1. Injil Karangan Matius
INJIL KARANGAN MATIUS
Di antara empat Injil, Injil Matius adalah yang pertamadalam urutan kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Baru. Hal ini memang tepat oleh karena Injil Matius hanya merupakan kelanjutan dan Perjanjian Lama. Injil tersebut ditulis untuk menunjukkan bahwa "Yesus telah menamatkan sejarah Bani Israil" yaitu seperti yang dikatakan oleh para pengarang "Terjemahan Ekumenik daripada Bibel" yang akan banyak kita kutip. Karena maksud tersebut di atas, Matius selalu mengutip dari Perjanjian Lama, serta menunjukkan bahwa Yesus telah berbuat sebagai Al Masih (Pemimpin yang diakui oleh rakyat dengan upacara mengusapkan minyak kasturi kebadannya) yang telah lama dinanti oleh orang-orang Yahudi.
Injil ini bermula dengan menyebutkan silsilah keturunan Yesus.10 Matius rnenunjukkan bahwa asal-usul Yesus itu sampai kepada nabi Ibrahim melalui nabi Dawud. Kita akan menemukan kesalahan teks yang biasanya dianggap sepi oleh para ahli tafsir Injil. Bagaimanapun keadaannya, maksud Matius adalah jelas, yaitu untuk mempergunakan hubungan keturunan dengan Ibrahim sebagai bukti bahwa karangannya itu mempunyai suatu tujuan dan maksud. Matius mengikuti garis yang sama dengan selalu menonjolkan sikap Yesus terhadap hukum-hukum Yahudi yang mengandung tiga prinsip besar yaitu: sembahyang, puasa dan sedekah.
Yesus ingin menyampaikan ajarannya pertama-tama kepada rakyatnya. Ia berkata kepada para rasul yang dua belas: "Jangan mengikuti jalannya orang kafir dan jangan masuk ke kotanya orang-orang Samara;11 lebih baik. Pergilah kepada domba-domba Bani Israil yang hilang" (Matius 15, 24). Pada akhir Injilnya, Matius memperluas tugas para murid-murid Yesus yang pertama dan melukiskan Yesus sebagai memerintahkan: "Pergilah dan timbulkan pengikut-pengikut dari segala bangsa (Matius 28, 19), tetapi permulaan dakwah harus diutamakan untuk Bani Israil." Mengenai Injil Matius ini, A. Tricot menulis: "Injil Matius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri Yahudi."
Pandangan-pandangan tersebut di atas menempatkan asal Injil Matius dalam tradisi masyarakat Yahudi Kristen, yang sebagaimana dikatakan oleh O. Culmann, berusaha sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dan ikatan agama-agama Yahudi, tetapi dengan tetap memelihara kontinuitas Perjanjian Lama. Pokok-pokok perhatian dan nada kitab Injil Matius pada umumnya menunjukkan adanya situasi yang tegang.
Faktor-faktor politik juga terasa dalam teks. Pendudukan Kerajaan Romawi di Palestina menyalakan semangat bangsa Yahudi untuk mencapai kemerdekaan, dan mereka berdo'a kepada Tuhan untuk membantu bangsa yang Ia pilih daripada bermacam-macam bangsa. Tuhannya Israil adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan yang dapat memberi bantuan langsung dalam urusan-urusan manusia, sebagaimana Ia telah berbuat berkali-kali dalam sejarah.
Siapakah Matius itu? Kita mengatakan dengan tegas bahwa pada waktu sekarang ia tidak lagi dianggap sebagai sahabat Yesus. A. Tricot menggambarkan Matius dalam tafsirnya terhadap Terjemahan Perjanjian Baru tahun 1960 sebagai berikut: "Matius alias Levi adalah seorang pegawal kantor bea cukai di distrik Kafrna'um ketika ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu dari pengikut-pengikutnya." Begitulah yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin Gereja seperti Origene, Yerome dan Epihane. Tetapi sekarang orang berpendapat lain; suatu hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa Matius adalah seorang Yahudi, kata-katanya adalah kata-kata dari daerah Palestina, sedang susunan kata-katanya adalah Yunani. Pengarang (Matius) mengarahkan karangannya kepada kelompok yang berbicara dengan bahasa Yunani, mengetahui adat kebiasaan Yahudi dan bangsa Aramaik; begitulah menurut O. Culmann.
Menurut ahli-ahli tafsir "Terjemahan Ekumenik," asal usul Injil Matius adalah sebagai berikut: "Biasanya orang berpendapat bahwa Injil Matius ditulis di Syria atau di Phenisie karena di tempat tersebut terdapat banyak orang-orang Yahudi.12 Kita dapat merasakan suatu polemik melawan agama Yahudi Sinago g yang ortodoks yang dianut oleh kaum Parisi sebagaimana yang terjadi dalam Konferensi Sinagog di Yamina kira-kira pada tahun 80. Dalam keadaan keadaan semacam itu banyak pengarang-pengarang yang mengatakan bahwa Injil Matius ditulis di antara tahun 80 90, atau mungkin lebih dahulu sedikit, karena tak ada cara untuk mencari kepastian."
"Oleh karena kita tidak mengetahui nama pengarang yang sesungguhnya, maka kita akan terpaksa merasa puas dengan sifat-sifat yang diterangkan dalam Injil tersebut; pengarang dapat dikenal dengan pekerjaannya. Ia mahir dalam pengetahuan tentang kitab-kitab suci, tradisi Yahudi, kenal dan menghormati pembesar-pembesar agama daripada bangsanya tetapi menghadapkan persoalan-persoalan kepada mereka dengan kasar; ia mahir dalam mengajar dan dalam memperkenalkan Yesus kepada para pendengar, selalu mendesakkan akibat-akibat praktis tentang ajaran-ajarannya, ia membalas baik terhadap sinyalemen seorang Yahudi terpelajar yang menjadi pemeluk agama Kristen, seorang pemilik rumah yang dapat mengeluarkan dari simpanannya hal-hal yang baru atau lama, seperti yang dikatakan oleh Matius 13, 52. Dengan gambaran seperti di atas, kita menjadi jauh daripada seorang pegawai kantor di Kafrna'um yang diberi nama Levi oleh Markus dan Lukas dan kemudian menjadi salah satu daripada dua belas orang sahabat Yesus.
Semua orang setuju untuk mengatakan bahwa Matius menulis Injilnya dengan mengambil bahan daripada sumber yang sama dengan sumbernya Markus dan Lukas. Akan tetapi riwayatnya berlainan dalam hal-hal yang pokok sebagai yang akan kita lihat nanti. Walaupun begitu Matius telah mempergunakan Injil Markus, padahal Markus bukan muridnya Yesus," begitulah kata O. Culmann.
Matius bersikap liberal (bebas) terhadap teks-teks. Kita akan menemukannya mengutip silsilah keturunanYesus dari Perjanjian Lama dan diletakkannya pada permulaan Injilnya. Ia menyelipkan dalam Injilnya hikayat-hikayat yang tak dapat dipercayai (incroyable). Kata: "tak dapat dipercayai" adalah kata yang dipakai oleh R.P. Kannengiesser pada bukunya Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi (Percaya terhadap hidup kembalinya Yesus, kembali hidupnya kepercayaan) dalam hikayat hidupnya Yesus kembali, yakni dalam hal yang mengenai "pengawal." Ia menunjukkan "kurang bobotnya sejarah pengawal militer kuburan; pengawal militer kuburan itu adalah tentara Kafir yang tidak ada hubungannya dengan atasan mereka, akan tetapi mereka melapor kepada para pendeta besar yang menggaji mereka untuk mengatakan kebohongan-kebohongan." Tetapi R.P. Kannengiesser menambahkan: "Kita tidak boleh mencemoohkan, karena maksud Matius adalah sangat baik, oleh karena ia mempersatukan bahan-bahan kuna tradisi lisan dengan karya yang ditulisnya. Penyajiannya mirip dengan Yesus Christ Superstar.13
Penelitian-penelitian tentang Matius ini berasalkan dari seorang besar ahli teologi, seorang Professor dari Lembaga Katolik di Paris.
Matius menyebutkan dalam tulisannya kejadian-kejadian yang berbarengan dengan matinya Yesus; ini adalah suatu contoh lain tentang khayalannya. Beginilah bunyinya: Setelah tutup daripada tempat suci itu robek menjadi dua, dari atas ke bawah, maka bumipun bergeraklah, batu-batu luluh, kuburan-kuburan menjadi terbuka, mayat-mayat para wali menjadi hidup. Setelah Yesus bangkit kembali, mayat-mayat hidup itupun masuk ke kota suci dan memperlihatkan diri kepada orang banyak.
Paragraf daripada Matius ini (27, 51-53) tak ada bandingannya dalam Injil-Injil lainnya. Kita tidak mengerti bagaimana mayat-mayat para wali dapat bangun hidup kembali pada waktu wafatnya Yesus (malam Sabat seperti yang tersebut dalam Injil-Injil) dan tidak keluar dari kuburan mereka sampai Yesus bangkit kembali {keesokan hari sesudah Sabat, menurut sumber-sumber itu juga).
Barangkali hanya dalam Injil Matius kita dapatkan kekeliruan-kekeliruan yang sangat menyolok dan tidak dapat dipertahankan lagi, yaitu hal yang dilukiskan sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Yesus.
Matius meriwayatkan dalam Injilnya (12, 38-40) dongengan tentang alamat Yunus:
Yesus berada di tengah-tengah para ahli agama Yahudi dan orang-orang Parisi yang berkata kepadanya: "Ya Tuan. Guru, kami mengharap tuan Guru menunjukkan suatu alamat kepada kami," Yesus menjawab: "Generasi jahat dan pelacurlah yang minta suatu alamat. Tak ada suatu alamat yang akan diberikan kepadanya kecuali alamat nabi Yunus. Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut monster tiga hari dan tiga malam, begitu juga anak manusia (Yesus sendiri) akan berada di dalam tanah tiga hari dan tiga malam." (teks terjemahan Ekumenik).
Sebagai tersebut di atas, Yesus mengumumkan bahwa ia akan berada dalam tanah tiga hari dan tiga malam. Padahal Matius dan juga Lukas dan Markus menyebutkan dalam Injil mereka, bahwa wafatnya Yesus dan penguburannya terjadi pada hari Sabtu malam. Ini berarti bahwa Yesus berada di dalam tanah selama tiga hari. Akan tetapi semua kejadian itu hanya mengandung dua malam.14
Biasanya para ahli tafsir Injil menutup mulut terhadap hikayat ini. Meskipun begitu R.P. Rouguet menunjukkan kekeliruan tersebut karena ia mengatakan bahwa hari itu hanya ada satu hari penuh, dan dua malam. Tetapi R.P. Rouguet menambahkan: "tetapi kalimat-kalimat itu diringkaskan dan hanya mempunyai satu arti yaitu tiga hari." Adalah menyedihkan jika kita melihat para ahli tafsir memakai argumentasi-argumentasi yang tidak mempunyai arti positif, padahal seandainya mereka mengatakan bahwa ketidak serasian itu disebabkan oleh kekeliruan yang membuat naskah, keterangan mereka akan sangat memuaskan akal dan pikiran.
Yang menjadi ciri-ciri Injil Matius selain kekeliruan-kekeliruan tersebut di atas, adalah bahwa Injil Matius merupakan Injil kelompok Yahudi Kristen yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi, tetapi tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matius ini mempunyai arti yang sangat penting jika di pandang dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.
2. Injil Karangan Markus
INJIL MARKUS
Injil Markus adalah Injil yang paling pendek, tetapi ia adalah Injil yang paling tua. Ia bukan buku karangan seorang sahabat Yesus, akan tetapi karangan seorang murid sahabat Yesus.
O. Culmann menulis bahwa ia tidak menganggap Markus sebagai murid Yesus, akan tetapi ia mengingatkan kepada mereka yang sangsi akan kebenaran anggapan bahwa Injil itu ditulis oleh Markus seorang rasul atau sahabat Yesus, bahwa "Matius dan Lukas tidak akan mempergunakan Injil tersebut seandainya mereka tidak yakin bahwa Injil Markus didasarkan pada ajaran seorang Rasul." Tetapi argumentasi seperti ini tidak meyakinkan. O. Culmann juga mengutip untuk menguatkan "reserve"nya bahwa Injil tersebut memuat banyak kutipan-kutipan dari seorang. "Yahya yang digelari Markus" dalam Perjanjian Baru, akan tetapi kutipan-kutipan tersebut tidak menyebutkan nama seorang pengarang Injil, dan teks Markus sendiri juga tidak menyebutkan pengarangnya.
Kurangnya penerangan, tentang hal ini menyebabkan para ahli tafsir menganggap perincian-perincian yang bersifat khayalan sebagai hal yang berharga, contohnya sebagai berikut: berdasarkan anggapan bahwa Markus adalah satu-satunya pengarang Injil yang meriwayatkan kejadian penyaliban Yesus, hikayat seorang muda yang hanya memakai sehelai kain untuk pakaiannya, kemudian ketika ditangkap, ia menanggalkan sehelai kain tersebut serta lari telanjang (Markus 14, 51-52), banyak orang mengambil konklusi bahwa pemuda tersebut adalah Markus, seorang murid yang setia yang berusaha mengikuti gurunya (Terjemahan Ekumenik). Bagi beberapa orang lainnya dapat dilihat di sini "dengan kenang-kenangan pribadi, suatu bukti kebenaran, suatu tanda tangan anonime, membuktikan bahwa ia adalah saksi mata" (O. Culmann).
Bagi pengarang ini "banyak pemutaran kata-kata menguatkan hipotesa bahwa pengarang Injil Markus adalah seorang Yahudi," tetapi adanya latinisme (bentuk kesusasteraan latin) memberi kesan bahwa pengarang tersebut menulis Injilnya di kota Roma. "Ia berbicara kepada orang-orang Kristen yang tidak tinggal di Palestina, dan ia berusaha untuk menjelaskan kalimat-kalimat Aramaik yang ia pergunakan."
Tradisi menggambarkan, Markus sebagai teman Petrus di Roma. Ini didasarkan atas kata penutup daripada surat Petrus yang pertama, jika Petrus memang betul-betul orang yang menulis surat tersebut. Petrus telah menulis dalam suratnya: "Kelompok orang-orang yang terpilih yang ada di Babylon kirim salam kepadamu, begitu juga Markus, anakku," Babylon amat boleh jadi Roma, begitu kita dapatkan dalam tafsir Terjemahan Ekumenik, sehingga orang mengira dapat mengambil konklusi bahwa Markus yang bersama Petrus berada di Roma adalah penulis Injil Markus. Apakah pemikiran semacam itulah yang mendorong Papias, uskup Hierapolis pada kira-kira tahun 150 untuk mengatakan bahwa yang mengarang Injil adalah Markus, juru bahasa Petrus dan seorang yang juga bekerja sama dengan Paulus?
Dengan kaca mata ini, orang menempatkan penyusunan Injil Markus sesudah matinya Petrus, yakni paling pagi antara tahun 65 dan 70 menurut "Terjemahan Ekumenik," atau kira-kira tahun 70 menurut O. Culmann.
Teks Injil Markus menunjukkan suatu cacat yang besar, karena ditulis tanpa mengindahkan kronologi. Dengan begitu Markus menyebutkan dalam permulaan Injilnya (1, 16-20), hikayat empat orang nelayan yang dilatih oleh Yesus dengan katanya: "Kamu akan menjadi pembaru manusia," pada saat mereka belum kenal dengan Yesus. Pengarang Injil tersebut juga menunjukkan ketidak mampuan menilai kebenaran.
Seperti yang dikatakan oleh R.P. Rouguet, Markus adalah seorang penulis yang kurang pandai, "yang paling bodo h di antara para pengarang Injil." Ia tidak mengerti bagaimana menulis hikayat. Ahli tafsir Injil menyandarkan penilaian ini kepada paragraf yang meriwayatkan kelembagaan 12 rasul, yang terjemahan harfiahnya sebagai berikut: "Ia naik ke atas gunung dan mengundang mereka yang ia kehendaki, mereka datang kepadanya. Ia menjadikan 12 orang itu supaya bersama dengannya, supaya Ia dapat mengirim mereka mencari ikan dan mempunyai kekuatan untuk mengusir setan. Dan ia membuat 12 orang dan memaksakan nama Petrus kepada Simon" (Markus 3, 13-16).
Dalam beberapa hikayat, Markus berkontradiksi dengan Matius dan Lukas seperti yang kita pernah lihat berhubung dengan alamat Yunus. Di samping itu mengenai alamat yang diberikan oleh Yesus kepada beberapa orang selama Yesus bertugas, Markus (8, 11-12) meriwayatkan suatu dongengan yang tak dapat dipercaya, "orang-orang Parisi datang dan mulai bicara dengan Yesus; untuk menjebak Yesus, mereka minta suatu alamat yang datang dari langit. Sambil menunjukkan keluhan yang dalam, Yesus berkata: mengapa generasi ini minta alamat? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tak ada alamat yang akan diberikan kepada generasi ini. Ia meninggalkan mereka, naik di atas perahu kecil dan berangkat ke daratan sebelah."
Ini tidak dapat disangkal lagi adalah karena penegasan dari Yesus sendiri tentang niatnya tidak akan melakukan sesuatu perbuatan yang supernatural. Oleh karena itu ahli-ahli tafsir daripada Terjemahan Ekumenik heran karena Lukas menerangkan bahwa Yesus hanya akan memberikan satu alamat, yaitu alamat Nabi Yunus (silahkan baca Injil Matius), dan merasakan kontradiksi karena Markus berkata "generasi ini tidak akan mendapatkan sesuatu alamat, dan kemudian mereka memperingatkan kepada mukjizat yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri sebagai alamat" (Lukas.7, 22 dan 11, 20). Seluruh Injil Markus dianggap Canon (kanon) secara resmi. Akan tetapi kita ingat bahwa akhir Injil Markus ( 16, 9-20) dianggap oleh ahli-ahli modern sebagai suatu karya yang ditambahkan. Terjemahan Ekumenik tegas dalam hal ini. Bagian terakhir tersebut tidak dimuat dalam dua manuskrip kuno Injil yang komplit, yaitu Kodex Vatikanus dan Kodex Sinaitikus dari abad IV. Mengenai hal ini O. Culmann menulis: Manuskrip-manuskrip Yunani yang lebih baru dan beberapa versi telah menambah suatu konklusi yang tidak ditulis oleh Markus sendiri tetapi diambil dari beberapa Injil. Sesungguhnya versi bagian terakhir yang ditambahkan adalah banyak. Dalam teks kadang-kadang terdapat versi panjang, kadang-kadang terdapat versi pendek (dua-duanya telah diterbitkan dalam Terjemahan Ekumenik), kadang-kadang versi panjang dengan tambahan dan kadang-kadang kedua versi bersama.
R.P. Kannengiesser memberi komentar sebagai berikut: orang terpaksa menghapuskan ayat-ayat terakhir ketika Injil Markus diterima secara resmi oleh masyarakat yang menjamin, begitu juga ketika Injil Markus dicetak untuk awam. Baik Matius, maupun Lukas atau Yahya tidak tahu bagian yang ditinggalkan Injil Markus. Walaupun begitu kekosongan tersebut sangat terasa. Lama sesudah itu ketika Injil-Injil Matius, Lukas dan Yahya telah tersiar, orang mengumpulkan bagian terakhir dari Injil Markus dengan mengambil dari kiri dan kanan, dari para pengarang Injil lainnya, menjadi mudahlah untuk mengulangi bagian-bagian tebakan ini dengan membaca Markus (16, 9-20). Dengan begitu orang akan mendapatkan suatu ide yang kongkrit tentang kebebasan para pengarang dalam membentuk susunan literer hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad II.
Tak ada pengakuan tentang adanya manipulasi teks suci yang dilakukan oleh manusia lebih terang dari pikiran-pikiran tersebut yang dicetuskan oleh seorang ahli teologi yang besar.
3. Injil Karangan Lukas
INJIL LUKAS
Menurut O. Culmann, Lukas adalah pencatat berita, danmenurut R.P. Kannengiesser, Lukas adalah penulis roman.Lukas menulis dalam Pendahuluan Injilnya, bahwa banyakorang lain menulis riwayat Nabi Isa, maka ia akan menulis riwayat tentang kejadian-kejadian yang sama dengan mempergunakan hikayat dan informasi dari saksi-saksi mata (ini secara tidak langsung berarti bahwa Lukas bukan saksi mata) dan informasi-informasi yang datang dari ceramah-ceramah para rasul. Dengan begitu maka yang ia sajikan dengan syarat-syarat tersebut adalah suatu karya yang tersusun menurut metode:
Pendahuluan:
1. Sedangkan banyak orang sudah mencoba mengarang hikayat dari hal segala perkara yang menjadi yakin di antara kita.
2. Sebagaimana yang diserahkan kepada kita oleh orang, yang dari mulanya melihat dengan matanya sendiri dan menjadi pengajar Injil itu.
3. Maka tampaknya baik kepadakupun, yang telah menyelidiki segala perkara itu dengan betul-betul dari asalnya, menyuratkan bagimu dengan peraturannya, hai Teopilus yang mulia.
4. Supaya engkau dapat mengetahui kesungguhan segala sesuatu yang diajarkan kepadamu.
Dari baris-baris pertama kita sudah dapat merasakan perbedaan antara Lukas dengan Markus, seorang penulis yang kurang mahir yang bukunya telah kita bicarakan. Injil Lukas adalah suatu karya sastra yang tak dapat dipungkiri, tertulis dalam bahasa Yunani yang murni.
Lukas adalah seorang kafir yang terpelajar dan kemudian memeluk agama Kristen. Orientasinya terhadap orang Yahudi nampak sekali. Seperti yang dikatakan oleh Culmann, Lukas tidak mengutip kembali ayat-ayat yang berbau Yahudi dalam Injil Markus, dan menonjolkan kata-kata Yesus terhadap ketidak imannya orang-orang Yahudi, serta menonjolkan pula hubungannya yang baik dengan orang-orang Samaritan yang tidak disukai oleh orang-orang Yahudi, sedangkan Matius, seperti yang telah kita lihat, melukiskan bahwa Yesus minta kepada para sahabatnya untuk menjauhkan diri dari orang Yahudi. Ini adalah satu daripada beberapa contoh bahwa para penulis Injil dengan melukiskan Yesus mengatakan hal-hal yang sesuai dengan selera pribadi mereka.
Mereka itu meriwayatkan kata-kata Yesus dengan versi yang dipilih menurut pandangan kelompok mereka.
Bagaimana kita dapat mengingkari bahwa Injil adalah: "bukuperjuangan" atau "buku mengenai suasana tertentu " seperti yang telah kita katakan? Perbandingan antara susunan umum Injil Lukas dengan susunan umum Injil Matius memberi bukti tentang hal tersebut.
Siapakah Lukas itu? Orang ingin mengidentifikasikan Lukas dengan seorang tabib dengan nama yang sama, yaitu yang disebut oleh Paulus dalam surat-suratnya. Terjemahan Ekumenik mengatakan bahwa "banyak orang yang mendapatkan konfirmasi mengenai pekerjaan Lukas pengarang Injil sebagai seorang tabib dalam kepandaiannya untuk mendiagnosa orang sakit." Keterangan ini adalah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Lukas tidak pernah memperoleh keterangan tentang penyakit "kata-kata yang ia pakai adalah kata orang-orang terpelajar pada zaman itu." Memang ada seorang bernama Lukas yang menjadi teman perjalanan Paulus. Apakah orang itu Lukas Pengarang Injil? Inilah yang dikira-kirakan oleh O.Culmann.
Tahun ditulisnya Injil Lukas dapat dikira-kira menurut beberapa faktor. Lukas telah mempergunakan Injil Markus dan Injil Matius. Kita membaca dalam Terjemahan Ekumenik sebagai berikut: "nampaknya ia tahu tempat kota Yerusalem serta reruntuhannya yang disebabkan oleh tentara Titus pada tahun 70. Dengan begitu maka Injil Lukas telah ditulis sesudah itu. Ahli-ahli kritik sekarang berpendapat bahwa Injil Lukas ditulis sekitar tahun 80-90; tetapi ada juga yang mengatakan tahun sebelum itu.
Bermacam-macam Hikayat dalam Injil Lukas menunjukkan perbedaan besar dengan Injil-Injil sebelumnya. Di atas kita telah memberikan gambaran singkat. Terjemahan Ekumenik telah membicarakannya pada halaman 181 dan selanjutnya O. Culmann dalam karangannya: "Perjanjian Baru," halaman 18 memuat hikayat-hikayat Injil Lukas yang tidak terdapat dalam Injil-Injil lain. Hal ini tidak mengenai perincian.
Hikayat tentang masa kanak-kanak Yesus dalam Injil Lukas adalah hanya terdapat dalam Injil Lukas. Matius memberikan riwayat yang berbeda, sedangkan Markus tidak memuatnya sama sekali.
Matius dan Lukas memberi silsilah keturunan Yesus yang berbeda-beda. Ada kontradiksi penting, kekeliruan yang sangat besar dari segi ilmiah sehingga perlu dibahas dalam bab khusus. Kita dapat mengerti bila Matius yang menghadapi orang-orang Yahudi, menyebutkan silsilah keturunan Yesus dan dimulai dengan Nabi Ibrahim sampai Nabi Daud. Kita dapat memahami pula jika Lukas seorang yang mula-mula kafir kemudian memeluk agama Kristen, memberikan silsilah keturunan sampai yang lebih tinggi. Akan tetapi kita akan menemukan bahwa bermula dengan Nabi Daud silsilah-silsilah keturunan itu berkontradiksi.
Tugas kenabian Yesus diriwayatkan oleh Lukas, Matius dan Markus secara berbeda-beda dalam beberapa hal.
Suatu kejadian yang sangat penting bagi umat Kristen, yaitu lembaga Ekaristi;15 diriwayatkan secara berbeda oleh Lukas di satu pihak dan oleh Matius dan Markus di pihak yang lain. R.P. Rouguet menulis dalam bukunya, Pengantar kepada Injil (Initiation a l'Evangile), halaman 75 bahwa kata-kata Yesus yang menjadi dasar kelembagaan Ekaristi diriwayatkan oleh Lukas (22, 19-24) dalam bentuk yang sangat berbeda dengan riwayat Matius (26, 26-29) dan riwayat Markus (14, 22-24). Kedua yang terakhir ini boleh dikatakan sama atau identik. Sebaliknya susunan yang diriwayatkan oleh Lukas sangat mirip dengan susunan Paulus (surat pertama kepada orang Korintus 11, 23-25).
Sebagaimana orang mengetahui, Lukas dalam Injilnya meriwayatkan Kenaikan Al Masih dalam susunan yang berkontradiksi dengan riwayat yang terdapat dalam fasal-fasal Perbuatan-perbuatan para Rasul-rasul yang merupakan bagian penting daripada Perjanjian Baru dan yang Lukas sendiri dianggap sebagai penulisnya. Dalam Injilnya, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih itu terjadi pada hari Paskah, sedang dalam: Kisah Perbuatan Para Rasul, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih terjadi 40 hari sesudah Paskah.16 Kontradiksi ini telah mendorong para ahli tafsir Injil untuk memberi tafsiran-tafsiran yang ajaib.
Akan tetapi ahli tafsir yang mementingkan obyektifitas seperti penulis-penulis Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, terpaksa mengakui, dalam suatu rangka yang umum bahwa: "Bagi Lukas, perhatian pertama bukan untuk meriwayatkan kejadian secara tepat dalam arti ketepatan material." R.P. Kannengiesser membandingkan riwayat yang terdapat dalam: "Kisah Perbuatan Para Rasul" yang juga karangan Lukas, dengan riwayat tentang kejadian yang sama yang diberikan oleh Paulus. R.P. Kannengiesser menulis: "Di antara empat pengarang Injil, Lukas adalah yang paling berperasaan dan yang paling sastrawan. Ia menunjukkan semua sifat-sifat penulis roman."
4. Injil Karangan Yahya
INJIL YAHYA
Injil Yahya adalah sangat berbeda dengan tiga Injil lainnya, sedemikian rupa sehingga R.P. Rouguet dalam bukunya Pengantar kepada Injil, setelah memberi tafsiran kepada ketiga Injil yang pertama, mengatakan bahwa Injil Yahya merupakan "Dunia yang lain." Memang begitu. Sesungguhnya Injil Yahya merupakan buku yang sangat berlainan; kita dapatkan di dalamnya perbedaan dalam tertib susunannya, dalam hikayatnya, dalam uraian-uraiannya, perbedaan gaya bahasa, perbedaan geografis dan kronologis bahkan perbedaan dalam pandangan teologi (O. Culmann). Dengan begitu maka kata-kata Yesus diriwayatkan oleh Yahya dan oleh ketiga pengarang Injil lainnya secara berbeda. R.P. Rouguet menjelaskan bahwa "Injil-Injil Sinoptik17 meriwayatkan kata-kata Yesus dalam style yang bernada perintah keras dan lebih dekat dengan gaya orang bicara." Dalam Injil Yahya segala sesuatu bernada "berfikir," sedemikian rupa sehingga kita dapat bertanya apakah Yesus yang bicara atau ide yang dicetuskan Yesus itu kemudian diperpanjang secara tidak sadar dengan pemikiran-pemikiran pengarang Injil.
Siapakah pengarang Injil Yahya? Persoalan ini banyak diperdebatkan dan memang terdapat bermacam-macam pendapat. A. Tricot dan R.P. Rouguet yakin bahwa Injil Yahya dikarang oleh seorang saksi-mata. Pengarangnya adalah Yahya, anak Zebede , saudara Yakob ini adalah seorang sahabat Yesus yang segi-segi hidupnya sudah terkenal dan terpapar dalam buku-buku pelajaran agama bagi awam. Seni gambar populer melukiskannya berdampingan dengan Yesus pada waktu santapan terakhir, sebelum pensaliban. Siapa yang dapat menggambarkan bahwa Injil Yahya bukan karangan Yahya, sahabat Yesus yang gambarnya tersebar di mana-mana?
Bahwa Injil keempat ini ditulis pada waktu yang sangat terlambat tidak menjadi argumentasi formal untuk melawan anggapan di atas. Pendapat yang definitif mengatakan bahwa Injil Yahya dikarang pada akhir abad pertama. Gambaran bahwa Injil Yahya ditulis 60 tahun sesudah Yesus dapat terasa sesuai dengan adanya seorang sahabat yang sangat muda pada waktu hidupnya Yesus, dan kemudian berumur panjang hampir satu abad.
R.P. Kannengiesser dalam penyelidikannya tentang kebangkitan Yesus berkesimpulan bahwa tak seorangpun di antara pengarang-pengarang Perjanjian Baru, kecuali Paulus, yang dapat dikatakan saksi mata terhadap kelanjutan Yesus. Walaupun begitu, Yahya meriwayatkan tentang Yesus menampakkan dirinya kepada 12 sahabatnya, termasuk Yahya sendiri, yang sedang berkumpul, tetapi Thomas tidak hadir (Yahya, 20, 19-24). Kemudian kejadian tersebut terulang; Yesus nampak kepada 12 sahabatnya yang berkumpul lengkap.
O. Culmann, dalam bukunya Perjanjian Baru tidak membicarakan hal tersebut.
Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel mengatakan bahwa kebanyakan para pengeritik tidak dapat menerima anggapan bahwa Injil Yahya adalah karangan Yahya sahabat Yesus; memang tak ada kemungkinan bahwa anggapan awam itu benar. Akan tetapi semua orang berpendapat bahwa teks Injil Yahya itu dikarang oleh beberapa penulis. Ada kemungkinan besar bahwa Injil Yahya yang kita miliki disiarkan oleh murid-murid pengarang. Mereka itu telah menambah fasal 21, dan tidak ada keragu-raguan lagi bahwa mereka juga menambah catatan-catatan (fasal 4, 2 dan mungkin fasal 4, 1, 4, 44, 7, 37b, 11, 2, 19, 35), mengenai hikayat wanita yang berzina, semua orang sependapat bahwa sumber daripada hikayat tak dapat diketahui, dan hikayat itu diselipkan kemudian. (Walaupun begitu termasuk dalam Injil Kanon). Paragraf 19, 35 nampak sebagai pernyataan dari seorang saksi mata (O. Culmann); ini adalah satu-satunya paragraf yang memberikan kesan tersebut, tetapi para ahli tafsir Injil berpendapat bahwa paragraf tersebut adalah paragraf tambahan.
O. Culmann berpendapat bahwa tambahan-tambahan baru nampak dalam Injil Yahya fasal 21, pasti merupakan karya seorang murid yang memasukkan perubahan dalam tubuh Injil Yahya.
Dengan tidak menyebutkan hipotesa-hipotesa y ang diajukan oleh para ahli tafsir Injil, catatan-catatan yang datang dari pengarang-pengarang Kristen yang ternama dan yang mengenai persoalan siapa yang menulis Injil Yahya, menunjukkan kepada kita bahwa mereka berada dalam kebingungan. Nilai sejarah daripada riwayat-riwayat Yahya juga banyak dibantah.
Perbedaannya dengan ketiga Injil lainnya adalah besar.
O. Culmann mengatakan bahwa Yahya mempunyai pikiran-pikiran teologi yang berbeda dengan pengarang-pengarang Injil lainnya. Perbedaan teologi ini, menjadi pedoman untuk memilih kata-kata Yesus yang diriwayatkan, dan cara meriwayatkannya. Dengan begitu maka Yahya sering memperpanjang kata-kata tersebut, dan melukiskan Yesus yang kita ketahui dalam sejarah mengatakan, apa yang dikatakan oleh Ruhul Kudus kepadanya. Bagi ahli tafsir Injil ini, (O. Culmann) itulah sebabnya perbedaan antara Injil Yahya dan Injil-Injil yang lain.
Sudah terang kita dapat menggambarkan bahwa Yahya yang menulis Injilnya sesudah pengarang-pengarang lain dapat memilih hikayat-hikayat yang lebih dapat menerangkan idenya; kita tidak perlu heran jika kita tidak menemukan dalam Injil Yahya hal-hal yang dapat kita temukan dalam Injil-Injil yang lain. Terjemahan Ekumenik menyebutkan beberapa hal semacam itu (halaman 282). Tetapi yang mengherankan kita adalah adanya kekosongan-kekosongan. Kekosongan-kekosongan itu ada yang hampir tak dapat dipercaya seperti hikayat lembaga Ekansti. Kita tak dapat menggambarkan bahwa hikayat yang sangat penting bagi agama Kristen dan kemudian menjadi tiang (pokok) bagi liturginya yaitu misa, bahwa hikayat tersebut tidak disajikan oleh Yahya, seorang pengarang Injil yang terbaik. Dan Yahya hanya puas dengan menceritakan bagaimana Yesus membasuh kaki murid muridnya, meramalkan pengkhianatan Yudas dan pengingkaran Petrus kepadanya.
Sebaliknya ada hikayat-hikayat yang diceritakan oleh Yahya tetapi tak tersebut dalam Injil-Injil yang lain.
Terjemahan Ekumenik menyebutkan hikayat-hikayat tersebut pada halaman 283. Mengenai hal ini orang dapat mengatakan bahwa ketiga pengarang Injil Sinoptik tidak dapat menemukan dalam hikayat yang diriwayatkan oleh Yahya sesuatu arti yang penting. Tetapi kita tentu merasa heran karena membaca Injil Yahya yang memuat hikayat Yesus yang sudah hidup kembali menampakl;an dirinya kepada murid-muridnya di pinggir danau Tabariah (Yahya 21, 1-14); hikayat tersebut adalah reproduksi daripada hikayat mencari ikan yang disebutkan oleh Lukas (5, 1-11) dengan banyak tambahan. Yahya menceritakan hikayat tersebut seakan-akan kejadian yang terjadi pada waktu Yesus masih hidup. Dalam Hikayat ini Lukas menyebutkan bahwa Yahya juga ada, yakni Yahya yang kemudian mengarang Injil Yahya
Hikayat Injil Yahya tersebut merupakan bagian dari fasal 21 yang semua penyelidik sepakat bahwa fasal tersebut adalah tambahan. Dengan mudah kita dapat menggambarkan bahwa disebutkannya nama Yahya dalam hikayat Lukas akan dapat memasukkannya secara buat-buatan dalam Injil keempat. Bahwa untuk keperluan tersebut orang harus merubah hikayat dari zaman Yesus masih hidup menjadi hikayat yang diriwayatkan sesudah Yesus tidak ada lagi, hal ini tidak dapat memberhentikan tindakan orang-orang yang bertujuan merobah teks Injil.
Ada lagi suatu perbedaan besar antara Injil Yahya dengan ketiga lnjil lainnya, yaitu soal berapa lama Yesus melakukan tugasnya. Markus, Matius dan Lukas mengatakan hanya satu tahun, sedangkan Yahya mengatakan lebih dari dua tahun O. Culmann mengikuti Yahya.
Terjemahan Ekumenik mengatakan sebagai berikut:
"Injil-Injil Sinoptik menyebutkan periode Galilia yang panjang, kemudian diteruskan dengan perjalanan agak panjang ke Yudea, kemudian menetap sebentar di Yerusalem; sebaliknya Yahya menceritakan Yesus sering pindah dari satu daerah ke daerah lain, tetapi lama di Yudea, khususnya di Yerusalem ( I, 19-51 . 2, 13-36. 5, 1-47. 14, 20-31). Ia menyebutkan beberapa keramaian Paskah (2, 13, 5, 1. 6, 4, 11, 55) dan dengan begitu memberi kesan bahwa Yesus bertugas lebih dari dua tahun
Siapa yang kita percaya? Markuskah atau Matius atau Lukas atau Yahya?
SUMBER-SUMBER INJIL
Kesan umum tentang Injil yang kita dapatkan dari penyelidikan kritis terhadap teks adalah bahwa Injil-lnjil "merupakan literatur yang kurang sempurna penyusunannya," "yang tidak menunjukkan kontinuitas" dan "yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang tak dapat diatasi." Penilaian tersebut kita pinjam dari Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, suatu buku yang penting sekali untuk kita jadikan referensi, oleh karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang gawat. Kita telah membaca dalam bagian lain catatan-catatan mengenai sejarah kontemporer tentang agama, bahwa kelahiran Injil-Injil dapat menerangkan ciri-ciri literatur yang membingungkan ini bagi pembaca yang menggunakan pikirannya.
Akan tetapi kita perlu menyelidiki lebih jauh dan mencari yang dapat kita peroleh daripada karangan-karangan yang diterbitkan pada zaman modern ini mengenai sumber-sumber yang memberi bahan-bahan kepada pengarang Injil untuk menyusun teks mereka; adalah menarik juga untuk menyelidiki apakah sejarah teks-teks Injil setelah dibukukan dapat menerangkan aspek-aspek Injil yang sekarang kita baca.
Persoalan sumber ini telah dibicarakan secara sederhana sekali pada zaman Pendeta-pendeta Gereja (zaman Pertengahan). Pada abad-abad pertama Masehi, sumber Injil adalah Injil yang pertama tersusun dari manuskrip-manuskrip komplit, yakni Injil Matius. Soal sumber hanya mengenai Injil Lukas dan Markus. Injil Lukas merupakan kasus yang berdiri sendiri. Agustinus menganggap bahwa Markus, yaitu nomor dua dalam urutan Injil tradisional, mendapat inspirasi dari Injil Matius yang ia ringkaskan, dan bahwa Lukas yang merupakan pengarang Injil ketiga dalam manuskrip telah mempergunakan Injil Markus dan Matius. Pendahuluan Injil Lukas memberi kesan semacam itu.
Para ahli tafsir Injil pada waktu itu dapat juga memberikan gambaran tentang persamaan (convergensi) teks-teks dan menemukan ayat-ayat yang sama dalam dua atau tiga Injil Sinoptik. Para ahli tafsir Terjemahan Ekumenik daripada Bibel memberikan angka-angka sebagai berikut:
Ayat-ayat sama dalam tiga Injil Sinoptik adalah 330
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Matius adalah 178
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Lukas adalah 100
Ayat-ayat sama dalam Injil Matius dan Lukas adalah 230
dan ayat-ayat yang khusus bagi tiap-tiap pengarang Injil adalah: 330 ayat untuk Matius, 53 untuk Markus dan 500 untuk Lukas.
Dari zaman para pendeta-pendeta Gereja sampai akhir abad ke XVIII, 1500 tahun telah lewat dan tak ada masalah baru mengenai sumber-sumber pengarang Injil; orang hanya mengikuti tradisi. Hanya pada zaman modern inilah orang mengerti bahwa tiap pengarang Injil, walaupun mengambil informasi yang ada pada pengarang lain, ia menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan pandangan pribadinya. Oleh karena, itu orang mulai memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, di satu pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan di lain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramaik yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin merupakan hanya satu kumpulan yang utuh, atau merupakan bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai oleh tiap-tiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.
Penyelidikan-penyelidikan yang mendalam semenjak satu abad telah mengungkapkan teori-teori yang berkembang dan menjadi rumit. Teori pertama adalah teori dua sumber daripada Holtzmann (tahun 1863). Menurut teori ini sebagai yang dijelaskan oleh O. Culmann dan Terjemahan Ekumenik, Matius dan Lukas memakai pertama bahan Markus, dan kedua suatu dokumen yang sekarang hilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing memakai satu sumber sendiri. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Sumber khusus
untuk Matius
|
|
|--> Matius <--|
Markus --| |-- Dokumen bersama
|--> Lukas <--|
|
|
Sumber khusus
untuk Lukas
O. Culmann mengkritik teori tersebut sebagai berikut:
1. Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius belum tentu Injil Markus, akan tetapi suatu karangan lain yang ditulis sebelumnya.
2. Dalam teori tersebut tradisi lisan kurang diperhatikan, pada hal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya tiap-tiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang menentukan tradisi lisan.
Dengan begitu maka kita sampai kepada suatu pikiran bahwa Injil-Injil yang kita miliki telah memberi kita suatu gambaran tentang kehidupan dan kegiatan Yesus yang diketahui oleh Masyarakat Kristen Primitif (asli), begitu juga tentang akidah-akidah mereka, konsep-konsep teologi mereka yang ditulis oleh juru bicara mereka, yakni para pengarang Injil.
Penyelidikan-penyelidikan yang lebih modern tentang kritik teks terhadap sumber-sumber Injil menunjukkan bahwa tersusunnya teks-teks tersebut telah melalui proses yang lebih kompleks. La Synopse des quatre Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P. Benoit dan R.P. Boismard, guru-guru besar sekolah Bibel di Yerusalem (tahun 1972-1973) menekankan perkembangan teks dalam tahap-tahap yang sama dengan perkembangan tradisi. Hal tersebut menimbulkan akibat-akibat yang disebutkan oleh R.P. Benoit dalam membicarakan bagian yang ditulis oleh R.P. Boismard:
"Bentuk-bentuk kata-kata atau hikayat yang terjadi setelah perkembangan yang lama tidak mempunyai autentitas (kebenaran) yang terdapat dalam kata-kata asli. Barangkali banyak para pembaca yang heran atau kesal jika mereka mengetahui bahwa kata-kata Yesus, atau kiasannya atau ramalannya tentang nasibnya tidak pernah diucapkan seperti yang kita baca, akan tetapi sudah di retouche (diperbaiki) atau disesuaikan oleh orang-orang yang meriwayatkannya. Bagi mereka yang tidak biasa dengan penyelidikan sejarah semacam ini, hal ini mungkin menyebabkan keheranan bahkan kehebohan."
Perbaikan teks dan penyesuaian yang dilakukan oleh mereka yang meriwayatkan teks tersebut kepada kita dilakukan menurut cara yang oleh R.P. Boismard digambarkan secara terperinci karena persoalan itu merupakan sambungan daripada teori dua sumber. Gambar atau skema itu dibuat setelah mengadakan penyelidikan dan perbandingan teks yang tak dapat diringkaskan di sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat membaca bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf.
Ada empat macam dokumen pokok yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C, dan Q.
Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.
Dokumen B adalah reinterpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, kecuali Matius.
Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.
Dokumen Q merupakan bagian besar daripada sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebutkan dalam "teori dua sumber" yang tersebut di atas.
Di antara 4 macam dokumen tersebut tak ada yang menjadi teks definitif yang sekarang kita miliki, antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara, yaitu yang oleh pengarangnya teori tersebut dinamakan: Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara (intermedier) itulah yang akhirnya menjadi Injil empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dan satu Injil-Injil. Di bawah ini adalah gambar yang menunjukkan silang-silang kompleks. '
Hasil daripada penyelidikan seperti ini adalah sangat penting, karena dapat menunjukkan bahwa teks-teks Injil yang mempunyai sejarah (hal ini akan kita bicarakan kemudian) juga mempunyai pra-sejarah, menurut istilah Boismard, artinya bahwa teks-teks tersebut telah mengalami perubahan-perubahan selama dalam tahap intermedier, sebelum mempunyai bentuk yang definitif.
Dengan begitu, sekarang menjadi terang soal-soal seperti: riwayat ajaib tentang Yesus menangkap ikan. Riwayat tersebut dilukiskan oleh Lukas sebagai kejadian yang terjadi waktu Yesus masih hidup dan dilukiskan oleh Yahya sebagai hikayat Yesus menampakkan diri sesudah dibangkitkan sesudah mati
R.P. BOISMARD
Ringkasan empat Injil
SKEMA UMUM
Dokumen Q ->|
|-> Matius inter
Dokumen A ->|
Dokumen A ->|
|
Dokumen B ->|-> Markus inter
|
Dokumen C ->|
Dokumen B ->|
|
Dokumen C ->|
|-> Proto Lukas ->|
Dokumen Q ->| |-> Lukas final
| Markus inter ->|
Matius inter ->|
Proto Lukas ->|
|
Markus inter ->|-> Markus final
|
Matius inter ->|
Matius inter ->|
|-> Matius final ->|
Markus inter ->| |
|
|-> Yahya final
Dokumen B ->| |
| |
Dokumen C ->|----> Yahya ----->|
|
Proto Lukas ->|
Keterangan:
a, b, c, q = dokumen-dokumen dasar;
Mat. inter. = Matius intermedier
Mark. inter. = Markus intermedier
Proto Lukas = Lukas intermedier
Yahya = Yahya intermedier
Mat. final = redaksi final Matius
Mark. final = redaksi final Markus
Lukas final = redaksi final Lukas
Yahya final = redaksi final Yahya
Konklusi dari semua ini adalah bahwa dengan membaca Injil, kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca kata-kata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi ganti (kompensasi) sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus, ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada juru bahasa yang disahkan oleh Yesus, yang setelah pernah bicara di dunia ini sekarang berbicara dari langit.
Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa beberapa teks Injil tidak autentik, dengan kalimat-kalimat Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi yang meyakinkan kepada kita tentang terjadinya transmisi (periwayatan) yang jujur daripada kata-kata Yesus: "Injil empat yang diakui oleh Gereja tanpa ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan bagi keselamatan abadi, yaitu selama ia hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit."
Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil penyelidikan Sekolah Bibel di Yerusalem telah membantah keras deklarasi Konsili Vatikan II.
SEJARAH TEKS
Adalah salah jika kita mengira bahwa setelah disusun, Injil itu merupakan Kitab Suci pokok bagi agama Kristen, sehingga orang membaca dan mempergunakannya sebagai orang Yahudi membaca dan menggunakan Perjanjian Lama. Pada waktu itu yang menjadi autoritas adalah tradisi lisan yang membawakan kata-kata Yesus dan ajaran sahabat-sahabatnya. Tulisan pertama yang beredar dan bernilai sebelum Injil adalah surat-surat Paulus; bukankah surat-surat itu telah ditulis beberapa puluh tahun sebelum Injil?
Kita sudah membicarakan bahwa sebelum tahun 140 tak ada bukti bahwa orang mempunyai kumpulan tulisan-tulisan Bibel, walaupun beberapa orang ahli tafsir Injil menulis yang sebaliknya daripada itu. Kita harus menunggu sampai tahun 170 untuk melihat Injil memperoleh kedudukan literatur Kanon.
Pada tahun-tahun pertama setelah munculnya agama Kristen, beredarlah berrnacam-macam tulisan mengenai Yesus. Tulisan-tulisan itu tidak dianggap autentik dan Gereja memerintahkan supaya tulisan-tulisan itu disembunyikan. Inilah asal timbulnya kata: apokrif (Injil yang disembunyikan). Dari pada teks tulisan-tulisan tersebut ada sebagian yang terpelihara baik karena mendapat penghargaan umum, seperti surat atau ajaran Barnabas, tetapi banyak lainnya yang dijauhkan secara brutal sehingga yang ada sekarang hanya sisa-sisanya dalam bentuk fragmen. Begitulah yang dikatakan oleh Terjemahan Ekumenik. Karena dianggap sebagai penyebab kesesatan, maka tulisan-tulisan tersebut dianggap tidak ada. Walaupun begitu, karangan seperti Injil orang-orang Nazaret, Injil orang Ibrani, Injil orang Mesir yang diketahui oleh pendeta-pendeta gereja, mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan Injil Kanon. Begitu juga Injil Tomas dan Injil Barnaba.
Diantara tulisan-tulisan apokrif (yang diperintahkan Gereja supaya disembunyikan) banyak yang memuat perinci-perinci yang bersifat khayalan, yaitu yang dihasilkan oleh imaginasi orang awam.
Banyak pengarang-pengarang tentang Injil aprokrif menyebutkan dengan rasa puas paragraf-paragraf yang menertawakan. Akan tetapi pengarang-pengarang semacam itu sesungguhnya dapat ditemukan dalam semua Injil. Kita masih ingat gambaran kejadian-kejadian khayalan yang oleh Matius dikatakan telah terjadi pada waktu matinya Yesus. Orang dapat menemukan paragraf-paragraf yang tidak serius dalam tulisan-tulisan puluhan tahun pertama daripada agama Kristen; tapi perlu kejujuran untuk mengenal tulisan-tulisan itu.
Terlalu banyaknya tulisan-tulisan mengenai Yesus mendorong Gereja yang sedang dalam pengorganisasian untuk melenyapkannya. Mungkin seratus Injil telah dimusnahkan. Hanya empat Injil tetap dipelihara untuk dimasukkan dalam daftar resmi naskah-naskah yang kemudian dinamakan "Kanon."
Pada pertengahan abad II, Marcion mendesak pembesar-pembesar agama untuk mengambil sikap. Ia adalah musuh yang sangat benci terhadap orang-orang Yahudi. Ia menolak seluruh Perjanjian Lama, dan tulisan-tulisan yang muncul sesudah Yesus tidak ada lagi, yang nampak dekat atau berasal dari tradisi Yahudi Kristen. Marcion hanya mengakui tulisan-tulisan Paulus dan Injil Lukas, oleh karena ia mengira bahwa Lukas adalah juru bicara Paulus.
Gereja memaklumkan bahwa Marcion adalah orang murtad, dan memasukkan dalam Kanon segala surat-surat Paulus, serta Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya, dan menambahnya dengan beberapa tulisan lagi seperti Perbuatan Para Rasul. Meskipun begitu daftar resmi selalu berubah menurut waktu selama abad-abad pertama Masehi. Tulisan-tulisan yang kemudian dianggap tidak berharga (apokrif) termasuk dalam Kanon untuk sementara waktu, dan tulisan-tulisan yang termasuk dalam Kanon yang sekarang (Perjanjian Baru), pada waktu itu tidak termasuk di dalamnya. Rasa keragu-raguan menguasai tulisan-tulisan tersebut berlangsung sampai Konsili Hippione pada tahun 393 dan Konsili Carthage tahun 397.
Tetapi Injil empat selalu termuat di dalam Kanon Kristen bersama. R.P. Boismard menyesalkan sekali hilangnya literatur yang banyak itu yang diputuskan oleh Gereja sebagai apokrif, oleh karena literatur tersebut mempunyai nilai sejarah yang besar, Boismard sendiri dalam bukunya Ringkasan empat Injil' menilai tulisan-tulisan yang hilang itu sama pentingnya dengan Injil yang empat yang resmi. Buku-buku tersebut masih ada dalam perpustakaan-perpustakaan pada akhir abad IV M.
Abad IV adalah waktu pemberesan yang serius. Manuskrip Injil yang komplit dan yang tertua ditulis pada abad itu. Dokumen-dokumen sebelum itu, papirus-papirus abad III, satu papirus yang mungkin berasal daripada abad II hanya mengandung fragmen-fragmen. Dua manuskrip tua dari kulit adalah manuskrip Yunani dari abad IV. Dua manuskrip tersebut adalah: Codex Vatikanus yang kita tak tahu tempat penggaliannya, disimpan di Perpustakaan Vatikan dan yang satu lagi, Codex Sinaitikus yang terdapat di gunung Sinai sekarang disimpan di British Museum di London. Manuskrip ini mengandung dua tulisan apokrif.
Menurut Terjemahan Ekumenik di Dunia ini ada 250 manuskrip kulit, yang paling akhir adalah dari abad XI. Tetapi semua copy Perjanjian Baru yang sampai kepada kita adalah tidak sama, ada perbedaan-perbedaan penting, dan perbedaan itu banyak jumlahnya. Perbedaan-perbedaan itu ada yang hanya mengenai perincian gramatika, kalimat, atau urut-urutan kata, tetapi ada juga perbedaan yang merubah arti seluruh paragraf. Jika kita ingin mengetahui perbedaan teks, kita dapat membaca Novum Testamentum Graece (Perjanjian Baru Yunani). Buku tersebut memuat teks Yunani "tengah-tengah" yakni teks sintese, dengan catatan-catatan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam versi yang bermacam-macam.
Keaslian (autentitas) sesuatu teks manuskrip selalu dapat diperdebatkan, Codex Vatikanus dapat kita jadikan contoh. Penerbitan Vatikan pada tahun 1965 dibubuhi suatu peringatan asli yang mengatakan "beberapa abad sesudah copy asli (lebih-kurang abad X atau XI), seorang tukang naskah telah mengulangi tulisan manuskrip tersebut dengan tinta kecuali huruf-huruf yang dikira salah." Ada bagian-bagian daripada manuskrip tersebut di mana terdapat huruf-huruf asli dengan wama coklat masih tetap kelihatan, dan merupakan kontras dengan teks yang lain yang ditulis dengan warna coklat tua. Kita tak dapat mengatakan bahwa perbaikan naskah itu dilakukan secara jujur. Peringatan tersebut di atas juga mengatakan: Belum dapat dibedakan secara definitif tangan-tangan yang banyak jumlahnya yang mengkoreksi atau menambah manuskrip asli selama berabad-abad; memang ada koreksi yang dibuat ketika teks tersebut diperbarui (dengan tinta baru). Padahal dalam semua teks, manuskrip-manuskrip selalu dikatakan sebagai copy abad IV. Kita harus membandingkan suatu teks dengan teks yang disimpan di Vatican untuk mengetahui apakah ada tangan-tangan yang merubah teks tersebut beberapa abad kemudian.
Orang dapat membantah dan mengatakan bahwa teks-teks lain juga dapat dipakai untuk perbandingan, tetapi bagaimana memilih perbedaan-perbedaan yang merubah arti? Kita tahu bahwa sebuah koreksi lama dari seorang tukang naskah dapat menyebabkan reproduksi definitif daripada teks yang telah dikoreksinya itu. Kita mengerti betul bagaimana suatu kata yang terdapat dalam Injil Yahya, yaitu kata Paraklet, telah merubah sama sekali arti paragraf dan membalikkan arti tersebut dari segi teologi.
Di bawah ini adalah tulisan O. Culmann mengenai perbedaan-perbedaan teks yang ditulis dalam bukunya: Perjanjian Baru.
"Perbedaan-perbedaan itu kadang-kadang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja; umpamanya tukang naskah lupa menulis satu kata, atau sebaliknya menulis kata itu dua kali; atau mungkin juga sebagian kalimat (phrase) tak tertulis oleh karena bagian itu terletak dalam manuskrip si tukang naskah, antara dua kata yang sama. Kadang-kadang perbedaan teks itu disebabkan oleh karena koreksi-koreksi yang dilakukan dengan sengaja; atau tukang naskah memberanikan diri untuk mengkoreksi teks menurut pikirannya pribadi, atau si tukang naskah ingin menyesuaikan teksnya dengan teks lain, untuk menghilangkan perbedaan. Ketika tulisan-tulisan yang terkumpul dalam Perjanjian Baru diputuskan untuk dipisahkan dan literatur Kristen primitif (terdahulu) dan dianggap sebagai Kitab Suci, maka para ahli naskah tidak berani lagi untuk melakukan koreksi terhadap pekerjaan-pekerjaan tukang naskah sebelum mereka; mereka mengira bahwa mereka membuat copy dari teks asli dan dengan begitu mereka sudah mengokohkan perbedaan-perbedaan yang ada. Kadang-kadang tukang naskah menulis catatan di pinggir halaman untuk menerangkan suatu kalimat yang tidak terang. Tukang naskah yang datang kemudian mengira bahwa kalimat yang tertulis di pinggir halaman itu merupakan kalimat yang tadinya telah dilupakan oleh seorang tukang naskah sebelumnya, dan ia merasa perlu untuk memasukkan catatan pinggiran tersebut ke dalam teks. Dengan begitu, dapat terjadi pula bahwa teks yang baru itu menjadi lebih kabur.
Tukang-tukang naskah beberapa manuskrip bersikap sangat leluasa terhadap teks. Ini adalah kasus tukang naskah suatu manuskrip yang sangat terhormat setelah dua manuskrip tersebut di atas, yaitu: Codex Bezae Cantabrigiensis dari abad VI. Tukang naskah menemukan perbedaan antara silsilah keturunan Yesus dalam Injil Lukas dan dalam Injil Matius; kemudian ia memasukkan silsilah Matius ke dalam naskah Injil Lukas yang dimiliki; tetapi karena yang dalam Injil Lukas memuat lebih sedikit nama-nama orang dalam silsilah, maka ia beri tambahan-tambahan (tetapi tak berhasil mengadakan penyesuaian).
Apakah terjemahan Latin seperti Vulgate karya Yerome (abad IV) dan terjemahan-terjemahan yang lebih kuno (Vetus Itala), terjemahan bahasa Syriaq dan bahasa Kibti (Mesir kuno), semua itu lebih jujur daripada manuskrip Yunani? Terjemahan-terjemahan tersebut mungkin dibikin menurut manuskrip yang lebih kuno tetapi yang sudah hilang. Kita tidak tahu.
Orang telah berhasil mengelompokkan teks-teks Injil dalam beberapa kelompok yang masing-masing mempunyai ciri-ciri umum. O. Culmann membagi sebagai berikut:
1). Teks Syria yang mungkin menjadi dasar manuskrip-manuskrip Yunani yang sangat kuno. Teks ini tersiar di Eropah pada abad XVI, sudah berupa cetakan.
Teks ini adalah teks yang terburuk menurut pendapat para ahli.
2). Teks Barat, dengan versi Latin yang kuno dan dengan Codex Bezae Cantabrigiensis Yunani dan Latin. Menurut Terjemahan Ekumenik teks tersebut mempunyai ciri-ciri suka kepada penafsiran, kepada hal-hal yang kurang tepat kepada ulangan kata-kata (paraphrase) dan kepada penyesuaian (harmonisasi).
3). Teks netral yang juga meliputi Codex Vatikanus dan Codex Sinaitikus, teks ini dipandang jauh lebih murni.
Cetakan-cetakan modern daripada Perjanjian Baru mengikutinya, meskipun sesungguhnya teks ini juga mengandung banyak cacad (Terjemahan Ekumenik).
"Kritik teks paling jauh hanya memberikan kesempatan kepada kita untuk mencoba menyusun kembali suatu teks yang mendekati teks asli. Akan tetapi sudah terang tak ada jalan untuk sampai kepada teks asli tersebut." (Terjemahan Ekumenik)
IV. INJIL-INJIL DAN SAINS MODERN
SILSILAH KETURUNAN YESUS
Injil-Injil hanya mengandung sedikit sekali kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan pertentangan dengan hasil-hasil Sains modern. Banyak hikayat dalam Injil yang menggambarkan mukjizat tidak mendapat penafsiran ilmiah. Mukjizat-mukjizat itu ada yang berhubungan dengan orang seperti penyembuhan orang sakit (gila, buta, lumpuh, lepra, menghidupkan Lazarus yang sudah mati), dan ada pula yang mengenai fenomena material, di pinggir batas hukum alam (Yesus berjalan di atas air, Yesus mengganti air jadi anggur). Hal-hal tersebut mungkin hanya merupakan fenomena yang wajar tetapi dengan aspek yang luar biasa oleh karena terjadi dalam waktu yang sangat singkat seperti angin topan yang berhenti seketika, pohon tien yang kering mendadak, atau seperti mencari ikan secara ajaib, seakan-akan seluruh ikan yang ada dalam danau itu berkumpul di tempat di mana jala dilempar.
Dalam kejadian-kejadian tersebut, Tuhan campur tangan dengan kekuasaanNya. Kita tidak usah keheran-heranan bahwa Tuhan itu dapat berbuat hal yang mengherankan bagi manusia, tetapi bagi Tuhan merupakan hal biasa.
Ini tidak berarti bahwa seorang yang percaya tidak memerlukan berhubungan dengan Sains. Percaya kepada mukjizat dan percaya kepada Sains adalah tidak bertentangan. Yang pertama adalah tahap ketuhanan yang kedua adalah tahap kemanusiaan.
Secara pribadi saya dengan senang hati dapat percaya bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit lepra, tetapi saya tidak dapat menerima suatu teks yang dikatakan autentik dan diwahyukan Tuhan sedangkan dalam teks tersebut saya dapatkan bahwa antara manusia pertama dengan Nabi Ibrahim hanya berselisih waktu 20 generasi, seperti yang dikatakan Injil Lukas (3, 23-28). Kita akan lihat sebentar lagi sebab-sebab yang membuktikan bahwa teks Lukas, seperti juga teks Perjanjian Lama tentang hal yang sama, telah disusun menurut imajinasi manusia.
Injil (seperti Al Qur-an) memberikan kita riwayat yang sama mengenai asal-usul biologis Yesus. Membesarnya Yesus dalam kandungan ibunya di luar hukum-hukum alam yang umum bagi seluruh manusia. Biji telor dari ibunya tidak memerlukan bertemu dengan spermatozoid bapak untuk membentuk suatu embryo yang kemudian menjadi bayi. Fenomena yang berakhir dengan dilahirkannya seorang yang normal, tidak dengan campuran dan unsur lelaki, dinamakan parthenogenese. Dalam alam binatang parthenogenese dapat terjadi dengan syarat-syarat tertentu. Seperti halnya serangga, beberapa hewan invertebrata, dan secara sangat jarang, dalam jenis-jenis burung tertentu. Di antara binatang yang menyusui, orang dapat mengadakan percobaan dengan kelinci yang memperoleh perkembangan biji telor tanpa campur tangan spermatozoid dan menjadi embryo yang sederhana tetapi orang tidak dapat menemukan kelinci yang menunjukkan parthenogenese sempurna, secara eksperimental atau secara natural. Tetapi Yesus merupakan kasus parthenogenese. Ibunya adalah perawan dan tetap perawan serta tidak mempunyai anak selain Yesus: Yesus adalah kekecualian biologik.18
Silsilah keturunan Yesus
Dua silsilah keturunan yang terdapat dalam Injil Matius dan Injil Lukas menimbulkan persoalan tentang kebenaran, persesuaian dengan hasil-hasil ilmiah dan juga persoalan "autentik atau tidak." Problema-problema ini sangat menyulitkan ahli-ahli tafsir Kristen oleh karena mereka menolak untuk melihatnya sebagai hasil imajinasi manusia; Imajinasi manusia ini telah memberikan inspirasi kepada para pengarang-pengarang Sakerdotal (pendeta-pendeta) daripada Kitab Kejadian di abad VI S.M. untuk silsilah keturunan manusia-manusia pertama. Imajinasi manusia itu pulalah yang memberi inspirasi kepada Matius dan Lukas dalam hal-hal yang kedua pengarang Injil itu tidak mengambil dari Perjanjian Lama.
Yang perlu kita perhatikan adalah bahwa silsilah keturunan laki-laki tidak ada artinya sama sekali bagi Yesus. Jika orang ingin memberikan silsilah keturunan kepada Yesus, anak tunggal daripada Maryam, tanpa bapa, maka silsilah keturunan itu harus silsilah keturunan Maryam, ibunya. Di bawah ini adalah teks menurut Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, Perjanjian Baru.
Silsilah keturunan menurut Matius terdapat pada permulaan Injilnya.
KITAB ASAL-USUL YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK IBRAHIM
Ibrahim mempunyai anak Ishak
Ishak mempunyai anak Yakub
Yakub mempunyai anak Yuda dan saudara-saudaranya
Yuda mempunyai anak Phares dan Zara daripada Thamar
Phares mempunyai anak Esrom
Esrom mempunyai anak Aram
Aram mempunyai anak Aminabad
Aminabad mempunyai anak Naasson
Naasson mempunyai anak Salmon
Salmon mempunyai anak Booz daripada Rahad
Booz mempunyai anak Yobed daripada Ruth
Yobed mempunyai anak Yesse
Yesse mempunyai anak Nabi Daud
Daud mempunyai anak Suleman (dari istri Urie)
Suleman mempunyai anak Roboam
Roboam mempunyai anak Abia
Abia mempunyai anak Asa
Asa mempunyai anak Yosaphat
Yosaphat mempunyai anak Yoram
Yoram mempunyai anak Ozias
Ozias mempunyai anak Yoathan
Yoathan mempunyai anak Achaz
Achaz mempunyai anak Ezechias
Ezechias mempunyai anak Manasse
Manasse mempunyai anak Amon
Amon mempunyai anak Yosias
Yosias mempunyai anak Yechonias dan saudara-saudaranya
Kemudian terjadi pengasingan di Babylon.
Sesudah Pengasingan:
Yechonias mempunyai anak Salathiel
Salathiel mempunyai anak Zorobabel
Zorobabel mempunyai anak Abioud
Abioud mempunyai anak Eliakim
Eliakim mempunyai anak Azor
Azor mempunyai anak Sadok
Sadok mempunyai anak Akhim
Akhim mempunyai anak Elioud
Elioud mempunyai anak Eleazar
Eleazar mempunyai anak Mathan
Mathan mempunyai anak Yacob
Yacob mempunyai anak Yusuf, suami Maryam,
yang melahirkan Isa yang dinamakan Al Masih.
Jumlah generasi adalah 14 dari Ibrahim ke Daud, 14 dari
Daud hingga pengasingan di Babylon, 14 dari pengasingan
sampai Isa Al Masih.
Lukas (3, 23-38) memberikan silsilah keturunan yang
berlainan dari silsilah Matius. Kita kutipkan di bawah
ini dari Terjemahan Ekumenik.
"Yesus pada permulaannya berumur kira-kira 30 tahun. Ia
adalah anak Yoseph, anak Heli anak Matthat, anak Levis,
anak Melechi, anak Iannai, anak Yoseph, anak
Matthatias, anak Amos, anak Naaum, anak Hesti, anak
Naggai, anak Maath, anak Mattathias, anak Semein, anak
Yosech, anak Ioda, anak Ionam, anak Resa, anak
Zorobabel, anak Salathiel, anak Neri, anak Melchi, anak
Addi, anak Kosam, anak Elmadam, anak Er, anak Yesus,
anak Elieser, anak Yorim, anak Matthat, anak Levi, anak
Symeon, anak Yuda, anak Yoseph, anak Ionam, anak
Eliakim, anak Melea, anak Menna, anak Mattalha, anak
Natham,anak David, anak Yesse, anak Iobed, anak Boos,
anak Sola, anak Naasson, anak Aminabad, anak Admin,
anak Arni, anak Esrom, anak Phares, anak Yuda, anak
Yacob, anak Isaac, anak Abraham, anak Thara, anak
Nachor, anak Serauch, anak Ragau, anak Phalek, anak
Eber, anak Sala, anak Kainam, anak Arphaxad, anak Sem,
anak Noe, anak Lamech, anak Mathausala, anak Enoch,
anak Iaret, anak Maleleel, anak Kainam, anak Enos, anak
Seth, anak Adam, anak Allah."
Silsilah-silsilah tersebut alcan Icelihatan lebih
terang jika kita gambarkan dua daftar yang satu
menggambarkan silsilah sebelum David, dan yang satu
lagi menggambarkan silsilah sesudah David.
SILSILAH YESUS SEBELUM DAVID
Menurut Matius Menurut Lukas
1. Adam
2. Seth
3. Enos
4. Kainam
5. Maleleel
6. Zaret
7. Enoch
Matius tidak menyebutkan 8. Mathausala
sesuatu nama sebelum 9. Lamech
Abraham 10. Nae
11. Sem
12. Arphaxad
13. Kainam
14. Sala
15. Eber
16. Phalek
17. Ragau
18. Serauch
19. Nachor
20. Thara
1. Abraham 21. Abraham
2. Isaac 22. Isaac
3. Yacob 23. Yacob
4. Yuda 24. Yuda
5. Phares 25. Phares
6. Esrom 26. Esrom
7. Aram 27. Arni
28. Admin
8. Aminabad 29. Aminabad
9. Naasson 30. Naasson
10. Salmon 31. Sala
11. Booz 32. Booz
12. Yobed 33. Yobed
13. Yesse 34. Yesse
14. David 35. David
Silsilah Yesus Sesudah David
Menurut Matius Menurut Lukas
14. David 35. David
15. Salomon 36. Natham
16. Roboam 37. Matlatha
17. Abia 38. Menna
18. Asa 39. Melea
19. Yosaphat 40. Eliakim
20. Yoram 41. Ionam
21. Azias 42. Yoseph
22. Yoathan 43. Yoda
23. Achaz 44. Symeon
24. Ezechias 45. Levi
25. Manasse 46. Matthat
26. Amon 47. Iorim
27. Yosias 48. Elieser
28. Yechonias 49. Yesus
50. Er
Pengasingan di Babylon 51. Elmadam
52. Kosam
29. Salathiel 53. Addi
30. Zorobabel 54. Melchi
31. Abioud 55. Neri
32. Eliakim 56. Salathiel
33. Azor 57. Zorobabel
34. Sadok 58. Resa
35. Akhim 59. Ionan
36. Eliaud 60. Ioda
37. Eleazar 61. Iosech
38. Mathan 62. Semein
39. Yacob 63. Malthatheas
40. Yoseph 64. Maalh
41. Yesus 65. Naggar
66. Hesle
67. Naaum
68. Amos
69. Mattatheas
70. Yoseph
71. Iannai
72. Melchi
73. Levi
74. Matthat
75. Heli
76. Yoseph
78. Yesus
Perbedaan-Perbedaan Menurut Manuskrip dan dalam Hubungannya dengan Perjanjian Lama
Dengan mengenyampingkan perbedaan tulisan (orthographiq), kita sebutkan:
a). Injil Matius
Silsilah keturunan telah hilang dari Codex Bezae Cantabrigiensis, suatu manuskrip yang sangat penting dari abad VI dalam dua bahasa, Yunani dan Latin. Yang hilang dan teks Yunani adalah seluruh silsilah, sedang yang hilang dali teks Latin hanya sebagian besar. Tetapi hal ini mungkin hanya disebabkan oleh hilangnya halaman-halaman pertama.
Perlu kita sebutkan kebebasan yang sangat besar yang ditunjukkan oleh Matius dalam sikapnya terhadap Perjanjian Lama yang ia potong silsilahnya untuk keperluan penyajian dengan angka (yang pada akhirnya tidak ia lakukan seperti yang akan kita lihat)
b). Injil Lukas
1. Sebelum Nabi Ibrahim, Lukas menyebutkan 20 nama.
Perjanjian Lama hanya menyebutkan 19 (silahkan lihat tabel keturunan Adam dalam bagian yang khusus untuk Perjanjian Lama, Lukas menambah sesudah Arphaxad (no. 12) nama Kainam (no. 13) yang tak tersebut dalam Kitab Kejadian sebagai anak Arphaxad.
2. Dari Nabi Ibrahim sampai nabi Daud kita dapatkan 14-16 nama menurut manuskrip.
3. Dari Nabi Daud sampai Nabi Isa.
Perbedaan yang sangat penting adalah perbedaan yang terdapat dalam Codex Bezae Cantabrigiensis yang menisbatkan suatu silsilah khayalan kepada Lukas dan silsilah itu terdiri dari silsilah Matius yang sudah ditambah oleh orang yang bikin naskah dengan lima nama.
Sayang, silsilah Injil Matius dalam manuskrip tersebut telah hilang, sehingga kita tak dapat mengadakan perbandingan.
PENYELIDIKAN KRITIK MENGENAI TEKS
Di sini kita berhadapan dengan dua silsilah yang mempunyai sifat yang sama, yakni mulai dari Ibrahim dan Dawud. Unttzk memudahkan penyelidikan ini, kita akan menjadikan silsilah tersebut menjadi tiga bagian-bagian:
a. dari Adam sampai Ibrahim
b. dan Ibrahim sampai Dawud
c. dari Dawud sampai Yesus.
1. PERIODE DARI ADAM SAMPAI IBRAHIM
Matius yang memulai silsilahnya dari Ibrahim tidak ada hubungannya dengan periode ini. Lukas memberi keterangan tentang nenek moyang Nabi Ibrahim sehingga Adam; 20 nama, diantaranya 19 nama terdapat dalam Kitab Kejadian (fasal 4, 5 dan 11). Dapatkah kita gambarkan bahwa sebelum nabi Ibrahim hanya ada 19 atau 20 generasi manusia? Soal ini telah kita selidiki ketika kita membahas Perjanjian Lama. Jika kita ingin mendasarkan penyelidikan kita kepada tabel keturunan Adam seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian dan menerima angka waktu yang ditunjukkan oleh teks Bibel, kita akan mendapat kesimpulan bahwa antara munculnya manusia pertama di atas bumi dengan lahirnya Nabi Ibrahim terdapat 19 abad. Orang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hidup sekitar tahun 1850 S.M. Dengan begitu maka petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Perjanjian Lama menerangkan bahwa munculnya manusia di atas bumi terjadi pada 38 abad sebelum Yesus. Nampak sekali bahwa Lukas memakai bahan-bahan ini untuk Injilnya. Ia menyebutkan suatu kekeliruan besar untuk menerangkan mengapa ia memakai bahan-bahan tersebut. Kita telah membaca argumentasi sejarah yang meyakinkan yang mendorong kepada pikiran ini.
Hal-hal yang tersebut dalam Perjanjian lama tak dapat diterima lagi pada waktu ini. Bahan-bahan tersebut termasuk dalam golongan "Caduc" (lemah) yang dinyatakan oleh Konsili Vatikan II. Akan tetapi anggapan bahwa para pengarang Injil memakai bahan-bahan yang tidak sesuai dengan Sains modern, merupakan suatu keterangan yang sangat berbahaya bagi mereka yang mempertahankan faham bahwa teks Injil adalah sesuai dengan sejarah.
Para ahli tafsir merasakan bahaya ini. Mereka berusaha untuk mengelakkan kesulitan dengan mengatakan bahwa persoalannya bukan persoalan silsilah yang sempurna, bahwa ada nama-nama yang ditinggalkan oleh penulis Injil dengan sengaja, dan persoalan yang pokok adalah untuk membuktikan dalam garis-garis besar atau dalam unsur-unsurnya yang penting suatu garis yang didasarkan atas realistis sejarah. Disebutkan oleh A. Tricot dalam bukunya: Kamus Kecil tentang Perjanjian Baru, (Petit Dictionnaire du Noaveau Testament). Dalam teks Injil tak ada yang memungkinkan penafsiran semacam itu, karena teks itu teliti; A punya anak B, B punya anak C adalah anaknya B, dan B adalah anaknya A. Dan lagi mengenai periode sebelum Abraham, para penulis Injil mengambil bahan dari Perjanjian Lama, di mana silsilah itu diterangkan sebagai berikut: X pada umur sekian mempunyai anak Y, Y hidup sekian tahun dan mempunyai anak Z. Jadi tak terdapat hal-hal yang putus.
Bagian sebelum Nabi Ibrahim dalam silsilah Yesu s menurut Lukas tidak dapat diterima atas dasar pengetahuan modern.
2. PERIODE DARI ABRAHAM SAMPAI DAVID
Di sini, dua silsilah itu cocok atau hampir cocok, kecuali dalam satu atau dua nama. Kesalahan yang tidak disengaja daripada tukang-tukang naskah dapat dijadikan alasan.
Apakah para penulis Injil benar mengenai periode ini?
Dawud dikatakan hidup sekitar tahun 1000 S.M., Ibrahim di sekitar tahun 1800-1850 S.M..
Apakah 14-16 generasi dapat hidup selama 8 abad? Tapi baiklah kita katakan saja bahwa teks Injil, mengenai periode ini, masih dalam batas hal-hal yang dapat diterima
3. PERIODE SESUDAH DAVID
Sayang, teks tidak mungkin lagi membuktikan bahwa Yoseph itu keturunan David.
Kita tinggalkan saja pemalsuan yang terang daripada Codex Bezae Cantabrigiensis yang mengenai Lukas, dan marilah mengadakan perbandingan tentang hal-hal yang diriwayatkan oleh dua manuskrip yang sangat terhormat, yakni Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus.
Dalam silsilah Lukas, kita dapatkan 42 nama sesudah David (no. 35) sampai Yesus (no. 77). Dalam silsilah Matius kita dapatkan 27 nama sesudah David (no. 14) sehingga Yesus (no. 41). Dengan begitu maka jumlah nenek moyang Yesus (fiktif) sesudah David dalam dua manuskrip terhormat tersebut berlainan. Nama-nama dalam silsilah tersebut juga berlainan.
Tetapi ada lagi yang ajaib. Matius mengatakan bahwa silsilah Yesus semenjak Ibrahim terdiri dari tiga kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 14 nama. Kelompok pertama, dari Ibrahim sampai Dawud. Kelompok kedua, dari Dawud sampai pengasingan. Sedang kelompok ketiga, dari pengasingan di Babylon sampai Yesus. Teks Matius memang memuat 14 nama dalam kelompok pertama dan kedua, akan tetapi dalam kelompok ketiga (dari pengasingan di Babylon sampai Yesus) kita hanya mendapatkan 13 nama dan bukan 14 seperti yang kita harapkan, oleh karena tabel yang dikemukakan menunjukkan bahwa Salathiel adalah nomer 29 dan Yesus nomor 41. Tidak ada riwayat yang berbeda dengan Matius yang menyebutkan 14 nama untuk kelompok ketiga.
Akhirnya agar berhasil mendapatkan 14 nama dalam kelompok kedua, Matius mempergunakan kebebasan terhadap teks Perjanjian Lama. Nama-nama daripada 6 keturunan David yang pertama (no. 15 sampai 20) sesuai dengan apa yang tersebut dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi tiga keturunan Ioram (no. 20) yang dikatakan dalam bab dua daripada kitab Tawarikh dalam Bibel sebagai Achazia, Yoas dan Amalsia, telah dihapuskan oleh Matius. Begitu juga, Yechonias (no. 28) disebutkan oleh Injil Matius sebagai anak Yosias (no. 27), padahal dalam kitab Raja-raja yang pertama daripada Perjanjian Lama terdapat nama Eliakim diantara Yosias dan Yechonias.
Dengan ini telah terbukti bahwa Matius telah merubah urutan silsilah yang terdapat dalam Perjanjian Lama untuk menonjolkan suatu kelompok buat-buatan yang terdiri daripada 14 nama, antara Nabi Dawud dan pengasingan ke Babylon.
Sesungguhnya kita tidak begitu heran mendapatkan bahwa dalam kelompok ketiga yang disajikan oleh Matius terdapat satu nama yang kurang, sehingga tak ada teks Injil Matius yang menyebutkan 42 nama seperti yang Matius umumkan, hal ini dapat saja dijelaskan dengan mengatakan bahwa seorang tukang naskah membuat kesalahan. Akan tetapi kita sangat heran karena para ahli tafsir Injil bersikap tutup mulut mengenai hal ini. W. Trilling, berbeda dari para ahli tafsir Injil, menulis satu baris mengenai hal tersebut dalam bukunya:
Injil Matius. "Sesung-. guhnya persoalan ini tidak boleh diabaikan begitu saja oleh karena para ahli tafsir Injil, termasuk pengarang-pengarang Terjemahan Ekumenik dan Kardinal Danielou telah menunjukkan pentingnya simbol 3 kali 14 yang telah disebut oleh Matius. Untuk menonjolkan hal tersebut, bukanlah Matius sendiri telah menghilangkan beberapa nama yang tersebut dalam Bibel agar berhasil pembuktiannya tentang angka yang keramat itu."
Nanti akan kita lihat bahwa para ahli tafsir Injil akan membentuk suatu apologetik (cara mempertahankan agama) dengan membenarkan dihapuskannya beberapa nama, tetapi mereka tergelincir mengenai kekurangan-kekurangan nama sehingga mereka tidak berhasil mencapai hal yang diinginkan oleh Matius, si pengarang Injil.
4. TAFSIRAN PARA AHLI TAFSIR MODERN
Kardinal Danielou, dalam karangannya Les Evangiles de l'enfance (Injil Masa Kanak-kanak, terbit tahun 1967), setuju dengan daftar angka yang dibuat oleh Matius dan mengatakan bahwa daftar tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena daftar itu menunjukkan silsilah asal usul Yesus, yang juga-diterangkan oleh Lukas. Bagi Kardinal Danielou, "Lukas dan Matius adalah ahli sejarah yang telah mengadakan penyelidikan sejarah, dan silsilah keturunan telah dikutip dari arsip keluarga Yesus." Perlu diterangkan di sini bahwa arsip tersebut tak pernah ditemukan orang.
Kardinal Danielou, menyerang orang-orang yang mengkritik pendiriannya dengan kata-kata: "itu adalah mental orang Barat, kebodohan tentang agama Yahudi Kristen, ketidakadanya perasaan Semitik, yang telah menyesatkan beberapa ahli tafsir dalam memberi interpretasi kepada Injil. Mereka itu telah mempergunakan kategori Plato, Descartes, Hegel dan Heidegger. Memang ada suatu yang keruh dalam pikiran mereka." Sudah terang bahwa Plato, Descartes, Hegel dan Heidegger tidak ada hubungannya dengan sikap kritik terhadap silsilah keturunan yang bersifat khayalan.
Pengarang (Kardinal Danielou) menyelidiki arti 3 x 14 yang disebutkan Matius, dan membuat hipotesa-hipotesa seperti berikut: "Mungkin ada hubungannya dengan 10 minggu yang terkenal dalam hal-hal rahasia dari agama Yahudi, tiga minggu pertama yang mirip dengan periode dari Adam sampai Abraham, harus dihilangkan. Tinggal 7 minggu; enam minggu pertama merupakan tiga grup yang masing-masing terdiri dari 14 nama, dan minggu yang terakhir dimulai oleh Kristus yang memulai periode ke 7 daripada Dunia." Penjelasan semacam itu tak perlu diberi komentar.
Ahli-ahli tafsir "Terjemahan Ekumenik Bibel" -Perjanjian Baru- memberikan pembelaan dengan angka yang tidak kita sangka.
Untuk angka 3 x 14 yang dikemukakan oleh Matius: 14, mungkin merupakan jumlah nilai huruf yang membentuk nama Dawud dalam bahasa Ibrani D = 4, V = 6. Jadi jumlahnya 4+6+4 = 14.
Bagi Lukas, Terjemahan Ekumenik memberikan 77 nama. Hal ini memberi peluang untuk mengatakan bahwa angka 7 itu dasar. 7 x 11 = 77. Padahal kita sudah tahu bahwa bagi Lukas yang main hapus dan tambah, daftar yang memuat 77 nama itu sama sekali buat-buatan.
Silsilah Yesus dalam Injil-lnjil merupakan masalah yang menimbulkan permainan kata-kata yang sangat menyolok di antara para ahli tafsir Kristen, dan memang hal tersebut adalah sesuai dengan khayalan Lukas dan Matius.
V. KONTRADIKSI-KONTRADIKSI DAN
KEKELIRUAN KEKELIRUAN RIWAYAT
Tiap-tiap Injil daripada empat Injil Perjanjian Baru membawakan hikayat-hikayat yang ada hubungannya dengan kejadian. Kejadian-kejadian itu ada yang khusus pada satu Injil dan ada pula yang terdapat dalam beberapa Injil atau malahan terdapat dalam keempat Injil. Kejadian khusus yang tersebut hanya dalam satu Injil menimbulkan problema. Jika kejadian itu sangat penting, kita akan merasa heran mengapa hanya diriwayatkan oleh satu Injil. Sebagai contoh, kejadian kenaikan Yesus ke langit pada hari ia dibangkitkan dari kubur. Di lain pihak, ada kejadian-kejadian yang diriwayatkan secara berbeda-beda oleh dua atau tiga Injil bahkan kadang-kadang sangat berbcda. Seringkali umat Kristen merasa heran akan adanya kontradiksi, jika mereka kebetulan menemukannya, oleh karena mereka berkali-kali diberi penjelasan yang meyakinkan bahwa pengarang-pengarang Injil adalah saksi-saksi mata daripada kejadian-kejadian yang mereka riwayatkan.
Dalam fasal-fasal yang terdahulu, kita telah menyebutkan beberapa kekeliruan dan kontradiksi yang menggelisahkan itu, akan tetapi secara istimewa, yang menjadikan bahan riwayat yang bertentangan dan berkontradiksi adalah kejadian-kejadian yang terakhir dalam kehidupan Yesus dan yang terjadi setelah penyaliban.
RIWAYAT-RIWAYAT PENYALIBAN
R.P. Rouguet mengatakan bahwa hari Paskah dalam hubungannya dengan santapan terakhir bersama dengan para rasul (sahabat Yesus) telah diriwayatkan oleh injil Yahya berbeda dengan riwayat Injil Sinoptik yang tiga. Yahya mengatakan bahwa santapan terakhir itu sebelum perayaan hari Paskah, sedangkan ketiga Injil lainnya mengatakan bahwa santapan itu terjadi dalam perayaan Paskah. Perbedaan riwayat ini menonjolkan kekeliruan yang terang; hikayat santapan terakhir menjadi tak dapat digambarkan karena kedudukan Paskah ditentukan dan didasarkan atas santapan terakhir tersebut. Jika kita ingat pentingnya Paskah dalam liturgi Yahudi, dan pentingnya santapan terakhir, santapan pamitan antara Yesus dengan muridnya, bagaimana kita dapat menggambarkan bahwa peringatan peristiwa yang penting itu dapat dihilangkan dari perayaan yang satu kepada perayaan yang lain dalam tradisi yang disebutkan kemudian oleh para pengarang Injil.
Secara umum, riwayat penyaliban diriwayatkan oleh ketiga Injil Sinoptik secara berbeda daripada riwayat Injil Yahya. Riwayat santapan Yesus yang terakhir dan riwayat penyaliban dalam Injil Yahya adalah dua kali lebih panjang daripada riwayat dalam Injil Markus dan Injil Lukas, dan satu setengah kali lebih panjang daripada riwayat Injil Matius. Dengan begitu Yahya meriwayatkan khutbah panjang yang diberikan oleh Yesus kepada murid-muridnya sepanjang 4 fasal (14-17) dalam Injil Yahya. Dalam percakapan yang sangat penting itu, Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa ia akan meninggalkan tuntunan-tuntunannya yang terakhir dan memberikan kepada mereka wasiat spiritual. Dalam Injil-Injil lain tak ada yang menyebutkan hal tersebut. Sebaliknya Matius, Lukas dan Markus meriwayatkan do'a Yesus di taman Gethsemani; Yahya tidak membicarakan hal ini.
DALAM INJIL YAHYA, LEMBAGA EKARISTI TAK DISEBUT-SEBUT
Suatu hal yang menarik perhatian orang yang membaca "Sengsara Tuhan Yesus" dalam Injil Yahya, adalah bahwa Yahya tidak menyebutkan lembaga Ekaristi selama santapan Yesus yang terakhir dengan murid-muridnya.
Tiap-tiap orang Kristen tentu pernah melihat gambar "Kana," di mana terlihat Yesus duduk ditengah-tengah para rasul untuk kali yang terakhir. Banyak pelukis-pelukis besar yang menggambarkan pertemuan Yesus yang terakhir dengan seorang kerabatnya yang bernama Yahya; Yahya inilah yang sering dianggap sebagai penulis Injil Yahya.
Mungkin ini sangat mengherankan orang banyak; rasul (sahabat) Yahya tidak dianggap sebagai pengarang Injil Yahya oleh para ahli penyelidik, dan Injil Yahya juga tidak menyebutkan kelembagaan Ekaristi. Padahal do'a yang menjelmakan roti dan anggur menjadi badan dan darah Yesus adalah suatu do'a yang pokok dalam agama Kristen. Ketiga pengarang Injil lainnya menyebutkan hal ini, walaupun dengan cara yang berlain-lainan, sebagai yang telah kita sebutkan di atas. Yahya sama sekali tidak menyebutkannya. Keempat Injil mempunyai titik persamaan hanya dalam dua hal: ramalan bahwa Petrus akan mengingkari (mengatakan tidak kenal) Yesus, dan pengkhianatan salah satu sahabat kepadanya (dalam Injil Matius dan Injil Yahya, sahabat tersebut bernama Yuda). Hanya riwayat Yahya menceritakan bahwa Yesus membasuh kaki pengikut-pengikutnya sebelum bersantap.
Bagaimana kita menerangkan mengapa Injil Yahya tidak menyebutkan Ekaristi. Jika kita berfikir secara obyektif, dengan anggapan bahwa riwayat ketiga Injil yang pertama itu benar, kita akan membuat hipotesa bahwa bagian yang menceritakan hikayat yang sama daripada Injil Yahya telah hilang. Tetapi para ahli tafsir Kristen berfikir lebih jauh lagi.
Dalam bukunya Kamus Kecil tentang Bibel, A. Tricot menulis artikel: "Kana adalah santapan terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan 12 sahabatnya. Dalam santapan itu Yesus melembagakan Ekaristi. Kita memiliki hikayatnya dalam ketiga Injil Sinoptik. Dan Injil keempat (Yahya) memberi perincian tambahan."
Mengenai Ekaristi, pengarang tersebut menulis:
"Pelembagaan Ekaristi diterangkan secara singkat d alam tiga Injil pertama. Ekaristi itu dalam kateketik apostolik (yang diberikan oleh Gereja Katolik) merupakan satu hal yang sangat penting. Yahya telah memberi tarnbahan, yang diperlukan kepada riwayat-riwayat singkat daripada ketiga Injil pertama, dengan meriwayatkan khotbah Yesus tentang roti kehidupan (Yahya 6, 32-58). Dengan begitu maka A. Tricot mengatakan bahwa Yahya tidak menyebutkan pelembagaan Ekaristi oleh Yesus. Pengarang tersebut berbicara tentang "perincian tambahan" tetapi yang dimaksudkan bukan perincian tambahan lembaga Ekaristi; yang dimaksudkannya adalah upacara membasuh kaki para sahabat. Adapun "roti kehidupan" yang dibicarakan oleh A. Tricot adalah peristiwa yang terjadi di luar Ekaristi; tepatnya, adalah hikayat yang diucapkan oleh Yesus mengenai pemberian sehari-hari yang diberikan oleh Tuhan berupa manna kepada Bani Israil ketika mereka keluar dari Mesir, menuju ke sahara di bawah pimpinan Musa. Peringatan tersebut hanya diriwayatkan oleh Yahya. Dalam paragraf sesudah itu, Yahya dalam Injilnya menyebutkan Ekaristi yang dilakukan oleh Yesus, sebagai suatu penyimpangan hikayat karena terdapatnya kata-kata "roti." Akan tetapi penulis Injil yang lain tidak membicarakan hikayat ini.
Dengan begitu kita merasa heran mengapa Yahya tidak membicarakan hal-hal yang dibicarakan oleh pengarang ketiga Injil Sinoptik, dan mengapa ketiga pengarang Injil Sinoptik (Matius Markus dan Lukas) tidak menyebutkan hal-hal yang disebutkan oleh Yahya.
Para penulis Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, Perjanjian Baru, mengakui kekurangan yang besar ini dalam Injil Yahya, tetapi mereka memberi penjelasan tentang tidak disebutkannya lembaga Ekaristi sebagai berikut: "Secara umum Yahya tidak menaruh perhatian kepada tradisi dan kelembagaan Israil kuno, dan barangkali inilah yang membelokkannya daripada usaha untuk menunjukkan berakarnya Ekaristi dalam liturgi perayaan Paskah." Tetapi bagaimana kita percaya bahwa kekurangan perhatian terhadap liturgi paskah Yahudi menyebabkan Yahya tidak membicarakan pelembagaan suatu perbuatan pokok dalam liturgi agama baru (Nasrani).
Persoalan ini telah membingungkan para ahli tafsir, sehingga para ahli teologi mencoba mencari benih atau persamaan daripada Ekaristi dalam sejarah kehidupan Yesus yang diceritakan oleh Yahya.
O. Culmann dalam bukunya "Peryanjian Baru" menulis: "Mu'jizat Kana dan berlipat gandanya roti mendahului dan menjadi dasar sakramen Kana (Ekaristi)." Kita ingat bahwa di Cana, Yesus yang menghadiri satu walimah perkawinan merubah air menjadi anggur (Yahya 2, 1-12). Adapun berlipat-gandanya roti (Yahya 6, 1-13) adalah untuk memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti yang berlipat ganda. Oleh karena itu, dalam meriwayatkan kejadian-kejadian tersebut, Yahya tidak memberikan sesuatu komentar. Pendekatan antara hikayat ini dengan Ekaristi hanya imajinasi O. Culmann. Kita tidak dapat mengerti hubungan yang ia katakan dan kita merasa bingung membaca uraian pengarang, bahwa sembuhnya orang lumpuh dan orang yang buta dari kecil "memaklumkan pembaptisan" atau "air dan darah yang keluar dari Yesus setelah ia mati bersatu dalam satu kejadian" merupakan isyarat kepada pembaptisan atau Ekaristi.
Suatu pendekatan lain daripada O. Culmann terhadap Ekaristi disebutkan oleh R.P. Rouguet dalam bukunya "Pengantar kepada Injil" sebagai berikut: "Beberapa ahli teologi Bibel seperti Oscar Culmann melihat dalam hikayat pembasuhan kaki murid Yesus sebelum Eucharisti sebagai suatu hal yang sama dengan Ekaristi secara simbolis."
Orang merasa bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ahli tafsir Injil untuk merasa puas dengan kekurangan yang menggelisahkan yang terdapat dalam Injil Yahya, adalah cara-cara yang tidak wajar.
YESUS YANG DIBANGKITKAN DARI KUBUR MENAMPAKKAN DIRI
Suatu contoh besar daripada khayalan telah kita sebutkan mengenai Injil Matius dengan hikayatnya tentang fenomena-fenomena aneh yang membarengi kematian Yesus. Kejadian-kejadian yang terjadi sesudah kebangkitan Yesus dari kubur memberi bahan kepada hikayat-hikayat yang berkontradiksi dan aneh yang tersebut dalam empat Injil.
R.P. Rouguet dalam bukunya "Pengantar kepada Injil" halaman 182 memberikan contoh tentang hal-hal yang campur baur, tidak urut dan kontradiksi yang terdapat dalam Injil
"Daftar nama wanita-wanita yang datang ke kubur tidak sama dalam ketiga Injil Sinoptik. Dalam Injil Yahya, hanya disebutkan seorang wanita bernama Maria Magdalena. Tetapi ia bicara memakai kata 'kami' seperti ia mempunyai teman, "kami tidak tahu dimana mereka menaruhnya (jenazah Yesus)." Dalam Injil Matius, malaikat berkata kepada para wanita bahwa mereka akan melihat Yesus di Galile. Dan, sekejap mata sesudah itu Yesus datang menemui mereka dekat kubur. Lukas merasakan kesulitan, kemudian mengatur sumbernya sedikit. Malaikat berkata, "Kamu ingat Yesus telah bicara kepadamu waktu ia masih berada di Galile." Dan Lukas hanya menyebutkan bahwa Yesus menampakkan diri hanya tiga kali. Yahya mengatakan antara penampakan pertama dan kedua ada perbedaan 8 hari, yaitu di suatu kamar makan di Yerusalem. Penampakan yang ketiga kali terjadi dekat danau, jadi di Galile. Matius hanya menyebutkan penampakan sekali, yakni di Galile. R.P. Rouguet tidak membicarakan bagian terakhir daripada Injil Markus, yaitu bagian yang menyebutkan penampakan-penampakan Yesus, oleh karena ahli tafsir Injil tersebut berpendapat "tidak ada keragu-raguan bahwa bagian tersebut tidak ditulis oleh Yahya tetapi oleh tangan lain."
Kejadian-kejadian tersebut adalah berkontradiksi dengan hikayat penampakan-penampakan Yesus yang dimuat dalam surat pertama Paulus kepada orang-orang Korintus (15, 5-7) yaitu penampakan kepada 500 orang sekaligus, kepada Jack, kepada para rasul dan kepada Paulus sendiri.
Kita heran karena R.P. Rouguet dalam buku itu juga mengecam: "Khayalan yang aneh dan kekanak-kanakan dalam Injil-Injil apokrif mengenai kebangkitan Yesus." Bukankah kata-kata tersebut lebih cocok jika dilontarkan kepada Matius dan Paulus, yang sangat kontradiksi dengan pengarang-pengarang Injil iainnya mengenai penampakan diri Yesus yang sudah-dibangkitkan dan kubur.
Selain itu ada lagi kontradiksi antara "Perbuatan para rasul" karangan Lukas mengenai penampakan diri Yesus kepada Paulus, dan apa yang diceritakan oleh Paulus sendiri secara singkat. Hal ini telah mendorong R.P. Kannengiesser, untuk menulis dalam bukunya: Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi, 1974 (Iman Kepada Kebangkitan Yesus, Kebangkitan Iman) sebagai berikut: "Paul, satu-satunya saksi mata tentang kebangkitan Yesus dari kubur, yang suaranya telah sampai kepada kita langsung melalui tulisan-tulisannya, tidak pernah membicarakan tentang pertemuan pribadi dengan Yesus, kecuali tentang tiga isyarat yang terpisah-pisah. Lebih baik ia tidak menyebutkannya."
Kontradiksi antara Paulus, satu-satunya saksi mata, tetapi yang dicurigai di satu pihak dan Injil-Injil di lain pihak, adalah jelas. O. Culmann dalam bukunya: "'Perjanjian Baru" perhatian kita kepada kontradiksi antara Lukas dan Matius. Lukas mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri di Yudea, Matius mengatakan hal itu-terjadi di Gilile. Mengenai kontradiksi antara Lukas dan Yahya, kita harus ingat bahwa hikayat yang ditulis oleh Yahya (21, 1-14) mengenai Yesus yang sudah bangkit dari kubur menampakkan diri di pinggir danau Tabaria kepada nelayan-nelayan, dan kemudian para nelayan itu mendapatkan ikan begitu banyak sehingga mereka tak dapat membawanya, hikayat tersebut adalah ulangan daripada hikayat mencari ikan yang ajaib di tempat yang sama, tetapi waktu Yesus masih hidup; dan hikayat itu ditulis oleh Lukas (5, 1-11).
Mengenai penampakan diri Yesus, R.P. Rouguet, dalam bukunya, meyakinkan kita, bahwa "terputus-putusnya kaitan, tidak adanya keseragaman dan tidak teraturnya hikayat-hikayat itu, memberikan kepercayaan kepadanya. Oleh karena fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa para pengarang Injil tidak bekerja sama; kalau tidak begitu tentu mereka dapat menyesuaikan riwayat masing-masing. Pemikiran semacam itu adalah aneh. Sesungguhnya semua penulis Injil itu dapat meriwayatkan secara jujur sepenuhnya segala tradisi yang sudah dijadikan roman oleh masyarakatnya secara tidak sadar; mengapa tidak terdorong untuk membuat hipotesa ini sesudah berhadapan dengan kontradiksi dan kekeliruan yang begitu banyak dalam mengkaitkan kejadian-kejadian.
YESUS NAIK KE LANGIT
Kontradiksi-kontradiksi berlangsung sampai berakhirnya hikayat, oleh karena baik Yahya maupun Matius tidak menyebutkan kenaikan Al Masih ke langit. Hanya Markus dan Lukas yang membicarakannya
Bagi Markus (16, 19) Yesus "diangkat ke langit dan duduk di kanan Tuhan." Waktunya pengangkatan itu dalam hubungannya dengan kebangkitan tidak diterangkan, akan tetapi perlu kita ingat bahwa akhir Injil Markus yang mengandung kalimat-kalimat tersebut menurut R.P. Rouguet tidak autentik, tetapi tambahan, walaupun menurut Gereja kalimat-kalimat tersebut adalah Kanon.
Tinggal Lukas, satu-satunya pengarang Injil yang menyebutkan hikayat Yesus naik ke langit (94, 51) dalam satu teks yang tidak diperdebatkan, "Yesus berpisah dari mereka, dan dinaikkan ke langit." Kejadian itu diletakkan oleh Lukas pada akhir hikayat kebangkitan Yesus dari kubur, dan penarnpakan dirinya kepada 11 sahabatnya. Perinci-perinci hikayat memberi kesan bahwa kenaikan Yesus ke langit terjadi pada hari ia dibangkitkan dari kubur.
Tetapi dalam Kisah Perbuatan Para Rasul, Lukas yang dikira sebagai pengarangnya melukiskan (1, 2-3) penampakan Yesus kepada para sahabat antara penyaliban dan kenaikan ke langit sebagai berikut. "mereka itu mempunyai bukti-bukti bahwa selama 40 hari Yesus menampakkan diri kepada mereka dan berbicara dengan mereka soal Kerajaan Tuhan." Paragraf dalam Kisah Perbuatan Para Rasul adalah dasar untuk menentukan Hari Besar Kristen, naiknya Al Masih ke langit, 40 hari sesudah Paskah yang bersamaan dengan hari Kebangkitan Yesus. Jadi hari Kenaikan Al Masih ditentukan dengan menentang Injil Lukas. Tak ada teks Bibel lain yang membenarkan penentuan hari tersebut.
Seorang Kristen akan merasa gelisah jika ia mengetahui keadaan seperti tersebut, oleh karena kontradiksi yang nyata. Terjemahan Ekumenik daripada Bibel, Perjanjian Baru, mengakui fakta-fakta tersebut akan tetapi tidak membicarakan kontradiksi, malahan merasa puas dengan mengatakan bahwa 40 hari sangat berguna bagi Yesus untuk menunaikan tugasnya.
Para ahli tafsir yang ingin menerangkan atau menyesuaikan hal-hal yang tak dapat disesuaikan, memberikan tafsiran-tafsiran yang aneh.
Ringkasan 4 Injil yang diterbitkan pada tahun 1972 oleh Sekolah Bibel di Yerusalem memuat penjelasan yang lucu (jilid II halaman 451). Dalam buku tersebut, kata-kata kenaikan (ascension) dikritik: "Sesungguhnya tak ada kenaikan dalam artikata fisik oleh karena Tuhan itu tak ada di atas dan tak ada di bawah." Kita tak dapat menangkap arti kritik ini, sebab Lukas tak dapat menerangkan hal tersebut dengan cara lain.
Di lain fihak, pengarang komentar tersebut merasakan adanya "tipuan bahasa" dalam kalimat "Dalam Kisah Perbuatan Rasul-rasul, diterangkan bahwa kenaikan Al Masih terjadi 40 hari sesudah dibangkitkan dari kubur." "Tipuan bahasa," dimaksudkan untuk menekankan bahwa periode penampakan diri Yesus di bumi sudah selesai."
Tetapi pengarang komentar tersebut menambahkan dalam Injil Lukas "kejadian tersebut terjadi pada hari Minggu malam Paskah, dan oleh karena pengarang Injil Lukas tidak menyebutkan perbedaan waktu antara kejadian-kejadian yang diriwayatkan, setelah kubur diketemukan kosong, pagi hari kebangkitan," "bukankah ini juga merupakan tipuan bahasa untuk memberikan waktu luang antara beberapa penampakan Yesus?"
Rasa kesal yang timbul daripada interpretasi seperti ini nampak jelas dalam karangan R.P. Rouguet yang membedakan dua macam kenaikan ke langit. "Kenaikan Yesus ke langit, dilihat dari pandangan Yesus, terjadi pada waktu yang sama dengan kebangkitannya dari kubur, akan tetapi dilihat dari pandangan para murid-muridnya, hal tersebut hanya terjadi setelah Yesus tidak lagi menampakkan diri kepada mereka, agar Ruhul Kudus dapat diutus kepada mereka dan agar zaman Gereja dapat mulai."
Bagi pembaca yang kurang dapat merasakan kerumitan pembahasan teologi dalam argumentasi di atas, atau tidak punya dasar pengetahuan tentang Bibel, pengarang menyampaikan peringatan umum terhadap permainan bahasa yang bersifat apologetik.
"Di sini, sebagaimana dalam kasus-kasus serupa, persoalan tidak akan dapat dipecahkan kecuali jika orang memahami secara harafiah dan material segala yang tersebut dalam Injil, dengan melupakan arti keagamaannya. Kita tidak menafsirkan fakta-fakta dengan simbol-simbol yang tidak konsisten, tetapi kita mencari maksud teologi daripada mereka yang mengungkapkan rahasia kepada kita dalam meriwayatkan fakta-fakta, dalam alamat-alamat yang sesuai dengan sifat jiwa yang condong kepada godaan-godaan badaniyah.
PERCAKAPAN YESUS YANG TERAKHIR.
PARAKLET YANG TERSEBUT DALAM INJIL YAHYA
Yahya adalah satu-satunya pengarang Injil yang menyebutkan riwayat percakapan Yesus yang terakhir dengan para rasul (sahabat), yaitu pada akhir santapan Yesus dan sebelum ia ditangkap oleh tentara Romawi; percakapan tersebut berakhir dengan pidato yang amat panjang. Empat fasal dalam Injil Yahya (14-17) dikhususkan untuk pidato tersebut; ini tak ada bandingannya dalam Injil-Injil lain. Padahal fasal-fasal Yahya tersebut membicarakan soal-soal pokok, perspektif (pandangan terhadap) hari depan yang sangat penting; dan kedua hal tersebut ditulis dengan penuh keagungan yang layak bagi peristiwa itu, yaitu peristiwa perpisahan terakhir antara guru dan murid-muridnya.
Bagaimana kita dapat menerangkan mengapa riwayat perpisahan yang mengharukan dan yang mengandung pesan-pesan spiritual Yesus, tidak terdapat dalam Injil Matius, Markus dan Lukas? Kita dapat memajukan soal-soal sebagai berikut: Apakah teks tentang perpisahan tersebut terdapat dalam ketiga Injil yang pertama kemudian teks-teks tersebut dihilangkan? Mengapa dihilangkan? Tetapi marilah kita jawab sendiri sendiri. Tidak ada jawaban terhadap soal-soal tersebut. Rahasia tetap tersembunyi mengenai kekurangan yang sangat besar dalam ketiga Injil pertama.
Jiwa daripada riwayat khutbah Yesus dapat kita gambarkan dalam percakapan tingkat tinggi tersebut, yaitu perspektif tentang hari kemudian manusia dan minat Yesus menyampaikan ajaran-ajaran dan perintahnya kepada seluruh manusa dengan perantaraan murid-muridnya; juga untuk memastikan pemimpin yang definitif yang harus diikuti oleh manusia setelah Yesus tidak ada lagi. Teks Injil Yahya (dan hanya Injil tersebut) menunjuknya secara terang dengan nama Yunani Paraklitos; kata itu dalam bahasa Perancis Paraklet. Di bawah ini saya kutip paragraf-paragraf yang pokok menurut Terjemahan Ekumenik daripada Bibel Perjanjian Baru.
"Jika kamu cinta kepadaku, ikutilah perintah-perintahku, Aku akan mohon kepada Bapa: Ia akan memberi kamu seorang Paraklet lain" (14, 15-16).
Apakah arti Paraklet? Teks Injil Yahya yang kita miliki menjelaskan arti itu sebagai berikut:
"Paraklet, Ruhul Kudus yang Bapa akan mengutusnya atas namaku, akan menyampaikan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu tentang apa yang telah aku katakan kepadamu." (14, 26).
"Ia akan menyampaikan sendiri kesaksiannya daripadaku (15, 26). "Adalah baik bagimu jika aku pergi; karena jika aku tidak pergi, Paraklet tidak akan datang kepadamu; tetapi jika aku pergi, aku akan mengirim dia kepadamu. Dan dengan kedatangannya ia akan menerangkan kepadamu isi dunia ini dari hal dosa dan keadilan dan hukuman." (16, 7-8).
"Jika Ruh Kebenaran datang, ia akan membawa kamu kepada segala kebenaran karena ia tidak akan berkata dari dirinya sendiri, akan tetapi ia akan mengatakan segala hal yang didengarnya dan mengatakan kepadamu segala hal yang akan datang. Ia akan memuliakan aku." (16, 13-14).
(Perlu diterangkan di sini bahwa paragraf-paragraf yang tidak kita kutip dari fasal 14-17 dari Injil Yahya tidak akan merubah arti umum daripada kutipan-kutipan di atas).
Jika orang membaca dengan lekas, teks Prancis yang mengidentikkan kata Yunani, Paraklet dengan Ruhul Kudus tidak akan menarik perhatiannya. Lebih-lebih judul-judul kecil dalam teks yang biasanya dipakai dalam terjemahan, serta istilah-istilah ahli tafsir yang dipakai dalam buku-buku untuk orang awam, semuanya mengarahkan pembaca kepada arti paragraf yang diberikan oleh faham resmi Gereja. Jika ada yang merasakan kesukaran, maka keterangan yang diberikan oleh Kamus Kecil tentang Perjanjian Baru karangan A. Tricot umpamanya akan dapat memberikan penjelasan.
Dalam Kamus Kecil itu, di bawah artikel: Paraklet, kita dapatkan keterangan seperti berikut:
"Nama atau julukan itu, yang disalin dari bahasa Yunani ke bahasa Perancis, tidak dipakai dalam Perjanjian Baru ecuali oleh Yahya; empat kali waktu ia meriwayatkan khutbah Yesus setelah santapan19 (14, 16 dan 26, 15, 26, 16, 7) dan satu kali dalam surat Yahya yang pertama (2,1). Dalam Injil Yahya, kata itu dipakai untuk Ruhul Kudus; dalam surat Yahya, kata itu dipakai untuk Yesus.
"Paraklet" adalah suatu istilah yang banyak dipakai oleh orang-orang Yahudi Yunani abad pertama dan berarti: .juru syafa'at, (yang mempertahankan). Yesus mengumumkan: Ruh (esprit) akan dikirim oleh Bapa dan Anak dan tugasnya adalah untuk menyempurnakan si Anak dalam tugas penyelamatannya yang dilakukannya selama hidupnya untuk murid-muridnya. Ruh akan campur tangan dan bertindak sebagai pengganti Kristus dalam tugasnya sebagai Paraklet atau juru syafa'at yang kuasa."
Komentar tersebut menjadikan Ruhul Kudus pemimpin tertinggi bagi manusia sesudah Yesus tidak ada. Apakah penjelasan A. Tricot tersebut sesuai dengan teks Yahya. Pertanyaan ini harus kita majukan oleh karena, secara a priori, nampak mengherankan jika kepada Ruhul Kudus kita nisbatkan paragraf terakhir yang telah kita sebutkan di atas. "Ia tidak akan berkata dari dirinya sendiri akan tetapi ia akan mengatakan segala hal yang didengarnya dan mengatakan kepada kamu segala hal yang akan datang." Terasa tidak masuk akal jika kita mengatakan bahwa Ruhul Kudus dapat bicara dan dapat menyampaikan segala yang ia dengar. Sepanjang pengetahuan saya, soal yang mestinya harus ditimbulkan oleh logika, pada umumnya tidak menjadi soal bagi ahli tafsir Injil.
Untuk mendapatkan gambaran yang pasti mengenai soal ini, kita harus kembali kepada Naskah dasar Yunani yang sangat penting untuk menunjukkan apakah Yahya menulis Injilnya dalam bahasa Yunani dan bukan dalam bahasa
lain.
Teks Yunani yang kita baca adalah Novam Testameritum Graece; terbitan Nestle dan Aland tahun 1971.
Tiap-tiap kritik teks yang sungguh-sungguh, dimulai dengan menyelidiki perbedaan. Dalam kumpulan-kumpulan manuskrip Injil Yahya yang telah diketahui, tidak ada perbedaan yang mungkin merubah arti kalimat-kalimat, kecuali perbedaan-perbedaan dalam paragraf 14, 26 daripada versi dalam bahasa Syriac, yaitu versi yang dinamakan Palimpseste.20 Dalam teks ini tak disebutkan Ruhul Kudus; tetapi hanya Ruh, tanpa tambahan. Apakah tukang naskahnya lupa, atau ia menghadapi suatu teks yang harus dicopy, tetapi oleh karena teks itu mengatakan bahwa Ruhul Kudus dapat mendengar dan bicara, maka ia tidak berani menulis hal-hal yang ia anggap tidak masuk akal? Selain pengamatan ini, tak ada perbedaan lain, kecuali perbedaan gramatika yang tidak merubah arti umum; yang sangat penting adalah bahwa yang telah kita terangkan di sini mengenai arti kata kerja: "mendengar" dan "bicara" terdapat dalam semua manuskrip Injil Yahya, dan itulah yang terjadi.
Kata kerja "dengar," dalam bahasa Yunani akoua, yang artinya merasakan suara. Dan bahasa Yunani akoua ini kita dapatkan kata acoustic yang berarti ilmu suara.
Kata kerja "bicara" dalam bahasa Yunani laleo, yang artinya mengeluarkan suara, khususnya bicara. Kata kerja laleo ini, sering terdapat dalam teks Injil Yunani untuk menunjukkan suatu pernyataan yang penting yang dikatakan oleh Yesus dalam ceramah-ceramahnya. Jadi nyata bahwa tugas Yesus untuk dakwah kepada manusia tidak hanya terdiri dari wahyu yang dibawa oleh Ruhul Kudus tetapi tugas dakwah itu mempunyai bentuk material yang nyata, yaitu sebagai yang difahami dari arti kata Yunani, yakni mengeluarkan suara.
Dua kata kerja Yunani akoua dan laleo adalah perbuatan yang konkrit yang hanya dilakukan oleh makhluk yang diberi alat untuk mendengar dan bicara. Memakai dua kata kerja tersebut untuk Ruhul Kudus adalah tidak mungkin.
Dengan begitu maka berdasarkan atas manuskrip Yunani, teks paragraf Injil Yahya sama sekali tidak dapat dimengerti, jika kita terima secara keseluruhan, yakni dengan kata "Ruhul Kudus" dalam paragraf (14, 26) yang berbunyi: "Paraklet, Ruhul Kudus yang akan dikirim oleh Bapa, atas namaku" seterusnya, satu-satunya paragraf dalam Injil Yahya yang mengidentikkan Paraklet dengan Ruhul Kudus.
Akan tetapi jika kita hilangkan kata-kata Ruh Kudus (to pneuma to agion) dari paragraf ini, seluruh teks Yahya mempunyai arti yang sangat jelas. Sesungguhnya teks Yahya tersebut juga sudah dikonkritkan oleh teks lain daripada Yahya sendiri, yaitu teks surat Yahya yang pertama, di mana Yahya memakai kata Paraklet untuk menunjuk Yesus sebagai juru syafa'at di hadapan Tuhan.21 Dan jika menurut Injil Yahya (16, 14;) "Aku akan mendo'a kepada Bapa, Ia akan mengirim Paraklet lain," ini berarti bahwa akan dikirim seorang Paraklet (juru Syafa'at) seperti dia, selama berada di atas bumi.
Kita mendapat kesimpulan menurut logika bahwa Paraklet yang disebutkan oleh Yahya adalah seorang manusia seperti Yesus, yang dianugerahi anggauta untuk mendengar dan bicara yang diakui dalam teks Yunani secara formal. Jadi, Yesus mengumumkan bahwa Tuhan kemudian akan mengirim seorang manusia di atas bumi ini untuk memainkan suatu peranan yang dijelaskan oleh Yahya, yaitu dengan ringkas, peranan seorang nabi yang mendengar suara Tuhan dan mengulangi risalahnya kepada manusia. Ini adalah interpretasi logis dari teks Yahya, jika kita memberi arti yang real kepada kata-kata.
Adanya kata Ruhul Kudus dalam teks yang kita miliki sekarang mungkin ada hubungannya dengan tambahan-tambahan baru yang disengaja untuk merubah arti yang sesungguhnya dalam suatu paragraf yang berkontradiksi dengan ajaran Gereja-gereja Kristen yang ingin mengatakan bahwa Yesus itu adalah Nabi yang terakhir, karena paragraf tersebut mengumumkan kedatangan seorang Nabi sesudah Yesus.
KESIMPULAN DARI KONTRADIKSI DALAM PERJANJIAN BARU
VI. KESIMPULAN
Hal-hal yang telah kita bicarakan dalam buku ini dan komentar-komentar yang ditulis oleh ahli tafsir Kristen yang besar telah menolak pernyataan-pernyataan aliran Ortodoks yang bersandar kepada keputusan-keputusan Konsili Vatikan II bahwa Injil-Injil itu mempunyai sejarah yang mutlak dan telah menyampaikan kepada kita secara jujur segala yang diperbuat dan yang diajarkan oleh Yesus.
Argumentasi yang diberikan dalam buku ini bermacam-macam. Pertama, kutipan-kutipan Injil yang menunjukkan kontradiksi menonjol. Orang tidak dapat percaya akan adanya dua fakta yang bertentangan. Orang juga tidak dapat menerima kekeliruan atau pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan hal-hal yang sudah ditetapkan oleh pengetahuan modern. Dua silsilah keturunan Yesus yang disajikan oleh Injil dan kontradiksi yang ada di dalamnya adalah contoh yang menyolok.
Banyak orang Kristen yang tidak mengetahui kontradiksi, kekeliruan atau ketidak sesuaian dengan Sains modern, dan mereka terkejut sewaktu mereka mengetahuinya, oleh karena selama ini mereka terpengaruh oleh tafsiran-tafsiran yang memberikan penjelasan-penjelasan halus untuk meyakinkan mereka dengan bantuan permainan bahasa apologi. Telah dikemukakan beberapa contoh tentang kepandaian ahli tafsir untuk menyembunyikan hal-hal yang mereka namakan "kesukaran-kesukaran."
Sangat jarang paragraf-paragraf Injil yang dianggap tidak autentik karena Gereja telah meresmikannya sebagai "Kanon."
Karya kritik teks modern telah menunjukkan hal-hal yang menurut R.P. Kannengiesser, merupakan "revolusi metode penafsiran Injil" dan mendorong kita untuk tidak memahami secara harafiah kejadian-kejadian tentang Yesus yang tersebut dalam Injil," tulisan-tulisan pada waktu tertentu atau "tulisan-tulisan perjuangan." Pengetahuan modern yang telah menyoroti sejarah agama Yahudi Kristen dan persaingan antara kelompok-kelompok, menerangkan adanya fakta-fakta yang menggelisahkan para pembaca zaman sekarang. Anggapan bahwa para penulis Injil adalah saksi mata tidak dapat lagi dipertahankan, walaupun masih banyak orang Kristen yang mempercayainya. Karya sekolah Bibel di Yerusalem (R.P. Benoit dan R.P. Boismard) menunjukkan dengan jelas bahwa Injil-Injil telah ditulis, diperiksa kembali dan dikoreksi beberapa kali. Dengan begitu maka pembaca Injil telah diperingatkan bahwa mereka jangan mengharap mendengarkan suara Yesus secara langsung.
Bahwa Injil-lnjil itu kitab yang bersejarah tak dapat dibantah, akan tetapi dokumen-dokumen itu hanya menunjukkan kepada kita, di sela-sela hikayat-hikayat mengenai Yesus, mental para pengarangnya yang menjadi juru bicara tentang tradisi kelompok-kelompok Kristen Purba dan mereka menjadi anggautanya, serta perjuangan antara agama Yahudi Kristen dan Paulus. Karangan-karangan Kardinal Danielou merupakan autoritas dalam hal ini.
Kita tak perlu heran karena adanya perubahan-perubahan dalam beberapa kejadian dalam sejarah kehidupan Yesus, yaitu perubahan-perubahan yang dimaksudkan untuk mempertahankan pendapat pribadi. Kita tak perlu heran terhadap dihilangkannya beberapa kejadian dan tidak perlu heran terhadap gambaran beberapa kejadian yang penuh dengan khayalan.
Kita terdorong untuk membandingkan Injil dengan nyanyian kepahlawanan dalam sastra abad pertengahan. Perbandingan dengan: Chanson de Roland: (nyanyian Roland) suatu epik yang sangat terkenal, yaitu nyanyian yang mencentakan kejadian yang nyata dicampur dengan khayalan. Nyanyian Roland meriwayatkan kejadian autentik; musuh telah berhasil menjebak pengawal Raja Karl Agung, yang dipimpin oleh Roland, di lembah Rencevaux. Hikayat Roland yang tidak begitu penting itu telah terjadi pada tanggal 15 Agustus 778. Hikayat tersebut dibesar-besarkan sehingga tergambar sebagai perang yang besar dan sebagai perang suci. Hikayatnya adalah khayalan, tetapi khayalan itu tidak dapat menghilangkan realitas daripada perjuangan Raja Karl Agung untuk menjaga tapal batas Kerajaan Perancis dari bahaya infiltrasi bangsa-bangsa tetangga; di situlah hal yang autentik yang tak dapat dihapus oleh bentuk syair kepahlawanan.
Keadaan yang sama berlaku bagi Injil: khayalan Matius, kontradiksi yang menonjol di antara Injil-Injil, kekeliruan, ketidaksesuaian dengan hasil-hasil Sains modern, perubahan-perubahan teks yang terus menerus, menyebabkan Injil-Injil itu memuat fasal-fasal dan paragraf-paragraf yang hanya sesuai dengan imajinasi manusia. Tetapi cacad-cacad ini tidak dapat menjadikan kita ragu-ragu terhadap adanya missi Yesus; keragu-raguan hanya mengenai jalannya missi tersebut.
CATATAN KAKI:
1 Yang dimaksud dengan Torah ialah kitab-kitab lima yang pertama dalam Bibel yaitu: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat orang Levi, Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan.
2 Teks Yahwist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan dinamakan Yahweh. Teks Elohist yakni teks yang di dalamnya, Tuhan dinamakan Elohim. Teks Sakerdotal yakni teks yang berasal dari pendeta-pendeta di temple Yerusalem.
3 Kerajaan Utara dinamakan Negara Israil, terdiri dari 10 suku; berasal dari 10 orang anak Ya'kub. Kerajaan Selatan dinamakan Negara Yuda, terdiri dari 2 suku, berasal dari 2 orang anak Ya'kub.
4 Dalam fasal yang segera akan datang, pembaca dapat melihat kekeliruan-kekeliruan yang menjadi jelas setelah dihadapkan dengan bahan-bahan baru dari sains; kekeliruan-kekeliruan tersebut mengenai umur manusia di bumi, keadaan-keadaan pada waktu Tuhan menciptakan alam; kekeliruan-kekeliruan tersebut adalah disebabkan oleh perubahan-perubahan teks yang dilakukan oleh manusia.
5 Yakni pelacur yang bertugas dalam temple.
6 Teks Inggris berbunyi: "Now the books of the old testaments, in accordance with the state of mind before the time of salvation established by Christ, reveal to all men the knowledge of God and of man and the ways in which God, just and merciful, deals with men. These books, though they also contain some things which are incomplete and temporary, nevertheless show us true devine pedagogy." (Saya merasa terjemahan Inggeris kurang teliti; Rasjidi).
7 Yudas atau Yudas Eskariot adalah seorang sahabat Nabi Isa yang mengkhianatinya dengan melaporkan tempat Nabi Isa berada kepada tentara pendudukan Romawi di Palestina.
8 Buku-buku tersebut di atas kemudian diputuskan sebagai apokrif artinya buku yang harus disembunyikan oleh Gereja yang kemudian menang dengan pimpinan Paulus.
9 Injil Sinoptik adalah Injil-Injil karangan Markus, Matius dan Lukas. dinamakan Sinoptik karena hampir sama dalam pandangannya.
10 Kontradiksi silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius dengan silsilah dalam Injil Lukas akan dibahas dalam satu bab khusus.
11 Kaum Samaria adalah orang-orang yang mengikuti Hukum Taurah. Mereka menunggu kedatangan Antara lain Masih dan setia melakukan upacara-upacara Yahudi, akan tetapi mereka mendirikan satu temple sebagai saingan terhadap temple di Yerusalem.
12 Kita bertanya apakah tidak mungkin ada masyarakat Yahudi Kristen juga di Alexandria. Sesungguhnya O. Culmann juga menyebutkan hipotesa ini.
13 Suatu film dari Amerika tentang Yesus tetapi merubah sejarah Yesus.
14 Dalam paragraf lain dalam Injilnya, Matius menyebutkan hikayat ini juga, akan tetapi tidak menyebutkan waktunya secara tepat (16, 1-4). Begitu juga Lukas (11, 29-32), Markus sebagaimana kita akan lihat, menyebutkan Yesus berkata bahwa Ia tidak akan memberi alamat kepada generasi ini (Markus 8, 11-12).
15 Ekaristi adalah suatu sakramen (upacara) yang menghidangkan roti dan anggur. Roti itu dianggap sebagai daging Yesus dan anggur merupakan darahnya. Roti dimakan dan anggur diminum deh umat Katolik.
16 Paskah: Upacara peringatan keluarnya orang Yahudi dari Mesir dengan menyeberangi lautan di bawah pimpinan Musa.
17 Sinoptik, adalah Injil Matius, Markus dan Lukas.
18 Injil-lnjil menyebutkan saudara-saudara daripada Yesus (Matius 13, 46-50), (Markus 6, 1-6) (Yahya 7, 3 dan 2, 12). Kata Yunani yang dipakai adalah Adelphai dan Adelphai memang berarti saudara lelaki atau perempuan dalam arti biologik. Tentu saja disini telah terjadi terjemahan yang salah daripada kata Semit yang berarti dekat (familiar), dan tidak lebih. Barangkali yang dimaksudkan disini adalah saudara-saudara sepupu.
19 Sesungguhnya bukan setelah santapan, tetapi dalam santapan.
20 Ditulis pada abad 4 atau 5 dan ditemukan di gunung Sinai tahun 1812 oleh Agnes S. Lewis. Manuskrip ini dinamakan Palimpseste oleh karena teks pertama asli telah ditutup oleh teks lain di atasnya, setelah teks yang menutupi ini dihapus, maka teks pertama terlihat lagi.
21 Banyak terjemahan dan tafsir, khususnya yang lama, menterjemahkan kata Paraklet dengan juru penenang (comforter). Ini adalah kesalahan besar. Dalam Injil Indonesia Paraklet diterjemahkan menjadi: Penolong. (Rasjidi).
·
QUR,AN
- Qur'an dan Sains Modern; dunia barat biasanya
mengabaikan hubungan antara kitab Suci terutama Injil dengan sains
modern. Hal yang sama secara apriori dilakukan pula para ahli barat
terhadap al-Qur'an. Pengantar mengenai hal ini dapat dibaca pada
- Bagian
1
III. QUR-AN DAN SAINS MODERN
I. PENGANTAR
Secara apriori mengasosiasikan
Qur-an dengan Sains, adalah mengherankan, apalagi
jika asosiasi tersebut
berkenaan dengan hubungan harmonis
dan bukan perselisihan
antara Qur-an dan Sains.
Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan
pemikiran-pemikiran yang tak
ada hubungannya seperti ilmu
pengetahuan, merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada
zaman ini? Sesungguhnya sekarang para
ahli Sains yang
kebanyakannya terpengaruh oleh
teori materialis, menunjukkan sikap acuh
tak acuh bahkan
sifat rnerendahkan terhadap soal-soal
agama, karena mereka memandangnya sebagai
hal yang didasarkan
atas legenda. Selain daripada itu, di negeri Barat (negeri
pengarang, dan
alangan orang-orang yang
terpelajar menurut sistem Barat), jika
seseorang berbicara tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai
agama Yahudi dan Kristen tetapi tak ada orang
yang memasukkan Islam dalam kata agama itu. Tentang Islam,
orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan
karena itu mereka juga menunjukkan penilaian yang salah,
sehingga sampai hari ini sangat susah bagi mereka untuk
mendapatkan gambaran yang tepat
dan sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
Sebagai pengantar untuk
konfrontasi antara Wahyu Islam dan Sains,
adalah sangat perlu untuk
memberikan suatu tinjauan tentang agama yang
sangat tidak dikenal
di negeri kita (Europa, Perancis).
Penilaian yang
salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap
meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan
secara sistematis. Akan
tetapi di antara kekeliruan-kekeliruan yang
tersiar, yang paling
berbahaya adalah
kekeliruan-kekeliruan atau pemalsuan
fakta; jika kekeliruan penilaian
dapat dimaafkan, maka penyajian fakta yang
bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan. Adalah
menyedihkan jika kita
membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang
ditulis oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat ahli.
Umpamanya kita
baca dalam Encyclopedia
Universalis, jilid VI, artikel :
Evangile (Injil), suatu
isyarat kepada perbedaan antara
Injil dan Qur-an.
Pengarang artikeltersebut menulis:
"Pengarang-pengarang
Injil tidak mengaku-aku, seperti
Qur-an, menyampaikan otobiografi (riwayat hidup diri sendiri)
yang didiktekan oleh
Tuhan kepada Rasulnya secara ajaib." Begitulah kata penulis
itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat. Terjemahan
Qur-an yang paling
jelek juga dapat mengungkapkan
kenyataan ini kepada
pengarang artikeltersebut. Pernyataan
tersebut di atas, yakni bahwa
Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya
dengan orang yang mengatakan bahwa
Injil itu adalah
riwayat hidup pengarangnya.Yang bertanggung
jawab tentang pemalsuanterhadap idea
Qur-an itu adalah
seorang guru besar di Fakultas teologi Yesuite di
kota Lion (Perancis
selatan); tersiarnya
kekeliruan semacam ini
telah membantu memberi gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam.
Walaupun
begitu tetap ada harapan untuk memperbaiki keadaan, karena sekarang
agarna-agama tidak hidup
sendiri-sendiri; banyak agama yang mencari perkenalan dan
pemahaman timbal balik. Kita
terharu dengan fakta bahwa pada eselon tertinggi orang-orang Katolik
berusaha untuk memelihara
hubungan dengan umat Islam,
serta menghilangkan kesalahfahaman dan mengoreksi gambaran-gambaran yang
keliru tentang Islam.
Saya telah
menyebutkan perubahan besar
yang terjadi pada-tahun-tahun yang
terakhir ini dan
menyebutkan pula suatu dokumen
yang dikeluarkan oleh
Sekretariat Vatikan untuk orang-orang bukan Kristen. Dokumen tersebut
berjudul: Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan umat
Islam, dokumen itu sangat berarti
karena sikap-sikap baru terhadap Islam. Dalam cetakan ketiga
(1970) kita dapatkan
ajakan untuk "meninjau kembali sikap-sikap kita terhadap Islam, dan
mengkritik purbasangka kita" kita
dapatkan pula kata-kata seperti "kita harus bekerja
keras lebih dahulu untuk merubah cara berfikir saudara-saudara umat Kristen,
secara bertahap; ini adalah yang
paling penting," "kita harus meninggalkan gambaran gambaran
kuno yang kita warisi dari
masa lampau atau gambaran-gambaran yang
dirubah oleh prasangka
dan fitnahan,"
"kita harus mengakui
ketidak adilan yang dilakukan oleh
Barat yang beragama Kristen terhadap umat Islam."1 Dokumen
Vatikan yang terdiri dari 150
halaman itu menolak
pandangan-pandangan kuno umat Kristen terhadap Islam dan menerangkan hal-hal
yang sebenarnya .
Di bawah
judul: "membebaskan diri
kita daripada
prasangka-prasangka yang sangat
mashur," para penulis dokumen tersebut mengajak umat
Kristen sebagai berikut: "Di sini
kita harus melakukan pembersihan yang mantap dalam cara berfikir kita.
Secara khusus kami
pikirkan penilaian tertentu yang
"sudah jadi" yang
sering dilakukan orang secara
sembrono terhadap Islam. Adalah sangat penting
untuk tidak
menghidup-hidupkan dalam hati
sanubari kita, pandangan-pandangan
yang dangkal dan arbitrer
yang tidak dikenal oleh orang
Islam yang jujur.
Salah satu
daripada pandangan arbitrer yang sangat penting untuk diberantas
adalah pandangan yang
mendorong untuk memakai kata
"Allah" secara sistematis untuk menunjukkan Tuhannya umat
Islam, seakan-akan Tuhannya umat
Islam itu bukan Tuhannya umat
Kristen.
Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, Tuhan yang
maha Esa, maha Tunggal. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya dalam bahasa
Perancis kita harus rnemakai kata
"Dieu," dan tidak cukup hanya mengambil alih kata arab
("Allah") karena kata ini
tak dimengerti orang Perancis. Bagi umat Islam, Allah itu
juga Tuhannya Nabi Musa dan Tuhannya Yesus."
Dokumen Sekretariat
Vatikan bagi umat
bukan Kristen menekankan hal
yang fundamental ini sebagai berikut:
"Adalah tak berguna untuk mengikuti pendapat beberapa
orang Barat bahwa Allah itu sesungguhnya
bukan Tuhan! Teks-teks yang dihasilkan oleh Konsili telah membenarkan
kata-kata di atas. Orang tidak akan dapat meringkaskan kepercayaan Islam tentang
Tuhan, secara lebih
baik dari kata-kata
Lumen Gentium (cahaya bagi manusia ) bagian dari Dokumen
Konsili Vatikan II (1962-1965)
yang berbunyi: "Orang-orang
Islam yang mengikuti aqidah Nabi Ibrahim
menyembah bersama kita kepada
Tuhan yang Tunggal, yang maha penyayang, yang akan
mengadili manusia pada hari akhir."2
Semenjak itu
orang mengerti mengapa orang Islam
melakukan protes terhadap kebiasaan orang Barat memakai kata 'Allah'
untuk Tuhan. Orang-orang
Islam yang terpelajar
memuji terjemahan Qur-an oleh
D. Masson yang memakai kata "Dieu" (Tuhan) dan tidak memakai
kata "Allah."3
Orang Islam
dan orang Kristen menyembah
Tuhan yang maha Tunggal.
Kemudian
Dokumen Vatikan mengkritik penilaian-penilaian lain yang salah terhadap Islam.
"Fatalisme" Islam,
suatu prasangka yang
tersiar luas, dibahas dengan
mengutip beberapa ayat
Qur-an. Dokumen Vatikan tersebut
menunjukkan hal-hal yang sebalik Fatalisme, yakni bahwa manusia itu akan diadili menurut
tindakannya di Dunia.
Dokumen Vatikan
tersebut juga menunjukkan
bahwa konsep yuridisme atau
legalisme dalam Islam itu salah, yang benar adalah sebaliknya,
yakni kesungguhan dalam
Iman.
Dibawakannya pula
dua ayat yang sangat tidak dikenal orang di Barat. Ayat pertama:
"Tak ada paksaan dalam agama" (Surat 2 ayat
256). Ayat kedua: "Dan Tuhan tidak menjadikan dalam agama sesuatu hal
yang memaksa." (Surat 22 ayat 78)
Dokumen
Vatikan tersebut juga menentang ide
yang tersiar luas bahwa
Islam itu adalah
agama "rasa takut,"
dan menjelaskan bahwa Islam adalah
agama cinta, cinta
kepada orang-orang yang dekat, cinta yang berakar dalam Iman kepada
Allah. Dokumen Vatikan tersebut juga menolak anggapan bahwa tak ada "moral Islam," serta
anggapan yang dianut oleh orang Yahudi dan
orang Kristen bahwa
Islam itu adalah
agama fanatisme. Dalam hal
ini Dokumen tersebut
mengatakan: "Sesungguhnya, Islam dalam sejarahnya
tidak pernah lebih fanatik
daripada kota-kota suci Kristen
ketika kepercayaan Kristen bercampur dengan
nilai politik." Di
sini para pengarang Dokumen
Vatikan menyantumkan ayat-ayat Qur-an yang diterjemahkan oleh orang Barat
sebagai "Perang Suci."4
"Perang
suci yang dimaksudkan, dalam bahasa Arabnya
adalah: Al Jihad fi
sabililah, usaha keras untuk menyiarkan agama Islam dan
mempertahankannya terhadap orang-orang
yang melakukan
agressi." Dokumen Vatikan
meneruskan keterangannya: "Al Jihad bukan "kherem" yang
tersebut dalamInjil. Jihad
tidak bermaksud untuk memusnahkan orang lain, akan tetapi untuk
menyiarkan hak-hak Tuhan
dan hak-hak manusia di
negeri-negeri baru."
Kekerasan yang timbul dalam Jihad adalah gejala-gejala
yang mengikuti hukum perang. Pada waktu peperangan Salib bukanlah orang- Islam
yang selalu melakukan
pembantaian besar-besaran.
Dokumen Vatikan
akhirnya membicarakan purbasangka
bahwa Islam itu adalah agama beku yang mengungkung para pengkutnya dalam
Abad Pertengahan yang sudah
lampau dan menjadikanmereka tidak sanggup untuk
menyesuaikan diri dengan kemajuan tehnik
pada zaman modern.
Dokumen tersebut menyebutkan perbandingan dengan situasi-situasi serupa yang terdapat
dinegara-negara Kristen dan menyatakan "Kami menemukan
dalam perkembangan
tradisional pemikiran Islam
suatu prinsip evolusi yang
dapat menjadi pedoman
untuk masyarakat beradab."
Bahwa Vatikan
mempertahankan Islam, saya
yakin, akan mengherankan pengikut-pengikut agama
masa kini, baik
iaorang Yahudi, orang
Kristen atau orang
lslam. Gejala tersebut merupakan
manifestasi kesungguhan dan pikiran yang
terbuka yang bertentangan sama sekali
dengan sikap-sikap di masa dahulu. Tetapi
sayang, sangat sedikit
sekali orang-orang Barat yang
mengetahui pergantian sikap yang diambil oleh eselon tertinggi
daripada Gereja Katolik.
Setelah kita
mengetahui hal tersebut di
atas kita tidak begitu
heran untuk mendengarkan
langkah-langkah konkrit
selanjutnya yang dilaksanakan untuk
pendekatan ini.
Mula-mula adalah kunjungan resmi kepala Secretariat
Vatikan untuk orang-orang bukan
Kristen kepada (almarhum)
Sri Baginda Raja Faesal, raja Saudi Arabia, kemudian kunjungan
ulama-ulama Besar dari Saudi Arabia kepada Sri Paus Paul Vl pada
tahun 1974. Kita merasakan arti spiritual yang dalam
ketika Monsigneur Elchinger menerima
para ulama itu di
Cathedral Strasbourg dan
mempersilahkan mereka untuk sembahyang di tengah-tengah Cathedral,
walaupun menghadap ke arah Ka'bah.
Jika wakil-wakil
tertinggi daripada umat
Islam dan umat Kristen, dalam rasa kepercayaan kepada Tuhan yang sama
dan rasa hormat menghormat
terhadap perbedaan yang ada diantara mereka telah sefaham untuk melakukan dialog
agama, apakah tidak wajar jika aspek-aspek lain dari kedua agama
itu juga dihadapi? Maksud daripada
konfrontasi ini adalah penyelidikan tentang
Kitab Suci atas
dasar hasil-hasil penyelidikan ilmiah
dan pengetahuan-pengetahuan kritik kebenaran. Penyelidikan teks-teks
ini harus dilakukan terhadap Qur-an sebagaimana
ia telah dilakukan
terhadap agama Yahudi dan Kristen.
Hubungan antara
agama-agama dan Sains tidak sama di segala tempat dan segala masa.
Adalah suatu fakta bahwa
tak ada kitab suci agama monotheist
yang menghukum Sains. Tetapi dalam prakteknya, kita harus mengakui bahwa
ahli-ahli Sains bercekcok dengan
penguasa keagamaan tertentu.
Di dunia Kristen, selama beberapa
abad, pembesar-pembesar menentang perkembangan Sains
atas initiatif mereka sendiri dan tidak bersandar kepada teks autentik
dalam Kitab Suci.
Terhadap mereka yang memajukan
Sains, mereka melancarkan tindakan-tindakan yang kita ketahui
dalam sejarah, yaitu tindakan-tindakan yang
menjerumuskan para ahli Sains dalam pembuangan, jika mereka ingin
selamat daripada hukuman "mati dibakar," atau sedikitnya memaksa mereka untuk menebus
dosa mereka dan memperbaiki sikap mereka
serta memohon maaf.
Dalam hal
ini, kita ingat peradilan Galile yang dituntut
hanya karena ia
mengikuti penemuan Copernikus
tentang peredaran bumi. Galile
kemudian dihukum dengan
alasan menafsirkan Bibel secara keliru sebab tidak ada Kitab
Suci yang dapat dibantah.
Bagi Islam,
sikap terhadap Sains pada
umumnya sangat berlainan. Tak ada
yang lebih jelas daripada
hadits Nabi yang sangat
masyhur. "Tuntutlah ilmu
walaupun di negeri Cina" atau hadits lain yang maksudnya:
mencari ilmu adalah wajib
bagi seorang muslimin
dan seorang muslimat. Adalah suatu kenyataan yang penting seperti
yang akan kita
lihat dalam fasal ini
nanti, bahwa Qur-an
yang mengajak memperdalam Sains.
Qur-an itu memuat
bermacam-macam pemikiran
tentang fenomena alam,
dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti
cocok dengan Sains modern.
Dalam hal ini
tak ada hal yang serupa itu dalam
agama Yahudi dan Kristen.
Tetapi
adalah salah jika orang mengira bahwa
dalam sejarah Islam, beberapa
orang Islam mempunyai sikap yang berlainan terhadap Sains. Memang
terjadi bahwa pada
suatu waktu, kewajiban untuk belajar dan mengajar orang lain itu
disalah fahamkan, dan orang
pernah berusaha memberhentikan perkembangan ilmu
pengetahuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa pada zaman kejayaan Islam, antara
abad VIII dan abad XII M. pada waktu
orang membatasi perkembangan ilmu pengetahuan
dipersempit di negara-negara Kristen,
banyak sekali penyelidikan dan
penemuan yang dilakukan
orang di Universitas-universitas Islam.
Pada waktu itulah
kita dapatkan kebudayaan yang luar biasa. Di Cordoba (Qurtubah)
perpustakaan Khalifah memuat
400.000 buku; Ibnu
Rusyd mengajar di situ. Banyak orang dari berbagai daerah di Eropa
datang ke Qurtubah untuk belajar,
seperti pada waktu
ini banyak orang belajar
ke Amerika Serikat.
Banyak manuskrip-manuskrip
lama sampai kepada
kita dengan perantaraan orang-orang Arab, dan membawa kebudayaan
kepada negeri-negeri yang ditaklukkan. Banyak
hutang kami (orang-orang Barat)
kepada pengetahuan Arab dalam matematika (kata al jabar adalah kata
Arab), astronomi, fisika
dan optik, geologi, ilmu
tumbuh-tumbuhan (botanik), ilmu kedokteran (Ibnu Sina) dan lain-lain.
Untuk pertama kali Sains
mempunyai sifat internasional dalam Universitas Islam pada abad
pertengahan. Pada waktu
itu manusia lebih mempunyai jiwa
keagamaan daripada sekarang,
akan tetapi dalam Dunia Islam hal tersebut tidak menghalangi
seseorang untuk menjadi orang
yang mukmin dan pandai sekaligus. Sains adalah saudara kembar daripada agama,
dan akan tetap begitu.
Dalam
negara-negara Kristen, abad
pertengahan adalah abad stagnasi dan
conformisme mutlak. Penyelidikan
ilmiah dikekang, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen, akan
tetapi oleh mereka yang
mengaku mengabdi kepada
agama-agama tersebut. Sesudah Renaissance, reaksi yang
wajar daripada ahli ilmu
pengetahuan adalah untuk membalas
dendam kepada musuh mereka kemarin, dan pembalasan dendam itu berlangsung sampai sekarang.
Pada waktu ini,
di negeri Barat, untuk bicara tentang Tuhan di kalangan
ilmuwan adalah janggal. Sikap semacam
ini juga terdapat dalam otak-otak
yang muda yang menerima pengetahuan
dari universitas-universitas
Barat, termasuk otak-otak muda Islam.
Hal tersebut
di atas adalah
wajar karena ahli-ahli pengetahuan Barat yang terkemuka
selalu-mengambil sikap yang ekstrim.
Seorang yang pernah meraih hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran pada
tahun-tahun akhir ini telah menulis
dalam satu buku tebal untuk awam,
bahwa materi hidup itu tercipta sendiri secara kebetulan daripada unsur-unsur
elementer. Dan bertitik tolak dari
materi hidup yang sederhana itu, dengan pengaruh bermacam-macan faktor
luar, terbentuklah benda hidup
yang teratur dan
secara berangsur-angsur akhirnya
menjadi benda hidup yang sangat complex, yaitu manusia.
Tetapi orang
yang memikirkan secara
mendalam hasil-hasil yang mengagumkan
daripada Sains masa
kini dalam bidang
"kehidupan" akan sampai
kepada natijah (konklusi)
yang sebaliknya. Pertumbuhan yang
terjadi sebelum munculnya "kehidupan" serta
pemeliharaan "kehidupan" itu
akan nampak sangat berbelit-belit (complicated). Lebih
banyak kita mengetahui
perincian-perinciannya, lebih
banyak pula kita merasa
heran dan takjub. Sesungguhnya
jika kita mengetahui perinci-perinci itu lebih banyak, kita lebih condong
untuk mengurangi unsur: "kebetulan" dalam fenomena "kehidupan."
Lebih banyak kita
memiliki ilmu pengetahuan,
khususnya mengenai hal-hal yang
sangat kecil, lebih
menonjollah argumentasi tentang adanya zat "pencipta." Tetapi
manusia bukannya tunduk kepada fakta-fakta tersebut di atas, malahan ia
menjadi sombong. Ia merasa berhak untuk menertawakan ide tentang
Tuhan dan ia menganggap remeh segala sesuatu yang
menghalangi kemauannya untuk
kenikmatan dan kelezatan Itulah masyarakat materialis yang
sekarang ini berkembang di Barat.
Kekuatan
spirituil manakah yang
dapat menghadapi polusi pemikiran para ahli pengetahuan modern
sekarang?
Agama Kristen
dan agama Yahudi
telah menunjukkan
ketidak-mampuannya untuk membendung
banjir materialisme serta
ateisme di Barat. Agama Kristen dan agama Yahudi dalam keadaan kacau
balau, dan dari
tahun ke tahun
telah menunjukkan daya tahan yang berkurang terhadap aliran yang
akan menghancurkannya; seorang materialis ateis hanya dapat melihat dalam
agama Kristen klasik,
suatu agama yang diciptakan oleh
manusia 2000 tahun
yang lalu untuk menegakkan kekuasaan
sekelompok kecil manusia
terhada p manusia-manusia lain. Ia tidak
dapat melihat dalam
kitab suci Yahudi Kristen suatu bahasa yang ada hubungannya dengan
bahasanya sendiri walaupun terlalu jauh; kitab
suci Yahudi Kristen memuat
hal-hal yang keliru, yang kontradiksi dan yang tidak
sesuai dengan penemuan-penemuan ilmiah
modern, sehingga ia tidak mau mempertimbangkan teks-teks yang
oleh kebanyakan ahli-ahli teologi dipaksakan untuk diterima semua sebagai
keseluruhan.
Bagaimana
kalau ada orang yang mengajaknya berbicara tentang Islam? Ia akan tertawa lebar
yang menunjukkan bahwa ia tidak banyak
mengetahui tentang agama.
Sebagai kebanyakan kaum terpelajar
dari bermacam-macam agama,
ia mempunyai gambaran-gambaran
yang salah tentang Islam.
Dalam hal
ini, kita harus menerima beberapa alasan. Pertama, dengan mengecualikan
sikap-sikap baru dari
tingkatan tertinggi daripada Gereja
Katolik yang mulai menunjukkan
hormat kepada Islam. Islam di negara-negara
Barat selalu menjadi objek
daripada "diffamation seculaire" (cemoohan
penganut-penganut secularisme). Semua
orang, Barat yang mempunyai pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui
bahwa sejarahnya, dogmanya dan
tujuannya sudah jauh
dibelokkan orang. Kedua, dokumen-dokumen dalam
bahasa-bahasa Barat mengenai Islam
yang sudah diterbitkan,
tidak mempermudah usaha seorang
yang ingin mempelajari Islam.
Dalam hal ini kita dapat mengecualikan beberapa
penyelidikan-penyelidikan yang sangat khusus.
Dalam hal
mempelajari Islam, pengetahuan tentang wahyu dalam Islam adalah
sangat pokok (fundamental). Tetapi bagian-bagian daripada Qur-an khususnya
yang ada hubungannya dengan hasil-hasil perkembangan Sains sering
diterjemahkan secara keliru atau
ditafsirkan sedemikian rupa sehingga seorang ahli Sains akan
melancarkan kritik yang tidak tepat
terhadap Qur-an, walaupun kritik-kritik kelihatannya benar.
Ada satu
hal yang perlu kita garis bawahi: terjemahan yang tidak tepat dan
penafsiran yang keliru (keduanya
biasanya terjadi bersama-sama) yang tidak mengherankan pada satu atau
dua abad yang lalu, pada waktu sekarang
mengejutkan ahli Sains yang
menolak untuk mempertimbangkan secara serius, suatu
kata-kata yang diterjemahkan secara
salah sehingga memberi keterangan
yang tak dapat
diterima menurut perkembangan
Sains sekarang. Dalam bab tentang
terjadinya janin manusia, kita akan melihat contoh kekeliruan seperti
itu.
Mengapa
terjadi kekeliruan dalam menterjemahkan Qur-an?
Hal ini terjadi oleh
karena
penterjemah-penterjemah modern
sering hanya mengambil alih interpretasi para ahli tafsir di zaman dahulu,
tanpa pendirian kritik. Para ahli tafsir zaman dahulu itu dapat dimaafkan jika
mereka memilih satu daripada beberapa
arti kata bahasa
Arab, oleh karena mereka tidak mengerti arti yang benar daripada kata
atau kalimat itu, yaitu
arti yang baru sekarang nampak dengan jelas berhubung kemajuan
pengetahuan kita tentang Sains. Dengan
kata lain, perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap
terjemahan atau tafsiran-tafsiran yang tak dapat dilaksanakan
secara baik pada suatu
masa, karena sekarang kita sudah
memiliki arti kata-kata yang sebenarnya. Persoalan penterjemahan
seperti tersebut tidak timbul
dalam wahyu Yahudi Kristen . Soal itu hanya khusus mengenai Qur-an.
Aspek-aspek
ilmiah yang khusus
untuk Qur-an itu
sangat mengherankan aku, karena aku sama sekali tidak mengira bahwa
dalam teks yang disusun semenjak lebih
dari 13 abad,
aku dapat menemukan keterangan-keterangan tentang hal-hal yang
bermacam, yang sangat
cocok dengan pengetahuan
ilmiah modern. Pada permulaannya
aku sama sekali tidak percaya dengan Islam. Aku
mulai menyelidiki teks
Qur-an dengan pikiran yang bebas
dari segala prasangka, dan dengan pikiran obyektif. Jika ada faktor yang
mempengaruhi aku, faktor itu adalah pendidikan
yang aku terima ketika aku masih muda, pada waktu
orang menamakan orang
Islam dengan nama "Mohametans" untuk
memberi kesan bahwa Islam adalah
agama yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama itu tidak ada nilainya di hadirat Tuhan. Sebagai
kebanyakan orang Barat, aku
terpengaruh dengan pikiran-pikiran yang salah
tentang Islam, dan aku merasa
heran jika aku bertemu dengan orang-orang yang mengetahui soal-soal ke-Islaman, di luar
kalangan para ahli
(spesialis). Oleh karena itu aku mengaku
terus terang bahwa
sebelum mempunyai gambaran tentang Islam
yang berlainan dengan gambaran
orang Barat, aku sendiri sangat tidak tahu tentang Islam, jika
akhirnya aku mengetahui bahwa
penilaian Barat tentang
Islam itu salah, hal itu
adalah karena kejadian-kejadian yang istimewa. Di
Saudi Arabialah aku
menemukan bahan-bahan apresiasi
yang menunjukkan kepadaku betapa salahnya pendapat orang-orang Barat tentang
Islam.
Aku berhutang
budi besar kepada almarhum Sri
Baginda Raja Faisal yang aku hormati.
Aku dapat mendengar
daripadanya keterangan-keterangan
tentang Islam, dan
aku dapat membicarakan soal-soal
penafsiran Qur-an mengenai
Sains modern. Semua itu tak akan dapat aku lupakan. Sesungguhnya
aku merasa mendapat
kehormatan yang luar
biasa dapat menerima keterangan-keterangan dari
Sri Baginda dan para
pengikut-pengikutnya.
Setelah aku
dapat mengukur jurang yang memisahkan
hakekat Islam daripada image yang dimiliki oleh orang-orang Barat,
aku merasa ingin
belajar bahasa Arab
yang aku belum mengerti, agar
dapat membantu aku mempelajari agama yang sangat tidak
dikenal. Tujuanku yang pertama
adalah untuk membaca Qur-an,
menyelidiki teksnya, kalimat demi kalimat, dengan bantuan bermacam kitab
tafsir yang sangat diperlukan untuk penyelidikan
yang kritis. Aku mulai tugas itu dengan memperhatikan
keterangan-keterangan Qur-an tentang
fenomena alam. Ketepatan
keterangan Qur-an dalam perinci-perincinya, yaitu hal yang hanya dapat
ditemukan dalam teks
original, telah menarik perhatianku karena
cocok dengan konsepsi-konsepsi
zaman sekarang. Padahal seorang yang hidup pada zaman
Nabi Muhammad tidak
dapat mempunyai ide sedikitpun tentang
hal tersebut. Kemudian
aku membaca beberapa buku
karangan orang-orang Islam
mengenai aspek ilmiah
daripada teks Qur-an.
Buku-buku tersebut memuat pengetahuan-pengetahuan yang
sangat berfaedah, akan tetapi aku belum
pernah melihat di
negara-negara Barat, suatu penyelidikan yang menyeluruh tentang
hal ini.
Yang menarik
perhatian dalam menghadapi teks
Qur-an untuk pertama kali adalah
banyaknya hal-hal yang
dibicarakan mengenai
penciptaan alam, astronomi,
keterangan tentang bumi,
hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan kelahiran
manusia.
Dalam Bibel
aku telah menemukan kekeliruan-kekeliruan ilmiah yang besar, tetapi dalam
Qur-an aku tidak menemukan sesuatu, semua
itu mendorong diriku
untuk bertanya-tanya: Jika pengarang Qur-an itu seorang manusia,
mengapa pada abad VII Masehi, orang itu dapat menulis hal-hal yang terbukti
cocok dengan Sains modern?
Tidak ada kemungkinan
untuk menyangsikan bahwa teks
Qur-an yang kita miliki sekarang
adalah teks yang
bersejarah. (Fasal yang
akan datang membicarakan hal
ini). Apakah yang
dapat kita jadikan penerangan lahiriyah terhadap
kenyataan ini? Menurutku, tak ada penerangan
semacam itu. Tak
ada keterang an
yang memuaskan yang dapat menjelaskan bagaimana seorang penduduk Jazirah Arab,
dapat memiliki pengetahuan
ilmiah tentang beberapa hal, dan
pengetahuan itu mendahului
ilmu pengetahuan sekarang 13
abad, karena orang itu hidup pada waktu yang memerintah Perancis adalah
Raja Dagobert.
Sudah dibuktikan
oleh Sejarah bahwa
pada waktu Qur-an diwahyukan selama
23 tahun (622
M.), pengetahuan ilmiah terhenti semenjak beberapa abad. Dan sudah dibuktikan
pula bahwa periode berkembangnya kebudayaan Islam dengan kemajuan
ilmiahnya telah terjadi sesudah selesai turunnya wahyu atau Qur-an.
Ada orang yang berkata "Jika
dalam Qur-an terdapat keterangan-keterangan
ilmiah yang mentakjubkan, maka sebabnya pada
waktu sebelum itu telah terdapat ahli-ahli Sains Arab.
Muhammad mendapatkan inspirasi
dari karangan-karangan
mereka." Untuk dapat
menerima keterangan tersebut kita harus melupakan hal-hal
yang terjadi dalam sejarah. Barang
siapa mengetahui sedikit daripada
sejarah Islam dan mengetahui bahwa perkembangan kebudayaan dan Sains dalam
dunia Arab pada
abad pertengahan ia
tidak akan menerima khayalan
semacam itu. Pemikiran seperti tersebut di atas
sangat tidak tepat
apalagi kalau kita ingat bahwa kebanyakan fakta Sains
yang dikatakan oleh
Qur-an secara pasti, baru
mendapat konfirmasi pada zaman modern itu.
Kita tahu
bahwa selama berabad-abad,
banyak ahli tafsir Qur-an, termasuk mereka yang
hidup dalam zaman
kejayaan
peradaban Islam,
yang telah membuat
kesalahan dalam menafsirkan
beberapa ayat Qur-an yang mereka
tidak dapat mengungkap kan
arti yang sebenarnya. Hanya pada waktu yang kemudian, yang dekat
daripada zaman kita ini, mereka dapat menafsirkannya secara
benar. Hal ini mengandung arti bahwa untuk memahami ayat-ayat Qur-an,
pengetahuan yang mendalam tentang bahasa
Arab saja tidak
cukup. Di samping bahasa Arab, ahli tafsir perlu memiliki
pengetahuan ilmiah yang bermacam-macam. Penyelidikan tentang
Qur-an merupakan
penyelidikan pluridiscipliner, encyclopedical. Dengan mengikuti persoalan-persoalan yang
timbul, orang mengerti bahwa bermacam-macam pengetahuan ilmiah adalah
sangat perlu untuk memahami ayat-ayat
Qur-an tertentu.
Memang Qur-an
bukannya suatu buku
yang menerangkan
hukum-hukum
alam. Qur-an mengandung tujuan keagamaan
yang pokok. Ajakan untuk
memikirkan tentang penciptaan
alam dialamatkan kepada manusia dalam rangka penerangan
tentang kekuasaan Tuhan. Ajakan tersebut disertai dengan menun jukkan fakta-fakta yang
dapat dilihat oleh
manusia dan aturan-aturan yang
ditetapkan oleh Tuhan
untuk mengatur alam, baik dalam bidang Sains maupun dalam bidang
masyarakat kemanusiaan. Sebagian daripada fakta-fakta tersebut ada yang mudah
difahami, tetapi sebagian lainnya tidak dapat difahami tanpa pengetahuan ilmiah. Ini berarti bahwa
manusia-manusia pada abad-abad dahulu hanya dapat mengetahui arti-arti yang nampak dan hal itu dapat membawa mereka
kepada konklusi yang kurang benar karena kekurangan pengetahuan pada waktu itu.
Pemilihan
ayat-ayat Qur-an untuk diselidiki
segi ilmiahnya mungkin nampak
kecil bagi pengarang-pengarang Islam yang telah menarik
perhatian kepada fakta-fakta ilmiah
sebelum aku. Secara keseluruhan aku rasa memang aku memilih
jumlah yang lebih sedikit. Tetapi di lain fihak, aku telah membahas
ayat-ayat yang sampai sekarang belum diberi perhatian yang
cukup dari segi
pandangan ilmiah. Jika
aku melakukan kesalahan karena
meninggalkan ayat-ayat yang telah
mereka pilih, aku harap mereka
mema'afkan; selain daripada
itu, dalam beberapa buku, aku
menemukan interpretasi ilmiah yang tidak
tepat; untuk hal-hal
tersebut aku sajikan interpretasiku pribadi
yang didasarkan atas
kebebasan pikiran dan rasa tanggung jawab.
Aku juga
menyelidiki apakah dalam Qur-an disebutkan fenomena yang dapat
difahami oleh manusia tetapi
belum mendapatkan konfirmasi daripada
Sains modern. Dalam
rangka ini aku merasa
bahwa Qur-an memuat
isyarat bahwa dalam
alam (universe) ini terdapat
planet-planet yang seperti
bumi.
Harus kuterangkan
bahwa banyak ahli-ahli ilmu
pengetahuan menganggap hal tersebut
sangat mungkin, walaupun
tingkat pengetahuan sekarang tidak
dapat memberi kepastian. Aku merasa berkewajiban menuturkan
hal ini, dengan reserve yang harus kita
lakukan.
Aku telah
melakukan penyelidikan ini semenjak kira-kira 30 tahun. Tetapi ada suatu
fakta yang telah
disebutkan oleh Qur-an dan
harus ditambahkan kepada hal-hal yang kutulis mengenai astronomi
(ilmu bintang). Fakta
dalam Qur-an tersebut adalah:
pembukaan angkasa. Pada waktu
itu, orang meramalkan bahwa setelah
percobaan-percobaan peluru-peluru
kendali, pada suatu
waktu manusia akan dapat keluar
dari bumi dan menyelidiki angkasa. Orang
sudah tahu bahwa
ada ayat Qur-an yang
mengatakan bahwa manusia pada satu waktu akan melaksanakan pembukaan
angkasa. Hal tersebut sekarang sudah terjadi.
Konfrontasi Kitab
Suci (Bibel atau Qur-an) dengan Sains, mengundang
pemikiran-pemikiran yang ada
hubungannya dengan
"Kebenaran ilmiah;" supaya konfrontasi itu mempunyai arti, maka
argumentasi ilmiah yang
menjadi dasar harus
sudah ditetapkan secara pasti dan tidak dapat didiskusikan lagi.
Mereka yang segan menerima campur tangan Sains dalam menilai Kitab Suci,
mengingkari bahwa Sains dapat
memberi patokan untuk perbandingan;
(Bibel akan menderita
kerugian jika dikonfrontir dengan
Sains, tetapi Qur-an
tidak takut konfrontasi
tersebut); Mereka mengatakan bahwa
Sains itu berubah menurut
waktu, sehingga sesuatu hal
mungkin dapat diterirna pada suatu waktu, akan tetapi kemudian ditolak.
Soal
tersebut di atas memerlukan penjelasan sebagai berikut: kita harus
membedakan teori ilmiah dan fakta
yang diamati dan dikuasai. Teori adalah untuk menerangkan suatu fenomena atau
kumpulan fenomena yang
sukar difahami. Teori memang sering berubah-ubah, teori dapat dirubah
sedikit atau sama sekali
diganti dengan teori lain
jika kemajuan ilmiah memungkinkan orang untuk menganalisa
fakta secara lebih baik dan memikirkan suatu-penafsiran yang lebih berharga.
Sebaliknya, fakta
yang diamati dan
dibuktikan dengan eksperimen
tidak dapat dirubah.
Orang dapat menjelaskan sifat-sifatnya dengan lebih
terperinci akan tetapi fakta itu tetap
tidak berubah. Orang
telah membuktikan bahwa bumi-beredar sekitar
matahari dan bulan
beredar sekitar bumi, tidak akan mengalami perubahan; pada masa
yang akan datang mungkin
orang akan dapat memberi gambaran tentang
orbit-orbitnya.
Pemikiran
bahwa teori itu dapat berubah,
telah mendorongku umpamanya untuk
tidak membicarakan satu ayat Qur-an yang dikatakan oleh seorang
muslim ahli fisika sebagai ayat yang
menerangkan konsep anti
materi, sedangkan teori tersebut
pada waktu ini banyak diperdebatkan. Sebaliknya orang dapat menerima dengan
penuh perhatian suatu
ayat Qur-an yang mengatakan bahwa
asal kehidupan itu adalah air;
kehidupan berasal dari air adalah
suatu hal yang tak dapat dibuktikan akan tetapi telah dikuatkan oleh
argumentasi bermacam-macam. Adapun mengenai pengamatan fakta-fakta, seperti
perkembangan janin manusia, orang
dapat mengkonfrontasikan bermacam- macam tahap
yang disebutkan oleh
Qur-an dengan
penemuan-penemuan embryologie (ilmu
janin) modern, dan menemukan persesuaian yang mutlak antara ayat Qur-an
dengan Sains.
Konfrontasi
Qur-an dengan Sains telah disempurnakan oleh dua perbandingan; di satu fihak
konfrontasi ayat-ayat Bibel
dengan Sains modern dalam hal-hal
yang dibicarakan oleh keduanya. Di
lain fihak perbandingan
pandangan ilmiah tersebut dengan
ayat-ayat Qur-an, wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan dengan hadits,
buku riwayat, serta ucapan Nabi Muhammad di luar ayat-ayat yang tersebut
dalam Qur-an.
Pada akhir
bagian ketiga daripada
buku ini, orang akan
menemukan hasil perbandingan
antara riwayat Bibel
dan riwayat Qur-an mengenai kejadian yang sama dengan hal yang
sudah disaring oleh kritik ilmiah;
sebagai contoh, kita telah
mengadakan penyelidikan tentang penciptaan alam dan tentang Banjir
Nabi Nuh. Untuk kedua masalah itu telah
kita buktikan bahwa riwayat
Bibel tidak sesuai dengan Sains. Tetapi kita akan menemukan
bahwa riwayat-riwayat Qur-an, sesuai sepenuhnya
dengan Sains. Orang
akan melihat
perbedaan-perbedaan
yang menjadikan riwayat
Qur-an dapat diterima di
zaman modern sedang
riwayat Bibel tak dapat diterima.
Konstatasi
ini sangat penting, oleh karena di
negara-negara Barat,
orang-orang Yahudi, Kristen
atau atheist semuanya berpendapat tanpa bukti sedikitpun, bahwa Muhammad
menulis (mengarang) Qur-an atau
memerintahkan orang menulis (mengarang) Qur-an dengan meniru
Bibel. Orang mengiraR bahwa riwayat
Qur-an tentang sejarah
agama mengutip dari riwayat-riwayat Bibel. Sikap
semacam itu sama
sembrononya dengan sikap orang
yang mengatakan bahwa Yesus telah menipu orang-orang pada
zamannya dengan mengatakan
bahwa ia mendapat inspirasi dari
Perjanjian Lama selama ia berdakwah.
Kita
mengetahui bahwa seluruh Injil Matius
didasarkan atas kontinuitas dengan
Perjanjian Lama. Ahli tafsir mana
yang berani melepaskan kenabian Yesus oleh
karena hal tersebut
(kontinuitas
dengan Perjanjian Lama)? Tetapi begitulah orang menilai Muhammad di negara-negara
Barat. "Muhammad hanya meniru
Bibel." Hal ini tentu saja
merupakan penilaian yang sangat dangkal
yang tidak memperdulikan
kenyataan bahwa Bibel dan
Qur-an dapat memberikan
versi yang berlainan. Tetapi orang
menganggap sepi perbedaan-perbedaan riwayat antara Qur-an
dan Injil. Bahkan
orang menyatakan bahwa
riwayat-riwayat itu adalah
identik, oleh karena
itu pengetahuan ilmiah tidak boleh mencampuri. Soal-soal semacam ini
akan kita bicarakan mengenai hikayat penciptaan alam dan banjir pada zaman Nabi
Nuh.
Kumpulan-kumpulan Hadits
bagi Nabi Muhammad adalah seperti Injil empat bagi
Yesus, Hadits adalah
riwayat mengenai perbuatan dan
perkataan Nabi, yang mengumpulkannya bukan saksi-saksi mata
(sedikitnya bagi kumpulan
Hadits yang benar), yang
dikumpulkan sesudah zamannya Nabi Muhammad.
Kitab Hadits
sama sekali tidak
merupakan kitab yang mengandung wahyu tertulis. Hadits bukan sabda Tuhan,
tetapi meriwayatkan kata-kata Muhammad. Dalam buku-buku Hadits yang banyak
tersiar kita dapatkan riwayat-riwayat yang mengandung kekeliruan ilmiah, khususnya
mengenai resep obat-obatan. Tetapi siapa
yang dapat mengatakan
dengan pasti bahwa keteranganketerangan yang
dinisbatkan kepada Nabi
itu autentik? Kita tidak
membicarakan problema-problema
keagamaan, yang memang tidak kita bicarakan berhubung dengan persoalan Hadits.
Banyak Hadits yang
disangsikan kebenarannya;
Hadits-Hadits itu telah
dibicarakan oleh ulama-ulama Islam
sendiri. Jika kita
membicarakan aspek ilmiah daripada beberapa Hadits dalam
buku ini, hal
itu adalah pada dasarnya
untuk menunjukkan perbedaan antara Hadits dan Qur-an, karena
Qur-an tidak mengandung pernyataan ilmiah yang tak dapat diterima.
Konstatasi
yang akhir ini menjadikan hipotesa bahwa Muhammad adalah pengarang Qur-an,
tidak dapat diterima. Tidak mungkin seorang yang tak dapat membaca dan menulis
menjadi pengarang nomor satu, penulis karya nomor satu dalam sastra Arab, dan memberitahukan soal-soal
ilmiah yang tak ada manusia pada
waktu itu dapat melakukannya, serta
segala keterangannya tidak ada
yang keliru.
Pemikiran-pemikiran yang
akan kita kembangkan
dalam penelitian ini dari segi pandangan ilmiah akan menyampaikan kita kepada
suatu natijah yaitu: "tidak masuk akal bahwa seseorang
yang hidup pada abad VII M. dapat melontarkan
dalam Qur-an ide-ide mengenai
bermacam-macam hal yang bukan merupakan pemikiran manusia pada waktu itu. Dan
ide-ide itu cocok dengan
apa yang akan dibuktikan oleh
Sains beberapa abad kemudian."
Bagiku, tak ada kemungkinan bahwa Qur-an itu buatan
manusia.
Sejarah penyusunan Al-Qur'an:
II. KEASLIAN QUR-AN
SEJARAH PENYUSUNANNYA
Keaslian
yang tak
dapat disangsikan lagi
telah memberi kepada Qur-an suatu
kedudukan istimewa di antara kitab-kitab Suci, kedudukan itu khusus bagi
Qur-an, dan tidak dibarengi oleh Perjanjian
lama dan Perjanjian Baru. Dalam dua bagian pertama daripada
buku ini kita
telah menjelaskan
perubahan-perubahan yang terjadi dalam Perjanjian Lama dan empat
Injil, sebelum Bibel dapat kita baca dalam
keadaannya sekarang. Qur-an tidak
begitu halnya, oleh karena Qur-an
telah ditetapkan pada zaman Nabi
Muhammad, dan kita
akan lihat bagaimana caranya Qur-an itu ditetapkan
Perbedaan-perbedaan yang memisahkan wahyu terakhir daripada kedua
wahyu sebelumnya, pada pokoknya tidak
terletak dalam "waktu turunnya" seperti
yang sering ditekankan
oleh beberapa pengarang yang
tidak memperhatikan hal-hal
yang terjadi sebelum kitab
suci Yahudi Kristen dibukukan,
dan hal-hal yang terjadi sebelum pembukuan Qur-an, mereka
juga tidak memperhatikan bagaimana Qur-an itu diwahyukan kepada Nabi
Muhammad.
Orang mengatakan bahwa teks yang ada pada abad
VII Masehi mempunyai kemungkinan
yang lebih besar untuk dapat
sampai kepada kita tanpa perubahan daripada teks yang
jauh lebih tua daripada
Qur-an dengan perbedaan
15 abad. Kata-kata tersebut adalah tepat, akan tetapi tidak memberi keterangan yang cukup.
Tetapi di samping
itu, keterangan tersebut
diberikan untuk memberi alasan kepada
perubahan-perubahan teks
kitab suci Yahudi
Kristen yang terjadi
selama berabad-abad, dan bukan untuk menekankan bahwa teks
Qur-an itu karena lebih
baru daripada teks
kitab suci Yahudi Kristen, lebih
sedikit mengandung kemungkinan untuk
dirubah oleh manusia.
Bagi Perjanjian
Lama, yang menjadi
sebab kekeliruan dan kontradiksi yang
terdapat di dalamnya
adalah: banyaknya pengarang sesuatu riwayat, dan seringnya teks-teks
tersebut ditinjau kembali dalam periode-periode sebelum lahirnya Nabi Isa; mengenai
empat Injil yang
tidak ada orang
dapat mengatakan bahwa kitab-kitab itu mengandung kata-kata Yesus secara
setia dan jujur
atau mengandung riwayat tentang perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan
realitas yang
sungguh-sungguh terjadi, kita
sudah melihat bahwa redaksi-redaksi yang
bertubi-tubi menyebabkan bahwa teks-teks tersebut kehilangan autentisitas. Selain
daripada itu para penulis Injil tidak merupakan saksi mata
terhadap kehidupan Yesus.
Selain daripada
itu kita harus membedakan antara Qur-an, Wahyu
tertulis, daripada Hadits
jami' kumpulan riwayat, tentang perbuatan
dan kata-kata Nabi
Muhammad. Beberapasahabat Nabi telah mulai mengumpulkannya segera
setelah Nabi Muhammad wafat.5 Dalam
hal ini, dapat
saja terjadi kesalahan-kesalahan
yang bersifat kemanusiaan karena
para penghimpun Hadits adalah
manusia-manusia biasa; akan tetapi kumpulan-kumpulan mereka itu kemudian
disoroti dengan tajam oleh kritik
yang sangat serius, sehingga dalam prakteknya, orang lebih percaya
kepada dokumen yang dikumpulkan orang, lama setelah Nabi Muhammad wafat.
Sebagaimana halnya dengan teks-teks Injil, Hadits
mempunyai autentisitas yang
berlainan, dari satu
pengumpul kepada pengumpul yang lain. Sebagaimana hal Injil, tak ada
sesuatu Injil yang ditulis pada
waktu Yesus masih
hidup (karena semuanya ditulis
lama sesudah Nabi
Isa meninggal) maka kumpulan Hadits
juga dibukukan setelah
(Nabi Muhammad meninggal).
Bagi Qur-an,
keadaannya berlainan. Teks Qur-an
atau Wahyu itu dihafalkan oleh Nabi
dan para sahabatnya,
langsung setelah wahyu diterima,
dan ditulis oleh
beberapa sahabat-sahabatnya yang ditentukannya. Jadi, dari permulaan,
Qur-an mempunyai dua unsur autentisitas tersebut, yang tidak dimiliki Injil.
Hal ini berlangsung sampai
wafatnya Nabi Muhammad. Penghafalan
Qur-an pada zaman
manusia sedikit sekali yang dapat menulis, memberikan kelebihan jaminan
yang sangat besar pada waktu pembukuan Qur-an secara definitif,
dan disertai beberapa
regu untuk mengawasi
pembukuan tersebut.
Wahyu Qur-an
telah disampaikan kepada Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril,
sedikit demi sedikit selama lebih
dari 20 tahun. Wahyu
yang pertama adalah yang sekarang merupakan ayat-ayat
pertama daripada surat nomor 96. Kemudian
Wahyu itu berhenti selama
3 tahun, dan mulai lagi berdatangan selama 20 tahun
sampai wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M.; dapat
dikatakan bahwa turunnya
Wahyu berlangsung 10 tahun sebelum Hijrah (622) dan 10 tahun lagi
sesudah Hijrah.
"Bacalah dengan
{menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya."
Professor Hamidullah mengatakan dalam Pengantar yang
dimuat dalam terjemahan Qur-an bahwa isi dari wahyu pertama adalah "penghargaan terhadap
kalam sebagai alat untuk pengetahuan manusia" dan dengan
begitu maka menjadi
jelas bagi kita "perhatian Nabi
Muhammad untuk menjaga kelangsungan Qur-an dengan tulisan."
Beberapa
teks menunjukkan secara formal bahwa
lama sebelum Nabi Muhammad
meninggalkan Mekah untuk hijrah
ke Madinah, ayat-ayat Quran yang telah diwahyukan kepada Nabi
Muhammad sudah dituliskan. Kita
nanti akan mengetahui bahwa Qur-an membuktikan hal tersebut.
Kita
mengetahui bahwa Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya biasa menghafal
teks-teks yang telah
diwahyukan. Adalah tidak masuk akal jika Qur-an menyebutkan hal-hal
yang tidak sesuai
dengan realitas, karena hal-hal
itu mudah dikontrol disekeliling
Muhammad yakni oleh
sahabat-sahabat yang mencatat
Wahyu tersebut.
Empat Surat
Makiyah (diturunkan sebelum
Hijrah) memberi gambaran
tentang redaksi Qur-an
sebelum Nabi Muhammad meninggalkan Mekah pada tahun 622
M.
Surat 80
ayat 11-1 6:
"Sekali-kali jangan
(demikian), sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu
adalah peringatan, maka
barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikan.
Di dalam kõtab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan, lagi disucikan. Di
tangan para penulis, yang mulia lagi berbakti."
Yusuf Ali, dalam Terjemah Qur-an yang ditulisnya
pada tahun 1936 mengatakan bahwa pada waktu Surat tersebut
diwahyukan sudah ada 42
atau 45 Surat
yang beredar di antara kaum muslimin di Mekah (Jumlah Surat-surat dalam
Qur-an adalah 114 Surat).
"Bahkan yang
didustakan mereka itu
ialah al Qur-an yang mulia yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz."
"Sesungguhnya
Al Qur-an ini adalah bacaan yang sangat
mulia (yang terdapat) pada
kitab yang terpelihara
(Lauhul Makfudz). Tidak menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan
semesta alam."
"Dan mereka berkata (lagi). Dongengan-dongengan
orang-orang dahulu dimintanya supaya
dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap
pagi dan petang."
Ayat tersebut
menyinggung dakwaan para lawan Nabi Muhammad yang menuduh
bahwa Muhammad adalah
Nabi palsu, mereka menggambarkan bahwa ada orang yang mendiktekan sejarah kuno
kepada Nabi Muhammad
dan Muhammad menyuruh sahabat-sahabatnya untuk
menulisnya.
Ayat tersebut menyebutkan: "Pencatatan dengan
tulisan" yang didakwakan kepada Muhammad oleh lawan-lawannya.
II. KEASLIAN QUR-AN
Suatu
Surat yang diturunkan
sesudah Hijrah, menyebutkan tentang lembaran-lembaran yang
di dalamnya tertulis perintah-perintah suci.
Surat 98
ayat 2 dan 3:
"Seorang Rasul
dari Allah (yaitu
Nabi Mahammad) yang
membacakan lembaran-lembaran yang
disucikan (Al Qur-an). Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus."
Dengan begitu
maka Qur-an sendiri
memberitahukan bahwa penulisan
Quran telah dilakukan semenjak Nabi Muhammad masih hidup. Kita mengetahui bahwa
Nabi Muhammad mempunyai
juru tulis-juru tulis banyak, di
antaranya yang termashur adalah Zaid bin Tsabit.
Dalam pengantar
dalam Terjemahan Qur-annya
(197) Prof. Hamidullah melukiskan
kondisi waktu teks
Qur-an ditulis sampai Nabi Muhammad wafat.
Sumber-sumber
sepakat untuk mengatakan bahwa tiap kali suatu fragmen daripada
Qur-an diwahyukan, Nabi memanggil seorang daripada para
sahabat-sahabatnya yang terpelajar
dan mendiktekan kepadanya, serta menunjukkan secara pasti tempat
fragmen baru tersebut
dalam keseluruhan Qur-an.
Riwayat-riwayat menjelaskan
bahwa setelah mendiktekan ayat tersebut, Muhammad minta kepada juru
tulisnya untuk membaca apa yang sudah
ditulisnya, yaitu untuk mengadakan pembetulan jika terjadi
kesalahan. Suatu riwayat
yang masyhur mengatakan bahwa
tiap tahun pada
bulan Ramadlan, Nabi Muhammad membaca ayat-ayat Qur-an yang
sudah diterimanya di hadapan Jibril.
Pada bulan Ramadlan yang terakhir
sebelum Nabi Muhammad meninggal, malaikat
Jibril mendengarkannya
membaca (mengulangi hafalan)
Qur-an dua kali.
Kita mengetahui bahwa semenjak
zaman Nabi Muhammad,
kaum muslimin membiasakan diri
untuk berjaga pada bulan Ramadlan dan melakukan ibadat-ibadat tambahan dengan
membaca seluruh Qur-an. Beberapa
sumber menambahkan bahwa pada pembacaan Qur-an yang terakhir
di hadapan Jibril,
juru tulis Nabi Muhammad yang
bernama Zaid hadir.
Sumber-sumber lain mengatakan
bahwa di samping Zaid juga ada
beberapa orang lain yang hadir.
Untuk pencatatan
pertama, orang memakai
bermacam-macarn bahan seperti kulit, kayu, tulang unta,
batu empuk untuk ditatah dan lain-lainnya.
Tetapi pada
waktu yang sama Muhammad menganjurkan supaya kaum
muslimin menghafalkan Qur-an, yaitu bagian-bagian yang dibaca
dalam sembahyang. Dengan
begitu maka muncullah sekelompok orang yang dinamakan
hafidzun (penghafal Qur-an) yang hafal
seluruh Qur-an dan
mengajarkannya kepada orang-orang
lain. Metoda ganda untuk memelihara teks
Qur-an yakni dengan mencatat
dan menghafal ternyata
sangat berharga.
Tidak lama
setelah Nabi Muhammad
wafat (tahun 632
M.), penggantinya (sebagai Kepala
Negara), yaitu Abu
Bakar, Khalifah yang pertama, minta kepada juru tulis
Nabi, Zaid bin Tsabit
untuk menulis sebuah
Naskah; hal ini ia
laksanakan.
Atas
initiatif Umar (yang kemudian menjadi Khalifah
kedua), Zaid memeriksa
dokumentasi yang ia dapat mengumpulkannya di Madinah; kesaksian daripada
penghafal Qur-an, copy
Qur-an yang dibikin atas
bermacam-macam bahan dan yang
dimiliki oleh pribadi-pribadi, semua itu untuk menghindari kesalahan transkripsi (penyalinan
tulisan) sedapat mungkin. Dengan cara ini, berhasillah tertulis
suatu naskah Qur-an
yang sangat dapat dipercayai.
Sumber-sumber mengatakan
bahwa kemudian Umar bin Khathab yang menggantikan Abu Bakar
pada tahun 634 M, menyuruh bikin satu
naskah (mushaf) yang ia simpan,
dan ia pesankan bahwa setelah ia mati, naskah tersebut diberikan
kepada anaknya perempuan, Hafsah
janda Nabi Muhammad Khalifah ketiga, Uthman bin Affan yang menjabat dari tahun
644 sampai 655,
membentuk suatu panitya
yang terdiri daripada para
ahli dan memerintahkan
untuk melakukan pembukuan besar
yang kemudian membawa
nama Khalifah tersebut. Panitya
tersebut memeriksa dokumen yang dibuat oleh Abubakar
dan yang dibuat
oleh Umar dan
kemudian disimpan oleh Hafsah,
panitya berkonsultasi dengan orang-orang yang hafal Qur-an.
Kritik tentang autentisitas teks dilakukan secara ketat sekali. Persetujuan
saksi-saksi diperlukan untuk menetapkan suatu ayat kecil
yang mungkin mempunyai arti
lebih dari satu;
kita mengetahui bahwa beberapa ayat Qur-an dapat menerangkan
ayat-ayat yang lain dalam
soal ibadat. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat bahwa kerasulan
Muhammad adalah sepanjang dua puluh tahun.7
Dengan cara
tersebut di atas, diperolehlah suatu
teks di mana urutan
Surat-surat mencerminkan urutan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika
membaca Qur-a:n di bulan Ramadlan di muka
malaikat Jibril seperti yang
telah diterangkan di atas.
Kita dapat
bertanya-tanya tentang motif yang
mendorong 3 Khalifah pertama, khususnya Uthman untuk mengadakan
koleksi dan pembukuan teks.
Motif tersebut adalah
sederhana; tersiarnya Islam adalah sangat cepat pada beberapa dasawarsa
yang pertama setelah wafatnya
Nabi Muhammad. Tersiarnya Islam tersebut
terjadi di daerah-daerah yang penduduknya tidak berbahasa
Arab. Oleh karena
itu perlu adanya tindakan-tindakan pengamanan
untuk memelihara tersiarnya teks Qur-an dalam kemurnian
aslinya. Pembukuan Uthman adalah untuk memenuhi hasrat ini.
Uthman mengirimkan
naskah-naskah teks pembukuannya
ke pusat-pusat Emperium Islam, dan oleh karena itu maka menurut Professor
Hamidullah , pada waktu ini terdapat naskah Qur-an (mushaf) Uthman di Tasykent8 dan
Istambul. Jika kita sadar akan
kesalahan penyalinan tulisan
yang mungkin terjadi,
manuskrip yang paling
kuno yang kita
miliki dan yang ditemukan di negara-negara Islam adalah
identik. Begitu juga naskah-naskah yang ada di Eropa. (Di Bibliotheque
National di Paris terdapat
fragmen-fragmen yang menurut para ahli, berasal dan abad VIII dan IX
Masehi, artinya berasal
dari abad II dan III Hijrah). Teks-teks kuno yang sudah ditemukan
semuanya sama, dengan catatan ada
perbedaan-perbedaan yang
sangat kecil yang
tidak merubah arti teks, jika konteks ayat-ayat
memungkinkan cara membaca yang lebih
dari satu karena tulisan
kuno lebih sederhana
daripada tulisan sekarang.
Surat-surat
Qur-an yang berjumlah 114, diklasifikasi menurut panjang pendeknya, dengan beberapa kekecualian. Oleh
karena itu urutan waktu
(kronologi) wahyu tidak
dipersoalkan; tetapi orang dapat
mengerti hal tersebut dalam kebanyakan persoalan. Banyak
riwayat-riwayat yang disebutkan
dalam beberapa tempat dalam
teks, dan hal
ini memberi kesan
seakan-akan ada ulangan.
Sering sekali suatu
paragraf menambahkan
perincian kepada suatu riwayat yang dimuat di lain tempat
secara kurang terperinci. Dan semua yang mungkin ada hubungannya
dengan Sains modern,
seperti kebanyakan hal-hal yang
dibicarakan oleh Qur-an,
dibagi-bagi dalam Qur-an dengan
tidak ada suatu tanda adanya klasifikasi.
III. PENCIPTAAN LANGIT-LANGIT DAN BUMI
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN DENGAN RIWAYAT DALAM BIBEL
Berbeda dengan Perjanjian Lama, Qur-an tidak menyajikan suatu riwayat yang menyeluruh tentang penciptaan. Sebagai ganti suatu riwayat yang sambung menyambung, kita dapatkan di beberapa tempat dalam Qur-an ayat-ayat yang menunjukkan aspek-aspek tertentu daripada penciptaan dan memberi sedikit banyak perincian mengenai kejadian-kejadian yang menunjukkannya secara berturut-turut. Untuk mempunyai gambaran yang jelas tentang bagaimana kejadian-kejadian itu disajikan, kita harus mengumpulkan bagian-bagian yang terpisah-pisah dalam beberapa surat.
Menyebutkan sesuatu kejadian dalam beberapa tempat dalam Qur-an tidak hanya khusus mengenai penciptaan. Banyak soal-soal penting juga dilakukan semacam itu, baik mengenai kejadian-kejadian di bumi atau di langit atau mengenai soal-soal tentang manusia yang sangat penting bagi ahli Sains. Bagi tiap-tiap kejadian tersebut, telah diadakan suatu pengumpulan ayat-ayat.
Bagi banyak pengarang Eropa, riwayat Qur-an tentang penciptaan sangat mirip dengan riwayat Bibel, dan mereka senang untuk menunjukkan dua riwayat tersebut secara paralel. Saya merasa bahwa ide semacam itu salah, karena terdapat perbedaan-perbedaan yang nyata antara dua riwayat. Dalam soal-soal yang penting dari segi ilmiah, kita dapatkan dalam Qur-an keterangan-keterangan yang tak dapat kita jumpai dalam Bibel. Dan Bibel memuat perkembangan-perkembangan yang tak ada bandingannya dalam Qur-an.
Persamaan yang semu antara dua teks sangat terkenal; di antaranya angka-angka yang berurut tentang penciptaan, pada permulaannya nampak identik; enam hari dalam Qur-an sama dengan enam hari dalam Bibel. Tetapi pada hakekatnya, persoalannya adalah lebih kompleks dan perlu diselidiki.
Enam
Perioda Penciptaan Langit dan Bumi
Perioda
penciptaan langit dan bumi menurut Injil dan Qur'an.
ENAM PERIODE DARIPADA PENCIPTAAN
Riwayat Bibel9 menyebutkan secara tegas bahwa penciptaan alam itu terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti hari-hari dalam satu minggu. Kita telah mengetahui bahwa cara meriwayatkan seperti ini telah dilakukan oleh para pendeta pada abad keenam sebelum Masehi, dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktekkan istirahat hari Sabtu; tiap orang Yahudi harus istirahat pada hari Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan setelah bekerja selama enam hari.
Jika kita mengikuti faham Bibel, kata "hari" berarti masa antara dua terbitnya matahari berturut-turut atau dua terbenamnya matahari berturut-turut. Hari yang difahami secara ini ada hubungannya dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang bahwa menurut logika orang tidak dapat memakai kata "hari" dalam arti tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari, yakni adanya Bumi serta beredarnya sekitar matahari, belum terciptakan pada tahap-tahap pertama daripada Penciptaan menurut riwayat Bibel; ketidak mungkinan hal ini telah kita bicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini.
Jika kita menyelidiki kebanyakan terjemahan Qur-an, kita dapatkan, seperti yang dikatakan oleh Bibel, bahwa bagi wahyu Islam, proses penciptaan berlangsung dalam waktu enam hari. Kita tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah Qur-an karena mereka memberi arti "hari" dengan arti yang sangat lumrah.
Kita dapatkan terjemahan Surat 7 (A'raf) ayat 54: [Tulisan Arab]
Artinya: "Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari."
Sedikit jumlah terjemahan atau tafsir Qur-an yang mengingatkan bahwa kata "hari" harus difahami sebagai "periode."
Ada orang yang mengatakan bahwa teks Qur-an tentang penciptaan alam membagi tahap-tahap penciptaan itu dalam "hari-hari" dengan sengaja dengan maksud agar semua orang menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam dan agar soal penciptaan tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang sangat tersiar luas.
Dengan tidak menolak cara interpretasi seperti tersebut, apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh Qur-an sendiri dan oleh bahasa-bahasa pada waktu tersiarnya Qur-an, yaitu kata yaum (jamaknya ayyam).
Arti yang paling terpakai daripada "yaum" adalah "hari," tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara terbenamnya matahari sampai terbenamnya lagi. Kata jamak "ayyam" dapat berarti beberapa hari akan tetapi juga dapat berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata "ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam Qur-an, surat 32 (Sajdah) ayat 5:
"Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari perhitungan kamu."
Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma'arij) ayat 4, kita dapatkan:
"Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun."
Bahwa kata "'yaum" dapat berarti "periode" yang sangat berbeda dengan "hari" telah menarik perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang tentu saja tidak mempunyai pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.
Maka Abussu'ud, ahli tafsir abad XVI M. tidak dapat menggambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu, bukan dalam "hari" yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam "peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat."
Ahli-ahli Tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu mengartikan "hari" dalam ayat-ayat tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang panjang, atau "age."
Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, Qur-an menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang jumlahnya enam. Sains modern tidak memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir dengan terciptanya alam dapat dihitung "enam." Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti "hari" sebagai yang kita fahami sangat tidak sesuai.
Suatu paragraf yang sangat panjang dan membicarakan penciptaan alam merangkaikan riwayat tentang kejadian-kejadian di bumi dengan kejadian-kejadian di langit; yaitu surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:
Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya.
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan dia (langit itu masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi 'Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab: Kami datang-dengan suka hati.'
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
Empat ayat dari Surat 41 tersebut menunjukkan beberapa aspek; bentuk gas yakni bentuk pertama daripada bahan samawi serta pembatasan secara simbolis bilangan langit sampai tujuh. Kita akan melihat nanti apa arti angka tersebut.
Percakapan antara Tuhan di satu pihak dan langit dan bumi di pihak lain adalah simbolis; maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa setelah diciptakan Tuhan, langit-langit dan bumi menyerah kepada perintah-perintah Tuhan.
Ada orang-orang yang mengatakan bahwa paragraf tersebut bertentangan dengan ayat yang mengatakan bahwa penciptaan itu melalui enam periode. Dengan menjumlahkan dua periode yang merupakan penciptaan bumi dan empat periode untuk pembagian makanan bagi penduduknya dan dua periode untuk penciptaan langit, kita akan mendapatkan delapan periode, dan hal ini merupakan kontradiksi dengan enam periode tersebut di atas.
Sesungguhnya teks yang dimaksudkan untuk mengajak orang berfikir tentang kekuasaan Tuhan dengan memulai memikirkan bumi sehingga nanti dapat memikirkan langit, teks tersebut merupakan dua bagian yang dipisahkan dengan kata: "tsumma" yang berarti: di samping itu (selain daripada itu). Tetapi kata tersebut juga berarti: kemudian daripada itu. Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yakni urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi juga mungkin hanya berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti: urut-urutan. Bagaimanapun juga, periode penciptaan langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi. Sebentar lagi kita akan membicarakan bagaimana Qur-an menyebutkan proses elementer penciptaan alam dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi pada waktu yang sama untuk langit dan bumi sesuai dengan konsep modern.
Dengan begitu kita akan mengerti benar kebolehan menggambarkan simultanitas kejadian-kejadian yang disebutkan dalam fasal ini.
Jadi tak ada pertentangan antara paragraf yang kita bicarakan dengan konsep yang terdapat dalam teks-teks yang lain yang ada dalam Qur-an, yakni teks yang mengatakan bahwa penciptaan alam itu terjadi dalam enam periode.
QUR-AN TIDAK MENUNJUKKAN URUT-URUTAN
DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI
Dalam dua paragraf daripada Qur-an yang baru saja kita sebutkan, terdapat ayat mengenai penciptaan langit-langit dan bumi (surat 7 ayat 54), dan di lain tempat disebutkan penciptaan bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12), nampak bahwa Qur-an tidak menunjukkan urut-urutan dalam penciptaan langit-langit dan bumi.
Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam surat 20 ayat 4. Akan tetapi terdapat lebih. banyak ayat-ayat di mana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54, surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32 ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27, dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).
Jika kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam Qur-an yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal. Yang terdapat hanya huruf "wa" yang artinya "dan" serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata "tsumma" yang sudah kita bicarakan di atas dan yang dapat menunjukkan, sekedar sesuatu di samping sesuatu lainnya, atau urutan.
Pada hemat saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Quran, di mana disebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79
Artinya: "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi sesudah itu dihamparkannya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh Semua itu untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu."
Perincian nikmat-nikmat Dunia yang Allah berikan kepada manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi petani atau orang-orang pengembara (nomad) di Jazirah Arabia, didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana. Terang bahwa di sini ada dua hal yang dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan kelompok kejadian-kejadian di bumi yang diterangkan dengan waktu.
Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit. Dapat kita simpulkan bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan, jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat lain.
Proses fundamental daripada pembentukan kosmos dan kesudahannya dengan penyusunan alam
Dalam dua ayat Qur-an disajikan suatu sintesa singkat daripada fenomena-fenomena yang menyusun proses fundamental tentang pembentukan kosmos.
Surat 21 ayat 30:
Artinya: "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bakwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai berikut:
Artinya: "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati."
Nanti kita akan membicarakan tentang asal kehidupan yang dikatakan "air," di samping masalah-masalah biologi yang terdapat dalam Qur-an. Untuk sementara kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:
a). Menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair, dan dalam suhu rendah atau tinggi
b). Menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang dipadukan (ratq). Kita tegaskan lagi, "fatq" dalam bahasa Arab artinya memisahkan dan "ratq" artinya perpaduan atau persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang homogen.
Konsep kesatuan yang berpisah-pisah menjadi beberapa bagian telah diterangkan dalam bagian-bagian lain dari Qur-an dengan menyebutkan alam-alam ganda. Ayat pertama dari surat pertama dalam Qur-an berbunyi: "Dengan nama Allah, Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam."
Kata-kata alamin (alam-alam) terdapat berpuluh kali dalam Qur-an. Langit-langit juga disebutkan sebagai ganda, bukan saja dalam bentuk kata jamak; tetapi dengan angka simbolik yaitu angka tujuh. Angka tujuh dipakai dalam Qur-an 24 kali untuk maksud bermacam-macam. Sering kali angka tujuh itu berarti "banyak" dan kita tidak tahu dengan pasti sebabnya angka tersebut dipakai. Bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Rumawi, angka 7 juga mempunyai arti "banyak" yang tidak ditentukan. Dalam Qur-an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada langit, angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan langit-langit yang tidak
disebutkan. Angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan 7 jalan di langit.
Bacalah ayat-ayat di bawah ini. Surat 2 ayat 29.
Artinya: "Dialah .Allah, yang menyaksikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."
Surat 23 ayat 17.
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami sekali- kali tidaklah lengah terhadap ciptaan."
Surat 67 ayat 3
Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis- lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang- ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
Surat 71 ayat 15-16
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat- tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?"
Surat 78 ayat 12.
Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)."10
Untuk ayat-ayat tersebut para ahli tafsir Qur-an sepakat bahwa angka 7 menunjukkan "banyak" dengan tak ada perinci.11
Langit-langit adalah banyak, dan bumi juga banyak. Pembaca modern yang membaca Qur-an akan heran bahwa ia menemukan dalam suatu teks dan abad VI suatu benda yang mengatakan bahwa bumi-bumi seperti bumi kita terdapat dalam kosmos, padahal manusia pada zaman kita sekarang ini, sampai hari ini belum dapat membuktikan.
Sesungguhnya surat 65 ayat 12 berbunyi:
Artinya: "Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi, berlaku perintah {Allah) di antaranya, (Allah menciptakan yang demikian) supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu."
Karena angka tujuh menunjukkan "ganda" yang tak ditentukan, kita dapat mengambil konklusi bahwa teks Qur-an menunjukkan dengan jelas bahwa tidak hanya terdapat suatu bumi, bumi manusia, tetapi terdapat bumi-bumi lain yang serupa dalam kosmos ini.
Suatu hal lain yang mentakjubkan pembaca Qur-an pada abad 20 ini adalah ayat-ayat yang menyebutkan tiga macam benda-benda yang diciptakan, yaitu:
Benda-benda yang terdapat di langit
Benda-benda yang terdapat di atas bumi.
Benda-benda yang terdapat di antara langit-langit dan bumi.
Bacalah ayat 6 surat 20:
Artinya: "KepunyaanNyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semuanya yang di bawah tanah."
Surat 25 ayat 59 :
Artinya: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa."
Surat 32 ayat 4 .
Artinya: "Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas 'arsy."
Surat 50 ayat 38.
Artinya: "Dan sesunggahnya telah Kami ciptaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan."12
Kata-kata "yang ada di antara langit dan bumi," terdapat juga dalam surat 21 ayat 16, surat 44 ayat 7 dan 38, surat 78 ayat 37, surat 15 ayat 85, surat 46 ayat 3 dan surat 43 ayat 85.
Penciptaan di luar langit dan bumi yang berkali-kali tersebut dalam Qur-an, secara apnori kurang dapat digambarkan. Untuk memahami ayat-ayat tersebut, kita perlu kembali kepada penemuan manusia yang paling modern tentang adanya bahan-kosmik ekstra galaktik, dan untuk itu kita harus mengarah dan yang paling sederhana kepada yang paling kompleks dan mengikuti hasil-hasil Sains masakini mengenai terbentuknya kosmos. Hal ini akan kita bicarakan dalam paragraf yang akan datang.
Tetapi sebelum memasuki pemikiran-pemikiran yang bersifat ilmiah murni, saya rasa baik untuk meringkaskan dasar-dasar pokok yang dipakai oleh Qur-an untuk memberi penerangan kepada kita tentang penciptaan kosmos. Menurut hal-hal yang telah kita bicarakan, dasar-dasar tersebut adalah sebagai berikut:
1. Adanya enam penode untuk penciptaan pada umumnya
2. Adanya jaringan yang berkaitan antara tahap-tahap penciptaan langit-langit dan tahap-tahap penciptaan bumi.
3. Penciptaan kosmos mula-mula dari kumpulan yang unik yang merupakan kesatuan dan kemudian terpecah.
4. Terdapatnya banyak langit dan banyak bumi.
5. Terdapatnya benda-benda ciptaan Tuhan antara langit-langit dan bumi.
BEBERAPA CATATAN SAINS MODERN TENTANG PEMBENTUKAN KOSMOS
SISTEM MATAHARI
Bumi dan planet-planet yang beredar sekitar matahari merupakan suatu alam yang teratur yang dimensinya sangat besar bagi ukuran manusia. Bukankah bumi itu dipisahkan daripada matahari oleh jarak ± 150 juta km? Jarak ini sangat besar bagi manusia, tetapi jarak itu sangat kecil jika dibandingkan dengan jarak yang memisahkan matahari daripada planet yang paling jauh dalam sistem matahari. Dengan angka bulat jarak itu adalah 40 kali lebih besar, jadi kurang lebih 6 milliard km. Lipatan jarak tersebut, yakni ± 12 milliard km menunjukkan dimensi yang terbesar dalam sistem matahari. Cahaya matahari memerlukan waktu enam jam untuk sampai di planet tersebut, yang bernama Pluton, padahal cahaya itu mempunyai kecepatan vang dahsyat, yakni 300-000 km per detik. Tetapi beberapa milliard tahun diperlukan cahaya untuk perjalanan dari bintang-bintang yang terjauh sepanjang pengetahuan manusia sekarang sampai ke bumi kita ini.
GALAKSI
Matahari dari bumi kita ini merupakan satu di antara satelit-satelit lain yang melingkunginya hanya merupakan satu unsur yang tak berarti di antara beribu-ribu milliard bintang yang keseluruhannya merupakan suatu kumpulan yang dinamakan galaksi. Kita dapat melihat angkasa (space) penuh dengan malam musim panas yang indah yang membentuk apa yang dinamakan kabut susu.- Kelompok bintang-bintang tersebut mempunyai dimensi yang sangat amat besar. Jika cahaya dapat menempuh seluruh sistem matahari dalam beberapa jam, cahaya itu memerlukan 90 ribu tahun untuk memotong jarak dari satu sudut yang paling jauh kepada sudut imbangannya yang paling jauh dalam suatu kelompok bintang-bintang yang paling kompak yang merupakan galaksi kita.
Dan lagi galaksi kita ini, yang begitu dahsyat besarnya seperti yang kita lukiskan di atas, hanya merupakan satu unsur kecil daripada langit. Terdapat kumpulan-kumpulan raksasa daripada bintang-bintang yang mirip dengan kabut susu di luar galaksi kita.
Kumpulan-kumpulan raksasa bintang-bintang itu baru diketahui manusia 50 tahun yang lalu, yaitu karena eksplorasi astronomik (penyelidikan bintang-bintang) dapat mengambil manfa'at dari alat-alat optik yang sempurna seperti alat yang memungkinkan dibuatnya teleskop Mount-Wilson di Amerika Serikat. Dengan cara ini orang dapat mengetahui sejumlah besar sekali daripada galaksi serta galaksi-galaksi lain yang terpisah dan terdapat pada jarak-jarak yang sangat amat jauh, sehingga memerlukan ukuran sendiri yaitu ukuran tahun cahaya yang dinamakan Parsec, yakni suatu jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam 3,26 tahun, dengan kecepatan 300 ribu km per detik.
FORMASI DAN EVOLUSI GALAKSI, BINTANG-BINTANG DAN
SISTEM-SISTEM PLANETER
Apakah yang pernah ada dalam ruang yang sangat amat luas yang sekarang dihuni oleh galaksi. Sains modern tak dapat memberikan jawaban kepada soal ini, kecuali jika bertolak dan periode tertentu dari evolusi kosmos yang Sains itu sendin tak dapat mengira jarak waktu yang memisahkan antara kita dan kosmos.
Sains modern berpendapat bahwa kosmos telah terjadi dari kumpulan gas yakni hidrogen dan sedikit helium yang berputar secara pelan pada zaman yang sangat kuno. Kumpulan gas tersebut kemudian terbagi menjadi potongan-potongan banyak daripada dimensi dan kelompok yang sangat besar. Ahli-ahli ilmu astrofisika (fisika bintang) mengirakan bahwa dimensi tersebut adalah satu milliard sampai 100 milliard kali besarnya matahari, dan besarnya matahari adalah 300.000 kali besarnya bumi. Angka-angka tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang pentingnya kelompok gas mula-mula yang kemudian melahirkan galaksi.
Pecahan baru terjadi lagi dan melahirkan bintang-bintang. Kemudian terjadilah proses kondensasi di mana daya tarik (karena benda-benda itu bergerak dan beredar sangat cepat), tekanan, pengaruh medan-medan magnetik dan radiasi semuanya memberikan pengaruh.
Bintang-bintang menjadi bercahaya karena perubahan kekuatan daya tarik menjadi energi panas. Reaksi termonuklir ikut melakukan peran dan karena bercampur maka terjadilah atom berat yang menggantikan atom ringan. Dengan begitu maka hidrogen, menjadi helium, kemudian menjadi karbon dan kemudian lagi menjadi oksigen, dan akhirnya menjadi logam, kemudian menjadi metalloid. Jadi bintang-bintang itu mempunyai kehidupan dan astronomi modern telah dapat menyusun klasifikasi mengenai perkembangan bintang tersebut.
Bintang itu juga mengalami kematian. Dalam tahap perkembangannya yang terakhir terjadi suatu ledakan dalam beberapa bintang dan setelah itu bintang-bintang itu mati.
Planet-planet, khususnya bumi, terjadi karena proses perpisahan dari kumpulan gas asli yang pada permulaannya merupakan kumpulan gas primitif. Semenjak 1/4 abad, para ahli sudah sepakat bahwa matahari menjadi beku (padat) di dalam gumpalan utama, sedang planet-planet lain menjadi padat di tengah-tengah orbit yang melingkungi bumi. Kita harus ingat dan hal ini sangat penting dalam persoalan yang kita hadapi sekarang, bahwa tak ada urut-urutan dalam terjadinya unsur-unsur samawi seperti matahari dan juga dalam unsur di bumi. Yang terjadi adalah paralelisme perkembangan dengan identitas masing-masing.
Di sini, Sains memberi keterangan kepada kita tentang w aktu kejadian-kejadian tersebut di atas terjadi; orang memperkirakan umur galaksi kita 10 milliard tahun, dan 5 milliard tahun kemudian menurut hipotesa ini, terjadilah sistem matahari. Penyelidikan tentang radio-aktivitas menunjukkan bahwa bumi dan matahari telah terjadi 4.5 milliard tahun yang lalu; menurut perhitungan yang lebih baru, umur bumi dan matahari dikurangi 100 miliun tahun. Koreksi waktu ini mengherankan; koreksi tersebut berarti: 0.1/4.5 =2.2%, padahal faktanya 100 juta tahun.
Mengenai terbentuknya sistem matahari, ahli-ahli astrofisika telah memperoleh data-data tentang proses-proses umum yang dapat diringkaskan. Perpadatan (kondensasi) dan pengecilan kumpulan gas yang beredar, perpecahan dalam potongan-potongan, semua itu telah menghasilkan matahari dan planet-planet, termasuk bumi kita.13 Hasil-hasil Sains tentang kumpulan gas primitif dan caranya berpecah menjadi bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya dan yang terhimpun dalam galaksi telah membenarkan secara pasti konsep adanya alam ganda, tetapi tidak memberi kepastian tentang adanya sesuatu planet yang menyerupai bumi.
KONSEP ALAM GANDA
Walaupun begitu ahli-ahli astrofisika modern berpendapat bahwa sangat boleh jadi ada planet-planet yang menyerupai bumi. Mengenai sistem matahari tak ada ahli astrofisika yang mengatakan kemungkinan adanya planet seperti bumi di dalamnya. Oleh karena itu planet-planet seperti bumi itu harus dicari di luar sistem matahari, mereka mengira ada kemungkinan terdapatnya planet seperti bumi di luar sistem matahari karena alasan-alasan sebagai berikut:
Orang memperkirakan bahwa dalam galaksi kita, seperdua dari 100 milliard bintang, masing-masing mempunyai sistem planet seperti sistem matahari. Memang 50 milliard bintang mempunyai rotasi (edaran) yang pelan, dan hal ini mendorong kita untuk menduga bahwa ada planet-planet yang melingkung imasing-masing sebagai satelit. Jauhnya bintang-bintang itu menyebabkan kita tidak dapat melihat planet-planet tersebut, akan tetapi adanya planet-planet satelit tersebut sangat boleh jadi karena sifat-sifat trajektori. Pergelombangan ringan daripada trajektori bintang menunjukkan adanya satelit yang menemani bintang tersebut.
Sebagai contoh bintang yang diberi nama Bernard mempunyai suatu teman di luar trajektori Jupiter, bahkan mungkin ada dua satelit.
P. Guerim seorang ahli astrofisika menulis: "Sistem planeter sudah terang, tersebar banyak dalam kosmos, sistem matahari dan bumi tidak satu-satunya yang ada." Kemudian ia lanjutkan: "Kehidupan, sebagai planet-planet yang memberinya tempat juga tersebar di seluruh kosmos, dimana saja terdapat kondisi fisis-kimiawi yang diperlukan untuk terbukanya kehidupan tersebut dan perkembangannya selanjutnya."
MATERI INTERSTELLAIR
Proses pokok terbentuknya kosmos adalah padatan materi dari kelompok gas primitif: terpecahnya dalam beberapa pecahan yang menjadikan bahan galaksi. Bahan galaksi berpecah-pecah menjadi bintang-bintang dan planet-planet yang lebih kecil. Perpecahan yang terus menerus itu meninggalkan elemen pokok yang dapat kita namakan "sisa" nama ilmiahllya: bahan galaksi interstellair
Bahan galaksi interstellair dilukiskan dari beberapa aspek yang berlainan. Kadang-kadang dari aspek nebula (kelompok bintang) yang gemerlapan, menyebarkan sinar yang diterimanya dari bintang-bintang lain yang dapat dibentuk dengan debu atau asap menurut istilah astrofisika; kadang-kadang dan aspek nebula yang remang-remang dan tidak padat, dan kadang-kadang dari bahan-bahan interstellair yang lebih misterius seakan-akan untuk menghalangi pengambilan gambar-gambar angkasa. Adanya jembatan materi antar galaksi sudah dapat dipastikan walaupun sangat tidak padat: tetapi oleh karena memenuhi ruang yang sangat besar dan galaksi itu berjauhan sekali satu daripada lainnya, gas-gas tersebut dapat bertemu dengan kelompok lain yang walaupun tidak padat, dapat melalui kumpulan gas galaksi. A. Boichat mengatakan bahwa adanya kumpulan gas antar galaksi itu sangat penting dan dapat menimbulkan perubahan besar tentang perkembangan kosmos.
Ayat-ayat
al-Qur'an mengenai penciptaan alam dibandingkan dengan fakta
ilmiah.
BERHADAPAN DENGAN AYAT-AYAT QUR-AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM
Marilah kita selidiki lima dasar yang menjadi landasan Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan alam.
I. Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi, menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda samawi, terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat dihuni manusia. Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak ada jawaban terhadap soal ini. Tetapi perlu kita perhatikan bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4, diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa jika kita mengambil contoh (satu-satunya contoh yang sudah mungkin diketahui) daripada pembentukan matahari dan embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan (kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini adalah yang dikatakan oleh Qur-an secara jelas dengan proses yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang sempurna antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.
II. Sains telah menunjukkan simultanitas antara dua kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan pembentukan satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya (seperti bumi). Bukankah simultanitas ini telah nampak juga dalam teks Qur-an seperti yang telah kita ketahui?
III. Nampak persesuaian antara wujudnya asap pada permulaan terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an untuk menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi asal kosmos dan konsep Sains modern tentang nebula primitive (kelompok gas asli).
IV. Kegandaan langit-langit yang diterangkan oleh Qur-an dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli astrofisika tentang sistem galaksi dan jumlahnya yang amat besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat kita fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang Sains belum dapat membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya, para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu sangat mungkin.
V. Adanya suatu penciptaan pertengahan antara langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat dimengerti dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi yang terdapat di luar sistim astronomik teratur.
Jika segala soal yang ditimbulkan oleh ayat-ayat Qur-an sampai sekarang belum dapat diterangkan secara menyeluruh oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat pertentangan antara ayat-ayat Qur-an dan pengetahuan modern tentang penciptaan kosmos.
Kita perlu menggaris bawahi keunggulan Qur-an setelah kita mengetahui bahwa teks Perjanjian Lama yang kita miliki telah memberi perincian-perincian tentang penciptaan kosmos tetapi perincian-perincian itu tak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan. Kita tidak heran karena kita tahu bahwa teks Sakerdotal (para pendeta) dari Bibel tentang penciptaan alam itu ditulis pada waktu bangsa Israil dibuang ke Babylon.
Para pendeta Yahudi itu mempunyai maksud-maksud yuridis yang sudah kita terangkan di atas dan mereka itu telah menyusun riwayat-riwayat yang sesuai dengan pandangan keagamaan mereka.
Adanya perbedaan yang menyolok antara riwayat Bibel dan riwayat Qur-an tentang penciptaan kosmos adalah sangat menarik perhatian karena semenjak permulaan timbulnya agama Islam, Nabi Muhammad selalu dituduh telah menjiplak isi Bibel. Dalam hal penciptaan kosmos ini, tuduhan semacam itu sama sekali tidak mempunyai landasan.
Bagaimana 14 abad yang lalu seseorang dapat mengkoreksi riwayat yang sudah tersiar dengan menghilangkan kekeliruan-kekeliruan ilmiah dan mengemukakan apa yang ia bawakan sendiri yaitu hal-hal yang telah dibenarkan oleh Sains pada abad kita ini. Hipotesa semacam itu tak dapat dipertahankan. Qur-an membicarakan penjelasan tentang penciptaan kosmos yang sangat berbeda dengan penjelasan Bibel.
Jawaban
terhadap keberatan ahli-ahli Barat mengenai ayat-ayat penciptaan dalam
Al-Qur'an.
JAWABAN TERHADAP BEBERAPA KEBERATAN
Tak dapat dibantah lagi bahwa terdapat persamaan antara riwayat Bibel dan riwayat Qur-an mengenai hal-hal lain dari penciptaan-penciptaan, khususnya yang mengenai sejarah keagamaan.
Akan tetapi kita sangat heran karena di negara-negara Barat orang tidak merasa keberatan terhadap Yesus karena Yesus menyebutkan soal-soal yang sama dan ajaran-ajaran Injil, sedangkan mereka (orang Barat) itu mendakwa Muhammad sebagai seorang Nabi palsu karena dalam ajaran-ajarannya menyebutkan hal-hal tersebut serta melukiskannya sebagai wahyu. Tetapi mana buktinya bahwa Muhammad telah menjiplak dalam Qur-an hal-hal yang para pendeta Yahudi mengajarkan atau mendiktekannya. Tak ada hal yang menguatkan dakwaan mereka kecuali pernyataan bahwa seorang pendeta masehi memberikan pendidikan agama kepada Nabi Muhammad. Harap para pembaca meneliti apa yang dikatakan oleh R. Blachere tentang hikayat ini dalam karangannya yang berjudul: Soal-soal mengenai Muhammad.
Ada juga orang yang mengemukakan semacam persamaan antara isi ayat-ayat Qur-an dan kepercayaan-kepercayaan pada zaman kuno sekali, lebih kuno daripada Bibel.
Secara umum orang ini mengatakan bahwa dalam kitab-kitab Suci terdapat bau-bau mitos kosmos: umpamanya kepercayaan orang-orang Polynesia tentang adanya air asli kuno dalam kegelapan, dan air itu memisahkan diri setelah ada cahaya.
Waktu itulah langit dan bumi terbentuk. Jika kita membandingkan mitos ini dengan riwayat penciptaan kosmos menurut Bibel, memang kita merasa ada semacam persamaan, tetapi sangat sembrono untuk mengatakan bahwa Bibel mengambil alih mitos kosmos tersebut.
Juga sembrono sekali untuk menganggap konsep Qur-an tentang pecahan materi asli yang menjadi bahan susunan atom pada permulaannya, yaitu suatu konsep yang sama dengan konsep Sains modern, sebagai konsep berasal dari mitos-mitos kosmos bermacam-macam yang memberikan gambaran yang sedikit banyak ada persamaannya.
Adalah menarik untuk menganalisa lebih dekat kepercayaan-kepercayaan dan riwayat-riwayat mitos, karena di sana ada titik tolak yang pantas dan dalam beberapa hal sesuai dengan apa yang kita ketahui sekarang atau apa yang kita merasa mengetahuinya, tetapi yang tereampur dengan lukisan-lukisan khayalan dalam kerangka mitos.
Hal itu adalah konsep yang banyak tersiar bahwa langit dan bumi itu tadinya bersatu, kemudian berpisah. Jika orang menambahkan dalam langit dan bumi gambaran telor dengan bibit di dalamnya dan bumi, seperti yang terjadi di Jepang, maka tambahan khayalan ini akan menghilangkan nilai konsep tersebut.
Di negeri-negeri lain, orang menambah khayalan suatu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di bumi untuk mengangkat langit dan memisahkannya dari bumi. Di sini khayalan perincian ditambahkan dan memberi ciri khas kepada mitos-mitos tersebut.
Tetapi di samping tambahan-tambahan itu semua ada ciri-ciri umum yang tetap ada, dengan ide adanya kumpulan bahan yang unik pada permulaan proses perkembangan kosmos, dan bahan itu berpecah dan akhirnya menjadi alam-alam yang kita kenal.
Jika kita menyebutkan mitos-mitos kosmos di sini, maksud kita adalah untuk menggarisbawahi daya khayalan manusia, dan menunjukkan perbedaan yang dalam antara isi ayat-ayat Qur-an dalam soal penciptaan kosmos ini, yang tidak ditambah dengan perincian-perincian khayalan yang terdapat dalam mitos, tetapi, sebaliknya disertai dengan keagungan bahasa dan persesuaian dengan hasil-hasil penyelidikan Sains.
Dengan keterangan tersebut di atas, ayat-ayat Qur-an tentang penciptaan alam yang diterima sebagai wahyu oleh Muhammad 14 abad yang lalu, tak dapat dikatakan sebagai karangan akal manusia.
Astronomi dalam Al-Qur'an:Di samping ayat-ayat yang
khusus menggambarkan penciptaan, ada lebih dari 40 ayat
Qur-an yang memberikan kepada astronomi (ilmu bintang) keterangan-keterangan
tambahan
IV. ASTRONOMI DALAM QUR-AN
Qur-an itu penuh dengan pemikiran-pemikiran tentang langit. Dalam fasal yang lalu yang membicarakan penciptaan alam, kita telah melihat bahwa adanya langit-langit dan bumi-bumi telah disebutkan; begitu juga tentang adanya ciptaan tengah (antara langit dan bumi) yang telah ditunjukkan kebenarannya oleh Sains modern. Ayat-ayat tentang penciptaan alam, telah menunjukkan secara tidak langsung ide umum tentang isi langit-langit, artinya tentang segala sesuatu yang berada di luar bumi kita.
Di samping ayat-ayat yang khusus menggambarkan penciptaan, ada lebih dari 40 ayat Qur-an yang memberikan kepada astronomi (ilmu bintang) keterangan-keterangan tambahan, sebagian dari ayat-ayat tersebut hanya merupakan renungan tentang keagungan zat Pencipta dan Pengatur segala sistem bintang-bintang dan planet-planet yang kita ketahui, dan yang dipelihara dalam keseimbangan dengan peraturan yang diketemukan oleh Newton, yaitu peraturan daya tarik antara benda-benda (law of gravitation).
Ayat-ayat pertama yang kita muat di sini tidak akan memberikan bahan untuk pemikiran ilmiah; maksud ayat-ayat tersebut hanya untuk menarik perhatian kekuasaan Tuhan.
Walaupun begitu kita harus menyebutkannya, agar kita memperoleh idea real tentang caranya teks Qur-an menguraikan organisasi kosmos, 14 abad yang lalu.
Yang saya katakan ini merupakan suatu fakta baru dalam wahyu Ilahi. Empat Injil dalam Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama tidak membicarakan pengaturan alam. (Kita sudah membicarakan ketidak benaran riwayat Bibel tentang penciptaan alam secara umum). Tetapi Qur-an membicarakan soal penciptaan alam dengan panjang. Apa yang dimuat oleh Qur-an adalah penting, tetapi apa yang tidak dimuat juga penting. Qur-an tidak memuat teori yang pada waktu Qur-an diwahyukan merupakan teori yang terhormat tentang pengaturan alam samawi akan tetapi yang oleh Sains telah dibuktikan kesalahannya; nanti kita akan memberikan contoh hal ini. Untuk sementara, aspek negatif ini perlu digaris bawahi.14
A. PEMIKIRAN UMUM TENTANG LANGIT
Surat 50 ayat 6, mengenai manusia secara umum:
Artinya: "Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinva dan langit-langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun."
Surat 31 ayat 10:
Artinya: "Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya."
Surat 13 ayat 2:
Artinya: "Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayan di atas Arsy dan menundukkan matahari dan bulan."
Dua ayat yang terakhir ini merupakan sangkalan terhadap kepercayaan bahwa langit itu dapat bertahan karena ada tiang-tiang yang menegakkannya supaya jangan jatuh di atas bumi.
Surat 55 ayat 7:
Artinya: "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia telah meletakkan neraca (keadilan)."
Surat 22 ayat 65:
Artinya: "Dan Dia menahan langit jatuh ke bumi melainkan dengan izinNya."
Orang mengetahui bahwa menjauhkan benda-benda samawi dalam jarak yang sangat besar dan sesuai dengan pentingnya benda-benda tersebut, merupakan dasar daripada keseimbangannya. Lebih jauh benda itu, lebih lemahlah daya yang menarik satu benda kepada benda lainnya. Lebih dekat benda itu, lebih kuat daya tarik di antara mereka; ini adalah kasus bulan yang dekat kepada bumi. Dan bulan itu, dengan daya tariknya mempengaruhi posisi air dalam laut atau fenomena pasang surut. Jika dua benda samawi ini terlalu berdekatan satu dengan lainnya, maka bentrokan tak dapat dielakkan, maka sikap tunduk kepada suatu perintah merupakan syarat mutlak untuk tidak terjadinya kekacauan.
Inilah sebabnya menyerahnya langit-langit kepada perintah Allah seringkali disebutkan.
Surat 23 ayat 86:
Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad: Siapa yang mempunyai langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?"
Kita telah mengetahui bahwa langit tujuh artinya langit-langit yang banyak sekali dan tak dapat dibatasi dengan angka. Surat 45 ayat 13:
Artinya: "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai satu rahmat) daripadaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir."
Surat 55 ayat 5:
Artinya: "Dan matahan dan langit {beredar) menurut perhitungan."
Surat 6 ayat 96:
Artinya: "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan."
Surat 14 ayat 33:
Artinya: "Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukan bagimu malam dan siang."
Di sini, sesuatu ayat menyempurnakan ayat yang lain. Perhitungan-perhitungan yang disebutkan di sini mengakibatkan peredaran yang teratur dari benda-benda samawi. Hal ini dijelaskan dengan kata "daib" yang berarti bekerja dengan gairah dan mantap. Di sini berarti bahwa matahari dan bulan itu beredar dengan hati-hati, terus menerus. Tidak menyimpang dari peraturan yang diberikan:
Surat 36 ayat 39:
Artinya: "Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir), kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua."
Ini adalah isyarat kepada melengkungnya papah kurma, yang mengambil bentuk bulan tanggal muda selagi papah itu mengering. Komentar ini akan diteruskan kemudian.
Surat 16 ayat 12:
Artinya: "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya."
Qur-an menyebutkan adanya pengaturan samawi yang sempurna ini dengan menekankan faedahnya untuk mempermudah gerak manusia di bumi dan di laut, begitu juga untuk mempermudah perhitungan waktu. Hal ini dapat dimengerti dengan mudah jika orang mengingat bahwa Qur-an pada mulanya merupakan petunjuk bagi sekelompok manusia yang hanya dapat memahami bahasa yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya kita dapatkan pemikiran-pemikiran sebagai berikut:
Surat 6 ayat 97:
Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui."
Surat 16 ayat 16:
Artinya: "Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itu mereka mendapat petunjuk (untuk lalu lintas)."
Surat 10 ayat 15:
Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui."
Di sini ada catatan penting. Bibel memberi sifat kepada matahari dan bulan dengan kata "yang memberi cahaya"'matahari dikatakan besar, bumi dikatakan kecil.
Qur-an membedakan antara matahari dan bulan dengan perbedaan-perbedaan yang lain. Memang perbedaan itu hanya perbedaan lafal (verbal). Tetapi bagaimana berbicara kepada orang-orang pada waktu itu, dengan tidak menyesatkan, dengan mengatakan bahwa matahari dan bulan bukan planet yang mempunyai sifat-sifat yang identik.
B. WATAK BENDA-BENDA SAMAWI
MATAHARI DAN BULAN
Matahari adalah cahaya (Diya) dan bulan adalah terang (Nur).Terjemahan semacam ini nampaknya lebih baik dari terjemahan orang-orang yang mencampuradukkan dua kata tersebut.
Sesungguhnya perbedaan arti antara dua kata tersebut sangat kecil. Diya berasal dari akar (DWJ) yang menurut kamus Arab Perancis karangan Kazimerski, berarti menyala, mengkilat; tetapi pengarang itu juga memberi arti terang di samping arti cahaya.
Akan tetapi perbedaan antara matahari dan bulan akan diberi penjelasan dengan jalan perbandingan-perbandingan lain:
Surat 25 ayat 6 1 :
Artinya: "Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang dan Dia jadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya."
Surat 71 ayat 15-16:
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita."
Surat 78 ayat 12-13:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)."
Lampu yang sangat terang adalah pasti matahari. Di sini bulan dilukiskan sebagai benda yang menyinari (munir), dari akar yang sama dengan kata nur (kata terang dipakai untuk bulan). Matahari dibandingkan dengan pelita (siraj) atau lampu yang sangat kuat sinarnya (wakhaj).
Manusia pada zaman Muhammad dapat menerima perbandingan antara matahari, bintang yang membakar yang sangat terkenal oleh orang-orang yang hidup di sahara, dengan bulan, bintang, udara sejuk di waktu malam. Perbandingan tentang hal ini yang kita dapatkan dalam Qur-an adalah wajar. Y ang sangat menarik perhatian dan perlu dicatat di sini ialah keagungan perbandingan, dan tidak terdapatnya dalam teks Qur-an unsur-unsur perbandingan yang menunjukkan keagungan pada waktu Qur-an diturunkan tetapi yang nampak pada zaman kita sekarang sebagai khayalan.
Kita mengetahui bahwa matahari adalah suatu bintang yang menghasilkan panas yang hebat serta cahaya, karena terjadi pembakaran di dalamnya, dan kita mengetahui bahwa bulan yang tidak mempunyai cahaya dan dirinya sendiri, hanya memantulkan kembali cahaya yang ia terima dari matahari dan ia sendiri merupakan suatu bintang yang tidak berkegiatan, sedikitnya di lapisan-lapisannya yang di luar. Dalam teks Qur-an tak ada yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui pada zaman kita ini tentang kedua benda samawi itu.
BINTANG-BINTANG
Bintang-bintang adalah seperti matahari, benda-benda samawi yang menjadi wadah fenomena fisik bermacam-macam, yang diantaranya yang paling mudah dilihat adalah pembuatan cahaya. Bintang-bintang adalah benda-benda samawi yang mempunyai cahaya sendiri.
Bintang, bahasa ArabnyaNajm disebutkan dalam Qur-an 13 kali. Kata jamaknya "Nujum" akar kata itu berarti, nampak. Kata itu menunjukkan suatu benda samawi yang dapat kita lihat dengan tidak mengerti lebih jauh apakah benda itu memancarkan cahaya atau hanya memberikan refleks daripada cahaya yang ia terima dari luar. Untuk memberi gambaran yang tepat bahwa suatu benda samawi adalah benda yang kita namakan bintang, kita sebutkan surat 86 ayat 13:
Artinya: "Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari, yaitu bintang yang cahayanya menembus."
Bintang pada waktu malam diberi sifat dalam Qur-an dengan kata "tsaqib," artinya yang membakar, dan membakar diri sendiri dan yang menembus. Di sini menembus kegelapan waktu malam. Kata yang sama "tsaqib," juga dipakai untuk menunjukkan bintang-bintang yang berekor; ekor itu adalah hasil pembakaran internal.
PLANET-PLANET
Adalah sukar untuk mengatakan bahwa kata planet-planet itu disebutkan dalam Qur-an dengan arti yang tepat seperti yang kita berikan kepada planet-planet yang kita ketahui sekarang. Planet-planet itu sendiri tidak bercahaya. Planet-planet tersebut beredar sekitar matahari. Bumi kita adalah salah satu dari planet-planet tersebut. Jika ada orang menduga akan adanya planet lain, planet itu halus ada dalam sistem matahari. Dan semenjak dahulu manusia mengetahui planet-planet selain bumi, yaitu: mercury, venus, mars, yupiter, saturnus. Ada lagi tiga planet yang ditemukan kemudian yaitu: uranus, neptunus dan pluton.
Nampaknya Qur-an menamakan planet itu dengan nama Kaukab. Kata jamaknya Kawakib, tetapi tanpa memberitahukan jumlahnya. Impian Nabi Yusuf menyebutkan sebelas (surat 12 atau surat Yusuf) akan tetapi ini adalah riwayat impian Nabi Yusuf.
Untuk menjelaskan arti kata planet (Kaukab) dalam Qur-an, kita baca ayat yang sangat masyhur yang arti sesungguhnya nampak bersifat spiritual dan juga dipersoalkan diantara para ahli tafsir Qur-an. Walaupun begitu, kata itu penting karena ada perbandingan mengenai kata yang menunjukkan "planet."
Teks tersebut adalah sebagai berikut: Surat 24 ayat 35:
Artinya: "Allah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara."
Yang dimaksudkan di sini adalah proyeksi cahaya kepada suatu benda yang merefleksikan (kaca) dengan memberinya kilatan mutiara, sebagaimana planet yang disinari matahari. Ini adalah satu-satunya perinci yang menerangkan arti kata "Kaukab" yang dapat kita jumpai dalam Qur-an.
Kata Kaukab terdapat juga dalam ayat-ayat lain. Dalam beberapa ayat kita tak dapat menentukan apakah yang dimaksudkan dengan kata itu. (Surat 6 ayat 72, dan surat 82 ayat 1-3).
Akan tetapi dalam suatu ayat terdapat kata"Kawakib" yangmenurut pengetahuan modern hanya dapat diartikan planet.
Yaitu surat 37 ayat 6
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan yaitu planet-planet.,'
Kalimat Qur-an: "Langit yang terdekat" dapatkah
diartikan: sistem matahari? Kita
mengetahui bahwa tak
terdapat di antara benda-benda samawi yang terdekat kepada kita
selain planet. Matahari adalah
bintang satu-satunya dalam sistem ini yang pakai nama. Orang tak dapat
mengerti, benda samawi apa gerangan
yang dimaksudkan dalam
ayat tersebut, jika bukan planet. Rasanya sudah
benar jika kita
terjemahkan "Kawakib"
dengan "planet;" dan
ini berarti bahwa Qur-an
menyebutkan adanya "planet" menurut definisi modern
Tidak ada komentar:
Posting Komentar