YESUS
BUKAN TUHAN
OLEH
MUHAMMAD ZAINUDDIN,
S.Pd
DAFTAR ISI
JUDUL
…………………………………………………………………………………………………. i
DAFTAR ISI
…………………………………………………………………………………………… iii
BAB I MELURUSKAN KEKELIRUAN
TAFSIR KETUHANAN YESUS …………………….. 1
v Aku dan Bapa Adalah Satu
………………........................................................... 1
v Tidak Seorangpun yang Datang
Kepada Bapa, Kalau Tidak Melalui Aku .......... 5
v Barang Siapa yang Telah Melihat
Aku, Ia Telah Melihat Bapa …………………. 8
v Dia Telah Mengaruniakan AnakNya
yang Tunggal ………………………………. 9
v Jika Orang Tak Terlahir Kembali, Dia
Tak Dapat Melihat Kerajaan Allah ……… 11
v Kepadaku
(Yesus) Telah diberikan Segala Kuasa di Sorga dan di Bumi ........... 12
v Jadikanlah Semua Bangsa MuridKu
dan Baptislah Mereka ……………............. 14
v Sebab Ada Tiga yang Memberi Kesaksian
di Sorga …………………….............. 17
v Barangsiapa Percaya Kepada Anak, Ia
Beroleh Hidup yang Kekal ……………. 19
v Tanpa Dia (Yesus) Tidak Ada Suatupun
yang Telah Jadi ……………………….. 20
v Firman (Yesus) Itu Adalah Allah
……………………………………………………. 22
v Thomas Menjawab Dia (Yesus) : “Ya
Tuhanku dan Allahku!” …………………... 25
v Masuklah Mereka.., Lalu Sujud Menyembah
Dia (Yesus) ……………………….. 26
v Sebelum Abraham Jadi, Aku (Yesus)
Telah Ada …………………………………. 26
v Dia (Yesus) Diangkat ke Sorga,
dan Duduk Disamping Kanan Allah ………...... 27
v Jika Kamu Mengakui Yesus Adalah
Tuhan, Kamu Akan Diselamatkan………... 28
v Kaum Israel
Harus Tahu, Allah Telah Membuat Yesus Menjadi Tuhan.............. 29
v Aku (Yesus) Adalah
Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup..................... 31
v Yesus Adalah Roh Allah, yang Menjadi
Allah Itu Sendiri ………………………. 32
v Yesus Bisa Mengampuni Dosa Seseorang
……………………………………….. 35
BAB II SIFAT-SIFAT KEMANUSIAAN
YESUS .................................................................... 37
v Yesus Merasakan Lapar dan
Membutuhkan Makanan ...................................... 37
v Yesus Hanya Mengaku Sebagai
Utusan Tuhan ................................................. 38
v Yesus Menyuruh Umatnya Hanya Menyembah
Kepada Allah Saja ……………. 40
v Yesus Menolak Disebut Orang Baik
……………………………………………….. 42
v Yesus Tidak Mengetahui Hari
Kiamat ……………………………………………… 43
v Yesus Digoda oleh Iblis (Hawa
Nafsu) …………………………………………….. 43
v Yesus Belajar dari Pengalaman …………………………………………………….. 44
v Yesus adalah Raja dan Pimpinan
Kaum Yahudi …………………………………. 45
v Beberapa Kualitas Kemanusiaan
Yesus Lainnya ……………………………….... 45
BAB III KUALITAS ALLAH YANG
SEBENARNYA ……........................................................ 48
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 50
BAB I
MELURUSKAN KEKELIRUAN TAFSIR
KETUHANAN YESUS
Agama Islam mengajarkan bahwa Allah adalah satu, satu tanpa sekutu dan
satu dalam kesatuan mutlak. Dia bukanlah satu di antara yang banyak, bahkan
juga bukan satu di antara yang lain, tetapi satu dalam keunikan total.
Keunikan-Nya menentang pemahaman total oleh akal manusia fana yang sangat terbatas.
Dia tanpa awal dan tanpa akhir. Tidak ada yang sebanding dengan-Nya. Allah
adalah satu Tuhan, di samping-Nya tidak ada tuhan lain. Ekspresi yang paling
sempurna, indah, dan sublim mengenai keesaan Allah ini ditemukan dalam
Al-Qur'an :
"Katakanlah : ‘Dia-lah Allah, Yang Maha
Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada
beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara
dengan Dia’."
(Q.S. Al-Ikhlas:1-4)
Sementara dalam ajaran Kristen,
yang sering dipromosikan sebagai Tuhan adalah Yesus. Dalil yang sering mereka
gunakan untuk membenarkan Ketuhanan Yesus adalah dengan mengutip ucapan-ucapan
Paulus, sebagai berikut :
“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja,
yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita
hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu
telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:6)
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu,
bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah
membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)
Untuk memperkuat pernyataan
Paulus tersebut, maka para pengikut Paulus, terutama gereja membuat
penafsiran-penafsiran tersendiri, dan jika perlu melakukan pengeditan
(perubahan atau pemutarbalikan) terhadap beberapa perkataan-perkataan Yesus dan
peristiwa seputar kehidupannya, agar sesuai dengan ide dan doktrin keimanan
mereka yang menuhankan Yesus.
Dan nampaknya usaha gereja untuk
memutarbalikkan pengertian beberapa ayat-ayat dalam Alkitab tersebut sejauh ini
berhasil dengan sangat memuaskan. Umat Kristen banyak yang tidak mengerti dan
tidak paham, bahwa ayat-ayat yang sering mereka kutip untuk membenarkan
Ketuhanan Yesus itu sebenarnya adalah keliru dan tidak berdasar sama sekali.
Karena sesungguhnya perkataan yang mengatakan bahwa Yesus Itu adalah Tuhan,
bukan hanya merupakan “cemooh” atau “ejekan” terhadap (salah satu) ketuhanan,
tetapi merupakan bentuk terendah dari kekafiran, sekaligus penghinaan terhadap
kecerdasan akal manusia.
Berikut ini, kami akan memaparkan
beberapa bukti dari Alkitab sendiri untuk meyakinkan anda semua bahwa Yesus
bukanlah Tuhan yang patut disembah-sembah. Dan ia bukanlah sosok “ajaib” yang
bisa bersatu jiwa dan raga dengan Bapa-nya (Tuhannya), dalam pengertian fisik
(reinkarnasi).
Aku dan Bapa adalah
Satu
Para pemimpin Gereja sering mengutip
ayat Alkitab dibawah ini sebagai alasan untuk membenarkan status dan kedudukan
Yesus setara dengan Tuhan. Ayat yang dimaksud berbunyi :
Potongan ayat tersebut sekilas
menunjukkan bahwa Yesus benar-benar telah bersatu dengan Tuhannya dalam artian
secara fisik. Namun begitu, kita tidak mungkin mengartikan ayat tersebut dengan
cara seperti itu. Kalimat tersebut sebenarnya ada kelanjutannya atau dalam
istilah kerennya “jangan hanya lihat teks, tapi perhatikan juga konteksnya”.
Artinya, anda jangan coba-coba memotong pengertian ayat secara “sembrono”.
Pemotongan ayat dapat digunakan jika dimaksudkan untuk memperkuat atau
memperjelas pengertian. Sebaliknya jika ayat-ayat itu dipotong lalu
mengakibatkan perubahan arti yang sebenarnya, maka jelas hal itu sangat tidak
diperkenankan.
Dalam kasus ayat tersebut, sudah
jelas kita dilarang mengartikannya secara sepotong-sepotong, mengartikan “Aku
dan Bapa adalah satu” sebagai “Yesus bersatu jiwa dan badannya dengan Tuhan”.
Konteks ayat tersebut dimulai
ketika Yesus sedang berjalan-jalan di Bait Allah di Serambi Salomo (Yohanes 10:23). Ia lalu dikelilingi
orang-orang Yahudi, yang lalu berkata kepadanya :
“Berapa lama lagi kami menunggu, jika engkau
Mesias, katakanlah terus terang kepada kami?” (Yohanes 10:24-25)
Yesus menjawab : “Aku sudah mengatakan kepadamu, tapi kamu
tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dalam nama Bapaku, itulah
yang memberikan kesaksian tentang aku, tapi kamu tidak percaya, karena itu kamu
tidak termasuk domba-dombaku yang mendengar suaraku dan mengikuti aku. Dan aku
memberikan hidup yang kekal dan mereka
tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut
mereka dari tanganku Bapaku yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar
daripada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:26-30)
Arti dan maksud perkataan Yesus
pada Yohanes 10:26-30 itu adalah bahwa Ia ingin hanya ingin menyampaikan kabar
gembira kepada siapa saja yang percaya, bahwa Allah akan memberi ganjaran sorga
bagi para pengikutnya yang menyatakan tauhid dan mengikuti pengajarannya. Yesus
menegaskan bahwa pengikutnya tidak akan tersesat selama mereka mengikuti
nasehat dan pengajarannya. Bagi orang-orang yang percaya kepada pengajaran
Yesus, maka mereka telah mendapatkan petunjuk petunjuk dari Allah. Dan selama
mereka tetap mengikuti petunjuk Allah, maka mereka akan selalu tetap dilindungi
dan dibimbing oleh Allah. Selanjutnya jika seseorang itu kokoh dan teguh dalam
keimanannya kepada Tauhid, maka Allah akan senantiasa menyertainya.
Jadi, “Aku dan Bapa adalah satu”,
itu maksudnya adalah kesamaan dalam hal tujuan dan misi. Tujuan dan misi Tuhan
sama dengan tujuan dan misi yang diemban Yesus. Tujuan dan misi Tuhan adalah
memperkenalkan tauhid (keesaan-Nya) dan mengutus para nabi dan rasul untuk
mensosialisasikan tauhid tersebut kepada masyarakat. Sedangkan tujuan dan misi
Yesus adalah untuk membenarkan ajaran tauhid, sekaligus menjadi “juru bicara”
untuk menyebarluaskan ajaran tauhid kepada masyarakat yang belum kenal tauhid.
Dengan kata lain, kesatuan antara
Yesus dengan Tuhan Bapa itu merupakan suatu bentuk persetujuan atau perjanjian
yang mengikat antara Yesus dengan Tuhan, dalam hal ini Yesus menerima pesan
suci dari Tuhan Bapa yang berwenang, dan Yesus kemudian meneruskannya kepada
para pengikutnya. Yesus mengakui ia telah menyelesaikan pekerjaan yang telah
diberikan Bapa kepadanya untuk dikerjakan.
"Aku telah mempermuliakan engkau di
bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk
melakukannya." (Yohanes 17:4)
Namun ternyata orang-orang Yahudi
ternyata suka “bikin” gara-gara dan cari masalah, mereka lalu melempari Yesus
dengan batu. Kemudian Yesus membela diri dan berkata: “Semua pekerjaan baik
atas nama Bapa telah aku lakukan, tapi kenapa kamu malah melempari aku?
Orang-orang Yahudi menjawab :
“Bukan karena masalah itu, tapi kamu telah
menghina Tuhan, dengan menyamakan dirimu dengan Tuhan.” (Yohanes 10:31-33)
Mungkin gara-gara Yesus berkata
“Aku dan Bapa adalah satu”, orang-orang Yahudi sengaja bikin ulah lalu menuduh
Yesus berkata telah menjelma menjadi Tuhan. Padahal yang dimaksudkan Yesus
bukanlah seperti itu?
Kemudian Yesus kembali membela
diri dan berkata :
“Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu
bahwa kamu adalah ilah? (Yohanes 10:34)
Ilah yang dimaksud Yesus ini
adalah “allah” dalam arti sebutan yang sudah lazim dipergunakan di kalangan
masyarakat Yahudi untuk menunjukkan nama orang, tuan, dia laki-laki (He), atau
bahkan makhluk halus, seperti yang tertera dalam Alkitab berikut :
“Aku (Allah) sendiri telah berfirman : kamu
adalah allah, dan anak-anak Yang Maha Tinggi, kamu sekalian. (Yohanes 10:34 dan Mazmur
82:6)
Nabi Musa sendiri bahkan diangkat
Tuhan sebagai "Allah" atau "God" :
“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa : ‘Lihat,
Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun abangmu, akan
menjadi nabimu.” (Keluaran 7:1)
Pembelaan Yesus yang cerdik
tersebut menunjukkan bahwa ia tidak akan pernah membuka celah sedikitpun bagi
orang-orang berpikiran jahat yang ingin coba-coba menuduh dirinya sebagai
“reinkarnasi” Tuhan.
Orang-orang Yahudi itu sebenarnya
tahu persis kalau Yesus itu tidak pernah mengatakan dirinya Tuhan. Namun mereka
gengsi diceramahin oleh Yesus, karena takut kalah saing dan popularitas.
Maklumlah, mereka itu adalah orang-orang terkemuka dan dianggap terhormat dalam
masyarakatnya. Jadi, mereka sengaja buat “gara-gara” dan cari-cari kesalahan
yang sebenarnya tidak ada, dengan maksud agar Yesus terjebak dan dapat
ditangkap dengan tuduhan “pelecehan terhadap Tuhan”. Tapi ternyata Yesus lebih
pintar dari mereka.
Setelah usaha orang-orang Yahudi
cari gara-gara untuk bisa menjebak Yesus agar terpeleset dan mengaku sebagai
Tuhan, digagalkan oleh Yesus sendiri. Eh, malah giliran umat Kristen yang
kembali salah tafsir dan mengartikan Yohanes 10:30 itu sebagai bukti kalau Yesus itu memang benar-benar
bersatu dengan Tuhannya dalam status yang sama.
Padahal kalau diteliti lebih
jauh, coba perhatikan ayat berikut ini :
Dan bukan untuk
mereka ini saja aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya
kepadaku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu, sama
seperti Engkau, ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga
di dalam Kita, supaya dunia
percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku. Dan aku telah memberikan
kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaku,
supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku,
supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah
mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi
aku.” (Yohanes 17:20-23)
Dan aku telah
memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan aku akan memberitahukannya, supaya
kasih yang Engkau berikan kepadaku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka.
(Yohanes 17:26)
Jika umat Kristen masih ngotot
menganggap bahwa Tuhan Bapa dengan Yesus itu "satu" dalam arti yang
sama atau pengertian keduanya bersatu secara jiwa dan raga dalam status dengan
berdasar kepada Yohanes 10:30, maka umat Kristen juga harus menganggap bahwa
"mereka" (para murid Yesus) juga sama dalam statusnya dengan Yesus
dan Tuhan Bapa, seperti dalam kalimat :
"Sama seperti kita adalah satu. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam aku,
supaya mereka sempurna menjadi satu." (Yohanes 17:22-23)
Jadi, kalau umat Kristen mau
konsisten mengartikan kalimat “Aku dan
Bapa adalah satu“ pada Yohanes 10:30 sebagai Yesus menjadi Tuhan, dan Tuhan
menjadi Yesus, maka kalimat "sama
seperti kita adalah satu. Aku di dalam
mereka dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu"
pada Yohanes 17:22-23 mestinya juga harus diartikan menjadi Yesus,
murid-muridnya, dan Tuhan telah bergabung jadi satu, yakni menjadi Tuhan,
sehingga diperoleh rumus, bukan hanya dwitunggal atau tritunggal, melainkan
juga 15 tunggal atau multi tunggal. Apakah begitu yang dimaksudkan? Sungguh
sebuah penafsiran yang aneh dari umat Kristen?
Selain bantahan tersebut diatas,
penolakan terhadap tuduhan bahwa Yesus adalah Tuhan, juga dibantah oleh Yesus
sendiri, Ia berkata :
"Aku pergi (akan wafat dan menghadap)
kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripada Aku." (Yohanes 14:28)
Ayat ini menunjukkan, pertama, Yesus akan wafat dan tidak sama
dengan Tuhan Bapa yang hidup kekal, dan kedua,
Yesus mengakui dirinya sangat rendah dihadapan Tuhan Bapa yang Maha Besar.
Jadi, ayat tersebut telah begitu gamblang membuka kesalahan atas pengakuan atau
klaim dari siapapun yang menyatakan bahwa Yesus memiliki status yang sama
dengan Tuhan Bapa.
Dalam bahasa kitab suci,
ungkapan-ungkapan seperti ini ayat tersebut diatas sering terjadi, dan
hendaknya pembaca berlaku arif dam memiliki kehalusan jiwa untuk menangkap
ungkapan tadi sebagai pelajaran. Sebab ini bukanlah arti yang sebenarnya. Dalam
Al Quran misalnya terdapat ayat yang bermakna :
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang
membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu
yang melempar, ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar ..." (Q.S. Al-Anfaal :17)
Atau dalam hadits Qudsi
dikatakan, bila seorang hamba mendekat secara sempurna, bukan sekedar dengan
penunaian yang wajib tetapi lengkap dengan sunnah-sunnahnya, maka ".. Aku menjadi matanya ketika dia
melihat, menjadi tangannya ketika dia memukul menjadi kakinya ketika dia
berjalan." Kalimat kalimat seperti ini, tidak boleh langsung
disimpulkan bahwa "benar benar orang itu bermata Allah, bertangan dan
berkaki Allah," tetapi pada tingkat kebersihan jiwa seperti itu, orang
tadi dalam melihat, menggerakkan tangan dan melangkah, senantiasa selaras
dengan apa yang diridhoi Allah.
Umat Kristen nampaknya sering
tergesa-gesa menyimpulkan ayat-ayat yang tersurat (nampak secara tekstual), dan
mengabaikan konteks ayat (makna dibalik ayat), sehingga berani berkata bahwa
Yesus adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Yesus dalam arti satu, sama, itu itu juga!
Padahal orang bercinta saja kalau mereka berkata "Kau dan Aku selalu satu" tentu artinya bukan mereka
menjadi satu badan khan? Di kalangan ulama Islam pun dahulu pernah terjadi
penyimpulan kasar berdasar kata tersurat, yakni banyak ulama berfatwa bahwa
orang yang telah berwudhu, bisa batal wudhunya bila "menyentuh"
perempuan, mereka menyimpulkan hal itu dengan mengambil dasar dari QS. An-Nisa’
: 43. Untung Al-Quran masih memiliki teks aslinya, bahkan tafsir murid langsung
Nabi pun masih ada, sehingga gampang ditelusuri maksud yang sebenarnya, bahwa
ternyata menurut Ibnu Abbas ra (Sahabat Nabi SAW), bahwa menyentuh disana bukan
sekedar "menyentuh," tetapi semacam ungkapan sopan yang menyiratkan
arti "bersetubuh," atau katakanlah 'sentuhan' yang bisa menyebabkan
hamil, seperti secara sopan diungkap Maryam dalam Surat Maryam ayat 20.
Bagi umat Kristen, apalagi yang
menerima 'ajaran kristen' cuma dari teks bahasa Indonesia saja, memang agak
sukar untuk menelusuri arti sebenarnya dari kata-kata yang tersurat dalam
Alkitab mereka. Padahal kata-kata yang diucapkan Yesus sangat banyak mengandung
istilah-istilah, kata-kata, perumpamaan-perumpamaan ketimuran (keyahudian) yang
lebih dapat dimengerti oleh orang-orang yang telah mempelajari atau memiliki
latar belakang budaya Timur Tengah. Dan tidak seperti orang-orang Yunani,
Romawi, dan Barat, yang hanya bisa membaca Alkitab terjemahan Yunani secara
mentah tanpa dapat mengerti istilah-istilah asli yang dipakai Yesus dalam
bahasa Arami atau Ibrani.
Tidak Seorangpun
yang Datang Kepada Bapa, Kalau Tidak Melalui Aku
Menurut Gereja, keselamatan itu
hanya bisa diperoleh melalui diri Yesus sendiri. Alasan tersebut mereka
kemukakan berdasarkan ayat Alkitab dibawah ini :
Yesus berkata : "Akulah jalan (dan kebenaran dan hidup). Tidak ada
seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes.
14:6)
Konteks ayat tersebut dapat
dilihat pada Yohanes 14:2-4, ketika Yesus bercerita tentang rumah Bapa-nya di
sorga. Ia mengatakan :
"Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal, jika tidak demikian, tentu
aku mengatakannya kepadamu, sebab aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat
bagimu. Dan apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat
bagimu, aku akan datang kembali dan membawa kamu ketempatku, supaya ditempat
dimana aku berada, kamupun berada. Dan kemana aku pergi, kamu tahu jalan
kesitu.”
Maksud pernyataan Yesus diatas
menekankan bahwa ada sebuah tempat tinggal bernama “sorga” yang diperuntukkan
bagi orang-orang yang percaya kepada petunjuk-petunjuk Allah yang diajarkan
oleh Yesus. Bagi para pengikutnya yang mempercayai pengajarannya, maka Yesus
sendiri yang akan pergi untuk memohon kepada Bapa-nya (Allah) agar
mempersiapkan "sebuah" tempat tinggal (sorga) bagi mereka. Sementara
Yesus adalah salah seorang rasul kesayangan Allah yang sudah pasti mendapatkan
rumah di sorga yang dijanjikan Allah. Adapun sorga akan diberikan kepada para
pengikut Yesus yang taat bersembah sujud kepada Allah dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Nah, karena para murid-murid Yesus telah diberikan bekal
dan petunjuk atau jalan menuju ke sorga oleh Yesus, maka otomatis mereka sudah
tahu jalan yang dimaksud, walaupun Yesus tidak bersama mereka pada suatu saat
nanti. Dengan mengikuti jalan tersebut, para pengikut Yesus tidak akan tersesat
dan mereka akan dengan mudah dapat sampai menuju Rumah Bapa-nya Yesus, yakni
sorga.
Jalan apakah yang dimaksudkan
Yesus? Jalan itu adalah jalan yang lurus yang tidak belok kiri belok kanan atau
disebut juga jalan kebenaran dan hidup (ajaran yang kekal). Dalam Al-Qur’an,
jalan itu bernama “Ihdinas shiroothal mustaqiim” yang artinya “Tunjukilah
kami jalan yang lurus”. Jalan yang lurus artinya memberi petunjuk kepada
kebenaran, dan bukan merupakan jalan yang sesat. Jalan yang lurus adalah jalan
yang benar, dan jalan yang benar adalah Islam. Terbukti Nabi-Nabi yang datang sebelum
Yesus, dan seorang Nabi yang datang sesudahnya, juga mempersiapkan tempat
tinggal lain bagi para pengikutnya. Seorang nabi atau rasul yang datang sesudah
Yesus (Nabi Muhammad SAW -pen) terbukti telah menunjukkan "jalan" yang
sekarang berlaku bagi tempat tinggal baru dalam Kerajaan Sorga.
Pernyataan Yesus pada Yohanes
14:2-4, secara jelas menunjukkan bahwa Yesus memang telah menyiapkan sebuah
jalan yang lurus berupa pengajarannya
yang baik dan benar yang mengikuti segala petunjuk-petunjuk Allah sebagai
tuntunan dan pedoman hidup bagi para pengikutnya agar tidak tersesat dan
selamat sampai ke sorga. Namun demikian, meskipun penjelasan Yesus itu sudah
sangat gamblang, ternyata ada salah seorang muridnya yang masih belum mengerti
juga. Muridnya itu bernama Thomas, ia mungkin berpikir kalau jalan yang
dimaksudkan Yesus itu dalam pengertian peta geografi atau alamat, seperti Jalan
Soedirman, Jalan Thamrin, Jalan Tol Cipularang, Jalan Lingkar Selatan, dan
jalan-jalan dalam arti geografis lainnya, karena itu ia bingung lalu bertanya
kepada Yesus :
“Tuan, kami tidak tahu kemana engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu
jalan ke situ?” (Yohanes
14:5)
Lalu Yesus menjelaskan bahwa
jalan yang dimaksud itu adalah jalan kebenaran dalam arti spiritual dan bukan
dalam pengertian geografi atau fisik, Yesus berkata :
"Akulah jalan (dan kebenaran dan hidup). Tidak ada seorangpun yang
datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)
Maksudnya adalah seseorang akan
dianggap tersesat atau dipandang tidak beragama sedikitpun apabila ia tidak mau
mengikuti pengajaran Taurat dan Injil yang benar yang diajarkan Yesus.
Selanjutnya Yesus berkata :
“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapaku. Sekarang
ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yohanes 14:7)
Ayat tersebut maksudnya : apabila
kalian mengikuti ajaran Yesus yang benar, maka Allah akan dekat kepadamu,
menyayangi, dan melindungimu dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Saat ini
kalian sudah mendapatkan petunjuk yang benar dari Allah, yakni petunjuk jalan
yang lurus, sebab kalian telah setia membenarkan pengajaranku.
Atas penjelasan Yesus tersebut,
seorang murid Yesus yang lain bernama Filipus malah lebih parah dari Thomas. Ia
mengajukan pertanyaan “bodoh” dengan berkata :
“Tuan,
tolong tunjukkan (perlihatkan) Bapa
itu kepada kami (gimana rupanya atau seperti apa bentuknya), itu sudah cukup bagi kami.” (Yohanes
14:8)
Mungkin kalau kita yang menerima
pertanyaan dari Filipus itu, sudah pasti kepala kita akan bertambah “pusing”
dan mengejek Filipus sambil berkata dalam bahasa kita : “Oh, Filipus, kamu
blo’on banget sih? Kok nggak ngerti-ngerti juga?” Tapi untunglah Yesus itu
orangnya sabar, ia berkata kepada Filipus :
“Telah sekian lama aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak
mengenal aku? Barangsiapa telah melihat
aku, ia telah melihat Bapa, bagaimana engkau berkata:
Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami? Tidak percayakah engkau, bahwa aku di dalam
Bapa dan Bapa di dalam aku? Apa yang
aku katakan kepadamu, tidak aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa yang
diam di dalam aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepadaku, bahwa aku didalam Bapa
dan Bapa didalam aku, atau setidak-tidaknya, percayalah karena
pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yohanes 14:9-14)
Maksudnya : barangsiapa yang
mengikuti ajaran Yesus, maka ia telah menghormati Bapa, karena Bapa-lah yang
memberikan semua ajaran itu kepada Yesus, bagaimana mungkin kamu bisa melihat
Tuhan secara fisik dalam arti yang sebenarnya? Tidak percayakah engkau, bahwa
Yesus dan Bapa mempunyai misi dan tujuan yang sama? Yesus tidak berkata-kata
sendiri, tetapi Firman Allah yang diterimanya itulah yang disampaikan kepada
para pengikutnya. Percayalah bahwa Yesus dan Tuhannya memiliki tujuan dan misi
yang sama, atau setidak-tidaknya percayalah bahwa Yesus melaksanakan tugas
sebagai utusan Allah untuk mengajarkan jalan yang lurus kepada para
pengikutnya, dan seterusnya.
Kita dapat
melihat bahwa Yesus akhirnya harus kewalahan menghadapi suatu kekurang-percayaan
dari murid-muridnya terhadap dirinya dan Allah. Hal ini juga dapat kita lihat
dalam Al-Qur’an yang menceritakan mengenai perilaku murid-murid Yesus yang
sering ragu-ragu dan tidak percaya terhadapnya.
"Tatkala Hawariyin (sahabat-sahabat
setia) berkata : Wahai 'Isa putera Maryam! Apakah berkuasa Tuhanmu menurunkan
kepada kami satu hidangan dari langit? Maka 'Isa menjawab : Takutlah kepada
Allah jika memang kamu betul-betul orang-orang yang beriman!" Mereka
berkata : Kami ingin agar kami makan darinya dan supaya kami yakin bahwa
sesungguhnya engkau sudah berkata yang benar terhadap kami dan jadilah kami ini
orang-orang yang menyaksikan." (Q.S. Al-Maidah:112-113)
Dari uraian
tersebut, kita dapat merasakan betapa beratnya tugas Yesus berdakwah menyebarkan
ajarannya. Karena sekian lama Yesus menjalani kehidupan bersama para muridnya,
mengajar, membimbing, dan menunjukkan mukjizat-mukjizat kenabiannya, namun ada
beberapa diantara para muridnya masih merasa kurang yakin terhadap
ucapan-ucapan Yesus.
Kembali lagi kepada Filipus,
adalah sangat aneh kalau ia masih menanyakan tentang keberadaan Tuhan secara
fisik, sebab dalam berbagai kesempatan Yesus
sebenarnya pernah berkata kepada orang banyak, bahwa Tuhan itu tidak
bisa dilihat dan didengar dengan panca indera manusia yang terbatas. Yesus
berkata :
“Allah itu roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam
roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:24)
Selain itu Yesus juga berkata :
"...Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah
kamu lihat." (Yohanes
5:37).
Kemudian hal senada juga
dikatakan oleh Paulus :
“Yang hanya mempunyai zat yang tiada mati, dan mendiami terang yang
tiada terhampiri, Yang tiada pernah dilihat orang, maka bagi-Nyalah kemuliaan
dan kekuasaan yang kekal.” (I Timotius 6:16)
Intinya, Injil Yohanes pasal 14
ingin menegaskan bahwa Yesus adalah "jalan" yang dapat dipakai oleh
para pengikutnya untuk memperoleh keselamatan dan meraih kebahagiaan yang abadi
disorga kelak. Selain Yesus, para nabi dan rasul lainnya juga merupakan jalan
bagi masing-masing umatnya untuk memperoleh tiket menuju ke sorga. Sementara
itu, umat Islam juga mempunyai jalan yang sama melalui ajaran Nabi Muhammad
SAW, sebagai arah yang benar menuju ke sorga. Adalah sangat bodoh kalau ada
orang yang meyakini bahwa Yesus (atau Nabi manapun juga) sebagai "Tujuan
Akhir", sebab mereka semua hanyalah “jalan” untuk mengantarkan kita kepada
kebahagian hakiki di sorga kelak.
Coba perhatikan perkataan Yesus
berikut ini :
"Akulah pintu, barang siapa yang masuk melalui aku, ia akan selamat
dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput." (Yohanes 10:9)
Penjelasannya begini, kalau ada
seekor domba yang berjalan melewati "pintu", maka ia akan dapat
menemukan padang
rumput. Tetapi kalau dombanya “blo’on” dan hanya berputar-putar saja di
sekeliling "pintu" dan tidak melewati “pintunya”, maka ia tidak akan
pernah bisa menemukan padang rumput. Bagi domba, padang rumput adalah tujuan hidupnya. Domba
akan memperoleh kesenangan dan kebahagiaan apabila ia sudah menemukan rumput
dan memakannya.
Sama saja seperti domba, manusia
juga harus menyeberang melewati "jalan" kalau ia ingin sampai ke
rumahnya. Tetapi kalau ia cuma berhenti di "jalan" saja dan
mempercayai kalau "jalan" itulah tujuan akhirnya, maka ia tidak akan
pernah bisa sampai ke rumahnya, bahkan ia justru akan tetap berada di alam
terbuka tanpa perlindungan dan atap, seperti orang jalanan yang tidak punya
rumah, “nyasar” kesana kemari.
Lalu bagaimana para pengikut
Yesus bisa masuk ke sorga? Ya, tentu saja dengan mengikuti ajaran Yesus yang
sesuai dengan kehendak Bapa-nya (Allah), seperti yang dikatakan Yesus :
"Bukan setiap orang yang berseru kepadaku : ‘Tuan, Tuan,’ akan
masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku,
yang berada di sorga.” (Matius 7:21)
Bahkan kalau dilihat ayat
berikutnya, dijelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, banyak orang-orang yang
dulunya sering memanggil nama “Tuhan Yesus…Tuhan Yesus…Tuhan Yesus”, tetapi
oleh Yesus mereka akan ditolak, sebab mereka hanya memuji-muji nama saja, tapi
tidak berbuat seperti yang dikehendaki Allah! Selengkapnya ayat tersebut
berbunyi :
“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan,
bukankah kami berbuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan banyak
mengadakan mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang
kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal engkau! Enyahlah dari
padaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22-23)
Silahkan bandingkan pula ayat tersebut diatas dengan Al-Quran Surat
Al-Maidah ayat 116-118 dan ayat 72-77.
Barang Siapa yang
Telah Melihat Aku, Ia Telah Melihat Bapa
Menurut Gereja, Yesus dan Bapa
(Tuhan) adalah satu kesatuan yang sama, sesuai dengan ayat Alkitab berikut ini
:
Yesus berkata : "Barang siapa yang telah melihat Aku, ia telah
melihat Bapa.” (Yohanes 14:9)
Potongan ayat tersebut sebenarnya
merupakan kelanjutan jawaban Yesus terhadap pertanyaan Filipus pada ayat 14:8,
yang ingin melihat bagaimana rupa Tuhan itu dan seperti apa? Dan pertanyaan
Filipus tersebut sudah dijawab oleh Yesus pada bantahan Dalil II tersebut
diatas.
Namun bila anda masih penasaran
juga, maka ayat tersebut maksudnya adalah barangsiapa yang mengikuti dan
mentaati segala petunjuk dan ajaran dari Yesus, berarti ia telah menghormati
dan mempercayai bahwa semua ajaran yang disampaikan Yesus hanya datang lewat
petunjuk dan bimbingan yang disampaikan Allah kepada Yesus.
Mentaati ajaran Yesus berarti
telah menghormati Allah, sebab ajaran Yesus semuanya berasal dari Allah. Nah,
dengan mentaati ajaran Yesus berarti ia juga akan mendapatkan derajat kemuliaan
dari Tuhan dan juga akan dianggap termasuk dalam golongan orang-orang yang
soleh. Allah senantiasa akan menyertai mereka yang taat kepada ajaran Yesus,
sebab ajaran Yesus berasal dari Tuhan. Dan Allah juga akan berada dekat dengan
siapa saja yang berserah diri kepada-Nya, lebih dekat dari telunjuk dan jari
tengah yang dirapatkan atau bahkan lebih dekat dari urat nadi lehernya sendiri.
Jika pengikut Yesus benar-benar
mengikuti ajaran Yesus, berarti mereka telah dinyatakan beriman kepada Allah.
Dan tentu saja orang yang beriman kepada Allah dengan ikhlas akan dapat melihat
Allah, dalam arti merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya yang tercermin dalam
sikap dan perilaku hidupnya sehari-hari. Apakah ia seorang yang memiliki hati
nurani atau tidak, apakah ia berjiwa bersih atau tidak, apakah ia ikhlas atau
tidak, apakah ia jujur atau tidak, apakah ia sudah taat kepada Allah atau
tidak, apakah ia sudah menghindari larangan-Nya atau tidak, dan sebagainya.
Para pengikut Yesus memang akan
dapat melihat Tuhan pada sosok dan diri Yesus, dalam arti bukan melihat Yesus
bersatu dengan Tuhan (bereinkarnasi) dalam wujud jasmani dan rohani, tetapi
coba lihatlah bagaimana kepribadian Yesus itu sendiri. Beliau adalah manusia
yang mempunyai hati dan jiwa yang bersih, sosok teladan panutan umat, orang
yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, tidak pernah menipu, dan selalu tetap
berada pada jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah. Dengan sosok kepribadian
yang seperti itulah, Yesus telah merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Dan
siapapun manusia dimuka bumi ini akan bisa melihat dan merasakan kehadiran
Tuhan dalam dirinya, kalau ia memiliki sifat-sifat kepribadian yang baik dan
hati yang bersih. Sebab hanya kepada orang dengan hati yang bersih dan pribadi
yang baik sajalah, Tuhan akan mendatangi, menjaga, dan melindunginya agar
senantiasa tetap berada dijalan yang lurus, yakni jalan keselamatan, sehingga
ia tidak akan mudah untuk tersesat.
Jadi, tidak mungkin kita
menafsirkan Yohanes 14:9 mentah-mentah, Yesus menjelma sebagai Tuhan dan Tuhan
menjelma sebagai Yesus. Tafsiran yang tepat adalah menafsirkan secara spiritual
dan bukan secara fisik, sebab kita tahu bahwa antara Yesus dan Tuhan itu adalah
dua sosok pribadi yang berbeda.
Perbedaan ini dapat dilihat dalam
suatu peristiwa yang menceritakan : Pada suatu hari, untuk membuktikan dan
menuntaskan perdebatan, Yesus mengangkat seorang anak dan berkata pada
pengikutnya :
"Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaku, ia menyambut aku; dan
barang siapa menyambut aku, ia menyambut Dia, yang mengutus aku." (Lukas 9:48)
Arti ayat di atas secara gamblang
menjelaskan bahwa kalau kita menghormati perintah, nasehat, ajaran, atau
petunjuk-petunjuk Yesus, maka berarti kita telah menghormati Allah yang
mengutus Yesus kepada kita. Dalam hal ini, Allah dan Yesus adalah dua figur
yang terpisah dan berbeda. Allah sebagai pengutus yang menyuruh, dan Yesus
sebagai orang yang diutus yang disuruh.
Lebih jelasnya lagi, kita dapat
melihat ketika Yesus dalam Alkitab berkata :
"Barang siapa yang percaya kepadaku, ia bukan percaya kepadaku,
tetapi kepada Dia yang telah mengutus aku. Dan Barang siapa yang melihat aku,
ia melihat Dia yang telah mengutus aku." (Yohanes 12:44-45)
"Barang siapa yang membenci aku, ia membenci juga Bapaku ... namun
sekarang walaupun mereka telah melihat keduanya, mereka membenci, baik aku
maupun Bapaku." (Yohanes 15:23-24)
"Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau
satu satunya Allah, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3)
"Benar, benar, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang hamba
tidaklah lebih tinggi daripada tuannya; ataupun seorang utusan daripada dia
yang mengutusnya." (Yohanes 13:16)
Sangat jelas bukan? Kalau Yesus
dan Allah itu adalah dua pribadi yang berbeda dan tidak bisa disatukan dalam
pengertian fisik. Sepanjang masa tugas kenabiannya, Yesus berulang-ulang
berkata bahwa dia dikirim (diutus) oleh Bapanya.
Dia Telah Mengaruniakan
AnakNya yang Tunggal
Menurut Gereja, Yesus mempunyai
kehidupan yang abadi karena ia adalah Anak Tunggal Tuhan, seperti ayat berikut
ini :
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia telah
mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohannes 3:16)
Tentu kami percaya Yesus, pada
setiap apa yang ada padanya dan kami pun tidak bisa mempercayai apa yang memang
tidak ada padanya. Orang-orang muslim percaya Yesus adalah seorang Imam Mahdi,
"Roh dari Allah", "Perkataan dari Allah (Kalimatullah)",
Nabi yang terpercaya, sebagaimana juga beliau adalah utusan Allah dan anak
lelaki dari Perawan Maria. Tetapi, kami tidak percaya bahwa Yesus diperanakkan
dari Allah." Terbukti Penulis Injil Yohanes tidak pernah menulis, Yesus
adalah "peranakan" dari Allah.
Dalam Injil terjemahan bahasa Indonesia,
dalam Injil Yohanes pun anda akan temukan istilah anak tunggal Allah, tetapi
menurut penulis risalah ini, terjemahan tadi merupakan penyimpangan dari
istilah awal yang tertulis dalam injil berbahasa latin.
Kalau anda pernah mendapatkan
salinan dari "Injil Gideon", yang diterjemahkan dalam 26 bahasa dunia
yang popular yang dibagikan secara bebas sejak tahun 1899, ke seluruh dunia,
oleh Perkumpulan Gideon, mungkin anda
sekalian akan terheran-heran menemukan betapa dalam terjemahan bahasa Inggris
pada Yohanes 3:16, para redaksi (penterjemah) menggunakan istilah tradisional "Dia
hanya peranakkan." Sedangkan, dalam beberapa bahasa lain para redaksi
menggunakan istilah "Dia anak laki-laki yang khas" atau "Dia
salah satu dari anak laki semacam itu."
Menanggapi perbedaan tersebut,
pakar Alkitab bernama Profesor Paul B. Duff, dari Universitas George
Washington, mengatakan bahwa Yohanes 3:16 dan 1:18 masing-masing mempunyai kata
'monogenes' dalam bahasa Yunani Kuno. Kata aslinya berarti "semacam."
Jadi, penggunaan kata "unik atau khas" adalah terjemahan yang baik.
Terkadang kita akan menemukan terjemahan yang menggunakan istilah "hanya
peranakkan," ini dikarenakan adanya pertentangan kuno dalam gereja. Ketika
menanggapi klaim pendukung Arianus bahwa Yesus dibuat tetapi tidak
diperanakkan, Jeremi (tokoh pada abad ke 4) menterjemahkan istilah bahasa
Yunani Kuno : 'monogenes' ke dalam bahasa Latin 'unigenitus' yang artinya
"hanya peranakkan". (Injil
Anchor, volume 29, hal. 13-14). Adapun istilah bahasa Yunani Kuno untuk kata
"peranakkan" adalah 'gennao' seperti yang ditemukan pada Matius 1:2,
yang mana tidak digunakan oleh Yohanes.
Jadi istilah anak tunggal pada
Yohanes 3:16 adalah penyelewengan dari istilah “diperanakkan”, yang juga
sebenarnya tidak pernah dibuat oleh penulis injil Yohanes. Hanya para pendukung
gereja saja yang suka membuat-buat dan terlalu berlebih-lebihan, menjuluki
Yesus sebagai “anak tunggal” satu-satunya dari Tuhan. Pencetus “Yesus sebagai
anak tunggal Tuhan” ini tidak lain adalah Paulus, agar Yesus dapat dikatakan
sebagai manusia istimewa (manusia ilahi) yang tidak memiliki dosa. Peristiwa
ini dapat dilihat pada Kitab Kisah Para Rasul yang menceritakan :
“Ketika itu juga ia (Paulus) memberitakan Yesus dirumah-rumah ibadat,
dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.” (Kisah Para Rasul 9:20)
Dalam suratnya Paulus mengatakan
:
“..Dan menurut Roh Kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara
orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan
kita.” (Roma
1:4)
Selanjutnya bukan hanya Paulus,
para pendukung Paulus termasuk roh jahat pun ikut-ikutan latah mengatakan bahwa
Yesus adalah Anak Allah (dalam pengertian tunggal dan berkuasa).
“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” (Markus
1:1), “Kata Natanel kepadanya : ‘Rabbi (Tuan Guru), Engkau adalah Allah, Raja
orang Israel’.”
(Yohanes 1:49)
“Yesus mengatakan kepadanya : ‘Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang
ini!’ Dengan keras ia (roh jahat itu) berteriak : ‘Apa urusanmu dengan aku, hai
Yesus, Anak Allah Yang Maha Tinggi?’ Demi Allah, jangan siksa aku!” (Markus 5:8)
Sebenarnya pengertian Yesus
sebagai anak tunggal Tuhan satu-satunya sudah ditolak mentah-mentah oleh Umat
Yahudi (yang paling mengerti tentang sosok Yesus). Mereka tidak dapat menerima
peningkatan status Yesus dari anak Maria menjadi Anak Allah, dalam pengertian
yang tunggal. Umat Yahudi memang mengaku bahwa mereka juga sebenarnya adalah
anak-anak Allah, umat pilihan Allah, tetapi kalau pengatributan anak Allah
secara individu untuk Yesus oleh Paulus, sangat tidak lazim bagi mereka. Oleh
karena itu ketika Paulus mengumumkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka
menolak dan menentangnya dengan keras. Ini dijelaskan oleh Paul Tillich sebagai
berikut :
“Anak Allah adalah istilah yang sangat umum
dalam ajaran penyembah berhala. Tuhan-tuhan penyembah berhala beranak pinak di
bumi. Oleh karena itu, mereka menambahkan istilah anak tunggal.” (Paul Tillich,
“A History of Christian Thought”)
Pengertian kata “Anak Allah” atau
“Anak Tuhan” menurut orang-orang Yahudi itu sebenarnya sangat banyak, tapi yang
jelas artinya bukan “Tuhan” atau “Anak Tuhan” dalam arti biologis dan
satu-satunya. Arti kata “Anak Tuhan” ini sebenarnya hanyalah arti kiasan dan
penghormatan yang diberikan oleh orang-orang Yahudi kepada :
1.
Orang yang membawa kedamaian dan kasih sayang kepada orang lain. (Matius
5:9)
2.
Orang yang mengasihi sesamanya dan mentaati perintah Allah. (Matius
5:45)
3.
Orang-orang yang diangkat, dipilih, diutus, dan dipercaya sebagai nabi
dan rasul oleh Allah untuk menyampaikan ajaran Tauhid. (Keluaran 4:22, II
Samuel 7:14, dan I Tawarikh 22:10)
4.
Orang-orang yang disayang atau dipuji Allah karena ketaqwaannya
menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. (Ulangan 14:1)
Jadi, “Anak Tuhan” atau “Anak
Sulung” Tuhan itu jumlahnya sangat banyak bisa mencapai milyaran orang, dan tak
terhitung banyaknya. Kalau kita urutkan mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim,
Luth, Ismail, Ishaq, Yakub, Yusuf, Musa, Daud, Salomo, Elisa, Daniel, Yunus,
Zakaria, Maria, Elizabeth, Yohanes Pembaptis, murid-murid Yesus, Nabi Muhammad
SAW, sahabat para nabi, para tabi’in, para ulama, dan masih banyak lagi yang
lain. Dan mereka semua tidak pernah dianggap sebagai Tuhan oleh para
pengikutnya.
Sementara itu orang-orang
Yunani-Romawi justru sangat senang ketika kata-kata “Anak Tuhan” dijadikan oleh
Paulus sebagai figur yang penting untuk menuhankan Yesus, sebab pekerjaan
Paulus itu sangat mendukung Struktur Ketuhanan Penyembahan Berhala dalam
filsafat Yunani yang pernah mereka anut sebelumnya. Anak Allah inilah yang akan
mewakili Allah menyelamatkan manusia di dunia dengan menunjukkan kepada manusia
kode-kode dan rambu-rambu yang tepat untuk dapat kembali dengan selamat bersatu
dengan Allah (Similitude). Nah, ajaran inilah yang kemudian dianut oleh para
pemimpin gereja dan dijadikan landasan dalam ajaran Kristen.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia
ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” (Yohanes 3:16)
Istilah “Anak” sebagai arti
kiasan serupa dengan istilah “Bapa” yang banyak kita temukan dalam Alkitab.
Sebagai contoh, Yesus berkata pada Maria :
“... Pergi ke saudara-saudaraku, dan katakanlah kepada mereka, sekarang
aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu ..." (Yohanes 20:17)
Ayat ini membuktikan bahwa Allah
bukan hanya Bapa-nya Yesus tapi juga Bapa dari saudara-saudara Yesus sendiri.
Ini membuktikan bahwa istilah Bapa itu hanyalah kiasan untuk mengungkapkan
kasih sayang.
Seperti juga ungkapan untuk Yesus
sebagai "anak laki unik atau khas" ('monogenes' dalam bahasa Yunani
Kuno), karena memang Yesus, tidak seperti kita, beliau diciptakan tanpa Bapak
dalam artian ujud fisik seorang ayah.
Sebenarnya julukan “Anak Allah”
atau “Anak Tuhan” yang diberikan oleh orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut,
tidak dapat diterima oleh Yesus sendiri. Yesus menolak dirinya disebut dengan
“Anak Allah” atau “Anak Tuhan.” Penolakan Yesus tersebut dapat dilihat dalam
Injil Lukas 4:41, ketika Yesus sedang menyembuhkan orang-orang yang sakit,
banyak orang dan juga setan-setan yang keluar menonton, lalu pada ribut dan
berteriak-teriak memanggil Yesus : “Engkau adalah Anak Allah!”. Gara-gara
ucapan tersebut, Yesus marah dan melarang mereka dengan keras untuk berbicara
seperti itu, karena mereka tahu bahwa dirinya hanyalah seorang Mesias.
Adapun sebutan “Mesias” itu
hanyalah gelar yang diberikan orang-orang Yahudi kepada Yesus, padahal Yesus
sendiri sebenarnya tidak suka kalau dirinya dibangga-banggakan dengan gelar
tersebut. Hal itu dapat kita lihat pada Injil Lukas 9:18-21, ketika Yesus
bertanya kepada murid-muridnya : “Menurut anggapan orang banyak, siapakah aku
ini?” Mereka menjawab : “Yohanes Pembaptis.”
Ada yang
menjawab : “Elia.” Sedangkan yang lainnya ada yang bilang : “Salah satu nabi
terdahulu yang telah bangkit.”. Lalu Yesus berkata : “Bukan…bukan itu, coba
kalian lihat lagi diriku ini, siapakah aku ini sebenarnya?” Petrus kemudian
menjawab : “Engkau adalah Mesias dari Allah.” Akhirnya Yesus pun tidak senang
dengan ucapan Petrus tersebut. Ia melarang mereka agar jangan sekali-kali
mengucapkan hal itu dan menceritakannya kepada orang lain.
Jika Orang Tak
Terlahir Kembali, Dia Tak Dapat Melihat Kerajaan Allah
Menurut Gereja, umat Kristen
adalah golongan orang-orang yang terlahir kembali dan untuk itu mereka berhak
memperoleh tiket ke sorga, seperti bunyi ayat berikut ini :
Yesus berkata : "Benar, benar, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
jika seseorang tidak dilahirkan kembali, dia tidak dapat melihat Kerajaan
Allah." (Yohanes
3:3)
Pada ayat tersebut, sebenarnya
penulis Injil Yohanes tidak pernah menggunakan ungkapan "dilahirkan
kembali." Teks Alkitab berbahasa Yunani Kuno yang asli menyatakan bahwa
ungkapan yang digunakan oleh penulis Injil Yohanes adalah "terlahir dari
atas." Kata bahasa Latin yang digunakan oleh penulis Injil Yohanes adalah
'anothen' ('ano' + 'then'), 'ano' artinya 'atas' dan akhiran 'then' bermakna
'dari'.
Karena itu, apa yang Yesus
katakan bahwa "sesungguhnya jika seseorang lahir dari atas, dia tidak
dapat melihat Kerajaan Allah." Dan kedengarannya masuk akal. Karena tidak
seorangpun diciptakan hidup, "lahir dari atas," tidak seorangpun
dapat melihat Kerajaan Sorga selama masa hidupnya. Konsep "lahir
kembali" untuk melihat Kerajaan Sorga adalah suatu perubahan ide yang
dibuat untuk menanamkan konsep dari pembaptisan.
Kata yang sama 'anothen' muncul
dalam ajaran yang sama dan dalam bagian yang sama pada Yohanes 3:31. Disini
para redaksi telah menterjemahkan kata itu sebagai "dari atas" dan
tidak "kembali." Dukungan ini sesuai dengan logika Yesus yang
mengatakan "lahir dari atas."
Untuk memasuki Kerajaan Sorga
seseorang memang harus terikat dan mau menerima Firman-Firman dari Allah untuk
dilaksanakan secara patuh tanpa membantah. Adapun perintah Allah yang terkait
dengan upacara pembaptisan (perjanjian atau pembai’tan) ternyata diketahui
sebagai “perjanjian khitanan”, yakni : pengeratan daging kulit khatan atau
bersunat bagi laki-laki. Perjanjian bersunat ini adalah perjanjian yang kekal
abadi antara Allah dan manusia. Perjanjian ini dapat dilihat pada Alkitab
Kejadian 17:10-14.
Dapatkah sebuah perjanjian abadi
dicabut atau ditarik kembali dengan secara sepihak? Apakah Yesus mencabutnya?
Tidak, Yesus justru disunat dalam usia delapan hari. (Lukas 2:21). Begitupula
dengan lelaki Muslim, mereka juga disunatkan. Apakah orang-orang Kristen
disunatkan dalam arti dipotong "daging dari kulit khatan mereka"?
Ternyata kebanyakan orang-orang Kristen mengabaikan perintah bersunat tersebut.
Bersunat atau tidak, itu tidak penting bagi mereka.
Bagi orang-orang yang mengabaikan
perintah bersunat itu, Yesus mengancam dan berkata :
"Karena
itu barangsiapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang
paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki
tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang memelihara
dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat
yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:19)
Kepadaku
(Yesus) Telah Diberikan Segala Kuasa Disorga dan Dibumi
Gereja menuhankan Yesus, karena Yesus memiliki kekuasaan disorga dan dibumi yang
telah diberikan oleh Tuhannya, sebagai berikut :
“Yesus mendekati mereka
dan berkata : Kepadaku telah
diberikan segala kuasa disorga dan dibumi’.” (Matius 28:18)
Sebenarnya ayat
tersebut adalah bagian dari Injil Matius
pasal 28:16-20, yang sudah dicap oleh para pakar Alkitab dan sejarawan Kristen
sebagai ayat palsu yang sesat dan menyesatkan. Injil Matius pasal 28 seharusnya
berakhir pada ayat 15, sedangkan lima ayat berikutnya, Matius 28:16-20, adalah ayat-ayat yang baru ditambahkan oleh
gereja di kemudian hari. Mereka yang dikaruniai akal sehat dan membaca Matius
pasal 28 ini dengan cermat akan segera mendeteksi bahwa Matius 28:15 memang seharusnya merupakan penutup Injil Matius.
"Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti
yang dipesankan kepada mereka. Dan cerita
ini tersiar diantara orang Yahudi sampai saat ini". (Matius 28:15)
Perhatikan
kata-kata, "cerita ini tersiar sampai saat ini" menunjukkan bahwa
peristiwanya sudah lama berlaku. Ini memperlihatkan bahwa Injil ini sudah lama
selesai ditulis. Cerita ini sudah menjadi cerita rakyat yang terus dipupuk
selama puluhan tahun, baru kemudian ayat 16-20 ditambahkan.
Namun karena
Gereja ingin menambahkan doktrin keimanan mereka dalam Injil, sehingga tanpa
malu-malu mereka menambahkan ayat-ayat palsu tersebut, walaupun akhirnya
“janggal” di kuping yang mendengarnya.
Kepalsuan
Matius 28:16-20 tersebut diungkap oleh salah satu para pakar Alkitab dan
Sejarawan Kristen bernama Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel
tahun 1959, dalam bukunya “The
Original New Testament”, hal. 124, mengatakan :
“Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup Injil (Matius).
Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan isinya, nampak sebagai
(ayat-ayat) yang baru ditambahkan kemudian.”
Selanjutnya, Robert Funk, Professor Ilmu Perjanjian
Baru, Universitas Harvards, dalam bukunya “The Five
Gospels”, juga mengomentari ayat-ayat tambahan pada Matius 28 itu,
sebagai berikut :
“Perintah utama dalam Matius 28:16-20....diciptakan
oleh para penginjil....memperlihatkan ide untuk menyebarkan ajaran Kristen ke
seluruh dunia. Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide untuk menganjarkan
ajarannya ke seluruh dunia dan (Yesus) sudah pasti bukan pendiri lembaga ini
(agama Kristen). Ayat ini tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus.”
Memang
perbuatan gereja menambah-nambahi ayat 16-20 pada Injil Matius 28 itu
benar-benar sangat ajaib. Dan bahkan lebih ajaib lagi kalau anda membaca
ayat-ayat tambahan dari gereja tersebut, dimana anda akan menemukan banyak
keanehan-keanehan yang tidak masuk akal. Sebagai contoh kita bisa melihat pada
Matius 28:18 yang konon “katanya” adalah pernyataan Yesus sendiri, Yesus
berkata : “Kepadaku telah diberikan
segala kuasa disorga dan dibumi.”. Kita ingin bertanya kepada orang-orang
Kristen, benarkah Yesus pernah berkata seperti itu?
Sangat aneh
kalau Yesus dalam hidupnya pernah berkata bahwa dirinya sudah diberikan
kekuasaan oleh Tuhan untuk menguasai bumi dan sorga. Sebab kenyataannya dapat
kita lihat, pada saat Yesus akan ditangkap di taman Getsemani oleh pasukan
Romawi, semua muridnya malah pada lari meninggalkan beliau. (Markus 14:50).
Seandainya Yesus berkuasa dibumi dan disorga, bagaimana mungkin
murid-muridnya bisa lari meninggalkannya? Lalu kepada siapa murid-muridnya
harus mencari perlindungan? Apakah kepada setan? Bukankah yang mereka
tinggalkan adalah sosok Tuhan juga yang bisa melindungi mereka, karena Yesus menguasai sorga dan bumi?
Dengan alasan tersebut kita sudah
dapat membuktikan bahwa Matius 28:18
adalah ayat palsu yang tidak pernah diucapkan oleh Yesus. Dalam hal ini kita
harus menggunakan akal sehat untuk menyaring mana yang masuk akal dan mana yang
tidak. Kalau Tuhan berkehendak, mungkin sekali tiup saja, pasukan Romawi sudah
berterbangan seperti kertas dihembus badai. Dan memang murid-murid Yesus tidak
pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan yang harus mereka sembah. Buktinya dalam
keadaan “kepepet”, mereka lebih memilih lari menyelamatkan diri dan membiarkan
"Tuhan" mereka ditangkap dan dihukum salib oleh pasukan Romawi.
Keanehan lainnya adalah, manakala
Yesus diberikan kekuasaan untuk menguasai sorga dan bumi, maka tentu saja
kekuasaan Tuhan Bapa tidak berlaku lagi, karena telah diserahkan semua kepada
Yesus? Itu artinya Tuhan Bapa telah pensiun sebagai Tuhan, karena Dia tidak
mempunyai kekuasaan lagi. Padahal kenyataannya, Tuhan Bapa masih dihormati dan
disembah-sembah dalam Alkitab. Jadi, buat apa menyembah Tuhan Bapa yang sudah
pensiun?
Yang lebih tidak masuk akal lagi
adalah saat Yesus yang telah diberikan kekuasaan sebagai Tuhan tersebut,
ternyata mati terbunuh ditiang salib. Itu artinya, tidak ada Tuhan lagi yang
harus disembah oleh umat Kristen. Karena Tuhan yang pertama (Tuhan Bapa) telah
pensiun, dan Tuhan yang kedua (Tuhan Yesus) telah mati secara menggenaskan.
Alhasil, umat Kristen pun akhirnya tidak mempunyai Tuhan lagi kalau begitu !?
Kesimpulannya jelas, dalam hal ini para pendukung Paulus dan gereja
berupaya untuk merubah, menambahkan atau mengurangi ucapan-ucapan Yesus,
atau sekalian menciptakan ucapan-ucapan baru dan mengatakan bahwa ucapan
tersebut diucapkan oleh Yesus (misalnya Matius 28:19). Dengan kata lain gereja
membuat ayat-ayat palsu untuk disuapkan
ke mulut Yesus, agar seolah-olah Yesus-lah yang telah berkata seperti itu,
dengan maksud untuk mendukung ide dan doktrin keimanan mereka tentang
kematian, kebangkitan,
serta
terangkatnya Yesus ke sorga sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.
Uskup Agung Prof. David Jenkins, salah seorang pemimpin Gereja tertinggi di
Inggris, dalam wawancaranya dengan TV di London dalam program "Credo"
menegaskan bahwa ajaran ketuhanan dan kebangkitan Yesus sesungguhnya tidak benar. Ia mengatakan :
"Ajaran tentang ketuhanan
dan kebangkitan Yesus sesungguhnya tidaklah benar, tetapi baru ditambahkan
dalam cerita tentang Yesus oleh para penulis Kristen untuk mendukung keimanan
mereka bahwa Yesus adalah Kristus.”
Begitu juga
dengan Prof. Alvar Ellegard dalam bukunya “Jesus One Hundred Year Before
Christ”, hal. 19, yang mendukung fakta tersebut dengan mengatakan :
"Tujuan mereka adalah untuk meyebarkan cerita
tentang Yesus yang dikemas sesuai dengan ajaran yang ditetapkan oleh gereja
mereka, yang dipungut dari berbagai sumber yang cocok dengan keinginan mereka,
baik dari sumber sejarah, cerita dongeng, maupun khayalan.”
Kita mengetahui
bahwa selama hidupnya Yesus tidak pernah dianggap sebagai Tuhan oleh para
murid-muridnya, keluarganya, kerabat, maupun pengikutnya. Mereka tidak pernah
menyembah Yesus sebagai Tuhan, sebab mereka tahu persis siapa Yesus itu, dan
mereka juga hidup siang dan malam bersama dengan Yesus. Saudara-saudaranya,
ibunya, keluarganya melihat Yesus lahir dan tumbuh sebagai seorang bayi. Dalam
kenyataan seperti itu, mereka tentu tidak mungkin membayangkan bahwa yang
menangis dalam ayunan atau yang “popoknya” basah adalah Tuhan yang pernah
berpartisipasi dalam penciptaan jagat raya atau penguasa alam semesta. Begitu
pula murid-murid serta para pengikutnya, mereka melihat Yesus sebagai seorang
Rabi (guru) mengajarkan Taurat dan berkhotbah di rumah ibadat setiap hari
Sabtu. Dari berbagai sumber yang dapat diperoleh, tidak ada satu pun bukti
bahwa Yesus pernah disembah-sembah sebagai Tuhan di rumah-rumah ibadat. Para
murid dan pengikutnya mengenal Yesus sebagai pemimpin mereka, sebagai tuan
mereka, dan sebagai nabi, tetapi sama sekali mereka tidak akan pernah
menganggap bahwa yang naik berkhotbah di mimbar adalah "Tuhan penguasa
alam semesta." Semua orang pada zaman Yesus itu justru melihat Yesus itu
hanya sebagai nabi atau rasul utusan Allah saja, dan bukan Tuhan.
"Dan mereka berusaha menangkap dia, tetapi mereka takut kepada orang
banyak karena orang banyak itu menganggap dia nabi". (Matius 21:46)
Dalam kehidupan
dan tugas kerasulannya, Yesus telah mengajarkan kalimat pengakuan iman atau
“sahadat” sebagai pegangan bagi murid-murid dan pengikut-pengikutnya agar tidak
tercampak ke neraka.
"Inilah hidup yang kekal itu (masuk sorga), yaitu bahwa mereka mengenal
Engkau (Allah) satu-satunya Tuhan yang benar. Dan mengenal Yesus Kristus yang
Engkau utus". (Yohanes
17:3)
Pada anak
kalimat pertama dikatakan : "...mengenal
Engkau satu-satunya Allah yang benar". Itu artinya bahwa Allah adalah
Tuhannya Yesus, yang merupakan Tuhan yang benar. Jadi, kalau ada Tuhan lain
yang diperkenalkan orang, itu berarti cuma tuhan-tuhanan saja, sebab Tuhan yang
benar hanya ada satu yakni, Tuhan Allah. Dengan demikian Yesus itu bukanlah
Tuhan.
Sementara itu
pada anak kalimat kedua dikatakan : "Dan
mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus", ini memperlihatkan bahwa
Yesus hanyalah orang yang diutus oleh Allah sebagai Rasul untuk Bani Israil.
Oleh karena itu Yesus bukan Tuhan karena dari semua ayat yang tersebar dalam
Alkitab, tidak ada satupun pernyataan bahwa Tuhan mengutus Tuhan, melainkan
Tuhan mengutus Yesus sebagai Rasul. Pengakuan Yesus sebagai Rasul utusan Tuhan
ini dapat dilihat dari pernyataan :
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan
pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya". (Yohanes 17:4)
Jadikanlah Semua
Bangsa MuridKu dan Baptislah Mereka
Gereja sangat mempercayai konsep
“Tritunggal atau Trinitas”, karena dalam Alkitab telah dinyatakan sebagai
berikut :
“Yesus berkata : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." (Matius 28:19)
Sebenarnya
pembaptisan atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus seperti yang tertulis dalam
Injil Matius 28:19 tersebut diatas adalah aneh dan tidak masuk akal. Pada masa
kehidupan Yesus dan murid-muridnya tidak pernah dikenal, nama Bapa dan Roh
Kudus, diikut-ikutkan dalam upacara pembaptisan.
Pembaptisan
yang dikenal pada zaman Yesus berbeda dengan zaman gereja sekarang ini. Pada
zaman Yesus dan murid-muridnya, pembaptisan diartikan sebagai tanda perjanjian
atau tanda kesetiaan yang harus dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang ingin
menjadi anggota kelompok “Jalan yang Lurus”, yang dirikan oleh Yohanes
Pembaptis. Mereka yang ingin menjadi anggota kelompok Yohanes Pembaptis harus
dibaptis atas nama Yohanes serta menyatakan kesetiaanya kepada Yohanes Pembaptis.
Yesus juga adalah salah satu anggota yang terdaftar dalam kelompok Yohanes
Pembaptis, dan ia juga dibaptis langsung oleh Yohanes Pembaptis. Salah satu
syarat untuk dapat diterima sebagai anggota kelompok Yohanes Pembaptis adalah
bahwa seseorang harus sudah disunat atau dikhitan terlebih dahulu.
"Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan
keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang,
perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara
kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi
tanda perjanjian antara Aku dan kamu.” (Kejadian 17:9-11)
Perjanjian untuk bersunat
tersebut juga ditaati oleh Yesus.
“Maka ketika Yesus lahir dan genap berumur delapan hari, Yesus langsung
disunat : Dan ketika genap delapan
hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut
oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas
2:21)
Sebagai anggota
kelompok, maka selanjutnya ia akan terikat dengan kewajiban-kewajiban yang
dibebankan oleh kelompok Yohanes Pembaptis. Kewajiban-kewajiban itu antara lain
berupa, mengucapkan pengakuan iman : “Tiada Tuhan selain Allah”, mengakui
Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah, melaksanakan ibadah-ibadah sesuai dengan
tuntunan perintah Allah, serta menjauhi larangan-larangan-Nya.
Seiring dengan
waktu, Yesus pun kemudian diangkat sebagai rasul oleh Allah, dan selanjutnya ia
membentuk kelompok pembaptisan sendiri, dengan nama yang sama seperti nama
kelompok Yohanes, yakni kelompok “Jalan yang Lurus.” Adapun tata cara
pembaptisan dalam kelompok Yesus sama persis dengan kelompok Yohanes.
Perbedaannya hanya dalam hal pengucapan tanda setia, yakni dibaptis “atas nama
Yesus” dan mengucapkan pengakuan iman sebagai berikut :
“Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang
telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)
Atau dalam
bahasa orang Islam berbunyi :
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan
aku bersaksi bahwa Yesus adalah utusan Allah.”
Pembaptisan yang dimaksudkan oleh
Yesus dan Yohanes Pembaptis bukanlah dalam arti memandikan atau mencelupkan
seseorang kedalam air dalam arti fisikal, tetapi lebih bermakna metafora, yakni
“mencelupkan” seseorang kedalam
keimanan yang tulus berserah diri kepada Tuhannya, dengan tidak
menyekutukan-Nya dengan segala bentuk kemusyrikan apapun juga. Dalam artian
pembaptisan itu adalah suatu bentuk pencerahan yang menandakan pengetahuan yang
sebenarnya tentang Allah dan kehendak-Nya. Pengetahuan ini bersinar dengan
cemerlang pada roman muka dan tingkah laku setiap orang yang mau berserah diri
kepada-Nya. Orang yang dibaptis adalah orang yang dapat melihat tanda-tanda
kebesaran Allah pada setiap gejala alam. Apapun yang menimpanya, dalam
kebahagiaan atau penderitaan, Allah tetap ada dalam hatinya. Seruan untuk
beribadah kepada-Nya tanpa boleh membantah adalah bukti hidup dari
pencerahannya. "Tidak ada apapun
yang patut disembah kecuali Allah," merupakan protes abadi terhadap
semua mereka yang menyekutukan Tuhan dengan obyek apapun yang tidak patut
disembah. Setiap muslim juga dibaptis dengan cara yang sama, mengakui : "Saya bersaksi bahwa hanyalah Allah
yang patut disembah."
Dalam "Peake's Commentary on
the Bible" ('Uraian Peake mengenai Injil') yang telah diterbitkan sejak
tahun 1919, dan merupakan buku standar referensi bagi para siswa yang mendalami
kitab Injil, mencatat bahwa Injil Matius 28:19 sebenarnya merupakan bahasa yang
dibuat gereja untuk menjalankan misinya mengkristenkan orang banyak di seluruh
dunia. Banyak komentator dan para pengamat Alkitab yang meragukan keaslian
rumusan tritunggal pada Injil Matius 28:19 tersebut, karena di tempat lain,
perjanjian baru tidak mengenal rumusan tritunggal seperti itu. Sebenarnya
pembaptisan yang dilakukan oleh murid-murid Yesus terdahulu hanya dilakukan
atas nama Yesus saja, dan tidak pernah mengikutsertakan nama Roh Kudus. Hal ini
dapat dilihat dalam Kisah Para Rasul yang lengkapnya tertulis :
“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka terharu, lalu mereka
bertanya pada Petrus dan rasul rasul yang lain : "Apakah yang harus kami
perbuat saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka : "Bertobatlah
dan hendaklah kamu masing masing memberi dirimu baptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa-dosamu, maka
kamu akan menerima karunia Roh Kudus." (Kisah Para Rasul 2:37-38)
Mungkin jika seandainya
pernyataan Injil Matius 28:19 itu benar, dalam arti benar-benar ucapan Yesus
yang asli yang telah menyuruh para muridnya untuk membaptis manusia dalam nama
Bapa, Yesus dan Roh Kudus, maka mengapa mereka hanya membaptis orang-orang
Yahudi hanya dengan menggunakan nama Yesus saja? Mengapa mereka begitu
beraninya membaptis orang lain tanpa mengikutsertakan nama Bapa dan Roh Kudus?
Seharusnya, Rasul Petrus menjadi orang pertama yang mencontohkan ucapan “Dalam
nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, sebab ia adalah salah satu murid-murid pertama
yang menerima pengajaran langsung dari Yesus. Tapi nyatanya, Petrus yang hidup
siang-malam bersama Yesus, tidak sekalipun pernah mendengar ucapan : “Atas nama
Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, keluar dari mulut Yesus.”
Sementara itu, Tom Harpur,
penulis dari beberapa buku terlaris dan mantan profesor dari Perjanjian Baru,
menulis dalam bukunya “Demi Kristus”, Ia mengatakan : "Semua ilmuwan,
kecuali ilmuwan kolot, setuju bahwa paling sedikit bagian terakhir dari
perintah pada Injil Matius 28:19 baru dimasukkan kemudian. Sebab rumusan
membaptis dalam Nama “Bapa, Yesus dan Roh Kudus”, tidak terdapat dimanapun juga
dalam perjanjian baru, kecuali hanya dalam Injil Matius saja, dan kita dapat
mengetahuinya dari bukti-bukti yang ada dalam perjanjian baru diluar Injil
Matius. Pada masa-masa awal, Gereja tidak pernah membaptis orang-orang dengan
menggunakan kata-kata “Dalam Nama Bapa Yesus dan Roh Kudus.” Mereka hanya
membaptis dengan menggunakan kata : "kedalam" atau "dalam"
nama Yesus sendiri."
Salah seorang
Pakar Pemikiran Kristen, bernama Paul
Tillich dalam bukunya A History of Christian Thought, juga membenarkan bahwa pembaptisan pada
zaman Yesus, hanya menggunakan kalimat atas nama Yesus. Ia berkata :
“Pembaptisan merupakan upacara memasuki suatu
kelompok.... Lalu seseorang itu kemudian akan dibaptis atas nama Kristus.
Adapun nama Tuhan Bapa dan Roh Kudus baru ditambahkan kemudian (oleh gereja).”
Bahkan kalau
orang-orang Kristen bisa lebih teliti membaca Alkitabnya, disana akan ditemukan
dengan jelas bahwa ternyata, ide “Roh Kudus” sebagai salah satu Tuhan dalam
Trinitas yang harus disembah-sembah, tidak pernah dikenal pada zaman Yesus. Hal
ini dapat dilihat pada Kitab Kisah Para Rasul, ketika Paulus menanyai
murid-murid Yohanes Pembaptis di Efesus :
"Sudahkah kamu
menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan
tetapi mereka menjawab dia : "Belum, bahkan kami belum pernah
mendengar, bahwa ada Roh Kudus." (Kisah Para Rasul 19:2)
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa sebenarnya Matius 28:19 telah
dinyatakan sebagai ayat palsu oleh para pakar Alkitab dan Sejarawan. Salah satu
pakar Alkitab dan sejarah Kristen bernama Hugh J. Schonfield, nominator pemenang
Hadiah Nobel tahun 1959, dalam bukunya “The
Original New Testament”, hal. 124, mengatakan :
“Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup
Injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari
kandungan isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang baru ditambahkan kemudian.”
Dan memang kalau kita perhatikan, penutup dari keseluruhan catatan
peristiwa yang diceritakan dalam Injil Matius lebih tepat jika diletakkan pada
Injil Matius 28:15, sebab terdapat kalimat penutup yang berbunyi : “Dan cerita ini tersiar diantara orang Yahudi
sampai sekarang ini.” Kalimat penutup Injil Matius 28:15 dapat kita
disamakan dengan kata “Tamat” dalam sebuah novel. Artinya, uraian cerita
tersebut sudah selesai dan tidak akan bersambung lagi.
Tapi anehnya cerita Matius yang sebenarnya sudah tamat sampai pasal 28 ayat
15 itu, justru bersambung lagi menjadi ayat 16 sampai dengan 20. Suatu cerita
yang aneh, dan anda tidak perlu heran, karena cerita tambahan tersebut memang
sengaja disisipkan oleh para pendukung Paulus dan gereja untuk mendukung ide dan doktrin keimanan mereka tentang
kematian, kebangkitan,
serta
terangkatnya Yesus ke sorga sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.
Sebab Ada Tiga yang
Memberi Kesaksian di Sorga
Gereja juga mengklaim bahwa ayat
Trinitas juga dinyatakan dalam Alkitab sebagai berikut :
"Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di Sorga, Bapa, Firman, dan
Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu." (1 Yohanes 5:7)
Kutipan teks tersebut memang
sempat muncul dalam Injil King’s James Version (KJV) tetapi telah dihilangkan
oleh para editor versi-versi baru ini seperti Injil Revisi Standar Version
(RSV), Kitab Injil New American Standar Version, Kitab Injil Philips Modern
English, karena kutipan teks tersebut tidak terdapat dalam naskah bahasa Yunani
yang lebih tua. (Dalam terjemahan bahasa Indonesia,
terjemahan di atas masih dipakai, lalu timbul keingintahuan kita mengapa dalam
versi lain justru malah sudah dihilangkan?).
Sejarawan terkenal, Edward Gibbon
menyebut tambahan pada Injil ayat 1 Yohanes 5:7 itu dengan nama "Pious
Fraud", dalam buku sejarahnya yang terkenal 'Kemunduran dan Jatuhnya
Kerajaan Romawi'. Sementara Peakes mengomentari persoalan di atas sebagai :
"Suatu penyisipan terkenal setelah "tiga saksi" tidak
dicetak sekalipun dalam RSV, sungguh! Disana cuma disebutkan kesaksian Sorgawi
: Bapa, logos, dan Roh Kudus, tetapi itupun tidak pernah digunakan dalam perdebatan-perdebatan
tritunggal di masa awal. Tidak ada manuskrip latin yang bisa dipercaya yang
pernah memuatnya. Pemunculan pertama terjadi pada akhir abad ke-4. Dari teks
bahasa latin, dimasukkan ke dalam The Vulgate kemudian akhirnya dimasukkan ke
dalam PB (Perjanjian Baru) dari Erasmus."
Sedangkan The
Holy Bible New International Version (Alkitab
New International Version), halaman 907 pada catatan kakinya dan hal
1242, mengatakan :
"(Ayat ini) tidak
ditemukan dalam naskah Yunani yang ditulis sebelum abad ke-16."
Sebenarnya, 1
Yohanes 5:7 adalah ayat palsu yang baru diselipkan atas restu Gereja, ketika
Alkitab dicetak di Frankfurt, Jerman
pada tahun 1574. Sebelumnya ayat
tersebut tidak pernah tertulis dalam kitab-kitab suci pada masa awal
gereja. Doktrin Trinitas bukanlah ajaran Tuhan, karena dari sejarah kita telah
mengetahui bahwa Trinitas hanyalah konsep buatan manusia, yang diciptakan jauh
setelah Yesus wafat. Doktrin Trinitas dulunya dirancang pertama kali pada
konsili Nicea tahun 325 M, dan disempurnakan pada konsili Konstantinopel tahun
381 M yang diprakarsai oleh Kaisar Theodosius. Konsili ini menghasilkan
“Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel”, yang oleh umat Kristen saat ini dikenal
dengan sebutan “Sahadat Iman Rasuli”, yang isinya sebagai berikut :
“Aku percaya kepada satu Allah;
Bapa Yang Maha Kuasa; Pencipta Langit dan Bumi; Segala yang kelihatan dan yang
tidak kelihatan; Dan, kepada satu Tuhan, Yesus Kristus; Anak Allah yang
Tunggal; Yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman; Allah dari Allah;
Terang dari terang; Allah yang sejati dari Allah yang sejati; Diperanakkan
bukan dibuat; Sehakikat dengan Sang Bapa...”
Pengakuan Iman
Rasuli yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati dan sehakikat
dengan Allah adalah tidak berdasar sama sekali, dan tidak ada landasannya dalam
Alkitab. Bahkan sangat bertentangan dengan Alkitab umat Kristen sendiri yang
mengatakan :
“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku
tidak ada Allah.” (Yesaya 45:5-6)
Kalau anda
pernah membaca Alkitab, mungkin anda masih ingat bahwa disana diceritakan
tentang kisah percobaan Yesus di Padang Gurun. Ketika itu Yesus sedang tirakat
dan tiba-tiba didatangi oleh Iblis. Karena merasa terganggu, Yesus kemudian
mengusir Iblis dan berkata :
“Enyahlah Iblis! Sebab ada tertulis : Engkau harus
menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10)
Meski tidak
mengamalkan keyakinannya, tapi Iblis tahu bahwa Yesus bukan Tuhan karena Yesus
mengajarkan bahwa Tuhan itu hanya Allah saja. Maka sangat aneh kalau umat
Kristen yang sering memuja-muja Yesus dan mengaku sebagai pengikut Yesus tidak
mengetahui Tauhid yang diajarkan Yesus. Apakah itu berarti Iblis lebih pandai
daripada manusia yang tidak bertauhid?
Nampaknya
orang-orang Kristen lupa dengan sindiran Yesus dalam Alkitab berikut ini :
“Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu : Bangsa
ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku. Percuma
mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah
manusia.” (Matius 15:6-9 atau Markus 7:7-8)
Jadi, sekalipun tanpa
mengemukakan penolakan-penolakan tersebut diatas, ayat selanjutnya dari teks
yang terbaca dalam KJV :
"Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi, roh, air, dan darah;
dan ketiganya adalah satu." (1 Yohanes 5:8)
Tidak bisa disamakan dalam satu
penggabungan, sebab pada dasarnya antara “roh, air, dan darah” itu berbeda.
Dapatkah darah diganti dengan air? Atau dapatkah air dipandang sama dari sudut
pandang apapun dengan Roh? Sebagaimana roh, darah dan air sesungguhnya
ketiganya adalah terpisah, maka tiga saksi yang pertama-pun, yaitu : Bapa, Anak
(Firman, Logos) dan Roh Kudus, mestinya juga dianggap terpisah. Bagaimana
mungkin ketiganya bergabung menjadi satu?
Alhasil, kalau kita terus-terusan
membahas masalah Trinitas ini akan semakin ruwet dan membuat pikiran kita
tambah “kusut”, atau mungkin bisa membuat kita menjadi “tidak waras”, seperti
yang diungkapkan oleh Alban Douglas, seorang teolog Kristen :
“Siapa yang mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan daya
akal manusiawi akan menjadi tidak waras. Tetapi barangsiapa menyangkal
Tritunggal, akan kehilangan jiwanya.” (Inti Ajaran Alkitab, Hal. 19-20)
Nah, daripada otak kita jadi
tidak waras gara-gara terus menerus “memelototin” ajaran Trinitas dalam
Kristen, maka sebaiknya kita berpaling saja kepada Al-Qur’an, supaya otak kita
bertambah sehat dan cerdas, sebagai berikut :
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : “Sesungguhnya
Allah ialah Al-Masih putera Maria”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata : “Hai
Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” (Q.S. Al-Ma’idah:72)
Barangsiapa Percaya
Kepada Anak, Ia Beroleh Hidup yang Kekal
Gereja beranggapan bahwa siapa
saja yang tidak percaya dan tidak mau menjadi pengikut Yesus, maka ia akan
mendapatkan murka Tuhan.
Yesus berkata: "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup
yang kekal; tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak ia tidak akan dapat
melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada diatasnya." (Yohanes 3:36)
Ini adalah pertanyaan yang
menarik. Kenyataannya, orang-orang Muslim-lah yang seharusnya menanyakan
pertanyaan tersebut kepada para pengikut Kristus. Apakah mayoritas orang-orang
Kristen yang mengaku pengikut Yesus, sudah benar-benar melaksanakan apa yang
dia katakan, memahami apa yang dia perintahkan, dan mematuhi ajarannya? Penulis
yakin banyak orang-orang Kristen yang tidak memahami maksud dari sebutan
pemimpin mereka, “Yesus Kristus."
Ayat
Yohanes 3:36 tersebut
diatas mempunyai dua bagian pemahaman, yakni, pertama adalah “Percaya”, dan
kedua adalah “Kepatuhan.” Untuk urusan “percaya” kepada Kristus, Yesus
menanyakan kepada para pengikutnya :
"Menurut kamu siapakah Aku ini? Jawab Petrus, Engkau adalah ‘Mesias’
dari Allah." (Lukas
9:20)
Dalam
percakapan singkat tersebut, Petrus tidak menyebut Yesus dengan panggilan
“Tuhan” (baik dengan huruf ‘T’ besar atau ‘t’ kecil). Sebaliknya, Petrus hanya
mengatakan “Mesias”. Sama seperti Petrus, orang-orang Muslim juga percaya bahwa
Yesus adalah seorang Mesias, Al Masih, atau Kristus yang diutus oleh Allah.
Ungkapan "Mesias, Al-Masih, atau Kristus dari Tuhan" artinya adalah
"Seseorang yang diurapi oleh Allah sendiri."
Coba
perhatikan bahwa Allah melaksanakan upacara pengurapan (pembersihan jasmani
atau rohani) terhadap diri Yesus, dan karena alasan itu, Yesus kemudian diberi
gelar atau julukan oleh orang-orang Yahudi, Islam, dan Kristen sebagai
"Kristus” (orang yang diurapi) dari Tuhan. Sekarang pertanyaannya adalah, siapakah
yang kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia, apakah seseorang yang mengurapi
atau seseorang yang mendapat urapan? Jawabannya jelas, bahwa Allah-lah Yang
Maha Tinggi dan Maha Mulia antara keduanya. Tetapi yang mengherankan umat
Kristen yang sering memanggil Yesus sebagai "Kristus," justru tidak
berkeyakinan seperti itu, mereka malah menyamakan Allah dengan Yesus!?
Untuk
memperjelas masalah ini, coba perhatikan kutipan ayat berikut ini :
"HambaMu
Yesus yang kudus, yang Engkau urapi." (Kisah
Para Rasul 4:27 ~ New
American Standar Version)
Tidak
ada kesempatan sedikitpun untuk meragukan bahwa Yesus adalah 'Hamba Allah'.
Selain itu, ada beberapa ayat-ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa
Yesus adalah Hamba Allah.
Sekarang
beralih pada pemahaman bagian kedua pada ayat Yohanes 3:36 tersebut diatas : "kepatuhan” atau
“mematuhi Kristus." Coba anda baca ayat berikut ini :
"Benar, benar, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa
mendengar perkataanku dan percaya kepada Dia yang mengutus aku, ia mempunyai
hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut
ke dalam hidup." (Yohanes 5:24)
Bagaimana anda memahami ayat yang
tertulis “Percaya kepada Dia”, tersebut diatas? Maksudnya, kepada siapa anda
harus percaya dan menempatkan kepercayaan anda secara mendasar atau
fundamental? Apakah kepada “Dia” ataukah kepada Yesus?
Jika anda masih belum mengerti
juga, silahkan anda membuka dan melihat kembali kutipan ayat dalam Alkitab
berikut ini :
“Yesus berkata : "Tetapi aku tidak mencari kemegahanku, ada Satu yang mencarinya
dan Dia juga yang menghakimi." (Yohanes 8:50)
Siapakah yang dimaksud dengan “Satu”, yang bukan Yesus tadi? Apakah
anda secara mendasar, esensial dan fundamental mengagungkan yang “Satu” itu atau
mengagungkan diri Yesus? Mohon diingat, bahwa hanya ada satu yang akan menilai
setiap amal perbuatan manusia pada hari kiamat nanti, yakni : “Dia yang
menghakimi”. Dan, tentunya yang menghakimi itu bukanlah Yesus, tetapi “Dia”.
Adapun, “Dia” yang dimaksud itu tidak lain tidak bukan pastilah
“Allah Sang Pencipta Alam Semesta”. Jadi, sangat keliru dan tidak beralasan
sama sekali kalau umat Kristen menggantungkan keselamatan dirinya hanya pada
diri Yesus. Ia tidak mungkin bisa menyelamatkan manusia atau menebus dosa-dosa
manusia, jika manusia itu sendiri tidak berinisiatif membersihkan dirinya dan
menebus dosa-dosanya sendiri dengan cara bertaubat kepada Tuhan, bukan kepada
Yesus.
Kita harus memahami bahwa Yesus
itu hanyalah sebagai perantara atau petugas yang menginformasikan tentang
adanya suatu jalan aman yang dapat dilewati oleh setiap manusia agar ia
memperoleh keselamatan. Jalan itu adalah pengajaran-pengajaran Yesus mengenai
Tauhid yang harus ditaati oleh para pengikutnya, dan bukan pada sosok Yesus yang
disalib.
Memang benar bahwa Yesus adalah
juru selamat bagi bangsanya, Bani Israel. Tetapi harap anda mengerti akan arti
dari kata “juru selamat” itu. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata “juru”
yang berarti salah seorang yang melakukan tugas-tugas. Sebagai contoh, juru
rawat yang berarti salah seorang yang melakukan tugas perawatan, atau juru
mudi, yang berarti salah seorang yang melakukan tugas mengemudi. Jadi, “juru
selamat” harusnya diartikan tidak lain sebagai salah seorang yang bertugas
menyelamatkan. Itu berarti, Yesus adalah salah seorang yang melaksanakan tugas
dan fungsi penyelamatan, sama halnya dengan tugas dan fungsi penyelamatan yang
dilakukan banyak orang, seperti penyelamatan Nabi Musa as terhadap umat Israel
yang terancam mati di Laut Merah, penyelamatan Tim SAR terhadap korban Tsunami,
penyelamatan dokter terhadap pasiennya, penyelamatan polisi terhadap pencuri
dari amukan massa, penyelamatan sandera oleh tentara, dan lain sebagainya.
Tanpa Dia (Yesus)
Tidak Ada Suatupun yang Telah Jadi
Gereja mengklaim bahwa Trinitas
memang ada dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan, Firman (Yesus), dan Roh
Kudus bersama-sama membuat penciptaan alam semesta dan manusia, karena di dalam
ayat-ayatnya terdapat kata-kata “Allah, Firman, dan Roh Allah”.
Pada mulanya Allah (Tuhan)
menciptakan langit dan bumi ". (Kejadian 1:1)
"....dan Roh Allah melayang-layang
di atas permukaan air". (Kejadian
1:2)
" Berfirmanlah
Allah..." (Kejadian
1:3)
Dan hal tersebut dapat dibuktikan
dengan adanya kata "kita", yang menunjukkan kesatuan Tuhan, Firman
(Yesus), dan Roh Allah (Roh Kudus), sebagai berikut :
"Dan berfirmanlah Allah, Baiklah kita jadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka kuasa atas ..." (Kejadian 1:26)
Bahkan Gereja mengklaim lebih jauh
bahwa segala sesuatu itu di alam semesta ini diciptakan melalui Yesus. Tanpa
Yesus, maka tidak ada penciptaan apapun, seperti terkutip dalam ayat berikut :
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang
telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:3)
Mungkin hanya
orang “gila” saja yang berani mengatakan kalau Yesus bergotong royong bersama
Tuhan menciptakan manusia. Bayangkan! Kitab Kejadian adalah kitab umat Yahudi
semenjak zaman Nabi Musa sampai dengan Yesus. Mana ada Nabi-Nabi umat Yahudi
yang pernah mengatakan bahwa ada yang namanya Yesus yang kemudian menjadi
Firman lalu menjadi Tuhan, yang turun ke bumi mengambil bentuk manusia yang
bergotong royong bersama Tuhan Allah dan Roh Kudus, menciptakan manusia dan
jagat raya ini. Ketika Yesus berkhotbah dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah
lainnya, beliau tidak pernah mengatakan kepada umatnya, bahwa beliau bersama
Tuhan Allah dan Roh Kudus menciptakan alam semesta sebagaimana yang ditafsirkan
oleh para pemuka Gereja. Sebaliknya Yesus secara terang-terangan menyatakan
bahwa bukan dia yang mencipta, tetapi Allah-lah satu-satunya Tuhan yang
menciptakan manusia dan seluruh alam semesta. Yesus berkata :
“Tidakkah kamu baca,
bahwa Dia yang menciptakan manusia sejak semula, menjadikan mereka laki-laki
dan perempuan.” (Matius
19:4)
Berdasarkan
ayat tersebut, jelas bahwa yang dimaksud dengan firman dalam Kejadian 1:3 adalah
firman yang diucapkan oleh Allah dalam menciptakan segala sesuatu, yakni :
"Kun", yang artinya jadilah, seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an
berikut ini :
"Sesungguhnya
misal (penciptaan) Yesus di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah
menciptakan Adam dari Tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya :
"Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah dia." (Q.S. Ali Imran:59)
Adapun mengenai kata “Kita” pada
Kejadian 1:26, sebenarnya tidak ada yang bisa mengetahui apa maksudnya. Mungkin
kepada para penulis Kitab Kejadian itulah, tempat kita harus bertanya, apa yag
dimaksud “Kita” pada tulisan mereka tersebut. Namun karena penulisnya sendiri
tidak diketahui siapa orangnya, maka kita hanya bisa mengartikannya secara
literal sebagai suatu “kekonyolan” belaka, dimana wajah atau rupa manusia itu
diciptakan sama persis dengan wajah atau rupa Tuhan atau dapat diartikan bahwa
Tuhan itu berjumlah sangat banyak.
Mungkin pengertian “konyol” yang
kita artikan pada Kejadian 1:26 tersebut dapat kita rubah agar tidak “konyol”
lagi, dan bahkan pengertiannya akan menjadi sangat terhormat, jika dua buah
kata “Kita” pada ayat tersebut dicoret dan diganti dengan kata “Kami” dan ”yang
Kami kehendaki”, sebagai berikut :
Dengan perubahan tersebut, maka
pengertiannya tentu juga akan berubah, dimana kata “Kami” dapat kita diartikan
sebagai suatu bentuk kesopanan Allah yang bermaksud untuk menghormati dan
menghargai peranan para malaikat-Nya (Malaikat Jibril-red) yang telah ikut
menyampaikan firman-firman-Nya kepada para nabi dan rasul utusan Allah. Sebab
kita mengetahui, bahwa Allah tidak mungkin berbicara langsung kepada manusia,
melainkan Dia berbicara dengan cara mengutus malaikat-Nya untuk menyampaikan
firman-firman-Nya kepada manusia.
Namun yang jelas, para
penafsir-penafsir Kristen telah berhasil memanfaatkan peluang “ketidakpastian”
akan maksud dari kata “Kita” pada Kejadian 1:26 tersebut, dan mengartikannya
dengan “Bapa” beserta “Yesus” dan “Roh Kudus” bersama-sama bergotong-royong
menciptakan manusia. Peluang memasukkan konsep Trinitas pada Kejadian 1:26
tersebut dapat dilihat dari tulisan para redaksi King’s James Version (The
Hebrew-Greek Key Study Bible, Edisi ke 6), sebagai berikut :
Dalam bahasa Yahudi kata untuk Tuhan adalah 'Elohim' (430), sebuah kata
benda jamak. Dalam Kejadian 1:1, digunakan sesuai dengan kaidah tata bahasa
yakni menggunakan kata kerja tunggal 'bara' (1254), telah menciptakan. Kalau
kata ganti jamak digunakan, "Biarkan Kami membuat manusia menurut gambar
dan rupa Kita," apakah itu (Kata "Kami" tersebut) menunjukkan
lebih dari satu (plural) atau menunjukkan keunggulan atau keagungan menurut
konsep atau cara pengungkapan orang Yahudi atau Hebrew? Dapatkah Allah
berbicara pada Malaikat-malaikat, dunia atau alam, jadi menunjukkan dirinya
dalam hubungannya dengan salah satu dari ini? Atau apakah ini petunjuk awal
akan suatu keunikan dari kepribadian suci? Seseorang tidak dapat
memastikan."
Adanya penulisan kalimat
"Seseorang tidak dapat memastikan," pada tulisan tersebut diatas,
menunjukkan bahwa para redaksi King’s James Version memang akan mencoba
menganjurkan teori Yesus, sebagai "pokoknya” (didalam) kesatuan ketuhanan
(konsep Trinitas).
Khusus mengenai Yohanes 1:3, kita
dapat melihat bahwa pada susunan ayatnya tidak mencerminkan sama sekali adanya
sebuah konsep Trinitas. Pada ayat tersebut hanya terdapat kata “Dia”, yang
artinya itu hanya satu dan bukan tiga atau Trinitas. Mengenai anggapan umat
Kristen bahwa kata “Dia” yang dimaksud itu adalah Yesus, maka itu hanyalah
anggapan kosong mereka belaka. Sebenarnya, Yohanes 1:34 itu bukanlah perkataan
Yesus, dan bukan pula tulisan hasil karya Yohanes, murid Yesus, melainkan suatu
konsep yang ditulis oleh para pendukung Paulus dan Gereja untuk menanamkan ide
tentang ketuhanan Yesus.
Injil Yohanes 1:3 itu sendiri
adalah salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Yohanes 1:1-18, yang
disebut orang sebagai ayat pembuka atau permulaan pada Injil Yohanes. Adapun
Yohanes 1:1-18 ini sebenarnya sudah dicap sebagai ayat palsu oleh para pakar
Alkitab dan sejarawan Kristen, sebab aslinya Injil Yohanes tidak menuliskan
ayat pembukaan seperti itu, karena Yohanes 1:1-18 itu hanyalah
karya lepas yang baru dimasukkan sebagai pembukaan Injil Yohanes oleh para
penyalin yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dapat kita lihat pada catatan kaki Alkitab “The New Testament of the New American Bible”, tahun 1970, hal.
203, yang mengatakan bahwa :
“Yohanes 1:1-18 yang merupakan pembukaan ini merupakan
hymne, berbentuk syair, mungkin berasal dari karya bebas, yang hanya belakangan
baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai intro (pembuka) dari Injil.”
Mengenai bagaimana Yohanes 1:1-18
itu bisa “nangkring” ke dalam Injil Yohanes, akan kami jelaskan selanjutnya
pada pembahasan dalil kesebelas.
Firman (Yesus) Itu
Adalah Allah
Gereja mengatakan bahwa Yesus
adalah Firman, dan Firman itu adalah Tuhan, jadi, Yesus adalah Tuhan.
“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan
Firman itu adalah Allah. (Yohanes 1:1)
Ayat Yohanes 1:1 adalah bagian
dari Yohanes 1:1-18, yang keseluruhan susunan kalimatnya sangat membingungkan
pikiran manusia yang waras. Para ilmuwan yang
kepalanya setengah botak atau yang plontos sekalipun mungkin akan geleng-geleng
kepala melihat susunan kalimat yang aneh tersebut? Sebenarnya ayat tersebut
merupakan karya hasil perbuatan gereja yang ingin menjadikan Yesus setara
dengan Tuhan. Pada mulanya Yesus itu disebut dengan Anak Allah, dan ketika
predikat Anak Allah (Anak Tuhan) ini dipandang belum sejajar dengan kedudukan
Tuhan, maka dinaikkanlah peringkatnya menjadi sejajar dengan Tuhan, dengan
mengambil konsep “Logos” dalam filsafat Yunani.
Logos adalah
perantara antara Tuhan dan Manusia. Tuhan dipandang mulia, roh, dan baka,
sedangkan manusia dianggap dosa and fana. Adanya perbedaan antara Tuhan dan
manusia inilah yang menyebabkan Tuhan yang mulia tidak dapat berhubungan dengan
dunia dan manusia yang berdosa. Untuk memenuhi keinginan Tuhan yang ingin
menyelamatkan manusia dan dunia yang berdosa, Tuhan memerlukan perantara yang
kedudukannya berada di bawah Tuhan, tetapi diatas manusia. Perantara ini dalam
Filsafat Yunani disebut Logos, yang kemudian oleh Lembaga Alkitab Indonesia
disebut Firman.
Padahal firman
menurut Yesus sendiri adalah wahyu yang diterimanya dari Tuhan Allah :
"Ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti
saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4)
"Barangsiapa menolak aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada
hakimnya, yaitu firman yanq telah kukatakan, itulah yanq akan menjadi hakimnya
pada akhir zaman. Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi
Bapa, yang mengutus aku..." (Matius 12:48-49)
"Dan aku tahu, bahwa perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa
yang aku katakan, aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa
kepadaku". (Yohanes 12:50)
Logos dalam
filsafat Yunani adalah roh, sementara Yesus adalah manusia yang lengkap dengan
tulang dan daging. Oleh karena itu, agar Logos dapat diterapkan pada diri
Yesus, maka Gereja kemudian menyatakan bahwa Logos telah menjadi daging, turun
ke dunia, lahir melalui rahim seorang perawan, dan menjadi Anak Allah dalam
diri Yesus.
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah
mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)
"Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraanya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan
telah mengosongkan dirinya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan
menjadi sama dengan manusia."
(Filipi 2:6-7)
Dengan demikian
gelar "Anak Allah" dibutuhkan sebagai gerbang pertemuan antara Yesus
dan Logos. Agar Yesus dapat tiba pada keilahian Logos, ia harus melalui
"gerbang" Anak Allah. Sementara bagi Logos untuk menjadi manusia
harus lahir dari perawan melalui intervensi Roh Kudus, sehingga anak yang
dilahirkan menjadi Anak Allah.
"Jawab malaikat itu kepadanya: 'Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa
Allah yanq Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau
lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah." (Lukas 1:35)
Sebenarnya
logos dalam filsafat Yunani adalah perantara antara Tuhan dan manusia, sehingga
kedudukannya lebih rendah dari Tuhan oleh karena itu Logos bukanlah Tuhan.
Pencetus asli ide Logos bernama Philo dari Alexandria, tidak pernah bermaksud
mempersamakan Logos dengan Tuhan. Dalam hymne (syair) Platonis-nya, ia hanya
berkata : "Pada mulanya adalah
Logos, Logos itu bersama dengan Tuhan dan Logos itu berasal dari Tuhan".
Selain itu Philo juga mengatakan bahwa Logos itu hanyalah anak Allah. Ia
mendefinisikan Logos sebagai "Protogenes huios theou" atau “Anak
sulung Tuhan”.
Gelar “Anak
Tuhan” ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus. Selanjutnya para
penyalin Injil yang umumnya adalah para pengikut Paulus juga ikut-ikutan
menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan), dengan menambahkannya kedalam
ayat-ayat Injil.
"Inilah permulaan Injil tentanq Yesus Kristus, Anak Allah." (Markus 1:1)
"Jawabnya (Sida-sida): 'Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak
Allah"' (Kisah
Para Rasul 8:37)
Sebenarnya
kata-kata "Anak Allah" pada kedua ayat tersebut sudah di cap sebagai
ayat palsu. Kata-kata tersebut tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah
Para Rasul dari (Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus) yang diperkirakan
ditulis tahun 325 Masehi. Adapun kata "Anak Allah" dalam kedua kitab
tersebut diatas, baru diselipkan di akhir abad ke-4 atau abad ke-5.
Dalam
perkembangannya kemudian, para penyalin Injil Yohanes kemudian mencontek hymne
Platonis karangan Philo tersebut dan menempatkannya sebagai kalimat pembuka
Injil Yohanes. Tidak hanya mencontek, para penyalin Yohanes bahkan merubah anak
kalimat : "Dan Logos itu berasal
dari Tuhan" menjadi "Dan
Logos itu adalah Tuhan".
Pencaplokan
ajaran Platonis ini oleh penyalin Injil Yohanes ini dijelaskan oleh Santo Augustinus dalam bukunya The
Confession of Saint Augustine di bawah sub judul “Kitab Suci dan Filsafat
Penyembah Berhala”. Ia mengatakan :
“...Buku filsafat Platonis yang telah diterjemahkan
dari bahasa Yunani ke bahasa Latin, setelah didalamnya saya baca, walaupun
tidak sama persis tetapi jalan pikirannya mirip, didukung dengan berbagai
argumen bahwa : Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Tuhan dan
Firman itu adalah (dari) Tuhan. Ia
(firman) pada mulanya bersama dengan Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh dia
(firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan..”
Jadi, sangat
jelas bahwa Yohanes 1:1-18 adalah ayat palsu karena merupakan cuplikan dari
syair Platonis karangan Philo. Catatan kaki Alkitab The New Testament of the New American Bible, 1970 hal 203,
memberikan alasan yang ikut memperkuat pendapat bahwa Yohanes 1:1-18 bukan merupakan bagian dari Injil Yohanes, tetapi
merupakan karya lepas yang baru dimasukkan sebagai pembuka Injil Yohanes oleh
para penyalin :
“Pembukaan ini merupakan hymne, berbentuk syair, atau mungkin berasal dari
karya bebas, yang hanya belakangan baru dikutip dan diedit untuk berperan
sebagai intro (pembuka) dari Injil.”
Adapun
kesengajaan Gereja untuk mempersamakan Logos dengan Tuhan diperlihatkan oleh Athanasius dalam bukunya "The
Incarnation of the Word" yang ditulis pada tahun 318 Masehi, halaman
4, ia mengatakan :
“Demi keselamatan kita dia mencintai kita
sedemikian rupa sehingga dia hadir dan dilahirkan dalam bentuk manusia.”
Dengan demikian
karena menurut Gereja, Yesus adalah Logos, dan menurut Gereja pula, Logos
adalah Tuhan Allah sehingga “sim-salabim”, Yesus pun akhirnya menjadi Tuhan
Allah yang nampak.
Mungkin ada
yang bertanya-tanya, mengapa gereja sangat “tergila-gila” dengan ajaran dan
filsafat Yunani tentang “Logos” tersebut, dan menjadikannya sebagai fondasi
doktrin keimanan Kristen tentang Yesus? Sebenarnya para pemimpin gereja dan
penginjil di kerajaan Romawi itu dulunya adalah para pemeluk ajaran filsafat
Yunani atau setidaknya mereka sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. Tony Lane dalam bukunya "Christian Thought"
mengatakan :
“Pandangan tentang kejatuhan (dalam dosa) lebih
banyak dipetik dari filsafat Yunani dan Origen dibanding dari Alkitab).”
“Elemen Platonis (dalam Kristen) bukan seperti
hiasan atau kismis pada kue yang dengan mudah ditinggalkan, tetapi seperti
aroma yang sudah menyatu dengan kue itu sendiri.”
Begitu juga
dengan Paul Tillich dalam
bukunya "A History of Christian
Thought" menjelaskan bagaimana ajaran teologi Yunani merasuk
kedalam doktrin Trinitas melalui Logos (Firman).
“Kristen menganut dari saingannya (Filsafat Stoa)
berbagai ajaran dasar. Yang pertama adalah ajaran tentang Logos (Firman), suatu
ajaran yang dapat membuat anda kecewa manakala anda mempelajari sejarah
trinitas dan pemikiran Kristen Pertumbuhan ajaran Kristen tidak dapat
dimengerti tanpa bersandar pada ajaran ini (Stoa).”
Bahkan, seorang tokoh terkemuka gereja pada masa lalu bernama Justine
Martyr (100-165 M), dengan bangga mengatakan :
“Platonis adalah satu-satunya filsafat yang menurut
saya cocok dan pantas... Dan mereka yang menganut Logos, adalah Kristiani.”
Sebenarnya apa
yang dilakukan oleh gereja tersebut sangat bertolak-belakang dengan apa yang
diajarkan oleh Yesus. Ketika Yesus ditanya oleh para pemuka Yahudi, ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Saduki yang khawatir, apakah ajaran beliau sudah
tercemar oleh filsafat Yunani atau tidak, beliau memberikan jawaban dengan
tegas :
"Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa". (Markus 12:29)
Mendengar
jawaban Yesus tersebut, para pemuka agama Yahudi akhirnya merasa lega dan
mengatakan :
"Tepat sekali, guru, benar katamu itu, bahwa
Dia (Tuhan Allah) Esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Tuhan
Allah)". (Markus 12:32)
Namun terlepas
dari uraian tersebut diatas, baiklah kita pakai permainan logika saja dengan
menyalin susunan kalimat Yohanes 1:1 yang berbunyi : “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan
Firman itu adalah Allah”, ke dalam bentuk kalimat lain yang hampir sama, menjadi : “Pada mulanya adalah Udin, Udin itu bersama-sama dengan Bapaknya, dan
Udin itu adalah Bapaknya.”
Nah, sekarang
coba anda pikirkan? Logika apa yang bisa anda gunakan, seandainya anda
menyamakan Udin sama seperti Bapaknya? Tentu anda akan disebut sebagai orang
yang tidak waras. Sebab tidak mungkin Udin itu sama seperti Bapaknya. Udin itu,
ya, pasti Udin. Sedangkan Bapak, ya, jelas bukan Udin, tetapi Bapak! Jadi,
“Firman” dan “Allah” itu dapat kita umpamakan sebagai sosok “Udin” dan “Bapak”,
yang masing-masing merupakan dua hal yang berbeda dan tidak bisa disamakan satu
dengan yang lainnya.
Thomas Menjawab Dia
(Yesus), “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Gereja mengatakan bahwa salah
satu murid Yesus bernama Thomas pernah memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan”
saat ia menyentuhkan jarinya ditubuh Yesus yang baru beberapa hari bangkit dari
kematian ditiang salib, dan Yesus tidak keberatan dengan panggilan tersebut,
seperti tertulis dalam ayat berikut :
Thomas menjawab Dia (Yesus) : “Ya
Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28)
Sementara dalam Injil “New
American Standar Version”, teksnya berbunyi :
"Kemudian Dia (Yesus) berkata kepada Thomas, "Taruhlah jarimu
disini, dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan letakkan pada lambungKu;
dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Thomas
menjawab dan berkata kepada Dia, "Ya, Tuanku dan Allahku!" (Yohanes 20:27-28)
Coba amatilah tanda seru (!) pada
akhir ungkapan itu. (Catatan, pada “King James Version”, tanda seru itu justru
telah dihilangkan). Kemudian amatilah tidak ada pertanyaan yang dikatakan dalam
seluruh cerita. Oleh karena itu, teks yang berbunyi "Thomas menjawab"
tidak teliti. Lalu pada kalimat terakhir "Tuanku dan Allahku!", itu
bukanlah suatu jawaban, tetapi suatu ungkapan keterkejutan atau kekagetan dari
Thomas, setelah melihat beberapa peristiwa atau kenyataan yang tidak dapat
dipahami dan mengagumkan. Sama halnya kalau kita terkejut dan berteriak :
"Ya, Allah… Ya, Tuhan!" ketika kita melihat sesuatu yang ajaib dan
mengherankan.
Uraian tersebut juga didasarkan
pada bukti yang dapat dilihat dalam Injil versi lainnya, seperti dalam “New
English Bible” tertulis : Thomas berkata, "Tuhanku dan Allahku!", dan
pada “English Philips Bible” modern tertulis : "Tuhanku dan Allahku!"
teriak Thomas.
Penulis Injil Yohanes menulis, dengan segera percakapan antara Yesus dan Thomas :
"Banyak tanda-tanda lain, oleh karena itu Yesus menunjukkan dihadapan pengikutnya juga, yang mana tidak ditulis dalam buku ini, tetapi ini telah ditulis bahwa sesungguhnya kamu percaya bahwa Yesus adalah Kristus ..."
Seandainya penulis Injil Yohanes menganggap bahwa jawaban Thomas sebagai kesaksian atas 'Ketuhanan Yesus', dikarenakan Yesus sendiri hanya tenang-tenang saja melihat sikap Thomas, sebagai dasar untuk menyetujui setiap kesaksian tanpa protes, maka sudah tentu Yohanes akan menulis : "Yesus adalah Allah" dan bukan "Yesus adalah Kristus...". Tapi nyatanya Penulis Injil Yohanes tidak pernah melakukannya.
Masuklah Mereka..,
Lalu Sujud Menyembah Dia (Yesus)
Gereja mengatakan bahwa Yesus
sering disembah-sembah oleh para pengikutnya, dan itu menunjukkan bahwa Yesus
adalah Tuhan, karena itu Yesus tidak melarang para pengikutnya untuk
menyembahnya-nyembah dirinya.
“… Masuklah mereka (orang-orang Majus) ke dalam rumah itu …, lalu sujud
menyembah Dia.” (Matius
2:11)
“Dan orang-orang (murid-murid Yesus) yang ada di perahu menyembah Dia. (Matius 14:33)
“…Mereka (Maria Magdalena dan lainnya) mendekatiNya dan memeluk kakiNya
serta menyembahNya.” (Matius 28:9)
“Ketika melihat Dia mereka (murid-murid Yesus) menyembahNya, …” (Matius 28:17)
Perlu diketahui bahwa tidak ada
seorangpun penulis Injil yang bermaksud untuk mengartikan kata “menyembah” itu
menjadi ”menyembah Yesus sebagai Tuhan”. Tidak pula dilakukan rasul Matius
dalam catatannya. Analisis secara leksikal pada Injil, kata bahasa Latin yang
tepat untuk 'sembah' adalah 'sebomai' (4576) dari sumber 'seb'. Kata itu
'sebomai' digunakan oleh rasul Matius dalam 15:9 dimana Yesus berkata :
"Tetapi percuma mereka beribadah kepadaKu, ..."
Kata Latin yang digunakan oleh
rasul ungkapan di atas adalah 'prosekunesan' dan bukan 'sebomai'.
'Prosekunesan' berasal dari 'proskuneo' (4352), yang mana maksud harfiah
menunduk, mendekam, merangkak, bersujud atau meniarap. Bila rasul ingin
menyampaikan 'Yesus yang disembah', dia menggunakan kata 'sebomai' yang mana
dia tidak lakukan.
Pembuktian lebih lanjut, dalam
'Injil Bahasa Inggris Baru' terjemahannya menjadi; 'menunduk pada tanah' dalam
(Maius 2:11); 'jatuh pada
kakinya' dalam (Matius 14:33);
'jatuh tak berdaya sebelumnya' dalam (Matius 28:9), dan 'jatuh tak berdaya
sebelumnya' dalam (Matius 28:17). Pertanyaan apakah Yesus menghentikan mereka
karena penyembahan, ternyata tidak terjadi, sebab mereka hanya menunduk biasa
atau tak berdaya kepadanya.
Untuk memperjelas, ada baiknya
menyimak tulisan Markus berikut ini :
"Pada waktu dia (Yesus) berangkat untuk meneruskan perjalanannya,
datanglah seorang laki laki mendapatkan Dia dan sambil berlutut dihadapanNya
dan ia bertanya, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk
memperoleh hidup yang kekal? Dan jawab Yesus, Mengapa kau katakan Aku baik? Tak
seorangpun yang baik selain Allah saja." (Markus 10:17-18)
Ayat tersebut kedengarannya tidak
cocok dan tidak wajar bahwa seorang yang juga menolak disebut "baik"
akan mengijinkan seseorang untuk menyembahnya.
Sebab, tak seorangpun yang baik
kecuali "Allah saja", dan tidak seharusnya orang-orang Kristen
menyembah langsung kepada Yesus, sebab Yesus sendiri menyembah kepada
Allah.
Sebelum Abraham
Jadi, Aku (Yesus) Telah Ada
Gereja mengatakan bahwa Yesus
adalah Tuhan, karena ia sudah ada dan hidup sebelum Abraham diciptakan.
"Yesus berkata kepada mereka : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yohanes 8:58)
Sebenarnya tidak ada yang salah
dengan perkataan Yesus tersebut. Ia berkata benar! Yang jadi masalah adalah
adanya segelintir orang yang menafsirkan kalimat Yesus tersebut secara
tekstual, sehingga seolah-olah memang benar Yesus itu telah diciptakan lebih
dulu dari Abraham, bahkan ada yang bilang Yesus diciptakan lebih dulu dari
Adam?
Yesus sebenarnya ingin mengatakan
bahwa maksud keberadaannya lebih dulu dari Abraham (Nabi Ibrahim) itu adalah
saat ia belum dilahirkan ke dunia, ia telah dinyatakan akan dijadikan sebagai
seorang nabi atau rasul dalam pengetahuan Tuhan. Kita juga sama seperti Yesus, sebelum
kita semua diciptakan, Allah sudah mempunyai ide, benak, pikiran, dan
pengetahuan tentang bagaimana kita nantinya akan diciptakan. Dalam derajat yang
lebih rendah, kita dapat mengumpamakannya dengan seorang pelukis yang akan
melukis sesuatu berdasarkan ide-ide yang diperoleh dalam pikirannya sebelumnya.
Meskipun demikian, tentu saja kita tidak bisa menyamakan Tuhan dengan seorang
pelukis. Namun begitulah cara kita menalarnya.
Sebagai bukti adanya ide dan
pengetahuan Tuhan tersebut, coba perhatikan ketika Allah mendatangi Yeremia dan
berfirman kepadanya :
"Sebelum Aku membentuk kamu dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal
kamu, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan kamu. Aku
telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5)
Jadi, tidak mungkin Yesus itu
diciptakan lebih dulu daripada Abraham, karena nyatanya Yesus baru lahir ribuan
tahun kemudian setelah masa Abraham. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Yesus, ia
berkata :
"Bapamu
Abraham bersuka cita bahwa ia akan melihat hariku, dan ia telah melihatnya, dan
ia bersuka cita." (Yohanes 8:56)
Maksudnya : Abraham gembira
mendengar kabar dari Allah, bahwa suatu saat dimasa yang akan datang akan lahir
seorang nabi dan rasul bernama Yesus Al-Masih.
Dia (Yesus) Diangkat
ke Sorga, dan Duduk Disamping Kanan Allah
Gereja menyatakan bahwa Yesus
mempunyai hak istimewa dalam pandangan Tuhan, yang tidak dimiliki oleh manusia
lainnya. Ia sederajat dengan Tuhan, karena “duduk” disamping kanan Tuhan.
"... Dia (Yesus) adalah diangkat ke Sorga, dan duduk di sebelah
kanan Allah." (Markus 16:19)
Sebenarnya ada dua versi Injil
Markus yang beredar dikalangan umat Kristen. Salah satunya disebut terjemahan
pendek dan yang lainnya disebut terjemahan panjang. Pada terjemahan pendeknya,
Injil Markus berakhir pada ayat ke-8, tidak kurang tidak lebih. Sementara pada
Markus 16:19 tersebut
diatas nampaknya merupakan bagian dari terjemahan panjang.
Salah satu dari dua keberhasilan
besar mengungkap kesalahan Injil yang terkenal di dunia pada abad ke-19, adalah
penemuan sejarah tertua yang mengenal naskah Kitab Injil 'Codex Sinaiticus'
dari Biara St. Catherine di Gunung Sinai. Bukti yang paling menakjubkan adalah
ketika Sejarawan bernama Lobegott Friedrich Konstantin Von Tischendorf menemukan
bahwa pada dokumen yang muncul di abad ke-5 ini, Injil Markus ternyata cuma
berakhir pada pasal 16:8. Dengan kata lain, 12 ayat terakhir Markus dari 16:9
sampai 16:20, baru "ditambahkan" pada suatu kurun waktu setelah abad
ke-5.
Bapak-bapak gereja seperti
Clement dari Alexandria
atau Origen ternyata tidak pernah mengutip ayat-ayat Markus 16:9-20 tersebut.
Bahkan, ternyata ditemukan pula bahwa dalam 12 ayat Markus terakhir tersebut,
yang menceritakan tentang "Kebangkitan Yesus" itu, juga tidak
terdapat dalam naskah kuno Suria, Vatikan dan Bobiensis. Sekarang, versi
Alkitab yang telah diperbaiki, mencantumkan 12 ayat terakhir Markus dalam tanda
kurung. Tischendorf menemukan juga bahwa Injil Yohanes telah dirubah
berkali-kali dan banyak sekali. Contohnya, ayat ayat yang dimulai dari Yohanes 7:53 sampai 8:11 ternyata tidak ditemukan dalam naskah
kuno Suria atau Vatikan. Persamaannya, sebuah ayat dari Injil Lukas bahwa
dikatakan Petrus berlari ke kuburan, membungkuk dan mampir dan menemukannya
kosong dan tercengang pada apa yang telah terjadi, ternyata tidak ditemukan
dalam naskah-naskah kuno. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca 'Rahasia-rahasia
dari Gunung Sinai' oleh James Bentley, Orbis, London 1985).
Komentar Peake mengenai
catatan-catatan Injil :
"Sekarang ini umumnya disetujui bahwa Markus 16:9-20 adalah bukan
sebuah bagian asli dari Markus. Bagian ini tidak ditemukan dalam naskah-naskah
yang lebih tua, dan rupanya bukan sungguh-sungguh ada pada salinan yang
digunakan oleh Matius dan Lukas abad ke 10. Naskah kuno Armeni menjiplak bagian
ini dari Aristion, si presbitarian yang disebut oleh Papias.” (ap.Eus.HE III, xxxix, 15)
Jika Kamu Mengakui
Yesus Adalah Tuhan, Kamu Akan Diselamatkan
Gereja mengatakan bahwa
keselamatan mereka benar-benar terjamin, karena telah percaya 100 % bahwa Yesus
itu adalah Tuhan.
“Jika kamu mengakui dengan mulutmu Yesus adalah Tuhan, dan percaya
hatimu bahwa Allah membangkitkannya dari kematian, kamu akan diselamatkan;
karena dengan hati manusia percaya, hasil dari kebenaran, dan dengan mulut dia
mengakui, menghasilkan keselamatan." (Roma 10:9-10)
Ayat ini disukai oleh pengabar
Injil. Salah satu dari dasar-dasar agama Kristen disebarkan oleh Paulus dan
harus dibahas secara rinci dan dari berbagai macam perspektif.
Kutipan tersebut sebenarnya
hanyalah ungkapan dalam surat-surat yang ditulis oleh Paulus. Jika kita membaca
ungkapan dari seseorang, maka kita harus berpikir bahwa surat-surat ini ketika
ditulis oleh penulisnya, hanyalah sebuah ceramah, petunjuk keagamaan, atau nasehat-nasehat,
yang tidak diharapkan dapat membentuk sebuah bagian dan bingkisan dari kitab
suci resmi.
Apa yang ditulis Paulus tersebut
bukanlah wahyu yang berasal dari Tuhan. Semua surat-surat Paulus hanyalah
berdasarkan ide dan pendapat pribadinya saja. Paulus tidak pernah berhubungan
atau bertemu dengan Yesus. Ia hanya mengaku-ngaku mendapat perintah dari Yesus,
walaupun tidak pernah ada bukti yang mendukung pengakuannya tersebut. Coba
silahkan anda baca 1 Korintus 7:25-26 dan 7:40, disini Paulus menulis :
"Saya berikan sebuah pendapat"; "dalam pendapat saya" dan
"saya pikir" (dua kali).
Hal ini berbeda dengan Yesus, ia
tidak pernah mengatakan kalau wahyu yang diperolehnya berdasarkan pendapat
pribadinya sendiri, tetapi Yesus berkata :
“Aku tidak melakukan apapun atas kehendakku
sendiri, tetapi Aku mengajarkan hal-hal yang diajarkan Bapa kepadaku." (Yohanes 8:28)
Jadi, kita harus membedakan
antara "pendapat saya" dan "saya pikir" dari
"diilhami" atau dokumen "diajarkan" dari wahyu.
Selain itu ada hal-hal yang aneh
yang bisa kita temukan dalam ucapan dan perilaku Paulus, antara lain :
1.
Ia mengatakan bahwa sejak kecil, bahkan saat berada dalam kandungan ia
telah dipanggil dan dipilih oleh Yesus sebagai rasul untuk memberitakan
ketuhanan Yesus kepada orang-orang Kristen (Galatia 1:15-16). Anehnya, dalam Alkitab sendiri,
Yesus tidak pernah mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Paulus
Tarsus?
2.
Ia secara terang-terangan mengaku bahwa dirinya adalah seorang pendusta
(Roma 3:7), dan telah menipu semua orang dengan kelicikannya (2 Korintus 12:16), serta senang melihat orang
banyak berdusta atas nama Yesus, yang penting nama Yesus jadi populer (Filipi 1:18)
3.
Ia mengaku menyebarkan berita tentang Yesus bukan berdasarkan wahyu
Tuhan tetapi berdasarkan hasil interpretasi dan khayalannya sendiri (Roma 15:19 dan 2 Korintus 11:16-17)
4.
Ia selalu mencari simpati dan berusaha mendapatkan pujian. Ia juga
berusaha mengangkat dirinya sendiri dan mengaku bahwa ia tidak jauh berbeda
dengan seorang nabi atau rasul lainnya yang memiliki keistimewaan, meskipun ia
mengakui dirinya sendiri tidak berarti apa-apa. Ia pun mengakui kalau dia
membanggakan kebodohannya secara terang-terangan (2 Korintus 12:11)
5.
Ia mengakui terkadang ia sering berbicara seperti orang gila, ketika dia
menjelaskan bahwa dia adalah pelayan utama Al-Masih dan terbaik, karena dia
merasa lebih banyak memikul beban (2 Korintus 11:22-23)
6.
Ia mangaku kalau dirinya tidak ada bedanya dengan para nabi dan rasul
lainnya yang memiliki kelebihan, meskipun ia pun mengakui bahwa dirinya bodoh
dan tidak berarti apa-apa! Dan ia terus meyakini hal itu, meskipun dia sendiri
tidak pandai dalam berkata-kata (2 Korintusl 1:5-6)
7.
Ia tidak segan-segan membenarkan semua ajaran agama dan filsafat, walau
agama itu menyembah berhala sekalipun demi berusaha mencari popularitas dirinya
dan mencari dukungan orang-orang (1 Korintus 9:19-21)
8.
Ia berpendapat bahwa pengajaran agama hanyalah sekadar persaingan dan
perlombaan dalam menafsirkan teks-teks Injil, dengan para pendusta lainnya (2 Korintus
11:12-13)
9.
Ia suka mengagung-agungkan kebodohan dan meremehkan orang-orang yang
diberikan kelebihan ilmu, kebijakan, dan kepintaran (1 Korintus 1:19-20)
10. Ia mengaku telah menipu semua
orang dengan kelicikannya (2 Korintus 12:16)
Nah, coba anda pikirkan,
bagaimana mungkin ada seorang nabi yang ucapan dan perilakunya “nyeleneh”
seperti Paulus itu bisa kita percaya? Dan ironisnya, orang-orang Kristen justru
mengangkatnya sebagai Bapak Gereja dengan sebutan gelar “Santo” atau orang
suci.
Namun demikian, terlepas dari
kekonyolan Paulus tersebut, ada baiknya kita bahas saja ayat-ayat yang
disampaikannya. Seperti yang kita lihat, pada ayat Roma 10:9-10, terdapat
kalimat yang tertulis : “…dan (jika kamu)
percaya dalam hatimu bahwa Allah membangkitkannya dari kematian kamu akan
diselamatkan”. Kalimat tersebut menginformasikan ada dua pribadi yang
terpisah :
1. Yang seorang adalah Yesus, yang
meninggal dan terletak tak bergerak didalam makam.
2. Yang seorang adalah Allah, yang
hidup dan dapat melakukan kegiatan-kegiatan, termasuk membangkitkan Yesus.
Pribadi b (Allah) menghidupkan
atau membangkitkan pribadi a (Yesus) yang ada dalam penderitaan maut.
"Dan Allah membangkitkan Dia, dengan melepaskan Dia dari sengsara
maut ..." (Kisah
Para Rasul 2:24)
Jadi, dalam hal ini anda harus
memahami bahwa "kematian" dan "hidup" adalah dua hal atau
pribadi yang berbeda dan "tidak-sama." Kematian adalah milik Yesus,
sedangkan hidup adalah untuk Tuhan.
Kalau memang konsep Paulus
mengenai terjerumusnya semua manusia kedalam dosa yang tidak bisa diampuni
selain harus mengakui Yesus sebagai pembebas dosa dan juru selamat itu benar,
maka bagaimana mungkin Tuhan telah membiarkan nasib jutaan umatnya yang hidup
sebelum Yesus semuanya telah bergelimang dosa dan tidak bisa diampuni? Jadi apa
gunanya, Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Salomo, dan sebagainya itu diutus
oleh Tuhan? Apakah mereka juga berdosa dan tidak selamat hanya gara-gara tidak
hidup pada zaman Yesus?
Alangkah baiknya kita simak
pernyataan Tom Harpur, seorang profesor dari Perjanjian Baru dan pendeta
Anglican, ia berkata :
"Mungkin saya tak cukup pandai dalam ilmu penalaran dasar, tetapi
saya tahu kalau saya tidak sendiri dalam mengemukakan pendapat bahwa konsep
kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa semua manusia pada satu sisi sangat
membingungkan dan disisi lainnya juga menjijikkan secara moril. Sepengetahuan
saya, Yesus tidak pernah mengatakan sesuatupun untuk menunjukkan bahwa
pengampunan dari Allah hanya bisa didapat karena penyaliban dirinya." (Demi Tuhan, hal.75)
Kaum Israel Harus
Tahu, Allah Telah Membuat Yesus Menjadi Tuhan
Gereja mengatakan bahwa mereka tidak pernah
mengangkat Yesus menjadi Tuhan, melainkan memang penyebutan Tuhan kepada Yesus
itu justru datangnya dari Allah itu sendiri...."
"Jadi seluruh kaum
Israel harus tahu dengan pasti, bahwa (Tuhan) Allah telah membuat Yesus, yang
kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." (Kisah Para Rasul 2:36)
Hanya orang
tidak waras saja yang “ngomong” kalau Allah mengangkat Yesus sebagai Tuhan.
Sebenarnya yang mengangkat Yesus sebagai Tuhan itu adalah orang-orang Kristen
di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Lembaga ini telah melencengkan terjemahan
"Kyrios" dan "Lord" dalam Injil.
Sekarang
logikanya saja, untuk apa Allah membuat Tuhan? Dalam agama Tauhid pernyataan ini
tidak ada jawabannya. Tetapi bagi penyembah berhala Platonis dan Stoic, Tuhan
yang mulia harus membuat Logos untuk menyelamatkan dunia yang berdosa.
Dalam Alkitab
dengan jelas dapat dibedakan. Kalau ayatnya mengatakan Allah Juruselamat kita,
berarti itu adalah sisa-sisa ajaran Tauhid yang masih terdapat dalam Alkitab.
Tetapi kalau ayatnya mengatakan Yesus adalah juru selamat penebus dosa manusia,
berarti ajaran penyembah berhala-lah yang telah merasuk ke dalam Alkitab.
Namun yang
ingin dijelaskan disini adalah bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia
menerjemahkan Alkitab secara sembrono, sehingga lahirlah terjemahan ayat
seperti tersebut diatas.
Pada saat
Lembaga Alkitab Internasional menerjemahkan Alkitab bahsa Yunani kedalam bahasa
Inggris, kata "Kyrios" yang berarti "Tuan atau Bos atau Paduka
atau Raja" diterjemahkan menjadi "Lord" atau "Sir"
yang juga berarti "Tuan atau Bos atau Paduka atau Raja". Misalnya :
v Land Lord = Tuan Tanah
v Drug Lord = Tuan atau Bos Obat terlarang
v
Gambling Lord =
Tuan atau Bos Judi
v
Lord of the Universe =
Tuan Alam Semesta atau Tuhan Alam Semesta.
Namun Lembaga
Alkitab Indonesia bukannya menerjemahkan "Kyrios" dan
"Lord" sebagai "Tuan" tetapi "Tuhan". Memang
untuk ini, LAI tidak perlu bekerja membanting tulang. Cukup dengan membubuhkan
huruf "h" di tengah-tengah kata "Tuan" maka sim salabim,
seorang makhluk dalam sekejap berubah menjadi Khalik (Sang Pencipta). Dengan
cara ini Lembaga Alkitab Indonesia dengan sengaja telah merubah Yesus
"Tuan” atau Pemimpin umat Israel menjadi "Tuhan” yang olehnya segala
sesuatu telah dijadikan, persis seperti pengutipan Logos penyembah berhala
Platonis. Terjemahan yang dipaksakan ini akhirnya menjadi janggal di telinga
mereka yang mendengarnya. Apalagi ketika kata "Tuhan" diterapkan kembali
ke pasangan kata seperti diatas, maka artinya menjadi lain. Land Lord tentu
sudah tidak sama dengan Tuhan Tanah. Gambling Lord tentu sudah tidak sama
dengan Tuhan Judi. Kalau Lord of the Universe dapat saja berarti Tuan atau
Tuhan, karena Tuan semesta alam adalah Tuhan. Disinilah letak ketidakjujuran
Lembaga Alkitab Indonesia dalam menerjemahkan Alkitab dengan benar.
Sebagaimana
diketahui, kata Tuan digunakan untuk manusia, terkecuali Tuan semesta alam
adalah Tuhan. Tetapi kata "Tuhan" sudah jelas tidak digunakan untuk
manusia, terkecuali bagi para penyembah berhala.
Coba
perhatikanlah kejanggalan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia atas kata
"Kyrios" dan "Lord" yang diterjemahkan sebagai Tuhan,
sebagai berikut :
"Tuhan,
Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..." (Yohanes 4:11)
"Tuhan,
nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi." (Yohanes 4:19)
"Siapakah
Engkau, Tuhan?" (Kisah
Para Rasul 9:5)
Coba bayangkan,
untuk apa timba bagi Tuhan? Yang perlu timba hanyalah manusia! Selanjutnya,
dari mana perempuan Samaria tahu bahwa yang perlu timba dihadapannya adalah
Tuhan Penguasa Alam Semesta? Sungguh aneh, untuk "memberi makan 5.000
orang" Tuhan mampu, sementara untuk memperoleh seteguk air saja, Tuhan
harus menunggu diberi timba.
Perhatikanlah
ayat berikut ini (Yohanes 4:11) dalam teks bahasa Inggris di berbagai versi
Alkitab :
1. "Sir," the woman said, 'you haven't qot a bucket..."
(Good News Bible, 1976)
2. "The woman
saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with..." (Holy Bible Authorized King
James Version)
3. "Sir"
she challenger him, "You do not have bucket..." (The New Testament of the New
American Bible, 1970)
4. "She said
to him: "Sir, you have not even a bucket..." (The Kingdom Interlinear
Translation of The Greek Scroptures, 1985)
5. "The woman
said to Him, "Sir, you have nothing to draw with,..." (New Tastament, Psalms,
Proverbs, 1982)
6. "The woman
saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with..." (The First Scofield Reference
Bible, 1986)
Dari ayat-ayat
yang dikutip dari berbagai versi Alkitab bahasa Inggris diatas, nyata dan jelas
bahwa penggunaan kata Sir adalah identik dengan kata Lord yang artinya Tuan,
bukan Tuhan (God)! Perlu disadari bahwa tidak ada satu pun kamus bahasa Inggris
di muka bumi ini yang menerjemahkan kata "Sir" sabagai "Tuhan"!
Dalam Yohanes 4:19,
perempuan Samaria tersebut menyebut Tuhan sebagai orang yang artinya menyamakan
Tuhan Pencipta (Khalik) dengan yang dicipta (makhluk). Padahal dalam berbagai
versi Alkitab berbahasa Inggris, Yesus dalam ayat ini disapa dengan Sir atau
Tuan, bukannya Tuhan!
Yang lebih aneh
lagi adalah pertanyaan Paulus dalam Kisah Para Rasul 9:5. "Siapa Engkau,
Tuhan?" Kalau Paulus benar-benar bertanya demikian, kita tentu wajar
mempertanyakan, apakah Paulus sudah pikun atau tidak waras?". Lucu amat
Paulus sebagai pendiri agama Kristen tidak tahu dan masih bertanya siapa
Tuhannya. Ini sungguh keterlaluan!
Tetapi kalau
kata "Kyrios" atau "Lord" diterjemahkan dengan kata
"Tuan", kan enak dan pas dibaca.
"Tuan, Engkau
tidak punya timba dan sumur ini amat dalam..." (Yohanes 4:11)
"Tuan, nyata
sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi." (Yohanes 4:19)
"Siapakah Engkau,
Tuan?" (Kisah Para Rasul 9:5)
Camkanlah
istilah tepat yang digunakan Yesus untuk dirinya sendiri.
"Janganlah pula
kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias
(Yesus)." (Matius
23:10)
Kalau memang
Yesus adalah Tuhan tentu beliau akan berkata : "Janganlah pula kamu disebut Tuhan, karena hanya satu Tuhanmu
yaitu diriku (Yesus)."
Oleh karena itu
sangat menyedihkan betapa banyak orang tersesat hanya gara-gara kebohongan dan
kesengajaan yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia dalam menyelewengkan
terjemahan Alkitab. Padahal maksud ayat pada Kisah Para Rasul 2:36 tersebut adalah :
"Allah menjadikan Yesus sebagai tuan
atau pemimpin dan rasul untuk Bani Israil”.
Aku
(Yesus) Adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup
Gereja mengatakan bahwa Yesus
sendiri yang telah mengaku sebagai Tuhan, karena ia telah berkata :
"Aku adalah Yang Awal
dan Yang Akhir, dan Yang Hidup." (Wahyu 1:17)
"Maka Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian.
Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 22:13)
Rangkaian perkataan itu
sebenarnya bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan Firman Allah. Bukti ini
dapat dilihat sebagai berikut :
“Aku
adalah Alfa dan Omega, Firman Tuhan Allah, Yang Ada dan Yang Sudah Ada dan Yang
Akan Datang, Yang Maha Kuasa.” (Wahyu 1:8)
Kemudian dalam Wahyu juga
dikatakan :
"Maka FirmanNya lagi kepadaku : Semuanya telah terjadi. Aku adalah
Alpha dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir." (Wahyu 21:6)
Jelas di ayat-ayat tersebut
diatas ada menyebutkan kata “Firman Tuhan Allah.” (Wahyu 1:8), dan “Firman-Nya
lagi kepadaku.” (Wahyu 21:6). Ucapan siapakah yang pantas diberikan dengan
istilah “Firman” pada ayat tersebut, kalau bukan ucapan Tuhan? Untuk ucapan
manusia jelas tidak cocok dengan istilah “Firman”, lebih pantas dengan istilah
“berkata”, sedangkan ucapan para nabi dan rasul biasanya diistilahkan dengan
kata “bersabda.”
Pada dasarnya, kita tidak mungkin
mengatakan Yesus itu sebagai sosok “Yang Awal” (Permulaan), sebab kenyataannya
Yesus pada mulanya itu belum ada, dan ia baru ada setelah dilahirkan oleh
Maria, ibunya. Jadi, ibunya lebih dulu ada daripada Yesus. Nah, sesudah itu
Yesus mati, dan orang yang sudah mati, tidak bisa dikatakan : sebagai “Yang
Akhir” (Terkemudian), sebab saat Yesus mati, orang-orang yang berada
disekitarnya ternyata banyak yang belum mati. Mustahil Yesus dikatakan “Yang
Terakhir”, sebab sosok yang dikatakan paling terakhir itu harusnya akan tetap
hidup di saat semua makhluk di alam semesta ini telah mati seluruhnya. Dan
tentu saja yang pantas dengan atribut “Yang Awal dan Yang Akhir” hanyalah Allah
Pencipta Alam Semesta.
Sebenarnya sangat aneh bagi umat Kristen,
menganggap Yesus itu sebagai Tuhan “Yang Awal dan Yang Akhir.” Mereka malah
tidak pernah meneliti, bahwa sebenarnya ada sosok yang lebih pantas dengan
julukan “Yang Awal dan Yang Akhir” dibanding dengan Yesus. Namun anehnya, sosok
tersebut malah tidak pernah diakui sedikitpun sebagai “Tuhan” oleh umat
Kristen. Sosok tersebut dapat kita lihat pada Alkitab yang menyebutkan :
"Malkisedik adalah raja Salem
dan imam Allah Yang Maha Tinggi… Menurut arti namanya, Malkisedek adalah ..raja
kebenaran, dan juga raja salem,
yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah,
harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan
sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya." (Ibrani 7:1-3)
Susunan ayat tersebut
menunjukkan, bukan hanya Yesus saja yang bisa dianggap sebagai permulaan tetapi
juga Malkisedik. Tapi nampaknya cerita tentang Malkisedik itu sebenarnya
hanyalah dongengan yang dibuat-buat atau cerita-cerita khayalan belaka. Sebab
tokoh bernama Malkisedek ini tidak pernah ada dalam catatan sejarah umat
manusia. Dalam sejarah, kita hanya mengenal sosok Adam dan Hawa sebagai manusia
pertama yang tidak beribu, tidak berbapak, tidak bersilsilah, dan yang paling
terdahulu diciptakan oleh Allah. Seandainya umat Kristen mau bersikap adil,
maka Adam dan Hawa-lah yang seharusnya mendapatkan gelar “Yang Awal atau Yang
Terdahulu,” bukan begitu?
Yesus Adalah Roh
Allah, yang Menjadi Allah Itu Sendiri
Gereja juga menuhankan Yesus bersandarkan pada
keajaiban kelahiran Yesus melalui bantuan Roh Kudus sebagai berikut :
“Pada waktu Maria, ibunya,
bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka
hidup sebagai suami istri.” (Matius 1:18)
Umat Kristen berkeyakinan bahwa
Roh Kudus adalah Roh Allah atau Allah sendiri, karenanya, bisa dipahami bahwa
Yesus merupakan pengejawantahan dari Roh Kudus atau Allah. Namun demikian,
Alkitab mencatat tentang peristiwa kelahiran Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya)
yang tidak kalah ajaibnya dibandingkan dengan peristiwa kelahiran Yesus dari
perawan Maria. Konon, Yohanes Pembaptis lahir dari seorang perempuan mandul
yang sudah tua bangka, namanya Elisabet, istri Nabi Zakharia. Peristiwa
kehamilan Elisabet ini, dijelaskan dalam Alkitab, tidak terlepas dari bantuan
penuh Roh Kudus. Konon, Yohanes Pembaptis diperkuat oleh Roh Kudus mulai dari
rahim ibunya. Berikut petikan ayat-ayatnya :
Pada zaman Herodes, raja Yudea,
adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga
berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet ... Tetapi mereka tidak
mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya ...
Tetapi malaikat (Gabriel) itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai
Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan
seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes ... Sebab
ia (Yohanes) akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau
minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya ...
Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam
rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas
1:5,7,13,15,41)
Jika kita mau konsisten, maka
kisah kelahiran Yohanes Pembaptis di atas tidak kalah ajaibnya dengan kisah
kelahiran Yesus menurut Alkitab. Keduanya, memiliki kualifikasi yang sama,
yakni sama-sama berkat campur tangan langsung Roh Kudus. Bedanya, jika Yesus
lahir dari seorang perawan muda, maka Yohanes Pembaptis lahir dari seorang
perempuan mandul yang sudah tua bangka. Keduanya tidak mungkin lahir tanpa
bantuan langsung Roh Kudus.
Jika Yesus dianggap Tuhan karena
kejadiannya oleh sebab campur tangan langsung Roh Kudus, maka, mengapa umat
Kristen tidak menuhankan Yohanes Pembaptis, yang juga kejadiannya oleh sebab
campur tangan langsung Roh Kudus?
Tidak ada satu ayat pun dalam
Alkitab yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan
Allah. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa Roh Allah (Perjanjian Lama)
tidak sama dengan Roh Kudus (Perjanjian Baru), karena umat Israel hanya
memiliki satu Tuhan yaitu Allah (Elohim atau Jahweh). Simak ayat berikut :
“Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap
gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan
air.” (Kejadian 1:2)
Roh
Allah sebagaimana
tersebut dalam ayat di atas (Perjanjian Lama) bermakna Allah sendiri dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Roh
Kudus dalam Perjanjian Baru. Demikian juga dengan roh Allah sebagaimana
tersebut dalam pesan Yesaya berikut ini :
“Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang
pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku ke atasnya,
supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” (Yesaya 42:1)
Roh
Allah dalam pesan
Yesaya di atas bermakna roh ciptaan
Allah. Allah telah menentukan "orang pilihan"-Nya dengan
memberikan roh kepadanya sejak masih dalam kandungan. Makhluk hidup seperti
malaikat, jin, manusia, dan binatang semuanya memiliki roh yang diciptakan oleh
Allah. Namun demikian, hanya tertentu saja dari mereka yang menjadi "orang
pilihan"-Nya.
Berkenaan dengan pesan Yesaya di
atas, Perjanjian Baru secara khusus menyebut istilah roh Allah berikut
ini :
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar
dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat roh Allah
seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari langit
yang mengatakan: "Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan."
(Matius 3:16-17)
Ayat Matius tersebut sebenarnya
merupakan distorsi terhadap pesan Yesaya di atas. Ada dua frase penting yang
dikutip oleh pengarang Injil Matius, yaitu "Engkaulah
Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" dan "Roh seperti merpati turun ke atas-Nya", yang sebenarnya merupakan
teks dari Yesaya, "Lihat, itu
hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku
telah menaruh Roh-Ku ke atasnya" dan "Siapakah mereka ini yang melayang seperti awan dan seperti burung
merpati ke pintu
kandangnya".
Penulis Injil Matius memang
sengaja mencontek beberapa frase pada Yesaya 42 tersebut, untuk menggenapi
nubuat Perjanjian Lama dengan menyuguhkan seolah-olah peristiwa pembaptisan
Yesus oleh Yohanes sang Pembaptis merupakan pemenuhan nubuat dari Yesaya pada
Perjanjian Lama tersebut. Padahal, teks Yesaya yang mereka kutip sesungguhnya tidak berkaitan sama sekali
dengan Yesus, tetapi teks Yesaya itu justru mengindikasikan akan datangnya
seorang nabi lain bernama Nabi Muhammad SAW, dan bukan Yesus. Hal ini dapat
kita baca pada ayat-ayat selanjutnya dari teks Yesaya tersebut.
Bagaimanapun juga, roh Allah
dalam kasus Matius ini tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Roh Kudus.
Lebih jauh, tidak ada konfirmasi sama sekali dalam seluruh Perjanjian Baru yang
menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah.
Bahkan, dalam Perjanjian Baru
sendiri, dengan mengkontraskan Matius 1:18 dan Lukas 1:26-27 dapat diidentifikasi
bahwa Roh Kudus sebenarnya adalah malaikat Gabriel (Jibril). Coba simak
ayat Matius berikut ini :
“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti
berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia
mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” (Matius 1:18)
Dan
bandingkan dengan ayat Lukas berikut :
“Dalam bulan yang keenam Allah
menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari
keluarga Daud; nama perawan itu Maria.” (Lukas
1:26-27)
Ringkasnya, identifikasi yang
paling mungkin atau bahkan paling tepat tentang pribadi Roh Kudus adalah
malaikat Jibril (lidah orang bule nyebutnya “malaikat Gabriel”).
Jibril adalah malaikat yang mempunyai tugas sebagai penyampai wahyu/ilham/pesan
dari Allah kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan Allah di muka bumi,
seperti Firman Allah berikut ini :
“Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki ‘Arsy, yang mengutus
Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Mu’min:15)
Malaikat Jibril sering
berubah-ubah bentuk fisik. Ia terkadang bisa menjelma menjadi manusia,
binatang, benda mati, raksasa, hingga kembali ke bentuk aslinya sebagai Roh
Kudus (Roh Suci yang ghaib). Dalam hal ini perlu dijelaskan ketika malaikat
Jibril menghampiri Maria dalam wujud manusia dengan menjanjikan Roh Kudus :
“Kata Maria kepada malaikat itu :
"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab
malaikat itu kepadanya : "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang
Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan
disebut kudus, anak Allah.” (Lukas
1:34-35)
Dijelaskan dalam ayat di atas,
bahwa ketika menghampiri Maria untuk mengabarkan kehamilannya, malaikat Jibril
berubah wujud seperti manusia, dan ketika memperkuat janin Yesus dalam
kandungan rahim Maria, malaikat Jibril kembali ke wujud aslinya sebagai Roh
Kudus. Demikian pula ketika memperkuat janin Yohanes Pembaptis dalam kandungan
rahim Elisabet, malaikat Jibril berwujud sebagai Roh Kudus. Konon, janin
Yohanes Pembaptis melonjak kegirangan ketika mendengan salam Maria :
“Dan ketika Elisabet mendengar salam
Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh
Kudus.” (Lukas 1:41)
Roh Kudus juga konon memberi
wahyu atau ilham kepada Nabi Zakharia untuk bernubuat :
“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh
Kudus, lalu bernubuat, katanya: ...” (Lukas
1:67)
Selain
itu Roh Kudus juga muncul dalam diri Stepanus (Kisah Para
Rasul 6:5), dan dikaruniakan kepada semua orang yang mentaati perintah Allah.
(Kisah Para Rasul 5:32)
Jadi, Roh Kudus itu memiliki tiga
macam pengertian, yakni :
1. Roh suci yang dimiliki oleh semua
manusia sebelum jasadnya dihidupkan,
2. Roh suci para nabi dan rasul
Allah, serta roh suci orang-orang yang selalu taat kepada Allah, dimana roh
mereka itu tidak terkontaminasi oleh pengaruh buruk lingkungan jahat,
3. Malaikat Jibril
Bagaimana cara membedakan ketiga
pengertian Roh Kudus tersebut dalam Alkitab? Mudah saja, anda hanya perlu
membaca teksnya dan mengerti konteksnya. Namun, terlepas dari persoalan siapa
sebenarnya Roh Kudus itu, yang pasti Alkitab tidak pernah meninggikan derajat
Roh Kudus hingga setara dengan Allah.
Yesus Bisa
Mengampuni Dosa Seseorang
Gereja menuhankan Yesus berdasarkan sebuah pernyataan Yesus yang
menyatakan dirinya berkuasa mengampuni dosa para pengikutnya, sebagai berikut :
“Yesus berkata
kepada seorang yang lumpuh : "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." (Matius
2:5)
“Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah ia : ‘Hai saudara, dosamu
sudah diampuni’.“ (Lukas
5:20)
Kalau membaca
ayat tersebut secara tekstual (apa adanya), maka tentu kita semua akan merasa
kaget dan bertanya-tanya dalam hati : "Siapakah yang dapat mengampuni dosa
selain dari Allah sendiri?" Padahal kita tahu bahwa di dalam Injil Yohanes, Yesus menolak dikatakan kalau
ucapan dan pengajarannya hanya berdasarkan inisiatif pribadinya semata, Ia
berkata :
"Sebab aku berkata-kata bukan dari diriku sendiri, tetapi
Bapa, yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk mengatakan apa
yang harus aku katakan dan aku sampaikan." (Yohanes 12:49)
Lihat juga pada Yohanes 8:40-42 yang dengan sangat
tegas menyatakan bahwa Yesus
hanyalah seorang rasul atau utusan
Tuhan untuk umat Israel.
Adapun ayat-ayat
dalam Alkitab yang seolah-olah memperlihatkan Yesus berkuasa mengampuni dosa
orang lain itu muncul akibat ketidakpahaman para pengikut Paulus mengenai
maksud dan pengertian “dosa” yang sesungguhnya. Tanpa meneliti lebih jauh,
mereka langsung saja memproklamirkan bahwa Yesus telah mendapat limpahan kuasa
penuh dari Allah untuk mengampuni dosa manusia, dan “katanya”, Yesus dengan ini
mengumumkan ke seluruh pelosok dunia bahwa dirinya adalah juru selamat.
Para pendukungnya Paulus, gereja, dan bahkan orang-orang Yahudi sendiri pun
banyak yang tidak memahami ucapan Yesus yang berkaitan dengan pengertian
“dosa”. Hampir seantero dunia saat itu, baik orang-orang Yahudi maupun
bangsa-bangsa lainnya, menghubungkan penyakit yang menimpa seseorang dengan
dosa yang mereka lakukan. Silahkan perhatikan penjelasan penulis Injil Yohanes
tentang hal tersebut :
“Kemudian Yesus bertemu dengan
dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya : “Engkau telah sembuh, jangan
berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yohanes 5:14)
Uskup John Shelby
Spong dari New Jersey,
Amerika Serikat mengkritik para pemimpin gereja yang masih mempertahankan
mati-matian kekeliruan ini.
Sekian banyak penafsiran Alkitab
yang saat ini harus disingkirkan karena ternyata salah. Penyakit, misalnya
bukan disebabkan oleh hukuman karena berdosa. (John Shelby Spong, “Why Christianity Must
Change or Die”, hal 6-7)
Dengan demikian
menjadi sangat jelas bahwa dari konteks pengertian dosa, telah terjadi
kekeliruan baik di kalangan Yahudi maupun Kristen. Kekeliruan umat Yahudi
adalah menganggap penyakit merupakan hukuman Tuhan atas dosa yang diperbuat
manusia. Sehingga kalau seseorang disembuhkan, berarti dosanya sudah diampuni
oleh Allah.
“Kuasa Tuhan (Allah) menyertai
Dia (Yesus), sehingga dia dapat menyembuhkan orang sakit.” (Lukas 5:17)
Dari ayat-ayat di atas, jelas
terlihat ada dua pihak yang memainkan peran. Pihak pertama adalah Yesus yang
menyembuhkan penyakit, dan pihak kedua adalah Allah yang mengampuni dosa
seseorang dengan kesembuhan.
Sementara kekeliruan umat
Kristen, lebih parah lagi, yakni selain memandang penyakit sebagai hukuman atas
dosa juga menganggap bahwa Yesus yang menyembuhkan penyakit seseorang,
sekaligus sebagai penguasa yang mengganti kedudukan Allah sebagai pemberi ampun
atas dosa seseorang.
Padahal dalam ayat Injil tersebut
diatas, Yesus menggunakan kata kerja pasif. “Dosamu
sudah diampuni (oleh Allah)”, dan bukan : “Dosamu sudah ‘ku’ ampuni atau “Aku (Yesus) sudah mengampuni dosamu.”
Yesus sendiri
mengajari umatnya agar langsung memohon ampun kepada Allah, dan bukan kepada
dirinya.
“Karena itu berdoalah demikian :
Bapa kami (Allah) di surga, dikuduskan namaMu… ampunilah kami atas kesalahan
kami…” (Matius
6:9,12)
“Sejak waktu itu Yesus
memberitakan : bertobatlah, sebab Kerajaan sorga sudah dekat!” (Matius 4:17)
BAB II
SIFAT-SIFAT KEMANUSIAAN
YESUS
Sebelumnya kita
sudah membantah beberapa penafsiran gereja terhadap ayat-ayat Alkitab yang
sering mereka pakai untuk menuduh Yesus sebagai Tuhan. Bantahan tersebut sudah
cukup untuk membuktikan bahwa Yesus memang bukan Tuhan, sebab ia tidak pernah
berkata-kata dan meminta agar dirinya disembah-sembah sebagai Tuhan.
Sebaliknya, Yesus malah menolak tuduhan orang-orang yang ingin menganggapnya
sebagai Tuhan.
Namun kalau
anda masih belum puas juga dengan bantahan-bantahan yang telah dijelaskan
tersebut, maka ada baiknya anda melihat fakta-fakta yang terjadi dimasa
kehidupan Yesus. Adapun fakta-fakta ini akan semakin memperkuat bukti bahwa
Yesus itu sebenarnya adalah manusia biasa dan dan ia tidak pantas disebut
Tuhan.
Yesus Merasakan
Lapar dan Membutuhkan Makanan
Dalam Alkitab, Yesus lebih banyak
digambarkan sebagai sosok manusia, dan bukan Tuhan. Salah satunya, Alkitab
menggambarkan Yesus sebagai manusia yang merasakan lapar, dan membutuhkan makan
dan minum.
“Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan
empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus." (Matius 4:2)
"Pada pagi-pagi hari dalam
perjalanannya kembali ke kota,
Yesus merasa lapar." (Matius 21:18)
"Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua
belas muridnya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.” (Markus 11:12)
"Kemudian anak manusia (Yesus) datang,
Ia makan dan minum, …Lihatlah,
Ia seorang pelahap dan peminum… (Matius 11:19 dan Lukas 7:34)
“Berkatalah Ia
(Yesus) kepada mereka (murid-muridnya) : ’Adakah padamu makanan disini’? Lalu mereka memberikan kepadanya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya
dan memakannya di depan mata mereka.” (Lukas 24:41-43)
“Setelah hari
malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.” (Matius
26:20)
Sebenarnya
semua orang sudah tahu dan paham kalau Yesus itu sama seperti manusia biasa
lainnya, ia merasa lapar dan membutuhkan makanan. Dalam Al-Qur’an, persoalan
“makanan” ini sendiri sangat ditekankan sebagai salah satu cara untuk menolak semua
anggapan dan klaim orang-orang yang menuduh Yesus sebagai Tuhan, Allah
berfirman :
Yesus Al-Masih putera Maria itu hanyalah seorang
Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya
seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana
Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami),
kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat
Kami itu). (Q.S. Al-Ma’idah:75)
Hal yang sangat
menarik perhatian, bahwa masalah “makanan” adalah masalah yang sangat penting
yang dikemukakan Allah untuk meyakinkan kita semua, bahwa Yesus terbiasa
memakan makanan. Allah sebenarnya ingin menyindir orang-orang yang berani
coba-coba mengatakan Yesus itu sebagai Tuhan. Artinya, kita sebagai manusia
yang punya otak disuruh mikir, apakah pantas Tuhan itu memakan makanan?
Seandainya
Yesus itu dikatakan sebagai Tuhan, bukankah ia juga memakan makanan sama
seperti halnya anda sebagai manusia yang makan tiap hari. Nah, setelah anda
memakan makanan, lalu apa yang akan terjadi kemudian? Sudah tentu anda akan
merasa kenyang dan tidak lapar lagi, bukan? Nah, kalau anda sudah kekenyangan
makan, sampai perut anda “mules”, kemana anda akan pergi? Ya, tentu saja anda
akan pergi “nyetor” ke toilet atau ke WC? Terus kalau tidak anda tidak punya
WC, ya, anda bisa saja lari ke sungai, pergi ke semak belukar, cari bebatuan,
atau menggali tanah.
Dengan cara
berpikir seperti itulah, Tuhan ingin menunjukkan kepada kita semua, bahwa Yesus
itu tidak pantas disebut sebagai Tuhan, sebab ia biasa memakan makanan seperti
halnya manusia lainnya. Kalau kita mengatakan Yesus sebagai Tuhan, itu artinya
sama saja dengan menuduh Tuhan pergi ke toilet? Bukankah itu merupakan sebuah
penghinaan terhadap Tuhan?
Oleh karena itu, kita tidak bisa memuliakan Yesus dengan cara mengangkatnya
sebagai Tuhan, karena nantinya banyak orang yang akan melecehkan Yesus hanya
gara-gara persoalan “makanan” dan “toilet “ tersebut diatas. Apakah umat
Kristen rela “diperolok-olok” kalau Tuhannya ternyata pergi ke toilet? Pasti
tidak, khan? Oleh karena itu janganlah anda sembarangan mengangkat Yesus
sebagai Tuhan, melainkan muliakanlah dia dengan cara yang baik dan proporsional
seperti yang diajarkan oleh Al-Qur’an, sebagai berikut :
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata : ‘Hai Maria,
sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang
diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih Yesus
putera Maria, seorang terkemuka di dunia dan di akherat dan termasuk
orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Q.S. Ali Imran:45)
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil
(Yesus berkata kepada mereka), "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu
dengan membawa sesuatu tanda (mu'jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk
kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi
seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak
dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati
dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang
kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda
(kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." (QS. Ali Imran:49)
Adapun hal-hal
yang baik dan proporsional yang harus kita katakan tentang sosok Yesus
berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut adalah :
1.
Yesus hanyalah salah satu dari sekian banyak nabi dan
rasul yang telah diutus oleh Allah ke muka bumi,
2.
Yesus adalah salah seorang rasul yang kelahirannya penuh
dengan mukjizat. Ia lahir hanya melalui sel telur dari ibunya tanpa melalui
bantuan sperma laki-laki (tanpa Ayah). Meskipun demikian, proses kelahiran
Yesus tidaklah lebih ajaib dari proses penciptaan Adam dan Hawa yang tanpa ayah
dan ibu,
3.
Yesus adalah rasul yang memiliki sebutan gelar Al-Masih
atau Kristus,
4.
Yesus adalah salah satu rasul yang dianugerahi kelebihan
dan keistimewaan (mukjizat) oleh Allah, dapat menghidupkan (memulihkan) orang
mati (orang yang hampir mati atau orang yang mati suri), menyembuhkan orang
buta, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta, dan menebak rahasia-rahasia
yang disembunyikan oleh orang lain,
5.
Yesus adalah salah satu rasul yang mengajarkan tauhid
(Keesaan Tuhan), menerima Injil (kabar gembira), dan membenarkan ajaran Taurat.
6.
Yesus adalah salah satu rasul kesayangan Allah yang
memiliki kepribadian yang baik, bijaksana, taat kepada Allah, dan merupakan
panutan bagi umatnya.
Yesus Hanya Mengaku
Sebagai Utusan Tuhan
Dalam Alkitab tidak ada satu ayat
pun yang dapat membuktikan kalau Yesus secara langsung pernah berkata : “Akulah
Yesus Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” Bahkan penulis akan memberikan hadiah
percuma sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) bagi siapa saja yang bisa
menemukan dalam Alkitab, Yesus pernah berkata : “Akulah Yesus Tuhanmu, maka
sembahlah diriku.” Penulis yakin, semua orang tidak akan pernah dapat menemukan
pengakuan Yesus yang seperti itu.
Mari kita lihat bagaimana para
penulis Alkitab, terutama pada Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes,
menceritakan tentang pengakuan Yesus yang sebenarnya tentang sosok dirinya dan
Tuhannya. Dalam Injil-Injil tersebut, Yesus berkata :
“Aku harus memberitakan Injil Kerajaan
Allah, sebab untuk itu aku diutus.” (Lukas 4:43)
“Barangsiapa menolak aku, ia menolak Dia
yang mengutus aku.” (Lukas 10:16)
“Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang
mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34)
“Sesungguhnya anak (Yesus) tidak dapat
mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri, jikalau ia tidak melihat Bapa
mengerjakannya. Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan oleh
anak.” (Yohanes
5:19)
“Barangsiapa yang tidak menghormati anak
(Yesus), ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus dia (Yesus).” (Yohanes 5:23)
“Sesungguhnya barangsiapa mendengar
perkataanku dan percaya kepada Dia yang mengutus aku…” (Yohanes 5:30)
“…Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa
kepadaku, supaya aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang kukerjakan
sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang aku, bahwa Bapa yang
mengutus aku, Dialah yang bersaksi tentang aku…” (Yohanes 5:36-37)
“Dia yang mengutus aku adalah benar, dan apa
yang kudengar dari pada-Nya, itu yang kukatakan kepada dunia.” (Yohanes 8:26)
“…Aku tidak berbuat apa-apa dari diriku
sendiri, tetapi aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa
kepadaku. Dan Dia yang telah mengutus aku, Dia menyertai aku, Dia tidak
membiarkan aku sendiri, sebab aku senantiasa berbuat apa yang berkenan
kepada-Nya.”
(Yohanes 8:28-29)
“…Aku, seorang
yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang kudengar dari Allah.”
(Yohanes 8:40)
“Aku datang bukan
atas kehendakku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus aku.” (Yohanes 8:42)
“Jikalau aku memuliakan diriku sendiri, maka
kemuliaanku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapakulah yang memuliakan aku,
tentang siapa kamu berkata : Dia adalah Allah kami…” (Yohanes 8:54)
“Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan
aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri disini mengelilingi aku, aku
mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku.” (Yohanes 11:42)
“Barangsiapa percaya kepadaku, ia bukan
percaya kepadaku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus aku. Dan barangsiapa melihat
aku, ia melihat dia, yang telah mengutus aku.” (Yohanes 12:44-45)
“…Aku berkata-kata bukan dari diriku
sendiri, tetapi Bapa yang mengutus aku, Dialah yang memerintahkan aku untuk
mengatakan apa yang harus aku katakana dan aku sampaikan. Dan aku tahu, bahwa
perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang aku katakan, aku
menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepadaku.” (Yohanes 12:49-50)
“…Firman yang kamu dengar itu bukanlah
daripadaku, melainkan dari Bapa yang mengutus aku.” (Yohanes 14:24)
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa
mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus
yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3)
“…Segala firman yang Engkau sampaikan
kepadaku telah kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya…. Dan
mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku.” (Yohanes 17:8)
“…Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti
Bapa mengutus aku.” (Yohanes 20:21)
Dan lain sebagainya.
Jadi, sudah
terbukti bukan, bahwa Yesus itu hanyalah salah seorang rasul diantara sekian
ribu nabi dan rasul yang pernah diutus Allah ke muka bumi. Sebagai utusan
Allah, tentu saja Yesus tidak bisa “seenaknya” sendiri bekerja. Semua pekerjaan
yang ia lakukan seluruhnya harus berdasarkan perintah dan pengesahan langsung
dari Allah. Sama halnya dengan mukjizat, seperti menghidupkan orang mati atau
menyembuhkan orang buta, yang ia tunjukkan kepada umatnya, itupun hanya bisa
terjadi atas kehendak dan izin Allah semata. Siapapun manusia di muka bumi ini,
termasuk Yesus, sepintar apapun dirinya, ia tidak akan sanggup berbuat apa-apa,
dan tidak akan berarti apa-apa, tanpa bantuan, bimbingan, dan petunjuk dari
Allah.
Yesus Menyuruh
Umatnya Hanya Menyembah Kepada Allah Saja
Seperti halnya
para nabi dan rasul-rasul sebelumnya yang mengajarkan tauhid (Keesaan Tuhan),
Yesus sendiri juga mengajarkannya. Namun karena ulah gereja, ajaran tauhid yang
diajarkan oleh Yesus untuk hanya menyembah kepada Tuhan Allah saja, akhirnya
menjadi berubah dengan ditambahi Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus. Artinya,
ajaran Keesaan Tuhan berubah menjadi ajaran Trinitas (Bapa, Putera, dan Roh
Kudus).
Tauhid atau
Keesaan Allah itu artinya menyakini bahwa Allah itu Esa tanpa ada sekutunya.
Ada tiga aspek tauhid :
1.
Keesaan Ketuhanan Allah (Tauhid Rububiyah). Seorang
muslim percaya bahwa Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta ini hanya satu.
Dia adalah Pencipta dan Pemelihara alam semesta tanpa sekutu atau patner. Ini
adalah inti ajaran Nabi Muhammad SAW dan Yesus.
2.
Keesaan menyembah Allah (Tauhid Uluhiyyah). Seorang
muslim percaya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, tidak ada yang lain. Ini
diajarkan pula oleh Yesus sebagaimana yang di terangkan diatas.
3.
Keesaan nama dan sifat Allah (Tauhid-al Asma was Sifat). Seorang muslim harus
menyebut nama Allah dengan nama-nama yang sudah disebut dalam Al-Qur'an
(Asma-ul-Husna). Sifat-sifat Allah inilah yang oleh para penyembah berhala
dianggap sebagai oknum-oknum lain yang ikut disembah sebagai Tuhan.
Ketiga aspek
tauhid diatas selalu diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah secara
terus-menerus, sejak zaman Nabi Adam As. hingga zaman Nabi Muhammad SAW.,
termasuk pada diajarkan pula oleh Yesus.
Alkitab secara
jelas menyebutkan bahwa Yesus hanya meneruskan ajaran tauhid para nabi dan
rasul pendahulunya. Yesus tidak pernah merubah-rubah konsep ketuhanan yang ia
terima dari Allah. Konsep itu adalah kalimat tauhid yang berbunyi : “Tiada
Tuhan Selain Alah atau Tuhan itu Esa”. Beberapa bentuk konsep tauhid ini dapat
kita lihat dari perkataan Yesus sebagai berikut :
“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan
hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Matius 4:10 dan Lukas 4:8)
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama
seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)
“…Jikalau engkau ingin masuk kedalam hidup
(yang kekal), turutilah segala perintah Allah.” (Matius 19:17)
“Dan janganlah kamu menyebut siapapun Bapa
di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.” (Matius 23:9)
“…Percayalah kepada Allah (semata).” (Markus 11:22)
“Hukum yang terutama ialah : ‘Dengarlah hai
orang Israel,
Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Markus 12:29)
“…Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap
hati, jiwa, kekuatan, dan akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang
pertama.” (Matius
22:37-38 dan Lukas 10:27)
“…Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit
dan bumi…”
(Lukas 10:21)
“Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang
menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang
datang dari Allah Yang Esa?” (Yohanes 5:44)
“…Aku mengenal Dia, dan aku menuruti
Firman-Nya.”
(Yohanes 8:55)
“Engkau,
satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau
utus.” (Yohanes 17:3)
Dan lain sebagainya.
Apa yang dikatakan Yesus tersebut diatas hanyalah sekedar meneruskan
perkataan para nabi dan rasul pendahulunya, seperti yang dapat kita baca dalam
Alkitab Perjanjian Lama tentang tauhid Nabi Musa as. sebagai berikut :
“Tuhanlah
Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” (Ulangan 4:35)
“Dengarlah, hai
orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa.” (Ulangan 6:4)
“Aku, Akulah
Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku.” (Ulangan 32:39)
Tauhid Nabi Daud as. :
“Ya
Tuhan Allah, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain
Engkau.” (II Samuel 7:22)
Tauhid Nabi Sulaiman as. :
"Ya Tuhan,
Allah Israel!
Tidak ada Allah seperti Engkau.” (I Raja-Raja 8:22-23)
Tauhid
Nabi Yesaya as. :
“Akulah Tuhan
dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” (Yesaya
45:5-6)
“Akulah Allah
dan tidak ada yang lain seperti Aku.” (Yesaya 46:9)
Tauhid
Nabi Hosea as. :
“Aku adalah
Tuhan, Allah-mu, engkau tidak mengenal allah (lain) kecuali Aku. Dan tidak ada
juru selamat (lain) selain Aku.” (Hosea 13:4)
Selanjutnya, ketika Nabi Muhammad SAW diutus Allah ke dunia, ajaran
beliau juga sama persis dengan ajaran Yesus, yakni mengajarkan pengikutnya
untuk mengucapkan tauhid dengan kalimat :
Asyhadu an laa ilaa ha illallah. Wa asyhadu
anna muhammadar rasulullah. (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut
disembah kecuali Allah. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul utusan
Allah)
Jadi, kalimat tauhid itu sangat sederhana sekali dan mudah diucapkan,
bukan? Tapi, memang sangat berat jika diucapkan oleh lidah-lidah umat Kristen,
yang sudah terbiasa dengan ucapan “Atas nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”
Padahal, kalau memang ucapan umat Kristen mengenai Trinitas itu benar dan
sangat penting untuk diajarkan, maka seharusnya Yesus sudah mengajarkannya dari
dulu sejak ia masih hidup siang-malam bersama murid-muridnya. Namun nyatanya,
Yesus tidak pernah mengajarkannya. Ia hanya mengulang perintah Tuhan yang sama
tentang tauhid, yang pernah diberikan kepada Musa (Ulangan 4:35), Daud (II
Samuel 7:22), Sulaiman (I Raja-Raja 8:23), Yesaya (Yesaya 43:10-11), dan para
nabi dan rasul pendahulu lainnya.
Islam sebenarnya sudah menolak mentah-mentah konsep Trinitas yang
diajarkan gereja tersebut. Penolakan ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an, dimana
Allah berfirman :
"Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan
janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya
Almasih, Isa putra Maryam itu, ada(ah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan
kalimatNya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh
dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah
kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu).
(Itu) (ebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci
Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah
kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara". (Q.S. An-Nisa:171)
Untuk itulah, wahai saudara-saudariku umat Kristen, janganlah anda
merasa berat mengucapkan kalimat : “Tiada Tuhan selain Allah.” Sebab
kalimat inilah yang nantinya akan menyelamatkan manusia kelak di akherat nanti.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya dipintu sorga tertulis :
‘Sesungguhnya Akulah Allah, Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Aku. Aku
tidak akan menyiksa orang-orang yang mengucapkannya’.” (H.R. Ibnu Abbas r.a.)
“Barang siapa yang mengucapkan kalimat
‘Tiada Tuhan selain Allah’ dengan ikhlas, dia akan masuk sorga.” (H.R. Zaid bin Arqam r.a.)
“Barangsiapa mengucapkan kalimat ‘tiada
Tuhan selain Allah’ dan membenarkannya dengan hati, kemudian ia mati dengan
(membawa) ucapan itu, maka neraka jahannam diharamkan atasnya.” (H.R. ‘Amr r.a.)
Yesus Menolak
Disebut Orang Baik
Dalam hal menilai kebaikan, Yesus
menolak disebut orang yang baik dan benar, sebaliknya ia mengatakan hanya Allah
saja-lah yang Maha Baik dan Maha Benar. Yesus berkata :
“Mengapa kau katakan aku baik? Tak
seorangpun yang baik selain daripada Allah saja. (Markus 10:18 dan Lukas 18:19)
Dalam
pernyataannya tersebut, kita bisa menilai bahwa Yesus sebenarnya bermaksud
untuk bersikap rendah hati (tawaddhu’) dihadapan manusia. Ia tidak ingin
menyombongkan dirinya. Dan memang, sikap Yesus tersebut amat sangat manusiawi
sekali. Sama halnya jika anda dipuji orang lain, lalu anda merasa malu dan
mencoba bersikap merendah dengan berkata : “Ah, pujian anda terlalu berlebihan”
atau “Ah, saya bukanlah orang baik seperti yang anda kira”, dan sebagainya.
Sikap merendah
adalah salah satu sifat yang hanya ada pada diri manusia. Tuhan mustahil akan
merendahkan diri-Nya seperti manusia, karena Tuhan adalah Maha Tinggi dan
berkuasa atas kesombongan secara mutlak. Itulah sebabnya, manusia dilarang
bersikap sombong terhadap sesamanya, karena hanya Allah-lah yang berhak
memiliki sifat tersebut. Yesus berkata : “...Bapa lebih besar daripada aku.”
(Yohanes 14:28). Artinya, Allah Maha Besar diatas segalanya, dan semua makhluk
hidup yang ada di alam semesta, termasuk Yesus, tidak berarti apa-apa dihadapan
Allah Yang Maha Kuasa.
Meskipun Yesus
adalah hamba kesayangan Allah, tapi ia tahu diri dan tidak berani menyombongkan
dirinya dihadapan orang lain. Jika ada orang-orang yang masih “ngotot”
menganggap Yesus sebagai Tuhan, maka sama artinya dengan mengatakan Tuhan itu
munafik, iya khan? Kalau benar Yesus itu Tuhan, mengapa ia harus merendahkan
dirinya dihadapan manusia? Bukankah ia seharusnya menyombongkan dirinya saja
dan berkata : “Memang aku adalah yang orang paling baik di dunia ini.”, bukan
begitu?
Yesus Tidak
Mengetahui Hari Kiamat
Menurut pemahaman umat Kristen,
sosok Bapa, Yesus, dan Roh Kudus adalah 3 (tiga) pribadi yang menyatu sebagai
Tuhan. Itu artinya, ketiga pribadi (Bapa, Yesus, dan Roh Kudus) harusnya
memiliki kesamaan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Sebagai contoh, jika
Bapa mengetahui akan datangnya hari kiamat, maka seharusnya Yesus dan Roh Kudus
juga tahu tentang hal tersebut, sebab mereka adalah satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Namun nyatanya, Yesus sendiri malah sama sekali tidak tahu
tentang akan terjadinya hari kiamat tersebut. Hal ini ditunjukkan dalam
Alkitab, sebagai berikut :
“Tetapi tentang hari dan saat itu (kiamat
terjadi), tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat disorga (pun) tidak,
dan anakpun (Yesus) tidak (tahu), hanya Bapa sendiri (yang tahu).” (Matius 24:36 dan Markus 13:32)
Dalam Al-Qur’an juga diceritakan
tentang pengakuan Yesus yang tidak mengetahui perkara-perkara ghaib atau hari
kiamat sebagai bukti bahwa ia menolak dikatakan sebagai Tuhan. Allah berfirman
:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman :
‘Hai Yesus putera Maria, adakah kamu mengatakan kepada manusia : ‘Jadikanlah
aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah? Yesus menjawab : ‘Maha Suci Engkau
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui
apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib’.” (Q.S. Al-Ma’idah:116)
Ketidaktahuan Yesus tentang hari
kiamat itu adalah wajar, karena Yesus adalah manusia biasa juga seperti kita
semua. Hanya Allah-lah yang mengetahui segala perkara-perkara ghaib diseluruh
alam semesta ini. Selain mengetahui hari kiamat, Allah juga mengetahui tentang
hari kematian, hari kelahiran, hari perjodohan, dan perolehan rezeki dari setiap
manusia, yang kita sendiri tidak punya pengetahuan akan hal itu.
Yesus Digoda oleh
Iblis (Hawa Nafsu)
Alkitab menceritakan bahwa konon,
selama 40 hari 40 malam Yesus telah digoda, diganggu, atau dicoba oleh Iblis.
Saat sedang berpuasa atau tirakat, Yesus dibawa kesana-kemari sambil digoda
oleh Iblis. (Matius 4:1-11, Markus 1:12-13, dan Lukas 4:1-13)
Kalau umat Kristen mengatakan
Yesus sebagai Tuhan, coba dipikir, apakah pantas Tuhan itu diganggu dan digoda
oleh Iblis? Tentu saja Tuhan tidak pantas digoda oleh Iblis. Tapi, kalau kita
mengatakan Yesus hanyalah manusia biasa saja, maka wajarlah kalau ia digoda
oleh Iblis. Sebab kerjaannya “Si Iblis”, ya, cuma satu, yakni menggoda manusia
dan menyesatkannya. Sasaran yang digoda Iblis juga hanya satu, yakni “hawa
nafsu” atau keinginan-keinginan yang ada dalam diri manusia. Kebanyakan manusia
banyak yang terjerumus ke dalam dosa, akibat mereka tidak mampu menahan hawa
nafsunya terhadap godaan Iblis, yang antara lain berupa : harta, tahta, dan
wanita, dan lain sebagainya. Untuk itulah, Allah memerintahkan kita agar
melakukan puasa untuk menahan diri dari keinginan-keinginan atau hawa nafsu
guna mencegah godaan Iblis yang selalu bertujuan menjerumuskan kita kepada
perbuatan dosa.
"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh
keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya." (Yakobus 1:14)
Yesus sangat mengerti dengan
adanya salah satu kelemahan berupa “hawa nafsu” yang ada dalam diri setiap
manusia, sehingga ia kemudian melakukan puasa untuk mengurangi sedikit
kelemahannya tersebut. Paulus sebagai pendiri agama Kristen, Bapak moyangnya
gereja, juga mengakui tentang adanya kelemahan Yesus tersebut. Paulus berkata :
“Imam besar yang kita punya (Yesus-pent),
bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya (ia) sama dengan kita, Ia telah dicobai (oleh Iblis), hanya tidak
berbuat dosa.” (Ibrani 4:15)
Sangat jelas, bahwa Yesus adalah
manusia biasa yang punya hawa nafsu atau keinginan-keinginan. Ia sama seperti
kita semua, yakni sama-sama pernah menghadapi godaan dan rayuan Iblis. Seumur
hidup kita akan terus digoda dan dirayu oleh Iblis, agar kita menjadi tersesat
dan akhirnya mengikuti jalan mereka menuju ke neraka. Firman Allah :
“Dan Kami jadikan musuh bagi tiap-tiap nabi,
yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka
membisikkan ke sebagian yang lain kata-kata indah untuk menipu (manusia). Jika
Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah
mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Q.S. Al-An’aam:12)
“…Barangsiapa menjadikan setan itu temannya,
maka setan adalah teman yang seburuk-buruknya.” (Q.S. An-Nisaa’:38)
Tuhan tidak mungkin digoda oleh
Iblis, sebab Iblis adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang tunduk dengan
segala kehendak dan ketentuan Tuhan. Memang, Iblis pernah membangkang kepada
Tuhan, karena menolak menghormati ciptaan Tuhan yang bernama Adam (manusia).
Namun Iblis tetap tidak bisa mengelak dari kehendak Tuhan, Ia
telah ditetapkan sebagai makhluk terkutuk yang akan menghuni neraka
selama-lamanya. Bisa saja Tuhan melenyapkan Iblis saat ia membangkang dulu.
Tapi, Tuhan telah memberi keringanan kepada Iblis, dan diijinkan hidup sampai
akhir masa dunia dan ia juga diberikan keleluasaan untuk menggoda manusia.
Karena itulah, tujuan Iblis untuk
hidup dimuka bumi hanyalah satu, yakni menggoda dan merayu manusia agar mereka
menjadi tersesat dan menjadi temannya “Si Iblis” selama-lamanya. Tidak ada
makhluk lain yang digoda oleh Iblis, selain manusia. Sedangkan Allah tidak bisa
diganggu-ganggu oleh Iblis. Coba simak perkataan Yakobus berikut :
“Apabila seorang dicobai, janganlah ia
berkata : “Percobaaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai
oleh yang jahat, dan Dia sendiri tidak mencobai siapapun.” (Yakobus 1:13)
Yesus Belajar dari
Pengalaman
Dalam suratnya kepada Filemon
(Ibrani 5:8), Paulus mengatakan bahwa Yesus menjadi sempurna (orang bijak)
karena melalui proses pembelajaran yang sangat panjang dari pengalaman,
kesalahan, dan penderitaan.
Sangat manusiawi sekali, apabila
manusia belajar dari pengalaman. Seorang manusia akan bisa menjadi benar, jika
ia pernah mengalami kesalahan. Manusia akan menjadi pandai, pintar, atau
cerdas, jika ia telah belajar dan keluar dari kebodohannya. Manusia tidak akan
jatuh terpeleset, jika ia telah memperhatikan posisi berjalannya. Semua orang
yang bernama manusia itu belajar dari pengalaman, termasuk juga Yesus. Sama
halnya kalau anda pikir, apakah ada bayi manusia yang baru lahir, tiba-tiba ia
bisa langsung berjalan dan berlari-lari? Tentu ia harus belajar merangkak dulu
khan? Bahkan ia pun akan “jatuh bangun” dan perlu dibimbing oleh orang lain
dalam berjalan.
Tuhan tidak sama dengan manusia,
sebab Tuhan tidak perlu belajar dari pengalaman. Justru sebaliknya, Tuhan-lah
yang mengajari manusia agar mereka bisa mikir dengan otaknya, dan tidak menjadi
orang “blo’on” seperti orang-orang yang suka menyebut-nyebut Yesus sebagai
Tuhan.
Yesus Adalah Raja
dan Pimpinan Kaum Yahudi
Dalam Alkitab, Yesus dikatakan
sebagai “Singa dari suku Yehuda” (Wahyu 5:5), "Raja orang Yahudi"
(Matius 2:2), "Raja orang Israel"
(Yohanes 1:49 dan 12:13), Raja atas keturunan
Yakub" (Lukas 1:33),
dan julukan lainnya yang memposisikan Yesus sebagai pemimpin kaum Yahudi.
Adapun sebutan tersebut sangat tepat dan benar, karena Yesus memang diutus
Allah, hanya kepada bangsanya orang-orang Yahudi saja, dan bukan kepada
bangsa-bangsa non Yahudi. Yesus berkata :
"Aku diutus hanya kepada domba-domba
yang hilang dari umat Israel." (Matius 15:24)
"Janganlah kamu menyimpang ke jalan
bangsa lain atau masuk ke dalam kota
orang Samaria
melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel." (Matius 10:5-6)
"Tidak patut mengambil roti (ajaran)
yang disediakan (diperuntukkan) bagi anak-anak (orang-orang Yahudi) dan
melemparkannya kepada anjing (bangsa lain diluar Yahudi)." (Matius 15:26)
Seandainya ada diantara anda yang
berwarga negara atau berkebangsaan Indonesia, Cina, Jepang, Arab, Rusia,
Amerika, Inggris, Italia, Jerman, Yunani, Afrika, Australia, dan lain-lain
diluar bangsa Yahudi (Israel), maka anda tidak berhak penerima pengajaran
Yesus. Dalam hal ini, Yesus bersama Injilnya adalah paket yang khusus
dikirimkan Allah untuk bangsa Yahudi. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw bersama
Al-Qur’an adalah paket yang dikirimkan Allah untuk seluruh umat manusia. Jadi
alangkah tidak etisnya kalau kita yang bukan orang Yahudi sampai lancang
menerima paket kiriman Allah yang bukan ditujukan kepada kita, walaupun ada
orang jahil yang menggoda kita untuk menerimanya. Mungkin si penggoda dapat
saja menghapus nama penerima dan menggantinya dengan nama kita, namun kita toh
masih punya pikiran dan perasaan serta hati nurani untuk menolak dan mengatakan
bahwa paket tersebut sebenarnya bukan untuk kita.
Jadi alangkah tidak tahu dirinya
kita sebagai orang-orang yang bukan dari golongan bangsa Yahudi berani lancang
menerima Yesus sebagai juru selamat yang sama sekali tidak pernah dialamatkan
kepada kita. Sangat aneh dan tidak dapat dimengerti, jika kita selaku
orang-orang non Yahudi masih mengharapkan sesuatu dari Yesus.
Seandainya kita menganggap Yesus
sebagai Tuhan, maka ia hanya akan menjadi Tuhan buat kaumnya saja, bangsa
Yahudi. Itu artinya, Tuhan yang disembah-sembah oleh umat Kristen sekarang ini adalah
Tuhannya orang Yahudi yang bersifat kesukuan dan melakukan diskriminasi kepada
bangsa-bangsa non Yahudi. Apakah kualitas Tuhan memang seperti itu? Tuhan yang
rasialis dan berbuat tidak adil? Apakah Tuhan seperti itu yang diinginkan oleh
umat Kristen?
Beberapa Kualitas
Kemanusiaan Yesus Lainnya
Selain ketujuh poin tersebut
diatas, beberapa kualitas dan sifat-sifat manusia lainnya yang dapat kita
temukan dalam diri Yesus, antara lain :
1.
Yesus diciptakan melalui garis keturunan. "Tentang anakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan
Daud." (Roma 1:3)
2.
Yesus mempunyai nenek moyang berdasarkan silsilah. "Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham..."
(Matius 1:1)
3.
Yesus mempunyai jenis kelamin. "Dan
ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus."
(Lukas 2:21)
4.
Yesus dilahirkan melalui kandungan seorang ibu. "Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
dan ia melahirkan seorang anak laki-laki." (Lukas 2:6-7) "Ia sedang mengandung dan dalam keluhan
dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan." (Wahyu
kepada Yohanes 12:2)
5.
Yesus ketika bayi, menetek pada seorang perempuan. "Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari
antara orang banyak dan berkata kepadanya: Berbahagialah ibu yang telah
mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." (Lukas 11:27)
6.
Yesus dilahirkan disuatu daerah. "Yesus
dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada jaman raja Herodes."
(Matius 2:1)
7.
Yesus adalah anak tukang kayu. "Bukan Ia
ini anak tukang kayu." (Matius 13:55
dan Markus 6:3)
8.
Yesus menaiki keledai sebagai alat transportasinya. "Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai
seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Matius 21:5) "Yesus menemukan seekor keledai muda
lalu ia naik ke atasnya." (Yohanes 12:14)
9.
Yesus hidup sebagai orang miskin. "Yesus berkata kepadanya : "Serigala mempunyai liang dan burung
mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan
kepalanya." (Matius 8:24)
10. Yesus tidak berdaya, ketika
pakaiannya dirobek-robek oleh prajurit Romawi. "Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil
pakaianNya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu
bagian dan jubahnya juga mereka ambil." (Yohanes 19:23)
11. Yesus selalu berdoa ditempat
sunyi. "Pagi-pagi benar, waktu hari
masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan
berdoa di sana."
(Markus 1:35)
12. Yesus setia kepada Pemerintah
Kaisar Romawi. "Berikan kepada
Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang
wajib kamu berikan kepada Allah." (Matius 22:21 dan Matius 17:24-27)
13. Yesus mempunyai bapak bernama
Yusuf. "Filipus bertemu dengan
Natanael dan berkata kepadanya : Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh
Musa dalam kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari
Nazaret." (Yohanes 1:45)
14. Yesus mempunyai Ibu dan
saudara-saudara. "Setibanya di
tempat asalnya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka
takjublah mereka dan berkata : Dari mana diperolehnya hikmah itu dan kuasa
untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu?
Bukankah ibunya bernama Maria dan saudara-saudaranya perempuan semuanya ada
bersama kita? ]adi dari mana diperolehnya semuanya itu?" (Matius
13:54-56)
15. Yesus tumbuh, hidup, dan
berkembang. "Anak itu bertambah
besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padanya."
(Lukas 2:40)
16. Yesus bertambah cerdas, berakal,
dan mempunyai hikmat. "Dan Yesus
makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya, dan makin dikasihi
oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52)
17. Yesus dibawa jalan-jalan oleh
orangtuanya. "Tiap-tiap tahun
orangtua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah
berusia 12 tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari
raya itu." (Lukas 2:41-42)
18. Yesus tidak berdaya. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari
diriku sendiri." (Yohanes 5:30)
19. Yesus mengakui dosa dan bertobat.
"Maka datanglah Yesus dari Galilea
ke Yordan kepada Yohanes untuk dibabtis olehnya." (Matius 3:13) Ini
menunjukkan pengakuan atas dosa (Matius 3:6), bertobat daripadanya (Matius 3:11)
20. Yesus merasakan haus. "Aku haus!" (Yohanes 19:28)
21. Yesus tertidur. "Tetapi Yesus tidur." (Matius
8:24) "Dan ketika mereka sedang
berlayar, Yesus tertidur." (Lukas 8:23) "Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah
tilam." (Markus 4:38)
22. Yesus merasakan letih. “Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena
itu Ia duduk di pinggir sumur itu." (Yohanes 4:6)
23. Yesus masygul hatinya dan
terharu. "Maka masygullah hatinya.
Ia sangat terharu." (Yohanes 1 1:35)
24. Yesus menangis. "Maka menangislah Yesus."
(Yohanes 11:35)
25. Yesus merasakan sedih, takut, dan
gentar. "Maka mulailah la merasa
sedih dan gentar, lalu katanya kepada mereka : Hatiku sangat sedih, seperti mau
mati rasanya." (Matius 26:37-38 dan Markus 14:34)
26. Yesus merasakan dirinya lemah,
hingga perlu dibantu dengan kekuatan. "Maka
seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan
kepadanya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa."
(Lukas 22:43-44)
27. Yesus mengusir pedagang dengan
kekerasan dan cambuk. "Lalu Yesus
masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ."
(Lukas 19:45) "Ketika hari raya
Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam hati suci
didapatinya pedagang-pedagang lembu, kambing, domba, dan merpati, dan
penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir
mereka semua dari Bait suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang
penukar-penukar itu dihamburkannya ke tanah dan meja-meja mereka
dibalikkannya." (Yohanes 2:13-15)
28. Yesus bersembunyi dan melarikan
diri. “Sesudah itu Yesus berjalan
keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi
berusaha untuk membunuhnya." (Yohanes 7:1)
29. Yesus tidak berani tampil dimuka
umum, karena diancam akan dibunuh. "Mulai
dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil
lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi." (Yohanes 11:53-54)
30. Yesus lari dari hadapan mereka. "Sekali lagi mereka mencoba menangkap
Dia, tetapi Ia lompat dari tangan mereka." (Yohanes 10:39)
31. Yesus dilempari batu dan lari. "Lalu mereka mengambil batu melempari
dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah." (Yohanes
8:59)
32. Yesus dikhianati muridnya yang
bernama Yudas. “Maka datanglah Yudas ke
situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh
imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan
senjata." (Yohanes 18: 2-3)
33. Yesus ditangkap dan dihina. "Dan orang-orang.yang menahan Yesus,
mengolok-olok dia dan memukulinya. Mereka menutupi mukanya dan bertanya:
"Cobalah katakan siapakah yang memukul engkau?" (Matius 26:67-68)
34. Yesus ditampar oleh seorang
penjaga. "Ketika Ia mengatakan hal
itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar mukanya sambil berkata :
Begitukah jawabmu kepada Imam besar? Jawab Yesus kepadanya. Jikalau kataku itu
salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau katanu itu benar, mengapakah
engkau menampar aku?" (Yohanes 18:22-23)
35. Yesus dijatuhi hukuman mati. "Lalu dengan suara bulat mereka
memutuskan, bahwa dia harus dihukum mati." (Markus 14:64) "Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus
dihukum mati! (Matius 26:66)
36. Yesus seperti seekor domba yang
dibawa ke pembantaian. "Seperti
seekor domba Ia dibawa ke pembantaian, dan ia tidak membuka mulutnya. Dalam
kehinaannya berlangsunglah hukumannya." (Kisah para rasul 8:32-33)
37. Yesus meregang nyawa. "Lalu bersuaralah Yesus dengan suara
nyaring dan menyerahkan nyawanya." (Markus 15:37)
38. Kematian Yesus sudah ditentukan
waktunya. "Karena waktu kita masih
lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang
ditentukan oleh Allah." (Roma 5:6) "Tetapi
ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati."
(Yohanes 19:33)
39. Yesus telah menjadi mayat, dan
mayatnya dibawa oleh salah seorang muridnya. "Ia pergi menghadap Pilatus dan
meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan
untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu."
(Matius 27:58-59)
40. Yesus dikafani dengan kain putih.
"Dan Yusuf pun mengambil mayat itu,
mengafaninya dengan kain lenen yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam
kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah
menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia." (Matius
27:59-60)
41. Pernyataan Berkabung dengan
Kematian Yesus. "Ketika kepala
pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya :
"Sesungguhnya, orang ini adalah orang benar." (Lukas 23:47)
BAB III
KUALITAS ALLAH YANG
SEBENARNYA
Berdasarkan fakta-fakta Alkitab
yang telah dipaparkan diatas, penulis tidak menemukan adanya bukti dan
kebenaran yang menunjukkan Yesus itu bersatu dengan Tuhan, baik dalam bentuk
tabiatnya maupun dalam kemiripannya dari segala sisi. Sebaliknya yang menonjol
dari Yesus justru adalah sosok kemanusiaannya saja. Kualitas Yesus sama seperti
kualitas manusia lainnya, ia bisa menangis, tertawa, makan, minum, haus, lapar,
tidur, letih, takut, gelisah, berdoa, mati, dan lain sebagainya.
Tuhan tidak mempunyai kualitas
seperti manusia tersebut diatas, sebab kualitas manusia itu sangat rendah dan
tidak pantas bagi Tuhan. Jika anda ingin mengetahui bagaimana kualitas Tuhan
yang sebenarnya, maka mari kita lihat beberapa kualitas Tuhan yang pantas,
sebagai berikut :
1.
Wujud, artinya Allah itu ada dan menciptakan seluruh alam semesta
beserta isinya,
2.
Qidam, artinya Allah itu yang paling awal dan paling terdahulu diantara
semua,
3.
Baqa, artinya Allah itu kekal abadi dan tidak akan pernah berakhir,
4.
Mukhalafatu lil hawaditsi, artinya Allah itu berbeda dengan semua
makhluk atau segala sesuatu apapun. Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dan
menyamai Allah,
5.
Qiyamuhu binafsihi, artinya Allah itu berdiri sendiri, dan tidak
membutuhkan segala sesuatu yang lain,
6.
Wahdaniyat, artinya Allah itu Esa atau tunggal. Dia tidak terbilang,
7.
Qudrat, artinya Allah itu berkuasa atas segala sesuatu,
8.
Iradat, artinya Allah itu berkehendak terhadap segala sesuatu apapun
yang Dia inginkan,
9.
Ilmu, artinya Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang nampak
maupun yang tersembunyi,
10. Hayat, artinya Allah itu Maha
Hidup dan kekal abadi. Dia mustahil mati,
11. Sama’, artinya Allah itu Maha Mendengar
segala sesuatu apapun, baik yang nampak maupun yang tersembunyi,
12. Bashar, artinya Allah itu Maha
Melihat segala sesuatu apapun, baik yang nampak maupun yang tersembunyi,
13. Kalam, artinya Allah itu
Berfirman atas segala sesuatu, dan Dia tidak bisu,
14. Qadiran, artinya Allah itu Dzat
Yang Maha Perkasa, kuat, dan berkuasa atas segala sesuatu,
15. Muridan, artinya Allah itu Dzat
Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu,
16. ‘Aliman, artinya Allah itu Dzat
Yang Maha Mengetahui, dan mustahil bodoh,
17. Hayyan, artinya Allah itu Dzat
Yang Maha Hidup, dan mustahil mati,
18. Sami’an, artinya Allah itu Dzat
Yang Maha Mendengar, dan mustahil tuli,
19. Bashiran, artinya Allah itu Dzat
Yang Maha Melihat, dan mustahil buta,
20. Mutakalliman, artinya Allah itu
Dzat Yang Berfirman, dan mustahil bisu.
Selain itu ada pula kualitas
Allah yang lainnya, yang disebut sifat Jaiz atau wewenang Allah, yakni “tarku
likukki mumkinin au fi’luhu”, yang artinya : Allah berwenang menciptakan
sesuatu atau tidak.
Adapun kualitas Allah tersebut
masih ditambah lagi dengan sederetan gelar atau nama-nama yang diberikan untuk
menjunjung tinggi dan mengagungkan diri-Nya diatas segala sesuatu apapun yang
ada dialam semesta ini. Sekumpulan nama-nama atau gelar-gelar Allah tersebut
dikenal dengan nama sebutan “Asma-ul-husna”, sebagai berikut
:
|
1. Ar-Rohman/Maha Pengasih
2. Ar-Rohim/Maha Penyayang
3. Al-Malik/Maha Merajai
4. Al-Quddus/Maha Suci
5. As-Salam/Maha Penyelamat
6. Al-Mukmin/Maha Mengamankan
7. Al-Muhaimin/Maha Pembela
8. Al-Aziz/Maha Mulia
9. Al-Jabbar/Maha Pemaksa
10. Al-Mutakabbir/Maha Besar
11. Al-Khaliq/Maha Pencipta
12. Al-Mushawwir/Maha Pembentuk
13. Al-Ghaffar/Maha Pengampun
14. Al-Qahir/Maha Keras
15. Al-Wahhab/Maha Pemberi
16. Ar-Razzaq/Maha Penganugerah
17. Al-Fattah/Maha Pembuka
18. Al-Alim/Maha Mengetahui
19. Al-Qabidh/Maha Memegang
20. Al-Basith/Maha Menghamparkan
21. Al-Khafidh/Maha Memudahkan
22. Ar-Rafi’/Maha Mengangkat
23. Al-Mu’iz/Maha Memuliakan
24. Al-Muzil/Maha Merendahkan
25. As-Sami’/Maha Mendengar
26. Al-Bashir/Maha Melihat
27. Al-Hakam/Maha Bijaksana
28. Al-Adlu/Maha Adil
29. Al-Latif/Maha Halus
30. Al-Khabir/Maha Selidk
31. Al-Halim/Maha Penyantun
32. Al-Azhim/Maha Agung
33. Al-Ghafur/Maha Pengampun
34. As-Syakur/Maha Mensyukuri
35. Al-Aliyya/Maha Tinggi
36. Al-Kabir/Maha Besar
37. Al-Hafizh/Maha Melindungi
38. Al-Muqith/Maha Menentukan
39. Al-Hasib/Maha Memperhitungkan
40. Al-Jalil/Maha Utama
41. Al-Karim/Maha Mulia
42. Al-Raqib/Maha Pengawas
43. Al-Mujib/Maha Memperkenankan
44. Al-Wasi’/Maha Luas
45. Al-Hakim/Maha Bijaksana
46. Al-Wadud/Maha Cinta
47. Al-Majid/Maha Jaya
48. Al-Ba’its/Maha Pembangkit
49. As-Syahid/Maha Menyaksikan
50. Al-Haq/Maha Hak
|
51. Al-Wakil/Maha Mengatasi
52. Al-Qawiyyu/Maha Kuat
53. Al-Matin/Maha Teguh
54. Al-Waliyyu/Maha Setia
55. Al-Hamid/Maha Terpuji
56. Al-Muhshi/Maha Menghitung
57. Al-Mubdi’u/Maha Memulai
58. Al-Mu’id/Maha Mengembalikan
59. Al-Muhyi/Maha Menghidupkan
60. Al-Mumit/Maha Mematikan
61. Al-Hayyu/Maha Hidup
62. Al-Qayyim/Maha Tegak
63. Al-Wajid/Maha Mengadakan
64. Al-Maajid/Maha Mulia
65. Al-Wahid/Maha Esa
66. Al-Ahad/Maha Esa
67. As-Shamad/Maha Pergantungan
68. Al-Qadir/Maha Kuasa
69. Al-Muqtadir/Maha Pemberi Kuasa
70. Al-Muqaddim/Maha Mendahulukan
71. Al-Muakhir/Maha Mengakhirkan
72. Al-Awwal/Maha Permulaan
73. Al-Akhir/Maha Kemudian
74. Az-Zhahir/Maha Zhahir
75. Al-Bathin/Maha Bathin
76. Al-Wali/Maha Melindungi
77. Al-Muta’alli/Maha Meninggikan
78. Al-Barr/Maha Penyantun
79. At-Tawwabu/Maha Penerima Tobat
80. Al-Muna’am/Maha Pemberi nikmat
81. Al-Muntiqam/Maha Pembela
82. Al-Afuwwu/Maha Pemaaf
83. Ar-Ra’uf/Maha Belas Kasih
84. Malikul-Muluk/Maha Raja di raja
85. Zul Jalali Wal Ikram/Maha Luhur &
Mulia
86. Al-Muqsith/Maha Menimbang
87. Al-Jami’/Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghani/Maha Kaya
89. Al-Mughni/Maha Mengkayakan
90. Al-Mani/Maha Menghalangi
91. Ad-Dharr/Maha Memudharatkan
92. An-Nafi’/Maha Pemaaf
93. An-Nur/Maha Cahaya
94. Al-Hadi/Maha Menunjuki
95. Al-Badi/Maha Pencipta yang baru
96. Al-Baqi/Maha Kekal
97. Al-Warits/Maha Pewaris
98. Ar-Rasyid/Maha Cendikiawan
99. As-Shabur/Maha Penyabar
|
Adakah semua kualitas Allah
tersebut diatas dimiliki oleh Yesus? Ternyata tidak sama sekali! Jadi,
bagaimanapun para pemimpin gereja berusaha dengan segala daya hendak
memutar-balikkan fakta, yang pasti mereka, bahkan sampai kepalanya botak
sekalipun, tidak akan mungkin dapat membuktikan kalau Yesus itu adalah Tuhan.
Dan mereka mustahil dapat meyakinkan umat Islam tentang pernyataan mereka
mengenai Yesus yang dikatakannya lebih hebat dan lebih sempurna daripada
manusia lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al Kandhalawi, Muhammad Zakariyya, “Kitab Fadhail
A’mal”, Pustaka Ramadhan, Bandung,
2001.
Alkitab Terjemahan Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 1994.
Al-Qur’an dan Terjemahannya, Percetakan Raja Fadh, Saudi Arabia,
1971.
Answer to Faq (Frequently Asked Questions) by
Christians From The Bible, from : amedamne@trianon.worldtel.com, 1995.
Athanasius, "The Incarnation of the Word."
Augustinus, “The Confession of Saint Augustine.”
Bentley, James, “Rahasia-Rahasia dari Gunung Sinai”,
Orbis, London,
1985.
Deedat, Ahmed, “Injil Membantah Ketuhanan Yesus”,
Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta,
1994.
Douglas, Alban, “Inti Ajaran Alkitab.”
Ellegard, Alvar, “Jesus One Hundred Year Before Christ.”
Funk, Robert, “The Five Gospels.”
Gibbon, Edward,
“Kemunduran dan Jatuhnya Kerajaan Romawi.”
Hamid, Syamsul Rijal, “Buku Pintar Agama Islam”,
Edisi Senior, Cahaya Islam, Bogor, 2005.
Harpur, Tom,
“Demi Kristus.”
Injil Anchor
J. Schonfield, Hugh, “The Original
New Testament.”
Lane, Tony, "Christian Thought."
Munir, Sanihu, SKM. MPH, “Menapaktilasi Asal-usul
Dogma Ketuhanan Kristen”, From site:
www.pakdenono.com, 2006.
New American Bible Standar Version
Peake,
"Peake's Commentary on the Bible", 1919.
Situs : www.geocities.com/cicak_mdn/, “A Million
Bullshits of Christianity”, From site:
www.pakdenono.com, 2006.
Spong, John
Shelby, “Why Christianity Must Change or Die.”
The Hebrew-Greek
Key Study Bible, Edisi ke 6.
The Holy Bible New
International Version (Alkitab New
International Version).
The New Testament of the New American Bible,
1970.
Tillich, Paul, “A
History of Christian Thought.”
Tom Harpur, “Demi
Tuhan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar