TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MAJID
OLEH MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd
ALUMNI MUALIMIN NW PANCOR
TAHUN 1998
TGKH M. Zainuddin Abdul Majid – Foto :
Wikipedia
TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid merupakan
tokoh ulama paling terkenal di NTB. Di masyarakat, umumnya di kenal dengan
sebutan Bapak Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dan biasanya
di depan namanya ditaruhkan gelar Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kyai Hajji
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Dilahirkan di Kampung Bermi,
Pancor Lombok Timur Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1316
Hijriah atau pada tanggal 5 Agustus 1898 Masehi. Ayahnya bernama Tuan
Guru Haji Abdul Madjid dan ibundanya bernama Hajjah Halimah al-Sa’diyah.
Pengembaraan TGKH. Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga,
yakni dengan belajar mengaji dan berbagai ilmu agama lainnya, yang
diajarkan langsung oleh ayahnya, sejak berusia 5 tahun.
Setelah berusia 9 tahun, ia memasuki
pendidikan formal Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M. Setelah
menamatkan pendidikan formalnya, kemudian menuntut ilmu agama yang lebih
luas dari beberapa Tuan Guru lokal, antara lain TGH. Syarafudin dan TGH.
Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari desa
Kelayu, Lombok Timur.
Untuk lebih memperdalam ilmu agama,
Muhammad Zainuddin berangkat menuntut ilmu ke Mekah diantar kedua orang tuanya,
tiga orang, kemenakan dan beberapa orang keluarga, termasuk pula TGH.
Syarafuddin.
Pada saat itu beliau berusia 15 tahun,
yaitu menjelang musim Haji tahun 1341 H/1923 M. Sesampai di Tanah Suci, TGKH.
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung mencari rumah kontrakan di Suqullail,
Mekah.
Setelah musim Haji usai, TGH. Abd.
Madjid mulai sibuk mencarikan guru buat anaknya. Sampailah pencarian TGH. Abd.
Madjid pada sebuah halaqah. Syaikh yang mengajar di lingkaran tersebut bernama
Syaikh Marzuki, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama
mengajar mengaji di Masjid Haram, yang saat itu berusia sekitar 50 tahun.
Disanalah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid diserahkan untuk belajar.
Selain itu juga sempat belajar ilmu
sastra pada ahli syair terkenal di Mekah, yakni Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi
dan pada saat itu berkenalan dengan Sayyid Muhsin Al-Palembani, seorang
keturunan Arab kelahiran Palembang yang kemudian menjadi guru beliau di
Madrasah al-Shaulatiyah.
Ketika ayah TGKH. Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid pulang ke Lombok, ia langsung berhenti belajar mengaji pada Syaikh
Marzuki, karena ia merasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti
dalam menuntut ilmu selama ini. Namun, ia belum sempat mencari guru, terjadi
perang saudara antara kekuasaan Syarif Husein dengan golongan Wahabi.
Dua tahun setelah terjadinya huru hara
tersebut, Muhammad Zainuddin Abdul Madjid muda berkenalan dengan seseorang yang
bernama Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia diajak masuk
belajar di madrasah al-Shaulatiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim
Rahmatullah. Pada hari pertama masuknya ia bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad
al-Masysyath.
Madrasah al-Shaulatiyah adalah madrasah
pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah
ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah
menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia. TGKH. Muhammad Zainuddin masuk
Madrasah al-Shaulatiyah pada tahun 1345 H (1927 M) yang waktu dipimpin
(Mudir/Direktur), Syaikh Salim Rahmatullah yang merupakan cucu pendiri Madrasah
al-Shaulatiyah.
Sudah menjadi tradisi bahwa setiap
thullab yang masuk di Madrasah Al-Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk
menentukan kelas yang cocok bagi thullab. Demikian pula dengan TGKH. Muhammad
Zainuddin, juga ditest terlebih dahulu. Secara kebetulan diuji langsung oleh
Direktur al-Shaulatiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan
Muhammad al-Masysyath.
Hasil test menentukan di kelas 3.
mendengar keputusan itu, TGKH. Muhammad Zainuddin minta diperkenankan masuk
kelas 2 dengan alasan ingin mendalam mata pelajaran ilmu Nahwu dan Sharaf.
Semula Syaikh Hasan bersikeras agar TGKH. Muhammad Zainuddin masuk kelas 3,
tetapi pada akhirnya melunak dan mengabulkan permohonan untuk masuk kelas 2 dan
sejak itu TGKH. Muhammad Zainuddin secara resmi masuk Madrasah al-Shaulatiyah
mulai dari kelas 2.
Prestasi akademiknya sangat istimewa.
Beliau berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang
luar biasa, TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu
hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke
kelas 4, kemudian loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian pada
tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9.
Predikat istimewa ini disertai pula
dengan perlakuan istimewa dari Madrasah Al-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis
langsung oleh ahli khat terkenal di Mekah, yaitu Al-Khathath al-Syaikh Dawud
al-Rumani atas usul dari direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Prestasi istimewa
itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di
Madrasah al-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah. Maulana al-Syaikh
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studi di Madrasah
al-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H dengan predikat “mumtaz” (Summa
Cumlaude).
Setelah tamat dari Madrasah
al-Shaulatiyah, tidak langsung pulang ke Lombok, tetapi bermukim lagi di Mekah
selama dua tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar, yaitu Haji
Muhammad Faisal. Waktu dua tahun itu dimanfaatkan untuk belajar antara lain
belajar ilmu fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Dengan
demikian, waktu belajar yang ditempuh selama di Tanah Suci Mekah adalah 13 kali
musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Ini berarti selama di Mekah sempat
mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.
Setelah selesai menuntut ilmu di Mekah
dan kembali ke tanah air, TGKH. Muhammad Zainuddin langsung melakukan safari
dakwah ke berbagai lokasi di pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh
masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya ‘Tuan Guru Bajang’.
Semula, pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin sebagai tempat
pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama dan selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil
Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah
(NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941.
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
belajar di Tanah Suci Mekah selama 13 tahun kemudian kembali ke Indonesia atas
perintah dari guru beliau yang paling di kagumi, yakni Syaikh Hasan Muhammad
al-Masysyath, pada tahun 1934. Setiba di Pulau Lombok beliau mendirikan
Sekembali dari Tanah Suci Mekah ke Indonesia mula-mula beliau mendirikan
pesantren al-Mujahidin pada tahun 1934 M.
kemudian pada tanggal 15 Jumadil Akhir
1356 H/22 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah
Islamiyah (NWDI). Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemudian pada
tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau mendirikan madrasah
Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk kaum wanita.
Kedua madrasah ini merupakan madrasah
pertama di Pulau Lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari
semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara
khusus nama madrasah tersebut diabadikan menjadi nama pondok pesantren ‘Dar
al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan’. Istilah ‘Nahdlatain’ diambil
dari kedua madrasah tersebut. Beliau aktif berdakwah keliling desa di Pulau
Lombok dan mengajar.
Pada tahun 1952, madrasah-madrasah
cabang NWDI-NBDI yang didirikan oleh para alumni di berbagai daerah telah
berjumlah 66 buah. Maka untuk mengkoordinir, membina dan mengembangkan
madrasah-madrasah cabang tersebut beserta seluruh amal usahanya, al-Mukarram
Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi
Nahdlatul Wathan yang bergerak di dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah
islamiyah pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H/1 Maret 1953 M.
sampai dengan tahun 1997 ini
lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh Organisasi Nahdlatul Wathan telah
berjumlah 747 buah dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan
tinggi, begitu juga lembaga sosial dan dakwah islamiyah Nahdlatul Wathan
berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB melainkan juga diberbagai daerah di
Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau,
Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura,
Brunei Darussalam, dan lain sebagainya.
Pada zaman penjajahan, al-Mukarram
Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikan
madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, tempat
menggembleng patriot-patriot bangsa yang siap bertempur melawan dan mengusir
penjajah. Bahkan secara khusus al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid bersama guru-guru Madrasah NWDI-NBDI membentuk suatu
gerakan yang diberi nama “Gerakan al-Mujahidin”.
Gerakan al-Mujahidin ini bergabung
dengan gerakan-gerakan rakyat lainnya di Pulau Lombok untuk bersama-sama membela
dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Bangsa Indonesia. Dan pada tanggal
7 Juli 1946, TGH. Muhammad Faizal Abdul Majid adik kandung Maulana al-Syaikh
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memimpin penyerbuan tanksi militer NICA
di Selong. Namun, dalam penyerbuan ini gugurlah TGH. Muhammad Faisal Abdul
Madjid bersama dua orang santri NWDI sebagai Syuhada’ sekaligus sebagai
pencipta dan penghias Taman Makam Pahlawan Rinjani Selong, Lombok Timur.
Al Mukkarram Maulana al-Syaikh TGKH.
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai ulama’ pemimpin umat, dalam kehidupan
bermasyarakt dan berbangsa telah mengemban berbagai jabatan dan menanamkan
berbagai jasa pengabdian, di antaranya :
·
Pada tahun 1934 mendirikan pesantren
al-Mujahidin
·
Pada tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI
·
Pada tahun 1943 mendirikan madrasah NBDI
·
Pada tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI
untuk daerah Lombok
·
Pada tahun 1946 pelopor penggempuran
NICA di Selong Lombok Timur
·
Pada tahun 1947/1948 menjadi Amirul Haji
dari Negara Indonesia Timur
·
Pada tahun 1948/1949 menjadi anggota
Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi
·
Pada tahun 1950 Konsulat NU Sunda Kecil
·
Pada tahun 1952 Ketua Badan Penaseha
Masyumi Daerah Lombok
·
Pada tahun 1953 mendirikan Organisasi
Nahdlatul Wathan
·
Pada tahun1953 Ketua Umum PBNW Pertama
·
Pada tahun 1953 merestui terbentuknya
parti NU dan PSII di Lombok
·
Pada tahun 1954 merestui terbentuknya
PERTI Cang Lombok
·
Pada tahun 1955 menjadi anggota
Konstituante RI hasil Pemilu I (1955)
·
Pada tahun 1964 mendiriakn Akademi
Paedagogik NW
·
Pada tahun 1964 menjadi peserta KIAA
(Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung
·
Pada Tahun 1965 mendirikan Ma’had Dar
al-Qu’an wa al-Hadits al-Majidiyah Asy-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan
·
Pada tahun 1972-1982 sebagai anggota MPR
RI hasil pemilu II dan III
·
Pada tahun 1971-1982 sebagai penasihat
Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) Pusat
·
Pada tahun 1974 mendirikan Ma’had li
al-Banat
·
Pada Tahun 1975 Ketua Penasihat Bidang
Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (sampai 1997)
·
Pada tahun 1977 mendirikan Universitas
Hamzanwadi
·
Pada tahun 1977 menjadi Rektor
Universitas Hamzanwadi
·
Pada tahun 1977 mendirikan Fakultas
Tarbiyah Universitas Hamzanwadi
·
Pada tahun 1978 mendirikan STKIP
Hamzanwadi
·
Pada tahun 1978 mendirikan Sekolah
Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi
·
Pada tahun 1982 mendirikan Yayasan
Pendidikan Hamzanwadi
·
Pada tahun 1987 mendirikan Universitas
Nahdlatul Wathan Mataram
·
Pada tahun 1987 mendirikan Sekolah
Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi
·
Pada tahun 1990 mendirikan Sekolah
Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi
·
Pada tahun 1994 mendirikan Madrasah
Aliyah Keagamaan putra-putri
·
Pada tahun 1996 mendirikan Institut
Agama Islam Hamzanwadi
Oleh karena jasa-jasa beliau itulah,
maka pada tahun 1995 belau dianugerahi Piagam Penghargaan dan medali Pejuang
Pembangunan oleh pemerintah. Disamping itu, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH.
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selaku seorang mujahid selalu berupaya
mengadakan inovasi dalam gerakan perjuangannya untuk meningkatkan kesejahteraan
ummat demi kebahagian di dunia maupun di akhirat.
Di antara inovasi/rintisa-rintisan
beliau adalah menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran agama Islam di NTB
dengan sistem madrasi, membuka lembaga pendidikan khusus untuk wanita,
mengadakan ziarah umum Idul Fitri dan Idul Adha dengan mendatangai jamaah di
samping didatangi, meyelenggarakan pengajian umum secara bebas, mengadakan
gerakan doa dengan berhizib, mengadakan syafa’at al-kubro,
menciptakan tariqat, yakni tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, membuka sekolah umum
disamping sekolah agama (madrasah), menyusun nazam berbahasa Arab bercampur
bahasa Indonesia, dan lain-alin.
Sebagai seorang Ulama’ mujahid beliau
telah memberikan keteladanan yang terpuji. Seluruh sisi kehidupan beliau,
beliau isi dengan perjuangan memajukan agama, nusa dan bangsa. Tegasnya, tiada
hari tanpa perjuangan. Itulah yang senantiasa terlihat dan terkesan dari
seluruh sisi kehidupan beliau yang patut dicontoh dan diteladani oleh seluruh
pengikut dan murid beliau.
ok pak
BalasHapus