Minggu, 23 Maret 2014

BIBLE AL-QURAN SAIN MODERN

4/1



Hikayat-hikayat dalam Qur'an dan Injil 
Uraian umum mengenai kesesuaian antara ilmu pengetahuan dengan Al-Quran dan Injil. 

HIKAYAT DALAM QUR-AN & BIBEL
 
I. TINJAUAN UMUM
 
Kita mendapatkan dalam Qur-an banyak soal-soal penting  yangsudah  dibicarakan  dalam Bibel, soal-soal penting itu ialah pertama:  hikayat  Nabi-nabi  Nuh,  Ibrahim,  Yusuf,  Ilyas, Yunus,   Ayub,  Musa,  Raja-raja  Israil,  Saul,  Dawud  dan Sulaiman.    Kita    hanya    menyebutkan    hikayat    yangpenting-penting  dan  yang  terdapat dalam Qur-an dan Injil, dan    kita    menjauhkan    riwayat    kutipan.    Kemudian hikayat-hikayat  kejadian  yang besar yang mengandung campur tangan Ilahi seperti penciptaan langit dan bumi,  penciptaan manusia.  Banjir Nabi Nuh, keluaran dari Mesir yang dipimpin oleh Musa. Kemudian segala yang ada hubungannya  dengan  Isa dan ibunya Maryam yaitu yang tersebut dalam Perjanjian Baru.
 
Dapatkah  persoalan-persoalan yang disebutkan oleh Quran danInjil mencetuskan pemikiran-pemikiran yang  ada  hubungannya dengan Sains modern yang terdapat di luar kitab suci?
 
PARALEL QUR-AN/INJIL DAN PENGETAHUAN MODERN
 
Mengenai  paralel  Qur-an/Injil,  pertama: perlu diterangkan bahwa soal-soal dalam Injil yang menimbulkan kritik daripada segi  Sains  --dan yang telah dibicarakan dalam bagian kedua daripada buku ini-- tak ada suatu pun  yang  terdapat  dalam Qur-an.
 
Yesus  (Nabi Isa) merupakan suatu masalah yang sangat sering disebut dalam Qur-an, umpamanya berita tentang lahirnya
 
Maryam yang diberikan  Tuhan  kepada  bapak  Maryam,  berita tentang  kelahiran  Isa  yang  ajaib yang disampaikan kepadaMaryam, watak daripada Yesus, Nabi  yang  ditempatkan  dalam tingkat  pertama,  sifatnya  sebagai  Messia (juru selamat), wahyu yang ia sampaikan kepada manusia dan berisi  penguatan serta   perubahan   terhadap   Taurah,   nasehat-nasehatnya, murid-muridnya, para Rasul,  mukjizat-mukjizat,  kenaikannya ke  langit  di  samping Tuhan, peranannya dalam hari hukuman dan lain-lain.
 
Surat 3 dan Surat 19 (yang  dinamakan  surat  Maryam  memuat ayat-ayat  panjang  tentang keluarga Nabi Isa. Ayat-ayat itu menceritakan  kelahiran  ibunya,  Maryam,   masa   remajanya Maryam,  serta diberitahukannya tentang kelahiran Yesus yang ajaib. Yesus  selalu  disebut:  Isa  anak  Maryam.  Silsilah keturunannya  diberikan  melewati  ibunya; ini adalah logis, karena Yesus tidak mempunyai bapak biologis. Di sini  Qur-an berbeda  dengan  Injil  Matius dan Injil Lukas, yang memberi silsilah keturunan melewati  bapaknya;  seperti  yang  sudah kita  terangkan  di lain tempat. Keterangan Injil Matius dan Injil Lukas mengenai silsilah keturunan ini juga berbeda.
 
Dengan  silsilah  keturunan  melewati   ibu,   Yesus   telah ditempatkan  oleh  Qur-an  dalam garis Nabi Nuh, Ibrahim danbapak Maryam sendiri (dalam Qur-an, namanya Imran).
 
Surat 3 ayat 33 dan 34:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh,
          keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi
          segala umat, yaitu satu keturunan yang sebagiannya
          (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar
          dan Maha Mengetahui."
 
Dengan begitu maka Yesus adalah keturunan Nuh dan Adam, dari segi  ibunya,  Maryam.  Bapa Maryam adalah Imran. Kekeliruan nama-nama mengenai silsilah keturunan  Yesus  yang  terdapat dalam  Injil,  kemustahilan  silsilah  keturunan Yesus dalam Perjanjian Lama mengenai Ibrahim, yaitu hal yang sudah  kita bicarakan  dalam  bagian pertama dan kedua daripada buku ini tidak terdapat dalam Qur-an.
 
Saya  menyebutkan  hal-hal  tersebut  terdorong  oleh  sikap obyektif.  Sikap obyektif ini penting sekali kita perhatikan untuk menghadapi dakwaan-dakwaan yang tidak mempunyai  dasar yang  mengatakan bahwa Muhammad itu adalah pengarang Qur-an, dan  dia  telah  menjiplak  banyak  daripada   Bibel.   Kita bertanya:  argumentasi  apa  yang  mendorong  Muhammad untuk menjiplak  Injil  dalam   silsilah   keturunan   Yesus   danmemasukkan  dalam  Qur-an  koreksi-koreksi, yang menempatkan Qur-an di luar kritik Sains modern, padahal teks  Injil  dan teks   Perjanjian   Lama   tak   dapat  diterima  oleh  ilmu pengetahuan.
 
PARALEL QUR-AN/PERJANJIAN LAMA DAN PENGETAHUAN MODERN
  
Mengenai  Perjanjian  Lama,  aspek-aspek  tertentu  mengenai paralel  ini sudah kita bicarakan. Riwayat penciptaan kosmos menurut Bibel  merupakan  bahan  penyelidikan  kritik  dalam bagian  yang  membicarakan  Perjanjian  Lama.  Hal yang sama telah dibicarakan menurut versi Qur-an. Perbandingan  antara riwayat Injil dan Qur-an sudah dilakukan sehingga kita tidak perlu mengulanginya.
 
Pengetahuan  sejarah  adalah  sangat  kabur  dan   penemuan- penemuan  arkeologi  sangat  sedikit  untuk  dijadikan bahan penyelidikan menurut  pengetahuan  modern  mengenai  sejarah raja-raja Israil yang disebutkan dalam Qur-an dan Bibel.
 
Adapun tentang Nabi-nabi, kita mungkin  dapat  atau  mungkin tak  dapat  mencocokkan  problema-problemanya  dengan  Sains modern.  Hal   ini   tergantung   kepada   keadaan;   apakah kejadian-kejadian  yang  diriwayatkan dalam Bibel dan Qur-an itu  terjadi   dalam   suatu   sejarah   yang   meninggalkan bekas-bekas  yang dapat kita lihat pada waktu-waktu ini atau tidak.
 
Ada dua hal yang  menjadi  pokok  riwayat  dalam  Bibel  dan Qur-an. Dua hal tersebut penting dan dapat diselidiki dengan mempergunakan ilmu pengetahuan sekarang, yaitu  soal  Banji r Nabi  Nuh  dan  soal  exodus atau keluarnya Bani Israil dari Mesir di bawah pimpinan Musa.
 
Mengenai Banjir Nabi  Nuh,  oleh  karena  sejarah  peradaban tidak  meninggalkan  bekas-bekas  yang sesuai dengan riwayat Bibel; sebaliknya  Sains  modern  tidak  menimbulkan  kritik terhadap riwayat Qur-an.
 
Mengenai  exodus,  oleh  karena  riwayat  Qur-an dan riwayat Bibel nampak saling menyempurnakan  dan  karena  pengetahuan modern  memperkuatkannya  dengan  peninggalan  sejarah  yang penting.


HIKAYAT DALAM QUR-AN & BIBEL
 
II. BANJIR
 
RIWAYAT BIBEL SERTA KRITIK-KRITIK YANG DITIMBULKANNYA
 
Penyelidikan tentang riwayat Banjir menurut Perjanjian  Lama dalam  bagian  pertama  daripada buku ini telah menyampaikan kita kepada pernyataan-pernyataan seperti berikut:
 
Dalam  Bibel  tidak  hanya  terdapat  satu  riwayat  tentang Banjir,  akan tetapi terdapat dua riwayat yang disusun dalam waktu yang berbeda:
 
RIWAYAT YAHWIST, DIBUAT PADA ABAD IX S.M.
 
Riwayat para pendeta (Sakerdotal), dibuat pada abad VI  S.M. Riwayat   ini  dinamakan  "Sakerdotal"  karena  dibuat  oleh pendeta-pendeta pada waktu itu.
 
Dua riwayat tersebut  tidak  disusun  terpisah  akan  tetapi bercampur;  unsur-unsur  riwayat  yang  satu dicampur dengan unsur-unsur riwayat yang lain, dalam paragraf-paragraf  yang  sebagian berasal dari riwayat yang satu dan sebagian berasaldari riwayat yang lain. Tafsiran Terjemahan  kitab  Kejadian  karangan  R.P.  de  Vaux,  Guru  Besar pada Sekolah Bibel di Yerusalem menunjukkan pembagian  daripada  paragraf-paragraf antara  dua  sumber tersebut secara sempurna. Riwayat Banjir ini dimulai dan  diakhiri  dengan  paragraf  Yahwist.  Dalam riwayat itu ada 10 paragraf Yahwist. Di antara tiap paragraf dengan lainnya, diselipkan sebuah paragraf Sakerdotal.  Jadi jumlah  paragraf  Sakerdotal  adalah  sembilan.  Mosaik teks tersebut tidak  menunjukkan  keserasian  kecuali  dari  segi urutan riwayat, oleh karena terdapat kontradiksi-kontradiksi besar antara dua sumber tersebut.
 
RP.  de  Vaux  menulis:  "itu  adalah  dua  sejarah  tentangBanjir."  Banjir  dalam  dua  riwayat  itu  disebabkan  oleh faktor-faktor   yang   berlainan,   dan   panjangnya   waktu berlangsungnya,  juga  berlainan. Nabi Nuh dalam dua riwayat itu juga  memuatkan  dalam  perahu  beberapa  binatang  yang jumlahnya juga berlainan.
 
Menurut  pengetahuan  modern,  dalam  keseluruhannya riwayat  Banjir dalam Bibel tidak dapat diterima, karena dua sebab:
 
a. Perjanjian Lama melukiskan banjir itu melanda seluruh    dunia.
 
b. Paragraf-paragraf daripada sumber-sumber Yahwist tidak    menyebutkan waktu terjadinya banjir, sedangkan riwayat Sakerdotal menyebutkan suatu waktu yang menurut sejarah    banjir dunia semacam itu tidak bisa terjadi.
 
Argumentasi yang menguatkan sikap  tersebut  adalah  seperti berikut:
 
Riwayat  Sakerdotal  mengatakan  bahwa Banjir terjadi ketika Nabi Nuh berumur 600 tahun. Kita  mengetahui  bahwa  menuru t silsilah  keturunan  dalam fasal 5 dari kitab Kejadian (juga menurut  sumber  Sakerdotal  yang  sudah  dibicarakan  dalam bagian  pertama  dari  buku  ini). Nabi Nuh lahir 1056 tahun sesudah Nabi Adam. Dengan begitu, maka  Banjir  itu  terjadi pada tahun 1656 sesudah Nabi Adam diciptakan. Di lain pihak, jadwal silsilah keturunan Nabi Ibrahim dalam kitab  Kejadian (11,  10-32)  menurut  sumber yang sama memberi kesan kepada kita bahwa Ibrahim lahir 292 tahun sesudah Banjir. Kita juga mengetahui  bahwa  Ibrahim hidup sampai kira-kira tahun 1850 S.M. Dengan begitu maka Banjir terjadi pada  abad  XXI  atau XXII   S.M.   Perhitungan   ini   cocok   dengan  pernyataan Bibel-Bibel kuno di mana kronologi  nampak  terjadi  sebelum teks  Bibel  tersebut,  yakni  pada  waktu  kejadian manusia tentang Banjir menyebabkan bahwa kronologi tersebut diterima oleh para pembaca tanpa dipertimbangkan.20
 
Bagaimana  pada  waktu  sekarang  orang  dapat menggambarkan bahwa  Banjir  sedunia  membinasakan  penghidupan  di   atas seluruh  bumi  (kecuali penumpang Perahu Nabi Nuh) pada abad XXI atau XXII S.M. Pada waktu  itu  di  beberapa  tempat  di dunia   telah   bekembang   bermacam-macam   peradaban  yang bekas-bekasnya kita lihat sekarang.  Bagi  Mesir  umpamanya, waktu  itu  adalah  zaman yang menyaksikan akhirnya Kerajaan lama dan permulaan Kerajaan Baru. Jika  kita  ingat  sejarah waktu  itu  adalah sangat lucu untuk mengatakan bahwa segala peradaban telah dimusnahkan oleh Banjir.
 
Dengan begitu maka dan segi sejarah, kita  dapat  mengatakan bahwa  riwayat Banjir dalam Bibel bertentangan sekali denga n pengetahuan   modern.   Terdapatnya   dua   riwayat   adalah bukti-bukti  yang  nyata tentang manipulasi manusia terhadap Bibel.
 
RIWAYAT QUR-AN TENTANG BANJIR
 
Qur-an menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak menimbulkan kritik dari segi sejarah.
 
Qur-an   tidak  memberikan  riwayat  Banjir  yang  kontinyu. Beberapa ayat membicarakan  hukuman  yang  diberikan  kepada umatnya  Nabi  Nuh- Riwayat yang paling lengkap adalah surat 11 ayat 25  s/d  49.  Surat  71  yang  dinamakan  surat  Nuh menceritakan Nuh memberi nasehat kepada umatnya, begitu juga surat 26  ayat  105  s/d  112.  Tetapi  sebelum  menyelidiki kejadian   itu,   kita   perlu   menempatkan   Banjir   yang diriwayatkan   oleh   Qur-an   dalam   hubungannya    dengan hukuman-hukuman      Tuhan     yang     dikenakan     kepada kelompok-kelompok yang salah karena menyalahi perintahNya.
 
Jika Bibel menceritakan Banjir Dunia untuk menghukum seluruh kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya Qur-an menceritakan bermacam-macam     hukuman     yang     dikenakan     kepada kelompok-kelompok tertentu.
 
Surat 25 ayat 35 s/d 39 memberi contoh ...
 
 
 
 
 
 
 
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al Kitab  (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan  Harun saudaranya, menyertai dia sebagai pembantu. Kemudian kami berfirman kepada keduanya: "Pergilah  kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat  kami." Lalu Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul.Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan ceritera) mereka itu pelajaran bagi munusia dan         Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab  yang pedih. Dan (begitu pula Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass21 dan banyak  (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum  tersebut."
 
Surat 7 ayat 59 s/d 93 mengingatkan kepada hukum-hukum Tuhan yang  menimpa  kaum  Nuh. 'Ad, Tsamud, Lut dan Madyan secara terpisah.
 
Dengan begitu maka Qur-an menggambarkan Banjir sebagai suatu hukuman  yang  khusus  untuk  kaumnya  Nulz.  Ini  merupakan perbedaan pertama yang pokok antara kedua riwayat.
 
Perbedaan pokok kedua adalah bahwa Qur-an tidak  menempatkan Banjir  dalam  suatu waktu dan tidak menerangkan berapa lama Banjir itu berlangsung.
 
Sebab-sebab  Banjir  adalah  hampir  sama  dalam  Bibel  dan Qur-an.  Riwayat Sakerdotal (Kejadian 7, 11) menyebutkan dua hal:  sumber-sumber,  memancarkan  air  banyak  sekali,  dan langit-langit  mencurahkan  lautan-lautan Qur-an menyebutkan dalam surat 54 ayat 11 dan 12 sebagai berikut:
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan  bumi memancarkan mata air maka bertemulah air itu   untuk satu urusan yang sungguh telah d itetapkan."
 
Qur-an sangat jelas  dalam  menyebutkan  isi  perahu;  Tuhan memberi  perintah  kepada  Nuh dan perintah itu dilaksanakan dengan tepat dengan menempatkan dalam perahu beberapa  macam binatang yang akan langsung hidup.
 
Surat 11 ayat 40:
 
Artinya: "Hingga bila perintah Kami datang dan dapur  (permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman: Muatkanlah kedalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan  betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan Kami terhadapnya dan(muatkanlah) pula orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali  sedikit."
 
Seorang  anak  Nuh  yang   mendapat   laknat   Tuhan   telah dikecualikan.  Dalam  hal  ini  ayat  45  s/d  46 dari surat tersebut menceritakan  bahwa  permohonan  Nuh  kepada  Allah tidak  dapat  merubah  keputusan  Tuhan.  Qur-an menyebutkan bahwa di atas perahu, disamping keluarga Nuh minus  anaknya, terdapat pula beberapa penumpang yang percaya kepada Tuhan.
 
Bibel  tidak  menyebutkan  orang-orang  itu  di  antara para penumpang-penumpang perahu.
 
Menurut riwayat Sakerdotal: Nuh, keluarganya sendiri  dengan tak   ada  kecualian,  dan  sepasang  dari  tiap-tiap  jenis binatang.
 
Riwayat Yahwist membedakan antara binatang-binatang suci da n burung  di  satu  pihak  dan di lain pihak binatang-binatang yang tidak suci. (Daripada binataing suci, perahu itu memuat
7  dari  tiap  jenis,  jantan dan betina, dan dan yang tidak suci hanya satu pasang).
 
Menurut ayat Yahwist yang sudah  dirubah  (Keluaran  7,  8), sepasang  dari  tiap-tiap  jenis, baik yang suci maupun yang tidak suci.
 
Riwayat banjir itu sendiri dimuat dalam Qur-an surat 11 ayat 25  s/d 49, dan surat 23 ayat 23 s/d 30. Riwayat Bibel tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.
 
Tempat perahu itu berhenti, menurut Bibel adalah  di  gunung Ararat (Kejadian 8, 4), dan menurut Qur-an tempat itu adalah Joudi (surat 11 ayat 44). Gunung  Joudi  ini  adalah  puncak tertinggi  dari  gunung-gunung Ararat di Armenia; tetapi tak dapat dijamin bahwa tak ada perubahan-perubahan  nama  untuk menyesuaikan  antara  kedua riwayat. R. Blachere berpendapat seperti itu. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia,  jadi persamaan nama mungkin buat-buatan.
 
Secara  definitif,  terdapat  perbedaan antara riwayat Quran dan riwayat Bibel.  Perbedaan-perbedaan  itu  ada  yang  tak dapat  diselidiki  secara  ilmiah  karena  tak ada data-data positif.
 
Tetapi jika kita  harus  menyelidiki  riwayat  Bibel  dengan perantaraan  data-data  yang  jelas,  kita  dapat menyatakan bahwa dalam  meriwayatkan  Banjir  dalam  waktu  dan  tempat riwayat  Bibel  sudah terang tidak sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan pengetahuan modern. Sebaliknya, riwayat  Qur-an bersih dari segala unsur yang menimbulkan kritik objektif.
 
Antara  waktu  riwayat  Bibel  dengan  waktu  riwayat Qur-an apakah  manusia  sudah  memperoleh  informasi  yang  memberi penerangan   tentang   kejadian  Banjir  itu?  Jawaban  atas pertanyaan  itu  adalah   "Tidak,"   karena   antara   waktu Perjanjian  Lama  dan  Qur-an, satu-satunya dokumentasi yang  dimiliki manusia, tentang sejarah kuno  adalah  Bibel.  Jika faktor  manusia  tidak  dapat  menerangkan  perubahan  dalam riwayat, yakni  perubahan  yang  sesuai  dengan  pengetahuan modern,  maka  kita  harus  menerima penjelasan lain, yaitu: Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian  sesudah  wahyu yang ditulis dalam Bibel.



Exodus Musa 
HIKAYAT DALAM QUR-AN & BIBEL
 
III. EXODUS MUSA
  
Dengan  keluarnya  Musa  dan pengikut-pengikutnya dari Mesir sebagai satu tahap untuk menetap di  Kan'an,  kita  memasuki suatu   kejadian   yang  sangat  penting,  kejadian  sejarah tertentu dalam konteks tertentu, walaupun kita jumpai banyak riwayat  disana-sini  yang  ingin  menggambarkannya  sebagai suatu legenda.
 
Dalam  Perjanjian  Lama,  kitab  Keluaran   dengan   riwayat perjalanan  di  Sahara setelah keluar dari Mesir dan riwayat perjanjian dengan Tuhan yang diadakan di gunung Sinai, semua itu  merupakan  kitab  kedua  daripada Pentateuque (Taurat). Qur-an juga memberikan tempat yang sangat besar bagi sejarah Keluaran  ini.  Hikayat  tentang  hubungan  antara  Musa dan saudaranya Harun dengan Fir'aun serta hikayat keluarnya dari Mesir,  terdapat  dalam Qur-an dalam 10 surat dengan hikayat yang panjang seperti Surat 7,  10,  20  dan  26  atau  dalam hikayat-hikayat  yang  lebih  ringkas  bahkan  terdapat juga dalam peringatan-peringatan  yang  sederhana  nama  Fir'aun, pribadi  pokok  daripada pihak Mesir, terulang 74 kali dalam Qur-an dalam 27 surat.
 
Penyelidikan mengenai dua riwayat, riwayat Injil dan riwayat Qur-an  merupakan  hal  yang sangat penting. Oleh karena dua riwayat itu  pada  dasarnya  saling  melengkapi,  dan  tidak mengandung pertentangan seperti dalam riwayat Banjir. Memang ada perbedaan, akan  tetapi  riwayat  Bibel  mempunyai  arti sejarah   yang   sangat   besar,  sebagai  nanti  kita  akan mengetahuinya,  oleh  karena  riwayat  itu  mengarah   untuk menetapkan  identifikasi  Fir'aun  atau lebih tepat lagi dua Fir'aun yang tersangkut, dan dengan hipotesa  Bibel  sebagai titik tolak. Qur-an membawakan informasi tambahan kepada dua sumber kitab suci, dan ditambahkan pula  hasil  penyelidikan modern  kepada  Egyptologi.  Dengan bahan modern Egyptologi,  Bibel dengan ilmu pengetahuan modern mengadakan  konfrontasi dengan  Qur-an  dan  berhasil menempatkan hikayat Kitab Suci dalam konteks sejarah.


Exodus menurut Injil
EXODUS MENURUT BIBEL
 
Riwayat Bibel  bermula  dengan  menyebutkan  masuknya  orang Yahudi  ke  Mesir  bersama  Ya'kub  untuk  mengikuti  Yusuf. Kemudian datang seorang Raja baru yang tidak mengenal Yusuf,(Keluaran  1,  8). Ini adalah periode penindasan: pada waktu itu Fir'aun  memaksa  orang-orang  Yahudi  untuk  mendirikan kota-kota  yang  dinamakan  oleh  Bibel  kota Pitom dan kota Ramses. Untuk mencegah  tambahan  penduduk  Yahudi,  Fir'aun memerintahkan semua bayi Yahudi laki-laki dibuang ke sungai: Musa dapat  dipelihara  ibunya  selama  tiga  bulan  sesudah lahirnya,   tetapi   akhirnya   si   ibu   memutuskan  untuk memasukkannya dalam suatu keranjang di pinggir  sungai  Nil.
Anak   perempuan   Fir'aun  menemukannya  dan  mencarikannya seorang pengasuh yang tidak lain adalah ibunya sendiri, oleh karena saudara perempuan Musa yang mencari jejak, siapa yang mengambil  bayi,  pura-pura   tidak   mengenalnya   dan   ia menasehatkan  kepada  Sang  Puteri itu seorang pengasuh yang tidak  lain  adalah  ibu  bayi   itu   sendiri.   Bayi   itu diperlakukan sebagai anak Fir'aun dan diberi nama Musa. 
 
Musa  sebagai  orang  muda  berangkat  ke Madyan; di sana ia kawin dan tinggal lama. Suatu perincian yang penting  adalah bahwa  dalam kitab Keluaran (2, 23) kita dapatkan kata-kata:
"Selama waktu yang lama itu raja Mesir meninggal."
 
Tuhan  memerintahkan  Musa   untuk   menemui   Fir'aun   dan mengeluarkan  saudara-saudaranya dari Mesir (Riwayat semacam ini terdapat dalam riwayat Pohon Yang Terbakar).
 
Harun, saudaranya Musa membantunya dalam tugas ini.  Setelah kembali  ke  Mesir,  Musa  dan saudaranya menghadap Fir'aun,yaitu Fir'aun  baru  yang  menggantikan  Fir'aun  lama  yang memerintah ketika Musa dilahirkan dahulu.
 
Fir'aun   melarang   bangsa   Yahudi   pengikut  Musa  untuk meninggalkan Mesir. Tuhan menampakkan diri lagi kepada  Musa dan  memerintahkannya  untuk  mengulangi permintaannya. Pada waktu  itu  menurut  Bibel,  Musa  berumur  80  tahun.  Musa menunjukkan  kepada  Fir'aun  bahwa  ia  memiliki kepandaian adikodrati. Hal  tersebut  rupanya  tidak  cukup  meyakinkan Fir'aun. Kemudian Tuhan mengirim siksaan-siksaan: air sungai berubah menjadi darah, timbulnya katak-katak, nyamuk, lalat, wabah  yang  menyerang binatang, timbulnya penyakit di kulit manusia dan binatang, hujan butiran es, belalang, kegelapan,dan  kematian bagi bayi-bayi pertama yang dilahirkan. Tetapi semua itu tidak dapat menaklukkan Fir'aun  untuk  membiarkan orang-orang Yahudi keluar dan Mesir.
 
Kemudian  600.000 manusia,22 belum terhitung keluarga mereka dapat melarikan diri dan  kota  Ramses.  Pada  waktu  itulah Fir'aun  mengendarai  keretanya  dan memimpin tentaranya. Iamengambil 6 ratus kereta yang terbaik dari segala kereta  di Mesir.  Tiap  kereta  dikendarai  oleh dua orang opsir. Raja Mesir  memimpin  pengejaran  terhadap  orang-orang   Yahudi. (Keluaran 14, 6 dan 8).
 
Orang-orang  Mesir  dapat  menyusul kelompok Musa di pinggir sungai. Musa memukulkan tongkatnya dan lautan  itu  terbuka,serta   pengikut-pengikutnya   memasukinya  dengan  selamat. Orang-orang Mesir mengejar terus, dan  semua  kuda  Fir'aun, kereta-keretanya  dan  tentaranya yang berkuda semuanya ikutmemasuki lautan (Keluaran 14, 23).  Air  pulih  kembali  dan menelan  kereta-kereta  dan penunggang kuda daripada tentaraFir'aun yang memasuki lautan di  belakang  mereka.  Tak  ada seorangpun yang selamat. (Keluaran 14, 38).
 
Teks  kitab  Keluaran  adalah sangat jelas. Fir'aun memimpin para pengejar. Ia binasa karena kitab  keluaran  menyebutkan "tak  ada  seorangpun  yang  selamat."  Di samping itu Bibelmenyebutkan perincian dari: Mazmur Daud; nyanyian  106  ayat 13  sampai  15  yang  merupakan  karunia  kepada  orang yang membagi dua lautan  yang  penuh  tumbuh-tumbuhan."  Tak  ada kesangsian  lagi  bahwa  menurut riwayat Bibel, Fir'aun yang mengejar  Musa  telah  binasa  dalam   laut.   Bibel   tidak menyebutkan   sesuatu  tentang  bagaimana  nasib  jenazahnya Fir'aun.

 dan Qur'an 
EXODUS MENURUT QUR-AN
 
Pada garis besarnya, riwayat Qur-an tentang keluarnya  orang Yahudi  dari  Mesir  adalah  sama dengan riwayat Bibel. Kita perlu menyusun riwayat itu, karena ayat-ayat tentang hal ini
terpencar dalam beberapa bagian dalam Qur-an.
 
Seperti juga dalam Bibel, Qur-an tidak menyebutkan nama yang dapat  menunjukkan  identitas  Fir'aun  yang  berkuasa  pada waktu  Exodus  terjadi.  Kita  hanya  tahu bahwa ada seorang anggauta Majlis Pemerintahan Fir'aun, seorang  yang  bernama "Haman,"  nama  "Haman"  disebut  dalam Qur-an 6 kali, yaitu dalam surat 28 ayat 6, 8 dan 38, surat 29 ayat 39 dan  surat 40 ayat 24 dan 36. Fir'aun adalah penindas bangsa Yahudi.
 
Surat 14 ayat 6 .
 
 
 
 
Artinya: "Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu, dan pada yang   demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu."
 
Pemandangan itu juga disebut secara yang sama dalam surat  7 ayat   114.   Akan  tetapi  Qur-an  tidak  menerangkan  nama kota-kota yang didirikan oleh bangsa Yahudi yang  diperbudak
seperti yang diterangkan oleh Bibel.
 
Hikayat  Musa  diletakkan di pinggir sungai disebutkan dalam surat 20 ayat 39 dan 40, dan dalam surat 28 ayat 7  s/d  13.Dalam riwayat Qur-an, NIusa diambil oleh keluarga Fir'aun.
 
Ayat 8 dan 9 surat 28.
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang
          akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi
          mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta
          tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan
          berkatalah isteri Fir'aun: Ia biji mata bagiku dan
          bagimu janganlah kamu membunuhnya mudah-mudahan ia
          bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia jadi
          anak sedang mereka tidak menyadari."
 
Tradisi  Islam  mengatakan   bahwa   isteri   Fir'aun   yangmemelihara  Musa  adalah  Asya.  Dalam Qur-an yang mengambil Musa  dari  sungai  itu  bukan  isteri  Fir'aun,  hanya  Aal (kerabat), yakni orang-orang yang tinggal dalam istana.
 
Masa   remaja   Musa,   menetapnya   di  negeri  Madyan  danperkawinannya disebutkan dalam surat 28 ayat 13 s/d 28.
 
Hikayat  tumbuh-tumbuhan  yang   terbakar   terdapat   dalam permulaan  surat  20,  dan  dalam  surat  28 ayat 30 s/d 35. Qur-an,  tidak  menyebutkan  sepuluh  penderitaan  di  Mesir sebagai  hukuman  Tuhan  seperti  yang disebutkan oleh Bibel dengan panjang. Tetapi Qur-an  menyebutkan  secara  jelas  5 penderitaan  (surat  2  ayat  133)  Yaitu: banjir, belalang,kutu-kutu, katak dan darah, Larinya mereka dari Mesir diriwayatkan  oleh  Qur-an  dengantidak ditentukan tempatnya secara pasti dan tidak disebutkan jumlahnya. Bibel  menyebutkan  bahwa  jumlah  mereka  adalah600.000  dari  kalangan mereka. Jumlah tersebut terasa tidakdapat  dipercaya;  kita  tidak  dapat  menggambarkan  jumlah manusia yang besar itu dapat berdiam lama di Sahara.
 
Matinya  Fir'aun  setelah  mengejar  orang-orang Yahudi juga disebutkan dalam surat 20 ayat 78.
                                              [Tulisan Arab]
 
 
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa.Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israil) di malam hari maka buatlah untuk mereka jalan yang         kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akantersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam),  maka Fir'aun dengan balatentaranya mengejar  mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yangmenenggelamkan mereka. Dan Firaun telah  menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk."
 
Memang orang Yahudi melarikan diri. Dan Fir'aun binasa, akan tetapi  jenazahnya  ditemukan.  Hal  yang  penting ini tidak disebutkan oleh Bibel.
 
Surat 10 ayat 90 s/d 92.
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya karena hendak menganiaya dan menindas  mereka, hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: Saya percaya bahwa tidak  ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil. Dan saya termasuk orang-orang yang  berserah diri (kepada Allah). Apakah sekarang baru    kamu percaya, padahal sesungguhnya kamu telah         durhaka dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat  kerusakan. Pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya Kami dapat menjadikan pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah kamu, dansesungguhnya kebanyakan dari manusia lengahdaripada tanda-tanda kekuasaan Kami."
 
Paragraf tersebut menyebutkan dua kepastian:
 
 a) Jiwa berontak dan permusuhan dapat dimengerti dalam    hubungannya dengan usaha Musa untuk meyakinkan Fir'aun .
    
 b) Penyelamatan Tuhan kepada Fir'aun hanya mengenai  badannya, karena dalam surat 11 ayat 98 disebutkan bahwa   Fir'aun dan kaumnya adalah orang-orang yang dihukum karena    sesat.
 
                                              [Tulisan Arab]
 
Artinya: "Ia berjalan di muka kaumnya di hari Kiamat dan   memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
 
Dengan begitu maka fakta-fakta yang  dapat  dikonfrontasikan dengan penyelidikan sejarah, geografi atau arkeologi riwayat Qur-an berbeda dengan riwayat Bibel  dalam  hal-hal  sebagai berikut:
 
Dalam  Qur-an  tidak disebutkan nama-nama tempat, baik kedua kota yang dibangun  oleh  Kaum  Yahudi  pengikut  Musa  atau mengenai peta jalannya Exodus.
 
Dalam  Qur-an  tidak  disebutkan matinya Fir'aun ketika Musa menetap di Madyan.
 
Dalam Qur-an, jumlah pengikut Musa tidak disebutkan.  Jumlah tersebut   terlalu   dibesar-besarkan  dalam  Bibel,  karena disebutkan  600.000  orang  dengan  keluarga  mereka.  Angka tersebut berarti lebih dari 2 juta manusia.
 
Dalam Bibel tidak disebutkan bahwa badan Fir'aun diketemukan setelah ia mati.
 
Hal-hal yang sama dalam riwayat Bibel dan Qur-an yang  perlu digaris bawahi adalah:
 
Qur-an  membenarkan  terjadinya  penindasan Fir'aun terhadap orang-orang Yahudi pengikut Musa.
 
Riwayat Qur-an dan Bibel tidak menyebutkan nama Raja Mesir.
 
Qur-an  membenarkan  bahwa  Fir'aun  meninggal  pada   waktukeluarnya orang Yahudi dari Mesir.


Konfrontasi riwayat kitab suci dengan pengetahuan modern: 
KONFRONTASI RIWAYAT KITAB SUCIDENGAN PENGETAHUAN MODERN                              
 
Riwayat Qur-an dan Bibel mengenai menetapnya Bani Israil  di Mesir   dan   keluarnya  mereka  itu  dari  negeri  tersebut merupakan aspek-aspek yang dapat dijadikan bahan konfrontasi dengan pengetahuan baru, walaupun dengan proporsi yang tidak sama, karena ada aspek-aspek yang menimbulkan bermacam-macam problema,   dan   ada  aspek-aspek  yang  tidak  menimbulkan diskusi.
 
1. PENYELIDIKAN TENTANG PERINCI RIWAYAT-RIWAYAT ORANG YAHUDI DI MESIR
 
Dengan tidak mengandung resiko kesalahan, dan sesuai  dengan yang  tersebut dalam Bibel (Kejadian 15, 13 dan Keluaran 12, 40) kita dapat mengatakan bahwa orang-orang  Yahudi  menetap di  Mesir  selama  400  atau  430  tahun.  Perbedaan  antara Kejadian dan Keluaran  tidak  begitu  penting  karena  hanya mengenai  waktu  30  tahun;  menetapnya kaum Yahudi di Mesir dimulai   dengan   kedatangan   Yusuf   anak   Ya'kub    dan saudara-saudara  Yusuf  ke  negeri  itu,  lama sesudah zaman Ibrahim. Di samping Bibel  yang  memuat  riwayat  yang  saya sebutkan  di  atas,  dan Qur-an, yang menyebutkan menetapnya Israil di Mesir dengan tidak memberi  keterangan  kronologi, kita manusia tidak mempunyai dokumen lain yang dapat memberi keterangan tentang hal ini.
 
Pada waktu ini, mulai dari  P.  Montet  sampai  Daniel-Rops, orang  berpendapat  bahwa  kedatangan  Yusuf dan keluarganya terjadi pada waktu yang sama dengan gerakan Hyksos berhijrah ke  Mesir  pada  abad  XVII  S.M.  Waktu  itu, di Avaris ada seorang raja Hyksos  yang  menyambut  kedatangan  Yusuf  dan saudara-saudaranya dengan baik.
  
Perkiraan tersebut bertentangan dengan Bibel Kitab Raja-raja yang pertama (6, 1) yang  mengatakan  bahwa  keluarnya  Bani Israil  dari  Mesir  terjadi  480  tahun sebelum pembangunan Candi Sulaiman (± th. 971 S.M.). Jadi menurut perkiraan ini, exodus  terjadi  pada  tahun  1450  S.M.,  dan masuknya Bani Israil ke Mesir terjadi kira-kira pada tahun 1850-1880. Akan tetapi orang sekarang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hid up di sekitar waktu itu, dan antara Ibrahim dan Yusuf  terdapat perbedaan  waktu  250  tahun,  menurut  riwayat  Injil. Maka paragraf daripada Kitab Raja-raja pertama dalam Injil secara kronologi  tidak  dapat  diterima.  Kita  akan melihat bahwa teori yang kita pertahankan di sini tidak hanya bertentangan dengan  teks  yang  tersebut  dalam Kitab Raja-raja pertama, akan tetapi kekeliruan kronologi dalam teks Kitab  Raja-raja pertama tersebut menghilangkan nilai teks tersebut sendiri.
 
Di  luar hal-hal yang tersebut dalam Bibel, bekas-bekas yang ditinggalkan oleh orang Yahudi di Mesir sangat kabur. Tetapi terdapat  Dokumen  hieroglyphik  (bahasa  Mesir  Kuno)  yang mengatakan bahwa di Mesir  terdapat  satu  kelompok  pekerja yang disebut Aperu atau Haperu atau Habiru yang banyak orang mengidentifikasikan dengan orang Ibrani, secara  benar  atau salah.  Yang  dimaksudkan  dengan  kelompok  tersebut adalah pekerja-pekerja  pembangunan,   pekerja-pekerja   pertanian, pembuat  anggur  dan lain-lain. Dari mana mereka itu datang? Sangat sulit untuk dijawab. Sebagaimana ditulis oleh R.P. de Vaux,   mereka   itu   bukan  penduduk  asli,  mereka  tidak mempersatukan diri mereka dalam  suatu  kelompok  masyarakat dan  mereka  tidak  mempunyai  pekerjaan atau kedudukan yang sama di antara mereka.
  
Di bawah pemerintahan Raja Tutmes III suatu dokumen  papirus mengatakan   bahwa   mereka   itu   adalah   pekerja   untuk pemeliharaan kuda. Kita mengetahui bahwa Amenophis  II  pada abad  XV  S.M. telah mendatangkan mereka sebagai orang-orang hukuman dari Kan'an, karena mereka itu menurut R. P.de  Vaux merupakan bagian penting daripada penduduk Syria Palestina.
 
Pada  kira-kira tahun 1300 S.M., di bawah pemerintahan Sethi Pertama, orang-orang Aperu tersebut menimbulkan kekacauan di Kan'an, di daerah Beth-Shean. Di bawah Ramses II, mereka itu dipekerjakan   sebagai   pengangkut    barang-barang    atau tiang-tiang  untuk pekerjaan pembangunan (seperti pylon atau bangunan monumen Ramses Miamon). Kita tahu pula  dari  Bibel bahwa  orang-orang  Yahudi  pada  zaman  pemerintahan Ramses membangun ibu kota utara, kota Ramses. Dalam buku-buku Mesir Kuno,  terdapat  pernyataan tentang Aperu pada abad XII, dan untuk yang terakhir pada zaman Ramses III .
 
Tetapi Aperu hanya disebutkan di Mesir; apakah  istilah  itu dapat   dipakai   khusus  untuk  menunjukkan  orang  Yahudi? Barangkali  perlu  kita  ingat  bahwa  perkataan  itu  dapat berarti  pekerja  paksa,  dengan tidak menunjukkan dari mana asalnya; jadi kata tersebut menunjukkan pekerjaan  kelompok. Apakah  kita  tidak  dapat membandingkan hal tersebut dengan kata: "Suisse" dalam bahasa Perancis yang  berarti  penduduk Switzerland,  atau  serdadu  Swiss  dalam kerajaan Perancis,atau pengawal Vatikan atau pegawai Gereja Kristen?
 
Bagaimanayun juga di bawah pemerintah Ramses II, orang-orang Yahudi    (menurut   Bibel)   atau   Aperu   (menurut   teks hieroglyphik)  mengambil  bagian  dalam  pekerjaan-pekerjaan besar  yang  diperintahkan  oleh Fir'aun dan yang dapat kita namakan, kerja paksa. Kita tidak syak lagi bahwa Ramses  II, adalah  penindas  orang-orang  Yahudi.  Kota-kota Ramses dan Pitom yang disebutkan dalam kitab  Keluaran,  dibangun  pada bagian  Timur  Delta  Nil.  Desa  Tanis dan Qantir sekarang, terpisah oleh jarak 25 kilometer antara  satu  dan  lainnya, tepat pada tempat dua kilometer tersebut, yaitu Ibukota yang didirikan oleh Ramses II. Dan Ramses II ini  adalah  Fir'aun yang menindas Bani Israil.
 
Dalam  konteks  inilah  Musa  dilahirkan. Kita telah melihat dalam  paragraf-paragraf  sebelum  ini  kisah  bagaimana  ia diselamatkan  danpada  air sungai Nil. Nama Musa adalah nama Mesir. Dalam karangannya yang berjudul: Mesir dan Bibel,  P. Montet  telah  menunjukkan  hal ini. Mesw atau Mesy terdapat dalam daftar kamus yang memuat nama-nama  orang-orang  dalam bahasa  Mesir  yang  ditemukan  oleh Ranke. Musa adalah nama tersebut ditulis dengan huruf Arab dalam Qur-an.
 
PENDERITAAN MESIR
 
Di bawah  nama  penderitaan-penderitaan,  Bibel  menyebutkan sepuluh  hukuman  yang  ditimpakan oleh Tuhan dan memberikan perincian-perincian  pada  tiap-tiap  penderitaan  tersebut. Banyak  daripada  penderitaan-penderitaan itu yang mempunyai aspek  adikodrati.  Qur-an  hanya  menyebutkan  lima,   yang sebenarnya  hanya  fenomena  alamiah  yang dibesar-besarkan, yaitu banjir, belalang, penyakit kulit, katak dan darah.
 
Merajalelanya belalang dan  katak  disebutkan  dalam  Injil. Injil menyebutkan bahwa air sungai Nil dirubah menjadi darah yang membanjiri negeri;  Qur-an  menyebutkan  darah,  tetapi tanpa  perinci-perinci,  jadi  kita dapat membentuk hipotesa apa saja mengenai  darah  tersebut.  Penderitaan-penderitaan lainnya,  yaitu  nyamuk,  serangga, tumor kulit, butiran es, kegelapan dan matinya bayi  yang  dilahirkan  pertama  serta matinya   binatang-binatang,  yang  disebutkan  oleh  Bibel, berasal  dari  sumber-sumber  yang  bermacam-macam,  seperti riwayat banjir yang dibentuk dengan campuran (selingan) dari dua sumber.
 
JALAN YANG DITEMPUH OLEH EXODUS
 
Qur-an  tidak  menyebutkan  sesuatu  jalan,   tetapi   Bibel menunjukkan  satu  jalan  dengan  pasti. R.P. de Vaux dan P. Montet, masing-masing telah mempelajari jalan itu. Permulaan Exodus  ada  di  Tanis-Qantir,  tetapi untuk seterusnya, tak terdapat bekas-bekas yang  akan  menguatkan  riwayat  Bibel, sehingga  orang  tak  dapat mengatakan di mana tempat lautan itu membelah dengan memungkinkan lewatnya kelompok Masa.
 
 
 
MUKJIZAT LAUTAN
 
Orang menggambarkan adanya air surut  yang  disebabkan  oleh faktor   astronomik,   atau   faktor   sesmik  (gempa)  yang disebabkan  oleh   letusan   gunung   yang   jauh.   Mungkin orang-orang  Yahudi  mengambil kesempatan surutnya air laut, sedangkan  orang-orang  Mesir  yang  mengejar  mereka  telah dibinasakan  oleh  pulihnya  keadaan  air.  Tetapi semua ini hanya hipotesa belaka.
 
 
2. PENEMPATAN EXODUS DALAM KRONOLOGI FIR'AUN
 
Untuk menentukan waktu terjadinya Exodus kita  dapat  sampai kepada  hal-hal yang positif. Dari semenjak waktu yang sudah lama, orang mengatakan bahwa Meneptah  pengganti  Ramses  II adalah Fir'aun Exodusnya Musa. Maspero seorang Perancis ahli ilmu sejarah Mesir pada  permulaan  abad  XX,  menulis  pada tahun  1900  dalam  karangannya:  Petunjuk  bagi  pengunjung musium Cairo, bahwa "Meneptah, menurut dokumen-dokumen   dari Iskandariyah  adalah  Fir'aunnya  Exodus, yakni Fir'aun yang binasa di lautan merah." Saya tidak  dapat  melihat  dokumen yang  oleh  Maspero dijadikan dasar bagi pernyataannya, akan tetapi reputasi Maspero yang sangat  serius  mendorong  kita untuk memberi nilai kepada apa yang dikatakan olehnya.
 
Selain  P.  Montet,  sangat  jarang  ahli sejarah Mesir atau spesialis penafsiran Bibel yang menyelidiki  argumen-argumen yang menyokong atau menyanggah hipotesa tersebut. Sebaliknya dalam  beberapa  puluh  tahun  yang  terakhir  telah  muncul hipotesa-hipotesa  yang  berlain-lainan yang nampaknya telah dilontarkan  untuk  menunjukkan  persesuaian  dengan   suatu perinci  dalam  riwayat  Bibel, tetapi pencetus hipotesa itu tidak  melihat  aspek-aspek  lain  daripada  riwayat-riwayat Bibel.  Itulah  sebabnya  kita mendapatkan hipotesa-hipotesa yang kelihatannya sesuai dengan suatu aspek daripada riwayat Bibel,  akan  tetapi  pencetus  hipotesa  tersebut tidak mau menghadapkan hipotesanya dengan hal-hal lain  yang  tersebut dalam  kitab  suci  (bukan saja dengan Bibel) dan juga, pada waktu yang sama  dengan  hasil-hasil  penyelidikan  sejarah, arkeologi dan lain-lain.
 
Di  antara  hipotesa-hipotesa  baru yang sangat ajaib adalah hipotesanya S. de Miceli ( 1960) yang mengakui  telah  dapat menentukan  waktu  Exodus,  yakni  pada tanggal 9 April 1495 S.M.,  dari  hal  tersebut  disandarkan  semata-mata  kepada perhitungan  kalender.  Jika  kita  mengikuti pengarang ini, maka Fir'aunnya Exodus  adalah  Tutmes  II  yang  memerintah Mesir pada waktu itu. Oleh karena dikatakan bahwa pada mumia Tutmes II terdapat bekas-bekas penyakit kulit yang dinamakan penyakit  lepra  oleh  pengarang  tersebut  dengan  tak  ada penjelasan  lebih  lanjut,  dan  oleh  karena   salah   satu penderitaan  vang  menimpa  Mesir vang disebutkan oleh Bibel adalah penyakit kulit, maka dengan begitu,  hipotesa  S.  De Miceli tersebut telah dibuktikan kebenarannya.
 
Rekonstruksi   yang   aneh   tersebut   tidak   mengindahkan fakta-fakta lain dalam  riwayat  Bibel,  khususnya  mengenai disebutkannya  kota  Ramses.  Dengan  disebutkan kota Ramses dalam Bibel maka tiap-tiap hipotesa tentang waktunya  Exodus yang  digambarkan  sebagai terjadi sebelum Ramses memerintah adalah sangat lemah.
  
Mengenai bekas-bekas penyakit kulit yang terdapat pada mumia Tutmes  II,  hal  tersebut tak cukup untuk membuktikan bahwa Tutmes II adalah Fir'aunnya  Exodus,  oleh  karena  anaknya, yakni  Tutmes  III  dan cucunya, yakni Amenophis II semuanya menunjukkan bekas-bekas penyakit kulit;  beberapa  pengarang melontarkan  hipotesa  bahwa  penyakit  semacam  itu  adalah penyakit keluarga saja. Dengan begitu  maka  hipotesa  bahwa Tutmes II adalah Fir'aun Exodus tak dapat dipertahankan.
 
Hal  yang  serupa dicetuskan oleh Daniel Raps dalam bukunya: Le Peuple de  la  Bibel  ('Bangsa  yang  dibicarakan'  dalam Bibel).  Ia  mengatakan bahwa Amenophis II adalah Fir'aunnya Exodus. Hipotesa itu tidak lebih kuat daripada hipotesa yang pertama.  Dengan  alasan bahwa, bapaknya, Tutmes III terlalu nasionalis, Daniel Raps mengatakan bahwa Amenophis II adalah penindas  orang-orang  Yahudi, dan ibu tirinya, yang bernama ratu Hatshep-sout (dengan tidak ada  keterangan  sesuatupun) adalah wanita yang mengambil Musa dari sungai.
R.P.  de  Vaux mendasarkan hipotesanya dalam bukunya Sejarah Kuno bangsa Yahudi, bahwa Ramses II adalah Fir'aunnya Exodus atas  dasar  yang  lebih  kokoh.  Hipotesa tersebut walaupun tidak  sesuai  sepenuhnya  dengan   riwayat   Bibel,   namun mempunyai  sesuatu keunggulan yaitu, telah menunjukkan fakta yang penting, yakni  bahwa  Ramses  II  telah  memerintahkan mendirikan  kota-kota Ramses dan Pitom, yaitu kota-kota yang tersehut dalam Bibel. Orang tidak akan  menggambarkan  bahwa Exodus  itu  dapat  terjadi  sebelum Ramses II menjadi Raja, yaitu menurut kronologõ Driaton dan Vandier pada tahun  1301 S.M.  dan  menurut  Rowton pada tahun 1290 S.M. Dua hipotesa yang tersebut di atas tak dapat diterima karena pertimbangan bahwa   Ramses   II   adalah   Fir'aunnya   penindasan  yang dibicarakan oleh BibeL

R.  P.  de  Vaux  berpendapat  bahwa  Exodus  terjadi   pada pertengahan   pertama  atau  di  tengah-tengah  pemerintahan Ramses II. Datum yang diberikan  oleh  R.P.  de  Vaux  tidak tepat  sama sekali. Ia mengusulkan waktu tersebut agar dapat memberi waktu kepada pengikut-pengikut Musa untuk menetap di Kan'an  dan  kepada  penggantl  Ramses  II, Fir'aun Mineptah untuk membereskan soal perbatasan ketika bapaknya  meninggal dan  untuk  mengkoreksi  Bani  Israil, sebagai yang tertulis dalam suatu monumen tahun V daripada pemerintahannya.

Ada dua argumentasi yang dapat menyangkal hipotesa tersebut.

 a. Bibel menerangkan dalam kitab Keluaran (2, 23) bahwa raja Mesir meninggal ketika Musa menetap di negeri Madyan. Raja  Mesir ini digambarkan dalam kitab Keluaran sebagai raja yang memerintahkan orang-orang Yahudi mendirikan kota Ramses dan  Pitom dengan kerja paksa. Raja itu ialah Ramses II. Dengan  begitu maka Exodus hanya dapat terjadi pada zaman    penggantinya. Tetapi R.P. de Vaux rupanva lupa sumber dalam  Bibel, yakni kitab Kejadian fasal 2 ayat 23.
   
 b. Yang lebih mengherankan lagi, ialah bahwa R.P. de Vaux   yang direktur Sekolah Bibel di Yerusalem itu tidak   menyebutkan dua paragraf yang sangat penting dalam Bibel ketika membicarakan teorinya tentang Exodus. Dua paragraf   tersebut mengatakan bahwa Fir'aun mati dalam mengejar     pelarian-pelarian. Hal ini menjadikan waktu Exodus tidak     lain kecuali pada akhir pemerintahannya.

Perlu diulangi di sini bahwa sesungguhnya tidak  disangsikan lagi  bahwa  Fir'aun  mati dalam mengejar Bani Israil. Kitab Keluaran fasal 13 dan 14 dengan jelas menyebutkan  hal  ini.
Fir'aun  mempersiapkan  keretanya  dan memimpin tentaranya ( 14, 6). Raja  Mesir  mengejar  orang-orang  Israil  memimpin tentaranya  (14, 8). Air laut pasang lagi dan menenggelamkan kereta-kereta dan penunggang kuda daripada  tentara  Fir'aun yang telah masuk di laut di belakang orang-orang Yahudi. Tak ada seorang pun yang tinggal (14, 28). Pujian  136  daripada Dawud  menguatkan  kematian  Fir'aun, memohon kepada Yahweh, yang menenggelamkan Fir'aun,  dan  tentaranya  dalam  lautan yang penuh tumbuh-tumbuhan (136, 15).

Dengan  begitu, ketika Musa masih hidup, ada seorang Fir'aun yang mati ketika  Musa  menetap  di  Madyan,  dan  ada  lagi seorang  Fir'aun  yang mati dalam peristiwa Exodus. Jadi tak ada Fir'aunnya Musa, tetapi ada dua Fir'aun,  yaitu  Fir'aun yang  menindas  orang Yahudi dan Fir'aunnya Exodus. Hipotesa R.P. de Vaux yang mengatakan bahwa Ramses II adalah  Fir'aun Exodus  tidak memuaskan karena tidak memberi penjelasan yang menyeluruh. Pemikiran-pemikiran di bawah  ini  akan  membawa argumen-argumen tambahan yang menolaknya.


3. RAMSES II FIR'AUN PENINDASAN, MINEPTAH FIR'AUN EXODUS

P. Montet mengambil dan  tradisi  asli  dari  Iskandariyah23 yang  disebutkan  oleh  Maspero dan yang ditemukan lagi lama sesudah itu dalam tradisi Islam dan  dalam  tradisi  Kristen Kuno.24

Teori tersebut ditulis dalam buku "Mesir dan Bibel" karangan Delachaux   dan   Niestle,   serta    diperkuatkan    dengan dokumen-dokumen  tambahan, khususnya yang berhubungan dengan riwayat  Qur-an  yang  tidak  pernah  disinggung  oleh  ahli arkeologi  besar  itu.  Sebelum  mempelajari  teori tersebut marilah kita kembali kepada Bibel.

Kitab Kejadian memuat nama  Ramses,  walaupun  nama  Fir'aun tidak disebutkan. Dalam Bibel, Ramses adalah nama salah satu dari dua  kota  yang  dibangun  dengan  tenaga  kerja  paksa orang-orang  Yahudi. Sekarang kita mengetahui bahwa dua kota tersebut berada di daerah  Tanis  Qantir,  di  bagian  timur daripada  Delta  Nil.  Di  sana,  Ramses  menyuruh membangun ibukotanya. Sebelum  Ramses  II  di  tempat  itu  sudah  ada bangunan-bangunan,  tetapi  Ramses  II  lah  yang menjadikan tempat itu  penting.  Dokumen-dokumen  yang  ditemukan  pada puluhan  tahun  yang  akhir  ini  memberikan satu bukti yang jelas. Untuk pembangunan itu  Ramses  memakai  tenaga  orang Yahudi yang dipaksa kerja.

Membaca  nama  Ramses  dalam  Bibel tidak mengherankan orang zaman sekarang.  Kota  itu  telah  menjadi  mashur  semenjak Champolion  menemukan  kunci  bahasa hieroglyph (Mesir ku no) 150 tahun  yang  lalu,  dalam  mempelajari  cin-ciri  bahasa tersebut.  Jadi  sekarang  orang  sudah  terbiasa membacanya dengan mengerti artinya. Tetapi kita perlu mengetahui  bahwa bahasa  Mesir  kuno sudah tidak dikenal orang lagi pada abad III M, dan  nama  Ramses  hanya  terdapat  dalam  Bibel  dan beberapa  buku  Yunani  atau  Latin  yang  merubah bentuknya Tacite, dalam karangannya  Annales,  menyebut  nama  Ramses. Bibel  telah memelihara bentuk nama itu. Nama itu disebutkan empat kali dalam Pentateuqe atau Taurat (Kejadian,  47,  11; Keluaran 1, 11 dan 12, 37; kitab Bilangan 33, 3 dan 33, 5).

Dalam  bahasa  Ibrani,  nama Ramses ditulis dengan dua cara:  RA(E)MSS, atau RAEAMSS.  Dalam  Bibel  cetakan  Yunani  yang dinamakan  Septante,  bentuk  nama itu adalah RAMESSE. Bibel latin  (Volgate)   menuliskannya   Ramesses.   Dalam   Bibel Clementine  edisi  Perancis (edisi pertama pada tahun 1621 ), nama itu ditulis Ramses. Edisi Perancis ini  banyak  tersiar pada  waktu  Napoleon melakukan penelitian-penelitian. Dalam karangannya: Ringkasan Sistem Hieroglyphiq Orang Mesir  Kuno (cetakan   kedua   tahun   1828   halaman   276)  Champolion membicarakan tentang cara menulis "Ramses" dalam Bibel.

Dengan begitu maka Bibel telah memelihara nama Ramses  dalam bentuk Ibrani, Yunani dan Latin.

Hal tersebut di atas memungkinkan kita untuk mengatakan:

 a) Exodus tak dapat digambarkan sebelum seorang Ramses   memegang pemerintahan Mesir
   
 b) Musa dilahirkan di masa pemerintahan raja yang membangun   kota Ramses dan Pitom, yakni Ramses II.
   
 c) Ketika Musa menetap di negeri Madyan, Fir'aun yang     memerintah, yakni Ramses II meninggal. Sejarah Nabi Musa     selayaknya terjadi pada zaman pengganti Ramses II, yaitu     Mineptah.

Di samping hal-hal tersebut, Bibel menyebutkan  suatu  unsur yang  sangat  penting  untuk  menunjukkan  waktu  terjadinya Exodus, yaitu bahwa ketika Musa menjalankan  perintah  Tu han untuk  meminta  agar  Bani  Israil  dimerdekakan,  ia  sudah berumur 80 tahun.

Kitab Keluaran 7, 7: Musa berumur 80 tahun dan Harun berumur 83  tahun  ketika  mereka  berbicara kepada Fir'aun. Di lain pihak, Kitab Keluaran, 2, 23 menyebutkan bahwa Fir'aun  yang memerintah  ketika  Musa  dilahirkan, telah meninggal ketika Musa  menetap  di  negeri  Madyan;  walaupun  riwayat  Bibel tersebut  tidak  menunjukkan  pergantian nama Raja. Dua ayat dalam Bibel tersebut  mengandung  arti  bahwa  jumlah  waktu berkuasanya  dua  Fir'aun  yang memerintah Mesir ketika Musa hidup di situ adalah sedikitnya 80 tahun.

Di pihak lain Ramses II memerintah  selama  67  tahun  (dari tahun  1301  sampai  tahun  1235  S.M.)  menurut perhitungan Driaton dan Vandier, atau dan tahun 1290 sampai  tahun  1224 S.M. menurut perhitungan Rowton. Ahli-ahli sejarah Mesir tak dapat memberikan angka tepat  tentang  lamanya  pemerintahan Mineptah, pengganti Ramses II, tetapi masa itu sedikitnya 10 tahun,  karena  tahun   ke   10   daripada   pemerintahannya diperingati  oleh  beberapa dokumen seperti yang diterangkan oleh R. P. de Vaux. Pengarang Manelhon mengirakan  20  tahun untuk   masa  pemerintahan  Mineptah.  Driaton  dan  Vandier memberikan dua kemungkinan,  mungkin  hanya  10  tahun  dari tahun  1224 sampai tahun 1214 S.M., atau 20 tahun dari tahun 1224 sampai tahun 1204 S.M.; ahli sejarah Mesir  tidak  tahu secara  pasti  bagaimana  pemerintah Mineptah berakhir. Yang diketahui  orang  adalah  bahwa  setelah   Mineptah,   Mesir mengalami  krisis  dalam  negeri yang berat selama kira-kira seperempat abad.

Walaupun kronologi raja-raja Mesir tidak tepat,  kita  dapat mengatakan  bahwa selama Kerajaan Baru tak terdapat dua masa pemerintahan Raja yang berturut-turut  yang  dapat  mencapai atau  melebihi  80 tahun kecuali periode Ramses II-Meneptah, Pemberitaan Bibel mengenai umur Musa  ketika  ia  memikirkan pembebasan  kaum  Yahudi hanya dapat dimasukkan dalam rangka kesinambungan antara Pemerintahan Ramses II dan pemerintahan Mineptah.  Dengan  begitu  kita  dapat mengatakan bahwa Musa lahir pada  permulaan  Pemerintahan  Ramses  II,  berada  di Madyan  ketika  Ramses II meninggal dunia setelah memerintah selama 67 tahun, kemudian Musa menjadi pembela  kaum  Yahudi dan  menghadapi  Mineptah  anak  dan  pengganti  Ramses  II. Hikayat itu mungkin terjadi pada pertengahan kedua  daripada pemerintahan  Mineptah  jika  ia memerintah selama 20 tahun, dan hal ini sesuai dengan  pendapat  Rowton.  Kemudian  Musa memimpin  orang-orang  Yahudi  keluar  dari Mesir pada akhir pemerintahan  Mineptah,  karena  raja  itu   binasa   ketika mengejar  orang-orang Yahudi yang meninggalkan Mesir seperti yang diterangkan oleh Qur-an dan Bibel.
 
Kerangka berpikir ini sangat  sesuai  dengan  riwayat  kitab suci  tentang  masa  kecilnya  Musa dan bagaimana ia diambil oleh keluarga Fir'aun.  Kita  tahu  bahwa  Ramses  II  sudah sangat  tua waktu ia mati; ada yang mengatakan ia berumur 90 tahun atau 100 tahun; menurut hipotesa ini, pada  perrnulaan pemerintahannya,  Ramses  berumur  23  atau  33 tahun, yakni permulaan  masa  kekuasaannya  yang  berlangsung  selama  67 tahun.  Pada umur muda itu ia mungkin sudah kawin. Tidak ada kontradiksi antara riwayat "Musa ditemukan  di  sungai  oleh keluarga Fir'aun" menurut Qur-an dengan campur tangan isteri Fir'aun yang meminta daripadanya supaya membiarkan anak  itu hidup.  Bibel mengatakan bahwa yang menemukan Musa di sungai itu anak perempuan Fir'aun. Ramses yang sudah  kita  ketahui umurnya  pada  permulaan pemerintahannya, mungkin saja punya anak perempuan yang  dapat  menemukan  Musa,  si  bayi  yang ditingalkan  keluarganya.  Dengan begitu maka riwayat Qur-an dan nwayat Bibel tidak bertentangan.

Hipotesa yang kita  susun  di  sini  adalah  secara  mutlak, sesuai  dengan  Qur-an.  Tetapi  bertentangan  dengan  suatu paragraf dalam Bibel, yaitu ayat pertama dari fasal 6  dalam Kitab  Raja-raja  pertama  (perlu  ditegaskan bahwa paragraf tersebut  tidak  merupakan  bagian  dari  Taurah).  Paragraf tersebut   sangat  disangsikan  dan  R.P.  de  Vaux  menolak kronologi daripada fasal ini dalam  Perjanjian  Lama,  yaitu kronologi  yang  mengatakan  bahwa waktu larinya Bani Israil dari Mesir terjadi sesudah dibangunnya Candi Nabi  Sulaiman. Bahwa hal tersebut masih menjadi pembahasan menyebabkan kita tidak  dapat  memberi  nilai   positif   kepadanya,   karena bertentangan dengan teori yang kita bicarakan di sini.



4. PROBLEMA MENGENAI MONUMEN TAHUN V PEMERINTAHAN MINEPTAH

Mula-mula  orang-orang   mengira   dapat   menemukan   suatu sangkalan  terhadap  teori  bahwa  larinya  Bani Israil dari Mesir  merupakan  kejadian  yang  terakhir   daripada   masa pemerintahan  Fir'aun  tersebut;  sangkalan  tersebut dikira telah ditemukan dalam teks monumen tahun ke  V  pemerintahan Mineptah.

Monumen    tersebut    penting   sekali   karena   merupakan satu-satunya dokumen dalam bahasa Mesir kuno yang mengandung kata  "Israil."  Monumen  tersebut,  yang  dibikin pada masa pertama dari pemerintahan Mineptah telah ditemukan di Thebes dalam  suatu  kuburan Fir'aun, monumen tersebut memperingati kemenangan-kemenangan   yang   diperoleh   Mesir    terhadap tetangga-tetangganya,  khususnya,  pada  akhir  dokumen  itu disebutkan:   kemenangan   terhadap   Israil   yang    sudah dibinasakan  dan  tak  mempunyai benih lagi. Orang mengambil konklusi dari  dokumen  tersebut  bahwa  orang-orang  Yahudi sudah  menetap  di  Kan'an  pada  tahun  kelima pemerintahan Mineptah dan oleh karena itu  keluarnya  orang  Yahudi  dari Mesir telah terjadi sebelum dokumen tersebut dibikin.

Sangkalan  tersebut  tak dapat diterima karena sangkalan itu berarti bahwa tak ada orang  Yahudi  di  Kan'an  ketika  ada orang-orang  Yahudi  di  Mesir.  Walaupun begitu, orang yang mengatakan bahwa Exodus terjadi pada zaman Ramses II,  yaitu R.P. de Vaux menulis dalam buku-bukunya Sejarah Israil Kuno, mengenai penghunian di Kan'an: "Untuk daerah Selatan,  waktu menetapnya  orang-orang  yang  masih  ada  hubungan  kerabat dengan Israil di daerah Cades, tak  dapat  ditentukan,  akan tetapi   terang   sebelum   Exodus."   Jadi   R.P.  de  Vaux menggambarkan kemungkinan menetapnya kelompok-kelompok  yang keluar  dari  Mesir  sebelum terjadinya Exodus yang dipimpin Musa.  Apiru  atau  Habiru  yang  diidentifilkasikan  dengan orang-orang  Israil sudah terdapat di Syria, Palestina, lama sebelum  Ramses  II,  jadi  sebelum  Exodus.  Bukankah  raja Amenophis   II  menurut  suatu  dokumen  telah  mendatangkan orang-orang tawanan sebanyak 3.600  dan  dikerjakan  sebagai buruh  di  Mesir.  Pada zaman raja Seti pertama, orang-orang Yahudi menimbulkan keributan-keributan di Kan'an, di  daerah Beth-Shean;   begitulah  disebutkan  oleh  P.  Montet  dalam bukunya Mesir dan Bibel. Dengan begitu maka ada  kemungkina besar   bahwa  Mineptah  menindak  unsur-unsur  pengacau  di perbatasan, sedangkan dalam negeri Mesir, terdapat  kelompok Yahudi  yang  pada akhirnya mengikuti Musa untuk keluar dari Mesir.  Jadi  terdapatnya  monumen  tahun  kelima   daripada Pemerintahan  Mineptah  tidak  bertentangan  dengan hipotesa kita.

Di lain pihak munculnya kata "Israil" dalam  sejarah  bangsa Yahudi  tidak  ada  hubungannya  dengan  menetapnya kelompok pengikut Musa di Kan'an. Asal mula kata itu  adalah  sebagai
berikut:

Menurut  Kejadian (32, 29) Israil adalah nama kedua daripada Yakob, anak  Ishak  cucu  Ibrahim,  arti  nama  itu  menurut ahli-ahli   tafsir   Terjemahan   Ekumenik   daripada  Bibel Perjanjian  Lama   (1975)   adalah:   "mudah-mudahan   Allah menunjukkan  dirinya  Jaya." Setelah kata itu dijadikan nama orang,  tidak  mengherankan  jika  orang  memakainya   untuk menunjukkan "kelompok" sambil mengingat-ingat seorang moyang yang besar. Jadi kata Israil itu sudah  ada  beberapa  ratus tahun  sebelum  Musa. Tidak mengherankan kalau dalam monumen Mineptah kata itu disebutkan. Tetapi disebutkannya kata  itu tidak  merupakan  argumen  yang menguatkan terjadinya Exodus Musa sebelum tahun V daripada pemerintahan Mineptah.

Sesungguhnya  dengan  menunjuk   kelompok   yang   dinamakan "Israil,"  monumen Mineptah tidak menunjukkan suatu kelompok politik yang sudah berdiri, karena monumen tersebut  ditulis pada   akhir  abad  XIII  S.M.,  sedangkan  kerajaan  Israil didirikan pada abad X  S.M.  Jadi,  monumen  tersebut  hanya menunjuk kelompok manusia biasa.25

Sekarang  kita  mengetahui  bahwa untuk masuk dalam sejarah, Israil memerlukan waktu pembentukan selama 8  atau  9  abad. Dalam  periode  tersebut terdapat kelompok-kelompok setengah nomad dalam daerah Kan'an, khususnya kelompok  Amorites  dan Arameans.    Dalam   periode   tersebut   muncul   pula   di tengah-tengah   rakyat   patriach-patriach    (kepala-kepala keluarga)  seperti  Ibrahim,  Ishak  dan Ya'kub atau Israil. Nama kedua dari  kepala  keluarga  terakhir,  yakni  Israil, merupakan  bibit pertama daripada kesatuan politik yang akan muncul lama setelah zaman Mineptah, karena  kerajaan  Israil berlangsung dari tahun 931-930 sampai 721 S.M.

4. DISEBUTKANNYA KEMATIAN FIR'AUN ZAMAN EXODUS
   OLEH KITAB-KITAB SUCI

Matinya Fir'aun pada waktu  Exodus  merupakan  suatu  bagian yang sangat penting dalam riwayat Qur-an dan Bibel. Kematian Fir'aun itu dapat difahami dari teks  dengan  jelas  sekali. Dalam  Bibel,  kematian  Fir'aun  itu tidak hanya disebutkan dalam Pentateuqe atau Torah tetapi juga dalam Zaburnya Daud; pembicaraan tentang ini telah disebutkan di atas.

Adalah sangat mengherankan bahwa pengarang-pengarang Kristen tidak menyebutkan kematian Fir'aun. R.P. de Vaux berpendapat bahwa   Exodus   terjadi   pada   bagian   pertama  daripada pemerintahan Ramses II atau  pada  pertengahan  pemerintahan itu;  ia  tidak  memperhitungkan  bahwa Fir'aun telah binasa dalam pengejaran kaum Yahudi, yang berarti bahwa Exodus  itu terjadi  pada  akhir  pemerintahannya.  Dalam  buku-bukunya: "Sejarah Israil  Kuna,"  direktur  Sekolah  Bibel  Yerusalem tidak   mempedulikan   kontradiksi  antara  pendapatnya  dan paragraf-paragraf yang  tersebut  dalam  dua  kitab  (fasal) daripada Bibel.

P.  Montet  dalam bukunya "Mesir dan Bibel" mengatakan bahwa Exodus terjadi pada zaman pemerintahan Mineptah, akan tetapi ia  tidak  menulis  sepatah  katapun tentang matinya Fir'aun yang memimpin pengejaran orang-orang Yahudi yang lari.

Pendirian yang mentakjubkan ini sangat  bertentangan  dengan pendirian orang-orang Yahudi. Mazmur Daud no. 136 dalam ayat 15  memuji  "Tuhan  yang  telah  membinasakan  Fir'aun   dan tentaranya  dalam lautan yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan" sering disebutkan dalam doa-doa mereka. Mereka itu  mengerti bahwa  ada  persesuaian  antara  ayat-ayat  tersebut  dengan kata-kata dalam Kitab Keluaran (14, 28): "Air kembali pasang dan  menenggelamkan  kereta-kereta serta para penumpang kuda dari tentara Fir'aun yang telah masuk ke  laut  di  belakang mereka  (kelompok  Yahudi).  Tak  ada  seorangpun yang tetap hidup." Bagi mereka tak ada sangsi sedikitpun bahwa  Fir'aun telah   binasa  bersama  tentaranya.  Teks  yang  sama  juga terdapat dalam Bibel Kristen.

Para  ahli  tafsir  Kristen  sengaja  mengelakkan  diri  dan menentang  segala  bukti  kematian Fir'aun. Tetapi sementara orang  menyebutkan  riwayat  yang  ada  dalam   Qur-an   dan menganjurkan  pembacanya  untuk  mengadakan  pendekatan yang khusus. Inilah yang kita temukan dalam Terjemahan  Bibel  di bawah  pengawasan  Sekolah Bibel di Yerusalem; kita dapatkan  tafsiran R.P. Couroyer  guru  besar  pada  sekolah  tersebut mengenai badan Fir'aun:  
"Qur-an (X, 90-92) menyebutkan hal-hal tersebut, dan menurut tradisi orang awam, Fir'aun tenggelam dengan tentaranya, hal ini  tak  disebutkan  dalam Qur-an26 dan badannya menetap di dasar laut dan memerintah para nelayan;  jadi  sejenis  ikan laut."

Pembaca  yang tidak mengetahui isi Qur-an akan menghubungkan antara  pernyataan   Qur-an   yang   bertentangan   (menurut pengarang   tafsir  Bibel  tersebut)  dengan  Bibel,  dengan dongengan yang aneh yang katanya berasal dari tradisi  orang awam, yang disebutkan dalam tafsir Bibel setelah menyebutkan Qur-an.

Hakekat  pernyataan  Qur-an  tentang   hal   ini   tak   ada hubungannya  dengan apa yang dikatakan oleh pengarang tafsir Bibel tersebut; ayat 90  s/d  92  daripada  surat  10  dalam Qur-an  mengatakan  bahwa  Bani Israil melalui lautan selagi Fir'aun dan tentaranya mengejar mereka. Pada waktu ia hampir tenggelam,  Fir'aun  berteriak:  "Aku  percaya bahwa tak ada Tuhan kecuali Tuhan yang dipercayai oleh  Bani  Israil,  dan aku  termasuk  orang-orang yang menyerahkan diri kepadaNya." Tuhan menjawab: "Baru sekarang?  Sebelum  ini  engkau  telah membangkang  dan  menimbulkan  kerusakan.  Baiklah  Aku akan menyelamatkan badanmu pada  hari  ini  agar  engkau  menjadi bukti bagi mereka yang datang sesudahmu. Sesungguhnya banyak manusia yang lengah terhadap bukti-buktiKu."

Inilah yang dimuat dalam Qur-an  tentang  kematian  Fir'aun.Baik dalam ayat ini maupun dalam ayat-ayat lain dalam Qur-an tak ada khayalan-khayalan seperti yang disebutkan oleh  ahli tafsir  Bibel.  Teks  Qur-an  mengatakan  dengan jelas bahwa badan Fir'aun akan diselamatkan; inilah hal yang pokok.

Pada waktu  Qur-an  disampaikan  kepada  manusia  oleh  Nabi Muhammad,  semua  jenazah  Fir'aun-Fir'aun yang disangka ada hubungannya dengan Exodus oleh manusia  modern  terdapat  di kuburan-kuburan  kuno di lembah raja-raja (Wadi al Muluk) di Thebes, di seberang  Nil  di  kota  Luxor.  Pada  waktu  itu manusia   tak  mengetahui  apa-apa  tentang  adanya  kuburan tersebut. Baru pada abad 19 orang menemukannya seperti  yang dikatakan  oleh  Qur-an  jenazah  Fir'aunnya Exodus selamat. Pada waktu ini jenazah Fir'aun  Exodus  disimpan  di  Museum Mesir  di  Cairo  di  ruang  mumia,  dan  dapat dilihat oleh penziarah. Jadi hakekatnya  sangat  berbeda  dengan  legenda yang  menertawakan  yang  dilekatkan kepada Qur-an oleh ahli tafsir Injil, R.P. Couroyer.

5. MUMIA FIR'AUN MINEPTAH

Jenazah Mineptah yang sudah diawetkan, anak dari  Ramses  II yang  dapat  dipastikan  sebagai  Fir'aun  Exodus, ditemukan orang pada tahun 1898  oleh  Loret,  di  Thebes,  di  lembah Raja-raja    (Wadi   al   Muluk).   Elliot   Smith   membuka perban-perbannya pada tanggal 8 Juli 1907. Dalam bukunya The Royal  Mummies  (1912)  ia  menjelaskan  apa yang dikerjakan dalam membuka mumia tersebut dan  memeriksa  badannya.  Pada waktu  itu mumia tersebut dapat dikatakan dalam keadaan baik walaupun ada kerusakan di beberapa  bagian.  Semenjak  waktu itu  mumia  tersebut  dipertunjukkan  kepada para pengunjung museum  Cairo.   Kepala   dan   lehernya   terbuka,   sedang bagian-bagian  badan  lainnya ditutup dengan kain sedemikian rupa sehingga sampai sekarang museum  tidak  memiliki  photo yang  menyeluruh  tentang  badan  mumia  kecuali yang pernah diambil oleh Elliot Smith pada tahun 1912.

Pada bulan Juni tahun 1975, para penguasa  tinggi  di  Mesir memperbolehkan   diri  saya  untuk  memeriksa  bagian-bagian daripada tubuh  Fir'aun  yang  diketemukan  serta  mengambil gambarnya.  Jika  kita  bandingkan  keadaan  mumia  sekarang dengan keadaannya 60 tahun yang lalu ternyata sudah terdapat kerusakan-kerusakan,  bahkan  ada bagian-bagian yang hilang. Kain pembalut mumia telah banyak rusak, baik  karena  tangan manusia   di   beberapa  bagian,  atau  karena  waktu  untuk bagian-bagian lain.

Kerusakan alamiah ini dapat diterangkan  sebagai  disebabkan oleh  perbedaan  cara memeliharanya semenjak orang menemukan mumia tersebut pada akhir abad XIX dalam kuburan  Necropolis (negara  orang-orang  mati)  di  Thebes  di  mana  tubuh itu berbaring lebih dari 3.000 tahun.  Dalam  keadaan  sekarang, mumia  itu  hanya  dilindungi  oleh  kaca  yang  tidak dapat menahan pengaruh udara dari luar dan polusi yang  disebabkan oleh  micro  organisme. Dalam keadaan mudah terpengaruh oleh suhu udara dan tak  terlindungi  dari  lembab  musim,  mumia tersebut  pada waktu ini dalam kondisi yang berlainan sekali dengan kondisi yang telah dapat  memeliharanya  selama  tiga ribu   tahun,   jauh  dari  faktor-faktor  kerusakan.  Mumia tersebut  telah  kehilangan  proteksi   pembalut-pembalutnya serta  pertahanan  tempat  yang  tertutup dalam kuburan yang temperaturnya  tidak  berubah  dan  udaranya  kurang  lembab daripada  udara  Cairo  dalam  musim-musim  tertentu. Memang walaupun dalam necropole (kuburan raja-raja), mumia tersebut mungkin  saja  dalam bahaya daripada pencuri-pencuri kuburan atau perusak-perusak lain tetapi walaupun begitu,  nampaknya kondisi  dahulu  lebih  baik daripada kondisi sekarang untuk mempertahankan din dari pengaruh waktu.

Pada waktu penelitian mumia tersebut dalam bulan Juni  tahun 1975,  atas  usul  saya telah dilakukan penyelidikan khusus. Penyelidikan radiografik telah dilakukan oleh Dr. El  Melegy dan  Dr.  Ramsys; di lain pihak Dr. Mustafa menilainya telah melakukan  penyelidikan  tentang  thorax27  dan  perut;  ini adalah  penyelidikan  dengan  endoscopie28  yang  diterapkan kepada mumia untuk pertama kali. Dengan cara ini kita  dapat mengambil  foto  perinci-perinci  penting  di  dalam  tubuh. Dengan pemeriksaan microscope  terhadap  bagian-bagian  yang jatuh  sendiri  daripada  mumia  itu, yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh  Prof.  Mignot  dan  Dokter  Durignon,  suatupenyelidikan  legal  akan  dapat diselesaikan bersama dengan Prof. Ceccaldi.

Sangat disesalkan sekali bahwa hasi1  penyelidikan  tersebutbelum rampung ketika buku ini ditulis.

Yang  dapat  kita  tarik kesimpulan sekarang ialah kerusakan tulang dan hilangnya substansi penting  --  sebagian  adalah sangat  fatal.  Kita  belum  dapat memastikan apakah hal-hal tersebut  terjadi  sesudah  atau  sebelum  matinya  Fir'aun. Menurut   riwayat   kitab  Suci,  Fir'aun  meninggal  karena tenggelam  atau  karena  rasa  shock   yang   dahsyat   yang mendahului tenggelamnya, dalam laut, atau kedua-duanya.

Hubungan  antara  kerusakan  kulit  dengan kerusakan seluruh mumia yang  sebab-sebabnya  telah  kita  jelaskan  di  atas, menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pemeliharaan mumia Fir'aun ini jika pencegahan dan pemulihan tidak dilaksanakan selekasnya.  Tindakan  itu  perlu  sekali, agar satu-satunya bukti material yang ada  sekarang  tentang  matinya  Fir'aun Exodus  dan penyelamatan tubuhnya yang dikatakan oleh Tuhan, tidak musnah dengan mudah.

Adalah  sangat  diharapkan  bahwa  kita   dapat   memelihara bekas-bekas  sejarah.  Tetapi  dalam  hal  ini, ada hal yang lebih penting,  yaitu  materialisasi  dalam  mumia  terhadap seorang   yang   mengenal   Musa  semasa  hidupnya,  menolak permohonannya, mengejarnya ketika ia lari, dan kemudian mati dalam  pengejaran tersebut. Badannya, karena kehendak Tuhan, selamat dari kebinasaan, dan  menjadi  bukti  bagi  manusia, seperti diterangkan oleh Qur-an.29

Alangkah   agungnya   contoh-contoh   yang   diberikan  oleh ayat-ayat Qur-an tentang tubuh Fir'aun yang sekarang  berada di  ruang  mumia di Museum Mesir di kota Cairo. Penyelidikan dan    penemuan-penemuan    modern     telah     menunjukkan kebenaran-kebenaran Qur-an.





QUR-AN, HADITS & SAINS MODERN                           
 
Qur-an tidak merupakan satu-satunya sumber doktrin dan hukum Islam.  Ketika  Nabi Muhammad masih hidup dan sesudah beliau meninggal, ada sumber tambahan yaitu  tindakan-tindakan  dan ucapan-ucapan Nabi.
 
Informasi tentang tindakan dan ucapan Nabi tergantung kepada tradisi mulut; orang-orang yang  mengambil  initiatif  untuk mengumpulkannya  dalam  suatu  teks  mengadakan penyelidikan yang  rumit  jika  tradisi  lisan  tersebut  akan  dijadikan tulisan tentang kejadian-kejadian.
 
Dalam  mengumpulkan  informasi  tersebut mereka sangat gigih mencari kebenaran; hal ini  dapat  dibuktikan  dengan  fakta bahwa  dalam  tiap  riwayat mengenai kehidupan Nabi Muhammad atau  kata-katanya,  terkumpul  nama-nama  orang-orang  yang mempunyai  reputasi  baik  yang melaporkan riwayat tersebut, dan urutan nama-nama itu  menanjak  sampai  kepada  keluarga Nabi   atau  sahabat-sahabat  yang  menjadi  sumber  pertama daripada informasi itu.
 
Dengan cara tersebut, muncullah  kumpulan-kumpulan  tindakan dan   ucapan-ucapan  Nabi,  yaitu  yang  biasanya  dinamakan "Hadits"  arti  kata  itu  adalah  "kata-kata"  tetapi  yang dimaksudkan ialah ucapan-ucapan dan tindakan.30
 
Kumpulan-kumpulan  Hadits itu disiarkan beberapa puluh tahun setelah  wafatnya  Nabi  Muhammad;  yang  muncul  pada  abad pertarna  Hijriyah  sangat  terbatas. Kumpulan-kumpulan yang lebih penting baru muncul dua  abad  sesudah  Nabi  Muhammad wafat.  Dengan  begitu  maka  kumpulan  Hadits  yang memberi informasi yang paling lengkap  bukan  kumpulan  yang  paling dekat  kepada  zaman  Nabi  Muhammad.  Kumpulan  Bukhary dan Muslim yang diselenggarakan lebih  dari  200  tahun  sesudah wafatnya  Nabi  Muhammad memberikan dokumentasi yang terluas dan paling dapat dipercayai. Kumpulan Bukhari dianggap  yang paling  autentik  setelah  Qur-an.  Haudas dan Marcais telah menterjemahkannya ke dalam bahasa Perancis antara tahun 1903 dan  1904,  dengan  judul:  Les  Traditions Islamiques. Pada akhir-akhir ini telah diterbitkan juga dengan teks Arab  dan terjemahan  Inggris  oleh  Dr.  Mohammad  Muhsin  Khan, dari Universitas Islam di  Medina.  Dengan  begitu  Hadits  dapat dibaca oleh orang yang tak mengerti bahasa Arab. Tetapi kita perlu bersikap sangat hati-hati terhadap beberapa terjemahan yang  dilakukan  oleh orang-orang Barat termasuk orang-orang Perancis, karena kita telah dapatkan kekeliruan  yang  tidak merupakan  terjemahan  akan  tetapi  merupakan interpretasi; malahan  kadang-kadang  mereka  itu  merubah   arti   Hadits sehingga memberi pengertian yang tidak dimaksudkan.
 
Dari   segi   asal   mulanya,   orang   dapat  membandingkan kumpulan-kumpulan Hadits itu dengan Injil. Kedua macam  buku itu mempunyai sifat yang sama, yaitu; pertama: telah ditulis oleh pengarang-pengarang yang  tidak  merupakan  saksi  mata kejadian  yang  mereka  laporkan;  dan  kedua: telah ditulis setelah lama kejadian-kejadian tersebut terjadi. Sebagaimana halnya  dengan Injil, Hadits-hadits itu tidak semuanya dapat diterima sebagai  autentik.  Hanya  jumlah  kecil  dipandang autentik oleh ahli-ahli Hadits, dan dalam satu kumpulan kita dapat menemukan Hadits-hadits  autentik  di  samping  Hadits yang diragukan bahkan Hadits yang harus ditolak.
 
Berbeda dengan Injil-Injil empat, yang tidak pernah disangkal oleh umat Kristen, kumpulan-kumpulan Hadits-hadits  walaupun yang  dianggap  paling  autentik,  pada  suatu  waktu  dalam sejarah Islam, telah merupakan  sasaran  kritik  tajam  dari para  ahli  pikir  Islam.  Tetapi Qur-an, tetap menjadi buku yang  pokok  dan  tak  dapat   dipersoalkan   lagi   tentang kebenarannya.
 
Saya  menganggap  penting  untuk  menyelidiki dalam kumpulan Hadits-hadits  tersebut,  bagaimana  di  luar  wahyu  Ilahi, Muhammad  diriwayatkan  telah  membicarakan  soal-soal  yang pengetahuan  modern  baru  dapat  membuka  rahasianya   pada beberapa  abad  sesudahnya  Saya  sangat membatasi diri, dan hanya penyelidikan  Hadits  yang  biasanya  dianggap  paling autentik,  yaitu  kumpulan  Hadits  Bukhari;  sebabnya ialah karena saya selalu berpikir bahwa karena  Hadits-hadits  itu banyak  yang  disusun oleh para pengumpulnya menurut tradisi oral, maka mereka dapat meriwayatkan fakta-fakta  yang  sama akan tetapi dengan cara berbeda berhubungan dengan kesalahan orang-orang  yang  meriwayatkannya.  Hal  tersebut   berbeda dengan  Hadits  yang  diriwayatkan oleh rawi-rawi yang besar jumlahnya sehingga dapat mencapai martabat Hadits autentik.
 
Saya menyelidiki pernyataan-pernyataan Hadits dalam  hal-hal yang  pernah kita bicarakan tentang Qur-an dan Sains modern.Hasil penyelidikan saya sangat  jelas.  Ada  perbedaan  yang sangat  besar antara pernyataan-pernyataan Qur-an yang cocok jika dihadapkan dengan Sains modern  dan  pernyataan  Hadits dalam bidang sama yang sangat mudah dikritik.
 
Hadits yang merupakan tafsiran mengenai beberapa ayat Qur-an kadang-kadang memberi penjelasan  yang  tak  dapat  diterima sekarang.
 
Ada  satu  Hadits  Bukhary yang menafsirkan surat 36 ayat 38 (Surat  Yassin)  yang  telah  kita  bicarakan  dalam   fasal Astronomi, dengan tafsiran sebagai berikut: "Ketika matahari terbenam, ia sujud di bawah Arasy Tuhan. Matahari minta izin untuk  mengulangi  perjalanannya,  dan  sujud  sekali  lagi. Akhirnya ia kembali ke tempat dari mana ia datang dan bangun kembali  dari  Timur."  Teks  aslinya adalah kabur dan sukar diterjemahkan. (Kitab permulaan penciptaan, fasal 54, bab  4 no.  421).  Bagaimanapun  juga,  Hadits  tersebut mengandung khayalan tentang perjalanan matahari dan hubungannya  dengan bumi.  Sains  telah  menunjukkan  bahwa  yang  benar  adalah sebaliknya isi Hadits tersebut. Jadi Hadits  tersebut  tidak autentik.
 
Dalam  fasal yang sama (Kitab permulaan penciptaan) fasal 54 bab 6  no.  430,  terdapat  keterangan  tentang  tahap-tahap pertama  daripada  perkembangan  embriyo. Keterangan tentang waktu yang diperlukan oleh tahap-tahap itu terasa aneh; satu tahap  untuk mengumpulkan unsur-unsur yang menyusun manusia, lamanya 40 hari, satu tahap di  mana  embryo  itu  merupakan "sesuatu  yang  melekat"  lamanya 40 hari, dan satu tahap di mana embryo menjadi seperti  daging  yang  dikunyah  lamanya juga  40 hari. Kemudian setelah campur tangan malaekat untuk menentukan hari kemudian embryo  itu,  suatu  ruh  ditiupkan dalam embryo tersebut. Gambaran perkembangan embriyo seperti tersebut di atas tidak sesuai dengan Sains modern.
 
Kecuali dalam surat 16 (Nahl) ayat 69 yang menyebutkan bahwa madu  itu  mengandung obat (tanpa menyebutkan untuk penyakit apa), Qur-an  tidak  memberi  tuntunan  tentang  pengobatan. Tetapi   Hadits  memberikan  tempat  yang  luas  untuk  soal obat-obatan.
 
Dalam kumpulan Hadits Bukhary ada  suatu  bab  khusus  untuk obat-obatan  (bab  76).  Dalam terjemahan Houdas dan Marcais hal tersebut terdapat dalam jilid 4, halaman 62 s/d 91,  dandalam  bukunya  Dr.  Muhammad  Muhsin Khan dengan terjemahan Inggris  terdapat  dalam  jilid  7  halaman  395  s/d   452. Halaman-halaman    tersebut    memberi    gambaran   tentang pendapat-pendapat   orang   pada   waktu   Hadits   tersebut dikumpulkan   mengenai  soal-soal  yang  berhubungan  dengan obat-obatan. Orang dapat  menambahkan  kepada  hadits-hadits dalam  bab  tersebut, hadits-hadits lain yang terdapat dalam bagian-bagian lain daripada kumpulan Hadits Bukhary.
 
Dalam  hadits-hadits  yang  saya  sebutkan  terakhir   tadi, terdapat  pemikiran-pemikiran  tentang  sihir,  mata  jahat, pengusiran  setan  dan  lain-lain,  walaupun  Qur-an   telah membatasi  hal-hal  tersebut.  Terdapat  suatu  hadits  yang mengatakan bahwa  buah  kurma  dapat  menjaga  manusia  dari pengaruh  sihir,  dan  dapat  menyembuhkan  gigitan binatang berbisa.
 
Kita  tidak  perlu  heran  karena  dalam  zaman  teknik  dan farmakologi   belum   maju,  kita  menemukan  anjuran  untuk praktek-praktek  yang  sederhana  atau  obat-obatan  alamiah seperti  cantuk  (Hijamah) atau cara lain untuk mengeluarkan darah kotor,  mengobati  luka  dengan  api,  mencukur  untuk mengobati  penyakit  kulit, meminum susu onta, biji tertentu atau tumbuh-tumbuhan tertentu, abu  semacam  tumbuh-tumbuhan (untuk   menghentikan  darah  keluar).  Dalam  keadaan  yang berbahaya, orang perlu menggunakan segala  cara  yang  dapatdilakukan,  dan yang memang berguna. Tetapi saya rasa kurang baik untuk menganjurkan minum kencing onta.
 
Kita  juga  kurang   setuju   dengan   penjelasan-penjelasanmengenai patologi. Di bawah ini beberapa contoh:
 
Asalnya  penyakit  panas badan: empat orang saksi menguatkan pernyataan bahwa: panas badan itu datangnya dari api  neraka (Kitab pengobatan fasal 28).
 
Adanya obat bagi tiap-tiap penyakit, "Tuhan tidak menurunkan penyakit  kecuali  ia   juga   menurunkan   obatnya   (Kitab pengobatan fasal 1). Contoh konsepsi ini adalah Hadits lalat (Kitab pengobatan, fasal 28 dan Kitab permulaan  penciptaan, bab  54,  fasal  15,  16).  Jika  ada lalat jatuh dalam satu wadah, lalat itu  harus  ditenggelamkan  seluruhnya,  karena satu   sayapnya   mengandung   racun,  dan  yang  satu  lagi mengandung penawar, lalat mula-mula membawa  racun  kemudian membawa obat.
 
Keguguran  itu  disebabkan  karena  si  hamil  melihat  ular tertentu  (ular  itu   juga   menyebabkan   kebutaan).   Inidisebutkan  dalam  Kitab  permulaan penciptaan, fasal 13 dan 14.
 
Mengeluarkan darah di luar waktu haid. Kitab  Haid  fasal  6 memuat Hadits tentang sebab mengeluarkan darah di luar waktu haid (bab 16, 21 dan 28). Hal ini mengenai dua orang wanita. Dalam   satu   kasus,   tanpa  perincian,  mengenai  symptom tersebut, dinyatakan bahwa mengeluarkan darah  itu  sebabnya karena  suatu  saluran  darah  ('irq);  dalam kasus lainnya, yaitu tentang seorang wanita yang mengeluarkan darah di luar haid  selama tujuh tahun. Di sini sebab yang sama dinyatakan kembali. Orang dapat membuat  hipotesa  tentang  sebab  yang sesungguhnya  tentang  symptom  tersebut,  tetapi  mengingat zaman  Hadits  Nabi  Muhammad  tersebut,  kita   tak   dapat menggambarkan  bagaimana diagnosa tersebut didasarkan kepada suatu argumen. Bagiamanapun juga hal ini mungkin juga benar.
 
Tak  adanya  penyakit  menular,  kumpulan   Hadits   Bukhary menyebutkan  dalam beberapa bagian dalam buku itu (fasal 19, 25, 30 31, 53 dan 54 kitab pengobatan, bab 76),  kasus-kasus khusus seperti lepra, pest, kolera, penyakit kulit onta, dan juga penyakit menular secara umum. Pemikiran tentang hal-hal tersebut  mengandung  pernyataan  yang  kontradiksi. Tetapi, terdapat juga suara anjuran supaya  orang  jangan  pergi  ketempat  di  mana  wabah  pest  berjangkit,  dan supaya orang menjauhi orang yang terserang penyakit lepra.31
 
Dengan  begitu,  kita  dapat  mengambil  kesimpulan  tentang adanya  hadits  yang  tak  dapat diterima. Tetapi di samping kesangsian  tentang  kebenaran   hadits   tersebut,   dengan disebutkannya  di  sini  kita  mendapat  faedah  yaitu bahwa dengan memperbandingkannya  dengan  pernyataan  ilmiah  yang terdapat  dalam  Qur-an,  kita  mengerti bahwa hadits-hadits tersebut mengandung pernyataan yang tidak tepat.  Konstatasi ini mempunyai arti yang besar.
 
Kita  harus  ingat  bahwa  ketika  Nabi  Muhammad meninggal, ajaran-ajaran yang diterima oleh para  sahabat  dari  beliau dapat dibagi menjadi dua kelompok:
 
Pertama,  banyak  pengikut  Nabi  yang  hafal Qur-an seperti beliau dan selalu mengulangi pembacaannya;  di  samping  itu terdapat tulisan-tulisan wahyu Qur-an yang dibuat waktu Nabi Muhammad masih hidup, dan malahan sebelum hijrah. 
 
Kedua,  anggauta-anggauta   dari   sahabat-sahabatnya   yang terdekat, dan beberapa pengikutnya yang menyaksikan tindakan dan kata-katanya, mereka  itu  memelihara  apa  yang  mereka saksikan  atau dengarkan, dan menjadikannya sebagai sandaran di samping Qur-an, untuk menetapkan doktrin dan  hukum  yang sedang tumbuh.
 
Dalam   tahun-tahun   sesudah  meninggalnya  Nabi  Muhammad, teks-teks, tentang  dua  macam  ajaran  yang  ia  tinggalkan bermunculan.  Kumpulan  Hadits  yang pertama muncul 40 tahun setelah Nabi meninggal, akan tetapi sebelum teks itu muncul, Qur-an  sudah  dikumpulkan  lebih dahulu pada zaman Abubakar dan Umar.  Utsman  membuat  teks  definitif  pada  waktu  ia memerintah;  yakni  antara  tahun  12  dan  24  sesudah Nabi meninggal.
 
Yang perlu digaris  bawahi  adalah  perbedaan  antara  kedua macam  teks  dan segi sastra dan dari segi isi. Sesungguhnya tak mungkin diadakan perbandingan dari segi style Qur-an dan susunan  tata  Hadits. Dan lagi jika kita mernbandingkan isi daripada dua teks  tersebut  dengan  menghadapkannya  kepada hasil-hasil  Sains  modern, kita akan heran karena perbedaan yang  sangat  besar.  Saya   harap   saya   telah   berhasil menunjukkan perbedaan antara:
 
Di  satu  pihak,  pernyataan  Qur-an  yang  sering kelihatan remeh;  tetapi  jika   diselidiki   secara   ilmiah   dengan hasil-hasil     Sains     modem    akan    ternyata    bahwa pernyataan-pernyataan itu menunjukkan hal-hal yang  kemudian dibenarkan oleh Sains.
 
Di  lain pihak, beberapa pernyataan hadits yang kelihatannya sesuai  dengan  cara  berfikir  pada   waktu   itu;   tetapi mengandung  pernyataan-pernyataan  yang sekarang tidak dapatditerima  secara   ilmiah.   Pernyataan-pemyataan   tersebut terselip  dalam  doktrin  dan  hukum  Islam yang semua orang menganggap autentik dan tak berani mempersoalkannya
 
Akhirnya, kita harus mengetahui bahwa  sikap  Nabi  Muhammad terhadap  Qur-an sangat berbeda dengan sikap beliau terhadap ucapan-ucapan  beliau  pribadi.   Qur-an   tidak   merupakan fatwa-fatwa beliau. Qur-an adalah wahyu Ilahi. Nabi menyusun bagian-bagian Qur-an dalam  waktu  kurang  lebih  dua  puluh tahun dengan sangat hati-hati seperti yang sudah kita lihat. Qur-an merupakan hal yang harus ditulis selama Nabi Muhammad masih  hidup.  dan  harus  dihafalkan untuk dijadikan bacaan sembahyang. Adapun Hadits yang disajikan  sebagai  hal  yang menunjukkan  tindakan dan ucapan Nabi, hadits itu diserahkan kepada  pengikutnya  untuk  menjadi  contoh  dalam  tindakan mereka dan untuk ditulis sebagaimana mereka fahami. Ia tidak memberi pengarahan dalam hal ini.
 
Oleh karena hanya  jumlah  tertentu  daripada  hadits  dapat dianggap  secara pasti sebagai pemikiran Nabi Muhammad, maka kebanyakan hadits hanya menunjukkan  hal-hal  yang  dianggap benar  oleh orang-orang pada zaman dahulu, khususnya tentang hal-hal ilmiah yang telah disebutkan dalam ketabiban. Dengan membandingkan  teks  hadits  dengan  teks Qur-an, kita dapat membedakan antara Qur-an dan hadits  yang  tidak  benar  dan tidak autentik. Perbandingan ini menjelaskan perbedaan besar antara tulisan-tulisan pada  waktu  itu  yang  penuh  dengan kekeliruan-kekeliruan  ilmiah,  dengan  Qur-an,  wahyu  yang sudah dibukukan  dan  yang  bebas  dari  kesalahan-kesalahan ilmiah.
                                            
Ketika penterjemah bertemu dengan pengarang dalam konferensi pemikiran Islam  di  Aljazair  pada  bulan  September  1978, pengarang  berpesan  agar  paragraf  dibawah ini ditambahkan dalam Bab Qur-an, Hadits dan  Sains  modern.  Dalam  cetakan keenam,  (bahasa  Perancis)  paragraf  tersebut memang telah dimuat.
 
Kebenaran Hadits  dari  segi  keagamaan  sama  sekali  tidak menjadi  persoalan.  Tetapi  jika  Hadits  itu  membicarakan soal-soal profane (bukan  agama),  maka  tak  ada  perbedaan antara  Nabi  Muhammad  dan  manusia  lainnya. Sebuah Hadits meriwayatkan pernyataan Nabi Muhammad sebagai berikut: "Jika aku  berikan perintah kepadamu mengenai agama, ikutilah, dan jika  aku  menyampaikan  sesuatu  hal  yang   berasal   dari pendapatku   sendiri,  ingatlah  bahwa  aku  adalah  seorang manusia." Al Saraksi dalam bukunya  "al  Usul"  menafsirkan, sebagai  berikut:  "Jika aku memberi tahu tentang hal agama, kerjakanlah menurut keteranganku dan  jika  aku  memberitahu tentang  soal-soal  keduniaan,  maka sesungguhnya kamu lebih tahu tentang urusan keduniaanmu."





KONKLUSI UMUM
 
Pada akhir penyelidikan, telah  nyata  bahwa  pendapat  yang dianut  kebanyakan  orang  di Barat tentang kitab-kitab suci yang kita miliki sekarang adalah  tidak  benar.  Kita  telah melihat   keadaan-keadaan   dan  zaman-zaman  serta  caranya unsur-unsur Perjanjian Lama, Injil, dan  Qur-an  dikumpulkan dan  disusun.  Keadaan  yang  mendahului lahirnya tiga kitab wahyu  berbeda  sekali  satu   dengan   lainnya;   hal   ini menimbulkan akibat yang sangat penting mengenai autentisitas teks dan aspek-aspek tertentu mengenai isinya.
 
Perjanjian  Lama  merupakan  kumpulan  karya   sastra   yang dihasilkan  selama  ±  9  abad.  Perjanjian  Lama  merupakan campuran mosaik yang  unsur-unsurnya  sepanjang  masa  telah dirubah-rubah   oleh   manusia;   beberapa   paragraf   baru ditambahkan  kepada  yang  sudah  ada  sehingga  pada  waktu sekarang sangat sulit untuk menemukan asalnya.
 
Injil  dimaksudkan  untuk  memberi  pelajaran kepada manusia dengan jalan meriwayatkan tindakan dan ucapan  Yesus,  yaitu ajaran-ajaran  yang  ia  ingin mewariskan ketika tugasnya di atas bumi sudah selesai. Kesulitan yang terdapat dalam Injil ialah   bahwa   penulis-penulisnya  bukan  saksi  mata  yang menyaksikan fakta-fakta yang mereka laporkan.  Ajaran-ajaran Injil  hanya  merupakan  ekspresi  berita  tentang kehidupan Yesus  yang  ditulis  oleh  juru  bicara  masyarakat  Yahudi Kristen,  dalam  bentuk  tradisi  lisan  atau  tulisan  yang sekarang sudah musnah, dan  yang  dahulu  menjadi  perantara antara tradisi lisan dan teks yang definitif.
 
Dengan  latar  belakang  inilah  orang harus memandang kitab suci Yahudi Kristen, dan  jika  kita  ingin  memikir  secara obyektif,  kita  harus  meninggalkan  konsepsi tafsir-tafsir kuno.
 
Banyaknya sumber-sumber asal, mengakibatkan kontradiksi  dan pertentangan  yang  tak  dapat dielakkan dan yang telah kita berikan contoh-contoh yang banyak. Pengarang-pengarang Injil mempunyai  kecenderungan  untuk  membesar-besarkan  beberapa fakta mengenai Yesus, sebagai  mana  pengarang  sastra  epik Perancis  di  abad  Pertengahan berbuat tentang "Chansons degeste." Dengan  begitu  maka  kejadian-kejadian  digambarkan dengan  nada  khusus  yang dõmiliki oleh pengarang-pengarang itu,  dan  autentisitas  fakta  yang   diriwayatkan,   dalam beberapa  kasus  menjadi  sangat  diragukan.  Dalam  kondisi semacam itu, pernyataan-pernyataan kitab suci Yahudi Kristen yang   ada   hubungannya  dengan  pengetahuan  modern  harus diteliti dengan sikap hati-hati  (reserve)  yang  diharuskan oleh aspeknya yang diragukan.
 
Kontradiksi,  kekeliruan,  pertentangan  dengan  hasil-hasil penyelidikan Sains modern dapat difahami  sepenuhnya  kare na  hal-hal   yang   kita   uraikan   di   atas.   Tetapi   rasa keheran-heranan  umat  Kristen  menjadi  besar  jika  mereka mengetahui  bahwa usaha ahli-ahli tafsir resmi dilangsungkan secara mendalam dan terus  menerus  untuk  menutupi  hal-hal yang   bertentangan   dengan   pengetahuan   modern,  dengan permainan  akrobatik  dialektik  yang  hilang  dalam   lyrik apologi. Contoh tentang hal ini kita dapatkan dalam silsilah keturunan  Yesus  dalam  Injil   Matius   dan   Lukas   yang kontradiksi  dan  tak  dapat  diterima  secara  ilmiah,  dan menunjukkan keadaan mental yang  tidak  wajar.  Injil  Yahya menarik  perhatian  kita  karena perbedaan-perbedaannya yang menyolok dengan  ketiga  Injil  lainnya  khususnya  mengenai kesepian yang biasanya tidak diperhatikan orang, yaitu tidak disebutkannya Ekaristi di dalamnya.
 
Wahyu Qur-an  mempunyai  sejarah  yang  secara  fundarnental berbeda   dengan  dua  kitab  suci  sebelurnnya.  Diturunkan bertahap-tahap dalam waktu kurang  lebih  dua  puluh  tahun. Quran  yang  diwahyukan  Allah  kepada  Nabi Muhammad dengan perantaraan   Malaekat   Jibril,   bicara   langsung   terus dihafalkan oleh orang-orang yang percaya dan pada waktu yang sama ditulis juga pada  waktu  Nabi  Muhammad  masih  hidup- Penelitian  Qur-an  yang  terakhir  yang  diselenggarakan 24 tahun sesudah  meninggalnya  Nabi  Muhammad,  dan  di  bawah pemerintahan  Usman, dikuatkan oleh kontrol orang-orang yang memang sudah  hafal  teks  Qur-an,  karena  mereka  mengerti Qur-an   pada  waktu  turunnya  wahyu  dan  kemudian  selalu mengulangi hafalannya. Dari semenjak itu teks  Qur-an  telah dipelihara  secara  sangat  ketat.  Qur-an  tidak mengandung problem tentang autentik atau tidak autentik.
 
Qur-an yang diwahyukan sesudah kedua kitab suci  sebelumnya, bukan  saja bebas dari kontradiksi dalam riwayat-riwayatnya, kontradiksi yang menjadi  ciri  Injil-Injil  karena  disusun oleh  manusia  tetapi  juga  menyajikan  kepada  orang  yang mempelajarinya secara  obyektif  dengan  mengambil  petunjuk dari   Sains   modern,   suatu   sifat  yang  khusus,  yakni persesuaian yang sempurna dengan hasil Sains  modern.  Lebih dari  itu  semua,  sebagai  yang  sudah kita buktikan Qur-an mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern  yang  tidak masuk  akal jika dikatakan bahwa orang yang hidup pada waktu Qur-an diwahyukan itu  adalah  pencetus-pencetusnya.  Dengan begitu  maka  pengetahuan  ilmiah  modern  memungkinkan kita memahami  ayat-ayat  tertentu  dalam  Qur-an   yang   sampai sekarang tidak dapat ditafsirkan.
 
Perbandingan  beberapa  riwayat  Bibel  dengan riwayat Quran tentang  hal  yang   sama   menunjukkan   adanya   perbedaan fundamental  antara pernyataan Bibel yang tak dapat diterima secara  ilmiah  dengan   pernyataan   Qur-an   yang   sesuai sepenuhnya dengan Sains modern, umpamanya tentang penciptaan dan tentang banjir Nabi Nuh seperti yang sudah kita lihat.
 
Mengenai  Exodus  Musa  kita  dapatkan  dalam  Qur-an  suatu tambahan  yang  berharga  kepada  riwayat  Perjanjian  Lama. Tambahan   itu   seluruhnya   sesuai   dengan    hasil-hasil penyelidikan     arkeologi     yang     menunjukkan     bila kejadian-kejadian dalam sejarah Musa itu terjadi.  Perbedaan sangat  penting antara Qur-an dan Bibel dalam soal-soal lain adalah pertentangan dengan anggapan bahwa Muhammad menjiplak suatu  copy  Bibel  untuk  menulis  Qur-an,  semua itu tanpa bukti.
 
Akhirnya, penelitian  perbandingan  tentang  penyataan  yang penting   untuk  Sains,  terdapat  dalam  Hadits,  kata-kata Muhammad;  tetapi  banyak   di   antara   yang   disangsikan kebenarannya,  walaupun menunjukkan kepercayaan manusia pada waktu itu dan di lain pihak pernyataan Qur-an yang  mengenai Sains juga, menunjukkan perbedaan besar yang meyakinkan kita bahwa sumber Hadits berlainan dengan sumber Qur-an.
 
Orang tidak  dapat  menggambarkan  bahwa  banyak  pernyataan Qur-an yang mempunyai aspek ilmiah itu adalah karya manusia, karena  keadaan  pengetahuan  pada  zaman   Muhammad   tidak memungkinkan  hal  tersebut.  Oleh  karena itu adalah wajar, bukan saja untuk mengatakan bahwa Qur-an itu ekspresi  suatu wahyu  akan  tetapi  juga  untuk memberikan kedududukan yang istimewa  kepada  wahyu  Qur-an  berhubung  dengan   jaminan autentisitasnya    dan    berhubung    dengan    terdapatnya pernyataan-pernyataan ilmiah  yang  setelah-  diteliti  pada zaman  kita  sekarang  ini,  ternyata sebagai satu tantangan kepada penjelasan yang berasal dari manusia.



Catatan kaki:
  1 Tiap tiap bentuk permusuhan terhadap Islam, walaupun     datangnya dari musuh-musuh agama Kristen, pada waktu    tertentu dalam sejarah, mendapat smbutan yang hangat    dari pembesar-pembesar tertinggi dalam gereja Katolik.  Paus Benoit XIV yang mashur sebagai Paus yang terbesar pada abad XVIII, tidak ragu-ragu untuk mengirim restunya kepada Voltaire. Dengan mengirim restu itu, Paus tersebut ingin menyampaikan terima kasihnya, karena Voltaire mempersembahkan karangannya "Mohammad atau Fanatisme" (1741) kepada Paus Benoit XIV tersebut. Karangan tersebut merupakan ejekan    kasar terhadap Muhammad, yang kwalitasnya sama dengan  buku apa saja yang ditulis oleh ahli pena yang pandai tetapi beriktikad jahat. Tragedi tersebut mendapat kehormatan karena termasuk dalam lakon-lakon dalam    kumpulan Comedie Francaise.
  2 Lumen Gentium, judul suatu dokumen Konsili Vatikan (1962-1965).
  3 Soal bahasa dan terjemahan memang sulit. Di Indonesia sebaliknya. Kita lebih suka memakai kata "Allah" sebab sudah terang bahwa "Allah" adalah kata yang tersebut dalam Al Qur-an dan sebagian besar bangsa Indonesia beragama Islam. Kata "Allah" mempunyai konotasi sendiri yakni: sifat-sifat yang ada dalam Qur-an seperti sifat Tunggal, adil, bijaksana, pemurah, penyayang dan seterusnya, sedang kata Tuhan mempunyai konotasi menurut agama orang yang memakainya (Rasjidi).
  4 Para penterjemah Qur-an yang masyhur-masyhur tidak terlepas danpada kebiasaan sekuler ini, yakni memasukkan dalam terjemahan mereka hal-hal yang tak terdapat dalam teks Arab. Dengan tidak merubah teks, orang dapat menambah judul yang tak terdapat dalam teks asli, dan tambahan itu merubah arti umum -- R. Blachere dalam terjemahannya yang terkenal, terbitan Maisonneuse tahun 1966 halaman 115, memasukkan judul yang tak terdapat dalam Qur-an di atas ayat-ayat yang memang mengajak umat Islam untuk memegang senjata, akan tetapi bukan mengajak kepada agressi, R. Blachere membubuhi judul "Kewajiban untuk melakukan perang suci." Tentu saja pembaca yang tidak dapat memahami Qur-an kecuali dengan terjemahan akan merasa yakin bahwa seorang Islam wajib  melakukan Perang Suci.
  5 Menurut penyelidikan, ketika Nabi Muhammad masih hidup ada beberapa sahabat yang mengumpulkan Hadits-Hadits untuk keperluan pribadi; Penterjemah Rasyidi.
  6 Wahyu ini telah merubah keadaan Nabi Muhammad. Kita akan membicarakan artinya, khususnya berhubung karena Nabi Muhammad tak dapat membaca dan menulis pada waktu itu.
  7 Pengarang menghitung waktu turunnya wahyu Kerasulan Muhammad adalah 23 tahun, 13 di Mekah dan 10 di Medinah.
    Tetapi antara wahyu pertama dan kedua terjadi masa putus selama 3 tahun. (Rasjidi).
  8 Saya pernah baca di majalah Time beberapa Tahun yang lalu, bahwa Presiden Russia, Breznev menghadiahkan mushaf Uthmani berasal dari Tasykent kepada Kepala  Negara Libya, Mua'mmar Qadhafi.
  9 Riwayat Bibel yang dimaksudkan di sini adalah riwayat Sakerdotal (riwayat para pendeta) yang telah dibicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini. Riwayat Yahwist yang hanya diringkas dalam beberapa baris dalam teks Bibel sekarang adalah sangat tidak berarti untuk dibicarakan.
 10 Kita dapatkan bahwa bulan dan matahari yang keduanya dalam Bibel dinamakan benda bercahaya, di sini dan di lain tempat dalam Qur-an diberi dua nama yang berbeda.  Di sini bulan dinamakan cahaya (nur) dan matahari dibandingkan dengan pelita (siraj) yang mengeluarkan cahaya. Di lain tempat kita akan mendapatkan nama-nama  atau sifat lain untuk matahari.
 11 Di luar Qur-an, pada zaman Nabi dan abad-abad sesudahnya dalam teks-teks yang meriwayatkan Hadits angka 7 dipakai untuk menunjukkan "banyak."
 12 Pernyataaan bahwa penciptaan sama sekali tidak meletihkan Tuhan nampak sebagai jawaban yang tepat terhadap riwayat Bibel yang kita muat dalam bagian pertama daripada buku ini, yaitu bagian yang mengatakan bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh sesudah Dia bekerja pada hari-hari sebelumnya.
 13 Mengenai bulan, orang berpendapat bahwa asalnya adalah pecahan daripada bumi, disebabkan oleh makin lambatnya  peredaran.
 14 Saya sering mendengar dari orang-orang yang berusaha mencari penjelasan manusiawi mengenai soal-soal yang ditimbulkan oleh Qur-an, bahwa Qur-an memuat keterangan-keterangan yang tepat dan mengherankan tentang astronomi, hal itu karena orang Arab memang  menonjol dalam pengetahuan astronomi. Penjelasan seperti tersebut melupakan bahwa pada umumnya perkembangan Sains di negara-negara Islam terjadi setelah Qur-an selesai diwahyukan, dan melupakan pula bahwa pengetahuan ilmiah pada periode yang agung itu tidak memungkinkan seorang manusia untuk menulis ayat-ayat tentang astronomi yang kita dapatkan dalam  Qur-an. Pembuktian tentang hal ini akan saya berikan dalam paragraf-paragraf yang akan datang.
 15 excentriq artinya dua lingkaran yang titik pusatnya berlainan.
 16 Ayat ini diikuti dengan ajakan untuk mengakui nikmat Tuhan; itulah isi pokok daripada surat 55.
 17 Kota Sana'a, sekarang ibu kota Yaman telah didiami orang  pada zaman Nabi Muhammad. Kota itu terletak dalam ketinggian 2400 m.
 18 Dalam ayat lain (surat 6 ayat 98) "tempat menetap" dikatakan dengan istilah yang sangat dekat dengan istilah di atas dan dapat berarti uterus (rahim) ibu. Secara pribadi saya berpendapat bahwa itulah arti ayat tadi, akan tetapi interpretasinya yang terperinci memerlukan perkembangan-perkembangan yang di sini bukan tempatnya untuk menyebutkannya. Surat 39 ayat 6  artinya: "Dia menjadikan kamu dalam badan ibumu, kejadian demi kejadian, dalam tiga kegelapan." Juga memerlukan interpretasi yang tepat. Ahli-ahli tafsir modern mengartikannya sebagai tiga bagian anatomik yang memelihara bayi dalam kandungan: dinding perut, rahim dan zat-zat yang membungkus bayi (placenta, membrane,  dan cairan aminotik). Saya merasa perlu menyebutkan  ayat tersebut agar penyelidikan ini menjadi sempurna. Interpretasi yang diberikan di sini secara anatomis tak dapat dibantah, tetapi apakah itu yang dimaksudkan oleh teks Qur-an.
 19 Sepanjang pengetahuan penterjemah, hanya R. Blachere yang mengartikan ayat tersebut dengan pengertian itu.
 20 Semenjak manusia mengetahui tentang kronologi zaman kuno dan mengetahui bahwa khayalan kronologi daripada penulis-penulis teks Sakerdotal dalam Perjanjian Lama tidak dapat dipercaya, kronologi tersebut lekas-lekas dihilangkan dari Bibel. Tetapi ahli tafsir modern tentang silsilah keturunan, yang sampai sekarang masih dimuat dalam Bibel, tidak menarik perhatian pembaca Bibel yang dicetak untuk awam kepada kesaiahan-kesalahan yang terdapat dalam Bibel.
 21 Rass adalah telaga yang sudah kering, kaum Rass menyembah patung dan Tuhan mengutus Nabi Syu'aib kepada  mereka.
 22 Kita akan lihat bahwa angka ini berlebih-lebihan.
 23 Pada masa jayanya dinasti Ptolomeus, sebelum dihancurkan oleh tentara Romawi di Iskandariyah terdapat dokumen-dokumen penting tentang sejarah kuno. Dokumen-dokumen tersebut sudah hilang.
 24 Dalam sejarah suci pada permulaan abad XX seperti yang dikarang oleh pendeta H. Lesetre untuk   pelajaran-pelajaran agama, disebutkan bahwa Exodus terjadi pada waktu Mineptah memerintah Mesir.
 25 R. P.B. Couroyer, Professor di Sekolah Bibel Yerusalem,  dalam komentarnya tentang Kitab Kejadian mengatakan  bahwa nama "Israil" selalu disertai kata "aku" dan   bukan "negara" seperti nama-nama lain yang terdapatdalam dokumen.
 26 Tentunya yang dimaksudkan oleh pengarang tafsir itu  adalah riwayat Bibel.
 27 Thorax: badan-badan manusia antara leher dan diaphram,  mengandung alat pernafasan dan sirkulasi.
 28 Endoscopie: alat untuk mengetahui keadaan dalam badan   manusia.
 29 Mumia Ramses II, seorang saksi dalam sejarah Nabi Musa juga menjadi bahan penyelidikan seperti mumia Mineptah.Penyelidikan tersebut memerlukan daya upaya yang sama.
 30 Sesungguhnya, kata yang lebih tepat adalah Sunnah Nabi.   Hadits berarti riwayat, yakni orang-orang yang bernama    baik itu meriwayatkan tentang Sunnah Nabi.     (penterjemah).
 31 Dalam menguraikan pendapatnya mengenai Hadits  obat-obatan, pengarang menimbulkan kesan bahwa ia sangat   terpengaruh dengan pengobatan modern. Hal ini dapat  difahami karena ia adalah seorang dokter ahli bedah yang hidup di Paris Barangkali kalau ia mengunjungi   Indonesia ia akan keheran-heranan melihat jamu-jamu dan  pengobatan tradisional yang masih dipraktekkan orang    (penterjemah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar