BAB II - PANGGIL
SAKSI-SAKSIMU
Kepandaian Berdagang
yang Penuh Tekanan
Dalam usaha untuk
membuktikan ajarannya, mereka mengeluarkan berbagai pernyataan untuk menarik
perhatian -salah satunya dipakai sebagai judul dalam buku ini -Penyaliban
Yesus- omong kosong atau sejarah? Sungguh, kedengarannya sangat provokatif,
tetapi judul ini diambil dari keroyalan orang Kristen; dari kamus mereka
sendiri.
Garner Ted Armstrong,
Wakil Presiden dan Penerbit Plain Truth (sebuah majalah Kristen dari Amerika,
yang dikabarkan beroplah lebih dari 6 juta kopi setiap bulannya), mencoba untuk
menjawab teka-teki itu denganjudul: "Apakah Kebangkitan Itu Suatu Omong
Kosong?" Ini adalah tipe orang Amerika dalam menawarkan agamanya. Dia
menguraikan kata 'omong kosong' dengan kata-kata, "Kebangkitan Kristus
dari Nazaret bisa merupakan kenyataan sejarah yang sangat hebat dan bisa juga
suatu penipuan yang sangat licik kepada pengikut-pengikut Kristen".
Teman yang lain,
"Billy Graham" muda dari Amerika, Josh McDowell, dalam bukunya Faktor
Kebangkitan Kembali, mengatakan "Saya terpaksa menyimpulkan bahwa
kebangkitan Kristus bisa merupakan suatu kejadian yang paling jahat, tidak
masuk akal dan menipu pikiran umat Kristiani, tetapi bisa berarti juga suatu
kenyataan sejarah yang sangat mengagumkan". Karena tidak mungkin bagi
orang Timur untuk menggabungkan kalimat-kalimat orang Amerika yang sangat
gamblang dan terbuka, maka saya tidak harus meminta maaf untuk meminjam
kata-kata mereka bagi buku saya ini: Penyaliban Kristus - Omong Kosong Atau
Sejarah?
Keberatan Orang Kristen
Menurut kepercayaan
Muslim, Yesus tidak dibunuh atau pun disalib, orang Kristen keberatan dengan
hal itu, "Bagaimana mungkin seorang laki-laki (Muhammad Shallallahu Alaihi
wa Sallam) yang tinggal ribuan mil jauhnya dari tempat kejadian dan hidup pada
masa 600 tahun setelah kejadian, mengetahui apa yang terjadi sebenarnya?"
Kaum Muslim mengatakan bahwa kata-kata Muhammad bukanlah berasal dari dirinya
sendiri, tetapi 'diwahyukan' oleh Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.
Orang Kristen mengatakan bahwa mereka tidak siap menerima aspek metafisik dari
kenabian Muhammad, dibandingkan pandangan penulis-penulis Injil yang menjadi
saksi mata atau pendengar langsung kejadian pada pekan paskah 2000 tahun yang
lalu.
Alasan orang Kristen
cukup kuat. Logika mereka bagus. Untuk menguatkan argumentasi mereka, kita akan
memanggil saksi-saksi mata mereka dan kita akan melakukan pengecekan silang untuk
menemukan kebenaran atau kesalahan yang ada pada penulis-penulis Injil mereka.
Saksi-saksi kunci mereka adalah Matius, Markus, Lukas dan Yohanes - yang
dianggap sebagai penulis Injil. Tetapi mereka semua telah meninggal dan berada
di dalam kubur. "Ya, itu benar, tetapi kami mempunyai kesaksian mereka
yang dibuat di bawah sumpah mereka!", Kata orang Kristen.
Mintalab Buktinya
Ketika berargumentasi
dengan pengakuan Yahudi dan Kristen yang bertentangan dan berlebih-lebihan
tentang penyelamatan, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk
meminta bukti. Firman Allah,
"Katakanlah:
'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu'. Jika kamu adalah orang yang benar." (QS.
Al-Baqarah (2): 111).
Dan mereka telah
memberikan satu-satunya bukti yang mereka miliki, dalam lebih dari 15.000 macam
bahasa! Bahkan dalam bahasa Arab, Injil dibuat dalam sebelas dialek. Apa-kah
kita akan menerima begitu saja? Tidak! Ketika Allah memerintahkan kita untuk
meminta bukti, maksud-Nya adalah kita harus menganalisa bukti-bukti itu.
BAB III - MENDIRIKAN
KERAJAAN TUHAN
Kumpulan Bukti yang
Ketiga-"Menurut..."
Hal yang mengherankan
dalam bukti-bukti yang dimi-liki orang Kristen (yang ditulis oleh Matius,
Markus, Lukas dan Yohanes) adalah bahwa tak ada satu pun yang bisa dibuktikan
keasliannya. Tidak ada satu pun tanda tangan, tanda atau cap jempol dari
penulis dalam kitab yang disebut "asli". Mereka menyombong bahwa
mereka memiliki lebih dari 24.000 kitab asli, tetapi tak ada dari dua yang asli
itu yang isinya sama satu sama lain. Mengherankan! Lebih aneh lagi, orang
Kristen menandai kitab Injil mereka sebagai - "Injil menurut Matius",
"Injil menurut Markus", Injil menurut Lukas", dan "Injil
menurut Yohanes".
Ketika para penginjil
ditanya mengapa kata-kata "menurut" ditulis di awal semua Injil,
mereka mengatakan bahwa mereka tidak menulis sendiri. Ini hanya anggapan bahwa
mereka adalah penulis Injil sekarang ini. Penterjemah dari "Versi
Internasional Yang Baru", secara diam-diam telah menghapus kata 'menurut'
dari empat Injil mereka dalam terjemahannya yang terakhir. Dari orang-orang
yang dianggap penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, diketahui
bahwa 50% dari mereka bahkan bukan termasuk dalam 12 murid pilihan Yesus.
Kasus yang Utama
Saya dengan rendah hati
berani menegaskan bahwa dokumen-dokumen yang tidak ada pembuktiannya tersebut
tidak akan diterima di semua pengadilan di peradaban manapun, hanya dalam tempo
2 menit. Selain itu, Markus, salah seorang yang dinyatakan sebagai saksi
mengatakan bahwa di saat Yesus dalam keadaan kritis -
"Lalu semua murid
itu meninggalkan dia dan melarikan diri". (Injil - Markus 14: 50).
Coba tanya pada teman
Anda yang beragama Kristen, "Apakah 'semua (all)' di sini berarti semua
(all) dalam bahasa Anda? Dan dia pasti akan menjawab, "Ya!", apakah
'almal' berarti 'almal dalam bahasa Afrika? Dan tanpa ragu dia akan menjawab,
"Ya!"; Dan apakah 'bonke' berarti 'bonke ' dalam bahasa Zulu?"
Dan dia akan menjawab, "Ya!". Ini benar untuk setiap bahasa. Tetapi
mengapa ayat dari Injil ini tidak tertulis dalam logat Anda sendiri?
Jadi orang yang disebut
'saksi mata' di sini tidak benar-benar menjadi saksi mata terhadap kejadian
tersebut, kecuali jika Markus tidak mengatakan kebenaran seluruhnya dalam
Injil. Padahal dia dianggap mengungkapkan semuanya di bawah sumpah! Anda pasti
setuju bahwa kasus seperti di atas pasti akan ditolak di pengadilan manapun di
semua peradaban di muka bumi ini. Akan tetapi ajaran yang sudah ada sejak 2000
tahun yang lalu, yang dipercaya dapat menyelamatkan 1.2 miliar umat Kristen ini
tidak bisa dihilangkan begitu saja. Hal ini perlu menjadi perhatian. Oleh
karena itu kita bisa saja menyenangkan orang-orang yang dianggap sebagai saksi,
yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, seolah-olah mereka adalah saksi
sejarah.
Dari Mana Kita Akan
Mulai?
Tentu saja dari awal! -
tepatnya seperti apa yang dikatakan Injil ("Pada awal .... - Kejadian l:
1) - hanya 24 jam sebelum bencana alam "Hujan badai, gerhana matahari
gempa bumi, batu terbelah, kuburan-kuburan terbuka dan mayat-mayat yang
terbaring bangkit dan berkumpul di jalan menuju ke Yerusalem...." seperti
yang digambarkan oleh saksi-saksi Kristen. Suatu skenario yang mahal yang
mengalahkan rekor biaya pernbuatan sebuah film!
Kita tidak boleh lupa
bahwa kaum Yahudi berkaitan juga dengan pembunuhan atas Yesus Kristus dan kita
sebagai Muslim terpaksa membela mereka melawan tuduhan umat Kristen, karena
keadilan harus ditegakkan. Apapun perbuatan dan perkataan dosa mereka, Allah membebaskan
mereka dari tuduhan pembunuhan tersebut. Allah berfirman,
"Mereka tidak
(pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa." (Q,S. An-Nisa (4):
157).
Memainkan Kartu 'Kisah
Penyaliban'
Dunia Kristen dengan
tidak adil telah menghukum dan membunuh orang Yahudi sejak 2000 tahun lalu
dengan tuduhan atas pembunuhan yang tidak mereka (Yahudi) lakukan. Percobaan
pembunuh? Mungkin! Tetapi pembunuhan? Tidak! Dengan membebaskan Yahudi dari
kejahatan yang tidak mereka lakukan, berarti juga kita membuat penginjil dan
penyebar agama Kristen menjadi tidak berdaya. Dalam mengetuk hati dan pikiran
manusia, kisah penyaliban adalah satu-satunya kartu yang mereka punya. Biarkan
mereka de-ngan kegilaannya dan Anda akan mendapatkan bahwa dunia Muslim bebas
dari usaha dan gangguan kaum misionaris Kristen.
Di Sekitar Meja
Di malam perayaan
Paskah, Yesus dan kedua belas muridnya duduk melingkar di sebuah meja besar
bersama dengan tuan rumahnya - Murid tercinta - yaitu Yohanes. Yohanes dan
Yesus adalah nama yang biasa bagi kaum Yahudi pada tahun 30 Masehi, seperti
nama Tom, Dick, John dan Jimmy di abad ke 20 ini. Jadi paling tidak ada 14
orang dan bukan 13 seperti angka sial dalam tahyul Barat.
Perjalanan Menuju
Yerusalem
Yesus melakukan
perjalanannya yang agung memasuki Yerusalem sebagai pemimpin dari
pengikut-pengikutnya dengan semangat dan antusias untuk membangun 'Kerajaan
Tuhari' setiap saat dengan mengendarai keledai untuk memenuhi tugas
kerasulannya (Zakharia 9: 9),
"Katakanlah kepada
puteri Sion, lihat, Rajamu datang kepadamu ... Mengendarai seekor keledai ....
Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan ...
. dan menyebarkan ranting-ranting pohon di jalan ... dan orang banyak berseru,
"Hosana bagi anak Daud… Hosana di tempat yang Maha Tinggi ... "
(Injil - Matius 21: 5-9).
Mari kita lihat Lukas,
sang tabib, menambahkan tulisannya untuk menjelaskan gambaran tersebut. '
"....karena ia
sudah dekat dengan Yerusalem, dan mereka menyangka bahwa kerajaan Allah akan
segera kelihatan". (Injil - Lukas 19: 11).
Kerajaan Surga?
"Akan tetapi semua
seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi Rajanya, bawalah mereka kemari, dan
bunuhlah mereka di depan mataku." (Injil - Lukas 19: 27).
"... Diberkatilah
dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan". (Injil - Lukas 19: 38).
Dan Yohanes menambahkan
bahwa rombongan yang bersemangat itu berteriak -
"Hosana!
Dlberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, raja Israel!" (Injil -
Yohanes 12: 13).
"Maka kata
orang-orang Farisi ... Lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti dia
(Yesus)" (Injil - Yohanes 12: 19).
"Sekarang
berlangsung penghakiman atas dunia ini; Sekarang juga penguasa dunia ini akan
dilemparkan keluar." (Injil - Yohanes 12: 31).
Siapa yang bisa tahan
terhadap janji kemenangan di masa depan yang memabukkan itu? Sedikit
menakjubkan bahwa Yesus tergoda secara fisik untuk mengusir orang-orang yang
berjualan di halaman kuil. Dia mendorong meja tempat berjual beli tersebut dan
memaksa mereka keluar dengan sebuah 'cambuk tali'- (Yohanes 2: 15).
Serangan yang Gagal
Pembersihan kewenangan
kuil itu terjadi dengan cepat, dan menjadi awal pengusiran terhadap orang
Romawi untuk mendirikan 'Kerajaan Tuhan'. Tetapi cita-citanya yang tinggi ini
tidak pernah terwujud. Pelaksanaannya semua gagal bagaikan sebuah petasan, yang
diiringi dengan teriakan 'Hosana', 'anak Daud' dan 'Raja Israel':
Yesus telah mengacuhkan
peringatan orang-orang Farisi untuk mengekang kegembiraan yang berlebih-lebihan
dari murid-muridnya (Lukas 19: 39). Dia salah perhitungan. Karenanya dia
terpaksa menerima akibatnya. Bangsanya tidak siap untuk mengorbankan diri
karena sikap kekanak-kanakan mereka.
Pemikiran Yahudi
Pemimpin-pemimpin
Yahudi menganggap bahwa laki-laki ini adalah pembawa kerusakan bagi bangsanya.
Oleh karenanya,
"Lebih berguna
bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini
binasa." (Injil -Yohanes 11: 50).
Tetapi dengan adanya
orang-orang yang mengelilingi Yesus, maka tidaklah bijak untuk menawan Yesus di
hadapan publik. Mereka menunggu kesempatan untuk menangkapnya diam-diam.
Keberuntungan rupanya ada pada mereka, kerena mereka berhasil membujuk Yudas,
salah satu dari murid pilihan Yesus untuk berkhianat pada Guru dan Tuhan-nya
demi 30 batang perak.
Yudas Tidak Puas
Dalam pandangan ajaran
Kristiani, yang mendorong Yudas untuk melakukan perbuatan yang bersikap
pengecut adalah keserakahannya akan emas. Dia tetap merasa kurang atas apa yang
telah diberikan kaum Kristiani kepadanya. Sebagai salah satu murid pilihan
Yesus, dia merasa tidak memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang
berkecukupan. Lalu mengapa tidak mengambil kesempatan dengan mengorbankan
waktunya demi 30 batang perak? Yudas tidak puas. Setelah semua demonstrasi
massa yang merayakan keberhasilan Yesus memasuki Yerusalem - di antara limpahan
simpati massanya: "Waktunya telah tiba - dan sekarang - Pangeran dunia akan
diusir - saya harus menguasai mereka -membawa mereka dan membunuh mereka
sebelum mereka membunuh saya" Yesus telah meletakkan jejak. Kalau Yesus
bisa dihasut, mungkin dia akan bertindak dengan mukjizatnya dan membawa api dan
batu-batu panas dari surga untuk melawan musuh-musuhnya; dan tentu saja pasukan
malaikat akan membantunya dan murid-muridnya untuk menguasai dunia.
Dari seringnya
berhubungan dengan gurunya, Yudas mengetahui bahwa Yesus adalah orang yang baik
hati, lembut dan penyayang. Tetapi Yudas bukanlah orang yang pandai bermain
kata-kata. Dia tidak mengetahui kapan Yesus sedang senang hati atau sedang
susah hati. Mungkin jika Yesus sedang susah hati, maka bukannya kebaikan yang
akan diterimanya tetapi malah akan memberikannya kematian.
Pengkhianatan itu
Terbongkar
Sikap dan kelakuan
Yudas yang mencurigakan akhirnya diketahui Yesus. Dia tidak memerlukan roh
kudus untuk membaca pikiran-pikiran yang salah pada diri Yudas. Pada suatu
'makan malam terakhir' yang dihadiri Yesus dan murid-muridnya, Yesus memecat
Yudas dengan kata-kata:
"... Apa yang
hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera." (Injil - Yohanes 13: 27).
Dan Yudas pergi karena
pengkhianatannya sudah diketahui.
BAB IV - PERSIAPAN
UNTUK JIHAD
Perubahan Kebijakan
Yesus tidak mau hanya
duduk dan menunggu ditangkap oleh kaum Yahudi. Dia menyiapkan murid-muridnya
akan adanya bentrokan dan pertikaian. Dengan berhati-hati, agar tidak membuat
takut murid-muridnya, dia mengajarkan cara-cara mempertahankan diri. Dia
memulainya:
"Ketika aku mengutus
kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan
apa-apa?"Jawab mereka, 'Suatu pun tidak'. Katanya kepada mereka, 'Tetapi
sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya,
demikian juga yang mempunyai bekal; dan barangsiapa yang tidak mempunyainya
hendaknya dia menjual jubahnya dan membeli pedang'..." (Injil - Lukas 22:
35-36)
Ini adalah persiapan
untuk jihad, perang suci - Yahudi melawan Yahudi! Mengapa? Mengapa ini terjadi?
Apakah dia tidak menasehatkan mereka untuk 'hidup berdampingan'- Apakah dia
tidak menasehati ke 12 muridnya dengan:
"Lihat, aku
mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu
cerdik seperti ular dan tulus sepertl merpati ". (Injil - Matius 10: 16).
Untuk Senjata! Untuk
Senjata!
Situasi dan kondisi
telah berubah dan dengan segala kebijakan maka strategi harus dirubah.
Murid-muridnya telah dipersenjatai. Mereka telah mempunyai gambaran masa depan.
Mereka tidak mau meninggalkan Galilia dengan tangan kosong. Mereka menjawab:
"... Tuhan, ini
dua pedang." Jawabnya, "Sudah cukup" (Injil - Lukas 22: 38).
Untuk membentuk
gambaran Yesus yang baik budi dan lembut hati, sebagai "Pangeran
Perdamaian", kaum misionaris membelanya, bahwa pedang yang dimaksud adalah
roh/jiwa! Jika pedang-pedang tersebut adalah jiwa, maka 'jubah' di atas berarti
juga jiwa. Jika murid-murid Yesus harus menjual jubah jiwa untuk membeli pedang
jiwa, maka dalam kasus ini, berarti mereka menjadi jiwa yang telanjang. Lebih
dari itu, seseorang tidak akan bisa memotong telinga manusia dengan pedang jiwa
-
"Tetapi seorang
dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunuskan pedangnya,
dan meletakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya ".
(Injil - Matius 26: 51).
Satu-satunya maksud dari
pedang-pedang atau senjata tersebut adalah untuk membuntungkan dan membunuh. Di
masa Yesus orang-orang tidak akan membawa pedang hanya untuk mengupas apel atau
pisang.
Mengapa Sepasang Pedang
Sudah Cukup?
Jika saat itu adalah
persiapan untuk perang, lalu mengapa sepasang pedang sudah 'cukup'? Alasarmya
adalah Yesus tidak bermaksud menyerang pasukan Romawi. Karena 'temannya' Yudas
bekerja sama dengan penguasa kuil. Dia tahu bahwa dia bisa ditangkap dengan
cara yang licik oleh kaum Yahudi. Ini menjadi masalah bagi kaum Yahudi. Dalam
suatu peperangan melawan penjaga kuil dan kaum gelandangan di kota, dia mungkin
menang. Dan dia yakin sekali karena ada Petrus (si batu), Yohanes dan James
(Putra Halilintar) serta delapan murid lainnya yang masing-masing bersedia
berkorban dipenjara bersamanya bahkan mati demi dirinya ("Semua murid yang
lain pun berkata demikian" (Matius 26: 35)). Mereka semua adalah orang
Galilea yang mempunyai reputasi kesetiaan, teroris dan pemberontakan terhadap
Romawi.
Dengan bersenjatakan
tongkat, batu dan pedang serta rasa percaya diri dan keyakinan terhadap
gurunya, mereka yakin bisa mengetuk pintu neraka bagi setiap Yahudi yang
mengganggu dan melawan mereka.
Ahli Siasat
Dia (Yesus) telah
membuktikan bahwa dirinya mempunyai keahlian dalam mengatur strategi dan
rencana, peka terhadap sinyal-sinyal bahaya dan banyak akal. Saat itu bukan
waktunya untuk duduk dan ongkang-ongkang kaki untuk menjadi sasaran empuk bagi
musuh-musuhnya. Tidak? Itu bukanlah sifatnya. Suatu malam, sewaktu sedang
menuju Getsemani - kebun zaitun - dengan suatu bangunan berdinding batu yang
jauhnya 5 mil dari kota, dia menggambarkan betapa seriusnya situasi saat itu.
Resiko yang harus dihadapi apabila mereka gagal dalam serangan ini.
Anda tidak perlu
menjadi anggota militer yang jenius untuk menilai itu. Yesus menunjukkan
kekuatannya sebagai ahli siasat dengan bersikap seperti anggota Sandhurst
(Suatu akademi militer terbaik di Inggris). Beliau menempatkan delapan dari
sebelas muridnya pada pintu masuk bangunan tersebut dan memerintahkan mereka:
"…duduklah di sini
sementara aku pergi ke sana untuk berdoa." (Injil - Matius 26: 36).
Pertanyaan yang
mengganggu para pemikir adalah: "Mengapa mereka semua pergi ke
Getsemani?" Untuk beribadah? Apakah mereka tidak bisa pergi ke kuil
Sulaiman yang mereka lewati apabila tujuan mereka hanya untuk beribadah? Tidak!
Mereka pergi ke kebun itu sehingga mereka berada pada posisi yang lebih baik
untuk membela diri dari serangan musuh.
Perhatikan, Yesus tidak
mengajak kedelapan muridnya" untuk beribadah. Dia menempatkan muridnya
secara strategis pada pintu masuk kebun, mempersenjatai dengan pedang, karena
situasi yang mungkin terjadi:
"Dan ia membawa
Petrus dan kedua anak Zebedeus bersamanya.... Lalu katanya kepada mereka....
Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan aku." (Injil - Matius 26:
37-38).
Kemana dia membawa
Petrus serta Yohanes dan Yakobus sekarang? Ke dalam kebun itu! Untuk beribadah?
Tidak! Untuk membuat jalur pertahanan - dia menempatkan delapan orang itu pada
pintu masuk dan sekarang ketiga murid lainnya yang terkenal fanatik dan
bersemangat, dipersenjatai dengan pedang, hanya untuk 'menunggu dan mengawasi'
-untuk mengawal! Gambaran ini sangat gamblang. Yesus tidak memberikari gambaran
apa pun bagi kita. Dan dia (sendiri) hanya berdoa!
Yesus Berdoa Untuk
Meminta Pertolongan
"…dan mulailah ia
merasa sedih dan gentar. Lalu katanya kepada mereka, 'Hatiku sangat sedih
seperti mau mati rasanya . . . ' Maka ia maju sedikit, lalu sujud (seperti
posisi shalat bagi Muslim), dan berdoa, katanya, 'Ya Bapaku, jikalau sekiranya
mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang
kukehendaki; melainkan seperli yang Engkau kehendaki'…" (Injil - Matius
26: 37-39).
"Ia sangat
ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa; Peluhnya menjadi seperti
titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Injil - Lukas 22: 44).
Al-Masih Menangis Bagi
Umatnya
Apakah arti ratapan dan
tangisan ini? Apakah dia menangis karena kulitnya luka? Tidak mungkin ia
melakukan hal itu! Karena seperti nasehatnya pada muridnya:
"Maka jika matamu
yang kanan menyesatkan engkau, cukillah dan buanglah itu.... Dan jika tanganmu
yang kanan menyesatkan engkau, maka penggallah dan buanglah itu, karena lebih
baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu yang utuh
masuk neraka." (Injil -Matius 5: 29-30).
Kita mungkin menilai
Yesus dengan tidak adil bila kita menduga bahwa dia menangis seperti seorang
wanita untuk menjaga tubuhnya dari luka fisik. Beliau menangis bagi umatnya -
kaum Yahudi. Mereka memegang suatu pemikiran yang aneh yaitu bahwa jika mereka
berhasil membunuh Al-Masih (Kristus), maka akan menjadi bukti yang meyakinkan
terhadap kebohongan Yesus. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan
pernah membiarkan hal itu terjadi. Karenanya, penolakan kaum Yahudi terhadap Yesus
Putra Maria sebagai Al-Masih yang dijanjikan adalah - Penolakan Yang abadi.
Versi Imajinatif
Cerita yang penuh
dengan ratapan tangis yang mengerikan dan membekukan darah ini menimbulkan
simpati di hati yang mendalam. Dan para pengabar Injil memanfaatkannya dengan
efektif. Kita diceritakan bahwa Yesus ditakdirkan untuk meninggal demi menebus
dosa umat manusia. Bahwa dia telah "dipersiapkan untuk menjalani
pengorbanan diri, sebelum dunia ini dibuat". Bahwa bahkan sebelum
bahan-bahan dasar dunia ini terbentuk, sudah ada suatu kontrak antara
"Bapa dan Putranya" dan bahwa pada tahun 4000 setelah Adam (menurut
perhitungan Kristen, dunia beserta isinya ini berumur 6000 tahun), Tuhan dalam
bentuk Yesus sebagai orang kedua dalam Trinitas yang membingungkan, turun
langsung untuk menebus manusia dari dosa turunan dan dosa manusia itu sendiri.
("Trinitas": Dalam ajaran Kristen yang ada dalam Injil - Bahwa ada 3
kesaksian dalam surga yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah
satu (1 Yohanes 5: 7))
Yesus Tidak Peduli
Dengan Perjanjian Surga
Dari peristiwa rencana
mempersenjatai diri, sang guru menyebar kekuatannya di Getsemani dan doa yang
penuh dengan air mata darah untuk meminta pertolongan Tuhain, tergambar bahwa
Yesus tidak mengetahui adanya perjanjian mengenai pengorbanan dirinya. Ini
mengingatkan pada cerita Ibrahim yang membiarkan anaknya disembelih sebagai
pengorbanan kepada Tuhan.
Korban yang Tidak Rela
Jika ini adalah rencana
Tuhan untuk suatu pengorbanan diri bagi menebus dosa umat manusia, maka
jelaslah bahwa Tuhan telah salah memilih korban. Calon yang dipilih ini sangat
enggan untuk mati. Mempersenjatai diri! Meratap! Berkeringat! Menangis!
Mengeluh! Berbeda sekali dengan respon Lord Nelson, seorang pahlawan perang
yang terkenal dengan kata-katanya yang abadi:
"Terima kasih
Tuhan, saya telah menyelesaikan tugas saya!" Telah jutaan orang sampai
saat ini yang dengan suka rela mengorbankan jiwanya bagi raja dan negaranya
dengan senyum di wajahnya, dengan teriakan Amandhla! atau Allahu Akbar atau
"Tuhan menyelamatkan Sang Ratu". Yesus tidak rela untuk berkorban:
Jika ini adalah skenario dari pengorbanan, maka ini adalah adegan yang tidak
menjiwai. Ini adalah pembunuhan tingkat pertama dan bukannya pengorbanan diri.
Mayor Yeast-Brown, dalam
bukunya Life of a Bengal Lancer meringkas ajaran Kristen tentang pengorbanan
ini hanya dengan satu kalimat:
"Tak satu pun suku
kafir yang pernah menyusun cerita yang sangat aneh yang penuh dengan dugaan,
bahwa manusia lahir dengan dosa bawaan dari nenek moyangnya; dan dosa bawaan
itu (yang sebetulnya bukanlah tanggungjawabnya secara pribadi) harus ditebus;
dan bahwa sang pencipta alam beserta isinya ini telah mengorbankan satu-satunya
putranya untuk menebus kutukan misterius ini."
Komoditi yang Ditawarkan
"Tak satu pun suku
kafir!" kata orang Inggris ini. Tetapi sebagian besar negara di Barat
hidup dan mati dengan 'dongengan' ini. Jika tidak ada lagi barang untuk
konsumsi rumah tangga, maka cerita ini masih bagus untuk ditawarkan! Lebih dari
62.000 misionaris mengelilingi dunia, mengajak orang-orang yang mereka sebut
"penyembah berhala" . Lebih dari 40% dari penyembah berhala ini
adalah anggota sekte "born again" (Lahir kembali) di Amerika!
"Born-again" (lahir kembali): salah satu sekte pemujaan berhala di
dalam Kristen. Billy Graham mengaku bahwa ada 70 juta pemujaan seperti ini di
Amerika. Di San Francisco lebih dari seperempat juta kaum gay dan 50 lesbian
bergabung. Di New York, telah satu juta lebih laki-laki dan wanita, dan
sepertiga dari laki-laki ini adalah kaum yang melakukan sodomi. Keseluruhannya
lebih dari 10 juta orang yang bermasalah dengan minuman keras di USA. Jika ini
benar bahwa ada 70 juta orang anggota 'born-again' seperti cerita mereka, maka
ini memberikan kebohongan pada Paulus "... sedikit ragi mengkhamiri
seluruh adonan. . . "- ( 1 Korintus 5 : 6). Di sini, di Kristen Barat,
tidak hanya sepertiga ragi yang bisa memfermentasi ragi. Aneh!)
Aneh mungkin
kedengarannya, setelah bangkit dari doanya, Yesus mendapati bahwa
murid-muridnya tertidur dengan lelapnya. Lagi dan lagi, dia meratap:
Yesus - Cobaannya
"Tidakkah kamu
sanggup berjaga-jaga satu jam dengan aku?" (Injil - Matius 26: 40).
"Lalu ia pergi
lagi dan mengucapkan doa yang itu juga. Dan ketika ia kembali pula Ia mendapati
mereka sedang tidur..." (Injil - Markus 14: 39-40).
Markus meratapi bahwa
murid-murid tersebut tidak bisa dimaafkan karena kelemahan dan kelengahan
mereka. Dia mencatat:
"Mereka tidak tahu
jawab apa yang harus mereka berikan kepada Yesus" (Injil - Markus 14: 40).
Akan tetapi Lukas,
orang yang paling jelas, paling berhubungan dan sangat sistematis sebagai
penulis Injil, mengemukakan alasan mengapa murid-muridnya ini tertidur. Dia
berkata:
"Lalu ia bangkit
dari doanya dan kembali kepada murid-muridnya, tetapi ia mendapati mereka
sedang tidur karena dukacita". (Injil - Lukas 22: 45).
Alasan yang Zidak Wajar
Lukas, meskipun bukan
anggota dari duabelas murid terpilih Yesus, telah memberikan sejumlah
penjelasan menurut orang-orang Kristen. Bagi mereka, dia adalah 'ahli sejarah
terbaik', 'tabib tercinta' dan lain-lain. Sebagai seorang tabib, teorinya
mengenai orang yang "tertidur karena duka-cita" adalah unik. Tangis,
ratapan, kengerian dan penderitaan yang dialami selama perjalanan dari
Yerusalem ke Getsemani biasanya akan memberikan tekanan dan kesiagaan pada
orang-orang yang bijaksana. Mengapa kesengsaraan ini malah meninabobokkan
murid-murid tersebut? Apakah ilmu psikologi mereka berbeda dengan manusia abad
20? Profesor-profesor psikologi telah 'mengeluarkan pendapat-pendapat bahwa di
bawah tekanan, stress dan ketakutan, kelenjar adrenalin akan menghasilkan
hormon ke saluran darah - diinjeksikan secara alami - yang akan mengusir semua
rasa kantuk. Apakah mungkin bahwa murid-murid Yesus itu telah makan terlalu
banyak dan minum di saat perjamuan terakhir sebelum berangkat ke Getsemani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar