Jumat, 21 Maret 2014

BAB II - PANGGIL SAKSI-SAKSIMU



BAB II - PANGGIL SAKSI-SAKSIMU

Kepandaian Berdagang yang Penuh Tekanan
Dalam usaha untuk membuktikan ajarannya, mereka mengeluarkan berbagai pernyataan untuk menarik perhatian -salah satunya dipakai sebagai judul dalam buku ini -Penyaliban Yesus- omong kosong atau sejarah? Sungguh, kedengarannya sangat provokatif, tetapi judul ini diambil dari keroyalan orang Kristen; dari kamus mereka sendiri.

Garner Ted Armstrong, Wakil Presiden dan Penerbit Plain Truth (sebuah majalah Kristen dari Amerika, yang dikabarkan beroplah lebih dari 6 juta kopi setiap bulannya), mencoba untuk menjawab teka-teki itu denganjudul: "Apakah Kebangkitan Itu Suatu Omong Kosong?" Ini adalah tipe orang Amerika dalam menawarkan agamanya. Dia menguraikan kata 'omong kosong' dengan kata-kata, "Kebangkitan Kristus dari Nazaret bisa merupakan kenyataan sejarah yang sangat hebat dan bisa juga suatu penipuan yang sangat licik kepada pengikut-pengikut Kristen".

Teman yang lain, "Billy Graham" muda dari Amerika, Josh McDowell, dalam bukunya Faktor Kebangkitan Kembali, mengatakan "Saya terpaksa menyimpulkan bahwa kebangkitan Kristus bisa merupakan suatu kejadian yang paling jahat, tidak masuk akal dan menipu pikiran umat Kristiani, tetapi bisa berarti juga suatu kenyataan sejarah yang sangat mengagumkan". Karena tidak mungkin bagi orang Timur untuk menggabungkan kalimat-kalimat orang Amerika yang sangat gamblang dan terbuka, maka saya tidak harus meminta maaf untuk meminjam kata-kata mereka bagi buku saya ini: Penyaliban Kristus - Omong Kosong Atau Sejarah?

Keberatan Orang Kristen
Menurut kepercayaan Muslim, Yesus tidak dibunuh atau pun disalib, orang Kristen keberatan dengan hal itu, "Bagaimana mungkin seorang laki-laki (Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang tinggal ribuan mil jauhnya dari tempat kejadian dan hidup pada masa 600 tahun setelah kejadian, mengetahui apa yang terjadi sebenarnya?" Kaum Muslim mengatakan bahwa kata-kata Muhammad bukanlah berasal dari dirinya sendiri, tetapi 'diwahyukan' oleh Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Orang Kristen mengatakan bahwa mereka tidak siap menerima aspek metafisik dari kenabian Muhammad, dibandingkan pandangan penulis-penulis Injil yang menjadi saksi mata atau pendengar langsung kejadian pada pekan paskah 2000 tahun yang lalu.

Alasan orang Kristen cukup kuat. Logika mereka bagus. Untuk menguatkan argumentasi mereka, kita akan memanggil saksi-saksi mata mereka dan kita akan melakukan pengecekan silang untuk menemukan kebenaran atau kesalahan yang ada pada penulis-penulis Injil mereka. Saksi-saksi kunci mereka adalah Matius, Markus, Lukas dan Yohanes - yang dianggap sebagai penulis Injil. Tetapi mereka semua telah meninggal dan berada di dalam kubur. "Ya, itu benar, tetapi kami mempunyai kesaksian mereka yang dibuat di bawah sumpah mereka!", Kata orang Kristen.

Mintalab Buktinya
Ketika berargumentasi dengan pengakuan Yahudi dan Kristen yang bertentangan dan berlebih-lebihan tentang penyelamatan, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk meminta bukti. Firman Allah,

"Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu'. Jika kamu adalah orang yang benar." (QS. Al-Baqarah (2): 111).

Dan mereka telah memberikan satu-satunya bukti yang mereka miliki, dalam lebih dari 15.000 macam bahasa! Bahkan dalam bahasa Arab, Injil dibuat dalam sebelas dialek. Apa-kah kita akan menerima begitu saja? Tidak! Ketika Allah memerintahkan kita untuk meminta bukti, maksud-Nya adalah kita harus menganalisa bukti-bukti itu.

BAB III - MENDIRIKAN KERAJAAN TUHAN
Kumpulan Bukti yang Ketiga-"Menurut..."
Hal yang mengherankan dalam bukti-bukti yang dimi-liki orang Kristen (yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) adalah bahwa tak ada satu pun yang bisa dibuktikan keasliannya. Tidak ada satu pun tanda tangan, tanda atau cap jempol dari penulis dalam kitab yang disebut "asli". Mereka menyombong bahwa mereka memiliki lebih dari 24.000 kitab asli, tetapi tak ada dari dua yang asli itu yang isinya sama satu sama lain. Mengherankan! Lebih aneh lagi, orang Kristen menandai kitab Injil mereka sebagai - "Injil menurut Matius", "Injil menurut Markus", Injil menurut Lukas", dan "Injil menurut Yohanes".

Ketika para penginjil ditanya mengapa kata-kata "menurut" ditulis di awal semua Injil, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menulis sendiri. Ini hanya anggapan bahwa mereka adalah penulis Injil sekarang ini. Penterjemah dari "Versi Internasional Yang Baru", secara diam-diam telah menghapus kata 'menurut' dari empat Injil mereka dalam terjemahannya yang terakhir. Dari orang-orang yang dianggap penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, diketahui bahwa 50% dari mereka bahkan bukan termasuk dalam 12 murid pilihan Yesus.

Kasus yang Utama
Saya dengan rendah hati berani menegaskan bahwa dokumen-dokumen yang tidak ada pembuktiannya tersebut tidak akan diterima di semua pengadilan di peradaban manapun, hanya dalam tempo 2 menit. Selain itu, Markus, salah seorang yang dinyatakan sebagai saksi mengatakan bahwa di saat Yesus dalam keadaan kritis -

"Lalu semua murid itu meninggalkan dia dan melarikan diri". (Injil - Markus 14: 50).

Coba tanya pada teman Anda yang beragama Kristen, "Apakah 'semua (all)' di sini berarti semua (all) dalam bahasa Anda? Dan dia pasti akan menjawab, "Ya!", apakah 'almal' berarti 'almal dalam bahasa Afrika? Dan tanpa ragu dia akan menjawab, "Ya!"; Dan apakah 'bonke' berarti 'bonke ' dalam bahasa Zulu?" Dan dia akan menjawab, "Ya!". Ini benar untuk setiap bahasa. Tetapi mengapa ayat dari Injil ini tidak tertulis dalam logat Anda sendiri?

Jadi orang yang disebut 'saksi mata' di sini tidak benar-benar menjadi saksi mata terhadap kejadian tersebut, kecuali jika Markus tidak mengatakan kebenaran seluruhnya dalam Injil. Padahal dia dianggap mengungkapkan semuanya di bawah sumpah! Anda pasti setuju bahwa kasus seperti di atas pasti akan ditolak di pengadilan manapun di semua peradaban di muka bumi ini. Akan tetapi ajaran yang sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu, yang dipercaya dapat menyelamatkan 1.2 miliar umat Kristen ini tidak bisa dihilangkan begitu saja. Hal ini perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu kita bisa saja menyenangkan orang-orang yang dianggap sebagai saksi, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, seolah-olah mereka adalah saksi sejarah.

Dari Mana Kita Akan Mulai?
Tentu saja dari awal! - tepatnya seperti apa yang dikatakan Injil ("Pada awal .... - Kejadian l: 1) - hanya 24 jam sebelum bencana alam "Hujan badai, gerhana matahari gempa bumi, batu terbelah, kuburan-kuburan terbuka dan mayat-mayat yang terbaring bangkit dan berkumpul di jalan menuju ke Yerusalem...." seperti yang digambarkan oleh saksi-saksi Kristen. Suatu skenario yang mahal yang mengalahkan rekor biaya pernbuatan sebuah film!

Kita tidak boleh lupa bahwa kaum Yahudi berkaitan juga dengan pembunuhan atas Yesus Kristus dan kita sebagai Muslim terpaksa membela mereka melawan tuduhan umat Kristen, karena keadilan harus ditegakkan. Apapun perbuatan dan perkataan dosa mereka, Allah membebaskan mereka dari tuduhan pembunuhan tersebut. Allah berfirman,

"Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa." (Q,S. An-Nisa (4): 157).

Memainkan Kartu 'Kisah Penyaliban'
Dunia Kristen dengan tidak adil telah menghukum dan membunuh orang Yahudi sejak 2000 tahun lalu dengan tuduhan atas pembunuhan yang tidak mereka (Yahudi) lakukan. Percobaan pembunuh? Mungkin! Tetapi pembunuhan? Tidak! Dengan membebaskan Yahudi dari kejahatan yang tidak mereka lakukan, berarti juga kita membuat penginjil dan penyebar agama Kristen menjadi tidak berdaya. Dalam mengetuk hati dan pikiran manusia, kisah penyaliban adalah satu-satunya kartu yang mereka punya. Biarkan mereka de-ngan kegilaannya dan Anda akan mendapatkan bahwa dunia Muslim bebas dari usaha dan gangguan kaum misionaris Kristen.

Di Sekitar Meja
Di malam perayaan Paskah, Yesus dan kedua belas muridnya duduk melingkar di sebuah meja besar bersama dengan tuan rumahnya - Murid tercinta - yaitu Yohanes. Yohanes dan Yesus adalah nama yang biasa bagi kaum Yahudi pada tahun 30 Masehi, seperti nama Tom, Dick, John dan Jimmy di abad ke 20 ini. Jadi paling tidak ada 14 orang dan bukan 13 seperti angka sial dalam tahyul Barat.

Perjalanan Menuju Yerusalem
Yesus melakukan perjalanannya yang agung memasuki Yerusalem sebagai pemimpin dari pengikut-pengikutnya dengan semangat dan antusias untuk membangun 'Kerajaan Tuhari' setiap saat dengan mengendarai keledai untuk memenuhi tugas kerasulannya (Zakharia 9: 9),

"Katakanlah kepada puteri Sion, lihat, Rajamu datang kepadamu ... Mengendarai seekor keledai .... Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan ... . dan menyebarkan ranting-ranting pohon di jalan ... dan orang banyak berseru, "Hosana bagi anak Daud… Hosana di tempat yang Maha Tinggi ... " (Injil - Matius 21: 5-9).

Mari kita lihat Lukas, sang tabib, menambahkan tulisannya untuk menjelaskan gambaran tersebut. '

"....karena ia sudah dekat dengan Yerusalem, dan mereka menyangka bahwa kerajaan Allah akan segera kelihatan". (Injil - Lukas 19: 11).

Kerajaan Surga?
"Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi Rajanya, bawalah mereka kemari, dan bunuhlah mereka di depan mataku." (Injil - Lukas 19: 27).

"... Diberkatilah dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan". (Injil - Lukas 19: 38).

Dan Yohanes menambahkan bahwa rombongan yang bersemangat itu berteriak -
"Hosana! Dlberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, raja Israel!" (Injil - Yohanes 12: 13).

"Maka kata orang-orang Farisi ... Lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti dia (Yesus)" (Injil - Yohanes 12: 19).

"Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini; Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar." (Injil - Yohanes 12: 31).

Siapa yang bisa tahan terhadap janji kemenangan di masa depan yang memabukkan itu? Sedikit menakjubkan bahwa Yesus tergoda secara fisik untuk mengusir orang-orang yang berjualan di halaman kuil. Dia mendorong meja tempat berjual beli tersebut dan memaksa mereka keluar dengan sebuah 'cambuk tali'- (Yohanes 2: 15).

Serangan yang Gagal
Pembersihan kewenangan kuil itu terjadi dengan cepat, dan menjadi awal pengusiran terhadap orang Romawi untuk mendirikan 'Kerajaan Tuhan'. Tetapi cita-citanya yang tinggi ini tidak pernah terwujud. Pelaksanaannya semua gagal bagaikan sebuah petasan, yang diiringi dengan teriakan 'Hosana', 'anak Daud' dan 'Raja Israel':

Yesus telah mengacuhkan peringatan orang-orang Farisi untuk mengekang kegembiraan yang berlebih-lebihan dari murid-muridnya (Lukas 19: 39). Dia salah perhitungan. Karenanya dia terpaksa menerima akibatnya. Bangsanya tidak siap untuk mengorbankan diri karena sikap kekanak-kanakan mereka.

Pemikiran Yahudi
Pemimpin-pemimpin Yahudi menganggap bahwa laki-laki ini adalah pembawa kerusakan bagi bangsanya. Oleh karenanya,
"Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa." (Injil -Yohanes 11: 50).

Tetapi dengan adanya orang-orang yang mengelilingi Yesus, maka tidaklah bijak untuk menawan Yesus di hadapan publik. Mereka menunggu kesempatan untuk menangkapnya diam-diam. Keberuntungan rupanya ada pada mereka, kerena mereka berhasil membujuk Yudas, salah satu dari murid pilihan Yesus untuk berkhianat pada Guru dan Tuhan-nya demi 30 batang perak.

Yudas Tidak Puas
Dalam pandangan ajaran Kristiani, yang mendorong Yudas untuk melakukan perbuatan yang bersikap pengecut adalah keserakahannya akan emas. Dia tetap merasa kurang atas apa yang telah diberikan kaum Kristiani kepadanya. Sebagai salah satu murid pilihan Yesus, dia merasa tidak memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang berkecukupan. Lalu mengapa tidak mengambil kesempatan dengan mengorbankan waktunya demi 30 batang perak? Yudas tidak puas. Setelah semua demonstrasi massa yang merayakan keberhasilan Yesus memasuki Yerusalem - di antara limpahan simpati massanya: "Waktunya telah tiba - dan sekarang - Pangeran dunia akan diusir - saya harus menguasai mereka -membawa mereka dan membunuh mereka sebelum mereka membunuh saya" Yesus telah meletakkan jejak. Kalau Yesus bisa dihasut, mungkin dia akan bertindak dengan mukjizatnya dan membawa api dan batu-batu panas dari surga untuk melawan musuh-musuhnya; dan tentu saja pasukan malaikat akan membantunya dan murid-muridnya untuk menguasai dunia.

Dari seringnya berhubungan dengan gurunya, Yudas mengetahui bahwa Yesus adalah orang yang baik hati, lembut dan penyayang. Tetapi Yudas bukanlah orang yang pandai bermain kata-kata. Dia tidak mengetahui kapan Yesus sedang senang hati atau sedang susah hati. Mungkin jika Yesus sedang susah hati, maka bukannya kebaikan yang akan diterimanya tetapi malah akan memberikannya kematian.

Pengkhianatan itu Terbongkar
Sikap dan kelakuan Yudas yang mencurigakan akhirnya diketahui Yesus. Dia tidak memerlukan roh kudus untuk membaca pikiran-pikiran yang salah pada diri Yudas. Pada suatu 'makan malam terakhir' yang dihadiri Yesus dan murid-muridnya, Yesus memecat Yudas dengan kata-kata:

"... Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera." (Injil - Yohanes 13: 27).

Dan Yudas pergi karena pengkhianatannya sudah diketahui.

BAB IV - PERSIAPAN UNTUK JIHAD
Perubahan Kebijakan
Yesus tidak mau hanya duduk dan menunggu ditangkap oleh kaum Yahudi. Dia menyiapkan murid-muridnya akan adanya bentrokan dan pertikaian. Dengan berhati-hati, agar tidak membuat takut murid-muridnya, dia mengajarkan cara-cara mempertahankan diri. Dia memulainya:

"Ketika aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?"Jawab mereka, 'Suatu pun tidak'. Katanya kepada mereka, 'Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan barangsiapa yang tidak mempunyainya hendaknya dia menjual jubahnya dan membeli pedang'..." (Injil - Lukas 22: 35-36)

Ini adalah persiapan untuk jihad, perang suci - Yahudi melawan Yahudi! Mengapa? Mengapa ini terjadi? Apakah dia tidak menasehatkan mereka untuk 'hidup berdampingan'- Apakah dia tidak menasehati ke 12 muridnya dengan:

"Lihat, aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus sepertl merpati ". (Injil - Matius 10: 16).

Untuk Senjata! Untuk Senjata!
Situasi dan kondisi telah berubah dan dengan segala kebijakan maka strategi harus dirubah. Murid-muridnya telah dipersenjatai. Mereka telah mempunyai gambaran masa depan. Mereka tidak mau meninggalkan Galilia dengan tangan kosong. Mereka menjawab:

"... Tuhan, ini dua pedang." Jawabnya, "Sudah cukup" (Injil - Lukas 22: 38).

Untuk membentuk gambaran Yesus yang baik budi dan lembut hati, sebagai "Pangeran Perdamaian", kaum misionaris membelanya, bahwa pedang yang dimaksud adalah roh/jiwa! Jika pedang-pedang tersebut adalah jiwa, maka 'jubah' di atas berarti juga jiwa. Jika murid-murid Yesus harus menjual jubah jiwa untuk membeli pedang jiwa, maka dalam kasus ini, berarti mereka menjadi jiwa yang telanjang. Lebih dari itu, seseorang tidak akan bisa memotong telinga manusia dengan pedang jiwa -

"Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunuskan pedangnya, dan meletakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya ". (Injil - Matius 26: 51).

Satu-satunya maksud dari pedang-pedang atau senjata tersebut adalah untuk membuntungkan dan membunuh. Di masa Yesus orang-orang tidak akan membawa pedang hanya untuk mengupas apel atau pisang.

Mengapa Sepasang Pedang Sudah Cukup?
Jika saat itu adalah persiapan untuk perang, lalu mengapa sepasang pedang sudah 'cukup'? Alasarmya adalah Yesus tidak bermaksud menyerang pasukan Romawi. Karena 'temannya' Yudas bekerja sama dengan penguasa kuil. Dia tahu bahwa dia bisa ditangkap dengan cara yang licik oleh kaum Yahudi. Ini menjadi masalah bagi kaum Yahudi. Dalam suatu peperangan melawan penjaga kuil dan kaum gelandangan di kota, dia mungkin menang. Dan dia yakin sekali karena ada Petrus (si batu), Yohanes dan James (Putra Halilintar) serta delapan murid lainnya yang masing-masing bersedia berkorban dipenjara bersamanya bahkan mati demi dirinya ("Semua murid yang lain pun berkata demikian" (Matius 26: 35)). Mereka semua adalah orang Galilea yang mempunyai reputasi kesetiaan, teroris dan pemberontakan terhadap Romawi.

Dengan bersenjatakan tongkat, batu dan pedang serta rasa percaya diri dan keyakinan terhadap gurunya, mereka yakin bisa mengetuk pintu neraka bagi setiap Yahudi yang mengganggu dan melawan mereka.

Ahli Siasat
Dia (Yesus) telah membuktikan bahwa dirinya mempunyai keahlian dalam mengatur strategi dan rencana, peka terhadap sinyal-sinyal bahaya dan banyak akal. Saat itu bukan waktunya untuk duduk dan ongkang-ongkang kaki untuk menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuhnya. Tidak? Itu bukanlah sifatnya. Suatu malam, sewaktu sedang menuju Getsemani - kebun zaitun - dengan suatu bangunan berdinding batu yang jauhnya 5 mil dari kota, dia menggambarkan betapa seriusnya situasi saat itu. Resiko yang harus dihadapi apabila mereka gagal dalam serangan ini.

Anda tidak perlu menjadi anggota militer yang jenius untuk menilai itu. Yesus menunjukkan kekuatannya sebagai ahli siasat dengan bersikap seperti anggota Sandhurst (Suatu akademi militer terbaik di Inggris). Beliau menempatkan delapan dari sebelas muridnya pada pintu masuk bangunan tersebut dan memerintahkan mereka:

"…duduklah di sini sementara aku pergi ke sana untuk berdoa." (Injil - Matius 26: 36).

Pertanyaan yang mengganggu para pemikir adalah: "Mengapa mereka semua pergi ke Getsemani?" Untuk beribadah? Apakah mereka tidak bisa pergi ke kuil Sulaiman yang mereka lewati apabila tujuan mereka hanya untuk beribadah? Tidak! Mereka pergi ke kebun itu sehingga mereka berada pada posisi yang lebih baik untuk membela diri dari serangan musuh.

Perhatikan, Yesus tidak mengajak kedelapan muridnya" untuk beribadah. Dia menempatkan muridnya secara strategis pada pintu masuk kebun, mempersenjatai dengan pedang, karena situasi yang mungkin terjadi:

"Dan ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus bersamanya.... Lalu katanya kepada mereka.... Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan aku." (Injil - Matius 26: 37-38).

Kemana dia membawa Petrus serta Yohanes dan Yakobus sekarang? Ke dalam kebun itu! Untuk beribadah? Tidak! Untuk membuat jalur pertahanan - dia menempatkan delapan orang itu pada pintu masuk dan sekarang ketiga murid lainnya yang terkenal fanatik dan bersemangat, dipersenjatai dengan pedang, hanya untuk 'menunggu dan mengawasi' -untuk mengawal! Gambaran ini sangat gamblang. Yesus tidak memberikari gambaran apa pun bagi kita. Dan dia (sendiri) hanya berdoa!

Yesus Berdoa Untuk Meminta Pertolongan
"…dan mulailah ia merasa sedih dan gentar. Lalu katanya kepada mereka, 'Hatiku sangat sedih seperti mau mati rasanya . . . ' Maka ia maju sedikit, lalu sujud (seperti posisi shalat bagi Muslim), dan berdoa, katanya, 'Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki; melainkan seperli yang Engkau kehendaki'…" (Injil - Matius 26: 37-39).

"Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa; Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah." (Injil - Lukas 22: 44).

Al-Masih Menangis Bagi Umatnya
Apakah arti ratapan dan tangisan ini? Apakah dia menangis karena kulitnya luka? Tidak mungkin ia melakukan hal itu! Karena seperti nasehatnya pada muridnya:

"Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cukillah dan buanglah itu.... Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, maka penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu yang utuh masuk neraka." (Injil -Matius 5: 29-30).

Kita mungkin menilai Yesus dengan tidak adil bila kita menduga bahwa dia menangis seperti seorang wanita untuk menjaga tubuhnya dari luka fisik. Beliau menangis bagi umatnya - kaum Yahudi. Mereka memegang suatu pemikiran yang aneh yaitu bahwa jika mereka berhasil membunuh Al-Masih (Kristus), maka akan menjadi bukti yang meyakinkan terhadap kebohongan Yesus. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Karenanya, penolakan kaum Yahudi terhadap Yesus Putra Maria sebagai Al-Masih yang dijanjikan adalah - Penolakan Yang abadi.

Versi Imajinatif
Cerita yang penuh dengan ratapan tangis yang mengerikan dan membekukan darah ini menimbulkan simpati di hati yang mendalam. Dan para pengabar Injil memanfaatkannya dengan efektif. Kita diceritakan bahwa Yesus ditakdirkan untuk meninggal demi menebus dosa umat manusia. Bahwa dia telah "dipersiapkan untuk menjalani pengorbanan diri, sebelum dunia ini dibuat". Bahwa bahkan sebelum bahan-bahan dasar dunia ini terbentuk, sudah ada suatu kontrak antara "Bapa dan Putranya" dan bahwa pada tahun 4000 setelah Adam (menurut perhitungan Kristen, dunia beserta isinya ini berumur 6000 tahun), Tuhan dalam bentuk Yesus sebagai orang kedua dalam Trinitas yang membingungkan, turun langsung untuk menebus manusia dari dosa turunan dan dosa manusia itu sendiri. ("Trinitas": Dalam ajaran Kristen yang ada dalam Injil - Bahwa ada 3 kesaksian dalam surga yaitu Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu (1 Yohanes 5: 7))

Yesus Tidak Peduli Dengan Perjanjian Surga
Dari peristiwa rencana mempersenjatai diri, sang guru menyebar kekuatannya di Getsemani dan doa yang penuh dengan air mata darah untuk meminta pertolongan Tuhain, tergambar bahwa Yesus tidak mengetahui adanya perjanjian mengenai pengorbanan dirinya. Ini mengingatkan pada cerita Ibrahim yang membiarkan anaknya disembelih sebagai pengorbanan kepada Tuhan.

Korban yang Tidak Rela
Jika ini adalah rencana Tuhan untuk suatu pengorbanan diri bagi menebus dosa umat manusia, maka jelaslah bahwa Tuhan telah salah memilih korban. Calon yang dipilih ini sangat enggan untuk mati. Mempersenjatai diri! Meratap! Berkeringat! Menangis! Mengeluh! Berbeda sekali dengan respon Lord Nelson, seorang pahlawan perang yang terkenal dengan kata-katanya yang abadi:

"Terima kasih Tuhan, saya telah menyelesaikan tugas saya!" Telah jutaan orang sampai saat ini yang dengan suka rela mengorbankan jiwanya bagi raja dan negaranya dengan senyum di wajahnya, dengan teriakan Amandhla! atau Allahu Akbar atau "Tuhan menyelamatkan Sang Ratu". Yesus tidak rela untuk berkorban: Jika ini adalah skenario dari pengorbanan, maka ini adalah adegan yang tidak menjiwai. Ini adalah pembunuhan tingkat pertama dan bukannya pengorbanan diri.

Mayor Yeast-Brown, dalam bukunya Life of a Bengal Lancer meringkas ajaran Kristen tentang pengorbanan ini hanya dengan satu kalimat:

"Tak satu pun suku kafir yang pernah menyusun cerita yang sangat aneh yang penuh dengan dugaan, bahwa manusia lahir dengan dosa bawaan dari nenek moyangnya; dan dosa bawaan itu (yang sebetulnya bukanlah tanggungjawabnya secara pribadi) harus ditebus; dan bahwa sang pencipta alam beserta isinya ini telah mengorbankan satu-satunya putranya untuk menebus kutukan misterius ini."
Komoditi yang Ditawarkan
"Tak satu pun suku kafir!" kata orang Inggris ini. Tetapi sebagian besar negara di Barat hidup dan mati dengan 'dongengan' ini. Jika tidak ada lagi barang untuk konsumsi rumah tangga, maka cerita ini masih bagus untuk ditawarkan! Lebih dari 62.000 misionaris mengelilingi dunia, mengajak orang-orang yang mereka sebut "penyembah berhala" . Lebih dari 40% dari penyembah berhala ini adalah anggota sekte "born again" (Lahir kembali) di Amerika! "Born-again" (lahir kembali): salah satu sekte pemujaan berhala di dalam Kristen. Billy Graham mengaku bahwa ada 70 juta pemujaan seperti ini di Amerika. Di San Francisco lebih dari seperempat juta kaum gay dan 50 lesbian bergabung. Di New York, telah satu juta lebih laki-laki dan wanita, dan sepertiga dari laki-laki ini adalah kaum yang melakukan sodomi. Keseluruhannya lebih dari 10 juta orang yang bermasalah dengan minuman keras di USA. Jika ini benar bahwa ada 70 juta orang anggota 'born-again' seperti cerita mereka, maka ini memberikan kebohongan pada Paulus "... sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan. . . "- ( 1 Korintus 5 : 6). Di sini, di Kristen Barat, tidak hanya sepertiga ragi yang bisa memfermentasi ragi. Aneh!)

Aneh mungkin kedengarannya, setelah bangkit dari doanya, Yesus mendapati bahwa murid-muridnya tertidur dengan lelapnya. Lagi dan lagi, dia meratap:

Yesus - Cobaannya
"Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan aku?" (Injil - Matius 26: 40).
"Lalu ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga. Dan ketika ia kembali pula Ia mendapati mereka sedang tidur..." (Injil - Markus 14: 39-40).

Markus meratapi bahwa murid-murid tersebut tidak bisa dimaafkan karena kelemahan dan kelengahan mereka. Dia mencatat:

"Mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada Yesus" (Injil - Markus 14: 40).

Akan tetapi Lukas, orang yang paling jelas, paling berhubungan dan sangat sistematis sebagai penulis Injil, mengemukakan alasan mengapa murid-muridnya ini tertidur. Dia berkata:

"Lalu ia bangkit dari doanya dan kembali kepada murid-muridnya, tetapi ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita". (Injil - Lukas 22: 45).

Alasan yang Zidak Wajar
Lukas, meskipun bukan anggota dari duabelas murid terpilih Yesus, telah memberikan sejumlah penjelasan menurut orang-orang Kristen. Bagi mereka, dia adalah 'ahli sejarah terbaik', 'tabib tercinta' dan lain-lain. Sebagai seorang tabib, teorinya mengenai orang yang "tertidur karena duka-cita" adalah unik. Tangis, ratapan, kengerian dan penderitaan yang dialami selama perjalanan dari Yerusalem ke Getsemani biasanya akan memberikan tekanan dan kesiagaan pada orang-orang yang bijaksana. Mengapa kesengsaraan ini malah meninabobokkan murid-murid tersebut? Apakah ilmu psikologi mereka berbeda dengan manusia abad 20? Profesor-profesor psikologi telah 'mengeluarkan pendapat-pendapat bahwa di bawah tekanan, stress dan ketakutan, kelenjar adrenalin akan menghasilkan hormon ke saluran darah - diinjeksikan secara alami - yang akan mengusir semua rasa kantuk. Apakah mungkin bahwa murid-murid Yesus itu telah makan terlalu banyak dan minum di saat perjamuan terakhir sebelum berangkat ke Getsemani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar