Senin, 17 Maret 2014

YESUS BUKAN TUHAN



YESUS BUKAN TUHAN


OLEH
MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd


































DAFTAR ISI


JUDUL ………………………………………………………………………………………………….   i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………   iii

BAB I      MELURUSKAN KEKELIRUAN TAFSIR KETUHANAN YESUS ……………………..    1
v  Aku dan Bapa Adalah Satu ………………...........................................................        1
v  Tidak Seorangpun yang Datang Kepada Bapa, Kalau Tidak Melalui Aku ..........       5
v  Barang Siapa yang Telah Melihat Aku, Ia Telah Melihat Bapa ………………….       8
v  Dia Telah Mengaruniakan AnakNya yang Tunggal ……………………………….      9
v  Jika Orang Tak Terlahir Kembali, Dia Tak Dapat Melihat Kerajaan Allah ………      11
v  Kepadaku (Yesus) Telah diberikan Segala Kuasa di Sorga dan di Bumi ...........        12
v  Jadikanlah Semua Bangsa MuridKu dan Baptislah Mereka …………….............       14
v  Sebab Ada Tiga yang Memberi Kesaksian di Sorga ……………………..............      17
v  Barangsiapa Percaya Kepada Anak, Ia Beroleh Hidup yang Kekal …………….       19
v  Tanpa Dia (Yesus) Tidak Ada Suatupun yang Telah Jadi ………………………..      20
v  Firman (Yesus) Itu Adalah Allah …………………………………………………….      22
v  Thomas Menjawab Dia (Yesus) : “Ya Tuhanku dan Allahku!” …………………...       25
v  Masuklah Mereka.., Lalu Sujud Menyembah Dia (Yesus) ………………………..      26
v  Sebelum Abraham Jadi, Aku (Yesus) Telah Ada ………………………………….      26
v  Dia (Yesus) Diangkat ke Sorga, dan Duduk Disamping Kanan Allah ………......       27
v  Jika Kamu Mengakui Yesus Adalah Tuhan, Kamu Akan Diselamatkan………...      28
v  Kaum Israel Harus Tahu, Allah Telah Membuat Yesus Menjadi Tuhan..............        29
v  Aku (Yesus) Adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup.....................        31
v  Yesus Adalah Roh Allah, yang Menjadi Allah Itu Sendiri ……………………….         32
v  Yesus Bisa Mengampuni Dosa Seseorang ………………………………………..       35

BAB II     SIFAT-SIFAT KEMANUSIAAN YESUS ....................................................................       37
v  Yesus Merasakan Lapar dan Membutuhkan Makanan ......................................        37
v  Yesus Hanya Mengaku Sebagai Utusan Tuhan .................................................        38
v  Yesus Menyuruh Umatnya Hanya Menyembah Kepada Allah Saja …………….      40
v  Yesus Menolak Disebut Orang Baik ………………………………………………..      42
v  Yesus Tidak Mengetahui Hari Kiamat ………………………………………………     43
v  Yesus Digoda oleh Iblis (Hawa Nafsu) ……………………………………………..      43
v  Yesus Belajar dari Pengalaman ……………………………………………………..     44
v  Yesus adalah Raja dan Pimpinan Kaum Yahudi ………………………………….       45
v  Beberapa Kualitas Kemanusiaan Yesus Lainnya ………………………………....       45

BAB III    KUALITAS ALLAH YANG SEBENARNYA ……........................................................       48

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................        50

BAB I
MELURUSKAN KEKELIRUAN TAFSIR
KETUHANAN YESUS


Agama Islam mengajarkan bahwa Allah adalah satu, satu tanpa sekutu dan satu dalam kesatuan mutlak. Dia bukanlah satu di antara yang banyak, bahkan juga bukan satu di antara yang lain, tetapi satu dalam keunikan total. Keunikan-Nya menentang pemahaman total oleh akal manusia fana yang sangat terbatas. Dia tanpa awal dan tanpa akhir. Tidak ada yang sebanding dengan-Nya. Allah adalah satu Tuhan, di samping-Nya tidak ada tuhan lain. Ekspresi yang paling sempurna, indah, dan sublim mengenai keesaan Allah ini ditemukan dalam Al-Qur'an :

"Katakanlah : ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’." (Q.S. Al-Ikhlas:1-4)

Sementara dalam ajaran Kristen, yang sering dipromosikan sebagai Tuhan adalah Yesus. Dalil yang sering mereka gunakan untuk membenarkan Ketuhanan Yesus adalah dengan mengutip ucapan-ucapan Paulus, sebagai berikut :

“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:6)

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)

Untuk memperkuat pernyataan Paulus tersebut, maka para pengikut Paulus, terutama gereja membuat penafsiran-penafsiran tersendiri, dan jika perlu melakukan pengeditan (perubahan atau pemutarbalikan) terhadap beberapa perkataan-perkataan Yesus dan peristiwa seputar kehidupannya, agar sesuai dengan ide dan doktrin keimanan mereka yang menuhankan Yesus.
Dan nampaknya usaha gereja untuk memutarbalikkan pengertian beberapa ayat-ayat dalam Alkitab tersebut sejauh ini berhasil dengan sangat memuaskan. Umat Kristen banyak yang tidak mengerti dan tidak paham, bahwa ayat-ayat yang sering mereka kutip untuk membenarkan Ketuhanan Yesus itu sebenarnya adalah keliru dan tidak berdasar sama sekali. Karena sesungguhnya perkataan yang mengatakan bahwa Yesus Itu adalah Tuhan, bukan hanya merupakan “cemooh” atau “ejekan” terhadap (salah satu) ketuhanan, tetapi merupakan bentuk terendah dari kekafiran, sekaligus penghinaan terhadap kecerdasan akal manusia.
Berikut ini, kami akan memaparkan beberapa bukti dari Alkitab sendiri untuk meyakinkan anda semua bahwa Yesus bukanlah Tuhan yang patut disembah-sembah. Dan ia bukanlah sosok “ajaib” yang bisa bersatu jiwa dan raga dengan Bapa-nya (Tuhannya), dalam pengertian fisik (reinkarnasi).

Aku dan Bapa adalah Satu
Para pemimpin Gereja sering mengutip ayat Alkitab dibawah ini sebagai alasan untuk membenarkan status dan kedudukan Yesus setara dengan Tuhan. Ayat yang dimaksud berbunyi :

Yesus telah berkata : "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30)

Potongan ayat tersebut sekilas menunjukkan bahwa Yesus benar-benar telah bersatu dengan Tuhannya dalam artian secara fisik. Namun begitu, kita tidak mungkin mengartikan ayat tersebut dengan cara seperti itu. Kalimat tersebut sebenarnya ada kelanjutannya atau dalam istilah kerennya “jangan hanya lihat teks, tapi perhatikan juga konteksnya”. Artinya, anda jangan coba-coba memotong pengertian ayat secara “sembrono”. Pemotongan ayat dapat digunakan jika dimaksudkan untuk memperkuat atau memperjelas pengertian. Sebaliknya jika ayat-ayat itu dipotong lalu mengakibatkan perubahan arti yang sebenarnya, maka jelas hal itu sangat tidak diperkenankan.
Dalam kasus ayat tersebut, sudah jelas kita dilarang mengartikannya secara sepotong-sepotong, mengartikan “Aku dan Bapa adalah satu” sebagai “Yesus bersatu jiwa dan badannya dengan Tuhan”.
Konteks ayat tersebut dimulai ketika Yesus sedang berjalan-jalan di Bait Allah di Serambi Salomo (Yohanes 10:23). Ia lalu dikelilingi orang-orang Yahudi, yang lalu berkata kepadanya :

“Berapa lama lagi kami menunggu, jika engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami?” (Yohanes 10:24-25)

Yesus menjawab : “Aku sudah mengatakan kepadamu, tapi kamu tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku, tapi kamu tidak percaya, karena itu kamu tidak termasuk domba-dombaku yang mendengar suaraku dan mengikuti aku. Dan aku memberikan hidup yang kekal  dan mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku Bapaku yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:26-30)

Arti dan maksud perkataan Yesus pada Yohanes 10:26-30 itu adalah bahwa Ia ingin hanya ingin menyampaikan kabar gembira kepada siapa saja yang percaya, bahwa Allah akan memberi ganjaran sorga bagi para pengikutnya yang menyatakan tauhid dan mengikuti pengajarannya. Yesus menegaskan bahwa pengikutnya tidak akan tersesat selama mereka mengikuti nasehat dan pengajarannya. Bagi orang-orang yang percaya kepada pengajaran Yesus, maka mereka telah mendapatkan petunjuk petunjuk dari Allah. Dan selama mereka tetap mengikuti petunjuk Allah, maka mereka akan selalu tetap dilindungi dan dibimbing oleh Allah. Selanjutnya jika seseorang itu kokoh dan teguh dalam keimanannya kepada Tauhid, maka Allah akan senantiasa menyertainya.
Jadi, “Aku dan Bapa adalah satu”, itu maksudnya adalah kesamaan dalam hal tujuan dan misi. Tujuan dan misi Tuhan sama dengan tujuan dan misi yang diemban Yesus. Tujuan dan misi Tuhan adalah memperkenalkan tauhid (keesaan-Nya) dan mengutus para nabi dan rasul untuk mensosialisasikan tauhid tersebut kepada masyarakat. Sedangkan tujuan dan misi Yesus adalah untuk membenarkan ajaran tauhid, sekaligus menjadi “juru bicara” untuk menyebarluaskan ajaran tauhid kepada masyarakat yang belum kenal tauhid.
Dengan kata lain, kesatuan antara Yesus dengan Tuhan Bapa itu merupakan suatu bentuk persetujuan atau perjanjian yang mengikat antara Yesus dengan Tuhan, dalam hal ini Yesus menerima pesan suci dari Tuhan Bapa yang berwenang, dan Yesus kemudian meneruskannya kepada para pengikutnya. Yesus mengakui ia telah menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikan Bapa kepadanya untuk dikerjakan.

"Aku telah mempermuliakan engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya." (Yohanes 17:4)

Namun ternyata orang-orang Yahudi ternyata suka “bikin” gara-gara dan cari masalah, mereka lalu melempari Yesus dengan batu. Kemudian Yesus membela diri dan berkata: “Semua pekerjaan baik atas nama Bapa telah aku lakukan, tapi kenapa kamu malah melempari aku? Orang-orang Yahudi menjawab :

“Bukan karena masalah itu, tapi kamu telah menghina Tuhan, dengan menyamakan dirimu dengan Tuhan.” (Yohanes 10:31-33)

Mungkin gara-gara Yesus berkata “Aku dan Bapa adalah satu”, orang-orang Yahudi sengaja bikin ulah lalu menuduh Yesus berkata telah menjelma menjadi Tuhan. Padahal yang dimaksudkan Yesus bukanlah seperti itu?
Kemudian Yesus kembali membela diri dan berkata :

“Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu bahwa kamu adalah ilah? (Yohanes 10:34)

Ilah yang dimaksud Yesus ini adalah “allah” dalam arti sebutan yang sudah lazim dipergunakan di kalangan masyarakat Yahudi untuk menunjukkan nama orang, tuan, dia laki-laki (He), atau bahkan makhluk halus, seperti yang tertera dalam Alkitab berikut :

“Aku (Allah) sendiri telah berfirman : kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Maha Tinggi, kamu sekalian. (Yohanes 10:34 dan Mazmur 82:6)

Nabi Musa sendiri bahkan diangkat Tuhan sebagai "Allah" atau "God" :

“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa : ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun abangmu, akan menjadi nabimu.”  (Keluaran 7:1)

Pembelaan Yesus yang cerdik tersebut menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah membuka celah sedikitpun bagi orang-orang berpikiran jahat yang ingin coba-coba menuduh dirinya sebagai “reinkarnasi” Tuhan.
Orang-orang Yahudi itu sebenarnya tahu persis kalau Yesus itu tidak pernah mengatakan dirinya Tuhan. Namun mereka gengsi diceramahin oleh Yesus, karena takut kalah saing dan popularitas. Maklumlah, mereka itu adalah orang-orang terkemuka dan dianggap terhormat dalam masyarakatnya. Jadi, mereka sengaja buat “gara-gara” dan cari-cari kesalahan yang sebenarnya tidak ada, dengan maksud agar Yesus terjebak dan dapat ditangkap dengan tuduhan “pelecehan terhadap Tuhan”. Tapi ternyata Yesus lebih pintar dari mereka.
Setelah usaha orang-orang Yahudi cari gara-gara untuk bisa menjebak Yesus agar terpeleset dan mengaku sebagai Tuhan, digagalkan oleh Yesus sendiri. Eh, malah giliran umat Kristen yang kembali salah tafsir dan mengartikan Yohanes 10:30 itu sebagai bukti kalau Yesus itu memang benar-benar bersatu dengan Tuhannya dalam status yang sama.
Padahal kalau diteliti lebih jauh, coba perhatikan ayat berikut ini :

Dan bukan untuk mereka ini saja aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku. Dan aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku.” (Yohanes 17:20-23)

Dan aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka. (Yohanes 17:26)

Jika umat Kristen masih ngotot menganggap bahwa Tuhan Bapa dengan Yesus itu "satu" dalam arti yang sama atau pengertian keduanya bersatu secara jiwa dan raga dalam status dengan berdasar kepada Yohanes 10:30, maka umat Kristen juga harus menganggap bahwa "mereka" (para murid Yesus) juga sama dalam statusnya dengan Yesus dan Tuhan Bapa, seperti dalam kalimat :

"Sama seperti kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu." (Yohanes 17:22-23)

Jadi, kalau umat Kristen mau konsisten mengartikan kalimat “Aku dan Bapa adalah satu“ pada Yohanes 10:30 sebagai Yesus menjadi Tuhan, dan Tuhan menjadi Yesus, maka kalimat "sama seperti kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu" pada Yohanes 17:22-23 mestinya juga harus diartikan menjadi Yesus, murid-muridnya, dan Tuhan telah bergabung jadi satu, yakni menjadi Tuhan, sehingga diperoleh rumus, bukan hanya dwitunggal atau tritunggal, melainkan juga 15 tunggal atau multi tunggal. Apakah begitu yang dimaksudkan? Sungguh sebuah penafsiran yang aneh dari umat Kristen?
Selain bantahan tersebut diatas, penolakan terhadap tuduhan bahwa Yesus adalah Tuhan, juga dibantah oleh Yesus sendiri, Ia berkata :

"Aku pergi (akan wafat dan menghadap) kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripada Aku." (Yohanes 14:28)

Ayat ini menunjukkan, pertama, Yesus akan wafat dan tidak sama dengan Tuhan Bapa yang hidup kekal, dan kedua, Yesus mengakui dirinya sangat rendah dihadapan Tuhan Bapa yang Maha Besar. Jadi, ayat tersebut telah begitu gamblang membuka kesalahan atas pengakuan atau klaim dari siapapun yang menyatakan bahwa Yesus memiliki status yang sama dengan Tuhan Bapa.
Dalam bahasa kitab suci, ungkapan-ungkapan seperti ini ayat tersebut diatas sering terjadi, dan hendaknya pembaca berlaku arif dam memiliki kehalusan jiwa untuk menangkap ungkapan tadi sebagai pelajaran. Sebab ini bukanlah arti yang sebenarnya. Dalam Al Quran misalnya terdapat ayat yang bermakna :

"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar, ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar ..." (Q.S. Al-Anfaal :17)

Atau dalam hadits Qudsi dikatakan, bila seorang hamba mendekat secara sempurna, bukan sekedar dengan penunaian yang wajib tetapi lengkap dengan sunnah-sunnahnya, maka ".. Aku menjadi matanya ketika dia melihat, menjadi tangannya ketika dia memukul menjadi kakinya ketika dia berjalan." Kalimat kalimat seperti ini, tidak boleh langsung disimpulkan bahwa "benar benar orang itu bermata Allah, bertangan dan berkaki Allah," tetapi pada tingkat kebersihan jiwa seperti itu, orang tadi dalam melihat, menggerakkan tangan dan melangkah, senantiasa selaras dengan apa yang diridhoi  Allah.
Umat Kristen nampaknya sering tergesa-gesa menyimpulkan ayat-ayat yang tersurat (nampak secara tekstual), dan mengabaikan konteks ayat (makna dibalik ayat), sehingga berani berkata bahwa Yesus adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Yesus dalam arti satu, sama, itu itu juga! Padahal orang bercinta saja kalau mereka berkata "Kau dan Aku selalu satu" tentu artinya bukan mereka menjadi satu badan khan? Di kalangan ulama Islam pun dahulu pernah terjadi penyimpulan kasar berdasar kata tersurat, yakni banyak ulama berfatwa bahwa orang yang telah berwudhu, bisa batal wudhunya bila "menyentuh" perempuan, mereka menyimpulkan hal itu dengan mengambil dasar dari QS. An-Nisa’ : 43. Untung Al-Quran masih memiliki teks aslinya, bahkan tafsir murid langsung Nabi pun masih ada, sehingga gampang ditelusuri maksud yang sebenarnya, bahwa ternyata menurut Ibnu Abbas ra (Sahabat Nabi SAW), bahwa menyentuh disana bukan sekedar "menyentuh," tetapi semacam ungkapan sopan yang menyiratkan arti "bersetubuh," atau katakanlah 'sentuhan' yang bisa menyebabkan hamil, seperti secara sopan diungkap Maryam dalam Surat Maryam ayat 20.
Bagi umat Kristen, apalagi yang menerima 'ajaran kristen' cuma dari teks bahasa Indonesia saja, memang agak sukar untuk menelusuri arti sebenarnya dari kata-kata yang tersurat dalam Alkitab mereka. Padahal kata-kata yang diucapkan Yesus sangat banyak mengandung istilah-istilah, kata-kata, perumpamaan-perumpamaan ketimuran (keyahudian) yang lebih dapat dimengerti oleh orang-orang yang telah mempelajari atau memiliki latar belakang budaya Timur Tengah. Dan tidak seperti orang-orang Yunani, Romawi, dan Barat, yang hanya bisa membaca Alkitab terjemahan Yunani secara mentah tanpa dapat mengerti istilah-istilah asli yang dipakai Yesus dalam bahasa Arami atau Ibrani.






Tidak Seorangpun yang Datang Kepada Bapa, Kalau Tidak Melalui Aku
Menurut Gereja, keselamatan itu hanya bisa diperoleh melalui diri Yesus sendiri. Alasan tersebut mereka kemukakan berdasarkan ayat Alkitab dibawah ini :

Yesus berkata : "Akulah jalan (dan kebenaran dan hidup). Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes. 14:6)

Konteks ayat tersebut dapat dilihat pada Yohanes 14:2-4, ketika Yesus bercerita tentang rumah Bapa-nya di sorga. Ia mengatakan :

"Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal, jika tidak demikian, tentu aku mengatakannya kepadamu, sebab aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, aku akan datang kembali dan membawa kamu ketempatku, supaya ditempat dimana aku berada, kamupun berada. Dan kemana aku pergi, kamu tahu jalan kesitu.”

Maksud pernyataan Yesus diatas menekankan bahwa ada sebuah tempat tinggal bernama “sorga” yang diperuntukkan bagi orang-orang yang percaya kepada petunjuk-petunjuk Allah yang diajarkan oleh Yesus. Bagi para pengikutnya yang mempercayai pengajarannya, maka Yesus sendiri yang akan pergi untuk memohon kepada Bapa-nya (Allah) agar mempersiapkan "sebuah" tempat tinggal (sorga) bagi mereka. Sementara Yesus adalah salah seorang rasul kesayangan Allah yang sudah pasti mendapatkan rumah di sorga yang dijanjikan Allah. Adapun sorga akan diberikan kepada para pengikut Yesus yang taat bersembah sujud kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Nah, karena para murid-murid Yesus telah diberikan bekal dan petunjuk atau jalan menuju ke sorga oleh Yesus, maka otomatis mereka sudah tahu jalan yang dimaksud, walaupun Yesus tidak bersama mereka pada suatu saat nanti. Dengan mengikuti jalan tersebut, para pengikut Yesus tidak akan tersesat dan mereka akan dengan mudah dapat sampai menuju Rumah Bapa-nya Yesus, yakni sorga.
Jalan apakah yang dimaksudkan Yesus? Jalan itu adalah jalan yang lurus yang tidak belok kiri belok kanan atau disebut juga jalan kebenaran dan hidup (ajaran yang kekal). Dalam Al-Qur’an, jalan itu bernama “Ihdinas shiroothal mustaqiim” yang artinya “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Jalan yang lurus artinya memberi petunjuk kepada kebenaran, dan bukan merupakan jalan yang sesat. Jalan yang lurus adalah jalan yang benar, dan jalan yang benar adalah Islam. Terbukti Nabi-Nabi yang datang sebelum Yesus, dan seorang Nabi yang datang sesudahnya, juga mempersiapkan tempat tinggal lain bagi para pengikutnya. Seorang nabi atau rasul yang datang sesudah Yesus (Nabi Muhammad SAW -pen) terbukti telah menunjukkan "jalan" yang sekarang berlaku bagi tempat tinggal baru dalam Kerajaan Sorga.
Pernyataan Yesus pada Yohanes 14:2-4, secara jelas menunjukkan bahwa Yesus memang telah menyiapkan sebuah jalan yang lurus berupa  pengajarannya yang baik dan benar yang mengikuti segala petunjuk-petunjuk Allah sebagai tuntunan dan pedoman hidup bagi para pengikutnya agar tidak tersesat dan selamat sampai ke sorga. Namun demikian, meskipun penjelasan Yesus itu sudah sangat gamblang, ternyata ada salah seorang muridnya yang masih belum mengerti juga. Muridnya itu bernama Thomas, ia mungkin berpikir kalau jalan yang dimaksudkan Yesus itu dalam pengertian peta geografi atau alamat, seperti Jalan Soedirman, Jalan Thamrin, Jalan Tol Cipularang, Jalan Lingkar Selatan, dan jalan-jalan dalam arti geografis lainnya, karena itu ia bingung lalu bertanya kepada Yesus :

“Tuan, kami tidak tahu kemana engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yohanes 14:5)

Lalu Yesus menjelaskan bahwa jalan yang dimaksud itu adalah jalan kebenaran dalam arti spiritual dan bukan dalam pengertian geografi atau fisik, Yesus berkata :

"Akulah jalan (dan kebenaran dan hidup). Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)

Maksudnya adalah seseorang akan dianggap tersesat atau dipandang tidak beragama sedikitpun apabila ia tidak mau mengikuti pengajaran Taurat dan Injil yang benar yang diajarkan Yesus.
Selanjutnya Yesus berkata :

“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapaku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yohanes 14:7)

Ayat tersebut maksudnya : apabila kalian mengikuti ajaran Yesus yang benar, maka Allah akan dekat kepadamu, menyayangi, dan melindungimu dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Saat ini kalian sudah mendapatkan petunjuk yang benar dari Allah, yakni petunjuk jalan yang lurus, sebab kalian telah setia membenarkan pengajaranku.
Atas penjelasan Yesus tersebut, seorang murid Yesus yang lain bernama Filipus malah lebih parah dari Thomas. Ia mengajukan pertanyaan “bodoh” dengan berkata :

Tuan, tolong tunjukkan (perlihatkan) Bapa itu kepada kami (gimana rupanya atau seperti apa bentuknya), itu sudah cukup bagi kami.” (Yohanes 14:8)

Mungkin kalau kita yang menerima pertanyaan dari Filipus itu, sudah pasti kepala kita akan bertambah “pusing” dan mengejek Filipus sambil berkata dalam bahasa kita : “Oh, Filipus, kamu blo’on banget sih? Kok nggak ngerti-ngerti juga?” Tapi untunglah Yesus itu orangnya sabar, ia berkata kepada Filipus :

“Telah sekian lama aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal aku? Barangsiapa  telah melihat aku, ia telah melihat Bapa, bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami? Tidak percayakah engkau, bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam aku? Apa yang aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepadaku, bahwa aku didalam Bapa dan Bapa didalam aku, atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yohanes 14:9-14)

Maksudnya : barangsiapa yang mengikuti ajaran Yesus, maka ia telah menghormati Bapa, karena Bapa-lah yang memberikan semua ajaran itu kepada Yesus, bagaimana mungkin kamu bisa melihat Tuhan secara fisik dalam arti yang sebenarnya? Tidak percayakah engkau, bahwa Yesus dan Bapa mempunyai misi dan tujuan yang sama? Yesus tidak berkata-kata sendiri, tetapi Firman Allah yang diterimanya itulah yang disampaikan kepada para pengikutnya. Percayalah bahwa Yesus dan Tuhannya memiliki tujuan dan misi yang sama, atau setidak-tidaknya percayalah bahwa Yesus melaksanakan tugas sebagai utusan Allah untuk mengajarkan jalan yang lurus kepada para pengikutnya, dan seterusnya.
Kita dapat melihat bahwa Yesus akhirnya harus kewalahan menghadapi suatu kekurang-percayaan dari murid-muridnya terhadap dirinya dan Allah. Hal ini juga dapat kita lihat dalam Al-Qur’an yang menceritakan mengenai perilaku murid-murid Yesus yang sering ragu-ragu dan tidak percaya terhadapnya.

"Tatkala Hawariyin (sahabat-sahabat setia) berkata : Wahai 'Isa putera Maryam! Apakah berkuasa Tuhanmu menurunkan kepada kami satu hidangan dari langit? Maka 'Isa menjawab : Takutlah kepada Allah jika memang kamu betul-betul orang-orang yang beriman!" Mereka berkata : Kami ingin agar kami makan darinya dan supaya kami yakin bahwa sesungguhnya engkau sudah berkata yang benar terhadap kami dan jadilah kami ini orang-orang yang menyaksikan." (Q.S. Al-Maidah:112-113)

Dari uraian tersebut, kita dapat merasakan betapa beratnya tugas Yesus berdakwah menyebarkan ajarannya. Karena sekian lama Yesus menjalani kehidupan bersama para muridnya, mengajar, membimbing, dan menunjukkan mukjizat-mukjizat kenabiannya, namun ada beberapa diantara para muridnya masih merasa kurang yakin terhadap ucapan-ucapan Yesus.
Kembali lagi kepada Filipus, adalah sangat aneh kalau ia masih menanyakan tentang keberadaan Tuhan secara fisik, sebab dalam berbagai kesempatan Yesus sebenarnya pernah berkata kepada orang banyak, bahwa Tuhan itu tidak bisa dilihat dan didengar dengan panca indera manusia yang terbatas. Yesus berkata :

“Allah itu roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:24)

Selain itu Yesus juga berkata :

"...Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat." (Yohanes 5:37).

Kemudian hal senada juga dikatakan oleh Paulus :

“Yang hanya mempunyai zat yang tiada mati, dan mendiami terang yang tiada terhampiri, Yang tiada pernah dilihat orang, maka bagi-Nyalah kemuliaan dan kekuasaan yang kekal.” (I Timotius 6:16)

Intinya, Injil Yohanes pasal 14 ingin menegaskan bahwa Yesus adalah "jalan" yang dapat dipakai oleh para pengikutnya untuk memperoleh keselamatan dan meraih kebahagiaan yang abadi disorga kelak. Selain Yesus, para nabi dan rasul lainnya juga merupakan jalan bagi masing-masing umatnya untuk memperoleh tiket menuju ke sorga. Sementara itu, umat Islam juga mempunyai jalan yang sama melalui ajaran Nabi Muhammad SAW, sebagai arah yang benar menuju ke sorga. Adalah sangat bodoh kalau ada orang yang meyakini bahwa Yesus (atau Nabi manapun juga) sebagai "Tujuan Akhir", sebab mereka semua hanyalah “jalan” untuk mengantarkan kita kepada kebahagian hakiki di sorga kelak.
Coba perhatikan perkataan Yesus berikut ini :

"Akulah pintu, barang siapa yang masuk melalui aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput." (Yohanes 10:9)

Penjelasannya begini, kalau ada seekor domba yang berjalan melewati "pintu", maka ia akan dapat menemukan padang rumput. Tetapi kalau dombanya “blo’on” dan hanya berputar-putar saja di sekeliling "pintu" dan tidak melewati “pintunya”, maka ia tidak akan pernah bisa menemukan padang rumput. Bagi domba, padang rumput adalah tujuan hidupnya. Domba akan memperoleh kesenangan dan kebahagiaan apabila ia sudah menemukan rumput dan memakannya.
Sama saja seperti domba, manusia juga harus menyeberang melewati "jalan" kalau ia ingin sampai ke rumahnya. Tetapi kalau ia cuma berhenti di "jalan" saja dan mempercayai kalau "jalan" itulah tujuan akhirnya, maka ia tidak akan pernah bisa sampai ke rumahnya, bahkan ia justru akan tetap berada di alam terbuka tanpa perlindungan dan atap, seperti orang jalanan yang tidak punya rumah, “nyasar” kesana kemari.
Lalu bagaimana para pengikut Yesus bisa masuk ke sorga? Ya, tentu saja dengan mengikuti ajaran Yesus yang sesuai dengan kehendak Bapa-nya (Allah), seperti yang dikatakan Yesus :

"Bukan setiap orang yang berseru kepadaku : ‘Tuan, Tuan,’ akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku, yang berada di sorga.” (Matius 7:21)

Bahkan kalau dilihat ayat berikutnya, dijelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, banyak orang-orang yang dulunya sering memanggil nama “Tuhan Yesus…Tuhan Yesus…Tuhan Yesus”, tetapi oleh Yesus mereka akan ditolak, sebab mereka hanya memuji-muji nama saja, tapi tidak berbuat seperti yang dikehendaki Allah! Selengkapnya ayat tersebut berbunyi :

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan, bukankah kami berbuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan banyak mengadakan mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal engkau! Enyahlah dari padaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23)
Silahkan bandingkan pula ayat tersebut diatas dengan Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 116-118 dan ayat 72-77.

Barang Siapa yang Telah Melihat Aku, Ia Telah Melihat Bapa
Menurut Gereja, Yesus dan Bapa (Tuhan) adalah satu kesatuan yang sama, sesuai dengan ayat Alkitab berikut ini :

Yesus berkata : "Barang siapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9)

Potongan ayat tersebut sebenarnya merupakan kelanjutan jawaban Yesus terhadap pertanyaan Filipus pada ayat 14:8, yang ingin melihat bagaimana rupa Tuhan itu dan seperti apa? Dan pertanyaan Filipus tersebut sudah dijawab oleh Yesus pada bantahan Dalil II tersebut diatas.
Namun bila anda masih penasaran juga, maka ayat tersebut maksudnya adalah barangsiapa yang mengikuti dan mentaati segala petunjuk dan ajaran dari Yesus, berarti ia telah menghormati dan mempercayai bahwa semua ajaran yang disampaikan Yesus hanya datang lewat petunjuk dan bimbingan yang disampaikan Allah kepada Yesus.
Mentaati ajaran Yesus berarti telah menghormati Allah, sebab ajaran Yesus semuanya berasal dari Allah. Nah, dengan mentaati ajaran Yesus berarti ia juga akan mendapatkan derajat kemuliaan dari Tuhan dan juga akan dianggap termasuk dalam golongan orang-orang yang soleh. Allah senantiasa akan menyertai mereka yang taat kepada ajaran Yesus, sebab ajaran Yesus berasal dari Tuhan. Dan Allah juga akan berada dekat dengan siapa saja yang berserah diri kepada-Nya, lebih dekat dari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan atau bahkan lebih dekat dari urat nadi lehernya sendiri.
Jika pengikut Yesus benar-benar mengikuti ajaran Yesus, berarti mereka telah dinyatakan beriman kepada Allah. Dan tentu saja orang yang beriman kepada Allah dengan ikhlas akan dapat melihat Allah, dalam arti merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya yang tercermin dalam sikap dan perilaku hidupnya sehari-hari. Apakah ia seorang yang memiliki hati nurani atau tidak, apakah ia berjiwa bersih atau tidak, apakah ia ikhlas atau tidak, apakah ia jujur atau tidak, apakah ia sudah taat kepada Allah atau tidak, apakah ia sudah menghindari larangan-Nya atau tidak, dan sebagainya.
Para pengikut Yesus memang akan dapat melihat Tuhan pada sosok dan diri Yesus, dalam arti bukan melihat Yesus bersatu dengan Tuhan (bereinkarnasi) dalam wujud jasmani dan rohani, tetapi coba lihatlah bagaimana kepribadian Yesus itu sendiri. Beliau adalah manusia yang mempunyai hati dan jiwa yang bersih, sosok teladan panutan umat, orang yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, tidak pernah menipu, dan selalu tetap berada pada jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah. Dengan sosok kepribadian yang seperti itulah, Yesus telah merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Dan siapapun manusia dimuka bumi ini akan bisa melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya, kalau ia memiliki sifat-sifat kepribadian yang baik dan hati yang bersih. Sebab hanya kepada orang dengan hati yang bersih dan pribadi yang baik sajalah, Tuhan akan mendatangi, menjaga, dan melindunginya agar senantiasa tetap berada dijalan yang lurus, yakni jalan keselamatan, sehingga ia tidak akan mudah untuk tersesat.
Jadi, tidak mungkin kita menafsirkan Yohanes 14:9 mentah-mentah, Yesus menjelma sebagai Tuhan dan Tuhan menjelma sebagai Yesus. Tafsiran yang tepat adalah menafsirkan secara spiritual dan bukan secara fisik, sebab kita tahu bahwa antara Yesus dan Tuhan itu adalah dua sosok pribadi yang berbeda.
Perbedaan ini dapat dilihat dalam suatu peristiwa yang menceritakan : Pada suatu hari, untuk membuktikan dan menuntaskan perdebatan, Yesus mengangkat seorang anak dan berkata pada pengikutnya :

"Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaku, ia menyambut aku; dan barang siapa menyambut aku, ia menyambut Dia, yang mengutus aku." (Lukas 9:48)

Arti ayat di atas secara gamblang menjelaskan bahwa kalau kita menghormati perintah, nasehat, ajaran, atau petunjuk-petunjuk Yesus, maka berarti kita telah menghormati Allah yang mengutus Yesus kepada kita. Dalam hal ini, Allah dan Yesus adalah dua figur yang terpisah dan berbeda. Allah sebagai pengutus yang menyuruh, dan Yesus sebagai orang yang diutus yang disuruh.
Lebih jelasnya lagi, kita dapat melihat ketika Yesus dalam Alkitab berkata :

"Barang siapa yang percaya kepadaku, ia bukan percaya kepadaku, tetapi kepada Dia yang telah mengutus aku. Dan Barang siapa yang melihat aku, ia melihat Dia yang telah mengutus aku." (Yohanes 12:44-45)

"Barang siapa yang membenci aku, ia membenci juga Bapaku ... namun sekarang walaupun mereka telah melihat keduanya, mereka membenci, baik aku maupun Bapaku." (Yohanes 15:23-24)

"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu satunya Allah, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3)

"Benar, benar, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya; ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya." (Yohanes 13:16)

Sangat jelas bukan? Kalau Yesus dan Allah itu adalah dua pribadi yang berbeda dan tidak bisa disatukan dalam pengertian fisik. Sepanjang masa tugas kenabiannya, Yesus berulang-ulang berkata bahwa dia dikirim (diutus) oleh Bapanya.

Dia Telah Mengaruniakan AnakNya yang Tunggal
Menurut Gereja, Yesus mempunyai kehidupan yang abadi karena ia adalah Anak Tunggal Tuhan, seperti ayat berikut ini :

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohannes 3:16)

Tentu kami percaya Yesus, pada setiap apa yang ada padanya dan kami pun tidak bisa mempercayai apa yang memang tidak ada padanya. Orang-orang muslim percaya Yesus adalah seorang Imam Mahdi, "Roh dari Allah", "Perkataan dari Allah (Kalimatullah)", Nabi yang terpercaya, sebagaimana juga beliau adalah utusan Allah dan anak lelaki dari Perawan Maria. Tetapi, kami tidak percaya bahwa Yesus diperanakkan dari Allah." Terbukti Penulis Injil Yohanes tidak pernah menulis, Yesus adalah "peranakan" dari Allah.
Dalam Injil terjemahan bahasa Indonesia, dalam Injil Yohanes pun anda akan temukan istilah anak tunggal Allah, tetapi menurut penulis risalah ini, terjemahan tadi merupakan penyimpangan dari istilah awal yang tertulis dalam injil berbahasa latin.
Kalau anda pernah mendapatkan salinan dari "Injil Gideon", yang diterjemahkan dalam 26 bahasa dunia yang popular yang dibagikan secara bebas sejak tahun 1899, ke seluruh dunia, oleh Perkumpulan Gideon,  mungkin anda sekalian akan terheran-heran menemukan betapa dalam terjemahan bahasa Inggris pada Yohanes 3:16, para redaksi (penterjemah) menggunakan istilah tradisional "Dia hanya peranakkan." Sedangkan, dalam beberapa bahasa lain para redaksi menggunakan istilah "Dia anak laki-laki yang khas" atau "Dia salah satu dari anak laki semacam itu."
Menanggapi perbedaan tersebut, pakar Alkitab bernama Profesor Paul B. Duff, dari Universitas George Washington, mengatakan bahwa Yohanes 3:16 dan 1:18 masing-masing mempunyai kata 'monogenes' dalam bahasa Yunani Kuno. Kata aslinya berarti "semacam." Jadi, penggunaan kata "unik atau khas" adalah terjemahan yang baik. Terkadang kita akan menemukan terjemahan yang menggunakan istilah "hanya peranakkan," ini dikarenakan adanya pertentangan kuno dalam gereja. Ketika menanggapi klaim pendukung Arianus bahwa Yesus dibuat tetapi tidak diperanakkan, Jeremi (tokoh pada abad ke 4) menterjemahkan istilah bahasa Yunani Kuno : 'monogenes' ke dalam bahasa Latin 'unigenitus' yang artinya "hanya peranakkan".  (Injil Anchor, volume 29, hal. 13-14). Adapun istilah bahasa Yunani Kuno untuk kata "peranakkan" adalah 'gennao' seperti yang ditemukan pada Matius 1:2, yang mana tidak digunakan oleh Yohanes.
Jadi istilah anak tunggal pada Yohanes 3:16 adalah penyelewengan dari istilah “diperanakkan”, yang juga sebenarnya tidak pernah dibuat oleh penulis injil Yohanes. Hanya para pendukung gereja saja yang suka membuat-buat dan terlalu berlebih-lebihan, menjuluki Yesus sebagai “anak tunggal” satu-satunya dari Tuhan. Pencetus “Yesus sebagai anak tunggal Tuhan” ini tidak lain adalah Paulus, agar Yesus dapat dikatakan sebagai manusia istimewa (manusia ilahi) yang tidak memiliki dosa. Peristiwa ini dapat dilihat pada Kitab Kisah Para Rasul yang menceritakan :

“Ketika itu juga ia (Paulus) memberitakan Yesus dirumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.” (Kisah Para Rasul 9:20)

Dalam suratnya Paulus mengatakan :

“..Dan menurut Roh Kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” (Roma 1:4)

Selanjutnya bukan hanya Paulus, para pendukung Paulus termasuk roh jahat pun ikut-ikutan latah mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (dalam pengertian tunggal dan berkuasa).

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” (Markus 1:1), “Kata Natanel kepadanya : ‘Rabbi (Tuan Guru), Engkau adalah Allah, Raja orang Israel’.” (Yohanes 1:49)

“Yesus mengatakan kepadanya : ‘Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!’ Dengan keras ia (roh jahat itu) berteriak : ‘Apa urusanmu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Maha Tinggi?’ Demi Allah, jangan siksa aku!” (Markus 5:8)

Sebenarnya pengertian Yesus sebagai anak tunggal Tuhan satu-satunya sudah ditolak mentah-mentah oleh Umat Yahudi (yang paling mengerti tentang sosok Yesus). Mereka tidak dapat menerima peningkatan status Yesus dari anak Maria menjadi Anak Allah, dalam pengertian yang tunggal. Umat Yahudi memang mengaku bahwa mereka juga sebenarnya adalah anak-anak Allah, umat pilihan Allah, tetapi kalau pengatributan anak Allah secara individu untuk Yesus oleh Paulus, sangat tidak lazim bagi mereka. Oleh karena itu ketika Paulus mengumumkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka menolak dan menentangnya dengan keras. Ini dijelaskan oleh Paul Tillich sebagai berikut :

“Anak Allah adalah istilah yang sangat umum dalam ajaran penyembah berhala. Tuhan-tuhan penyembah berhala beranak pinak di bumi. Oleh karena itu, mereka menambahkan istilah anak tunggal.” (Paul Tillich, “A History of Christian Thought”)

Pengertian kata “Anak Allah” atau “Anak Tuhan” menurut orang-orang Yahudi itu sebenarnya sangat banyak, tapi yang jelas artinya bukan “Tuhan” atau “Anak Tuhan” dalam arti biologis dan satu-satunya. Arti kata “Anak Tuhan” ini sebenarnya hanyalah arti kiasan dan penghormatan yang diberikan oleh orang-orang Yahudi kepada :
1.     Orang yang membawa kedamaian dan kasih sayang kepada orang lain. (Matius 5:9)
2.     Orang yang mengasihi sesamanya dan mentaati perintah Allah. (Matius 5:45)
3.     Orang-orang yang diangkat, dipilih, diutus, dan dipercaya sebagai nabi dan rasul oleh Allah untuk menyampaikan ajaran Tauhid. (Keluaran 4:22, II Samuel 7:14, dan I Tawarikh 22:10)
4.     Orang-orang yang disayang atau dipuji Allah karena ketaqwaannya menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. (Ulangan 14:1)
Jadi, “Anak Tuhan” atau “Anak Sulung” Tuhan itu jumlahnya sangat banyak bisa mencapai milyaran orang, dan tak terhitung banyaknya. Kalau kita urutkan mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Yakub, Yusuf, Musa, Daud, Salomo, Elisa, Daniel, Yunus, Zakaria, Maria, Elizabeth, Yohanes Pembaptis, murid-murid Yesus, Nabi Muhammad SAW, sahabat para nabi, para tabi’in, para ulama, dan masih banyak lagi yang lain. Dan mereka semua tidak pernah dianggap sebagai Tuhan oleh para pengikutnya.
Sementara itu orang-orang Yunani-Romawi justru sangat senang ketika kata-kata “Anak Tuhan” dijadikan oleh Paulus sebagai figur yang penting untuk menuhankan Yesus, sebab pekerjaan Paulus itu sangat mendukung Struktur Ketuhanan Penyembahan Berhala dalam filsafat Yunani yang pernah mereka anut sebelumnya. Anak Allah inilah yang akan mewakili Allah menyelamatkan manusia di dunia dengan menunjukkan kepada manusia kode-kode dan rambu-rambu yang tepat untuk dapat kembali dengan selamat bersatu dengan Allah (Similitude). Nah, ajaran inilah yang kemudian dianut oleh para pemimpin gereja dan dijadikan landasan dalam ajaran Kristen.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” (Yohanes 3:16)

Istilah “Anak” sebagai arti kiasan serupa dengan istilah “Bapa” yang banyak kita temukan dalam Alkitab. Sebagai contoh, Yesus berkata pada Maria :

“... Pergi ke saudara-saudaraku, dan katakanlah kepada mereka, sekarang aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu ..." (Yohanes 20:17)

Ayat ini membuktikan bahwa Allah bukan hanya Bapa-nya Yesus tapi juga Bapa dari saudara-saudara Yesus sendiri. Ini membuktikan bahwa istilah Bapa itu hanyalah kiasan untuk mengungkapkan kasih sayang.
Seperti juga ungkapan untuk Yesus sebagai "anak laki unik atau khas" ('monogenes' dalam bahasa Yunani Kuno), karena memang Yesus, tidak seperti kita, beliau diciptakan tanpa Bapak dalam artian ujud fisik seorang ayah.
Sebenarnya julukan “Anak Allah” atau “Anak Tuhan” yang diberikan oleh orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut, tidak dapat diterima oleh Yesus sendiri. Yesus menolak dirinya disebut dengan “Anak Allah” atau “Anak Tuhan.” Penolakan Yesus tersebut dapat dilihat dalam Injil Lukas 4:41, ketika Yesus sedang menyembuhkan orang-orang yang sakit, banyak orang dan juga setan-setan yang keluar menonton, lalu pada ribut dan berteriak-teriak memanggil Yesus : “Engkau adalah Anak Allah!”. Gara-gara ucapan tersebut, Yesus marah dan melarang mereka dengan keras untuk berbicara seperti itu, karena mereka tahu bahwa dirinya hanyalah seorang Mesias.
Adapun sebutan “Mesias” itu hanyalah gelar yang diberikan orang-orang Yahudi kepada Yesus, padahal Yesus sendiri sebenarnya tidak suka kalau dirinya dibangga-banggakan dengan gelar tersebut. Hal itu dapat kita lihat pada Injil Lukas 9:18-21, ketika Yesus bertanya kepada murid-muridnya : “Menurut anggapan orang banyak, siapakah aku ini?” Mereka menjawab : “Yohanes Pembaptis.”  Ada yang menjawab : “Elia.” Sedangkan yang lainnya ada yang bilang : “Salah satu nabi terdahulu yang telah bangkit.”. Lalu Yesus berkata : “Bukan…bukan itu, coba kalian lihat lagi diriku ini, siapakah aku ini sebenarnya?” Petrus kemudian menjawab : “Engkau adalah Mesias dari Allah.” Akhirnya Yesus pun tidak senang dengan ucapan Petrus tersebut. Ia melarang mereka agar jangan sekali-kali mengucapkan hal itu dan menceritakannya kepada orang lain.

Jika Orang Tak Terlahir Kembali, Dia Tak Dapat Melihat Kerajaan Allah
Menurut Gereja, umat Kristen adalah golongan orang-orang yang terlahir kembali dan untuk itu mereka berhak memperoleh tiket ke sorga, seperti bunyi ayat berikut ini :

Yesus berkata : "Benar, benar, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, dia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3)

Pada ayat tersebut, sebenarnya penulis Injil Yohanes tidak pernah menggunakan ungkapan "dilahirkan kembali." Teks Alkitab berbahasa Yunani Kuno yang asli menyatakan bahwa ungkapan yang digunakan oleh penulis Injil Yohanes adalah "terlahir dari atas." Kata bahasa Latin yang digunakan oleh penulis Injil Yohanes adalah 'anothen' ('ano' + 'then'), 'ano' artinya 'atas' dan akhiran 'then' bermakna 'dari'.
Karena itu, apa yang Yesus katakan bahwa "sesungguhnya jika seseorang lahir dari atas, dia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Dan kedengarannya masuk akal. Karena tidak seorangpun diciptakan hidup, "lahir dari atas," tidak seorangpun dapat melihat Kerajaan Sorga selama masa hidupnya. Konsep "lahir kembali" untuk melihat Kerajaan Sorga adalah suatu perubahan ide yang dibuat untuk menanamkan konsep dari pembaptisan.
Kata yang sama 'anothen' muncul dalam ajaran yang sama dan dalam bagian yang sama pada Yohanes 3:31. Disini para redaksi telah menterjemahkan kata itu sebagai "dari atas" dan tidak "kembali." Dukungan ini sesuai dengan logika Yesus yang mengatakan "lahir dari atas."
Untuk memasuki Kerajaan Sorga seseorang memang harus terikat dan mau menerima Firman-Firman dari Allah untuk dilaksanakan secara patuh tanpa membantah. Adapun perintah Allah yang terkait dengan upacara pembaptisan (perjanjian atau pembai’tan) ternyata diketahui sebagai “perjanjian khitanan”, yakni : pengeratan daging kulit khatan atau bersunat bagi laki-laki. Perjanjian bersunat ini adalah perjanjian yang kekal abadi antara Allah dan manusia. Perjanjian ini dapat dilihat pada Alkitab Kejadian 17:10-14.
Dapatkah sebuah perjanjian abadi dicabut atau ditarik kembali dengan secara sepihak? Apakah Yesus mencabutnya? Tidak, Yesus justru disunat dalam usia delapan hari. (Lukas 2:21). Begitupula dengan lelaki Muslim, mereka juga disunatkan. Apakah orang-orang Kristen disunatkan dalam arti dipotong "daging dari kulit khatan mereka"? Ternyata kebanyakan orang-orang Kristen mengabaikan perintah bersunat tersebut. Bersunat atau tidak, itu tidak penting bagi mereka.
Bagi orang-orang yang mengabaikan perintah bersunat itu, Yesus mengancam dan berkata :

"Karena itu barangsiapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang memelihara dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:19)


Kepadaku (Yesus) Telah Diberikan Segala Kuasa Disorga dan Dibumi
Gereja menuhankan Yesus, karena Yesus memiliki kekuasaan disorga dan dibumi yang telah diberikan oleh Tuhannya, sebagai berikut :

“Yesus mendekati mereka dan berkata : Kepadaku telah diberikan segala kuasa disorga dan dibumi’.” (Matius 28:18)

Sebenarnya ayat tersebut adalah bagian dari Injil Matius pasal 28:16-20, yang sudah dicap oleh para pakar Alkitab dan sejarawan Kristen sebagai ayat palsu yang sesat dan menyesatkan. Injil Matius pasal 28 seharusnya berakhir pada ayat 15, sedangkan lima ayat berikutnya, Matius 28:16-20, adalah ayat-ayat yang baru ditambahkan oleh gereja di kemudian hari. Mereka yang dikaruniai akal sehat dan membaca Matius pasal 28 ini dengan cermat akan segera mendeteksi bahwa Matius 28:15 memang seharusnya merupakan penutup Injil Matius.

"Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan cerita ini tersiar diantara orang Yahudi sampai saat ini". (Matius 28:15)

Perhatikan kata-kata, "cerita ini tersiar sampai saat ini" menunjukkan bahwa peristiwanya sudah lama berlaku. Ini memperlihatkan bahwa Injil ini sudah lama selesai ditulis. Cerita ini sudah menjadi cerita rakyat yang terus dipupuk selama puluhan tahun, baru kemudian ayat 16-20 ditambahkan.
Namun karena Gereja ingin menambahkan doktrin keimanan mereka dalam Injil, sehingga tanpa malu-malu mereka menambahkan ayat-ayat palsu tersebut, walaupun akhirnya “janggal” di kuping yang mendengarnya.
Kepalsuan Matius 28:16-20 tersebut diungkap oleh salah satu para pakar Alkitab dan Sejarawan Kristen bernama Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel tahun 1959, dalam bukunya “The Original New Testament”, hal. 124, mengatakan :

“Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang baru ditambahkan kemudian.”

Selanjutnya, Robert Funk, Professor Ilmu Perjanjian Baru, Universitas Harvards, dalam bukunya “The Five Gospels”, juga mengomentari ayat-ayat tambahan pada Matius 28 itu, sebagai berikut :

“Perintah utama dalam Matius 28:16-20....diciptakan oleh para penginjil....memperlihatkan ide untuk menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia. Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide untuk menganjarkan ajarannya ke seluruh dunia dan (Yesus) sudah pasti bukan pendiri lembaga ini (agama Kristen). Ayat ini tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus.”

Memang perbuatan gereja menambah-nambahi ayat 16-20 pada Injil Matius 28 itu benar-benar sangat ajaib. Dan bahkan lebih ajaib lagi kalau anda membaca ayat-ayat tambahan dari gereja tersebut, dimana anda akan menemukan banyak keanehan-keanehan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh kita bisa melihat pada Matius 28:18 yang konon “katanya” adalah pernyataan Yesus sendiri, Yesus berkata : “Kepadaku telah diberikan segala kuasa disorga dan dibumi.”. Kita ingin bertanya kepada orang-orang Kristen, benarkah Yesus pernah berkata seperti itu?
Sangat aneh kalau Yesus dalam hidupnya pernah berkata bahwa dirinya sudah diberikan kekuasaan oleh Tuhan untuk menguasai bumi dan sorga. Sebab kenyataannya dapat kita lihat, pada saat Yesus akan ditangkap di taman Getsemani oleh pasukan Romawi, semua muridnya malah pada lari meninggalkan beliau. (Markus 14:50). Seandainya Yesus berkuasa dibumi dan disorga, bagaimana mungkin murid-muridnya bisa lari meninggalkannya? Lalu kepada siapa murid-muridnya harus mencari perlindungan? Apakah kepada setan? Bukankah yang mereka tinggalkan adalah sosok Tuhan juga yang bisa melindungi mereka, karena Yesus menguasai sorga dan bumi?
Dengan alasan tersebut kita sudah dapat membuktikan bahwa Matius 28:18 adalah ayat palsu yang tidak pernah diucapkan oleh Yesus. Dalam hal ini kita harus menggunakan akal sehat untuk menyaring mana yang masuk akal dan mana yang tidak. Kalau Tuhan berkehendak, mungkin sekali tiup saja, pasukan Romawi sudah berterbangan seperti kertas dihembus badai. Dan memang murid-murid Yesus tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan yang harus mereka sembah. Buktinya dalam keadaan “kepepet”, mereka lebih memilih lari menyelamatkan diri dan membiarkan "Tuhan" mereka ditangkap dan dihukum salib oleh pasukan Romawi.
Keanehan lainnya adalah, manakala Yesus diberikan kekuasaan untuk menguasai sorga dan bumi, maka tentu saja kekuasaan Tuhan Bapa tidak berlaku lagi, karena telah diserahkan semua kepada Yesus? Itu artinya Tuhan Bapa telah pensiun sebagai Tuhan, karena Dia tidak mempunyai kekuasaan lagi. Padahal kenyataannya, Tuhan Bapa masih dihormati dan disembah-sembah dalam Alkitab. Jadi, buat apa menyembah Tuhan Bapa yang sudah pensiun?
Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah saat Yesus yang telah diberikan kekuasaan sebagai Tuhan tersebut, ternyata mati terbunuh ditiang salib. Itu artinya, tidak ada Tuhan lagi yang harus disembah oleh umat Kristen. Karena Tuhan yang pertama (Tuhan Bapa) telah pensiun, dan Tuhan yang kedua (Tuhan Yesus) telah mati secara menggenaskan. Alhasil, umat Kristen pun akhirnya tidak mempunyai Tuhan lagi kalau begitu !?
Kesimpulannya jelas, dalam hal ini para pendukung Paulus dan gereja berupaya untuk merubah, menambahkan atau mengurangi ucapan-ucapan Yesus, atau sekalian menciptakan ucapan-ucapan baru dan mengatakan bahwa ucapan tersebut diucapkan oleh Yesus (misalnya Matius 28:19). Dengan kata lain gereja membuat ayat-ayat palsu untuk disuapkan ke mulut Yesus, agar seolah-olah Yesus-lah yang telah berkata seperti itu, dengan maksud untuk mendukung ide dan doktrin keimanan mereka tentang kematian, kebangkitan, serta terangkatnya Yesus ke sorga sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.
Uskup Agung Prof. David Jenkins, salah seorang pemimpin Gereja tertinggi di Inggris, dalam wawancaranya dengan TV di London dalam program "Credo" menegaskan bahwa ajaran ketuhanan dan kebangkitan Yesus sesungguhnya tidak benar. Ia mengatakan :

"Ajaran tentang ketuhanan dan kebangkitan Yesus sesungguhnya tidaklah benar, tetapi baru ditambahkan dalam cerita tentang Yesus oleh para penulis Kristen untuk mendukung keimanan mereka bahwa Yesus adalah Kristus.”

Begitu juga dengan Prof. Alvar Ellegard dalam bukunya “Jesus One Hundred Year Before Christ”, hal. 19, yang mendukung fakta tersebut dengan mengatakan :

"Tujuan mereka adalah untuk meyebarkan cerita tentang Yesus yang dikemas sesuai dengan ajaran yang ditetapkan oleh gereja mereka, yang dipungut dari berbagai sumber yang cocok dengan keinginan mereka, baik dari sumber sejarah, cerita dongeng, maupun khayalan.”

Kita mengetahui bahwa selama hidupnya Yesus tidak pernah dianggap sebagai Tuhan oleh para murid-muridnya, keluarganya, kerabat, maupun pengikutnya. Mereka tidak pernah menyembah Yesus sebagai Tuhan, sebab mereka tahu persis siapa Yesus itu, dan mereka juga hidup siang dan malam bersama dengan Yesus. Saudara-saudaranya, ibunya, keluarganya melihat Yesus lahir dan tumbuh sebagai seorang bayi. Dalam kenyataan seperti itu, mereka tentu tidak mungkin membayangkan bahwa yang menangis dalam ayunan atau yang “popoknya” basah adalah Tuhan yang pernah berpartisipasi dalam penciptaan jagat raya atau penguasa alam semesta. Begitu pula murid-murid serta para pengikutnya, mereka melihat Yesus sebagai seorang Rabi (guru) mengajarkan Taurat dan berkhotbah di rumah ibadat setiap hari Sabtu. Dari berbagai sumber yang dapat diperoleh, tidak ada satu pun bukti bahwa Yesus pernah disembah-sembah sebagai Tuhan di rumah-rumah ibadat. Para murid dan pengikutnya mengenal Yesus sebagai pemimpin mereka, sebagai tuan mereka, dan sebagai nabi, tetapi sama sekali mereka tidak akan pernah menganggap bahwa yang naik berkhotbah di mimbar adalah "Tuhan penguasa alam semesta." Semua orang pada zaman Yesus itu justru melihat Yesus itu hanya sebagai nabi atau rasul utusan Allah saja, dan bukan Tuhan.

"Dan mereka berusaha menangkap dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak karena orang banyak itu menganggap dia nabi". (Matius 21:46)

Dalam kehidupan dan tugas kerasulannya, Yesus telah mengajarkan kalimat pengakuan iman atau “sahadat” sebagai pegangan bagi murid-murid dan pengikut-pengikutnya agar tidak tercampak ke neraka.

"Inilah hidup yang kekal itu (masuk sorga), yaitu bahwa mereka mengenal Engkau (Allah) satu-satunya Tuhan yang benar. Dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus". (Yohanes 17:3)

Pada anak kalimat pertama dikatakan : "...mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar". Itu artinya bahwa Allah adalah Tuhannya Yesus, yang merupakan Tuhan yang benar. Jadi, kalau ada Tuhan lain yang diperkenalkan orang, itu berarti cuma tuhan-tuhanan saja, sebab Tuhan yang benar hanya ada satu yakni, Tuhan Allah. Dengan demikian Yesus itu bukanlah Tuhan.
Sementara itu pada anak kalimat kedua dikatakan : "Dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus", ini memperlihatkan bahwa Yesus hanyalah orang yang diutus oleh Allah sebagai Rasul untuk Bani Israil. Oleh karena itu Yesus bukan Tuhan karena dari semua ayat yang tersebar dalam Alkitab, tidak ada satupun pernyataan bahwa Tuhan mengutus Tuhan, melainkan Tuhan mengutus Yesus sebagai Rasul. Pengakuan Yesus sebagai Rasul utusan Tuhan ini dapat dilihat dari pernyataan :

"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya". (Yohanes 17:4)


Jadikanlah Semua Bangsa MuridKu dan Baptislah Mereka
Gereja sangat mempercayai konsep “Tritunggal atau Trinitas”, karena dalam Alkitab telah dinyatakan sebagai berikut :

“Yesus berkata : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." (Matius 28:19)

Sebenarnya pembaptisan atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus seperti yang tertulis dalam Injil Matius 28:19 tersebut diatas adalah aneh dan tidak masuk akal. Pada masa kehidupan Yesus dan murid-muridnya tidak pernah dikenal, nama Bapa dan Roh Kudus, diikut-ikutkan dalam upacara pembaptisan.
Pembaptisan yang dikenal pada zaman Yesus berbeda dengan zaman gereja sekarang ini. Pada zaman Yesus dan murid-muridnya, pembaptisan diartikan sebagai tanda perjanjian atau tanda kesetiaan yang harus dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang ingin menjadi anggota kelompok “Jalan yang Lurus”, yang dirikan oleh Yohanes Pembaptis. Mereka yang ingin menjadi anggota kelompok Yohanes Pembaptis harus dibaptis atas nama Yohanes serta menyatakan kesetiaanya kepada Yohanes Pembaptis. Yesus juga adalah salah satu anggota yang terdaftar dalam kelompok Yohanes Pembaptis, dan ia juga dibaptis langsung oleh Yohanes Pembaptis. Salah satu syarat untuk dapat diterima sebagai anggota kelompok Yohanes Pembaptis adalah bahwa seseorang harus sudah disunat atau dikhitan terlebih dahulu.

"Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.” (Kejadian 17:9-11)

Perjanjian untuk bersunat tersebut juga ditaati oleh Yesus.

“Maka ketika Yesus lahir dan genap berumur delapan hari, Yesus langsung disunat : Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas 2:21)

Sebagai anggota kelompok, maka selanjutnya ia akan terikat dengan kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh kelompok Yohanes Pembaptis. Kewajiban-kewajiban itu antara lain berupa, mengucapkan pengakuan iman : “Tiada Tuhan selain Allah”, mengakui Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah, melaksanakan ibadah-ibadah sesuai dengan tuntunan perintah Allah, serta menjauhi larangan-larangan-Nya.
Seiring dengan waktu, Yesus pun kemudian diangkat sebagai rasul oleh Allah, dan selanjutnya ia membentuk kelompok pembaptisan sendiri, dengan nama yang sama seperti nama kelompok Yohanes, yakni kelompok “Jalan yang Lurus.” Adapun tata cara pembaptisan dalam kelompok Yesus sama persis dengan kelompok Yohanes. Perbedaannya hanya dalam hal pengucapan tanda setia, yakni dibaptis “atas nama Yesus” dan mengucapkan pengakuan iman sebagai berikut :

“Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)

Atau dalam bahasa orang Islam berbunyi :

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Yesus adalah utusan Allah.”

Pembaptisan yang dimaksudkan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis bukanlah dalam arti memandikan atau mencelupkan seseorang kedalam air dalam arti fisikal, tetapi lebih bermakna metafora, yakni “mencelupkan” seseorang kedalam keimanan yang tulus berserah diri kepada Tuhannya, dengan tidak menyekutukan-Nya dengan segala bentuk kemusyrikan apapun juga. Dalam artian pembaptisan itu adalah suatu bentuk pencerahan yang menandakan pengetahuan yang sebenarnya tentang Allah dan kehendak-Nya. Pengetahuan ini bersinar dengan cemerlang pada roman muka dan tingkah laku setiap orang yang mau berserah diri kepada-Nya. Orang yang dibaptis adalah orang yang dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah pada setiap gejala alam. Apapun yang menimpanya, dalam kebahagiaan atau penderitaan, Allah tetap ada dalam hatinya. Seruan untuk beribadah kepada-Nya tanpa boleh membantah adalah bukti hidup dari pencerahannya. "Tidak ada apapun yang patut disembah kecuali Allah," merupakan protes abadi terhadap semua mereka yang menyekutukan Tuhan dengan obyek apapun yang tidak patut disembah. Setiap muslim juga dibaptis dengan cara yang sama, mengakui : "Saya bersaksi bahwa hanyalah Allah yang patut disembah."
Dalam "Peake's Commentary on the Bible" ('Uraian Peake mengenai Injil') yang telah diterbitkan sejak tahun 1919, dan merupakan buku standar referensi bagi para siswa yang mendalami kitab Injil, mencatat bahwa Injil Matius 28:19 sebenarnya merupakan bahasa yang dibuat gereja untuk menjalankan misinya mengkristenkan orang banyak di seluruh dunia. Banyak komentator dan para pengamat Alkitab yang meragukan keaslian rumusan tritunggal pada Injil Matius 28:19 tersebut, karena di tempat lain, perjanjian baru tidak mengenal rumusan tritunggal seperti itu. Sebenarnya pembaptisan yang dilakukan oleh murid-murid Yesus terdahulu hanya dilakukan atas nama Yesus saja, dan tidak pernah mengikutsertakan nama Roh Kudus. Hal ini dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul yang lengkapnya tertulis :

“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka terharu, lalu mereka bertanya pada Petrus dan rasul rasul yang lain : "Apakah yang harus kami perbuat saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka : "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing masing memberi dirimu baptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa-dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus." (Kisah Para Rasul 2:37-38)

Mungkin jika seandainya pernyataan Injil Matius 28:19 itu benar, dalam arti benar-benar ucapan Yesus yang asli yang telah menyuruh para muridnya untuk membaptis manusia dalam nama Bapa, Yesus dan Roh Kudus, maka mengapa mereka hanya membaptis orang-orang Yahudi hanya dengan menggunakan nama Yesus saja? Mengapa mereka begitu beraninya membaptis orang lain tanpa mengikutsertakan nama Bapa dan Roh Kudus? Seharusnya, Rasul Petrus menjadi orang pertama yang mencontohkan ucapan “Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, sebab ia adalah salah satu murid-murid pertama yang menerima pengajaran langsung dari Yesus. Tapi nyatanya, Petrus yang hidup siang-malam bersama Yesus, tidak sekalipun pernah mendengar ucapan : “Atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, keluar dari mulut Yesus.”
Sementara itu, Tom Harpur, penulis dari beberapa buku terlaris dan mantan profesor dari Perjanjian Baru, menulis dalam bukunya “Demi Kristus”, Ia mengatakan : "Semua ilmuwan, kecuali ilmuwan kolot, setuju bahwa paling sedikit bagian terakhir dari perintah pada Injil Matius 28:19 baru dimasukkan kemudian. Sebab rumusan membaptis dalam Nama “Bapa, Yesus dan Roh Kudus”, tidak terdapat dimanapun juga dalam perjanjian baru, kecuali hanya dalam Injil Matius saja, dan kita dapat mengetahuinya dari bukti-bukti yang ada dalam perjanjian baru diluar Injil Matius. Pada masa-masa awal, Gereja tidak pernah membaptis orang-orang dengan menggunakan kata-kata “Dalam Nama Bapa Yesus dan Roh Kudus.” Mereka hanya membaptis dengan menggunakan kata : "kedalam" atau "dalam" nama Yesus sendiri."
Salah seorang Pakar Pemikiran Kristen, bernama Paul Tillich dalam bukunya A History of Christian Thought, juga membenarkan bahwa pembaptisan pada zaman Yesus, hanya menggunakan kalimat atas nama Yesus. Ia berkata :

“Pembaptisan merupakan upacara memasuki suatu kelompok.... Lalu seseorang itu kemudian akan dibaptis atas nama Kristus. Adapun nama Tuhan Bapa dan Roh Kudus baru ditambahkan kemudian (oleh gereja).”

Bahkan kalau orang-orang Kristen bisa lebih teliti membaca Alkitabnya, disana akan ditemukan dengan jelas bahwa ternyata, ide “Roh Kudus” sebagai salah satu Tuhan dalam Trinitas yang harus disembah-sembah, tidak pernah dikenal pada zaman Yesus. Hal ini dapat dilihat pada Kitab Kisah Para Rasul, ketika Paulus menanyai murid-murid Yohanes Pembaptis di Efesus :

"Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia : "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus." (Kisah Para Rasul 19:2)

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa sebenarnya Matius 28:19 telah dinyatakan sebagai ayat palsu oleh para pakar Alkitab dan Sejarawan. Salah satu pakar Alkitab dan sejarah Kristen bernama Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel tahun 1959, dalam bukunya “The Original New Testament”, hal. 124, mengatakan :

“Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang baru ditambahkan kemudian.”

Dan memang kalau kita perhatikan, penutup dari keseluruhan catatan peristiwa yang diceritakan dalam Injil Matius lebih tepat jika diletakkan pada Injil Matius 28:15, sebab terdapat kalimat penutup yang berbunyi : “Dan cerita ini tersiar diantara orang Yahudi sampai sekarang ini.” Kalimat penutup Injil Matius 28:15 dapat kita disamakan dengan kata “Tamat” dalam sebuah novel. Artinya, uraian cerita tersebut sudah selesai dan tidak akan bersambung lagi.
Tapi anehnya cerita Matius yang sebenarnya sudah tamat sampai pasal 28 ayat 15 itu, justru bersambung lagi menjadi ayat 16 sampai dengan 20. Suatu cerita yang aneh, dan anda tidak perlu heran, karena cerita tambahan tersebut memang sengaja disisipkan oleh para pendukung Paulus dan gereja untuk mendukung ide dan doktrin keimanan mereka tentang kematian, kebangkitan, serta terangkatnya Yesus ke sorga sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.

Sebab Ada Tiga yang Memberi Kesaksian di Sorga
Gereja juga mengklaim bahwa ayat Trinitas juga dinyatakan dalam Alkitab sebagai berikut :

"Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di Sorga, Bapa, Firman, dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu." (1 Yohanes 5:7)

Kutipan teks tersebut memang sempat muncul dalam Injil King’s James Version (KJV) tetapi telah dihilangkan oleh para editor versi-versi baru ini seperti Injil Revisi Standar Version (RSV), Kitab Injil New American Standar Version, Kitab Injil Philips Modern English, karena kutipan teks tersebut tidak terdapat dalam naskah bahasa Yunani yang lebih tua. (Dalam terjemahan bahasa Indonesia, terjemahan di atas masih dipakai, lalu timbul keingintahuan kita mengapa dalam versi lain justru malah sudah dihilangkan?).
Sejarawan terkenal, Edward Gibbon menyebut tambahan pada Injil ayat 1 Yohanes 5:7 itu dengan nama "Pious Fraud", dalam buku sejarahnya yang terkenal 'Kemunduran dan Jatuhnya Kerajaan Romawi'. Sementara Peakes mengomentari persoalan di atas sebagai :

"Suatu penyisipan terkenal setelah "tiga saksi" tidak dicetak sekalipun dalam RSV, sungguh! Disana cuma disebutkan kesaksian Sorgawi : Bapa, logos, dan Roh Kudus, tetapi itupun tidak pernah digunakan dalam perdebatan-perdebatan tritunggal di masa awal. Tidak ada manuskrip latin yang bisa dipercaya yang pernah memuatnya. Pemunculan pertama terjadi pada akhir abad ke-4. Dari teks bahasa latin, dimasukkan ke dalam The Vulgate kemudian akhirnya dimasukkan ke dalam PB (Perjanjian Baru) dari Erasmus."

Sedangkan The Holy Bible New International Version (Alkitab New International Version), halaman 907 pada catatan kakinya dan hal 1242, mengatakan :

"(Ayat ini) tidak ditemukan dalam naskah Yunani yang ditulis sebelum abad ke-16."

Sebenarnya, 1 Yohanes 5:7 adalah ayat palsu yang baru diselipkan atas restu Gereja, ketika Alkitab dicetak di Frankfurt, Jerman pada tahun 1574. Sebelumnya ayat tersebut tidak pernah tertulis dalam kitab-kitab suci pada masa awal gereja. Doktrin Trinitas bukanlah ajaran Tuhan, karena dari sejarah kita telah mengetahui bahwa Trinitas hanyalah konsep buatan manusia, yang diciptakan jauh setelah Yesus wafat. Doktrin Trinitas dulunya dirancang pertama kali pada konsili Nicea tahun 325 M, dan disempurnakan pada konsili Konstantinopel tahun 381 M yang diprakarsai oleh Kaisar Theodosius. Konsili ini menghasilkan “Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel”, yang oleh umat Kristen saat ini dikenal dengan sebutan “Sahadat Iman Rasuli”, yang isinya sebagai berikut :

Aku percaya kepada satu Allah; Bapa Yang Maha Kuasa; Pencipta Langit dan Bumi; Segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; Dan, kepada satu Tuhan, Yesus Kristus; Anak Allah yang Tunggal; Yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman; Allah dari Allah; Terang dari terang; Allah yang sejati dari Allah yang sejati; Diperanakkan bukan dibuat; Sehakikat dengan Sang Bapa...”

Pengakuan Iman Rasuli yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati dan sehakikat dengan Allah adalah tidak berdasar sama sekali, dan tidak ada landasannya dalam Alkitab. Bahkan sangat bertentangan dengan Alkitab umat Kristen sendiri yang mengatakan :

“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” (Yesaya 45:5-6)

Kalau anda pernah membaca Alkitab, mungkin anda masih ingat bahwa disana diceritakan tentang kisah percobaan Yesus di Padang Gurun. Ketika itu Yesus sedang tirakat dan tiba-tiba didatangi oleh Iblis. Karena merasa terganggu, Yesus kemudian mengusir Iblis dan berkata :

“Enyahlah Iblis! Sebab ada tertulis : Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10)

Meski tidak mengamalkan keyakinannya, tapi Iblis tahu bahwa Yesus bukan Tuhan karena Yesus mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya Allah saja. Maka sangat aneh kalau umat Kristen yang sering memuja-muja Yesus dan mengaku sebagai pengikut Yesus tidak mengetahui Tauhid yang diajarkan Yesus. Apakah itu berarti Iblis lebih pandai daripada manusia yang tidak bertauhid?
Nampaknya orang-orang Kristen lupa dengan sindiran Yesus dalam Alkitab berikut ini :

“Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”  (Matius 15:6-9 atau Markus 7:7-8)

Jadi, sekalipun tanpa mengemukakan penolakan-penolakan tersebut diatas, ayat selanjutnya dari teks yang terbaca dalam KJV :

"Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi, roh, air, dan darah; dan ketiganya adalah satu." (1 Yohanes 5:8)

Tidak bisa disamakan dalam satu penggabungan, sebab pada dasarnya antara “roh, air, dan darah” itu berbeda. Dapatkah darah diganti dengan air? Atau dapatkah air dipandang sama dari sudut pandang apapun dengan Roh? Sebagaimana roh, darah dan air sesungguhnya ketiganya adalah terpisah, maka tiga saksi yang pertama-pun, yaitu : Bapa, Anak (Firman, Logos) dan Roh Kudus, mestinya juga dianggap terpisah. Bagaimana mungkin ketiganya bergabung menjadi satu?
Alhasil, kalau kita terus-terusan membahas masalah Trinitas ini akan semakin ruwet dan membuat pikiran kita tambah “kusut”, atau mungkin bisa membuat kita menjadi “tidak waras”, seperti yang diungkapkan oleh Alban Douglas, seorang teolog Kristen :

“Siapa yang mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan daya akal manusiawi akan menjadi tidak waras. Tetapi barangsiapa menyangkal Tritunggal, akan kehilangan jiwanya.” (Inti Ajaran Alkitab, Hal. 19-20)

Nah, daripada otak kita jadi tidak waras gara-gara terus menerus “memelototin” ajaran Trinitas dalam Kristen, maka sebaiknya kita berpaling saja kepada Al-Qur’an, supaya otak kita bertambah sehat dan cerdas, sebagai berikut :

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maria”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata : “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” (Q.S. Al-Ma’idah:72)

Barangsiapa Percaya Kepada Anak, Ia Beroleh Hidup yang Kekal
Gereja beranggapan bahwa siapa saja yang tidak percaya dan tidak mau menjadi pengikut Yesus, maka ia akan mendapatkan murka Tuhan.

Yesus berkata: "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal; tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak ia tidak akan dapat melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada diatasnya." (Yohanes 3:36)

Ini adalah pertanyaan yang menarik. Kenyataannya, orang-orang Muslim-lah yang seharusnya menanyakan pertanyaan tersebut kepada para pengikut Kristus. Apakah mayoritas orang-orang Kristen yang mengaku pengikut Yesus, sudah benar-benar melaksanakan apa yang dia katakan, memahami apa yang dia perintahkan, dan mematuhi ajarannya? Penulis yakin banyak orang-orang Kristen yang tidak memahami maksud dari sebutan pemimpin mereka, “Yesus Kristus."
Ayat Yohanes 3:36 tersebut diatas mempunyai dua bagian pemahaman, yakni, pertama adalah “Percaya”, dan kedua adalah “Kepatuhan.” Untuk urusan “percaya” kepada Kristus, Yesus menanyakan kepada para pengikutnya :

"Menurut kamu siapakah Aku ini? Jawab Petrus, Engkau adalah ‘Mesias’ dari Allah." (Lukas 9:20)

Dalam percakapan singkat tersebut, Petrus tidak menyebut Yesus dengan panggilan “Tuhan” (baik dengan huruf ‘T’ besar atau ‘t’ kecil). Sebaliknya, Petrus hanya mengatakan “Mesias”. Sama seperti Petrus, orang-orang Muslim juga percaya bahwa Yesus adalah seorang Mesias, Al Masih, atau Kristus yang diutus oleh Allah. Ungkapan "Mesias, Al-Masih, atau Kristus dari Tuhan" artinya adalah "Seseorang yang diurapi oleh Allah sendiri."
Coba perhatikan bahwa Allah melaksanakan upacara pengurapan (pembersihan jasmani atau rohani) terhadap diri Yesus, dan karena alasan itu, Yesus kemudian diberi gelar atau julukan oleh orang-orang Yahudi, Islam, dan Kristen sebagai "Kristus” (orang yang diurapi) dari Tuhan. Sekarang pertanyaannya adalah, siapakah yang kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia, apakah seseorang yang mengurapi atau seseorang yang mendapat urapan? Jawabannya jelas, bahwa Allah-lah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia antara keduanya. Tetapi yang mengherankan umat Kristen yang sering memanggil Yesus sebagai "Kristus," justru tidak berkeyakinan seperti itu, mereka malah menyamakan Allah dengan Yesus!?
Untuk memperjelas masalah ini, coba perhatikan kutipan ayat berikut ini :

"HambaMu Yesus yang kudus, yang Engkau urapi." (Kisah Para Rasul 4:27 ~ New American Standar Version)

Tidak ada kesempatan sedikitpun untuk meragukan bahwa Yesus adalah 'Hamba Allah'. Selain itu, ada beberapa ayat-ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus adalah Hamba Allah.
Sekarang beralih pada pemahaman bagian kedua pada ayat Yohanes 3:36 tersebut diatas : "kepatuhan” atau “mematuhi Kristus." Coba anda baca ayat berikut ini :

"Benar, benar, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanku dan percaya kepada Dia yang mengutus aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup." (Yohanes 5:24)

Bagaimana anda memahami ayat yang tertulis “Percaya kepada Dia”, tersebut diatas? Maksudnya, kepada siapa anda harus percaya dan menempatkan kepercayaan anda secara mendasar atau fundamental? Apakah kepada “Dia” ataukah kepada Yesus?
Jika anda masih belum mengerti juga, silahkan anda membuka dan melihat kembali kutipan ayat dalam Alkitab berikut ini :

“Yesus berkata : "Tetapi aku tidak mencari kemegahanku, ada Satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi." (Yohanes 8:50)

Siapakah yang dimaksud dengan “Satu”, yang bukan Yesus tadi? Apakah anda secara mendasar, esensial dan fundamental mengagungkan yang “Satu” itu atau mengagungkan diri Yesus? Mohon diingat, bahwa hanya ada satu yang akan menilai setiap amal perbuatan manusia pada hari kiamat nanti, yakni : “Dia yang menghakimi”. Dan, tentunya yang menghakimi itu bukanlah Yesus, tetapi “Dia”.
Adapun, “Dia” yang dimaksud itu tidak lain tidak bukan pastilah “Allah Sang Pencipta Alam Semesta”. Jadi, sangat keliru dan tidak beralasan sama sekali kalau umat Kristen menggantungkan keselamatan dirinya hanya pada diri Yesus. Ia tidak mungkin bisa menyelamatkan manusia atau menebus dosa-dosa manusia, jika manusia itu sendiri tidak berinisiatif membersihkan dirinya dan menebus dosa-dosanya sendiri dengan cara bertaubat kepada Tuhan, bukan kepada Yesus.
Kita harus memahami bahwa Yesus itu hanyalah sebagai perantara atau petugas yang menginformasikan tentang adanya suatu jalan aman yang dapat dilewati oleh setiap manusia agar ia memperoleh keselamatan. Jalan itu adalah pengajaran-pengajaran Yesus mengenai Tauhid yang harus ditaati oleh para pengikutnya, dan bukan pada sosok Yesus yang disalib.
Memang benar bahwa Yesus adalah juru selamat bagi bangsanya, Bani Israel. Tetapi harap anda mengerti akan arti dari kata “juru selamat” itu. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “juru” yang berarti salah seorang yang melakukan tugas-tugas. Sebagai contoh, juru rawat yang berarti salah seorang yang melakukan tugas perawatan, atau juru mudi, yang berarti salah seorang yang melakukan tugas mengemudi. Jadi, “juru selamat” harusnya diartikan tidak lain sebagai salah seorang yang bertugas menyelamatkan. Itu berarti, Yesus adalah salah seorang yang melaksanakan tugas dan fungsi penyelamatan, sama halnya dengan tugas dan fungsi penyelamatan yang dilakukan banyak orang, seperti penyelamatan Nabi Musa as terhadap umat Israel yang terancam mati di Laut Merah, penyelamatan Tim SAR terhadap korban Tsunami, penyelamatan dokter terhadap pasiennya, penyelamatan polisi terhadap pencuri dari amukan massa, penyelamatan sandera oleh tentara, dan lain sebagainya.

Tanpa Dia (Yesus) Tidak Ada Suatupun yang Telah Jadi
Gereja mengklaim bahwa Trinitas memang ada dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan, Firman (Yesus), dan Roh Kudus bersama-sama membuat penciptaan alam semesta dan manusia, karena di dalam ayat-ayatnya terdapat kata-kata “Allah, Firman, dan Roh Allah”.

Pada mulanya Allah (Tuhan) menciptakan langit dan bumi ". (Kejadian 1:1)

 "....dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air". (Kejadian 1:2)

" Berfirmanlah Allah..." (Kejadian 1:3)

Dan hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya kata "kita", yang menunjukkan kesatuan Tuhan, Firman (Yesus), dan Roh Allah (Roh Kudus), sebagai berikut :

"Dan berfirmanlah Allah, Baiklah kita jadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka kuasa atas ..." (Kejadian 1:26)

Bahkan Gereja mengklaim lebih jauh bahwa segala sesuatu itu di alam semesta ini diciptakan melalui Yesus. Tanpa Yesus, maka tidak ada penciptaan apapun, seperti terkutip dalam ayat berikut :

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:3)

Mungkin hanya orang “gila” saja yang berani mengatakan kalau Yesus bergotong royong bersama Tuhan menciptakan manusia. Bayangkan! Kitab Kejadian adalah kitab umat Yahudi semenjak zaman Nabi Musa sampai dengan Yesus. Mana ada Nabi-Nabi umat Yahudi yang pernah mengatakan bahwa ada yang namanya Yesus yang kemudian menjadi Firman lalu menjadi Tuhan, yang turun ke bumi mengambil bentuk manusia yang bergotong royong bersama Tuhan Allah dan Roh Kudus, menciptakan manusia dan jagat raya ini. Ketika Yesus berkhotbah dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah lainnya, beliau tidak pernah mengatakan kepada umatnya, bahwa beliau bersama Tuhan Allah dan Roh Kudus menciptakan alam semesta sebagaimana yang ditafsirkan oleh para pemuka Gereja. Sebaliknya Yesus secara terang-terangan menyatakan bahwa bukan dia yang mencipta, tetapi Allah-lah satu-satunya Tuhan yang menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. Yesus berkata :

“Tidakkah kamu baca, bahwa Dia yang menciptakan manusia sejak semula, menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.” (Matius 19:4)

Berdasarkan ayat tersebut, jelas bahwa yang dimaksud dengan firman dalam Kejadian 1:3 adalah firman yang diucapkan oleh Allah dalam menciptakan segala sesuatu, yakni : "Kun", yang artinya jadilah, seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an berikut ini :

"Sesungguhnya misal (penciptaan) Yesus di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari Tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya : "Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah dia." (Q.S. Ali Imran:59)

Adapun mengenai kata “Kita” pada Kejadian 1:26, sebenarnya tidak ada yang bisa mengetahui apa maksudnya. Mungkin kepada para penulis Kitab Kejadian itulah, tempat kita harus bertanya, apa yag dimaksud “Kita” pada tulisan mereka tersebut. Namun karena penulisnya sendiri tidak diketahui siapa orangnya, maka kita hanya bisa mengartikannya secara literal sebagai suatu “kekonyolan” belaka, dimana wajah atau rupa manusia itu diciptakan sama persis dengan wajah atau rupa Tuhan atau dapat diartikan bahwa Tuhan itu berjumlah sangat banyak.
Mungkin pengertian “konyol” yang kita artikan pada Kejadian 1:26 tersebut dapat kita rubah agar tidak “konyol” lagi, dan bahkan pengertiannya akan menjadi sangat terhormat, jika dua buah kata “Kita” pada ayat tersebut dicoret dan diganti dengan kata “Kami” dan ”yang Kami kehendaki”, sebagai berikut :

"Dan berfirmanlah Allah, Baiklah Kita Kami jadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita yang Kami kehendaki, supaya mereka kuasa atas ..." (Kejadian 1:26)

Dengan perubahan tersebut, maka pengertiannya tentu juga akan berubah, dimana kata “Kami” dapat kita diartikan sebagai suatu bentuk kesopanan Allah yang bermaksud untuk menghormati dan menghargai peranan para malaikat-Nya (Malaikat Jibril-red) yang telah ikut menyampaikan firman-firman-Nya kepada para nabi dan rasul utusan Allah. Sebab kita mengetahui, bahwa Allah tidak mungkin berbicara langsung kepada manusia, melainkan Dia berbicara dengan cara mengutus malaikat-Nya untuk menyampaikan firman-firman-Nya kepada manusia.
Namun yang jelas, para penafsir-penafsir Kristen telah berhasil memanfaatkan peluang “ketidakpastian” akan maksud dari kata “Kita” pada Kejadian 1:26 tersebut, dan mengartikannya dengan “Bapa” beserta “Yesus” dan “Roh Kudus” bersama-sama bergotong-royong menciptakan manusia. Peluang memasukkan konsep Trinitas pada Kejadian 1:26 tersebut dapat dilihat dari tulisan para redaksi King’s James Version (The Hebrew-Greek Key Study Bible, Edisi ke 6), sebagai berikut :

Dalam bahasa Yahudi kata untuk Tuhan adalah 'Elohim' (430), sebuah kata benda jamak. Dalam Kejadian 1:1, digunakan sesuai dengan kaidah tata bahasa yakni menggunakan kata kerja tunggal 'bara' (1254), telah menciptakan. Kalau kata ganti jamak digunakan, "Biarkan Kami membuat manusia menurut gambar dan rupa Kita," apakah itu (Kata "Kami" tersebut) menunjukkan lebih dari satu (plural) atau menunjukkan keunggulan atau keagungan menurut konsep atau cara pengungkapan orang Yahudi atau Hebrew? Dapatkah Allah berbicara pada Malaikat-malaikat, dunia atau alam, jadi menunjukkan dirinya dalam hubungannya dengan salah satu dari ini? Atau apakah ini petunjuk awal akan suatu keunikan dari kepribadian suci? Seseorang tidak dapat memastikan."
Adanya penulisan kalimat "Seseorang tidak dapat memastikan," pada tulisan tersebut diatas, menunjukkan bahwa para redaksi King’s James Version memang akan mencoba menganjurkan teori Yesus, sebagai "pokoknya” (didalam) kesatuan ketuhanan (konsep Trinitas).
Khusus mengenai Yohanes 1:3, kita dapat melihat bahwa pada susunan ayatnya tidak mencerminkan sama sekali adanya sebuah konsep Trinitas. Pada ayat tersebut hanya terdapat kata “Dia”, yang artinya itu hanya satu dan bukan tiga atau Trinitas. Mengenai anggapan umat Kristen bahwa kata “Dia” yang dimaksud itu adalah Yesus, maka itu hanyalah anggapan kosong mereka belaka. Sebenarnya, Yohanes 1:34 itu bukanlah perkataan Yesus, dan bukan pula tulisan hasil karya Yohanes, murid Yesus, melainkan suatu konsep yang ditulis oleh para pendukung Paulus dan Gereja untuk menanamkan ide tentang ketuhanan Yesus.
Injil Yohanes 1:3 itu sendiri adalah salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Yohanes 1:1-18, yang disebut orang sebagai ayat pembuka atau permulaan pada Injil Yohanes. Adapun Yohanes 1:1-18 ini sebenarnya sudah dicap sebagai ayat palsu oleh para pakar Alkitab dan sejarawan Kristen, sebab aslinya Injil Yohanes tidak menuliskan ayat pembukaan seperti itu, karena Yohanes 1:1-18 itu hanyalah karya lepas yang baru dimasukkan sebagai pembukaan Injil Yohanes oleh para penyalin yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dapat kita lihat pada catatan kaki Alkitab “The New Testament of the New American Bible”, tahun 1970, hal. 203, yang mengatakan bahwa :

“Yohanes 1:1-18 yang merupakan pembukaan ini merupakan hymne, berbentuk syair, mungkin berasal dari karya bebas, yang hanya belakangan baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai intro (pembuka) dari Injil.”

Mengenai bagaimana Yohanes 1:1-18 itu bisa “nangkring” ke dalam Injil Yohanes, akan kami jelaskan selanjutnya pada pembahasan dalil kesebelas.

Firman (Yesus) Itu Adalah Allah
Gereja mengatakan bahwa Yesus adalah Firman, dan Firman itu adalah Tuhan, jadi, Yesus adalah Tuhan.

“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. (Yohanes 1:1)

Ayat Yohanes 1:1 adalah bagian dari Yohanes 1:1-18, yang keseluruhan susunan kalimatnya sangat membingungkan pikiran manusia yang waras. Para ilmuwan yang kepalanya setengah botak atau yang plontos sekalipun mungkin akan geleng-geleng kepala melihat susunan kalimat yang aneh tersebut? Sebenarnya ayat tersebut merupakan karya hasil perbuatan gereja yang ingin menjadikan Yesus setara dengan Tuhan. Pada mulanya Yesus itu disebut dengan Anak Allah, dan ketika predikat Anak Allah (Anak Tuhan) ini dipandang belum sejajar dengan kedudukan Tuhan, maka dinaikkanlah peringkatnya menjadi sejajar dengan Tuhan, dengan mengambil konsep “Logos” dalam filsafat Yunani.
Logos adalah perantara antara Tuhan dan Manusia. Tuhan dipandang mulia, roh, dan baka, sedangkan manusia dianggap dosa and fana. Adanya perbedaan antara Tuhan dan manusia inilah yang menyebabkan Tuhan yang mulia tidak dapat berhubungan dengan dunia dan manusia yang berdosa. Untuk memenuhi keinginan Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia dan dunia yang berdosa, Tuhan memerlukan perantara yang kedudukannya berada di bawah Tuhan, tetapi diatas manusia. Perantara ini dalam Filsafat Yunani disebut Logos, yang kemudian oleh Lembaga Alkitab Indonesia disebut Firman.
Padahal firman menurut Yesus sendiri adalah wahyu yang diterimanya dari Tuhan Allah :

"Ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)

"Barangsiapa menolak aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yanq telah kukatakan, itulah yanq akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus aku..." (Matius 12:48-49)
"Dan aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang aku katakan, aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaku". (Yohanes 12:50)

Logos dalam filsafat Yunani adalah roh, sementara Yesus adalah manusia yang lengkap dengan tulang dan daging. Oleh karena itu, agar Logos dapat diterapkan pada diri Yesus, maka Gereja kemudian menyatakan bahwa Logos telah menjadi daging, turun ke dunia, lahir melalui rahim seorang perawan, dan menjadi Anak Allah dalam diri Yesus.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

"Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraanya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan dirinya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:6-7)

Dengan demikian gelar "Anak Allah" dibutuhkan sebagai gerbang pertemuan antara Yesus dan Logos. Agar Yesus dapat tiba pada keilahian Logos, ia harus melalui "gerbang" Anak Allah. Sementara bagi Logos untuk menjadi manusia harus lahir dari perawan melalui intervensi Roh Kudus, sehingga anak yang dilahirkan menjadi Anak Allah.

"Jawab malaikat itu kepadanya: 'Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yanq Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah." (Lukas 1:35)

Sebenarnya logos dalam filsafat Yunani adalah perantara antara Tuhan dan manusia, sehingga kedudukannya lebih rendah dari Tuhan oleh karena itu Logos bukanlah Tuhan. Pencetus asli ide Logos bernama Philo dari Alexandria, tidak pernah bermaksud mempersamakan Logos dengan Tuhan. Dalam hymne (syair) Platonis-nya, ia hanya berkata : "Pada mulanya adalah Logos, Logos itu bersama dengan Tuhan dan Logos itu berasal dari Tuhan". Selain itu Philo juga mengatakan bahwa Logos itu hanyalah anak Allah. Ia mendefinisikan Logos sebagai "Protogenes huios theou" atau “Anak sulung Tuhan”.
Gelar “Anak Tuhan” ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus. Selanjutnya para penyalin Injil yang umumnya adalah para pengikut Paulus juga ikut-ikutan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan), dengan menambahkannya kedalam ayat-ayat Injil.

"Inilah permulaan Injil tentanq Yesus Kristus, Anak Allah." (Markus 1:1)

"Jawabnya (Sida-sida): 'Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah"' (Kisah Para Rasul 8:37)

Sebenarnya kata-kata "Anak Allah" pada kedua ayat tersebut sudah di cap sebagai ayat palsu. Kata-kata tersebut tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah Para Rasul dari (Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus) yang diperkirakan ditulis tahun 325 Masehi. Adapun kata "Anak Allah" dalam kedua kitab tersebut diatas, baru diselipkan di akhir abad ke-4 atau abad ke-5.
Dalam perkembangannya kemudian, para penyalin Injil Yohanes kemudian mencontek hymne Platonis karangan Philo tersebut dan menempatkannya sebagai kalimat pembuka Injil Yohanes. Tidak hanya mencontek, para penyalin Yohanes bahkan merubah anak kalimat : "Dan Logos itu berasal dari Tuhan" menjadi "Dan Logos itu adalah Tuhan".
Pencaplokan ajaran Platonis ini oleh penyalin Injil Yohanes ini dijelaskan oleh Santo Augustinus dalam bukunya The Confession of Saint Augustine di bawah sub judul “Kitab Suci dan Filsafat Penyembah Berhala”. Ia mengatakan :

“...Buku filsafat Platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin, setelah didalamnya saya baca, walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya mirip, didukung dengan berbagai argumen bahwa : Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Tuhan dan Firman itu adalah (dari)  Tuhan. Ia (firman) pada mulanya bersama dengan Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan..”

Jadi, sangat jelas bahwa Yohanes 1:1-18 adalah ayat palsu karena merupakan cuplikan dari syair Platonis karangan Philo. Catatan kaki Alkitab The New Testament of the New American Bible, 1970 hal 203, memberikan alasan yang ikut memperkuat pendapat bahwa Yohanes 1:1-18 bukan merupakan bagian dari Injil Yohanes, tetapi merupakan karya lepas yang baru dimasukkan sebagai pembuka Injil Yohanes oleh para penyalin :

Pembukaan ini merupakan hymne, berbentuk syair, atau mungkin berasal dari karya bebas, yang hanya belakangan baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai intro (pembuka) dari Injil.”

Adapun kesengajaan Gereja untuk mempersamakan Logos dengan Tuhan diperlihatkan oleh Athanasius dalam bukunya "The Incarnation of the Word" yang ditulis pada tahun 318 Masehi, halaman 4, ia mengatakan :

“Demi keselamatan kita dia mencintai kita sedemikian rupa sehingga dia hadir dan dilahirkan dalam bentuk manusia.”

Dengan demikian karena menurut Gereja, Yesus adalah Logos, dan menurut Gereja pula, Logos adalah Tuhan Allah sehingga “sim-salabim”, Yesus pun akhirnya menjadi Tuhan Allah yang nampak.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa gereja sangat “tergila-gila” dengan ajaran dan filsafat Yunani tentang “Logos” tersebut, dan menjadikannya sebagai fondasi doktrin keimanan Kristen tentang Yesus? Sebenarnya para pemimpin gereja dan penginjil di kerajaan Romawi itu dulunya adalah para pemeluk ajaran filsafat Yunani atau setidaknya mereka sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. Tony Lane dalam bukunya "Christian Thought" mengatakan :

“Pandangan tentang kejatuhan (dalam dosa) lebih banyak dipetik dari filsafat Yunani dan Origen dibanding dari Alkitab).”

“Elemen Platonis (dalam Kristen) bukan seperti hiasan atau kismis pada kue yang dengan mudah ditinggalkan, tetapi seperti aroma yang sudah menyatu dengan kue itu sendiri.”

Begitu juga dengan Paul Tillich dalam bukunya "A History of Christian Thought" menjelaskan bagaimana ajaran teologi Yunani merasuk kedalam doktrin Trinitas melalui Logos (Firman).

“Kristen menganut dari saingannya (Filsafat Stoa) berbagai ajaran dasar. Yang pertama adalah ajaran tentang Logos (Firman), suatu ajaran yang dapat membuat anda kecewa manakala anda mempelajari sejarah trinitas dan pemikiran Kristen Pertumbuhan ajaran Kristen tidak dapat dimengerti tanpa bersandar pada ajaran ini (Stoa).”

Bahkan, seorang tokoh terkemuka gereja pada masa lalu bernama Justine Martyr (100-165 M), dengan bangga mengatakan :

“Platonis adalah satu-satunya filsafat yang menurut saya cocok dan pantas... Dan mereka yang menganut Logos, adalah Kristiani.”

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh gereja tersebut sangat bertolak-belakang dengan apa yang diajarkan oleh Yesus. Ketika Yesus ditanya oleh para pemuka Yahudi, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Saduki yang khawatir, apakah ajaran beliau sudah tercemar oleh filsafat Yunani atau tidak, beliau memberikan jawaban dengan tegas :

"Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa". (Markus 12:29)

Mendengar jawaban Yesus tersebut, para pemuka agama Yahudi akhirnya merasa lega dan mengatakan :

"Tepat sekali, guru, benar katamu itu, bahwa Dia (Tuhan Allah) Esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Tuhan Allah)". (Markus 12:32)

Namun terlepas dari uraian tersebut diatas, baiklah kita pakai permainan logika saja dengan menyalin susunan kalimat Yohanes 1:1 yang berbunyi : “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”, ke dalam bentuk kalimat lain yang hampir sama, menjadi : “Pada mulanya adalah Udin, Udin itu bersama-sama dengan Bapaknya, dan Udin itu adalah Bapaknya.”
Nah, sekarang coba anda pikirkan? Logika apa yang bisa anda gunakan, seandainya anda menyamakan Udin sama seperti Bapaknya? Tentu anda akan disebut sebagai orang yang tidak waras. Sebab tidak mungkin Udin itu sama seperti Bapaknya. Udin itu, ya, pasti Udin. Sedangkan Bapak, ya, jelas bukan Udin, tetapi Bapak! Jadi, “Firman” dan “Allah” itu dapat kita umpamakan sebagai sosok “Udin” dan “Bapak”, yang masing-masing merupakan dua hal yang berbeda dan tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya.

Thomas Menjawab Dia (Yesus), “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Gereja mengatakan bahwa salah satu murid Yesus bernama Thomas pernah memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan” saat ia menyentuhkan jarinya ditubuh Yesus yang baru beberapa hari bangkit dari kematian ditiang salib, dan Yesus tidak keberatan dengan panggilan tersebut, seperti tertulis dalam ayat berikut :

Thomas menjawab Dia (Yesus) : “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28)

Sementara dalam Injil “New American Standar Version”, teksnya berbunyi :

"Kemudian Dia (Yesus) berkata kepada Thomas, "Taruhlah jarimu disini, dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan letakkan pada lambungKu; dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Thomas menjawab dan berkata kepada Dia, "Ya, Tuanku dan Allahku!" (Yohanes 20:27-28)

Coba amatilah tanda seru (!) pada akhir ungkapan itu. (Catatan, pada “King James Version”, tanda seru itu justru telah dihilangkan). Kemudian amatilah tidak ada pertanyaan yang dikatakan dalam seluruh cerita. Oleh karena itu, teks yang berbunyi "Thomas menjawab" tidak teliti. Lalu pada kalimat terakhir "Tuanku dan Allahku!", itu bukanlah suatu jawaban, tetapi suatu ungkapan keterkejutan atau kekagetan dari Thomas, setelah melihat beberapa peristiwa atau kenyataan yang tidak dapat dipahami dan mengagumkan. Sama halnya kalau kita terkejut dan berteriak : "Ya, Allah… Ya, Tuhan!" ketika kita melihat sesuatu yang ajaib dan mengherankan.
Uraian tersebut juga didasarkan pada bukti yang dapat dilihat dalam Injil versi lainnya, seperti dalam “New English Bible” tertulis : Thomas berkata, "Tuhanku dan Allahku!", dan pada “English Philips Bible” modern tertulis : "Tuhanku dan Allahku!" teriak Thomas.

Penulis Injil Yohanes menulis, dengan segera percakapan antara Yesus dan Thomas :

 

"Banyak tanda-tanda lain, oleh karena itu Yesus menunjukkan dihadapan pengikutnya juga, yang mana tidak ditulis dalam buku ini, tetapi ini telah ditulis bahwa sesungguhnya kamu percaya bahwa Yesus adalah Kristus ..."

 

Seandainya penulis Injil Yohanes menganggap bahwa jawaban Thomas sebagai kesaksian atas 'Ketuhanan Yesus', dikarenakan Yesus sendiri hanya tenang-tenang saja melihat sikap Thomas, sebagai dasar untuk menyetujui setiap kesaksian tanpa protes, maka sudah tentu Yohanes akan menulis : "Yesus adalah Allah" dan bukan "Yesus adalah Kristus...". Tapi nyatanya Penulis Injil Yohanes tidak pernah melakukannya.


Masuklah Mereka.., Lalu Sujud Menyembah Dia (Yesus)
Gereja mengatakan bahwa Yesus sering disembah-sembah oleh para pengikutnya, dan itu menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena itu Yesus tidak melarang para pengikutnya untuk menyembahnya-nyembah dirinya.

“… Masuklah mereka (orang-orang Majus) ke dalam rumah itu …, lalu sujud menyembah Dia.” (Matius 2:11)

“Dan orang-orang (murid-murid Yesus) yang ada di perahu menyembah Dia. (Matius 14:33)

“…Mereka (Maria Magdalena dan lainnya) mendekatiNya dan memeluk kakiNya serta menyembahNya.” (Matius 28:9)

“Ketika melihat Dia mereka (murid-murid Yesus) menyembahNya, …” (Matius 28:17)

 

Perlu diketahui bahwa tidak ada seorangpun penulis Injil yang bermaksud untuk mengartikan kata “menyembah” itu menjadi ”menyembah Yesus sebagai Tuhan”. Tidak pula dilakukan rasul Matius dalam catatannya. Analisis secara leksikal pada Injil, kata bahasa Latin yang tepat untuk 'sembah' adalah 'sebomai' (4576) dari sumber 'seb'. Kata itu 'sebomai' digunakan oleh rasul Matius dalam 15:9 dimana Yesus berkata : "Tetapi percuma mereka beribadah kepadaKu, ..."
Kata Latin yang digunakan oleh rasul ungkapan di atas adalah 'prosekunesan' dan bukan 'sebomai'. 'Prosekunesan' berasal dari 'proskuneo' (4352), yang mana maksud harfiah menunduk, mendekam, merangkak, bersujud atau meniarap. Bila rasul ingin menyampaikan 'Yesus yang disembah', dia menggunakan kata 'sebomai' yang mana dia tidak lakukan.
Pembuktian lebih lanjut, dalam 'Injil Bahasa Inggris Baru' terjemahannya menjadi; 'menunduk pada tanah' dalam (Maius 2:11); 'jatuh pada kakinya' dalam (Matius 14:33); 'jatuh tak berdaya sebelumnya' dalam (Matius 28:9), dan 'jatuh tak berdaya sebelumnya' dalam (Matius 28:17). Pertanyaan apakah Yesus menghentikan mereka karena penyembahan, ternyata tidak terjadi, sebab mereka hanya menunduk biasa atau tak berdaya kepadanya.
Untuk memperjelas, ada baiknya menyimak tulisan Markus berikut ini :

"Pada waktu dia (Yesus) berangkat untuk meneruskan perjalanannya, datanglah seorang laki laki mendapatkan Dia dan sambil berlutut dihadapanNya dan ia bertanya, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Dan jawab Yesus, Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain Allah saja." (Markus 10:17-18)

Ayat tersebut kedengarannya tidak cocok dan tidak wajar bahwa seorang yang juga menolak disebut "baik" akan mengijinkan seseorang untuk menyembahnya.
Sebab, tak seorangpun yang baik kecuali "Allah saja", dan tidak seharusnya orang-orang Kristen menyembah langsung kepada Yesus, sebab Yesus sendiri menyembah kepada Allah. 

Sebelum Abraham Jadi, Aku (Yesus) Telah Ada
Gereja mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena ia sudah ada dan hidup sebelum Abraham diciptakan.

"Yesus berkata kepada mereka : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yohanes 8:58)

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkataan Yesus tersebut. Ia berkata benar! Yang jadi masalah adalah adanya segelintir orang yang menafsirkan kalimat Yesus tersebut secara tekstual, sehingga seolah-olah memang benar Yesus itu telah diciptakan lebih dulu dari Abraham, bahkan ada yang bilang Yesus diciptakan lebih dulu dari Adam?
Yesus sebenarnya ingin mengatakan bahwa maksud keberadaannya lebih dulu dari Abraham (Nabi Ibrahim) itu adalah saat ia belum dilahirkan ke dunia, ia telah dinyatakan akan dijadikan sebagai seorang nabi atau rasul dalam pengetahuan Tuhan. Kita juga sama seperti Yesus, sebelum kita semua diciptakan, Allah sudah mempunyai ide, benak, pikiran, dan pengetahuan tentang bagaimana kita nantinya akan diciptakan. Dalam derajat yang lebih rendah, kita dapat mengumpamakannya dengan seorang pelukis yang akan melukis sesuatu berdasarkan ide-ide yang diperoleh dalam pikirannya sebelumnya. Meskipun demikian, tentu saja kita tidak bisa menyamakan Tuhan dengan seorang pelukis. Namun begitulah cara kita menalarnya.
Sebagai bukti adanya ide dan pengetahuan Tuhan tersebut, coba perhatikan ketika Allah mendatangi Yeremia dan berfirman kepadanya :

"Sebelum Aku membentuk kamu dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal kamu, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan kamu. Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5)

Jadi, tidak mungkin Yesus itu diciptakan lebih dulu daripada Abraham, karena nyatanya Yesus baru lahir ribuan tahun kemudian setelah masa Abraham. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Yesus, ia berkata :

"Bapamu Abraham bersuka cita bahwa ia akan melihat hariku, dan ia telah melihatnya, dan ia bersuka cita." (Yohanes 8:56)

Maksudnya : Abraham gembira mendengar kabar dari Allah, bahwa suatu saat dimasa yang akan datang akan lahir seorang nabi dan rasul bernama Yesus Al-Masih.

Dia (Yesus) Diangkat ke Sorga, dan Duduk Disamping Kanan Allah
Gereja menyatakan bahwa Yesus mempunyai hak istimewa dalam pandangan Tuhan, yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Ia sederajat dengan Tuhan, karena “duduk” disamping kanan Tuhan.

"... Dia (Yesus) adalah diangkat ke Sorga, dan duduk di sebelah kanan Allah." (Markus 16:19)

Sebenarnya ada dua versi Injil Markus yang beredar dikalangan umat Kristen. Salah satunya disebut terjemahan pendek dan yang lainnya disebut terjemahan panjang. Pada terjemahan pendeknya, Injil Markus berakhir pada ayat ke-8, tidak kurang tidak lebih. Sementara pada Markus 16:19 tersebut diatas nampaknya merupakan bagian dari terjemahan panjang.
Salah satu dari dua keberhasilan besar mengungkap kesalahan Injil yang terkenal di dunia pada abad ke-19, adalah penemuan sejarah tertua yang mengenal naskah Kitab Injil 'Codex Sinaiticus' dari Biara St. Catherine di Gunung Sinai. Bukti yang paling menakjubkan adalah ketika Sejarawan bernama Lobegott Friedrich Konstantin Von Tischendorf menemukan bahwa pada dokumen yang muncul di abad ke-5 ini, Injil Markus ternyata cuma berakhir pada pasal 16:8. Dengan kata lain, 12 ayat terakhir Markus dari 16:9 sampai 16:20, baru "ditambahkan" pada suatu kurun waktu setelah abad ke-5.
Bapak-bapak gereja seperti Clement dari Alexandria atau Origen ternyata tidak pernah mengutip ayat-ayat Markus 16:9-20 tersebut. Bahkan, ternyata ditemukan pula bahwa dalam 12 ayat Markus terakhir tersebut, yang menceritakan tentang "Kebangkitan Yesus" itu, juga tidak terdapat dalam naskah kuno Suria, Vatikan dan Bobiensis. Sekarang, versi Alkitab yang telah diperbaiki, mencantumkan 12 ayat terakhir Markus dalam tanda kurung. Tischendorf menemukan juga bahwa Injil Yohanes telah dirubah berkali-kali dan banyak sekali. Contohnya, ayat ayat yang dimulai dari Yohanes 7:53 sampai 8:11 ternyata tidak ditemukan dalam naskah kuno Suria atau Vatikan. Persamaannya, sebuah ayat dari Injil Lukas bahwa dikatakan Petrus berlari ke kuburan, membungkuk dan mampir dan menemukannya kosong dan tercengang pada apa yang telah terjadi, ternyata tidak ditemukan dalam naskah-naskah kuno. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca 'Rahasia-rahasia dari Gunung Sinai' oleh James Bentley, Orbis, London 1985).
Komentar Peake mengenai catatan-catatan Injil :

"Sekarang ini umumnya disetujui bahwa Markus 16:9-20 adalah bukan sebuah bagian asli dari Markus. Bagian ini tidak ditemukan dalam naskah-naskah yang lebih tua, dan rupanya bukan sungguh-sungguh ada pada salinan yang digunakan oleh Matius dan Lukas abad ke 10. Naskah kuno Armeni menjiplak bagian ini dari Aristion, si presbitarian yang disebut oleh Papias.” (ap.Eus.HE III, xxxix, 15)


Jika Kamu Mengakui Yesus Adalah Tuhan, Kamu Akan Diselamatkan
Gereja mengatakan bahwa keselamatan mereka benar-benar terjamin, karena telah percaya 100 % bahwa Yesus itu adalah Tuhan.

“Jika kamu mengakui dengan mulutmu Yesus adalah Tuhan, dan percaya hatimu bahwa Allah membangkitkannya dari kematian, kamu akan diselamatkan; karena dengan hati manusia percaya, hasil dari kebenaran, dan dengan mulut dia mengakui, menghasilkan keselamatan." (Roma 10:9-10)

Ayat ini disukai oleh pengabar Injil. Salah satu dari dasar-dasar agama Kristen disebarkan oleh Paulus dan harus dibahas secara rinci dan dari berbagai macam perspektif.
Kutipan tersebut sebenarnya hanyalah ungkapan dalam surat-surat yang ditulis oleh Paulus. Jika kita membaca ungkapan dari seseorang, maka kita harus berpikir bahwa surat-surat ini ketika ditulis oleh penulisnya, hanyalah sebuah ceramah, petunjuk keagamaan, atau nasehat-nasehat, yang tidak diharapkan dapat membentuk sebuah bagian dan bingkisan dari kitab suci resmi.
Apa yang ditulis Paulus tersebut bukanlah wahyu yang berasal dari Tuhan. Semua surat-surat Paulus hanyalah berdasarkan ide dan pendapat pribadinya saja. Paulus tidak pernah berhubungan atau bertemu dengan Yesus. Ia hanya mengaku-ngaku mendapat perintah dari Yesus, walaupun tidak pernah ada bukti yang mendukung pengakuannya tersebut. Coba silahkan anda baca 1 Korintus 7:25-26 dan 7:40, disini Paulus menulis : "Saya berikan sebuah pendapat"; "dalam pendapat saya" dan "saya pikir" (dua kali).
Hal ini berbeda dengan Yesus, ia tidak pernah mengatakan kalau wahyu yang diperolehnya berdasarkan pendapat pribadinya sendiri, tetapi Yesus berkata :

“Aku tidak melakukan apapun atas kehendakku sendiri, tetapi Aku mengajarkan hal-hal yang diajarkan Bapa kepadaku." (Yohanes 8:28)

Jadi, kita harus membedakan antara "pendapat saya" dan "saya pikir" dari "diilhami" atau dokumen "diajarkan" dari wahyu.
Selain itu ada hal-hal yang aneh yang bisa kita temukan dalam ucapan dan perilaku Paulus, antara lain :
1.     Ia mengatakan bahwa sejak kecil, bahkan saat berada dalam kandungan ia telah dipanggil dan dipilih oleh Yesus sebagai rasul untuk memberitakan ketuhanan Yesus kepada orang-orang Kristen (Galatia 1:15-16). Anehnya, dalam Alkitab sendiri, Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Paulus Tarsus?
2.     Ia secara terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah seorang pendusta (Roma 3:7), dan telah menipu semua orang dengan kelicikannya (2 Korintus 12:16), serta senang melihat orang banyak berdusta atas nama Yesus, yang penting nama Yesus jadi populer (Filipi 1:18)
3.     Ia mengaku menyebarkan berita tentang Yesus bukan berdasarkan wahyu Tuhan tetapi berdasarkan hasil interpretasi dan khayalannya sendiri (Roma 15:19 dan 2 Korintus 11:16-17)
4.     Ia selalu mencari simpati dan berusaha mendapatkan pujian. Ia juga berusaha mengangkat dirinya sendiri dan mengaku bahwa ia tidak jauh berbeda dengan seorang nabi atau rasul lainnya yang memiliki keistimewaan, meskipun ia mengakui dirinya sendiri tidak berarti apa-apa. Ia pun mengakui kalau dia membanggakan kebodohannya secara terang-terangan (2 Korintus 12:11)
5.     Ia mengakui terkadang ia sering berbicara seperti orang gila, ketika dia menjelaskan bahwa dia adalah pelayan utama Al-Masih dan terbaik, karena dia merasa lebih banyak memikul beban (2 Korintus 11:22-23)
6.     Ia mangaku kalau dirinya tidak ada bedanya dengan para nabi dan rasul lainnya yang memiliki kelebihan, meskipun ia pun mengakui bahwa dirinya bodoh dan tidak berarti apa-apa! Dan ia terus meyakini hal itu, meskipun dia sendiri tidak pandai dalam berkata-kata (2 Korintusl 1:5-6)
7.     Ia tidak segan-segan membenarkan semua ajaran agama dan filsafat, walau agama itu menyembah berhala sekalipun demi berusaha mencari popularitas dirinya dan mencari dukungan orang-orang (1 Korintus 9:19-21)
8.     Ia berpendapat bahwa pengajaran agama hanyalah sekadar persaingan dan perlombaan dalam menafsirkan teks-teks Injil, dengan para pendusta lainnya (2 Korintus 11:12-13)
9.     Ia suka mengagung-agungkan kebodohan dan meremehkan orang-orang yang diberikan kelebihan ilmu, kebijakan, dan kepintaran (1 Korintus 1:19-20)
10.  Ia mengaku telah menipu semua orang dengan kelicikannya (2 Korintus 12:16)
Nah, coba anda pikirkan, bagaimana mungkin ada seorang nabi yang ucapan dan perilakunya “nyeleneh” seperti Paulus itu bisa kita percaya? Dan ironisnya, orang-orang Kristen justru mengangkatnya sebagai Bapak Gereja dengan sebutan gelar “Santo” atau orang suci.
Namun demikian, terlepas dari kekonyolan Paulus tersebut, ada baiknya kita bahas saja ayat-ayat yang disampaikannya. Seperti yang kita lihat, pada ayat Roma 10:9-10, terdapat kalimat yang tertulis : “…dan (jika kamu) percaya dalam hatimu bahwa Allah membangkitkannya dari kematian kamu akan diselamatkan”. Kalimat tersebut menginformasikan ada dua pribadi yang terpisah :
1.       Yang seorang adalah Yesus, yang meninggal dan terletak tak bergerak didalam makam.
2.       Yang seorang adalah Allah, yang hidup dan dapat melakukan kegiatan-kegiatan, termasuk membangkitkan Yesus.
Pribadi b (Allah) menghidupkan atau membangkitkan pribadi a (Yesus) yang ada dalam penderitaan maut.

"Dan Allah membangkitkan Dia, dengan melepaskan Dia dari sengsara maut ..." (Kisah Para Rasul 2:24)

Jadi, dalam hal ini anda harus memahami bahwa "kematian" dan "hidup" adalah dua hal atau pribadi yang berbeda dan "tidak-sama." Kematian adalah milik Yesus, sedangkan hidup adalah untuk Tuhan.
Kalau memang konsep Paulus mengenai terjerumusnya semua manusia kedalam dosa yang tidak bisa diampuni selain harus mengakui Yesus sebagai pembebas dosa dan juru selamat itu benar, maka bagaimana mungkin Tuhan telah membiarkan nasib jutaan umatnya yang hidup sebelum Yesus semuanya telah bergelimang dosa dan tidak bisa diampuni? Jadi apa gunanya, Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Salomo, dan sebagainya itu diutus oleh Tuhan? Apakah mereka juga berdosa dan tidak selamat hanya gara-gara tidak hidup pada zaman Yesus?
Alangkah baiknya kita simak pernyataan Tom Harpur, seorang profesor dari Perjanjian Baru dan pendeta Anglican, ia berkata :

"Mungkin saya tak cukup pandai dalam ilmu penalaran dasar, tetapi saya tahu kalau saya tidak sendiri dalam mengemukakan pendapat bahwa konsep kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa semua manusia pada satu sisi sangat membingungkan dan disisi lainnya juga menjijikkan secara moril. Sepengetahuan saya, Yesus tidak pernah mengatakan sesuatupun untuk menunjukkan bahwa pengampunan dari Allah hanya bisa didapat karena penyaliban dirinya." (Demi Tuhan, hal.75)


Kaum Israel Harus Tahu, Allah Telah Membuat Yesus Menjadi Tuhan
Gereja mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengangkat Yesus menjadi Tuhan, melainkan memang penyebutan Tuhan kepada Yesus itu justru datangnya dari Allah itu sendiri...."

"Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa (Tuhan) Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." (Kisah Para Rasul 2:36)

Hanya orang tidak waras saja yang “ngomong” kalau Allah mengangkat Yesus sebagai Tuhan. Sebenarnya yang mengangkat Yesus sebagai Tuhan itu adalah orang-orang Kristen di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Lembaga ini telah melencengkan terjemahan "Kyrios" dan "Lord" dalam Injil.
Sekarang logikanya saja, untuk apa Allah membuat Tuhan? Dalam agama Tauhid pernyataan ini tidak ada jawabannya. Tetapi bagi penyembah berhala Platonis dan Stoic, Tuhan yang mulia harus membuat Logos untuk menyelamatkan dunia yang berdosa.
Dalam Alkitab dengan jelas dapat dibedakan. Kalau ayatnya mengatakan Allah Juruselamat kita, berarti itu adalah sisa-sisa ajaran Tauhid yang masih terdapat dalam Alkitab. Tetapi kalau ayatnya mengatakan Yesus adalah juru selamat penebus dosa manusia, berarti ajaran penyembah berhala-lah yang telah merasuk ke dalam Alkitab.
Namun yang ingin dijelaskan disini adalah bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Alkitab secara sembrono, sehingga lahirlah terjemahan ayat seperti tersebut diatas.
Pada saat Lembaga Alkitab Internasional menerjemahkan Alkitab bahsa Yunani kedalam bahasa Inggris, kata "Kyrios" yang berarti "Tuan atau Bos atau Paduka atau Raja" diterjemahkan menjadi "Lord" atau "Sir" yang juga berarti "Tuan atau Bos atau Paduka atau Raja". Misalnya :
v  Land Lord              = Tuan Tanah
v  Drug Lord              = Tuan atau Bos Obat terlarang
v  Gambling Lord      = Tuan atau Bos Judi
v  Lord of the Universe         = Tuan Alam Semesta atau Tuhan Alam Semesta.
Namun Lembaga Alkitab Indonesia bukannya menerjemahkan "Kyrios" dan "Lord" sebagai "Tuan" tetapi "Tuhan". Memang untuk ini, LAI tidak perlu bekerja membanting tulang. Cukup dengan membubuhkan huruf "h" di tengah-­tengah kata "Tuan" maka sim salabim, seorang makhluk dalam sekejap berubah menjadi Khalik (Sang Pencipta). Dengan cara ini Lembaga Alkitab Indonesia dengan sengaja telah merubah Yesus "Tuan” atau Pemimpin umat Israel menjadi "Tuhan” yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan, persis seperti pengutipan Logos penyembah berhala Platonis. Terjemahan yang dipaksakan ini akhirnya menjadi janggal di telinga mereka yang mendengarnya. Apalagi ketika kata "Tuhan" diterapkan kembali ke pasangan kata seperti diatas, maka artinya menjadi lain. Land Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Tanah. Gambling Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Judi. Kalau Lord of the Universe dapat saja berarti Tuan atau Tuhan, karena Tuan semesta alam adalah Tuhan. Disinilah letak ketidakjujuran Lembaga Alkitab Indonesia dalam menerjemahkan Alkitab dengan benar.
Sebagaimana diketahui, kata Tuan digunakan untuk manusia, terkecuali Tuan semesta alam adalah Tuhan. Tetapi kata "Tuhan" sudah jelas tidak digunakan untuk manusia, terkecuali bagi para penyembah berhala.
Coba perhatikanlah kejanggalan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia atas kata "Kyrios" dan "Lord" yang diterjemahkan sebagai Tuhan, sebagai berikut :

"Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..." (Yohanes 4:11)

"Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi." (Yohanes 4:19)

"Siapakah Engkau, Tuhan?" (Kisah Para Rasul 9:5)

Coba bayangkan, untuk apa timba bagi Tuhan? Yang perlu timba hanyalah manusia! Selanjutnya, dari mana perempuan Samaria tahu bahwa yang perlu timba dihadapannya adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta? Sungguh aneh, untuk "memberi makan 5.000 orang" Tuhan mampu, sementara untuk memperoleh seteguk air saja, Tuhan harus menunggu diberi timba.
Perhatikanlah ayat berikut ini (Yohanes 4:11) dalam teks bahasa Inggris di berbagai versi Alkitab :
1.     "Sir," the woman said, 'you haven't qot a bucket..." (Good News Bible, 1976)
2.     "The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with..." (Holy Bible Authorized King James Version)
3.     "Sir" she challenger him, "You do not have bucket..." (The New Testament of the New American Bible, 1970)
4.     "She said to him: "Sir, you have not even a bucket..." (The Kingdom Interlinear Translation of The Greek Scroptures, 1985)
5.     "The woman said to Him, "Sir, you have nothing to draw with,..." (New Tastament, Psalms, Proverbs, 1982)
6.     "The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with..." (The First Scofield Reference Bible, 1986)
Dari ayat-ayat yang dikutip dari berbagai versi Alkitab bahasa Inggris diatas, nyata dan jelas bahwa penggunaan kata Sir adalah identik dengan kata Lord yang artinya Tuan, bukan Tuhan (God)! Perlu disadari bahwa tidak ada satu pun kamus bahasa Inggris di muka bumi ini yang menerjemahkan kata "Sir" sabagai "Tuhan"!
Dalam Yohanes 4:19, perempuan Samaria tersebut menyebut Tuhan sebagai orang yang artinya menyamakan Tuhan Pencipta (Khalik) dengan yang dicipta (makhluk). Padahal dalam berbagai versi Alkitab berbahasa Inggris, Yesus dalam ayat ini disapa dengan Sir atau Tuan, bukannya Tuhan!
Yang lebih aneh lagi adalah pertanyaan Paulus dalam Kisah Para Rasul 9:5. "Siapa Engkau, Tuhan?" Kalau Paulus benar-benar bertanya demikian, kita tentu wajar mempertanyakan, apakah Paulus sudah pikun atau tidak waras?". Lucu amat Paulus sebagai pendiri agama Kristen tidak tahu dan masih bertanya siapa Tuhannya. Ini sungguh keterlaluan!
Tetapi kalau kata "Kyrios" atau "Lord" diterjemahkan dengan kata "Tuan", kan enak dan pas dibaca.

"Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..." (Yohanes 4:11)

"Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi." (Yohanes 4:19)

"Siapakah Engkau, Tuan?" (Kisah Para Rasul 9:5)

Camkanlah istilah tepat yang digunakan Yesus untuk dirinya sendiri.

"Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias (Yesus)." (Matius 23:10)

Kalau memang Yesus adalah Tuhan tentu beliau akan berkata : "Janganlah pula kamu disebut Tuhan, karena hanya satu Tuhanmu yaitu diriku (Yesus)."
Oleh karena itu sangat menyedihkan betapa banyak orang tersesat hanya gara-gara kebohongan dan kesengajaan yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia dalam menyelewengkan terjemahan Alkitab. Padahal maksud ayat pada Kisah Para Rasul 2:36 tersebut adalah : "Allah menjadikan Yesus sebagai tuan atau pemimpin dan rasul untuk Bani Israil”.

Aku (Yesus) Adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup
Gereja mengatakan bahwa Yesus sendiri yang telah mengaku sebagai Tuhan, karena ia telah berkata :

"Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup." (Wahyu 1:17)

"Maka Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian. Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 22:13)

Rangkaian perkataan itu sebenarnya bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan Firman Allah. Bukti ini dapat dilihat sebagai berikut :

Aku adalah Alfa dan Omega, Firman Tuhan Allah, Yang Ada dan Yang Sudah Ada dan Yang Akan Datang, Yang Maha Kuasa.” (Wahyu 1:8)

Kemudian dalam Wahyu juga dikatakan :

"Maka FirmanNya lagi kepadaku : Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alpha dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 21:6)

Jelas di ayat-ayat tersebut diatas ada menyebutkan kata “Firman Tuhan Allah.” (Wahyu 1:8), dan “Firman-Nya lagi kepadaku.” (Wahyu 21:6). Ucapan siapakah yang pantas diberikan dengan istilah “Firman” pada ayat tersebut, kalau bukan ucapan Tuhan? Untuk ucapan manusia jelas tidak cocok dengan istilah “Firman”, lebih pantas dengan istilah “berkata”, sedangkan ucapan para nabi dan rasul biasanya diistilahkan dengan kata “bersabda.”
Pada dasarnya, kita tidak mungkin mengatakan Yesus itu sebagai sosok “Yang Awal” (Permulaan), sebab kenyataannya Yesus pada mulanya itu belum ada, dan ia baru ada setelah dilahirkan oleh Maria, ibunya. Jadi, ibunya lebih dulu ada daripada Yesus. Nah, sesudah itu Yesus mati, dan orang yang sudah mati, tidak bisa dikatakan : sebagai “Yang Akhir” (Terkemudian), sebab saat Yesus mati, orang-orang yang berada disekitarnya ternyata banyak yang belum mati. Mustahil Yesus dikatakan “Yang Terakhir”, sebab sosok yang dikatakan paling terakhir itu harusnya akan tetap hidup di saat semua makhluk di alam semesta ini telah mati seluruhnya. Dan tentu saja yang pantas dengan atribut “Yang Awal dan Yang Akhir” hanyalah Allah Pencipta Alam Semesta.
Sebenarnya sangat aneh bagi umat Kristen, menganggap Yesus itu sebagai Tuhan “Yang Awal dan Yang Akhir.” Mereka malah tidak pernah meneliti, bahwa sebenarnya ada sosok yang lebih pantas dengan julukan “Yang Awal dan Yang Akhir” dibanding dengan Yesus. Namun anehnya, sosok tersebut malah tidak pernah diakui sedikitpun sebagai “Tuhan” oleh umat Kristen. Sosok tersebut dapat kita lihat pada Alkitab yang menyebutkan :

"Malkisedik adalah raja Salem dan imam Allah Yang Maha Tinggi… Menurut arti namanya, Malkisedek adalah ..raja kebenaran, dan juga raja salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya." (Ibrani 7:1-3)

Susunan ayat tersebut menunjukkan, bukan hanya Yesus saja yang bisa dianggap sebagai permulaan tetapi juga Malkisedik. Tapi nampaknya cerita tentang Malkisedik itu sebenarnya hanyalah dongengan yang dibuat-buat atau cerita-cerita khayalan belaka. Sebab tokoh bernama Malkisedek ini tidak pernah ada dalam catatan sejarah umat manusia. Dalam sejarah, kita hanya mengenal sosok Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang tidak beribu, tidak berbapak, tidak bersilsilah, dan yang paling terdahulu diciptakan oleh Allah. Seandainya umat Kristen mau bersikap adil, maka Adam dan Hawa-lah yang seharusnya mendapatkan gelar “Yang Awal atau Yang Terdahulu,” bukan begitu? 

Yesus Adalah Roh Allah, yang Menjadi Allah Itu Sendiri
Gereja juga menuhankan Yesus bersandarkan pada keajaiban kelahiran Yesus melalui bantuan Roh Kudus sebagai berikut :

“Pada waktu Maria, ibunya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri.” (Matius 1:18)

Umat Kristen berkeyakinan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah atau Allah sendiri, karenanya, bisa dipahami bahwa Yesus merupakan pengejawantahan dari Roh Kudus atau Allah. Namun demikian, Alkitab mencatat tentang peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) yang tidak kalah ajaibnya dibandingkan dengan peristiwa kelahiran Yesus dari perawan Maria. Konon, Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul yang sudah tua bangka, namanya Elisabet, istri Nabi Zakharia. Peristiwa kehamilan Elisabet ini, dijelaskan dalam Alkitab, tidak terlepas dari bantuan penuh Roh Kudus. Konon, Yohanes Pembaptis diperkuat oleh Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. Berikut petikan ayat-ayatnya :

Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet ... Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya ... Tetapi malaikat (Gabriel) itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes ... Sebab ia (Yohanes) akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya ... Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:5,7,13,15,41)

Jika kita mau konsisten, maka kisah kelahiran Yohanes Pembaptis di atas tidak kalah ajaibnya dengan kisah kelahiran Yesus menurut Alkitab. Keduanya, memiliki kualifikasi yang sama, yakni sama-sama berkat campur tangan langsung Roh Kudus. Bedanya, jika Yesus lahir dari seorang perawan muda, maka Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul yang sudah tua bangka. Keduanya tidak mungkin lahir tanpa bantuan langsung Roh Kudus.
Jika Yesus dianggap Tuhan karena kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus, maka, mengapa umat Kristen tidak menuhankan Yohanes Pembaptis, yang juga kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus?
Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa Roh Allah (Perjanjian Lama) tidak sama dengan Roh Kudus (Perjanjian Baru), karena umat Israel hanya memiliki satu Tuhan yaitu Allah (Elohim atau Jahweh). Simak ayat berikut :

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kejadian 1:2)

Roh Allah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (Perjanjian Lama) bermakna Allah sendiri dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru. Demikian juga dengan roh Allah sebagaimana tersebut dalam pesan Yesaya berikut ini :

Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” (Yesaya 42:1)

Roh Allah dalam pesan Yesaya di atas bermakna roh ciptaan Allah. Allah telah menentukan "orang pilihan"-Nya dengan memberikan roh kepadanya sejak masih dalam kandungan. Makhluk hidup seperti malaikat, jin, manusia, dan binatang semuanya memiliki roh yang diciptakan oleh Allah. Namun demikian, hanya tertentu saja dari mereka yang menjadi "orang pilihan"-Nya.
Berkenaan dengan pesan Yesaya di atas, Perjanjian Baru secara khusus menyebut istilah roh Allah berikut ini :

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari langit yang mengatakan: "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan." (Matius 3:16-17)

Ayat Matius tersebut sebenarnya merupakan distorsi terhadap pesan Yesaya di atas. Ada dua frase penting yang dikutip oleh pengarang Injil Matius, yaitu "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" dan "Roh seperti merpati turun ke atas-Nya", yang sebenarnya merupakan teks dari Yesaya, "Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya" dan "Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung merpati ke pintu kandangnya".
Penulis Injil Matius memang sengaja mencontek beberapa frase pada Yesaya 42 tersebut, untuk menggenapi nubuat Perjanjian Lama dengan menyuguhkan seolah-olah peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes sang Pembaptis merupakan pemenuhan nubuat dari Yesaya pada Perjanjian Lama tersebut. Padahal, teks Yesaya yang mereka kutip  sesungguhnya tidak berkaitan sama sekali dengan Yesus, tetapi teks Yesaya itu justru mengindikasikan akan datangnya seorang nabi lain bernama Nabi Muhammad SAW, dan bukan Yesus. Hal ini dapat kita baca pada ayat-ayat selanjutnya dari teks Yesaya tersebut.
Bagaimanapun juga, roh Allah dalam kasus Matius ini tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Roh Kudus. Lebih jauh, tidak ada konfirmasi sama sekali dalam seluruh Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah.
Bahkan, dalam Perjanjian Baru sendiri, dengan mengkontraskan Matius 1:18 dan Lukas 1:26-27 dapat diidentifikasi bahwa Roh Kudus sebenarnya adalah malaikat Gabriel (Jibril). Coba simak ayat Matius berikut ini :

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” (Matius 1:18)

Dan bandingkan dengan ayat Lukas berikut :

“Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.” (Lukas 1:26-27) 

Ringkasnya, identifikasi yang paling mungkin atau bahkan paling tepat tentang pribadi Roh Kudus adalah malaikat Jibril (lidah orang bule nyebutnya “malaikat Gabriel”). Jibril adalah malaikat yang mempunyai tugas sebagai penyampai wahyu/ilham/pesan dari Allah kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan Allah di muka bumi, seperti Firman Allah berikut ini :

“Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki ‘Arsy, yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Mu’min:15)

Malaikat Jibril sering berubah-ubah bentuk fisik. Ia terkadang bisa menjelma menjadi manusia, binatang, benda mati, raksasa, hingga kembali ke bentuk aslinya sebagai Roh Kudus (Roh Suci yang ghaib). Dalam hal ini perlu dijelaskan ketika malaikat Jibril menghampiri Maria dalam wujud manusia dengan menjanjikan Roh Kudus :

Kata Maria kepada malaikat itu : "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya : "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.” (Lukas 1:34-35)

Dijelaskan dalam ayat di atas, bahwa ketika menghampiri Maria untuk mengabarkan kehamilannya, malaikat Jibril berubah wujud seperti manusia, dan ketika memperkuat janin Yesus dalam kandungan rahim Maria, malaikat Jibril kembali ke wujud aslinya sebagai Roh Kudus. Demikian pula ketika memperkuat janin Yohanes Pembaptis dalam kandungan rahim Elisabet, malaikat Jibril berwujud sebagai Roh Kudus. Konon, janin Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan ketika mendengan salam Maria :

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus.” (Lukas 1:41)

Roh Kudus juga konon memberi wahyu atau ilham kepada Nabi Zakharia untuk bernubuat :

Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: ...” (Lukas 1:67)

Selain itu Roh Kudus juga muncul dalam diri Stepanus (Kisah Para Rasul 6:5), dan dikaruniakan kepada semua orang yang mentaati perintah Allah. (Kisah Para Rasul 5:32)
Jadi, Roh Kudus itu memiliki tiga macam pengertian, yakni :
1.     Roh suci yang dimiliki oleh semua manusia sebelum jasadnya dihidupkan,
2.     Roh suci para nabi dan rasul Allah, serta roh suci orang-orang yang selalu taat kepada Allah, dimana roh mereka itu tidak terkontaminasi oleh pengaruh buruk lingkungan jahat,
3.     Malaikat Jibril
Bagaimana cara membedakan ketiga pengertian Roh Kudus tersebut dalam Alkitab? Mudah saja, anda hanya perlu membaca teksnya dan mengerti konteksnya. Namun, terlepas dari persoalan siapa sebenarnya Roh Kudus itu, yang pasti Alkitab tidak pernah meninggikan derajat Roh Kudus hingga setara dengan Allah.

Yesus Bisa Mengampuni Dosa Seseorang
Gereja menuhankan Yesus berdasarkan sebuah pernyataan Yesus yang menyatakan dirinya berkuasa mengampuni dosa para pengikutnya, sebagai berikut :

Yesus berkata kepada seorang yang lumpuh : "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." (Matius 2:5)

“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah ia : ‘Hai saudara, dosamu sudah diampuni’.“ (Lukas 5:20)

Kalau membaca ayat tersebut secara tekstual (apa adanya), maka tentu kita semua akan merasa kaget dan bertanya-tanya dalam hati : "Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah sendiri?" Padahal kita tahu bahwa di dalam Injil Yohanes, Yesus menolak dikatakan kalau ucapan dan pengajarannya hanya berdasarkan inisiatif pribadinya semata, Ia berkata :

"Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakan dan aku sampaikan." (Yohanes 12:49)

Lihat juga pada Yohanes 8:40-42 yang dengan sangat tegas menyatakan bahwa Yesus hanyalah seorang rasul atau utusan Tuhan untuk umat Israel.
Adapun ayat-ayat dalam Alkitab yang seolah-olah memperlihatkan Yesus berkuasa mengampuni dosa orang lain itu muncul akibat ketidakpahaman para pengikut Paulus mengenai maksud dan pengertian “dosa” yang sesungguhnya. Tanpa meneliti lebih jauh, mereka langsung saja memproklamirkan bahwa Yesus telah mendapat limpahan kuasa penuh dari Allah untuk mengampuni dosa manusia, dan “katanya”, Yesus dengan ini mengumumkan ke seluruh pelosok dunia bahwa dirinya adalah juru selamat.
Para pendukungnya Paulus, gereja, dan bahkan orang-orang Yahudi sendiri pun banyak yang tidak memahami ucapan Yesus yang berkaitan dengan pengertian “dosa”. Hampir seantero dunia saat itu, baik orang-orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lainnya, menghubungkan penyakit yang menimpa seseorang dengan dosa yang mereka lakukan. Silahkan perhatikan penjelasan penulis Injil Yohanes tentang hal tersebut :

“Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya : “Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14)

Uskup John Shelby Spong dari New Jersey, Amerika Serikat mengkritik para pemimpin gereja yang masih mempertahankan mati-matian kekeliruan ini.

Sekian banyak penafsiran Alkitab yang saat ini harus disingkirkan karena ternyata salah. Penyakit, misalnya bukan disebabkan oleh hukuman karena berdosa. (John Shelby Spong, “Why Christianity Must Change or Die”, hal 6-7)

Dengan demikian menjadi sangat jelas bahwa dari konteks pengertian dosa, telah terjadi kekeliruan baik di kalangan Yahudi maupun Kristen. Kekeliruan umat Yahudi adalah menganggap penyakit merupakan hukuman Tuhan atas dosa yang diperbuat manusia. Sehingga kalau seseorang disembuhkan, berarti dosanya sudah diampuni oleh Allah.

“Kuasa Tuhan (Allah) menyertai Dia (Yesus), sehingga dia dapat menyembuhkan orang sakit.” (Lukas 5:17)

Dari ayat-ayat di atas, jelas terlihat ada dua pihak yang memainkan peran. Pihak pertama adalah Yesus yang menyembuhkan penyakit, dan pihak kedua adalah Allah yang mengampuni dosa seseorang dengan kesembuhan.
Sementara kekeliruan umat Kristen, lebih parah lagi, yakni selain memandang penyakit sebagai hukuman atas dosa juga menganggap bahwa Yesus yang menyembuhkan penyakit seseorang, sekaligus sebagai penguasa yang mengganti kedudukan Allah sebagai pemberi ampun atas dosa seseorang.
Padahal dalam ayat Injil tersebut diatas, Yesus menggunakan kata kerja pasif. “Dosamu sudah diampuni (oleh Allah)”, dan bukan : “Dosamu sudah ‘ku’ ampuni atau “Aku (Yesus) sudah mengampuni dosamu.”
Yesus sendiri mengajari umatnya agar langsung memohon ampun kepada Allah, dan bukan kepada dirinya.

“Karena itu berdoalah demikian : Bapa kami (Allah) di surga, dikuduskan namaMu… ampunilah kami atas kesalahan kami…” (Matius 6:9,12)

“Sejak waktu itu Yesus memberitakan : bertobatlah, sebab Kerajaan sorga sudah dekat!” (Matius 4:17)







































BAB II
SIFAT-SIFAT KEMANUSIAAN YESUS


Sebelumnya kita sudah membantah beberapa penafsiran gereja terhadap ayat-ayat Alkitab yang sering mereka pakai untuk menuduh Yesus sebagai Tuhan. Bantahan tersebut sudah cukup untuk membuktikan bahwa Yesus memang bukan Tuhan, sebab ia tidak pernah berkata-kata dan meminta agar dirinya disembah-sembah sebagai Tuhan. Sebaliknya, Yesus malah menolak tuduhan orang-orang yang ingin menganggapnya sebagai Tuhan.
Namun kalau anda masih belum puas juga dengan bantahan-bantahan yang telah dijelaskan tersebut, maka ada baiknya anda melihat fakta-fakta yang terjadi dimasa kehidupan Yesus. Adapun fakta-fakta ini akan semakin memperkuat bukti bahwa Yesus itu sebenarnya adalah manusia biasa dan dan ia tidak pantas disebut Tuhan.

Yesus Merasakan Lapar dan Membutuhkan Makanan
Dalam Alkitab, Yesus lebih banyak digambarkan sebagai sosok manusia, dan bukan Tuhan. Salah satunya, Alkitab menggambarkan Yesus sebagai manusia yang merasakan lapar, dan membutuhkan makan dan minum.

“Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus." (Matius 4:2)

"Pada pagi-pagi hari dalam perjalanannya kembali ke kota, Yesus merasa lapar." (Matius 21:18)

"Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas muridnya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.” (Markus 11:12)

"Kemudian anak manusia (Yesus) datang, Ia makan dan minum, …Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum… (Matius 11:19 dan Lukas 7:34)

“Berkatalah Ia (Yesus) kepada mereka (murid-muridnya) : ’Adakah padamu makanan disini’? Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.” (Lukas 24:41-43)

“Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.” (Matius 26:20)

Sebenarnya semua orang sudah tahu dan paham kalau Yesus itu sama seperti manusia biasa lainnya, ia merasa lapar dan membutuhkan makanan. Dalam Al-Qur’an, persoalan “makanan” ini sendiri sangat ditekankan sebagai salah satu cara untuk menolak semua anggapan dan klaim orang-orang yang menuduh Yesus sebagai Tuhan, Allah berfirman :

Yesus Al-Masih putera Maria itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Q.S. Al-Ma’idah:75)

Hal yang sangat menarik perhatian, bahwa masalah “makanan” adalah masalah yang sangat penting yang dikemukakan Allah untuk meyakinkan kita semua, bahwa Yesus terbiasa memakan makanan. Allah sebenarnya ingin menyindir orang-orang yang berani coba-coba mengatakan Yesus itu sebagai Tuhan. Artinya, kita sebagai manusia yang punya otak disuruh mikir, apakah pantas Tuhan itu memakan makanan?
Seandainya Yesus itu dikatakan sebagai Tuhan, bukankah ia juga memakan makanan sama seperti halnya anda sebagai manusia yang makan tiap hari. Nah, setelah anda memakan makanan, lalu apa yang akan terjadi kemudian? Sudah tentu anda akan merasa kenyang dan tidak lapar lagi, bukan? Nah, kalau anda sudah kekenyangan makan, sampai perut anda “mules”, kemana anda akan pergi? Ya, tentu saja anda akan pergi “nyetor” ke toilet atau ke WC? Terus kalau tidak anda tidak punya WC, ya, anda bisa saja lari ke sungai, pergi ke semak belukar, cari bebatuan, atau menggali tanah.
Dengan cara berpikir seperti itulah, Tuhan ingin menunjukkan kepada kita semua, bahwa Yesus itu tidak pantas disebut sebagai Tuhan, sebab ia biasa memakan makanan seperti halnya manusia lainnya. Kalau kita mengatakan Yesus sebagai Tuhan, itu artinya sama saja dengan menuduh Tuhan pergi ke toilet? Bukankah itu merupakan sebuah penghinaan terhadap Tuhan?
Oleh karena itu, kita tidak bisa memuliakan Yesus dengan cara mengangkatnya sebagai Tuhan, karena nantinya banyak orang yang akan melecehkan Yesus hanya gara-gara persoalan “makanan” dan “toilet “ tersebut diatas. Apakah umat Kristen rela “diperolok-olok” kalau Tuhannya ternyata pergi ke toilet? Pasti tidak, khan? Oleh karena itu janganlah anda sembarangan mengangkat Yesus sebagai Tuhan, melainkan muliakanlah dia dengan cara yang baik dan proporsional seperti yang diajarkan oleh Al-Qur’an, sebagai berikut :

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata : ‘Hai Maria, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih Yesus putera Maria, seorang terkemuka di dunia dan di akherat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Q.S. Ali Imran:45)

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (Yesus berkata kepada mereka), "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu'jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." (QS. Ali Imran:49)

Adapun hal-hal yang baik dan proporsional yang harus kita katakan tentang sosok Yesus berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut adalah :
1.     Yesus hanyalah salah satu dari sekian banyak nabi dan rasul yang telah diutus oleh Allah ke muka bumi,
2.     Yesus adalah salah seorang rasul yang kelahirannya penuh dengan mukjizat. Ia lahir hanya melalui sel telur dari ibunya tanpa melalui bantuan sperma laki-laki (tanpa Ayah). Meskipun demikian, proses kelahiran Yesus tidaklah lebih ajaib dari proses penciptaan Adam dan Hawa yang tanpa ayah dan ibu,
3.     Yesus adalah rasul yang memiliki sebutan gelar Al-Masih atau Kristus,
4.     Yesus adalah salah satu rasul yang dianugerahi kelebihan dan keistimewaan (mukjizat) oleh Allah, dapat menghidupkan (memulihkan) orang mati (orang yang hampir mati atau orang yang mati suri), menyembuhkan orang buta, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta, dan menebak rahasia-rahasia yang disembunyikan oleh orang lain,
5.     Yesus adalah salah satu rasul yang mengajarkan tauhid (Keesaan Tuhan), menerima Injil (kabar gembira), dan membenarkan ajaran Taurat.
6.     Yesus adalah salah satu rasul kesayangan Allah yang memiliki kepribadian yang baik, bijaksana, taat kepada Allah, dan merupakan panutan bagi umatnya.

Yesus Hanya Mengaku Sebagai Utusan Tuhan
Dalam Alkitab tidak ada satu ayat pun yang dapat membuktikan kalau Yesus secara langsung pernah berkata : “Akulah Yesus Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” Bahkan penulis akan memberikan hadiah percuma sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) bagi siapa saja yang bisa menemukan dalam Alkitab, Yesus pernah berkata : “Akulah Yesus Tuhanmu, maka sembahlah diriku.” Penulis yakin, semua orang tidak akan pernah dapat menemukan pengakuan Yesus yang seperti itu.
Mari kita lihat bagaimana para penulis Alkitab, terutama pada Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, menceritakan tentang pengakuan Yesus yang sebenarnya tentang sosok dirinya dan Tuhannya. Dalam Injil-Injil tersebut, Yesus berkata :

“Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itu aku diutus.” (Lukas 4:43)

“Barangsiapa menolak aku, ia menolak Dia yang mengutus aku.” (Lukas 10:16)

“Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34)

“Sesungguhnya anak (Yesus) tidak dapat mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri, jikalau ia tidak melihat Bapa mengerjakannya. Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan oleh anak.” (Yohanes 5:19)

“Barangsiapa yang tidak menghormati anak (Yesus), ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus dia (Yesus).” (Yohanes 5:23)

“Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanku dan percaya kepada Dia yang mengutus aku…” (Yohanes 5:30)

“…Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaku, supaya aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang aku, bahwa Bapa yang mengutus aku, Dialah yang bersaksi tentang aku…” (Yohanes 5:36-37)

“Dia yang mengutus aku adalah benar, dan apa yang kudengar dari pada-Nya, itu yang kukatakan kepada dunia.” (Yohanes 8:26)

“…Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku sendiri, tetapi aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaku. Dan Dia yang telah mengutus aku, Dia menyertai aku, Dia tidak membiarkan aku sendiri, sebab aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (Yohanes 8:28-29)

“…Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang kudengar dari Allah.” (Yohanes 8:40)

“Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus aku.” (Yohanes 8:42)

“Jikalau aku memuliakan diriku sendiri, maka kemuliaanku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapakulah yang memuliakan aku, tentang siapa kamu berkata : Dia adalah Allah kami…” (Yohanes 8:54)

“Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri disini mengelilingi aku, aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku.” (Yohanes 11:42)

“Barangsiapa percaya kepadaku, ia bukan percaya kepadaku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus aku. Dan barangsiapa melihat aku, ia melihat dia, yang telah mengutus aku.” (Yohanes 12:44-45)

“…Aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa yang harus aku katakana dan aku sampaikan. Dan aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang aku katakan, aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaku.” (Yohanes 12:49-50)
“…Firman yang kamu dengar itu bukanlah daripadaku, melainkan dari Bapa yang mengutus aku.” (Yohanes 14:24)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)

“…Segala firman yang Engkau sampaikan kepadaku telah kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya…. Dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku.” (Yohanes 17:8)

“…Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus aku.” (Yohanes 20:21)

Dan lain sebagainya.

Jadi, sudah terbukti bukan, bahwa Yesus itu hanyalah salah seorang rasul diantara sekian ribu nabi dan rasul yang pernah diutus Allah ke muka bumi. Sebagai utusan Allah, tentu saja Yesus tidak bisa “seenaknya” sendiri bekerja. Semua pekerjaan yang ia lakukan seluruhnya harus berdasarkan perintah dan pengesahan langsung dari Allah. Sama halnya dengan mukjizat, seperti menghidupkan orang mati atau menyembuhkan orang buta, yang ia tunjukkan kepada umatnya, itupun hanya bisa terjadi atas kehendak dan izin Allah semata. Siapapun manusia di muka bumi ini, termasuk Yesus, sepintar apapun dirinya, ia tidak akan sanggup berbuat apa-apa, dan tidak akan berarti apa-apa, tanpa bantuan, bimbingan, dan petunjuk dari Allah.

Yesus Menyuruh Umatnya Hanya Menyembah Kepada Allah Saja
Seperti halnya para nabi dan rasul-rasul sebelumnya yang mengajarkan tauhid (Keesaan Tuhan), Yesus sendiri juga mengajarkannya. Namun karena ulah gereja, ajaran tauhid yang diajarkan oleh Yesus untuk hanya menyembah kepada Tuhan Allah saja, akhirnya menjadi berubah dengan ditambahi Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus. Artinya, ajaran Keesaan Tuhan berubah menjadi ajaran Trinitas (Bapa, Putera, dan Roh Kudus).
Tauhid atau Keesaan Allah itu artinya menyakini bahwa Allah itu Esa tanpa ada sekutunya. Ada tiga aspek tauhid :
1.     Keesaan Ketuhanan Allah (Tauhid Rububiyah). Seorang muslim percaya bahwa Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta ini hanya satu. Dia adalah Pencipta dan Pemelihara alam semesta tanpa sekutu atau patner. Ini adalah inti ajaran Nabi Muhammad SAW dan Yesus.
2.     Keesaan menyembah Allah (Tauhid Uluhiyyah). Seorang muslim percaya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, tidak ada yang lain. Ini diajarkan pula oleh Yesus sebagaimana yang di terangkan diatas.
3.     Keesaan nama dan sifat Allah (Tauhid-al Asma was Sifat). Seorang muslim harus menyebut nama Allah dengan nama-nama yang sudah disebut dalam Al-Qur'an (Asma-ul-Husna). Sifat-sifat Allah inilah yang oleh para penyembah berhala dianggap sebagai oknum-oknum lain yang ikut disembah sebagai Tuhan.
Ketiga aspek tauhid diatas selalu diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah secara terus-menerus, sejak zaman Nabi Adam As. hingga zaman Nabi Muhammad SAW., termasuk pada diajarkan pula oleh Yesus.
Alkitab secara jelas menyebutkan bahwa Yesus hanya meneruskan ajaran tauhid para nabi dan rasul pendahulunya. Yesus tidak pernah merubah-rubah konsep ketuhanan yang ia terima dari Allah. Konsep itu adalah kalimat tauhid yang berbunyi : “Tiada Tuhan Selain Alah atau Tuhan itu Esa”. Beberapa bentuk konsep tauhid ini dapat kita lihat dari perkataan Yesus sebagai berikut :

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Matius 4:10 dan Lukas 4:8)

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)

“…Jikalau engkau ingin masuk kedalam hidup (yang kekal), turutilah segala perintah Allah.” (Matius 19:17)

“Dan janganlah kamu menyebut siapapun Bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.” (Matius 23:9)

“…Percayalah kepada Allah (semata).” (Markus 11:22)

“Hukum yang terutama ialah : ‘Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Markus 12:29)

“…Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (Matius 22:37-38 dan Lukas 10:27)

“…Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi…” (Lukas 10:21)

“Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah Yang Esa?” (Yohanes 5:44)

“…Aku mengenal Dia, dan aku menuruti Firman-Nya.” (Yohanes 8:55)

“Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)

Dan lain sebagainya.

Apa yang dikatakan Yesus tersebut diatas hanyalah sekedar meneruskan perkataan para nabi dan rasul pendahulunya, seperti yang dapat kita baca dalam Alkitab Perjanjian Lama tentang tauhid Nabi Musa as. sebagai berikut :

“Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Ulangan 4:35)

“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Ulangan 6:4)

“Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku.” (Ulangan 32:39)

Tauhid Nabi Daud as. :

Ya Tuhan Allah, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau.” (II Samuel 7:22)

Tauhid Nabi Sulaiman as. :

"Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau.” (I Raja-Raja 8:22-23)

Tauhid Nabi Yesaya as. :

“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” (Yesaya 45:5-6)

“Akulah Allah dan tidak ada yang lain seperti Aku.” (Yesaya 46:9)

Tauhid Nabi Hosea as. :

“Aku adalah Tuhan, Allah-mu, engkau tidak mengenal allah (lain) kecuali Aku. Dan tidak ada juru selamat (lain) selain Aku.” (Hosea 13:4)

Selanjutnya, ketika Nabi Muhammad SAW diutus Allah ke dunia, ajaran beliau juga sama persis dengan ajaran Yesus, yakni mengajarkan pengikutnya untuk mengucapkan tauhid dengan kalimat :
Asyhadu an laa ilaa ha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul utusan Allah)

Jadi, kalimat tauhid itu sangat sederhana sekali dan mudah diucapkan, bukan? Tapi, memang sangat berat jika diucapkan oleh lidah-lidah umat Kristen, yang sudah terbiasa dengan ucapan “Atas nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.” Padahal, kalau memang ucapan umat Kristen mengenai Trinitas itu benar dan sangat penting untuk diajarkan, maka seharusnya Yesus sudah mengajarkannya dari dulu sejak ia masih hidup siang-malam bersama murid-muridnya. Namun nyatanya, Yesus tidak pernah mengajarkannya. Ia hanya mengulang perintah Tuhan yang sama tentang tauhid, yang pernah diberikan kepada Musa (Ulangan 4:35), Daud (II Samuel 7:22), Sulaiman (I Raja-Raja 8:23), Yesaya (Yesaya 43:10-11), dan para nabi dan rasul pendahulu lainnya.
Islam sebenarnya sudah menolak mentah-mentah konsep Trinitas yang diajarkan gereja tersebut. Penolakan ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an, dimana Allah berfirman :

"Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam itu, ada(ah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimatNya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) (ebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara". (Q.S. An-Nisa:171)

Untuk itulah, wahai saudara-saudariku umat Kristen, janganlah anda merasa berat mengucapkan kalimat : “Tiada Tuhan selain Allah.” Sebab kalimat inilah yang nantinya akan menyelamatkan manusia kelak di akherat nanti. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :

“Sesungguhnya dipintu sorga tertulis : ‘Sesungguhnya Akulah Allah, Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Aku. Aku tidak akan menyiksa orang-orang yang mengucapkannya’.” (H.R. Ibnu Abbas r.a.)

“Barang siapa yang mengucapkan kalimat ‘Tiada Tuhan selain Allah’ dengan ikhlas, dia akan masuk sorga.” (H.R. Zaid bin Arqam r.a.)

“Barangsiapa mengucapkan kalimat ‘tiada Tuhan selain Allah’ dan membenarkannya dengan hati, kemudian ia mati dengan (membawa) ucapan itu, maka neraka jahannam diharamkan atasnya.” (H.R. ‘Amr r.a.)


Yesus Menolak Disebut Orang Baik
Dalam hal menilai kebaikan, Yesus menolak disebut orang yang baik dan benar, sebaliknya ia mengatakan hanya Allah saja-lah yang Maha Baik dan Maha Benar. Yesus berkata :

“Mengapa kau katakan aku baik? Tak seorangpun yang baik selain daripada Allah saja. (Markus 10:18 dan Lukas 18:19)

Dalam pernyataannya tersebut, kita bisa menilai bahwa Yesus sebenarnya bermaksud untuk bersikap rendah hati (tawaddhu’) dihadapan manusia. Ia tidak ingin menyombongkan dirinya. Dan memang, sikap Yesus tersebut amat sangat manusiawi sekali. Sama halnya jika anda dipuji orang lain, lalu anda merasa malu dan mencoba bersikap merendah dengan berkata : “Ah, pujian anda terlalu berlebihan” atau “Ah, saya bukanlah orang baik seperti yang anda kira”, dan sebagainya.
Sikap merendah adalah salah satu sifat yang hanya ada pada diri manusia. Tuhan mustahil akan merendahkan diri-Nya seperti manusia, karena Tuhan adalah Maha Tinggi dan berkuasa atas kesombongan secara mutlak. Itulah sebabnya, manusia dilarang bersikap sombong terhadap sesamanya, karena hanya Allah-lah yang berhak memiliki sifat tersebut. Yesus berkata : “...Bapa lebih besar daripada aku.” (Yohanes 14:28). Artinya, Allah Maha Besar diatas segalanya, dan semua makhluk hidup yang ada di alam semesta, termasuk Yesus, tidak berarti apa-apa dihadapan Allah Yang Maha Kuasa.
Meskipun Yesus adalah hamba kesayangan Allah, tapi ia tahu diri dan tidak berani menyombongkan dirinya dihadapan orang lain. Jika ada orang-orang yang masih “ngotot” menganggap Yesus sebagai Tuhan, maka sama artinya dengan mengatakan Tuhan itu munafik, iya khan? Kalau benar Yesus itu Tuhan, mengapa ia harus merendahkan dirinya dihadapan manusia? Bukankah ia seharusnya menyombongkan dirinya saja dan berkata : “Memang aku adalah yang orang paling baik di dunia ini.”, bukan begitu?

Yesus Tidak Mengetahui Hari Kiamat
Menurut pemahaman umat Kristen, sosok Bapa, Yesus, dan Roh Kudus adalah 3 (tiga) pribadi yang menyatu sebagai Tuhan. Itu artinya, ketiga pribadi (Bapa, Yesus, dan Roh Kudus) harusnya memiliki kesamaan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Sebagai contoh, jika Bapa mengetahui akan datangnya hari kiamat, maka seharusnya Yesus dan Roh Kudus juga tahu tentang hal tersebut, sebab mereka adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Namun nyatanya, Yesus sendiri malah sama sekali tidak tahu tentang akan terjadinya hari kiamat tersebut. Hal ini ditunjukkan dalam Alkitab, sebagai berikut :

“Tetapi tentang hari dan saat itu (kiamat terjadi), tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat disorga (pun) tidak, dan anakpun (Yesus) tidak (tahu), hanya Bapa sendiri (yang tahu).” (Matius 24:36 dan Markus 13:32)

Dalam Al-Qur’an juga diceritakan tentang pengakuan Yesus yang tidak mengetahui perkara-perkara ghaib atau hari kiamat sebagai bukti bahwa ia menolak dikatakan sebagai Tuhan. Allah berfirman :

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman : ‘Hai Yesus putera Maria, adakah kamu mengatakan kepada manusia : ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah? Yesus menjawab : ‘Maha Suci Engkau tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib’.” (Q.S. Al-Ma’idah:116)

Ketidaktahuan Yesus tentang hari kiamat itu adalah wajar, karena Yesus adalah manusia biasa juga seperti kita semua. Hanya Allah-lah yang mengetahui segala perkara-perkara ghaib diseluruh alam semesta ini. Selain mengetahui hari kiamat, Allah juga mengetahui tentang hari kematian, hari kelahiran, hari perjodohan, dan perolehan rezeki dari setiap manusia, yang kita sendiri tidak punya pengetahuan akan hal itu.

Yesus Digoda oleh Iblis (Hawa Nafsu)
Alkitab menceritakan bahwa konon, selama 40 hari 40 malam Yesus telah digoda, diganggu, atau dicoba oleh Iblis. Saat sedang berpuasa atau tirakat, Yesus dibawa kesana-kemari sambil digoda oleh Iblis. (Matius 4:1-11, Markus 1:12-13, dan Lukas 4:1-13)
Kalau umat Kristen mengatakan Yesus sebagai Tuhan, coba dipikir, apakah pantas Tuhan itu diganggu dan digoda oleh Iblis? Tentu saja Tuhan tidak pantas digoda oleh Iblis. Tapi, kalau kita mengatakan Yesus hanyalah manusia biasa saja, maka wajarlah kalau ia digoda oleh Iblis. Sebab kerjaannya “Si Iblis”, ya, cuma satu, yakni menggoda manusia dan menyesatkannya. Sasaran yang digoda Iblis juga hanya satu, yakni “hawa nafsu” atau keinginan-keinginan yang ada dalam diri manusia. Kebanyakan manusia banyak yang terjerumus ke dalam dosa, akibat mereka tidak mampu menahan hawa nafsunya terhadap godaan Iblis, yang antara lain berupa : harta, tahta, dan wanita, dan lain sebagainya. Untuk itulah, Allah memerintahkan kita agar melakukan puasa untuk menahan diri dari keinginan-keinginan atau hawa nafsu guna mencegah godaan Iblis yang selalu bertujuan menjerumuskan kita kepada perbuatan dosa.

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya." (Yakobus 1:14)

Yesus sangat mengerti dengan adanya salah satu kelemahan berupa “hawa nafsu” yang ada dalam diri setiap manusia, sehingga ia kemudian melakukan puasa untuk mengurangi sedikit kelemahannya tersebut. Paulus sebagai pendiri agama Kristen, Bapak moyangnya gereja, juga mengakui tentang adanya kelemahan Yesus tersebut. Paulus berkata : “Imam besar yang kita punya (Yesus-pent), bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya (ia) sama dengan kita, Ia telah dicobai (oleh Iblis), hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani 4:15)
Sangat jelas, bahwa Yesus adalah manusia biasa yang punya hawa nafsu atau keinginan-keinginan. Ia sama seperti kita semua, yakni sama-sama pernah menghadapi godaan dan rayuan Iblis. Seumur hidup kita akan terus digoda dan dirayu oleh Iblis, agar kita menjadi tersesat dan akhirnya mengikuti jalan mereka menuju ke neraka. Firman Allah :

“Dan Kami jadikan musuh bagi tiap-tiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan ke sebagian yang lain kata-kata indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Q.S. Al-An’aam:12)

“…Barangsiapa menjadikan setan itu temannya, maka setan adalah teman yang seburuk-buruknya.” (Q.S. An-Nisaa’:38)

Tuhan tidak mungkin digoda oleh Iblis, sebab Iblis adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang tunduk dengan segala kehendak dan ketentuan Tuhan. Memang, Iblis pernah membangkang kepada Tuhan, karena menolak menghormati ciptaan Tuhan yang bernama Adam (manusia). Namun Iblis tetap tidak bisa mengelak dari kehendak Tuhan, Ia telah ditetapkan sebagai makhluk terkutuk yang akan menghuni neraka selama-lamanya. Bisa saja Tuhan melenyapkan Iblis saat ia membangkang dulu. Tapi, Tuhan telah memberi keringanan kepada Iblis, dan diijinkan hidup sampai akhir masa dunia dan ia juga diberikan keleluasaan untuk menggoda manusia.
Karena itulah, tujuan Iblis untuk hidup dimuka bumi hanyalah satu, yakni menggoda dan merayu manusia agar mereka menjadi tersesat dan menjadi temannya “Si Iblis” selama-lamanya. Tidak ada makhluk lain yang digoda oleh Iblis, selain manusia. Sedangkan Allah tidak bisa diganggu-ganggu oleh Iblis. Coba simak perkataan Yakobus berikut :

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata : “Percobaaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Dia sendiri tidak mencobai siapapun.” (Yakobus 1:13)


Yesus Belajar dari Pengalaman
Dalam suratnya kepada Filemon (Ibrani 5:8), Paulus mengatakan bahwa Yesus menjadi sempurna (orang bijak) karena melalui proses pembelajaran yang sangat panjang dari pengalaman, kesalahan, dan penderitaan.
Sangat manusiawi sekali, apabila manusia belajar dari pengalaman. Seorang manusia akan bisa menjadi benar, jika ia pernah mengalami kesalahan. Manusia akan menjadi pandai, pintar, atau cerdas, jika ia telah belajar dan keluar dari kebodohannya. Manusia tidak akan jatuh terpeleset, jika ia telah memperhatikan posisi berjalannya. Semua orang yang bernama manusia itu belajar dari pengalaman, termasuk juga Yesus. Sama halnya kalau anda pikir, apakah ada bayi manusia yang baru lahir, tiba-tiba ia bisa langsung berjalan dan berlari-lari? Tentu ia harus belajar merangkak dulu khan? Bahkan ia pun akan “jatuh bangun” dan perlu dibimbing oleh orang lain dalam berjalan.
Tuhan tidak sama dengan manusia, sebab Tuhan tidak perlu belajar dari pengalaman. Justru sebaliknya, Tuhan-lah yang mengajari manusia agar mereka bisa mikir dengan otaknya, dan tidak menjadi orang “blo’on” seperti orang-orang yang suka menyebut-nyebut Yesus sebagai Tuhan.

Yesus Adalah Raja dan Pimpinan Kaum Yahudi
Dalam Alkitab, Yesus dikatakan sebagai “Singa dari suku Yehuda” (Wahyu 5:5), "Raja orang Yahudi" (Matius 2:2), "Raja orang Israel" (Yohanes 1:49 dan 12:13), Raja atas keturunan Yakub" (Lukas 1:33), dan julukan lainnya yang memposisikan Yesus sebagai pemimpin kaum Yahudi. Adapun sebutan tersebut sangat tepat dan benar, karena Yesus memang diutus Allah, hanya kepada bangsanya orang-orang Yahudi saja, dan bukan kepada bangsa-bangsa non Yahudi. Yesus berkata :

"Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." (Matius 15:24)

"Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel." (Matius 10:5-6)

"Tidak patut mengambil roti (ajaran) yang disediakan (diperuntukkan) bagi anak-anak (orang-orang Yahudi) dan melemparkannya kepada anjing (bangsa lain diluar Yahudi)." (Matius 15:26)

Seandainya ada diantara anda yang berwarga negara atau berkebangsaan Indonesia, Cina, Jepang, Arab, Rusia, Amerika, Inggris, Italia, Jerman, Yunani, Afrika, Australia, dan lain-lain diluar bangsa Yahudi (Israel), maka anda tidak berhak penerima pengajaran Yesus. Dalam hal ini, Yesus bersama Injilnya adalah paket yang khusus dikirimkan Allah untuk bangsa Yahudi. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersama Al-Qur’an adalah paket yang dikirimkan Allah untuk seluruh umat manusia. Jadi alangkah tidak etisnya kalau kita yang bukan orang Yahudi sampai lancang menerima paket kiriman Allah yang bukan ditujukan kepada kita, walaupun ada orang jahil yang menggoda kita untuk menerimanya. Mungkin si penggoda dapat saja menghapus nama penerima dan menggantinya dengan nama kita, namun kita toh masih punya pikiran dan perasaan serta hati nurani untuk menolak dan mengatakan bahwa paket tersebut sebenarnya bukan untuk kita.
Jadi alangkah tidak tahu dirinya kita sebagai orang-orang yang bukan dari golongan bangsa Yahudi berani lancang menerima Yesus sebagai juru selamat yang sama sekali tidak pernah dialamatkan kepada kita. Sangat aneh dan tidak dapat dimengerti, jika kita selaku orang-orang non Yahudi masih mengharapkan sesuatu dari Yesus.
Seandainya kita menganggap Yesus sebagai Tuhan, maka ia hanya akan menjadi Tuhan buat kaumnya saja, bangsa Yahudi. Itu artinya, Tuhan yang disembah-sembah oleh umat Kristen sekarang ini adalah Tuhannya orang Yahudi yang bersifat kesukuan dan melakukan diskriminasi kepada bangsa-bangsa non Yahudi. Apakah kualitas Tuhan memang seperti itu? Tuhan yang rasialis dan berbuat tidak adil? Apakah Tuhan seperti itu yang diinginkan oleh umat Kristen?

Beberapa Kualitas Kemanusiaan Yesus Lainnya
Selain ketujuh poin tersebut diatas, beberapa kualitas dan sifat-sifat manusia lainnya yang dapat kita temukan dalam diri Yesus, antara lain :
1.     Yesus diciptakan melalui garis keturunan. "Tentang anakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud." (Roma 1:3)
2.     Yesus mempunyai nenek moyang berdasarkan silsilah. "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham..." (Matius 1:1)
3.     Yesus mempunyai jenis kelamin. "Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus." (Lukas 2:21)
4.     Yesus dilahirkan melalui kandungan seorang ibu. "Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki." (Lukas 2:6-7) "Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan." (Wahyu kepada Yohanes 12:2)
5.     Yesus ketika bayi, menetek pada seorang perempuan. "Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepadanya: Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." (Lukas 11:27)
6.     Yesus dilahirkan disuatu daerah. "Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada jaman raja Herodes." (Matius 2:1)
7.     Yesus adalah anak tukang kayu. "Bukan Ia ini anak tukang kayu." (Matius 13:55 dan Markus 6:3)
8.     Yesus menaiki keledai sebagai alat transportasinya. "Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Matius 21:5) "Yesus menemukan seekor keledai muda lalu ia naik ke atasnya." (Yohanes 12:14)
9.     Yesus hidup sebagai orang miskin. "Yesus berkata kepadanya : "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya." (Matius 8:24)
10.  Yesus tidak berdaya, ketika pakaiannya dirobek-robek oleh prajurit Romawi. "Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaianNya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian dan jubahnya juga mereka ambil." (Yohanes 19:23)
11.  Yesus selalu berdoa ditempat sunyi. "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35)
12.  Yesus setia kepada Pemerintah Kaisar Romawi. "Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Matius 22:21 dan Matius 17:24-27)
13.  Yesus mempunyai bapak bernama Yusuf. "Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya : Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." (Yohanes 1:45)
14.  Yesus mempunyai Ibu dan saudara-saudara. "Setibanya di tempat asalnya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata : Dari mana diperolehnya hikmah itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibunya bernama Maria dan saudara-saudaranya perempuan semuanya ada bersama kita? ]adi dari mana diperolehnya semuanya itu?" (Matius 13:54-56)
15.  Yesus tumbuh, hidup, dan berkembang. "Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padanya." (Lukas 2:40)
16.  Yesus bertambah cerdas, berakal, dan mempunyai hikmat. "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52)
17.  Yesus dibawa jalan-jalan oleh orangtuanya. "Tiap-tiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berusia 12 tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu." (Lukas 2:41-42)
18.  Yesus tidak berdaya. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri." (Yohanes 5:30)
19.  Yesus mengakui dosa dan bertobat. "Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibabtis olehnya." (Matius 3:13) Ini menunjukkan pengakuan atas dosa (Matius 3:6), bertobat daripadanya (Matius 3:11)
20.  Yesus merasakan haus. "Aku haus!" (Yohanes 19:28)
21.  Yesus tertidur. "Tetapi Yesus tidur." (Matius 8:24) "Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur." (Lukas 8:23) "Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam." (Markus 4:38)
22.  Yesus merasakan letih. “Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu." (Yohanes 4:6)
23.  Yesus masygul hatinya dan terharu. "Maka masygullah hatinya. Ia sangat terharu." (Yohanes 1 1:35)
24.  Yesus menangis. "Maka menangislah Yesus." (Yohanes 11:35)
25.  Yesus merasakan sedih, takut, dan gentar. "Maka mulailah la merasa sedih dan gentar, lalu katanya kepada mereka : Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." (Matius 26:37-38 dan Markus 14:34)
26.  Yesus merasakan dirinya lemah, hingga perlu dibantu dengan kekuatan. "Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa." (Lukas 22:43-44)
27.  Yesus mengusir pedagang dengan kekerasan dan cambuk. "Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ." (Lukas 19:45) "Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam hati suci didapatinya pedagang-pedagang lembu, kambing, domba, dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar itu dihamburkannya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkannya." (Yohanes 2:13-15)
28.  Yesus bersembunyi dan melarikan diri. “Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuhnya." (Yohanes 7:1)
29.  Yesus tidak berani tampil dimuka umum, karena diancam akan dibunuh. "Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi." (Yohanes 11:53-54)
30.  Yesus lari dari hadapan mereka. "Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia lompat dari tangan mereka." (Yohanes 10:39)
31.  Yesus dilempari batu dan lari. "Lalu mereka mengambil batu melempari dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah." (Yohanes 8:59)
32.  Yesus dikhianati muridnya yang bernama Yudas. “Maka datanglah Yudas ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata." (Yohanes 18: 2-3)
33.  Yesus ditangkap dan dihina. "Dan orang-orang.yang menahan Yesus, mengolok-olok dia dan memukulinya. Mereka menutupi mukanya dan bertanya: "Cobalah katakan siapakah yang memukul engkau?" (Matius 26:67-68)
34.  Yesus ditampar oleh seorang penjaga. "Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar mukanya sambil berkata : Begitukah jawabmu kepada Imam besar? Jawab Yesus kepadanya. Jikalau kataku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau katanu itu benar, mengapakah engkau menampar aku?" (Yohanes 18:22-23)
35.  Yesus dijatuhi hukuman mati. "Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa dia harus dihukum mati." (Markus 14:64) "Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati! (Matius 26:66)
36.  Yesus seperti seekor domba yang dibawa ke pembantaian. "Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian, dan ia tidak membuka mulutnya. Dalam kehinaannya berlangsunglah hukumannya." (Kisah para rasul 8:32-33)
37.  Yesus meregang nyawa. "Lalu bersuaralah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawanya." (Markus 15:37)
38.  Kematian Yesus sudah ditentukan waktunya. "Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah." (Roma 5:6) "Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati." (Yohanes 19:33)
39.  Yesus telah menjadi mayat, dan mayatnya dibawa oleh salah seorang muridnya. "Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu." (Matius 27:58-59)
40.  Yesus dikafani dengan kain putih. "Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain lenen yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia." (Matius 27:59-60)
41.  Pernyataan Berkabung dengan Kematian Yesus. "Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya : "Sesungguhnya, orang ini adalah orang benar." (Lukas 23:47)








BAB III
KUALITAS ALLAH YANG SEBENARNYA


Berdasarkan fakta-fakta Alkitab yang telah dipaparkan diatas, penulis tidak menemukan adanya bukti dan kebenaran yang menunjukkan Yesus itu bersatu dengan Tuhan, baik dalam bentuk tabiatnya maupun dalam kemiripannya dari segala sisi. Sebaliknya yang menonjol dari Yesus justru adalah sosok kemanusiaannya saja. Kualitas Yesus sama seperti kualitas manusia lainnya, ia bisa menangis, tertawa, makan, minum, haus, lapar, tidur, letih, takut, gelisah, berdoa, mati, dan lain sebagainya.
Tuhan tidak mempunyai kualitas seperti manusia tersebut diatas, sebab kualitas manusia itu sangat rendah dan tidak pantas bagi Tuhan. Jika anda ingin mengetahui bagaimana kualitas Tuhan yang sebenarnya, maka mari kita lihat beberapa kualitas Tuhan yang pantas, sebagai berikut :
1.     Wujud, artinya Allah itu ada dan menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya,
2.     Qidam, artinya Allah itu yang paling awal dan paling terdahulu diantara semua,
3.     Baqa, artinya Allah itu kekal abadi dan tidak akan pernah berakhir,
4.     Mukhalafatu lil hawaditsi, artinya Allah itu berbeda dengan semua makhluk atau segala sesuatu apapun. Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dan menyamai Allah,
5.     Qiyamuhu binafsihi, artinya Allah itu berdiri sendiri, dan tidak membutuhkan segala sesuatu yang lain,
6.     Wahdaniyat, artinya Allah itu Esa atau tunggal. Dia tidak terbilang,
7.     Qudrat, artinya Allah itu berkuasa atas segala sesuatu,
8.     Iradat, artinya Allah itu berkehendak terhadap segala sesuatu apapun yang Dia inginkan,
9.     Ilmu, artinya Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi,
10.  Hayat, artinya Allah itu Maha Hidup dan kekal abadi. Dia mustahil mati,
11.  Sama’, artinya Allah itu Maha Mendengar segala sesuatu apapun, baik yang nampak maupun yang tersembunyi,
12.  Bashar, artinya Allah itu Maha Melihat segala sesuatu apapun, baik yang nampak maupun yang tersembunyi,
13.  Kalam, artinya Allah itu Berfirman atas segala sesuatu, dan Dia tidak bisu,
14.  Qadiran, artinya Allah itu Dzat Yang Maha Perkasa, kuat, dan berkuasa atas segala sesuatu,
15.  Muridan, artinya Allah itu Dzat Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu,
16.  ‘Aliman, artinya Allah itu Dzat Yang Maha Mengetahui, dan mustahil bodoh,
17.  Hayyan, artinya Allah itu Dzat Yang Maha Hidup, dan mustahil mati,
18.  Sami’an, artinya Allah itu Dzat Yang Maha Mendengar, dan mustahil tuli,
19.  Bashiran, artinya Allah itu Dzat Yang Maha Melihat, dan mustahil buta,
20.  Mutakalliman, artinya Allah itu Dzat Yang Berfirman, dan mustahil bisu.
Selain itu ada pula kualitas Allah yang lainnya, yang disebut sifat Jaiz atau wewenang Allah, yakni “tarku likukki mumkinin au fi’luhu”, yang artinya : Allah berwenang menciptakan sesuatu atau tidak.
Adapun kualitas Allah tersebut masih ditambah lagi dengan sederetan gelar atau nama-nama yang diberikan untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan diri-Nya diatas segala sesuatu apapun yang ada dialam semesta ini. Sekumpulan nama-nama atau gelar-gelar Allah tersebut dikenal dengan nama sebutan “Asma-ul-husna”, sebagai berikut :

1.     Ar-Rohman/Maha Pengasih
2.     Ar-Rohim/Maha Penyayang
3.     Al-Malik/Maha Merajai
4.     Al-Quddus/Maha Suci
5.     As-Salam/Maha Penyelamat
6.     Al-Mukmin/Maha Mengamankan
7.     Al-Muhaimin/Maha Pembela
8.     Al-Aziz/Maha Mulia
9.     Al-Jabbar/Maha Pemaksa
10.   Al-Mutakabbir/Maha Besar
11.   Al-Khaliq/Maha Pencipta
12.   Al-Mushawwir/Maha Pembentuk
13.   Al-Ghaffar/Maha Pengampun
14. Al-Qahir/Maha Keras
15. Al-Wahhab/Maha Pemberi
16. Ar-Razzaq/Maha Penganugerah
17. Al-Fattah/Maha Pembuka
18. Al-Alim/Maha Mengetahui
19. Al-Qabidh/Maha Memegang
20. Al-Basith/Maha Menghamparkan
21. Al-Khafidh/Maha Memudahkan
22. Ar-Rafi’/Maha Mengangkat
23. Al-Mu’iz/Maha Memuliakan
24. Al-Muzil/Maha Merendahkan
25. As-Sami’/Maha Mendengar
26. Al-Bashir/Maha Melihat
27. Al-Hakam/Maha Bijaksana
28. Al-Adlu/Maha Adil
29. Al-Latif/Maha Halus
30. Al-Khabir/Maha Selidk
31. Al-Halim/Maha Penyantun
32. Al-Azhim/Maha Agung
33. Al-Ghafur/Maha Pengampun
34. As-Syakur/Maha Mensyukuri
35. Al-Aliyya/Maha Tinggi
36. Al-Kabir/Maha Besar
37. Al-Hafizh/Maha Melindungi
38. Al-Muqith/Maha Menentukan
39. Al-Hasib/Maha Memperhitungkan
40. Al-Jalil/Maha Utama
41. Al-Karim/Maha Mulia
42. Al-Raqib/Maha Pengawas
43. Al-Mujib/Maha Memperkenankan
44. Al-Wasi’/Maha Luas
45. Al-Hakim/Maha Bijaksana
46. Al-Wadud/Maha Cinta
47. Al-Majid/Maha Jaya
48. Al-Ba’its/Maha Pembangkit
49. As-Syahid/Maha Menyaksikan
50. Al-Haq/Maha Hak
51. Al-Wakil/Maha Mengatasi
52. Al-Qawiyyu/Maha Kuat
53. Al-Matin/Maha Teguh
54. Al-Waliyyu/Maha Setia
55. Al-Hamid/Maha Terpuji
56. Al-Muhshi/Maha Menghitung
57. Al-Mubdi’u/Maha Memulai
58. Al-Mu’id/Maha Mengembalikan
59. Al-Muhyi/Maha Menghidupkan
60. Al-Mumit/Maha Mematikan
61. Al-Hayyu/Maha Hidup
62. Al-Qayyim/Maha Tegak
63. Al-Wajid/Maha Mengadakan
64. Al-Maajid/Maha Mulia
65. Al-Wahid/Maha Esa
66. Al-Ahad/Maha Esa
67. As-Shamad/Maha Pergantungan
68. Al-Qadir/Maha Kuasa
69. Al-Muqtadir/Maha Pemberi Kuasa
70. Al-Muqaddim/Maha Mendahulukan
71. Al-Muakhir/Maha Mengakhirkan
72. Al-Awwal/Maha Permulaan
73. Al-Akhir/Maha Kemudian
74. Az-Zhahir/Maha Zhahir
75. Al-Bathin/Maha Bathin
76. Al-Wali/Maha Melindungi
77. Al-Muta’alli/Maha Meninggikan
78. Al-Barr/Maha Penyantun
79. At-Tawwabu/Maha Penerima Tobat
80. Al-Muna’am/Maha Pemberi nikmat
81. Al-Muntiqam/Maha Pembela
82. Al-Afuwwu/Maha Pemaaf
83. Ar-Ra’uf/Maha Belas Kasih
84. Malikul-Muluk/Maha Raja di raja
85. Zul Jalali Wal Ikram/Maha Luhur & Mulia
86. Al-Muqsith/Maha Menimbang
87. Al-Jami’/Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghani/Maha Kaya
89. Al-Mughni/Maha Mengkayakan
90. Al-Mani/Maha Menghalangi
91. Ad-Dharr/Maha Memudharatkan
92. An-Nafi’/Maha Pemaaf
93. An-Nur/Maha Cahaya
94. Al-Hadi/Maha Menunjuki
95. Al-Badi/Maha Pencipta yang baru
96. Al-Baqi/Maha Kekal
97. Al-Warits/Maha Pewaris
98. Ar-Rasyid/Maha Cendikiawan
99. As-Shabur/Maha Penyabar

Adakah semua kualitas Allah tersebut diatas dimiliki oleh Yesus? Ternyata tidak sama sekali! Jadi, bagaimanapun para pemimpin gereja berusaha dengan segala daya hendak memutar-balikkan fakta, yang pasti mereka, bahkan sampai kepalanya botak sekalipun, tidak akan mungkin dapat membuktikan kalau Yesus itu adalah Tuhan. Dan mereka mustahil dapat meyakinkan umat Islam tentang pernyataan mereka mengenai Yesus yang dikatakannya lebih hebat dan lebih sempurna daripada manusia lainnya.










DAFTAR PUSTAKA


Al Kandhalawi, Muhammad Zakariyya, “Kitab Fadhail A’mal”, Pustaka Ramadhan, Bandung, 2001.

Alkitab Terjemahan Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1994.

Al-Qur’an dan Terjemahannya, Percetakan Raja Fadh, Saudi Arabia, 1971.

Answer to Faq (Frequently Asked Questions) by Christians From The Bible, from : amedamne@trianon.worldtel.com, 1995.

Athanasius, "The Incarnation of the Word."

Augustinus, “The Confession of Saint Augustine.”

Bentley, James, “Rahasia-Rahasia dari Gunung Sinai”, Orbis, London, 1985.

Deedat, Ahmed, “Injil Membantah Ketuhanan Yesus”, Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta, 1994.

Douglas, Alban, “Inti Ajaran Alkitab.”

Ellegard, Alvar, “Jesus One Hundred Year Before Christ.”

Funk, Robert, The Five Gospels.”

Gibbon, Edward, “Kemunduran dan Jatuhnya Kerajaan Romawi.”

Hamid, Syamsul Rijal, “Buku Pintar Agama Islam”, Edisi Senior, Cahaya Islam, Bogor, 2005.

Harpur, Tom, “Demi Kristus.”

Injil Anchor

J. Schonfield, Hugh, “The Original New Testament.”

Lane, Tony, "Christian Thought."

Munir, Sanihu, SKM. MPH, “Menapaktilasi Asal-usul Dogma Ketuhanan Kristen”, From site:  www.pakdenono.com, 2006.

New American Bible Standar Version

Peake, "Peake's Commentary on the Bible", 1919.

Situs : www.geocities.com/cicak_mdn/, “A Million Bullshits of Christianity”, From site:  www.pakdenono.com, 2006.

Spong, John Shelby, “Why Christianity Must Change or Die.”

The Hebrew-Greek Key Study Bible, Edisi ke 6.

The Holy Bible New International Version (Alkitab New International Version).

The New Testament of the New American Bible, 1970.

Tillich, Paul, “A History of Christian Thought.”

Tom Harpur, “Demi Tuhan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar