Minggu, 23 Maret 2014

1. Injil Karangan Matius

1. Injil Karangan Matius

INJIL KARANGAN MATIUS
 
Di antara empat Injil, Injil Matius adalah yang pertamadalam urutan kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Baru. Hal ini memang tepat oleh  karena  Injil  Matius  hanya merupakan   kelanjutan   dan   Perjanjian  Lama.  Injil tersebut ditulis untuk menunjukkan bahwa  "Yesus  telah menamatkan  sejarah  Bani  Israil"  yaitu  seperti yang dikatakan  oleh  para  pengarang  "Terjemahan  Ekumenik daripada  Bibel"  yang  akan  banyak kita kutip. Karena maksud tersebut di atas, Matius  selalu  mengutip  dari Perjanjian  Lama,  serta  menunjukkan bahwa Yesus telah berbuat sebagai Al Masih  (Pemimpin  yang  diakui  oleh rakyat  dengan  upacara  mengusapkan  minyak kasturi kebadannya) yang  telah  lama  dinanti  oleh  orang-orang Yahudi.
 
Injil ini bermula dengan menyebutkan silsilah keturunan Yesus.10 Matius rnenunjukkan bahwa asal-usul Yesus  itu sampai  kepada  nabi  Ibrahim  melalui nabi Dawud. Kita akan menemukan kesalahan teks  yang  biasanya  dianggap sepi   oleh   para   ahli  tafsir  Injil.  Bagaimanapun keadaannya, maksud Matius  adalah  jelas,  yaitu  untuk mempergunakan hubungan keturunan dengan Ibrahim sebagai bukti bahwa karangannya itu mempunyai suatu tujuan  dan maksud.  Matius mengikuti garis yang sama dengan selalu menonjolkan sikap  Yesus  terhadap  hukum-hukum  Yahudi yang  mengandung  tiga prinsip besar yaitu: sembahyang, puasa dan sedekah.
 
Yesus ingin menyampaikan ajarannya pertama-tama  kepada rakyatnya. Ia berkata kepada para rasul yang dua belas: "Jangan mengikuti jalannya orang kafir dan jangan masuk ke  kotanya  orang-orang Samara;11 lebih baik. Pergilah kepada domba-domba Bani Israil yang hilang" (Matius 15, 24).  Pada akhir Injilnya, Matius memperluas tugas para murid-murid Yesus yang  pertama  dan  melukiskan  Yesus sebagai    memerintahkan:   "Pergilah   dan   timbulkan pengikut-pengikut dari segala bangsa (Matius  28,  19), tetapi  permulaan  dakwah  harus  diutamakan untuk Bani Israil." Mengenai Injil Matius ini, A. Tricot  menulis: "Injil Matius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian  Yunani,  buku itu  tetap  berbau  Yahudi  dan  menunjukkan  ciri-ciri Yahudi."
 
Pandangan-pandangan tersebut di atas  menempatkan  asal Injil  Matius  dalam tradisi masyarakat Yahudi Kristen, yang sebagaimana dikatakan oleh  O.  Culmann,  berusaha sekuat-kuatnya   untuk   melepaskan   diri  dan  ikatan agama-agama  Yahudi,  tetapi  dengan  tetap  memelihara kontinuitas  Perjanjian Lama. Pokok-pokok perhatian dan nada kitab Injil Matius pada umumnya menunjukkan adanya situasi yang tegang.
 
Faktor-faktor   politik   juga   terasa   dalam   teks. Pendudukan  Kerajaan  Romawi  di  Palestina  menyalakan semangat  bangsa Yahudi untuk mencapai kemerdekaan, dan mereka berdo'a kepada Tuhan untuk membantu bangsa  yang Ia   pilih  daripada  bermacam-macam  bangsa.  Tuhannya Israil adalah Tuhan yang  Maha  Kuasa  dan  yang  dapat memberi  bantuan  langsung dalam urusan-urusan manusia, sebagaimana  Ia  telah   berbuat   berkali-kali   dalam sejarah.
 
Siapakah  Matius  itu?  Kita  mengatakan  dengan tegas bahwa  pada  waktu  sekarang  ia  tidak  lagi  dianggap sebagai  sahabat  Yesus. A. Tricot menggambarkan Matius dalam tafsirnya  terhadap  Terjemahan  Perjanjian  Baru tahun  1960  sebagai berikut: "Matius alias Levi adalah seorang pegawal kantor bea cukai di  distrik  Kafrna'um ketika  ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu dari pengikut-pengikutnya."  Begitulah  yang  dikatakan oleh  pemimpin-pemimpin  Gereja seperti Origene, Yerome dan Epihane. Tetapi sekarang  orang  berpendapat  lain; suatu  hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa Matius adalah seorang Yahudi,  kata-katanya  adalah  kata-kata dari  daerah  Palestina,  sedang  susunan  kata-katanya adalah   Yunani.   Pengarang    (Matius)    mengarahkan karangannya   kepada  kelompok  yang  berbicara  dengan bahasa Yunani, mengetahui  adat  kebiasaan  Yahudi  dan bangsa Aramaik; begitulah menurut O. Culmann.
 
Menurut  ahli-ahli  tafsir  "Terjemahan Ekumenik," asal usul Injil Matius adalah sebagai berikut: "Biasanya orang berpendapat bahwa Injil Matius  ditulis di  Syria  atau  di  Phenisie karena di tempat tersebut terdapat  banyak  orang-orang  Yahudi.12   Kita   dapat merasakan  suatu  polemik  melawan agama Yahudi Sinago g yang ortodoks yang dianut oleh kaum Parisi  sebagaimana yang   terjadi   dalam  Konferensi  Sinagog  di  Yamina kira-kira pada tahun 80. Dalam keadaan keadaan  semacam itu  banyak  pengarang-pengarang  yang mengatakan bahwa Injil Matius  ditulis  di  antara  tahun  80  90,  atau mungkin lebih dahulu sedikit, karena tak ada cara untuk mencari kepastian."
 
"Oleh karena kita tidak mengetahui nama pengarang  yang sesungguhnya,  maka  kita  akan  terpaksa  merasa  puas dengan  sifat-sifat  yang   diterangkan   dalam   Injil tersebut;  pengarang dapat dikenal dengan pekerjaannya. Ia mahir dalam pengetahuan  tentang  kitab-kitab  suci, tradisi Yahudi, kenal dan menghormati pembesar-pembesar agama   daripada    bangsanya    tetapi    menghadapkan persoalan-persoalan  kepada  mereka  dengan  kasar;  ia mahir dalam mengajar  dan  dalam  memperkenalkan  Yesus kepada para pendengar, selalu mendesakkan akibat-akibat praktis  tentang  ajaran-ajarannya,  ia  membalas  baik terhadap  sinyalemen  seorang  Yahudi  terpelajar  yang menjadi pemeluk agama Kristen,  seorang  pemilik  rumah yang  dapat  mengeluarkan dari simpanannya hal-hal yang baru atau lama, seperti yang dikatakan oleh Matius  13, 52.  Dengan gambaran seperti di atas, kita menjadi jauh daripada  seorang  pegawai  kantor  di  Kafrna'um  yang diberi  nama  Levi  oleh  Markus dan Lukas dan kemudian menjadi salah satu daripada  dua  belas  orang  sahabat Yesus.
 
Semua   orang  setuju  untuk  mengatakan  bahwa  Matius menulis Injilnya dengan mengambil bahan daripada sumber yang  sama  dengan  sumbernya  Markus  dan  Lukas. Akan tetapi riwayatnya berlainan dalam  hal-hal  yang  pokok sebagai  yang  akan  kita  lihat nanti. Walaupun begitu Matius telah mempergunakan Injil Markus, padahal Markus bukan muridnya Yesus," begitulah kata O. Culmann.
 
Matius  bersikap  liberal  (bebas)  terhadap teks-teks. Kita  akan  menemukannya  mengutip  silsilah  keturunanYesus  dari  Perjanjian  Lama  dan  diletakkannya  pada permulaan  Injilnya.  Ia  menyelipkan  dalam   Injilnya hikayat-hikayat yang tak dapat dipercayai (incroyable). Kata: "tak dapat dipercayai" adalah kata  yang  dipakai oleh   R.P.   Kannengiesser  pada  bukunya  Foi  en  la Resurrection, Resurrection de la foi (Percaya  terhadap hidup  kembalinya  Yesus, kembali hidupnya kepercayaan) dalam hikayat hidupnya Yesus kembali, yakni  dalam  hal yang   mengenai   "pengawal."  Ia  menunjukkan  "kurang bobotnya sejarah  pengawal  militer  kuburan;  pengawal militer kuburan itu adalah tentara Kafir yang tidak ada hubungannya dengan atasan mereka,  akan  tetapi  mereka melapor  kepada para pendeta besar yang menggaji mereka untuk mengatakan  kebohongan-kebohongan."  Tetapi  R.P. Kannengiesser    menambahkan:    "Kita    tidak   boleh mencemoohkan, karena maksud Matius adalah sangat  baik, oleh  karena  ia mempersatukan bahan-bahan kuna tradisi lisan dengan karya yang ditulisnya. Penyajiannya  mirip dengan Yesus Christ Superstar.13
 
Penelitian-penelitian  tentang  Matius  ini  berasalkan dari seorang besar ahli teologi, seorang Professor dari Lembaga Katolik di Paris.
 
Matius  menyebutkan  dalam tulisannya kejadian-kejadian yang berbarengan dengan matinya Yesus; ini adalah suatu contoh  lain  tentang  khayalannya. Beginilah bunyinya: Setelah tutup daripada tempat suci  itu  robek  menjadi dua,  dari  atas  ke  bawah,  maka bumipun bergeraklah, batu-batu  luluh,  kuburan-kuburan   menjadi   terbuka, mayat-mayat  para  wali  menjadi  hidup.  Setelah Yesus bangkit kembali, mayat-mayat hidup itupun masuk ke kota suci dan memperlihatkan diri kepada orang banyak.
 
Paragraf  daripada  Matius  ini  (27,  51-53)  tak  ada bandingannya  dalam  Injil-Injil  lainnya.  Kita  tidak mengerti  bagaimana  mayat-mayat para wali dapat bangun hidup kembali pada waktu wafatnya  Yesus  (malam  Sabat seperti  yang  tersebut  dalam  Injil-Injil)  dan tidak keluar dari kuburan mereka sampai Yesus bangkit kembali {keesokan hari sesudah Sabat, menurut sumber-sumber itu juga).
 
Barangkali  hanya  dalam  Injil  Matius  kita  dapatkan kekeliruan-kekeliruan  yang  sangat  menyolok dan tidak dapat dipertahankan lagi,  yaitu  hal  yang  dilukiskan sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Yesus. 
 
Matius   meriwayatkan   dalam   Injilnya   (12,  38-40) dongengan tentang alamat Yunus:
 
Yesus berada di tengah-tengah para  ahli  agama  Yahudi dan  orang-orang  Parisi  yang  berkata  kepadanya: "Ya Tuan. Guru, kami mengharap tuan Guru menunjukkan  suatu alamat  kepada  kami,"  Yesus menjawab: "Generasi jahat dan pelacurlah yang minta suatu alamat. Tak  ada  suatu alamat  yang  akan  diberikan  kepadanya kecuali alamat nabi Yunus. Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut monster  tiga  hari  dan  tiga  malam, begitu juga anak manusia (Yesus sendiri) akan berada di dalam tanah tiga hari dan tiga malam." (teks terjemahan Ekumenik).
 
Sebagai  tersebut  di  atas, Yesus mengumumkan bahwa ia akan berada dalam  tanah  tiga  hari  dan  tiga  malam. Padahal  Matius  dan  juga Lukas dan Markus menyebutkan dalam  Injil   mereka,   bahwa   wafatnya   Yesus   dan   penguburannya   terjadi  pada  hari  Sabtu  malam.  Ini berarti bahwa Yesus berada di dalam tanah  selama  tiga hari.  Akan  tetapi semua kejadian itu hanya mengandung dua malam.14
 
Biasanya para ahli tafsir Injil menutup mulut  terhadap hikayat  ini.  Meskipun begitu R.P. Rouguet menunjukkan kekeliruan tersebut karena ia mengatakan bahwa hari itu hanya  ada  satu hari penuh, dan dua malam. Tetapi R.P. Rouguet  menambahkan:   "tetapi   kalimat-kalimat   itu diringkaskan  dan  hanya mempunyai satu arti yaitu tiga hari." Adalah menyedihkan jika kita melihat  para  ahli tafsir   memakai   argumentasi-argumentasi  yang  tidak mempunyai  arti  positif,  padahal  seandainya   mereka mengatakan  bahwa  ketidak serasian itu disebabkan oleh kekeliruan yang membuat naskah, keterangan mereka  akan sangat memuaskan akal dan pikiran.
 
Yang    menjadi    ciri-ciri    Injil   Matius   selain kekeliruan-kekeliruan tersebut di  atas,  adalah  bahwa Injil  Matius  merupakan  Injil kelompok Yahudi Kristen yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi, tetapi  tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matius ini mempunyai arti yang sangat penting jika di  pandang dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.
 

2. Injil Karangan Markus

INJIL MARKUS
 
Injil Markus adalah Injil yang paling pendek, tetapi ia adalah  Injil  yang  paling tua. Ia bukan buku karangan seorang sahabat Yesus,  akan  tetapi  karangan  seorang murid sahabat Yesus.
 
O.  Culmann  menulis  bahwa  ia tidak menganggap Markus sebagai murid Yesus, akan tetapi ia mengingatkan kepada mereka  yang sangsi akan kebenaran anggapan bahwa Injil itu ditulis oleh  Markus  seorang  rasul  atau  sahabat Yesus, bahwa "Matius dan Lukas tidak akan mempergunakan Injil tersebut  seandainya  mereka  tidak  yakin  bahwa Injil  Markus  didasarkan  pada  ajaran seorang Rasul." Tetapi argumentasi seperti  ini  tidak  meyakinkan.  O. Culmann  juga  mengutip  untuk  menguatkan "reserve"nya bahwa Injil tersebut memuat banyak kutipan-kutipan dari seorang.  "Yahya yang digelari Markus" dalam Perjanjian Baru,  akan  tetapi  kutipan-kutipan   tersebut   tidak menyebutkan  nama  seorang  pengarang  Injil,  dan teks Markus sendiri juga tidak menyebutkan pengarangnya. 
 
Kurangnya penerangan, tentang hal ini menyebabkan  para ahli   tafsir   menganggap   perincian-perincian   yang bersifat khayalan sebagai hal yang berharga,  contohnya sebagai  berikut:  berdasarkan  anggapan  bahwa  Markus adalah satu-satunya pengarang Injil  yang  meriwayatkan kejadian  penyaliban  Yesus,  hikayat seorang muda yang hanya memakai sehelai kain untuk  pakaiannya,  kemudian ketika ditangkap, ia menanggalkan sehelai kain tersebut serta lari telanjang (Markus 14, 51-52),  banyak  orang mengambil konklusi bahwa pemuda tersebut adalah Markus, seorang  murid  yang  setia  yang  berusaha   mengikuti gurunya  (Terjemahan  Ekumenik).  Bagi  beberapa  orang lainnya dapat dilihat di sini  "dengan  kenang-kenangan pribadi,  suatu  bukti  kebenaran,  suatu  tanda tangan anonime, membuktikan bahwa ia adalah  saksi  mata"  (O. Culmann).
  
Bagi   pengarang   ini   "banyak   pemutaran  kata-kata menguatkan hipotesa bahwa pengarang Injil Markus adalah seorang   Yahudi,"   tetapi  adanya  latinisme  (bentuk kesusasteraan  latin)  memberi  kesan  bahwa  pengarang tersebut  menulis  Injilnya di kota Roma. "Ia berbicara kepada  orang-orang  Kristen  yang  tidak  tinggal   di Palestina,    dan   ia   berusaha   untuk   menjelaskan kalimat-kalimat Aramaik yang ia pergunakan."
  Tradisi menggambarkan, Markus sebagai teman  Petrus  di Roma.  Ini  didasarkan atas kata penutup daripada surat Petrus yang pertama,  jika  Petrus  memang  betul-betul orang yang menulis surat tersebut. Petrus telah menulis dalam suratnya:  "Kelompok  orang-orang  yang  terpilih yang  ada  di Babylon kirim salam kepadamu, begitu juga Markus, anakku," Babylon amat boleh jadi  Roma,  begitu kita   dapatkan   dalam   tafsir  Terjemahan  Ekumenik, sehingga orang mengira dapat mengambil  konklusi  bahwa Markus  yang  bersama  Petrus  berada  di  Roma  adalah penulis Injil Markus. Apakah pemikiran  semacam  itulah yang  mendorong Papias, uskup Hierapolis pada kira-kira tahun 150 untuk mengatakan bahwa yang  mengarang  Injil adalah Markus, juru bahasa Petrus dan seorang yang juga bekerja sama dengan Paulus?
 
Dengan kaca  mata  ini,  orang  menempatkan  penyusunan Injil  Markus sesudah matinya Petrus, yakni paling pagi antara tahun 65 dan 70 menurut  "Terjemahan  Ekumenik," atau kira-kira tahun 70 menurut O. Culmann.
 
Teks  Injil  Markus menunjukkan suatu cacat yang besar, karena ditulis  tanpa  mengindahkan  kronologi.  Dengan begitu  Markus menyebutkan dalam permulaan Injilnya (1, 16-20), hikayat empat orang nelayan yang  dilatih  oleh Yesus   dengan  katanya:  "Kamu  akan  menjadi  pembaru manusia," pada saat mereka belum  kenal  dengan  Yesus. Pengarang   Injil  tersebut  juga  menunjukkan  ketidak mampuan menilai kebenaran.
 
Seperti yang dikatakan oleh R.P. Rouguet, Markus adalah seorang  penulis yang kurang pandai, "yang paling bodo h di antara para  pengarang  Injil."  Ia  tidak  mengerti bagaimana    menulis   hikayat.   Ahli   tafsir   Injil menyandarkan  penilaian  ini   kepada   paragraf   yang meriwayatkan  kelembagaan  12  rasul,  yang  terjemahan harfiahnya sebagai berikut: "Ia naik ke atas gunung dan mengundang  mereka  yang  ia  kehendaki,  mereka datang kepadanya. Ia menjadikan 12 orang  itu  supaya  bersama dengannya, supaya Ia dapat mengirim mereka mencari ikan dan mempunyai kekuatan untuk  mengusir  setan.  Dan  ia membuat  12  orang  dan  memaksakan  nama Petrus kepada Simon" (Markus 3, 13-16).
 
Dalam beberapa hikayat,  Markus  berkontradiksi  dengan Matius   dan  Lukas  seperti  yang  kita  pernah  lihat berhubung dengan alamat Yunus. Di samping itu  mengenai alamat  yang diberikan oleh Yesus kepada beberapa orang selama Yesus bertugas, Markus (8,  11-12)  meriwayatkan suatu  dongengan yang tak dapat dipercaya, "orang-orang Parisi datang dan  mulai  bicara  dengan  Yesus;  untuk menjebak  Yesus,  mereka minta suatu alamat yang datang dari langit. Sambil  menunjukkan  keluhan  yang  dalam, Yesus  berkata:  mengapa generasi ini minta alamat? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tak ada alamat yang akan diberikan  kepada generasi ini. Ia meninggalkan mereka, naik di atas perahu  kecil  dan  berangkat  ke  daratan sebelah."
  
Ini  tidak dapat disangkal lagi adalah karena penegasan dari Yesus sendiri tentang niatnya tidak akan melakukan sesuatu  perbuatan  yang  supernatural. Oleh karena itu ahli-ahli tafsir  daripada  Terjemahan  Ekumenik  heran karena   Lukas   menerangkan  bahwa  Yesus  hanya  akan memberikan  satu  alamat,  yaitu  alamat   Nabi   Yunus (silahkan baca Injil Matius), dan merasakan kontradiksi karena  Markus  berkata  "generasi   ini   tidak   akan mendapatkan   sesuatu   alamat,   dan  kemudian  mereka memperingatkan kepada mukjizat  yang  ditunjukkan  oleh Yesus sendiri sebagai alamat" (Lukas.7, 22 dan 11, 20). Seluruh Injil  Markus  dianggap  Canon  (kanon)  secara resmi.  Akan tetapi kita ingat bahwa akhir Injil Markus ( 16, 9-20)  dianggap  oleh  ahli-ahli  modern  sebagai suatu karya yang ditambahkan. Terjemahan Ekumenik tegas dalam hal ini. Bagian terakhir  tersebut  tidak  dimuat dalam  dua  manuskrip  kuno  Injil  yang komplit, yaitu Kodex Vatikanus dan  Kodex  Sinaitikus  dari  abad  IV. Mengenai     hal     ini     O.     Culmann    menulis: Manuskrip-manuskrip Yunani yang lebih baru dan beberapa versi  telah menambah suatu konklusi yang tidak ditulis oleh Markus sendiri tetapi diambil dari beberapa Injil. Sesungguhnya  versi  bagian  terakhir  yang ditambahkan adalah banyak. Dalam teks kadang-kadang terdapat  versi panjang,    kadang-kadang    terdapat    versi   pendek (dua-duanya   telah   diterbitkan   dalam    Terjemahan Ekumenik),  kadang-kadang versi panjang dengan tambahan dan kadang-kadang kedua versi bersama.
 
R.P. Kannengiesser memberi  komentar  sebagai  berikut: orang  terpaksa  menghapuskan ayat-ayat terakhir ketika Injil Markus diterima secara resmi oleh masyarakat yang menjamin, begitu juga ketika Injil Markus dicetak untuk awam. Baik Matius, maupun Lukas atau Yahya  tidak  tahu bagian  yang ditinggalkan Injil Markus. Walaupun begitu kekosongan tersebut sangat  terasa.  Lama  sesudah  itu ketika   Injil-Injil  Matius,  Lukas  dan  Yahya  telah tersiar, orang mengumpulkan bagian terakhir dari  Injil Markus  dengan mengambil dari kiri dan kanan, dari para pengarang  Injil  lainnya,   menjadi   mudahlah   untuk mengulangi  bagian-bagian  tebakan  ini  dengan membaca Markus (16, 9-20). Dengan begitu orang akan mendapatkan suatu   ide   yang   kongkrit  tentang  kebebasan  para pengarang    dalam    membentuk     susunan     literer hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad II.
 
Tak  ada  pengakuan tentang adanya manipulasi teks suci yang  dilakukan  oleh   manusia   lebih   terang   dari pikiran-pikiran  tersebut  yang dicetuskan oleh seorang ahli teologi yang besar.
 
 

3. Injil Karangan Lukas

INJIL LUKAS
 
Menurut O. Culmann, Lukas adalah pencatat  berita,  danmenurut R.P. Kannengiesser, Lukas adalah penulis roman.Lukas menulis dalam Pendahuluan Injilnya, bahwa  banyakorang  lain  menulis  riwayat  Nabi  Isa,  maka ia akan menulis riwayat  tentang  kejadian-kejadian  yang  sama dengan   mempergunakan   hikayat   dan  informasi  dari saksi-saksi mata (ini  secara  tidak  langsung  berarti bahwa  Lukas  bukan saksi mata) dan informasi-informasi yang datang dari  ceramah-ceramah  para  rasul.  Dengan begitu   maka  yang  ia  sajikan  dengan  syarat-syarat tersebut  adalah  suatu  karya  yang  tersusun  menurut metode:
 
Pendahuluan:
 
 1. Sedangkan banyak orang sudah mencoba mengarang  hikayat dari hal segala perkara yang menjadi yakin  di antara kita.
  2. Sebagaimana yang diserahkan kepada kita oleh orang,   yang dari mulanya melihat dengan matanya sendiri dan   menjadi pengajar Injil itu.
  3. Maka tampaknya baik kepadakupun, yang telah menyelidiki segala perkara itu dengan betul-betul dari asalnya, menyuratkan bagimu dengan peraturannya, hai     Teopilus yang mulia.
  4. Supaya engkau dapat mengetahui kesungguhan segala  sesuatu yang diajarkan kepadamu.
 
Dari baris-baris pertama  kita  sudah  dapat  merasakan perbedaan  antara  Lukas dengan Markus, seorang penulis yang kurang mahir yang bukunya  telah  kita  bicarakan. Injil  Lukas  adalah  suatu karya sastra yang tak dapat dipungkiri, tertulis dalam bahasa Yunani yang murni.
 
Lukas adalah seorang kafir yang terpelajar dan kemudian memeluk  agama  Kristen.  Orientasinya  terhadap  orang Yahudi  nampak  sekali.  Seperti  yang  dikatakan  oleh Culmann,  Lukas  tidak  mengutip kembali ayat-ayat yang berbau  Yahudi  dalam  Injil  Markus,  dan  menonjolkan kata-kata  Yesus  terhadap  ketidak imannya orang-orang Yahudi, serta menonjolkan pula  hubungannya  yang  baik dengan  orang-orang  Samaritan  yang tidak disukai oleh orang-orang  Yahudi,  sedangkan  Matius,  seperti  yang telah  kita  lihat, melukiskan bahwa Yesus minta kepada para  sahabatnya  untuk  menjauhkan  diri  dari   orang Yahudi.  Ini adalah satu daripada beberapa contoh bahwa para penulis Injil dengan melukiskan  Yesus  mengatakan hal-hal  yang  sesuai  dengan  selera  pribadi  mereka. 
Mereka itu meriwayatkan kata-kata  Yesus  dengan  versi yang   dipilih   menurut   pandangan  kelompok  mereka. 
Bagaimana kita dapat mengingkari  bahwa  Injil  adalah: "bukuperjuangan"  atau "buku mengenai suasana tertentu " seperti yang telah kita  katakan?  Perbandingan  antara susunan  umum  Injil  Lukas  dengan  susunan umum Injil Matius memberi bukti tentang hal tersebut.
 
Siapakah Lukas  itu?  Orang  ingin  mengidentifikasikan Lukas dengan seorang tabib dengan nama yang sama, yaitu yang  disebut   oleh   Paulus   dalam   surat-suratnya. Terjemahan Ekumenik mengatakan bahwa "banyak orang yang mendapatkan   konfirmasi   mengenai   pekerjaan   Lukas pengarang    Injil    sebagai   seorang   tabib   dalam kepandaiannya   untuk   mendiagnosa    orang    sakit." Keterangan  ini  adalah  berlebih-lebihan. Sesungguhnya Lukas  tidak  pernah  memperoleh   keterangan   tentang penyakit   "kata-kata   yang   ia   pakai  adalah  kata orang-orang terpelajar  pada  zaman  itu."  Memang  ada seorang  bernama  Lukas  yang  menjadi teman perjalanan Paulus. Apakah orang itu Lukas Pengarang Injil?  Inilah yang dikira-kirakan oleh O.Culmann.
 
Tahun  ditulisnya Injil Lukas dapat dikira-kira menurut beberapa faktor. Lukas telah mempergunakan Injil Markus dan   Injil   Matius.  Kita  membaca  dalam  Terjemahan Ekumenik sebagai berikut:  "nampaknya  ia  tahu  tempat kota Yerusalem serta reruntuhannya yang disebabkan oleh tentara Titus pada tahun 70. Dengan begitu  maka  Injil Lukas  telah  ditulis  sesudah  itu.  Ahli-ahli  kritik sekarang berpendapat bahwa Injil Lukas ditulis  sekitar tahun  80-90;  tetapi  ada  juga  yang mengatakan tahun sebelum itu.
 
Bermacam-macam Hikayat dalam  Injil  Lukas  menunjukkan perbedaan  besar dengan Injil-Injil sebelumnya. Di atas kita  telah  memberikan  gambaran  singkat.  Terjemahan Ekumenik  telah  membicarakannya  pada  halaman 181 dan selanjutnya O. Culmann dalam  karangannya:  "Perjanjian Baru,"  halaman  18  memuat hikayat-hikayat Injil Lukas yang tidak terdapat dalam  Injil-Injil  lain.  Hal  ini tidak mengenai perincian.
  
Hikayat  tentang  masa  kanak-kanak  Yesus  dalam Injil Lukas adalah hanya terdapat dalam Injil  Lukas.  Matius memberikan riwayat yang berbeda, sedangkan Markus tidak memuatnya sama sekali.
 
Matius dan Lukas memberi silsilah keturunan Yesus  yang berbeda-beda.  Ada kontradiksi penting, kekeliruan yang sangat besar dari segi ilmiah  sehingga  perlu  dibahas dalam  bab khusus. Kita dapat mengerti bila Matius yang menghadapi  orang-orang  Yahudi,  menyebutkan  silsilah keturunan  Yesus dan dimulai dengan Nabi Ibrahim sampai Nabi Daud. Kita dapat memahami pula jika Lukas  seorang yang  mula-mula  kafir  kemudian memeluk agama Kristen, memberikan silsilah keturunan sampai yang lebih tinggi. Akan  tetapi  kita  akan menemukan bahwa bermula dengan Nabi    Daud    silsilah-silsilah     keturunan     itu berkontradiksi.
  
Tugas  kenabian  Yesus  diriwayatkan oleh Lukas, Matius dan Markus secara berbeda-beda dalam beberapa hal.
 
Suatu kejadian yang sangat penting bagi  umat  Kristen, yaitu  lembaga  Ekaristi;15 diriwayatkan secara berbeda oleh Lukas di satu pihak dan oleh Matius dan Markus  di pihak  yang  lain.  R.P. Rouguet menulis dalam bukunya, Pengantar  kepada  Injil  (Initiation  a   l'Evangile), halaman  75  bahwa  kata-kata  Yesus yang menjadi dasar kelembagaan  Ekaristi  diriwayatkan  oleh  Lukas   (22, 19-24)  dalam bentuk yang sangat berbeda dengan riwayat Matius (26, 26-29)  dan  riwayat  Markus  (14,  22-24). Kedua  yang  terakhir  ini  boleh  dikatakan  sama atau identik.  Sebaliknya  susunan  yang  diriwayatkan  oleh Lukas sangat mirip dengan susunan Paulus (surat pertama kepada orang Korintus 11, 23-25).
 
Sebagaimana  orang  mengetahui,  Lukas  dalam  Injilnya meriwayatkan  Kenaikan  Al  Masih  dalam  susunan  yang berkontradiksi  dengan  riwayat  yang  terdapat   dalam fasal-fasal  Perbuatan-perbuatan  para Rasul-rasul yang merupakan bagian penting daripada Perjanjian  Baru  dan yang  Lukas  sendiri dianggap sebagai penulisnya. Dalam Injilnya, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih  itu terjadi pada hari Paskah, sedang dalam: Kisah Perbuatan Para Rasul, Lukas mengatakan bahwa  kenaikan  Al  Masih terjadi 40 hari sesudah Paskah.16 Kontradiksi ini telah mendorong  para  ahli  tafsir   Injil   untuk   memberi tafsiran-tafsiran yang ajaib.
 
Akan  tetapi ahli tafsir yang mementingkan obyektifitas seperti penulis-penulis  Terjemahan  Ekumenik  terhadap Bibel,  terpaksa mengakui, dalam suatu rangka yang umum bahwa:  "Bagi  Lukas,  perhatian  pertama  bukan  untuk meriwayatkan kejadian secara tepat dalam arti ketepatan material."  R.P.  Kannengiesser  membandingkan  riwayat yang  terdapat dalam: "Kisah Perbuatan Para Rasul" yang juga karangan Lukas, dengan  riwayat  tentang  kejadian yang    sama   yang   diberikan   oleh   Paulus.   R.P. Kannengiesser  menulis:  "Di  antara  empat   pengarang Injil,  Lukas  adalah  yang paling berperasaan dan yang paling  sastrawan.  Ia  menunjukkan  semua  sifat-sifat penulis roman."
 
 

4. Injil Karangan Yahya

INJIL YAHYA
 
Injil Yahya adalah sangat  berbeda  dengan  tiga  Injil lainnya,  sedemikian  rupa  sehingga R.P. Rouguet dalam bukunya  Pengantar  kepada   Injil,   setelah   memberi tafsiran  kepada  ketiga Injil yang pertama, mengatakan bahwa Injil Yahya merupakan "Dunia yang  lain."  Memang begitu.  Sesungguhnya  Injil  Yahya merupakan buku yang sangat berlainan; kita dapatkan di  dalamnya  perbedaan dalam   tertib   susunannya,  dalam  hikayatnya,  dalam uraian-uraiannya,  perbedaan  gaya  bahasa,   perbedaan geografis   dan   kronologis   bahkan  perbedaan  dalam pandangan teologi  (O.  Culmann).  Dengan  begitu  maka kata-kata Yesus diriwayatkan oleh Yahya dan oleh ketiga pengarang Injil lainnya secara  berbeda.  R.P.  Rouguet menjelaskan  bahwa "Injil-Injil Sinoptik17 meriwayatkan kata-kata Yesus dalam style yang bernada perintah keras dan  lebih dekat dengan gaya orang bicara." Dalam Injil Yahya segala  sesuatu  bernada  "berfikir,"  sedemikian rupa  sehingga  kita  dapat  bertanya apakah Yesus yang bicara atau ide  yang  dicetuskan  Yesus  itu  kemudian diperpanjang      secara     tidak     sadar     dengan pemikiran-pemikiran pengarang Injil.
  
Siapakah pengarang Injil Yahya?  Persoalan  ini  banyak diperdebatkan   dan   memang   terdapat  bermacam-macam pendapat. A. Tricot dan R.P. Rouguet yakin bahwa  Injil Yahya  dikarang  oleh  seorang saksi-mata. Pengarangnya adalah Yahya, anak Zebede , saudara  Yakob  ini  adalah seorang  sahabat  Yesus  yang  segi-segi hidupnya sudah terkenal dan terpapar dalam buku-buku  pelajaran  agama bagi    awam.   Seni   gambar   populer   melukiskannya berdampingan dengan Yesus pada waktu santapan terakhir, sebelum  pensaliban.  Siapa  yang  dapat  menggambarkan bahwa Injil Yahya bukan karangan Yahya,  sahabat  Yesus yang gambarnya tersebar di mana-mana?
 
Bahwa  Injil keempat ini ditulis pada waktu yang sangat terlambat  tidak  menjadi  argumentasi   formal   untuk melawan  anggapan  di  atas.  Pendapat  yang  definitif mengatakan bahwa Injil Yahya dikarang pada  akhir  abad pertama.  Gambaran  bahwa  Injil Yahya ditulis 60 tahun sesudah Yesus dapat terasa sesuai dengan adanya seorang sahabat yang sangat muda pada waktu hidupnya Yesus, dan kemudian berumur panjang hampir satu abad.
 
R.P.  Kannengiesser   dalam   penyelidikannya   tentang kebangkitan Yesus berkesimpulan bahwa tak seorangpun di antara  pengarang-pengarang  Perjanjian  Baru,  kecuali Paulus,   yang  dapat  dikatakan  saksi  mata  terhadap kelanjutan Yesus. Walaupun begitu,  Yahya  meriwayatkan tentang Yesus menampakkan dirinya kepada 12 sahabatnya, termasuk Yahya sendiri, yang sedang  berkumpul,  tetapi Thomas   tidak   hadir  (Yahya,  20,  19-24).  Kemudian kejadian tersebut  terulang;  Yesus  nampak  kepada  12 sahabatnya yang berkumpul lengkap.
 
O.   Culmann,   dalam  bukunya  Perjanjian  Baru  tidak membicarakan hal tersebut.
 
Terjemahan Ekumenik  terhadap  Bibel  mengatakan  bahwa kebanyakan   para   pengeritik   tidak  dapat  menerima anggapan  bahwa  Injil  Yahya  adalah  karangan   Yahya sahabat   Yesus;   memang  tak  ada  kemungkinan  bahwa anggapan  awam  itu  benar.  Akan  tetapi  semua  orang berpendapat  bahwa  teks  Injil Yahya itu dikarang oleh beberapa penulis. Ada  kemungkinan  besar  bahwa  Injil Yahya  yang  kita  miliki  disiarkan  oleh  murid-murid pengarang. Mereka itu  telah  menambah  fasal  21,  dan tidak ada keragu-raguan lagi bahwa mereka juga menambah catatan-catatan (fasal 4, 2 dan mungkin fasal 4, 1,  4, 44,  7,  37b,  11,  2, 19, 35), mengenai hikayat wanita yang  berzina,  semua  orang  sependapat  bahwa  sumber daripada  hikayat  tak dapat diketahui, dan hikayat itu diselipkan kemudian. (Walaupun  begitu  termasuk  dalam Injil Kanon). Paragraf 19, 35 nampak sebagai pernyataan dari  seorang  saksi  mata  (O.  Culmann);  ini  adalah satu-satunya  paragraf  yang memberikan kesan tersebut, tetapi  para  ahli  tafsir  Injil   berpendapat   bahwa paragraf tersebut adalah paragraf tambahan.
 
O.  Culmann  berpendapat  bahwa  tambahan-tambahan baru nampak dalam Injil  Yahya  fasal  21,  pasti  merupakan karya  seorang  murid  yang  memasukkan perubahan dalam tubuh Injil Yahya.
 
Dengan   tidak   menyebutkan   hipotesa-hipotesa   y ang diajukan  oleh  para ahli tafsir Injil, catatan-catatan yang  datang  dari  pengarang-pengarang  Kristen   yang ternama  dan yang mengenai persoalan siapa yang menulis Injil  Yahya,  menunjukkan  kepada  kita  bahwa  mereka berada   dalam   kebingungan.  Nilai  sejarah  daripada riwayat-riwayat    Yahya    juga    banyak    dibantah.
Perbedaannya  dengan ketiga Injil lainnya adalah besar. 
O.   Culmann   mengatakan   bahwa    Yahya    mempunyai pikiran-pikiran    teologi    yang    berbeda    dengan pengarang-pengarang Injil  lainnya.  Perbedaan  teologi ini, menjadi pedoman untuk memilih kata-kata Yesus yang diriwayatkan, dan cara meriwayatkannya.  Dengan  begitu maka Yahya sering memperpanjang kata-kata tersebut, dan melukiskan  Yesus  yang  kita  ketahui  dalam   sejarah mengatakan,   apa   yang  dikatakan  oleh  Ruhul  Kudus kepadanya. Bagi ahli tafsir  Injil  ini,  (O.  Culmann) itulah   sebabnya  perbedaan  antara  Injil  Yahya  dan Injil-Injil yang lain.
 
Sudah terang kita dapat menggambarkan bahwa Yahya  yang menulis Injilnya sesudah pengarang-pengarang lain dapat memilih hikayat-hikayat yang  lebih  dapat  menerangkan idenya;   kita   tidak  perlu  heran  jika  kita  tidak menemukan dalam Injil Yahya  hal-hal  yang  dapat  kita temukan   dalam   Injil-Injil   yang  lain.  Terjemahan Ekumenik menyebutkan beberapa hal semacam itu  (halaman 282).  Tetapi  yang  mengherankan  kita  adalah  adanya kekosongan-kekosongan.  Kekosongan-kekosongan  itu  ada yang hampir tak dapat dipercaya seperti hikayat lembaga Ekansti. Kita tak  dapat  menggambarkan  bahwa  hikayat yang  sangat  penting  bagi  agama Kristen dan kemudian menjadi tiang (pokok) bagi liturginya yaitu misa, bahwa hikayat  tersebut  tidak  disajikan oleh Yahya, seorang pengarang Injil yang  terbaik.  Dan  Yahya  hanya  puas dengan menceritakan bagaimana Yesus membasuh kaki murid muridnya,   meramalkan    pengkhianatan    Yudas    dan pengingkaran Petrus kepadanya.
 
Sebaliknya  ada  hikayat-hikayat  yang diceritakan oleh Yahya tetapi tak tersebut dalam Injil-Injil yang  lain. 
Terjemahan    Ekumenik    menyebutkan   hikayat-hikayat tersebut pada halaman 283. Mengenai hal ini orang dapat mengatakan  bahwa ketiga pengarang Injil Sinoptik tidak dapat menemukan dalam hikayat  yang  diriwayatkan  oleh Yahya  sesuatu  arti  yang  penting.  Tetapi kita tentu merasa heran karena membaca  Injil  Yahya  yang  memuat hikayat  Yesus  yang  sudah  hidup kembali menampakl;an dirinya kepada murid-muridnya di pinggir danau Tabariah (Yahya  21,  1-14);  hikayat tersebut adalah reproduksi daripada hikayat  mencari  ikan  yang  disebutkan  oleh Lukas   (5,   1-11)   dengan   banyak  tambahan.  Yahya menceritakan hikayat tersebut seakan-akan kejadian yang terjadi pada waktu Yesus masih hidup. Dalam Hikayat ini Lukas menyebutkan bahwa Yahya  juga  ada,  yakni  Yahya yang kemudian mengarang Injil Yahya
 
Hikayat  Injil  Yahya  tersebut  merupakan  bagian dari fasal 21 yang  semua  penyelidik  sepakat  bahwa  fasal tersebut  adalah  tambahan.  Dengan  mudah  kita  dapat menggambarkan  bahwa  disebutkannya  nama  Yahya  dalam hikayat   Lukas   akan   dapat   memasukkannya   secara buat-buatan dalam Injil keempat. Bahwa untuk  keperluan tersebut  orang  harus merubah hikayat dari zaman Yesus masih hidup menjadi hikayat yang  diriwayatkan  sesudah Yesus   tidak   ada   lagi,   hal   ini   tidak   dapat memberhentikan  tindakan  orang-orang  yang   bertujuan merobah teks Injil.
 
Ada  lagi  suatu  perbedaan  besar  antara  Injil Yahya dengan ketiga lnjil lainnya,  yaitu  soal  berapa  lama Yesus  melakukan  tugasnya.  Markus,  Matius  dan Lukas mengatakan hanya satu tahun, sedangkan Yahya mengatakan lebih dari dua tahun O. Culmann mengikuti Yahya.
 
Terjemahan Ekumenik mengatakan sebagai berikut:
 
"Injil-Injil  Sinoptik menyebutkan periode Galilia yang panjang, kemudian  diteruskan  dengan  perjalanan  agak panjang   ke   Yudea,   kemudian  menetap  sebentar  di Yerusalem; sebaliknya Yahya menceritakan  Yesus  sering pindah  dari satu daerah ke daerah lain, tetapi lama di Yudea, khususnya di Yerusalem ( I, 19-51 . 2, 13-36. 5, 1-47.  14,  20-31).  Ia  menyebutkan beberapa keramaian Paskah (2, 13, 5, 1. 6, 4, 11, 55)  dan  dengan  begitu memberi kesan bahwa Yesus bertugas lebih dari dua tahun 
Siapa  yang  kita  percaya?  Markuskah atau Matius atau Lukas atau Yahya?
 
 



SUMBER-SUMBER INJIL
 
Kesan  umum  tentang  Injil  yang  kita  dapatkan  dari penyelidikan   kritis   terhadap   teks   adalah  bahwa Injil-lnjil "merupakan literatur yang  kurang  sempurna penyusunannya,"  "yang  tidak  menunjukkan kontinuitas" dan "yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang  tak dapat  diatasi."  Penilaian  tersebut  kita pinjam dari Terjemahan Ekumenik terhadap  Bibel,  suatu  buku  yang penting  sekali  untuk  kita  jadikan  referensi,  oleh karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang  gawat. Kita  telah  membaca  dalam bagian lain catatan-catatan mengenai  sejarah  kontemporer  tentang  agama,   bahwa kelahiran   Injil-Injil   dapat  menerangkan  ciri-ciri literatur yang  membingungkan  ini  bagi  pembaca  yang menggunakan pikirannya.
 
Akan  tetapi  kita  perlu  menyelidiki  lebih  jauh dan mencari    yang    dapat    kita    peroleh    daripada karangan-karangan  yang  diterbitkan pada zaman modern ini mengenai  sumber-sumber  yang  memberi  bahan-bahan kepada  pengarang  Injil  untuk  menyusun  teks mereka; adalah menarik juga untuk  menyelidiki  apakah  sejarah teks-teks  Injil  setelah  dibukukan  dapat menerangkan aspek-aspek Injil yang sekarang kita baca.
 
Persoalan sumber ini telah dibicarakan secara sederhana sekali   pada   zaman   Pendeta-pendeta  Gereja  (zaman Pertengahan). Pada  abad-abad  pertama  Masehi,  sumber Injil   adalah   Injil   yang   pertama  tersusun  dari manuskrip-manuskrip komplit, yakni Injil  Matius.  Soal sumber  hanya  mengenai  Injil  Lukas dan Markus. Injil Lukas merupakan kasus yang berdiri  sendiri.  Agustinus menganggap  bahwa  Markus, yaitu nomor dua dalam urutan Injil tradisional, mendapat inspirasi dari Injil Matius yang  ia  ringkaskan,  dan  bahwa  Lukas yang merupakan pengarang   Injil   ketiga   dalam   manuskrip    telah mempergunakan  Injil  Markus  dan  Matius.  Pendahuluan Injil Lukas memberi kesan semacam itu.
 
Para ahli  tafsir  Injil  pada  waktu  itu  dapat  juga memberikan  gambaran  tentang  persamaan  (convergensi) teks-teks dan menemukan ayat-ayat yang sama  dalam  dua atau  tiga  Injil Sinoptik. Para ahli tafsir Terjemahan Ekumenik daripada Bibel memberikan angka-angka  sebagai berikut:
 
Ayat-ayat sama dalam tiga Injil Sinoptik adalah 330
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Matius adalah 178
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Lukas adalah 100
Ayat-ayat sama dalam Injil Matius dan Lukas adalah 230
 
dan ayat-ayat  yang  khusus  bagi  tiap-tiap  pengarang Injil  adalah:  330  ayat untuk Matius, 53 untuk Markus dan 500 untuk Lukas.
 
Dari zaman para  pendeta-pendeta  Gereja  sampai  akhir  abad  ke  XVIII,  1500  tahun  telah  lewat dan tak ada masalah baru mengenai  sumber-sumber  pengarang  Injil; orang  hanya mengikuti tradisi. Hanya pada zaman modern inilah  orang  mengerti  bahwa  tiap  pengarang  Injil, walaupun  mengambil  informasi  yang ada pada pengarang lain, ia menyusun suatu riwayat menurut  seleranya  dan pandangan  pribadinya.  Oleh  karena,  itu  orang mulai memperhatikan kumpulan  bahan-bahan  hikayat,  di  satu pihak  dalam  tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan di lain pihak dalam sumber umum  dalam  bahasa  Aramaik yang  mestinya  ada,  akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan  orang.  Sumber  yang  tertulis  ini  mungkin merupakan hanya satu kumpulan yang utuh, atau merupakan bagian-bagian yang bermacam-macam  yang  dapat  dipakai oleh tiap-tiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.
 
Penyelidikan-penyelidikan  yang  mendalam semenjak satu abad telah mengungkapkan  teori-teori  yang  berkembang dan  menjadi  rumit.  Teori  pertama  adalah  teori dua sumber daripada Holtzmann (tahun 1863).  Menurut  teori ini   sebagai  yang  dijelaskan  oleh  O.  Culmann  dan Terjemahan Ekumenik, Matius dan Lukas  memakai  pertama bahan  Markus,  dan  kedua  suatu dokumen yang sekarang hilang.  Selain  itu  Matius  dan  Lukas  masing-masing memakai   satu   sumber  sendiri.  Hal  tersebut  dapat digambarkan sebagai berikut:
 
                   Sumber khusus
                    untuk Matius
                         |
                         |
                 |--> Matius <--|
        Markus --|              |-- Dokumen bersama
                 |--> Lukas  <--|
                         |
                         |
                   Sumber khusus
                    untuk Lukas
 
O. Culmann mengkritik teori tersebut sebagai berikut:
 
 1. Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius  belum tentu Injil Markus, akan tetapi suatu karangan  lain yang ditulis sebelumnya.
 
 2. Dalam teori tersebut tradisi lisan kurang    diperhatikan, pada hal tradisi lisan inilah yang    memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya tiap-tiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang menentukan tradisi lisan.
 
Dengan begitu maka kita  sampai  kepada  suatu  pikiran bahwa  Injil-Injil  yang kita miliki telah memberi kita suatu gambaran tentang  kehidupan  dan  kegiatan  Yesus yang diketahui oleh Masyarakat Kristen Primitif (asli), begitu juga tentang akidah-akidah mereka, konsep-konsep teologi  mereka  yang  ditulis oleh juru bicara mereka, yakni para pengarang Injil.
 
Penyelidikan-penyelidikan  yang  lebih  modern  tentang kritik  teks  terhadap  sumber-sumber Injil menunjukkan bahwa  tersusunnya  teks-teks  tersebut  telah  melalui proses  yang  lebih  kompleks.  La  Synopse  des quatre Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P.  Benoit dan  R.P.  Boismard,  guru-guru  besar sekolah Bibel di Yerusalem  (tahun  1972-1973)  menekankan  perkembangan teks  dalam  tahap-tahap  yang sama dengan perkembangan tradisi. Hal tersebut  menimbulkan  akibat-akibat  yang disebutkan  oleh  R.P. Benoit dalam membicarakan bagian yang ditulis oleh R.P. Boismard:
 
"Bentuk-bentuk  kata-kata  atau  hikayat  yang  terjadi setelah   perkembangan   yang   lama   tidak  mempunyai autentitas (kebenaran) yang  terdapat  dalam  kata-kata asli.  Barangkali  banyak  para pembaca yang heran atau kesal jika mereka  mengetahui  bahwa  kata-kata  Yesus, atau  kiasannya  atau ramalannya tentang nasibnya tidak pernah diucapkan seperti yang kita  baca,  akan  tetapi sudah  di  retouche  (diperbaiki) atau disesuaikan oleh orang-orang  yang  meriwayatkannya.  Bagi  mereka  yang tidak  biasa  dengan  penyelidikan sejarah semacam ini, hal   ini   mungkin   menyebabkan   keheranan    bahkan kehebohan."
 
Perbaikan  teks  dan  penyesuaian  yang  dilakukan oleh mereka yang  meriwayatkan  teks  tersebut  kepada  kita dilakukan   menurut   cara   yang  oleh  R.P.  Boismard digambarkan  secara  terperinci  karena  persoalan  itu merupakan  sambungan  daripada teori dua sumber. Gambar atau skema itu dibuat setelah  mengadakan  penyelidikan dan  perbandingan  teks  yang tak dapat diringkaskan di sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat  membaca bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf.
 
Ada   empat   macam   dokumen   pokok   yang  merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan  A,  B, C, dan Q.
 Dokumen  A  berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.
 Dokumen B adalah reinterpretasi dokumen A yang  dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi  kepada  semua  penulis  Injil, kecuali Matius.
 Dokumen  C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.
Dokumen  Q  merupakan  bagian  besar  daripada   sumber bersama  yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen  bersama  yang  disebutkan  dalam  "teori   dua sumber" yang tersebut di atas.
 
Di antara 4 macam dokumen tersebut tak ada yang menjadi teks  definitif  yang  sekarang  kita  miliki,   antara dokumen-dokumen   tersebut  dan  redaksi  terakhir  ada redaksi-redaksi antara, yaitu  yang  oleh  pengarangnya teori  tersebut  dinamakan:  Matius intermedier, Markus intermedier,   Proto    Lukas    dan    Proto    Yahya. Dokumen-dokumen   antara   (intermedier)   itulah  yang akhirnya  menjadi  Injil  empat,  baik  dengan  memberi inspirasi  kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dan satu Injil-Injil. Di bawah ini adalah  gambar  yang menunjukkan silang-silang kompleks. ' 
 
Hasil  daripada  penyelidikan seperti ini adalah sangat penting, karena dapat menunjukkan bahwa teks-teks Injil yang  mempunyai  sejarah  (hal  ini akan kita bicarakan kemudian) juga mempunyai pra-sejarah,  menurut  istilah Boismard,   artinya   bahwa  teks-teks  tersebut  telah mengalami  perubahan-perubahan   selama   dalam   tahap intermedier,  sebelum  mempunyai bentuk yang definitif.
Dengan  begitu,  sekarang  menjadi   terang   soal-soal seperti:  riwayat  ajaib  tentang Yesus menangkap ikan. Riwayat tersebut dilukiskan oleh Lukas sebagai kejadian yang  terjadi  waktu  Yesus  masih hidup dan dilukiskan oleh  Yahya  sebagai  hikayat  Yesus  menampakkan  diri sesudah dibangkitkan sesudah mati
 
                    R.P. BOISMARD
                 Ringkasan empat Injil
                      SKEMA UMUM
 
       Dokumen Q ->|
                   |-> Matius inter
       Dokumen A ->|
 
       Dokumen A ->|
                   |
       Dokumen B ->|-> Markus inter
                   |
       Dokumen C ->|
 
 
       Dokumen B ->|
                   |
       Dokumen C ->|
                   |-> Proto Lukas ->|
       Dokumen Q ->|                 |-> Lukas final
                   |  Markus inter ->|
    Matius inter ->|
 
 
    Proto Lukas  ->|
                   |
    Markus inter ->|-> Markus final
                   |
    Matius inter ->|
 
 
    Matius inter ->|
                   |-> Matius final ->|
    Markus inter ->|                  |
                                      |
                                      |-> Yahya final
       Dokumen B ->|                  |
                   |                  |
       Dokumen C ->|----> Yahya ----->|
                   |
     Proto Lukas ->|
 
Keterangan:
a, b, c, q = dokumen-dokumen dasar;
Mat. inter. = Matius intermedier
Mark. inter. = Markus intermedier
Proto Lukas = Lukas intermedier
Yahya = Yahya intermedier
Mat. final = redaksi final Matius
Mark. final = redaksi final Markus
Lukas final = redaksi final Lukas
Yahya final = redaksi final Yahya
 
Konklusi dari semua ini  adalah  bahwa  dengan  membaca Injil,  kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca kata-kata  Yesus.  R.P.  Benoit  memperingatkan  pembaca Injil   tentang   hal   ini,   tetapi   memberi   ganti (kompensasi) sebagai  berikut:  Jika  pembaca  terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus, ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada juru  bahasa  yang  disahkan  oleh  Yesus, yang setelah pernah bicara di  dunia  ini  sekarang  berbicara  dari langit.
 
Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa beberapa   teks   Injil    tidak    autentik,    dengan kalimat-kalimat  Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi yang  meyakinkan   kepada   kita   tentang   terjadinya transmisi  (periwayatan)  yang jujur daripada kata-kata Yesus: "Injil  empat  yang  diakui  oleh  Gereja  tanpa ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh  Yesus, putra  Tuhan  bagi  keselamatan  abadi, yaitu selama ia  hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit."
 
Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil  penyelidikan Sekolah   Bibel  di  Yerusalem  telah  membantah  keras deklarasi Konsili Vatikan II.
 
SEJARAH TEKS
 
Adalah salah jika kita mengira bahwa  setelah  disusun, Injil   itu  merupakan  Kitab  Suci  pokok  bagi  agama Kristen, sehingga orang  membaca  dan  mempergunakannya sebagai orang Yahudi membaca dan menggunakan Perjanjian Lama. Pada waktu  itu  yang  menjadi  autoritas  adalah tradisi  lisan  yang  membawakan  kata-kata  Yesus  dan ajaran sahabat-sahabatnya. Tulisan pertama yang beredar dan  bernilai  sebelum Injil adalah surat-surat Paulus; bukankah surat-surat itu telah ditulis  beberapa  puluh tahun sebelum Injil?
 
Kita sudah membicarakan bahwa sebelum tahun 140 tak ada bukti bahwa orang  mempunyai  kumpulan  tulisan-tulisan Bibel,   walaupun  beberapa  orang  ahli  tafsir  Injil menulis  yang  sebaliknya  daripada  itu.  Kita   harus menunggu   sampai   tahun   170   untuk  melihat  Injil memperoleh kedudukan literatur Kanon.
 
Pada  tahun-tahun  pertama  setelah   munculnya   agama Kristen,  beredarlah  berrnacam-macam  tulisan mengenai Yesus. Tulisan-tulisan itu tidak dianggap autentik  dan Gereja   memerintahkan   supaya   tulisan-tulisan   itu disembunyikan.  Inilah  asal  timbulnya  kata:  apokrif (Injil    yang    disembunyikan).    Dari   pada   teks tulisan-tulisan tersebut ada sebagian yang  terpelihara baik  karena  mendapat  penghargaan umum, seperti surat atau  ajaran  Barnabas,  tetapi  banyak  lainnya   yang dijauhkan  secara  brutal  sehingga  yang  ada sekarang hanya sisa-sisanya dalam bentuk fragmen. Begitulah yang dikatakan  oleh  Terjemahan  Ekumenik.  Karena dianggap sebagai  penyebab   kesesatan,   maka   tulisan-tulisan tersebut  dianggap tidak ada. Walaupun begitu, karangan seperti Injil orang-orang Nazaret, Injil orang  Ibrani, Injil  orang  Mesir yang diketahui oleh pendeta-pendeta gereja, mempunyai kedudukan  yang  hampir  sama  dengan Injil Kanon. Begitu juga Injil Tomas dan Injil Barnaba.
 
Diantara  tulisan-tulisan  apokrif  (yang diperintahkan Gereja  supaya  disembunyikan)   banyak   yang   memuat perinci-perinci  yang  bersifat  khayalan,  yaitu  yang dihasilkan oleh imaginasi orang awam.
 
Banyak  pengarang-pengarang  tentang   Injil   aprokrif menyebutkan  dengan  rasa  puas  paragraf-paragraf yang menertawakan. Akan tetapi  pengarang-pengarang  semacam itu  sesungguhnya  dapat  ditemukan  dalam semua Injil. Kita masih ingat  gambaran  kejadian-kejadian  khayalan yang  oleh  Matius  dikatakan  telah terjadi pada waktu matinya Yesus. Orang dapat menemukan  paragraf-paragraf yang  tidak  serius dalam tulisan-tulisan puluhan tahun pertama daripada agama Kristen;  tapi  perlu  kejujuran untuk mengenal tulisan-tulisan itu.
 
Terlalu   banyaknya   tulisan-tulisan   mengenai  Yesus mendorong Gereja  yang  sedang  dalam  pengorganisasian untuk   melenyapkannya.  Mungkin  seratus  Injil  telah dimusnahkan. Hanya empat Injil tetap  dipelihara  untuk dimasukkan   dalam   daftar  resmi  naskah-naskah  yang kemudian dinamakan "Kanon."
 
Pada   pertengahan   abad    II,    Marcion    mendesak pembesar-pembesar   agama  untuk  mengambil  sikap.  Ia adalah musuh yang  sangat  benci  terhadap  orang-orang Yahudi.   Ia   menolak  seluruh  Perjanjian  Lama,  dan tulisan-tulisan yang muncul  sesudah  Yesus  tidak  ada lagi,  yang  nampak  dekat  atau  berasal  dari tradisi Yahudi Kristen. Marcion hanya mengakui  tulisan-tulisan Paulus  dan  Injil  Lukas, oleh karena ia mengira bahwa Lukas adalah juru bicara Paulus. 
 
Gereja memaklumkan bahwa Marcion adalah  orang  murtad, dan  memasukkan  dalam Kanon segala surat-surat Paulus, serta  Injil  Matius,  Markus,  Lukas  dan  Yahya,  dan menambahnya   dengan   beberapa  tulisan  lagi  seperti Perbuatan Para  Rasul.  Meskipun  begitu  daftar  resmi selalu  berubah  menurut waktu selama abad-abad pertama Masehi. Tulisan-tulisan yang  kemudian  dianggap  tidak berharga (apokrif) termasuk dalam Kanon untuk sementara waktu, dan tulisan-tulisan yang  termasuk  dalam  Kanon yang  sekarang  (Perjanjian Baru), pada waktu itu tidak termasuk  di  dalamnya.  Rasa  keragu-raguan  menguasai tulisan-tulisan  tersebut  berlangsung  sampai  Konsili  Hippione pada tahun 393 dan Konsili Carthage tahun 397. 
Tetapi  Injil  empat  selalu  termuat  di  dalam  Kanon Kristen  bersama.  R.P.  Boismard  menyesalkan   sekali hilangnya  literatur  yang  banyak  itu yang diputuskan oleh Gereja  sebagai  apokrif,  oleh  karena  literatur tersebut  mempunyai  nilai sejarah yang besar, Boismard sendiri dalam bukunya Ringkasan  empat  Injil'  menilai tulisan-tulisan  yang hilang itu sama pentingnya dengan Injil yang empat yang resmi. Buku-buku  tersebut  masih ada  dalam perpustakaan-perpustakaan pada akhir abad IV M.
 
Abad IV adalah waktu pemberesan yang serius.  Manuskrip Injil  yang  komplit  dan yang tertua ditulis pada abad itu. Dokumen-dokumen sebelum itu, papirus-papirus  abad III, satu papirus yang mungkin berasal daripada abad II hanya mengandung  fragmen-fragmen.  Dua  manuskrip  tua dari  kulit  adalah  manuskrip Yunani dari abad IV. Dua manuskrip tersebut adalah: Codex  Vatikanus  yang  kita tak tahu tempat penggaliannya, disimpan di Perpustakaan Vatikan dan  yang  satu  lagi,  Codex  Sinaitikus  yang terdapat  di  gunung Sinai sekarang disimpan di British Museum di London. Manuskrip ini mengandung dua  tulisan apokrif.
 
Menurut  Terjemahan  Ekumenik  di  Dunia  ini  ada  250 manuskrip kulit, yang paling akhir adalah dari abad XI. Tetapi  semua  copy  Perjanjian Baru yang sampai kepada kita  adalah  tidak   sama,   ada   perbedaan-perbedaan penting,    dan   perbedaan   itu   banyak   jumlahnya. Perbedaan-perbedaan  itu  ada   yang   hanya   mengenai perincian  gramatika,  kalimat,  atau urut-urutan kata, tetapi ada juga perbedaan  yang  merubah  arti  seluruh paragraf.  Jika  kita  ingin mengetahui perbedaan teks, kita dapat membaca Novum Testamentum Graece (Perjanjian Baru   Yunani).   Buku   tersebut  memuat  teks  Yunani "tengah-tengah"    yakni    teks    sintese,     dengan catatan-catatan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam versi yang bermacam-macam.
 
Keaslian (autentitas)  sesuatu  teks  manuskrip  selalu dapat diperdebatkan, Codex Vatikanus dapat kita jadikan contoh. Penerbitan Vatikan  pada  tahun  1965  dibubuhi suatu  peringatan  asli  yang mengatakan "beberapa abad sesudah  copy  asli  (lebih-kurang  abad  X  atau  XI), seorang   tukang   naskah   telah   mengulangi  tulisan manuskrip tersebut  dengan  tinta  kecuali  huruf-huruf yang   dikira   salah."   Ada   bagian-bagian  daripada manuskrip tersebut di mana  terdapat  huruf-huruf  asli dengan wama coklat masih tetap kelihatan, dan merupakan kontras dengan teks yang lain yang ditulis dengan warna coklat  tua.  Kita tak dapat mengatakan bahwa perbaikan naskah itu dilakukan secara jujur. Peringatan  tersebut di  atas  juga mengatakan: Belum dapat dibedakan secara definitif  tangan-tangan  yang  banyak  jumlahnya  yang mengkoreksi   atau   menambah   manuskrip  asli  selama berabad-abad; memang ada  koreksi  yang  dibuat  ketika teks  tersebut  diperbarui (dengan tinta baru). Padahal dalam semua teks, manuskrip-manuskrip selalu  dikatakan sebagai  copy  abad  IV. Kita harus membandingkan suatu teks  dengan  teks  yang  disimpan  di  Vatican  untuk mengetahui  apakah  ada tangan-tangan yang merubah teks tersebut beberapa abad kemudian.
 
Orang dapat membantah dan  mengatakan  bahwa  teks-teks lain  juga  dapat  dipakai  untuk  perbandingan, tetapi bagaimana  memilih  perbedaan-perbedaan  yang   merubah arti?  Kita tahu bahwa sebuah koreksi lama dari seorang tukang naskah dapat  menyebabkan  reproduksi  definitif daripada   teks   yang  telah  dikoreksinya  itu.  Kita mengerti betul bagaimana suatu kata yang terdapat dalam Injil  Yahya,  yaitu  kata Paraklet, telah merubah sama sekali arti paragraf dan membalikkan arti tersebut dari segi teologi.
 
Di   bawah  ini  adalah  tulisan  O.  Culmann  mengenai perbedaan-perbedaan teks yang  ditulis  dalam  bukunya: Perjanjian Baru.
  
"Perbedaan-perbedaan  itu  kadang-kadang terjadi karena kesalahan-kesalahan  yang  tidak  disengaja;  umpamanya tukang  naskah  lupa menulis satu kata, atau sebaliknya menulis kata itu dua kali; atau mungkin  juga  sebagian kalimat  (phrase)  tak  tertulis oleh karena bagian itu terletak dalam manuskrip si tukang naskah,  antara  dua kata   yang  sama.  Kadang-kadang  perbedaan  teks  itu disebabkan oleh karena koreksi-koreksi  yang  dilakukan dengan  sengaja;  atau  tukang naskah memberanikan diri untuk mengkoreksi teks menurut pikirannya pribadi, atau si tukang naskah ingin menyesuaikan teksnya dengan teks lain,    untuk    menghilangkan    perbedaan.    Ketika tulisan-tulisan  yang  terkumpul  dalam Perjanjian Baru diputuskan  untuk  dipisahkan  dan  literatur   Kristen primitif  (terdahulu)  dan dianggap sebagai Kitab Suci, maka para ahli naskah tidak berani lagi untuk melakukan koreksi   terhadap  pekerjaan-pekerjaan  tukang  naskah sebelum mereka; mereka  mengira  bahwa  mereka  membuat copy  dari  teks  asli  dan  dengan begitu mereka sudah mengokohkan perbedaan-perbedaan yang ada. Kadang-kadang tukang  naskah menulis catatan di pinggir halaman untuk menerangkan suatu kalimat  yang  tidak  terang.  Tukang naskah  yang datang kemudian mengira bahwa kalimat yang tertulis di pinggir halaman itu merupakan kalimat  yang tadinya  telah  dilupakan  oleh  seorang  tukang naskah sebelumnya,  dan  ia  merasa  perlu  untuk   memasukkan catatan   pinggiran  tersebut  ke  dalam  teks.  Dengan begitu, dapat terjadi pula bahwa  teks  yang  baru  itu menjadi lebih kabur.
 
Tukang-tukang naskah beberapa manuskrip bersikap sangat leluasa terhadap teks. Ini adalah kasus  tukang  naskah suatu  manuskrip  yang  sangat  terhormat  setelah  dua manuskrip  tersebut  di  atas,   yaitu:   Codex   Bezae Cantabrigiensis  dari  abad VI. Tukang naskah menemukan perbedaan antara silsilah keturunan Yesus  dalam  Injil Lukas  dan  dalam  Injil Matius; kemudian ia memasukkan silsilah  Matius  ke  dalam  naskah  Injil  Lukas  yang dimiliki;  tetapi  karena yang dalam Injil Lukas memuat lebih sedikit nama-nama orang dalam silsilah,  maka  ia beri  tambahan-tambahan (tetapi tak berhasil mengadakan penyesuaian).
 
Apakah terjemahan Latin seperti  Vulgate  karya  Yerome (abad  IV)  dan  terjemahan-terjemahan  yang lebih kuno (Vetus Itala),  terjemahan  bahasa  Syriaq  dan  bahasa Kibti  (Mesir  kuno),  semua  itu  lebih jujur daripada manuskrip   Yunani?   Terjemahan-terjemahan    tersebut mungkin  dibikin  menurut  manuskrip  yang  lebih  kuno tetapi yang sudah hilang. Kita tidak tahu.
 
Orang telah  berhasil  mengelompokkan  teks-teks  Injil dalam  beberapa  kelompok  yang masing-masing mempunyai ciri-ciri umum. O. Culmann membagi sebagai berikut:
 
1). Teks Syria yang mungkin menjadi dasar manuskrip-manuskrip Yunani yang sangat kuno. Teks ini tersiar di Eropah pada abad XVI, sudah berupa cetakan.
    Teks ini adalah teks yang terburuk menurut pendapat  para ahli.
 
2). Teks Barat, dengan versi Latin yang kuno dan dengan Codex Bezae Cantabrigiensis Yunani dan Latin. Menurut Terjemahan Ekumenik teks tersebut mempunyai ciri-ciri suka kepada penafsiran, kepada hal-hal yang kurang tepat kepada ulangan kata-kata (paraphrase) dan kepada penyesuaian (harmonisasi).
 
3). Teks netral yang juga meliputi Codex Vatikanus dan Codex Sinaitikus, teks ini dipandang jauh lebih murni.
 
    Cetakan-cetakan modern daripada Perjanjian Baru mengikutinya, meskipun sesungguhnya teks ini juga mengandung banyak cacad (Terjemahan Ekumenik).
 
"Kritik teks paling jauh  hanya  memberikan  kesempatan kepada  kita  untuk mencoba menyusun kembali suatu teks yang mendekati teks asli. Akan tetapi sudah terang  tak ada  jalan  untuk  sampai  kepada  teks asli tersebut." (Terjemahan Ekumenik)



 
IV. INJIL-INJIL DAN SAINS MODERN
 
SILSILAH KETURUNAN YESUS
 
Injil-Injil    hanya    mengandung    sedikit    sekali kalimat-kalimat  yang  dapat  menimbulkan  pertentangan dengan hasil-hasil Sains modern. Banyak  hikayat  dalam Injil   yang   menggambarkan  mukjizat  tidak  mendapat penafsiran  ilmiah.  Mukjizat-mukjizat  itu  ada   yang berhubungan  dengan  orang  seperti  penyembuhan  orang sakit (gila, buta, lumpuh, lepra, menghidupkan  Lazarus yang  sudah  mati), dan ada pula yang mengenai fenomena material, di pinggir batas hukum alam  (Yesus  berjalan di  atas air, Yesus mengganti air jadi anggur). Hal-hal tersebut mungkin hanya merupakan  fenomena  yang  wajar tetapi dengan aspek yang luar biasa oleh karena terjadi dalam waktu yang sangat  singkat  seperti  angin  topan yang   berhenti   seketika,   pohon  tien  yang  kering mendadak,  atau  seperti  mencari  ikan  secara  ajaib, seakan-akan  seluruh  ikan  yang  ada  dalam  danau itu berkumpul di tempat di mana jala dilempar.
 
Dalam kejadian-kejadian tersebut, Tuhan  campur  tangan dengan  kekuasaanNya.  Kita  tidak usah keheran-heranan bahwa Tuhan itu dapat  berbuat  hal  yang  mengherankan bagi  manusia,  tetapi  bagi Tuhan merupakan hal biasa.
Ini tidak berarti  bahwa  seorang  yang  percaya  tidak memerlukan  berhubungan  dengan  Sains.  Percaya kepada mukjizat  dan  percaya  kepada   Sains   adalah   tidak bertentangan.  Yang pertama adalah tahap ketuhanan yang kedua adalah tahap kemanusiaan.
  
Secara pribadi saya dengan senang  hati  dapat  percaya bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit lepra, tetapi saya tidak dapat menerima suatu teks yang dikatakan autentik dan diwahyukan Tuhan sedangkan dalam teks tersebut saya dapatkan  bahwa  antara  manusia  pertama  dengan  Nabi Ibrahim  hanya  berselisih  waktu  20 generasi, seperti yang dikatakan Injil Lukas (3, 23-28). Kita akan  lihat sebentar  lagi  sebab-sebab yang membuktikan bahwa teks Lukas, seperti juga teks Perjanjian  Lama  tentang  hal yang sama, telah disusun menurut imajinasi manusia.
 
Injil  (seperti Al Qur-an) memberikan kita riwayat yang sama mengenai  asal-usul  biologis  Yesus.  Membesarnya Yesus  dalam  kandungan ibunya di luar hukum-hukum alam yang umum bagi seluruh manusia. Biji telor dari  ibunya tidak  memerlukan  bertemu  dengan  spermatozoid  bapak untuk membentuk  suatu  embryo  yang  kemudian  menjadi bayi.   Fenomena  yang  berakhir  dengan  dilahirkannya seorang yang normal, tidak dengan  campuran  dan  unsur lelaki,  dinamakan  parthenogenese. Dalam alam binatang parthenogenese  dapat  terjadi   dengan   syarat-syarat tertentu.   Seperti  halnya  serangga,  beberapa  hewan invertebrata,   dan   secara   sangat   jarang,   dalam jenis-jenis  burung  tertentu.  Di antara binatang yang menyusui,  orang  dapat  mengadakan  percobaan   dengan kelinci  yang  memperoleh perkembangan biji telor tanpa campur tangan  spermatozoid  dan  menjadi  embryo  yang sederhana  tetapi  orang  tidak dapat menemukan kelinci yang  menunjukkan   parthenogenese   sempurna,   secara eksperimental   atau   secara   natural.  Tetapi  Yesus merupakan kasus parthenogenese. Ibunya  adalah  perawan dan  tetap  perawan  serta  tidak mempunyai anak selain Yesus: Yesus adalah kekecualian biologik.18
 
Silsilah keturunan Yesus
 
Dua silsilah keturunan yang terdapat dalam Injil Matius dan   Injil   Lukas   menimbulkan   persoalan   tentang kebenaran, persesuaian dengan  hasil-hasil  ilmiah  dan juga persoalan "autentik atau tidak." Problema-problema ini sangat menyulitkan ahli-ahli  tafsir  Kristen  oleh karena  mereka  menolak  untuk melihatnya sebagai hasil imajinasi  manusia;   Imajinasi   manusia   ini   telah memberikan  inspirasi  kepada  para pengarang-pengarang Sakerdotal (pendeta-pendeta) daripada Kitab Kejadian di abad  VI  S.M. untuk silsilah keturunan manusia-manusia pertama. Imajinasi manusia  itu  pulalah  yang  memberi inspirasi  kepada  Matius  dan Lukas dalam hal-hal yang kedua  pengarang  Injil  itu   tidak   mengambil   dari Perjanjian Lama.
 
Yang   perlu  kita  perhatikan  adalah  bahwa  silsilah keturunan laki-laki tidak ada artinya sama sekali  bagi Yesus.  Jika  orang ingin memberikan silsilah keturunan kepada Yesus, anak tunggal daripada Maryam, tanpa bapa, maka  silsilah  keturunan  itu harus silsilah keturunan Maryam,  ibunya.  Di  bawah  ini  adalah  teks  menurut Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, Perjanjian Baru.
 
Silsilah   keturunan   menurut   Matius  terdapat  pada permulaan Injilnya.
 
KITAB ASAL-USUL YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK IBRAHIM
 
Ibrahim mempunyai anak Ishak
Ishak mempunyai anak Yakub
Yakub mempunyai anak Yuda dan saudara-saudaranya
Yuda mempunyai anak Phares dan Zara daripada Thamar
Phares mempunyai anak Esrom
Esrom mempunyai anak Aram
Aram mempunyai anak Aminabad
Aminabad mempunyai anak Naasson
Naasson mempunyai anak Salmon
Salmon mempunyai anak Booz daripada Rahad
Booz mempunyai anak Yobed daripada Ruth
Yobed mempunyai anak Yesse
Yesse mempunyai anak Nabi Daud
Daud mempunyai anak Suleman (dari istri Urie)
Suleman mempunyai anak Roboam
Roboam mempunyai anak Abia
Abia mempunyai anak Asa
Asa mempunyai anak Yosaphat
Yosaphat mempunyai anak Yoram
Yoram mempunyai anak Ozias
Ozias mempunyai anak Yoathan
Yoathan mempunyai anak Achaz
Achaz mempunyai anak Ezechias
Ezechias mempunyai anak Manasse
Manasse mempunyai anak Amon
Amon mempunyai anak Yosias
Yosias mempunyai anak Yechonias dan saudara-saudaranya
 
Kemudian terjadi pengasingan di Babylon.
Sesudah Pengasingan:
 
Yechonias mempunyai anak Salathiel
Salathiel mempunyai anak Zorobabel
Zorobabel mempunyai anak Abioud
Abioud mempunyai anak Eliakim
Eliakim mempunyai anak Azor
Azor mempunyai anak Sadok
Sadok mempunyai anak Akhim
Akhim mempunyai anak Elioud
Elioud mempunyai anak Eleazar
Eleazar mempunyai anak Mathan
Mathan mempunyai anak Yacob
Yacob mempunyai anak Yusuf, suami Maryam,
  yang melahirkan Isa yang dinamakan Al Masih.
 
Jumlah generasi adalah 14 dari Ibrahim ke Daud, 14 dari
Daud hingga pengasingan di Babylon, 14 dari pengasingan
sampai Isa Al Masih.
 
Lukas (3, 23-38)  memberikan  silsilah  keturunan  yang
berlainan  dari silsilah Matius. Kita kutipkan di bawah
ini dari Terjemahan Ekumenik.
 
"Yesus pada permulaannya berumur kira-kira 30 tahun. Ia
adalah anak Yoseph, anak Heli anak Matthat, anak Levis,
anak  Melechi,   anak   Iannai,   anak   Yoseph,   anak
Matthatias,  anak  Amos,  anak  Naaum, anak Hesti, anak
Naggai, anak Maath, anak Mattathias, anak Semein,  anak
Yosech,   anak   Ioda,  anak  Ionam,  anak  Resa,  anak
Zorobabel, anak Salathiel, anak Neri, anak Melchi, anak
Addi,  anak  Kosam,  anak Elmadam, anak Er, anak Yesus,
anak Elieser, anak Yorim, anak Matthat, anak Levi, anak
Symeon,  anak  Yuda,  anak  Yoseph,  anak  Ionam,  anak
Eliakim, anak Melea, anak Menna,  anak  Mattalha,  anak
Natham,anak  David,  anak Yesse, anak Iobed, anak Boos,
anak Sola, anak Naasson,  anak  Aminabad,  anak  Admin,
anak  Arni,  anak  Esrom,  anak Phares, anak Yuda, anak
Yacob, anak  Isaac,  anak  Abraham,  anak  Thara,  anak
Nachor,  anak  Serauch,  anak  Ragau, anak Phalek, anak
Eber, anak Sala, anak Kainam, anak Arphaxad, anak  Sem,
anak  Noe,  anak  Lamech,  anak Mathausala, anak Enoch,
anak Iaret, anak Maleleel, anak Kainam, anak Enos, anak
Seth, anak Adam, anak Allah."
 
Silsilah-silsilah   tersebut   alcan  Icelihatan  lebih
terang  jika  kita  gambarkan  dua  daftar  yang   satu
menggambarkan  silsilah  sebelum  David,  dan yang satu
lagi menggambarkan silsilah sesudah David.
 
SILSILAH YESUS SEBELUM DAVID
 
Menurut Matius                   Menurut Lukas
 
                                 1. Adam
                                 2. Seth
                                 3. Enos
                                 4. Kainam
                                 5. Maleleel
                                 6. Zaret
                                 7. Enoch
Matius tidak menyebutkan         8. Mathausala
sesuatu nama sebelum             9. Lamech
Abraham                         10. Nae
                                11. Sem
                                12. Arphaxad
                                13. Kainam
                                14. Sala
                                15. Eber
                                16. Phalek
                                17. Ragau
                                18. Serauch
                                19. Nachor
                                20. Thara
 1. Abraham                     21. Abraham
 2. Isaac                       22. Isaac
 3. Yacob                       23. Yacob
 4. Yuda                        24. Yuda
 5. Phares                      25. Phares
 6. Esrom                       26. Esrom
 7. Aram                        27. Arni
                                28. Admin
 8. Aminabad                    29. Aminabad
 9. Naasson                     30. Naasson
10. Salmon                      31. Sala
11. Booz                        32. Booz
12. Yobed                       33. Yobed
13. Yesse                       34. Yesse
14. David                       35. David
 
         Silsilah Yesus Sesudah David
 
Menurut Matius                   Menurut Lukas
 
14. David                       35. David
15. Salomon                     36. Natham
16. Roboam                      37. Matlatha
17. Abia                        38. Menna
18. Asa                         39. Melea
19. Yosaphat                    40. Eliakim
20. Yoram                       41. Ionam
21. Azias                       42. Yoseph
22. Yoathan                     43. Yoda
23. Achaz                       44. Symeon
24. Ezechias                    45. Levi
25. Manasse                     46. Matthat
26. Amon                        47. Iorim
27. Yosias                      48. Elieser
28. Yechonias                   49. Yesus
                                50. Er
Pengasingan di Babylon          51. Elmadam
                                52. Kosam
29. Salathiel                   53. Addi
30. Zorobabel                   54. Melchi
31. Abioud                      55. Neri
32. Eliakim                     56. Salathiel
33. Azor                        57. Zorobabel
34. Sadok                       58. Resa
35. Akhim                       59. Ionan
36. Eliaud                      60. Ioda
37. Eleazar                     61. Iosech
38. Mathan                      62. Semein
39. Yacob                       63. Malthatheas
40. Yoseph                      64. Maalh
41. Yesus                       65. Naggar
                                66. Hesle
                                67. Naaum
                                68. Amos
                                69. Mattatheas
                                70. Yoseph
                                71. Iannai
                                72. Melchi
                                73. Levi
                                74. Matthat
                                75. Heli
                                76. Yoseph
                                78. Yesus
 
 
Perbedaan-Perbedaan Menurut Manuskrip dan dalam Hubungannya dengan Perjanjian Lama
 Dengan mengenyampingkan perbedaan tulisan (orthographiq), kita sebutkan: 
 
a). Injil Matius
 
Silsilah  keturunan  telah  hilang  dari  Codex   Bezae Cantabrigiensis,  suatu  manuskrip  yang sangat penting dari abad VI dalam dua bahasa, Yunani dan  Latin.  Yang hilang  dan teks Yunani adalah seluruh silsilah, sedang yang hilang  dali  teks  Latin  hanya  sebagian  besar. Tetapi  hal ini mungkin hanya disebabkan oleh hilangnya halaman-halaman pertama.
 
Perlu kita sebutkan kebebasan yang  sangat  besar  yang ditunjukkan   oleh   Matius   dalam  sikapnya  terhadap Perjanjian  Lama  yang  ia  potong  silsilahnya   untuk keperluan  penyajian  dengan  angka (yang pada akhirnya tidak ia lakukan seperti yang akan kita lihat)
 
b). Injil Lukas
 
 1. Sebelum Nabi Ibrahim, Lukas menyebutkan 20 nama.
    Perjanjian Lama hanya menyebutkan 19 (silahkan lihat  tabel keturunan Adam dalam bagian yang khusus untuk   Perjanjian Lama, Lukas menambah sesudah Arphaxad (no.   12) nama Kainam (no. 13) yang tak tersebut dalam Kitab  Kejadian sebagai anak Arphaxad.
 
 2. Dari Nabi Ibrahim sampai nabi Daud kita dapatkan 14-16 nama menurut manuskrip.
  3. Dari Nabi Daud sampai Nabi Isa.
 
Perbedaan yang sangat  penting  adalah  perbedaan  yang terdapat   dalam   Codex   Bezae  Cantabrigiensis  yang menisbatkan suatu silsilah khayalan  kepada  Lukas  dan silsilah  itu  terdiri  dari silsilah Matius yang sudah ditambah oleh orang yang bikin naskah dengan lima nama.
Sayang,  silsilah Injil Matius dalam manuskrip tersebut telah  hilang,  sehingga  kita  tak  dapat   mengadakan perbandingan.
 
 
PENYELIDIKAN KRITIK MENGENAI TEKS
 
Di  sini  kita  berhadapan  dengan  dua  silsilah  yang mempunyai sifat yang sama, yakni mulai dari Ibrahim dan Dawud.  Unttzk  memudahkan  penyelidikan ini, kita akan menjadikan    silsilah    tersebut     menjadi     tiga bagian-bagian:
 
    a. dari Adam sampai Ibrahim
    b. dan Ibrahim sampai Dawud
    c. dari Dawud sampai Yesus.
 
1. PERIODE DARI ADAM SAMPAI IBRAHIM
 
Matius yang memulai silsilahnya dari Ibrahim tidak  ada hubungannya   dengan   periode   ini.   Lukas   memberi keterangan tentang nenek moyang Nabi  Ibrahim  sehingga Adam; 20 nama, diantaranya 19 nama terdapat dalam Kitab Kejadian (fasal 4, 5 dan 11). Dapatkah  kita  gambarkan bahwa  sebelum  nabi  Ibrahim  hanya  ada  19  atau  20 generasi manusia? Soal ini telah kita  selidiki  ketika kita   membahas   Perjanjian   Lama.  Jika  kita  ingin mendasarkan penyelidikan kita  kepada  tabel  keturunan Adam  seperti  yang disebutkan dalam Kitab Kejadian dan menerima angka waktu yang ditunjukkan oleh teks  Bibel, kita  akan  mendapat  kesimpulan bahwa antara munculnya manusia pertama  di  atas  bumi  dengan  lahirnya  Nabi Ibrahim  terdapat  19  abad.  Orang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim  hidup  sekitar  tahun  1850  S.M.  Dengan begitu   maka  petunjuk-petunjuk  yang  terdapat  dalam Perjanjian Lama menerangkan bahwa munculnya manusia  di atas  bumi  terjadi  pada 38 abad sebelum Yesus. Nampak sekali  bahwa  Lukas  memakai  bahan-bahan  ini   untuk Injilnya.  Ia  menyebutkan suatu kekeliruan besar untuk menerangkan mengapa ia  memakai  bahan-bahan  tersebut. Kita  telah membaca argumentasi sejarah yang meyakinkan yang mendorong kepada pikiran ini.
 
Hal-hal yang tersebut dalam Perjanjian lama  tak  dapat diterima  lagi  pada  waktu  ini.  Bahan-bahan tersebut termasuk dalam golongan "Caduc" (lemah) yang dinyatakan oleh  Konsili  Vatikan  II.  Akan tetapi anggapan bahwa para pengarang Injil  memakai  bahan-bahan  yang  tidak sesuai  dengan Sains modern, merupakan suatu keterangan yang sangat berbahaya bagi mereka  yang  mempertahankan faham bahwa teks Injil adalah sesuai dengan sejarah.
 
Para  ahli tafsir merasakan bahaya ini. Mereka berusaha untuk mengelakkan  kesulitan  dengan  mengatakan  bahwa persoalannya  bukan  persoalan  silsilah yang sempurna, bahwa ada  nama-nama  yang  ditinggalkan  oleh  penulis Injil  dengan  sengaja, dan persoalan yang pokok adalah untuk membuktikan dalam garis-garis  besar  atau  dalam unsur-unsurnya yang penting suatu garis yang didasarkan  atas realistis sejarah. Disebutkan oleh A. Tricot dalam bukunya:  Kamus  Kecil  tentang Perjanjian Baru, (Petit Dictionnaire du Noaveau Testament).  Dalam  teks  Injil tak  ada  yang  memungkinkan  penafsiran  semacam  itu, karena teks itu teliti; A punya anak B, B punya anak  C adalah  anaknya  B,  dan  B  adalah anaknya A. Dan lagi mengenai periode sebelum Abraham,  para  penulis  Injil mengambil  bahan dari Perjanjian Lama, di mana silsilah itu diterangkan sebagai berikut:  X  pada  umur  sekian mempunyai  anak  Y,  Y hidup sekian tahun dan mempunyai anak Z. Jadi tak terdapat hal-hal yang putus.
 
Bagian  sebelum  Nabi  Ibrahim  dalam  silsilah   Yesu s menurut   Lukas   tidak   dapat   diterima  atas  dasar pengetahuan modern.
 
2. PERIODE DARI ABRAHAM SAMPAI DAVID
 
Di sini, dua silsilah  itu  cocok  atau  hampir  cocok, kecuali  dalam satu atau dua nama. Kesalahan yang tidak disengaja daripada tukang-tukang naskah dapat dijadikan alasan.
 
Apakah para penulis Injil benar mengenai periode ini?
 
Dawud  dikatakan hidup sekitar tahun 1000 S.M., Ibrahim di sekitar tahun 1800-1850 S.M..
 
Apakah 14-16 generasi dapat hidup selama 8  abad?  Tapi baiklah  kita  katakan  saja bahwa teks Injil, mengenai periode ini,  masih  dalam  batas  hal-hal  yang  dapat diterima
 
3. PERIODE SESUDAH DAVID
 
Sayang,  teks  tidak  mungkin  lagi  membuktikan  bahwa Yoseph itu keturunan David.
 
Kita  tinggalkan  saja  pemalsuan  yang terang daripada  Codex Bezae Cantabrigiensis yang  mengenai  Lukas,  dan marilah  mengadakan  perbandingan  tentang hal-hal yang diriwayatkan oleh dua manuskrip yang sangat  terhormat, yakni Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus.
 
Dalam  silsilah  Lukas,  kita  dapatkan 42 nama sesudah David (no. 35) sampai Yesus (no.  77).  Dalam  silsilah Matius  kita  dapatkan  27  nama sesudah David (no. 14) sehingga Yesus (no.  41).  Dengan  begitu  maka  jumlah nenek  moyang  Yesus  (fiktif)  sesudah David dalam dua manuskrip terhormat tersebut berlainan. Nama-nama dalam silsilah tersebut juga berlainan.
 
Tetapi  ada  lagi  yang  ajaib. Matius mengatakan bahwa silsilah  Yesus  semenjak  Ibrahim  terdiri  dari  tiga kelompok  dan  masing-masing  kelompok  terdiri dari 14 nama. Kelompok  pertama,  dari  Ibrahim  sampai  Dawud. Kelompok  kedua,  dari Dawud sampai pengasingan. Sedang kelompok ketiga, dari  pengasingan  di  Babylon  sampai Yesus. Teks Matius memang memuat 14 nama dalam kelompok pertama dan kedua, akan tetapi  dalam  kelompok  ketiga (dari  pengasingan  di Babylon sampai Yesus) kita hanya mendapatkan 13 nama dan  bukan  14  seperti  yang  kita harapkan,    oleh   karena   tabel   yang   dikemukakan menunjukkan bahwa Salathiel adalah nomer 29  dan  Yesus nomor  41. Tidak ada riwayat yang berbeda dengan Matius yang menyebutkan 14 nama untuk kelompok ketiga.
 
Akhirnya  agar  berhasil  mendapatkan  14  nama   dalam  kelompok kedua, Matius mempergunakan kebebasan terhadap teks Perjanjian Lama. Nama-nama  daripada  6  keturunan David yang pertama (no. 15 sampai 20) sesuai dengan apa yang tersebut dalam Perjanjian Lama. Akan  tetapi  tiga keturunan  Ioram  (no. 20) yang dikatakan dalam bab dua daripada kitab Tawarikh dalam  Bibel  sebagai  Achazia, Yoas  dan Amalsia, telah dihapuskan oleh Matius. Begitu juga, Yechonias (no. 28) disebutkan oleh  Injil  Matius sebagai  anak  Yosias  (no.  27),  padahal  dalam kitab Raja-raja  yang  pertama   daripada   Perjanjian   Lama terdapat nama Eliakim diantara Yosias dan Yechonias.
 
Dengan  ini  telah  terbukti bahwa Matius telah merubah urutan silsilah yang  terdapat  dalam  Perjanjian  Lama untuk   menonjolkan  suatu  kelompok  buat-buatan  yang terdiri  daripada  14  nama,  antara  Nabi  Dawud   dan pengasingan ke Babylon.
 
Sesungguhnya  kita tidak begitu heran mendapatkan bahwa dalam  kelompok  ketiga  yang  disajikan  oleh   Matius terdapat  satu  nama yang kurang, sehingga tak ada teks Injil Matius yang  menyebutkan  42  nama  seperti  yang Matius  umumkan,  hal  ini dapat saja dijelaskan dengan mengatakan  bahwa   seorang   tukang   naskah   membuat kesalahan.  Akan  tetapi  kita sangat heran karena para ahli tafsir Injil bersikap  tutup  mulut  mengenai  hal ini.  W. Trilling, berbeda dari para ahli tafsir Injil, menulis satu baris mengenai hal tersebut dalam bukunya:
Injil  Matius.  "Sesung-.  guhnya  persoalan  ini tidak boleh diabaikan  begitu  saja  oleh  karena  para  ahli tafsir  Injil,  termasuk pengarang-pengarang Terjemahan Ekumenik  dan  Kardinal  Danielou   telah   menunjukkan pentingnya  simbol  3  kali  14 yang telah disebut oleh Matius. Untuk menonjolkan hal tersebut, bukanlah Matius sendiri telah menghilangkan beberapa nama yang tersebut dalam Bibel agar berhasil pembuktiannya  tentang  angka yang keramat itu."
 
Nanti akan kita lihat bahwa para ahli tafsir Injil akan membentuk suatu apologetik (cara mempertahankan  agama) dengan  membenarkan dihapuskannya beberapa nama, tetapi mereka tergelincir mengenai kekurangan-kekurangan  nama sehingga   mereka  tidak  berhasil  mencapai  hal  yang diinginkan oleh Matius, si pengarang Injil.
 
4. TAFSIRAN PARA AHLI TAFSIR MODERN
 
Kardinal Danielou, dalam karangannya Les  Evangiles  de l'enfance  (Injil Masa Kanak-kanak, terbit tahun 1967), setuju dengan daftar angka yang dibuat oleh Matius  dan mengatakan  bahwa  daftar tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena daftar itu  menunjukkan  silsilah asal usul Yesus, yang juga-diterangkan oleh Lukas. Bagi Kardinal  Danielou,  "Lukas  dan  Matius  adalah   ahli sejarah yang telah mengadakan penyelidikan sejarah, dan silsilah keturunan telah dikutip  dari  arsip  keluarga Yesus."  Perlu diterangkan di sini bahwa arsip tersebut tak pernah ditemukan orang.
 
Kardinal   Danielou,   menyerang    orang-orang    yang mengkritik  pendiriannya  dengan kata-kata: "itu adalah mental orang  Barat,  kebodohan  tentang  agama  Yahudi Kristen,  ketidakadanya  perasaan  Semitik,  yang telah menyesatkan  beberapa   ahli   tafsir   dalam   memberi interpretasi    kepada    Injil.   Mereka   itu   telah mempergunakan  kategori  Plato,  Descartes,  Hegel  dan Heidegger.  Memang  ada  suatu yang keruh dalam pikiran mereka." Sudah terang bahwa Plato, Descartes, Hegel dan Heidegger  tidak  ada  hubungannya  dengan sikap kritik terhadap silsilah keturunan yang bersifat khayalan.
 
Pengarang (Kardinal Danielou) menyelidiki arti 3  x  14 yang  disebutkan  Matius, dan membuat hipotesa-hipotesa seperti berikut: "Mungkin  ada  hubungannya  dengan  10 minggu  yang  terkenal dalam hal-hal rahasia dari agama Yahudi, tiga minggu pertama yang mirip  dengan  periode dari  Adam sampai Abraham, harus dihilangkan. Tinggal 7 minggu; enam minggu pertama merupakan  tiga  grup  yang masing-masing  terdiri  dari  14  nama, dan minggu yang terakhir dimulai oleh Kristus yang memulai periode ke 7 daripada  Dunia."  Penjelasan  semacam  itu  tak  perlu diberi komentar.
 
Ahli-ahli   tafsir    "Terjemahan    Ekumenik    Bibel" -Perjanjian  Baru-  memberikan  pembelaan  dengan angka yang tidak kita sangka.
 
Untuk angka 3 x 14 yang dikemukakan oleh Matius: 14, mungkin merupakan jumlah nilai huruf yang membentuk nama  Dawud  dalam  bahasa  Ibrani  D  = 4, V = 6. Jadi jumlahnya 4+6+4 = 14.
 
Bagi Lukas, Terjemahan Ekumenik memberikan 77 nama. Hal ini  memberi peluang untuk mengatakan bahwa angka 7 itu dasar. 7 x 11 = 77. Padahal kita sudah tahu bahwa  bagi Lukas yang main hapus dan tambah, daftar yang memuat 77 nama itu sama sekali buat-buatan.
 
Silsilah Yesus dalam Injil-lnjil merupakan masalah yang menimbulkan permainan kata-kata yang sangat menyolok di antara  para  ahli  tafsir  Kristen,  dan  memang   hal tersebut   adalah  sesuai  dengan  khayalan  Lukas  dan Matius.
 
 
V.  KONTRADIKSI-KONTRADIKSI DAN
    KEKELIRUAN KEKELIRUAN RIWAYAT
 
Tiap-tiap Injil daripada empat  Injil  Perjanjian  Baru membawakan  hikayat-hikayat yang ada hubungannya dengan kejadian. Kejadian-kejadian itu ada  yang  khusus  pada satu  Injil  dan  ada pula yang terdapat dalam beberapa Injil  atau  malahan  terdapat  dalam  keempat   Injil. Kejadian  khusus  yang  tersebut hanya dalam satu Injil menimbulkan problema. Jika kejadian itu sangat penting, kita  akan merasa heran mengapa hanya diriwayatkan oleh satu Injil. Sebagai contoh, kejadian kenaikan Yesus  ke langit  pada  hari  ia dibangkitkan dari kubur. Di lain pihak, ada kejadian-kejadian yang  diriwayatkan  secara berbeda-beda   oleh   dua   atau   tiga   Injil  bahkan kadang-kadang sangat berbcda. Seringkali  umat  Kristen merasa  heran  akan  adanya  kontradiksi,  jika  mereka kebetulan menemukannya, oleh karena mereka berkali-kali diberi     penjelasan     yang     meyakinkan     bahwa pengarang-pengarang  Injil  adalah   saksi-saksi   mata daripada kejadian-kejadian yang mereka riwayatkan.
 
Dalam    fasal-fasal   yang   terdahulu,   kita   telah menyebutkan beberapa kekeliruan  dan  kontradiksi  yang menggelisahkan  itu,  akan tetapi secara istimewa, yang menjadikan  bahan   riwayat   yang   bertentangan   dan berkontradiksi  adalah  kejadian-kejadian yang terakhir dalam  kehidupan  Yesus  dan   yang   terjadi   setelah penyaliban.
 
RIWAYAT-RIWAYAT PENYALIBAN
 
R.P.   Rouguet   mengatakan  bahwa  hari  Paskah  dalam hubungannya dengan  santapan  terakhir  bersama  dengan para  rasul  (sahabat  Yesus)  telah  diriwayatkan oleh injil Yahya berbeda dengan riwayat Injil Sinoptik  yang tiga.  Yahya  mengatakan  bahwa  santapan  terakhir itu sebelum perayaan hari Paskah,  sedangkan  ketiga  Injil lainnya  mengatakan  bahwa  santapan  itu terjadi dalam perayaan  Paskah.  Perbedaan  riwayat  ini  menonjolkan kekeliruan   yang  terang;  hikayat  santapan  terakhir menjadi tak dapat digambarkan karena  kedudukan  Paskah ditentukan   dan   didasarkan  atas  santapan  terakhir tersebut.  Jika  kita  ingat  pentingnya  Paskah  dalam liturgi   Yahudi,  dan  pentingnya  santapan  terakhir, santapan  pamitan   antara   Yesus   dengan   muridnya, bagaimana  kita  dapat  menggambarkan  bahwa peringatan peristiwa  yang  penting  itu  dapat  dihilangkan  dari perayaan  yang  satu  kepada  perayaan  yang lain dalam tradisi yang disebutkan kemudian  oleh  para  pengarang Injil.
 
Secara   umum,  riwayat  penyaliban  diriwayatkan  oleh ketiga Injil Sinoptik secara berbeda  daripada  riwayat Injil  Yahya.  Riwayat santapan Yesus yang terakhir dan riwayat penyaliban dalam Injil Yahya  adalah  dua  kali lebih  panjang  daripada riwayat dalam Injil Markus dan Injil Lukas,  dan  satu  setengah  kali  lebih  panjang daripada  riwayat  Injil  Matius.  Dengan  begitu Yahya meriwayatkan khutbah panjang yang diberikan oleh  Yesus kepada  murid-muridnya  sepanjang 4 fasal (14-17) dalam Injil Yahya. Dalam percakapan yang sangat penting  itu, Yesus  mengatakan  kepada  murid-muridnya bahwa ia akan meninggalkan  tuntunan-tuntunannya  yang  terakhir  dan memberikan   kepada   mereka  wasiat  spiritual.  Dalam Injil-Injil lain tak ada yang menyebutkan hal tersebut. Sebaliknya  Matius,  Lukas dan Markus meriwayatkan do'a Yesus di taman Gethsemani; Yahya tidak membicarakan hal ini.
 
 
DALAM INJIL YAHYA, LEMBAGA EKARISTI TAK DISEBUT-SEBUT
 
Suatu  hal  yang  menarik  perhatian orang yang membaca "Sengsara Tuhan Yesus" dalam Injil Yahya, adalah  bahwa Yahya   tidak   menyebutkan   lembaga  Ekaristi  selama santapan Yesus yang terakhir dengan murid-muridnya.
 
Tiap-tiap orang Kristen  tentu  pernah  melihat  gambar "Kana,"  di  mana  terlihat Yesus duduk ditengah-tengah para   rasul   untuk   kali   yang   terakhir.   Banyak pelukis-pelukis   besar  yang  menggambarkan  pertemuan Yesus yang  terakhir  dengan  seorang  kerabatnya  yang bernama   Yahya;  Yahya  inilah  yang  sering  dianggap sebagai penulis Injil Yahya.
 
Mungkin ini sangat  mengherankan  orang  banyak;  rasul (sahabat)  Yahya tidak dianggap sebagai pengarang Injil Yahya oleh para ahli penyelidik, dan Injil  Yahya  juga tidak  menyebutkan  kelembagaan  Ekaristi. Padahal do'a yang menjelmakan roti  dan  anggur  menjadi  badan  dan darah  Yesus  adalah  suatu do'a yang pokok dalam agama Kristen. Ketiga pengarang Injil lainnya menyebutkan hal ini,  walaupun dengan cara yang berlain-lainan, sebagai yang telah kita sebutkan di  atas.  Yahya  sama  sekali tidak  menyebutkannya.  Keempat  Injil  mempunyai titik persamaan hanya dalam dua  hal:  ramalan  bahwa  Petrus akan  mengingkari  (mengatakan  tidak kenal) Yesus, dan pengkhianatan salah satu sahabat kepadanya (dalam Injil Matius dan Injil Yahya, sahabat tersebut bernama Yuda). Hanya riwayat Yahya menceritakan bahwa  Yesus  membasuh kaki pengikut-pengikutnya sebelum bersantap.
 
Bagaimana  kita  menerangkan  mengapa Injil Yahya tidak menyebutkan  Ekaristi.  Jika   kita   berfikir   secara obyektif,  dengan  anggapan  bahwa riwayat ketiga Injil yang pertama itu  benar,  kita  akan  membuat  hipotesa bahwa   bagian  yang  menceritakan  hikayat  yang  sama daripada Injil Yahya telah  hilang.  Tetapi  para  ahli tafsir Kristen berfikir lebih jauh lagi.
 
Dalam  bukunya  Kamus  Kecil  tentang  Bibel, A. Tricot menulis artikel: "Kana adalah  santapan  terakhir  yang dilakukan  oleh  Yesus  bersama  dengan  12 sahabatnya. Dalam santapan itu Yesus  melembagakan  Ekaristi.  Kita memiliki  hikayatnya  dalam  ketiga Injil Sinoptik. Dan Injil keempat (Yahya) memberi perincian tambahan."
 
Mengenai Ekaristi, pengarang tersebut menulis:
 "Pelembagaan Ekaristi diterangkan secara singkat  d alam tiga   Injil  pertama.  Ekaristi  itu  dalam  kateketik apostolik  (yang   diberikan   oleh   Gereja   Katolik) merupakan  satu  hal  yang  sangat penting. Yahya telah memberi    tarnbahan,    yang     diperlukan     kepada riwayat-riwayat  singkat daripada ketiga Injil pertama, dengan  meriwayatkan   khotbah   Yesus   tentang   roti kehidupan  (Yahya  6,  32-58).  Dengan  begitu  maka A. Tricot  mengatakan  bahwa   Yahya   tidak   menyebutkan pelembagaan  Ekaristi  oleh  Yesus.  Pengarang tersebut berbicara  tentang  "perincian  tambahan"  tetapi  yang dimaksudkan  bukan perincian tambahan lembaga Ekaristi; yang dimaksudkannya adalah upacara membasuh  kaki  para sahabat.  Adapun "roti kehidupan" yang dibicarakan oleh A.  Tricot  adalah  peristiwa  yang  terjadi  di   luar Ekaristi;  tepatnya, adalah hikayat yang diucapkan oleh Yesus mengenai  pemberian  sehari-hari  yang  diberikan oleh  Tuhan  berupa  manna  kepada  Bani  Israil ketika mereka keluar dari Mesir, menuju  ke  sahara  di  bawah pimpinan  Musa.  Peringatan tersebut hanya diriwayatkan oleh Yahya. Dalam paragraf  sesudah  itu,  Yahya  dalam Injilnya   menyebutkan  Ekaristi  yang  dilakukan  oleh Yesus,  sebagai  suatu  penyimpangan   hikayat   karena terdapatnya kata-kata "roti." Akan tetapi penulis Injil yang lain tidak membicarakan hikayat ini.
 
Dengan begitu kita merasa  heran  mengapa  Yahya  tidak membicarakan  hal-hal  yang  dibicarakan oleh pengarang ketiga Injil Sinoptik,  dan  mengapa  ketiga  pengarang Injil   Sinoptik   (Matius   Markus  dan  Lukas)  tidak menyebutkan hal-hal yang disebutkan oleh Yahya.
 
Para  penulis  Terjemahan  Ekumenik   terhadap   Bibel, Perjanjian  Baru,  mengakui  kekurangan  yang besar ini dalam Injil Yahya,  tetapi  mereka  memberi  penjelasan tentang  tidak  disebutkannya  lembaga Ekaristi sebagai berikut: "Secara umum  Yahya  tidak  menaruh  perhatian kepada   tradisi   dan  kelembagaan  Israil  kuno,  dan barangkali inilah yang  membelokkannya  daripada  usaha untuk  menunjukkan  berakarnya  Ekaristi  dalam liturgi perayaan Paskah." Tetapi bagaimana kita  percaya  bahwa kekurangan  perhatian  terhadap  liturgi  paskah Yahudi menyebabkan Yahya tidak membicarakan pelembagaan  suatu perbuatan pokok dalam liturgi agama baru (Nasrani).
 
Persoalan  ini  telah  membingungkan  para ahli tafsir, sehingga para ahli teologi mencoba mencari  benih  atau persamaan  daripada  Ekaristi  dalam  sejarah kehidupan Yesus yang diceritakan oleh Yahya.
 
O. Culmann dalam  bukunya  "Peryanjian  Baru"  menulis: "Mu'jizat  Kana  dan  berlipat gandanya roti mendahului dan menjadi dasar sakramen Kana (Ekaristi)." Kita ingat bahwa  di  Cana,  Yesus  yang  menghadiri  satu walimah perkawinan merubah air menjadi anggur (Yahya 2,  1-12). Adapun  berlipat-gandanya  roti  (Yahya 6, 1-13) adalah untuk memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti yang berlipat  ganda.  Oleh  karena  itu, dalam meriwayatkan kejadian-kejadian  tersebut,  Yahya  tidak   memberikan sesuatu  komentar. Pendekatan antara hikayat ini dengan Ekaristi hanya imajinasi O. Culmann. Kita  tidak  dapat mengerti  hubungan  yang  ia  katakan  dan  kita merasa bingung membaca uraian pengarang, bahwa sembuhnya orang lumpuh  dan  orang  yang  buta  dari kecil "memaklumkan pembaptisan" atau "air dan darah yang keluar dari Yesus setelah  ia mati bersatu dalam satu kejadian" merupakan isyarat kepada pembaptisan atau Ekaristi.
 
Suatu pendekatan  lain  daripada  O.  Culmann  terhadap Ekaristi  disebutkan  oleh  R.P.  Rouguet dalam bukunya "Pengantar kepada Injil" sebagai berikut: "Beberapa ahli  teologi  Bibel  seperti  Oscar  Culmann melihat  dalam  hikayat  pembasuhan  kaki  murid  Yesus sebelum Eucharisti sebagai suatu hal yang  sama  dengan Ekaristi secara simbolis."
 
Orang  merasa  bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ahli tafsir Injil untuk merasa puas  dengan kekurangan  yang menggelisahkan  yang terdapat dalam Injil Yahya, adalah cara-cara yang tidak wajar.
 
 
YESUS YANG DIBANGKITKAN DARI KUBUR MENAMPAKKAN DIRI
 
Suatu  contoh  besar  daripada  khayalan   telah   kita sebutkan   mengenai   Injil  Matius  dengan  hikayatnya tentang fenomena-fenomena aneh yang membarengi kematian Yesus.    Kejadian-kejadian    yang   terjadi   sesudah kebangkitan  Yesus  dari  kubur  memberi  bahan  kepada hikayat-hikayat   yang  berkontradiksi  dan  aneh  yang tersebut dalam empat Injil.
 
R.P. Rouguet dalam  bukunya  "Pengantar  kepada  Injil" halaman  182  memberikan  contoh  tentang  hal-hal yang campur baur, tidak urut dan kontradiksi  yang  terdapat dalam Injil
 
"Daftar  nama  wanita-wanita yang datang ke kubur tidak sama dalam ketiga Injil Sinoptik.  Dalam  Injil  Yahya, hanya   disebutkan   seorang   wanita   bernama   Maria Magdalena. Tetapi ia bicara memakai kata 'kami' seperti ia  mempunyai  teman,  "kami  tidak  tahu dimana mereka menaruhnya  (jenazah  Yesus)."  Dalam   Injil   Matius, malaikat  berkata  kepada para wanita bahwa mereka akan melihat Yesus di Galile. Dan, sekejap mata sesudah  itu Yesus   datang   menemui   mereka  dekat  kubur.  Lukas merasakan  kesulitan,   kemudian   mengatur   sumbernya sedikit.  Malaikat  berkata,  "Kamu  ingat  Yesus telah bicara kepadamu waktu ia masih berada di  Galile."  Dan Lukas  hanya  menyebutkan  bahwa Yesus menampakkan diri hanya tiga kali.  Yahya  mengatakan  antara  penampakan pertama  dan kedua ada perbedaan 8 hari, yaitu di suatu kamar makan di Yerusalem. Penampakan yang  ketiga  kali terjadi  dekat  danau,  jadi  di  Galile.  Matius hanya menyebutkan penampakan sekali, yakni  di  Galile.  R.P. Rouguet  tidak  membicarakan  bagian  terakhir daripada Injil   Markus,   yaitu   bagian    yang    menyebutkan penampakan-penampakan  Yesus,  oleh  karena ahli tafsir Injil tersebut  berpendapat  "tidak  ada  keragu-raguan bahwa  bagian  tersebut tidak ditulis oleh Yahya tetapi oleh tangan lain."
 
Kejadian-kejadian tersebut adalah berkontradiksi dengan hikayat  penampakan-penampakan  Yesus yang dimuat dalam surat pertama Paulus kepada orang-orang  Korintus  (15, 5-7)  yaitu  penampakan  kepada  500  orang  sekaligus, kepada  Jack,  kepada  para  rasul  dan  kepada  Paulus sendiri.
 
Kita  heran  karena  R.P.  Rouguet  dalam buku itu juga mengecam: "Khayalan yang aneh dan kekanak-kanakan dalam Injil-Injil   apokrif   mengenai   kebangkitan  Yesus." Bukankah   kata-kata   tersebut   lebih   cocok    jika dilontarkan  kepada  Matius  dan  Paulus,  yang  sangat kontradiksi dengan  pengarang-pengarang  Injil  iainnya mengenai  penampakan diri Yesus yang sudah-dibangkitkan dan kubur.
 
Selain itu ada lagi kontradiksi antara "Perbuatan  para rasul"  karangan  Lukas  mengenai penampakan diri Yesus kepada Paulus, dan apa  yang  diceritakan  oleh  Paulus sendiri  secara  singkat.  Hal ini telah mendorong R.P. Kannengiesser, untuk menulis dalam bukunya: Foi  en  la Resurrection, Resurrection de la foi, 1974 (Iman Kepada Kebangkitan Yesus, Kebangkitan Iman)  sebagai  berikut: "Paul,  satu-satunya  saksi  mata  tentang  kebangkitan Yesus dari kubur, yang  suaranya  telah  sampai  kepada kita  langsung melalui tulisan-tulisannya, tidak pernah membicarakan tentang pertemuan  pribadi  dengan  Yesus, kecuali tentang tiga isyarat yang terpisah-pisah. Lebih baik ia tidak menyebutkannya."
 
Kontradiksi antara  Paulus,  satu-satunya  saksi  mata, tetapi  yang dicurigai di satu pihak dan Injil-Injil di lain pihak, adalah jelas.  O.  Culmann  dalam  bukunya: "'Perjanjian  Baru"  perhatian  kita kepada kontradiksi antara Lukas dan Matius. Lukas mengatakan  bahwa  Yesus menampakkan   diri  di  Yudea,  Matius  mengatakan  hal itu-terjadi  di  Gilile.  Mengenai  kontradiksi  antara Lukas  dan  Yahya,  kita harus ingat bahwa hikayat yang ditulis oleh Yahya (21, 1-14) mengenai Yesus yang sudah bangkit  dari  kubur  menampakkan diri di pinggir danau Tabaria  kepada  nelayan-nelayan,  dan  kemudian   para nelayan  itu  mendapatkan  ikan  begitu banyak sehingga mereka tak dapat membawanya,  hikayat  tersebut  adalah ulangan  daripada  hikayat  mencari  ikan yang ajaib di tempat yang sama, tetapi waktu Yesus masih  hidup;  dan hikayat itu ditulis oleh Lukas (5, 1-11).
 
Mengenai  penampakan  diri  Yesus,  R.P. Rouguet, dalam bukunya,  meyakinkan  kita,  bahwa   "terputus-putusnya kaitan,  tidak  adanya keseragaman dan tidak teraturnya hikayat-hikayat itu, memberikan kepercayaan  kepadanya. Oleh karena fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa para pengarang Injil tidak bekerja sama; kalau tidak  begitu tentu  mereka dapat menyesuaikan riwayat masing-masing. Pemikiran semacam itu adalah aneh.  Sesungguhnya  semua penulis  Injil  itu  dapat  meriwayatkan  secara  jujur sepenuhnya segala tradisi yang  sudah  dijadikan  roman oleh  masyarakatnya  secara  tidak sadar; mengapa tidak terdorong untuk membuat hipotesa ini sesudah berhadapan dengan  kontradiksi  dan  kekeliruan yang begitu banyak dalam mengkaitkan kejadian-kejadian.
 
 
 
YESUS NAIK KE LANGIT
 
Kontradiksi-kontradiksi berlangsung sampai  berakhirnya hikayat,  oleh  karena  baik  Yahya maupun Matius tidak menyebutkan kenaikan Al Masih ke langit.  Hanya  Markus dan Lukas yang membicarakannya
 
Bagi  Markus  (16,  19)  Yesus  "diangkat ke langit dan duduk di kanan Tuhan." Waktunya pengangkatan itu  dalam hubungannya  dengan kebangkitan tidak diterangkan, akan tetapi perlu kita ingat bahwa akhir Injil  Markus  yang mengandung   kalimat-kalimat   tersebut   menurut  R.P. Rouguet  tidak  autentik,  tetapi  tambahan,   walaupun menurut Gereja kalimat-kalimat tersebut adalah Kanon.
 
Tinggal   Lukas,   satu-satunya  pengarang  Injil  yang menyebutkan hikayat Yesus naik ke langit (94, 51) dalam satu  teks  yang  tidak  diperdebatkan, "Yesus berpisah dari mereka, dan dinaikkan  ke  langit."  Kejadian  itu diletakkan  oleh  Lukas  pada akhir hikayat kebangkitan Yesus dari kubur, dan  penarnpakan  dirinya  kepada  11 sahabatnya. Perinci-perinci hikayat memberi kesan bahwa kenaikan  Yesus  ke  langit  terjadi   pada   hari   ia dibangkitkan dari kubur.
 
Tetapi  dalam  Kisah  Perbuatan  Para Rasul, Lukas yang dikira  sebagai  pengarangnya  melukiskan  (1,   2-3) penampakan  Yesus kepada para sahabat antara penyaliban dan kenaikan ke langit  sebagai  berikut.  "mereka  itu mempunyai   bukti-bukti  bahwa  selama  40  hari  Yesus menampakkan diri kepada  mereka  dan  berbicara  dengan mereka  soal  Kerajaan  Tuhan."  Paragraf  dalam  Kisah Perbuatan Para Rasul adalah dasar untuk menentukan Hari Besar  Kristen,  naiknya  Al  Masih  ke langit, 40 hari sesudah Paskah yang bersamaan dengan  hari  Kebangkitan Yesus.  Jadi  hari  Kenaikan Al Masih ditentukan dengan menentang Injil Lukas. Tak ada  teks  Bibel  lain  yang membenarkan penentuan hari tersebut.
 
Seorang  Kristen akan merasa gelisah jika ia mengetahui keadaan seperti tersebut, oleh karena kontradiksi  yang nyata.  Terjemahan  Ekumenik daripada Bibel, Perjanjian Baru, mengakui fakta-fakta tersebut akan  tetapi  tidak membicarakan  kontradiksi,  malahan  merasa puas dengan mengatakan bahwa 40  hari  sangat  berguna  bagi  Yesus untuk menunaikan tugasnya.
 
Para   ahli   tafsir   yang   ingin   menerangkan  atau menyesuaikan  hal-hal  yang  tak   dapat   disesuaikan, memberikan tafsiran-tafsiran yang aneh.
 
Ringkasan 4 Injil yang diterbitkan pada tahun 1972 oleh Sekolah Bibel di Yerusalem memuat penjelasan yang  lucu (jilid  II halaman 451). Dalam buku tersebut, kata-kata kenaikan (ascension) dikritik:  "Sesungguhnya  tak  ada kenaikan dalam artikata fisik oleh karena Tuhan itu tak ada di atas dan tak  ada  di  bawah."  Kita  tak  dapat menangkap  arti  kritik  ini,  sebab  Lukas  tak  dapat menerangkan hal tersebut dengan cara lain. 
 
Di lain fihak, pengarang  komentar  tersebut  merasakan adanya  "tipuan  bahasa"  dalam  kalimat  "Dalam  Kisah Perbuatan Rasul-rasul, diterangkan  bahwa  kenaikan  Al Masih terjadi 40 hari sesudah dibangkitkan dari kubur." "Tipuan bahasa,"  dimaksudkan  untuk  menekankan  bahwa periode  penampakan  diri Yesus di bumi sudah selesai." 
Tetapi pengarang komentar  tersebut  menambahkan  dalam Injil Lukas "kejadian tersebut terjadi pada hari Minggu malam Paskah, dan oleh  karena  pengarang  Injil  Lukas tidak     menyebutkan     perbedaan     waktu    antara kejadian-kejadian  yang  diriwayatkan,  setelah   kubur diketemukan  kosong,  pagi hari kebangkitan," "bukankah ini juga merupakan tipuan bahasa untuk memberikan waktu luang antara beberapa penampakan Yesus?" 
 
Rasa  kesal  yang  timbul daripada interpretasi seperti ini nampak  jelas  dalam  karangan  R.P.  Rouguet  yang membedakan  dua  macam  kenaikan  ke  langit. "Kenaikan Yesus ke langit, dilihat dari pandangan Yesus,  terjadi pada  waktu yang sama dengan kebangkitannya dari kubur, akan tetapi dilihat dari pandangan para murid-muridnya, hal  tersebut  hanya  terjadi  setelah Yesus tidak lagi menampakkan diri kepada mereka, agar Ruhul Kudus  dapat diutus  kepada  mereka  dan  agar  zaman  Gereja  dapat mulai."
 
Bagi pembaca  yang  kurang  dapat  merasakan  kerumitan pembahasan  teologi  dalam  argumentasi  di  atas, atau tidak punya dasar pengetahuan tentang Bibel,  pengarang menyampaikan  peringatan umum terhadap permainan bahasa yang bersifat apologetik.
 
"Di  sini,  sebagaimana   dalam   kasus-kasus   serupa, persoalan  tidak  akan  dapat  dipecahkan  kecuali jika orang memahami secara harafiah dan material segala yang tersebut    dalam    Injil,   dengan   melupakan   arti keagamaannya. Kita tidak menafsirkan fakta-fakta dengan simbol-simbol yang tidak konsisten, tetapi kita mencari maksud  teologi  daripada  mereka  yang   mengungkapkan rahasia  kepada  kita  dalam  meriwayatkan fakta-fakta, dalam alamat-alamat yang sesuai dengan sifat jiwa  yang condong kepada godaan-godaan badaniyah.
 



 
PERCAKAPAN YESUS YANG TERAKHIR.
PARAKLET YANG TERSEBUT DALAM INJIL YAHYA
 
Yahya  adalah   satu-satunya   pengarang   Injil   yang menyebutkan  riwayat  percakapan  Yesus  yang  terakhir dengan para rasul (sahabat), yaitu pada akhir  santapan Yesus  dan  sebelum  ia  ditangkap oleh tentara Romawi; percakapan tersebut berakhir dengan  pidato  yang  amat panjang.   Empat   fasal   dalam  Injil  Yahya  (14-17) dikhususkan  untuk  pidato  tersebut;   ini   tak   ada bandingannya    dalam    Injil-Injil    lain.   Padahal fasal-fasal  Yahya  tersebut   membicarakan   soal-soal pokok,  perspektif (pandangan terhadap) hari depan yang sangat penting; dan kedua hal tersebut  ditulis  dengan penuh  keagungan  yang  layak bagi peristiwa itu, yaitu peristiwa   perpisahan   terakhir   antara   guru   dan murid-muridnya.
 
Bagaimana   kita   dapat  menerangkan  mengapa  riwayat perpisahan  yang  mengharukan   dan   yang   mengandung pesan-pesan spiritual Yesus, tidak terdapat dalam Injil Matius,  Markus  dan  Lukas?   Kita   dapat   memajukan soal-soal   sebagai   berikut:   Apakah   teks  tentang perpisahan tersebut terdapat dalam  ketiga  Injil  yang pertama   kemudian   teks-teks   tersebut  dihilangkan? Mengapa dihilangkan? Tetapi marilah kita jawab  sendiri sendiri. Tidak ada jawaban terhadap soal-soal tersebut. Rahasia  tetap  tersembunyi  mengenai  kekurangan  yang sangat besar dalam ketiga Injil pertama.
 
Jiwa   daripada   riwayat   khutbah  Yesus  dapat  kita gambarkan dalam  percakapan  tingkat  tinggi  tersebut, yaitu  perspektif  tentang  hari  kemudian  manusia dan minat Yesus menyampaikan ajaran-ajaran dan  perintahnya kepada     seluruh     manusa     dengan    perantaraan murid-muridnya; juga  untuk  memastikan  pemimpin  yang definitif yang harus diikuti oleh manusia setelah Yesus tidak ada lagi.  Teks  Injil  Yahya  (dan  hanya  Injil tersebut)  menunjuknya secara terang dengan nama Yunani Paraklitos; kata itu dalam bahasa Perancis Paraklet. Di bawah  ini  saya  kutip  paragraf-paragraf  yang  pokok menurut Terjemahan Ekumenik daripada  Bibel  Perjanjian Baru.
 
"Jika      kamu      cinta      kepadaku,      ikutilah perintah-perintahku, Aku akan  mohon  kepada  Bapa:  Ia akan  memberi  kamu seorang Paraklet lain" (14, 15-16).
Apakah arti Paraklet? Teks Injil Yahya yang kita miliki menjelaskan arti itu sebagai berikut:
 
"Paraklet,  Ruhul Kudus yang Bapa akan mengutusnya atas namaku, akan menyampaikan segala sesuatu  kepadamu  dan mengingatkan  kamu  tentang  apa yang telah aku katakan kepadamu." (14, 26).
 
"Ia akan menyampaikan sendiri  kesaksiannya  daripadaku (15,  26).  "Adalah  baik bagimu jika aku pergi; karena jika  aku  tidak  pergi,  Paraklet  tidak  akan  datang kepadamu;  tetapi jika aku pergi, aku akan mengirim dia kepadamu. Dan dengan kedatangannya ia akan  menerangkan kepadamu  isi  dunia ini dari hal dosa dan keadilan dan hukuman." (16, 7-8).
 
"Jika Ruh Kebenaran datang, ia akan membawa kamu kepada segala  kebenaran  karena  ia  tidak  akan berkata dari dirinya sendiri, akan tetapi ia akan mengatakan  segala hal yang didengarnya dan mengatakan kepadamu segala hal yang akan datang. Ia akan memuliakan aku." (16, 13-14).
 
(Perlu diterangkan di sini bahwa paragraf-paragraf yang tidak  kita  kutip  dari  fasal  14-17 dari Injil Yahya tidak akan merubah arti umum  daripada  kutipan-kutipan di atas).
 
Jika  orang  membaca  dengan  lekas,  teks Prancis yang mengidentikkan kata Yunani, Paraklet dengan Ruhul Kudus tidak    akan    menarik    perhatiannya.   Lebih-lebih judul-judul kecil  dalam  teks  yang  biasanya  dipakai dalam  terjemahan,  serta  istilah-istilah  ahli tafsir yang dipakai dalam buku-buku untuk orang awam, semuanya mengarahkan pembaca kepada arti paragraf yang diberikan oleh  faham  resmi  Gereja.  Jika  ada  yang  merasakan kesukaran,  maka  keterangan  yang diberikan oleh Kamus Kecil  tentang  Perjanjian  Baru  karangan  A.   Tricot umpamanya akan dapat memberikan penjelasan.
 
Dalam Kamus Kecil itu, di bawah artikel: Paraklet, kita dapatkan keterangan seperti berikut:
 
"Nama atau julukan itu, yang disalin dari bahasa Yunani ke bahasa Perancis, tidak dipakai dalam Perjanjian Baru ecuali oleh Yahya; empat kali  waktu  ia  meriwayatkan khutbah  Yesus  setelah  santapan19 (14, 16 dan 26, 15, 26, 16, 7) dan satu kali dalam surat Yahya yang pertama (2,1).  Dalam Injil Yahya, kata itu dipakai untuk Ruhul Kudus; dalam surat Yahya, kata itu dipakai untuk Yesus.
"Paraklet"  adalah  suatu  istilah  yang banyak dipakai oleh  orang-orang  Yahudi  Yunani  abad   pertama   dan berarti:  .juru  syafa'at, (yang mempertahankan). Yesus mengumumkan: Ruh (esprit) akan dikirim  oleh  Bapa  dan Anak  dan  tugasnya adalah untuk menyempurnakan si Anak dalam tugas penyelamatannya  yang  dilakukannya  selama hidupnya  untuk  murid-muridnya. Ruh akan campur tangan dan bertindak sebagai pengganti Kristus dalam  tugasnya sebagai Paraklet atau juru syafa'at yang kuasa."
 
Komentar   tersebut  menjadikan  Ruhul  Kudus  pemimpin tertinggi bagi manusia sesudah Yesus tidak ada.  Apakah penjelasan A. Tricot tersebut sesuai dengan teks Yahya. Pertanyaan ini harus kita majukan oleh karena, secara a priori,  nampak  mengherankan  jika  kepada Ruhul Kudus kita  nisbatkan  paragraf  terakhir  yang  telah   kita sebutkan  di  atas. "Ia tidak akan berkata dari dirinya sendiri akan tetapi ia akan mengatakan segala hal  yang didengarnya  dan mengatakan kepada kamu segala hal yang akan  datang."  Terasa  tidak  masuk  akal  jika   kita mengatakan  bahwa  Ruhul  Kudus  dapat bicara dan dapat menyampaikan   segala   yang   ia   dengar.   Sepanjang pengetahuan  saya, soal yang mestinya harus ditimbulkan oleh logika, pada umumnya tidak menjadi soal bagi  ahli tafsir Injil.
 
Untuk  mendapatkan  gambaran  yang  pasti mengenai soal ini, kita harus kembali kepada Naskah dasar Yunani yang sangat  penting  untuk menunjukkan apakah Yahya menulis Injilnya dalam bahasa Yunani  dan  bukan  dalam  bahasa
lain.
 
Teks  Yunani  yang  kita baca adalah Novam Testameritum Graece; terbitan Nestle dan Aland tahun 1971.
 
Tiap-tiap kritik  teks  yang  sungguh-sungguh,  dimulai dengan  menyelidiki  perbedaan. Dalam kumpulan-kumpulan manuskrip Injil Yahya yang telah diketahui,  tidak  ada perbedaan  yang  mungkin  merubah arti kalimat-kalimat, kecuali  perbedaan-perbedaan  dalam  paragraf  14,   26 daripada  versi  dalam  bahasa Syriac, yaitu versi yang dinamakan Palimpseste.20 Dalam teks ini tak  disebutkan Ruhul  Kudus;  tetapi hanya Ruh, tanpa tambahan. Apakah tukang naskahnya lupa, atau ia  menghadapi  suatu  teks yang   harus   dicopy,  tetapi  oleh  karena  teks  itu mengatakan  bahwa  Ruhul  Kudus  dapat  mendengar   dan bicara,  maka  ia  tidak berani menulis hal-hal yang ia anggap tidak masuk akal? Selain pengamatan ini, tak ada perbedaan  lain, kecuali perbedaan gramatika yang tidak merubah arti umum; yang  sangat  penting  adalah  bahwa yang  telah  kita  terangkan di sini mengenai arti kata kerja: "mendengar" dan "bicara"  terdapat  dalam  semua manuskrip Injil Yahya, dan itulah yang terjadi.
 
Kata  kerja  "dengar,"  dalam bahasa Yunani akoua, yang artinya merasakan suara. Dan bahasa  Yunani  akoua  ini kita dapatkan kata acoustic yang berarti ilmu suara.
 
Kata  kerja  "bicara"  dalam  bahasa Yunani laleo, yang artinya  mengeluarkan  suara,  khususnya  bicara.  Kata kerja  laleo  ini,  sering  terdapat  dalam  teks Injil Yunani untuk menunjukkan suatu pernyataan yang  penting yang  dikatakan  oleh  Yesus  dalam ceramah-ceramahnya. Jadi  nyata  bahwa  tugas  Yesus  untuk  dakwah  kepada manusia tidak hanya terdiri dari wahyu yang dibawa oleh Ruhul Kudus tetapi tugas dakwah  itu  mempunyai  bentuk material  yang  nyata, yaitu sebagai yang difahami dari arti kata Yunani, yakni mengeluarkan suara.
 
Dua kata kerja Yunani akoua dan laleo adalah  perbuatan yang  konkrit  yang  hanya  dilakukan oleh makhluk yang diberi alat untuk mendengar  dan  bicara.  Memakai  dua kata  kerja  tersebut  untuk  Ruhul  Kudus adalah tidak mungkin.
 
Dengan begitu maka berdasarkan atas  manuskrip  Yunani, teks  paragraf  Injil  Yahya  sama  sekali  tidak dapat dimengerti, jika kita terima secara keseluruhan,  yakni dengan  kata "Ruhul Kudus" dalam paragraf (14, 26) yang berbunyi: "Paraklet, Ruhul Kudus yang akan dikirim oleh Bapa,  atas  namaku"  seterusnya, satu-satunya paragraf dalam Injil Yahya yang mengidentikkan  Paraklet  dengan Ruhul Kudus.
 
Akan tetapi jika kita hilangkan kata-kata Ruh Kudus (to pneuma to agion) dari paragraf ini, seluruh teks  Yahya mempunyai  arti  yang  sangat  jelas. Sesungguhnya teks Yahya tersebut juga sudah dikonkritkan oleh  teks  lain daripada  Yahya  sendiri,  yaitu  teks surat Yahya yang pertama, di mana  Yahya  memakai  kata  Paraklet  untuk menunjuk   Yesus   sebagai  juru  syafa'at  di  hadapan Tuhan.21 Dan jika menurut Injil Yahya  (16,  14;)  "Aku akan  mendo'a  kepada  Bapa,  Ia akan mengirim Paraklet lain," ini berarti bahwa akan dikirim seorang  Paraklet (juru  Syafa'at)  seperti  dia,  selama  berada di atas bumi.
 
Kita mendapat kesimpulan menurut logika bahwa  Paraklet yang  disebutkan  oleh  Yahya  adalah  seorang  manusia seperti  Yesus,   yang   dianugerahi   anggauta   untuk mendengar  dan  bicara  yang  diakui  dalam teks Yunani secara formal.  Jadi,  Yesus  mengumumkan  bahwa  Tuhan kemudian akan mengirim seorang manusia di atas bumi ini untuk memainkan  suatu  peranan  yang  dijelaskan  oleh Yahya,  yaitu dengan ringkas, peranan seorang nabi yang mendengar suara Tuhan dan mengulangi risalahnya  kepada manusia. Ini adalah interpretasi logis dari teks Yahya, jika kita memberi arti yang real kepada kata-kata.
 
Adanya kata Ruhul Kudus dalam  teks  yang  kita  miliki sekarang     mungkin     ada     hubungannya     dengan tambahan-tambahan baru  yang  disengaja  untuk  merubah arti   yang  sesungguhnya  dalam  suatu  paragraf  yang berkontradiksi dengan ajaran Gereja-gereja Kristen yang ingin  mengatakan  bahwa  Yesus  itu  adalah  Nabi yang terakhir,   karena   paragraf   tersebut    mengumumkan kedatangan seorang Nabi sesudah Yesus.
 
 

KESIMPULAN DARI KONTRADIKSI  DALAM PERJANJIAN BARU

VI. KESIMPULAN
 
Hal-hal yang telah kita bicarakan dalam  buku  ini  dan komentar-komentar yang ditulis oleh ahli tafsir Kristen yang besar telah menolak  pernyataan-pernyataan  aliran Ortodoks   yang  bersandar  kepada  keputusan-keputusan Konsili Vatikan  II  bahwa  Injil-Injil  itu  mempunyai sejarah  yang mutlak dan telah menyampaikan kepada kita secara jujur segala yang diperbuat dan  yang  diajarkan oleh Yesus.
 
Argumentasi    yang    diberikan    dalam    buku   ini bermacam-macam.  Pertama,  kutipan-kutipan  Injil  yang menunjukkan  kontradiksi  menonjol.  Orang  tidak dapat percaya akan adanya dua fakta yang bertentangan.  Orang juga    tidak    dapat    menerima    kekeliruan   atau pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan  hal-hal yang  sudah  ditetapkan  oleh  pengetahuan  modern. Dua silsilah keturunan Yesus yang disajikan oleh Injil  dan kontradiksi  yang  ada  di  dalamnya adalah contoh yang menyolok.
  
Banyak orang Kristen yang tidak mengetahui kontradiksi, kekeliruan  atau  ketidak sesuaian dengan Sains modern, dan mereka terkejut sewaktu mereka mengetahuinya,  oleh karena    selama    ini    mereka    terpengaruh   oleh tafsiran-tafsiran yang memberikan penjelasan-penjelasan halus  untuk meyakinkan mereka dengan bantuan permainan bahasa  apologi.  Telah  dikemukakan  beberapa   contoh tentang  kepandaian  ahli  tafsir  untuk menyembunyikan hal-hal yang mereka namakan "kesukaran-kesukaran."
 
Sangat jarang  paragraf-paragraf  Injil  yang  dianggap tidak   autentik   karena  Gereja  telah  meresmikannya sebagai "Kanon."
 
Karya kritik teks modern telah menunjukkan hal-hal yang menurut  R.P. Kannengiesser, merupakan "revolusi metode penafsiran  Injil"  dan  mendorong  kita  untuk   tidak memahami   secara  harafiah  kejadian-kejadian  tentang Yesus yang tersebut dalam Injil," tulisan-tulisan  pada waktu   tertentu   atau  "tulisan-tulisan  perjuangan." Pengetahuan modern yang telah menyoroti  sejarah  agama Yahudi Kristen dan persaingan antara kelompok-kelompok, menerangkan adanya fakta-fakta yang menggelisahkan para pembaca  zaman  sekarang.  Anggapan  bahwa para penulis Injil adalah saksi mata tidak dapat lagi dipertahankan, walaupun    masih    banyak    orang    Kristen    yang mempercayainya. Karya sekolah Bibel di Yerusalem  (R.P. Benoit  dan  R.P.  Boismard)  menunjukkan  dengan jelas bahwa Injil-Injil telah ditulis, diperiksa kembali  dan dikoreksi  beberapa  kali.  Dengan  begitu maka pembaca Injil telah diperingatkan bahwa mereka jangan mengharap mendengarkan suara Yesus secara langsung.
  
Bahwa  Injil-lnjil  itu kitab yang bersejarah tak dapat dibantah,  akan  tetapi   dokumen-dokumen   itu   hanya menunjukkan  kepada  kita, di sela-sela hikayat-hikayat mengenai Yesus, mental para pengarangnya  yang  menjadi juru  bicara  tentang tradisi kelompok-kelompok Kristen Purba dan mereka menjadi anggautanya, serta  perjuangan antara     agama    Yahudi    Kristen    dan    Paulus.  Karangan-karangan Kardinal Danielou merupakan autoritas dalam hal ini.
 
Kita  tak perlu heran karena adanya perubahan-perubahan dalam beberapa kejadian dalam sejarah kehidupan  Yesus, yaitu   perubahan-perubahan   yang   dimaksudkan  untuk mempertahankan pendapat pribadi. Kita tak  perlu  heran terhadap  dihilangkannya  beberapa  kejadian  dan tidak perlu heran terhadap gambaran  beberapa  kejadian  yang penuh dengan khayalan.
 
Kita   terdorong   untuk   membandingkan  Injil  dengan nyanyian kepahlawanan dalam  sastra  abad  pertengahan. Perbandingan   dengan:  Chanson  de  Roland:  (nyanyian Roland) suatu epik yang sangat terkenal, yaitu nyanyian yang  mencentakan  kejadian  yang nyata dicampur dengan khayalan.   Nyanyian   Roland   meriwayatkan   kejadian autentik;  musuh  telah berhasil menjebak pengawal Raja Karl  Agung,  yang  dipimpin  oleh  Roland,  di  lembah Rencevaux. Hikayat Roland yang tidak begitu penting itu  telah terjadi pada  tanggal  15  Agustus  778.  Hikayat tersebut  dibesar-besarkan  sehingga  tergambar sebagai perang yang besar dan sebagai perang  suci.  Hikayatnya adalah   khayalan,  tetapi  khayalan  itu  tidak  dapat menghilangkan realitas daripada  perjuangan  Raja  Karl Agung  untuk menjaga tapal batas Kerajaan Perancis dari bahaya infiltrasi bangsa-bangsa  tetangga;  di  situlah hal  yang  autentik  yang tak dapat dihapus oleh bentuk syair kepahlawanan.
 
Keadaan yang sama berlaku bagi Injil: khayalan  Matius, kontradiksi   yang   menonjol  di  antara  Injil-Injil, kekeliruan, ketidaksesuaian  dengan  hasil-hasil  Sains modern,  perubahan-perubahan  teks  yang terus menerus, menyebabkan  Injil-Injil  itu  memuat  fasal-fasal  dan paragraf-paragraf  yang  hanya  sesuai dengan imajinasi manusia. Tetapi cacad-cacad ini tidak dapat  menjadikan kita    ragu-ragu    terhadap   adanya   missi   Yesus; keragu-raguan hanya mengenai jalannya missi tersebut.
 



CATATAN KAKI:
  1 Yang dimaksud dengan Torah ialah kitab-kitab lima     yang pertama dalam Bibel yaitu: Kitab Kejadian, Kitab    Keluaran, Kitab Imamat orang Levi, Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan.
  2 Teks Yahwist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan  dinamakan Yahweh. Teks Elohist yakni teks yang di  dalamnya, Tuhan dinamakan Elohim. Teks Sakerdotal yakni  teks yang berasal dari pendeta-pendeta di temple Yerusalem.
  3 Kerajaan Utara dinamakan Negara Israil, terdiri dari 10 suku; berasal dari 10 orang anak Ya'kub. Kerajaan   Selatan dinamakan Negara Yuda, terdiri dari 2 suku,   berasal dari 2 orang anak Ya'kub.
  4 Dalam fasal yang segera akan datang, pembaca dapat  melihat kekeliruan-kekeliruan yang menjadi jelas  setelah dihadapkan dengan bahan-bahan baru dari sains; kekeliruan-kekeliruan tersebut mengenai umur manusia di  bumi, keadaan-keadaan pada waktu Tuhan menciptakan alam; kekeliruan-kekeliruan tersebut adalah disebabkan oleh perubahan-perubahan teks yang dilakukan oleh   manusia.
  5 Yakni pelacur yang bertugas dalam temple.
  6 Teks Inggris berbunyi: "Now the books of the old  testaments, in accordance with the state of mind before the time of salvation established by Christ, reveal to all men the knowledge of God and of man and the ways in  which God, just and merciful, deals with men. These books, though they also contain some things which are incomplete and temporary, nevertheless show us true devine pedagogy." (Saya merasa terjemahan Inggeris kurang teliti; Rasjidi).
  7 Yudas atau Yudas Eskariot adalah seorang sahabat Nabi Isa yang mengkhianatinya dengan melaporkan tempat Nabi Isa berada kepada tentara pendudukan Romawi di     Palestina.
  8 Buku-buku tersebut di atas kemudian diputuskan  sebagai apokrif artinya buku yang harus disembunyikan oleh Gereja yang kemudian menang dengan pimpinan Paulus.
  9 Injil Sinoptik adalah Injil-Injil karangan Markus, Matius dan Lukas. dinamakan Sinoptik karena hampir sama   dalam pandangannya.
 10 Kontradiksi silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius dengan silsilah dalam Injil Lukas akan dibahas dalam satu bab khusus.
 11 Kaum Samaria adalah orang-orang yang mengikuti Hukum  Taurah. Mereka menunggu kedatangan Antara lain Masih   dan setia melakukan upacara-upacara Yahudi, akan tetapi     mereka mendirikan satu temple sebagai saingan terhadap temple di Yerusalem.
 12 Kita bertanya apakah tidak mungkin ada masyarakat  Yahudi Kristen juga di Alexandria. Sesungguhnya O. Culmann juga menyebutkan hipotesa ini.
      13 Suatu film dari Amerika tentang Yesus tetapi merubah sejarah Yesus.
 14 Dalam paragraf lain dalam Injilnya, Matius  menyebutkan hikayat ini juga, akan tetapi tidak menyebutkan waktunya secara tepat (16, 1-4). Begitu  juga Lukas (11, 29-32), Markus sebagaimana kita akan   lihat, menyebutkan Yesus berkata bahwa Ia tidak akan memberi alamat kepada generasi ini (Markus 8, 11-12).
 15 Ekaristi adalah suatu sakramen (upacara) yang  menghidangkan roti dan anggur. Roti itu dianggap  sebagai daging Yesus dan anggur merupakan darahnya. Roti dimakan dan anggur diminum deh umat Katolik.
 16 Paskah: Upacara peringatan keluarnya orang Yahudi dari Mesir dengan menyeberangi lautan di bawah pimpinan Musa.
 17 Sinoptik, adalah Injil Matius, Markus dan Lukas.
 18 Injil-lnjil menyebutkan saudara-saudara daripada Yesus (Matius 13, 46-50), (Markus 6, 1-6) (Yahya 7, 3 dan 2, 12). Kata Yunani yang dipakai adalah Adelphai dan Adelphai memang berarti saudara lelaki atau  perempuan dalam arti biologik. Tentu saja disini telah terjadi terjemahan yang salah daripada kata Semit yang  berarti dekat (familiar), dan tidak lebih. Barangkali yang dimaksudkan disini adalah saudara-saudara sepupu.
 19 Sesungguhnya bukan setelah santapan, tetapi dalam   santapan.
 20 Ditulis pada abad 4 atau 5 dan ditemukan di gunung  Sinai tahun 1812 oleh Agnes S. Lewis. Manuskrip ini  dinamakan Palimpseste oleh karena teks pertama asli telah ditutup oleh teks lain di atasnya, setelah teks  yang menutupi ini dihapus, maka teks pertama terlihat     lagi.
 21 Banyak terjemahan dan tafsir, khususnya yang lama,  menterjemahkan kata Paraklet dengan juru penenang     (comforter). Ini adalah kesalahan besar. Dalam Injil     Indonesia Paraklet diterjemahkan menjadi: Penolong.  (Rasjidi).



·         QUR,AN
    • Qur'an dan Sains Modern; dunia barat biasanya mengabaikan hubungan antara kitab Suci terutama Injil dengan sains modern. Hal yang sama secara apriori dilakukan pula para ahli barat terhadap al-Qur'an. Pengantar mengenai hal ini dapat dibaca pada
    • Bagian 1
III. QUR-AN DAN SAINS MODERN

I. PENGANTAR

               Secara apriori mengasosiasikan Qur-an dengan  Sains,  adalah mengherankan,   apalagi  jika  asosiasi  tersebut  berkenaan dengan  hubungan  harmonis  dan  bukan  perselisihan  antara Qur-an  dan  Sains.  Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan pemikiran-pemikiran  yang  tak  ada  hubungannya seperti  ilmu  pengetahuan, merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada zaman ini? Sesungguhnya sekarang  para ahli   Sains   yang  kebanyakannya  terpengaruh  oleh  teori materialis, menunjukkan sikap acuh  tak  acuh  bahkan  sifat rnerendahkan   terhadap   soal-soal   agama,  karena  mereka memandangnya  sebagai  hal  yang  didasarkan  atas  legenda. Selain  daripada itu, di negeri Barat (negeri pengarang, dan
               alangan orang-orang yang terpelajar menurut sistem  Barat), jika seseorang berbicara tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai agama Yahudi dan Kristen tetapi tak ada orang  yang  memasukkan  Islam dalam kata agama itu. Tentang Islam, orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan  karena itu  mereka  juga menunjukkan penilaian yang salah, sehingga sampai hari ini sangat susah bagi mereka  untuk  mendapatkan gambaran  yang  tepat  dan  sesuai  dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
               Sebagai pengantar untuk konfrontasi antara Wahyu  Islam  dan Sains,  adalah  sangat perlu untuk memberikan suatu tinjauan tentang agama yang  sangat  tidak  dikenal  di  negeri  kita (Europa, Perancis).
               Penilaian  yang  salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan   secara   sistematis.   Akan   tetapi  di  antara kekeliruan-kekeliruan yang tersiar,  yang  paling  berbahaya adalah  kekeliruan-kekeliruan  atau  pemalsuan  fakta;  jika kekeliruan penilaian dapat dimaafkan, maka  penyajian  fakta yang  bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan.   Adalah   menyedihkan    jika    kita    membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat  ahli.
               Umpamanya  kita  baca  dalam Encyclopedia Universalis, jilid VI,  artikel  :  Evangile  (Injil),  suatu  isyarat   kepada perbedaan   antara   Injil  dan  Qur-an.  Pengarang  artikeltersebut   menulis:   "Pengarang-pengarang    Injil    tidak mengaku-aku,   seperti   Qur-an,   menyampaikan  otobiografi (riwayat hidup diri  sendiri)  yang  didiktekan  oleh  Tuhan kepada  Rasulnya  secara ajaib." Begitulah kata penulis itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat.  Terjemahan  Qur-an  yang  paling  jelek juga dapat mengungkapkan  kenyataan  ini   kepada   pengarang   artikeltersebut.  Pernyataan  tersebut  di atas, yakni bahwa Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya  dengan  orang  yang mengatakan    bahwa   Injil   itu   adalah   riwayat   hidup pengarangnya.Yang  bertanggung   jawab   tentang   pemalsuanterhadap  idea  Qur-an  itu  adalah  seorang  guru  besar di Fakultas teologi Yesuite di kota  Lion  (Perancis  selatan); tersiarnya  kekeliruan  semacam  ini  telah membantu memberi gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam.
Walaupun begitu tetap ada harapan untuk memperbaiki keadaan, karena  sekarang  agarna-agama  tidak hidup sendiri-sendiri; banyak agama yang mencari perkenalan  dan  pemahaman  timbal balik. Kita terharu dengan fakta bahwa pada eselon tertinggi orang-orang  Katolik  berusaha  untuk  memelihara   hubungan dengan  umat  Islam,  serta menghilangkan kesalahfahaman dan mengoreksi gambaran-gambaran yang keliru tentang Islam.

Saya  telah  menyebutkan  perubahan   besar   yang   terjadi  pada-tahun-tahun  yang  terakhir  ini  dan  menyebutkan pula suatu dokumen  yang  dikeluarkan  oleh  Sekretariat  Vatikan untuk  orang-orang bukan Kristen. Dokumen tersebut berjudul: Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan  umat  Islam, dokumen  itu sangat berarti karena sikap-sikap baru terhadap Islam. Dalam cetakan  ketiga  (1970)  kita  dapatkan  ajakan untuk "meninjau kembali sikap-sikap kita terhadap Islam, dan mengkritik purbasangka kita" kita  dapatkan  pula  kata-kata seperti "kita harus bekerja keras lebih dahulu untuk merubah cara berfikir saudara-saudara umat Kristen, secara bertahap; ini  adalah  yang  paling penting," "kita harus meninggalkan gambaran gambaran kuno yang kita  warisi  dari  masa  lampau atau  gambaran-gambaran  yang  dirubah  oleh  prasangka  dan fitnahan,"  "kita  harus  mengakui   ketidak   adilan   yang dilakukan  oleh  Barat  yang  beragama Kristen terhadap umat Islam."1 Dokumen Vatikan yang terdiri dari 150  halaman  itu menolak pandangan-pandangan kuno umat Kristen terhadap Islam dan menerangkan hal-hal yang sebenarnya .

Di   bawah   judul:   "membebaskan   diri   kita    daripada prasangka-prasangka   yang   sangat  mashur,"  para  penulis dokumen tersebut mengajak umat Kristen sebagai berikut:  "Di sini kita harus melakukan pembersihan yang mantap dalam cara berfikir  kita.  Secara  khusus  kami   pikirkan   penilaian tertentu  yang  "sudah  jadi"  yang  sering  dilakukan orang secara sembrono terhadap Islam. Adalah sangat penting  untuk tidak   menghidup-hidupkan   dalam   hati   sanubari   kita, pandangan-pandangan yang dangkal  dan  arbitrer  yang  tidak dikenal oleh orang Islam yang jujur.

Salah  satu  daripada pandangan arbitrer yang sangat penting untuk  diberantas  adalah  pandangan  yang  mendorong  untuk memakai  kata  "Allah"  secara  sistematis untuk menunjukkan Tuhannya umat Islam, seakan-akan  Tuhannya  umat  Islam  itu bukan Tuhannya umat Kristen.

               Allah  dalam bahasa Arab berarti Tuhan, Tuhan yang maha Esa, maha Tunggal. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya  dalam bahasa  Perancis  kita harus rnemakai kata "Dieu," dan tidak cukup hanya mengambil alih kata arab ("Allah")  karena  kata ini  tak  dimengerti  orang Perancis. Bagi umat Islam, Allah itu juga Tuhannya Nabi Musa dan Tuhannya Yesus."

               Dokumen  Sekretariat  Vatikan  bagi   umat   bukan   Kristen menekankan hal yang fundamental ini sebagai berikut:

"Adalah  tak berguna untuk mengikuti pendapat beberapa orang Barat bahwa Allah itu sesungguhnya  bukan  Tuhan!  Teks-teks yang  dihasilkan oleh Konsili telah membenarkan kata-kata di atas. Orang tidak akan dapat meringkaskan kepercayaan  Islam tentang  Tuhan,  secara  lebih  baik  dari  kata-kata  Lumen Gentium (cahaya bagi manusia ) bagian dari  Dokumen  Konsili Vatikan  II  (1962-1965)  yang  berbunyi: "Orang-orang Islam yang mengikuti aqidah Nabi Ibrahim  menyembah  bersama  kita kepada  Tuhan  yang  Tunggal, yang maha penyayang, yang akan mengadili manusia pada hari akhir."2

Semenjak itu orang mengerti mengapa  orang  Islam  melakukan protes  terhadap  kebiasaan orang Barat memakai kata 'Allah' untuk  Tuhan.  Orang-orang  Islam  yang  terpelajar   memuji terjemahan  Qur-an  oleh  D. Masson yang memakai kata "Dieu" (Tuhan) dan tidak memakai kata "Allah."3

Orang Islam dan orang  Kristen  menyembah  Tuhan  yang  maha Tunggal.

Kemudian Dokumen Vatikan mengkritik penilaian-penilaian lain yang salah terhadap Islam.

"Fatalisme"  Islam,  suatu  prasangka  yang  tersiar   luas, dibahas   dengan  mengutip  beberapa  ayat  Qur-an.  Dokumen Vatikan tersebut menunjukkan hal-hal yang sebalik Fatalisme, yakni  bahwa manusia itu akan diadili menurut tindakannya di Dunia.

Dokumen  Vatikan  tersebut  juga  menunjukkan  bahwa  konsep yuridisme  atau  legalisme dalam Islam itu salah, yang benar adalah   sebaliknya,   yakni   kesungguhan    dalam    Iman.
Dibawakannya  pula  dua ayat yang sangat tidak dikenal orang di Barat. Ayat pertama: "Tak ada paksaan dalam agama" (Surat 2  ayat  256). Ayat kedua: "Dan Tuhan tidak menjadikan dalam agama sesuatu hal yang memaksa." (Surat 22 ayat 78)

Dokumen Vatikan tersebut juga  menentang  ide  yang  tersiar luas   bahwa  Islam  itu  adalah  agama  "rasa  takut,"  dan menjelaskan bahwa Islam adalah  agama  cinta,  cinta  kepada orang-orang yang dekat, cinta yang berakar dalam Iman kepada Allah. Dokumen Vatikan tersebut juga menolak anggapan  bahwa tak ada "moral Islam," serta anggapan yang dianut oleh orang Yahudi dan  orang  Kristen  bahwa  Islam  itu  adalah  agama fanatisme.   Dalam  hal  ini  Dokumen  tersebut  mengatakan: "Sesungguhnya, Islam dalam  sejarahnya  tidak  pernah  lebih fanatik  daripada  kota-kota suci Kristen ketika kepercayaan Kristen  bercampur  dengan  nilai  politik."  Di  sini  para pengarang Dokumen Vatikan menyantumkan ayat-ayat Qur-an yang diterjemahkan oleh orang Barat sebagai "Perang Suci."4

"Perang suci yang dimaksudkan, dalam bahasa Arabnya  adalah: Al  Jihad  fi  sabililah, usaha keras untuk menyiarkan agama Islam  dan  mempertahankannya  terhadap   orang-orang   yang melakukan     agressi."     Dokumen    Vatikan    meneruskan keterangannya: "Al Jihad bukan "kherem" yang tersebut  dalamInjil.  Jihad  tidak bermaksud untuk memusnahkan orang lain, akan tetapi  untuk  menyiarkan  hak-hak  Tuhan  dan  hak-hak manusia di negeri-negeri baru."

Kekerasan  yang timbul dalam Jihad adalah gejala-gejala yang mengikuti hukum perang. Pada waktu peperangan Salib bukanlah orang-    Islam    yang    selalu    melakukan   pembantaian besar-besaran.

Dokumen  Vatikan  akhirnya  membicarakan  purbasangka  bahwa Islam itu adalah agama beku yang mengungkung para pengkutnya dalam Abad Pertengahan  yang  sudah  lampau  dan  menjadikanmereka tidak sanggup untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan tehnik  pada  zaman  modern.  Dokumen  tersebut  menyebutkan perbandingan  dengan situasi-situasi serupa yang terdapat dinegara-negara Kristen dan menyatakan "Kami  menemukan  dalam perkembangan   tradisional  pemikiran  Islam  suatu  prinsip evolusi  yang  dapat  menjadi   pedoman   untuk   masyarakat beradab."

Bahwa   Vatikan   mempertahankan  Islam,  saya  yakin,  akan mengherankan pengikut-pengikut  agama  masa  kini,  baik  iaorang   Yahudi,  orang  Kristen  atau  orang  lslam.  Gejala tersebut merupakan manifestasi kesungguhan dan pikiran  yang terbuka  yang bertentangan sama sekali dengan sikap-sikap di masa  dahulu.   Tetapi   sayang,   sangat   sedikit   sekali orang-orang  Barat  yang  mengetahui  pergantian  sikap yang diambil oleh eselon tertinggi daripada Gereja Katolik.

Setelah kita mengetahui hal  tersebut  di  atas  kita  tidak begitu  heran  untuk  mendengarkan  langkah-langkah  konkrit selanjutnya  yang   dilaksanakan   untuk   pendekatan   ini.
Mula-mula  adalah kunjungan resmi kepala Secretariat Vatikan untuk  orang-orang  bukan  Kristen  kepada  (almarhum)   Sri Baginda  Raja  Faesal, raja Saudi Arabia, kemudian kunjungan ulama-ulama Besar dari Saudi Arabia kepada Sri Paus Paul  Vl pada  tahun  1974.  Kita merasakan arti spiritual yang dalam ketika Monsigneur  Elchinger  menerima  para  ulama  itu  di Cathedral   Strasbourg   dan   mempersilahkan  mereka  untuk sembahyang di tengah-tengah Cathedral, walaupun menghadap ke arah Ka'bah.

Jika  wakil-wakil  tertinggi  daripada  umat  Islam dan umat Kristen, dalam rasa kepercayaan kepada Tuhan yang  sama  dan rasa  hormat menghormat terhadap perbedaan yang ada diantara mereka telah sefaham untuk melakukan  dialog  agama,  apakah tidak  wajar jika aspek-aspek lain dari kedua agama itu juga dihadapi?   Maksud   daripada   konfrontasi    ini    adalah penyelidikan  tentang  Kitab  Suci  atas  dasar  hasil-hasil penyelidikan  ilmiah  dan   pengetahuan-pengetahuan   kritik kebenaran.   Penyelidikan   teks-teks  ini  harus  dilakukan terhadap Qur-an  sebagaimana  ia  telah  dilakukan  terhadap agama Yahudi dan Kristen.
Hubungan  antara  agama-agama dan Sains tidak sama di segala tempat dan segala masa. Adalah suatu  fakta  bahwa  tak  ada kitab  suci  agama  monotheist  yang menghukum Sains. Tetapi dalam prakteknya, kita harus mengakui bahwa ahli-ahli  Sains bercekcok  dengan  penguasa  keagamaan  tertentu.  Di  dunia Kristen, selama beberapa abad,  pembesar-pembesar  menentang perkembangan  Sains  atas initiatif mereka sendiri dan tidak bersandar kepada teks autentik dalam  Kitab  Suci.  Terhadap mereka    yang    memajukan    Sains,   mereka   melancarkan tindakan-tindakan yang kita  ketahui  dalam  sejarah,  yaitu tindakan-tindakan  yang  menjerumuskan para ahli Sains dalam pembuangan, jika mereka ingin selamat daripada hukuman "mati dibakar,"  atau sedikitnya memaksa mereka untuk menebus dosa mereka dan memperbaiki  sikap  mereka  serta  memohon  maaf.
Dalam  hal  ini,  kita  ingat peradilan Galile yang dituntut hanya  karena  ia  mengikuti  penemuan  Copernikus   tentang peredaran   bumi.  Galile  kemudian  dihukum  dengan  alasan menafsirkan Bibel secara keliru sebab tidak ada  Kitab  Suci yang dapat dibantah.

Bagi   Islam,  sikap  terhadap  Sains  pada  umumnya  sangat berlainan. Tak ada yang lebih  jelas  daripada  hadits  Nabi yang  sangat  masyhur.  "Tuntutlah  ilmu  walaupun di negeri Cina" atau hadits lain yang maksudnya: mencari  ilmu  adalah wajib  bagi  seorang  muslimin  dan seorang muslimat. Adalah suatu kenyataan yang penting seperti yang  akan  kita  lihat dalam   fasal   ini   nanti,   bahwa  Qur-an  yang  mengajak memperdalam  Sains.   Qur-an   itu   memuat   bermacam-macam pemikiran   tentang   fenomena  alam,  dengan  perinci  yang menerangkan hal-hal yang secara  pasti  cocok  dengan  Sains modern.  Dalam  hal  ini  tak  ada hal yang serupa itu dalam agama Yahudi dan Kristen.

Tetapi adalah salah jika orang mengira bahwa  dalam  sejarah Islam,  beberapa  orang Islam mempunyai sikap yang berlainan terhadap Sains.  Memang  terjadi  bahwa  pada  suatu  waktu, kewajiban  untuk belajar dan mengajar orang lain itu disalah fahamkan,   dan   orang   pernah   berusaha   memberhentikan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa pada zaman kejayaan Islam, antara abad VIII dan abad XII  M. pada  waktu  orang  membatasi  perkembangan ilmu pengetahuan dipersempit  di   negara-negara   Kristen,   banyak   sekali penyelidikan   dan   penemuan   yang   dilakukan   orang  di Universitas-universitas  Islam.  Pada  waktu   itulah   kita dapatkan  kebudayaan  yang luar biasa. Di Cordoba (Qurtubah) perpustakaan  Khalifah  memuat  400.000  buku;  Ibnu   Rusyd mengajar di situ. Banyak orang dari berbagai daerah di Eropa datang ke Qurtubah untuk belajar,  seperti  pada  waktu  ini banyak    orang   belajar   ke   Amerika   Serikat.   Banyak manuskrip-manuskrip   lama   sampai   kepada   kita   dengan perantaraan  orang-orang Arab, dan membawa kebudayaan kepada negeri-negeri   yang   ditaklukkan.   Banyak   hutang   kami (orang-orang Barat) kepada pengetahuan Arab dalam matematika (kata al jabar adalah  kata  Arab),  astronomi,  fisika  dan optik,   geologi,   ilmu   tumbuh-tumbuhan  (botanik),  ilmu kedokteran (Ibnu Sina) dan  lain-lain.  Untuk  pertama  kali Sains  mempunyai sifat internasional dalam Universitas Islam pada  abad  pertengahan.  Pada  waktu  itu   manusia   lebih mempunyai  jiwa  keagamaan  daripada  sekarang,  akan tetapi dalam Dunia Islam hal tersebut tidak  menghalangi  seseorang untuk  menjadi orang yang mukmin dan pandai sekaligus. Sains adalah saudara kembar daripada agama, dan akan tetap begitu.

Dalam negara-negara Kristen, abad  pertengahan  adalah  abad stagnasi   dan   conformisme   mutlak.  Penyelidikan  ilmiah dikekang, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen,  akan  tetapi oleh   mereka   yang  mengaku  mengabdi  kepada  agama-agama tersebut. Sesudah Renaissance, reaksi  yang  wajar  daripada ahli  ilmu  pengetahuan  adalah untuk membalas dendam kepada musuh mereka kemarin, dan pembalasan dendam itu  berlangsung sampai  sekarang.  Pada  waktu  ini,  di negeri Barat, untuk bicara tentang Tuhan di  kalangan  ilmuwan  adalah  janggal. Sikap  semacam  ini  juga terdapat dalam otak-otak yang muda yang  menerima  pengetahuan   dari   universitas-universitas Barat, termasuk otak-otak muda Islam.

Hal   tersebut   di   atas  adalah  wajar  karena  ahli-ahli pengetahuan Barat yang terkemuka selalu-mengambil sikap yang ekstrim.  Seorang yang pernah meraih hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran pada tahun-tahun akhir ini  telah  menulis  dalam satu  buku tebal untuk awam, bahwa materi hidup itu tercipta sendiri secara kebetulan daripada unsur-unsur elementer. Dan bertitik  tolak dari materi hidup yang sederhana itu, dengan pengaruh  bermacam-macan  faktor  luar,  terbentuklah  benda hidup  yang  teratur  dan  secara  berangsur-angsur akhirnya menjadi benda hidup yang sangat complex, yaitu manusia.

Tetapi orang yang  memikirkan  secara  mendalam  hasil-hasil yang  mengagumkan  daripada  Sains  masa  kini  dalam bidang "kehidupan"  akan  sampai  kepada  natijah  (konklusi)  yang sebaliknya.   Pertumbuhan  yang  terjadi  sebelum  munculnya "kehidupan" serta pemeliharaan "kehidupan" itu  akan  nampak sangat   berbelit-belit  (complicated).  Lebih  banyak  kita mengetahui perincian-perinciannya, lebih  banyak  pula  kita merasa  heran  dan takjub. Sesungguhnya jika kita mengetahui perinci-perinci itu lebih banyak, kita lebih  condong  untuk mengurangi  unsur:  "kebetulan"  dalam fenomena "kehidupan." Lebih  banyak  kita  memiliki  ilmu  pengetahuan,  khususnya mengenai   hal-hal  yang  sangat  kecil,  lebih  menonjollah argumentasi tentang adanya zat  "pencipta."  Tetapi  manusia bukannya tunduk kepada fakta-fakta tersebut di atas, malahan ia menjadi sombong. Ia merasa berhak untuk menertawakan  ide tentang  Tuhan  dan  ia menganggap remeh segala sesuatu yang menghalangi  kemauannya  untuk  kenikmatan  dan   kelezatan Itulah masyarakat materialis yang sekarang ini berkembang di Barat.

Kekuatan spirituil  manakah  yang  dapat  menghadapi  polusi pemikiran para ahli pengetahuan modern sekarang?

Agama   Kristen   dan   agama   Yahudi   telah   menunjukkan ketidak-mampuannya  untuk  membendung  banjir   materialisme serta ateisme di Barat. Agama Kristen dan agama Yahudi dalam keadaan  kacau  balau,  dan  dari  tahun  ke   tahun   telah menunjukkan  daya  tahan yang berkurang terhadap aliran yang akan menghancurkannya; seorang materialis ateis hanya  dapat melihat   dalam  agama  Kristen  klasik,  suatu  agama  yang diciptakan  oleh  manusia  2000  tahun   yang   lalu   untuk menegakkan   kekuasaan  sekelompok  kecil  manusia  terhada p manusia-manusia lain. Ia tidak  dapat  melihat  dalam  kitab suci Yahudi Kristen suatu bahasa yang ada hubungannya dengan bahasanya sendiri walaupun terlalu jauh; kitab  suci  Yahudi Kristen  memuat  hal-hal  yang  keliru, yang kontradiksi dan yang tidak sesuai dengan  penemuan-penemuan  ilmiah  modern, sehingga  ia  tidak mau mempertimbangkan teks-teks yang oleh kebanyakan ahli-ahli teologi dipaksakan untuk diterima semua sebagai keseluruhan.

Bagaimana kalau ada orang yang mengajaknya berbicara tentang Islam? Ia akan tertawa lebar yang menunjukkan bahwa ia tidak banyak  mengetahui  tentang  agama.  Sebagai kebanyakan kaum terpelajar   dari   bermacam-macam   agama,   ia   mempunyai gambaran-gambaran yang salah tentang Islam.

Dalam hal ini, kita harus menerima beberapa alasan. Pertama, dengan  mengecualikan  sikap-sikap   baru   dari   tingkatan tertinggi  daripada  Gereja  Katolik  yang mulai menunjukkan hormat kepada Islam. Islam  di  negara-negara  Barat  selalu menjadi  objek  daripada  "diffamation  seculaire" (cemoohan penganut-penganut  secularisme).  Semua  orang,  Barat  yang mempunyai  pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui bahwa sejarahnya, dogmanya dan  tujuannya  sudah  jauh  dibelokkan orang.  Kedua,  dokumen-dokumen  dalam  bahasa-bahasa  Barat mengenai Islam yang  sudah  diterbitkan,  tidak  mempermudah usaha  seorang  yang  ingin mempelajari Islam. Dalam hal ini kita dapat mengecualikan beberapa  penyelidikan-penyelidikan yang sangat khusus.

Dalam hal mempelajari Islam, pengetahuan tentang wahyu dalam Islam   adalah   sangat    pokok    (fundamental).    Tetapi bagian-bagian daripada Qur-an khususnya yang ada hubungannya dengan hasil-hasil perkembangan Sains  sering  diterjemahkan secara  keliru  atau  ditafsirkan  sedemikian  rupa sehingga seorang ahli Sains akan melancarkan kritik yang tidak  tepat terhadap Qur-an, walaupun kritik-kritik kelihatannya benar.

Ada  satu  hal yang perlu kita garis bawahi: terjemahan yang tidak tepat dan penafsiran yang  keliru  (keduanya  biasanya terjadi bersama-sama) yang tidak mengherankan pada satu atau dua abad yang lalu, pada  waktu  sekarang  mengejutkan  ahli Sains  yang  menolak  untuk  mempertimbangkan secara serius, suatu kata-kata yang  diterjemahkan  secara  salah  sehingga memberi   keterangan   yang   tak   dapat  diterima  menurut perkembangan Sains sekarang. Dalam  bab  tentang  terjadinya janin  manusia,  kita akan melihat contoh kekeliruan seperti itu.

Mengapa terjadi kekeliruan dalam menterjemahkan Qur-an?  Hal ini   terjadi  oleh  karena  penterjemah-penterjemah  modern sering hanya mengambil alih interpretasi para ahli tafsir di zaman dahulu, tanpa pendirian kritik. Para ahli tafsir zaman dahulu itu dapat dimaafkan jika mereka memilih satu daripada beberapa  arti  kata  bahasa  Arab, oleh karena mereka tidak mengerti arti yang benar daripada  kata  atau  kalimat  itu, yaitu  arti yang baru sekarang nampak dengan jelas berhubung kemajuan pengetahuan kita tentang Sains. Dengan  kata  lain, perlu  dilakukan peninjauan kembali terhadap terjemahan atau tafsiran-tafsiran yang tak dapat  dilaksanakan  secara  baik pada  suatu  masa,  karena sekarang kita sudah memiliki arti kata-kata yang sebenarnya. Persoalan  penterjemahan  seperti tersebut  tidak timbul dalam wahyu Yahudi Kristen . Soal itu hanya khusus mengenai Qur-an.

Aspek-aspek ilmiah  yang  khusus  untuk  Qur-an  itu  sangat mengherankan aku, karena aku sama sekali tidak mengira bahwa dalam teks yang disusun semenjak lebih  dari  13  abad,  aku dapat  menemukan  keterangan-keterangan tentang hal-hal yang bermacam,  yang  sangat  cocok  dengan  pengetahuan   ilmiah modern.  Pada  permulaannya  aku  sama  sekali tidak percaya dengan Islam.  Aku  mulai  menyelidiki  teks  Qur-an  dengan pikiran yang bebas dari segala prasangka, dan dengan pikiran obyektif. Jika ada faktor yang mempengaruhi aku, faktor  itu adalah  pendidikan  yang  aku  terima ketika aku masih muda, pada  waktu  orang  menamakan  orang   Islam   dengan   nama "Mohametans"  untuk  memberi  kesan bahwa Islam adalah agama yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama itu  tidak ada nilainya di hadirat Tuhan. Sebagai kebanyakan orang Barat, aku  terpengaruh  dengan  pikiran-pikiran  yang salah  tentang  Islam, dan aku merasa heran jika aku bertemu dengan orang-orang yang mengetahui soal-soal ke-Islaman,  di luar  kalangan  para  ahli  (spesialis). Oleh karena itu aku mengaku  terus  terang  bahwa  sebelum  mempunyai   gambaran tentang  Islam  yang  berlainan dengan gambaran orang Barat, aku sendiri sangat tidak tahu tentang Islam,  jika  akhirnya aku  mengetahui  bahwa  penilaian  Barat  tentang  Islam itu salah,  hal  itu  adalah   karena   kejadian-kejadian   yang istimewa.  Di  Saudi  Arabialah  aku  menemukan  bahan-bahan apresiasi yang menunjukkan kepadaku betapa salahnya pendapat orang-orang Barat tentang Islam.

Aku  berhutang  budi  besar kepada almarhum Sri Baginda Raja Faisal yang aku hormati.  Aku  dapat  mendengar  daripadanya keterangan-keterangan   tentang   Islam,   dan   aku   dapat membicarakan  soal-soal  penafsiran  Qur-an  mengenai  Sains modern.  Semua  itu tak akan dapat aku lupakan. Sesungguhnya aku  merasa  mendapat  kehormatan  yang  luar  biasa   dapat menerima  keterangan-keterangan  dari  Sri  Baginda dan para pengikut-pengikutnya.

Setelah aku dapat mengukur jurang  yang  memisahkan  hakekat Islam  daripada  image yang dimiliki oleh orang-orang Barat, aku  merasa  ingin  belajar  bahasa  Arab  yang  aku   belum mengerti,  agar  dapat  membantu  aku mempelajari agama yang sangat tidak dikenal. Tujuanku  yang  pertama  adalah  untuk membaca  Qur-an,  menyelidiki teksnya, kalimat demi kalimat, dengan bantuan bermacam kitab tafsir yang sangat  diperlukan untuk  penyelidikan  yang kritis. Aku mulai tugas itu dengan memperhatikan keterangan-keterangan Qur-an tentang  fenomena alam.  Ketepatan keterangan Qur-an dalam perinci-perincinya, yaitu hal yang hanya dapat ditemukan  dalam  teks  original, telah    menarik    perhatianku    karena    cocok    dengan konsepsi-konsepsi zaman sekarang. Padahal seorang yang hidup pada   zaman   Nabi   Muhammad  tidak  dapat  mempunyai  ide sedikitpun  tentang  hal  tersebut.  Kemudian  aku   membaca beberapa  buku  karangan  orang-orang  Islam  mengenai aspek ilmiah  daripada  teks  Qur-an.  Buku-buku  tersebut  memuat pengetahuan-pengetahuan  yang  sangat berfaedah, akan tetapi aku belum  pernah  melihat  di  negara-negara  Barat,  suatu penyelidikan yang menyeluruh tentang hal ini.
 Bagian 3
Yang  menarik  perhatian  dalam menghadapi teks Qur-an untuk pertama  kali  adalah  banyaknya  hal-hal  yang  dibicarakan mengenai  penciptaan  alam,  astronomi,  keterangan  tentang bumi, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan  dan  kelahiran  manusia.
Dalam Bibel aku telah menemukan kekeliruan-kekeliruan ilmiah yang besar, tetapi dalam Qur-an aku tidak menemukan sesuatu, semua   itu  mendorong  diriku  untuk  bertanya-tanya:  Jika pengarang Qur-an itu seorang manusia, mengapa pada abad  VII Masehi,  orang itu dapat menulis hal-hal yang terbukti cocok dengan   Sains   modern?   Tidak   ada   kemungkinan   untuk menyangsikan  bahwa  teks  Qur-an  yang kita miliki sekarang adalah  teks  yang  bersejarah.  (Fasal  yang  akan   datang membicarakan  hal  ini).  Apakah  yang  dapat  kita  jadikan penerangan lahiriyah terhadap kenyataan ini? Menurutku,  tak ada  penerangan  semacam  itu.  Tak  ada  keterang  an  yang memuaskan yang dapat menjelaskan bagaimana seorang  penduduk Jazirah  Arab,  dapat  memiliki  pengetahuan  ilmiah tentang beberapa  hal,   dan   pengetahuan   itu   mendahului   ilmu pengetahuan  sekarang  13  abad, karena orang itu hidup pada waktu yang memerintah Perancis adalah Raja Dagobert.

Sudah  dibuktikan  oleh  Sejarah  bahwa  pada  waktu  Qur-an diwahyukan  selama  23  tahun  (622  M.), pengetahuan ilmiah terhenti semenjak beberapa abad. Dan sudah  dibuktikan  pula bahwa periode berkembangnya kebudayaan Islam dengan kemajuan ilmiahnya telah terjadi sesudah selesai turunnya wahyu  atau Qur-an.  Ada  orang yang berkata "Jika dalam Qur-an terdapat keterangan-keterangan   ilmiah   yang   mentakjubkan,   maka sebabnya  pada  waktu  sebelum  itu telah terdapat ahli-ahli Sains   Arab.   Muhammad    mendapatkan    inspirasi    dari karangan-karangan  mereka."  Untuk dapat menerima keterangan tersebut kita harus melupakan  hal-hal  yang  terjadi  dalam sejarah.  Barang  siapa  mengetahui sedikit daripada sejarah Islam dan mengetahui bahwa perkembangan kebudayaan dan  Sains dalam  dunia  Arab  pada  abad  pertengahan  ia  tidak  akan menerima khayalan semacam itu. Pemikiran seperti tersebut di atas  sangat  tidak  tepat  apalagi  kalau  kita ingat bahwa kebanyakan fakta Sains yang  dikatakan  oleh  Qur-an  secara pasti, baru mendapat konfirmasi pada zaman modern itu.

Kita  tahu  bahwa  selama  berabad-abad,  banyak ahli tafsir Qur-an, termasuk mereka  yang  hidup  dalam  zaman  kejayaan
peradaban   Islam,   yang   telah  membuat  kesalahan  dalam menafsirkan beberapa ayat Qur-an  yang  mereka  tidak  dapat mengungkap  kan  arti yang sebenarnya. Hanya pada waktu yang kemudian, yang dekat daripada zaman kita ini,  mereka  dapat menafsirkannya  secara  benar. Hal ini mengandung arti bahwa untuk memahami ayat-ayat Qur-an, pengetahuan  yang  mendalam tentang  bahasa  Arab  saja  tidak  cukup. Di samping bahasa Arab, ahli tafsir perlu  memiliki  pengetahuan  ilmiah  yang bermacam-macam.   Penyelidikan   tentang   Qur-an  merupakan penyelidikan   pluridiscipliner,   encyclopedical.    Dengan mengikuti  persoalan-persoalan  yang  timbul, orang mengerti bahwa bermacam-macam pengetahuan ilmiah adalah sangat  perlu untuk memahami ayat-ayat Qur-an tertentu.

Memang  Qur-an   bukannya   suatu   buku  yang  menerangkan
hukum-hukum alam. Qur-an mengandung  tujuan  keagamaan  yang pokok.  Ajakan  untuk  memikirkan  tentang  penciptaan  alam dialamatkan kepada manusia dalam rangka  penerangan  tentang kekuasaan Tuhan. Ajakan tersebut disertai dengan menun jukkan fakta-fakta   yang   dapat   dilihat   oleh   manusia    dan aturan-aturan  yang  ditetapkan  oleh  Tuhan  untuk mengatur alam, baik dalam bidang Sains maupun dalam bidang masyarakat kemanusiaan. Sebagian daripada fakta-fakta tersebut ada yang mudah difahami, tetapi sebagian lainnya tidak dapat difahami tanpa  pengetahuan ilmiah. Ini berarti bahwa manusia-manusia pada abad-abad dahulu hanya dapat mengetahui arti-arti  yang nampak dan hal itu dapat membawa mereka kepada konklusi yang kurang benar karena kekurangan pengetahuan pada waktu itu.

Pemilihan ayat-ayat Qur-an untuk diselidiki  segi  ilmiahnya mungkin  nampak  kecil  bagi  pengarang-pengarang Islam yang telah menarik perhatian kepada  fakta-fakta  ilmiah  sebelum aku.  Secara  keseluruhan aku rasa memang aku memilih jumlah yang lebih sedikit. Tetapi di lain fihak, aku telah membahas ayat-ayat  yang  sampai sekarang belum diberi perhatian yang cukup  dari  segi  pandangan  ilmiah.  Jika  aku   melakukan kesalahan  karena  meninggalkan  ayat-ayat yang telah mereka pilih, aku harap mereka  mema'afkan;  selain  daripada  itu, dalam  beberapa buku, aku menemukan interpretasi ilmiah yang tidak   tepat;   untuk   hal-hal   tersebut   aku    sajikan interpretasiku   pribadi   yang  didasarkan  atas  kebebasan pikiran dan rasa tanggung jawab.

Aku juga menyelidiki apakah dalam Qur-an disebutkan fenomena yang  dapat  difahami  oleh manusia tetapi belum mendapatkan konfirmasi daripada  Sains  modern.  Dalam  rangka  ini  aku merasa   bahwa   Qur-an  memuat  isyarat  bahwa  dalam  alam (universe) ini terdapat  planet-planet  yang  seperti  bumi.
Harus  kuterangkan  bahwa  banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan menganggap hal tersebut  sangat  mungkin,  walaupun  tingkat pengetahuan  sekarang  tidak  dapat  memberi  kepastian. Aku merasa berkewajiban menuturkan hal ini, dengan reserve  yang harus kita lakukan.

Aku  telah  melakukan penyelidikan ini semenjak kira-kira 30 tahun. Tetapi ada suatu fakta  yang  telah  disebutkan  oleh Qur-an  dan  harus  ditambahkan  kepada hal-hal yang kutulis mengenai  astronomi  (ilmu  bintang).  Fakta  dalam   Qur-an tersebut  adalah:  pembukaan  angkasa. Pada waktu itu, orang meramalkan bahwa setelah  percobaan-percobaan  peluru-peluru kendali,  pada  suatu  waktu  manusia akan dapat keluar dari bumi dan menyelidiki angkasa. Orang  sudah  tahu  bahwa  ada ayat  Qur-an  yang  mengatakan bahwa manusia pada satu waktu akan melaksanakan pembukaan angkasa. Hal  tersebut  sekarang sudah terjadi.

Konfrontasi  Kitab  Suci  (Bibel  atau Qur-an) dengan Sains, mengundang pemikiran-pemikiran yang ada  hubungannya  dengan "Kebenaran  ilmiah;"  supaya konfrontasi itu mempunyai arti, maka argumentasi  ilmiah  yang  menjadi  dasar  harus  sudah ditetapkan  secara  pasti dan tidak dapat didiskusikan lagi. Mereka yang segan menerima campur tangan Sains dalam menilai Kitab  Suci,  mengingkari  bahwa Sains dapat memberi patokan untuk perbandingan;  (Bibel  akan  menderita  kerugian  jika dikonfrontir   dengan   Sains,  tetapi  Qur-an  tidak  takut konfrontasi tersebut); Mereka  mengatakan  bahwa  Sains  itu berubah  menurut  waktu,  sehingga sesuatu hal mungkin dapat diterirna pada suatu waktu, akan tetapi kemudian ditolak.

Soal tersebut di atas memerlukan penjelasan sebagai berikut: kita  harus  membedakan  teori ilmiah dan fakta yang diamati dan dikuasai. Teori adalah untuk menerangkan suatu  fenomena atau  kumpulan  fenomena  yang  sukar difahami. Teori memang sering berubah-ubah, teori dapat dirubah sedikit  atau  sama sekali  diganti  dengan  teori  lain  jika  kemajuan  ilmiah memungkinkan orang untuk menganalisa fakta secara lebih baik dan memikirkan suatu-penafsiran yang lebih berharga.

Sebaliknya,   fakta   yang  diamati  dan  dibuktikan  dengan eksperimen tidak  dapat  dirubah.  Orang  dapat  menjelaskan sifat-sifatnya dengan lebih terperinci akan tetapi fakta itu tetap  tidak  berubah.   Orang   telah   membuktikan   bahwa bumi-beredar  sekitar  matahari  dan  bulan  beredar sekitar bumi, tidak akan mengalami perubahan; pada  masa  yang  akan datang  mungkin  orang  akan  dapat memberi gambaran tentang orbit-orbitnya.

Pemikiran bahwa teori itu dapat berubah,  telah  mendorongku umpamanya  untuk  tidak  membicarakan  satu ayat Qur-an yang dikatakan oleh seorang muslim ahli fisika sebagai ayat  yang menerangkan  konsep  anti  materi,  sedangkan teori tersebut pada waktu ini banyak diperdebatkan. Sebaliknya orang  dapat menerima  dengan  penuh  perhatian  suatu  ayat  Qur-an yang mengatakan bahwa asal kehidupan itu  adalah  air;  kehidupan berasal  dari air adalah suatu hal yang tak dapat dibuktikan akan tetapi telah dikuatkan oleh argumentasi bermacam-macam. Adapun mengenai pengamatan fakta-fakta, seperti perkembangan janin  manusia,  orang  dapat  mengkonfrontasikan  bermacam- macam    tahap    yang   disebutkan   oleh   Qur-an   dengan penemuan-penemuan  embryologie  (ilmu  janin)  modern,   dan menemukan  persesuaian yang mutlak antara ayat Qur-an dengan Sains.

Konfrontasi Qur-an dengan Sains telah disempurnakan oleh dua perbandingan;  di  satu  fihak  konfrontasi  ayat-ayat Bibel dengan Sains modern  dalam  hal-hal  yang  dibicarakan  oleh keduanya.   Di  lain  fihak  perbandingan  pandangan  ilmiah tersebut dengan ayat-ayat Qur-an, wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan dengan hadits, buku riwayat, serta ucapan Nabi Muhammad di luar ayat-ayat yang  tersebut  dalam Qur-an.

Pada  akhir  bagian  ketiga  daripada  buku  ini, orang akan menemukan  hasil  perbandingan  antara  riwayat  Bibel   dan riwayat  Qur-an  mengenai kejadian yang sama dengan hal yang sudah disaring oleh  kritik  ilmiah;  sebagai  contoh,  kita telah  mengadakan  penyelidikan  tentang penciptaan alam dan tentang Banjir Nabi Nuh. Untuk kedua masalah itu telah  kita buktikan  bahwa  riwayat  Bibel  tidak  sesuai dengan Sains. Tetapi kita akan  menemukan  bahwa  riwayat-riwayat  Qur-an, sesuai   sepenuhnya   dengan   Sains.   Orang  akan  melihat
perbedaan-perbedaan yang  menjadikan  riwayat  Qur-an  dapat diterima  di  zaman  modern  sedang  riwayat Bibel tak dapat diterima.

Konstatasi ini sangat penting, oleh karena di  negara-negara Barat,  orang-orang  Yahudi,  Kristen  atau atheist semuanya berpendapat tanpa bukti sedikitpun, bahwa  Muhammad  menulis (mengarang)   Qur-an   atau   memerintahkan   orang  menulis (mengarang) Qur-an dengan meniru Bibel. Orang mengiraR bahwa riwayat   Qur-an   tentang   sejarah   agama  mengutip  dari riwayat-riwayat Bibel. Sikap semacam  itu  sama  sembrononya dengan  sikap orang yang mengatakan bahwa Yesus telah menipu orang-orang  pada  zamannya  dengan  mengatakan   bahwa   ia mendapat inspirasi dari Perjanjian Lama selama ia berdakwah.
Kita mengetahui bahwa seluruh Injil Matius  didasarkan  atas kontinuitas  dengan  Perjanjian  Lama. Ahli tafsir mana yang berani melepaskan kenabian Yesus oleh  karena  hal  tersebut
(kontinuitas dengan Perjanjian Lama)? Tetapi begitulah orang menilai Muhammad di  negara-negara  Barat.  "Muhammad  hanya meniru  Bibel."  Hal ini tentu saja merupakan penilaian yang sangat dangkal  yang  tidak  memperdulikan  kenyataan  bahwa Bibel  dan  Qur-an  dapat  memberikan  versi yang berlainan. Tetapi orang  menganggap  sepi  perbedaan-perbedaan  riwayat antara  Qur-an  dan  Injil.  Bahkan  orang  menyatakan bahwa riwayat-riwayat  itu  adalah  identik,   oleh   karena   itu pengetahuan ilmiah tidak boleh mencampuri. Soal-soal semacam ini akan kita bicarakan mengenai hikayat penciptaan alam dan banjir pada zaman Nabi Nuh.

Kumpulan-kumpulan  Hadits  bagi Nabi Muhammad adalah seperti Injil empat  bagi  Yesus,  Hadits  adalah  riwayat  mengenai perbuatan  dan  perkataan  Nabi,  yang mengumpulkannya bukan saksi-saksi  mata  (sedikitnya  bagi  kumpulan  Hadits  yang benar),  yang  dikumpulkan  sesudah  zamannya Nabi Muhammad.
Kitab  Hadits  sama  sekali  tidak  merupakan   kitab   yang mengandung  wahyu tertulis. Hadits bukan sabda Tuhan, tetapi meriwayatkan kata-kata Muhammad. Dalam buku-buku Hadits yang banyak tersiar kita dapatkan riwayat-riwayat yang mengandung kekeliruan ilmiah,  khususnya  mengenai  resep  obat-obatan. Tetapi  siapa  yang  dapat  mengatakan  dengan  pasti  bahwa keteranganketerangan  yang  dinisbatkan  kepada   Nabi   itu autentik?    Kita   tidak   membicarakan   problema-problema keagamaan, yang memang tidak kita bicarakan berhubung dengan persoalan    Hadits.    Banyak   Hadits   yang   disangsikan kebenarannya;  Hadits-Hadits  itu  telah  dibicarakan   oleh ulama-ulama  Islam  sendiri.  Jika  kita  membicarakan aspek ilmiah daripada beberapa Hadits  dalam  buku  ini,  hal  itu adalah  pada  dasarnya  untuk  menunjukkan  perbedaan antara Hadits dan Qur-an, karena Qur-an tidak mengandung pernyataan ilmiah yang tak dapat diterima.

Konstatasi yang akhir ini menjadikan hipotesa bahwa Muhammad adalah pengarang Qur-an, tidak dapat diterima. Tidak mungkin seorang yang tak dapat membaca dan menulis menjadi pengarang nomor satu, penulis karya nomor satu dalam sastra Arab,  dan memberitahukan  soal-soal  ilmiah  yang tak ada manusia pada waktu itu dapat  melakukannya,  serta  segala  keterangannya tidak ada yang keliru.

Pemikiran-pemikiran   yang   akan   kita   kembangkan  dalam penelitian ini dari segi pandangan ilmiah akan  menyampaikan kita  kepada  suatu  natijah  yaitu: "tidak masuk akal bahwa seseorang yang hidup pada  abad  VII  M.  dapat  melontarkan dalam  Qur-an ide-ide mengenai bermacam-macam hal yang bukan merupakan pemikiran manusia pada waktu itu. Dan ide-ide  itu cocok  dengan  apa  yang akan dibuktikan oleh Sains beberapa abad kemudian."



Bagiku, tak ada kemungkinan bahwa Qur-an itu buatan manusia.
Sejarah penyusunan Al-Qur'an:
II. KEASLIAN QUR-AN


SEJARAH PENYUSUNANNYA

Keaslian yang  tak  dapat  disangsikan  lagi  telah  memberi kepada Qur-an suatu kedudukan istimewa di antara kitab-kitab Suci, kedudukan itu khusus bagi Qur-an, dan tidak  dibarengi oleh  Perjanjian  lama dan Perjanjian Baru. Dalam dua bagian pertama   daripada   buku   ini   kita   telah   menjelaskan perubahan-perubahan  yang  terjadi dalam Perjanjian Lama dan empat Injil, sebelum Bibel dapat kita baca dalam  keadaannya sekarang.  Qur-an  tidak  begitu  halnya, oleh karena Qur-an telah ditetapkan pada zaman Nabi  Muhammad,  dan  kita  akan lihat bagaimana caranya Qur-an itu ditetapkan

Perbedaan-perbedaan  yang memisahkan wahyu terakhir daripada kedua wahyu sebelumnya, pada pokoknya tidak  terletak  dalam "waktu   turunnya"   seperti  yang  sering  ditekankan  oleh beberapa pengarang yang  tidak  memperhatikan  hal-hal  yang terjadi  sebelum  kitab  suci  Yahudi Kristen dibukukan, dan hal-hal yang terjadi sebelum pembukuan Qur-an,  mereka  juga tidak  memperhatikan  bagaimana Qur-an itu diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

Orang mengatakan bahwa teks yang ada pada  abad  VII  Masehi mempunyai  kemungkinan  yang  lebih besar untuk dapat sampai kepada kita tanpa perubahan daripada teks  yang  jauh  lebih tua  daripada  Qur-an  dengan  perbedaan  15 abad. Kata-kata tersebut adalah tepat, akan tetapi tidak memberi  keterangan yang  cukup.  Tetapi  di  samping  itu,  keterangan tersebut diberikan untuk memberi  alasan  kepada  perubahan-perubahan teks   kitab   suci   Yahudi  Kristen  yang  terjadi  selama berabad-abad, dan bukan untuk menekankan bahwa  teks  Qur-an itu  karena  lebih  baru  daripada  teks  kitab  suci Yahudi Kristen, lebih sedikit mengandung kemungkinan untuk  dirubah oleh manusia.

Bagi  Perjanjian  Lama,  yang  menjadi  sebab kekeliruan dan kontradiksi yang  terdapat  di  dalamnya  adalah:  banyaknya pengarang  sesuatu riwayat, dan seringnya teks-teks tersebut ditinjau kembali dalam periode-periode sebelum lahirnya Nabi Isa;  mengenai  empat  Injil  yang  tidak  ada  orang  dapat mengatakan bahwa kitab-kitab itu mengandung kata-kata  Yesus secara  setia  dan  jujur  atau  mengandung  riwayat tentang perbuatan-perbuatan  yang  sesuai   dengan   realitas   yang sungguh-sungguh    terjadi,   kita   sudah   melihat   bahwa redaksi-redaksi   yang   bertubi-tubi   menyebabkan    bahwa teks-teks  tersebut kehilangan autentisitas. Selain daripada itu para penulis Injil tidak merupakan saksi  mata  terhadap kehidupan Yesus.

Selain  daripada  itu  kita  harus membedakan antara Qur-an, Wahyu tertulis,  daripada  Hadits  jami'  kumpulan  riwayat, tentang  perbuatan  dan  kata-kata  Nabi  Muhammad. Beberapasahabat Nabi telah mulai mengumpulkannya segera setelah Nabi Muhammad   wafat.5   Dalam   hal  ini,  dapat  saja  terjadi kesalahan-kesalahan yang bersifat  kemanusiaan  karena  para penghimpun  Hadits adalah manusia-manusia biasa; akan tetapi kumpulan-kumpulan mereka itu kemudian disoroti dengan  tajam oleh  kritik  yang sangat serius, sehingga dalam prakteknya, orang lebih percaya kepada dokumen yang  dikumpulkan  orang, lama setelah Nabi Muhammad wafat.

Sebagaimana  halnya dengan teks-teks Injil, Hadits mempunyai autentisitas yang  berlainan,  dari  satu  pengumpul  kepada pengumpul  yang lain. Sebagaimana hal Injil, tak ada sesuatu Injil yang ditulis pada  waktu  Yesus  masih  hidup  (karena semuanya  ditulis  lama  sesudah  Nabi  Isa  meninggal) maka kumpulan  Hadits  juga  dibukukan  setelah  (Nabi   Muhammad meninggal).

Bagi  Qur-an,  keadaannya  berlainan. Teks Qur-an atau Wahyu itu dihafalkan  oleh  Nabi  dan  para  sahabatnya,  langsung setelah   wahyu   diterima,   dan   ditulis   oleh  beberapa sahabat-sahabatnya yang ditentukannya. Jadi, dari permulaan, Qur-an mempunyai dua unsur autentisitas tersebut, yang tidak dimiliki Injil. Hal ini  berlangsung  sampai  wafatnya  Nabi Muhammad.  Penghafalan  Qur-an  pada  zaman  manusia sedikit sekali yang dapat menulis, memberikan kelebihan jaminan yang sangat  besar  pada waktu pembukuan Qur-an secara definitif, dan  disertai  beberapa  regu  untuk   mengawasi   pembukuan tersebut.

Wahyu  Qur-an  telah  disampaikan  kepada Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril, sedikit demi sedikit selama lebih  dari  20 tahun.  Wahyu  yang  pertama  adalah yang sekarang merupakan ayat-ayat pertama daripada surat nomor  96.  Kemudian  Wahyu itu  berhenti  selama  3  tahun,  dan mulai lagi berdatangan selama 20 tahun sampai wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M.;  dapat  dikatakan  bahwa  turunnya  Wahyu berlangsung 10 tahun sebelum Hijrah (622) dan 10 tahun lagi sesudah Hijrah.

Wahyu yang pertama diterima  Nabi  Muhammad  adalah  sebagai berikut (Surat 96 ayat 1-5):6

"Bacalah  dengan  {menyebut)  nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan  Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Professor  Hamidullah mengatakan dalam Pengantar yang dimuat dalam terjemahan Qur-an bahwa isi dari wahyu pertama  adalah "penghargaan  terhadap  kalam sebagai alat untuk pengetahuan manusia" dan dengan begitu  maka  menjadi  jelas  bagi  kita "perhatian  Nabi  Muhammad untuk menjaga kelangsungan Qur-an dengan tulisan."
 
Beberapa teks menunjukkan secara formal bahwa  lama  sebelum Nabi  Muhammad  meninggalkan  Mekah untuk hijrah ke Madinah, ayat-ayat Quran yang telah diwahyukan kepada  Nabi  Muhammad sudah  dituliskan.  Kita  nanti akan mengetahui bahwa Qur-an membuktikan hal tersebut.

Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya biasa  menghafal  teks-teks  yang  telah  diwahyukan. Adalah tidak masuk akal jika Qur-an menyebutkan hal-hal yang  tidak  sesuai  dengan  realitas, karena hal-hal itu mudah dikontrol disekeliling  Muhammad  yakni  oleh   sahabat-sahabat   yang mencatat Wahyu tersebut.

Empat  Surat  Makiyah  (diturunkan  sebelum  Hijrah) memberi gambaran  tentang  redaksi  Qur-an  sebelum  Nabi   Muhammad meninggalkan Mekah pada tahun 622 M.

Surat 80 ayat 11-1 6:

"Sekali-kali  jangan  (demikian), sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan  itu  adalah  peringatan,  maka  barang   siapa   yang menghendaki, tentulah ia memperhatikan. Di dalam kõtab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan, lagi disucikan. Di tangan para penulis, yang mulia lagi berbakti."

Yusuf  Ali, dalam Terjemah Qur-an yang ditulisnya pada tahun 1936 mengatakan bahwa pada waktu Surat  tersebut  diwahyukan sudah  ada  42  atau  45  Surat  yang beredar di antara kaum muslimin di Mekah (Jumlah Surat-surat  dalam  Qur-an  adalah 114 Surat).

"Bahkan  yang  didustakan  mereka  itu  ialah al Qur-an yang mulia yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz."

"Sesungguhnya Al Qur-an ini adalah bacaan yang sangat  mulia (yang   terdapat)   pada   kitab  yang  terpelihara  (Lauhul Makfudz).  Tidak  menyentuhnya  kecuali   orang-orang   yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam."

"Dan  mereka berkata (lagi). Dongengan-dongengan orang-orang dahulu  dimintanya  supaya  dituliskan,  maka   dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang."

Ayat  tersebut  menyinggung dakwaan para lawan Nabi Muhammad yang  menuduh  bahwa  Muhammad  adalah  Nabi  palsu,  mereka menggambarkan  bahwa ada orang yang mendiktekan sejarah kuno kepada    Nabi    Muhammad     dan     Muhammad     menyuruh sahabat-sahabatnya untuk menulisnya.

Ayat  tersebut menyebutkan: "Pencatatan dengan tulisan" yang didakwakan kepada Muhammad oleh lawan-lawannya.
 Bagian 2
II. KEASLIAN QUR-AN                                 

Suatu Surat  yang  diturunkan  sesudah  Hijrah,  menyebutkan tentang   lembaran-lembaran   yang   di   dalamnya  tertulis perintah-perintah suci.

Surat 98 ayat 2 dan 3:

"Seorang  Rasul  dari  Allah  (yaitu  Nabi  Mahammad)   yang  membacakan  lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur-an). Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus."

Dengan  begitu  maka  Qur-an  sendiri  memberitahukan  bahwa penulisan Quran telah dilakukan semenjak Nabi Muhammad masih hidup. Kita mengetahui bahwa Nabi  Muhammad  mempunyai  juru tulis-juru  tulis banyak, di antaranya yang termashur adalah Zaid bin Tsabit.

Dalam  pengantar  dalam  Terjemahan  Qur-annya  (197)  Prof. Hamidullah  melukiskan  kondisi  waktu  teks  Qur-an ditulis sampai Nabi Muhammad wafat.

Sumber-sumber sepakat untuk mengatakan bahwa tiap kali suatu fragmen  daripada  Qur-an diwahyukan, Nabi memanggil seorang daripada  para  sahabat-sahabatnya   yang   terpelajar   dan mendiktekan kepadanya, serta menunjukkan secara pasti tempat fragmen   baru   tersebut    dalam    keseluruhan    Qur-an.
Riwayat-riwayat  menjelaskan  bahwa setelah mendiktekan ayat tersebut, Muhammad minta kepada juru tulisnya untuk  membaca apa yang sudah ditulisnya, yaitu untuk mengadakan pembetulan jika  terjadi  kesalahan.   Suatu   riwayat   yang   masyhur mengatakan  bahwa  tiap  tahun  pada  bulan  Ramadlan,  Nabi Muhammad membaca ayat-ayat Qur-an yang sudah diterimanya  di hadapan  Jibril.  Pada  bulan Ramadlan yang terakhir sebelum Nabi Muhammad  meninggal,  malaikat  Jibril  mendengarkannya membaca   (mengulangi   hafalan)   Qur-an   dua  kali.  Kita mengetahui  bahwa  semenjak  zaman  Nabi   Muhammad,   kaum muslimin  membiasakan diri untuk berjaga pada bulan Ramadlan dan melakukan ibadat-ibadat tambahan dengan membaca  seluruh Qur-an.  Beberapa  sumber  menambahkan  bahwa pada pembacaan Qur-an yang terakhir di  hadapan  Jibril,  juru  tulis  Nabi Muhammad   yang   bernama  Zaid  hadir.  Sumber-sumber  lain mengatakan bahwa di samping Zaid  juga  ada  beberapa  orang lain yang hadir.

Untuk  pencatatan  pertama,  orang  memakai  bermacam-macarn bahan seperti kulit, kayu, tulang  unta,  batu  empuk  untuk ditatah dan lain-lainnya.

Tetapi  pada  waktu  yang  sama Muhammad menganjurkan supaya kaum muslimin menghafalkan Qur-an, yaitu bagian-bagian  yang dibaca   dalam  sembahyang.  Dengan  begitu  maka  muncullah sekelompok orang yang dinamakan hafidzun (penghafal  Qur-an) yang   hafal   seluruh   Qur-an  dan  mengajarkannya  kepada orang-orang lain. Metoda ganda untuk memelihara teks  Qur-an yakni   dengan   mencatat   dan  menghafal  ternyata  sangat berharga.

Tidak lama setelah  Nabi  Muhammad  wafat  (tahun  632  M.), penggantinya  (sebagai  Kepala  Negara),  yaitu  Abu  Bakar, Khalifah yang pertama, minta kepada juru  tulis  Nabi,  Zaid bin   Tsabit   untuk  menulis  sebuah  Naskah;  hal  ini  ia laksanakan.

Atas initiatif Umar (yang kemudian menjadi Khalifah  kedua), Zaid  memeriksa dokumentasi yang ia dapat mengumpulkannya di Madinah; kesaksian daripada penghafal  Qur-an,  copy  Qur-an yang  dibikin  atas  bermacam-macam  bahan dan yang dimiliki oleh pribadi-pribadi, semua itu untuk menghindari  kesalahan transkripsi  (penyalinan  tulisan)  sedapat  mungkin. Dengan cara ini, berhasillah  tertulis  suatu  naskah  Qur-an  yang sangat dapat dipercayai.

Sumber-sumber  mengatakan  bahwa  kemudian  Umar bin Khathab yang menggantikan Abu Bakar pada tahun 634 M, menyuruh bikin satu  naskah  (mushaf) yang ia simpan, dan ia pesankan bahwa setelah ia mati, naskah tersebut  diberikan  kepada  anaknya perempuan, Hafsah janda Nabi Muhammad Khalifah  ketiga,  Uthman bin Affan yang menjabat dari tahun 644  sampai  655,  membentuk  suatu  panitya  yang   terdiri daripada   para   ahli  dan  memerintahkan  untuk  melakukan pembukuan  besar  yang  kemudian   membawa   nama   Khalifah tersebut.  Panitya  tersebut  memeriksa  dokumen yang dibuat oleh  Abubakar  dan  yang  dibuat  oleh  Umar  dan  kemudian disimpan   oleh   Hafsah,   panitya   berkonsultasi   dengan orang-orang yang hafal Qur-an. Kritik  tentang  autentisitas teks  dilakukan secara ketat sekali. Persetujuan saksi-saksi diperlukan untuk menetapkan suatu ayat  kecil  yang  mungkin mempunyai  arti  lebih  dari  satu;  kita  mengetahui  bahwa beberapa ayat Qur-an dapat menerangkan ayat-ayat  yang  lain dalam  soal ibadat. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat bahwa kerasulan Muhammad adalah sepanjang dua puluh tahun.7

Dengan cara tersebut di atas,  diperolehlah  suatu  teks  di mana  urutan  Surat-surat mencerminkan urutan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika membaca Qur-a:n di bulan  Ramadlan di  muka  malaikat  Jibril seperti yang telah diterangkan di atas.

Kita dapat bertanya-tanya tentang  motif  yang  mendorong  3 Khalifah  pertama, khususnya Uthman untuk mengadakan koleksi dan  pembukuan  teks.  Motif  tersebut   adalah   sederhana; tersiarnya Islam adalah sangat cepat pada beberapa dasawarsa yang pertama  setelah  wafatnya  Nabi  Muhammad.  Tersiarnya Islam  tersebut  terjadi  di  daerah-daerah yang penduduknya tidak  berbahasa  Arab.  Oleh  karena   itu   perlu   adanya tindakan-tindakan  pengamanan  untuk  memelihara  tersiarnya teks Qur-an dalam kemurnian aslinya. Pembukuan Uthman adalah untuk memenuhi hasrat ini.

Uthman   mengirimkan   naskah-naskah  teks  pembukuannya  ke pusat-pusat Emperium Islam, dan oleh karena itu maka menurut Professor Hamidullah , pada waktu ini terdapat naskah Qur-an (mushaf) Uthman di Tasykent8 dan Istambul. Jika  kita  sadar akan  kesalahan  penyalinan  tulisan  yang  mungkin terjadi, manuskrip  yang  paling  kuno  yang  kita  miliki  dan  yang ditemukan di negara-negara Islam adalah identik. Begitu juga naskah-naskah yang ada di Eropa. (Di  Bibliotheque  National di  Paris  terdapat  fragmen-fragmen yang menurut para ahli, berasal dan abad VIII dan IX Masehi,  artinya  berasal  dari abad II dan III Hijrah). Teks-teks kuno yang sudah ditemukan semuanya sama, dengan catatan ada  perbedaan-perbedaan  yang sangat  kecil  yang  tidak  merubah  arti teks, jika konteks ayat-ayat memungkinkan cara membaca  yang  lebih  dari  satu karena   tulisan   kuno  lebih  sederhana  daripada  tulisan sekarang.

Surat-surat Qur-an yang berjumlah 114, diklasifikasi menurut panjang  pendeknya, dengan beberapa kekecualian. Oleh karena itu  urutan  waktu  (kronologi)  wahyu  tidak  dipersoalkan; tetapi  orang  dapat  mengerti hal tersebut dalam kebanyakan persoalan.  Banyak  riwayat-riwayat  yang  disebutkan  dalam beberapa  tempat  dalam  teks,  dan  hal  ini  memberi kesan seakan-akan  ada  ulangan.  Sering  sekali  suatu   paragraf menambahkan  perincian  kepada  suatu riwayat yang dimuat di lain tempat secara kurang terperinci. Dan semua yang mungkin ada  hubungannya  dengan  Sains  modern,  seperti kebanyakan hal-hal yang  dibicarakan  oleh  Qur-an,  dibagi-bagi  dalam Qur-an dengan tidak ada suatu tanda adanya klasifikasi.

Penciptaan langit dan bumi:  Perbedaan dan persamaan riwayat penciptaan langit dan bumi dengan Injil 

III. PENCIPTAAN LANGIT-LANGIT DAN BUMI
 
 
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN DENGAN RIWAYAT DALAM BIBEL
 
Berbeda dengan  Perjanjian  Lama,  Qur-an  tidak  menyajikan suatu  riwayat  yang  menyeluruh tentang penciptaan. Sebagai ganti suatu riwayat yang sambung menyambung,  kita  dapatkan di  beberapa  tempat dalam Qur-an ayat-ayat yang menunjukkan aspek-aspek tertentu daripada penciptaan dan memberi sedikit banyak    perincian    mengenai    kejadian-kejadian    yang menunjukkannya  secara   berturut-turut.   Untuk   mempunyai gambaran  yang jelas tentang bagaimana kejadian-kejadian itu disajikan,  kita  harus  mengumpulkan   bagian-bagian   yang terpisah-pisah dalam beberapa surat.
 
Menyebutkan  sesuatu  kejadian  dalam  beberapa tempat dalam Qur-an  tidak  hanya  khusus  mengenai  penciptaan.   Banyak soal-soal  penting juga dilakukan semacam itu, baik mengenai kejadian-kejadian di  bumi  atau  di  langit  atau  mengenai soal-soal  tentang  manusia  yang  sangat  penting bagi ahli Sains. Bagi  tiap-tiap  kejadian  tersebut,  telah  diadakan suatu pengumpulan ayat-ayat.
  
Bagi   banyak   pengarang   Eropa,  riwayat  Qur-an  tentang penciptaan sangat mirip dengan  riwayat  Bibel,  dan  mereka senang   untuk   menunjukkan  dua  riwayat  tersebut  secara paralel. Saya merasa bahwa ide  semacam  itu  salah,  karena terdapat  perbedaan-perbedaan yang nyata antara dua riwayat. Dalam soal-soal yang penting dari segi ilmiah, kita dapatkan dalam  Qur-an  keterangan-keterangan  yang  tak  dapat  kita jumpai     dalam      Bibel.      Dan      Bibel      memuat perkembangan-perkembangan  yang  tak  ada bandingannya dalam Qur-an.
 
Persamaan yang semu antara  dua  teks  sangat  terkenal;  di antaranya  angka-angka yang berurut tentang penciptaan, pada permulaannya nampak identik; enam  hari  dalam  Qur-an  sama dengan  enam  hari  dalam  Bibel.  Tetapi  pada  hakekatnya, persoalannya adalah lebih kompleks dan perlu diselidiki.

Enam Perioda Penciptaan Langit dan Bumi

Perioda penciptaan langit dan bumi menurut Injil dan Qur'an. 
ENAM PERIODE DARIPADA PENCIPTAAN
 
Riwayat Bibel9 menyebutkan  secara  tegas  bahwa  penciptaan alam  itu  terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti  hari-hari  dalam  satu minggu.   Kita  telah  mengetahui  bahwa  cara  meriwayatkan seperti ini telah dilakukan  oleh  para  pendeta  pada  abad keenam  sebelum  Masehi,  dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktekkan istirahat hari Sabtu; tiap orang Yahudi  harus istirahat  pada  hari  Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan setelah bekerja selama enam hari.
 
Jika kita mengikuti faham Bibel, kata  "hari"  berarti  masa antara   dua  terbitnya  matahari  berturut-turut  atau  dua terbenamnya  matahari  berturut-turut.  Hari  yang   difahami secara  ini  ada  hubungannya  dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang  bahwa  menurut  logika  orang tidak  dapat memakai kata "hari" dalam arti tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari,  yakni adanya   Bumi   serta  beredarnya  sekitar  matahari,  belum terciptakan pada  tahap-tahap  pertama  daripada  Penciptaan menurut  riwayat Bibel; ketidak mungkinan hal ini telah kita bicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini.
 
Jika kita menyelidiki  kebanyakan  terjemahan  Qur-an,  kita dapatkan,  seperti  yang  dikatakan  oleh  Bibel, bahwa bagi wahyu Islam, proses penciptaan berlangsung dalam waktu  enam hari.  Kita  tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah Qur-an karena mereka memberi arti "hari"  dengan  arti  yang sangat lumrah.
 
Kita dapatkan terjemahan Surat 7 (A'raf) ayat 54:  [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari."
 
Sedikit  jumlah   terjemahan   atau   tafsir   Qur-an   yang mengingatkan   bahwa  kata  "hari"  harus  difahami  sebagai "periode."
 
Ada  orang  yang  mengatakan  bahwa  teks  Qur-an   tentang penciptaan  alam  membagi  tahap-tahap  penciptaan itu dalam "hari-hari" dengan sengaja dengan maksud  agar  semua  orang menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam  dan  agar soal penciptaan tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang sangat tersiar luas.
 
Dengan tidak menolak  cara  interpretasi  seperti  tersebut, apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh  Qur-an  sendiri  dan  oleh bahasa-bahasa  pada waktu tersiarnya Qur-an, yaitu kata yaum (jamaknya ayyam).
 
Arti yang paling terpakai  daripada  "yaum"  adalah  "hari," tetapi  kita  harus  bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah  terangnya  waktu  siang  dan  bukan   waktu   antara terbenamnya  matahari  sampai  terbenamnya  lagi. Kata jamak "ayyam" dapat berarti beberapa hari akan tetapi  juga  dapat berarti  waktu  yang  tak  terbatas,  tetapi lama. Arti kata "ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat  lain  dalam Qur-an, surat 32 (Sajdah) ayat 5:
 
     "Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari  perhitungan kamu."
 
Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma'arij) ayat 4, kita dapatkan:
 
     "Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu     tahun."
 
Bahwa kata  "'yaum"  dapat  berarti  "periode"  yang  sangat berbeda  dengan  "hari"  telah  menarik  perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang  tentu  saja  tidak  mempunyai  pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.
 
Maka  Abussu'ud,  ahli  tafsir  abad  XVI  M.  tidak   dapat menggambarkan  hari  yang  ditetapkan  oleh  astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya  bumi  dan  mengatakan  bahwa untuk  penciptaan  alam  diperlukan  suatu  pembagian waktu, bukan dalam "hari" yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam "peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat."
 
Ahli-ahli  Tafsir  modern  mempergunakan  lagi  interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu    mengartikan   "hari"   dalam   ayat-ayat   tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode  yang  panjang, atau "age."
 
Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, Qur-an menunjukkan jarak  waktu  yang  sangat  panjang  yang jumlahnya  enam.  Sains  modern  tidak  memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir  dengan terciptanya  alam dapat dihitung "enam." Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal  bahwa  persoalannya  adalah beberapa  periode  yang sangat panjang, sehingga arti "hari" sebagai yang kita fahami sangat tidak sesuai.
 
Suatu  paragraf  yang  sangat   panjang   dan   membicarakan penciptaan     alam     merangkaikan     riwayat     tentang kejadian-kejadian  di  bumi  dengan   kejadian-kejadian   di langit;  yaitu  surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:
 
 
 
 
Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah     kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya.
 
Kemudian  Dia  menuju  kepada  penciptaan  langit,  dan  dia (langit itu masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi 'Datanglah kamu keduanya menurut  perintahKu dengan   suka   hati   atau  terpaksa.'  Keduanya  menjawab: Kami datang-dengan suka hati.'
 
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa  dan  Dia mewahyukan  pada  tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang  dan Kami   memeliharanya   dengan   sebaik-baiknya.  Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
 
Empat ayat  dari  Surat  41  tersebut  menunjukkan  beberapa aspek; bentuk gas yakni bentuk pertama daripada bahan samawi serta pembatasan  secara  simbolis  bilangan  langit  sampai tujuh.  Kita  akan  melihat  nanti  apa arti angka tersebut. 
Percakapan antara Tuhan di satu pihak dan langit dan bumi di pihak   lain   adalah   simbolis;   maksudnya  adalah  untuk menunjukkan bahwa setelah  diciptakan  Tuhan,  langit-langit dan bumi menyerah kepada perintah-perintah Tuhan.
 
Ada  orang-orang  yang  mengatakan  bahwa  paragraf tersebut bertentangan dengan ayat yang  mengatakan  bahwa  penciptaan itu  melalui  enam  periode. Dengan menjumlahkan dua periode yang merupakan  penciptaan  bumi  dan  empat  periode  untuk pembagian  makanan  bagi  penduduknya  dan dua periode untuk penciptaan langit, kita akan  mendapatkan  delapan  periode, dan  hal  ini  merupakan  kontradiksi  dengan  enam  periode tersebut di atas.
 
Sesungguhnya teks  yang  dimaksudkan  untuk  mengajak  orang berfikir  tentang  kekuasaan Tuhan dengan memulai memikirkan bumi sehingga nanti dapat memikirkan langit,  teks  tersebut merupakan  dua  bagian yang dipisahkan dengan kata: "tsumma" yang berarti: di samping itu (selain daripada  itu).  Tetapi kata tersebut juga berarti: kemudian daripada itu. Maka kata tersebut dapat mengandung  arti  urut-urutan.  Yakni  urutan kejadian   atau   urutan  dalam  pemikiran  manusia  tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi juga  mungkin  hanya  berarti menyebutkan    beberapa   kejadian-kejadian   tetapi   tidak memerlukan arti:  urut-urutan.  Bagaimanapun  juga,  periode penciptaan  langit  dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan  bumi.  Sebentar  lagi  kita  akan   membicarakan bagaimana  Qur-an  menyebutkan  proses  elementer penciptaan alam dan bagaimana hal tersebut  dapat  terjadi  pada  waktu yang sama untuk langit dan bumi sesuai dengan konsep modern.
Dengan   begitu   kita   akan   mengerti   benar   kebolehan menggambarkan simultanitas kejadian-kejadian yang disebutkan dalam fasal ini.
 
Jadi  tak  ada  pertentangan  antara  paragraf   yang   kita bicarakan  dengan  konsep yang terdapat dalam teks-teks yang lain yang ada dalam Qur-an, yakni teks yang mengatakan bahwa penciptaan alam itu terjadi dalam enam periode.

Berbeda dengan Injil, Al-Qur'an tidak menyebutkan secara rinci urutan penciptaan langit dan bumi. 
QUR-AN TIDAK MENUNJUKKAN URUT-URUTAN
DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI
 
Dalam dua paragraf  daripada  Qur-an  yang  baru  saja  kita sebutkan,  terdapat  ayat  mengenai penciptaan langit-langit dan bumi (surat 7 ayat 54), dan di  lain  tempat  disebutkan  penciptaan  bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12), nampak bahwa  Qur-an  tidak  menunjukkan  urut-urutan  dalam penciptaan langit-langit dan bumi.
 
Terdapat  beberapa  ayat  yang  menyebutkan  penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam  surat 20  ayat  4. Akan tetapi terdapat lebih. banyak ayat-ayat di mana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54, surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32 ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27, dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).
 
Jika  kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam Qur-an yang menunjukkan  urutan  penciptaan  secara  formal. Yang  terdapat  hanya  huruf  "wa"  yang artinya "dan" serta fungsinya menghubungkan  dua  kalimat.  Terdapat  juga  kata "tsumma"  yang  sudah  kita bicarakan di atas dan yang dapat menunjukkan, sekedar sesuatu  di  samping  sesuatu  lainnya, atau urutan.
 
Pada  hemat  saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Quran, di   mana   disebutkan   urutan   antara   kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79
 
 
 
Artinya: "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya Dia  meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan  menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi sesudah itu dihamparkannya.  Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung  dipancangkannya dengan teguh Semua itu untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang    ternakmu."
 
Perincian nikmat-nikmat  Dunia  yang  Allah  berikan  kepada manusia,  yang  diterangkan  dalam  bahasa  yang  cocok bagi petani  atau  orang-orang  pengembara  (nomad)  di   Jazirah Arabia,  didahului  dengan  ajakan  untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar   bumi  dan  menjadikannya  cocok  untuk  tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana.   Terang   bahwa   di  sini  ada  dua  hal  yang dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan  kelompok kejadian-kejadian  di  bumi  yang  diterangkan dengan waktu. 
Menyebutkan hal-hal  tersebut  mengandung  arti  bahwa  bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit. Dapat  kita  simpulkan  bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu  tak perlu   memberi  arti  khusus  mengenai  disebutkannya  bumi sebelum langit atau langit  sebelum  bumi  dalam  penciptaan alam.  Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan, jika memang tak ada penentuan dalam hal ini  pada  ayat-ayat lain.
 
Proses   fundamental   daripada   pembentukan   kosmos   dan kesudahannya dengan penyusunan alam
 
Dalam  dua  ayat  Qur-an  disajikan  suatu  sintesa  singkat daripada  fenomena-fenomena yang menyusun proses fundamental tentang pembentukan kosmos.
 
Surat 21 ayat 30:
                                               
 
Artinya: "Dan apakah orang-orang yang kafir    tidak mengetahui bakwasanya langit dan bumi itu  keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
 
Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai berikut:
 
                                             
 
Artinya: "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu  Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah  kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati  atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang   dengan suka hati."
 
Nanti kita akan membicarakan  tentang  asal  kehidupan  yang dikatakan  "air,"  di  samping  masalah-masalah biologi yang terdapat  dalam   Qur-an.   Untuk   sementara   kita   dapat menyimpulkan sebagai berikut:
 
a). Menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan    bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap     itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian  kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair,   dan dalam suhu rendah atau tinggi
    
b). Menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang dipadukan (ratq). Kita tegaskan lagi, "fatq" dalam bahasa  Arab artinya memisahkan dan "ratq" artinya perpaduan atau  persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang  homogen.
 
Konsep kesatuan yang berpisah-pisah menjadi beberapa  bagian telah  diterangkan  dalam  bagian-bagian  lain  dari  Qur-an dengan menyebutkan alam-alam ganda. Ayat pertama dari  surat pertama  dalam  Qur-an  berbunyi:  "Dengan  nama Allah, Maha Pengasih  dan  Penyayang.  Segala  puji  bagi  Allah,  Tuhan sekalian alam."
 
Kata-kata  alamin  (alam-alam)  terdapat berpuluh kali dalam Qur-an. Langit-langit juga disebutkan sebagai  ganda,  bukan saja  dalam  bentuk kata jamak; tetapi dengan angka simbolik yaitu angka tujuh. Angka tujuh dipakai dalam Qur-an 24  kali untuk  maksud  bermacam-macam.  Sering  kali angka tujuh itu berarti "banyak" dan kita tidak tahu dengan  pasti  sebabnya angka   tersebut   dipakai.   Bagi  orang-orang  Yunani  dan orang-orang Rumawi, angka 7  juga  mempunyai  arti  "banyak" yang  tidak  ditentukan. Dalam Qur-an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada  langit,  angka  7  dipakai satu   kali   untuk  menunjukkan  langit-langit  yang  tidak 
disebutkan. Angka 7 dipakai satu kali  untuk  menunjukkan  7 jalan di langit.
 
Bacalah ayat-ayat di bawah ini. Surat 2 ayat 29.
 
 
 
Artinya: "Dialah .Allah, yang menyaksikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh  langit Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."
 
Surat 23 ayat 17.
                                               
 
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami sekali-  kali tidaklah lengah terhadap ciptaan."
 
Surat 67 ayat 3
 
 
Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis- lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang- ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
 
Surat 71 ayat 15-16
 
 
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat- tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?"
 
Surat 78 ayat 12.
 
 
Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat  terang (matahari)."10
 
Untuk ayat-ayat tersebut para  ahli  tafsir  Qur-an  sepakat bahwa angka 7 menunjukkan "banyak" dengan tak ada perinci.11
 
Langit-langit  adalah  banyak, dan bumi juga banyak. Pembaca modern yang membaca Qur-an akan  heran  bahwa  ia  menemukan dalam   suatu   teks   dan   abad   VI   suatu   benda  yang mengatakan bahwa bumi-bumi seperti bumi kita  terdapat dalam kosmos, padahal manusia pada zaman kita sekarang ini, sampai hari ini belum dapat membuktikan.
 
Sesungguhnya surat 65 ayat 12 berbunyi:
                                             
 
 
 
 
Artinya: "Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi, berlaku perintah {Allah) di  antaranya, (Allah menciptakan yang demikian) supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu."
 
Karena angka tujuh menunjukkan "ganda" yang tak  ditentukan, kita  dapat mengambil konklusi bahwa teks Qur-an menunjukkan dengan jelas bahwa tidak hanya  terdapat  suatu  bumi,  bumi manusia,  tetapi  terdapat  bumi-bumi lain yang serupa dalam kosmos ini.
 
Suatu hal lain yang mentakjubkan pembaca Qur-an pada abad 20 ini adalah ayat-ayat yang menyebutkan tiga macam benda-benda yang diciptakan, yaitu:
 
    Benda-benda yang terdapat di langit
    Benda-benda yang terdapat di atas bumi.
    Benda-benda yang terdapat di antara langit-langit dan bumi.
 
Bacalah ayat 6 surat 20:
 
 
Artinya: "KepunyaanNyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semuanya yang di bawah tanah."
 
Surat 25 ayat 59 :
                           
 
 
Artinya: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa."
 
Surat 32 ayat 4 .
       
                                      
 
Artinya: "Allahlah yang menciptakan langit dan bumi  dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam  masa, kemudian Ia bersemayam di atas 'arsy."
 
Surat 50 ayat 38.
                                               
 
Artinya: "Dan sesunggahnya telah Kami ciptaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan."12
 
Kata-kata "yang ada di antara  langit  dan  bumi,"  terdapat juga  dalam  surat 21 ayat 16, surat 44 ayat 7 dan 38, surat 78 ayat 37, surat 15 ayat 85, surat 46 ayat 3 dan  surat  43 ayat 85.
 
Penciptaan   di  luar  langit  dan  bumi  yang  berkali-kali tersebut  dalam   Qur-an,   secara   apnori   kurang   dapat digambarkan.  Untuk  memahami ayat-ayat tersebut, kita perlu kembali kepada penemuan manusia yang paling  modern  tentang adanya  bahan-kosmik  ekstra  galaktik,  dan  untuk itu kita harus mengarah dan yang paling sederhana kepada yang  paling kompleks  dan  mengikuti hasil-hasil Sains masakini mengenai terbentuknya kosmos.  Hal  ini  akan  kita  bicarakan  dalam paragraf yang akan datang.
 
Tetapi  sebelum  memasuki  pemikiran-pemikiran yang bersifat ilmiah murni, saya rasa baik untuk meringkaskan  dasar-dasar pokok  yang  dipakai  oleh  Qur-an  untuk memberi penerangan kepada kita tentang penciptaan kosmos. Menurut hal-hal  yang telah  kita  bicarakan,  dasar-dasar tersebut adalah sebagai berikut:
 
1. Adanya enam penode untuk penciptaan pada umumnya
2. Adanya jaringan yang berkaitan antara tahap-tahap penciptaan langit-langit dan tahap-tahap penciptaan bumi.
3. Penciptaan kosmos mula-mula dari kumpulan yang unik yang merupakan kesatuan dan kemudian terpecah.
4. Terdapatnya banyak langit dan banyak bumi.
5. Terdapatnya benda-benda ciptaan Tuhan antara  langit-langit dan bumi.

Beberapa fakta pembentukan kosmos menurut ilmu pengetahuan. 

BEBERAPA CATATAN SAINS MODERN TENTANG PEMBENTUKAN KOSMOS
 
SISTEM MATAHARI
 
Bumi  dan  planet-planet  yang  beredar   sekitar   matahari merupakan  suatu  alam  yang  teratur yang dimensinya sangat besar bagi ukuran  manusia.  Bukankah  bumi  itu  dipisahkan daripada matahari oleh jarak ± 150 juta km? Jarak ini sangat besar bagi manusia,  tetapi  jarak  itu  sangat  kecil  jika dibandingkan  dengan jarak yang memisahkan matahari daripada planet yang paling jauh dalam sistem matahari. Dengan  angka bulat  jarak  itu  adalah  40  kali lebih besar, jadi kurang lebih 6 milliard km. Lipatan  jarak  tersebut,  yakni  ±  12 milliard  km  menunjukkan dimensi yang terbesar dalam sistem matahari. Cahaya matahari memerlukan waktu  enam  jam  untuk sampai  di  planet  tersebut,  yang  bernama Pluton, padahal cahaya itu mempunyai kecepatan vang dahsyat,  yakni  300-000 km  per  detik.  Tetapi  beberapa  milliard tahun diperlukan cahaya untuk perjalanan dari  bintang-bintang  yang  terjauh sepanjang  pengetahuan  manusia sekarang sampai ke bumi kita ini.
 
GALAKSI
 
Matahari  dari  bumi  kita  ini  merupakan  satu  di  antara satelit-satelit  lain  yang  melingkunginya  hanya merupakan satu unsur yang tak berarti di antara  beribu-ribu  milliard bintang  yang  keseluruhannya  merupakan suatu kumpulan yang dinamakan galaksi. Kita dapat melihat angkasa (space)  penuh dengan  malam musim panas yang indah yang membentuk apa yang dinamakan kabut  susu.-  Kelompok  bintang-bintang  tersebut mempunyai  dimensi yang sangat amat besar. Jika cahaya dapat menempuh seluruh sistem matahari dalam beberapa jam,  cahaya itu  memerlukan 90 ribu tahun untuk memotong jarak dari satu sudut yang paling jauh kepada sudut imbangannya yang  paling jauh dalam suatu kelompok bintang-bintang yang paling kompak yang merupakan galaksi kita.
 
Dan lagi galaksi kita  ini,  yang  begitu  dahsyat  besarnya seperti  yang  kita  lukiskan  di atas, hanya merupakan satu unsur  kecil  daripada  langit.  Terdapat  kumpulan-kumpulan raksasa  daripada  bintang-bintang  yang  mirip dengan kabut susu di luar galaksi kita.
 
Kumpulan-kumpulan raksasa bintang-bintang itu baru diketahui  manusia   50   tahun  yang  lalu,  yaitu  karena  eksplorasi astronomik (penyelidikan  bintang-bintang)  dapat  mengambil manfa'at  dari  alat-alat  optik  yang sempurna seperti alat yang memungkinkan dibuatnya teleskop Mount-Wilson di Amerika Serikat.  Dengan  cara  ini  orang dapat mengetahui sejumlah besar sekali daripada  galaksi  serta  galaksi-galaksi  lain yang terpisah dan terdapat pada jarak-jarak yang sangat amat jauh, sehingga memerlukan ukuran sendiri yaitu ukuran  tahun cahaya   yang  dinamakan  Parsec,  yakni  suatu  jarak  yang ditempuh oleh cahaya dalam 3,26 tahun, dengan kecepatan  300 ribu km per detik.
 
 
FORMASI DAN EVOLUSI GALAKSI, BINTANG-BINTANG DAN
SISTEM-SISTEM PLANETER
  
Apakah yang pernah ada dalam ruang  yang  sangat  amat  luas yang  sekarang  dihuni  oleh galaksi. Sains modern tak dapat memberikan jawaban kepada soal ini,  kecuali  jika  bertolak dan  periode  tertentu  dari  evolusi  kosmos yang Sains itu sendin tak dapat mengira jarak waktu yang memisahkan  antara kita dan kosmos.
 
Sains  modern  berpendapat  bahwa  kosmos telah terjadi dari kumpulan gas yakni hidrogen dan sedikit helium yang berputar secara  pelan  pada  zaman  yang  sangat  kuno. Kumpulan gas tersebut kemudian terbagi menjadi  potongan-potongan  banyak daripada  dimensi  dan kelompok yang sangat besar. Ahli-ahli ilmu astrofisika (fisika bintang) mengirakan  bahwa  dimensi tersebut  adalah  satu  milliard  sampai  100  milliard kali besarnya matahari, dan besarnya matahari adalah 300.000 kali besarnya  bumi.  Angka-angka  tersebut  memberikan  gambaran kepada kita tentang pentingnya kelompok gas  mula-mula  yang kemudian melahirkan galaksi.
 
Pecahan  baru  terjadi  lagi dan melahirkan bintang-bintang. Kemudian terjadilah proses kondensasi  di  mana  daya  tarik (karena  benda-benda itu bergerak dan beredar sangat cepat), tekanan, pengaruh medan-medan magnetik dan radiasi  semuanya memberikan pengaruh.
 
Bintang-bintang  menjadi bercahaya karena perubahan kekuatan daya tarik menjadi energi  panas.  Reaksi  termonuklir  ikut melakukan  peran  dan  karena bercampur maka terjadilah atom berat yang menggantikan  atom  ringan.  Dengan  begitu  maka hidrogen,   menjadi  helium,  kemudian  menjadi  karbon  dan kemudian lagi menjadi oksigen, dan akhirnya  menjadi  logam, kemudian   menjadi   metalloid.   Jadi  bintang-bintang  itu mempunyai  kehidupan  dan  astronomi  modern   telah   dapat menyusun klasifikasi mengenai perkembangan bintang tersebut.
Bintang   itu   juga   mengalami   kematian.   Dalam   tahap perkembangannya  yang  terakhir  terjadi suatu ledakan dalam beberapa bintang dan setelah itu bintang-bintang itu mati.
 
Planet-planet,  khususnya  bumi,   terjadi   karena   proses perpisahan  dari  kumpulan  gas  asli yang pada permulaannya merupakan kumpulan gas primitif.  Semenjak  1/4  abad,  para ahli  sudah  sepakat  bahwa matahari menjadi beku (padat) di dalam gumpalan  utama,  sedang  planet-planet  lain  menjadi padat  di  tengah-tengah  orbit  yang melingkungi bumi. Kita harus ingat dan hal ini sangat penting dalam persoalan  yang kita  hadapi  sekarang,  bahwa  tak  ada  urut-urutan  dalam terjadinya unsur-unsur  samawi  seperti  matahari  dan  juga dalam   unsur  di  bumi.  Yang  terjadi  adalah  paralelisme perkembangan dengan identitas masing-masing.
 
Di sini, Sains memberi keterangan kepada kita tentang  w aktu kejadian-kejadian    tersebut   di   atas   terjadi;   orang memperkirakan umur galaksi kita 10  milliard  tahun,  dan  5 milliard  tahun  kemudian  menurut  hipotesa ini, terjadilah sistem  matahari.   Penyelidikan   tentang   radio-aktivitas menunjukkan  bahwa  bumi  dan  matahari  telah  terjadi  4.5 milliard tahun yang lalu;  menurut  perhitungan  yang  lebih baru,  umur  bumi  dan  matahari dikurangi 100 miliun tahun. Koreksi waktu ini mengherankan;  koreksi  tersebut  berarti: 0.1/4.5 =2.2%, padahal faktanya 100 juta tahun.
 
Mengenai terbentuknya sistem matahari, ahli-ahli astrofisika telah memperoleh data-data tentang proses-proses  umum  yang dapat  diringkaskan.  Perpadatan (kondensasi) dan pengecilan kumpulan    gas    yang    beredar,     perpecahan     dalam potongan-potongan, semua itu telah menghasilkan matahari dan planet-planet,  termasuk  bumi  kita.13  Hasil-hasil   Sains tentang  kumpulan  gas primitif dan caranya berpecah menjadi bintang-bintang  yang  tak  terhitung  jumlahnya  dan   yang terhimpun  dalam  galaksi  telah  membenarkan  secara  pasti konsep adanya alam ganda,  tetapi  tidak  memberi  kepastian tentang adanya sesuatu planet yang menyerupai bumi.
 



 
KONSEP ALAM GANDA
 
Walaupun begitu  ahli-ahli  astrofisika  modern  berpendapat bahwa  sangat  boleh  jadi ada planet-planet yang menyerupai bumi. Mengenai sistem matahari tak ada ahli astrofisika yang mengatakan   kemungkinan   adanya  planet  seperti  bumi  di dalamnya. Oleh karena itu  planet-planet  seperti  bumi  itu harus  dicari  di  luar  sistem matahari, mereka mengira ada kemungkinan terdapatnya planet seperti bumi di  luar  sistem matahari karena alasan-alasan sebagai berikut:
 
Orang  memperkirakan bahwa dalam galaksi kita, seperdua dari 100 milliard bintang, masing-masing mempunyai sistem  planet seperti   sistem   matahari.   Memang  50  milliard  bintang mempunyai rotasi (edaran) yang pelan, dan hal ini  mendorong kita  untuk menduga bahwa ada planet-planet yang melingkung imasing-masing sebagai satelit. Jauhnya  bintang-bintang  itu menyebabkan kita tidak dapat melihat planet-planet tersebut, akan tetapi adanya  planet-planet  satelit  tersebut  sangat boleh  jadi  karena  sifat-sifat  trajektori. Pergelombangan ringan  daripada  trajektori  bintang   menunjukkan   adanya satelit yang menemani bintang tersebut.
 
Sebagai  contoh  bintang  yang diberi nama Bernard mempunyai suatu teman di luar trajektori Jupiter, bahkan  mungkin  ada dua satelit.
 
P. Guerim seorang ahli astrofisika menulis: "Sistem planeter sudah terang, tersebar banyak dalam kosmos, sistem  matahari dan   bumi   tidak   satu-satunya  yang  ada."  Kemudian  ia lanjutkan: "Kehidupan, sebagai planet-planet yang memberinya tempat juga tersebar di seluruh kosmos, dimana saja terdapat kondisi  fisis-kimiawi  yang  diperlukan  untuk   terbukanya kehidupan tersebut dan perkembangannya selanjutnya."
 
MATERI INTERSTELLAIR
 
Proses  pokok terbentuknya kosmos adalah padatan materi dari kelompok gas primitif: terpecahnya  dalam  beberapa  pecahan yang  menjadikan bahan galaksi. Bahan galaksi berpecah-pecah menjadi bintang-bintang dan planet-planet yang lebih  kecil. Perpecahan  yang terus menerus itu meninggalkan elemen pokok yang  dapat  kita  namakan  "sisa"  nama  ilmiahllya:  bahan galaksi interstellair
 
Bahan  galaksi  interstellair dilukiskan dari beberapa aspek yang berlainan. Kadang-kadang dari  aspek  nebula  (kelompok bintang) yang gemerlapan, menyebarkan sinar yang diterimanya dari bintang-bintang lain yang dapat  dibentuk  dengan  debu atau  asap  menurut  istilah  astrofisika; kadang-kadang dan aspek  nebula  yang  remang-remang  dan  tidak  padat,   dan kadang-kadang  dari  bahan-bahan  interstellair  yang  lebih misterius   seakan-akan   untuk   menghalangi    pengambilan gambar-gambar  angkasa. Adanya jembatan materi antar galaksi sudah dapat dipastikan walaupun sangat tidak  padat:  tetapi oleh karena memenuhi ruang yang sangat besar dan galaksi itu berjauhan sekali satu  daripada  lainnya,  gas-gas  tersebut dapat  bertemu  dengan  kelompok  lain  yang  walaupun tidak padat,  dapat  melalui  kumpulan  gas  galaksi.  A.  Boichat mengatakan  bahwa  adanya  kumpulan  gas  antar  galaksi itu sangat penting dan dapat menimbulkan perubahan besar tentang perkembangan kosmos.

Ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam dibandingkan dengan fakta ilmiah. 
BERHADAPAN DENGAN AYAT-AYAT QUR-AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM
 
Marilah  kita  selidiki  lima  dasar  yang  menjadi landasan Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan alam.
 
 I. Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi, menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda samawi, terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat dihuni manusia. Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an     mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah   empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak ada jawaban terhadap soal ini. Tetapi perlu kita perhatikan bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai  yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4,    diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa   jika kita mengambil contoh (satu-satunya contoh yang sudah     mungkin diketahui) daripada pembentukan matahari dan  embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan (kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini  adalah yang dikatakan oleh Qur-an secara jelas dengan proses   yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang  sempurna antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.
    
II. Sains telah menunjukkan simultanitas antara dua  kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan  pembentukan satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya (seperti bumi). Bukankah simultanitas ini telah nampak juga   dalam teks Qur-an seperti yang telah kita ketahui?
    
III. Nampak persesuaian antara wujudnya asap pada permulaan  terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an   untuk menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi  asal kosmos dan konsep Sains modern tentang nebula primitive  (kelompok gas asli).
    
IV. Kegandaan langit-langit yang diterangkan oleh Qur-an dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli astrofisika tentang sistem galaksi dan jumlahnya yang amat besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat   kita fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang Sains belum dapat membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya, para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu     sangat mungkin.
    
 V. Adanya suatu penciptaan pertengahan antara  langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat dimengerti dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi yang terdapat di luar sistim astronomik teratur.
 
Jika segala soal  yang  ditimbulkan  oleh  ayat-ayat  Qur-an sampai  sekarang  belum  dapat diterangkan secara menyeluruh oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat  pertentangan antara  ayat-ayat  Qur-an  dan  pengetahuan  modern  tentang penciptaan kosmos.
 
Kita perlu menggaris bawahi keunggulan Qur-an  setelah  kita mengetahui bahwa teks Perjanjian Lama yang kita miliki telah memberi perincian-perincian tentang penciptaan kosmos tetapi perincian-perincian   itu   tak  dapat  diterima  oleh  ilmu pengetahuan. Kita tidak heran karena kita  tahu  bahwa  teks Sakerdotal (para pendeta) dari Bibel tentang penciptaan alam itu ditulis pada waktu bangsa  Israil  dibuang  ke  Babylon.
Para pendeta Yahudi itu mempunyai maksud-maksud yuridis yang sudah kita terangkan di atas dan mereka itu  telah  menyusun riwayat-riwayat   yang  sesuai  dengan  pandangan  keagamaan mereka.
 
Adanya perbedaan yang  menyolok  antara  riwayat  Bibel  dan riwayat  Qur-an  tentang  penciptaan  kosmos  adalah  sangat menarik perhatian karena semenjak permulaan timbulnya  agama Islam,  Nabi  Muhammad  selalu  dituduh  telah menjiplak isi Bibel. Dalam hal penciptaan kosmos ini, tuduhan semacam  itu sama sekali tidak mempunyai landasan.
 
Bagaimana  14  abad  yang  lalu  seseorang dapat mengkoreksi riwayat   yang   sudah    tersiar    dengan    menghilangkan kekeliruan-kekeliruan  ilmiah  dan  mengemukakan apa yang ia bawakan sendiri yaitu hal-hal  yang  telah  dibenarkan  oleh Sains  pada  abad  kita  ini. Hipotesa semacam itu tak dapat dipertahankan.  Qur-an   membicarakan   penjelasan   tentang penciptaan  kosmos  yang  sangat  berbeda  dengan penjelasan Bibel.

Jawaban terhadap keberatan ahli-ahli Barat mengenai ayat-ayat penciptaan dalam Al-Qur'an. 
JAWABAN TERHADAP BEBERAPA KEBERATAN
 
Tak dapat dibantah  lagi  bahwa  terdapat  persamaan  antara riwayat  Bibel dan riwayat Qur-an mengenai hal-hal lain dari penciptaan-penciptaan,  khususnya  yang   mengenai   sejarah keagamaan.
 
Akan  tetapi kita sangat heran karena di negara-negara Barat orang tidak merasa keberatan  terhadap  Yesus  karena  Yesus menyebutkan  soal-soal  yang  sama  dan ajaran-ajaran Injil, sedangkan mereka (orang Barat) itu mendakwa Muhammad sebagai seorang Nabi palsu karena dalam ajaran-ajarannya menyebutkan hal-hal tersebut serta melukiskannya sebagai  wahyu.  Tetapi mana  buktinya  bahwa  Muhammad telah menjiplak dalam Qur-an hal-hal  yang   para   pendeta   Yahudi   mengajarkan   atau mendiktekannya.  Tak  ada hal yang menguatkan dakwaan mereka kecuali pernyataan bahwa seorang pendeta  masehi  memberikan pendidikan  agama  kepada  Nabi Muhammad. Harap para pembaca meneliti apa yang dikatakan oleh R. Blachere tentang hikayat ini  dalam  karangannya  yang  berjudul:  Soal-soal mengenai Muhammad.
 
Ada juga orang yang mengemukakan  semacam  persamaan  antara isi  ayat-ayat Qur-an dan kepercayaan-kepercayaan pada zaman kuno sekali, lebih kuno daripada Bibel.
 
Secara umum orang ini  mengatakan  bahwa  dalam  kitab-kitab Suci  terdapat  bau-bau  mitos kosmos: umpamanya kepercayaan orang-orang Polynesia tentang adanya  air  asli  kuno  dalam kegelapan,  dan  air itu memisahkan diri setelah ada cahaya. 
Waktu  itulah  langit  dan   bumi   terbentuk.   Jika   kita membandingkan  mitos  ini  dengan  riwayat penciptaan kosmos menurut Bibel, memang kita  merasa  ada  semacam  persamaan, tetapi   sangat   sembrono   untuk  mengatakan  bahwa  Bibel mengambil alih mitos kosmos tersebut. 
 
Juga sembrono sekali untuk menganggap konsep Qur-an  tentang pecahan  materi  asli  yang  menjadi bahan susunan atom pada permulaannya, yaitu suatu konsep  yang  sama  dengan  konsep Sains modern, sebagai konsep berasal dari mitos-mitos kosmos bermacam-macam yang memberikan gambaran yang sedikit  banyak ada persamaannya.
 
Adalah     menarik    untuk    menganalisa    lebih    dekat kepercayaan-kepercayaan dan riwayat-riwayat mitos, karena di sana  ada  titik  tolak  yang  pantas dan dalam beberapa hal sesuai dengan apa yang kita ketahui sekarang atau  apa  yang kita  merasa  mengetahuinya,  tetapi  yang  tereampur dengan lukisan-lukisan khayalan dalam kerangka mitos.
 
Hal itu adalah konsep yang banyak tersiar bahwa  langit  dan bumi  itu  tadinya  bersatu,  kemudian  berpisah. Jika orang menambahkan dalam langit  dan  bumi  gambaran  telor  dengan bibit  di dalamnya dan bumi, seperti yang terjadi di Jepang, maka tambahan khayalan ini akan menghilangkan  nilai  konsep tersebut.
 
Di   negeri-negeri   lain,  orang  menambah  khayalan  suatu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di bumi untuk mengangkat  langit dan  memisahkannya  dari  bumi.  Di  sini khayalan perincian ditambahkan  dan  memberi  ciri  khas   kepada   mitos-mitos tersebut.
 
Tetapi  di samping tambahan-tambahan itu semua ada ciri-ciri umum yang tetap ada, dengan ide adanya kumpulan  bahan  yang unik  pada  permulaan  proses perkembangan kosmos, dan bahan itu berpecah dan akhirnya menjadi alam-alam yang kita kenal.
 
Jika kita menyebutkan mitos-mitos  kosmos  di  sini,  maksud kita adalah untuk menggarisbawahi daya khayalan manusia, dan menunjukkan perbedaan yang dalam antara isi ayat-ayat Qur-an dalam soal penciptaan kosmos ini, yang tidak ditambah dengan perincian-perincian  khayalan  yang  terdapat  dalam  mitos, tetapi,  sebaliknya  disertai  dengan  keagungan  bahasa dan persesuaian dengan hasil-hasil penyelidikan Sains.
  
Dengan keterangan tersebut di atas, ayat-ayat Qur-an tentang penciptaan alam yang diterima sebagai wahyu oleh Muhammad 14 abad yang lalu, tak dapat dikatakan  sebagai  karangan  akal manusia.

Astronomi dalam Al-Qur'an:Di samping ayat-ayat yang khusus menggambarkan penciptaan, ada lebih dari 40 ayat Qur-an yang memberikan kepada astronomi (ilmu bintang) keterangan-keterangan tambahan

IV. ASTRONOMI DALAM QUR-AN
 
Qur-an itu penuh dengan pemikiran-pemikiran tentang  langit. Dalam  fasal  yang  lalu  yang membicarakan penciptaan alam, kita telah melihat bahwa adanya langit-langit dan  bumi-bumi telah  disebutkan; begitu juga tentang adanya ciptaan tengah (antara langit dan bumi) yang telah ditunjukkan kebenarannya oleh  Sains modern. Ayat-ayat tentang penciptaan alam, telah menunjukkan secara  tidak  langsung  ide  umum  tentang  isi langit-langit, artinya tentang segala sesuatu yang berada di luar bumi kita.
 
Di samping ayat-ayat yang khusus  menggambarkan  penciptaan, ada  lebih  dari  40  ayat  Qur-an  yang  memberikan  kepada astronomi  (ilmu  bintang)  keterangan-keterangan  tambahan, sebagian  dari  ayat-ayat  tersebut hanya merupakan renungan tentang keagungan zat Pencipta dan  Pengatur  segala  sistem bintang-bintang  dan  planet-planet  yang  kita ketahui, dan yang dipelihara dalam  keseimbangan  dengan  peraturan  yang diketemukan  oleh  Newton, yaitu peraturan daya tarik antara benda-benda (law of gravitation).
 
Ayat-ayat  pertama  yang  kita  muat  di  sini  tidak   akan memberikan  bahan  untuk  pemikiran ilmiah; maksud ayat-ayat tersebut hanya  untuk  menarik  perhatian  kekuasaan  Tuhan.
Walaupun   begitu   kita  harus  menyebutkannya,  agar  kita memperoleh idea real tentang caranya teks Qur-an menguraikan organisasi kosmos, 14 abad yang lalu.
 
Yang saya katakan ini merupakan suatu fakta baru dalam wahyu Ilahi. Empat Injil dalam Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama   tidak   membicarakan  pengaturan  alam.  (Kita  sudah membicarakan   ketidak   benaran   riwayat   Bibel   tentang penciptaan  alam  secara  umum).  Tetapi Qur-an membicarakan soal penciptaan alam dengan panjang. Apa  yang  dimuat  oleh Qur-an  adalah  penting,  tetapi  apa yang tidak dimuat juga penting. Qur-an tidak memuat teori yang  pada  waktu  Qur-an diwahyukan merupakan teori yang terhormat tentang pengaturan alam samawi akan tetapi yang  oleh  Sains  telah  dibuktikan kesalahannya;  nanti  kita  akan  memberikan contoh hal ini. Untuk sementara, aspek negatif ini perlu digaris bawahi.14
 
A. PEMIKIRAN UMUM TENTANG LANGIT
 
Surat 50 ayat 6, mengenai manusia secara umum:
 
 
 
Artinya: "Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinva dan langit-langit itu tidak  mempunyai retak-retak sedikitpun."
 
Surat 31 ayat 10:
 
 
Artinya: "Dia menciptakan langit tanpa tiang yang  kamu melihatnya."
 
Surat 13 ayat 2:
 
 
Artinya: "Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayan di atas Arsy dan menundukkan matahari   dan bulan."
 
Dua ayat yang  terakhir  ini  merupakan  sangkalan  terhadap kepercayaan  bahwa  langit  itu  dapat  bertahan  karena ada tiang-tiang yang menegakkannya supaya jangan jatuh  di  atas bumi.
 
Surat 55 ayat 7:
 
 
 
Artinya: "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia  telah meletakkan neraca (keadilan)."
 
Surat 22 ayat 65:
                                               
 
 
Artinya: "Dan Dia menahan langit jatuh ke bumi melainkan dengan izinNya."
 
Orang mengetahui bahwa menjauhkan benda-benda  samawi  dalam jarak   yang  sangat  besar  dan  sesuai  dengan  pentingnya benda-benda    tersebut,    merupakan     dasar     daripada keseimbangannya.  Lebih  jauh benda itu, lebih lemahlah daya yang menarik satu benda kepada benda  lainnya.  Lebih  dekat benda  itu,  lebih  kuat  daya  tarik  di antara mereka; ini adalah kasus bulan yang dekat kepada bumi.  Dan  bulan  itu, dengan daya tariknya mempengaruhi posisi air dalam laut atau fenomena pasang surut. Jika dua  benda  samawi  ini  terlalu berdekatan  satu  dengan  lainnya,  maka bentrokan tak dapat dielakkan, maka sikap tunduk kepada suatu perintah merupakan syarat mutlak untuk tidak terjadinya kekacauan.
 
Inilah  sebabnya  menyerahnya  langit-langit kepada perintah Allah seringkali disebutkan.
 
Surat 23 ayat 86:
 
 
 
Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad: Siapa yang mempunyai  langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang  besar?"
 
Kita   telah   mengetahui   bahwa   langit   tujuh   artinya langit-langit  yang  banyak  sekali  dan  tak dapat dibatasi dengan angka. Surat 45 ayat 13:
 
 
Artinya: "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan  apa  yang  ada  di  bumi semuanya (sebagai satu rahmat) daripadaNya. Sesungguhnya pada yang  demikian  itu  terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir."
 
Surat 55 ayat 5:
 
 
Artinya: "Dan matahan dan langit {beredar)   menurut perhitungan."
 
Surat 6 ayat 96:
 
 
Artinya: "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan."
 
Surat 14 ayat 33:
 
 
 
Artinya: "Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari  dan bulan yang terus menerus beredar (dalam  orbitnya) dan telah menundukan bagimu malam dan  siang."
 
Di  sini,  sesuatu  ayat  menyempurnakan  ayat  yang   lain. Perhitungan-perhitungan     yang    disebutkan    di    sini mengakibatkan  peredaran  yang  teratur   dari   benda-benda samawi.  Hal  ini dijelaskan dengan kata "daib" yang berarti bekerja dengan gairah dan  mantap.  Di  sini  berarti  bahwa matahari  dan  bulan  itu  beredar  dengan  hati-hati, terus menerus. Tidak menyimpang dari peraturan yang diberikan:
 
Surat 36 ayat 39:
                                          
 
 
Artinya: "Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir), kembalilah dia sebagai bentuk  tandan yang tua."
 
Ini adalah isyarat kepada melengkungnya  papah  kurma,  yang mengambil   bentuk  bulan  tanggal  muda  selagi  papah  itu mengering. Komentar ini akan diteruskan kemudian.
 
Surat 16 ayat 12:
 
 
 
Artinya: "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya."
 
Qur-an menyebutkan adanya pengaturan  samawi  yang  sempurna ini  dengan  menekankan  faedahnya  untuk  mempermudah gerak manusia di bumi dan di laut, begitu juga  untuk  mempermudah perhitungan  waktu.  Hal  ini  dapat dimengerti dengan mudah jika orang mengingat bahwa  Qur-an  pada  mulanya  merupakan petunjuk  bagi  sekelompok manusia yang hanya dapat memahami bahasa yang sederhana dalam  kehidupan  sehari-hari.  Itulah sebabnya kita dapatkan pemikiran-pemikiran sebagai berikut:
 
Surat 6 ayat 97:
 
 
 
Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang  bagimu, agar  kamu  menjadikannya  petunjuk  dalam  kegelapan  di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami  telah  menjelaskan  tanda-tanda  kebesaran  (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui."
 
Surat 16 ayat 16:
 
 
 
Artinya: "Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan).   Dan dengan bintang-bintang itu mereka mendapat   petunjuk (untuk lalu lintas)."
 
Surat 10 ayat 15:
 
 
 
Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan  bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui."
 
Di sini ada catatan  penting.  Bibel  memberi  sifat  kepada matahari    dan    bulan    dengan    kata   "yang   memberi cahaya"'matahari  dikatakan  besar,  bumi  dikatakan  kecil.
Qur-an   membedakan   antara   matahari   dan  bulan  dengan perbedaan-perbedaan yang lain. Memang  perbedaan  itu  hanya perbedaan  lafal (verbal). Tetapi bagaimana berbicara kepada orang-orang pada waktu itu, dengan tidak menyesatkan, dengan mengatakan  bahwa  matahari  dan  bulan  bukan  planet  yang mempunyai sifat-sifat yang identik.

Penjelasan Al-Qur'an mengenai watak benda-benda samawi, seperti matahari, bulan dan bintang. 

B. WATAK BENDA-BENDA SAMAWI
 
MATAHARI DAN BULAN
 
Matahari adalah cahaya (Diya) dan bulan adalah terang (Nur).Terjemahan  semacam ini nampaknya lebih baik dari terjemahan orang-orang  yang  mencampuradukkan   dua   kata   tersebut.
Sesungguhnya  perbedaan arti antara dua kata tersebut sangat kecil. Diya berasal dari akar (DWJ) yang menurut kamus  Arab Perancis  karangan  Kazimerski,  berarti menyala, mengkilat; tetapi pengarang itu juga memberi  arti  terang  di  samping arti cahaya.
 
Akan  tetapi perbedaan antara matahari dan bulan akan diberi penjelasan dengan jalan perbandingan-perbandingan lain:
 
Surat 25 ayat 6 1 :
 
 
Artinya: "Maha suci Allah yang menjadikan di langit  gugusan bintang dan Dia jadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya."
 
Surat 71 ayat 15-16:
                                              
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah  telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat.  Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya  dan menjadikan matahari sebagai pelita."
 
Surat 78 ayat 12-13:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh Dan Kami jadikan pelita yang amat  terang (matahari)."
 
Lampu yang sangat terang  adalah  pasti  matahari.  Di  sini bulan  dilukiskan sebagai benda yang menyinari (munir), dari akar yang sama dengan kata nur (kata  terang  dipakai  untuk bulan).  Matahari  dibandingkan  dengan  pelita (siraj) atau lampu yang sangat kuat sinarnya (wakhaj).
 
Manusia pada  zaman  Muhammad  dapat  menerima  perbandingan antara  matahari, bintang yang membakar yang sangat terkenal oleh  orang-orang  yang  hidup  di  sahara,  dengan   bulan, bintang,  udara  sejuk  di waktu malam. Perbandingan tentang hal ini yang kita dapatkan dalam Qur-an adalah  wajar.  Y ang sangat  menarik  perhatian  dan  perlu dicatat di sini ialah keagungan perbandingan, dan  tidak  terdapatnya  dalam  teks Qur-an  unsur-unsur  perbandingan yang menunjukkan keagungan pada waktu Qur-an diturunkan tetapi yang nampak  pada  zaman kita sekarang sebagai khayalan.
 
Kita  mengetahui  bahwa  matahari  adalah suatu bintang yang menghasilkan panas yang hebat serta cahaya,  karena  terjadi pembakaran di dalamnya, dan kita mengetahui bahwa bulan yang tidak  mempunyai   cahaya   dan   dirinya   sendiri,   hanya memantulkan  kembali cahaya yang ia terima dari matahari dan ia sendiri merupakan suatu bintang yang  tidak  berkegiatan, sedikitnya  di  lapisan-lapisannya  yang di luar. Dalam teks Qur-an tak  ada  yang  bertentangan  dengan  apa  yang  kita ketahui pada zaman kita ini tentang kedua benda samawi itu.
 
BINTANG-BINTANG
 
Bintang-bintang  adalah seperti matahari, benda-benda samawi yang menjadi wadah  fenomena  fisik  bermacam-macam,    yang diantaranya  yang  paling  mudah  dilihat  adalah  pembuatan cahaya.  Bintang-bintang  adalah  benda-benda  samawi   yang mempunyai cahaya sendiri.
 
Bintang, bahasa ArabnyaNajm disebutkan dalam Qur-an 13 kali. Kata jamaknya "Nujum" akar kata itu  berarti,  nampak.  Kata itu  menunjukkan  suatu  benda  samawi yang dapat kita lihat dengan  tidak  mengerti  lebih   jauh   apakah   benda   itu memancarkan  cahaya  atau  hanya memberikan refleks daripada cahaya yang ia terima dari luar. Untuk memberi gambaran yang tepat  bahwa  suatu  benda  samawi  adalah  benda  yang kita namakan bintang, kita sebutkan surat 86 ayat 13:
 
 
 
Artinya: "Demi langit dan yang datang pada malam hari,  tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari, yaitu bintang yang cahayanya menembus."
 
Bintang pada waktu malam diberi sifat  dalam  Qur-an  dengan kata  "tsaqib,"  artinya  yang  membakar,  dan membakar diri sendiri dan yang menembus. Di sini menembus kegelapan  waktu malam.   Kata   yang   sama  "tsaqib,"  juga  dipakai  untuk menunjukkan bintang-bintang yang berekor;  ekor  itu  adalah hasil pembakaran internal.
 
PLANET-PLANET
 
Adalah  sukar  untuk mengatakan bahwa kata planet-planet itu disebutkan dalam Qur-an dengan arti yang tepat seperti  yang kita   berikan   kepada   planet-planet  yang  kita  ketahui sekarang.  Planet-planet  itu   sendiri   tidak   bercahaya. Planet-planet  tersebut  beredar sekitar matahari. Bumi kita adalah salah satu  dari  planet-planet  tersebut.  Jika  ada orang  menduga akan adanya planet lain, planet itu halus ada dalam  sistem  matahari.   Dan   semenjak   dahulu   manusia mengetahui planet-planet selain bumi, yaitu: mercury, venus, mars, yupiter, saturnus. Ada lagi tiga planet yang ditemukan kemudian yaitu: uranus, neptunus dan pluton.
 
Nampaknya  Qur-an  menamakan  planet itu dengan nama Kaukab. Kata   jamaknya   Kawakib,   tetapi   tanpa   memberitahukan jumlahnya.  Impian  Nabi Yusuf menyebutkan sebelas (surat 12 atau surat Yusuf) akan tetapi ini adalah riwayat impian Nabi Yusuf.
 
Untuk  menjelaskan  arti  kata planet (Kaukab) dalam Qur-an, kita baca ayat yang sangat masyhur  yang  arti  sesungguhnya nampak  bersifat  spiritual  dan  juga dipersoalkan diantara para ahli tafsir Qur-an. Walaupun begitu, kata  itu  penting karena  ada  perbandingan  mengenai  kata  yang  menunjukkan "planet."
 
Teks tersebut adalah sebagai berikut: Surat 24 ayat 35:
 
                                               
 
Artinya: "Allah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita    besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti  mutiara."
 
Yang dimaksudkan di sini adalah proyeksi cahaya kepada suatu benda  yang  merefleksikan  (kaca) dengan memberinya kilatan mutiara, sebagaimana  planet  yang  disinari  matahari.  Ini adalah  satu-satunya  perinci  yang  menerangkan  arti  kata "Kaukab" yang dapat kita jumpai dalam Qur-an.
 
Kata  Kaukab  terdapat  juga  dalam  ayat-ayat  lain.  Dalam beberapa   ayat   kita  tak  dapat  menentukan  apakah  yang dimaksudkan dengan kata itu. (Surat 6 ayat 72, dan surat  82 ayat 1-3).
 
Akan  tetapi  dalam  suatu  ayat terdapat kata"Kawakib" yangmenurut pengetahuan modern  hanya  dapat  diartikan  planet.
Yaitu surat 37 ayat 6
 
 
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang    terdekat dengan hiasan yaitu planet-planet.,'
 
Kalimat Qur-an: "Langit yang terdekat"  dapatkah  diartikan: sistem  matahari?  Kita  mengetahui  bahwa  tak  terdapat di antara benda-benda samawi yang terdekat kepada  kita  selain planet.  Matahari  adalah  bintang satu-satunya dalam sistem ini yang pakai nama. Orang tak dapat mengerti, benda  samawi apa  gerangan  yang  dimaksudkan  dalam  ayat tersebut, jika bukan planet. Rasanya  sudah  benar  jika  kita  terjemahkan "Kawakib"  dengan  "planet;"  dan  ini  berarti bahwa Qur-an menyebutkan adanya "planet" menurut definisi modern


Tidak ada komentar:

Posting Komentar