4/1
Hikayat-hikayat dalam
Qur'an dan Injil
Uraian umum mengenai
kesesuaian antara ilmu pengetahuan dengan Al-Quran dan Injil.
HIKAYAT DALAM QUR-AN & BIBEL
I. TINJAUAN UMUM
Kita mendapatkan dalam Qur-an banyak soal-soal penting yangsudah dibicarakan dalam Bibel, soal-soal penting itu ialah pertama: hikayat Nabi-nabi Nuh, Ibrahim, Yusuf, Ilyas, Yunus, Ayub, Musa, Raja-raja Israil, Saul, Dawud dan Sulaiman. Kita hanya menyebutkan hikayat yangpenting-penting dan yang terdapat dalam Qur-an dan Injil, dan kita menjauhkan riwayat kutipan. Kemudian hikayat-hikayat kejadian yang besar yang mengandung campur tangan Ilahi seperti penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia. Banjir Nabi Nuh, keluaran dari Mesir yang dipimpin oleh Musa. Kemudian segala yang ada hubungannya dengan Isa dan ibunya Maryam yaitu yang tersebut dalam Perjanjian Baru.
Dapatkah persoalan-persoalan yang disebutkan oleh Quran danInjil mencetuskan pemikiran-pemikiran yang ada hubungannya dengan Sains modern yang terdapat di luar kitab suci?
PARALEL QUR-AN/INJIL DAN PENGETAHUAN MODERN
Mengenai paralel Qur-an/Injil, pertama: perlu diterangkan bahwa soal-soal dalam Injil yang menimbulkan kritik daripada segi Sains --dan yang telah dibicarakan dalam bagian kedua daripada buku ini-- tak ada suatu pun yang terdapat dalam Qur-an.
Yesus (Nabi Isa) merupakan suatu masalah yang sangat sering disebut dalam Qur-an, umpamanya berita tentang lahirnya
Maryam yang diberikan Tuhan kepada bapak Maryam, berita tentang kelahiran Isa yang ajaib yang disampaikan kepadaMaryam, watak daripada Yesus, Nabi yang ditempatkan dalam tingkat pertama, sifatnya sebagai Messia (juru selamat), wahyu yang ia sampaikan kepada manusia dan berisi penguatan serta perubahan terhadap Taurah, nasehat-nasehatnya, murid-muridnya, para Rasul, mukjizat-mukjizat, kenaikannya ke langit di samping Tuhan, peranannya dalam hari hukuman dan lain-lain.
Surat 3 dan Surat 19 (yang dinamakan surat Maryam memuat ayat-ayat panjang tentang keluarga Nabi Isa. Ayat-ayat itu menceritakan kelahiran ibunya, Maryam, masa remajanya Maryam, serta diberitahukannya tentang kelahiran Yesus yang ajaib. Yesus selalu disebut: Isa anak Maryam. Silsilah keturunannya diberikan melewati ibunya; ini adalah logis, karena Yesus tidak mempunyai bapak biologis. Di sini Qur-an berbeda dengan Injil Matius dan Injil Lukas, yang memberi silsilah keturunan melewati bapaknya; seperti yang sudah kita terangkan di lain tempat. Keterangan Injil Matius dan Injil Lukas mengenai silsilah keturunan ini juga berbeda.
Dengan silsilah keturunan melewati ibu, Yesus telah ditempatkan oleh Qur-an dalam garis Nabi Nuh, Ibrahim danbapak Maryam sendiri (dalam Qur-an, namanya Imran).
Surat 3 ayat 33 dan 34:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh,
keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi
segala umat, yaitu satu keturunan yang sebagiannya
(turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar
dan Maha Mengetahui."
Dengan begitu maka Yesus adalah keturunan Nuh dan Adam, dari segi ibunya, Maryam. Bapa Maryam adalah Imran. Kekeliruan nama-nama mengenai silsilah keturunan Yesus yang terdapat dalam Injil, kemustahilan silsilah keturunan Yesus dalam Perjanjian Lama mengenai Ibrahim, yaitu hal yang sudah kita bicarakan dalam bagian pertama dan kedua daripada buku ini tidak terdapat dalam Qur-an.
Saya menyebutkan hal-hal tersebut terdorong oleh sikap obyektif. Sikap obyektif ini penting sekali kita perhatikan untuk menghadapi dakwaan-dakwaan yang tidak mempunyai dasar yang mengatakan bahwa Muhammad itu adalah pengarang Qur-an, dan dia telah menjiplak banyak daripada Bibel. Kita bertanya: argumentasi apa yang mendorong Muhammad untuk menjiplak Injil dalam silsilah keturunan Yesus danmemasukkan dalam Qur-an koreksi-koreksi, yang menempatkan Qur-an di luar kritik Sains modern, padahal teks Injil dan teks Perjanjian Lama tak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan.
PARALEL QUR-AN/PERJANJIAN LAMA DAN PENGETAHUAN MODERN
Mengenai Perjanjian Lama, aspek-aspek tertentu mengenai paralel ini sudah kita bicarakan. Riwayat penciptaan kosmos menurut Bibel merupakan bahan penyelidikan kritik dalam bagian yang membicarakan Perjanjian Lama. Hal yang sama telah dibicarakan menurut versi Qur-an. Perbandingan antara riwayat Injil dan Qur-an sudah dilakukan sehingga kita tidak perlu mengulanginya.
Pengetahuan sejarah adalah sangat kabur dan penemuan- penemuan arkeologi sangat sedikit untuk dijadikan bahan penyelidikan menurut pengetahuan modern mengenai sejarah raja-raja Israil yang disebutkan dalam Qur-an dan Bibel.
Adapun tentang Nabi-nabi, kita mungkin dapat atau mungkin tak dapat mencocokkan problema-problemanya dengan Sains modern. Hal ini tergantung kepada keadaan; apakah kejadian-kejadian yang diriwayatkan dalam Bibel dan Qur-an itu terjadi dalam suatu sejarah yang meninggalkan bekas-bekas yang dapat kita lihat pada waktu-waktu ini atau tidak.
Ada dua hal yang menjadi pokok riwayat dalam Bibel dan Qur-an. Dua hal tersebut penting dan dapat diselidiki dengan mempergunakan ilmu pengetahuan sekarang, yaitu soal Banji r Nabi Nuh dan soal exodus atau keluarnya Bani Israil dari Mesir di bawah pimpinan Musa.
Mengenai Banjir Nabi Nuh, oleh karena sejarah peradaban tidak meninggalkan bekas-bekas yang sesuai dengan riwayat Bibel; sebaliknya Sains modern tidak menimbulkan kritik terhadap riwayat Qur-an.
Mengenai exodus, oleh karena riwayat Qur-an dan riwayat Bibel nampak saling menyempurnakan dan karena pengetahuan modern memperkuatkannya dengan peninggalan sejarah yang penting.
HIKAYAT DALAM QUR-AN & BIBEL
II. BANJIR
RIWAYAT BIBEL SERTA KRITIK-KRITIK YANG DITIMBULKANNYA
Penyelidikan tentang riwayat Banjir menurut Perjanjian Lama dalam bagian pertama daripada buku ini telah menyampaikan kita kepada pernyataan-pernyataan seperti berikut:
Dalam Bibel tidak hanya terdapat satu riwayat tentang Banjir, akan tetapi terdapat dua riwayat yang disusun dalam waktu yang berbeda:
RIWAYAT YAHWIST, DIBUAT PADA ABAD IX S.M.
Riwayat para pendeta (Sakerdotal), dibuat pada abad VI S.M. Riwayat ini dinamakan "Sakerdotal" karena dibuat oleh pendeta-pendeta pada waktu itu.
Dua riwayat tersebut tidak disusun terpisah akan tetapi bercampur; unsur-unsur riwayat yang satu dicampur dengan unsur-unsur riwayat yang lain, dalam paragraf-paragraf yang sebagian berasal dari riwayat yang satu dan sebagian berasaldari riwayat yang lain. Tafsiran Terjemahan kitab Kejadian karangan R.P. de Vaux, Guru Besar pada Sekolah Bibel di Yerusalem menunjukkan pembagian daripada paragraf-paragraf antara dua sumber tersebut secara sempurna. Riwayat Banjir ini dimulai dan diakhiri dengan paragraf Yahwist. Dalam riwayat itu ada 10 paragraf Yahwist. Di antara tiap paragraf dengan lainnya, diselipkan sebuah paragraf Sakerdotal. Jadi jumlah paragraf Sakerdotal adalah sembilan. Mosaik teks tersebut tidak menunjukkan keserasian kecuali dari segi urutan riwayat, oleh karena terdapat kontradiksi-kontradiksi besar antara dua sumber tersebut.
RP. de Vaux menulis: "itu adalah dua sejarah tentangBanjir." Banjir dalam dua riwayat itu disebabkan oleh faktor-faktor yang berlainan, dan panjangnya waktu berlangsungnya, juga berlainan. Nabi Nuh dalam dua riwayat itu juga memuatkan dalam perahu beberapa binatang yang jumlahnya juga berlainan.
Menurut pengetahuan modern, dalam keseluruhannya riwayat Banjir dalam Bibel tidak dapat diterima, karena dua sebab:
a. Perjanjian Lama melukiskan banjir itu melanda seluruh dunia.
b. Paragraf-paragraf daripada sumber-sumber Yahwist tidak menyebutkan waktu terjadinya banjir, sedangkan riwayat Sakerdotal menyebutkan suatu waktu yang menurut sejarah banjir dunia semacam itu tidak bisa terjadi.
Argumentasi yang menguatkan sikap tersebut adalah seperti berikut:
Riwayat Sakerdotal mengatakan bahwa Banjir terjadi ketika Nabi Nuh berumur 600 tahun. Kita mengetahui bahwa menuru t silsilah keturunan dalam fasal 5 dari kitab Kejadian (juga menurut sumber Sakerdotal yang sudah dibicarakan dalam bagian pertama dari buku ini). Nabi Nuh lahir 1056 tahun sesudah Nabi Adam. Dengan begitu, maka Banjir itu terjadi pada tahun 1656 sesudah Nabi Adam diciptakan. Di lain pihak, jadwal silsilah keturunan Nabi Ibrahim dalam kitab Kejadian (11, 10-32) menurut sumber yang sama memberi kesan kepada kita bahwa Ibrahim lahir 292 tahun sesudah Banjir. Kita juga mengetahui bahwa Ibrahim hidup sampai kira-kira tahun 1850 S.M. Dengan begitu maka Banjir terjadi pada abad XXI atau XXII S.M. Perhitungan ini cocok dengan pernyataan Bibel-Bibel kuno di mana kronologi nampak terjadi sebelum teks Bibel tersebut, yakni pada waktu kejadian manusia tentang Banjir menyebabkan bahwa kronologi tersebut diterima oleh para pembaca tanpa dipertimbangkan.20
Bagaimana pada waktu sekarang orang dapat menggambarkan bahwa Banjir sedunia membinasakan penghidupan di atas seluruh bumi (kecuali penumpang Perahu Nabi Nuh) pada abad XXI atau XXII S.M. Pada waktu itu di beberapa tempat di dunia telah bekembang bermacam-macam peradaban yang bekas-bekasnya kita lihat sekarang. Bagi Mesir umpamanya, waktu itu adalah zaman yang menyaksikan akhirnya Kerajaan lama dan permulaan Kerajaan Baru. Jika kita ingat sejarah waktu itu adalah sangat lucu untuk mengatakan bahwa segala peradaban telah dimusnahkan oleh Banjir.
Dengan begitu maka dan segi sejarah, kita dapat mengatakan bahwa riwayat Banjir dalam Bibel bertentangan sekali denga n pengetahuan modern. Terdapatnya dua riwayat adalah bukti-bukti yang nyata tentang manipulasi manusia terhadap Bibel.
RIWAYAT QUR-AN TENTANG BANJIR
Qur-an menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak menimbulkan kritik dari segi sejarah.
Qur-an tidak memberikan riwayat Banjir yang kontinyu. Beberapa ayat membicarakan hukuman yang diberikan kepada umatnya Nabi Nuh- Riwayat yang paling lengkap adalah surat 11 ayat 25 s/d 49. Surat 71 yang dinamakan surat Nuh menceritakan Nuh memberi nasehat kepada umatnya, begitu juga surat 26 ayat 105 s/d 112. Tetapi sebelum menyelidiki kejadian itu, kita perlu menempatkan Banjir yang diriwayatkan oleh Qur-an dalam hubungannya dengan hukuman-hukuman Tuhan yang dikenakan kepada kelompok-kelompok yang salah karena menyalahi perintahNya.
Jika Bibel menceritakan Banjir Dunia untuk menghukum seluruh kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya Qur-an menceritakan bermacam-macam hukuman yang dikenakan kepada kelompok-kelompok tertentu.
Surat 25 ayat 35 s/d 39 memberi contoh ...
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai pembantu. Kemudian kami berfirman kepada keduanya: "Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat kami." Lalu Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul.Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan ceritera) mereka itu pelajaran bagi munusia dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih. Dan (begitu pula Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass21 dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut."
Surat 7 ayat 59 s/d 93 mengingatkan kepada hukum-hukum Tuhan yang menimpa kaum Nuh. 'Ad, Tsamud, Lut dan Madyan secara terpisah.
Dengan begitu maka Qur-an menggambarkan Banjir sebagai suatu hukuman yang khusus untuk kaumnya Nulz. Ini merupakan perbedaan pertama yang pokok antara kedua riwayat.
Perbedaan pokok kedua adalah bahwa Qur-an tidak menempatkan Banjir dalam suatu waktu dan tidak menerangkan berapa lama Banjir itu berlangsung.
Sebab-sebab Banjir adalah hampir sama dalam Bibel dan Qur-an. Riwayat Sakerdotal (Kejadian 7, 11) menyebutkan dua hal: sumber-sumber, memancarkan air banyak sekali, dan langit-langit mencurahkan lautan-lautan Qur-an menyebutkan dalam surat 54 ayat 11 dan 12 sebagai berikut:
[Tulisan Arab]
Artinya: "Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air maka bertemulah air itu untuk satu urusan yang sungguh telah d itetapkan."
Qur-an sangat jelas dalam menyebutkan isi perahu; Tuhan memberi perintah kepada Nuh dan perintah itu dilaksanakan dengan tepat dengan menempatkan dalam perahu beberapa macam binatang yang akan langsung hidup.
Surat 11 ayat 40:
Artinya: "Hingga bila perintah Kami datang dan dapur (permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman: Muatkanlah kedalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan Kami terhadapnya dan(muatkanlah) pula orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit."
Seorang anak Nuh yang mendapat laknat Tuhan telah dikecualikan. Dalam hal ini ayat 45 s/d 46 dari surat tersebut menceritakan bahwa permohonan Nuh kepada Allah tidak dapat merubah keputusan Tuhan. Qur-an menyebutkan bahwa di atas perahu, disamping keluarga Nuh minus anaknya, terdapat pula beberapa penumpang yang percaya kepada Tuhan.
Bibel tidak menyebutkan orang-orang itu di antara para penumpang-penumpang perahu.
Menurut riwayat Sakerdotal: Nuh, keluarganya sendiri dengan tak ada kecualian, dan sepasang dari tiap-tiap jenis binatang.
Riwayat Yahwist membedakan antara binatang-binatang suci da n burung di satu pihak dan di lain pihak binatang-binatang yang tidak suci. (Daripada binataing suci, perahu itu memuat
7 dari tiap jenis, jantan dan betina, dan dan yang tidak suci hanya satu pasang).
Menurut ayat Yahwist yang sudah dirubah (Keluaran 7, 8), sepasang dari tiap-tiap jenis, baik yang suci maupun yang tidak suci.
Riwayat banjir itu sendiri dimuat dalam Qur-an surat 11 ayat 25 s/d 49, dan surat 23 ayat 23 s/d 30. Riwayat Bibel tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.
Tempat perahu itu berhenti, menurut Bibel adalah di gunung Ararat (Kejadian 8, 4), dan menurut Qur-an tempat itu adalah Joudi (surat 11 ayat 44). Gunung Joudi ini adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia; tetapi tak dapat dijamin bahwa tak ada perubahan-perubahan nama untuk menyesuaikan antara kedua riwayat. R. Blachere berpendapat seperti itu. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia, jadi persamaan nama mungkin buat-buatan.
Secara definitif, terdapat perbedaan antara riwayat Quran dan riwayat Bibel. Perbedaan-perbedaan itu ada yang tak dapat diselidiki secara ilmiah karena tak ada data-data positif.
Tetapi jika kita harus menyelidiki riwayat Bibel dengan perantaraan data-data yang jelas, kita dapat menyatakan bahwa dalam meriwayatkan Banjir dalam waktu dan tempat riwayat Bibel sudah terang tidak sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan pengetahuan modern. Sebaliknya, riwayat Qur-an bersih dari segala unsur yang menimbulkan kritik objektif.
Antara waktu riwayat Bibel dengan waktu riwayat Qur-an apakah manusia sudah memperoleh informasi yang memberi penerangan tentang kejadian Banjir itu? Jawaban atas pertanyaan itu adalah "Tidak," karena antara waktu Perjanjian Lama dan Qur-an, satu-satunya dokumentasi yang dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel. Jika faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu yang ditulis dalam Bibel.
Exodus Musa
HIKAYAT DALAM QUR-AN & BIBEL
III. EXODUS MUSA
Dengan keluarnya Musa dan pengikut-pengikutnya dari Mesir sebagai satu tahap untuk menetap di Kan'an, kita memasuki suatu kejadian yang sangat penting, kejadian sejarah tertentu dalam konteks tertentu, walaupun kita jumpai banyak riwayat disana-sini yang ingin menggambarkannya sebagai suatu legenda.
Dalam Perjanjian Lama, kitab Keluaran dengan riwayat perjalanan di Sahara setelah keluar dari Mesir dan riwayat perjanjian dengan Tuhan yang diadakan di gunung Sinai, semua itu merupakan kitab kedua daripada Pentateuque (Taurat). Qur-an juga memberikan tempat yang sangat besar bagi sejarah Keluaran ini. Hikayat tentang hubungan antara Musa dan saudaranya Harun dengan Fir'aun serta hikayat keluarnya dari Mesir, terdapat dalam Qur-an dalam 10 surat dengan hikayat yang panjang seperti Surat 7, 10, 20 dan 26 atau dalam hikayat-hikayat yang lebih ringkas bahkan terdapat juga dalam peringatan-peringatan yang sederhana nama Fir'aun, pribadi pokok daripada pihak Mesir, terulang 74 kali dalam Qur-an dalam 27 surat.
Penyelidikan mengenai dua riwayat, riwayat Injil dan riwayat Qur-an merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena dua riwayat itu pada dasarnya saling melengkapi, dan tidak mengandung pertentangan seperti dalam riwayat Banjir. Memang ada perbedaan, akan tetapi riwayat Bibel mempunyai arti sejarah yang sangat besar, sebagai nanti kita akan mengetahuinya, oleh karena riwayat itu mengarah untuk menetapkan identifikasi Fir'aun atau lebih tepat lagi dua Fir'aun yang tersangkut, dan dengan hipotesa Bibel sebagai titik tolak. Qur-an membawakan informasi tambahan kepada dua sumber kitab suci, dan ditambahkan pula hasil penyelidikan modern kepada Egyptologi. Dengan bahan modern Egyptologi, Bibel dengan ilmu pengetahuan modern mengadakan konfrontasi dengan Qur-an dan berhasil menempatkan hikayat Kitab Suci dalam konteks sejarah.
EXODUS MENURUT BIBEL
Riwayat Bibel bermula dengan menyebutkan masuknya orang Yahudi ke Mesir bersama Ya'kub untuk mengikuti Yusuf. Kemudian datang seorang Raja baru yang tidak mengenal Yusuf,(Keluaran 1, 8). Ini adalah periode penindasan: pada waktu itu Fir'aun memaksa orang-orang Yahudi untuk mendirikan kota-kota yang dinamakan oleh Bibel kota Pitom dan kota Ramses. Untuk mencegah tambahan penduduk Yahudi, Fir'aun memerintahkan semua bayi Yahudi laki-laki dibuang ke sungai: Musa dapat dipelihara ibunya selama tiga bulan sesudah lahirnya, tetapi akhirnya si ibu memutuskan untuk memasukkannya dalam suatu keranjang di pinggir sungai Nil.
Anak perempuan Fir'aun menemukannya dan mencarikannya seorang pengasuh yang tidak lain adalah ibunya sendiri, oleh karena saudara perempuan Musa yang mencari jejak, siapa yang mengambil bayi, pura-pura tidak mengenalnya dan ia menasehatkan kepada Sang Puteri itu seorang pengasuh yang tidak lain adalah ibu bayi itu sendiri. Bayi itu diperlakukan sebagai anak Fir'aun dan diberi nama Musa.
Musa sebagai orang muda berangkat ke Madyan; di sana ia kawin dan tinggal lama. Suatu perincian yang penting adalah bahwa dalam kitab Keluaran (2, 23) kita dapatkan kata-kata:
"Selama waktu yang lama itu raja Mesir meninggal."
Tuhan memerintahkan Musa untuk menemui Fir'aun dan mengeluarkan saudara-saudaranya dari Mesir (Riwayat semacam ini terdapat dalam riwayat Pohon Yang Terbakar).
Harun, saudaranya Musa membantunya dalam tugas ini. Setelah kembali ke Mesir, Musa dan saudaranya menghadap Fir'aun,yaitu Fir'aun baru yang menggantikan Fir'aun lama yang memerintah ketika Musa dilahirkan dahulu.
Fir'aun melarang bangsa Yahudi pengikut Musa untuk meninggalkan Mesir. Tuhan menampakkan diri lagi kepada Musa dan memerintahkannya untuk mengulangi permintaannya. Pada waktu itu menurut Bibel, Musa berumur 80 tahun. Musa menunjukkan kepada Fir'aun bahwa ia memiliki kepandaian adikodrati. Hal tersebut rupanya tidak cukup meyakinkan Fir'aun. Kemudian Tuhan mengirim siksaan-siksaan: air sungai berubah menjadi darah, timbulnya katak-katak, nyamuk, lalat, wabah yang menyerang binatang, timbulnya penyakit di kulit manusia dan binatang, hujan butiran es, belalang, kegelapan,dan kematian bagi bayi-bayi pertama yang dilahirkan. Tetapi semua itu tidak dapat menaklukkan Fir'aun untuk membiarkan orang-orang Yahudi keluar dan Mesir.
Kemudian 600.000 manusia,22 belum terhitung keluarga mereka dapat melarikan diri dan kota Ramses. Pada waktu itulah Fir'aun mengendarai keretanya dan memimpin tentaranya. Iamengambil 6 ratus kereta yang terbaik dari segala kereta di Mesir. Tiap kereta dikendarai oleh dua orang opsir. Raja Mesir memimpin pengejaran terhadap orang-orang Yahudi. (Keluaran 14, 6 dan 8).
Orang-orang Mesir dapat menyusul kelompok Musa di pinggir sungai. Musa memukulkan tongkatnya dan lautan itu terbuka,serta pengikut-pengikutnya memasukinya dengan selamat. Orang-orang Mesir mengejar terus, dan semua kuda Fir'aun, kereta-keretanya dan tentaranya yang berkuda semuanya ikutmemasuki lautan (Keluaran 14, 23). Air pulih kembali dan menelan kereta-kereta dan penunggang kuda daripada tentaraFir'aun yang memasuki lautan di belakang mereka. Tak ada seorangpun yang selamat. (Keluaran 14, 38).
Teks kitab Keluaran adalah sangat jelas. Fir'aun memimpin para pengejar. Ia binasa karena kitab keluaran menyebutkan "tak ada seorangpun yang selamat." Di samping itu Bibelmenyebutkan perincian dari: Mazmur Daud; nyanyian 106 ayat 13 sampai 15 yang merupakan karunia kepada orang yang membagi dua lautan yang penuh tumbuh-tumbuhan." Tak ada kesangsian lagi bahwa menurut riwayat Bibel, Fir'aun yang mengejar Musa telah binasa dalam laut. Bibel tidak menyebutkan sesuatu tentang bagaimana nasib jenazahnya Fir'aun.
EXODUS MENURUT QUR-AN
Pada garis besarnya, riwayat Qur-an tentang keluarnya orang Yahudi dari Mesir adalah sama dengan riwayat Bibel. Kita perlu menyusun riwayat itu, karena ayat-ayat tentang hal ini
terpencar dalam beberapa bagian dalam Qur-an.
Seperti juga dalam Bibel, Qur-an tidak menyebutkan nama yang dapat menunjukkan identitas Fir'aun yang berkuasa pada waktu Exodus terjadi. Kita hanya tahu bahwa ada seorang anggauta Majlis Pemerintahan Fir'aun, seorang yang bernama "Haman," nama "Haman" disebut dalam Qur-an 6 kali, yaitu dalam surat 28 ayat 6, 8 dan 38, surat 29 ayat 39 dan surat 40 ayat 24 dan 36. Fir'aun adalah penindas bangsa Yahudi.
Surat 14 ayat 6 .
Artinya: "Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya: Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu, dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu."
Pemandangan itu juga disebut secara yang sama dalam surat 7 ayat 114. Akan tetapi Qur-an tidak menerangkan nama kota-kota yang didirikan oleh bangsa Yahudi yang diperbudak
seperti yang diterangkan oleh Bibel.
Hikayat Musa diletakkan di pinggir sungai disebutkan dalam surat 20 ayat 39 dan 40, dan dalam surat 28 ayat 7 s/d 13.Dalam riwayat Qur-an, NIusa diambil oleh keluarga Fir'aun.
Ayat 8 dan 9 surat 28.
[Tulisan Arab]
Artinya: "Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang
akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi
mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta
tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan
berkatalah isteri Fir'aun: Ia biji mata bagiku dan
bagimu janganlah kamu membunuhnya mudah-mudahan ia
bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia jadi
anak sedang mereka tidak menyadari."
Tradisi Islam mengatakan bahwa isteri Fir'aun yangmemelihara Musa adalah Asya. Dalam Qur-an yang mengambil Musa dari sungai itu bukan isteri Fir'aun, hanya Aal (kerabat), yakni orang-orang yang tinggal dalam istana.
Masa remaja Musa, menetapnya di negeri Madyan danperkawinannya disebutkan dalam surat 28 ayat 13 s/d 28.
Hikayat tumbuh-tumbuhan yang terbakar terdapat dalam permulaan surat 20, dan dalam surat 28 ayat 30 s/d 35. Qur-an, tidak menyebutkan sepuluh penderitaan di Mesir sebagai hukuman Tuhan seperti yang disebutkan oleh Bibel dengan panjang. Tetapi Qur-an menyebutkan secara jelas 5 penderitaan (surat 2 ayat 133) Yaitu: banjir, belalang,kutu-kutu, katak dan darah, Larinya mereka dari Mesir diriwayatkan oleh Qur-an dengantidak ditentukan tempatnya secara pasti dan tidak disebutkan jumlahnya. Bibel menyebutkan bahwa jumlah mereka adalah600.000 dari kalangan mereka. Jumlah tersebut terasa tidakdapat dipercaya; kita tidak dapat menggambarkan jumlah manusia yang besar itu dapat berdiam lama di Sahara.
Matinya Fir'aun setelah mengejar orang-orang Yahudi juga disebutkan dalam surat 20 ayat 78.
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa.Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israil) di malam hari maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akantersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam), maka Fir'aun dengan balatentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yangmenenggelamkan mereka. Dan Firaun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk."
Memang orang Yahudi melarikan diri. Dan Fir'aun binasa, akan tetapi jenazahnya ditemukan. Hal yang penting ini tidak disebutkan oleh Bibel.
Surat 10 ayat 90 s/d 92.
[Tulisan Arab]
Artinya: "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya karena hendak menganiaya dan menindas mereka, hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil. Dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Apakah sekarang baru kamu percaya, padahal sesungguhnya kamu telah durhaka dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya Kami dapat menjadikan pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudah kamu, dansesungguhnya kebanyakan dari manusia lengahdaripada tanda-tanda kekuasaan Kami."
Paragraf tersebut menyebutkan dua kepastian:
a) Jiwa berontak dan permusuhan dapat dimengerti dalam hubungannya dengan usaha Musa untuk meyakinkan Fir'aun .
b) Penyelamatan Tuhan kepada Fir'aun hanya mengenai badannya, karena dalam surat 11 ayat 98 disebutkan bahwa Fir'aun dan kaumnya adalah orang-orang yang dihukum karena sesat.
[Tulisan Arab]
Artinya: "Ia berjalan di muka kaumnya di hari Kiamat dan memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi."
Dengan begitu maka fakta-fakta yang dapat dikonfrontasikan dengan penyelidikan sejarah, geografi atau arkeologi riwayat Qur-an berbeda dengan riwayat Bibel dalam hal-hal sebagai berikut:
Dalam Qur-an tidak disebutkan nama-nama tempat, baik kedua kota yang dibangun oleh Kaum Yahudi pengikut Musa atau mengenai peta jalannya Exodus.
Dalam Qur-an tidak disebutkan matinya Fir'aun ketika Musa menetap di Madyan.
Dalam Qur-an, jumlah pengikut Musa tidak disebutkan. Jumlah tersebut terlalu dibesar-besarkan dalam Bibel, karena disebutkan 600.000 orang dengan keluarga mereka. Angka tersebut berarti lebih dari 2 juta manusia.
Dalam Bibel tidak disebutkan bahwa badan Fir'aun diketemukan setelah ia mati.
Hal-hal yang sama dalam riwayat Bibel dan Qur-an yang perlu digaris bawahi adalah:
Qur-an membenarkan terjadinya penindasan Fir'aun terhadap orang-orang Yahudi pengikut Musa.
Riwayat Qur-an dan Bibel tidak menyebutkan nama Raja Mesir.
Qur-an membenarkan bahwa Fir'aun meninggal pada waktukeluarnya orang Yahudi dari Mesir.
Konfrontasi riwayat kitab suci dengan pengetahuan modern:
KONFRONTASI RIWAYAT KITAB SUCIDENGAN PENGETAHUAN MODERN
Riwayat Qur-an dan Bibel mengenai menetapnya Bani Israil di Mesir dan keluarnya mereka itu dari negeri tersebut merupakan aspek-aspek yang dapat dijadikan bahan konfrontasi dengan pengetahuan baru, walaupun dengan proporsi yang tidak sama, karena ada aspek-aspek yang menimbulkan bermacam-macam problema, dan ada aspek-aspek yang tidak menimbulkan diskusi.
1. PENYELIDIKAN TENTANG PERINCI RIWAYAT-RIWAYAT ORANG YAHUDI DI MESIR
Dengan tidak mengandung resiko kesalahan, dan sesuai dengan yang tersebut dalam Bibel (Kejadian 15, 13 dan Keluaran 12, 40) kita dapat mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menetap di Mesir selama 400 atau 430 tahun. Perbedaan antara Kejadian dan Keluaran tidak begitu penting karena hanya mengenai waktu 30 tahun; menetapnya kaum Yahudi di Mesir dimulai dengan kedatangan Yusuf anak Ya'kub dan saudara-saudara Yusuf ke negeri itu, lama sesudah zaman Ibrahim. Di samping Bibel yang memuat riwayat yang saya sebutkan di atas, dan Qur-an, yang menyebutkan menetapnya Israil di Mesir dengan tidak memberi keterangan kronologi, kita manusia tidak mempunyai dokumen lain yang dapat memberi keterangan tentang hal ini.
Pada waktu ini, mulai dari P. Montet sampai Daniel-Rops, orang berpendapat bahwa kedatangan Yusuf dan keluarganya terjadi pada waktu yang sama dengan gerakan Hyksos berhijrah ke Mesir pada abad XVII S.M. Waktu itu, di Avaris ada seorang raja Hyksos yang menyambut kedatangan Yusuf dan saudara-saudaranya dengan baik.
Perkiraan tersebut bertentangan dengan Bibel Kitab Raja-raja yang pertama (6, 1) yang mengatakan bahwa keluarnya Bani Israil dari Mesir terjadi 480 tahun sebelum pembangunan Candi Sulaiman (± th. 971 S.M.). Jadi menurut perkiraan ini, exodus terjadi pada tahun 1450 S.M., dan masuknya Bani Israil ke Mesir terjadi kira-kira pada tahun 1850-1880. Akan tetapi orang sekarang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hid up di sekitar waktu itu, dan antara Ibrahim dan Yusuf terdapat perbedaan waktu 250 tahun, menurut riwayat Injil. Maka paragraf daripada Kitab Raja-raja pertama dalam Injil secara kronologi tidak dapat diterima. Kita akan melihat bahwa teori yang kita pertahankan di sini tidak hanya bertentangan dengan teks yang tersebut dalam Kitab Raja-raja pertama, akan tetapi kekeliruan kronologi dalam teks Kitab Raja-raja pertama tersebut menghilangkan nilai teks tersebut sendiri.
Di luar hal-hal yang tersebut dalam Bibel, bekas-bekas yang ditinggalkan oleh orang Yahudi di Mesir sangat kabur. Tetapi terdapat Dokumen hieroglyphik (bahasa Mesir Kuno) yang mengatakan bahwa di Mesir terdapat satu kelompok pekerja yang disebut Aperu atau Haperu atau Habiru yang banyak orang mengidentifikasikan dengan orang Ibrani, secara benar atau salah. Yang dimaksudkan dengan kelompok tersebut adalah pekerja-pekerja pembangunan, pekerja-pekerja pertanian, pembuat anggur dan lain-lain. Dari mana mereka itu datang? Sangat sulit untuk dijawab. Sebagaimana ditulis oleh R.P. de Vaux, mereka itu bukan penduduk asli, mereka tidak mempersatukan diri mereka dalam suatu kelompok masyarakat dan mereka tidak mempunyai pekerjaan atau kedudukan yang sama di antara mereka.
Di bawah pemerintahan Raja Tutmes III suatu dokumen papirus mengatakan bahwa mereka itu adalah pekerja untuk pemeliharaan kuda. Kita mengetahui bahwa Amenophis II pada abad XV S.M. telah mendatangkan mereka sebagai orang-orang hukuman dari Kan'an, karena mereka itu menurut R. P.de Vaux merupakan bagian penting daripada penduduk Syria Palestina.
Pada kira-kira tahun 1300 S.M., di bawah pemerintahan Sethi Pertama, orang-orang Aperu tersebut menimbulkan kekacauan di Kan'an, di daerah Beth-Shean. Di bawah Ramses II, mereka itu dipekerjakan sebagai pengangkut barang-barang atau tiang-tiang untuk pekerjaan pembangunan (seperti pylon atau bangunan monumen Ramses Miamon). Kita tahu pula dari Bibel bahwa orang-orang Yahudi pada zaman pemerintahan Ramses membangun ibu kota utara, kota Ramses. Dalam buku-buku Mesir Kuno, terdapat pernyataan tentang Aperu pada abad XII, dan untuk yang terakhir pada zaman Ramses III .
Tetapi Aperu hanya disebutkan di Mesir; apakah istilah itu dapat dipakai khusus untuk menunjukkan orang Yahudi? Barangkali perlu kita ingat bahwa perkataan itu dapat berarti pekerja paksa, dengan tidak menunjukkan dari mana asalnya; jadi kata tersebut menunjukkan pekerjaan kelompok. Apakah kita tidak dapat membandingkan hal tersebut dengan kata: "Suisse" dalam bahasa Perancis yang berarti penduduk Switzerland, atau serdadu Swiss dalam kerajaan Perancis,atau pengawal Vatikan atau pegawai Gereja Kristen?
Bagaimanayun juga di bawah pemerintah Ramses II, orang-orang Yahudi (menurut Bibel) atau Aperu (menurut teks hieroglyphik) mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan besar yang diperintahkan oleh Fir'aun dan yang dapat kita namakan, kerja paksa. Kita tidak syak lagi bahwa Ramses II, adalah penindas orang-orang Yahudi. Kota-kota Ramses dan Pitom yang disebutkan dalam kitab Keluaran, dibangun pada bagian Timur Delta Nil. Desa Tanis dan Qantir sekarang, terpisah oleh jarak 25 kilometer antara satu dan lainnya, tepat pada tempat dua kilometer tersebut, yaitu Ibukota yang didirikan oleh Ramses II. Dan Ramses II ini adalah Fir'aun yang menindas Bani Israil.
Dalam konteks inilah Musa dilahirkan. Kita telah melihat dalam paragraf-paragraf sebelum ini kisah bagaimana ia diselamatkan danpada air sungai Nil. Nama Musa adalah nama Mesir. Dalam karangannya yang berjudul: Mesir dan Bibel, P. Montet telah menunjukkan hal ini. Mesw atau Mesy terdapat dalam daftar kamus yang memuat nama-nama orang-orang dalam bahasa Mesir yang ditemukan oleh Ranke. Musa adalah nama tersebut ditulis dengan huruf Arab dalam Qur-an.
PENDERITAAN MESIR
Di bawah nama penderitaan-penderitaan, Bibel menyebutkan sepuluh hukuman yang ditimpakan oleh Tuhan dan memberikan perincian-perincian pada tiap-tiap penderitaan tersebut. Banyak daripada penderitaan-penderitaan itu yang mempunyai aspek adikodrati. Qur-an hanya menyebutkan lima, yang sebenarnya hanya fenomena alamiah yang dibesar-besarkan, yaitu banjir, belalang, penyakit kulit, katak dan darah.
Merajalelanya belalang dan katak disebutkan dalam Injil. Injil menyebutkan bahwa air sungai Nil dirubah menjadi darah yang membanjiri negeri; Qur-an menyebutkan darah, tetapi tanpa perinci-perinci, jadi kita dapat membentuk hipotesa apa saja mengenai darah tersebut. Penderitaan-penderitaan lainnya, yaitu nyamuk, serangga, tumor kulit, butiran es, kegelapan dan matinya bayi yang dilahirkan pertama serta matinya binatang-binatang, yang disebutkan oleh Bibel, berasal dari sumber-sumber yang bermacam-macam, seperti riwayat banjir yang dibentuk dengan campuran (selingan) dari dua sumber.
JALAN YANG DITEMPUH OLEH EXODUS
Qur-an tidak menyebutkan sesuatu jalan, tetapi Bibel menunjukkan satu jalan dengan pasti. R.P. de Vaux dan P. Montet, masing-masing telah mempelajari jalan itu. Permulaan Exodus ada di Tanis-Qantir, tetapi untuk seterusnya, tak terdapat bekas-bekas yang akan menguatkan riwayat Bibel, sehingga orang tak dapat mengatakan di mana tempat lautan itu membelah dengan memungkinkan lewatnya kelompok Masa.
MUKJIZAT LAUTAN
Orang menggambarkan adanya air surut yang disebabkan oleh faktor astronomik, atau faktor sesmik (gempa) yang disebabkan oleh letusan gunung yang jauh. Mungkin orang-orang Yahudi mengambil kesempatan surutnya air laut, sedangkan orang-orang Mesir yang mengejar mereka telah dibinasakan oleh pulihnya keadaan air. Tetapi semua ini hanya hipotesa belaka.
2. PENEMPATAN EXODUS DALAM KRONOLOGI FIR'AUN
Untuk menentukan waktu terjadinya Exodus kita dapat sampai kepada hal-hal yang positif. Dari semenjak waktu yang sudah lama, orang mengatakan bahwa Meneptah pengganti Ramses II adalah Fir'aun Exodusnya Musa. Maspero seorang Perancis ahli ilmu sejarah Mesir pada permulaan abad XX, menulis pada tahun 1900 dalam karangannya: Petunjuk bagi pengunjung musium Cairo, bahwa "Meneptah, menurut dokumen-dokumen dari Iskandariyah adalah Fir'aunnya Exodus, yakni Fir'aun yang binasa di lautan merah." Saya tidak dapat melihat dokumen yang oleh Maspero dijadikan dasar bagi pernyataannya, akan tetapi reputasi Maspero yang sangat serius mendorong kita untuk memberi nilai kepada apa yang dikatakan olehnya.
Selain P. Montet, sangat jarang ahli sejarah Mesir atau spesialis penafsiran Bibel yang menyelidiki argumen-argumen yang menyokong atau menyanggah hipotesa tersebut. Sebaliknya dalam beberapa puluh tahun yang terakhir telah muncul hipotesa-hipotesa yang berlain-lainan yang nampaknya telah dilontarkan untuk menunjukkan persesuaian dengan suatu perinci dalam riwayat Bibel, tetapi pencetus hipotesa itu tidak melihat aspek-aspek lain daripada riwayat-riwayat Bibel. Itulah sebabnya kita mendapatkan hipotesa-hipotesa yang kelihatannya sesuai dengan suatu aspek daripada riwayat Bibel, akan tetapi pencetus hipotesa tersebut tidak mau menghadapkan hipotesanya dengan hal-hal lain yang tersebut dalam kitab suci (bukan saja dengan Bibel) dan juga, pada waktu yang sama dengan hasil-hasil penyelidikan sejarah, arkeologi dan lain-lain.
Di antara hipotesa-hipotesa baru yang sangat ajaib adalah hipotesanya S. de Miceli ( 1960) yang mengakui telah dapat menentukan waktu Exodus, yakni pada tanggal 9 April 1495 S.M., dari hal tersebut disandarkan semata-mata kepada perhitungan kalender. Jika kita mengikuti pengarang ini, maka Fir'aunnya Exodus adalah Tutmes II yang memerintah Mesir pada waktu itu. Oleh karena dikatakan bahwa pada mumia Tutmes II terdapat bekas-bekas penyakit kulit yang dinamakan penyakit lepra oleh pengarang tersebut dengan tak ada penjelasan lebih lanjut, dan oleh karena salah satu penderitaan vang menimpa Mesir vang disebutkan oleh Bibel adalah penyakit kulit, maka dengan begitu, hipotesa S. De Miceli tersebut telah dibuktikan kebenarannya.
Rekonstruksi yang aneh tersebut tidak mengindahkan fakta-fakta lain dalam riwayat Bibel, khususnya mengenai disebutkannya kota Ramses. Dengan disebutkan kota Ramses dalam Bibel maka tiap-tiap hipotesa tentang waktunya Exodus yang digambarkan sebagai terjadi sebelum Ramses memerintah adalah sangat lemah.
Mengenai bekas-bekas penyakit kulit yang terdapat pada mumia Tutmes II, hal tersebut tak cukup untuk membuktikan bahwa Tutmes II adalah Fir'aunnya Exodus, oleh karena anaknya, yakni Tutmes III dan cucunya, yakni Amenophis II semuanya menunjukkan bekas-bekas penyakit kulit; beberapa pengarang melontarkan hipotesa bahwa penyakit semacam itu adalah penyakit keluarga saja. Dengan begitu maka hipotesa bahwa Tutmes II adalah Fir'aun Exodus tak dapat dipertahankan.
Hal yang serupa dicetuskan oleh Daniel Raps dalam bukunya: Le Peuple de la Bibel ('Bangsa yang dibicarakan' dalam Bibel). Ia mengatakan bahwa Amenophis II adalah Fir'aunnya Exodus. Hipotesa itu tidak lebih kuat daripada hipotesa yang pertama. Dengan alasan bahwa, bapaknya, Tutmes III terlalu nasionalis, Daniel Raps mengatakan bahwa Amenophis II adalah penindas orang-orang Yahudi, dan ibu tirinya, yang bernama ratu Hatshep-sout (dengan tidak ada keterangan sesuatupun) adalah wanita yang mengambil Musa dari sungai.
R.P. de
Vaux mendasarkan hipotesanya dalam bukunya Sejarah Kuno bangsa Yahudi,
bahwa Ramses II adalah Fir'aunnya Exodus atas
dasar yang lebih
kokoh. Hipotesa tersebut walaupun
tidak sesuai sepenuhnya
dengan riwayat Bibel,
namun mempunyai sesuatu
keunggulan yaitu, telah menunjukkan fakta yang penting, yakni bahwa
Ramses II telah
memerintahkan mendirikan
kota-kota Ramses dan Pitom, yaitu kota-kota yang tersehut dalam Bibel.
Orang tidak akan menggambarkan bahwa Exodus
itu dapat terjadi
sebelum Ramses II menjadi Raja, yaitu menurut kronologõ Driaton dan
Vandier pada tahun 1301 S.M. dan
menurut Rowton pada tahun 1290
S.M. Dua hipotesa yang tersebut di atas tak dapat diterima karena pertimbangan bahwa Ramses
II adalah Fir'aunnya
penindasan yang dibicarakan oleh
BibeL
R. P.
de Vaux berpendapat
bahwa Exodus terjadi
pada pertengahan pertama atau
di tengah-tengah pemerintahan Ramses II. Datum yang
diberikan oleh R.P.
de Vaux tidak tepat
sama sekali. Ia mengusulkan waktu tersebut agar dapat memberi waktu
kepada pengikut-pengikut Musa untuk menetap di Kan'an dan
kepada penggantl Ramses
II, Fir'aun Mineptah untuk membereskan soal perbatasan ketika
bapaknya meninggal dan untuk
mengkoreksi Bani Israil, sebagai yang tertulis dalam suatu
monumen tahun V daripada pemerintahannya.
a. Bibel menerangkan dalam kitab Keluaran (2,
23) bahwa raja Mesir meninggal ketika Musa menetap di negeri Madyan. Raja Mesir ini digambarkan dalam kitab Keluaran
sebagai raja yang memerintahkan orang-orang Yahudi mendirikan kota Ramses dan Pitom dengan kerja paksa. Raja itu ialah
Ramses II. Dengan begitu maka Exodus
hanya dapat terjadi pada zaman penggantinya. Tetapi R.P. de Vaux rupanva
lupa sumber dalam Bibel, yakni kitab
Kejadian fasal 2 ayat 23.
b. Yang lebih mengherankan lagi, ialah bahwa
R.P. de Vaux yang direktur Sekolah
Bibel di Yerusalem itu tidak menyebutkan dua paragraf yang sangat penting
dalam Bibel ketika membicarakan teorinya tentang Exodus. Dua paragraf tersebut mengatakan bahwa Fir'aun mati dalam
mengejar pelarian-pelarian. Hal ini
menjadikan waktu Exodus tidak lain
kecuali pada akhir pemerintahannya.
Perlu
diulangi di sini bahwa sesungguhnya tidak
disangsikan lagi bahwa Fir'aun
mati dalam mengejar Bani Israil. Kitab Keluaran fasal 13 dan 14 dengan
jelas menyebutkan hal ini.
Fir'aun mempersiapkan
keretanya dan memimpin tentaranya
( 14, 6). Raja Mesir mengejar
orang-orang Israil memimpin tentaranya (14, 8). Air laut pasang lagi dan
menenggelamkan kereta-kereta dan penunggang kuda daripada tentara
Fir'aun yang telah masuk di laut di belakang orang-orang Yahudi. Tak ada
seorang pun yang tinggal (14, 28). Pujian
136 daripada Dawud menguatkan
kematian Fir'aun, memohon kepada
Yahweh, yang menenggelamkan Fir'aun,
dan tentaranya dalam
lautan yang penuh tumbuh-tumbuhan (136, 15).
Dengan begitu, ketika Musa masih hidup, ada seorang
Fir'aun yang mati ketika Musa menetap
di Madyan, dan
ada lagi seorang Fir'aun
yang mati dalam peristiwa Exodus. Jadi tak ada Fir'aunnya Musa, tetapi
ada dua Fir'aun, yaitu Fir'aun yang
menindas orang Yahudi dan
Fir'aunnya Exodus. Hipotesa R.P. de Vaux yang mengatakan bahwa Ramses II
adalah Fir'aun Exodus tidak memuaskan karena tidak memberi
penjelasan yang menyeluruh. Pemikiran-pemikiran di bawah ini
akan membawa argumen-argumen
tambahan yang menolaknya.
3. RAMSES II FIR'AUN PENINDASAN, MINEPTAH FIR'AUN
EXODUS
P. Montet
mengambil dan tradisi asli
dari Iskandariyah23 yang
disebutkan oleh Maspero dan yang ditemukan lagi lama sesudah
itu dalam tradisi Islam dan dalam tradisi
Kristen Kuno.24
Teori
tersebut ditulis dalam buku "Mesir dan Bibel" karangan Delachaux dan Niestle, serta
diperkuatkan dengan dokumen-dokumen tambahan, khususnya yang berhubungan dengan riwayat Qur-an
yang tidak pernah
disinggung oleh ahli arkeologi besar
itu. Sebelum mempelajari
teori tersebut marilah kita kembali kepada Bibel.
Kitab
Kejadian memuat nama Ramses, walaupun
nama Fir'aun tidak disebutkan.
Dalam Bibel, Ramses adalah nama salah satu dari dua kota
yang dibangun dengan
tenaga kerja paksa orang-orang Yahudi. Sekarang kita mengetahui bahwa dua
kota tersebut berada di daerah
Tanis Qantir, di
bagian timur daripada Delta
Nil. Di sana,
Ramses menyuruh membangun ibukotanya.
Sebelum Ramses II
di tempat itu
sudah ada bangunan-bangunan, tetapi
Ramses II lah
yang menjadikan tempat itu penting. Dokumen-dokumen yang
ditemukan pada puluhan tahun
yang akhir ini
memberikan satu bukti yang jelas. Untuk pembangunan itu Ramses
memakai tenaga orang Yahudi yang dipaksa kerja.
Membaca nama
Ramses dalam Bibel tidak mengherankan orang zaman
sekarang. Kota itu
telah menjadi mashur
semenjak Champolion
menemukan kunci bahasa hieroglyph (Mesir ku no) 150
tahun yang lalu,
dalam mempelajari cin-ciri
bahasa tersebut. Jadi sekarang
orang sudah terbiasa membacanya dengan mengerti artinya.
Tetapi kita perlu mengetahui bahwa bahasa Mesir
kuno sudah tidak dikenal orang lagi pada abad III M, dan nama
Ramses hanya terdapat
dalam Bibel dan beberapa
buku Yunani atau
Latin yang merubah bentuknya Tacite, dalam karangannya Annales,
menyebut nama Ramses. Bibel
telah memelihara bentuk nama itu. Nama itu disebutkan empat kali dalam
Pentateuqe atau Taurat (Kejadian,
47, 11; Keluaran 1, 11 dan 12,
37; kitab Bilangan 33, 3 dan 33, 5).
Dalam bahasa
Ibrani, nama Ramses ditulis
dengan dua cara: RA(E)MSS, atau
RAEAMSS. Dalam Bibel
cetakan Yunani yang dinamakan Septante,
bentuk nama itu adalah RAMESSE.
Bibel latin (Volgate) menuliskannya Ramesses.
Dalam Bibel Clementine edisi
Perancis (edisi pertama pada tahun 1621 ), nama itu ditulis Ramses.
Edisi Perancis ini banyak tersiar pada
waktu Napoleon melakukan
penelitian-penelitian. Dalam karangannya: Ringkasan Sistem Hieroglyphiq Orang
Mesir Kuno (cetakan kedua
tahun 1828 halaman
276) Champolion membicarakan
tentang cara menulis "Ramses" dalam Bibel.
Dengan
begitu maka Bibel telah memelihara nama Ramses
dalam bentuk Ibrani, Yunani dan Latin.
Hal tersebut
di atas memungkinkan kita untuk mengatakan:
a) Exodus tak dapat digambarkan sebelum
seorang Ramses memegang pemerintahan
Mesir
b) Musa dilahirkan di masa pemerintahan raja
yang membangun kota Ramses dan Pitom,
yakni Ramses II.
c) Ketika Musa menetap di negeri Madyan,
Fir'aun yang memerintah, yakni Ramses
II meninggal. Sejarah Nabi Musa selayaknya terjadi pada zaman pengganti
Ramses II, yaitu Mineptah.
Di samping
hal-hal tersebut, Bibel menyebutkan
suatu unsur yang sangat
penting untuk menunjukkan
waktu terjadinya Exodus, yaitu
bahwa ketika Musa menjalankan
perintah Tu han untuk meminta
agar Bani Israil
dimerdekakan, ia sudah berumur 80 tahun.
Kitab
Keluaran 7, 7: Musa berumur 80 tahun dan Harun berumur 83 tahun
ketika mereka berbicara kepada Fir'aun. Di lain pihak,
Kitab Keluaran, 2, 23 menyebutkan bahwa Fir'aun
yang memerintah ketika Musa
dilahirkan, telah meninggal ketika Musa
menetap di negeri
Madyan; walaupun riwayat
Bibel tersebut tidak menunjukkan
pergantian nama Raja. Dua ayat dalam Bibel tersebut mengandung
arti bahwa jumlah
waktu berkuasanya dua Fir'aun
yang memerintah Mesir ketika Musa hidup di situ adalah sedikitnya 80
tahun.
Di pihak
lain Ramses II memerintah selama 67
tahun (dari tahun 1301
sampai tahun 1235
S.M.) menurut perhitungan Driaton
dan Vandier, atau dan tahun 1290 sampai
tahun 1224 S.M. menurut
perhitungan Rowton. Ahli-ahli sejarah Mesir tak dapat memberikan angka
tepat tentang lamanya
pemerintahan Mineptah, pengganti Ramses II, tetapi masa itu sedikitnya
10 tahun, karena tahun
ke 10 daripada
pemerintahannya diperingati
oleh beberapa dokumen seperti
yang diterangkan oleh R. P. de Vaux. Pengarang Manelhon mengirakan 20
tahun untuk masa pemerintahan
Mineptah. Driaton dan Vandier memberikan dua kemungkinan, mungkin
hanya 10 tahun
dari tahun 1224 sampai tahun 1214
S.M., atau 20 tahun dari tahun 1224 sampai tahun 1204 S.M.; ahli sejarah
Mesir tidak tahu secara
pasti bagaimana pemerintah Mineptah berakhir. Yang diketahui orang
adalah bahwa setelah
Mineptah, Mesir mengalami krisis
dalam negeri yang berat selama
kira-kira seperempat abad.
Walaupun
kronologi raja-raja Mesir tidak tepat,
kita dapat mengatakan bahwa selama Kerajaan Baru tak terdapat dua masa
pemerintahan Raja yang berturut-turut
yang dapat mencapai atau
melebihi 80 tahun kecuali periode
Ramses II-Meneptah, Pemberitaan Bibel mengenai umur Musa ketika
ia memikirkan pembebasan kaum
Yahudi hanya dapat dimasukkan dalam rangka kesinambungan antara
Pemerintahan Ramses II dan pemerintahan Mineptah. Dengan
begitu kita dapat mengatakan bahwa Musa lahir pada permulaan
Pemerintahan Ramses II,
berada di Madyan ketika
Ramses II meninggal dunia setelah memerintah selama 67 tahun, kemudian
Musa menjadi pembela kaum Yahudi dan
menghadapi Mineptah anak
dan pengganti Ramses
II. Hikayat itu mungkin terjadi pada pertengahan kedua daripada pemerintahan Mineptah
jika ia memerintah selama 20
tahun, dan hal ini sesuai dengan pendapat Rowton.
Kemudian Musa memimpin orang-orang
Yahudi keluar dari Mesir pada akhir pemerintahan Mineptah,
karena raja itu
binasa ketika mengejar orang-orang Yahudi yang meninggalkan Mesir
seperti yang diterangkan oleh Qur-an dan Bibel.
Kerangka
berpikir ini sangat sesuai dengan
riwayat kitab suci tentang
masa kecilnya Musa dan bagaimana ia diambil oleh keluarga
Fir'aun. Kita tahu
bahwa Ramses II
sudah sangat tua waktu ia mati;
ada yang mengatakan ia berumur 90 tahun atau 100 tahun; menurut hipotesa ini,
pada perrnulaan pemerintahannya, Ramses
berumur 23 atau
33 tahun, yakni permulaan
masa kekuasaannya yang
berlangsung selama 67 tahun.
Pada umur muda itu ia mungkin sudah kawin. Tidak ada kontradiksi antara
riwayat "Musa ditemukan di sungai
oleh keluarga Fir'aun" menurut Qur-an dengan campur tangan isteri Fir'aun
yang meminta daripadanya supaya membiarkan anak
itu hidup. Bibel mengatakan bahwa
yang menemukan Musa di sungai itu anak perempuan Fir'aun. Ramses yang
sudah kita ketahui umurnya pada
permulaan pemerintahannya, mungkin saja punya anak perempuan yang dapat
menemukan Musa, si
bayi yang ditingalkan keluarganya.
Dengan begitu maka riwayat Qur-an dan nwayat Bibel tidak bertentangan.
Hipotesa
yang kita susun di
sini adalah secara
mutlak, sesuai dengan Qur-an.
Tetapi bertentangan dengan
suatu paragraf dalam Bibel, yaitu ayat pertama dari fasal 6 dalam Kitab
Raja-raja pertama (perlu
ditegaskan bahwa paragraf tersebut
tidak merupakan bagian
dari Taurah). Paragraf tersebut sangat
disangsikan dan R.P.
de Vaux menolak kronologi daripada fasal ini
dalam Perjanjian Lama,
yaitu kronologi yang mengatakan
bahwa waktu larinya Bani Israil dari Mesir terjadi sesudah dibangunnya
Candi Nabi Sulaiman. Bahwa hal tersebut
masih menjadi pembahasan menyebabkan kita tidak
dapat memberi nilai
positif kepadanya, karena bertentangan dengan teori yang kita
bicarakan di sini.
4. PROBLEMA MENGENAI MONUMEN TAHUN V PEMERINTAHAN
MINEPTAH
Mula-mula orang-orang
mengira dapat menemukan
suatu sangkalan terhadap teori
bahwa larinya Bani Israil dari Mesir merupakan
kejadian yang terakhir
daripada masa pemerintahan Fir'aun
tersebut; sangkalan tersebut dikira telah ditemukan dalam teks
monumen tahun ke V pemerintahan Mineptah.
Monumen tersebut
penting sekali karena
merupakan satu-satunya dokumen dalam bahasa Mesir kuno yang mengandung kata "Israil." Monumen
tersebut, yang dibikin pada masa pertama dari pemerintahan
Mineptah telah ditemukan di Thebes dalam
suatu kuburan Fir'aun, monumen
tersebut memperingati kemenangan-kemenangan
yang diperoleh Mesir
terhadap tetangga-tetangganya,
khususnya, pada akhir
dokumen itu disebutkan: kemenangan
terhadap Israil yang
sudah dibinasakan dan tak
mempunyai benih lagi. Orang mengambil konklusi dari dokumen
tersebut bahwa orang-orang
Yahudi sudah menetap di
Kan'an pada tahun
kelima pemerintahan Mineptah dan oleh karena itu keluarnya
orang Yahudi dari Mesir telah terjadi sebelum dokumen
tersebut dibikin.
Sangkalan tersebut
tak dapat diterima karena sangkalan itu berarti bahwa tak ada orang Yahudi
di Kan'an ketika
ada orang-orang Yahudi di
Mesir. Walaupun begitu, orang
yang mengatakan bahwa Exodus terjadi pada zaman Ramses II, yaitu R.P. de Vaux menulis dalam buku-bukunya
Sejarah Israil Kuno, mengenai penghunian di Kan'an: "Untuk daerah
Selatan, waktu menetapnya orang-orang
yang masih ada
hubungan kerabat dengan Israil di
daerah Cades, tak dapat ditentukan,
akan tetapi terang sebelum
Exodus." Jadi R.P.
de Vaux menggambarkan kemungkinan
menetapnya kelompok-kelompok yang keluar dari
Mesir sebelum terjadinya Exodus
yang dipimpin Musa. Apiru atau
Habiru yang diidentifilkasikan dengan orang-orang Israil sudah terdapat di Syria, Palestina,
lama sebelum Ramses II,
jadi sebelum Exodus.
Bukankah raja Amenophis II
menurut suatu dokumen
telah mendatangkan orang-orang
tawanan sebanyak 3.600 dan dikerjakan
sebagai buruh di Mesir.
Pada zaman raja Seti pertama, orang-orang Yahudi menimbulkan
keributan-keributan di Kan'an, di daerah
Beth-Shean; begitulah disebutkan
oleh P. Montet
dalam bukunya Mesir dan Bibel. Dengan begitu maka ada kemungkina besar bahwa
Mineptah menindak unsur-unsur
pengacau di perbatasan, sedangkan
dalam negeri Mesir, terdapat kelompok Yahudi yang
pada akhirnya mengikuti Musa untuk keluar dari Mesir. Jadi
terdapatnya monumen tahun
kelima daripada Pemerintahan Mineptah
tidak bertentangan dengan hipotesa kita.
Di lain
pihak munculnya kata "Israil" dalam
sejarah bangsa Yahudi tidak
ada hubungannya dengan
menetapnya kelompok pengikut Musa di Kan'an. Asal mula kata itu adalah
sebagai
berikut:
Menurut Kejadian (32, 29) Israil adalah nama kedua
daripada Yakob, anak Ishak cucu
Ibrahim, arti nama
itu menurut ahli-ahli tafsir
Terjemahan Ekumenik daripada
Bibel Perjanjian Lama (1975)
adalah: "mudah-mudahan Allah menunjukkan dirinya
Jaya." Setelah kata itu dijadikan nama orang, tidak
mengherankan jika orang
memakainya untuk menunjukkan
"kelompok" sambil mengingat-ingat seorang moyang yang besar. Jadi
kata Israil itu sudah ada beberapa
ratus tahun sebelum Musa. Tidak mengherankan kalau dalam monumen Mineptah
kata itu disebutkan. Tetapi disebutkannya kata
itu tidak merupakan argumen
yang menguatkan terjadinya Exodus Musa sebelum tahun V daripada
pemerintahan Mineptah.
Sesungguhnya dengan
menunjuk kelompok yang
dinamakan "Israil,"
monumen Mineptah tidak menunjukkan suatu kelompok politik yang sudah
berdiri, karena monumen tersebut ditulis
pada akhir abad
XIII S.M., sedangkan
kerajaan Israil didirikan pada
abad X S.M. Jadi,
monumen tersebut hanya menunjuk kelompok manusia biasa.25
Sekarang kita
mengetahui bahwa untuk masuk
dalam sejarah, Israil memerlukan waktu pembentukan selama 8 atau
9 abad. Dalam periode
tersebut terdapat kelompok-kelompok setengah nomad dalam daerah Kan'an,
khususnya kelompok Amorites dan Arameans. Dalam
periode tersebut muncul
pula di tengah-tengah rakyat
patriach-patriach
(kepala-kepala keluarga)
seperti Ibrahim, Ishak
dan Ya'kub atau Israil. Nama kedua dari
kepala keluarga terakhir,
yakni Israil, merupakan bibit pertama daripada kesatuan politik yang
akan muncul lama setelah zaman Mineptah, karena
kerajaan Israil berlangsung dari
tahun 931-930 sampai 721 S.M.
OLEH
KITAB-KITAB SUCI
Matinya
Fir'aun pada waktu Exodus merupakan
suatu bagian yang sangat penting
dalam riwayat Qur-an dan Bibel. Kematian Fir'aun itu dapat difahami dari
teks dengan jelas
sekali. Dalam Bibel, kematian
Fir'aun itu tidak hanya
disebutkan dalam Pentateuqe atau Torah tetapi juga dalam Zaburnya Daud; pembicaraan
tentang ini telah disebutkan di atas.
Adalah
sangat mengherankan bahwa pengarang-pengarang Kristen tidak menyebutkan
kematian Fir'aun. R.P. de Vaux berpendapat bahwa Exodus
terjadi pada bagian
pertama daripada pemerintahan
Ramses II atau pada pertengahan
pemerintahan itu; ia tidak
memperhitungkan bahwa Fir'aun
telah binasa dalam pengejaran kaum Yahudi, yang berarti bahwa Exodus itu terjadi
pada akhir pemerintahannya. Dalam
buku-bukunya: "Sejarah Israil
Kuna," direktur Sekolah
Bibel Yerusalem tidak mempedulikan kontradiksi
antara pendapatnya dan paragraf-paragraf yang tersebut
dalam dua kitab
(fasal) daripada Bibel.
P. Montet
dalam bukunya "Mesir dan Bibel" mengatakan bahwa Exodus
terjadi pada zaman pemerintahan Mineptah, akan tetapi ia tidak
menulis sepatah katapun tentang matinya Fir'aun yang memimpin
pengejaran orang-orang Yahudi yang lari.
Pendirian
yang mentakjubkan ini sangat
bertentangan dengan pendirian orang-orang
Yahudi. Mazmur Daud no. 136 dalam ayat 15
memuji "Tuhan yang
telah membinasakan Fir'aun
dan tentaranya dalam lautan yang
penuh dengan tumbuh-tumbuhan" sering disebutkan dalam doa-doa mereka.
Mereka itu mengerti bahwa ada
persesuaian antara ayat-ayat
tersebut dengan kata-kata dalam
Kitab Keluaran (14, 28): "Air kembali pasang dan menenggelamkan kereta-kereta serta para penumpang kuda dari
tentara Fir'aun yang telah masuk ke
laut di belakang mereka (kelompok
Yahudi). Tak ada seorangpun yang tetap hidup." Bagi mereka
tak ada sangsi sedikitpun bahwa Fir'aun telah binasa
bersama tentaranya. Teks
yang sama juga terdapat dalam Bibel Kristen.
Para ahli
tafsir Kristen sengaja
mengelakkan diri dan menentang
segala bukti kematian Fir'aun. Tetapi sementara orang menyebutkan
riwayat yang ada
dalam Qur-an dan menganjurkan pembacanya
untuk mengadakan pendekatan yang khusus. Inilah yang kita
temukan dalam Terjemahan Bibel di bawah
pengawasan Sekolah Bibel di
Yerusalem; kita dapatkan tafsiran R.P.
Couroyer guru besar
pada sekolah tersebut mengenai badan Fir'aun:
"Qur-an
(X, 90-92) menyebutkan hal-hal tersebut, dan menurut tradisi orang awam,
Fir'aun tenggelam dengan tentaranya, hal ini
tak disebutkan dalam Qur-an26 dan badannya menetap di dasar laut dan
memerintah para nelayan; jadi sejenis
ikan laut."
Pembaca yang tidak mengetahui isi Qur-an akan
menghubungkan antara pernyataan Qur-an
yang bertentangan (menurut pengarang tafsir
Bibel tersebut) dengan
Bibel, dengan dongengan yang aneh
yang katanya berasal dari tradisi orang awam,
yang disebutkan dalam tafsir Bibel setelah menyebutkan Qur-an.
Hakekat pernyataan
Qur-an tentang hal
ini tak ada hubungannya dengan apa yang dikatakan oleh pengarang
tafsir Bibel tersebut; ayat 90 s/d 92 daripada surat
10 dalam Qur-an mengatakan
bahwa Bani Israil melalui lautan
selagi Fir'aun dan tentaranya mengejar mereka. Pada waktu ia hampir tenggelam, Fir'aun
berteriak: "Aku percaya bahwa tak ada Tuhan kecuali Tuhan
yang dipercayai oleh Bani Israil,
dan aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri
kepadaNya." Tuhan menjawab: "Baru sekarang? Sebelum
ini engkau telah membangkang dan
menimbulkan kerusakan. Baiklah
Aku akan menyelamatkan badanmu pada
hari ini agar
engkau menjadi bukti bagi mereka
yang datang sesudahmu. Sesungguhnya banyak manusia yang lengah terhadap
bukti-buktiKu."
Inilah yang
dimuat dalam Qur-an tentang kematian
Fir'aun.Baik dalam ayat ini maupun dalam ayat-ayat lain dalam Qur-an tak
ada khayalan-khayalan seperti yang disebutkan oleh ahli tafsir
Bibel. Teks Qur-an
mengatakan dengan jelas bahwa badan
Fir'aun akan diselamatkan; inilah hal yang pokok.
Pada
waktu Qur-an disampaikan
kepada manusia oleh
Nabi Muhammad, semua jenazah
Fir'aun-Fir'aun yang disangka ada hubungannya dengan Exodus oleh
manusia modern terdapat
di kuburan-kuburan kuno di lembah
raja-raja (Wadi al Muluk) di Thebes, di seberang Nil
di kota Luxor.
Pada waktu itu manusia
tak mengetahui apa-apa
tentang adanya kuburan tersebut. Baru pada abad 19 orang
menemukannya seperti yang dikatakan oleh
Qur-an jenazah Fir'aunnya Exodus selamat. Pada waktu ini
jenazah Fir'aun Exodus disimpan
di Museum Mesir di
Cairo di ruang
mumia, dan dapat dilihat oleh penziarah. Jadi
hakekatnya sangat berbeda
dengan legenda yang menertawakan
yang dilekatkan kepada Qur-an
oleh ahli tafsir Injil, R.P. Couroyer.
5. MUMIA FIR'AUN MINEPTAH
Jenazah
Mineptah yang sudah diawetkan, anak dari
Ramses II yang dapat dipastikan sebagai
Fir'aun Exodus, ditemukan orang
pada tahun 1898 oleh Loret,
di Thebes, di
lembah Raja-raja (Wadi al
Muluk). Elliot Smith
membuka perban-perbannya pada tanggal 8 Juli 1907. Dalam bukunya The Royal Mummies
(1912) ia menjelaskan
apa yang dikerjakan dalam membuka mumia tersebut dan memeriksa
badannya. Pada waktu itu mumia tersebut dapat dikatakan dalam
keadaan baik walaupun ada kerusakan di beberapa
bagian. Semenjak waktu itu
mumia tersebut dipertunjukkan kepada para pengunjung museum Cairo.
Kepala dan lehernya
terbuka, sedang bagian-bagian badan
lainnya ditutup dengan kain sedemikian rupa sehingga sampai sekarang
museum tidak memiliki
photo yang menyeluruh tentang
badan mumia kecuali yang pernah diambil oleh Elliot Smith
pada tahun 1912.
Pada bulan
Juni tahun 1975, para penguasa
tinggi di Mesir memperbolehkan diri
saya untuk memeriksa
bagian-bagian daripada tubuh
Fir'aun yang diketemukan
serta mengambil gambarnya. Jika
kita bandingkan keadaan
mumia sekarang dengan keadaannya
60 tahun yang lalu ternyata sudah terdapat kerusakan-kerusakan, bahkan
ada bagian-bagian yang hilang. Kain pembalut mumia telah banyak rusak,
baik karena tangan manusia di
beberapa bagian, atau
karena waktu untuk bagian-bagian lain.
Kerusakan
alamiah ini dapat diterangkan
sebagai disebabkan oleh perbedaan
cara memeliharanya semenjak orang menemukan mumia tersebut pada akhir
abad XIX dalam kuburan Necropolis (negara orang-orang
mati) di Thebes
di mana tubuh itu berbaring lebih dari 3.000
tahun. Dalam keadaan
sekarang, mumia itu hanya
dilindungi oleh kaca
yang tidak dapat menahan pengaruh
udara dari luar dan polusi yang
disebabkan oleh micro organisme. Dalam keadaan mudah terpengaruh
oleh suhu udara dan tak terlindungi dari
lembab musim, mumia tersebut pada waktu ini dalam kondisi yang berlainan
sekali dengan kondisi yang telah dapat
memeliharanya selama tiga ribu
tahun, jauh dari
faktor-faktor kerusakan. Mumia tersebut telah
kehilangan proteksi pembalut-pembalutnya serta pertahanan
tempat yang tertutup dalam kuburan yang temperaturnya tidak
berubah dan udaranya
kurang lembab daripada udara
Cairo dalam musim-musim
tertentu. Memang walaupun dalam necropole (kuburan raja-raja), mumia
tersebut mungkin saja dalam bahaya daripada pencuri-pencuri kuburan
atau perusak-perusak lain tetapi walaupun begitu, nampaknya kondisi dahulu
lebih baik daripada kondisi
sekarang untuk mempertahankan din dari pengaruh waktu.
Pada waktu
penelitian mumia tersebut dalam bulan Juni
tahun 1975, atas usul
saya telah dilakukan penyelidikan khusus. Penyelidikan radiografik telah
dilakukan oleh Dr. El Melegy dan Dr.
Ramsys; di lain pihak Dr. Mustafa menilainya telah melakukan penyelidikan
tentang thorax27
dan perut; ini adalah
penyelidikan dengan endoscopie28
yang diterapkan kepada mumia
untuk pertama kali. Dengan cara ini kita
dapat mengambil foto perinci-perinci penting
di dalam tubuh. Dengan pemeriksaan microscope terhadap
bagian-bagian yang jatuh sendiri
daripada mumia itu, yaitu pemeriksaan yang dilakukan
oleh Prof. Mignot
dan Dokter Durignon,
suatupenyelidikan legal akan
dapat diselesaikan bersama dengan Prof. Ceccaldi.
Sangat
disesalkan sekali bahwa hasi1
penyelidikan tersebutbelum
rampung ketika buku ini ditulis.
Yang dapat
kita tarik kesimpulan sekarang
ialah kerusakan tulang dan hilangnya substansi penting --
sebagian adalah sangat fatal.
Kita belum dapat memastikan apakah hal-hal tersebut terjadi
sesudah atau sebelum
matinya Fir'aun. Menurut riwayat
kitab Suci, Fir'aun
meninggal karena tenggelam atau
karena rasa shock
yang dahsyat yang mendahului tenggelamnya, dalam laut,
atau kedua-duanya.
Hubungan antara
kerusakan kulit dengan kerusakan seluruh mumia yang sebab-sebabnya telah
kita jelaskan di atas,
menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pemeliharaan mumia Fir'aun ini jika
pencegahan dan pemulihan tidak dilaksanakan selekasnya. Tindakan
itu perlu sekali, agar satu-satunya bukti material yang
ada sekarang tentang
matinya Fir'aun Exodus dan penyelamatan tubuhnya yang dikatakan oleh
Tuhan, tidak musnah dengan mudah.
Adalah sangat
diharapkan bahwa kita
dapat memelihara bekas-bekas sejarah.
Tetapi dalam hal
ini, ada hal yang lebih penting,
yaitu materialisasi dalam
mumia terhadap seorang yang
mengenal Musa semasa
hidupnya, menolak permohonannya,
mengejarnya ketika ia lari, dan kemudian mati dalam pengejaran tersebut. Badannya, karena
kehendak Tuhan, selamat dari kebinasaan, dan
menjadi bukti bagi
manusia, seperti diterangkan oleh Qur-an.29
Alangkah agungnya
contoh-contoh yang diberikan
oleh ayat-ayat Qur-an tentang tubuh Fir'aun yang sekarang berada di
ruang mumia di Museum Mesir di
kota Cairo. Penyelidikan dan
penemuan-penemuan modern telah
menunjukkan kebenaran-kebenaran Qur-an.
QUR-AN, HADITS & SAINS MODERN
Qur-an tidak merupakan satu-satunya sumber doktrin dan hukum Islam. Ketika Nabi Muhammad masih hidup dan sesudah beliau meninggal, ada sumber tambahan yaitu tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan Nabi.
Informasi tentang tindakan dan ucapan Nabi tergantung kepada tradisi mulut; orang-orang yang mengambil initiatif untuk mengumpulkannya dalam suatu teks mengadakan penyelidikan yang rumit jika tradisi lisan tersebut akan dijadikan tulisan tentang kejadian-kejadian.
Dalam mengumpulkan informasi tersebut mereka sangat gigih mencari kebenaran; hal ini dapat dibuktikan dengan fakta bahwa dalam tiap riwayat mengenai kehidupan Nabi Muhammad atau kata-katanya, terkumpul nama-nama orang-orang yang mempunyai reputasi baik yang melaporkan riwayat tersebut, dan urutan nama-nama itu menanjak sampai kepada keluarga Nabi atau sahabat-sahabat yang menjadi sumber pertama daripada informasi itu.
Dengan cara tersebut, muncullah kumpulan-kumpulan tindakan dan ucapan-ucapan Nabi, yaitu yang biasanya dinamakan "Hadits" arti kata itu adalah "kata-kata" tetapi yang dimaksudkan ialah ucapan-ucapan dan tindakan.30
Kumpulan-kumpulan Hadits itu disiarkan beberapa puluh tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad; yang muncul pada abad pertarna Hijriyah sangat terbatas. Kumpulan-kumpulan yang lebih penting baru muncul dua abad sesudah Nabi Muhammad wafat. Dengan begitu maka kumpulan Hadits yang memberi informasi yang paling lengkap bukan kumpulan yang paling dekat kepada zaman Nabi Muhammad. Kumpulan Bukhary dan Muslim yang diselenggarakan lebih dari 200 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad memberikan dokumentasi yang terluas dan paling dapat dipercayai. Kumpulan Bukhari dianggap yang paling autentik setelah Qur-an. Haudas dan Marcais telah menterjemahkannya ke dalam bahasa Perancis antara tahun 1903 dan 1904, dengan judul: Les Traditions Islamiques. Pada akhir-akhir ini telah diterbitkan juga dengan teks Arab dan terjemahan Inggris oleh Dr. Mohammad Muhsin Khan, dari Universitas Islam di Medina. Dengan begitu Hadits dapat dibaca oleh orang yang tak mengerti bahasa Arab. Tetapi kita perlu bersikap sangat hati-hati terhadap beberapa terjemahan yang dilakukan oleh orang-orang Barat termasuk orang-orang Perancis, karena kita telah dapatkan kekeliruan yang tidak merupakan terjemahan akan tetapi merupakan interpretasi; malahan kadang-kadang mereka itu merubah arti Hadits sehingga memberi pengertian yang tidak dimaksudkan.
Dari segi asal mulanya, orang dapat membandingkan kumpulan-kumpulan Hadits itu dengan Injil. Kedua macam buku itu mempunyai sifat yang sama, yaitu; pertama: telah ditulis oleh pengarang-pengarang yang tidak merupakan saksi mata kejadian yang mereka laporkan; dan kedua: telah ditulis setelah lama kejadian-kejadian tersebut terjadi. Sebagaimana halnya dengan Injil, Hadits-hadits itu tidak semuanya dapat diterima sebagai autentik. Hanya jumlah kecil dipandang autentik oleh ahli-ahli Hadits, dan dalam satu kumpulan kita dapat menemukan Hadits-hadits autentik di samping Hadits yang diragukan bahkan Hadits yang harus ditolak.
Berbeda dengan Injil-Injil empat, yang tidak pernah disangkal oleh umat Kristen, kumpulan-kumpulan Hadits-hadits walaupun yang dianggap paling autentik, pada suatu waktu dalam sejarah Islam, telah merupakan sasaran kritik tajam dari para ahli pikir Islam. Tetapi Qur-an, tetap menjadi buku yang pokok dan tak dapat dipersoalkan lagi tentang kebenarannya.
Saya menganggap penting untuk menyelidiki dalam kumpulan Hadits-hadits tersebut, bagaimana di luar wahyu Ilahi, Muhammad diriwayatkan telah membicarakan soal-soal yang pengetahuan modern baru dapat membuka rahasianya pada beberapa abad sesudahnya Saya sangat membatasi diri, dan hanya penyelidikan Hadits yang biasanya dianggap paling autentik, yaitu kumpulan Hadits Bukhari; sebabnya ialah karena saya selalu berpikir bahwa karena Hadits-hadits itu banyak yang disusun oleh para pengumpulnya menurut tradisi oral, maka mereka dapat meriwayatkan fakta-fakta yang sama akan tetapi dengan cara berbeda berhubungan dengan kesalahan orang-orang yang meriwayatkannya. Hal tersebut berbeda dengan Hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang besar jumlahnya sehingga dapat mencapai martabat Hadits autentik.
Saya menyelidiki pernyataan-pernyataan Hadits dalam hal-hal yang pernah kita bicarakan tentang Qur-an dan Sains modern.Hasil penyelidikan saya sangat jelas. Ada perbedaan yang sangat besar antara pernyataan-pernyataan Qur-an yang cocok jika dihadapkan dengan Sains modern dan pernyataan Hadits dalam bidang sama yang sangat mudah dikritik.
Hadits yang merupakan tafsiran mengenai beberapa ayat Qur-an kadang-kadang memberi penjelasan yang tak dapat diterima sekarang.
Ada satu Hadits Bukhary yang menafsirkan surat 36 ayat 38 (Surat Yassin) yang telah kita bicarakan dalam fasal Astronomi, dengan tafsiran sebagai berikut: "Ketika matahari terbenam, ia sujud di bawah Arasy Tuhan. Matahari minta izin untuk mengulangi perjalanannya, dan sujud sekali lagi. Akhirnya ia kembali ke tempat dari mana ia datang dan bangun kembali dari Timur." Teks aslinya adalah kabur dan sukar diterjemahkan. (Kitab permulaan penciptaan, fasal 54, bab 4 no. 421). Bagaimanapun juga, Hadits tersebut mengandung khayalan tentang perjalanan matahari dan hubungannya dengan bumi. Sains telah menunjukkan bahwa yang benar adalah sebaliknya isi Hadits tersebut. Jadi Hadits tersebut tidak autentik.
Dalam fasal yang sama (Kitab permulaan penciptaan) fasal 54 bab 6 no. 430, terdapat keterangan tentang tahap-tahap pertama daripada perkembangan embriyo. Keterangan tentang waktu yang diperlukan oleh tahap-tahap itu terasa aneh; satu tahap untuk mengumpulkan unsur-unsur yang menyusun manusia, lamanya 40 hari, satu tahap di mana embryo itu merupakan "sesuatu yang melekat" lamanya 40 hari, dan satu tahap di mana embryo menjadi seperti daging yang dikunyah lamanya juga 40 hari. Kemudian setelah campur tangan malaekat untuk menentukan hari kemudian embryo itu, suatu ruh ditiupkan dalam embryo tersebut. Gambaran perkembangan embriyo seperti tersebut di atas tidak sesuai dengan Sains modern.
Kecuali dalam surat 16 (Nahl) ayat 69 yang menyebutkan bahwa madu itu mengandung obat (tanpa menyebutkan untuk penyakit apa), Qur-an tidak memberi tuntunan tentang pengobatan. Tetapi Hadits memberikan tempat yang luas untuk soal obat-obatan.
Dalam kumpulan Hadits Bukhary ada suatu bab khusus untuk obat-obatan (bab 76). Dalam terjemahan Houdas dan Marcais hal tersebut terdapat dalam jilid 4, halaman 62 s/d 91, dandalam bukunya Dr. Muhammad Muhsin Khan dengan terjemahan Inggris terdapat dalam jilid 7 halaman 395 s/d 452. Halaman-halaman tersebut memberi gambaran tentang pendapat-pendapat orang pada waktu Hadits tersebut dikumpulkan mengenai soal-soal yang berhubungan dengan obat-obatan. Orang dapat menambahkan kepada hadits-hadits dalam bab tersebut, hadits-hadits lain yang terdapat dalam bagian-bagian lain daripada kumpulan Hadits Bukhary.
Dalam hadits-hadits yang saya sebutkan terakhir tadi, terdapat pemikiran-pemikiran tentang sihir, mata jahat, pengusiran setan dan lain-lain, walaupun Qur-an telah membatasi hal-hal tersebut. Terdapat suatu hadits yang mengatakan bahwa buah kurma dapat menjaga manusia dari pengaruh sihir, dan dapat menyembuhkan gigitan binatang berbisa.
Kita tidak perlu heran karena dalam zaman teknik dan farmakologi belum maju, kita menemukan anjuran untuk praktek-praktek yang sederhana atau obat-obatan alamiah seperti cantuk (Hijamah) atau cara lain untuk mengeluarkan darah kotor, mengobati luka dengan api, mencukur untuk mengobati penyakit kulit, meminum susu onta, biji tertentu atau tumbuh-tumbuhan tertentu, abu semacam tumbuh-tumbuhan (untuk menghentikan darah keluar). Dalam keadaan yang berbahaya, orang perlu menggunakan segala cara yang dapatdilakukan, dan yang memang berguna. Tetapi saya rasa kurang baik untuk menganjurkan minum kencing onta.
Kita juga kurang setuju dengan penjelasan-penjelasanmengenai patologi. Di bawah ini beberapa contoh:
Asalnya penyakit panas badan: empat orang saksi menguatkan pernyataan bahwa: panas badan itu datangnya dari api neraka (Kitab pengobatan fasal 28).
Adanya obat bagi tiap-tiap penyakit, "Tuhan tidak menurunkan penyakit kecuali ia juga menurunkan obatnya (Kitab pengobatan fasal 1). Contoh konsepsi ini adalah Hadits lalat (Kitab pengobatan, fasal 28 dan Kitab permulaan penciptaan, bab 54, fasal 15, 16). Jika ada lalat jatuh dalam satu wadah, lalat itu harus ditenggelamkan seluruhnya, karena satu sayapnya mengandung racun, dan yang satu lagi mengandung penawar, lalat mula-mula membawa racun kemudian membawa obat.
Keguguran itu disebabkan karena si hamil melihat ular tertentu (ular itu juga menyebabkan kebutaan). Inidisebutkan dalam Kitab permulaan penciptaan, fasal 13 dan 14.
Mengeluarkan darah di luar waktu haid. Kitab Haid fasal 6 memuat Hadits tentang sebab mengeluarkan darah di luar waktu haid (bab 16, 21 dan 28). Hal ini mengenai dua orang wanita. Dalam satu kasus, tanpa perincian, mengenai symptom tersebut, dinyatakan bahwa mengeluarkan darah itu sebabnya karena suatu saluran darah ('irq); dalam kasus lainnya, yaitu tentang seorang wanita yang mengeluarkan darah di luar haid selama tujuh tahun. Di sini sebab yang sama dinyatakan kembali. Orang dapat membuat hipotesa tentang sebab yang sesungguhnya tentang symptom tersebut, tetapi mengingat zaman Hadits Nabi Muhammad tersebut, kita tak dapat menggambarkan bagaimana diagnosa tersebut didasarkan kepada suatu argumen. Bagiamanapun juga hal ini mungkin juga benar.
Tak adanya penyakit menular, kumpulan Hadits Bukhary menyebutkan dalam beberapa bagian dalam buku itu (fasal 19, 25, 30 31, 53 dan 54 kitab pengobatan, bab 76), kasus-kasus khusus seperti lepra, pest, kolera, penyakit kulit onta, dan juga penyakit menular secara umum. Pemikiran tentang hal-hal tersebut mengandung pernyataan yang kontradiksi. Tetapi, terdapat juga suara anjuran supaya orang jangan pergi ketempat di mana wabah pest berjangkit, dan supaya orang menjauhi orang yang terserang penyakit lepra.31
Dengan begitu, kita dapat mengambil kesimpulan tentang adanya hadits yang tak dapat diterima. Tetapi di samping kesangsian tentang kebenaran hadits tersebut, dengan disebutkannya di sini kita mendapat faedah yaitu bahwa dengan memperbandingkannya dengan pernyataan ilmiah yang terdapat dalam Qur-an, kita mengerti bahwa hadits-hadits tersebut mengandung pernyataan yang tidak tepat. Konstatasi ini mempunyai arti yang besar.
Kita harus ingat bahwa ketika Nabi Muhammad meninggal, ajaran-ajaran yang diterima oleh para sahabat dari beliau dapat dibagi menjadi dua kelompok:
Pertama, banyak pengikut Nabi yang hafal Qur-an seperti beliau dan selalu mengulangi pembacaannya; di samping itu terdapat tulisan-tulisan wahyu Qur-an yang dibuat waktu Nabi Muhammad masih hidup, dan malahan sebelum hijrah.
Kedua, anggauta-anggauta dari sahabat-sahabatnya yang terdekat, dan beberapa pengikutnya yang menyaksikan tindakan dan kata-katanya, mereka itu memelihara apa yang mereka saksikan atau dengarkan, dan menjadikannya sebagai sandaran di samping Qur-an, untuk menetapkan doktrin dan hukum yang sedang tumbuh.
Dalam tahun-tahun sesudah meninggalnya Nabi Muhammad, teks-teks, tentang dua macam ajaran yang ia tinggalkan bermunculan. Kumpulan Hadits yang pertama muncul 40 tahun setelah Nabi meninggal, akan tetapi sebelum teks itu muncul, Qur-an sudah dikumpulkan lebih dahulu pada zaman Abubakar dan Umar. Utsman membuat teks definitif pada waktu ia memerintah; yakni antara tahun 12 dan 24 sesudah Nabi meninggal.
Yang perlu digaris bawahi adalah perbedaan antara kedua macam teks dan segi sastra dan dari segi isi. Sesungguhnya tak mungkin diadakan perbandingan dari segi style Qur-an dan susunan tata Hadits. Dan lagi jika kita mernbandingkan isi daripada dua teks tersebut dengan menghadapkannya kepada hasil-hasil Sains modern, kita akan heran karena perbedaan yang sangat besar. Saya harap saya telah berhasil menunjukkan perbedaan antara:
Di satu pihak, pernyataan Qur-an yang sering kelihatan remeh; tetapi jika diselidiki secara ilmiah dengan hasil-hasil Sains modem akan ternyata bahwa pernyataan-pernyataan itu menunjukkan hal-hal yang kemudian dibenarkan oleh Sains.
Di lain pihak, beberapa pernyataan hadits yang kelihatannya sesuai dengan cara berfikir pada waktu itu; tetapi mengandung pernyataan-pernyataan yang sekarang tidak dapatditerima secara ilmiah. Pernyataan-pemyataan tersebut terselip dalam doktrin dan hukum Islam yang semua orang menganggap autentik dan tak berani mempersoalkannya
Akhirnya, kita harus mengetahui bahwa sikap Nabi Muhammad terhadap Qur-an sangat berbeda dengan sikap beliau terhadap ucapan-ucapan beliau pribadi. Qur-an tidak merupakan fatwa-fatwa beliau. Qur-an adalah wahyu Ilahi. Nabi menyusun bagian-bagian Qur-an dalam waktu kurang lebih dua puluh tahun dengan sangat hati-hati seperti yang sudah kita lihat. Qur-an merupakan hal yang harus ditulis selama Nabi Muhammad masih hidup. dan harus dihafalkan untuk dijadikan bacaan sembahyang. Adapun Hadits yang disajikan sebagai hal yang menunjukkan tindakan dan ucapan Nabi, hadits itu diserahkan kepada pengikutnya untuk menjadi contoh dalam tindakan mereka dan untuk ditulis sebagaimana mereka fahami. Ia tidak memberi pengarahan dalam hal ini.
Oleh karena hanya jumlah tertentu daripada hadits dapat dianggap secara pasti sebagai pemikiran Nabi Muhammad, maka kebanyakan hadits hanya menunjukkan hal-hal yang dianggap benar oleh orang-orang pada zaman dahulu, khususnya tentang hal-hal ilmiah yang telah disebutkan dalam ketabiban. Dengan membandingkan teks hadits dengan teks Qur-an, kita dapat membedakan antara Qur-an dan hadits yang tidak benar dan tidak autentik. Perbandingan ini menjelaskan perbedaan besar antara tulisan-tulisan pada waktu itu yang penuh dengan kekeliruan-kekeliruan ilmiah, dengan Qur-an, wahyu yang sudah dibukukan dan yang bebas dari kesalahan-kesalahan ilmiah.
Ketika penterjemah bertemu dengan pengarang dalam konferensi pemikiran Islam di Aljazair pada bulan September 1978, pengarang berpesan agar paragraf dibawah ini ditambahkan dalam Bab Qur-an, Hadits dan Sains modern. Dalam cetakan keenam, (bahasa Perancis) paragraf tersebut memang telah dimuat.
Kebenaran Hadits dari segi keagamaan sama sekali tidak menjadi persoalan. Tetapi jika Hadits itu membicarakan soal-soal profane (bukan agama), maka tak ada perbedaan antara Nabi Muhammad dan manusia lainnya. Sebuah Hadits meriwayatkan pernyataan Nabi Muhammad sebagai berikut: "Jika aku berikan perintah kepadamu mengenai agama, ikutilah, dan jika aku menyampaikan sesuatu hal yang berasal dari pendapatku sendiri, ingatlah bahwa aku adalah seorang manusia." Al Saraksi dalam bukunya "al Usul" menafsirkan, sebagai berikut: "Jika aku memberi tahu tentang hal agama, kerjakanlah menurut keteranganku dan jika aku memberitahu tentang soal-soal keduniaan, maka sesungguhnya kamu lebih tahu tentang urusan keduniaanmu."
KONKLUSI UMUM
Pada akhir penyelidikan, telah nyata bahwa pendapat yang dianut kebanyakan orang di Barat tentang kitab-kitab suci yang kita miliki sekarang adalah tidak benar. Kita telah melihat keadaan-keadaan dan zaman-zaman serta caranya unsur-unsur Perjanjian Lama, Injil, dan Qur-an dikumpulkan dan disusun. Keadaan yang mendahului lahirnya tiga kitab wahyu berbeda sekali satu dengan lainnya; hal ini menimbulkan akibat yang sangat penting mengenai autentisitas teks dan aspek-aspek tertentu mengenai isinya.
Perjanjian Lama merupakan kumpulan karya sastra yang dihasilkan selama ± 9 abad. Perjanjian Lama merupakan campuran mosaik yang unsur-unsurnya sepanjang masa telah dirubah-rubah oleh manusia; beberapa paragraf baru ditambahkan kepada yang sudah ada sehingga pada waktu sekarang sangat sulit untuk menemukan asalnya.
Injil dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada manusia dengan jalan meriwayatkan tindakan dan ucapan Yesus, yaitu ajaran-ajaran yang ia ingin mewariskan ketika tugasnya di atas bumi sudah selesai. Kesulitan yang terdapat dalam Injil ialah bahwa penulis-penulisnya bukan saksi mata yang menyaksikan fakta-fakta yang mereka laporkan. Ajaran-ajaran Injil hanya merupakan ekspresi berita tentang kehidupan Yesus yang ditulis oleh juru bicara masyarakat Yahudi Kristen, dalam bentuk tradisi lisan atau tulisan yang sekarang sudah musnah, dan yang dahulu menjadi perantara antara tradisi lisan dan teks yang definitif.
Dengan latar belakang inilah orang harus memandang kitab suci Yahudi Kristen, dan jika kita ingin memikir secara obyektif, kita harus meninggalkan konsepsi tafsir-tafsir kuno.
Banyaknya sumber-sumber asal, mengakibatkan kontradiksi dan pertentangan yang tak dapat dielakkan dan yang telah kita berikan contoh-contoh yang banyak. Pengarang-pengarang Injil mempunyai kecenderungan untuk membesar-besarkan beberapa fakta mengenai Yesus, sebagai mana pengarang sastra epik Perancis di abad Pertengahan berbuat tentang "Chansons degeste." Dengan begitu maka kejadian-kejadian digambarkan dengan nada khusus yang dõmiliki oleh pengarang-pengarang itu, dan autentisitas fakta yang diriwayatkan, dalam beberapa kasus menjadi sangat diragukan. Dalam kondisi semacam itu, pernyataan-pernyataan kitab suci Yahudi Kristen yang ada hubungannya dengan pengetahuan modern harus diteliti dengan sikap hati-hati (reserve) yang diharuskan oleh aspeknya yang diragukan.
Kontradiksi, kekeliruan, pertentangan dengan hasil-hasil penyelidikan Sains modern dapat difahami sepenuhnya kare na hal-hal yang kita uraikan di atas. Tetapi rasa keheran-heranan umat Kristen menjadi besar jika mereka mengetahui bahwa usaha ahli-ahli tafsir resmi dilangsungkan secara mendalam dan terus menerus untuk menutupi hal-hal yang bertentangan dengan pengetahuan modern, dengan permainan akrobatik dialektik yang hilang dalam lyrik apologi. Contoh tentang hal ini kita dapatkan dalam silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius dan Lukas yang kontradiksi dan tak dapat diterima secara ilmiah, dan menunjukkan keadaan mental yang tidak wajar. Injil Yahya menarik perhatian kita karena perbedaan-perbedaannya yang menyolok dengan ketiga Injil lainnya khususnya mengenai kesepian yang biasanya tidak diperhatikan orang, yaitu tidak disebutkannya Ekaristi di dalamnya.
Wahyu Qur-an mempunyai sejarah yang secara fundarnental berbeda dengan dua kitab suci sebelurnnya. Diturunkan bertahap-tahap dalam waktu kurang lebih dua puluh tahun. Quran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Malaekat Jibril, bicara langsung terus dihafalkan oleh orang-orang yang percaya dan pada waktu yang sama ditulis juga pada waktu Nabi Muhammad masih hidup- Penelitian Qur-an yang terakhir yang diselenggarakan 24 tahun sesudah meninggalnya Nabi Muhammad, dan di bawah pemerintahan Usman, dikuatkan oleh kontrol orang-orang yang memang sudah hafal teks Qur-an, karena mereka mengerti Qur-an pada waktu turunnya wahyu dan kemudian selalu mengulangi hafalannya. Dari semenjak itu teks Qur-an telah dipelihara secara sangat ketat. Qur-an tidak mengandung problem tentang autentik atau tidak autentik.
Qur-an yang diwahyukan sesudah kedua kitab suci sebelumnya, bukan saja bebas dari kontradiksi dalam riwayat-riwayatnya, kontradiksi yang menjadi ciri Injil-Injil karena disusun oleh manusia tetapi juga menyajikan kepada orang yang mempelajarinya secara obyektif dengan mengambil petunjuk dari Sains modern, suatu sifat yang khusus, yakni persesuaian yang sempurna dengan hasil Sains modern. Lebih dari itu semua, sebagai yang sudah kita buktikan Qur-an mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern yang tidak masuk akal jika dikatakan bahwa orang yang hidup pada waktu Qur-an diwahyukan itu adalah pencetus-pencetusnya. Dengan begitu maka pengetahuan ilmiah modern memungkinkan kita memahami ayat-ayat tertentu dalam Qur-an yang sampai sekarang tidak dapat ditafsirkan.
Perbandingan beberapa riwayat Bibel dengan riwayat Quran tentang hal yang sama menunjukkan adanya perbedaan fundamental antara pernyataan Bibel yang tak dapat diterima secara ilmiah dengan pernyataan Qur-an yang sesuai sepenuhnya dengan Sains modern, umpamanya tentang penciptaan dan tentang banjir Nabi Nuh seperti yang sudah kita lihat.
Mengenai Exodus Musa kita dapatkan dalam Qur-an suatu tambahan yang berharga kepada riwayat Perjanjian Lama. Tambahan itu seluruhnya sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan arkeologi yang menunjukkan bila kejadian-kejadian dalam sejarah Musa itu terjadi. Perbedaan sangat penting antara Qur-an dan Bibel dalam soal-soal lain adalah pertentangan dengan anggapan bahwa Muhammad menjiplak suatu copy Bibel untuk menulis Qur-an, semua itu tanpa bukti.
Akhirnya, penelitian perbandingan tentang penyataan yang penting untuk Sains, terdapat dalam Hadits, kata-kata Muhammad; tetapi banyak di antara yang disangsikan kebenarannya, walaupun menunjukkan kepercayaan manusia pada waktu itu dan di lain pihak pernyataan Qur-an yang mengenai Sains juga, menunjukkan perbedaan besar yang meyakinkan kita bahwa sumber Hadits berlainan dengan sumber Qur-an.
Orang tidak dapat menggambarkan bahwa banyak pernyataan Qur-an yang mempunyai aspek ilmiah itu adalah karya manusia, karena keadaan pengetahuan pada zaman Muhammad tidak memungkinkan hal tersebut. Oleh karena itu adalah wajar, bukan saja untuk mengatakan bahwa Qur-an itu ekspresi suatu wahyu akan tetapi juga untuk memberikan kedududukan yang istimewa kepada wahyu Qur-an berhubung dengan jaminan autentisitasnya dan berhubung dengan terdapatnya pernyataan-pernyataan ilmiah yang setelah- diteliti pada zaman kita sekarang ini, ternyata sebagai satu tantangan kepada penjelasan yang berasal dari manusia.
Catatan kaki:
1 Tiap tiap bentuk permusuhan terhadap Islam,
walaupun datangnya dari musuh-musuh
agama Kristen, pada waktu tertentu
dalam sejarah, mendapat smbutan yang hangat
dari pembesar-pembesar tertinggi dalam gereja Katolik. Paus Benoit XIV yang mashur sebagai Paus yang
terbesar pada abad XVIII, tidak ragu-ragu untuk mengirim restunya kepada
Voltaire. Dengan mengirim restu itu, Paus tersebut ingin menyampaikan terima
kasihnya, karena Voltaire mempersembahkan karangannya "Mohammad atau
Fanatisme" (1741) kepada Paus Benoit XIV tersebut. Karangan tersebut
merupakan ejekan kasar terhadap
Muhammad, yang kwalitasnya sama dengan
buku apa saja yang ditulis oleh ahli pena yang pandai tetapi beriktikad
jahat. Tragedi tersebut mendapat kehormatan karena termasuk dalam lakon-lakon
dalam kumpulan Comedie Francaise.
3 Soal bahasa
dan terjemahan memang sulit. Di Indonesia sebaliknya. Kita lebih suka memakai
kata "Allah" sebab sudah terang bahwa "Allah" adalah kata
yang tersebut dalam Al Qur-an dan sebagian besar bangsa Indonesia beragama
Islam. Kata "Allah" mempunyai konotasi sendiri yakni: sifat-sifat
yang ada dalam Qur-an seperti sifat Tunggal, adil, bijaksana, pemurah,
penyayang dan seterusnya, sedang kata Tuhan mempunyai konotasi menurut agama
orang yang memakainya (Rasjidi).
4 Para
penterjemah Qur-an yang masyhur-masyhur tidak terlepas danpada kebiasaan sekuler
ini, yakni memasukkan dalam terjemahan mereka hal-hal yang tak terdapat dalam teks
Arab. Dengan tidak merubah teks, orang dapat menambah judul yang tak terdapat
dalam teks asli, dan tambahan itu merubah arti umum -- R. Blachere dalam terjemahannya
yang terkenal, terbitan Maisonneuse tahun 1966 halaman 115, memasukkan judul
yang tak terdapat dalam Qur-an di atas ayat-ayat yang memang mengajak umat
Islam untuk memegang senjata, akan tetapi bukan mengajak kepada agressi, R.
Blachere membubuhi judul "Kewajiban untuk melakukan perang suci."
Tentu saja pembaca yang tidak dapat memahami Qur-an kecuali dengan terjemahan
akan merasa yakin bahwa seorang Islam wajib melakukan Perang Suci.
5 Menurut
penyelidikan, ketika Nabi Muhammad masih hidup ada beberapa sahabat yang mengumpulkan
Hadits-Hadits untuk keperluan pribadi; Penterjemah Rasyidi.
6 Wahyu ini
telah merubah keadaan Nabi Muhammad. Kita akan membicarakan artinya, khususnya
berhubung karena Nabi Muhammad tak dapat membaca dan menulis pada waktu itu.
7 Pengarang
menghitung waktu turunnya wahyu Kerasulan Muhammad adalah 23 tahun, 13 di Mekah
dan 10 di Medinah.
Tetapi
antara wahyu pertama dan kedua terjadi masa putus selama 3 tahun. (Rasjidi).
8 Saya pernah
baca di majalah Time beberapa Tahun yang lalu, bahwa Presiden Russia, Breznev
menghadiahkan mushaf Uthmani berasal dari Tasykent kepada Kepala Negara Libya, Mua'mmar Qadhafi.
9 Riwayat
Bibel yang dimaksudkan di sini adalah riwayat Sakerdotal (riwayat para pendeta)
yang telah dibicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini. Riwayat Yahwist yang
hanya diringkas dalam beberapa baris dalam teks Bibel sekarang adalah sangat
tidak berarti untuk dibicarakan.
10 Kita
dapatkan bahwa bulan dan matahari yang keduanya dalam Bibel dinamakan benda
bercahaya, di sini dan di lain tempat dalam Qur-an diberi dua nama yang
berbeda. Di sini bulan dinamakan cahaya
(nur) dan matahari dibandingkan dengan pelita (siraj) yang mengeluarkan cahaya.
Di lain tempat kita akan mendapatkan nama-nama atau sifat lain untuk matahari.
11 Di luar
Qur-an, pada zaman Nabi dan abad-abad sesudahnya dalam teks-teks yang
meriwayatkan Hadits angka 7 dipakai untuk menunjukkan "banyak."
12 Pernyataaan
bahwa penciptaan sama sekali tidak meletihkan Tuhan nampak sebagai jawaban yang
tepat terhadap riwayat Bibel yang kita muat dalam bagian pertama daripada buku
ini, yaitu bagian yang mengatakan bahwa Tuhan beristirahat pada hari ketujuh
sesudah Dia bekerja pada hari-hari sebelumnya.
13 Mengenai
bulan, orang berpendapat bahwa asalnya adalah pecahan daripada bumi, disebabkan
oleh makin lambatnya peredaran.
14 Saya sering
mendengar dari orang-orang yang berusaha mencari penjelasan manusiawi mengenai
soal-soal yang ditimbulkan oleh Qur-an, bahwa Qur-an memuat keterangan-keterangan
yang tepat dan mengherankan tentang astronomi, hal itu karena orang Arab memang menonjol dalam pengetahuan astronomi. Penjelasan
seperti tersebut melupakan bahwa pada umumnya perkembangan Sains di
negara-negara Islam terjadi setelah Qur-an selesai diwahyukan, dan melupakan
pula bahwa pengetahuan ilmiah pada periode yang agung itu tidak memungkinkan
seorang manusia untuk menulis ayat-ayat tentang astronomi yang kita dapatkan
dalam Qur-an. Pembuktian tentang hal ini
akan saya berikan dalam paragraf-paragraf yang akan datang.
17 Kota
Sana'a, sekarang ibu kota Yaman telah didiami orang pada zaman Nabi Muhammad. Kota itu terletak
dalam ketinggian 2400 m.
18 Dalam ayat
lain (surat 6 ayat 98) "tempat menetap" dikatakan dengan istilah yang
sangat dekat dengan istilah di atas dan dapat berarti uterus (rahim) ibu. Secara
pribadi saya berpendapat bahwa itulah arti ayat tadi, akan tetapi
interpretasinya yang terperinci memerlukan perkembangan-perkembangan yang di
sini bukan tempatnya untuk menyebutkannya. Surat 39 ayat 6 artinya: "Dia menjadikan kamu dalam badan
ibumu, kejadian demi kejadian, dalam tiga kegelapan." Juga memerlukan
interpretasi yang tepat. Ahli-ahli tafsir modern mengartikannya sebagai tiga
bagian anatomik yang memelihara bayi dalam kandungan: dinding perut, rahim dan
zat-zat yang membungkus bayi (placenta, membrane, dan cairan aminotik). Saya merasa perlu
menyebutkan ayat tersebut agar
penyelidikan ini menjadi sempurna. Interpretasi yang diberikan di sini secara
anatomis tak dapat dibantah, tetapi apakah itu yang dimaksudkan oleh teks
Qur-an.
19 Sepanjang
pengetahuan penterjemah, hanya R. Blachere yang mengartikan ayat tersebut dengan
pengertian itu.
20 Semenjak
manusia mengetahui tentang kronologi zaman kuno dan mengetahui bahwa khayalan
kronologi daripada penulis-penulis teks Sakerdotal dalam Perjanjian Lama tidak
dapat dipercaya, kronologi tersebut lekas-lekas dihilangkan dari Bibel. Tetapi
ahli tafsir modern tentang silsilah keturunan, yang sampai sekarang masih dimuat
dalam Bibel, tidak menarik perhatian pembaca Bibel yang dicetak untuk awam
kepada kesaiahan-kesalahan yang terdapat dalam Bibel.
21 Rass adalah
telaga yang sudah kering, kaum Rass menyembah patung dan Tuhan mengutus Nabi
Syu'aib kepada mereka.
23 Pada masa
jayanya dinasti Ptolomeus, sebelum dihancurkan oleh tentara Romawi di
Iskandariyah terdapat dokumen-dokumen penting tentang sejarah kuno. Dokumen-dokumen
tersebut sudah hilang.
24 Dalam
sejarah suci pada permulaan abad XX seperti yang dikarang oleh pendeta H.
Lesetre untuk pelajaran-pelajaran
agama, disebutkan bahwa Exodus terjadi pada waktu Mineptah memerintah Mesir.
25 R. P.B.
Couroyer, Professor di Sekolah Bibel Yerusalem, dalam komentarnya tentang Kitab Kejadian
mengatakan bahwa nama "Israil"
selalu disertai kata "aku" dan bukan "negara" seperti nama-nama
lain yang terdapatdalam dokumen.
29 Mumia
Ramses II, seorang saksi dalam sejarah Nabi Musa juga menjadi bahan
penyelidikan seperti mumia Mineptah.Penyelidikan tersebut memerlukan daya upaya
yang sama.
30
Sesungguhnya, kata yang lebih tepat adalah Sunnah Nabi. Hadits berarti riwayat, yakni orang-orang
yang bernama baik itu meriwayatkan
tentang Sunnah Nabi. (penterjemah).
31 Dalam
menguraikan pendapatnya mengenai Hadits obat-obatan, pengarang menimbulkan kesan bahwa
ia sangat terpengaruh dengan pengobatan modern. Hal ini
dapat difahami karena ia adalah seorang
dokter ahli bedah yang hidup di Paris Barangkali kalau ia mengunjungi Indonesia ia akan keheran-heranan melihat
jamu-jamu dan pengobatan tradisional
yang masih dipraktekkan orang (penterjemah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar