MPERALISME DAN
KOLONIALISME
DI INDONESIA
O
L
E
H
MUHAMMAD
ZAINUDDIN, S.Pd
STAF
GURU
SMA NW PANCOR
TAHUN 2004 SAMPAI DENGAN 2006
Arti Imperialisme
Kata Imperialisme berasal dari kata bahasa Latin “Imperare” artinya
hak untuk memrintah. Karena yang punya hak untuk memerintah adalah Raja, maka
Raja disebut “Imperator” sedangkan wilayah kekuasaannya disebut “Imperium”.
Pada zaman kuno, kebesaran Raja diukur dari luas daerah
kekuasaannya. Sehingga timbul keinginan untuk memperluas wilayahnya dengan cara
merebut daerah kerajaan lain.
Tindakan seperti itulah yang menjadi awal pengertian Imperialisme.
Macam-macam Imperialisme :
Imperialisme kuno
Imperialisme Politik
Imperialisme Modern
Imperialisme Ekonomi
Imperialisme Kebudayaan
Imperialisme Militer
Imperialisme adalah sebagai suatu paham yang muncul pertama kali di
Inggris pada masa Disraeli menjadi Perdana Mentri abad 19 sebagai lukisan sikap
politik Prancis pada masa Napoleon III ( 1815 – 1970 ) Lihat Michael A. Riff
(Ed), kamus Ideopolitik Modern Terjemahan M. Miftahuddin dan hartini Silawati (
Yogyakarta Pustaka Pelajar 1955), hal. 94
Imperialisme merupakan politik untuk menguasai (secara paksa)
seluruh dunia untuk kepentingan dairi sendiri; tidak perlu merebut dengan
kekuatan senjata, budaya, agama atau ideologi.
Imperialisme Timbul disebabakan :
Keinginan untuk menjadi jaya ( tersohor ) diseluruh dunia, semua
bangsa bangsa menghendaki untuk menjadi jaya.
Jika suatu negara atau bangsa tidak dapat meulihkan keinginannya itu,
maka mudah sekali bangsa itu menjadi imperalis karena semua bangsa mempunyai
benih imperialisme.
Perasaan Superior (Istimewa).
Tiap bangsa mempunyai harga diri.
Jika harga diri menjadi menebal mudah menjelma menjadi kecongkakan,
merekalah bangsa yang istimewa di dunia ini, misalnya ADOLF HITLER menganggap
bahwa Jerman sebagai “ DAS HENNOORK “ (
bangsa dewa ). Anggapa “ RASIAL SUPERITY
) mudah menjelma menjadi imperialisme yang berbentuk mission sacre ( panggilan
suci ).
Ideologi ( hasrat untuk menyebabkan agama ). Tujuannya adalah agama / ideologi. Akan tetapi jika pernyataan itu didukung oleh
pemerintah, sering tujuan penomena terdesak dan menajdi dasar untuk membenarkan
tindakan imperialisme.
Letak suatu negara yang geografisnya tidak menguntungkan. Batas suatu negara mempunyai arti penting
bagi politik negara itu. Suatu negara
lebih suka mempunyai batas alam dari pada batas buatan manusia. Batas alam dianggap lembih tepat bagi
pertahanan negara. Keinginan untuk
memperoleh batas-batas inilah yang mendorong Raja LOUIS XIII untuk membuat
nergara Belanda sampai sungai Rin serta mendorong Rusia dengan politik air
hangatnya.
Menurut Sartono Kartodirjo bahwa imperialisme berarti pengluasan
kontrol politik ke daerah seberang dan sinonim dengan ekspansi kolonial. Istilah Imperialisme mengandung
bermacam-macam pengertian karena ada interpretasi yang liberalistis, marxistis
dfan interpretasi lainnya.
Sartono Kartodirdjo, “ Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia pada
abad 19 dan abad 20 dalam Lembaran Sejarah No. 8, Yokyakarta, Fak. Sastra, hal.
1.
Arti Kolonialisme
Selain istilah imperialisme ada juga istilah kolonialisme. Kolonialisme berasal dari nama seorang petani
Romawi yang bernama ‘ COLONUS ‘ yang pergi jauh untuk mencari tanah yang belum
dikerjakan. Lama kelamaan semakin banyak
orang yang mengikutinya dan mereka
bersama-sama menetap dibuah tempat yang kemudian disebut “ COLONIA “, pahamnya
disebut “ Colonialisme “. Koloni
berarti menanam sebagian masyarakat diluar batas dasarnya. Jika koloni – koloni disatukan dengan suatu
sistem pengusahaan maka usaha kearah itu disebut dengan “ Imperalisme “.
Dengan lembaran sejarah manusia, kita temukan banyak rombongan orang
yang meninggalkan tanah airnya untuk mencari daerah baru. Misalnya dari Inggris ke Amerika; dari China ke Asia
Tenggara; dari kawasan Nusantara ke Madagaskar, hal ini banyak disebabakan oleh
:
Kekecewaan terhadap keadaan ekonomi negerinya
Situasi politik dalam negeri sendiri
Mereka ditawan / dibuang sebagai tawanan ke daerah asing
Disamping itu ada pula penjelajahan ke luar negeri untuk mencari
sumber bahan perdagangan seperti : rempah-rempah, emas dan barang-barang
komoditi lainnya.
Dalamarti yang terakhir inilah kapal bangsa Eropa ( Portugis –
Spayol ) mengadakan penjelajahan samudra untuk mencari daerah sumber
rempah-rempah yang tidak dijumpai didunia barat, kemudian mendirikan
kantor-kantor perdagangan, lambat laun kantor perdagangan itu menjadi inti
suatu koloni. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Kolonalisme adalah
politik untuk menguasai daerah tertentu dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan yang sebesar-besarnya.
Pelopor kolonialisme adalah kaum Avonturir yang datang untuk mencari
keuntungan yang sebesar mungkin dari barang – barang hasil penduduk
pribumi. Mereka mulia mendesak pedagang penduduk asli dan kemudia menaklukkan para
Raja dan Sultan yang berkuasa pada waktu itu.
Menurut CST Kansil dan Julianto bahwa pengertian kolonialisme adalah
rangkaian nafsu suatu bangsa untuk menaklukkan bangsa lain dibidang politik,
sosial, ekonomi dan kebudayaan dengan jalan :
dominasi
exploitasi ekonomi
penetresi kebudayaan ............ (1)
Sedangka imperilaisme pada pokoknya berarti plotik exploitasi
terhadap bangsa lain melulu untuk kepentingan si imperialis ( mother country
). Karenya itu pada hakekatnya tidak ada
perbedaan antara kolonialisme dan imperialisme.
Imperialisme yangs ekarang melanda Asia
ini adalah imperialisme dalam bentuk yang modern yang tidak perlu harus
menduduki suatu daerah sebagai jajahan, tetapi cukup dengan hanya mengontrol atau mengusai ekonominya saja.
Imperialisme dan kolonialisme adalah anak kelahiran Revolusi
Industri. Revolusi Industri sendiri
merupakan anak dari peradaban Eropa.
Adapun anak kelahiran dari peradaban Eropa itu ada 3 (tiga) macam :
Kolonialisme / imperialisme
Liberalisme (menjunjung tinggi individu)
Sosiolisme / Komunisme (menjunjung tinggi kolektif) ..... (2)
Nasionalisme Asia
Pengertian
Nasionalisme Asia adalah aliran yang mencerminkan kebangunan
bangsa-bangsa Asia seabagai reaksi terhadap
kolonialisme dari bangsa-bangsa Eropa Barat.
Nasionalisme adalah dus suatu gerakan yang menentang aksinya
kolonialisme.
Tantangan terhadap kolonialisme ini dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu : secara evolusioner dan revolusioner. Ada pula yang menempuh jalan tak bersenjata
dan ada yang menempuh jalan bersenjata.
Bentuk
Perkenalan Asia dengan kolonialisme Eropa Barat semula membawa maut
bagi Asia; Pertama – tama Asia kalah, tetapi
kemudian dapat mengumpulkan tenaganya kembali untuk menentang. Tantangan ini terjadi diseluruh benua Asia , mulai dari Mesir sampai kaum Feodal, yang
dilanjutkan oleh kaum cendikiawan dan akhirnya rakyat banyak.
Menurut ARNOLD TOYNBEE bahwa ada dua cara / bentuk bangsa Asia menentang kolonialisme Eropa Barat :
ZELOTISME
Suatu caramenentang dengan menolak segala pengaruh dari Barat dan
sambil mengisolir dirinya mencari kekuatan dalam isolasi itu (menentang dengan
jalan isolasi = Jan Romein )
HERODIANISME
Suatu cara menantang dengan mengaper segala cara-cara Barat dan
menggunakan pengaruh Barat itu untuk memperkuat dirinya. ( menentang dengan
jalan meniru = Jan Romein )
Tujuan
Akibat dari kolonialisme ini adalah hampir semua negara-negara Asia
pada abad 18 dan 19 kehilangan kemerdekaan politik dan kebebasan
perekonomiannya juga dilapangan kebudayaannya terlihat pengaruh yang sangat
merugikan.
Pada pokoknya Asia tidak hanya
kehilangan kemerdekaan politik dan tidak hanya menderita dalam lapangan
sosialnya berupa timbulnya kemelaratan dan kesengsaraan, tetapi juga mengalami
terbongkarmya beberapa akar kebudayaannya.
Terhadap akibat kolonialisme ini timbullah reaksi-reaksi ini
bergerak pula diats tiga lapangan yaoti lapangan politik, ekonomi dan
kebudayaan. Reaksi ini pada hakekatnya
nasionalisme terutama menggelora semangatnya pada akhir abad XIX dan XX hingga
dewasa ini.
Dengan demikian Nasionalisme Asia mempunyai tiga aplikasi :
Pertama : politik yang bersifat
menumbangkan dominasi politik bangsa Asing yang menjajah.
Kedua :
Sosial ekonomi : yang bersifat menghentikan exploitasi ekonomi asing dan
membangunkan suatu masyarakat baru bebas dari kemelaratan dan kesenggsaraan
sesuai dengan cita-cita keadilan sosial.
Ketiga
: Kulturil ; yang bersifat menghidupkan kembali kepribadian disesuaikan
dengan perubahan zaman.
Ketiga aspek ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipsah-pisah satu dari yang lain. Jika salah satu dari ketiga aspek ini
dihilangkan maka ia bukan nasionalisme asia
sejati.
Pada hakekatnya nasionalisme asia
itu adalah suatu himpunan dari kekuatan yang destruktif dan yang konstruktif
atau dengan kata lain bahwa Nasionalisme Asia mengandung tujuan negatif dan
tujuan Positif.
Tujuan Negatif / Destruktif
Menghancurkan kolonialisme Asing
Menghentikan penghisapan imperialisme asing atas tubuh perekonomian
bangsanya.
Menentang feodalisme pribumi yang dijadikan alat oleh kolonialisme
untuk menjalankan dominasinya dan exploitasinya.
Tujuan Positif / Konstruktif
Membangun negara Nasional yang demokratis dengan berisikan suatu
masyarakat sosialistis atau berkeadilan sosial.
Hendak menyelamatkan kebudayaannya sendiri yang bersejarah.
Kemerdekaan politik bagi Asia bukan suatu hal ynag baru, melainkan
sudah dikenal dalam sejarah bangsa-bangsa Asia
masing-masing. Karena itulah, maka
Nasionalisme Asia sewaktu menentang kolonialisme Eropa Barat secara positif,
ingin menggali kembali nilai-nilai dari masa yang silam, tidak untuk
dihidup-hidupkan secara buatan apa yang sudah mati itu, melainkan untuk
disesuailkan dan diperkaya dengan pengaruh dan nilai-nilai baru yang dibaa oleh
angin barat itu.
PENETRASI
BANGSA BARAT DI INDONESIA
PADA
ABAD XIX
POLITIK KOLONIAL ABAD XIX
Secara garis besar,
politik Belanda di Indonenesia dibagi menjadi tiga tahapan yang amsing-masing
mempunyai ciri-ciri khas yang menyolok.
Dalam membahas dan menganalisanya dengan menggunakan tiga aspek sebagai
indikatornya yaitu : Sistem Birokrasi, Sistem Ekonomi dan Sisitem Pendidikan
Barat.
Ketiga aspek / sistem ini akan dibahas pada setiap tahapan politik
kolonial yaitu : dalam Politik Konservatif, Politik Liberal dan Politik
Ethis. Karenanya ketiga aspek / sistem
tersebut sebagai faktor-faktor yang menimbulkan kelompok-kelompok baru dalam
masyarakat Indonesia .
Politik Konservatif ( 1800 – 1848 ) Setelah VOC bangkrut dan secara
politis telah dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799, maka sejak tahun 1800
kekuasaan VOC diambil alih kerajaan Belanda.
Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan politik Tradisional Kompeni dengan
tujuan memperoleh penghasilan sebagai upeti dan laba perdagangan yang semuanya
untuk keuntungan Kerajaan Belanda. Pada
masa ini kolonial Belanda memfokuskan pada aspek politik. (3)
Sistem Birokrasi Kolonial
Akibat perang yang telah melanda Benua Eropa dalam Abad XIX sampai tahun-tahun sesudah restorasi 1811
( berakhirnya Pemerintahan Sementara Inggris 1811 – 1816 ) merupakan periode
yang suram dari segala segi.
Pada tahun 1795 VOC diamdil alih oleh negeri Belanda ( Bataaferche Republik
). Karena komunikasi yang tidak cukup
dengan negeri Belanda dan mungkin karena kurangnya pengalaman dalam soal
jajahan dipihak penguasa Belanda, manajemen yang diwariskan oleh VOC untuk
sementara diteruskan.
Pemerintahan sementara Inggris ( 1811 – 1816 ) lebih menekankan
pengaturan kembali hak-hak territorial yang begitu banyak ragamnya dan pada
waktu VOC berkuasa tidak banyak terjadi perubahan. Akan tetapi orang Inggris lebih konsekwen
untuk mneyerahkan perdagangan dan produksi kepada perusahaan swasta dan lembaga
perdagangan. (4)
Struktur Sosial
Dalam kehidupan sosial Kolonial Belanda baik pada abad 17, 18 maupun
belahan pertama abad 19 telah dilaksanakan Diskriminasi Ras dimana-mana yang
ditandai oleh Konsentrasi Unsur-Unsur Bumi Putera pada jabatan-jabatan rendahan
dan pada lapisan atas yang
tipis terdiri atas golongan
Eropa perbedaan setatus ekonomi antara segolongan kecil penduduk kulit
putih san masa Bumi Putera sangatlah menyolok, golongan orang kulit putih itu
diatas dan massa
Bumi Putera dibagian Yang paling bawah.
Ciri-ciri sosial yang lain yang menyolok pada masyarakat Hindia
Belanda adalah pembatasan-pembatasan dalam pegaulan sosial antara ras-ras
itu. Tidak adanya konplik sosial dan
adanya pemisahan-pemisahan fisik sangatlah menyolok. Orang-orang Hindia Belanda
dengan keras dilarang memasuki perkumpulan, lapangan . olah raga,
sekolah-sekolah, tempat umum dan daerah tempat kediaman bangsa Belanda.
Bentuk-bentuk lahiriyah kota-kota Indonesia pada waktu itu masih
menjadi bukti adanya pemisahan-pemisahan pada zaman kolonial itu. Anggota-anggota golongan sosial yang dominan,
sebagaian besar terjadi atas orang-orang Eropa itu, di kota-kota mempunyai
daerah tempat tinggal yang khusus dan ditempatkan di bagian kota yang baik. Karena pergaulan hidup antara
golongan-golongan itu tertutup, maka kalau tidak ada kontak yang perlu, golongan-golongan
itu berusaha menjauhkan diri satu sama lain.
Dalpat dinyatakan lebih konkret, mererka hidup. Bekerja da membangun
pada jalan yang sama sekali berbeda dan mereka mempunyai
kepentingan-kepentingan, kemampuan-kemampuan dan ideal-ideal yang tidak
sama. Hanya pada hubungan-hubungan
formil, seperti hubungan majikan dan buruh atau hubungan tuan dan hamba,
terjadilah kontak, tetapi kontak yang menunjukkan ketidaksamaan tersebut. Bilamana jontak sosial tidak dapat dihindari,
maka jarak sosial itu ditertibkanb dan dilambangi dengan berbagai macam etiket
yaitu semacammekanisme untuk melindungi diri sendiri. Semua bentuk pemisahan yang menyolok itu
diinstitusionalisasikan untuk mencegah kontak rasial pada tingkatan-tingkatan
dimana ada kesamaan sosial atau keakraban.
Semua periode kolonial bahwa kehidupan sosial masyarakat Hindia
Belanda ( khususnya di Jawa ) dapat
disimpulkan sebagai berikut :
Diskriminasi peranan antara golongan Eropa dan golongan Bumi Putera
Kategori-kategori jabatan dipisahkan bagi masing-masing golongan.
Dijalankan suatu skal yang berbeda bagi gaji yang diabyarkan kapda
dua golongan itu.
Peranan keahlian dan peranan pimpinan nyta-nyata dihalangi bagi
golongan Bumi Putera, meskipun ada beberapa ahli yang berpendidikan barat yang
sudah dipergunakan oleh pemerintah kolonial.
Jabatan-jabatan golongan putih dan jabatan-jabatan keahlian dihargai
tinggi bukan hanya karena jabatan-jabatan itu pada umumnya dibayar tinggi,
tetapi juga karena jabatan-jabatan itu membawa serta beberapa pengaruh dan
kekuasaan.
Timbulnya pendidikan barat, kwalifikasi pendidikan menjadi lambang
perstice dan menjadi keharusan bagi status yang tinggi. Lambnag-lambang indikator lain seperti :
garis keturunan, cara hidup, dan kekayaan penting dari status sosial. Harus diakui bagaimanapun juga, pendidikan
mempersiapkan orang secara lebih baik untuk memperoleh kemajuan didalam masyarakat
modern. Dilihat dari segi ini, maka
pendidikan modern pada masyarakat kolonial tidak mendatangkan kebebasan
mobilitas sosial. Mobuilitas sosial dari
masyarakat kolonial yang nyata didasarkan pada diskriminasi ras.
Sistem Pemerintahan
Sebelum kedudukan raja dipengaruhi oleh bangsa barat, Raja
berkedudukan sebagai pengusaha tertinggi.
Disamping raja / Bupati sebagai pimpinan politik, Raja juga sebagai
pimpinan religius yang berhubungan dengan hal-hal yang gaib antara masyarakat
manusia dengan roh halus / nenek moyangnya dengan maksud untuk minta
menyuburkan tanah dan menyembuhkan orang sakit.
Kedaulatan Raja bersifat Feodalisme,. Artinya raja
memiliki hak dipertuan atas tanah dan
rakyat. Hak raja Absolut yang
didasarkan atau dasar gaib yakni raja bukan manusia. Rakyat bersifat relatif atau fana. Absolut juga berarti pasti dan mesti
sempurna. Raja itu berada di luar baik –
jahat. Manusia tidak berhak membuat
kritik, mencela dan memperbincangkan tabiat raja. Hubungan raja dengan rakyat berdasarkan
idiologi kaula – gusti.
Sistem feodal ini dipergunakan dan dipelihara oleh pemerintah Hindia
Belanda di Indonesia. Sistem feodal ini
abadi. Kedudukan dan kehormatan dan
lain-lain dikejar, disebut absolut berdasarkan kekuasaan. Sistem kedaulatan ini dapat disebut Bcisme. Hal ini rakyat bersifat Duslisme.
Sementara VOC berkuasa di Indonesia, kedudukan VOC diatas Raja,
kemudian VOC menggunakan pemerintahan tidak langsung, dengan menggunakan orang Priyayi,
sebagai kaki tangan mereka. Hal ini
dipertahankan sampai dengan pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia dan Indonesia mulai
diperintah secara langsung oleh Republic Batav.
Kunci keberhasilan bangsa barat di Indonesia adalah terletak pada
kemampuan mareka dalam berhadapan dengan umat islam. Apabila dapat menguasai umat islam maka akan
dapat menguasai Indonesia
daris egala aspeknya. Seperti yang
diungkapkan oleh Hamid Al Qadri :
“Mereka merupakan oknom yang paling berbahaya bagi ketentraman
jajahan Belanda dan oleh karenanya tindakan tegas terhadap mereka tidak boleh
ditandai lagi karena mereka merupakan bahaya yang tetap untuk kekuasaan Belanda
dan karena mengganggu keamanan, menimbulkan kerusuhan dan oleh karenannya
merupakan musuh terbesar pemerintah dan rakyat harus disingkirkan (5)
Kunci kedua ; penguasaan terhadapstatus dan peranan kiyai, mubaliq
agama Islam.
Kedua kunci ini dijadikan agenda khusus yang pertama dan utama
selama bangsa barat ( khususnya Belanda ) di Indonesia . Dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda
pada politik Konservatif ini masih melanjutkan politik tradisional VOC di Indonesia ,
walaupun tidak secara keseluruhan
Sistem Ekonomi Kolonial
Dalam perkembangan kolonial, terjadi sirkulasi yang sangat
menentukan status dan peranan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
dijajah. Indonesia sangat tergantung kepada
situasi yang berkembang di negara Induk.
Paa abad ke XIX dan awal abad XX Indonesia sedang terlibat dalam
suatu perkembangan baru yang berintikan revolusi perdagangan / industri. Revolusi ini timbul di Eropa dalam abad XVII
dan XIX, kemudian meluas ke Amerika Serikat dan ke Jepang.
Ciri-ciri pokok dari revolusi Industri adalah timbulnya sistem “ manufacturing “ ( pabrik )
menggantikan sistem kerja tangan.
Dengancara baru ini barang-barang dapat dihasilkan dalam jumlah yang
labih banyak lagi dibandingkan dengan cara lama. Hal ini menimbulkan berbagai
kegiatan-kegiatan baru seperti :
Perdagangan yang meningkat
Hubungan baru antara desa – kota
Dampak sosial ekonomi yang lain adalah :
Pemerintah ikut campur memikirkan akibat-akibatnya
Kaum cendikiawan bermunculan dengan berbagai teori untuk menjelaskan
pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Muncul intelektual yang mencanangkan bahaya-bahaya yang inheren
dalam sistem yang baru. (5)
Sebagai manifestasi perkembangan Ekonomi Modern itu tampak dua segi
pokok di daerah jajahan
Dibutuhkan banyak bahan-bahan dasar bagi industri yang makin meluas.
Diperlukan pasaran-pasaran baru bagi hasil-hasil industri yang makin
meningkat.
Sebagai akibat muncul maslah-masalah baru, terutama yang sangat
diraakan oleh bangsa Indonesia
dalam politik ekonomi Kolonial pada abad XIX adalah :
Pertama : Masyarakat pedesaan yang tadinya tertutup (
self suficient ), maka dipengaruhi oleh sistem ekonomi dunia. Ekonomi uang menembus kedalam rumah tangga
desa ( pakaian, minyak tanah, sepeda, sabun dalan lain-lain ). Penduduk desa mulai mengenal uang /
barang-barang kebutuhan baru dan mulai terkait pada sistem ekonomi yang luas.
Kedua : Politik kolonial mempengaruhi perubahan desa,
umpamanya dengan dikelurkannya Undang-Undang Agraria yang menjamin hak atas
tanah pada petani dan melarang kaum pengusaha membeli tanah pedesaan.
Ketiga : Timbul sistem “ Cash Crop “ didaerah-daerah persawahan
tertentu di musim kemarau, atau timbulnya empang-empang dan intensifikasi
persawahan. Ini semua merupakan kegiatan-kegiatan
baru yang muncul karena masuknya ekonomi uang didalam desa.
Suatu persoalan yang menarik adalah kurangnya ekonomi mobility
dikalangan masyarakat tingkat priyai ataupun santri. Dengan munculnya tuntutan baru yang bersumber
pada revolusi Industri di Eropa, sebenarnya terbuka peranan-peranan baru dalam
bidang ekonomi. Umpamanya peranan
pedagang perantara yang menyalurkan ahsuil-hasil perkebunan rakyat dan hasil
agraria lainnya ke kota-kota besar ( untuk disalurkan ke luar negeri ataupun
untuk dipakai sendiri oleh penghuni kota ),
ataupun sebagai penyalur barang-barang konsumen baru yang mulai meluas sampai
ke taraf pedesaaan. Yang mengambil
kesempatan ini ternyata orang-orang Cina yang sudah lama sebelumnya banyak
terdapat di Indonesia
dan lain-lain daerah di Asia Tenggara.
Oreang-orang Cina sebenarnya sudah banyak di kota-kota pelabuhan
sejak abad XVII. Pihak VOC memang sangat
menganjurkan migrasi orang-orang Cina ke kota-kota pelabahan yang dikuasainya. Mereka dipekerjakan sebagai tukang dan
pedagang.
Orang-orang Cina mendiami perkampungan-perkampungan sendiri yang
diatur oleh pihak VOC melalui pemimpin-pemimpin mareka sendiri. Pimpinan mereka diberi pangkat seperti
Kapitan Cina, Letnan Cina dan lain-lain.
Dengan timbulnya perubahan-perubahan yang pesat dalam bidang ekonomi
abad XIX orang-orang Cina ini dengan cepat sekali menyesuaikan diri. Merekalah yang akhirnya muncul sebagai
pedagang-pedagang perantara. (5)
Kelas pedagang Indonesia
sebenarnya sudah ada jauh
sebelumnya. Mereka sering menamakan “
SANTRI “. Mereka memang masih memainkan
peranan sebagai pedagang, tetapi dalam bentuk yang lebih kecil dan dalam
sektor-sektor yang tidak menyentuh perkembangan baru dalam bidang ekonomi
tersebut. Kegiatan-kegiatan mereka
selalu bermuara pada pedagang Cina. Hal
ini dapat dilihat dalam industri batik yang sebagai penyalur bahan dasarnya
adalah pedagang Cina yang didatangkan dari luar negeri.
Kelebihan-kelebihan orang Cina (ekonomic mobility) mereka disebabkan
beberapa hal :
Pertama : Sebelum berimigrasi ke Indonesia ( dan
Asia Tenggara lainnya) mereka telah mengenalsuatu sistem perdagangan yang luas
jangkauan daerahnya dengan suatu sistem moneter tertentu.
Kedua : Kekompakan mereka untuk bekerja secara gotong
royong dalam bidang ekonomi.
Ketiga : Kegiatan dagang mereka selalu didasassrkan
pada kelompok kekerabatan.
Gambaran mengenai seorang santri justru berbeda-beda, hal ini
disebabkan pedagang santri memiliki karakter yang tidak sama dengan karakter
pedagang Cina :
Santri sangat individual
Bergerak sendiri-sendiri saja sehingga volume perdagangannya tidak
besar.
Kemungkinan-kemungkinan perluasan ( atau memasuki lapangan baru )
sangat terbatas.
Apa peranan priyayi dalam bidang perdagangan. Alasan yang
dikemukakan adalah bagi kaum priyayi perdagangan adalah fungsi untuk
golongan rendahan. Akan tetapi kalau
kita pelajari perkembangan sejak abad 17 maka tampak jelas bahwa sebagian dari
lapisan pengusaha, terutama di daerah-daerah pantai, sangat aktif dalam
pergadangan internasional.
Kedudukan dan peranan priyayi dalam bidang ekonomi sejajar dengan
kedudukan mereka sebagai pengusaha mereka mempunyai hak-hak istimewa tertentu :
Pertama : hak untuk lebih dulu
mengadakan transaksi dagang yntuk pedagang-oedagang yang datang di kota-kota
pelabuhan sebelum golongan rakyat mendapat kesempatan.
Kedua :
monopoli barang-barang tertentu seperti perdagangan beras di Pantai
Utara Pulau Jawa atau perdagangan cengkeh di maluku.
Ketiga : hak menentukan harga seperti
antara lain : harga cengkeh ditentukan bersama antara pedagang yang datang ke
suatu daerah dan para pengusa setempat.
Keempat : hak untuk memberi perlindungan kaum pedagang
yang diberi tempat-tempat pemukiman khusus di daerah-daerah perdagangan dan
mendapat perlindungan khusus dari pengusaha setem,pat karena kehadiran mereka
dinilai sangat penting dari segi ekonomi.
Kemudian dengan terpancangnya
sistem monopoli VOC maka peranan ekonomi dari kaum penguasa inipun
menghilang. DI Maluku mareka banyak
bertindak sebagai penyalur cengkeh dari rakyat ke VOC. Semua segi ekonomi dari percengkehan ini
sudah tidak ada lagi. Untuk itu
didatangkan perbagai pegawai VOC yang memakai sebutan Koopman ( pedagang ). Opper Koopman ( pedagang pertama ) dan
lain-lain. Sekalipun Pejabat-pejabat tersebut kenudian lebih terkenal karena
tindakan-tindakan mereka dalam bidang administrasi pemerintahan, tetapi sifat
Koopman tidak pernah dilepas.
Para Bupati dalam abad XVIII lebih banyak merupakan Pegawai VOC yang
ditugaskan untuk mengawasi agar transaksi dagang VOC berjalan dengan lancar. Dengan pihak Sultan di Keraton, VOC membuat
perjanjian-perjanjian dagang ( Beras,
kemudian Kopi dan lain-lain ). Hak tunggal untuk menyalurkan beras kepada VOC diberikan
kepada para Bupati di pantai yang pada gilirannya hanya bertugas mengatur
penyerahannya saja kepada VOC. Demikianpun organisasi penyalur komoditi agraris
lainnya yang dibutuhkan VOC seperti :
Kopi, sayuran dan lain-lain. Inilah yang kemudian dikenal dengan nama Verplichte Leverantic.
Jadi VOC lah yang menggagalkan peranan ekonomi yang melekat pada
Priyayi baik dari status dan peranannya. Ketika abad XIX dengan sendirinya kaum
penguasa ( Priyayi ) tidak dapat mempergunakannya. Apalagi bila diingat bahwa
kegiatan mereka oleh VOC dibatasi pada segi-segi yang bersifat Pemerintahan.
Dalam meninjau salah satu aspek dari perekonomian Kolonial Hindia Belanda, masalah keuangan
memegang peranan penting. Uang sebagai alat tukar dalam transaksi jual beli
barang import. Dengan demikian keuangan merupakan kajian analisis utama dalam
perekonomian Hindia Belanda.
Sistem Keuangan Kolonial
Bentuk awal lalu lintas uang di Hindia Belanda sudah ada sebelum
kedatangan kebudayaan Hindu tahun 400 M. Uang stempel dari pengusaha diterima
sebagai jaminan bahan pembuatan yang secara indtrinsik sering berada di bawah
nilai nominalnya. Akan tetapi koin emas
dan terutama koin perak bukanlah barang yang langka pada zaman Hindu.
Pemakaian uang sudah ada pada periode kerajaan Islam tahun 1200 M,
didaerah pantai yang temasuk jalur perdagangan atau jalur dagang skunder,
seperti :
Banten : pajak dan tembaga
Sumenep : bahan celup yang dioleskan pada koin yang
sudah dipakai
Cirebon : takaran kecil dari timah yang disebut picis
Aceh : pengusaha sering berkumpul untuk melaksanakan
hak pencetakan uang
Palembang : timah
Jambi : timah sama di Palembang yang disebut Picis
Bangka : timah
Pontianak : tembaga dan timah
Banjarmasin : tembaga
Sulawesi : emas dan timah hitam
Para pengusaha sering mengontrak kepada warga Tionghos hak mereka
mencetak uang
Pengaruh pusat perdagangan di tepi pantai tidak terasa di pedalaman,
akibatnya ekonomi uang sebagian besar bersifat insidental terbatas pada lapisan atas desa saja. Menurut Burger, warga desa secara
perseorangan tidak terpengaruh hanya lurah yang terlibat dalam transaksi uang.
Di luar lingkungan kraton dan tempat kedudukan pejabat pemerintahan
mata uang tidak lazim digunakan sebagai alat tukar di daerah pedalaman. Dalam kenyataan ada bebrapa jenis pajak harus
dibayar tunai tidak merupakan situasi kekecualian : dana yang dileuarkan biasanya dipinjamkan
dari tukang ijon dengan pembayaran kembali berupa hasil-hasil pertanian.
Sifat Autarki mesyarakat desa berarti bahwa sedikit sekali terjadi
hubungan perdagangan internasional semestara di seda itu sendiri pola khas yang
berlaku adalah gotong royong yang melengkapi kebutuhan individu.
Pembayaran Pajak Tanah dan Ikatan Desa.
Pembayaran pajak tanah tidak
selalu dilakukan dengan uanmg, tetapi juga dengan barang-barang hasil
produksi. Biasanya petani dapat membayar
dengan uang hanyalah jika ia dapat menjual berasnya. Sebab barabf beras adalah satu-satunya yang
ia dapat tawarkan dalam jumlah yang cukup dan terhadapnya ada permintaan.
Jadi pendapatan uang dalam jumlah yang besar hanya mungkin diperoleh jika para petani dapat
menjual barang-barang hasilnya secara besar-besaran, jika ada perdagangan beras
yang maju, yang dapat menerima barang hasil mereka.
Dengan demikian dapatlah dimengerti bahwa pembayaran pajak tanh
dengan uang dibeberapa daerah di Pulau Jawa oleh Raffles dianggap terlalu
menekan sehingga boleh membayarnya dengan barang-barang hasil. Akan tetapi tidak semua didaerah, dimana
pemerintah menerima pajak dalam uang, sering kali terdapat orang-orang
perantara yang membayarkan uang kepada pemerintah dan untuk itu mereka mendapat
barang-barang hasil dari para petani.
(8)
Penetapan pajak tanah sering kali menimbulkan akibat-akibat yang
celaka. Penetapan pajak yang terlalu
tinggi di Pekalongan misalnya, mengakibatkan perpindahan penduduk.
Sistem Pendidikan Kolonial
Pada abad ke XVII Eropa dilanda oleh pemikiran ide-ide dan aliran
baru yang sebenarnya telah dicetuskan pada abad XVII yang disebut dengan “
AUFKLSRUNG “ yang berarti fajar atau terang ; yang ciri-cirinya adalah :
percaya pada walar
sifat-sifat baik dari manusia dan kesempurnaannya
menuju ke arah perikemanusiaan
menjunjung tinggi akal sehat
toleransi beragama
kemerdekaan dan kebebasan pribadi
Paham Aufklarum ini memperjuangkan dengan gigih mengenai hak-hak
asasi manusia terhadap absolutisme negara atau pemerintah.
Golongan non feodal menyadari bahwa hanya dengan pendidikan
seseorang dapat memperoleh status sosial yang baik dan memperbaiki
kehidupan. Oleh karena itu mereka
berusaha keras untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta yang berorientasi barat
dengan mencoba menerobos pembatasan-pembatasan yang diadalan oleh pemerintah.
Tujuan dan Landasan Idiil
Pedoman dan prinsip pendidikan Pemerintah Hindia Belanda adalah :
Pemerintah berusaha tidak memihak salah satu agama
Tidak diusahakan untuk dapat hidup secara selaras dengan
lingkungannya tetapi lebih ditekankan agar supaya aamak didik dikelak kemudian
hari dapat mencari penghidupan atau pekerjaan demi kepentingan kolonial.
Sistem pendidikan disusun menurut adanya perbedaan lapisan sosial
yang ada dalam masyarakat.
Pada umumnya pendidikan diukur dan diarahkan untuk membentuk suatu
golongan elit sosial agar dapat dipakai sebagai alat / keperluan supremasi
politik dan ekonomi Belanda.
Ketika DAELDELS diangkat sebagai gubernur Jenderal di Indonesia pada
tahun 1807, ia mendapat perintah dari raja Belanda agar meringankan penduduk
pribumi dan menghapus perbudakan. Ia
memerintah dengan tangan besi sehingga perintah raja tidak banyak perhatian.
Orientasi Daendels berkisar pada masalah pertahanan dan segi-segi
militer. Oleh sebab itu sekolah yang
pertama yang diperhatikannya adalah :
Sekolah artileri (1807) di
Jarinegara
Sekolah pelayaran (1808) di Semarang
Sekolah Bidon (1809) di Jakarta.
Penggantian Daendels adalah Janssens yang hanya memerintah beberapa
bulan saja. Dalam bidang pendidikan
meneruskan kebijaksanaan Daendels antara lain dengan memerintahkan pegawainya
untuk melakukan sendi bahasa di istana raja-raja.
Pada waktu Belanbda kalah perang, dan Hindia Belanda dikuasai oleh
Inggris, maka dibawah pemerintahan Raffles yang menjadi Gubernur Jenderal
(1811-1816), pendidikan tidak mendapat perhatian, tetapi dalam bidang ilmu
pengetahuan mendapat perhatian dan memperoleh kemajuan pesart. Raffles memberikan perhatian khusus pada
monumen-monumen peninggalan Hindu di Pula Jawa, sehingga ia menulis buku “
History Of Java “.
Sistem Tingkat dan Jenis Persekolahan
Sekolah Untuk Golongan Penduduk Eropa
Sekolah Dasar ( Europeesche Lagire School )
Pada waktu Belanda berkuasa kembali di Indonesia pada tahun 1816,
tidak ada satupun sekolah negeri.
Sekolah pertama yang dibuka untuk anak-anak orang Eropa (Belanda)
tanggal 24 Pebruari 1817 di Betawi.
Jumlah sekolah yang ada di negeri Belanda, jumlahs sekolah ini dari
tahun ke tahun mengalami peningkatan :
Tahun 1820 berjumlah 7 buah
Tahun 1833 berjumlah 19 buah
Tahun 1845 berjumlah 25 buah
Tahun 1858 berjumlah 57 buah
Tahun 1895 berjumlah 159 buah
Tahun 1902 berjumlah 173 buah
Dengan jelas dapat dilihat sejak pertengahan abad XIX sebagaian
besar anak-anak pendudukan golongan Eropa dapat menikmati pendidikan dasar. Meskipun jumlah sekolah secara kuantitatif
dapat memenuhi harapan tetapi sampai pertengahan abad XIX, sekolah rendah Eropa
secara kualitatif menurut ukuran orang Belanda sangat menyedihkan. Hal ini disebabkan karena murid-murid yang
ada berasal dari keturunan campuran Eropa Tatak, bahasa sehari-harinya adalah
bahasa Melayu, sehingga mengalami kesulitan.
Selain sekolah negeri tersebut di atas, hanya terdapat dua sekolah
rendah swasta yang lebih bermutu dari negeri yaitu dikelola oleh Pahud ( khusus pria ) dan oleh Nyonya
Gronovius ( khusus wanita ).
Tahun 1828 didirikan sekolah khusus untuk anak-anak persnonil
militer. Guru-gurunya adalah anggota
militer yang berlokasi di Kompleks Zeni selain bahasa Belanda juga diberikan
bahasa Melayu.
Sekolah Lanjutan
Sudah beberapa kali terdapat usulan dan percobaan untuk mendirikan
sekolah lanjutan bagi golongan Eropa.
Akan tetapi sampai pertengahan abad XIX usaha tersebut selalu mengalami
kegagalan.
Sesudah mengalami proses yang berlarut-larut akhirnya raja Belanda
memberikan kuasa untuk mendirirkan suatu “ Gymnasium “ ( sekolah menengah ) di
batavia dengan memakai namanya.
Dengan demikian pada tahun 1860 dibuka “ Gymnasium Willem III “ yang
merupakan sekolah lanjutan (menengah) yang pertama untuk golongan bangsa Eropa.
Pada tahun 1867 sekolah menengah yang semula lama studinya hanya 3
tahun dibagi menjadi dua :
Bagian A, dengan lama belajarnya 5 tahun dan selanjutnya dapat
mereka melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Bagian B, ( 3 tahun ) yang kemudia dapat melanjutkan ke pendidikan
perwira, pendidikan pegawai negeri atau Akademi Perdagangan.
Sekolah Untuk Golongan Bumi Putera
Sekolah Dasar Negeri
Terdapat perbedaan pendapat mengenai sifat dan cara menangani
pendidikan dan pengajaran bagi sebagaian terbesar rakyat bumi putera di
kalangan pejabat pemerintahan Hindia Belanda.
Untuk kepentingan politik, Pemerintah Hindia Belanda harus mendidik
dan mengajar golongan atas rakyat Bumi Putera untuk dijadikan tenaga dalam
tugas-tugas dalam negeri.
Untuk kepentingan ekonomi, Pemerintah Hindia Belanda mendidika dan
mengajar lapisan bawah penduduk Bumi Putera, untuk dipekerjakan didaerah-daerah
dan perusahaan Belanda.
Sekolah Dasar Bumi Putera dibagi menjadi 2 kategori :
Sekolah Dasar kelas Satu ( De Scholen Der Este Klasse ) Sekolah yang
diperuntukkan bagi anak-anak dari pemuka-pemuka, tokoh-tokoh terkemuka dan
orang-orang yang terhormat Bumi Putera.
SekolahDasar Kelas Dua (De Scholen Der Turde Klasse), Sekolah bagi
anak-anak penduduka Bum Putera pada umumnya.
(10)
Sekolah kelas Satu didirikan di ibukota Keresidenan, Kabupaten,
Kewedahan atau yangs ederajat dan dikota-kota yang menjadi pusat perdagangan
dan kerajinan atau ditempat-tempat yang dipandang perlu.
Perbedaan antara sekolah kelas Satu dan sekolah kelas Dua terletak
pada lama belajar, kurikulum tenaga pengajar dan uang sekolah. Secara berangsur-angsur bahasa pengantar yang
dipergunakan pada sekolah dasar kelas satu dari bahasa Melayu dan didaerah diubah
sama sekali menjadi bahasa Belanda tahun 1914.
Sekolah Raja ( Hoofdenschool )
Untuk kepentingan administrasi pemerintahan dan untuk kepentingan
Belanda sendiri, maka anak-anak kepala Bumi Putera dan tokoh-tokoh terkemuka
lainnya didirikan sekolah di Tondano pada tahun 1865 dan 1872 sebagai percobaan.
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar bagi anak-anak tokoh Bumi
Putera, telah dapat diintegrasikan pada sekolah dasar kela satu yang kemudian
menjadi HIS ( Hollansch
Intansche School ) atau kedalam ELS ( Europeesch Lagere School ).
Sekolah Lanjutan
Pada bad XIX pemerintahan belum memulai dengan pengadaan pendidikan
menengah umum. Pendidikan Menengah dan
tinggi baru dimullai pada abad XX. (11)
Sekolah Kejuruan
Sekolah Pertukangan ( Ambachtsschool )
Sekolah kejuruan pertama di Hindia Belanda diusahakan tas prakarsa
swasta, yaitu sekolah pertukangan yang dibuka pada tahun 1856 di Batutulis –
Betawi. Sekolah pertama yang dibuka
Pemerintah di Surabaya tahun 1860.
Sekolah Pendidikan Guru ( Kweekschool )
Pemerintah Hindia Belanda di Ambon tahun 1834 yang diselenggarakan
oleh Zending dan berlangsung sampai 30 tahun ( 1864 ), dan dapat memenuhi
kebutuhan guru Bumi Putera bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu.
Sekolah Gadis
Sekolah Kejuruan
Sekolah kejuruan ini pernah dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda
pad atahun 1824 sampai tahun 1832.
Sekolah Umum Untuk Gadis.
Sampai lewat pertengahan abad XIX, kedudukan wanita di Eropa sedikit
banyak masih belum berkembang. Tahun
1876 baru didirikan.
Sekolah Dokter
Pada tanggal 2 januari 1849 pemerintah telah mendirikan sekolah “
ahli kesehatan “, untuk diperbantukjan kepada rumah sakit militer di
Betawi. Lama pendidikan semula 1 tahun
kemudian 2 tahunb. Sesudah dididik
selama 2 tahun para siswa diuji oleh panitia yang terdiri dari dokter dan
apoteker militer dan jalau lulus mendapat gelar “ Dokter Jawa “ pada tahun
1864.
Politik Liberal 1850 - 1870
Periode antara tahun 1850 dan 1870 ditandai oleh pesatnya kamajuan
perdagangan Eropa Nederland mendapat keuntungan dari perkembnagan ini. Selama masa dua puluh tahun ini bagi
Nederland merupakan periode transisi dari keadaan praindustri ke industri.
Munculnya revolusi industri seperti cendawan di musim hujan seperti
: pabrik-pabrik dalam berbagai cabang industri, jalan-jalan, kereta api,
dansebagainya. Hal ini berakibat antara
lain :
posisinya sebagai pasar bahan mentah internasional
pelayaran maju dengan cepat
bank-bank baru didirikan
Politik ekonomi kaun liberal adalah kebalikan dari politik yang
dijalankan oleh Willem I. Prinsip yang
dianut adalah “ tidak campur tangan “ berhubungan dengan itu kerajaan Belanda
harus menarik diri dari segala campur tangan yaitu :
segala rintangan terhadap inisiatif individu dan kebebasan harus
dihapuskan
segala bantuan pemerintah kepada usaha swasta harus dihentikan
Perkembangan di Hindia Belanda bergantung kepada perkembangan di
Nederland dan perkembangan di negara-negara modern lainnya :
Pertama : kita harus
memperhitungkan faktor-faktor ekonomi Nederland seperti jumlah penduduk yang
kecil, konsumsi terbatas dan perkembangan industrinya.
Kedua : kemajuan
faktor-faktor ekonomi internasional seperti : pembukaan terusan Zuez (1870),
permintaan bahan mentah dan bahan makanan dari Eropa dan Amerika dan
mengalirnya ,odal asing serta perubahan-perubahan konjungtur ekonomi yang
berulang-ulang.
Masa liberal artinya dimasa pemerintahanm Hindia belanda melepaskan
ekonominya dan peranannya (taman paksa dan monopoli rempah-rempah) dan
menyerahkan eksploitasi ekonomi kepada modal swasta. Pemerintah hanya bertindak sebagai wasit atau
penjaga keamanan yang dilaukan melalui birokrasi dan tentaranya ( KNIH)
Sistem Birokrasi Kolonial
Struktur Sosial
Sepertinya apa yang telah dibahas bahwa pendidikan sangat menentukan
seseorang untuk menduduki posisinya dalam kepegawaian. Sehingga hal ini sangat
mempengaruhi dalam jabatan. Pembagian
jabatan dalam abad XIX inid apat digambarkan sebagai berikut :
Pertama : * golongan yang bergaji kurang dari ¦ 50,-
- golongan Eropa
hanya 0.49 %
- golongan Bumi
Putera 92.61 %
* sedang kategori
pengawaio dengan gaji ¦ 250,0,
lebih
- golongan
Eropa meliputi 82.65 %
- golongan Bumi
Putera 7.25 %
Kedua : diantara 8.303 orang pejabat pada dinas
pemerintah hanya ada 189 orang Bumi Putera
Ketiga : Personil Administrasi
* Skala B ;
presentase pegawai-pegawai Bumi Puteramakin keatas makin menurun
- Pos juru tulis kelas dua : diduduki oleh
golongan Bumi Putera 66.9 %
- Pos Juru tulis kelas satu ; diduduki oleh
golongan pribumi 52 %
- Pos ajung – komis 47 %
- Pos Komis kelas Saturday 30.2 %
- Pos Komis Kepala 0.7 %
Dan tidak ada lagi
pos untuk kepala kantor
* Persentase pegawai-pegawai Eropa : menanjak
ke atas dan 31 % dan berakhir pada 100
%.
Dikatakan secara umum bahwa
perbedaan penghasilan sebagaian besar disesuaikan dengan pembagian ras,
dengan rata-rata sedikit golongan Eropa di atas dan banyak sekali golongan Bumi
Putera berada dibagian paling bawah.
Terpencarnya golongan bumi putera didalam stratifikasi sosial pada
jabatan masyarakat kolonial dan perbedaan warna ras dapat digambarkan dengan suatu diagram yang
berbentuk limas. Diagram ini menunjukan
bahwa penempatannya bagi bangsa Jawa
tidak seimbang, akrena walaupun sedikit atau tidak ada sama sekali pada lapisan
tengah dan lapisan atas, pada lapisan bawah terlampau banyak. (12)
![]() |
![]() |
Struktur Sebelum Kolonial Masyarakat kolonial
Kriteria lain yang dipergunakan untuk menempatkan seseorang pada
struktur sosial adalah tempat tinggal dan pendidikan.
Mengenai faktor tempat tinggal bahwa memiliki sebuah rumah untuk
suatu keluarga batih yang dibuat dari batu
dengan sedikit halaman adalah suatu pola dari kehidupan yang patut. Rumah dengan gaya modern menjadi tanda status
kehidupan tinggi.
Lokalisasi rumah yang khusus, ukuran besarnya , struktur dan susunannya, semuanya itu secara langsung
menunjukkan status pemiliknya.
Rumah-rumah kaum priyayi tinggi berukuran besar, dibuat dari batu,
seperti halhalnya rumah pegawai menengah dan pegawai tinggi. Sedangkan pagawai rendahan bertempat tinggal
di rumah-rumah kayu dan penduduk desa di rumah bambu. Faktor kedua mengenai pendidikan akan
diuraikan secra khusus di bagian belakang.
Sistem Pemerintahan Kolonial
Masa liberal, artinya masa dimana pemerintah melepaskan
perana-peranan ekonominya ( tanam paksa dan monopoli rempah-rempah ) dan
menyerahkan ekploitasi ekonomi kepada modal seasta. Pemerintah hanya bertindak sebagai wasit atau
penjaga keamanan yang dilakukan melalui birokrasi dan tentaranya (KNIL).
Dalam sistem pemerintahan kolonial masa liberal ini terdapat bebrapa
aspeks yang masih menggunakan pola-pola sebelumnya, yakni sistem pemerintahan “
Indirect – Rule “ dan Direct – Rule “.
Pemerintah Indirect – Rule adalah sistem pemerintah Hindia Belanda
di wilayah-wilayah yang telah memiliki sistem politiknya sendiri sejak
berabad-abad sebelum kedatangan Belanda seperti wilayah kerajaan Yokyakarta dan
Surakarta.
Pemerintah Direct – Rule, seperti di Kepulauan Ambon yang tidak
mengenal sistem kerajaan dan dimasa pejabat-pejabat pemerintah Hindia Belanda
langsung berhadapan dengan kepala-kepala desa.
Dalam masyarakat kolonial terdiri dari pelbagai golongan yang oleh
seorang ahli Ilmu Sosial dikatakan dapat dibedakan menurut “ Color Line “ atau
“ garis warna kulit “. hal ini masih
terap dipertahannkan dalam politik liberal.
Golongan secara politik dan ekonomik menduduki tempat teratur dalam
susunan masyarakat itu adalah orang-orang Belanda. Secara Politik : kekuasaannya berpusat pada seorang Gubernur
Jenderal di Batavia yang dibantu oleh suatu
“ Dewan Hindia “ yang bertindak
sebagai “ kabinetnya “ yang membawahi pelbagai departemen. Kemudian para Gubernur di daerah-daerah yang
dikuasai Belanda dengan pelbagai pejabat administrasi dan kedinasan.
Pejabat-pejabat birokrasi yang terpenting di daerah para residen, asisten residen.
Controleur dan aspirant controleur.
Inilah Elite birokrasi Kolonial
yang dinamakan “ Binnenlands Bestuur “ ( BB ).
Pusat-pusat birokrasi kolonial di kota-kota merupakan pusat-pusat
administrasi modern swasta yang mebgolah perkebunan, pertambangan, perdagangan
dan lain-lain. Kota-jota di jaman
kolonial memang sengaja dibangun demi kepentingan birokrasi kolonial dan administrasi
ekonomi. (15)
Dikota-kota muncul pelbagai lapisan pegawai dari yang berasal
Belanda, turunan Belanda dan kelompok-kelompok yang berasal dari suku bangsa
Timur asing atau Cina dan Arab , menduduki tempat yang khusus dalam kota-kota
karena peranan mereka terlepas dari birokrasi kolonial, tetapi berhubungan erat
dengan perkembangan ekonomi. Sebagian
dari mereka “ Totok “ sebagaian terbesar adalah setempat (turunan). Bagian
“ Totok “ lebih dekat dengan perusahaan-perusahaan besar yang turunan
sehingga terjadi perbedaan dalam ekonomi.
Stratifikasi masyarakat kota ditentukkan oleh jauh dekatnya
seseorang atau segolongan dengan simbul-simbul kekuasaan barat. Sedangkan di masyarakat desa kedudukan
tertinggi pada petani yang memiliki
sawah, tanah, kebun dan rumah. Mereka
dianggap cikal bakal desa.
Pada masa Taman Paksa ( 1830 0 1870 ) kelompok cikal bakal banyak
kehilangan prioritas untuk menduduki pamong desa dand engan demikian muncullah
tokoh-tokoh dari kelompok kedua ( orang yang datang kemudian yang hanya
dimiliki rumah dan pekarangan ).
Kelompok ketiga adalah mereka yang hanya memiliki rumah saja yang
diabangun ditanah salah satu kelompok diatas.
Kelompok keempat adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa. Kelompok inilah yang sering menimbulkan
ketegangan dalam masyarakat pedesaaan.
Disamping aspek-aspek diatas, aspeks interaksi sosial antara priyayi
dengan pengusaha Belanda masih dipertahankan.
Para priyayi yang sebelumnya merupakan alat kekuasaan dari para Sultan
di Keraton berubah menjadi alat perantara darim pihak Belanda. Birokrasi tradisional beralih dari keraton
ke para Residen.
Proses peralihan tersebut diatas harus tunduk pada Batavia dan para
Bupati ( priyayi ) di Kabupaten-kabupaten pesisir demikian juga.
Para priyayi harus menjamin agar perdagangan antara Batavia dan daerah
pedalaman tetap berjalan dengan lancar.
Perdagangan tersebut bersifat Monopolistis maksudnya bahwa
komoditi yang sebelumnya menjadi monopoli kaum priyayi menjadi monopoli Batavia
dan para priyayi sebagai perantara
saja. Kekuasaan priyayi tidak lagi tergantung
pada Sultan, tetapi pada pihak Belanda.
Pengangkatan dan pemecatan mereka dikaitkan dengan kepentingan-kentingan
Pemerintah Hindia Belanda.
Sekalipun hubungan dengan keraton terputus, tetapi nilai-nilai
kebudayaan keraton tetap merupakan inti dari alam pikiran golongan
tersebut. Cara-cara memerintah yang lama
tetap dipertahankan, yaitu cara yang berdasarkan hubungan pribadi antara
priyayi dan petani ( hubungan “ Patron – Client “ ). (16)
Berdasarkan sistem patron – client ( feodalisme ) para petani merasa
dirinya terikat pada individu-individu
tertentu. Hubungan ini sangat kokoh
karena adanya suatu alam kepercayaan dalam masyarakat yang mengikatkan para
pengusaha dan rakyat. Sisem monopoloi
beras, kerja paksa atau rodi, dilakukan petani berdasarkan kebiasaan-kebiasaan
yang sudah diberi sangsi oleh sistem budaya itu. Belanda hanya memaksakan kehendaknya melalui
para priyayi.
Walaupun priyayi merupakan bagian dan birokrasi kolonial Hindia
Belanda, mereka tetap menjalankan fungsi sebagai pengusaha-pengusaha
daerah. Elit birokrasi Belanda yang
terdiri atas orang-orang Belanda itu makin memaksanakan cara-cara pemerintahan
mereka, dan mereka makin mengabaikan nilai-nilai lama yang berlaku pada masa
sebelumnya ketika priyayi lebih banyak diberi kelonggarab dalam memerintah.
Sikap birokrasi Belanda ini mencapai puncaknya pada masa
politik Ethis. Perkembangan sistem pendidikan yang
dihasilkan politik ethis akan diuraikan berikutnya.
Sistem Ekonomi Kolonial
Perkembangan perekonomian kolonial Belanda di Indonesia mengalami
darimasa ke masa. Pada masa VOC,
perekonomian ditekankan pada pergadangan monopoli, berkembang menjadi
penyerahan Upeti. Pad amasa ploitik
Konsevatif, yaklni setelah pemerintah Hindia Belanda ditanamkan politik “
CULTUUR STELSEL “ ( Sistem Swa Tanah ), hal ini berkembang menjadi sistem tanam
paksa.
Dalam tahun 1849 – 1850 terjadi bencana kelaparan di Hindia Belanda
( Jawa ) yang disebabkan oleh stelsel tanam paksa yang diterapkan di Indonesia.
Hal ini membuka mata umum di negeri Belanda.
Menurut Fransen van de Putte yakni belas pengusaha penanam tebu,
seorang liberal dans ebagai mentri penghapusan stelsel tanam paksa
mengungkapkan dalam tulisannya bahw asebab-sebab utama dari bahaya kelaparan
itu terdiri dari :
panen gagal
sangat buruknya pimpinan para kepala pemerintahan setempat
rode yang berlebihan untuk pemuatan harta sebagaian benteng dan
sebagainya
Ia menyatakan bahwa kelaparan
disebabkan harta sebagian kecil saja akibat tanam paksa.
Politik kolonial Belanda yang dijalankan antara tahun 1850 – 1860
mengalami perubahan, tekanan penanaman paksa diperingan. Aliran baru menuntut kebebasan
pengusaha-pengusaha partikelir untuk mengusahakan pertanian ekspor, dan untuk
hal itu menuntut pula dihapuskannya stelsel tanam paksa. Antara tahun 1860 – 1870 dicarinya dasar yang
baik untuk perusahaan pertanian partikelir.
(16)
Politik ekonomi modern kalonial setelah tahun 1860 mempunyai dua
tujuan :
Harapan memperoleh keuntungan dari produksi rakyat
Mendapat keuntungan dari produksi pengusaha.
Kerja upah terlau mengambil
segi-segi tajam, sehingga penduduk segan dan akibatnya pengusaha merasa
kesukaran dalam mendapatkan pekerja-pekerja sehingga pengusaha memberikan
persekot-persekot dalam kontrak kerja.
Tidak adanya norma kesopanan ( Etika Business ) yang kuat menyebabkan
banyaknya penipuan dan pelanggaran kontrak, sehingga untuk mengimbanginya para
pengusaha meminta bantuan para kepala.
Makin lama kerja kontrak ini mengalami kemajuan-kemajuan sehingga masih
dipertahankan sampai masa politik liberal.
Kerja upah dan bentuk-bentuk
kontrak lainnya tumbuh menjadi bentuk-bentuk organisasi yang berguna
bagi masyarkat, yakni bentuk organisasi yang dapat dipakai oleh para pengusaha.
Sistem Pendidikan Kolonial
Sistem pendidikan kolonial zaman Liberal ditekankan pada kebutuhan
Pemerintah Hindia Belanda. Sebelum tahun 1900, Tujuan Pendidikan Zaman Hindia
Belanda adalah sebagai kelas elit dan tenaga terdidik. Sedangkan tujuan
Pendidikan zaman Hindia Belanda sebelun tahun 1900 untuk memduduki kelas Elit. (13)
Golongan Elit berkembang disebabkan oleh 4 Proses Sosial yang
utama :
Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan Spesialisasi Jabatan
Pertumbuhan Organisasi Formal atau Birokrasi
Pertumbuhan Keragaman Moral.
Dengan berjalannya keempat proses itu, kaum Elitpun menjadi semakin
banyak, semakin beraneka ragam dan lebih bersifat otonom.
(14)
Problema pembinaan Elit berpusat pada pemilihan orang yang tepat
untuk pekerjaan yang tepat. Dua cara pemilihan pihak adalah :
Reproduksi Biologi
Reproduksi Sosial
Reproduksi Biologis : menentukan bahwa mereka yang kini sedang berada dalam psisi elit
diharapkan akan mengalihkan posisi-posisi ini kepada keturunannya.
Reproduksi Sosial : menentukan bahwa individu diharapkan akan
mencapai status elit dengan perantara seleksi diri, ujian dengan saingan,
pemilihan atau pengangkatan.
Bilamana permintaan akan calon, relatif stabil, suatu kelas sosial
atau kelompok bisa monopoli itu akan pecah, sekurang-kurangnya untuk suatu masa
perluasan itu.
Perolehan elit itu meningkat dengan 3 syarat :
Jika dalam kondisi sosial yang stabil, suatu kelas sosial kehilangan
monopoli untuk mendapat kesempatan sebagai akibat dari reproduksi yang tidak
mencukupi, sebagaimana banyak kaum aristokrasi.
Jika sebagai akibat dari perluasan demokrafis dan sosial, jumlah
lowongan meningkat sehingga penyediaan secara biologis harus dilengkapi dengan
bentuk-bentuk lain.
Jika sebagaimana dalam seni dan ilmu pengetahuan, kecakapan yang
diminta adalah seperti yang jadi pilihan individu atau bakat-bakat luar biasa
yang memainkan peranan penting. (15)
Paham liberalisme sangat berpengaruh terhadap pendidikan di Hindia
Belanda sejak pertengahan abad 19. Pada
tahun 1855 ada instruksi kepada Gubernus Jenderal agar mengambil tindakan
supaya : Sejauh mungkin mamperbaiki dan memperluas pendidikan bagi penduduk
golongan Eropa dan Bumi Putera, serta meningkatkan dan memperbaiki kesenian dan
ilmu pengetahuan dinatara mereka.
Khusus untuk golongan penduduk Bumi Putera terdapat juga ketentuan
yang berbunyi :
“Gubernur Jenderal harus mengatur sedemikian rupa sehinggadi
tiap-tiap kabupaten dapat didirikan sebanyak mungkin sekolah, sehingga remaja
Bumi Putera mendapat kesempatan belajar “
(16)
Seperti telah dikemukakan bahwa sejak 1848 – 1849 Pendidikan Dasar
yang diselenggarakan oleh Pemerintah mulai didirikan dan berkembang bagi
golongan Bumi Putera. Pada tahun 1867
pada pemerintah di Hindia Belanda dibentuk Departemen sendiri yang mengurus
masalah Pendidikan, Agama dan Kerajinan.
Berangsur-anmgsur penduduk golongan Bumi Putera dan Cina dan golongan
lainnya diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan barat dan merupakan dasar
untuk m,endapat pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Pendidikan Tinggi Barat.
Politik Ethis Kolonial 1870 – 1900
Sejak sistem Politik Kolonial Belanda berubah, mengambil kebijakan
baru di Indonesia, eksploitasi terhadap Indonesia mulia berkurang, sebagai
pembenaran utama bagi kekuasaan Belanda, dan digantikan dengan
pernyataan-pernyataan keprihatinan atas ksejahteraan bangsa Indonesia.
Di dalam kebijakan-kebijakan politik Ethis sebenarnya lebih banyak
janjinya daripada penampilannya dan faktor penting tentang eksploitasi dan
penaklukan dan kenyataannya tidak berubah, tetapi tidak mengurangi arti penting
zaman penjajahan baru ini.
Politik Ethis berakar pada masalah kemanusiaan dan keuntungan
ekonomi, Kecama-kecaman terhadap
pemerintahan bangsa Belanda yang dilontarkan dalam Nopel “ MAX HAVELAR “ ( 1860 ) dan pengungkapan lainnya
mulai membuahkan hasil semakin banyak
suara Belanda yang mendukung pemikiran untuk mengurangi penderitaan rakyat
Indonesia.
Pada tahun 1899 C. Th. Van Deventer, seorang ahki hukum yang pernah
tinggal di Indonesia selama tahun 1880 – 1897, menerbitkan sebuah artikel yang
berjudul “ Een Eereschuld “ ( suatu hutang kehormatan ) di dalam majalah
berkala Be;anda de Gids. Dia menyatakan
bahwa negeri Belanda berhutang kepada vbangsa Indonesia terhadap semua kekayaan
yang telah diperas dari mereka. Hutang
ini dibayarkan kembali dengan jalan memberikan prioritas utama kepada
kepentingan rakyat Indonesia di dalam kebijakan kolonial.
Tiga prinsip dalam pemikiran politik Ethis ytitu :
Educatie : pendidikan
Emigratie : perpindahan penduduk
Irrigatie : pengairan
Untuk melaksanakan proyek-proyek semacam itu diperlukan adanya
dana. Oleh karena itulah, maka hutang
pemerintah kolonial yang mencapai jumlah sekitar 40 juta gulden diambil alih
pemerintah Belanda sehingga Batavia dapat meningkatkan uang pengeluaran tanpa
harus dibebani hutang lagi.
a) Sistem Birokrasi Kolonial
Dalam periode 1870 – 1900 wilayah kekuasan Hindia Belanda seluas
maliputi yang kita kenal sekarang ( sabang – merauke ). Peluasan wilayah ini ada hubungannya dengan
tuntutan pihak swasta untuk meluaskan jaringan eksploitasinya, maupun tuntutan
keamanan, serta saingan-saingan negara barat lainnya. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam
masa 1870 – 1900 seluruh wilayah tersebut telah
dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda sampai ke desa-desa.
Cara-cara pemrintahan barat berangsur-angsur menggantikan segi-segi
tertentu dari cara pemerintahan tradisional.
Contoh sejak tahun 1870 telah menimbulkan perubahan jaringan
komunikasi ( jalan ) lebih mendekatkan
desa dengan pusat-pusat administrasi
Belanda juga makin banyak dan makins ering dilihat di lingkungan Barat
merubah cara-cara pemerintah tradisional.
Sikap birokrasi Belanda ini mencapai puncak perkembangannya pada masa
politik Ethis.
Apabila sebelumnya tugas
pemerintah Hindia Belanda ini hanya menyangkut soal-soal pengawasan ketentaman,
pengadilan dan perkebunan-perkebunan (tanam paksa) , maka kini birokrasi itu
dibebani tugas untuk memelihara kesejahteraan penduduk. Untuk menjalankan kesejahteraan itulah
dijalankan pelbagai hak yang sebelumnya tidak ada, timbulkan
departemen-departemen baru di Batavia dengan kedinasan yang bercabang ke
daerah.
Disamping terdapatnya sistem birokrasi kolonial yang baru, juga
berkembang sistem komunikasi dan perkembangan sistem moneter.
Sistem komunikasi tradisional berciri kelambanan seperti : jalan
kuda, jalan kereta, dan lain-lain. Pada
masa Daendels, di Pulau Jawa sudah ada sustu sistem jalan raya yang modern,
akan tetapi yang sangat menonjol dalam bidang komunikasi ini adalah dibangunnya
sistem jalan kereta api di Jawa tahun 1862 ( akhir abad 19 sudah ada 1600 km ),
si Sumatra tahun 1874 ( akhir abad 19 sudah ada 3500 km ).
Sistem komunikasi lainnya yang menghubungi pulau-pulau adalah
perkapalan. Kapal uap mulai diintrodusir
oleh pihak swasta pada tahun 1859, kemudian pada tahun 1891 ditingkatkan dan
dibentuk suatu perusahaan pelayaran yang membutuhkan pelabuhan modern, seperti
Tanjung Priok dibangun tahun 1873 – 1893, Pelabuhan Belawan tahun 1890,
Pelabuhan Padan tahun 1892, dll.
Dibuat suatu sistem modern sistem ini menghubungi Indonesia dengan
dunia, seperti Perbankan Modern. Sistem
ini mengurangi sifat ketergantungan pada sistem ekonomi Belanda sebelumnya.
Sistem birokrasi ekonomi yang baru ini menimbulkan suatu sikap yang
baru dikalangan orang-orang yang berkuasa di Nusantara. Dalam sistem birokrasi lama, seseorang
pengusaha tradisional penting cuma karena kahadirannya saja. Kehadirannya merupakan suatu simbul dari
suatu sistem sosial dan alam pikiran yang bertintikan keseimbangan antara
manusia dan lkormon. Pengusaha merupakan
jaminan akan keseimbangan ini sehingga malapetaka dan kemelaratan dapat
dihindari dari rakyat. Rakyat menerima
penguasa karena simbul tersebut, ahar tidak terjadi ketidak seimbangan yang
menimbulkan kesulitan-kesulitan alamiah.
Dalam sistem baru penguasa harus bertindak / berbuat hal-hal yang tidak
direncanakan secara rasional untuk menjamin ketentraman dan kesejahteraan
rakyat tersebut. Persoalan yang muncul
disini adalah bahwa bersamaan dengan munculnya sistem birokrasi baru itu muncul
pula kesenjangan budaya antara kaun penguasa (birokrasi) danrakyat pada
umumnya.
b) Sistem Ekonomi Kolonial
Program politik Ethis berdampak sosial pada suatu lingkungan
perekonomian yang mengalami perubahan yang cepat. Aksi-aksinya penaklukan yang
dilakukan di daerah-daerah luar Jawa menjadi fokus yang lebih penting daripada
Pulau Jawa dalam pembangunan ekonomi baru di tangan perusahaan swasta produksi
komoditi daerah tropis meningkat dengan cepat.
Ada dua jenis komoditi yang sangat penting untuk menempatkan
Indonesia pada garis depan bagi kepentingan perekonomian dunia yaitu : Minyak
Bumi dan Karet. Kedua jenis komoditi ini
merupakan produk yang terbanyak walaupun tidak semuanya berasal dari daerah
luar Pulau jawa.
Adanya kandungan minyak bumi di daerah-daerah Langkat, Sumatra Utara
telah diketahui sejak tahun 1860 an.
Pada tahun 1890 A. J. Zijlker mendirikan “ Koninklijke Nederlandsche
Maatschappij tot Exploitatie Van Petroleum – Bronnen in Nederlandsch – Indie
“ ( Perusahaan Kerjaan
Belanda bagi Exploitasi Sumber-Sumber Minyak Bumi di Hindia Belanda ). Produksinya dimulai tahun 1892. Pada mulanya minyak bumi dimanfaatkan
terutama untuk minyak lampu, memeng merupakan salah satu kejadian yangsifatnya
kebutuhan di dalam sejarah modern bahwa tepat ketika lamu pijar yang diproduksi
secara komersial mulai tahun 1880 an.
Produk baru lainnya adalah karet yang berhubungan erat dengan
industri mobil yang baru. Pemerintah
kolonial mendorong penyebaran jenis komoditi baru ini dengan jalan memberikan
nasehat, mengadakan penelitian ilmiah, menetapkan peraturanumum dan sebagainya.
Bergesernya kegiatan perekonomian ke daerah-daerah luar Jawa itu
menimbulkan kesulitan kesulitan yang besar dalam kebijakan pemerintah , kini
lapanganm investasi dan penghasil komoditi ekspor yang terpenting adalah
daerah-daerah luar Pulau Jawa, akan tetapi masalah-masalah kesejahtaraan yang
besar, tuntutan-tuntutan utama terhadap “ Hutang Kehormatan “ adalah di Pulau
Jawa.
Dalam teori, program-program kesejahtaraan di Jawa dibiayai dengan
mengharuskan daerah-daerah luar Jawa memberikan subsidi bagi program tersebut,
sehingga menghindari naiknya tingkat pajak yang sudah sangat berat di
Jawa. Hal ini akan memaksa dikenakannya
pajak yang tinggi terhadap keuntungan-keuntungan yang diperoleh
perusahaan-perusahaan di luar Jawa.
Tidaklah mengherankan apablia hal itu tidak terjadi. Daerah-daerah luar Jawa tidak dikenakan pajak
sampai tingkat yang diperlukan untuk meningkatkan standar hidup di Jawa.
Dengan demikian, maka perbedaan antara daerah Jawa dan daerah-daerah
di luar Jawa yang berakar pada masa lalu sekarang ini manjadi semakin
menyolok. Daerah-daerah di luar Jawa
merupakan wilayah yang mempunyai ikatan
dengan Islam lebih mendalam
komoditi ekspor yang lebih berharga
investasi asing yang lebih besar
lebih belakangan ditaklukkan dan Belanda
dan tekanan jumlah penduduk yang kurang padat
Sedangkan Jawa merupakan kawasan yang :
pengIslamannya kurang mendalam
semangat kewiraswastaannya kurang besar
nilainya sebagai sumber komoditi ekspor merosot
pertumbuhan ekonomi barunya tidak pesat
menghadapi campur tangan penjajah lebih lama dan mendasar
menderita jumlah penduduk yang sangat padat
Sistem Pendidikan Kolonial
Banyak sekali usaha yang dijalankan di bidang pendidikan, dan
hasil-hasilnya sering kali membuat bangga para pejabat Belanda. Semua pendukung politik Ethis menyetujui
ditingkatkannya pendidikan bagi rakyat Indonesia, tetapi ada dua aliran
pemikiran yang berbeda mengenai jenis pendidikan yang bagaimana dan untuk siapa.
Ada 2 (dua) aliran yang berbeda mengenai jenis pendidikan yang
bagaimana dan untuk siapa :
Snouck Hurgrorye dan Direktur pendidikan Ethis yang pertama, J. H.
Abendanon, mendukung pendekatan yang sifatnya elite. Mereka menginginkan pendidikan gaya Eropa
dengan bahasa Be;anda sebagai bahasa pengantarnya bagi kaum elite Indonesia
yang dipengaruhi barat yang dapat mengambil alih banyak dari pekerjaan yang
ditangani para pegawai pemerintah yang berkebangsaaan Belanda, sehingga
menciptakan alite :
- yang tahu berterima kasih
- bersedia bekerja sama
- memperkecil anggaran belanja pemerintah
- mengendalikan fanatisme Islam
- dan menciptakan keteladanan yang akan menjiwai masyarakat
Indonesia golongan bawah.
Idenburg danm Gubernur Jenderal Van Heutsz mendukung pendidikan yang
lebih mendasar dan praktis dengan bahasa daerah sebagai bahasa
pengantarnya bagi golongan bawah
tersebut. Pendekatan yang sifatnya elite
itu diharapkan akan menghasilkan pimpinan bagi zaman cerah Belanda Indonesia
baru. Sedangkan pendekatan yang merakyat
itu akan memberikan sumbangan secara langsung bagi kesejahteraan. Tak satu kebijakanpun dijalankan dengan
sumber-sumber yang cukup memadai dan tak satupun menghasilkan apa yang
diinginkan oleh para pendukungnnya.
Di bawah Abendanon pendekatan yang sifatnya elitelah yang mendapat
prioritas utama. Pada tahun 1900 tiga
Hoofdenscholen ( Sekolah Para Kepala ) yang lama seperti di Bandung, Magelang
dan Probolinggo disusun kambali menjadi sekolah yang nyata-nyata direncanakan
untuk menghasilkan pegawai-pegawai pemerintahan dan diberi nama baru OSVIA (
Sekolah Latihan untuk para Pejabat Pribumi ).
Masa pendidikannya selama 5 tahun dengan bahasa Belanda sebagai bahasa
pengantarnya, dan terbuka bagi semua orang Indonesia yang telah menyelesaikan Sekolah
Rendah Eropa. Calon-calon muridnya tidak
alagi harus berasal dari kalangan elite bangsawan. Sejak tahun 1891 Sekolah Rendah Eropa yang
merupakan prasyarat wajib masuk OSVIA dan STOVIA terbuka untuk orang-orang
Indonesia, tetapi hanya orang-orang kaya yang mampu bayar uang sekolahnya.
Dalam pelaksanaannya, Abendanon menghadapi tantangan-tantangan dari
berbagai kalangan, termasuk para Bupati yang lebih konservatif. Cita-cita tentang pendidikan kaum wanita yang
begitu didambakan oleh R.A Kartini dan Abendanon tersebut tidak pernah mendapat
prioritas pemerintah, terutama oleh karena pengaruh para Bupati yang
konservatif dan pejabat-pejabat yang skeptis.
Bagaimanapun juga gagasan tentang pendidikan kaum wanita tersebut
mendapat perhatian dari organisasi non pemerintah.
Perbaikan-perbaikan pendidikan yang paling berarti adalah dalam
sistem Sekolah Dasar yang dibuka untuk orang-orang Indonesia sejak tahun
1892-1893, tetapi secara kecil-kecilan.
Sekolah ini dibagi dalam 2 kelas.
Kelas satu untuk golongan atas dan sekolah kelas dua untuk golongan
rakyat jelata. Orang-orang Indonesia
kini mempunyai kesempatan lebih luas untuk memperoleh pelajaran bahasa Belanda,
tetapi masih ada masalah yang bersifat Struktural.
Pada tahun 1900 bangsa Indonesia yang menuntut ilmu di
Sekolah-Sekolah swasta maupun pemerintah di seluruh Indonesia hanya berjumlah
265-940 anak. Pada tahun 1930 – 1931
jumlah bangsa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan barat semacam itu
mencapai lebih dari1,7 juta anak.
Pada tahun 1930 – 1931 sekitar 1,66 juta orang Indonesia menuntut
ilmu di sekolah-sekolah dasar, yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa
pengantar, yang memang diperuntukkan bagi mereka 2,8 % dari keseluruhan jumlah
penduduk atau 8 % dari kelompok penduduk antara anak yang belum dapat berjalan
dan orang dewasa.
Jumlah orang Indonesia yang menuntut ilmu di dalam sistem sekolah
Eropa di bawah tingkatan Universitas ( termasuk HIS, MULO, AMS dan Sekolah
Kejuruan, tetapi tidak termasuk TK ) adalah 84.609 orang; 0.14 % dari
keseluruhan penduduk. Di tingkat
Pergurua Tinggi terdapat 178 orang Indonesia;
3/100.000 dari jumlah penduduk.
Di Sekolah Kejuruan Pertanian dan kehutanan suatu bidang yang seharusnya
diutamakan, hanya terdapat 392 orang Indonesia : 7/1.000.000 dari jumlah
penduduk. Pendidikan ini bersifat Desentralisasi.
Desentraslisasi adalah sasaran utama para pendukung politik Ethis,
desentraslisasi dari Den Haaq ke Batavia, dari Batavia ke daerah-daerah, dari
orang-orang Belanda ke orang-orang Indonesia.
Langkah paling nyata ke arah desentralisasi dan peningkatan peran serta
orang-orang Indonesia dalam pemerintahan adalah pembentukkan Volksroad ( Dewan
Rakyat ). Sedang pertama tahun 1918.
Pendidikan tidak menghasilkan elite baru yang tahu terima kasih dan bersedia bekerja sama
maupun semangat baru yang berkobar-kobar di kalangan rakyat; langkah
kesejahteraan biasanya kurang menghasilkan kesejahteraan. Sungguhpun semua penelitian kesejahteraan
selama periode politik Ethis menghasilkan angka – angka statistik yang meragukan,
tidak ada bukti tentang meningkatnya kemakmuran umum sebelum tahun 1930.
Dampak Politik Kolonial
Sikap Kristen belanda Terhadap Islam
Sejak bangsa Turki menaklukan “ Constatinopel “ bandar perdagangan
internasional pada tahun 1453 kebencian umat kristen terhadap Islam telah
mencapai puncaknya. Penaklukan ini
sebagai rangkaian politik Islam terhadap umat Kristen dalam perang Salib. Oleh karena itulah kedatangan bangsa barat di
Indonesia, selain dilatarbelakangi oleh aspek politik dan ekonomi juga aspek
religi yang tak kalah pentingnya, sehingga ketiga aspek ini mempunyai hubungan
fungsional yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Menurut pandangan Belanda, selama dalam proses Aristokrasi di
Indonesia telah mendapat perlawanan yang sangat gigih yaitu dari zaman kerajaan
Demak sampai abad XIX sehingga terjadi Perang Jawa tahun 1825 – 1830, perang
Banjarmasin tahun 1839 dan Perang Aceh tahun 1875.
Belandapun menyadari bahwa biang keladi kerusuhan dan perlawanan
terhadap Belanda adalah :
Sebagai musuh utamanya adalah Islam dan Keturunan Arab ( keturunan
bangsa yang melahirkan Islam ). Mereka penghasut para Kiyai, pejuang Islam
yang tak henti-hentinya menentang kekuasaan Belanda dimana-mana di Indonesia,
demi kehormatan agama dan bangsanya.
Musuh kedua : para Kyai dan Muballiq agama Islam
Untuk membatasi gerak gerik keduanya, Belanda lebih mudah mengontrol
yang bagian utama karena golongan kedua terlalu banyak jumlahnya, untuk
golongan yang utama, Belanda mengadakan sistem “ Passen en Wijken Stelsel “
terhadap mereka. Mereka harus bawa surat
pas kalau bepergian. Hal ini
dilaksanakan sangat kejam. Terutama
setelah pa Islam berkembang di Indonesia.
Politik kolonial Belanda yang lain adalah :
memisahkan kaun priyayi dari kaum kyai
memisahkan keturunan arab
dari kaum kyai
membatasi orang naik haji dan imigrasi keturuna arab
mempertebal pendidikan barat
memilih bupati yang tipis
Sikap Islam Terhadap Kristen ( Belanda )
Pelaksanaan Passenstelsel yang kejam itu hanya menambah kebencian
keturunan Arab terhadap Belanda yang beragama
Kresten, sehingga bisa meningkatkan aktivitas orang orang Islam dalam
gerakan Pan – Islam. Selain itu Belanda
juga mulai sadar bahwa tidak semua keturunan
Arab itu membenci Belanda tanpa syarat.
Seperti halnya dengan sebagian kaum priyayi misalnya dapat dijadikan
sahabat Belanda, begitu juga dalam masyarakat keturunan Arab terdapat cukup
aknom untuk dijadikan sahabat mareka.
Beberapa kegiatan perlawanan terhadap Belanda mulai diorganisir
sebab tanpa itu perlawanan bangsa Indonesia selalu mengalami kegagalan. Oleh karena itu muncullah SI ( Sarekat Islam ) yang dipimpin oleh Raden
Oemar Said Tjokroaminoto ( hasil pendidikan STOVIA ), Sekolah pendidikan
pegawai Negeri pribumi yang memang dimaksudkan untuk “ mengemansifasikan “ dari agama mereka.
Muncullah aktivitas orang Islam
bukan saja karena desakan
ekonomi, tetapi juga sebagai reaksi terhadap politik Belanda yang mulia condong
ke arah membantu penyebaran agama Kresten.
Pemerintah Belanda melanjutkan prinsip kristen dalam politik sehari-hari
di bidang operasional dan administratif.
Kemudian muncullah SI tahun 1909 dikikuti oleh Muhamadiyah tahun 1912
yang didirikan oleh Kyai Haji Achmad Dahlan di Yokyakarta dan kemudian seperti
cendawan dimusim hujan muncul organisasi-organisasi Islam yang lain.
III. REAKSI BANGSA INDONESIA
TERHADAP
PENETRASI BARAT
Munculnya Nasionalisme Indonesia
Penaklukan bangsa Eropa terhadap Asia dengan lahirnya teknologi dan
industri yang dihasilkan oleh “ Renaisance “.
Penaklukan melahirkan penjajahan yang dilakukan melalui proses ekonomi,
misalnya hubungan dagang, sesudah itu menyusul proses politik, misalnya dengan
mengadakan “perjanjian persahabatan“ dengan para raja dan penguasa
setempat. Oleh karena itu sikap
kejujuran dan baik sangka orang-orang timur, maka dengan perjanjian persahabatan
itu maka para penguasa di Asia menjadi makanan empuk. Mereka kelewat jujur dan begitu baik,
menyangka bahwa semua orang sejujur dan sebaik mereka. Mereka menjadi korban kepolosan hatinya,
mereka terlupa akan ajaran dan tuntunan Nabi Besar Muhammad ASW :
“ Jaga dari kalian baik-baik untuk menghindari kejahatan, dan
kejahatan orang lain, dengan sikap berburuk sangka dalam kewaspadaan “ (
Al’Hadist)
Sejarah penjajahan dimana-mana senantiasa menujukkan bahwa
penaklukan bangsa Barat atau Timur khususnya Indonesia dimulia dengan
perdagangan. Akan tetapi tingkat
terakhir penaklukan itu dilakukan dengan kekuatan militer untuk melindungi
ekonomi dan politik mereka. Bahkan
sekaligus dibarengi dengan proses “ pembaratan melalui Silir – Semilirnya angin
kebudayaan barat.
Lahirnya penemuan teknologi dan industri memang mendatangkan
Modernisasi. Akan tetapi apa yang
dinamakan moderniasi tersebut pada hakekatnya untuk mempercepat proses
kebudayaan dan pem-barat-an.
Ditemukakanya tenaga uap tau fisika dan setelah itu dimulai revolusi
Industri dekat tahun 1800 melahirkan dikemudian hari kapal laut dan kereta api,
menyusul jaringan-jaringan pos, pembukaan
perkebunan dan pendirian rumah sakit.
Semuanya itu merupakan kebudayaan serta modernisasi. Memang besar sekali manfaatnya bagi
kemanusiaan. Akan tetapi janganlah
dilupakan, bahwa hasil-hasil tersebut ibarat pisau yang bermata dua :
Pertama : Untuk kepentingan penaklukan barat sendiri dalam
mempercepat penghimpunan harta kekayaan dari tanah-tanah jajahan mereka untuk
kepentingan bangsa dan tanah air mereka sendiri.
Kedua : Untuk
propaganda ninabobo kepada orang-orang
Indonesia ( Asia ) yang diajah mereka, bahwa mereka datang ker Asia khususnya
Indonesia, katanya : bukan untuk menindas dan menajjah akan tetapi untuk
memakmurkan bangsa – bangsa Timur pada umumnya.
Lihatlah, kata mereka, hutan belantara telah disulap menjadi
perkebunan, pabrik didirikan dan jalus kereta api dipasang dimana-mana, belum
lagi pendirian rumah sakit dan ajringan pos.
Apakah itu semua bukan kebudayaan modern
untuk memakmurkan anak negeri.
Itulah nyanyian ninabobo kolonial Belanda. Pada hal semua itu untuk kepentingan mereka
sendiri dalam mengangkut, mengolah kekayaan tanah-tanah jajahan untuk
kepentingan dan memakmurkan bangsanya sendiri serta pembangunan di tanah air
mereka sendiri.
Proses “ Modernisasi “ dan “ Pem-barat-an “ itu menjadi lebih
disempurnakan lagi dengan diperkenalkan sistem pendidikan ala kolonial dengan
dalih “ untuk mencerdaskan “ kaum pribumi dan untuk membuat bangsa Indonesia
menjadi maju. Pada hal tujuan yang
sebenarnya adalah :
untuk kepentingan kaum kolonial ( penajajah ) sendiri
Untuk keperluan industri dan kantor-kantor penjajah yang membutuhkan
tenaga klerk, juru tulis dan pegawai rendahan lainnya. Lebih baik mencetak bangsa pribumi yang
bergaji murah dari pada harus mendatangkan dari negeri penjajah yang lebih
mahal baik ongkosnya maupun gajinya.
Setiap pemerintah kolonial barat bagaimanapun ramahnya dan majunya
selalu saja mendapat tantangan dan perlawanan dari kaum muslimin diseluruh
dunia. Dalam pandangan umat Islam
dimanapun mereka berada, setipa pemerintah kolonial barat adalah “ Nasrani “
yang memandang siapa saja bukan nasrani adalah “ kafir – kafis “ yang harus
diperangi. Setiap orang yang beragama
Islam bagi orang-orang barat yang menggerakkan “ Reconquistis “ adalah rang
Morro dan orang yang harsu diperangi.
Setipa kebencian bangsa Indonesia terhadap bangsa barat memang
banyak mendatangkan akibat, yaitu ekses-ekses yang timbuk karena panaklukan
barat atas Indonesia. Hal ini sangat
logis bahwa kekerassan yang dipaksakan oleh pihak musuh yang lebih kuat akan
menimbulkan perlawanan dengan cara apapun yang kadang-kadaang tidak dipikir
panjang, dus tidak tasional.
Dengandemikian wajarlah bahwa Nasionalisme Indonesia muncul sebagai
jawaban terhadap kolonialisme Belanda.
Nasionalisme Indonesia bertujuan melenyapkan tipa-tiap bentuk kekuasan
penjajah dan mencapai suatu keadaan bangsa yang merdeka.
Sifat Nasionalisme Indonesia
Sebelum tahun 1900 bangsa Indonesia telah memberikan reaksi dan
perlawanan terhadap penjajah Belanda, tetapi bersifat ( Perjuangan ) :
Perlawanan lokal ( kedaerahan )
Perlawanan Negatif :
Pindah tempat atau mengundurkan diri ke daerah yang tidak atau belum
terjangkau oleh kekuasaan penjajah.
Mencari perlindungan kepada ilmu gaib atau bertapa
Perlawanan yang Irrasional, yang tergantung keada kekuatan seorang
pemimpin yang kharismatik ( mempunyai keperibadian yang magnetis ), yang
dianggap oleh pengikut-pengikutnya mempunyai kesartian yang dapat dipancarkan
kepada mereka, perlawanam yang demikian selalu berakhir bila pemimpin itu
tertawan atau terbunuh.
Bagaimana tindak lanjut ( follow up ) dari pada pergerakan itu
sesudah susunan masyarakat yang ditumbangkan belum dipkirkan.
Sesudah tahun 1900 sifat perlawanan berubah ( Pergerakan ) :
Perlawanan bersifat nasional ( meliputi seluruh Indonesia)
Perlawanan yang positif dengan senjata dan taktik yang modern berupa
diplomasi atau silat lidah, ode-ide yang diperoleh dari Barat digunakan untuk
melanwan penjajahan Belanda ( senjata makan tuan )
Perlawanan itu diorganisir secara lebih teratur dan rasional, dengan
anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) yang memungkinkan pergerakan bisa
bertahan lebih lama, kehilangan seorang pemimpin tidak menjadi sebab utama
kamtian pergerakan, bahkan bersemboyan “ patah tumbuh hilang bwerganti “ atau
esa hilang dua terbilang “. Pergerakan
modern mempunyai Mass Leadership and Mass Support.
Masa depan bangsa sesudah pergerakan bisa menumbangkan susunan
masyarakat lama dan mendirikan ekonomi dan pendidikan dan lain-lain sudah
dipkirkan.
Faktor Penyebab Pertumbuhan Pergerakan Indonesia
Faktor Internal ( Dalam Negeri )
Penderitaan akibat penjajahan, bangsa Indonesia merasa senasip dan
sepenangungan, sama-sama dijajah Belanda, jadi ini merupakan reaksi terhadap
penjajahan.
Kesatuan Indonesia di bawah Pax Neederlandica memberi jalan ke arah
kesatuan bangsa.
Pembangunan komunikasi antara pulau menyebabkan makin mudah dan
makin sering bertemunya rakyat dari beragai kepulauan.
Pembatasan penggunaan atau penyebaran bahasa Belanda dikalangan
pribumi disatu pihak dan penggunakan bahasa Melayu yang dipopulerkan di lain
pihak menyebabkan bahasa dari sekitar Selat Malaka ini menjadi bahasa
Indonesia, bahasa ini kemudian menjadi tali pengikat kesatuan bangsa yang
ampuh.
Undang-Undang Disentralisasi, yang antaranya mengatur pembentukan
kotapraja dan dewan-dewan kota praja memperkenalkan rakyat Indonesia akan tata
cara demokrasi yang modern.
Pergerakan kebangsaan di Indonesia dapat juga disebut sebagai
reraksi terhadap semangat kedaerahan, yang tidak menguntungkan bagi perjuangan
kemerdekaan ( semangat kedaerahan
menyebabkan terpecah-pecah dan lemah ).
Faktor Eksternal ( Luar
Negeri )
Ide-ide barat yang masuk lewat pendidikan barat yang modern yang
menggantikan pendidikan tradisional ( pondok, pesantren, wihara-wihara).
Kemenangan Jepang ataus Rusia pad atahun 1905 mengembalikan
kepercayaan bangsa Indonesia akan kemampuan diri.
Perjuangan dan pergerakan bangsa lain menentang penjajahan India,
Turki, Irlandia, dll.
Pergerakan nasional Indonesia tumbuh dan berkembang sebagai
reaksi-reaksi terhadap Stelsel Kolonial, dan kelahirannya dipercepat oleh
beberapa kejadian yang di antara lain disebutkan :
Tersia-sia rakyat Indonesia dalam bidang pengajaran dan pendidikan.
Perlakuan pemerintah kolonial yang sangat melukai hati rakyat.
Suara beracun pers Belanda serta sikap angkuh dari masyarakat
Belanda di Indonesia
Adanya gerakan orang-orang Cina dengan didirikannya perguruan bagi
masyarakat mereka sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan ( tahun 1901 ).
Kejadian-kejadian seperti di atsa inilah yang mempercepat proses
lahirnya pergerakan nasional Indonesia.
Penderitaan lahir batin yang tidak tertahankan lagi, ditambah dengan pengaruh
dari luar dan dalam tanah air merupakan dorongan yang mempercepat lahirnya
Pergerakan Nasional Indonesia.
Reaksi Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialis Eropa Abad XIX.
Telah diungkapkan sebelumnya bahwa zaman Renaisance Eropa berhasil
melahirkan anak “ Kolonialisme dan Intelektualisme “ ala barat. Mula-mula dilahirkan oleh motivasi
petualangan untuk membuktikan bahwa Eropa adalah “ Reconquistador atau
Conquistador “ : penakluk yang pantang terkalahkan. Kebanggaan ini lambat laun ditumpangi oleh semangat
“ Roh Kudus “ yang ditiupkan oleh pemimpin Griya untuik pergi jauh-jauh
memberikan “ IOKOS “ ( perumahan ) bangsa lain, untuk mempersatukan mereka
dalam kristus. Berlayarlah mereka
mengarungi dunia, sambil tangannya membuka Injil markus :
“ Pergilah kamu ke seluruh bumi, beritankanlah Ijil itu kepada
sekalian alam ( Markus 16:15) atau “ Dan ia bersabar kepada mereka : Pergilah
keseluruh dunia dan maklumkanlah Injil kepada segenap makhluq. Barang siapa percaya dan dipermandikan, akan
selamat, tetapi yang tidak percaya akan kena hukuman “.
Rakyat Indonesia yang sebagaian besar Umat Islam memandang mereka
sebagai penakluk penajah apapun kebangsaan mereka. Mereka adalah imperialis apakah mereka
katholik ataukah protestan. Dalam dada
mereka masing-masing melekat begitu kuatnya ajaran politikus curang
Machiavelli.
Ajaran Machiavelli antara lain
Agama sangat perlu bagi setipa pemerintah ( kolonial )
Agama bukalah untuk membudayakan penduduk, akan tetapi untuk
menjinakkan serta menaklukkkan mereka
Setiap aliran agama yang
dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibantu, maksudnya
keculai untuk mengadu domba antara mereka juga untuk membuat mereka berebut
saling memerlukan bantuan penguasa.
Jangan tepati janji kalau sekitarnya merugikan pemerintah
Menghalalkan semua cara
Disitulah letaknya kebebasan berfikir ala kolonialisme. Suatu kebebasan dari cara berfikir yang tidak
logis, dimana ada penjajahan yang bertujuan mulia dan membawa kemakmuran.
Sejak dahulu bangsa Indonesia memandang bahwa politik tidak bisa
dipisahkan dengan kehidupannya, ketika bangsa Indonesia berabad-abad hidup
sebagai bangsa merdeka dan pemerintahan yang dipimpin oleh raja-raja bangsanya
sendiri, maka politik adalah sarana mutlak dalam menyusun kerajaan serta alat mengatur
kesejahteraan dan ketertiban.
Setelah kolonialisme Belanda mencekam kekuasaan, bangsa Indonesia
bangkit melakukan perlawanan politik dan militer dengan menyebarkan perang
kemerdekaan. Semangat Islam tak
terpisahkan dengan politik. Abad XIX
merupakan abad perlawanan dengan politik yang hampir diseluruh wilayah
Nusantara. Ada dua bentuk perlawanan
bangsa Indonesia terhadap penetrasi barat yaitu Pertama : Gerakan Sosial dan
Kedua : Perlawanan Fisik.
Gerakan Sosial
Selama abad XIX dan XX di Indonesia terjadi perlawanan rakyat yang
terus menerus terhadap penetrasi barat.
Selain peperangan yang berlatar belakang politik, lahir pula
gerakan-gerakan sosial di dalam masyarakat.
Pada umumnya gerakan ini merupakan aksi huru hara, kerusuhan, gerkan
rohani maupun gangguan keamanan.
Organisasinya, strateginya, progra dan taktiknya masih sederhana
sehingga dalam waktu yang relatif singkat dapat ditumpah. Sifat gerakan masih tradisional, sering kali
tidak dapat digolongkan dalam empat golongan :
Gerakan yang menentang Ketidakadilan
Masyarakat, terutama para petani, merasa mendapat perlakuan yang
tidak adil, yaitu terdapat pungutan pajak ( cukai ) yang tinggi dan tuntutan
pelayanan kerja yang berat. Pemerintah
Hindia Belanda tidak dapat melindungi petani dari tuan-tuan tanah sehingga
menimbulkan pemberontakan untuk menuntut keadilan, seperti yang terjadi Cikandi
Udik (1845), Ciomah (1886) dan Consed (1916).
Gerakan Ratu Adil
Kerinduan akan keadilan memberi
kesempatan pada seseorang untuk tampil memimpin rakyat dengan menyatakan
dirinya sebagai ratu Adil. Gerakan ini
bersifat “ Mesia Mistis “, bersandar pada segi-segi gaib dan diikuti oleh
segolongan orang-orang yang percaya padanya.
Termasuk gerakan ini adalah gerakan yang dipimpin oleh Ahmad Ngisa
(1859) dan gerakan Srikaton (1888).
Gerakan Samin
Gerakan Samin merupakan gerakan sosial tradisional yang pasif. Gerakan ini muncul sejak abad XIX hingga
sekarang masih ada yang menganutnya.
Gerakan ini tanpa kekerasan, anggotanya rajin, jujur, dan berhasil
sebagai petani serta menghargai sesamanya.
Gerakan Sekte Agama
Sekte merupakan ekspresi keagamaan dari perasaan tidak puas suatu
masyarakat untuk memberontak, hasil perjuangan kelas, organisasi dari kelas
bawah dan peralatan dari sifat agresif mereka.
Gerakan sekte mengandung unsur pententangan ganda. Sekte bertentangan dengan agama, tetapi juga
dengan pemerintah kolonial dan elite birokrasi.
Gerakan sekte agama ini digerakkan oleh Haji Riangi.
Perlawanan dan gerakan gerakan yang timbul di wilayah Indonesia pada
abad XIX ini, merupakan perlawanan yang sangat gigih yang banyak dimotori oleh
golongan agamis yang dihati mereka telah terpatri iman dan taqwa kepada Allah
SWT. Hal ini telah menjadi tantangan
yang harus dihadapi oleh pemerintah Hindia Belanda dalam rangka pembuatan
koloninya di Nusantara.
Perlawanan Fisik
Perlawanan fisik merupakan
rakyat menggunakan kekuatan bersenjata.
Hal ini sebagian besar disebabkan oleh faktor : (a) Politik, (b) Ekonomi dan (c) Budaya.
Meskipun latar belakang penyebabnya serupa dan waktunya hampir
bersamaan, tetapi perlawanan rakyat pada suatu daerah tidak berhubungan dengan
perlawanan darid aerah lain.
Masing-masing perlawanan itu berdiri sendiri. Perlawanan rakyat yang cukup besar skalanya
antara lain
Perlawanan Rakyat Saparua (1817)
Latar Belakang
Timbulnya kepindangan-kepincangan didalam tata kehidupan penduduk
ambon-lease yaitu kepincangan yang bermula pada :
Sistem Perkebunan Cengkeh
Sistem Pemerintahan
Sistem Pendidikan Desa
Hal ini disebabkan politik yang diterapkan oleh VOC sampai ke
pemerintahan Hindia belanda di Indonesia yaitu :
Pelayanan Hongi
Hukum denda yang harus dibayar dari hasil penjualan cengkeh
Penyerahan Leversutic bahan bangunan
Sirkulasi uang kertas sejak tahun 1817
Kewajiban membuat garam dan ikan asin bagi kapal-kapal perang
Belanda.
Korupsi merajalela
Paksaan bagi pemuda untuk jadi serdadu di jawa.
Jalannya Pertempuran
Perlawanan rakyat Maluku berkobar setelah mereka mengucapkan sumpah
pada tanggal 14 Mei 1817 yang dipimpin oleh Kapten Pattimura dan Thomas
Matulessi. Mereka berhasil membongkar Orambasi Pos ( Perahu milik pemerintah Hindia
Belanda ) dan merebut bentteng Duustede.
Peristiwa ini merupakan pukulan yang sangat keras bagi pemerintah
Hindia Bel;anda. Oleh karena itu
Uitenbroek, sebagai residen di Haruku berusaha melakukan tindakan-rtindakan
untuk mengurangi peertikaian dengan cara, yaitu :
memberi hadiah kepada kepala desa
Mendatangkan bala bantuan tentara ( dalam hal ini Belanda sangat
terbantu oleh kapal Zwaluw milik Inggris yang sedang berlabuh di periran
Haruku.
Dengan menambah jumlah bantuan yangd ilengkapi dengan peralatan
perang yang sangat modern, akhirnya Belanda berhasil mendesak Pattimura, dan merebut kembali
bentengnya. Akan tetapi perlawanan
rakyat masih berkobar. Mereka bertahan
di hutan. Pada tanggal 10 Nopember 1817
rakyat Nusa laut yang dipimpin oleh Kapitan Paulus Tiahahu meletakkan
senjatanya, setelah pemimpinnya dan anaknya, Kristina Martha Tahahu tertangkap
Belanda. Sedangkan Kapitan Pattimura
bersama 3 orang panglimanya dijathi hukuman mati di benteng Niuew Victoria di
Ambon
Perang Padri (1821 – 1837)
Latar Belakang
Peang Padri adalah peperangan antara kaum Adad dengan kaum Padri
(agama).
Pada mulanya kaum adad dan agama terjalin kerjasama yang baik. Pemerintahan Adad, seperti Raja, bangsawan
dan penghulu menduduki peranan penting, tetapi tidak bisa meninggalkan
kebiasaan-kebiasaan buruk yang bertentangan dengan agama, sehingga timbullah
ketegangan dinatara mereka, lebih-lebih setelah kedatangan 3 orang haji dari Mekkah
yaitu : Haji Miskin (pandai Sikat), Haji Sumanik (delapan kato), dan haji
Ppiobang (dari tanah datar). Mereka
inilah kemudian dikenal dengan kaun Padri.
Kaum Padri ingin meluruskan agama Islam di Minagkabau, seperti yang
dilakukan kaum Wahabi di makkah. Tujuan
yang baik ini mendapat dukungan dari seorang ulama besar, Tuanku Kota Tua
berserta muridnya, Tuanku Nan renceh.
Tuanku Nan Renceh membentuk persekutuan melaan kaum Adad yang
terdiri dari :
Tuanku Nan Renceh
Tuanku Lubuk Alur
Tuanku kapau
Tuanku Padang Luar
Tuanku Marapi
Tuanku Biaro
Tuanku Paang Lawas
Tuanku Galun
Mereka ini dikenal dengan sebutan Harimau nan Salapan, karena
tindakannya yang keras. Pengaruh kaumn
Padri semakin meluas yang dipimpin oleh Muhammad Syahab I Imam Bonjol ), untuk
melawan kaum Adad meminta bantuan Inggris (tetapi gagal) dan Belanda bertindak
sebagai wasit dengan politik “ devide et impera “, mereka membantu kaum adad
yang lebih menguntungkan.
Jalannya Pertempuran
Perang Padri dapat dibagi dalam 3 fase :
Fase Antara tahun 1821 – 1825
Sejak pemerintahan Hindia Belanda menduduki Simawang pada tahun
1821, kaum padri menyerangnya, sehingga terjadilah perundingan yang
menguntungkan Belanda, karena pasukan di Sumatra Barat dapat dipakai sebagian
untuk memperkuat pasukan di Jawa. Pada
bulan September 1826 5 .000 serdadu
dan 17 opsir diberangkatkan ke Jaa untuk menghadapi pasukan Pangeran
Diponegoiro.
Fase tahun 1825 – 1830
Ketegangan antara kaum Padri dengan Belanda melemah karena terjadi
perjanjian. Sementara itu kaum Adad
yang kecewa terhadap sikap Belanda mulai
mengadakan perlawanan sehingga kedudukan Belanda di Sumatra barat menjadi
semakin sulit. Berakhirnya perang pangeran Diponegoro dapat mengembalikan
konsentrasi Belanda untuk menghadapi kaum Padri.
Fase tahun 1830 - 1837
Pada fase ini merupakan
perlaanan kaum Padri paling besar dan luas, sehingga pada tahun 1832
Belanda mendatangkan bantuan dari Jawa 3 kompi yang dilengkapi dengan meriam
dan mortir. Sentat Alibasya
Prawiradirdja ikut di dalamnya. Tujuannya untuk menyingkirkan dari pasukan
Pangeran Diponegoro dan melaksanakan politik adu domba. Iman Imam Bonjol kalah dan dibuang ke
Cianjur, kemudian ke Ambon dan Manado tahun 1841 dan meninggal disana tanggal 6
Nopember 1864.
Perang Pangeran Diponegoro
Latar Belakang
Setelah kerajaan pecah menjadi 2, Yokyakarta dan Surakarta akibat
perjajian Gianti tahun 1755, wilayah yang terbagi ini dipecah lagi dengan
perjanjian Salatiga yang melahirkan kekuasaan mangkunegara di Surakarta (1757),
akhirnya MUNCUL KEKUASAAN Paku Alam di Yokya pada tahun 1813. Perpecahan yang diawali dengan kekalutan
didalam keraton memberi kesempatan bagi Belanda untuk melaksanakan politik “
devide et impera “ sehingga dapat menanamkan kekuasaannya dengan kuat.
Kekalutan di keroton pada masa pemerintahan Sultan hamengkowono II
menimbulkan keadaan yang tidak tentram sehingga Kanjeng Ratu Ageng meninggalkan
keraton dan pindah ke desa Tegal Rejo yang diikuti oleh cucunya yang masih
kecil, Pangeran Diponegoro (putra Adipati Anom, putra mahkota). Menjelang dewasa ratu Agung meninggal dan
Padepokan Tegal Rejo diserahkan kepada Pangeran Diponegoro.
Ketika Belanda bermaksud membuat jalan melalui tanah di Tegal Rejo
tanpa seijin Pangeran Diponegoro, timbullah ibnsiden antara Belanda yang dibantu oleh Patih Danurejo IV dengan
Pangeran Diponegoro. Rakyat Tegal Rejo
mendukung pangeran Diponegoro dan siap mengadalan perlawanan terhadap Belanda
apabila sewaktu-waktu terjadi peperangan.
Jalannya Pertempuran
Insiden tonggak jalan antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda
semakin memanas. Belanda menyerang dan
membakar desa Tegal Rejo. Pasukan
Pangeran Diponegoro dan mangkubumi yang belum siap, segera menyingkir dan
memusatkan pertahanannya di Selarong.
Peperangan berkobar dan meluas sampai ke Madium, Pacitan dan Tuban, jaa
Timur. Pangeran Diponegoro dibantu oleh Kyai Maja, para pemuka Agama dan banyak
pangeran.
Pemerintah Hindia Belanda mendapat kesulitan dalam menghadapi
Pangeran Diponegoro. Setiap klai Belanda
menyerang daerah yang diduga menjadi pusat pertahanan Pangeran Diponegoro,
ternyata daerah tersebut telah dikosongkan dan telah dipindahkan markasnya.
Untuk menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro , Belanda telah
menempuh siasat :
Berusaha menekan pembantu-pembantu Pangeran Diponegoro dan menangkapnya.
Membujuk pembantu-pembantunya dengan sikap baik dan kedudukan.
Menjalankan benteng stelsel untuk mempersempit gerak Pangeran
Diponegoro.
Menawarkan perundingan kepada Pangeran Diponegoro
Mengancam akan membunuh Pangeran Diponegoro jika ia tidak bersedia
diajak berunding
Dengan adanya tekanan itu Pangeran Diponegoro akhirnya bersedia
diajak berunding oleh Jenderal de Kock, tanggal 28 maret 1830 di rumah Residen
Kedu, tetapi hal ini hanya merupakan tipu muslihat Belanda untuk menangkap
Pangeran Diponegoro. Perlawanan rakyat
lemah dan semakin padam.
Perang Aceh (1873 – 1903)
Perlawanan rakyat pribumi terhadap Belanda abad XIX adalah Perang
Aceh yang paling sulit dihadapi. Aceh
merupakan Serambi Makkah dan sangat berperan dalam dunia perdagangan.
Untuk mempertahankan status dan peranannya, Aceh telah memperkuat
diri dengan cara :
Menjadikan hubungan dengan negara-negara lain untuk mencari bantuan
Mendirikan “ kuta “ semacam benteng pertahanan kota
Memasukkan senapan dan mesiu dari Pinang di Semenanjung Malaka.
Berapa kali Belanda telah mengadakan serangan untuk menduduki Aceh
anatar tahun 1873 – 1896, tetapi gagal terus, sehingg aharus ditempuh dengan
cara lain yaitu dengan jalan mempengaruhi jiwa dan mental orang Aceh.
Untuk mengetahui mental orang Aceh, pemerintah Hindia Belanda
mengirim “ Snouck Hurgrorye “ seorang orientalis yang ahli “ Islamologi “. Dari hasil penelitinnya Belanda mengambil
langkah-langkah operasi.
Rakyat Aceh dipimpin oleh golongan ulama ( teukunUmar ) dan kaun
bangsaan. Kedua golongan ini berbeda
pandangan dalam mengahdapi bangsa Belanda.
Celah ini dijadikan peluang emas untuk menaklukkan Aceh. Dengan menggunakan “ STRATEGI OPESHIP “ yang
dilakukan oleh Van Heutz Aceh terdesak.
Dalam perang grilya tahun 1899 Teuku Umar gugur, Sultan dan pengkiutnya
dapat ditawan pada tahun 1902. Panglima
Polim akhirnya menyerah berserta pengikutnya tahun 1903. Sedangkan Cut Nyak Dien yang bergrilya sampai
usia tua tertangkap dan diasingkan ke Sumedang pada tahun 1906.
Dengan berakhirnya dan tertangkapnya tokoh-tokoh pemimpin perang,
breakhir pulalah perlawanan rakyat Aceh.
Daerah-dsaerah lain ternyata jug aterjadi perlawanan rakyat terhadap
Belanda antara lain :
Di Kalimantan ( banjarmasin ) berhasil ditumpas Belanda tahun 1846.
Di Bali yang dipimpin oleh raja Bileleng dan I Gusti Jelantik
menyerah ke Belanda tahun 1849
Di Sumatra Utara yang dipimpin oleh Raija Sisingamangaraja tahun
1907 dapat dipatahkan oleh Belanda.
Reaksi Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme Eropa Abad XX
Fenomena di atas dijadikan tolak ukur bagi bangsa Indonesia bahwa “
Ethis Politick “ yang dicanangkan pemerintah Hindia belanda yang “ action
program nya “ diarahkan pada “ irigasi – imigrasi dan educasi “ hanya menambah
kesengsaraan bangsa Indonesia. Substansi
dari Ethisch Politics ini diarahkan untuk kepentingan Hindia Belanda bukan
untuk memakmurkan bangsa Indonesia, sehingga politik Ethis ini disebut “
Politik Sok Etis = Politik fatamorgana.
Eksistensi ini dijadikan momentum bagi bangsa Indonesia untuk
mengadakan perlawanan bagi strategi baru yang belum sebelumnya yakni dengan
melalui organisasi-organisasi pergerakan, telah diungkapkan dalam uraian
sebelumnya, bahwa salah satu sifat perlawanan bangsa Indonesia terhadap
penjajah Belanda pada abad XX yaitu perlawanan yang terorganisir dan rasional.
Oraganisasi-organisasi pergerakan Nasional di Indonesia untuk
mengadakan perlawanan kepada penjajah Belanda melalui organisasi-organisasi
pergerakan merupakan produk yang tidak terduga dari politik ethis Belanda di
Indonesia yang menarik pimpinan-pimpinannya dari kekuasaan sekolah-sekolah
Belanda.
Bentuk pergerakan terhadap kolonial Belanda adalah “ Herodianisme “
, ibarat pintu yang bermata dua ( senjata makan tuan = pagar makan tanaman
). Perlawanan ini disebut perlawanan “ open
door “.
Aktivitas – aktivitas mahasisswa Indonesia di Negeri Belanda
sebagaian merupakan pemberontakan mereka kepada “ Patiralisme “ kekuasaan
penjajah Belanda. Mereka terutama
terbakar oleh apa yang mereka rasakan sebagai penghinaan terhadap kebudayaan
bangsa dan fikiran Indonesia yang dianggap dengan sendirinya lebih rendah dari
pada peradaban Eropa. Menurut kenyakinan
mereka hanya kemerdekaanlah yang dapat mengembalikan harga diri rakyat
Indonesia.
Sebagai bunga api pertama dicetuskan oleh RA. Kartini yang
menerbitkan buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang “. Dr. Sutomo berhasil melanjutkannya dan
mendirikan di Yokyakarta sebuag organisasi pergerakan pada tanggal 20 Mei 1908
yang diberi nama “ Budi Utomo “, sebagai
wadah perjuanganterhadap kolonial Belanda yang ersifat evolusi.
Pada awal kebangkitannya, Budi Utomo hanya beroperasional di sekitar
daerah Jawa dan Madura dan bergerak di lapangan pengajaran dan kebudayaan,
bukan di bidang politik. Hal ini
disebabkan karena :
Pada saat itu kolonial Belanda sedang menolak melaksanakan politik
Ethis nya di bidang pendidikan
Jalannya artikel atau undang-undang 111 ( seratus sebelas ),
regering reglemen ( reglemen pemerintah ) Belanda yang memuat :
“ bahwa bangsa Indonesia tidak mempunyai hak berkumpul dan bersaing
dalam arti politis, maksudnya bahwa pada waktu itu telah dilarang adanya partai
politik “
Setelah undang-undang 111 ini dicabut pada tahun 1918, berhubung
dengan diadakannya semacam Dewan Perwakilan yang kemudian berbentuk Volksrad (
Dewan Rakyat ), kemudian Budi Utomo bergerak di bidang Politik. Hal ini ini disebabkan oleh :
Ikut dalam gerakan Inlandsche Militic, menuntut adanya militic untuk
anak bumi putera, sehingga tergolong dalam Radical concentratie.
Ikut menuntut Inlandsch Meerderheid di dalam badan-badan perwakilan
supaya jumlah anggota dari Badan Perwakilan tidak hanya dipusat tapi juga di
daerah, tidak hanya di Volksrad tetapi juga di Gemeenteroad dan Lokare Road,
menuntut supaya sebagaian besar terdiri dari anak-anak pribumi.
Respon masyarakat pribumi terhadap Budi Utomo sangat positif,
sehingga banyak orang pribumi yang memasukinya walaupun pada awalnya masih
terbatas pada golongan priyayi tinggi saja.
Dalam aplikasi operasionalnya, ternyata Budi Utomo lebih bekerja
sama dengan golongan priyayi konservatif.
Ki Hajar Dewantara meninggalkannya kemudian bersama-sama kawan-kawannya
seperti Dauwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo mendirikan “ Indische Partaij “
pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung.
Indisch Partaij merupakan oraganisasi radikal dan organisasi
campuran antara Indonesia asli ( pribumi ) da asing ( non primbumi ) untuk
menuju Indonesia merdeka dengan jalan memeprbaiki posisi sosial dengan cara
melawan politik Belanda, dengan semboyan “ Hindia di bangsa Hindia “.
Melalui organisasi tersebut, mereka melancarkan kampaye yang keras
terhadap pemerintah Kolonial Belanda ketika merayakan ualang tahunnya ke 100
kemerdekaan Negeri Belanda. Nama Ki
Hajar Dewantara semakin terkenal setelah adanya brosur yang memuat tulisan yang
berjudul “ Als Ik Nederlandder Was “ ( andai aku seorang Belanda ), yang antara
lain berbunyi :
“ ............ saya dapat menempatkan diriku didalam rasa baktinya
para patriot BeLanda sekarang yang berkesempatan mengadakan perayaan yang mulia
itu karena saya sendiri adalah seorang patriot seperti orang Belanda yang
berhaluan Nasional dan mencintai tumpah darahnya, akupun mencintai tanah airku
sendiri. Langkah gembiranya orang yang
dapat memperingati peristiwa maha penting itu, alangkah senangnya rasaku,
apabila aku untuk sebentar saja dalam angan-anganku jadi Nederlander. Orang Nederlander benar-benar dalam arti kata
putra asli dari pada “ Graat Nederland “ yang berdarah murni bukan Nederlander
menurut “ Staats Bland “. Dalam
angan-angan yang demikian itu akan bersorak sorak dengan rasa yang serba riang,
kalau dalam bulan Nopember nanti datang hari yang kunanti nantikan itu. Hari perayaan kemerdekaan, aku akan
berteriak-teriak gembira sambil melihat berkibar-kibarnya sang Tirwarna,
bendera Nederland dengan pita lampirannya yang berwarna Oranye itu ............
“
F. Sifat Bangsa Belanda dalam Menindas Pergerakan Nasional Indonesia
Propaganda yang dilancarkan oleh Ki Hajar Dewantara sangat menusuk
hati pemerintah Hindia Belanda, akhirnya pada tanggal 27 Agustus 1913 Ki hajar
Dewantara dan dr. Tjipto Mangunkusumo diberi surat keputusan untuk dibuang
dengan meninggalkan tanah airnya pada tanggal 6 September 1913. Begitu juga Douwes Dekker ( Danudirjo
Setiyabudi )melalui surat
keputusan yang lain dikenai Exorbitante Rechten yaitu hak-hak kekuasaan yang
luar biasa dari Gubernur Jendral yang berupa pengasingan ;
Externering : mengusir dari seluruh daerah Hindia Belanda
Internering : menunjuk suatu tempat yang harus didiami
Verbaining : melarang seseorang untuk berdiam di salah satu daerah
Politik kolonial Belanda yang lain dalam menindas pergerakan
nasional Indonesia berupa : pasal-pasal karet dari Kitab Undang0Undang Hukum
Pidana, misalnya pasal 153 bis, 153 ter, 161 bis dan 171.
Pasal 153 bis berbunyi :
” barang siapa dengan perkataan, tulisan / gambar melahirkan pikiran
yang biarpun secara menyindir atau samar-samar, memuat anjuran untuk menggangu
keamanan umum atau menentang kekuasaan pemerintah Nederland atau pemerintah
Hindia Belanda dapat didenda maximal 3000 rupiah “
Pasal 153 ter, berbunyi :
“ barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan
atau gambar yang memuat pikiran seperti yang dimaksud dalam 153 bis dapat
dihukum penjara maximum 5 tahun atau denda maximum 200 rupiah “
Pasal 161 bis , berbunyi :
“ barang siapa menimbulkan atau memperluas pemogokan sedangkan ia
tahu dapat mengira-ngirakan bahwa pemogokan itu akan mengakibatkan gangguan
keamanan umum atau kegoncangan dari kehidupan ekonomi dalam masyarakat, dapat
dihukum penjara 5 tahun atau denda maximum 1000 rupiah “
Pasal 171, berbunyi :
“ barang siapa dengan sengaja karena menyiarkan kabar bohong
menimbulkan kegelisahan dikalangan rakyat dapat dihukum penjara maximum 5 tahun
atau denda maximum 100 rupiah “
Walaupun begitu keras aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia
Belanda, tetapi tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia tetap gigih
memperjuangkan kemerdekaan , sehingga banyak propagandator yang diasingkan
tidak kembali, banyak diantaranya mereka cacat jasmani dan rohani baik yang
diasingkan ke Suka Miskin maupun di Digul.
Tujuan utamanya penuh menyiksa, sehingga dicari tempat yang penuh dengan
belukar dan malaria akan tetapi mereka tetap bersemboyan “ Patah Tumbuh Hilang
Berganti “.
Sifat karet dalam pasal 161 bis ini terletak pada kata “ dapat
mengira-ngirakan “, “ gangguan keamanan Umum “ dan : kegoncangan “, sedangkan
pada pasal 171 sangat luar biasa, karena tidak terdapat di dalam hukum Pidana
di Nederland dan negera-negara merdeka lainnya.
Secara formal organisatoris banyak organisasi yang bertekuk lutut
(gulung tikar) pada pemerintah Hindia Belanda.
Hal ini tidak berarti bahwa pimpinnan menyerah dengan keadaan melainkan
mendorong mereka untuk m,endirikan organisasi baru.
Dalam hubungan ini elit-elit politik, sebagai pimpinan organisasi
mudah berpaling ke organisasi politik lainnya.
Nasionalisme dan Demokrasi sebagai benang perekatnya , dasar ini memang
sangat relevan dengan iklim penjajah saat ini dalam rangka menuju Indonesia merdeka.
IV. PENUTUP
A. Toynbee mengatakan bahwa setiap ada “ Callen “ pasti ada “
Respons “, setiap ada tantangan pasti ada jawaban, hal ini disinonimkan dengan
setiap ada “ Kolonialisme “ pasti ada “ Nasionalisme “, sehingga dapat
dikatakan bahwa munculnya Nasionalisme Indonesia akibat dari Kolonialisme
Eropa.
Bangsa Portugis dan Spayol disebut
Kolonialisme Imperalisme Religius
= mendahulukan faktor agama daripada faktor ekonomi
Sedangkan bangsa Belanda dan Inggris disebut Kolonialisme
Imperalisme Komersial = mendahulukan faktor ekonomi daripada faktor agama.
Perbedaan politik dan strategi bangsa Eropa di Indonesia sebenarnya
terletak pada “ prinsip hidupnya “ karena dipengaruhi oleh latar belakang
mereka yang berbeda. Subjek dari
masing-masing sangat menetukan, yang pertama berasal dari golongan “ Pendeta “, sedangkan yang kedua berasal dari
golongan “Pedagang“.
Perlu diingat bahwa antara bangsa Inggris dan belanda dalam
menentukan objeknya terdapat perbedaan.
Bagi Inggris daerah jajahan dijadikan daerah “ Pasar “ dan bagi Belanda
daerah jajahan sebagai tempat untuk mengeruk kekayaan atau dijadikan “ Sapi
Perahan “.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar