YESUS SEORANG MUSLIM
DAN
YESUS MENIKAH
O
L
E
H
MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd
DAFTAR ISI
JUDUL …………………………………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………... iii
BAB I PENGERTIAN ISLAM DAN MUSLIM
.......................................................................... 1
Arti Kata “Islam”
………………...................................................................................... 1
Arti
Kata “Muslim”
......................................................................................................... 2
Islam Sudah Hadir Sejak Adam Diciptakan
................................................................. 2
Rukun Iman dan Rukun Islam
...................................................................................... 3
BAB II YESUS TIDAK BERAGAMA KRISTEN
....................................................................... 4
BAB III YESUS
MENGAJARKAN TAUHID ………………………………………………………... 6
Pengertian dan Makna Tauhid
..................................................................................... 6
Sahadat Yesus
............................................................................................................. 7
Umat Kristen Tidak Mengakui Tauhid
.......................................................................... 8
BAB IV YESUS
MELAKSANAKAN SHOLAT, PUASA, DAN ZAKAT …………………………... 11
Yesus Melaksanakan Sholat ........................................................................................ 11
Hikmah Gerakan Sholat
............................................................................................... 12
Yesus Melaksanakan Puasa ........................................................................................ 13
Yesus Melaksanakan Zakat
......................................................................................... 14
BAB V YESUS
BERCITA-CITA KE MEKKAH ……………………………………………………. 17
Ibadah Haji Para Nabi Terdahulu
………………………………………………………….. 17
Yesus Ingin Melembagakan Ibadah Haji
..................................................................... 20
BAB VI PENYEBAB MUNCULNYA PERBEDAAN AGAMA
..................................................... 22
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi
............................................................................. 22
Kemalasan Berpikir
...................................................................................................... 22
Alasan Manusia Diciptakan .......................................................................................... 23
Manusia Itu Sebenarnya Beragama Satu
.................................................................... 24
Mengapa Allah Membiarkan Manusia Terpecah Kedalam Berbagai Agama?
............ 26
BAB VII YESUS
MENIKAH …………………………………………………………………………... 27
Isyarat Al Qur’an Tentang Pernikahan Yesus ……………………………………………. 27
Pesta Pernikahan Yesus : Mencurahkan Minyak Wangi ……………………………….. 27
Yesus Adalah “Rabbi” yang Harus Menikah ……………………………………………... 28
Kisah Lazarus ……………………………………………………………………………….. 29
Kedekatan Maria Pasca Penyaliban ………………………………………………………. 29
Yesus Mencintai Maria Magdalena
……………………………………………………...... 30
Petrus Cemburu Terhadap Maria Magdalena
……………………………………………. 30
BAB VIII KRONOLOGIS
PERNIKAHAN YESUS …………………………………………………... 31
BAB IX GEREJA
MENUTUPI INFORMASI PERNIKAHAN YESUS ……………………………. 33
DAFTAR PUSTAKA
.................................................................................................................... 34
BAB I
PENGERTIAN ISLAM DAN MUSLIM
Arti Kata “Islam”
“Islam” artinya
adalah penerimaan dari suatu pandangan atau suatu keadaan yang mula-mula
ditolak atau tidak diterima. Maksudnya adalah bahwa ajaran Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW, memiliki keterkaitan atau hubungan yang sangat erat
dengan ajaran mula-mula yang dibawa oleh para nabi dan rasul pendahulunya. Islam
merupakan ajaran yang berisikan perintah Tuhan, yang memperlihatkan, mengulang
kembali, dan sekaligus melengkapi ajaran-ajaran para nabi dan rasul-rasul
terdahulu. Inti ajaran Islam sama persis dengan ajaran para nabi dan
rasul-rasul terdahulu, yakni penekanan keimanan terhadap Tauhid atau Keesaan
Tuhan dan membenci semua paham yang mengingkari Keesaan Tuhan. Ajaran Tauhid merupakan
ajaran pokok yang diajarkan oleh Nabi Adam, Idris, Nuh, Shaleh, Abraham, Musa,
Harun, Daud, Sulaiman, Yakub, Yusuf, Zakaria, Yohanes Pembaptis, Yesus, sampai
dengan Nabi Muhammad SAW. Jadi, inti dari ajaran Islam adalah Tauhid, yang
menyatakan bahwa “Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah”.
Dalam Al-Qur'an,
Islam juga dapat diartikan sebagai kerelaan hati, kepasrahan diri, dan
kepatuhan total dari seseorang untuk menjalankan perintah Tuhan dan
mengikutinya secara utuh tanpa boleh membantah. Arti Islam ini secara jelas
dapat dilihat dalam Firman Allah sebagai berikut :
“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka
katakanlah : Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula)
orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah
diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi : Apakah kamu (mau) masuk
Islam. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk,
dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat
Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran:20)
Alkitab juga
memuat beberapa pengertian kata Islam, antara lain : mengasihi Tuhan dengan
segenap hati, jiwa, akal, dan seluruh kekuatan diri (Ulangan 6:5, Matius 22:37, Markus
12:30 dan Lukas
10:27), dan
tunduk, mendekat, mensucikan diri, dan merendah dihadapan Tuhan (Yakobus 4:7-8).
Nama “Islam”
tidak dikarang-karang oleh manusia, tapi nama tersebut langsung diberikan oleh
Pencipta-Nya sendiri, yakni Allah sebagai nama untuk sebuah agama. Hal ini
dapat dilihat pada Firman-Nya sebagai berikut :
“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu...” (Q.S.Al-Maa’idah 5:3)
Islam juga adalah
satu-satunya agama yang direkomendasikan dan disetujui oleh Allah. Hal ini
dapat dilihat pada Firman-Nya sebagai berikut :
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat
cepat hisab-Nya.” (Q.S. Ali Imran:19)
Kata “Islam”
memperoleh arti yang khusus setelah mengenal pesan yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad SAW. Pesan yang disampaikan pada Muhammad dinamakan Islam, dan mengaku
percaya pada pesan-pesannya adalah juga Islam.
Kepasrahan
merupakan definisi utama berkenaan dengan etimologi kata Islam, namun ada
juga definisi sekunder, yaitu kedamaian, jalan yang lurus, keselamatan,
dan salam sejahtera. Jadi, hanya dengan kepasrahan total dan utuh kepada
Allahlah seorang muslim benar-benar akan mengalami kedamaian spiritual,
mendapatkan petunjuk jalan yang lurus, dan mendapatkan keselamatan dan
kesejahteraan lahir dan batin.
Arti Kata “Muslim”
"Muslim"
adalah kata keadaan daripada Islam. Maksudnya ialah orang-orang yang bersedia
atau rela menjalankan perintah Tuhan dan mengikutinya dengan baik dan benar. Muslim
secara harfiah berarti orang yang pasrah atau berserah, seseorang yang sepenuhnya
pasrah kepada Allah. Secara khusus Muslim, berarti seorang yang mengikuti pesan-pesan Nabi Muhammad SAW
dan percaya akan kebenarannya. Apabila kita telah percaya pada kebenaran Nabi
Muhammad SAW dan mengikuti
pesan-pesannya, maka kita dituntut untuk memulai kerelaan mematuhi
perintah-perintah Tuhan tanpa syarat. Jelasnya, orang yang beriman kepada Allah
dan mempraktikkan ajaran Islam disebut dengan muslim.
Islam Sudah Hadir Sejak Adam Diciptakan
Agama Islam
dalam pandangan Al-Qur'an tidak diciptakan pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi
sudah hadir semenjak manusia pertama, Nabi Adam AS.
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka
ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Q.S.
Thaahaa:115)
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa
yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah
agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang
musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu
orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang
kembali (kepada-Nya).” (Q.S. Asy-Syuura:13)
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani,
akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah),
dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang
mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada
Nabi Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Q.S.
Ali Imran: 67-68).
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,
demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Seseungguhnya
Allah telah memilih agama ini (Islam) bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali
dalam memeluk agama Islam." (Q.S.Al Baqarah:132)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
(untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut
itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Q.S. An Nahl:36)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan
Kami wahyukan kepadanya : Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku,
maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Q.S. Al Anbiyaa’:25)
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum
kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka
ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul
membawa suatu mu'jizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah
datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu
rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” (Q.S. Al Mu’min:78)
Beberapa ayat
Al-Qur'an di atas dengan jelas menegaskan bahwa Islam sudah hadir semenjak
zaman Adam. Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa nabi dan rasul itu tidak hanya
berjumlah 25 orang saja sebagaimana tersebut namanya di dalam Al-Qur'an, tetapi
melebihi jumlah itu (Q.S. Al Mu’min:78), namun Al-Qur'an tidak menjelaskan
angka pastinya. Jelasnya, Allah telah mengutus nabi dan rasul kepada tiap-tiap
umat di muka bumi ini (Q.S. An Nahl:36) dan senantiasa memerintahkan
makhluk-Nya untuk hanya menyembah kepada-Nya, karena tidak ada tuhan selain
Allah (Q.S. Al Anbiyaa:25). Inilah inti dari agama Islam.
Rukun Iman dan Rukun Islam
Iman merupakan dasar dari agama, karena tanpa iman
tidak akan ada agama. Khusus bagi orang-orang Islam, mereka dituntut dengan 6
(enam) dasar keimanan, yakni : iman kepada Allah, iman kepada adanya
malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada para nabi
dan rasul-rasul Allah, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada takdir dan
kehendak Allah.
Iman dapat diumpamakan sebagai dasar sebuah
bangunan (pondasi), namun belum bisa menjadi sebuah rumah. Nah, untuk itu
dibutuhkan tiang/pilar-pilar, semen, pasir, batu-bata, kayu, dan genteng untuk
dapat mendirikan sebuah rumah yang megah. Tiang, semen, pasir, dan seterusnya
itulah yang disebut dengan rukun Islam. Jumlah rukun Islam ada 5 (lima) yang
merupakan ibadah paling utama yang harus dilakukan oleh umat Islam, yakni 1.
mengucapkan kalimat sahadat; 2. melakukan sholat lima kali sehari; 3. berpuasa
pada bulan Ramadhan; 4. membayar zakat; dan 5. menunaikan haji (sekali seumur
hidup) ke Mekkah, jika mampu.
Lalu bagaimana dengan Yesus, apakah beliau juga
melaksanakan rukun Islam? Ya, benar! Selama hidupnya Yesus ternyata melakukan
ibadah yang sama dengan yang dilakukan oleh umat Islam sekarang ini. Mari kita
lihat dan buktikan, bahwa Yesus memang benar-benar seorang muslim.
BAB II
YESUS TIDAK BERAGAMA
KRISTEN
Beberapa sejarawan dan pakar Alkitab internasional
telah membuktikan bahwa Yesus selama hidupnya tidak pernah berurusan dengan
agama yang bernama “Kristen”. Yesus bahkan tidak tahu menahu dengan adanya
agama Kristen tersebut.
Button L. Mark dalam bukunya “Who Knows a New
Testament” yang dikutip Dr. Sanihu Munir, mengatakan bahwa para murid-murid Yesus
tidak pernah menganggap Yesus sebagai Kristus, karena Yesus bukanlah pendiri
agama Kristen.
Selanjutnya Dr. Sanihu Munir, mengutip pendapat Michael
Bigent, dkk mengatakan bahwa Kristen tidak dapat lagi berkaitan dengan ajaran
Yesus, tetapi hanya terkait dengan gambar Yesus saja. Paulus merupakan pendiri
dan bapaknya agama Kristen, karena agama Kristen memang dibuat dan
diperkenalkan sendiri oleh Paulus.
Dalam naskah laut mati dikatakan bahwa Yesus, Yohanes
Pembaptis, dan murid-muridnya bergabung dalam sebuah kelompok yang disebut dengan
”jalan yang lurus”. Jalan lurus artinya jalannya orang-orang yang hanya tunduk
dan patuh kepada perintah Allah semata, dan bukan jalannya orang-orang yang
sesat. Yesus berkata dalam Alkitab :
”Akulah jalan kebenaran
dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui
Aku.” (Yohanes 14 : 6)
Dalam konteks sejarah dan ajaran Yahudi, yang
dimaksud dengan perkataan Yesus tentang ”jalan kebenaran” itu adalah nama suatu
agama, yang kemudian diadopsi oleh kelompok dan para pengikut Yesus. Mereka
menamakan kelompoknya sebagai ”jalan yang lurus”. Kelompok itu terdiri dari
orang-orang Yahudi-Nasara yang menyembah Allah (bukan orang-orang Yunani).
Dalam Al-Quran, kata-kata “Jalan yang lurus” itu
terdapat pada Al-Qur’an Surat Al-Fatihah ayat 6, yang berbunyi : “Ihdinas
shiroothal mustaqiim” yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Jalan
yang lurus artinya memberi petunjuk kepada kebenaran, dan bukan merupakan jalan
yang sesat. Jalan yang lurus adalah jalan yang benar, dan jalan yang benar
adalah Islam. Yesus dan murid-muridnya dapat dikatakan adalah orang-orang yang
mengikuti jalan Islam.
Pakar Alkitab dan Sejarawan Kristen bernama A.N. Wilson
dalam bukunya ”Jesus of Live” halaman 7 yang dikutip oleh Dr. Sanihu Munir, mengatakan
bahwa para pengikut Paulus dan orang-orang gereja romawi yang hidup dan berkembang
sesudah wafatnya Yesus, tidak pernah bisa memahami ajaran jalan yang lurus yang
diajarkan Yesus. Mereka tidak mengerti sejarah bahwa Yesus itu adalah orang
Yahudi yang hidup dalam alam Yahudi, dan bukan alam Yunani yang penuh dengan
ajaran berhala.
Sejak awal untuk bisa bergabung dengan kelompok
jalan yang lurus, seseorang disyaratkan untuk bersunat.
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku
dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus
disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian
antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni
setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu,
maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk
keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang
harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang
kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit
khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang
sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." (Kejadian 17:11-14)
“Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur
delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.” (Kejadian 21:4)
“Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi
nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.”
(Lukas 2:21)
Harap dicatat,
Paulus sebagai pendiri agama Kristen justru mengharamkan sunat (Galatia 5:6 dan 1 Korintus 7:1-19), artinya ia memang
terang-terangan menentang ajaran Yesus sebagai ajaran jalan yang lurus. Aneh!?
Umat Kristen yang suka membangga-banggakan Yesus, justru menolak ajaran sunat
yang merupakan syarat mutlak untuk dapat diterima sebagai pengikut Yesus.
Sebaliknya umat Islam justru mengikuti ajaran sunat yang dipersyaratkan oleh
Yesus. Bahkan umat Islam sendiri menjadikan sunat sebagai syarat sah bagi
seseorang untuk bisa melakukan sholat. Tanpa sunat, tidak bisa sholat. Tanpa sholat, maka ia bukan Islam.
Dr. Sanihu Munir mengutip pernyataan Hendry
Cadwick dalam bukunya “The Early Christian”, mengatakan bahwa orang Yahudi
biasanya menyebut pengikut Yesus sebagai orang-orang Nasara (Nasrani) atau Muslim.
Jadi mustahil Yesus beragama Kristen. Sebab kata
“Kristen” sendiri berasal dari kata “Kristus”, yang artinya orang yang menyembah
Yesus Kristus atau menjadikan Yesus sebagai Tuhan atau orang-orang yang
menyembah Tuhan dalam nama Yesus. Suatu hal yang aneh dan tidak masuk akal,
jika Yesus mengajarkan ajaran yang harus menyembah dirinya sendiri, karena
selama hidupnya Yesus mengatakan hanya Tuhan yang baik dan patut disembah. Coba
perhatikan perkataan Yesus berikut ini :
"Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya
kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4:10 dan Lukas 4:8)
“Jawab Yesus : Mengapa engkau memanggil-Ku Guru yang baik, hanya
satu yang baik, yaitu Tuhan. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup,
turutilah segala perintah-Nya. (Matius 19:17 ~ Alkitab KJV Douay-Rheims
Bible)
Dapat
dipastikan Yesus adalah seorang muslim, sebab ia tidak pernah sekalipun berani
mengatakan dirinya adalah Tuhan. Muslim
yang baik adalah orang-orang yang takut menyekutukan Tuhan. Seorang Muslim
tidak berani menyatakan Tuhan itu ada tiga atau lebih. Seorang Muslim hanya mau
mengatakan Tuhan itu Esa. Dalam Al-Qur’an, Allah sendiri menegaskan bahwa Yesus
tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah-sembah.
Firman Allah :
“Dan tatkala Isa (Yesus) datang membawa keterangan dia berkata : Sesungguhnya
aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu
sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada
Allah dan taatlah (kepada) ku. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu
maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah
golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang
besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).” (Q.S.
Az-Zukhruf:63-65)
BAB III
YESUS MENGAJARKAN TAUHID
Pengertian dan Makna Tauhid
Perkataan tauhid sebenarnya berasal dari bahasa Arab,
masdar dari kata wahhada yuwahhidu. Secara etimologis, tauhid berarti peng-esa-an. Maksudnya,
iktikad atau keyakinan bahwa Allah SWT adalah Esa/Tunggal/Satu. Pengertian ini
sejalan dengan pengertian dalam bahasa Indonesia, yaitu "keEsaan
Allah"; mentauhidkan berarti mengakui ke-Esaan Allah; meng-Esakan
Allah". Kata tauhid tidak tercantum dalam Al-Quran kecuali dalam hadits
nabi, yaitu pada saat Rasulullah mengirim Mu'adz ibn Jabal sebagai Gubernur di
Yaman.
Inti dari ajaran tauhid adalah keyakinan bahwa Allah SWT
adalah Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan Selain Allah. Penegasan akan keesaan
Allah banyak sekali dinyatakan dalam Al Quran, seperti dikutip dibawah ini :
"Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah
adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Ia tidak beranak dan
tidak diperanakkan. Tak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (Q.S. Al Ikhlas:1-4)
“Maha suci Tuhan, Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa." (Q.S. Az Zumar:4)
Keesaan Allah juga terdapat pada
Al-Qur’an Surat An-Nisa' ayat 171, Surat Al- Maidah ayat 73, Surat Al-Anbiya
ayat 22, dan beberapa ayat-ayat lainnya, yang secara eksplisit maupun implisit
menyebutkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada Tuhan
selain Dia.
Keesaan Allah SWT tidak hanya keesaan
pada zat-Nya, tapi Juga esa pada sifat dan perbuatan-Nya. Yang dimaksud dengan
esa pada zat ialah Zat Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian. Tidak ada
sekutu bagi-Nya dalam memerintah. Esa pada sifat berarti sifat Allah tidak sama
dengan sifat-sifat yang lain dan tak seorangpun yang mempunyai sifat
sebagaimana sifat Allah SWT. Esa pada perbuatan berarti tidak ada seorangpun memiliki
perbuatan sebagaimana perbuatan Allah. la Maha Esa dan menyendiri dalam hal
menciptakan, membuat, mewujudkan, dan membentuk sesuatu.
Tuhan yang tunggal ini bukanlah suatu
wujud seperti diri kita, yang dapat kita indera namun terkadang tidak kita pahami
eksistensinya. Dan Allah telah berkehendak untuk membuat diri-Nya diketahui. Di
dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman kepada Muhammad : "Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi; Aku ingin dikenal.
Kemudian Aku ciptakan alam agar Aku bisa dikenal. Dengan merenungkan tanda-tanda alam
dan ayat-ayat Al-Quran, kaum Muslim dapat memperoleh kilasan aspek keilahian
yang telah dituangkan di alam semesta.
Islam menekankan bahwa manusia hanya
bisa melihat Tuhan melalui aktivitasnya, yang menyesuaikan wujudnya yang tak
terlukiskan itu dengan pemahaman kita yang terbatas. Al Quran memerintahkan
kaum Muslim untuk menanamkan kesadaran yang tak terputus tentang Zat Tuhan yang
melingkupi mereka dari semua sisi: Ke manapun engkau berpaling, maka disanalah
Allah. Al-Quran memandang Tuhan sebagai yang mutlak, pemilik eksistensi sejati,
dan semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tuhan tetap kekal selamanya, dan
Tuhan mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
Di dalam Al Quran, juga disebutkan
sembilan puluh sembilan nama atau sifat Tuhan (Asmaul Husna). Ini menekankan
bahwa Dia "lebih besar", sumber dari semua kualitas positif yang kita
jumpai di alam semesta. Dengan demikian, dunia menjadi ada hanya karena Dia
yang adalah Al-Ghani (kaya dan tak terbatas); memberi kehidupan (Al-Muhyi);
mengetahui segala sesuatu (Al-Alim), berbicara (Al-Kalim); tanpa Dia, takkan
ada kehidupan, pengetahuan, atau kata-kata. Ini merupakan penegasan bahwa hanya
Allah yang memiliki eksistensi yang sejati dan nilai positif. Nama-nama Tuhan
memainkan peran sentral dalam peribadatan Muslim: nama-nama itu dibaca, dihitung pada
bulir-bulir tasbih, dan diucapkan untuk mempertajam kemampuan lain, selain
logika, berupa mata hati yang sanggup mengenalkan manusia kepada penciptaNya.
Semua ini mengingatkan kaum Muslim bahwa Tuhan yang mereka sembah tidak bisa
dicakup oleh kategori-kategori manusia dan mengelak dari definisi yang
sederhana.
Rukun Islam yang pertama adalah
sahadat, pengakuan keimanan seorang Muslim : "Aku bersaksi bahwa tidak ada
tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah." Ini bukan sekedar
penegasan atas eksistensi Tuhan tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupakan
satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah
satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati. Mengucapkan
penegasan ini menuntut kaum Muslim untuk mengintegrasikan kehidupan mereka
dengan menjadikan Allah sebagai fokus dan prioritas tunggal mereka. Intinya,
dalam ajaran tauhid menegaskan bahwa Allah tidak mau disamakan, dibanding-bandingkan,
atau diduakan dengan dewa-dewa, patung-patung berhala, matahari, api, bulan,
bintang, atau apapun namanya yang ada di alam semesta ini, termasuk juga Yesus,
Bapa, atau Roh Kudus. Perhatikan ketegasan Firman Allah berikut ini :
”Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? Firman
Yang Maha Kudus.” (Yesaya 40:25)
”… Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya.” (Q.S.
As Syura:11)
Sahadat Yesus
Para nabi dan
rasul-rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad, juga mengajarkan sahadat yang sama
kepada masing-masing pengikutnya, namun dengan kalimat yang berbeda pada baris
keduanya. Pada zaman Nabi Nuh, kalimat sahadatnya berbunyi : “Tiada tuhan selain
Allah, dan Nabi Nuh adalah utusan Allah”, sementara itu pada zaman Nabi Musa kalimat
sahadatnya berbunyi : “Tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Musa adalah utusan
Allah” dan seterusnya.
Sahadat adalah
operasionalisasi dari rukun iman. Jika kita sudah percaya dan memiliki keimanan
terhadap adanya Tuhan yang Esa, yang tidak beranak, tidak diperanakkan, dan
tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya, maka langkah yang harus dilakukan adalah
mengucapkan ikrar sahadat secara tegas dan membuktikannya di depan orang banyak.
Dalam Alkitab,
ucapan sahadat yang secara tegas mengikrarkan diri kepada Keesaan Tuhan dapat
dilihat sebagai berikut :
1.
Tauhid
(Sahadat) Nabi Musa.
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui,
bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia (Ulangan 4:35). Dengarlah,
hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! (Ulangan 6:4)
Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah
yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang
menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku (Ulangan
32:39).
2.
Tauhid
(Sahadat) Nabi Daud.
Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan Allah,
sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau
menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami (II Samuel 7:22). Tidak
ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa
yang Kaubuat. Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di
hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. Sebab Engkau besar dan
melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. Tunjukkanlah kepadaku
jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku
untuk takut akan nama-Mu. Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku,
dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya (Mazmur
86:8-12)
3.
Tauhid
(Sahadat) Nabi Sulaiman.
Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah
Tuhan di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit,
lalu berkata: "Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di
langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan
kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di
hadapan-Mu (I Raja-Raja 8:22-23)
4.
Tauhid
(Sahadat) Nabi Yesaya.
"Kamu inilah saksi-saksi-Ku,"
demikianlah firman Tuhan, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu
tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak
ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan dan
tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. (Yesaya 43:10-11) Beginilah
firman Tuhan, Raja dan Penebus Israel, Tuhan semesta alam: "Akulah yang
terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.
(Yesaya 44:6) Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku
tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak
mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai
terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah Tuhan dan tidak ada
yang lain, (Yesaya 45:5-6) Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak
purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan
tidak ada yang seperti Aku, (Yesaya 46:9)
5.
Tauhid
(Sahadat) Nabi Yesus.
Jawab Yesus : "Hukum yang terutama
ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa (Markus
12:29). Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku
menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab
Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus
Aku (Yohanes 5:30). Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka
mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang
telah Engkau utus (Yohanes 17:3).
Jadi terbukti
bahwa semua nabi dan para rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW mengajarkan
kalimat sahadat yang didalamnya terkandung ajaran Tauhid, yakni “Tiada Tuhan
yang patut disembah selain Allah”. Semua nabi dan rasul sebenarnya hanya
mengulang-ulang saja perkataan para nabi dan rasul pendahulu mereka. Begitupula
dengan Yesus, beliau mengajarkan kepada murid-muridnya tentang kalimat Tauhid
yang sama seperti yang pernah diajarkan oleh Nabi Musa pada tahun 1400 SM
sebelum Yesus lahir kedunia.
Umat Kristen Tidak Mengakui Tauhid
Seperti kita
ketahui, bahwa umat Kristen dari zaman Paulus sampai sekarang ini sangat
mengagung-agungkan dan memuliakan Yesus setinggi langit, tapi ironisnya, para
kristiani diseluruh dunia tidak pernah sekalipun mau mengucapkan kalimat sahadat
(tauhid) buatan Tuhan yang diajarkan oleh Yesus, 2000 ribu tahun yang lalu. Umat
Kristen di seluruh dunia justru lebih menyukai sahadat yang dibuat dan
ditetapkan oleh Konsili Dewan Gereja
di Nicea pada tanggal 20 Mei 325M.
Sekedar mengingatkan kembali kepada para pembaca
bahwa Konsili Nicea ini diadakan atas prakarsa Kaisar Romawi bernama Constantine,
yang mengundang 220 uskup di Nicea tahun 325. Sebagian besar mereka berasal
dari Gereja bagian Timur yang mendukung paham Athanasius yang menuhankan Yesus.
Setelah melalui perdebatan sengit, Konsili Nicea akhirnya memutuskan untuk mengutuk
paham Arius yang mengesakan Tuhan dan mengumumkan kredo (creed) anti Arian yang
dikenal dengan nama "the Creed of Nicea". Dalam konsili inilah lalu diterbitkan
“Surat Keputusan tentang Ketuhanan Yesus” dan sejak saat itu Yesus diresmikan
sebagai Tuhan, bahkan sekaligus ditetapkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya
(true God), 300 tahun setelah Yesus tiada. Dalam konsili inilah Kaisar Romawi,
Constantine, menetapkan bahwa Yesus satu zat dengan Allah (Homoousios).
"Jesus is God from God, Light from Light and true God from true
God" (Yesus adalah
Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari Cahaya, dan Tuhan sesungguhnya
yang berasal dari Tuhan yang sesungguhnya)
Sejak Konsili Nicea itulah, Keesaan Tuhan yang
diajarkan Yesus dirubah menjadi dua yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus. Untuk
itulah umat Kristen dituntut agar mempercayai bahwa kedua Tuhan mereka bersatu
padu dalam satu zat (homoousios) sebagaimana yang diputuskan oleh Kaisar
Romawi.
Adapun Sahadat Nicea yang lebih disukai dan
amat dibangga-banggakan oleh umat Kristen itu tertulis sebagai berikut :

SAHADAT NICEA
(SAHADAT PANJANG)
Aku percaya akan
satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa
Pencipta langit dan
bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan
Dan akan Tuhan Yesus
Kristus, Putra Allah yang Tunggal
Ia lahir dari Bapa
sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang
Allah benar dari
Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa
Segala sesuatu
dijadikan oleh-Nya
Ia turun dari sorga
untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita
Dan Ia menjadi
daging oleh roh kudus
Dari Perawan Maria
dan menjadi manusia
Ia pun disalibkan
untuk kita waktu Pontius Pilatus
Ia wafat
kesengsaraan dan dimakamkan
Pada hari ketiga Ia
bangkit, menurut kitab suci
Ia naik ke sorga dan
duduk disisi kanan Bapa
Ia akan kembali
dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati
Kerajaan-Nya takkan
berakhir
Aku percaya akan Roh
Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan
Ia berasal dari Bapa
(dan Putra)
Yang serta Bapa dan
Putra, disembah dan dimuliakan
Ia bersabda dengan
perantaraan para nabi
Aku percaya akan
Gereja yang satu, kudus, katholik, dan apostolik
Aku mengakui satu
pembaptisan akan penghapusan dosa
Aku menantikan
kebangkitan orang mati
Dan kehidupan di
akhirat. Amin.
Sahadat Nicea memang kelihatannya sangat indah
dipandang dan enak didengar, namun ternyata sangat aneh secara logika dan
mengandung ambivalensi (sikap mendua). Mengapa? Pada satu sisi, sahadat tersebut
mengatakan ada satu Tuhan (Bapa), namun disisi lain sahadat tersebut juga
mengatakan ada 2 Tuhan tambahan, yakni Yesus dan Roh Kudus. Lalu kemudian
sahadat tersebut mengatakan bahwa Tuhan Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus kemudian
berkumpul menjadi satu. Inti dari Sahadat Nicea tersebut sebenarnya ingin
mengatakan bahwa Tuhan bisa berubah-ubah menjadi tiga, dan berubah lagi menjadi
satu. Atau secara perhitungan matematikanya adalah “1 + 1 + 1 = 1”. Sungguh
sebuah perhitungan yang aneh secara logika dan anak-anak SD pun mungkin akan
geleng-geleng kepala dengan perhitungan yang “nyentrik” tersebut.
Nah, dari ucapan sahadat saja, kita sudah
dapat menilai bahwa Yesus bukanlah orang Kristen. Sahadat umat Kristen,
bukanlah wahyu Tuhan, karena dibuat oleh manusia melalui Surat Keputusan (SK).
Jelasnya, Yesus adalah manusia yang dilantik menjadi Tuhan oleh
sekelompok manusia yang berkumpul di Nicea. Ini sama saja dengan ada orang yang
dilantik menjadi Walikota oleh Pak Camat. Pantaskah seseorang yang lebih tinggi
kedudukannya dilantik oleh pejabat yang lebih rendah pangkatnya? Seperti itulah
yang terjadi pada Konsili Nicea. Alhasil, pelantikan Yesus sebagai Tuhan oleh
sekelompok manusia itu menjadi tidak sah dan harus dibatalkan, sebab Allah sebagai
pemegang kekuasaan Tertinggi, tidak pernah sekalipun mau menyetujui
pengangkatan Yesus sebagai Tuhan di samping-Nya. Yesus sendiri sangat mengetahui
bahwa Allah tidak suka dengan orang-orang yang berani mengaku-ngaku dirinya
Tuhan, atau kepada orang-orang yang gemar menyekutukan-Nya. Allah tidak suka dengan orang-orang seperti itu,
karena perbuatan mereka menunjukkan kesombongan dan kekurang-ajaran terhadap diri-Nya.
Allah tidak sudi diri-Nya dipersekutukan atau dipersamakan dengan apapun juga. Bahkan
Allah sendiri murka dan marah besar dengan ulah sekelompok manusia di Nicea
yang tidak bertanggung jawab tersebut. Coba perhatikan bagaimana Allah
mengancam dengan sangat keras terhadap orang-orang yang berani mengatakan ada
Tuhan lain selain diri-Nya. Firman Allah :
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah
ialah AI-Masih putra Maryam, padahal Al-Masih berkata : Hai Bani Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan-mu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(manusia dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang
penolongpun.” (Q.S. Al-Maidah:72)
"Siapa yang menghujat nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan
dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang
Israel asli, bila ia menghujat nama Tuhan, haruslah dihukum mati." (Imamat
24:16)

Renungan :
Rasulullah SAW bersabda : “Perbanyaklah ucapan
sahadat ‘laa ilaaha illallaah’ sebelum kematian menjemputmu.” (HR. Abu Ya’la)
Yesus Kristus bersabda : “Umat Muhammad SAW.
adalah yang paling berat timbangannya di Mizan karena lidah-lidah mereka telah
terbiasa dengan satu kalimat yang terasa berat bagi umat-umat sebelum mereka
yaitu kalimat ‘‘laa ilaaha illallaah’.” (HR. Ashbahani)
BAB IV
YESUS MELAKSANAKAN SHOLAT, PUASA, DAN ZAKAT
Yesus Melaksanakan
Sholat
Setelah
mengucapkan kalimat sahadat, maka ibadah pertama yang harus dilakukan adalah
mengerjakan sholat. Bagaimana kita bisa menilai bahwa para nabi dan rasul
terdahulu melakukan sholat? Dapat
kita lihat melalui gerakan-gerakan yang mereka lakukan ketika beribadah. Harap
diingat, bahwa sholat seorang muslim terdiri atas beberapa bentuk gerakan,
yakni berdiri, berlutut, sujud. Gerakan-gerakan tersebut lalu diakhiri dengan
duduk bersila atau berlutut sambil berdo'a. Lalu, apakah Yesus juga melakukan
sholat? Tentu saja, beliau melakukan sholat. Coba perhatikan penggambaran
Alkitab, tentang gerak-gerik tubuh beliau ketika berdoa sebagai berikut :
”Jika kamu berdiri untuk berdo'a.” (Markus 11:25)
”Lalu ia (Yesus) berlutut dan berdo'a.” (Lukas
22:41)
”la (Yesus) maju sedikit, lalu sujud ke tanah dan berdo'a.” (Matius 26:39, Markus 14:35)
Gerakan yang
menunjukkan ibadah sholat tersebut juga dilakukan oleh para nabi dan rasul
sebelum Yesus, seperti Musa, Harun, dan Abraham, sebagai berikut :
”Segera Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah.” (Keluaran 34:8)
“Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah
Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan Tuhan kepada mereka.” (Bilangan
20:6)
“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan
membuat engkau sangat banyak. Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman
kepadanya.” (Kejadian 17:2-3)
Apabila kita
memakai bahasa Arab, yang tentunya lebih dekat kepada bahasa Aramaik yang
digunakan Yesus, maka kata : berdiri, berlutut, sujud, serta berdo'a; akan
menjadi qiyam, ruku', sujud, dan sholat. Dalam Arabic/English Bible yang
diterbitkan oleh International Bible Society tahun 1999, kalimat berlutut dan
berdoa tertulis “wa raka’a yushalli”. Raka'a berarti ruku' dan yushalli adalah sholat
sebagaimana yang dipakai oleh kaum Muslim sekarang ini.
Alkitab umat
Kristen telah menunjukkan secara meyakinkan bahwa tata cara peribadatan Yesus,
Musa, Harun, Abraham, para nabi dan rasul-rasul Allah lainnya, ternyata sama persis
dengan yang dilaksanakan oleh umat Islam, yaitu adanya gerakan berdiri, ruku', berlutut,
sujud, dan berdoa yang jika semuanya dirangkai maka akan menjadi "sholat".
Sholat merupakan suatu ibadah yang dianggap aneh oleh Umat Kristen, namun
ternyata sudah biasa dilakukan oleh Yesus semasa hidupnya. Ironisnya, umat
Kristen yang suka mengagung-agungkan nama Yesus, justru sama sekali tidak
pernah melakukan ibadah sholat seperti yang dilakukan oleh Yesus. Sebaliknya
umat Kristen, justru malah melakukan ibadah dengan cara berlutut dan berdoa
seperti yang dicontohkan oleh Paulus. (Kisah Rasul 21:5, Kisah Rasul 9:40, dan
Kisah Rasul 20:36)
Selama
hidupnya Yesus melaksanakan sholat secara diam-diam. Yesus belum melembagakan
perintah sholat kepada murid-muridnya. Jadi ketika Yesus ingin sholat, beliau
minta izin (pamit) dulu kepada murid-muridnya untuk melaksanakan sholat. Kebanyakan,
murid-murid Yesus tidak mengetahui bagaimana cara Yesus melakukan sholat. Hanya
sebagian murid saja yang tahu tentang gerakan sholat Yesus, itu pun mereka
hanya sebatas menyaksikan dari kejauhan. Baru pada saat Nabi Muhammad SAW
diutus Allah ke bumi, maka perintah sholat mulai diwajibkan atas umatnya. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sholatlah
kamu sebagaimana aku sholat.”
Sebelum melakukan sholat, tentu saja
seorang muslim diwajibkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Berwudhu artinya
mensucikan diri dengan cara membasuh muka, kepala, tangan, dan kaki. Dan
Alkitab lagi-lagi membenarkan tatacara orang muslim ketika mereka akan masuk ke
tempat suci dan menghadap Tuhan (sholat) harus berwudhu terlebih dahulu.
“Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka
dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan
apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan
tangan--seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa.” (Keluaran 40:31-32)
Selain
berwudhu, orang Islam juga harus melepaskan alas kaki (mencopot sandal atau
sepatu) ketika akan melakukan sholat. Lihat saja dimana-mana ada sandal,
sepatu, bahkan “bakia” (sandal kayu) orang-orang Islam berjejer di halaman atau
tangga masjid, karena memang tidak boleh dibawa masuk kedalam masjid. Tidak ada
orang Islam yang sholat pake’ sandal atau sepatu, karena ia pasti akan “diomelin”
dan dikatakan “kurang ajar” oleh para jemaah. Perbuatan orang-orang Islam yang
mencopot “sandal” tersebut dibenarkan 100 % oleh Alkitab, sebagai berikut :
“Ia (Allah) berfirman : Janganlah datang dekat-dekat : tanggalkanlah
kasutmu dari kakimu, sebab tempat, dimana engkau berdiri itu, adalah tanah yang
kudus.” (Keluaran 3:5)
Saat melakukan
sholat, umat Islam diwajibkah menghadap kiblat (arah sholat yang telah
ditetapkan oleh Tuhan). Pada zaman Musa, Daud, Salomo, Yohanes Pembaptis,
hingga Yesus, kiblat sholat mengarah ke Bait Allah (Kuil Salomo) di Yerussalem
(sekarang bernama Masjidil Aqsa). Sedangkan pada masa kedatangan Nabi Muhammad
SAW, kiblat ke arah Yerussalem diganti dengan ketentuan Allah yang baru, yakni
menghadap Ka’bah yang ada di Masjidil Haram, Saudi Arabia. Dalam Alkitab,
ketentuan agar sholat dilaksanakan dengan menghadap kiblat, dapat dilihat
sebagai berikut :
“.... Dan apabila mereka berdoa kepada Tuhan dengan berkiblat ke
kota yang telah Kau pilih dan kerumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, ...”
(1 Raja-Raja 8: 44, 1 Raja-Raja 8:48, 2 Tawarikh 6:34-38, dan Mazmur 5: 8)
Kemudian setelah
selesai melakukan sholat, Yesus berdoa sambil menengadahkan tangannya (Matius
14:19, dan 1 Timotius 2:8), persis seperti yang dilakukan umat Islam ketika
berdoa. Namun sayangnya, ketentuan Allah tersebut tidak dipedulikan dan
dilaksanakan lagi oleh umat Kristen sekarang ini.
Hikmah Gerakan Sholat
Orang mungkin bertanya-tanya mengapa gerakan sholat
yang diajarkan oleh para nabi dan rasul ternyata sama? Banyak yang mencari
hikmah dibalik gerakan sholat, namun alasan kenapa kita melakukan bukanlah
karena hikmah tersebut, tapi yang pasti karena adanya perintah Allah untuk
melakukan sholat dengan gerakan semacam itu. Namun demikian mencari hikmah
dibalik bentuk gerakan sholat diharapkan dapat menambah keikhlasan kita dalam
melakukan sholat.
Kami mencoba melihat dari sisi perlambang dari
setiap gerakan pokok, yaitu : berdiri, ruku' dan sujud. Ketika seseorang dalam
keadaan berdiri maka otak yang merupakan lambang akal dan logika berada di
atas, sedangkan hati sebagai lambang kalbu berada di tengah. Pada saat ruku'
maka otak dan hati berada pada posisi yang sama, melambangkan kesetaraan posisi
akal dan kalbu. Dan ketika sedang sujud maka akal berada di bawah, sedang hati
berada di atas.
Perlambang di atas, menggambarkan keadaan manusia
dalam mencari Tuhannya. Saat awal pencarian maka akal adalah yang pertama kali
dipergunakan, Nabi Ibrahim sendiri memulai dengan melihat bintang-bintang.
Namun akal yang sering kali tertipu perlu dikuatkan dengan kalbu, seperti
nasehat Rasulullah kepada Wabishah :
”Wahai Wabishah, tanyakanlah kepada kalbumu dan nafsmu (akalmu), tiga kali,
kebaikan itu jika akal merasa tenang (ketika melakukan perbuatan-pen), dan
kejelekan jika akal merasa bergolak sedang (kalbu) rnerasa ragu di dalam dada,
walaupun seseorang atau semua manusia menasehatirnu.” (HR. Ahmad)
Keseimbangan antara kalbu dan akal akan mengantarkan
manusia lebih mendekat kepada Penciptanya. Dan ketika sudah mendekat maka yang
mampu menerima hanyalah kalbu, sedang akal dan indera materi manusia tidak
mampu mengidera wujud Yang Maha Kuasa. Tidakkah kita lihat akal hanya mampu
melihat perwujudan Allah melalui ciptaanNya, dan selalu terpeleset ketika
mencoba menerobos hakekat-Nya, hingga ada manusia yang menyebutnya beroknum
tiga, seperti dewa-dewa purbakala yang selalu `bertiga'. Itulah sebabnya maka
tahap terakhir adalah sujud, ketika akal diletakkan sejajar dengan organ paling
bawah ketika berdiri yaitu kaki. Sebagaimana nasehat Rasulullah : "Sedekat-dekatnya
seorang hamba dari Tuhannya ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah do'a."
(HR. Muslim)

Renungan :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang
yang mensucikan diri (dari dosa), dan ia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sholat."
(Q.S. Al-A’la:14-15)
“Bertaubatlah kepadaNya dan takutlah kepadaNya,
serta dirikanlah sholat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah.” (Q.S. Ar-Rum:31)

Renungan :
“Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan
selain Aku. Maka sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.
Sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang. Aku rahasiakan (waktunya) agar
setiap diri mendapat balasan sesuai dengan usahanya.” (Q.S. Thaha : 14-15)
Rasulullah SAW bersabda : "Yang pertama
kali akan dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya
baik, maka baiklah seluruh amalannya. Dan jika sholatnya buruk, maka buruklah
amalan-amalan lainnya.” (HR. Thabrani)
Yesus Melaksanakan Puasa
Sebagai
seorang muslim, kita juga diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh pada
bulan Ramadhan. Kewajiban melaksanakan puasa ini juga telah diajarkan oleh para
nabi-nabi terdahulu kepada umat mereka masing-masing, sebagaimana ajaran Musa
dan Yesus berikut ini :
"Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan Tuhan empat puluh
hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia
menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman."
(Keluaran 34:28)
“Inilah yang harus menjadi
ketetapan untuk selamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada
tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa.” (Imamat 16:29)
"Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam,
akhirnya laparlah Yesus." (Matius 4:2)
“Apabila kamu berpuasa, janganlah
muram mukamu seperti orang munafik." (Matius 6:16-18)
Puasa yang
dilakukan oleh Nabi Musa di Sinai dan Yesus di Padang Gurun selama 40 hari
merupakan bagian dari ritual penyepian atau pengasingan diri (Uzlah) mereka
dari dunia luar dalam rangka mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan
mereka akhirnya berhasil menemukan Tuhan setelah menerima wahyu Ilahi yang
dikirimkan kepada mereka melalui perantaraan roh kudus (Malaikat Jibril). Apa
yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Yesus itu, sama persis dengan apa yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yang berpuasa di gua Hira’
selama 40 hari. Pengasingan diri (Uzlah)
masih banyak dilakukan oleh para salik (pencari Tuhan) hingga hari ini.
Kembali kita
melihat dalam ayat Alkitab tersebut diatas, Yesus diceritakan berpuasa selama 40
hari 40 malam, dan lalu ia merasakan lapar. Nah, apakah contoh berpuasa yang
diajarkan Yesus itu sudah diikuti dengan baik oleh umat Kristen. Ternyata tidak! Umat Kristen memang berpuasa, tapi
boleh makan sepuasnya. Mereka hanya dilarang makan daging atau makanan kesukaan
lainnya, jadi tidak merasakan lapar. Padahal inti dan hakekat dari puasa adalah
merasakan penderitaan, baik berupa lapar, menahan pandangan, menahan
pembicaraan yang sia-sia, nafsu sahwat, dan amarah. Berbeda dengan umat Islam
yang merasakan lapar dan dahaga ketika berpuasa. Lapar dan haus yang dirasakan
Umat Islam sama dengan lapar dan haus yang dialami oleh Musa, Yesus, dan Nabi
Muhammad SAW ketika berpuasa. Apakah umat Kristen lapar ketika berpuasa?
Ternyata tidak! Mereka justru kenyang, bisa minum dan makan, kecuali makan
daging, atau makanan kesukaan lainnya.
Mengapa umat Kristen tidak melakukan puasa seperti
yang dilakukan oleh Yesus selama 40 hari 40 malam? Karena memang mereka tidak
sanggup dan sangat memberatkan!? Adakah manusia di zaman modern ini yang
sanggup melakukan puasa 40 hari 40 malam tanpa makan-minum? Tentu saja tidak
ada, karena pasti banyak orang akan mati kelaparan dan kehausan.
Jadi, Islam
kemudian mengatur pelaksanaan puasa secara lebih realistis dan rasional yang
sesuai dengan kebutuhan manusia modern sekarang ini, yakni berpuasa selama 30
hari (bukan 30 hari 30 malam). Puasa hanya dilakukan pada waktu paruh hari,
sejak imsak (kira-kira pukul 04.00 dinihari) sampai terbenam matahari
(kira-kira pukul 19.00), sedangkan malamnya dibolehkan makan-minum. Dengan cara
puasa seperti ini, maka semua umat Islam sanggup melaksanakannya. Tidak pernah
kita mendengar ada orang Islam yang mati karena melakukan puasa.
Semua umat di
zaman nabi dan rasulnya masing-masing telah diberi ketentuan (syariat) serta
jalan sendiri-sendiri oleh Allah. Seperti Yesus yang diberikan ketentuan
berpuasa 40 hari 40 malam. Sementara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah
puasa paruh hari selama 30 hari. Namun pertanyaannya adalah sejauh mana
masing-masing umat dapat menjalankan syariat itu dengan benar, tanpa mengurangi
apalagi mencampurkan kebatilan di dalamnya? Sekali lagi mohon diingat bahwa
hakekat puasa itu adalah menahan hawa nafsu. Jadi, kalau ada orang yang
berpuasa tapi masih bisa makan-minuman yang lain, hanya tidak boleh makan
daging dan makanan kesukaan, apakah dapat dikatakan mereka telah berusaha menahan
hawa nafsu? Ternyata tidak! Nah, umat Islam-lah yang justru lebih dekat dengan
ajaran Yesus, karena Yesus memang adalah seorang muslim.
Selain puasa
wajib, umat Islam juga disunahkan melakukan puasa setiap minggu dua kali, yaitu
setiap hari Senin dan Kamis. Dan lagi-lagi Alkitab membenarkan puasa sunah yang
dilakukan oleh umat Islam. Perhatikan ayat ini : "Aku berpuasa dua kali
seminggu, ...." (Lukas 18:12).
Sekali lagi sangat
mengherankan, karena kebanyakan umat Kristen tidak pernah memelihara tradisi berpuasa
dua kali seminggu, seperti yang dicontohkan dalam Injil Lukas 18:12? Justru
umat Islam yang senang dan selalu memelihara tradisi berpuasa seminggu dua kali
tersebut? Dalam Alkitab sekarang ini, hari Senin dan Kamis memang sudah dihilangkan,
sehingga yang ada hanya tulisan
“berpuasa seminggu dua kali”. Tapi dalam Ensiklopedia Alkitab, ternyata yang
dimaksud dengan puasa seminggu dua kali tersebut, jatuh pada hari Senin dan
Kamis.
Nah, karena
dalam Alkitab banyak Firman Tuhan yang sudah dirubah dan diedit tidak karuan oleh
tangan-tangan jahil, maka Allah mewahyukan kembali kepada Nabi Muhammad SAW, dalam
Al Qur'an segala yang benar yang pernah diwahyukan-Nya dalam kitab-kitab suci
terdahulu, termasuk ketentuan puasa.
Yesus Melaksanakan Zakat
Dalam Al
Qur'an, zakat diwajibkan hanya setahun sekali atas barang-barang yang telah
dimiliki selama satu tahun penuh, yang nilainya telah mencapai batas-batas
ukuran yang disebut nisab.
Jenis yang
harus dizakati antara lain, emas dan perak (At Taubah 34), hasil pertanian (Al
An'aam 141), laba perniagaan (Al Baqarah 267), tambang (Al Baqarah 267) dan
ternak.
Besarnya
zakat, hampir semuanya berlaku 2,5 % saja, itupun jika sudah sampai nisab dan
haulnya. Jadi segala sesuatu sudah ada aturan mainnya. Yang diberlakukan zakat
10% hanya dari hasil pertanian saja, itupun masih bersyarat.
Dalam Taurat
yang dimuat dalam Alkitab, perintah berzakat juga diturunkan, namun hanya untuk
hasil pertanian saja, sebagai berikut :
“Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari
hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik Tuhan; itulah
persembahan kudus bagi Tuhan. Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga
sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah
seperlima. Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau
kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu
dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan."
(Imamat 27:30-32)
Dari bunyi
ayat di atas, jelas bahwa persepuluhan itu hanya untuk jenis pertanian dan
peternakan saja. Apabila kesulitan dalam menyalurkan persepuluhan tersebut
karena tempatnya jauh, maka boleh diberikan berupa uang senilai barang yang
dihitung menurut persepuluhan, sesuai dengan ayat berikut :
"Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari
seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. Di hadapan Tuhan,
Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana,
haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu
dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu,
supaya engkau belajar untuk selalu takut akan Tuhan, Allahmu. Apabila, dalam
hal engkau diberkati Tuhan, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga
engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih Tuhan untuk
menegakkan nama-Nya di sana terlalu jauh dari tempatmu, maka haruslah engkau
menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang
akan dipilih Tuhan. Allahmu." (Ulangan 14:22-25)
Ketentuan
Taurat yang termuat dalam Alkitab tidak mengatur lebih jauh soal persepuluhan
dari uang tunai baik berupa gaji, deposito, emas, perak serta barang dagangan
lainnya selain daripada hasil pertanian dan peternakan. Untuk itulah Al-Qur’an
diturunkan guna melengkapi kekurangan dan memperbaiki perubahan akibat ulah
tangan-tangan jahil manusia yang terjadi pada kitab-kitab suci sebelumnya.
Pertanyaannya
: apakah Yesus melaksanakan perintah zakat tersebut? Tentu saja beliau
melaksanakannya dengan sangat baik, karena beliau selalu setia menjunjung
tinggi dan mematuhi ajaran taurat dengan sungguh-sungguh. Perhatikan bagaimana
taatnya Yesus terhadap ketentuan hukum Taurat, sebagai berikut :
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku (Yesus) datang untuk
meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)
“Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap
langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari
hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18)
“Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat
sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia
akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa
yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan
menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:19)
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:20)
Al-Qur’an juga
mengamini pernyataan Yesus yang dimuat dalam Alkitab tersebut diatas. Allah
berfirman :
“Dan (aku, Yesus, datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang
sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan
untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu'jizat) daripada
Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta'atlah kepadaku.
Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan
yang lurus." (Q.S. Ali ‘Imran:50-51)
BAB V
YESUS BERCITA-CITA KE MEKKAH
Ibadah Haji Para Nabi Terdahulu
Haji itu sama
artinya dengan ziarah. Maka umat yang melakukan ibadah haji itu sama artinya
mereka melakukan ziarah ke tempat-tempat yang bersejarah dalam rangka melakukan
perintah agama, sekaligus melihat langsung kebesaran Allah yang ada di sana.
Ziarah atau haji ini dilakukan disebuah tempat yang bernama Mekkah atau Paran atau
Haran atau Petra, yang terletak di negara Saudi Arabia. Sejak dahulu Mekkah/Paran/Haran/Petra
terkenal sebagai tempat suci para nabi dan rasul. Beberapa peristiwa penting
yang terkait dengan keberadaan Mekkah/Paran/Haran/Petra, antara lain : Nabi
Adam turun dari sorga, dan menjejakkan kakinya pertama kali dibumi yang bernama
Mekkah/Paran/Haran/Petra. Hajar, istri Abraham, melahirkan Ismail dan menemukan
sumber mata air (sekarang terkenal dengan nama sumur zam-zam) ditempat yang
bernama Mekkah/Paran/Haran/Petra. Kemudian Abaraham mendirikan Rumah Tuhan pertama
kali dimuka bumi di tempat yang bernama Mekkah/Paran/Haran/Petra, dan masih
banyak peristiwa suci dan penting lainnya ditempat tersebut.
Sejak dahulu
semua nabi dan rasul-rasul Allah sangat mengidam-idamkan untuk dapat pergi haji
dan melembagakan ibadah haji di Baitullah
(Rumah Allah) yang ada di Mekkah, Saudi Arabia. Ada beberapa nabi dan rasul
yang sempat melembagakan ibadah haji kepada para pengikutnya, namun ada juga
yang belum. Salah satu nabi sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW yang pernah melembagakan
ibadah haji kepada pengikutnya, antara lain Yakub, seperti dikutip dalam
Alkitab berikut ini :
“Bermula ketika Nabi Yakub dalam suatu perjalanan dari Bersyeba
menuju Haran (Mekkah). Karena merasa lelah, dia beristirahat pada suatu tempat
sambil mengambil sebuah batu menjadi bantalnya. Saat itu Tuhan memberikan mimpi
kepadanya, bahwa dari bumi tempat dia bermalam itu ada didirikan tangga yang
ujungnya menjulang sampai ke langit. Dan pada tangga tersebut para malaikat
Tuhan naik-turun. Ketika Nabi Yakub terbangun dari tidurnya, ia merasa takut
dan berkata: "Sesungguhnya Tuhan berada di tempat ini tanpa aku ketahui,
dan sungguh dahsyat tempat ini. Tempat ini pasti rumah dari Allah, dan pasti
daerah inilah pintu gerbang menuju sorga". Ketika Nabi Yakub bangun
pagi-pagi, diambilnya batu tersebut, dituangkan minyak wangi pada batu itu,
kemudian diambilnya batu tersebut, lalu mendirikannya sebuah tugu tanda
peringatan sebagai rumah Allah. Maka tempat itu dinamakannya Betel (Baitullah)
yang artinya rumah Allah.” (Kejadian 28:10-19)
Lama setelah
berlalunya kejadian tersebut, Allah lalu berfirman kepada Yakub :
“Bersiaplah, pergilah ke Bethel, tinggallah disitu, dan buatlah
disitu mezbah bagi Allah...” (Kejadian 35:1)
“Kemudian Yakub mendirikan tugu batu, ia mempersembahkan korban
curahan dan menuangkan minyak diatasnya. Yakub menamai tempat itu, Betel.” (Kejadian
35:14-15)
Apa yang
dialami oleh Nabi Yakub hampir 40 abad yang lalu adalah mukjizat besar, sebab
batu hitam yang dituangi minyak oleh Yakub tersebut sampai saat sekarang ini
masih tetap wangi. Batu hitam tersebut dikenal oleh Umat Islam dengan nama Batu
Hajar Aswad.
Nah, karena
tempat dimana Nabi Yakub pernah bermimpi tersebut adalah merupakan pintu
gerbang menuju sorga, maka Abraham (Nabi Ibrahim) lalu mewajibkan umat dan
keturunan-keturunannya untuk berziarah ke sana setiap tahun bagi yang mampu.
Sebab dengan berziarah ke tempat tersebut, akan bisa dilihat langsung kebesaran
Allah SWT, antara lain :
1. Ka'bah
(Baitullah), merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang dibangun oleh
Abraham (Nabi Ibrahim as).
2. Sumur
Zam-Zam, bukti kebesaran Allah atas Nabi Ismail.
3. Batu hitam
Hajar Aswad yang masih tetap wangi sampai sekarang sebagai bukti kebesaran
Allah atas Nabi Yakub as.
4. Maqam
(tanda telapak kaki) Nabi Ibrahim ketika membangun Baitullah.
5. Makam
(kuburan) Nabi Muhammad SAW. bersama sahabat-sahabatnya yang masih terpelihara
sampai sekarang, dan lain-lain.
Khusus
terhadap batu hitam Hajar Aswad, Nabi Muhammad SAW dulunya sempat menciumnya,
karena beliau ingin merasakan bau wangi yang keluar dari batu tersebut. Dengan
mencium batu tersebut, Nabi Muhammad SAW sedang terkesan menikmati akan
kebesaran Allah SWT, karena atas kehendak Allah SWT, batu hitam tersebut tetap
wangi sampai saat ini. Dengan bisa memegang dan mencium harumnya batu hitam
tersebut, orang yang tadinya ragu-ragu dan bertanya-tanya, akhirnya menjadi
sangat yakin, bahwa Allah telah menunjukkan mukjizatnya kepada Nabi Yakub untuk
diperlihatkan kepada kita yang hidup sekarang ini. Oleh karena itu memegang, meraba
dan mencium batu hitam Hajar Aswad oleh Nabi Muhammad SAW, sekedar disunnahkan
saja, bukan diwajibkan.
Ibadah haji
ini adalah ajaran agama langit yang yang diajarkan oleh Abraham (Nabi Ibrahim),
dan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang telah mampu menjalankan, baik
fisik maupun materi. Umat Islam yang menunaikan ibadah Haji ke Bait Allah, yang
didirikan oleh Ibrahim dan Isma'i, bisa saling berkenalan, dan saling
mempererat tali persaudaraan, segala perbedaan dan diskriminasi yang
bagaimanapun di kalangan umat Islam itu
harus hilang. Mereka harus merasa, bahwa dihadapan Allah mereka itu
sama, tidak perduli presiden atau para peminta disekitar masjid al-Haram.
Dalam Al-Quran
Allah mewajibkan ibadah haji, sebagaiman firman-Nya sebagai berikut :
"Sesungguhnya rumah (untuk
ibadah) yang mula-mula dibangun bagi manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah
(Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Didalamnya
terdapat tanda-tanda yang nyata (yaitu) tempat berdirinya (maqam) Ibrahim; dan
barangsiapa masuk ke dalamnya amanlah dia; mengerjakan ibadah haji adalah wajib
bagi manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sudah dapat mengadakan
perjalanan kesana.” (Q.S. Ali ‘Imran:96-97)
Sebelum Nabi
Muhammad SAW diutus membawakan risalah Islam, ibadah haji ini telah dirusak
oleh orang-orang kafir atau orang jahiliyah di Mekah, akibat penyimpangan
mereka yang terlalu jauh dari syariat yang dibawakan Nabi Ibrahim AS. Tetapi
setelah masa kerasulan Nabi Muhammad SAW maka ibadah haji ditegakkan kembali.
Nabi Muhammad
pada tahun 632, sebelum beliau wafat telah memantapkan bentuk-bentuk haji yang
dipertahankan dalam Islam. Haji telah menempati posisi yang penting dalam
peribadatan Islam, karena mencakup semua peribadatan yang ada dalam Islam, seperti
sholat, puasa, dan zakat, baik itu secara ruhani maupun fisik. Setelah masa
ini, peribadatan dalam haji terfokus secara lebih tajam. la bersifat
intertribal tidak lagi karena ia menghimpun berbagai berhala dari semua suku,
tetapi karena sistem peribadatannya mengatasi suku apapun - bahkan suku Quraisy
sendiri. Umat Islam mencium Hajar Aswad (Batu Hitam) di sudut Ka'bah yang tidak
lagi sebagai penjelmaan beberapa dewa, tetapi sebagai tindak simbolis kesetiaan
pada Allah, yang telah mengutus Nabi Ibrahim dan juga Nabi Muhammad untuk
membimbing umat manusia. Sahabat Umar bin Khattab mengatakan :
“Dari ibn 'Umar, bahwa Umar ra.
mencium hajar aswad kernudian berkata: "Saya tahu bahwa kamu adalah batu,
kalau bukan karena aku melihat Rasulullah saw. menciummu maka aku tidak akan
menciummu.” (HR. Imam Ahmad)
Haji merupakan
peribadatan dan ajaran yang diwasiatkan Allah kepada para nabi dan rasul
terdahulu. Caranya dan ketentuan haji yang dilaksanakan para nabi dan rasul
terdahulu itu sama, karena dasarnya juga sama, yakni bersumber dari satu, Allah
Tuhan Yang Esa. Semua nabi dan rasul terdahulu diberi pengetahuan tentang
risalah dan tata cara ibadah haji bagi pengikutnya dan umat lainnya dimasa
mendatang setelah mereka. Tuhan secara khusus menyampaikan Firman-Nya kepada
Nabi Daud yang meramalkan tentang akan ramainya orang yang akan menunaikan
ibadah haji dimasa mendatang (tepatnya di masa Nabi Muhammad SAW hingga
sekarang). Perhatikan ayat
Alkitab yang memuat ramalan Nabi Daud berikut ini :
1.
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu :
Gitit. Mazmur Bani Korah.
2.
Betapa disenangi tempat kediaman-Mu,
ya Tuhan semesta alam!
3.
Jiwaku hancur karena merindukan
pelataran-pelataran Tuhan; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang
hidup.
4.
Bahkan burung pipit telah mendapat
sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh
anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan
Allahku!
5.
Berbahagialah orang-orang yang diam
di rumah-Mu yang terus-menerus memuji-muji Engkau.
6.
Berbahagialah manusia yang
kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
7.
Apabila melintasi lembah Baka,
mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim
menyelubunginya dengan berkat.
8.
Mereka berjalan makin lama makin kuat,
hendak menghadap Allah di Sion.
9.
Ya Tuhan, Allah semesta alam,
dengarkanlah doaku, pasanglah telinga ya, Allah Yakub.
10.
Lihatlah perisai kami, ya Allah,
pandanglah wajah orang yang Kau urapi!
11.
Sebab lebih baik satu hari di
pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik kami berdiri di ambang
pintu rumah Allahku daripada diam di kemahkemah orang fasik.
12.
Sebab, Tuhan Allah adalah matahari
dan perisai, kasih dan kemuliaan ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari
orang yang hidup tidak tercela.
13.
Ya Tuhan semesta alam, berbahagialah manusia
yang percaya kepada-Mu!" (Mazmur 84:1-13)
Nubuat atau ramalan di atas, sangat jelas
menerangkan Bait Allah (Ka’bah) yang ada di Makkah (Masjidil Haram), dan sedikit
menyinggung Bait Allah yang ada di Yerussalem, Palestina, seperti keterangan
berikut :
1. Ayat
1-3 : menerangkan bahwa rumah Tuhan (Bait Allah) itu selalu dirindukan setiap
orang untuk menziarahinya.
2. Ayat
4 : mengisyaratkan masing-masing utusan Allah mendapatkan tempat bagi umatnya.
Burung pipit mengisyaratkan adanya seorang nabi termuda dalam kerajaan Allah
yaitu nabi Muhammad, sedang burung layang-layang adalah para nabi Bani Israel
yang telah lebih dahulu mendapat tempat di Bait al-Maqdis Yerussalem.
3. Ayat
5-6 : menerangkan keutamaan orang yang berada di dalam bait Allah dan mereka
yang berkeinginan untuk ziarah ke tempat tersebut. Rasulullah Muhammad
menyabdakan bahwa ziarah yang disunnahkan adalah ke tiga tempat: masjid
al-Haram, masjid Nabawi, dan masjid al-Quds (di Yerussalem). (Al-Bukhari,
Shahih al-Bukhari, vol. 2, hal. 71)
4. Ayat
7 : tidak lagi isyarat, tapi menunjuk nama lain Makkah yaitu Bakka, dengan ciri
khasnya sumur zam-zam yang tidak pernah kering hingga saat ini.
5. Ayat
8, 9, 10 : mengisyaratkan adanya ibadah yang dilakukan sambil berjalan, seperti
sa'i dan tawaf serta perjalanan ke masyairal-muqaddasah (wilayah-wilayah suci)
hingga sampai ke masy'ar, yang kita sebut 'Arafah, untuk ibadah pamungkas dalam
ritual haji yaitu wukuf. Masy'ar, adalah kata bahasa Arab dalam bentuk kata
tempat atau menunjuk tempat, dari akar kata sy`a-ra yang memiliki makna ritual
(syi'ar). Maka masy'ar adalah tempat ritual, atau tempat suci. Hal ini
dikuatkan dengan penambahan al-Muqaddasah yang memang berarti suci). Kata
masya'ir di sini, menurut hemat kami, sangat identik dengan kata Sion atau
Zion. Baik Yahudi maupun Kristen menggunakan kata Sion sebagai simbol untuk
Jerussalem, yang pada tempat lain kata Sion merujuk pada suatu bukit terletak
di barat daya Jerussalem.
6. Ayat
11 : mengisyaratkan keunggulan sholat di bait Allah yang nilainya 1000 kali
lebih baik dibanding tempat lain. Sebagaimana sabda Rasulullah : "Sholat
di masjidku (masjid Madinah) seribu kali lebih baik dari lainnya kecuali masjid
al-Haram". Hadits-hadits yang menyebut angka tentang keunggulan sholat di
tiga tempat, Al-Haram, An-Nabawi, dan Al-Aqsha, menggunakan bahasa hiperbol
untuk menunjukkan keutamaan tempat tersebut. Ayat ini juga menunjukkan
keutamaan tempat di depan pintu bait Allah (Ka'bah), yang kita kenal dengan
sebutan multazam.
7. Ayat
1 hingga 6 : mengupas bait Allah secara umum - yang ada di Makkah dan
Yerussalem-, sedang selebihnya lebih terfokus kepada bait Allah yang ada di
Makkah. Dalam beberapa edisi Alkitab, beberapa kata dari mazmur ini sering kali
disamarkan, khususnya kata Bakka. Dalam Alkitab edisi Internasional dalam bahasa
Arab, menerjemahkan Bakka, dengan bukaa’ (tangisan), sementara yang dalam
bahasa Inggris tetap memakai Bacca. Dalam Alkitab edisi Indonesia, tempatan
Gedeon (1976), menerjemahkan Bakka dengan "pokok kertau". Sedang
Alkitab edisi milenium (2000) tetap menuliskan "Bakka".
Yesus Ingin
Melembagakan Ibadah Haji
Pertanyaannya adalah apakah Yesus selama
hidupnya pernah berkeinginan untuk pergi haji ke Mekkah dan melembagakan ibadah
haji kepada umatnya? Tentu saja, iya! Yesus ternyata juga ingin sekali berangkat
ke Mekkah dan memperkenalkan ibadah haji kepada murid-muridnya. Coba perhatikan
apa yang dikatakan Yesus kepada Petrus tentang keinginannya tersebut :
“Dan Aku pun
berkata kepadamu : Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku
akan mendirikan jemaat-Ku ….” (Matius 16:18)
Perhatikan ayat bergaris bawah yang
tertulis : “di atas batu karang”. Kata tersebut, dalam Alkitab aslinya yang
berbahasa Yunani tertulis “di Petra”. Nah, yang menjadi kekeliruan para
penterjemah Kristen disini adalah bahwa mereka telah semena-mena menterjemahkan
kata “di Petra”
menjadi “di atas batu karang”. Sehingga umat Kristen lalu mengartikan bahwa diatas batu karang itu kita
harus mendirikan gereja. Dan akhirnya tersebarlah jutaan gereja di seluruh
penjuru dunia.
Padahal bukan pendirian gereja seperti itu yang
dimaksudkan oleh Yesus, tetapi Yesus berkata : “…di Petra Aku akan mendirikan
jemaatku”. Apakah Petra itu? Kata “Petra” sebenarnya merupakan nama sebuah tempat
atau lokasi yang tidak bisa diterjemahkan secara langsung, sebab nama tempat memang
harus ditulis dengan nama aslinya. Kita tidak mungkin menulis tempat bernama
“Cipanas” menjadi Ci-Hot
(panas) dalam bahasa Inggris. Bisa-bisa
orang-orang Cipanas nanti panas (marah) semua gara-gara nama wilayah mereka
berubah menjadi Ci-Hot. Kata
“Petra” ya, harus tetap ditulis dengan “Petra”. Kata “Cipanas”, ya tetap
ditulis dengan “Cipanas”. Tidak boleh diubah-ubah!
Nah, lalu “Petra” itu ada dimana? Coba
perhatikan peta kemah dunia pada zaman Yesus. Disebutkan dalam peta tersebut nama-nama tempat,
posisi dan arah dari suatu tempat tersebut. Seperti Antioph yang berada di
sebelah utara, Romawi yang berada di
sebelah barat, Babilonia yang berada
disebelah timur, dan Alexandria yang
berada di sebelah selatan. Lalu Petra ada dimana? Ternyata tempat bernama
“Petra” itu berada di sebelah tenggara Palestina. Dan satu-satunya wilayah yang
tepat berada di sebelah tenggara Palestina ternyata adalah Negara Kerajaan Saudi
Arabia, yang didalamnya terdapat kota suci bernama Mekkah. Jangan lupa, dalam Bible
Dictionary (kamus alkitab) yang menjadi rujukan Umat Kristen, kata “Petra” tidak
pernah ditemukan dalam bentuk huruf “P” atau “G” (Gereja) dalam kamus tersebut.
Kata “Petra” pada kamus tersebut justru tertulis dibawah huruf N (Nebayot). Tahukah
anda, siapakah Nebayot tersebut? Nebayot adalah putera sulung dari Nabi Ismail.
Sedangkan Nabi Ismail sendiri adalah Mbah Buyut Kakungnya atau Nenek Moyang dari
Nabi Muhammad SAW. Nebayot artinya kambing jantan, ia mempunyai adik bernama
Kedar. Nabi Ismail, Nebayot, dan Kedar tinggal di Petra. Jelasnya, Petra adalah
nama kuno dari Mekkah, merupakan Ibukota keturunan Nebayot dan Kedar di masa
lalu. Di Mekkah terdapat bangunan suci bernama Ka’bah yang terletak didalam
komplek Masjidil Haram, Saudi Arabia.
Mengapa Mekkah
dulunya dikenal dengan sebutan “Petra”? Karena di sana terdapat sebuah batu berharga
yang sangat dimuliakan oleh penduduknya. Batu itu bukanlah intan, emas,
berlian, zamrud, atau permata. Ia hanyalah sebongkah batu biasa berwarna hitam,
yang bentuknya tidak lebih menarik dari batu-batu lain yang dapat kita temukan
disekitar kita. Kelebihan batu hitam tersebut hanyalah karena ia mempunyai
nilai historis dan mukjizat yang sangat tinggi. Batu tersebut konon dulunya merupakan
bongkahan batu sorga yang dikirimkan Allah kepada Nabi Ibrahim As. (Abraham), guna
dipakai oleh beliau untuk merampungkan pekerjaan pembangunan Ka’bah-Baitullah (Betel)
yang belum diselesaikan. Sebagai bukti kemukjizatan batu ini, orang-orang yang
pernah berhaji dapat merasakan adanya bau harum yang terhembus dari batu
tersebut, padahal batu tersebut tidak pernah diberi wangi-wangian oleh manusia.
Bau harum pada batu tersebut tidak pernah berubah atau berkurang, baunya masih
tetap sama seperti yang pernah dirasakan oleh para Nabi dan Rasul-Rasul Allah terdahulu,
seperti yang dapat dilihat dalam Alkitab Kejadian 28:17-19, 35:4, dan 14-15. Batu
ini juga pernah dicium oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, bukan dalam
arti menyembahnya, tetapi hanya sekedar untuk bernostalgia mengingat
leluhurnya, Nabi Ibrahim as, serta ungkapan rasa kagum beliau atas mukjizat
yang diturunkan Allah tersebut. Batu mulia tersebut dikenal oleh umat Islam
dengan nama “Hajar Aswad” yang sekarang ini masih tetap berbau harum dan tersimpan
dengan baik di dalam bangunan suci Ka’bah.
Sangat jelas, Yesus ternyata ingin sekali mengajak
pengikutnya pergi ke Mekkah dan melaksanakan ritual Haji di tempat tersebut.
Namun sayang, cita-cita Yesus tersebut belum kesampaian, karena beliau keburu
disalib oleh musuh-musuhnya. Hanya dengan izin Allah semata, Yesus akhirnya
diselamatkan dari percobaan pembunuhan ditiang salib tersebut. Setelah itu
Yesus kemudian diam-diam pergi mengungsi keluar dari Yerusalem untuk
menghindari kejaran musuh-musuhnya, sekaligus sambil melanjutkan tugas dakwah untuk
mencari kesepuluh suku Israel yang hilang yang tersebar diluar Yerusalem.
BAB VI
PENYEBAB MUNCULNYA PERBEDAAN
AGAMA
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi
Dalam Al Qur’an, Surat Al-A'raf:172,
Allah telah menginformasikan bahwa sebelum dilahirkan, manusia itu telah berjanji
dan membuat pernyataan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya : Alastu birabbikum (bukankah aku ini Tuhanmu)?
Tanya Allah kepada manusia sebelum ia dilahirkan. Kemudian dengan tegas
dijawab: "Bala Syahidna (Betul, kami bersaksi bahwa
engkau adalah Tuhan kami). Dari sini kita ketahui bahwa setiap manusia yang terlahir
ke dunia, sebelumnya telah dibekali dengan tauhid oleh Allah Sang Maha Pencipta.
Namun, setelah lahir kedunia, maka
sang bayi tersebut kemudian terpengaruh oleh dua hal yang mengakibatkan ia
terlupa atau teringat kembali akan janji “tauhid” yang diucapkannya dulu kepada
Tuhan. Dua hal yang mempengaruhi seorang bayi hingga ia dewasa nantinya, adalah
pengaruh
orangtua (keluarga) dan pengaruh lingkungan di sekitar tempat ia hidup dan bersosialisasi. Rasulullah
SAW bersabda :
"Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah
(Islam), kedua orangtuanya-lah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi,
Nasrani, Majusi.”
Seorang anak itu ibarat kertas kosong
yang belum dicorat-coret. Kertas kosong ini adalah tauhid (mengakui ke-Esa-an
Allah). Kemudian orang tuanya dan lingkunganlah yang nantinya akan
mencorat-coret kertas kosong tersebut. Apakah ia akan diisi dengan paham Hindu,
Budha, Konghucu, Sinto, Kristen, Katolik dan lain sebagainya.
Saat seseorang masih kanak-kanak,
wajar ia dulunya ikut-ikutan dengan agama yang dianut orangtuanya, karena belum
memiliki kemampuan berpikir dan menalar dengan baik. Namun alangkah bodohnya, ketika
seseorang telah dewasa ternyata ia masih tidak mampu merubah pola pikir
kanak-kanaknya, dengan terus saja mengikuti tradisi agama nenek moyangnya,
tanpa pernah mengetahui, apakah agama yang dianutnya itu benar atau tidak.
Kemalasan Berpikir
Salah satu
sebab yang membuat kebanyakan seseorang tersesat adalah keyakinannya bahwa apa
yang dilakukan "sebagian besar" manusia adalah benar. Manusia
biasanya lebih cenderung menerima apa yang diajarkan oleh orang-orang
disekitarnya, daripada berpikir untuk mencari sendiri kebenaran dari apa yang
diajarkan tersebut. Ia melihat bahwa hal-hal yang pada mulanya kelihatannya
janggal seringkali dianggap biasa oleh kebanyakan orang, atau bahkan tidak
terlalu dipedulikan. Maka setelah beberapa lama, ia kemudian menjadi terbiasa
juga dengan hal-hal tersebut.
Sebagai contoh
: sebagian besar dari masyarakat di sekitarnya tidak berpikir bahwa suatu hari
mereka akan mati. Mereka bahkan tidak membiarkan satu orang pun berbicara
mengenai masalah ini untuk mengingatkan tentang kematian. Seseorang yang berada
dalam lingkungan yang demikian akan berkata,"Karena semua orang seperti
itu, maka tidak ada salahnya jika saya berperilaku sama seperti mereka."
Lalu orang tersebut menjalani hidupnya tanpa mengingat kematian sama sekali. Sebaliknya,
jika orang-orang di sekitarnya bertingkah laku sebagai orang yang takut kepada
Allah dan beramal secara sungguh-sungguh untuk hari akhir, sangat mungkin orang
ini akan juga berubah sikap.
Kebanyakan
manusia memang jarang yang mau mempergunakan pikirannya untuk meneliti sebuah kebenaran.
Hal ini disebabkan adanya kemalasan mental yang
dialami seorang. Akibat kemalasan mental tersebut, manusia cenderung melakukan
segala sesuatu sebagaimana yang pernah mereka saksikan dan terbiasa mereka
lakukan. Untuk memberikan sebuah contoh dari kehidupan sehari-hari: cara yang
digunakan para ibu rumah tangga dalam membersihkan rumah adalah sebagaimana
yang telah mereka lihat dari ibu-ibu mereka dahulu. Pada umumnya tidak ada yang
berpikir, "Bagaimana membersihkan rumah dengan cara yang lebih praktis dan
hasil yang lebih bersih" dengan kata lain, berusaha menemukan cara baru.
Demikian juga, ketika ada yang perlu diperbaiki, manusia biasanya menggunakan
cara yang telah diajarkan ketika mereka masih kanak-kanak. Umumnya mereka
enggan berusaha menemukan cara baru yang mungkin lebih praktis dan berdaya
guna. Cara berbicara orang-orang ini juga sama. Cara bagaimana seorang akuntan
berbicara, misalnya, sama seperti akuntan-akuntan yang lain yang pernah ia
lihat selama hidupnya. Para dokter, banker, penjual…..dan orang-orang dari
latar belakang apapun mempunyai cara bicara yang khas. Mereka tidak berusaha
mencari yang paling tepat, paling baik dan paling menguntungkan dengan
berpikir. Mereka sekedar meniru dari apa yang telah mereka lihat.
Cara pemecahan
masalah yang dipakai juga menunjukkan kemalasan dalam berpikir. Sebagai contoh
: dalam menangani masalah sampah, seorang manajer sebuah gedung menerapkan
metode yang sama sebagaimana yang telah dipakai oleh manajer sebelumnya. Atau
seorang walikota berusaha mencari jalan keluar tentang masalah jalan raya
dengan meniru cara yang digunakan oleh walikota-walikota sebelumnya. Dalam
banyak hal, ia tidak dapat mencari pemecahan yang baru dikarenakan tidak mau
berpikir.
Dalam Al-Qur'an,
Allah mengkritik keadaan orang-orang yang tidak mau berpikir atau terbiasa
berpikir dangkal :
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan
dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai Dan mengapa
mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan
langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan
yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara
manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya". (Q.S.
Ar-Ruum:7-8)
Sudah pasti, contoh-contoh di atas dapat berakibat fatal
bagi kehidupan manusia jika tidak ditangani secara benar. Padahal masih ada masalah
yang lebih penting dari itu semua, yakni kepercayaan terhadap suatu agama. Doktrin
pengajaran suatu agama adalah sesuatu yang wajib dipikirkan oleh manusia. Jika
tidak, maka akan mendatangkan kerugian yang besar dan kebinasaan bagi manusia,
padahal agama adalah urusan yang menyangkut keselamatan setiap manusia kelak.
Penyebab kerugian tersebut adalah kegagalan seseorang dalam berpikir tentang
tujuan keberadaannya di dunia; ketidakpedulian akan ajaran Tuhan yang benar,
ketidakpedulian akan kematian sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat
dihindari; dan kepastian akan hari kiamat dan pertanggungjawaban setelah mati. Dalam Al-Qur'an, Allah
mengajak manusia untuk merenungkan fakta yang sangat penting ini :
"Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan
lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di
akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi. Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan
mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin),
seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat
mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah
kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?" (Q.S. Huud:21-24)
"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang
tidak dapat menciptakan (apa-apa) ? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran." (Q.S. An-Nahl:17)
Alasan Manusia Diciptakan
Harap untuk
diketahui bahwa manusia itu diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah
semata, dan bukan kepada tuhan-tuhan lain. Firman Allah :
“Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah-Ku.” (Q.S.
Az-Zariyat:56)
Seperti
disebutkan dalam ayat tersebut, keberadaan manusia di bumi ini semata-mata untuk
menjadi hamba Allah, untuk menyembah-Nya dan untuk memperoleh ridha-Nya.
Penghambaan manusia kepada Allah merupakan batu ujian selama ia hidup di muka
bumi. Allah sengaja menguji manusia di muka bumi
untuk memisahkan antara mereka yang beriman kepada tauhid dan mereka yang tidak
beriman kepada tauhid, serta untuk menentukan siapa yang terbaik amal
perbuatannya. Oleh karena itu, pengakuan seperti “aku beriman” tanpa bukti
tindakan yang sesuai dengan kehendak dan ketentuan yang diinginkan Allah,
tidaklah cukup. Di sepanjang hayatnya, manusia diuji dalam hal keimanan dan
keta’atannya kepada Allah, termasuk kegigihannya dalam memperjuangkan agama
Allah. Pendek kata, kita semua diuji dalam ketabahan sebagai hamba Allah dalam
berbagai kondisi dan lingkungan yang dikehendaki-Nya. Firman Allah :
“Dia Yang Mematikan dan Menghidupkan untuk menguji siapa di
antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al Mulk:2)
Lalu bagaimana cara manusia mengabdi kepada Allah?
Tentu saja dengan cara yang dinginkan dan disukai oleh Allah sendiri. Ibadah
yang disukai Allah ialah ibadah seorang manusia yang menyerahkan seluruh hidupnya
untuk tujuan mencapai kehendak dan ridha Allah, takut kepada Allah, dan
mengarahkan seluruh pikiran dan perkataan serta perbuatan untuk tujuan
tersebut. Firman Allah :
“Katakanlah : Sesungguhnya
sholatku dan ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam.” (Q.S. Al-An’am:162)
Manusia Itu Sebenarnya Beragama Satu
Manusia sejak
ia belum diciptakan, rohnya sudah berjanji bahwa ia akan mengesakan Tuhan yang
satu, yakni Allah Azza Wajalla, Tuhan Penguasa Jagat Raya. Bahkan untuk
mengawal dan mengingatkan akan janji manusia tersebut, Allah telah mengutus
para nabi dan rasul sebagai pembimbing, penguat, dan penunjuk jalan yang lurus
yang harus dilalui oleh manusia terkait dengan janji mereka tersebut.
Nabi pertama
dan manusia pertama yang diberi tugas untuk mengawal dan menjadi pengawas janji
manusia akan keesaan Tuhan itu adalah Nabi Adam as. Namun apa yang terjadi
selanjutnya adalah bahwa ternyata anak Nabi Adam as. yang bernama Qabil
melanggar janjinya dan melakukan perbuatan jahat untuk merusak ajaran Tauhid
yang dibawa oleh orangtuanya.
Lama setelah
masa Nabi Adam as., manusia tidak lagi memiliki seorang pengawas yang
membimbing mereka, hingga timbullah perselisihan, kekacauan, dan keributan.
Dengan kata lain muncul rasa egois diantara manusia yang inginnya mau menang
sendiri dan mau benar sendiri. Ajaran tauhid yang ditinggalkan Nabi Adam
kemudian “diutak-atik” dan ditafsirkan sesuai dengan selera dan kepentingan
masing-masing orang, sehingga ajaran tersebut menjadi rusak, lalu kemudian
muncullah beraneka ragam kepercayaan hasil kreasi sekelompok masyarakat atau
individu yang akhirnya menimbulkan perselisihan yang semakin tajam antara satu dengan
yang lainnya. (Lihat Q.S. Yunus :19)
Karena
kekacauan dalam masyarakat sudah sedemikian luas akibat rusaknya ajaran agama
dan moral, maka kembali diutuslah para nabi dan rasul berikutnya sebagai
penengah, pemberi peringatan, dan pembawa kabar gembira untuk memberi keputusan
dan menyampaikan Firman Tuhan yang benar sekaligus meluruskan ajaran agama
tauhid yang telah diselewengkan oleh masyarakat kebanyakan. (Lihat Q.S.
Al-Baqarah:213)
Namun apa yang
terjadi, para nabi dan rasul yang diutus itu akhirnya mendapatkan caci maki,
penghinaan, dan pelecehan sedemikian rupa dari segolongan masyarakat yang tidak
suka ajaran hasil kreasi mereka diganggu gugat. Penolakan terhadap ajaran para
nabi dan rasul ini lebih keras dilancarkan oleh para tokoh dan pemuka
masyarakat setempat, sebab mereka khawatir otoritas kepemimpinan mereka
terancam dengan keberadaan para nabi dan rasul-rasul Allah tersebut. Hal ini
dapat dimaklumi, sebab mereka sebelumnya adalah pemegang kekuasaan dalam
masyarakat yang punya hak penuh untuk mengontrol, mempengaruhi dan memaksa
masyarakat dengan pengaruh mereka, baik itu pengaruh kepercayaan,
adat-istiadat, politik, budaya, dan lain-lain. Para pemegang kekuasaan dalam
masyarakat ini cenderung sangat konservatif dan otoriter, karena mereka menutup
celah untuk merubah adat kebiasaan yang selama ini dianggap sebagai sesuatu
yang sakral dan tidak boleh dirubah lagi, walaupun ternyata hal tersebut
dianggap salah dan menyesatkan oleh para nabi dan rasul-rasul Tuhan. Penolakan
mereka terebut cenderung hanya didasarkan pada rasa dengki dan iri hati semata,
karena mereka takut tersingkir dan tersaingi oleh para nabi dan rasul-rasul
Tuhan. Padahal tidak seharusnya mereka berpikir dan memperlakukan para nabi dan
rasul-rasul Tuhan seperti itu, karena para nabi dan rasul-rasul Tuhan bukanlah
pesaing, tetapi mereka adalah mitra sahabat yang bisa diajak bekerja sama untuk
menyuarakan kebenaran. Seandainya hal itu memang sebuah kebenaran, mengapa kita
semua harus takut akan kebenaran. Walaupun pahit, kalau itu benar ... ya kita
akui saja. Iya khan?
Jadi manakala
manusia telah berbuat penyelewengan yang sedemikian luas dengan merusak ajaran
agama tauhid, maka Allah mengutus para nabi dan rasul untuk mengingatkan mereka
agar kembali ke jalan yang lurus. Sebagai contoh, saat Nabi Musa as. diutus
kepada umatnya, Bani Israel, mereka dengan setia mengikuti kepada ajarannya. Namun
ketika beliau wafat, salah seorang pengikutnya bernama Samiri bersama
kawan-kawannya berulah dengan mengutak-atik ajaran Nabi Musa as yang sudah
benar, dengan semaunya sendiri. Samiri dan kawan-kawannya ini kemudian
mempengaruhi dan mempropokasi masyarakat banyak dengan ajaran hasil
kreatifitasnya tersebut, sehingga akhirnya banyak dikalangan umat Israel menjadi
tersesat lagi dan menyeleweng dari jalan Tuhan yang benar.
Sampai
beberapa ratus tahun kemudian, diutuslah Nabi Yesus as. kepada umat Israel
untuk meluruskan cara dan perilaku beragama orang-orang Israel yang sudah
sedemikian jauh terjerumus kedalam kesesatan yang sangat parah. Ajaran Tauhid
dan Taurat yang diajarkan Nabi Musa as. kepada mereka tidak dilaksanakan dengan
benar sebagaimana yang telah diperintahkan kepada mereka dahulu. Nabi Yesus as.
bahkan harus “pontang-panting”, berkeringat dan bersimbah darah untuk
mengingatkan umatnya agar kembali kepada ajaran Tauhid Musa yang benar. Namun
begitu, umatnya tetap “ngeyel” dan bahkan berusaha untuk membunuhnya ditiang
salib. Untungnya Nabi Yesus as. berhasil selamat atas izin Allah dan beliau lalu
mengungsi keluar dari Palestina. Sepeninggal beliau, terjadi kekacauan dan
kekisruhan di Palestina akibat ulah seorang “nabi palsu” bernama Paulus yang
“mengaku-ngaku” sebagai murid Yesus, meskipun Yesus sendiri tidak pernah
bertemu langsung dengannya. Paulus ini dengan daya khayal dan imajinasinya yang
luar biasa kemudian menafsirkan ajaran Yesus sedemikian rupa dan mendramatisir
peristiwa penyaliban Yesus secara berlebih-lebihan, sehingga banyak orang yang
terpengaruh dan tersesat dengan doktrin pengajarannya yang aneh dan bertentangan
dengan ajaran Yesus yang asli.
Akibat ajaran baru
Paulus ini, kemudian muncul lagi perselisihan di kalangan masyarakat
Yahudi-Israel. Paulus ditentang oleh orang-orang Yahudi gara-gara mengubah
ajaran Taurat dan lalu mengajarkannya kepada orang-orang asing (Yunani). Contoh
pertentangan yang paling sengit terjadi antara Paulus, yang nekad merubah
Taurat dan mengkultuskan Yesus sebagai Tuhan, dengan murid Yesus, bernama Yakobus
yang menentang segala bentuk pelecehan terhadap Taurat dan menentang pengatributan
Yesus sebagai Tuhan. Selanjutnya perselisihan lainnya juga terjadi antara golongan
Athanasius yang menuhankan 3 pribadi, yakni Bapa, Yesus, dan Roh Kudus menjadi
Tuhan yang satu dengan golongan Arius yang mengajarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
secara mutlak, dan seterusnya. Pertentangan tersebut berlangsung selama ratusan
tahun yang akhirnya dimenangkan oleh Paulus, Athanasius, dan
pendukung-pendukungnya yang dalam sejarah tercatat paling banyak melakukan
pembantaian terhadap jutaan anggota kelompok pengikut Yakobus dan Arius.
Yesus,
Yakobus, dan Arius seperti para nabi dan rasul-rasul Allah terdahulu selalu
menyuarakan ajaran tauhid dan mengajarkan keesaan Tuhan, tetapi ajaran yang
benar tersebut justru akhirnya dirusak oleh Paulus dan para pengikutnya. Ajaran
Yesus yang “Islami” akhirnya terpinggirkan, dan kini diganti dengan ajaran
Paulus yang kita kenal dengan nama “Kristen”.
Sepeninggal
Yesus, keadaan dunia dimasa itu sudah sangat memperihatinkan dan kacau balau.
Kebanyakan manusia akhirnya tersesat lagi, karena mereka tidak lagi menemukan
mana ajaran tauhid yang benar dan yang asli. Sehingga Allah kemudian mengutus
seorang nabi dan rasul terakhir untuk seluruh dunia yang bernama Nabi Muhammad
saw. Maksud kedatangan Nabi Muhammad saw. diutus kedunia sama persis dengan
maksud kedatangan para nabi dan rasul sebelum beliau, yakni guna meluruskan dan
mengingatkan kembali kepada seluruh manusia agar berpegang teguh kepada ajaran tauhid
atau kembali mengikrarkan keesaan Tuhan.
Anjuran Nabi
Muhammad saw. ini akhirnya banyak diikuti oleh umat manusia dari berbagai
bangsa hingga saat ini. Namun masih banyak juga yang menolak dan mengingkari
ajaran tauhid yang dibawa oleh beliau. Padahal kita semua tahu bahwa ajaran
yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. sama saja dengan ajaran yang dibawa oleh
Nabi Adam, Abraham, Musa, Yakub, Daud, Salomo, Zakaria, Yohanes Pembaptis,
Yesus as, dan nabi-nabi lainnya. Semuanya mengajarkan ajaran tauhid yang kini dikenal
dalam sebuah agama bernama “damai sejahtera” yang dibahasa-arabkan menjadi
“Islam”.
Mengapa Allah Membiarkan Manusia Terpecah Kedalam Berbagai Agama?
Sebenarnya Allah
bisa saja turun tangan langsung menyelesaikan berbagai perselisihan agama
diantara manusia tersebut dan membuat seluruh manusia dimuka bumi ini beriman
kepada-Nya. Allah berfirman :
"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di
muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka
menjadi orang-orang yang beriman semuanya." (Q.S.
Yunus:99)
Namun Allah tidak mau bersikap otoriter dan
memaksa manusia. Allah itu sangat demokratis, sehingga Allah memberikan kebebasan
seluas-luasnya kepada manusia untuk memilih apakah mereka benar-benar mau
beriman atau mengingkari. Firman Allah :
"Beritahukan wahai Muhammad, kebenaran itu berasal dari Tuhan kalian,
barangsiapa mau beriman silahkan dan barangsiapa mau ingkar juga silahkan."
(Q.S. Al-Kahfi:29)
Jadi manusia itu mau beriman atau ingkar terhadap
Allah dan kebenaran yang ada, sangat banyak dipengaruhi oleh pilihannya
sendiri. Dalam diri mereka telah dilengkapi dua potensi besar yang saling
berhadapan, yakni potensi untuk melakukan kebajikan (beriman) dan potensi untuk
melakukan kejahatan (ingkar dan maksiat).
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (manusia) itu, kecenderungan
kefasikan dan ketaqwaan." (Q.S. As-Syams:8)
Sikap fasik dan sikap taqwa ini sepanjang sejarah
umat manusia terus-menerus berhadapan, bukan hanya antar individu dengan
individu lain, akan tetapi juga dalam satu individu itu sendiri. Kenyataan
seperti ini terus berlanjut hingga kini, baik dalam skala kecil maupun besar,
bahkan termasuk antar bangsa, antar ideologi, antar filsafat, dan terutama
antar budaya.
Karena
kebebasan memilih itu sudah diberikan Allah seluas-luasnya kepada manusia, maka
Allah juga di hari perhitungan nanti (hari kiamat) pasti juga akan memilih dan
memilah-milah siapa saja diantara hamba-hambanya yang memilih dengan hati yang
mantap akan petunjuk-Nya yang benar atau memilih kesesatan. Antara kedua
pilihan itu sudah Allah jodohkan dengan 2 pilihan juga, yakni tempat bernama
surga dan neraka. Siapa saja yang akan menempati surga dan siapa saja yang akan
menempati neraka akan tergantung dengan bagaimana pilihan manusia selama
hidupnya didunia, apakah mereka akan memilih jalan yang benar atau jalan yang
sesat. Semoga kita senantiasa diberikan hidayah, bimbingan dan petunjuk
oleh-Nya. Amien.
BAB VII
YESUS MENIKAH
Isyarat Al Qur’an Tentang Pernikahan Yesus
Banyak orang
yang mengira selama hidupnya Yesus tidak pernah menikah atau membujang seumur
hidup, namun ternyata ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Yesus
sebenarnya mempunyai istri, bahkan Yesus bukan hanya memiliki seorang istri,
tapi malah mempunyai lebih dari satu istri.
Dalam Al
Qur’an, Allah SWT telah mengisyaratkan bahwa para nabi dan rasul-Nya yang
laki-laki, termasuk Yesus, semuanya menikah, beristri, dan mempunyai keturunan.
Perhatikan Firman Allah berikut ini :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu
dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d:38)
Pesta Pernikahan Yesus :
Mencurahkan Minyak Wangi
Beberapa
penyelidikan terhadap naskah laut mati oleh para ahli teologi dan ilmuan
sejarawan menunjukkan bukti-bukti yang meyakinkan tentang Yesus yang menikah
dan mempunyai istri lebih dari satu. Salah satu guru besar teologi dan alkitab
dari Universitas Sydney Australia bernama Prof. Dr. Barbara Thierings (dalam Sanihu Munir) yang
melakukan penelitian ilmiah secara mendalam terhadap naskah laut mati selama
kurang lebih 20 tahun dan menghubungkannya dengan ayat-ayat Alkitab, menemukan
bukti bahwa Yesus melakukan pernikahan dan mempunyai istri, bahkan Yesus
mempunyai lebih dari seorang orang istri.
Namun umat
Kristen kebanyakan, bahkan beberapa di kalangan umat Islam awam tidak
mengetahui informasi tentang pernikahan Yesus. Sebab informasi tentang adanya
pernikahan Yesus dan mempunyai istri tersebut berusaha disembunyikan dan
dikaburkan oleh pihak gereja yang takut akan terjadi kegemparan besar dalam
keyakinan Kristen yang mereka ajarkan selama ini.
Upacara
pernikahan Yesus dapat dilihat pada Alkitab Perjanjian Baru yang tertulis
sebagai berikut :
“…. Datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam
berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher
buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. .…” (Markus
14:3)
“…. Datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak
wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakinya lalu
membasahi kakinya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya,
kemudian ia mencium kakinya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. ….” (Lukas
7:37-38)
“Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang
mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, dan
bau minyak semerbak diseluruh ruangan rumah itu.” (Yohanes 12:3)
Siapakah
perempuan bernama Maria tersebut? Jawabannya mudah dan semua umat Kristen pasti
sepakat mengatakan bahwa perempuan itu tidak lain adalah Maria Magdalena.
Nah, cerita
tentang seorang wanita bernama Maria Magdalena yang datang membawa minyak wangi
narwastu lalu dicurahkan ke atas kepala laki-laki bernama Yesus, kemudian Maria
Magdalena berdiri di belakang Yesus, mencium kaki Yesus, dan meminyakinya
dengan minyak wangi
Peristiwa
yang mengisyaratkan upacara pernikahan tersebut untuk lebih jelasnya dapat
dihubungkan dengan ayat-ayat yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian Lama
sebagai berikut :
“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat
dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah…” (Kidung
Agung 1:2-3)
Ingat, pada
Injil Markus 14:3 dan Lukas 7:37-38, Maria Magdalena diceritakan datang mencium
Yesus dan mencurahkan minyak wangi ke atas kepala Yesus. Nah, berdasarkan
Kidung Agung itu artinya adalah sebuah upacara pernikahan. Ingat, Kidung Agung
adalah Kitab tentang pernikahan. Semua orang-orang Yahudi dimanapun mereka
berada pasti mengakui bahwa cerita tersebut memang merupakan tradisi upacara
pernikahan di kalangan para bangsawan Yahudi dan masih berlaku hingga sekarang.
Harap diketahui bahwa Yesus adalah seorang bangsawan Yahudi, dari keturunan
dinasti Daud, Raja Yahudi terkemuka. Begitupula dengan Maria Magdalena, ia
adalah wanita bangsawan Yahudi dari Suku Benyamin (salah satu dari 12 suku Israel).
Memang jika
kita membaca keseluruhan Markus 14:3, Lukas 7:37-38, dan Yohanes 12:3 yang
menceritakan kedatangan Maria Magdalena tersebut. Ada kesan seakan-akan cerita tersebut akan
mengarahkan pembaca untuk menuduh bahwa Maria Magdalena adalah seorang wanita
pelacur yang berdosa lalu datang meminta ampun kepada Yesus. Dan kebanyakan
umat Kristen berpikir dan meyakini bahwa Maria Magdalena itu adalah perempuan
berdosa yang minta ampun kepada Yesus.
Sesungguhnya
pola pikir kita yang menganggap Maria Magdalena itu perempuan pelacur dan
pendosa itu adalah keliru. Sebab Gereja-lah yang menyebabkan kita berpikir
seperti itu. Institusi Gereja berusaha menutupi informasi pernikahan Yesus
tersebut dengan mencoba mengaburkan dan merubah jalan cerita pernikahan Yesus
tersebut menjadi cerita tentang Maria Magdalena yang berdosa dan minta ampun
kepada Yesus. Sebab Gereja tidak mau konsep mereka yang menuhankan Yesus
sebagai sosok Tuhan yang sempurna jadi berantakan gara-gara ada informasi
tersebut. Apa jadinya jika ternyata Yesus yang mereka anggap Tuhan itu kemudian
menikah dan punya anak. Sudah tentu Tuhan mereka akan mempunyai istri dan punya
anak cucu dan cicit. Nah, informasi tentang pernikahan Yesus ini harus
ditutup-tutupi dengan rapat oleh Gereja, sebab konsep mereka tentang Ketuhanan
Yesus, kematian Yesus ditiang salib, dan Trinitas akan kacau balau nantinya.
Kita kembali
kepada perilaku Maria Magdalena yang datang membawa minyak wangi dan mencium
Yesus tersebut. Coba dipikir, apakah wajar seorang wanita datang membawa minyak
wangi berharga mahal lalu ditumpahkan begitu saja keatas kepala laki-laki dan
mencium laki-laki tersebut, hanya untuk meminta pengampunan dosa kepada laki-laki
tersebut? Apakah begitu cara kita memohon pengampunan dosa dengan cara
menumpahkan minyak wangi berharga mahal dan mencium laki-laki? Aneh khan?
Kita harus
melihat fakta sejarah, bahwa Yesus itu sejatinya adalah orang Yahudi. Nah.
dalam ajaran dan tradisi Yahudi, jika ada seorang perempuan menyentuh dan
mencium laki-laki yang bukan merupakan suaminya, maka perempuan tersebut harus
dihukum mati. Tapi mengapa Maria Magdalena tidak dihukum mati karena mencium
Yesus? Karena Maria Magdalena adalah istri dari Yesus, dan siapapun tidak ada
yang berhak melarangnya mencium Yesus, sebab Yesus adalah suaminya yang sah.
Jadi penjelasan yang masuk akal adalah bahwa perbuatan Maria Magdalena yang
mencurahkan minyak wangi dan mencium Yesus tersebut adalah peristiwa upacara
pernikahan yang menunjukkan salah satu prosesi pernikahan, yakni mempelai
wanita datang menghormat kepada calon mempelai laki-laki sebagai simbol
ketaatan dan pengabdian istri kepada suami.
Harap
diketahui bahwa menurut kepantasan sosial pada zaman Yesus tersebut, jelas
terlarang bagi seorang lelaki Yahudi untuk tidak menikah. Menurut adat istiadat
Yahudi, tidak menikah itu adalah terkutuk, dan kewajiban orangtua Yahudi adalah
mencarikan istri yang pantas bagi anak laki-lakinya. Seandainya kita menganggap
Yesus tidak pernah menikah, paling tidak salah satu kitab injil akan
mengatakannya dan memberikan beberapa penjelasan tentang kelajangannya yang
tidak biasa. Tapi nyatanya, semua injil tidak ada yang mengatakan bahwa Yesus
telah membujang seumur hidupnya. Justru yang dikisahkan adalah peristiwa
pernikahan Yesus, meskipun samar-samar.
Yesus Adalah “Rabbi” yang Harus Menikah
Selama
hidupnya, Yesus sering dipanggil dengan sebutan “Rabbi” oleh para pengikutnya
yang terdiri dari orang-orang Yahudi. “Rabbi” adalah sebutan buat orang
terhormat yang dianggap sebagai guru yang bijak atau tuan dalam masyarakat
Yahudi. Seorang “Rabbi” Yahudi haruslah menikah agar mereka dapat dihormati dan
disegani dikalangan masyarakatnya. Seorang laki-laki yang tidak menikah, tidak
dapat dipanggil “Rabbi”. Yesus adalah seorang “Rabbi”, dan hampir dipastikan ia
telah menikah. Ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Yesus adalah keturunan
dari dinasti Nabi Daud yang mewarisi tahta kerajaan Yahudi. Dan sudah pasti ada
tuntutan bagi semua keturunan pewaris tahta Daud untuk menikah. Sebab kalau
tidak menikah, bagaimana mungkin tahta kerajaan akan diwariskan, kalau bukan
kepada keturunan sendiri, iya khan?
Kisah Lazarus
Kemudian
dalam kisah tentang Lazarus pada Injil Yohanes 11:1-44, dan Kisah Marta dan
Maria Magdalena pada Lukas 10:38-42, maka anda akan menemukan beberapa fakta
samar-samar, terkait dengan status kedekatan hubungan Yesus dengan Maria
Magdalena. Kita tidak mengetahui kedekatan status suami-istri antara Yesus
dengan Maria Magdalena dalam ayat-ayat tersebut secara jelas. Ini karena gereja
telah melakukan pengaburan informasi dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
Tetapi kita akhirnya mengetahui bahwa ayat-ayat tersebut sebenarnya telah
diubah sedemikian rupa untuk mengaburkan informasi tentang status hubungan
suami-istri antara Yesus dengan Maria Magdalena. Cerita Lazarus, Marta, dan
Maria Magdalena yang benar sesungguhnya terdapat dalam Injil Markus. Injil ini
adalah injil tertua yang mengilhami penulisan injil-injil lainnya, seperi
Matius, Lukas, Yohanes, dan lain-lain. Seorang Profesor Sejarah Kuno di
Colombia University pada tahun 1958 telah menemukan bukti sepucuk surat dari
uskup Clement dari Alexandria (150M - 215M)
yang ditulis untuk rekannya Theodore. Dalam suratnya tersebut Clement
mengatakan bahwa beberapa ayat dari Injil Markus tersebut harus dihilangkan,
karena tidak sesuai dengan ajaran gereja. (dalam Lunn : 158-159)
Ayat yang
dimaksudkan oleh Clement tersebut adalah kisah tentang Lazarus, yang oleh gereja
sekarang ini dikatakan secara ajaib bangkit dari kematiannya. Ia (Lazarus)
menangis dari dalam kuburnya, supaya diketahui bahwa dia tidak mati ketika
Yesus melihatnya. Keadaan yang sebenarnya, yang dilihat oleh Clement, adalah,
Lazarus sesungguhnya hanya dikucilkan, dan itu dianggap sebagai setara dengan
mati. Masa pengucilan itu berlangsung selama 4 hari. Pada hari ketiga Martha
dan Maria Magdalena (saudaranya Lazarus) mengirimkan pesan kepada Yesus,
mengatakan bahwa Lazarus dalam keadaan sekarat kena kutukan. Lalu Yesus kesana
untuk memulihkan kesehatannya kembali. Ketika kedatangan Yesus dirumah tempat
Marta dan Maria Magdalena tinggal, tempat Lazarus dibaringkan. Maria Magdalena
keluar dari rumah Martha untuk menyambut Yesus, tetapi para murid Yesus menyuruhnya
untuk kembali kedalam. Alasannya adalah, sebagai istri Yesus, dia hanya
diperbolehkan keluar rumah atas izin suaminya.
Nah, oleh
Clement, kisah tersebut direkomendasikannya kepada gereja agar dihilangkan
saja. Dan akhirnya kisah tersebut benar-benar dihilangkan dari Injil Markus
oleh gereja. Sekarang kita hanya bisa membaca kisah Lazarus versi Yohanes yang
telah menghilangkan bagian cerita tentang : “keluarnya Maria Magdalena dari
rumah Marta dalam rangka menyambut kedatangan suaminya, dan perintah para murid
Yesus untuk menyuruh Maria tetap tinggal dalam rumah Marta”. Kisah tersebut
berubah menjadi, “yang keluar rumah itu Marta, dan bukannya Maria Magdalena.”
“Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi
mendapatkannya. Tetapi Maria (Magdalena)
tinggal dirumah.” (Yohanes 11:20)
Kedekatan Maria Pasca Penyaliban
Bukti lain
tentang kedekatan hubungan Yesus dengan Maria Magdalena sebagai pasangan
suami-istri dapat dilihat juga pada peristiwa saat Yesus diturunkan dari tiang
salib, lalu tubuhnya yang terluka dibawa dan disembunyikan ke dalam gua. Nah,
siapakah orang yang menjaga dan memijiti tubuh Yesus yang lagi terluka dan
terbaring lemas tak berdaya didalam gua tersebut? Jawabannya adalah Maria
Magdalena! Lalu siapakah yang pada hari Minggu pagi-pagi sekali menengok gua
tempat tubuh Yesus sebelumnya dibaringkan, tapi ternyata ia tidak menemukan
tubuh Yesus? Jawabannya adalah Maria Magdalena! Pertanyaannya adalah mengapa
Maria Magdalena selalu berada dekat dengan Yesus dalam peristiwa tersebut?
Mengapa ia malah perhatian sekali terhadap Yesus? Jawaban logisnya adalah
karena ia memang merupakan keluarga terdekat dari Yesus, yakni selaku istrinya.
Pada masa
itu, mustahil seorang wanita yang tidak berhubungan keluarga dengan seorang
laki-laki, berani mendekati laki-laki tersebut dan menyentuhnya (mengurapi)
tubuh laki-laki tersebut. Sebab ada larangan bagi seorang wanita Yahudi
mendekati laki-laki yang bukan muhrimnya (bukan suaminya, bukan ortunya, bukan
anaknya), sebab hukumannya berat bagi yang ketahuan, yakni hukuman mati atau
hukuman cambuk. Maria Magdalena bukanlah orang asing bagi Yesus, karena ia
adalah istrinya, jadi wajar kalau ia memperhatikan nasib suaminya begitu rupa.
Yesus Mencintai Maria Magdalena
Untuk
mengetahui tentang sosok Maria Magdalena sebagai istri Yesus, kita dapat
melihat lebih jelas dalam gulungan naskah laut mati yang ditemukan oleh para
arkeolog dan sejarawan pada tahun 1950 di sebuah gua dekat Qumran di gurun
Yudea, Palestina. Gulungan naskah laut mati tersebut merupakan catatan Kristen
paling awal dan lebih dahulu muncul dari tulisan Injil Matius, Markus, Lukas,
dan Yohanes. Dalam gulungan naskah laut mati pada bagian Injil Philipus
(Gnostik Gospel) dikatakan tentang bagaimana cintanya Yesus kepada Maria
Magdalena sebagai berikut :
“Dan teman akrab Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena. Kristus
mencintainya lebih daripada cintanya kepada seluruh muridnya, dan Yesus sering
mencium bibirnya. Murid-murid yang lain tersinggung karenanya, dan
mengungkapkan ketidaksetujuan mereka. Mereka (Petrus) berkata kepada Yesus,
Mengapa engkau lebih mencintainya daripada kami semua?” (dalam Dan
Brown:341)
Kata “teman
akrab” pada ayat tersebut di masa Yesus hidup, secara harfiah lazim diartikan
sebagai pasangan hidup atau suami-istri. Begitu juga dengan adanya adegan
“mencium mulut”, yang diartikan sebagai tindakan yang hanya boleh dilakukan
oleh orang yang sudah menikah. Dan semua sarjana Aramaic dan para sejarawan
mengakui pengertian tersebut.
Baiklah kita
kembali kepada Injil Philipus tersebut diatas, ketika Petrus yang tersinggung
bertanya kepada Yesus : “Mengapa engkau lebih mencintainya daripada kami
semua?”. Menanggapi pertanyaan Petrus tersebut, Yesus tersenyum lalu
menjawab sebagai berikut :
“Hai Petrus, mengapa saya mencintai Maria Magdalena lebih daripada
kalian? Karena kalau seorang yang melihat dan seorang yang buta berada di dalam
kegelapan adalah sama. Tapi kalau yang melihat dan yang buta berada di dalam
terang adalah berbeda.” (dalam
Munir)
Lalu apa arti
perkataan Yesus tersebut? Artinya adalah bahwa orang yang melihat dan orang
yang buta kalau berada ditempat gelap pasti sama-sama nggak bisa melihat, tapi
coba kalau orang yang melihat dan orang yang buta berada di tempat yang terang,
pasti hasilnya berbeda, yakni orang buta tetap nggak bisa melihat dan orang
yang melihat pasti bisa melihat dengan jelas. Nah, Yesus sebenarnya ingin
membuat perumpamaan saja dengan membanding-bandingkan orang buta dengan orang
yang bisa melihat. Coba kalau ada wanita cantik lalu tersenyum menawan, apakah
orang buta bisa melihatnya? Jelas tidak bisa. Jadi hanya orang yang bisa
melihat saja yang bisa mengenali dan melihat wanita itu cantik dengan
senyumannya yang menawan. Dan, Yesus adalah orang yang bisa melihat sesuatu.
Ehm …, melihat Maria Magdalena yang cantik tentunya? (dalam Munir)
Petrus Cemburu Terhadap Maria Magdalena
Kisah
kecemburuan Petrus terhadap Maria Magdalena tersebut juga dapat dilihat pada
Injil Magdalena sebagai berikut :
“Dan Petrus berkata, Apakah Sang Penyelamat betul-betul berbicara
dengan seorang perempuan tanpa sepengetahuan kami? Apakah kami akan berpaling
padanya dan semua mendengarkannya? Apakah dia lebih menyukai dia daripada
kami?” (dalam Dan Brown:343)
“Dan Levi menjawab, Petrus, kau selalu tidak sabar. Sekarang aku
melihatmu menentang perempuan itu seakan seorang musuh. Jika Sang Penyelamat
menghormati dia, siapa sebenarnya kau hingga berani menolak perempuan itu?
Pastilah Sang Penyelamat mengenalnya dengan baik. Karena itulah dia
mencintainya lebih daripada kita.” (dalam Dan Brown:343)
BAB VIII
KRONOLOGIS PERNIKAHAN YESUS
Berdasarkan
naskah-naskah laut mati tersebut diceritakan bahwa Yesus melakukan upacara
pernikahan dengan Maria Magdalena melalui beberapa tahap dan proses yang sangat
panjang. Dengan menggunakan tata cara adat pernikahan bangsawan Yahudi. Mereka
pertama kali melakukan pertunangan terlebih dahulu selama 3 bulan, dan kemudian
baru menikah dengan upacara perminyakan pada hari Jumat tanggal 22 September 30
M pukul 18.00 bertempat di Eimfesta dekat Qumran, Palestina.
Setelah
pernikahan tersebut, mereka belum diperbolehkan berhubungan intim suami-istri.
Hubungan seks baru diperbolehkan 3 bulan kemudian, pada bulan Desember.
Maksudnya agar kelak ketika si istri hamil, maka ia bisa melahirkan bayinya
tepat pada bulan September tahun depan yang bertepatan dengan hari perdamaian
(Atonement). Pada bulan Desember, Yesus akhirnya bisa “berkumpul” dengan
istrinya, Maria Magdalena. Selanjutnya Maria Magdalena pun mengandung.
Hanya sebulan
Yesus tinggal bersama istrinya, lalu ia pun kemudian pergi ke Qumran
dan hidup menyendiri disana, beribadah untuk mencari Tuhannya. Kalau orang
sekarang bilang Yesus itu sedang bertapa atau beruzlah! Ini mirip dengan
keadaan Nabi Muhammad SAW ketika beliau menyendiri di Gua Hira’
Setelah puas
menyendiri dan berhasil mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, Yesus pun kemudian
pulang untuk mengadakan pesta pernikahan yang kedua dengan istrinya, Maria
Magdalena. Pesta pernikahan Yesus-Maria Magdalena yang kedua ini, yang biasa kita
sebut sebagai resepsi, diadakan pada hari Kamis, tanggal 19 Maret 33 M,
bertempat di Kana. Dalam resepsi pernikahan ini, Maria Magdalena telah dalam
keadaan hamil tiga bulan. Resepsi pernikahan ini disiarkan secara luas kepada
masyarakat Yahudi pada waktu itu. Suasana resepsi pernikahan Yesus yang kedua
ini dapat dilihat pada Injil Yohanes 2:1-11.
Pada saat
resepsi pernikahan Yesus tersebut, banyak tamu undangan yang datang. Karena
banyaknya tamu, sampai-sampai persediaan arak (tapi arak yang diminum tidak
bikin teller lho?) untuk para tamu-tamu tersebut mulai habis. Banyak tamu yang
belum kebagian untuk mencicipi arak tersebut. Nah, melihat keadaan darurat
tersebut, Ibunya Yesus, Bunda Maria lalu menemui Yesus dan berkata : “Hai,
Yesus, lihat tuh persediaan arak sudah habis. Bagaimana ini? Apa yang harus
kita lakukan?” Melihat ibunya panik, konon katanya, Yesus kemudian
mengeluarkan mukjizatnya yang pertama kali, yakni merubah air menjadi arak.[1]
Alhasil, persediaan arak pun menjadi bertambah dan tamu-tamu undangan semuanya
dapat mencicipi arak hasil mukjizat Yesus tersebut.
Umat Kristen
pasti menolak adanya resepsi pernikahan Yesus yang merujuk pada Yohanes 2:1-11,
sebab menurut mereka, ayat tersebut menceritakan acara pernikahan orang lain
dimana Yesus dan ibunya hanya merupakan tamu undangan dalam resepsi tersebut.
Pandangan umat Kristen ini patut kita pertanyakan. Mengapa? Karena sesungguhnya
Bunda Maria merupakan tuan rumah dalam resepsi pernikahan tersebut. Dan yang
menikah adalah Yesus, anak kesayangannya.
Coba dipikir,
kalau ia (Bunda Maria) bukan selaku tuan rumah resepsi pernikahan, buat apa ia
harus merepotkan dirinya dengan urusan habisnya arak dalam resepsi tersebut,
lalu bolak-balik menemui pelayan didapur? Apakah tamu undangan harus disibukkan
dengan urusan pemilik resepsi? Ingat, sebagai tamu undangan itu tugas kita
adalah datang, duduk, dengerin kata sambutan, dan melahap menu hidangan yang
disajikan tuan rumah, dan bukannya ikut-ikutan ribut keluar masuk ke dapur
pemilik resepsi untuk mengurus hidangan para tamu undangan lainnya. Jadi,
penjelasan yang masuk akal adalah bahwa kesibukan Bunda Maria mengurus arak dan
bertemu para pelayan itu menunjukkan bahwa ia memang adalah tuan rumah dan
penyelenggara resepsi pernikahan tersebut.
Umat Kristen
masih membantah dan mengatakan mungkin saja Bunda Maria sengaja mau merepotkan
dirinya atas dasar permohonan atau permintaan dari tuan rumah resepsi. Namun
alasan itu juga tidak berdasar, nyatanya dalam Yohanes 2:1-11 itu tidak ada
ayat yang menyebutkan permintaan dari tuan rumah resepsi kepada Bunda Maria
untuk merubah air menjadi arak. Inisiatif untuk merubah air menjadi arak itu
datang dari Bunda Maria sendiri yang kemudian menyuruh anaknya, Yesus melakukan
itu.
Tapi
begitulah, gereja memang berusaha menutup-nutupi kebenaran peristiwa tersebut
dengan cara mengaburkan dan memutarbalikkan informasi.
Dari hasil
pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena tersebut, beberapa tahun kemudian
tepatnya pada tanggal 14 Juni 37, lahirlah anak pertama yang diberi nama Yesus
Justus (dalam Munir). Isyarat tentang kelahiran anak Yesus yang pertama ini
secara samar-samar dapat kita temukan pada Alkitab Kisah Para Rasul versi Indonesia
sebagai berikut :
“Firman Allah makin tersebar (bertambah), …” (Kisah Para Rasul 6:7)
Dalam Alkitab
versi berbahasa Inggris ayatnya berbunyi : “Firman Allah makin menyebar”.
Sedangkan dalam Holy Bible Authorized English Version berbunyi : “Firman Tuhan
makin bertambah.” Adapun terjemahan yang benar adalah terjemahan menurut Holy
Bible Authorized English Version tersebut diatas. Penafsiran yang dapat
diberikan dari terjemahan ayat tersebbut adalah bahwa perkataan “Firman Allah”
dapat diartikan sebagai “Yesus”. Sedangkan kata “makin bertambah” tidak bisa
diartikan lain kecuali : beranak pinak atau mempunyai keturunan yang semakin
bertambah.
Kemudian pada
tanggal 10 April 44,
lahirlah anak Yesus yang ketiga, namun tidak ada catatan sejarah yang
menyebutkan tentang siapa namanya. Sedangkan kelahiran anak kedua Yesus juga
tidak dicatat secara jelas.
Selanjutnya
pada malam selasa tanggal 17 Maret 50, Yesus menikah lagi untuk kedua kalinya
dengan wanita bernama Lydia.
Jadi, Yesus memiliki dua orang istri yang sah. Sampai disinilah bukti-bukti
pernikahan Yesus yang dapat disampaikan dalam catatan sejarah Kristen. Catatan
tentang fakta-fakta kehidupan Yesus lainnya dapat ditemukan dalam
dokumen-dokumen sejarah yang tersebar di kalangan bangsa-bangsa Arab dan Yahudi
yang berada di Palestina, Turki, Irak,
Iran, Semenanjung Arabia, Afghanistan, Pakistan, India, Tibet, dan
Khasmir.
BAB IX
GEREJA MENUTUPI INFORMASI PERNIKAHAN YESUS
Bahwa cerita
tentang kehidupan Yesus itu sebenarnya sudah tersebar terlebih dahulu daripada
Alkitab versi gereja dan beredar dalam masyarakat luas pada waktu itu. Namun
cerita tentang kehidupan Yesus versi non gereja tersebut ternyata menjadi
masalah yang serius bagi kalangan gereja, sebab kehidupan Yesus versi non
gereja sangat menyudutkan doktrin gereja yang menyatakan Yesus adalah Tuhan.
Untuk itulah, gereja berusaha untuk mengubur rapat-rapat cerita-cerita Yesus
diluar versi mereka guna mempromosikan ketuhanan seorang lelaki bernama Yesus
Kristus dan memanfaatkan nama Yesus untuk memperkuat kekuasaan Gereja Vatikan
Roma sebagai satu-satunya gereja di muka bumi yang berhak berbicara atas nama
Yesus.
Padahal kalau
kita melihat kenyataan sejarah, justru perilaku gereja yang menuhankan Yesus
tersebut ditentang oleh masyarakat luas pada waktu itu, sebab tidak sesuai
dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa Yesus sebenarnya adalah manusia biasa
seperti kebanyakan manusia lainnya yang lahir, makan, minum, tidur, mengeluh,
menangis, tertawa, memiliki pekerjaan, mempunyai istri, mempunyai anak, dan
meninggal diusia tua. Jadi, persoalannya adalah gara-gara banyaknya cerita
tentang Yesus yang manusiawi sekali yang diketahui oleh masyarakat! Maka gereja
yang didukung oleh kekuasaan kekaisaran Romawi kemudian mengambil tindakan yang
ekstrim dengan memusnahkan ribuan dokumen (baca: Injil-Injil Apokripa) yang
menceritakan kehidupan Yesus yang sangat manusiawi. Pada waktu itu, siapa saja
yang masih memiliki dokumen-dokumen yang dilarang oleh Konstantin tersebut,
maka orang yang kedapatan itu akan dihukum mati atau dibakar hidup-hidup.
Begitu pula dengan orang-orang yang pada waktu itu menolak ketuhanan Yesus,
maka mereka akan dihukum mati (inkuisisi) oleh Gereja.
Tapi
orang-orang terdahulu yang menentang Gereja dan Kaisar Romawi tidak kehilangan
akal. Mereka ternyata diam-diam dapat menyembunyikan beberapa dokumen-dokumen
yang dilarang oleh gereja tersebut Dan, Puji Tuhan, kita yang hidup di zaman
modern sekarang ini dapat menemukan beberapa dokumen-dokumen tentang kehidupan
Yesus yang pernah disembunyikan tersebut. Penemuan gulungan-gulungan laut mati
pada tahun 1950 di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea Palestina dan
gulungan Koptik pada tahun 1945 di Nag Hammadi akhirnya membuktikan bahwa Yesus
ternyata bukan Tuhan. Ia tidak mati ditiang salib dan Ia ternyata menikah dan
punya keturunan hingga saat sekarang ini.
Alhasil,
doktrin Gereja Vatikan Roma harus dipertanyakan kembali. Sebab terbukti, Yesus
bukanlah Tuhan sebagaimana yang gembar-gemborkan selama 2000 tahun oleh gereja.
Bagaimana mungkin Tuhan bisa menikah dan punya anak? Kecuali kalau ia adalah
manusia biasa seperti kita juga. Namun kebenaran ini masih belum tersiar luas
kepada masyarakat awam, kecuali hanya beberapa orang saja yang tahu, yakni dari
kalangan sejarawan, ahli teologi dan pakar alkitab, pendeta, penginjil, dan
pastor kaliber internasional, ahli kristologi, cendekiawan Islam, kalangan
akademisi, muallaf (orang Kristen yang berpindah ke agama Islam), dan Gereja
Vatikan Roma.
Tapi mengapa umat Kristen tidak
mengetahuinya? Karena Gereja Vatikan Roma memang sengaja tidak mau mengungkap
hal tersebut kepada umatnya, sebab mereka khawatir umatnya akan mempertanyakan
kembali doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus, kebangkitan Kristus, dan ajaran
Paulus yang sudah menjadi barang suci yang tidak boleh diganggu gugat oleh umat
Kristen. Intinya, Gereja Vatikan Roma takut dan khawatir kehilangan pengaruh
dan kekuasaan mereka sebagai satu-satunya kerajaan Gereja dimuka bumi ini yang
harus ditaati oleh umat Kristen, walaupun akhirnya banyak orang yang mengetahui
bahwa doktrin gereja sering bertentangan dengan ajaran dan fakta kehidupan
Yesus yang sebenarnya. Tapi itulah yang namanya kekuasaan. “Siapa yang berkuasa
dialah yang berhak menulis dan mengubah sejarah, walaupun sejarah itu
diputarbalikkan”.
DAFTAR PUSTAKA
Al A'zami,
M.M, “The History of The Qur'anic Text-From Revelation to Compilation”,
Riyadh-Saudi Arabia. From site:
www.pakdenono.com, 2006.
Al
Kandhalawi, Muhammad Zakariyya, “Kitab Fadhail A’mal”, Pustaka Ramadhan, Bandung, 2001.
Alkitab Terjemahan
Indonesia,
Lembaga Alkitab Indonesia,
Jakarta,1994.
Al-Qur’an
dan Terjemahannya, Percetakan Raja Fadh, Saudi Arabia, 1971.
Baigent,
Michael, Richard Leigh, Henry Lincoln, “Holy Blood Holy Grail”, Serambi, Jakarta, 2005.
Brown,
Dan, “The Da Vinci Code : A Novel”, Serambi, Jakarta, 2006.
Hamid,
Syamsul Rijal, “Buku Pintar Agama Islam”, Edisi Senior, Cahaya Islam, Bogor,
2005.
Handono, Hj. Irena, Masruchin Yusufi, dan Zainul Muttaqin, “Islam Dihujat”, Menjawab buku The Islamic
Invasion Karya Robert Morey. From
site: www.pakdenono.com, 2006.
Lunn,
Martin, “Da Vinci Code Decoded : Menguak Kebenaran dibalik Fiksi Da Vinci
Code”, Ufuk Press, Jakarta,
2006.
Munir,
Sanihu, “Yesus Muslim”, Ceramah Kristologi di Studio TV Ar-Rahman Channel, Jakarta. From site:
www.pakdenono.com, 2006.
___________,
“Yesus Ternyata Poligami”, VCD Seri Kajian Kristologi, Yayasan Mitra Centre
Pusat, Kendari, 2004.
Situs :
www.geocities.com/cicak_mdn/, “A Million Bullshits of Christianity”, From site: www.pakdenono.com, 2006.
Yahya,
Harun, “Bagaimana Seorang Muslim Berpikir”, From site: www.harunyahya.com, 2006.
[1]. Mukjizat Yesus merubah air menjadi arak
ini patut dipertanyakan kebenarannya dan sangat tidak masuk akal, karena sangat
aneh ada seorang utusan Tuhan yang melarang peredaran minuman keras, malah
melakukan perbuatan untuk membuat “teler” umatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar