an menggunakan Al-Ladzina Hadu, maka kandungannya ada  yang  berupa  kecaman,  misalnya  terhadap mereka  yang  mengubah  arti  kata-kata  atau  mengubah  dan menguranginya (QS Al-Nisa,  [41]:  46),  atau  bahwa  mereka tekun  mendengar  (berita kaum Muslim) untuk menyebarluaskan kebohongan  (QS  Al-Maidah  [5]:  41),  dan  ada  juga  yang bersifat  netral,  seperti  janji  bagi  mereka yang beriman dengan benar untuk tidak  akan  mengalami  rasa  takut  atau sedih (QS Al-Baqarah [2]: 62).
 
Kata  Nashara  sama  penggunaannya  dengan  Al-Ladzina Hadu, terkadang  digunakan  dalam  konteks  positif  dan   pujian, misalnya  surat  Al-Maidah  [5]: 82 yang menjelaskan tentang mereka yang paling akrab persahabatannya dengan  orang-orang Islam; dan di kali lain dalam konteks kecaman, seperti dalam surat   Al-Baqarah   [2]:   120   yang   berbicara   tentang ketidakrelaan mereka terhadap orang Islam sampai kaum Muslim mengikuti  mereka.  Dalam   kesempatan   lain   kandungannya bersifat  netral:  bukan  kecaman bukan pula pujian, seperti dalam surat  Al-Hajj  [22];  17  yang  membicarakan  tentang putusan    Tuhan    yang    adil    terhadap    mereka   dan kelompok-kelompok  lain,  kelak  di  hari  kemudian.  Dengan demikian,   kita   dapat  mengatakan  bahwa  bila  Al-Qur'an menggunakan  Al-Yahud,  maka  pasti  ayat  tersebut   berupa kecaman  atas sikap-sikap buruk mereka, dan jika menggunakan kata Nashara, maka ia belum  tentu  bersikap  kecaman,  sama halnya dengan Al-Ladzina Hadu.
 
Agaknya ini sebabnya sehingga surat Al-Baqarah [2]: 120 yang berbunyi "Lan  tardha  'ankal-Yahud  wa  lan  Nashara  hatta tattabi'a  millatahum  (orang  Yahudi dan Nasrani tidak akan rela   kepadamu   (Muhammad)   sampai    engkau    mengikuti agama/tatacara  mereka,"  menggunakan  kata  "lan"  terhadap orang Yahudi, dan kata "la" terhadap orang Nasrani.  Menurut pakar-pakar  bahasa Al-Qur'an, antara lain Az-Zarkasyi dalam bukunya Al-Burhan,  kata  "lan"  digunakan  untuk  menafikan sesuatu  di  masa  datang,  dan penafian tersebut lebih kuat dari "la" yang  digunakan  untuk  menafikan  sesuatu,  tanpa mengisyaratkan  masa  penafian  itu,  sehingga boleh saja ia terbatas untuk masa lampau, kini, atau masa datang.
 
Ayat di atas, secara tegas menyatakan bahwa selama seseorang itu  Yahudi (Ingat bukan Al-Ladzina Hadu atau Ahl Al-Kitab), maka ia pasti tidak akan rela  terhadap  umat  Islam  hingga umat  Islam  mengikuti  agama/tatacara  mereka.  Dalam arti, menyetujui sikap dan tindakan serta arah yang mereka tuju.
 
Mufasir besar Ar-Razi mengemukakan  bahwa  maksud  ayat  ini adalah menjelaskan:
 
"Keadaan  mereka  dalam  bersikeras berpegang pada kebatilan mereka, dan ketegaran mereka dalam kekufuran,  bahwa  mereka itu  juga  (di  samping  kekufuran  itu)  berkeinginan  agar diikuti millat mereka. Mereka tidak rela dengan kitab  (suci yang dibawa beliau), bahkan mereka berkeinginan (memperoleh) persetujuan  beliau  menyangkut   keadaan   mereka.   Dengan demikian  (Allah)  menjelaskan  kerasnya  permusuhan  mereka terhadap Rasul, serta menerangkan situasi yang mengakibatkan keputusasaan tentang persetujuan mereka (menganut Islam)."
 
Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat  hatta  tattabi'a  millatahum  (sampai  engkau mengikuti agama mereka) adalah:
 
Kinayat  (kalimat  yang  mengandung makna bukan sesuai bunyi teksnya) keputusasaan (tidak adanya kemungkinan) bagi  orang Yahudi  dan  Nasrani  untuk memeluk Islam ketika itu, karena mereka  tidak  rela  kepada  Rasul  kecuali  (kalau   Rasul) mengikuti  agama/tatacara  mereka.  Maka  ini  berarti bahwa mereka tidak mungkin akan mengikuti agama beliau; dan karena keikutan  Nabi  pada  ajaran  mereka  merupakan sesuatu yang mustahil, maka kerelaan mereka terhadap  beliau  (Nabi)  pun demikian. Ini sama dengan (firman-Nya):
 
     "hingga masuk ke lubang jarum" (QS Al-A'raf [7]: 40)
 
dan (firman-Nya),
 
"Aku  tidak  akan  menyembah  apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah (Tuhan)  yang  aku  sembah"  (QS  Al-Kafirun
[109]: 2-3).
 
Dalam uraian Syaikh Fadhil di atas ditemukan kalimat "ketika itu" untuk menjelaskan  bahwa  keputusasaan  tersebut  hanya ditekankan  oleh ayat ini pada Al-Yahud wan-Nashara tertentu ketika itu, bukan terhadap mereka  semua,  karena  kenyataan menunjukkan  bahwa  setelah  turunnya ayat ini ada di antara Ahl Al-Kitab yang memeluk agama Islam.  Pengertian  tersebut sama dengan firman-Nya dalam surat Yasin [36]: 10:
 
"Sama  saja  bagi  mereka:  apakah  kamu  memberi peringatan kepada mereka, ataukah kamu tidak memberi peringatan  kepada
mereka, mereka tidak akan beriman."
 
Yang  dimaksud  di  sini  adalah  orang-orang kafir tertentu ketika itu (pada  masa  Nabi),  bukan  seluruh  orang  kafir karena  kenyataan juga menunjukkan bahwa sebagian besar dari orang kafir pada masa Nabi,  pada  akhirnya  memeluk  Islam. Arti  surat  Al-Baqarah  [2]:  120 di atas perlu ditegaskan, karena sering tertadi kesalahpahaman tentang  maknanya.  Dan juga  sebagaimana diketahui, Yudaisme bukanlah agama dakwah, bahkan mereka cenderung eksklusif  dalam  bidang  agama  dan orang lain cenderung enggan menganut agamanya. Di sisi lain, seperti dikemukakan dalam  riwayat-riwayat,  sebab  turunnya surat   Al-Baqarah   [2]:   120  di  atas  berkenaan  dengan pemindahan kiblat shalat kaum Muslim ke  arah  Ka'bah,  yang ditanggapi  oleh  non-Muslim dengan sinis, karena ketika itu kaum Yahudi Madinah dan  kaum  Nasrani  Najran  mengharapkan agar  Nabi  dan  kaum  Muslim  mengarahkan  shalat mereka ke kiblat mereka.  Demikian  pendapat  Ibnu  Abbas  sebagaimana dikemukakan oleh As-Sayuthi dalam kaxyanya Ashab Al-Nuzul
 
Penafian   Al-Qur'an   terhadap  An-Nashara,  tidak  setegas penafiannya terhadap Al-Yahud,  sehingga  boleh  jadi  tidak semua  mereka bersikap demikian. Boleh jadi juga kini dan di masa lalu demikian, tetapi masa datang tidak lagi.  Walhasil penggunaan  kata  "la"  buat mereka tidak setegas penggunaan kata "lan" untuk orang Yahudi.
 
Dengan merujuk kepada ayat-ayat yang  menggunakan  kata  Ahl Al-Kitab,  ditemukan  bahwa  pembicaraan  Al-Qur'an  tentang mereka berkisar pada uraian tentang sikap dan sifat mereka - positif  dan negatif serta sikap yang hendaknya diambil oleh kaum Muslim terhadap mereka.
 
SIFAT DAN SIKAP AHL AL-KITAB
 
Al-Qur'an banyak  berbicara  tentang  sifat  dan  sikap  Ahl Al-Kitab   terhadap   kaum  Muslim,  dan  berbicara  tentang keyakinan  dan  sekte  mereka  yang  beraneka  ragam.  Surat An-Nisa,  [4]:  171  dan  Al-Ma-idah  [5]: 77 mengisyaratkan bahwa mereka memiliki paham keagamaan yang ekstrem.
 
"Wahai Ahl Al-Kitab, jangan melampaui batas  dalam  agamamu, dan  jangan  mengatakan terhadap Allah kecuali yang hak" {QS
Al-Nisa, [4]: 171).
 
Mereka juga dinilai oleh Al-Qur'an sebagai telah  mengkufuri ayat-ayat   Allah,  serta  mengingkari  kebenaran  (kenabian
Muhammad saw).
 
"Wahai Ahl  Al-Kitab,  mengapa  kamu  mengingkari  ayat-ayat
Allah   padahal  kamu  mengetahui  (kebenarannya)?  Hai  Ahl Al-Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang hak dengan yang batil,    dan    menyembunyikan   kebenaran   padahal   kamu mengetahui?" (QS Ali 'Imran [3]: 70-71).
 
Nabi  Muhammad   saw.   diperintahkan   oleh   Allah   untuk menyampaikan kepada mereka:
 
Katakanlah:  "Hai  Ahl  Al-Kitab, apakah kamu memandang kami salah hanya lantaran kami beriman kepada Allah,  kepada  apa yang  diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya,  sedang  banyak  di  antara   kamu   benar-benar orang-orang yang fasik?" (QS Al-Ma-idah [5]: 59).
 
Bahkan   Allah   Swt.   secara   langsung  dan  berkali-kali mengingatkan  kaum  Muslim  untuk  tidak  mengangkat  mereka sebagai pemimpin-pemimpin atau teman-teman akrab atau tempat menyimpan rahasia.
 
"Hai orang-orang  yang  beriman,  janganlah  kamu  mengambil orang-orang       Yahudi       dan      Nasrani      menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin  bagi sebagian   yang   lain.  Barangsiapa  di  antara  kamu  yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka  sesungguhnya  orang itu  termasuk  golongan  mereka.  Sesungguhnya  Allah  tidak memberi  petunjuk  kepada  orany-orang   yang   zalim"   (QS
Al-Ma-idah [5]: 51).
 
Dalam  QS  Ali  'Imran [3]: 118 kaum Muslim diingatkan untuk tidak menjadikan orang-orang di luar kalangan Muslim sebagai bithanah   (teman-teman  tempat  menyimpan  rahasia)  dengan alasan bahwa:
 
"... mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kerugian bagi kamu  (kaum  Muslim).  Mereka  menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari  mulut  mereka  sedang  apa yang  disembunyikan  oleh hati mereka lebih besar lagi. Kami telah menjelaskan  kepadamu  tanda-tanda  (siapa  kawan  dan siapa  lawan), jika kalian memahaminya." (QS Ali 'Imran [3]: 118).
 
Terhadap merekalah Nabi saw. bersabda,
 
"Jangan memulai mengucapkan salam kepada  orang  Yahudi  dan jangan pula pada Nasrani. Kalau kamu menemukan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah  ia  ke  pinggiran"
(HR Muslim melalui Abu Hurairah).
 
Sahabat  dan  pembantu  Nabi  saw.,  Anas bin Malik, berkata bahwa Nabi saw. bersabda,
 
"Apabila Ahl Al-Kitab mengucapkan salam  kepada  kamu,  maka katakanlah, Wa 'alaikum" (HR Bukhari dan Muslim)
 
Dalam  buku  Dalil  Al-Falihin  dikemukakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hukum memulai ucapan  salam  kepada orang-orang  kafir. Mayoritas melarangnya tetapi banyak juga yang membolehkan antara lain sahabat Nabi, Ibnu Abbas. Namun apabila mereka mengucapkan salam, maka adalah wajib hukumnya bagi kaum Muslim untuk menjawab  salam  itu.  Ulama  sepakat dalam hal ini.

Al-Qur'an juga menyatakan bahwa,
 
"Apabila  mereka  condong  kepada  salam  (perdamaian), maka condong  pulalah  kepadanya,  dan  berserah  dirilah  kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
(QS Al-Anfal [8]: 61).
 
Perlu digarisbawahi bahwa berlaku adil terhadap Ahl Al-Kitab siapa  pun  mereka,  walau  Yahudi  -  tetap  dituntut  oleh Al-Qur'an. Ulama-ulama Al-Qur'an menguraikan bahwa Nabi saw. pernah  cenderung  mempersalahkan  seorang Yahudi yang tidak bersalah - karena  bersangka  baik  terhadap  keluarga  kaum Muslim  yang  menuduhnya.  Sikap  Nabi tersebut ditegur oleh
Allah dengan menurunkan surat An-Nisa, [4]: 105.
 
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan  Kitab  kepadamu  dengan membawa  kebenaran,  supaya  engkau  mengadili antar manusia dengan apa  yang  Allah  wahyukan  kepadamu.  Dan  janganlah engkau  menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena
(membela) orang-orang yang khianat."
 
APAKAH AHL AL-KITAB SEMUA SAMA?
 
Di  atas  telah  dipaparkan  sebagian  dari  ayat-ayat  yang berbicara tentang Ahl Al-Kitab serta kecaman dan sifat-sifat negatif mereka. Pertanyaan yang dapat muncul adalah: "Apakah ayat-ayat   di  atas  berlaku  umum,  menyangkut  semua  Ahl Al-Kitab kapan dan di mana pun mereka berada?"
 
Penggalan  terakhir  surat  Al-Ma-idah  [5]:  59   di   atas menyatakan  bahwa  banyak di antara kamu (hai Ahl Al-Kitab), perlu digarisbawahi untuk  menjawab  pertanyaan  ini.  Hemat penulis,  penggalan  tersebut paling tidak menunjukkan bahwa tidak semua mereka bersikap demikian.
 
Kesimpulan ini didukung dengan  sangat  jelas  paling  tidak dalam dua ayat berikut:
 
"Banyak  dari  Ahl  Al-Kitab  yang  menginginkan agar mereka dapat  mengembalikan  kamu  kepada  kekafiran  setelah  kamu beriman,  karena  dengki  yang timbul dari dalam hati mereka setelah nyata bagi mereka  kebenaran.  Maka  maafkanlah  dan biarkanlah  mereka  sampai  Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya  Allah  Mahakuasa  atas  segala  sesuatu"   (QS
Al-Baqarah [2]: 109).
 
Perlu  diketahui  bahwa ayat di atas menggunakan kata katsir yang  seharusnya  diterjemahkan  banyak,  bukan   kebanyakan sebagaimana   dalam   Al-Qur'an   dan   Terjemahannya   oleh
Departemen Agama. Ini dikuatkan juga dengan firman-Nya:
 
"Segolongan dari Ahl Al-Kitab ingin menyesatkan kamu padahal mereka  (sebenarnya)  tidak  menyesatkan kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya" (QS Ali 'Imran  [3]:
69)
 
Kalau  melihat  redaksi  ayat  di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam  konteks  upaya  pemurtadan,  maka  tidak  semua mereka  bersikap  sama.  Sejalan  dengan ini, ada peringatan yang ditujukan kepada kaum Mukmin yang menyatakan:
 
"Wahai  orang-orang  yang  beriman,  jika   kamu   mengikuti sekelompok   dari   Ahl   Al-Kitab,   niscaya   mereka  akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang  kafir  sesudah  kamu beriman" (QS Ali 'Imran [3]: 100).
 
Nah,  jika demikian dapat dipahami keterangan Al-Qur'an yang menyatakan bahwa,
 
"Mereka itu tidak sama. Di antara Ahl Al-Kitab ada  golongan yang  berlaku  lurus.  Mereka  membaca  ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka  juga  bersujud"
(QS Ali 'Imran [3]: 113) .
 
Sebelumnya  dalam  surat yang sama Al-Qur'an juga memberikan informasi,
 
"Di antara Ahl Al-Kitab ada  yang  jika  kamu  mempercayakan kepadanya  harta  yang banyak, dikembalikannya kepadamu, dan di  antara  mereka  ada  juga  yang  jika  kamu   percayakan kepadanya  satu dinar (saja) tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali  selama  kamu  berdiri  (selalu  menagihnya).   Yang demikian  itu  karena  mereka  berkata  (berkeyakinan) bahwa tidak ada dosa bagi kami (memperlakukan tidak adil) terhadap orang-orang ummi (Arab). Mereka berkata dusta terhadap Allah padahal mereka mengetahui" (QS Ali 'Imran [3]: 75).
 
Demikian juga ketika Al-Qur'an mengungkap isi hati  sebagian
Ahl Al-Kitab dinyatakannya bahwa:
 
"Permusuhan   antar  sesama  mereka  sangatlah  hebat.  Kamu menduga mereka bersatu, padahal hati mereka berpecah  belah"
(QS Al-Hasyr [59]: 14).
 
BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP TERHADAP AHL AL-KITAB
 
Di atas terlihat bahwa Ahl Al-Kitab tidak semua sama. Karena itu sikap  yang  diajarkan  Al-Qur'an  terhadap  mereka  pun berbeda, sesuai dengan sikap mereka.
 
Dalam  sekian  banyak  ayat  yang  menggunakan  istilah  Ahl Al-Kitab, terasa adanya uluran tangan dan sikap  bersahabat, walaupun  di  sana-sini  Al-Qur'an mengakui adanya perbedaan dalam keyakinan.
 
Perhatikan firman Allah berikut ini:
 
"Janganlah kamu  berdebat  dengan  Ahl  Al-Kitab,  melainkan dengan    cara   yang   sebaik-baiknya,   kecuali   terhadap orang-orang yang zalim di  antara  mereka"  (QS  Al-'Ankabut
[29]: 46).
 
Dalam beberapa kitab tafsir - seperti juga pada catatan kaki Al-Qur'an dan  Terjemahnya  Departemen  Agama  -  dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan "orang-orang zalim" dalam ayat di atas adalah mereka yang  setelah  diberi  penjelasan  dengan baik,  masih  tetap  membantah,  membangkang, dan menyatakan permusuhan.
 
Sebenarnya yang diharapkan oleh kaum Muslim dari semua pihak termasuk  Ahl  Al-Kitab adalah kalimat sawa' (kata sepakat), dan kalau ini tidak ditemukan, maka cukuplah  mengakui  kaum Muslim  sebagai  umat  beragama  Islam,  jangan diganggu dan dihalangi dalam melaksanakan ibadahnya.  Dalam  konteks  ini
Al-Qur'an memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw.,
 
"Hai  Ahl  Al-Kitab, marilah kepada satu kata sepakat antara kita yang tidak ada perselisihan di antara  kami  dan  kamu, yakni  bahwa  kita  tidak  menyembah kecuali Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak pula sebagian  kita  menjadikan  sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. Jika mereka  berpaling,  maka  katakanlah (kepada  mereka),  'Saksikanlah  (akuilah) bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang menyerahkan diri kepada Allah)" (QS
Ali 'Imran [3]: 64).
  
Sekali   lagi  penulis  katakan  "sebagian  mereka,"  karena
Al-Qur'an juga menggarisbawahi bahwa:
 
"Dan sesungguhnya di antara  Ahl  Al-Kitab  ada  orang  yang beriman  kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan apa yang diturunkan kepada  mereka  sedang  mereka berendah  hati  kepada  Allah,  dan  mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala  di  sisi Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya" (QS Ali 'Imran [3]: 199).
 
Memang, tidak sedikit dari Ahl Al-Kitab yang kemudian dengan tulus memeluk agama Islam. Salah seorang yang paling populer di antara mereka  adalah  Abdullah  bin  Salam.  Al-Qurthubi dalam  tafsirnya  meriwayatkan  bahwa  ketika  turun  firman
Allah:
 
"Orang-orang yang  telah  Kami  beri  Al-Kitab  (Taurat  dan Injil)   mengenalnya   (Muhammad  saw.)  sebagaimana  mereka mengenal anak-anak mereka" (QS Al-Baqarah [2]: 146).
 
Umar r.a. bertanya kepada Abdullah bin Salam, "Apakah engkau mengenal   Muhammad  sebagaimana  engkau  mengenal  anakmu?" Abdullah  menjawab,  "Ya,  bahkan  lebih.  (Malaikat)   yang terpercaya  turun dari langit kepada manusia yang terpercaya di bumi, menjelaskan  sifat  (cirinya),  maka  kukenal  dia; (sedang  anakku)  aku  tidak  tahu  apa yang telah dilakukan ibunya."
 
AHL AL-KITAB PADA MASA TURUNNYA AL-QUR'AN
 
Sebelum membuka lembaran ayat-ayat Al-Qur'an  perlu  kiranya kita  menoleh  ke  sejarah dakwah Islamiah yang dilaksanakan oleh  Nabi  Muhammad  saw.  Sepuluh  tahun  lamanya   beliau melaksanakan  misi kerasulan di Makkah, dan yang dihadapi di sana adalah kaum musyrik penyembah berhala. Di  kota  Makkah sendiri  penganut agama Yahudi sangat sedikit, bahkan hampir tidak  ada.  Musuh  pertama  dan  utama  ketika  itu  adalah orang-orang  Makkah,  dan  mereka itu disebut oleh Al-Qur'an sebagai al-musyrikun.
 
Penindasan kaum musyrik  di  Makkah  terhadap  kaum  Muslim, memaksa  sebagian  kaum  Muslim  melakukan hijrah pertama ke Ethiopia. Di sana mereka disambut dengan  baik  oleh  Negus, penguasa yang beragama Nasrani.
 
Masyarakat  Madinah  terdiri  dari dua kelompok besar, yaitu Aus dan Khazraj,  serta  orang-orang  Yahudi  yang  memiliki kekuatan  ekonomi yang cukup memadai. Aus dan Khazraj saling bermusuhan  dan  berperang.  Tidak   jarang   pula   terjadi perselisihan  dan  permusuhan  antara  mereka  dengan  orang Yahudi. Pertempuran dan perselisihan  itu  melelahkan  semua pihak;  sayang  tidak  ada  di  antara  mereka yang memiliki wibawa  yang  dapat  mempersatukan  kelompok-kelompok   yang bertikai ini.
 
Orang-orang   Yahudi  sering  mengemukakan  kepada  Aus  dan Khazraj, bahwa  akan  datang  seorang  Nabi  (dari  kelompok mereka),  dan  bila  ia  datang  pastilah  kaum  Yahudi akan mengalahkan  musuh-musuhnya.  Dalam  konteks  ini  Al-Qur'an
menyatakan - menyangkut orang Yahudi - bahwa,
 
"Setelah  datang  kepada  mereka  Al-Qur'an  dan  Allah yang membenarkan apa yang ada  pada  mereka,  padahal  sebelumnya mereka  biasa memohon (demi kedatangan Nabi yang dijanjikan) untuk  mendapat  kemenangan  atas  orang-orang  kafir,  maka setelah  datang kepada mereka apa yang mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat  Allah  atas  orang-orang yang ingkar itu" (QS Al-Baqarah [2]: 89).
 
Yang  dimaksud dengan "membenarkan apa yang ada pada mereka" adalah kehadiran seorang  Nabi,  yang  dalam  hal  ini  Nabi Muhammad  saw.  Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjelaskan apa yang dimaksud dengan "padahal sebelumnya  mereka  biasa  memohon" adalah  bahwa  orang  Yahudi  Khaibar berperang melawan Arab Gathfan,  tetapi  mereka   dikalahkan,   maka   ketika   itu orang-orang  Yahudi  berdoa,  "Kami  bermohon kepada-Mu demi Nabi Ummi yang engkau janjikan untuk mengutusnya kepada kami di  akhir  zaman,  menangkanlah  kami  atas mereka" sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka.
 
Al-Qur'an  juga  menginformasikan  bahwa  keengganan  mereka beriman  disebabkan  oleh  karena  "kedengkian  dan iri hati mereka" (QS Al-Baqarah [2]:  109).  Tadinya  mereka  menduga bahwa  Nabi  tersebut dari Bani Israil, tetapi ternyata dari golongan Arab yang merupakan seteru mereka.
 
Terbaca dari uraian sejarah di atas bahwa orang-orang Yahudi dan  Nasrani  hampir  tidak  ada  di  kota  Makkah. Itu pula sebabnya sehingga kaum musyrik di sana  mengirim  utusan  ke Madinah  untuk  memperoleh  "pertanyaan  berat"  yang  dapat diajukan  kepada  Nabi  Muhammad  dalam  rangka   pembuktian kenabiannya.   Ketika   itu   orang-orang   Yahudi   Madinah menyarankan agar menanyakan soal ruh, dan  peristiwa  itulah yang melatar belakangi turunnya firman Allah:
 
"Mereka  bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan  Tuhanku.'  Kamu  tidak  diberi  pengetahuan kecuali sedikit" (QS Al-Isra' [17]: 85).
 
Kehadiran  Nabi Muhammad saw. ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja  sebagai  pemersatu  mereka  yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian, tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau  adalah  utusan Allah,  yang  sebelumnya  telah  mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.
 
Adapun orang-orang Nasrani lebih banyak bertempat tinggal di Yaman,  bukan  di Madinah. Kalaupun ada yang di sana, mereka tidak mempunyai pengaruh politik atau ekonomi, namun  mereka juga disebut oleh Al-Qur'an sebagai Ahl Al-Kitab.
  
Kembali   kepada   persoalan   di   atas,   ditemukan  bahwa ulama-ulama tafsir bila menemukan istilah Ahl Al-Kitab dalam sebuah  ayat,  seringkali  menjelaskan  siapa  yang dimaksud dengan istilah tersebut.  Hal  ini  wajar  karena  Al-Qur'an secara  tegas menyatakan bahwa Ahl Al-Kitab tidak sama dalam sifat dan sikapnya terhadap Islam dan kaum  Muslim  (QS  Ali 'Imran  [3]:  113).  Itu  pula  sebabnya, dalam hal-hal yang dapat menimbulkan kerancuan pemahaman istilah itu, Al-Qur'an tidak  jarang  memberi  penjelasan  tambahan  yang berkaitan dengan sifat atau ciri khusus Ahl Al-Kitab yang dimaksudnya. Perhatikan  misalnya  ayat  yang berbicara tentang kebolehan kawin dengan wanita Ahl Al-Kitab, di sana  ditambahkan  kata wal muhshanat (wanita-wanita yang memelihara kehormatannya), sedang ketika berbicara tentang kebolehan memakan sembelihan mereka,  Al-Qur'an  mengemukakannya  tanpa  penjelasan  atau syarat.
 
MENGAPA ADA KECAMAN TERHADAP AHL AL-KITAB?
 
Kebanyakan kecaman terhadap Ahl  Al-Kitab  ditujukan  kepada orang  Yahudi,  bukan  kepada  orang Nasrani. Ini disebabkan karena sejak semula ada  perbedaan  sikap  di  antara  kedua kelompok  Ahl  Al-Kitab itu terhadap kaum Muslim (perhatikan kembali penggunaan kata "lan" dan "la" pada uraian di atas). Ketika Romawi yang beragama Kristen mengalami kekalahan dari Persia yang menyembah api (614 M), kaum Muslim merasa sedih, dan Al-Qur'an turun menghibur mereka dengan menyatakan bahwa dalam jangka waktu tidak lebih dari sembilan  tahun,  Romawi akan menang, dan ketika itu kaum Mukmin akan bergembira:
 
"Alif  Lam  Mim.  Telah  dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam  beberapa  tahun (lagi). Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka  menang)  dan  di  hari  (kemenangan  bangsa Rumawi)  itu  bergembiralah  orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang  dikehendaki-Nya, dan  Dialah  Maha  Perkasa  lagi  Maha Penyayang" (QS Al-Rum
[30]: 1-5).
 
Sikap penguasa Masehi pun cukup baik terhadap  kaum  Muslim. Ini  antara  lain  terlihat  dalam sambutan dan perlindungan yang diberikan oleh penguasa Ethiopia yang beragama  Nasrani kepada  kaum  Muslim  yang berhijrah ke sana, sehingga wajar jika secara tegas Al-Qur'an menyatakan:
 
"Sesungguhnya kamu pasti  akan  menemukan  orang-orang  yang paling  keras  permusuhannya  terhadap  orang-orang  beriman ialah  orang-orang  Yahudi  dan  orang-orang  musyrik,   dan sesungguhnya   pasti   kamu   dapati   yang   paling   dekat persahabatannya   dengan    orang-orang    beriman    adalah orang-orang  yang  berkata,  'Sesungguhnya  kami  ini  orang
Nasrani" (QS Al-Ma-idah [5]: 82).
 
Sebab pokok perbedaan sikap tersebut adalah kedengkian orang Yahudi  terhadap  kehadiran  seorang Nabi yang tidak berasal dari golongan mereka (QS  Al-Baqarah  [2]:  109).  Kehadiran Nabi   kemudian   mengakibatkan  pengaruh  orang  Yahudi  di kalangan   masyarakat   Madinah    menciut,    dan    bahkan menghilangkan   pengaruh  politik  dan  kepentingan  ekonomi mereka.
 
Di sisi lain, seperti pernyataan Al-Qur'an  di  atas,  sebab kedekatan sebagian orang Nasrani kepada kaum Muslim adalah:
 
"Karena   di  antara  mereka  terdapat  pendeta-pendeta  dan rahib-rahib,  dan  juga  karena  sesungguhnya  mereka  tidak
menyombongkan diri" (QS Al-Ma-idah [5]: 82)
 
Para  pendeta  ketika itu relatif berhasil menanamkan ajaran moral yang bersumber dari ajaran Isa as., sedang para  rahib yang   mencerminkan   sikap   zuhud  (menjauhkan  diri  dari kenikmatan  duniawi  dengan  berkonsentrasi  pada   ibadah), berhasil   pula   memberi   contoh   kepada   lingkungannya. Keberhasilan itu didukung pula oleh  tidak  adanya  kekuatan sosial  politik  dari kalangan mereka di Makkah dan Madinah, sehingga  tidak  ada  faktor  yang  mengundang  gesekan  dan benturan antara kaum Muslim dengan mereka.
 
Ini bertolak belakang dengan kehadiran orang Yahudi, apalagi pendeta-pendeta mereka dikenal luas menerima sogok,  memakan riba, dan masyarakatnya pun amat materialistis-individualis- tis.
 
Dari sini dapat disimpulkan bahwa  penyebab  utama  lahirnya benturan,  bukannya ajaran agama, tetapi ambisi pribadi atau golongan, kepentingan ekonomi, dan politik,  walaupun  harus diakui  bahwa  kepentingan  tersebut  dapat  dikemas  dengan kemasan agama, apalagi bila ajarannya disalahpahami.
 
Ayat-ayat  yang  melarang  kaum  Muslim  mengangkat  awliya'
(pemimpin-pemimpin yang menangani persoalan umat Islam) dari golongan Yahudi  dan  Nasrani  serta  selain  mereka,  harus dipahami  dalam konteks tersebut, seperti firman Allah dalam surat Ali-'Imran [3]: 118:
 
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil  menjadi teman  kepercayaanmu  orang-orang  yang  di luar kalanganmu, (karena)   mereka   tidak    henti-hentinya    (menimbulkan) kemudharatan  bagimu.  Mereka  menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa  yang disembunyikan  oleh  hati  mereka  adalah  lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."
 
Ibnu  Jarir  dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap  orang  Yahudi  Bani  Quraizhah yang   mengkhianati  perjanjian  mereka  dengan  Nabi  saw., sehingga  seperti  ditulis  Rasyid  Ridha  dalam  tafsirnya: "Larangan  ini  baru  berlaku  apabila mereka memerangi atau bermaksud jahat terhadap kaum Muslim."
 
Rasyid  Ridha,  mengkritik  dengan  sangat  tajam  pandangan beberapa ulama tafsir seperti Al-Baidhawi dan Az-Zamakhsyari - yang  menjadikan  ayat  ini  sebagai  larangan  bersahabat dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani secara mutlak.
 
Dalam  tafsirnya,  Al-Baidhawi  menguatkan  pendapatnya  itu
dengan hadis Nabi saw. yang menyatakan,
 
"(Kaum  Muslim  dan  mereka)  tidak   saling   melihat   api keduanya."
 
Maksudnya  seorang  Muslim  tidak  wajar  bertempat  tinggal berdekatan dengan non-Muslim  dalam  jarak  yang  seandainya salah satu pihak menyalakan api, maka pihak lain melihat api itu.
 
Sebenarnya hadis tersebut diucapkan oleh  Nabi  tidak  dalam konteks  umum  seperti  pemahaman  Al-Baidhawi, tetapi dalam konteks kewajiban berhijrah pada saat Nabi amat  membutuhkan bantuan.  Dalam  arti,  Nabi  menganjurkan  umat Islam untuk tidak tinggal di  tempat  di  mana  kaum  musyrik  bertempat tinggal,  tetapi  mereka harus berhijrah ke tempat lain guna mendukung perjuangan Nabi dan kaum Muslim.
 
Di sisi lain, hadis tersebut  sebenarnya  berstatus  mursal, sedangkan  para  ulama  berselisih  mengenai  boleh tidaknya hadis mursal untuk dijadikan argumen keagamaan. Rasyid Ridha berkomentar:
 
"Banyak pengajar hanya merujuk kepada Tafsir Al-Baidhawi dan Az-Zamakhsyari, sehingga wawasan pemahaman  mereka  terhadap ayat   dan   hadis   menjadi   dangkal,   apalagi   keduanya (Al-Baidhawi  dan  Az-Zamakhsyari)  hanya  memiliki  sedikit pengetahuan  hadis,  dan  keduanya  pun tidak banyak merujuk kepada  pendapat  salaf   (ulama   terdahulu   yang   diakui kompetensinya).{1}"
 
Dalam   bagian  lain  tafsirnya,  Rasyid  Ridha,  mengaitkan pengertian larangan di atas  dengan  larangan  serupa  dalam
Al-Qur'an:
 
Hai  orang-orang  yang beriman janganlah  kamu ambil menjadi teman  kepercayaanmu orang-orang yang  di  luar  kalanganmu, (karena)    mereka   tidak   henti-hentinya   (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang  menyusahkan kamu.  Telah nyata kebencian dan mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi (QS
Ali Imran [3]: 1 18)
 
Karena  ciri-ciri  tersebutlah  maka  larangan  itu  muncul, sehingga  ia  hanya  berlaku  terhadap  orang  yang  cirinya demikian,  kendati seagama, sebangsa, dan seketurunan dengan seorang Muslim.
 
"Sebagian  orang  tak  menyadari  sebab  atau  syarat-syarat tersebut,  sehingga  mereka  berpendapat  bahwa larangan ini bersifat mutlak terhadap yang  berlainan  agama.  Seandainya larangan  tersebut mutlak, ini tidak aneh karena orang-orang kafir ketika itu bersatu menentang  kaum  Mukmin  pada  awal masa  kedatangan  Islam, ketika ayat ini turun. Apalagi ayat ini menurut para pakar, turun menyangkut orang-orang Yahudi. Namun  demikian  ayat di atas bersyarat dengan syarat-syarat tersebut,  karena  Allah  swt.  yang  menurunkan  mengetahui perubahan  sikap  pro  atau  kontra  yang dapat terjadi bagi bangsa dan pemeluk agama.  Seperti  yang  terlihat  kemudian dari  orang-orang  Yahudi  yang  pada awal masa Islam begitu benci terhadap orang-orang Mukmin,  namun  berbalik  menjadi membantu  kaum  Muslim dalam beberapa peperangan (seperti di Andalusia) atau seperti halnya  orang  Mesir  yang  membantu
kaum Muslim melawan Romawi." {2}
 
Dari  sini dapat ditegaskan bahwa Al-Qur'an tidak menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk tidak menjalin hubungan kerja  sama,  lebih  lebih mengambil sikap tidak bersahabat. Bahkan Al-Qur'an sama sekali tidak melarang  seorang  Muslim untuk  berbuat  baik dan memberikan sebagian hartanya kepada siapa pun selama mereka tidak memerangi kaum  Muslim  dengan motivasi  keagamaan  atau  mengusir  kaum  Muslim  di negeri mereka. Demikian penafsiran surat Al-Mumtahanah [60]: 8 yang dikemukakan  oleh  Ibn 'Arabi Abubakar Muhammad bin Abdillah
(1076-1148 M) dalam tafsirnya Ahkam Al-Qur'an.{3}
 
Atas dasar  itu  pula  sejumlah  sahabat  Nabi  bahkan  Nabi sendiri ditegur oleh Al-Qur'an karena enggan memberi bantuan nafkah kepada sejumlah  Ahl  Al-Kitab,  dengan  dalih  bahwa mereka  enggan  memeluk  Islam.  Demikian Al-Qurthubi ketika menjelaskan sebab turunnya ayat 272 surat Al-Baqarah:
 
"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka  mendapat  petunjuk, tetapi    Allah    yang    memberi   petunjuk   siapa   yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja  harta  yang  baik  yang  kamu nafkahkan  dijalan  Allah,  maka  pahalanya  adalah  untukmu jua.{4}"
 
Atas dasar pandangan itu pula, kaum Muslim  diwajibkan  oleh Al-Qur'an  memelihara rumah-rumah ibadah yang telah dibangun oleh orang-orang Yahudi, Nasrani,  dan  pemeluk  agama  lain berdasarkan surat Al-Hajj [22]: 40.
 
"Sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia. dengan  sebagian  yang  lain,  tentulah   telah   dirobohkan biara-biara   Nasrani,   gereja-gereja,  rumah-rumah  ibadat Yahudi, dan masjid-masjid yang di  dalamnya  banyak  disebut nama  Allah.  Sesungguhnya  Allah  pasti menolong orang yang menolong   (agama)-Nya.   Sesungguhnya   Allah   benar-benar
Mahakuat lagi Mahaperkasa."
 
Dari  prinsip  yang  sama  Al-Qur'an membenarkan kaum Muslim memakan sembelihan Ahl Al-Kitab dan mengawini  wanita-wanita mereka yang menjaga kehormatannya.
 
SIAPA YANG DISEBUT AHL AL-KITAB?
 
Di   atas   telah   dikemukakan  bahwa  para  ulama  sepakat menyatakan  bahwa  Ahl  Al-Kitab  adalah  orang  Yahudi  dan Nasrani.  Namun para ulama berbeda pendapat tentang rincian, serta cakupan  istilah  tersebut.  Uraian  tentang  hal  ini paling  banyak dikemukakan oleh pakar-pakar Al-Qur'an ketika mereka menafsirkan surat Al-Ma-idah [5]: 5, yang menguraikan tentang  izin memakan sembelihan Ahl Al-Kitab, dan mengawini wanita-wanita yang memelihara kehormatannya.
 
Al-Maududi, seorang pakar agama Islam  kontemporer,  menulis perbedaan  pendapat  para  ulama  tentang  cakupan makna Ahl
Al-Kitab yang penulis rangkum sebagai berikut: {5}
 
Catatan kaki:
 
{1} Baca lebih jauh Tafsir Al-Manar, Jilid VI, hlm. 428.
{2} Tafsir Al-Manar, Jilid IV, hlm. 82
{3} Lihat Tafsir Al-Manar, Jilid IV, hlm. 1773.
{4} Ahkam Al Qur'an, III, hlm. 337.
{5} Lihat majalah Al-Wa'i Al-Islam, Kuwait, Maret 1972,
    Thn. VIII, No. 86.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar