BERBAGI HIKMAH
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
OLEH
MUHAMMAD ZAINUDDIN, S.Pd
16 Juni 2012
pukul 8:57
Pada suatu
malam Nabi Muhammad SAW berada di Hijir Ismail dekat Ka’bah al Musyarrofah,
saat itu beliau berbaring diantara paman beliau, Sayyiduna Hamzah dan sepupu
beliau, Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib, tiba-tiba Malaikat Jibril, Mikail dan
Israfil menghampiri beliau lalu membawa beliau ke arah sumur zamzam, setibanya
di sana kemudian mereka merebahkan tubuh Rasulullah untuk dibelah dada beliau
oleh Jibril AS.
Dalam
riwayat lain disebutkan suatu malam terbuka atap rumah Beliau saw, kemudian
turun Jibril AS, lalu Jibril membelah dada beliau yang mulya sampai di bawah
perut beliau, lalu Jibril berkata kepada Mikail:
“Datangkan
kepadaku nampan dengan air zam-zam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan
dadanya”.
Dan perlu
diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi kotor, tidak, justru Nabi
sudah diciptakan oleh Allah dengan hati yang paling suci dan mulya, hal ini
tidak lain untuk menambah kebersihan diatas kebersihan, kesucian diatas
kesucian, dan untuk lebih memantapkan dan menguatkan hati beliau, karena akan
melakukan suatu perjalanan maha dahsyat dan penuh hikmah serta sebagai kesiapan
untuk berjumpa dengan Allah SWT.
Kemudian
Jibril AS mengeluarkan hati beliau yang mulya lalu menyucinya tiga kali,
kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan keimanan, kemudian
dituangkan ke dalam hati beliau, maka penuhlah hati itu dengan kesabaran,
keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah, lalu ditutup kembali oleh
Jibril AS.
Setelah itu
disiapkan untuk Baginda Rasulullah binatang Buroq lengkap dengan pelana dan
kendalinya, binatang ini berwarna putih, lebih besar dari himar lebih rendah
dari baghal, dia letakkan telapak kakinya sejauh pandangan matanya, panjang kedua
telinganya, jika turun dia mengangkat kedua kaki depannya, diciptakan dengan
dua sayap pada sisi pahanya untuk membantu kecepatannya.
Saat hendak
menaikinya, Nabi Muhammad merasa kesulitan, maka meletakkan tangannya pada
wajah buroq sembari berkata:
“Wahai
buroq, tidakkah kamu merasa malu, demi Allah tidak ada Makhluk Allah yang
menaikimu yang lebih mulya daripada dia (Rasulullah)”,
mendengar
ini buroq merasa malu sehingga sekujur tubuhnya berkeringat, setelah tenang,
naiklah Rasulullah keatas punggungnya, dan sebelum beliau banyak Anbiya’ yang
menaiki buroq ini.
Dalam
perjalanan, Jibril menemani disebelah kanan beliau, sedangkan Mikail di sebelah
kiri, menurut riwayat Ibnu Sa’ad, Jibril memegang sanggurdi pelana buroq,
sedang Mikail memegang tali kendali.
(Mereka
terus melaju, mengarungi alam Allah SWT yang penuh keajaiban dan hikmah dengan
Inayah dan RahmatNya), di tengah perjalanan mereka berhenti di suatu tempat
yang dipenuhi pohon kurma, lantas malaikat Jibril berkata: “Turunlah disini
dan sholatlah”, setelah Beliau sholat, Jibril berkata: “Tahukah anda di
mana Anda sholat?”, “Tidak”, jawab beliau, Jibril berkata: “Anda
telah sholat di Thoybah (Nama lain dari Madinah) dan kesana anda akan
berhijrah”.
Kemudian
buroq berangkat kembali melanjutkan perjalanan, secepat kilat dia melangkahkan
kakinya sejauh pandangan matanya, tiba-tiba Jibril berseru: “berhentilah dan
turunlah anda serta sholatlah di tempat ini!”, setelah sholat dan kembali
ke atas buroq, Jibril memberitahukan bahwa beliau sholat di Madyan, di sisi
pohon dimana dahulu Musa bernaung dibawahnya dan beristirahat saat
dikejar-kejar tentara Firaun.
Dalam
perjalanan selanjutnya Nabi Muhammad turun di Thur Sina’, sebuah lembah di
Syam, tempat dimana Nabi Musa berbicara dengan Allah SWT, beliau pun sholat di
tempat itu. Kemudian beliau sampai di suatu daerah yang tampak kepada beliau
istana-istana Syam, beliau turun dan sholat disana. Kemudian Jibril
memberitahukan kepada beliau dengan berkata: “Anda telah sholat
di Bait Lahm (Betlehem, Baitul Maqdis), tempat dilahirkan Nabi Isa bin
Maryam”.
Setelah
melanjutkan perjalanan, tiba-tiba beliau melihat Ifrit dari bangsa Jin yang
mengejar beliau dengan semburan api, setiap Nabi menoleh beliau melihat Ifrit
itu. Kemudian Jibril berkata: “Tidakkah aku ajarkan kepada anda beberapa
kalimat, jika anda baca maka akan memadamkan apinya dan terbalik kepada
wajahnya lalu dia binasa?”
Kemudian
Jibril AS memberitahukan doa tersebut kepada Rasulullah. Setelah itu mereka
melanjutkan perjalanan sampai akhirnya bertemu dengan suatu kaum yang menanam
benih pada hari itu dan langsung tumbuh besar dan dipanen hari itu juga, setiap
kali dipanen kembali seperti awalnya dan begitu seterusnya, melihat keanehan
ini Beliau SAW bertanya: “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”, Jibril
menjawab:” mereka adalah para Mujahid fi sabilillah, orang yang mati syahid di
jalan Allah, kebaikan mereka dilipatgandakan sampai 700 kali.
Kemudian
beberapa saat kemudian beliau mencium bau wangi semerbak, beliau bertanya: “Wahai
Jibril bau wangi apakah ini?”, “Ini adalah wanginya Masyithoh, wanita
yang menyisir anak Firaun, dan anak-anaknya”, jawab Jibril AS.
Masyitoh
adalah tukang sisir anak perempuan Firaun, ketika dia melakukan pekerjaannya
tiba-tiba sisirnya terjatuh, spontan dia mengatakan: “Bismillah, celakalah
Firaun”, mendengar ini anak Firaun bertanya: “Apakah kamu memiliki Tuhan
selain ayahku?”, Masyithoh menjawab: “Ya”. Kemudian dia mengancam
akan memberitahukan hal ini kepada Firaun. Setelah dihadapkan kepada Raja yang
Lalim itu, dia berkata: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain aku?”, Masyithoh
menjawab: “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah”.
Mengetahui
keteguhan iman Masyithoh, kemudian Firaun mengutus seseorang untuk menarik
kembali dia dan suaminya yang tetap beriman kepada Allah agar murtad, jika
tidak maka mereka berdua dan kedua anaknya akan disiksa, tapi keimanan masih
menetap di hati Masyithoh dan suaminya, justru dia berkata: “Jika kamu
hendak membinasakan kami, silahkan, dan kami harap jika kami terbunuh kuburkan
kami dalam satu tempat”.
Maka Firaun
memerintahkan agar disediakan kuali raksasa dari tembaga yang diisi minyak dan
air kemudian dipanasi, setelah betul-betul mendidih, dia memerintahkan
agar mereka semua dilemparkan ke dalamnya, satu persatu mereka syahid, sekarang
tinggal Masyithoh dan anaknya yang masih menyusu berada dalam dekapannya,
kemudian anak itu berkata: “Wahai ibuku, lompatlah, jangan takut, sungguh
engkau berada pada jalan yang benar”, kemudian dilemparlah dia dan anaknya.
Kemudian di
tengah perjalanan, beliau juga bertemu dengan sekelompok kaum yang
menghantamkan batu besar ke kepala mereka sendiri sampai hancur, setiap kali
hancur, kepala yang remuk itu kembali lagi seperti semula dan begitu
seterusnya. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah manusia yang merasa berat
untuk melaksanakan kewajiban sholat.
Kemudian
beliau juga bertemu sekelompok kaum, di hadapan mereka ada daging yang baik
yang sudah masak, sementara di sisi lain ada daging yang mentah lagi busuk,
tapi ternyata mereka lebih memilih untk menyantap daging yang mentah lagi
busuk, ketika Rasulullah menanyakan perihal ini, Jibril menjawab: “Mereka
adalah manusia yang sudah mempunyai isteri yang halal untuknya, tapi dia justru
berzina (berselingkuh) dengan wanita yang jelek (hina), dan begitupula mereka
adalah para wanita yang mempunyai suami yang halal baginya tapi justru dia
mengajak laki-laki lain untuk berzina dengannya”.
Ketika
beliau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang memanggil beliau dari arah
kanan: “Wahai Muhammad, aku meminta kepadamu agar kamu melihat aku”, tapi
Rasulullah tidak memperdulikannya. Kemudian Jibril menjelaskan bahwa itu adalah
panggilan Yahudi, seandainya beliau menjawab panggilan itu maka umat beliau
akan menjadi Yahudi. Begitu pula beliau mendapat seruan serupa dari sebelah
kirinya, yang tidak lain adalah panggilan nashrani, namun Nabi tidak
menjawabnya. Walhamdulillah.
Kemudian
tiba-tiba muncul di hadapan beliau seorang wanita dengan segala perhiasan di
tangannya dan seluruh tubuhnya, dia berkata: “Wahai Muhammad lihatlah
kepadaku”, tapi Rasulullah tidak menoleh kepadanya, Jibril berkata: “Wahai
Nabi itu adalah dunia, seandainya anda menjawab panggilannya maka umatmu akan
lebih memilih dunia daripada akhirat”.
Demikianlah
perjalanan ditempuh oleh beliau SAW dengan ditemani Jibril dan Mikail, begitu
banyak keajaiban dan hikmah yang beliau temui dalam perjalanan itu sampai
akhirnya beliau berhenti di Baitul Maqdis (Masjid al Aqsho). Beliau turun dari
Buraq lalu mengikatnya pada salah satu sisi pintu masjid, yakni tempat dimana
biasanya Para Nabi mengikat buraq di sana.
Kemudian
beliau masuk ke dalam masjid bersama Jibril AS, masing-masing sholat dua
rakaat. Setelah itu sekejab mata tiba-tiba masjid sudah penuh dengan sekelompok
manusia, ternyata mereka adalah para Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian
dikumandangkan adzan dan iqamah, lantas mereka berdiri bershof-shof menunggu
siapakah yang akan mengimami mereka, kemudian Jibril AS memegang tangan
Rasulullah SAW lalu menyuruh beliau untuk maju, kemudian mereka semua sholat
dua rakaat dengan Rasulullah sebagai imam. Beliaulah Imam (Pemimpin) para
Anbiya’ dan Mursalin.
Setelah itu
Rasulullah SAW merasa haus, lalu Jibril membawa dua wadah berisi khamar dan
susu, Rasulullah memilih wadah berisi susu lantas meminumnya, Jibril berkata: “Sungguh
anda telah memilih kefitrahan yaitu al Islam, jika anda memilih khamar niscaya
umat anda akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariat anda”.
Kemudian
setelah beliau menyempurnakan segalanya, maka tiba saatnya beliau melakukan mi’raj
yakni naik bersama Jibril menembus langit satu persatu sampai akhirnya
berjumpa dengan Khaliq-nya.
Setelah
melakukan Isra’ dari Makkah al Mukarromah sampai ke Masjid al Aqsha, Baitul
Maqdis, kemudian beliau disertai malaikat Jibril AS siap untuk melakukan Mi’raj
yakni naik menembus berlapisnya langit ciptaan Allah yang Maha Perkasa sampai
akhirnya beliau SAW berjumpa dengan Allah dan berbicara dengan Nya, yang
intinya adalah beliau dan umat ini mendapat perintah sholat lima waktu. Sungguh
merupakan nikmat dan anugerah yang luar biasa bagi umat ini, di mana
Allah SWT memanggil Nabi-Nya secara langsung untuk memberikan dan menentukan
perintah ibadah yang sangat mulya ini. Cukup kiranya hal ini sebagai kemulyaan
ibadah sholat. Sebab ibadah lainnya diperintah hanya dengan turunnya wahyu
kepada beliau, namun tidak dengan ibadah sholat, Allah memanggil Hamba yang
paling dicintainya yakni Nabi Muhammad SAW ke hadirat Nya untuk menerima
perintah ini.
Ketika
beliau dan Jibril sampai di depan pintu langit dunia (langit pertama), ternyata
disana berdiri malaikat, yang malaikat ini tidak pernah naik ke langit atasnya
dan tidak pernah pula turun ke bumi kecuali disaat meninggalnya Rasulullah SAW,
dia memimpin 70 ribu tentara dari malaikat, yang masing-masing malaikat ini
membawahi 70 ribu malaikat pula.
Jibril
meminta izin agar pintu langit pertama dibuka, maka malaikat yang menjaga
bertanya:
“Siapakah
ini?”
Jibril
menjawab: “Aku Jibril.”
Malaikat itu
bertanya lagi: “Siapakah yang bersamamu?”
Jibril menjawab:
“Muhammad saw.”
Malaikat
bertanya lagi: “Apakah beliau telah diutus (diperintah)?”
Jibril
menjawab: “Benar”.
Setelah
mengetahui kedatangan Rasulullah malaikat yang bermukim disana menyambut dan
memuji beliau dengan berkata:
“Selamat
datang, semoga keselamatan menyertai anda wahai saudara dan pemimpin, andalah
sebaik-baik saudara dan pemimpin serta paling utamanya makhluk yang datang”.
Maka
dibukalah pintu langit dunia ini”.
Setelah
memasukinya beliau bertemu Nabi Adam dengan bentuk dan postur sebagaimana
pertama kali Allah menciptakannya. Nabi saw bersalam kepadanya, Nabi Adam
menjawab salam beliau seraya berkata:
“Selamat
datang wahai anakku yang sholeh dan nabi yang sholeh”.
Di kedua
sisi Nabi Adam terdapat dua kelompok, jika melihat ke arah kanannya, beliau
tersenyum dan berseri-seri, tapi jika memandang kelompok di sebelah kirinya,
beliau menangis dan bersedih. Kemudian Jibril AS menjelaskan kepada Rasulullah,
bahwa kelompok disebelah kanan Nabi Adam adalah anak cucunya yang bakal menjadi
penghuni surga sedang yang di kirinya adalah calon penghuni neraka.
Kemudian
Rasulullah melanjutkan perjalanannya di langit pertama ini, tiba-tiba pandangan
beliau tertuju pada kelompok manusia yang dihidangkan daging panggang dan lezat
di hadapannya, tapi mereka lebih memilih untuk menyantap bangkai disekitarnya.
Ternyata mereka adalah manusia yang suka berzina, meninggalkan yang halal untuk
mereka dan mendatangi yang haram.
Kemudian
beliau berjalan sejenak, dan tampak di hadapan beliau suatu kaum dengan perut
membesar seperti rumah yang penuh dengan ular-ular, dan isi perut mereka ini
dapat dilihat dari luar, sehingga mereka sendiri tidak mampu membawa perutnya
yang besar itu. Mereka adalah manusia yang suka memakan riba.Disana beliau juga
menemui suatu kaum, daging mereka dipotong-potong lalu dipaksa agar memakannya,
lalu dikatakan kepada mereka:
“makanlah
daging ini sebagaimana kamu memakan daging saudaramu di dunia, yakni
menggunjing atau berghibah”.
Kemudian
beliau naik ke langit kedua, seperti sebelumnya malaikat penjaga bertanya
seperti pertanyaan di langit pertama. Akhirnya disambut kedatangan beliau SAW
dan Jibril AS seperti sambutan sebelumnya. Di langit ini beliau berjumpa Nabi
Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariya, keduanya hampir serupa baju dan
gaya rambutnya. Masing-masing duduk bersama umatnya.
Nabi saw
menyifati Nabi Isa bahwa dia berpostur sedang, putih kemerah-merahan
warna kulitnya, rambutnya lepas terurai seakan-akan baru keluar dari hammam,
karena kebersihan tubuhnya. Nabi menyerupakannya dengan sahabat beliau
‘Urwah bin Mas’ud ats Tsaqafi.
Nabi
bersalam kepada keduanya, dan dijawab salam beliau disertai sambutan: “Selamat
datang wahai saudaraku yang sholeh dan nabi yang sholeh”.
Kemudian
tiba saatnya beliau melanjutkan ke langit ketiga, setelah disambut baik oleh
para malaikat, beliau berjumpa dengan Nabi Yusuf bin Ya’kub. Beliau bersalam
kepadanya dan dibalas dengan salam yang sama seperti salamnya Nabi Isa.
Nabi
berkomentar: “Sungguh dia telah diberikan separuh ketampanan”. Dalam
riwayat lain, beliau bersabda: “Dialah paling indahnya manusia yang
diciptakan Allah, dia telah mengungguli ketampanan manusia lain ibarat cahaya
bulan purnama mengalahkan cahaya seluruh bintang”.
Ketika tiba
di langit keempat, beliau berjumpa Nabi Idris AS. Kembali beliau mendapat
jawaban salam dan doa yang sama seperti Nabi-Nabi sebelumnya.
Di langit
kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin ‘Imran AS, separuh janggutnya hitam dan
seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang. Di sekitar Nabi Harun
tampak umatnya sedang khusyu’ mendengarkan petuahnya.
Setelah
sampai di langit keenam, beliau berjumpa beberapa nabi dengan umat mereka
masing-masing, ada seorang nabi dengan umat tidak lebih dari 10 orang, ada lagi
dengan umat di atas itu, bahkan ada lagi seorang nabi yang tidak ada
pengikutnya.
Kemudian
beliau melewati sekelompok umat yang sangat banyak menutupi ufuk, ternyata
mereka adalah Nabi Musa dan kaumnya. Kemudian beliau diperintah agar mengangkat
kepala beliau yang mulya, tiba-tiba beliau tertegun dan kagum karena pandangan
beliau tertuju pada sekelompok umat yang sangat banyak, menutupi seluruh ufuk
dari segala sisi, lalu ada suara: “Itulah umatmu, dan selain mereka terdapat
70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab “.
Pada tahapan
langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS, seorang nabi dengan
postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit beliau. Nabi saw bersalam
kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu Nabi Musa
berkata: “Manusia mengaku bahwa aku adalah paling mulyanya manusia di sisi
Allah, padahal dia (Rasulullah saw) lebih mulya di sisi Allah daripada aku”.
Setelah
Rasulullah melewati Nabi Musa, beliau menangis. Kemudian ditanya akan hal
tersebut. Beliau menjawab: “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus
jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku”.
Kemudian
Rasulullah saw memasuki langit ketujuh, di sana beliau berjumpa Nabi Ibrahim AS
sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga sambil menyandarkan
punggungnya pada Baitul Makmur, di sekitarnya berkumpul umatnya.
Setelah
Rasulullah bersalam dan dijawab dengan salam dan doa serta sambutan yang baik,
Nabi Ibrahim berpesan: “Perintahkanlah umatmu untuk banyak menanam tanaman
surga, sungguh tanah surga sangat baik dan sangat luas”. Rasulullah
bertanya: “Apakah tanaman surga itu?”, Nabi Ibrahim menjawab: “(Dzikir) Laa
haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim“.
Dalam
riwayat lain beliau berkata:
“Sampaikan
salamku kepada umatmu, beritakanlah kepada mereka bahwa surga sungguh sangat
indah tanahnya, tawar airnya dan tanaman surgawi adalah Subhanallah wal
hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar”.
Kemudian
Rasulullah diangkat sampai ke Sidratul Muntaha, sebuah pohon amat
besar sehingga seorang penunggang kuda yang cepat tidak akan mampu untuk
mengelilingi bayangan di bawahnya sekalipun memakan waktu 70 tahun. Dari
bawahnya memancar sungai air yang tidak berubah bau, rasa dan warnanya, sungai
susu yang putih bersih serta sungai madu yang jernih. Penuh dengan hiasan
permata zamrud dan sebagainya sehingga tidak seorang pun mampu melukiskan
keindahannya.
Kemudian
beliau saw diangkat sampai akhirnya berada di hadapan telaga Al Kautsar,
telaga khusus milik beliau saw. Setelah itu beliau memasuki surga dan melihat
disana berbagai macam kenikmatan yang belum pernah dipandang mata, didengar
telinga dan terlintas dalam hati setiap insan.
Begitu pula
ditampakkan kepada beliau neraka yang dijaga oleh malaikat Malik, malaikat yang
tidak pernah tersenyum sedikitpun dan tampak kemurkaan di wajahnya.
Dalam satu
riwayat, setelah beliau melihat surga dan neraka, maka untuk kedua kalinya
beliau diangkat ke Sidratul Muntaha, lalu beliau diliputi oleh awan dengan
beraneka warna, pada saat inilah Jibril mundur dan membiarkan Rasulullah
berjalan seorang diri, karena Jibril tahu hanya beliaulah yang mampu untuk
melakukan hal ini, berjumpa dengan Allah SWT.
Setelah
berada di tempat yang ditentukan oleh Allah, tempat yang tidak seorang
makhlukpun diizinkan berdiri disana, tempat yang tidak seorangpun makhluk mampu
mencapainya, beliau melihatNya dengan mata beliau yang mulya. Saat itu langsung
beliau bersujud di hadapan Allah SWT.
Allah
berfirman: “Wahai Muhammad.”
“Labbaik
wahai Rabbku”, sabda beliau.
“Mintalah
sesuka hatimu”, firman Nya.
Nabi
bersabda: “Ya Allah, Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (kawan
dekat), Engkau mengajak bicara Musa, Engkau berikan Dawud kerajaan dan
kekuasaan yang besar, Engkau berikan Sulaiman kerajaan agung lalu ditundukkan
kepadanya jin, manusia dan syaitan serta angin, Engkau ajarkan Isa at Taurat
dan Injil dan Engkau jadikan dia dapat mengobati orang yang buta dan belang
serta menghidupkan orang mati”.
Kemudian
Allah berfirman: “Sungguh Aku telah menjadikanmu sebagai kekasihKu”.
Dalam Shohih
Imam Muslim diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, bahwa rasulullah
bersabda:
” … kemudian
Allah mewajibkan kepadaku (dan umat) 50 sholat sehari semalam, lalu aku turun
kepada Musa (di langit ke enam), lalu dia bertanya:
“Apa yang
telah Allah wajibkan kepada umat anda?”
Aku
menjawab: “50 sholat”,
Musa
berkata: “kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan sebab umatmu
tidak akan mampu untuk melakukannya”,
Maka aku
kembali kepada Allah agar diringankan untuk umatku, lalu diringankan 5 sholat
(jadi 45 sholat), lalu aku turun kembali kepada Musa, tapi Musa berkata:
“Sungguh
umatmu tidak akan mampu melakukannya, maka mintalah sekali lagi keringanan
kepada Allah”.
Maka aku
kembali lagi kepada Allah, dan demikianlah terus aku kembali kepada Musa dan
kepada Allah sampai akhirnya Allah berfirman:
“Wahai
Muhammad, itu adalah kewajiban 5 sholat sehari semalam, setiap satu sholat
seperti dilipatgandakan menjadi 10, maka jadilah 50 sholat”.
Maka aku
beritahukan hal ini kepada Musa, namun tetap dia berkata:
“Kembalilah
kepada Rabbmu agar minta keringanan”,
Maka aku
katakan kepadanya: “Aku telah berkali-kali kembali kepadaNya sampai aku malu
kepadaNYa”.
Setelah
beliau menerima perintah ini, maka beliau turun sampai akhirnya menaiki buraq
kembali ke kota Makkah al Mukarromah, sedang saat itu masih belum tiba fajar.
Pagi harinya
beliau memberitahukan mukjizat yang agung ini kepada umatnya, maka sebagian
besar diantara mereka mendustakan bahkan mengatakan nabi telah gila dan tukang
sihir, saat itu pertama umat yang membenarkan dan mempercayai beliau adalah
Sayyiduna Abu Bakar, maka pantaslah beliau bergelar As Shiddiq, bahkan
tidak sedikit diantara mereka yang tadinya beriman, kembali murtad keluar dari
syariat.
Sungguh
keimanan itu intinya adalah membenarkan dan percaya serta pasrah terhadap semua
yang dibawa dan diberitakan Nabi Muhammad SAW, sebab beliau tidak mungkin
berbohong apalagi berkhianat dalam Risalah dan Dakwah beliau. Beliaulah Nabi
yang mendapat gelar Al Amiin (dipercaya), Ash Shoodiq (selalu
jujur) dan Al Mashduuq (yang dibenarkan segala ucapannya). Shollallahu
‘alaihi wa aalihi wa sallam.
Inilah
ringkasan dari perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang kami nukil
dengan ringkas dari kitab Al Anwaarul Bahiyyah dan Dzikrayaat
wa Munaasabaat, keduanya karya Al Imam Al Muhaddits As Sayyid Muhammad
bin Alawy al Maliky al Hasany RA, Mahaguru dari Al Ustadz al habib Sholeh bin
Ahmad al Aydrus.SUMBER : http://www.dimaspramodia.com
Allah azza
wa jalla tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, dan sangatlah tidak mungkin
men-dzalimi hamba-hamba-Nya. Di tengah-tengah datangnya ujian silih berganti,
Allah S.W.T. memberi sebuah "hadiah" yang teramat agung kepada
Rasulullah yaitu Isra Mi'raj, dan "hadiah" tersebut ternyata tidak
hanya diperuntukkan bai beliau saja, tetapi Allah S.W.T. menganugerahkannya
pula kepada umatnya Rasulullah s.a.w. Salah satu "hadiah" terbesar
adalah SHALAT. Shalat inilah Mi'raj-nya umat muslim bertemu Tuhannya selama
hidup di dunia. Di dalam shalat, ada sebuah waktu di mana jarak antara hamba
dengan Allah Ta'ala sangat-sangat dekat, yaitu SUJUD. Inilah hadiah yang
terbesar yang dianugerahkan Allah kepada umat muslim dari Isra Mi'raj.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar