BIBEL, QUR-AN, DAN SAINS MODERN
I. PENGANTAR
S. Petrus
Dedesio Leonardo
Mantan
Pastor Digereja Khatolik
Kabupaten
Lospalos Propinsi Dili Timor-Timur Dari Tahun 1986-1989
Secara apriori mengasosiasikan Qur-an dengan Sains,
adalah mengherankan, apalagi jika
asosiasi tersebut berkenaan dengan hubungan harmonis
dan bukan perselisihan
antara Qur-an dan Sains.
Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan pemikiran-pemikiran
yang tak ada
hubungannya seperti ilmu
pengetahuan, merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada zaman ini? Sesungguhnya
sekarang para ahli
Sains yang kebanyakannya
terpengaruh oleh teori materialis, menunjukkan sikap acuh
tak acuh bahkan
sifat merendahkan
terhadap soal-soal agama,
karena mereka memandangnya sebagai
hal yang didasarkan
atas legenda.
Selain daripada
itu, di negeri Barat (negeri pengarang, dan kalangan orang-orang yang terpelajar menurut sistem Barat), jika seseorang berbicara tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai agama Yahudi dan Kristen tetapi
tak ada orang yang memasukkan
Islam dalam kata agama itu. Tentang Islam, orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan karena itu mereka juga menunjukkan penilaian yang salah,
sehingga sampai hari ini sangat susah bagi mereka untuk
mendapatkan gambaran yang
tepat dan sesuai
dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
Sebagai
pengantar untuk konfrontasi antara Wahyu
Islam danSains, adalah
sangat perlu untuk memberikan suatu tinjauan tentang agama yang sangat tidak
dikenal di negeri
kita (Europa, Perancis).
Penilaian yang
salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap
meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan
secara istematis. Akan
tetapi di antara kekeliruan-kekeliruan yang
tersiar, yang paling
berbahaya adalah
kekeliruan-kekeliruan atau pemalsuan
fakta; jika kekeliruan penilaian
dapat dimaafkan, maka penyajian fakta yang
bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan. Adalah
menyedihkan jika kita
membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang ditulis
oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat
ahli. Umpamanya kita baca
dalam Encyclopedia Universalis, jilid VI, artikel
: Evangile (Injil),
suatu isyarat kepada perbedaan antara
Injil dan Qur-an.
Pengarang artikel tersebut menulis:
"Pengarang-pengarang
Injil tidak mengaku-aku, seperti
Qur-an, menyampaikan otobiografi (riwayat hidup diri sendiri)
yang didiktekan oleh
Tuhan kepada Rasulnya secara ajaib." Begitulah kata penulis
itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat. Terjemahan
Qur-an yang paling
jelek juga dapat mengungkapkan
kenyataan ini kepada
pengarang artikel tersebut. Pernyataan
tersebut di atas, yakni bahwa
Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya
dengan orang yang mengatakan bahwa
Injil itu adalah
riwayat hidup pengarangnya.Yang bertanggung
jawab tentang pemalsuan terhadap idea
Qur-an itu adalah
seorang guru besar di Fakultas teologi Yesuite di
kota Lion (Perancis
selatan); tersiarnya
kekeliruan semacam ini
telah membantu memberi gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam.
Walaupun
begitu tetap ada harapan untuk memperbaiki keadaan,karena sekarang
agama-agama tidak hidup
sendiri-sendiri; banyak agama yang mencari perkenalan dan
pemahaman timbalbalik. Kita
terharu dengan fakta bahwa pada eselon tertinggi orang-orang Katolik
berusaha untuk memelihara
hubungan dengan umat Islam,
serta menghilangkan kesalahfahaman danmengoreksi gambaran-gambaran yang
keliru tentang Islam.
Saya telah Melihat
perubahan besar
yang terjadi pada-tahun-tahun yang
terakhir ini dan menyebutkan
pula suatu dokumen yang dikeluarkan
oleh Sekretariat Vatikan untuk
orang-orang bukan Kristen. Dokumen tersebut berjudul: Orientasi untuk
dialog antara umat Kristen dan umat Islam, dokumen itu sangat berarti karena sikap-sikap baru
terhadap Islam. Dalam cetakan
ketiga (1970) kita
dapatkan ajakan untuk
"meninjau kembali sikap-sikap kita terhadap Islam, dan mengkritik
purbasangka kita" kita
dapatkan pula kata-kata seperti "kita harus bekerja
keras lebih dahulu untuk merubah cara berfikir saudara-saudara umat Kristen,
secara bertahap; ini adalah yang
paling penting," "kita harus meninggalkan gambaran gambaran
kuno yang kita warisi dari
masa lampau atau gambaran-gambaran yang
dirubah oleh prasangka
dan fitnahan,"
"kita harus mengakui
ketidak adilan yang dilakukan oleh
Barat yang beragama Kristen terhadap umat Islam." Dokumen Vatikan yang terdiri dari 150 halaman
itu menolak pandangan-pandangan kuno umat Kristen terhadap Islam dan
menerangkan hal-hal yang sebenarnya .
Di bawah
judul: "membebaskan diri
kita daripada prasangka-prasangka yang
sangat mashur," para
penulis dokumen tersebut mengajak umat Kristen sebagai berikut: "Di sini kita harus melakukan
pembersihan yang mantap dalam cara berfikir
kita. Secara khusus
kami pikirkan penilaian tertentu yang
"sudah jadi" yang
sering dilakukan orang secara
sembrono terhadap Islam. Adalah sangat penting
untuk tidak
menghidup-hidupkan dalam hati
sanubari kita, pandangan-pandangan
yang dangkal dan arbitrer
yang tidak dikenal oleh orang
Islam yang jujur.
Salah satu
daripada pandangan arbitrer yang sangat penting untuk diberantas
adalah pandangan yang
mendorong untuk memakai kata
"Allah" secara sistematis untuk menunjukkan Tuhannya umat
Islam, seakan-akan Tuhannya umat
Islam itu bukan Tuhannya umat
Kristen.
Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, Tuhan yang
maha Esa,maha Tunggal. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya dalam bahasa
Perancis kita harus rnemakai kata
"Dieu," dan tidak cukup hanya mengambil alih kata arab
("Allah") karena kata ini
tak dimengerti orang Perancis. Bagi umat Islam, Allah itu adalah
Tuhannya para Rasul dari Nabi Adam
bersamanya, sampai dengan Nabi Muhammad
SAW.
Dokumen Sekretariat
Vatikan bagi umat
bukan Kristen menekankan hal
yang fundamental ini sebagai berikut:
"Adalah
tak berguna untuk mengikuti pendapat beberapa orang Barat bahwa Allah
itu sesungguhnya bukan Tuhan!
Teks-teks yang dihasilkan oleh
Konsili telah membenarkan kata-kata di atas. Orang tidak akan dapat
meringkaskan kepercayaan Islam tentang Tuhan,
secara lebih baik
dari kata-kata Lumen Gentium (cahaya bagi manusia ) bagian
dari Dokumen Konsili Vatikan II (1962-1965) yang
berbunyi: "Orang-orang Islam yang mengikuti aqidah Nabi
Ibrahim menyembah bersama
kita kepada Tuhan yang
Tunggal, yang maha penyayang, yang akan mengadili manusia pada hari
akhir."
Semenjak itu
orang mengerti mengapa orang Islam
melakukanprotes terhadap kebiasaan orang Barat memakai kata
'Allah'untuk Tuhan. Orang-orang
Islam yang terpelajar
memuji terjemahan Qur-an oleh
D. Masson yang memakai kata "Dieu" (Tuhan) dan tidak memakai
kata "Allah."
Orang Islam
dan orang Kristen menyembah
Tuhan yang maha Tunggal.
Kemudian
Dokumen Vatikan mengkritik penilaian-penilaian lainyang salah terhadap Islam.
"Fatalisme" Islam,
suatu prasangka yang
tersiar luas,dibahas dengan
mengutip beberapa ayat
Qur-an. Dokumen Vatikan tersebut
menunjukkan hal-hal yang sebalik Fatalisme,yakni bahwa manusia itu akan diadili menurut
tindakannya di Dunia.
Dokumen Vatikan
tersebut juga menunjukkan
bahwa konsep yuridisme atau
legalisme dalam Islam itu salah, yang benaradalah sebaliknya,
yakni kesungguhan dalam
Iman.
Dibawakannya pula
dua ayat yang sangat tidak dikenal orang di Barat. Ayat pertama:
"Tak ada paksaan dalam agama" (Surat 2 ayat
256). Ayat kedua: "Dan Tuhan tidak menjadikan dalam agama sesuatu
hal yang memaksa." (Surat 22 ayat 78)
Dokumen
Vatikan tersebut juga menentang ide
yang tersiar luas bahwa
Islam itu adalah
agama "rasa takut,"
dan menjelaskan bahwa Islam adalah
agama cinta, cinta
kepada orang-orang yang dekat, cinta yang berakar dalam Iman kepada Allah.
Dokumen Vatikan tersebut juga menolak anggapan
bahwa tak ada "moral Islam," serta anggapan yang dianut oleh
orang Yahudi dan orang Kristen
bahwa Islam itu
adalah agama fanatisme. Dalam
hal ini Dokumen tersebut
mengatakan: "Sesungguhnya, Islam dalam sejarahnya
tidak pernah lebih fanatik
daripada kota-kota suci Kristen
ketika kepercayaan Kristen
bercampur dengan nilai
politik." Di sini
para pengarang Dokumen Vatikan menyantumkan ayat-ayat Qur-an yang diterjemahkan
oleh orang Barat sebagai "Perang Suci."
"Perang
suci yang dimaksudkan, dalam bahasa Arabnya
adalah: Al Jihad fi
sabililah, usaha keras untuk menyiarkan agama Islam dan
mempertahankannya terhadap orang-orang
yang melakukan
agressi." Dokumen Vatikan
meneruskan keterangannya: "Al Jihad bukan "kherem" yang
tersebut dalam Injil. Jihad
tidak bermaksud untuk memusnahkan orang lain, akan tetapi untuk
menyiarkan hak-hak Tuhan
dan hak-hak manusia di negeri-negeri
baru."
Kekerasan yang timbul dalam Jihad adalah gejala-gejala
yang orang- Islam yang
selalu melakukan pembantaian besar-besaran.
Dokumen Vatikan
akhirnya membicarakan purbasangka
bahwa Islam itu adalah agama beku yang mengungkung para pengkutnya dalam
Abad Pertengahan yang sudah
lampau dan menjadikan mereka tidak sanggup untuk
menyesuaikan diri dengan kemajuan tehnik
pada zaman modern.
Dokumen tersebut menyebutkan perbandingan dengan situasi-situasi serupa yang terdapat
di negara-negara Kristen dan menyatakan "Kami menemukan
dalam perkembangan
tradisional pemikiran Islam
suatu prinsip evolusi yang
dapat menjadi pedoman
untuk masyarakat beradab."
Bahwa Vatikan
mempertahankan Islam, saya
yakin, akan mengherankan
pengikut-pengikut agama masa
kini, baik ia orang
Yahudi, orang Kristen
atau orang lslam.
Gejala tersebut merupakan manifestasi kesungguhan dan pikiran yang terbuka
yang bertentangan sama sekali dengan sikap-sikap di masa dahulu.
Tetapi sayang, sangat
sedikit sekali
orang-orang Barat
yang mengetahui pergantian
sikap yang diambil oleh eselon tertinggi daripada Gereja Katolik.
Setelah kita
mengetahui hal tersebut di
atas kita tidak begitu
heran untuk mendengarkan
langkah-langkah konkrit selanjutnya yang
dilaksanakan untuk pendekatan
ini.
Mula-mula adalah kunjungan resmi kepala Secretariat
Vatikan untuk orang-orang bukan
Kristen kepada (almarhum)
Sri Baginda Raja Faesal, raja Saudi Arabia, kemudian kunjungan
ulama-ulama Besar dari Saudi Arabia kepada Sri Paus Paul Vl pada
tahun 1974. Kita merasakan arti spiritual yang dalam ketika
Monsigneur Elchinger menerima
para ulama itu di
Cathedral Strasbourg dan
mempersilahkan mereka untuk sembahyang di tengah-tengah Cathedral,
walaupun menghadap ke arah Ka'bah.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR PENTERJEMAH
KATA PENGANTAR
PERJANJIAN LAMA
I. TINJAUAN UMUM
Siapakah pengarang Perjanjian Lama?
Asalnya Bibel (Perjanjian Lama)
II. KITAB-KITAB (FASAL-FASAL) PERJANJIAN LAMA
Taurah atau Pentateuque
Perincian Pembagian Teks Yahwist dan Teks Sakerdotal
dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian
Bagian-Bagian yang Mengenai Sejarah
Fasal-fasal Kenabian
Fasal Syair-syair dan hikmah
III. PERJANJIAN LAMA DAN SAINS, SEKEDAR MENGEMUKAKAN FAKTA
Penciptaan Alam
Riwayat Pertama
Fasal 1, ayat 1 dan 2,
Ayat 3 sampai 5
Ayat 6 sampai 8
Ayat 9 sampai 13
Ayat 14 sampai 19
Ayat 20 sampai 23
Ayat 24 sampai 31
Riwayat Kedua
Fasal 2, 4b-7
Tahun penciptaan alam dan tahun munculnya
manusia di atas bumi
A. Dari Adam sampai Ibrahim
Silsilah Nabi Adam
B. Dari Nabi Ibrahim Sampai Nabi Isa
Banjir Nabi Nuh
IV. SIKAP PENGARANG PENGARANG KRISTEN TERHADAP
KESALAHAN ILMIAH DARI TEKS BIBEL
Penelitian Mereka Yang Kritis
V. KESIMPULAN
INJIL
I. PENGANTAR
II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH
Agama Yahudi Kristen (Judeo-Christianisme) dan Paulus
III. INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA
Injil karangan Matius
Injil Markus
Injil Lukas
Injil Yahya
Sumber-sumber Injil
Sejarah teks
IV. INJIL-INJIL DAN SAINS MODERN
Silsilah Keturunan Yesus
Silsilah keturunan Yesus
Kitab Asal-usul Yesus Kristus, Anak Daud, Anak Ibrahim
Silsilah Yesus Sebelum David
Silsilah Yesus Sesudah David
Perbedaan-Perbedaan Menurut Manuskrip dan dalam
Hubungannya dengan Perjanjian Lama
a). Injil Matius
b). Injil Lukas
Penyelidikan kritik mengenai teks
1. Periode dari Adam sampai Ibrahim
2. Periode dari Abraham sampai David
3. Periode sesudah David
4. Tafsiran Para Ahli Tafsir Modern
V. KONTRADIKSI-KONTRADIKSI DAN KEKELIRUAN KEKELIRUAN RIWAYAT
Riwayat-riwayat penyaliban
Dalam Injil Yahya, Lembaga Ekaristi tak disebut-sebut
Yesus yang dibangkitkan dari Kubur menampakkan Diri
Yesus Naik ke Langit
Percakapan Yesus yang terakhir.
Paraklet yang tersebut dalam Injil Yahya
VI. KESIMPULAN
Kata Pengantar Penterjemah
Pada bulan Maret 1977 saya mendapat kesempatan untuk menghadiri konferensi internasional Islam-Kristen di kota Cordoba di Spanyol. Bepergian saya tersebut sangat berfaedah, karena memberi gambaran kepada saya tentang masa gemilang umat Islam di negeri Spanyol. Masjid Kurtubah yang sudah berusia 12 abad (didirikan 786) itu masih berdiri dengan megahnya, wulaupun sudah tidak dipakai untuk sembahyang dan di dalamnya didirikan sebuah Katedral.
Setelah selesai konferensi, saya mengunjungi Kota Paris untuk mengenang masa muda saya, ketika pada tahun 1956 saya mempertahankan tesis saya di Sorbonne. Pada suatu hari, saya mengunjungi Masjid Paris yang megah, dan secara tidak sengaja, saya dapatkan tempat penjualan gamban-gambar Masjid, yang disukai oleh tourist-tourist asing. Di tempat itu saya ketemukan buku yang berjudul La Bible, le Coran et la Science (Bibel, Qur-an dan Sains modern). Segera saya membeli satu naskah, dan terus pulang ke Hotel. Buku itu saya baca sampai tamat.
Buku tersebut telah menarik hati saya. Seorang tabib ahli bedah berkebangsaan Perancis, yaitu Dr. Maurice Bucaille telah mengadakan studi perbandingan mengenai Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan Qur-an serta Sains modern. Akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa dalam Bibel terdapat kesalahan ilmiah dan sejarah, karena Bibel telah ditulis oleh manusia dan mengalami perubahan-perubahan yang dibuat oleh manusia.
Mengenai Al Qur-an ia berpendapat bahwa sangat mengherankan bahwa suatu wahyu yang diturunkan 14 abad yang lalu, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui manusia pada abad XX atau abad XIX dan XVIII. Atas
dasar itu, Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al Qur-an adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir.
Setelah membaca buku tersebut, saya merasa bahwa sayaharus menyampaikan isi buku tersebut kepada bangsaIndonesia, yang selalu menunjukkan perhatiannya kepada agama.
Maka saya terjemahkan buku tersebut, dengan harapan mudah-mudahan isinya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mencari kebenaran dan mencari pegangan hidup, khususnya para cendekiawan yang tidak sempat mempelajari Islam dari sumber-sumber yang memuaskan.
Saya panjatkan syukur kepada Allah s.w.t. yang telah memberi saya tenaga untuk melaksanakan terjemahan ini.
Jakarta 1 September 1978.
M. Rasjidi.
Kata Pengantar Pengarang:
Masing-masing
dari tiga agama Samawi mempunyai kumpulan kitab
yang khusus. Dokumen-dokumen itu merupakan dasar kepercayaan tiap
penganut agama itu,
baik ia orang Yahudi, orang Kristen atau orang Islam.
Dokumen-dokumen tersebut bagi mereka itu merupakan penjelmaan material daripada wahyu
Ilahi, yang bersifat
wahyu langsung seperti yang diterima oleh Nabi Ibrahim atau Nabi Musa, atau merupakan wahyu yang tidak langsung seperti
dalam hal Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi Isa
berkata atas nama Bapa dan Nabi
Muhammad menyampaikan kepada seluruh manusia
wahyu-wahyu Tuhan yang
ia terima dengan perantaraan malaikat Jibril.
Untuk membicarakan sejarah Agama, saya mengambil
sikap untuk menempatkan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Qur-an
dalam tempat yang
sejajar sebagai wahyu tertulis. Sikap saya
tersebut yang pada
prinsipnya dapat disetujui oleh
umat Islam, tidak diterima oleh pengikut agama di negeri-negeri Barat
yang terpengaruh oleh agama Yakudi dan
Kristen, karena rnereka itu tidak mengakui Qur-an sebagai suatu kitab yang
diwahyukan.
Sikap seperti
tersebut nampak dalam
masing-masing kelompok jika menghadapi
kedua agama lainnya, dalam soal
Kitab Suci.
Kitab
Sucinya agama Yahudi adalah Bibel
Ibrani. Bibel bahasa Ibrani
ini berbeda daripada
Perjanjian Lama menurut
agama Masehi dengan
tambahan-tambahan fasal-fasal yang tak terdapat dalam bahasa Ibrani.
Dari
segi
praktek, perbedaan ini tidak menyebabkan perubahan dalam aqidah.
Akan tetapi orang-orang
Yahudi tidak percaya kepada adanya sesuatu wahyu sesudah kitab sucimereka.
Agama Masehi
menerima Bibel Ibrani dengan menambahkan beberapa tambahan. Akan tetapi
tidak dapat menerima segala sesuatu
yang termuat di
dalamnya untuk membuktikan
kenabian Isa. Gereja Masehi telah melakukan potongan-potongan yang sangat
penting dalam fasal-fasal yang mengenai
kehidupan Isa serta
ajaran-ajarannya. Gereja
Masehi tidak memasukkan dalam Perjanjian Baru kecuali
tulisan-tulisan yang sangat terbatas jumlahnya, yang terpenting
ialah Injil yang empat. Agama
Masehi tidak menganggap adanya wahyu yang turun
sesudah Nabi Isa dan sahabatnya.
Dengan begitu mereka tidak mengakui Al Qur-an.
Enam abad
setelah Nabi Isa, Al Qur-an
sebagai wahyu terakhir, banyak menyebutkan Bibel Ibrani serta Injil. Al
Qur-an sering menyebut Torah1 dan Injil. Al
Qur-an mewajibkan kepada semua
orang muslim untuk percaya kepada kitab-kitab sebelumnya
(surat 4 ayat 136).
Al Qur-an menonjolkan kedudukan
tinggi para Rasul dalam sejarah Wahyu, seperti Nabi Nuh,
Nabi Ibrahim, Nabi Musa
dan para Nabi Bani Israil, dan juga kepada NabiIsa
(Yesus) yang mempunyai kedudukan istimewa di antara mereka. Kelahiran
Yesus telah dilukiskan
dalam AlQur-an sebagai
suatu kejadian ajaib
(supernatural)seperti juga dilukiskan
oleh Injil. Al
Qur-an menyebutkan Maryam secara istimewa. Bukankah surat no.19 dalam Qur-an bernama surat Maryam?
Perlu saya
nyatakan bahwa hal-hal yang mengenai Islam pada umumnya
tak diketahui orang
di negeri-negeri Barat. Hal
ini tidak mengherankan jika kita mengingat bagaimana generasi-generasi
diberi pelajaran agama dan bagaimana selama
itu mereka itu
dikungkung dalam ketidak tahuan
mengenai Islam. Pemakaian
kata-kata "religion
Mahometane"
(Mohamedanism) dan Mahometans
(Mohamedans) sampai sekarang
masih sering dipakai, untuk memelihara suatu anggapan yang salah yakni
bakwa Islam adalah kepercayaan yang
disiarkan oleh seorang manusia, dan dalam Islam itu tak ada tempat bagi Tuhan
(sebagaimana yang difahamkan oleh kaum Masehi).
Banyak kaum terpelajar zaman
sekarang yang tertarik
oleh aspek-aspek Islam yang
mengenai
filsafat,kemasyarakatan atau ketatanegaraan, tetapi mereka tidak menyelidiki
lebih lanjut bagaimana
dalam mengetahui aspek-aspek itu
mereka sesungguhnya bersumber
kepadawahyu Islam. Biasanya
orang bertitik tolak
dari anggapan bahwa Mohammad
bersandar kepada wahyu-wahyu yang diterima nabi-nabi sebelum
dia sendiri, dengan begitu mereka
ingin mengelak dari
mempersoalkan"wahyu."
Orang-orang
Islam selalu dianggap remeh oleh golongan tertentu dalam umat Kristen. Saya mempunyai pengalaman
dalam hal ini, ketika ssya berusaha
mengadakan dialog untuk penelitian
perbandingan antara teks Bibel dan teks Qur-an
mengenai sesuatu masalah;
saya selalu disambut dengan
penolakan untuk menyelidiki sesuatu yang mungkin diungkapkan
oleh Al
Qur-an tentang hal tersebut. Hal
seperti ini seakan-akan
berarti menganggap bahwa
Qur-an itu ada
hubungannya dengan Syaitan.
Pada akhir-akkir
ini telah terjadi
perubahan besar dalam tingkat tertinggi daripada Dunia Kristen. Setelah konsili Vatican
II (1963-1965), sekretariat Vatican (Departemen) untuk
urusan-urusan dengan umat
bukan Kristen, menyiarkan Dokumen
"Orientasi untuk dialog antara
umat Kristen dan umat Islam;"
cetakan ketiga terbit pada
tahun 1972. Dokumen tersebut
menunjukkan pergantian sikap yang mendalam secara resmi, mula-mula Dokumen tersebut
mengajak untuk melempar jauh image yang diperoleh umat
Kristen tentang Islam yaitu image usang
yang telah diwarisi
dari masa yang silam atau image
yang salah karena
didasarkan prasangka dan fitnahan. Kemudian Dokumen tersebut
mengakui terjadinya ketidak adilan
pada masa yang
lalu, yaitu ketidak adilan yang dilakukan oleh Pendidikan Kristen
tethadap umat Islam" diantaranya mengenai gambaran umat Kristen yang
salah tentang fatalisma Islam, juridisma Islam, fanatisma
dan lain-lain. Dokumen tersebut
menegaskan kesatuan akan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Serta
menyebutkan bahwa Kardinal Koenig telah
membikin para pendengarnya tercengang ketika dalam ceramah resmi di Universitas
Al Azhar pada
bulan Maret 1969 menerangkan hal
tersebut. Dokumen tersebut
juga mengatakan bahwa sekretariat
(Departemen) urusan non-Kristen
mengajak umat Kristen pada tahun 1967 untuk mengucapkan selamat kepada umat
Islam sehubungan denganbulan puasa Ramadlan
"sesuatu nilai agama
yang autentik."
Usaha-usaha untuk pendekatan antara Vatican dan
Islam telah diikuti dengan
bermacam-macam manifestasi dan pertemuan
yang konkrit. Tetapi hal-hal
tersebut hanya diketahui oleh
jumlah yang sangat
sedikit di Barat walaupun mass media seperti pers, radio
dan telerisi tidak kurang.
Surat-surat
kabar menyiarkan tentang kunjungan Kardinal Pignedoli, Ketua Departemen urusan
bukan Kristen kepada Baginda (almarhum)
raja Faisal dari Saudi Arabia, pada tanggal 24 April 1974. Harian Le Monde
(Dunia) tanggal 25 April
1974 hanya memuat berita itu
dalam beberapa baris. Tetapi berita
tersebut adalah penting
karena Kardinal Pignedoli menyampaikan
kepada Sri Baginda pesan dari Paus Paulus VI yang
berisi: rasa hormat Paus Paulus VI, yang diiringi dengan keyakinan yang
mendalam tentang kesatuan Dunia Islam
dan Dunia Kristen
yang kedua-duanya menyembah Tuhan yang Satu.
Enam bulan
kemudian pada bulan
Oktober 1974, Paus Paulus VI
secara resmi menerima
ulama-ulama Saudi Arabia di Vatican.
Pada waktu itu juga diadakan diskusi antara pihak Islam dan pihak Kristen
mengenai: Hak-hak manusia dalam Islam. Surat kabar Vatican
L'observatore Romano yang terbit pada tanggal 26 Oktober 1974 memuat
berita diskusi tersebut
pada halaman pertama.
Berita-berita tersebut
mengambil tempat yang
lebih besar daripada berita tentang penutupan sidang Synode uskup-uskup
di Roma.
Ulama-ulama
Arabia kemudian mengunjungi Majelis Ekumeni
Gereja di
Geneva dan diterima
oleh Monsigneur Elchenger, uskup
Strasburg yang kemudian meminta kepada mereka
untuk sembahyang lohor
di Kathedral. Hal tersebut saya sajikan karena
luar biasa dan
karena artinya yang besar.
Tetapi meskipun begitu sedikit sekali orang
yang saya tanya
dapat mengerti kejadian-kejadian tersebut.
Sikap keterbukaan
terhadap Islam yang diperlihatkan oleh Paus Paulus VI yang
pernah berkata, dijiwai dengan kepercayaan
penah tentang kesatuan
Dunia Islam dan Kristen yang
rnenyembah Tuhan Yang Satu, akan membuka halaman baru
dalam hubungan kedua
agama. Mengingat sikap Kepala Gereja Katolik terhadap umat Islam adalah perlu
sekali, karena banyak orang Kristen terpelajar masih
berfikir seperti yang dilukiskan
oleh Dokamen Orientasi untuk
Dialog antara umat Kristen dan umat Islam dan
tetap menolak menyelidiki
ajaran-ajaran Islam. Dan karena
sikap tersebut mereka tetap tidak
memahami realitas dan tetap berpegangan
kepada idea yang sangat salah
mengenai Wahyu Islam.
Bagaimanapun juga
adalah sangat wajar jika
seseorang mempelajari aspek wahyu dalam suatu
agama Samawi, ia akan
mengadakan perbandingan dengan
dua agama lainnya mengenai
persoalan yang sama.
Sesuatu penyelidikan tentang sekelompok
masalah-masalah lebih menarik daripada penyelidikan tentang hanya
sesuatu masalah.
Oleh karena
itu konfrontasi dengan hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan abad XX mengenai
masalah-masalah yang tersebut dalam
kitab suci, adalah penting bagi ketiga agama itu. Bukankah lebih baik
jika ketiga agama
itu merupakan suatu blok
yang kompak dalam
menghadapi bahaya materialisma yang mengancam Dunia.
Pada waktu ini, di
kalangan-kalangan ilmu pengetahuan, baik di negeri-negeri yang
di bawah pengaruh
agama Yahudi Kristen (Barat)
maupun di negeri-negeri Islam
banyak orang berpendapat bakwa agama
dan Sains tak
dapat disesuaikan. Untuk membicarakan
soal ini, agama dan ilmu, perlu
pembahasan yang sangat luas. Akan
tetapi saya hanya akan
membicarakan satu aspek
yaitu:
penyelidikan tentang
Kitab-kitab Suci dengan mempergunakan pengetahuan Sains
modern.
Maksud tersebut
mendorong untuk mengajukan
suatu pertanyaan yang fundamental: Sampai di mana kita dapat menganggap teks
kitab-kitab suci yang kita miliki itu autentik? Soal ini mendorong
kita untuk menyelidiki kejadian-kejadian yang
terjadi sebelum pembukuan Kitab-kitab Suci tersebut sehingga
sampai kepada kita sekarang Penyelidikan tentang
Kitab Suci dengan
menggunakan kritik teks adalah
baru. Mengenai Bibel,
yakni Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, selama berabad-abad manusia sudah puas
dengan menerima apa adanya.
Membaca Kitab Suci tersebut hanya diperlukan untuk
maksud-maksud apologetik (mempertahankan
agama).
Adalah suatu
dosa untuk menunjukkan
pikiran kritik terhadap isi Kitab Suci
itu. Para rohaniawan
Gereja mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh
tentang Kitab-kitab Suci. Adapun orang
awam kebanyakan hanya menerima
potongan-potongan yang dipilih
untuk dipakai dalam do'a atau khutbah.Kritik teks, suatu ilmu yang telah
dibagi-bagi dalam jurusan-jurusan telah
berguna untuk membuka
tabir tentang adanya persoalan-persoalan yang sangat penting, akan tetapi
kita sering merasa sangat kecewa
membaca buku-buku yang dinamakan kritik, tetapi
yang nyatanya berhadapan dengan
kesulitan-kesulitan interpretasi,
hanya dapat menyajikan
argumentasi apologetik yang dimaksudkan unhwk
menutupi kejahilan pengarang. Dalam keadaan semacam ini, bagi orang
yang tetap memelihara kekuatan berfikir dan secara obyektif, kontradiksi dan
kesalahan akan tetap berkesan;
ia akan menyesalkan sikap yang
berlawanan dengan
logika, untuk mempertahankan
bagian-bagian yang mengandung kesalahan dalam Kitab
Suci. Hal yang
semacam ini sangat membahayakan keutuhan kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi orang-orang yang
terpelajar.
Bagaimanapun
juga pengalaman menunjukkan bahwa walaupun sebagian orang dapat
menunjukkan beberapa kesalahan semacam itu,
namun mayoritas besar dan umat Kristen tidak tahu-menahu
tentang adanya, dan
tetap tidak mengetahui ketidaksesuaian-ketidaksesuaian kitab suci dengan pengetahuan
umum yang kadang-kadang bahkan bersifat elementer.
Islam mempunyai Hadits, dan Hadits ini dapat
disamakan dengan Injil. Hadits
adalah kumpulan kata-kata
Nabi Muhammad serta riwayat
tindakan-tindakannya. Injil adalah
seperti Hadits dalam soal-soal
yang mengenai Nabi Isa.
Kumpulan yang pertama dari Hadits ditulis beberapa puluh
tahun sesudah wafatnya Nabi
Muhammad, sebagaimana Injil
ditulis orang sesudah beberapa puluh tahun setelah Nabi Isa wafat. Kedua-duanya,
merupakan kesaksian manusia tentang kejadian-kejadian dalam waktu yang
sudah lampau. Berlainan dari apa yang dikira
oleh orang banyak, Injil
empat (Matius, Lukas,
Markus, Yahya) dikarang oleh orang-orang yang tidak menyaksikan kejadian-keiadian yang
termuat dalam Injil
tersebut.Keadaannya sama dengan kumpulan Hadits.
Perbandingan
antara Hadits dan Injil
harus berhenti disini, oleh
karena jika kita membicarakan
kebenaran Hadits ini atau Hadits itu, kita
akan mirip kepada orang
yang kembali kepada
abad-abad pertama dari Gereja, di mana orang
hanya menentukan Injil
empat walaupun di antara empat itu terdapat kontradiksi dalam beberapa
persoalan. Adapun Injil-Injil yang ada
pada waktu itu harus
disembunyikan, itulah sebabnya
maka Injil-Injil selain yang
empat itu dinamakan
Injil apokrif yakni yang tersembunyi.
Ada lagi
perbedaan yang fundamental antara Kitab Suci dalam agama Masehi dan
dalam Islam yaitu bakwa
agama Masehi tidak mempunyai teks
yang diwahyukan, jadi teks yang tetap,
sedang Islam mempunyai
Al Qur-an yang memenuhi syarat wahyu dan tetap.
Al Qur-an
adalah penjelmaan wahyu yang
diterima oleh Muhammad dari Tuhan dengan perantaraan Jibril. Setelah ditulis, dan dihafal, Qur-an dibaca oleh kaum muslimin
di waktu sembahyang dan khususnya pada bulan
Ramadlan, Al Qur-an dibagi-bagi
dalam surat-surat oleh
Nabi Muhammad sendiri. Setelah Nabi Muhammad meninggal, pada zaman
Khalifah Usman (tahun 12-14 setelah wafatnya Nabi Muhammad) Qur-an dibukukan
sehingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang.
Berbeda sekali
dengan apa yang terjadi dalam Islam, wahyu (Kitab
Suci) Kristen didasarkan atas kesaksian-kesaksian manusia
yang bermacam-macam dan tidak langsung. Orang Kristen tak mempunyai
kesaksian dari seorang saksi
hidup dari zaman Yesus, walaupun banyak
sekali orang Kristen tak mengetahui
hal ini.Dengan begitu
maka timbullah soal
kebenaran (autentitas) teks kitab suci
Kristen dan teks
kitab suci Islam.
Di samping
hal tersebut di atas, konfrontasi antara teks Kitab Suci
Kristen dengan penemuan-penemuan ilmiah selalu menjadi bahan pemikiran manusia.
Mula-mula orang berpendirian bahwa keserasian antara Kitab Suci (Injil) dan Sains
merupakan unsur yang pokok dalam
kebenaran (autentitas) teks Kitab
Suci. Santo Agustinus
dalam suratnya no. 82
yang akan kami
muat nanti, telah menetapkan
prinsip tersebut secara formal.
Kemudian, setelah Sains berkembang, terasa
adanya perbedaan-perbedaan
antara Bibel dan
Sains dan pemimpin-pemimpin agama
Kristen tidak mengadakan lagi pendekatan
antara keduanya. Dengan
begitu maka timbullah suatu
situasi yang berbahaya dan pada waktu ini berhadapanlah ahli
Bibel dan para
ahli Sains.
Sesungguhnya tak
mungkin orang mengatakan bahwa wahyu Illahi dapat menyebutkan sesuatu
hal yang secara ilmiah sudah
dibuktikan keliru. Hanya
ada satu jalan untuk penyesuaian
logis, yaitu dengan
mengatakan terus terang bahwa bagian-bagian dari Bibel yang
menyebutkan hal-hal yang tidak dapat diterirna
oleh Sains, harus dinyatakan salah.
Tetapi pemecahan persoalan
seperti tersebut tidak pernah dilakukan.
Orang Kristen tetap berpegang teguh
kepada kemurnian teks Bibel, dan
hal ini memaksa ahli-ahfi tafsir
Injil untuk mengambil sikap yang bertentangan dengan akal
ilmiah.
Islam,
seperti Santo Agustinus bersikap terhadap Bibel, mengatakan bakwa antara teks
Al Qur-an dan fakta-fakta ilmiah selalu
ada keserasian. Penyelidikan
teks Al Qur-an pada zaman modern
tidak menunjukkan perlunya, peninjauan baru
tentang sikap tersebut.
Al Qur-an,sebagai nanti akan
diterangkan secara terperinci, menyebutkan fakta-fakta yang banyak hubungannya
denganSains, dan dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada masalah-masalah dalam
Injil. Tak ada
perbandinganantara jumlah terbatas daripada sikap
Injil mengenaipengetahuan dengan
jumlah yang besar daripada soal-soalilmiah yang tersebut dalam Al Quran. Tak
ada soal-soalyang tersebut
dalam Al Qur-an yang dapat
dibohongkanoleh Sains. Inilah hasil yang pokok
dari penyelidikan ini.
Di lain pihak pembaca akan mendapatkan pada
akkir bukuini bahwa mengenai kumpulan sabda-sabda Nabi
(hadits) yang tidak merupakan
teks wahyu Qur-an, keadaan agakberlainan, karena beberapa hadits tertentu
tak dapat diterima menurut Sains.
Hadits-hadits semacam itu telahdiselidiki
menurut prinsip-prinsip Qur-an
yangmenganjurkan pemakaian fakta dan akal dan sebagai hasil penyelidikan ini,
beberapa Hadits telah
dinyatakan tidak autentik (tidak benar).
Pemikiran tentang
ciri-ciri yang dapat diterima
atau ditolak secara ilmiah
mengenai teks Kitab
Suci,memerlukan suatu penjelasan. Jika kita bicara tentang hasil
ilmiah, kita maksudkan hanya hal-hal
yang sudah dinyatakan secara
definitif. Dengan begitu kita harus menjauhkan theori-theori explicatif
(teori-teoripenafsiran) yang berfaedah
untuk memberi penjelasantentang
sesuatu fenomena, tetapi yang mungkin
sebentarlagi terpaksa dihapuskan
dan diganti dengon theorilainnya yang lebih sesuai dengan perkembangan
ilmiah.
Yang saya selidiki di sini adalah fakta-fakta yang
tak dapat dikembalikan kepada masa
sebelumnya, walaupunSains hanya
memberi penjelasan yang kurang
sempurna,tetapi cukup kuat
dan tidak mengandung
resiko
kesalahan.
Umpamanya,
kita tidak tahu kapan manusia mulai hidup di atas bumi
ini, walaupun secara
kira-kira; tetapikemudian telah ditemukan bekas-bekas pekerjaan manusia
yang oleh ilmu pengetakuan dianggap secara pasti telah terjadi
10 ribu tahun sebelum lahirnya
Nabi Isa. Atas dasar tersebut maka
kita tidak dapat
menerima pernyataan Bibel bahwa asal manusia (penciptaan Adam) adalah
pada abad ke 37 sebelum Nabi Isa sebagai
yang disebutkan oleh Perjanjian
Lama (Kitab Kejadian).
Mungkin
dikemudian hari Sains dapat
menentukan secara lebih pasti
dari pengetahuan kita sekarang, akan tetapi kita sudah yakin dari sekarang
bahwa tak mungkin orangmembuktikan bahwa
manusia sudah berada di bumi semenjak 5736 tahun seperti yang dikatakan oleh
Perjanjian Lama.
Dengan begitu
maka keterangan Bibel tentang umurnyajenis manusia sudah
terang salah.
Konfrontasi dengan
Sains tidak akan
menyinggung soal-soal yang semata-mata
bersifat keagamaan. JadiSains tak
akan dapat menjelaskan cara
bagaimana Tuhan menampakkan kehadiranNya kepada
Nabi Musa, atau menjelaskan rahasia yang mengelilingi
kelahiran Nabi Isa dengan
tak mempunyai Bapak
alamiah. Mengenai hal-hal
tersebut Kitab-kitab Suci juga tidak
memberi penjelasan. Penyelidikan dalam buku ini adalah mengenai kejadian-kejadian
alamiah bermacam-macam yang tersebut dalam kitab-kitab Suci
dan disertai dengan tafsiran-tatsiran bermacam-macam
pula. Dalam hal
ini perlu kita perhatikan
kekayaan yang melimpah
yang terkandung dalam Al Qur-an-dan
kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian
Barumengenai hal yang sama.
Saya
menyelidiki keserasian teks Qur-an dengan
Sains modern secara obyektif dan
tanpa prasangka. Mula-mula,saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa Qur-an menyebutkan bermacam-macam fenomena
alamiah, tetapi dengan membaca
terjemahan itu saya
hanya memperoleh pengetahuan yang
samar (ringkas). Dengan membaca teks Arab secara
teliti sekali saya
dapat mengadakan inventarisasi yang
membuktikan bakwa Al Qur-an tidak
mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern
ini.
Saya telah
melakukan penyelidikan yang sama
terhadap Perjanjian Lama dan Injil. Mengenai
Perjanjian Lama saya tak
perlu menyelidiki lebih
jauh dari Kitab Kejadian untuk mendapatkan
pernyataan-pernyataan; yang tak dapat
disesuaikan dengan hal-hal
yang sudahditetapkan secara pasti
oleh Sains di zaman sekarang.
Mengenai Injil
(Perjanjian Baru), dengan
membaca genealogi (silsilah keturunan) Nabi Isa yang terdapat dalam
halaman pertama, saya
telah terjerumus dalam persoalan yang sangat serius, karena teks Injil Matius dalam
hal ini sangat kontradiksi dengan Injil
Lukas, dan Injil Lukas menunjukkan ketidakserasian dengan ilmu pengetahuan
modern mengenai asal mula manusia
di atas bumi.
Adanya kontradiksi,
ketidak serasian ini, saya kira tidak akan merubah kepercayaan
kepada adanya Tuhan, karena
hal-hal tersebut hanya mengenai tulisan-tulisan manusia. Tak ada orang
yang dapat menerangkan bagaimana teks
yang asli dan
yang mana yang merupakan redaksi yang aneh dan yang mana yang
merupakan perubahan yang dimasukkan dengan sengaja atau yang mana
yang merupakan perubahan yang tak disengaja.
Yang sangat menarik
perhatian pada waktu
sekarang, adalah bahwa menghadapi kontradiksi dan ketidakserasian dengan
hasil Sains, para ahli penyelidikan Bibel
ada yang pura-pura tidak
mengetahuinya dan ada pula yang mengetahui kesalahan-kesalahan itu; akan
tetapi berusaha untuk menutupinya dengan akrobatik dialektik (permainan
kata-kata).
Mengenai
Injil Matius dan Injil Yahya saya akan memberi contoh tentang cara-cara
apologetik yang diberikan oleh ahli-ahli tafsir Injil yang ternama. Cara-cara menutupi(camuflaseJ kesalahan
atau kontradiksi dengan menamakannya secara halus "kesukaran" biasanya
dapat berhasil, dan ini
menunjukkan bahwa terlalu banyak orang Kristen yang tidak
mengetahui kesalahan-kesalahan yang
serius dalam beberapa bagian dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Para pembaca akan
mendapatkan contoh-contoh yang tepat dalam bagian pertama dan kedua dalam
buku ini!
Dalam bagian
ketiga, pembaca akan mendapatkan
contoh aplikasi Sains dalam
menyelidiki Kitab Suci, bantuan dari
ilmu pengetahuan modern
untuk lebih memahami ayat-ayat Qur-an
yang sampai sekarang
masih jadi teka-teki atau masih
belum dapat difahami. Hal ini tak perlu mengherankan karena dalam Islam agama, dan
Sains selalu dianggap sebagai saudara
kembar. Dari semula, mempelajari Sains
merupakan bagian dari
kewajiban keagamaan,
Aplikasi ajaran ini
telah menghasilkan kekayaan ilmiah
yang melimpah pada zaman perkembangan kebudayaan Islam, yang juga telah
menjadi sumber bagi Barat
pada zaman sebelum renaissance.
Pada zaman
sekarang kemajuan yang
diperoleh oleh manusia karena
Sains dalam menafsirkan
ayat-ayat Al Qur-an yang
selama ini tak
dimengerti atau disalah tafsirkan, merupakan puncak daripada konfrontasi
antara Kitab Suci dengan Sains
Asalnya Bibel
(Perjanjian Lama)
(Perjanjian Lama)
Sebelum tersusun menjadi kumpulan fasal-fasal,Perjanjian Lama merupakan tradisi rakyat yang tidak mempunyai sandaran, kecuali dalam ingatan manusia, satu-satunya faktor untuk tersiarnya idea, tradisi-tradisi tersebut selalu dinyanyikan.
Edmond Jacob menulis: "Dalam tahap permulaan, semuaorang menyanyi; di Israil seperti di tempat lain, puisi lebih dahulu daripada prosa. Bani Israil menyanyi baikdan banyak. Nyanyian itu mempunyai bermacam-macam ekspresi, tergantung kepada kejadian-kejadian dalam sejarah dengan enthusiasme yang memuncak atau putus asa yang menenggelamkan." Mereka menyanyi dalam keadaan yang bermacam-macam, dan Edmond Jacob menyebutkan sebagian di mana nyanyian yang menyertainya terdapat dalam Perjanjian Lama: nyanyian makan pagi, nyanyian akhir panen, nyanyian yang menyertai pekerjaan, seperti nyanyian Sumur (Bilangan 21, 17), nyanyian perkawinan, nyanyian kematian, nyanyian perang yang sangat banyak dalam Bibel seperti nyanyian Debarah (Hakim-hakim 5, 1-32) yaitu nyanyian yang memuja kemenangan Israil yang dikehendaki oleh Yahweh dalam suatu peperangan yang dipimpin oleh Yahweh sendiri (Bilangan 10, 35). Ketika Peti Suci sudah pergi, Musa berkata-kata: "Bangunlah Yahweh, mudah-mudahan musuh-musuhmu terserak-serak. Mudah-mudahan mereka yang benci kepadamu akan laritunggang langgang di hadapan wajahmu."
Nyanyian-nyanyian itu juga merupakan kata-kata mutiara serta perumpamaan kata-kata yang berisi berkat atau laknat, peraturan-peraturan yang dibikin untuk manusia oleh para Nabi sesudah mereka itu menerima perintah Ilahi.
Edmond Jacob mengatakan bahwa kata-kata tersebut diwariskan dengan jalan keluarga atau melalui rumah-rumah ibadat dalam bentuk sejarah Bangsa yang terpilih olehTuhan. Sejarah ini kemudian menjadi dongeng seperti dongengan Jatam (Kitab Hakim-hakim 9, 7-21) dimana tertulis: "Pohon-pohon itu berjalan untukmengusapkan minyak kasturi kepada raja mereka dan mereka berkata kepada pohon Zaitun, pohon Tien, pohon anggur dan pohon duri." Hal tersebut mendorong Edmond Jacob untuk menulis "karena dijiwai oleh fungsidongeng, maka penyajian hikayat seperti tersebut di atas tidak dirasakan janggal karena mengenai soal-soal dan periode-periode yang sejarahnya tak dikenal orang."
Edmond Jacob kemudian menyimpulkan: "Adalah sangat mungkin bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lamatentang Nabi Musa dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi tidak sesuai dengan yang terjadi dalam sejarah, akan tetapi para tukang dongeng dalam masa riwayat secara lisan sudah dapat mengisikan keindahan dan imaginasi untuk merangkai episode yang bermacam-macam, sehingga mereka berhasil menyajikannya sebagai sejarah yang nampak besar kemungkinan kebenarannya bagi pikiran-pikiran yang kritis, yaitu sejarah yang mengenai asal alam dan manusia."
Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di Kan'an, yakni kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan meriwayatkan dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara tepat, meskipun yang dikatakan itu mengenai hal-hal yang harus tepat sekali, yakni soal hukum. Mengenai hukum ini, perlu diterangkan bahwa hukum sepuluh (Dekalog) yang dikatakan telah datang langsung dari tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam Perjanjian Lama menurut dua versi yakni: Kitab Keluaran (Exodus 20, 1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30). Jiwanya sama, tetapi perbedaan tetap ada. Kemudian muncul keinginan untuk menetapkan dokumentasi-dokumentasi penting seperti kontrak, surat-surat, daftar orang-orang (hakim-hakim, pegawai-pegawai tinggi di kota-kota), daftar silsilah keturunan, daftarkurban-kurban dan daftar harta jarahan. Dengan begit u terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yangkemudian mengisi kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Lama yang sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap fasal terdapat bentuk literer yang tercampur. Para ahli kemudian menyelidiki sebab-sebab yang mendorong untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda menjadisatu.
Adalah sangat menarik untuk membandingkan penyusunanPerjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan apa yang terjadi di bidang lain dan pada zaman yang berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.
Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada zaman Kerajaan Perancis. Tradisi-tradisi lisan telah muncul lebih dahulu sebelum peristiwa sejarah yang besar dicatat dalam sejarah, yakni kejadian seperti perang untuk mempertahankan agama Kristen, drama tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah. Dengan cara begitu mulai abad XI M timbul nyanyian dan tarian dimana yang benar dan yang khayal menjadi satu dan menjadi satu epik (syair kepahlawanan). Di antara epik itu yang termasyhur adalah syair Roland (Chanson de Roland), tentang pahlawan perang yang bernama Roland yang menjadi komandan penjaga Kaisar Charlemagne (Karl yang Agung) waktu kembali dari berperang di Spanyol.
Pengorbanan Roland bukannya satu dongengan yang dibikin-bikin untuk sekedar dongengan; pengorbanan Roland terjadi pada tanggal 5 Agustus tahun 778, yaitu pada waktu serangan orang Basque (Penduduk pegunungan Pyrenes). Karya kesusasteraan tidak semata-mata bersifat legenda, tetapi mempunyai dasar sejarah; walaupun begitu ahli-ahli sejarah, tidak-memahaminya secara harafiah.
Persamaan antara lahirnya Bibel dan kesusasteraan yang bukan agama nampaknya memang riil. Hal ini tidak berarti bahwa kita menolak keseluruhan teks Bibel yang dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kumpulan buku-buku mitologi, yakni seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan; orang dapat percaya kepada kebenaran bahwa Tuhan menciptakan alam, bahwa Tuhan menyerahkan sepuluh perintah kepada Musa, bahwa Tuhan mencampuri urusan-urusan manusia, umpamanya pada ajaran Raja (Nabi) Sulaiman; orang dapat percaya bahwa essensi dari kejadian-kejadian tersebut telah disampaikan kepada kita, akan tetapi kita harus ingat bahwa rincian penyajian soal tersebut harus diperiksa dengan teliti, dengan kritik yang ketat, karena sumbangan manusia dalam menjadikan tradisi lisan, menjadi buku tertulis adalah sangat besar.
Kebanyakan pembaca Perjanjian Lama yang menerima pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan mengulangi apa yang pernah mereka baca dalam Kata Pengantar Bibel, yaitu yang mengatakan bahwa fasal itu semua adalah karangan Tuhan, walaupun ditulis oleh orang-orang yang mendapat wahyu dari Ruhul Kudus.
Kadang-kadang orang yang memperkenalkan Bibel tadi menganggap cukup dengan keterangan singkat tersebut, dan dengan begitu ia menutup kemungkinan untuk pertanyaan lebih lanjut; tetapi kadang-kadang ia menambah penjelasan bahwa mungkin ada perincian-perincian yang ditambahkan orang dalam teks lama, akan tetapi meskipun begitu, perbedaan faham tentang sesuatu ayat, tidak merubah kebenaran keseluruhan. Orang selalu menekankan kepada "Kebenaran" yang dijamin oleh Kepala Gereja, yaitu orang yang mendapat bantuan dari Ruhul Kudus, satu-satunya pihak yang berhak menerangkan sesuatu kepada orang-orang yang percaya. Bukankah Gereja, semenjak konsili-konsili abad ke 4 telah meresmikan daftar Kitab Suci yaitu daftar yang dikuatkan oleh konsili Florence (1441), Trente (1546) dan Vatikan I (1870) untuk menjadi Kanon (Injil Induk). Belum lama ini, setelah mengeluarkan bermacam-macam encyclique (dekrit), Paus telah mengumumkan suatu keterangan tentang Refelasi (wahyu) dalam bentuk suatu teks yang sangat penting yang disusun selama tiga tahun (1962 - 1965). Kebanyakan orang yang membaca Bibel mendapatkan keterangan- keterangan yang menenteramkan hati itu di permulaan cetakan modern serta merasa puas dengan jaminan kebenaran yang telah diberikan selama beberapa abad dan mereka itu tak pernah memikirkan bahwa orang dapat mendiskusikan isi Bibel.
Akan tetapi jika seseorang membaca buku-buku yang ditulis oleh ahli-ahli agama, yakni buku-buku yang tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh orang awam, ia akan menyadari bahwa soal autentitas kitab dalam Bibel itu jauh lebih kompleks daripada pemikiran orang biasa.
Jika salah seorang membaca umpamanya, cetakan modern dari pada Bibel yang diterjemahkan ke bahasa Perancis di bawah asuhan Lembaga Bibel di Yerusalem dan diterbitkan dalam bagian-bagian terpisah, ia akan mendapatkan suara yang sangat berbeda, dan ia akan mengerti bahwa Perjanjian Lama, seperti juga Perjanjian Baru, telah menimbulkan problema-problema yang para ahli tafsir tidak menyembunyikan unsur-unsurnya yang menimbulkan khilaf.
Kita juga mendapatkan unsur-unsur yang pasti dalam pembahasan yang lebih ringkas akan tetapi obyektif, seperti dalam buku karangan Professor Edmond Yacob "Perjanjian Lama," yang diterbitkan oleh Presse Universitaire de France,dalam seri yang berjudul: Que Sais-je, (apakah yang saya ketahui?). Buku tersebut memberi gambaran yang menyeluruh.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa pada permulaannya, seperti yang dikatakan Edmond Jacob, terdapat beberapa teks Perjanjian Lama dan bukan teks tunggal. Pada abad III SM sedikitnya ada tiga teks Ibrani, yaitu teks massorethique, teks yang dipakai untuk terjemahanYunani dan teks kitab Taurat Samaria. Pada abad pertama SM, ada kecenderungan untuk membentuk teks tunggal, akan tetapi hal tersebut baru terlaksana satu abad kemudian.
Jika kita mempunyai tiga teks tersebut di atas, tentu kita dapat melakukan studi perbandingan dan kita mungkin dapat mempunyai idea tentang teks yang asli, akan tetapi kita tak mempunyai teks tersebut di atas.
Selain gulungan-gulungan yang terdapat di gua Qumran pada tahun 1947, yaitu gulungan yang berasal dari zaman sebelum timbulnya agama Kristen, dan dekat sebelum munculnya Nabi Isa, telah terdapat Papyrus Decalogue berasal dari abad II M, dan mengandung perbedaan-perbedaan dari teks klasik, begitu juga fragmen Perjanjian Lama, yang ditulis orang pada abad V M. (Fragmen Geniza, Cairo); selain itu semua, teks Bibel Ibrani yang paling tua adalah teks abad IX M.
Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani terjadi pada abad III sebelum Masehi. Teksnya dinamakan Septante (berarti tujuh puluh; yakni jumlah orang yang menterjemahkan). Terjemahan tersebut dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Alexandria. Pengarang-pengarang Perjanjian Baru bersandar kepada teks tersebut, danteks tersebut dipakai orang sampai abad VII M. Pada waktu sekarang teks Yunani yang dipakai Dunia Kristen adalah manuskrip (tulisan tangan) yang dinamakan Codex Vaticanus yang disimpan di Vatican dan Codex Sinaiticus (berasal dari Sinai) yang disimpan di British Museum di London. Manuskrip tersebut ditulis pada abad IV M.
Terjemahan dalam bahasa Latin dilakukan oleh Jerome dari dokumen-dokumen Ibrani pada permulaan abad V M.
Terjemahan Latin ini kemudian dinamakan Vulgate olehkarena telah tersebar diseluruh Dunia sesudah abad VIIM.
Perlu kita ketahui juga bahwa ada terjemahan Aramaik dan Syriaks akan tetapi terjemahan itu hanya mengenai beberapa bagian dari Perjanjian Lama.
Bermacam-macam terjemahan tersebut telah diolah oleh beberapa orang ahli dan dijadikan teks tengah-tengah; yakni yang merupakan kompromi antara bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Ada pula yang mengumpulkan bermacam-macam terjemahan disamping Bibel Ibrani seperti terjemahan Yunani, Latin, Syriak, Aramaik dan Arab. Kumpulan itulah yang tersohor dengan nama Bibel Walton (London tahun 1657).
Perlu kita tambahkan pula bahwa diantara Gereja-gereja Masehi yang bermacam-macam sekarang keadaannya adalah bahwa Gereja-gereja itu tidak menerima fasal-fasal yang sama dalam Bibel, dan Gereja-gereja tersebut juga tidak mempunyai pengesahan yang sama mengenai terjemahan-terjemahan dalam satu bahasa. Usaha-usaha untuk mempersatukan masih dilakukan dan terjemahan Ekumenik (persatuan) yang dilakukan oleh ahli-ahli Katolik dan Protestan mengenai Perjanjian Lama ternyata akan meng hasilkan sintesa (perpaduan).
Dengan begitu maka usaha manusia mengenai teks Perjanjian Lama ternyata sangat besar, dan dengan mudah kita mengetahui bahwa sebagai akibat koreksi-koreksi antara versi yang bermacam-macam dan terjemahan yang bermacam-macam, teks yang asli sudah berubah selama duaribu tahun.
Kitab-kitab
Perjanjian Lama
Perjanjian Lama merupakan kumpulan fasal-fasal yang panjangnya tidak sama dan isinya bermacam-macam, ditulis selama lebih dari sembilan abad dalam beberapa bahasa dan dimulai dengan tradisi lisan. Fasal-fasal itu banyak yang telah dikoreksi dan dilengkapkan sesuai dengan kejadian-kejadian atau kebutuhan-kebutuhan tertentu, pada waktu-waktu yang berjauhan jaraknya antara satu dengan lainnya.
Sangat boleh jadi bahwa munculnya literatur yangmelimpah ini terjadi pada permulaan monarki Yahudi pada abad XI SM, yaitu pada waktu timbulnya kelompok pegawai-pegawai Raja yang merupakan sekretaris-sekretaris, yakni orang-orang pandai yang pekerjaannya tidak terbatas dalam sekedar menulis. Darizaman itulah bermula tulisan-tulisan parsial yang tersebut dalam fasal-fasal sebelum ini, yaknitulisan-tulisan yang penting untuk ditetapkan waktunya,seperti nyanyian-nyanyian yang tersebut di atas,kata-kata yang diucapkan oleh nabi Ya'kub dan nabiDawud, Sepuluh Perintah dan lebih umum lagi teks-tekslegislatif yang membentuk tradisi keagamaan sebelumtersusunnya undang-undang. Teks-teks tersebut merupakanbagian-bagian yang terpisah disana-sini dalam bagian-bagian Perjanjian Lama.
Kemudian kira-kira abad X SM tersusunlah teks "Yahwist" dari Pentateuque (Torat) yang merupakan lima fasal pertama. Kemudian orang menambahkan kepada teks tersebut, bagian-bagian yang dinamakan "versi Elohist" dan versi "Sakerdotal".2 Teks Yahwist membicarakan periode permulaan alam sampai matinya Yakob. Teks tersebut berasal dari Kerajaan Selatan (Israel Selatan) atau Yuda.
Pada akhir abad IX dan pertengahan abad VIII SM, dalam Kerajaan Yahudi Utara (Israil)3 telah tersiar pengaruh Elia dan Elisa; yakni dua orang nabi yang kita jumpai tulisannya dalam Perjanjian Lama. Periode teks Elohist lebih singkat daripada teks Yahwist; karena teks Elohist hanya menceritakan kejadian-kejadian tentang Abraham (Ibrahim), Yacob (Ya'kub) dan Yosef (Yusuf).
Kitab (fasal) Yusak dan Hakim-hakim juga berasal dan zaman ini.
Abad VIII SM adalah abad nabi-nabi penulis, yaitu Amos dan Hosea di Israil(Kerajaan Utara) dan Isaiah dan Mikah dalam Kerajaan Selatan (Yuda) Pada tahun 721 SM Kerajaan Samaria mencaplok negara Israil, dan dengan begitu maka Kerajaan Yuda mengambil alih warisan keagamaan. Kumpulan peribahasa tersusun pada periode ini dan menunjukkan campuran antara teks Yahwist dan Elohist. Dengan begitu tersusunlah kitab Taurah. Penyusunan Kitab Ulangan juga terjadi dalam periode ini.
Pemerintahan Yosias dalam pertengahan kedua abad VII SM bersamaan dengan permulaan zaman nabi Jeremia, akan tetapi karangan Jeremia ini baru berbentuk yang definitif satu abad kemudian.
Kenabian- Zefanya, Nahum dan Habakuk terjadi sebelum orang Israil dideportasi (diasingkan) ke Babylon pada takun 598 SM, yakni karena Babylon menang atas Samaria yang mencaplok Israil pada tahun 721 SM. Pada waktu itu Nabi Yehezkiel sudah menyelesaikan tugas kenabiannya.
Deportasi kedua terjadi ketika Yerusalem jatuh pada tahun 587 SM, dan pengasingan itu baru selesai pada tahun 538 SM.
Kitab (fasal) Yehezkiel, seorang nabi Yahudi yang besar pada zaman pengasingan ke Babylon baru dibukukan setelah ia meninggal. Para penulis fasal Yehezkiel tersebut juga menulis versi sakerdotal mengenai Kitab Kejadian, yakni mengenai periode dari waktu Dunia diciptakan oleh Tuhan sampai matinya Ya'kub. Dengan begitu maka di antara teks Yahwist dan teks Elohist telah diselipkan teks ketiga yang perbedaan umurnya adalah empat dan dua abad lebih dahulu. Pada waktu itu sudah terdapat kitab "Nudub" (tangisan) atau Lamentation.
Karena perintah raja Persia, Cyrus yang mengalahkan Babylonia, pengasingan ke Babylon diakhiri pada tahun 538 SM. Orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan mendirikan lagi tempel mereka di kota itu. Nampak pula nabi-nabi baru dan kitab (fasal) baru seperti kitab (fasal) Hagai, Zakarya, Israil, Maleachi, Daniel dan Baruch.
Setelah Bani Israil diasingkan ke Babylon terkumpullah fasal-fasal dalam perjanjian lama sebagai berikut: Amstal Sulaiman (Proverbs) kurang lebih pada tahun 480 SM, fasal Ayub pada pertengahan abad V SM, al Khatib (Ecelesiaste atau chronick), pada abad III SM bersamaan dengan nyanyian (song of Salomon), dua fasal Berita, fasal Esdras, fasal Nehemia; eclesiastique atau seracide baru muncul pada abad II SM, fasal kebijaksanaan Sulaiman, dua fasal Maccabees ditulis pada abad I SM, fasal Ruth Esther, Yunus; Tobias dan Yudit adalah sukar untuk dipastikan abad penulisannya.
Keterangan-keterangan tersebut masih dapat berubah jika ada riset-riset baru, oleh karena Perjanjian Lama seluruhnya baru terkumpul pada abad I SM dan secara definitif, baru pada abad I M
Dengan begitu maka Perjanjian Lama merupakan satu monumen literatur bangsa Yahudi, yang terkumpul sedikit demi sedikit sehingga periode Agama Nasrani.
Kitab-kitab (fasal-fasal) nya telah ditulis, disempurnakan dan ditinjau kembali antara abad X dan abad I SM. Faktor ini bukan sekedar pendapat saya pribadi akan tetapi saya kutip dari Encyclopedia Universalis, cetakan tahun 1974, jilld III halaman 246 - 253, ditulis oleh S.P Sandraz guru besar pada fakultas dominikan di Soulchoir; untuk memahami apakah Perjanjian Lama itu, kita harus ingat hasil-hasil penyelidikan para spesialis yang sangat kompeten.
Suatu wahyu telah tercampur dengan tulisan-tulisan itu, akan tetapi pada waktu ini yang kita miliki hanya hal-hal yang ditinggalkan oleh orang-orang yang telah merubah teks asli menurut situasi dan kondisi yang dihadapi mereka.
Jika kita bandingkan hal-hal obyektif tersebut di atas dengan hal-hal yang tersebut dalam mukaddimah atau kata pengantar bermacam-macam Bibel yang dicetak untuk awam, kita rasakan ada perbedaan. Dalam kata pengantar itu tak disebutkan hal-hal yang mengenai pembukuan Bibel; hal-hal yang samar-samar dan kabur tidak diberi penjelasan sehingga membingungkan pembaca, dan banyak soal-soal yang diperkecil sehingga memberi gambaranyang salah. Dengan begitu maka pengantar-pengantar itu banyak yang merubah kebenaran. Banyak kitab (fasal) yang dirubah beberapa kali; seperti dalam kasus Taurah, tetapi dalam edisi hanya diterangkan, mungkin ada perinci-perinci yang ditambahkan. Kadang-kadang ada pengarang yang mengadakan diskusi tentang sesuatu bagian yang tidak penting, akan tetapi ia melupakan bagian yang sangat penting dan menolak pembahasan yang mendalam. Sungguh menyedihkan jika kita melihat hal-hal yang tidak benar dilakukan oleh orang-orang yang menyiarkan Bibel untuk awam.
Taurah atau Pentateuque
Taurah adalah nama dalam bahasa Semit. Kalimat Yunani yang sekarang dipakai dalam bahasa Perancis adalah Pentateuque yang artinya kitab yang terdiri dari lima bagian: Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, Bilangan dan Ulangan, yaitu lima fasal yang pertama dari 37 fasal yang terdapat dalam Perjanjian Lama.
Kumpulan teks ini membicarakan asal alam, sampai masuknya bangsa Israil di Kana'an, tanah yang dijanjikan sesudah mereka menjadi budak di Mesir; atau lebih tepat lagi sampai wafatnya nabi Musa. Tetapi riwayat kejadian-kejadian sejarah itu dipergunakan sebagai kerangka untuk menerangkan kehidupan keagamaan dan sosial bangsa Yahudi. Dari sinilah nama Hukum atau Taurah.
Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen selama berabad-abad berpendapat bahwa pengarang Taurah (lina bagian pertama daripada Perjanjian Lama) adalah Nabi Musa sendiri. Barangkali pendapat tersebut didasarkan atas ayat (Keluaran 17, 14) yang berbunyi: "Tulislah itu (kekalahan kaum Amalek) dalam Kitab," atau atas ayat (Bilangan 33, 2) tentang keluarnya orang Yahudi dari Mesir yang berbunyi "Musa menerangkan dengan tulisan tempat-tempat mereka berangkat," atau dalam (kitab Ulangan 3, 9) yang berbunyi: "Musa menulis aturan (hukum) ini." Semenjak abad Pertama S.M. banyak orang yang mempertahankan anggapan bahwa seluruh Pentateuque ditulis oleh Nabi Musa, di antara orang-orang itu adalah: Flavius Joseph dan Philon dari Alexandria.
Pada waktu sekarang anggapan seperti tersebut di atas sudah ditinggalkan orang. Tetapi meskipun begitu, Perjanjian Baru masih mempertahankannya. Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Rum (10, 5) mengutip kata-kata orang Levi: "Musa sendiri menulis aturan-aturan yang datang dari Taurah." Yahya, pengarang Injil yang keempat, dalam fasal 5, ayat 46-47meriwayatkan bahwa Yesus berkata: "Jika kamu telah melihat Musa, kamu tentu akan percaya kepadaku karena ia (Musa) telah menulis tentang diriku. Kalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulis oleh Musa,bagaimana kamu dapat percaya kepada apa yang aku katakan?"
Di sini kekeliruan timbul daripada redaksi; teks asli bahasa Yunani adalah "episteute" yang berarti "fasal" dan bukan "menulis." Dengan begitu maka Yahya, penulis Injil ke empat telah memberi keterangan salah yang digambarkan telah diucapkan oleh Yesus.
Saya meminjam bahan-bahan di atas dari R.P. de Vaux, direktur Lembaga Bibel di Yerusalem. Dalam terjemahan "kitab Kejadian" tahun 1962 ia memberi pengantar umum yang memuat argumentasi yang bertentangan dengan keterangan Injil mengenai siapa yang menulis "Pentateuque" (lima fasal pertama dalam Perjanjian Lama).
R.P. de Vaux memperingatkan bahwa tradisi Yahudi yang menjadi pedoman bagi Yesus dan para rasul (sahabat)nya telah diterima sampai akhir abad pertengahan. Pada abad XII, Aben Isra adalah satusatunya orang yang menentang anggapan itu. Pada abad XVI, Carlstadt memperingatkan kita bahwa Nabi Musa tentu tidak dapat menulis berita tentang kematiannya, seperti yang tersebut dalam kitab (fasal) Ulangan 34, 512. Pengarang kemudian menyebutkan kritik-kritik lainnya yang mengatakan bahwa tidak semua Taurah itu karangan Musa; secara khusus disebutkan buku karangan Richard Simon yang berjudul: Histoire Critique du Vieux Testament (Sejarah Kritik tentang Perjanjian Lama) tahun 1678 yang menonjolkan kesulitan-kesulitan kronologis (urutan Sejarah), ulangan-ulangan,tulisan-tulisan yang tak teratur tentang riwayat-riwayat, serta perbedaan-style (tata bahasa) dalam Taurah. Karangan R. Simon tersebut telah menyebabkan heboh, tetapi orang tidak lagi mengikuti argumentasi R. Simon; buku-buku sejarah dari permulaan abad 18 selalu menyebutkan: "Apa yang telah ditulis oleh Musa" untuk menunjukkan sumber yang sangat kuno.
Kita dapat mengerti betapa susahnya menentang suatu dongengan (Legende) yang berdasarkan atas sandaran yang (digambarkan) telah diberikan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru. Kita berhutang budi kepada Yean Astruc, tabib pribadi Raja Louis XV yang telah memberikan argumen yang kuat.
Pada tahun 1753 ia menerbitkan bukunya: Dugaan tentang catatan-catatan asli, yang dipakai oleh Nabi Musa untuk menulis kitab (fasal) Kejadian. Dalam buku itu, ia menitik beratkan adanya bermacam-macam sumber. Ia sudah terang, bukannya orang pertama yang menulis hal ini,akan tetapi ia adalah orang pertama yang berani mengumumkan suatu kenyataan yang sangat penting, yaitu bahwa mengenai kitab: (fasal) Kejadian terdapat dua teks yang berbeda-beda; yang satu menamakan Tuhan dengan kata Yahwe, yang lainnya menyebut Tuhan dengan kata Elohim. Eichhorn (1780-1783) mengungkapkan penemuan yang sama mengenai empat kitab (fasal) lainnya dalam Taurah (Pentateuque). Kemudian pada tahun 1798, Ilgen merasa bahwa satu daripada dua teks yang diselidiki oleh Astruc yaitu teks yang di dalamnya Tuhan dinamakan Elohim, harus dibagi menjadi dua. Dengan begitu maka Pentateuque menjadi benar-benar terpecah-pecah.
Pada abad XIX telah dilakukan penelitian yang telah mantap mengenai sumber-sumber Perjanjian Lama. Pada tahun 1854, orang berpendapat bahwa ada 4 sumber, yaitu: dokumen Yahwist, dokumen Elohist, Deuteronomy, kitab-(fasal) Ulangan dan kode Sakerdotal (hukum para pendeta). Dokumen Yahwist telah ditulis di Kerajaan Yuda pada abad IX S.M. Dokumen Elohist adalah lebih baru, dan ditulis di kerajaan Israil Deuteronomy (Kitab Ulangan) menurut Edmond Yacob ditulis pada abad VIII S.M., dan menurut R.P. de Vaux ditulis pada abad VII S.M. pada zaman Yosias. Dan akhirnya, code Sakerdotal (hukum-hukum pendeta) ditulis pada abad VI S.M., yakni pada zaman pengasingan Israil di Babylon atau sesudahnya.
Dengan begitu maka teks Taurah telah berangsur-angsur tertulis selama sedikitnya tiga abad.
Akan tetapi masalahnya jauh lebih kompleks. Pada tahun 1941, A. Lods mengatakah bahwa document Yahwist mempunyai 3 sumber, dokumen Elohist mempunyai 4 sumber, kitab ulangan mempunyai 6 sumber dan hukum-hukum pendeta mempunyai 9 sumber, di samping tambahan-tambahan yang dibagi-bagi antara 8 penulis, sebagai yang dikatakan oleh R.P. de Vaux.
Kemudian orang mulai berfikir bahwa banyak hukum-hukum dalam Taurah yang sama dengan hukum-hukum lama di luar Bibel, dan banyak riwayat-riwayat dalam Taurah yang memberi kesan berasal dari lingkungan lain yang lebih kuno; dengan demikian maka persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.
Sumber-sumber yang banyak itu menyebabkan perbedaan-perbedaan dan ulangan-ulangan. R.P. de Vaux memberi contoh tentang tercampurnya tradisi yang berbeda- bedamengenai penciptaan alam, anak keturunan Cain (Habil), banjir Nabi Nuh, penculikan Nabi Yusuf, petualangannya di Mesir, perbedaan nama seseorang, penyajian yangberbeda-beda mengenai sesuatu ke}adian.
Dengan begitu maka Taurah (Pentateuque) nampak tersusun daripada tradisi bermacam-macam yang dihimpun secara baik oleh penyusun-penyusunnya, yang kadang-kadang menjajarkan kumpulan mereka dan kadang-kadang merubah kumpulan-kumpulan itu dengan maksud menimbulkan sintesa di antaranya; meskipun dalam melakukan hal terakhir ini mereka tidak menghilangkan perbedaan serta keragu-raguan sehingga hal-hal ini menarik perhatian orang-orang zaman sekarang untuk mengadakan penelitian mengenai sumber-sumber asli.
Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah (Pentateuque) memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacam-macam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi terdahulu.
Taurah bermula pada abad X atau IX S.M. dengan tradisi Yahwist yang menceriterakan permulaan penciptaan alam, kemudian menyusun sejarah bangsa Israil, dan seperti kata R.P de Vaux, menempatkannya dalam rencana Tuhan untuk seluruh kemanusiaan. Akhirnya Taurah terus tersusun pada abad VI S.M dengan tradisi pendeta-pendeta, yang mementingkan tahun dan silsilah keturunan (Genealogi).4
Pernyataan-pernyataan yang sedikit atau jarang yang tetap terdapat dalam tradisi ini, menurut R.P. de Vaux, menunjukkan perhatian besar yang mengenai hukum seperti istirahat pada hari Sabtu setelah menciptakan alam, aliansi dengan Nuh, aliansi dengan Ibrahim, khitan, pembelian gua Makpeh yang memberi hak milik kepada pendeta-pendeta di Kana'an. Kita perlu ingat bahwa tradisi sakerdotal (pendeta-pendeta) muncul setelah bangsa Israil kembali dari pengasingannya di Babylon dan mendiami Palestina mulai tahun 583 S.M. Jadi soal agama dan soal politik tercampur.
Mengenai kitab (fasal) Kejadian, pembagian dalam tiga sumber pokok telah dianggap benar: R.P. de Vaux dalam terjemahannya membawakan teks-teks yang menjadi dasar bagi teks yang ada sekarang dalam fasal Kejadian.
Dengan mendasarkan penyelidikan kepada teks-teks tersebut, siapa saja dapat menunjukkan hubungan antara teks dalam fasal Kejadian dengan teks dalam tiga sumber pokok tersebut di atas. Umpamanya, mengenai yangberhubungan dengan penciptaan alam, dengan banjir dan periode semenjak banjir sampai munculnya Ibrahim, yaitu ceritera dalam 11 bagian yang pertama dalam kitab (fasal) Kejadian, kita dapat menemukan sebagian teks Yahwist dan sebagian lainnya teks Sakerdotal.
Teks Elohist tak terdapat dalam 11 bagian pertama. Percampuran antara teks Yahwist dan Sakerdotal nampak dengan jelas. Adapun yang mengenai penciptaan alam sampai Zaman Nabi Nuh (5 bagian yang pertama), susunannya lebih mudah; satu bagian Yahwist bergantian dengan satu susunan Sakerdotal dari permulaan sampai akhir. Mengenai Banjir, khususnya mengenai bagian 7 dan 8, potongan-potongan teks menurut sumber asli memisahkan beberapa bagian-bagian yang sangat pendek.
Dalam meneliti 100 baris teks Prancis, kita beralih dari satu teks kepada teks yang lain lebih dari 17 kali. Dari sinilah timbulnya perbedaan-perbedaan dan kontradiksi dalam pembacaan Taurah dalam Injil yang ada sekarang. (Lihatlah gambar yang menjelaskan pembagian sumber-sumber di bawah ini).
Perincian Pembagian Teks Yahwist dan Teks Sakerdotal dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian Angka pertama menunjukkan fasal (Bagian).
Angka kedua antara dua kurung menunjukkan nomornya kata-kata (phrase) yang kadang-kadang dibagi menjadi dua bagian, a dan b Huruf Y menunjukkan teks Yahwist.
Huruf S menunjukkan teks Sakerdotal.
Contoh: baris pertama daripada tabel ini menunjukkan bahwa dari fasal (bagian) pertama, kata-kata (phrase) 1sampai bagian 2 kata-kata (phrase) 4a, teks yang ada sekarang dalam Bibel adalah teks Sakerdotal.
Fasal(bagian) Phrase s/d Fasal Phrase Teks
1 (1) 2 (4a) S
2 (4b) 4 (2b) Y
5 (1) 5 (32) S
6 (1) 6 (8) Y
6 (9) 6 (22) S
7 (1) 7 (5) Y
7 (6) ... ... S
7 (7) 7 (10) Y
7 (11) ... ... S
7 (12) ... ... Y
7 (13) 7 (16a) S
7 (16B) 7 (17) Y
7 (18) 7 (21) S
7 (22) 8 (23) Y
7 (24) 8 (2a) S
8 (2b) ... ... Y
8 (3) 8 (5) S
8 (6) 8 (12) Y
8 (13a) ... ... S
8 (13b) ... ... Y
8 (14) 8 (19) S
8 (20) 8 (22) Y
9 (1) 9 (17) S
9 (18) 9 (27) Y
9 (28) 10 (7) S
10 (8) 10 (19) Y
10 (20) 10 (23) S
10 (24) 10 (30) Y
10 (31) 10 (32) S
11 (1) (11) (9) Y
11 (10) 11 (32) S
Ini semua adalah gambaran yang sangat jelas tentang
permainan yang dilakukan oleh manusia mengenai Bibel.
Bagian-bagian Mengenai Sejarah
Dalam
bagian-bagian yang mengenai Sejarah dalam
Bibel, kita dapatkan sejarah bangsa Yahudi semenjak masuk ke daerah
yang dijanjikan (kira-kira pada abad XIII
S.M.) sampai deportasi
(pengasingan) ke Babylon pada abad VI S.M.
Dalam
sejarah itu ditekankan "kejadian
nasional" yang digambarkan sebagai
pelaksanaan janji Tuhan.
Akan tetapi dalam hikayat
ini tak terdapat
ketelitian historis. Suatu fasal
seperti fasal Yusak
hanya mempunyai dasar teologi.
Dalam hal ini,
professor Edmond Yacob mengingatkan kita
tentang adanya kontradiksi yang
jelas antara arkeologi
dan teks Perjanjian Lama
mengenai kerusakan kota Jericho dan Ay.
Kitab (fasal)
Hakim-hakim dimaksudkan untuk mempertahankan bangsa
yang terpilih terhadap musuh-musuh yang
melingkunginya, yakni dengan pertolongan Tuhan Fasal itu
berkali-kali dirubah; hal ini
dijelaskan oleh R.P.A.
Lefevre dalam mukaddimah Bibel Crampon. Kata-kata pengantar yang
bercampur aduk susunannya serta
tambahan-tambahan di belakang, menunjukkan fakta tersebut.
Sejarah Ruth ada hubunganya dengan fasal Hakim-hakim.
Fasal Samuel
dan Fasal Raja-raja
merupakan kumpulan-kumpulan biografik yang menarik bagi
Samuel, Saul, David dan
Salomon Tetapi nilai
sejarahnya disangsikan. Edmond Yacob menemukan di dalamnya banyak kesalahan-kesalahan; kadang-kadang sesuatu
kejadian diriwayatkan dua atau tiga kali. Nabi-nabi Elia, Elisa, Yesaya dalam
bagian itu juga mendapat tempat,
tetapi sejarah mereka tercampur
dengan legenda, walaupun menurut R.P.A. Lefevre nilai
sejarahnya sangat penting.
Bagian pertama
dan kedua dari kitab (fasal) Tawarikh, fasal-fasal Ezra dan Nehemia
ditulis oleh satu
orang yang hidup pada
akhir abad IV S.M. Ia meriwayatkan sejarah dari masa
penciptaan Tuhan sampai waktu
itu, akan tetapi silsilah keturunan (genealogi) hanya sampai nabi Dawud. Ia
mengambil dan menjiplak
dari fasal Samuel dan
fasal Raja-raja dengan tidak memperhatikan kepincangannya; begitulah
kata E. Yacob; akan tetapi ia menambah
hal-hal yang pasti
yang dikuatkan oleh arkeologi. Dalam
fasal-fasal tersebut, sejarah disesuaikan dengan
teologi. Edmond Yacob
berkata: kadang-kadang
pengarang menulis sejarah
bersandar kepada teologi. Umpamanya, untuk menerangkan bahwa Raja Manassi, seorang
yang fasiq dan
menganiaya pemeluk-pemeluk agama
tetapi memerintah lama dan masa pemerintahannya penuh
dengan kemakmuran, pengarang Injil mengatakan
bahwa raja tersebut telah
mengikuti agama Yahudi ketika berada di Assyrie (Tawarikh, fasal dua,
33/11), padahal soal tersebut tak terdapat baik dalam
sumber-sumber Bibel atau di luarnya.
Fasal Ezra
dan Nehemia telah menjadi
sasaran kritik yang banyak
oleh karena fasal
itu penuh dengan kekaburan dan karena fasal-fasal
tersebut menceritakan tentang suatu
periode sejarah yang
sampai sekarang belum terang benar kecuali jika kita pakai dokumen
di luar Bibel, yaitu periode abad IX S.M.
Di antara
fasal-fasal yang mengenai sejarah
terdapat fasal Tobias, Yudith
dan Ester. Dalam
fasal-fasal tersebut terdapat
perubahan-perubahan terhadap sejarah seperti penggantian nama-nama orang, dan
kejadian yang tak pernah
ada; semua itu
untuk sesuatu maksud keagamaan. Fasal-fasal
tersebut lebih merupakan berita-berita yang
bersifat petunjuk-petunjuk moral akan tetapi penuh dengan kekeliruan
sejarah.
Mengenai dua
fasal tentang Maccabee yang membicarakan kejadian-kejadian abad
II S.M., dapat dikatakan bahwa fasal
itu meriwayatkan sejarah
dengan baik dan mempunyai nilai yang besar.
Dengan begitu
maka kesimpulan-kesimpulan
fasal-fasal sejarah: merupakan kumpulan
yang pincang. Sejarah ditulis, sebagian
secara ilmiah dan
sebagian lagi secara khayalan.
Pasal-pasal Mengenai Kenabian
Fasal-fasal Kenabian ini memuat ajaran-ajaran Nabi-nabi yang namanya tersebut dalam Perjanjian Lama terpisah daripada nama-nama Nabi-nabi yang besar dan yang ajarannya dimuat dalam fasal lain seperti fasal nabi Musa, Samuel, Elia dan Elisa.
Fasal-fasal kenabian ini meliputi periode dari abad VIII sampai abad II S.M.
Pada abad VIII S.M., kita dapatkan fasal Amos, Hosea, Yesaya dan Micha. Amos, mashur karena ia telah melakukan kesalahan keagamaan sehingga ia terpaksa menderita dengan badannya, yaitu ketika ia kawin dengan seorang pelacur suci5 dalam agama kafir. Ia menderita sebagaimana Tuhan menderita karena makhlukNya yang tidak rnengikuti petunjukNya, tetapi Tuhan tetap mencintai mereka. Isaiah adalah seorang tokoh politik; ia menguasai kejadian-kejadian karena Raja-raja minta nasehat kepadanya. Ia adalah seorang Nabi besar. Di samping karya pribadinya, petuah-petuahnya disiarkan oleh murid-muridnya sampai abad III S.M., seperti protes terhadap ketidakadilan, takut kepada hukum Tuhan, pengumuman tentang akan adanya pembebasan pada waktu orang Yahudi dalam pengasingan, pengumuman bahwa orang Yahudi akan kembali ke Palestina. Dalam Isaiah II dan III, persoalan kenabian berbarengan dengan persoalan Politik. Ramalan Micha yang hidup pada waktu yang sama dengan Isaiah, bertitik tolak dari idea, yang sama.
Pada abad VII S. M., Zefanya, Jeremia, Nahum, Habakuk menjadi mashur dalam kenabian. Jeremie mati dibunuh.
Petuah-petuahnya dikumpulkan oleh Baruch, mungkin ia adalah pengarang fasal Tangisan (Nudub).
Pengasingan di Babylon pada permulaan abad VI S.M. menyebabkan adanya aktivitas kenabian yang intensif.
Tokoh besarnya adalah Yehezkiel sebagai seorang yang menenteramkan teman-temannya dan memberikan harapan kepada mereka. Fasal Abdias ada hubungannya dengan Yerusalem yang telah jatuh di tangan musuh.
Sesudah pengasingan yang selesai pada tahun 538 S.M., Nabi Hagai dan Zakora enunjukkan aktivitas dalam menganjurkan membina temple kembali. Setelah Temple dibina kembali, kita dapatkan fasal Malaoko yang berisi petuah-petuah spiritual.
Mengapa fasal Yunus dimasukkan dalam fasal Nabi-nabi meskipun Perjanjian Lama tidak menyebutkan teks khusus? Jawabnya, Yunus adalah suatu sejarah yang dapat memberi kesimpulan pokok yaitu: menyerahkan diri kepada Kehendak Tuhan.
Fasal Daniel adalah suatu fasal yang kabur, dan menurut ahli tafsir Kristen, ia merupakan asal yang sulit, tertulis dalam 3 bahasa, yakni Ibrani, Aramean dan Yunani. Fasal Daniel adalah suatu karangan dari abad II S.M, Pengarangnya ingin meyakinkan bangsanya yang hidup dalam zaman kesusahan yang mendalam bahwa saat kebebasan sudah dekat. Ini adalah untuk menjaga keimanan mereka (Edmond Yacob).
Pasal Mengenai Syair dan Hikmah
Fasal-fasal ini merupakan kumpulan tulisan yang mempunyai keseragaman literer yang nyata.
Yang pertama adalah Psaumen (nyanyian) yang merupakan puncak daripada puisi Ibrani. Sebagian terbesar disusun oleh Nabi Dawud, sebagian lagi oleh para pendeta dan orang-orang Lewi. Themanya adalah memuja Tuhan, mendoa (memohon) dan meditasi. Fungsinya adalah liturgi, yakni dibaca waktu sembahyang.
Fasal Job (Ayub) merupakan fasal hikmah dan taqwa; tertulis pada tahun 400 atau 500 S.M.
Fasal Nudub (Tangisan) karena jatuhnya Yerusalem, ditulis pada permulaan abad VI S.M. mungkin ditulis oleh Jeremia.
Kita juga harus menyebutkan fasal Cantiqus des Cantiques (suatu kumpulan nyanyian tentang cinta kepada Tuhan), fasal peribahasa, kumpulan kata-kata Nabi Sulaeman dan orang-orang bijaksana di Istana, Imam (Eclesiast) atau qoheleth dimana orang memperdebatkan antara kebahagiaan dunia dan kebijaksanaan.
Bagaimana kumpulan yang sangat berbeda-beda dari segi isinya, yang fasal-fasalnya ditulis selama paling sedikit 700 tahun, dan mempunyai sumber-sumber yang sangat berbeda, kemudian semua itu dipadukan dan dimasukkan dalam satu buku, bagaimana kumpulan semacam itu dalam beberapa abad dapat merupakan kesatuan yang tak terpisah-pisah dan menjadi Kitab Wahyu Yahudi Kristen (dengan sedikit perbedaan-perbedaan menurut kelompok) dan menjadi hukum (Kanon) yakni suatu kalimat Yunani yang mengandung arti (tidak boleh disentuh).
Pengumpulan bahan-bahan Perjanjian Lama tidak terjadi pada zaman Kristen, akan tetapi masih dalam zaman Yahudi, dan dimulai secara pasti pada abad VII S.M. Fasal-fasal lainnya dimuat sesudah fasal-fasal pertama. Tetapi perlu kita ingat bahwa 5 fasal pertama yang merupakan Taurah (Pentateuk) selalu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada fasal-fasal lain. Kemudian orang menambah fasal-fasal Taurah itu dengan Pengumuman-pengumuman para Nabi (siksaan Tuhan bagi orang yang berdosa), serta janji-janji mereka, karena Taurah sudah merupakan fasal-fasal yang diterima rakyat pada abad II S.M., Kanon para Nabi sudah jadi.
Fasal-fasal lain seperti nyanyian Nabi Dawud yang dipakai untuk sembahyang, ditambahkan pula bersama dengan fasal Tangisan dan hikmat Suleman atau Ayub.
Agama Kristen, atau lebih tepat pada permulaannya, agama Yahudi Kristen, sebagai yang akan kita lihat nanti, yaitu agama yang telah banyak dipelajari oleh sarjana-sarjana modern seperti Kardinal Danielou, agama Kristen sebelum mengalami perubahan-perubahan pokok yang disebabkan oleh pengaruh Paulus, telah menerima warisan Perjanjian Lama. Para pengarang Injil sangat tertarik kepada Perjanjian Lama.
Akan tetapi jika kita melakukan pembersihan-pembersihan terhadap Injil empat dengan menghilangkan hal-hal yang apokrif (yang misterius, tidak benar, tidak autentik), kita tidak perlu melakukan hal yang sama untuk Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa kita menerima seluruh atau hampir seluruh isi Perjanjian Lama.
Siapakah yang berani mempersoalkan sesuatu mengenai kumpulan-kumpulan yang pincang ini sampai akhir abadPertengahan, sedikitnya di Barat? Tak ada atau hampir tak ada. Mulai akhir abad Pertengahan sampai permulaan abad modern telah timbul beberapa kritik. Kita sudah membaca sebagian kritik tersebut pada permulaan bukuini, akan tetapi gereja-gereja selalu dapat memaksakan kekuasaannya . Suatu kritik autentik mengenai teks memang sudah ada sekarang, akan tetapi jika para pendeta-pendeta spesialis dapat mempergunakan pikiran lebih banyak untuk menyelidiki perincian-perincian dari bermacan-macam persoalan, mereka kemudian berpendapat bahwa lebih baik jangan masuk terlalu jauh kedalam "hal-hal yang sukar." Nampaknya mereka itu tidakmenyelidiki "hal-hal yang sukar itu" dengan sinarpengetahuan modern. Jika kita mau mengadakan perbandingan dalam sejarah, apalagi kalau terdapat persesuaian antara mereka dan Bibel, maka sebetulnya mereka itu belum berhasrat sungguh-sungguh untuk melakukan perbandingan yang mendalam dan blak-blakan dengan idea-idea ilmiah yang mereka rasakan akan menyanggah idea-idea tentang kebenaran isi Injil yang sampai waktu ini tidak pernah dibantah.
Perjanjian Lama dan Sains
SEKEDAR
MENGEMUKAKAN FAKTA
Hanya
sedikit hal-hal yang tersebut dalam
Perjanjian Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru yang menimbulkan konfrontasi dengan
pengetahuan modern. Tetapi
jika terdapat hal-hal yang
tidak sesuai antara teks Bibel dengan Sains, maka soalnya menjadi sangat
penting.
Dalam
bab-bab yang terdahulu,
kita telah menemukan dalam Bibel kesalahan-kesalahan sejarah dan kita
telah menyebutkan beberapa masalah yang
telah d ibicarakan oleh ahli tafsir Yahudi dan Kristen. Ahli-ahli
Kristen condong untuk mengecilkan
persoalannya. Mereka berpendapat bahwa adalah normal jika seorang pengarang buku agama
menyajikan fakta-fakta sejarah
dengan menghubungkannya dengan
teologi, menulis sejarah untuk keperluan agama. Kita akan melihat dalam
Injil Matius, sikap yang
bebas terhadap sesuatu kenyataan, dan kita dapatkan tafsiran-tafsiran yang
tujuannya untuk menjadikan yang
tidak benar menjadi
benar; suatu pikiran yang
obyektif dan logis tidak akan merasa
puas dengan cara yang demikian.
Dengan memakai
logika, orang dapat menunjukkan banyak kontradiksi dan
kekeliruan dalam Bibel.
Adanya sumber-sumber yang berlainan telah menyebabkan adanya versi yang
berlainan mengenai sesuatu hikayat. Tetapi di
samping itu kita dapatkan bermacam-macam perubahan, bermacam-macam tambahan.
Pada mulanya tambahan
itu sebagai tafsiran, tetapi
kemudian naskah asli
dan tafsiran disalin lagi dan semua isinya dianggap
asli.
Semua ini
sudah diketahui oleh ahli-ahli kritik teks, dan mereka kemukakan secara
jujur.
Mengenai
Taurah, R.P. de Vaux dalam bukunya:
Pengantar Umum
(Introduction Generale) yang
ditulis sebelum menterjemahkan
Taurah telah menunjukka n bermacam-macam
kepincangan yang tak
perlu lagi saya ulangi di sini karena banyak
lagi yang akan
saya sebutkan dalam penyelidikan ini.
Kesimpulan dari semu a
itu adalah bahwa kita tidak boleh memahami teks-teks Taurah secara harafiah.
Di bawah ini
adalah suatu oontoh yang menarik:
Dalam Kitab
Kejadian (6, 3) Tuhan memutuskan, sebelum Banjir Nabi Nuh, untuk
membatasi umur manusia, paling panjang hanya
120 tahun. "Hidupnya tidak akan lebih dari 120
tahun." Tetapi kemudian, dalam Kitab
Kejadian(II, 10-32) kita dapatkan bahwa sepuluh orang keturunan Nabi Nuh
hidup sampai umur antara 148 dan
600 tahun (lihatlah tabel
mengenai anak turunan Nabi Nuh sampai Abraham). Kontradiksi
antara dua kalimat
tersebut adalah menyolok. Tetapi adalah mudah untuk menerangkan.
Kalimat pertama
(Kitab Kejadian 6,3)
adalah teks Yahwist, yang
sebagai kita telah
membicarakannya, dibuat pada abad X S.M. Sedangkan kalimat kedua (Kitab Kejadian II,
10-32) merupakan teks
yang lebih muda (abad VI S.M.)
dari tradisi pendeta-pendeta (Sakerdotal) yang
merupakan dasar dari
silsilah keturunan (genealogi)
yang memberi gambaran
tentang lamanya hidup seseorang
secara tepat tetapi ternyatatidak benar dalam keseluruhannya.
Kontradiksi
dengan Sains modern terdapat dalam
Kitab Kejadian, yaitu mengenai tiga persoalan:
1).
Penciptaan alam dan tahap-tahapnya.
2). Waktu
penciptaan alam dan waktu timbulnya manusia di atas bumi.
3). Riwayat
banjir Nuh.
Penciptaan
Alam
Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux, Kitab Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan alam. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki kedua riwayat itu secara terpisah untuk mengetahui kesesuaiannya dengan penyeilidikan-penyelidikan ilmiah.
RIWAYAT PERTAMA
Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat pertama dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat menonjol tentang ketidaktepatan ilmiah. Kita perlu melakukan kritik sebaris demi sebaris. Teks yang kita muat di sini adalah teks menurut terjemahan Lembaga Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).
Fasal 1, ayat 1 dan 2,
1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi.
2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah melayang-layang diatas muka air itu."
Kita dapat menerima bahwa pada tahap bumi belum diciptakan, apa yang kemudian menjadi alam yang kita ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan, akan tetapi tersebutnya adanya air pada periode tersebut hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin sekali ini adalah terjemahan suatu mitos. Kita akan melihat dalam bagian ketiga dari buku ini bahwa pada tahap permulaan dari terciptanya alam yang terdapat adalah gas. Maka disebutkannya air di situ adalah suatu kekeliruan.
Ayat 3 sampai 5
3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu terangpun jadilah.
4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya, lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap.
5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang pertama."
Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi kompleks yang terjadi pada bintang-bintang. Hal ini akan kita bicarakan pada bagian ketiga daripada buku ini. Pada tahap penciptaan alam yang kita bicarakan sekarang, menurut Bibel, bintang-bintang belum diciptakan, karena sinar di langit baru disebutkan dalam ayat 14 dari Kitab Kejadian, yaitu sebagai ciptaan pada hari keempat, untuk "memisahkan siang daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini semua betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek (sinar) pada hari pertama, dengan menempatkan penciptaan benda yang menyebabkan sinar (bintang-bintang) tiga hari sesudah itu. Lagipula menempatkan malam dan pagi pada hari pertama adalah alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan pagi sebagai unsur hari tak dapat digambarkan kecualisesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah sinar planetnya yaitu matahari.
Ayat 6 sampai 8
6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.
7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.
8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua."
Mitos air diteruskan dalam ayat-ayat tersebut dengan memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah langit. Dalam riwayat Banjir Nabi Nuh, langit membiarkan air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua kelompok tak dapat diterima secara ilmiah.
Ayat 9 sampai 13
9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.
10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat, dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut; maka dilihat Allah itu baiklah adanya.
11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di atas bumi itu; maka jadilah demikian.
12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya; maka dilihat Allah itu baiklah adanya
13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ketiga."
Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah bumi, ketika bumi ini masih tertutup dengan air,terjadi bahwa daratan-daratan mulai muncul, adalah suatu hal yang dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa pohon yang mengandung biji-biji bermunculan sebelum terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa siang dan malam silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.
Ayat 14 sampai 19
14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa dan hari dari tahun.
15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah demikian.
16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang besar itu, yaitu terang yang besar itu akan memerintahkan siang dan terang yang kecil akan memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.
17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit akan memberi terang di atas bumi.
18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah itu baik adanya.
19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke empat."
Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang Injil dapat diterima. Satu-satunya kritik yang dapat kita lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi dan bulan telah memisahkan diri daripada matahari; menempatkan penciptaan matahari dan bulan sesudah penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang sudah disetujui secara pasti dalam ilmu pengetahuan mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.
Ayat 20 sampai 23
20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di atas bumi dalam bentangan langit.
21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baik adanya.
22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun bertambah-tambah di atas bumi.
23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang kelima."
Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal yang tak dapat diterimaTimbulnya binatang-binatang, menurut Kitab Kejadian, bermula dengan binatang-binatang laut dan burung-burung. Menurut Bibel, adalah pada hari keesokannya bahwa bumi dihuni oleh binatang-binatang (kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);
Sudah terang bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita akan membicarakan hal tersebut pada bagian ketiga daripada buku ini. Setelah adanya kehidupan di laut, daratan dihuni oleh binatang-binatang. Di antara binatang-binatang yang hidup diatas bumi, ada suatu jenis reptil (binatang melata) yang dinamakan pseudo suchiens yang hidup pada periode kedua dan yang dikirakan menjadi asal burung-burung. Beberapa sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan ini. Tetapi binatang-binatang darat tidak disebutkan
oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah munculnya burung-burung, oleh karena itu maka urutan munculnya binatang darat dan burung-burung tak dapat diterima.
Ayat 24 sampai 31
24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.
25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baiklah adanya.
26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.
27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.
28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia, dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang menjalar di atas bumi.
29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.
30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah demikian.
31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke enam."
Ini adalah gambaran selesainya penciptaan alam. Dalam gambaran itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang hidup yang tidak disebutkan sebelumnya, dan mengingatkan kepada bahan makanan yang bermacam-macam yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.
Kesalahannya, sebagai yang telah kita lihat, adalah dalam menempatkan munculnya binatang-binatang darat sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas bumi di tempatkan secara benar sesudah munculnya makhluk-makhluk hidup yang lain.
Riwayat penciptaan alam selesai dengan tiga ayat pertama dari fasal II.
1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya.
2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.
3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan menyempurnakan dia.
4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi. "
Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:
Pertama mengenai arti kata-kata. Teks tersebut adalah terjemahan dari Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya." Perkataan terakhir dalam bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al Kitab Yerusalem berbunyi "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan segala bala tentaranya.
Ayat kedua mengandung kata, berhentilah ia daripada pekerjaannya. Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah, sebagai terjemahan Ibrani "chabbat." Dan sampai hari ini, hari Sabtu merupakan hari istirahat bagi orang Yahudi.
Sudah terang bahwa "istirahat" yang dilakukan Tuhan setelah bekerja keras selama enam hari adalah suatu legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya. Kita harus ingat bahwa riwayat penciptaan Tuhan yang kita bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau tradisi pendeta-pendeta, yakni tradisi yang ditulis oleh para pendeta atau juru tulis yang merupakan pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada waktu pengasingan di Babylon, pada abad VI SM. Kita mengetahui bahwa para pendeta mengolah versi Yahwist dan Elohist daripada Kitab Kejadian, menyusunnya menurut selera mereka, dan menurut adat kebiasaan mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan oleh R.P. de Vaux. Kita telah membicarakan segi ini pada lain tempat.
Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah lebih tua beberapa abad daripada teks Sakerdotal, dan tidak menyebutkan bahwa Tuhan beristirahat setelah bekerja keras enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks Sakerdotal. Penulis teks Sakerdotal membagi waktu penciptaan alam dalam hari-hari yang disamakan dengan hari-hari seminggu yang biasa serta menekankan istirahat hari Sabtu yang mereka rasa harus dipertahankan kepada pengikut-pengikut mereka dengan mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini, maka riwayat penciptaan alam disajikan dengan logika keagamaan yang semu, yang hasil-hasil penyelidikan ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.
Menyelipkan hari ke tujuh (daripada hari-hari satu minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti yang dilakukan oleh pengarang sumber Sakerdotal, tak dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang, semua orang tahu bahwa terciptanya alam, termasuk di dalamnya bumi tempat hidup kita telah terjadi dalam tahap waktu yang sangat panjang, yang penyelidikan ilmiah belum dapat memastikan walaupun secara "kurang lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga daripada buku ini, yakni pada waktu kita membicarakan tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.
Seandainya riwayat penciptaan alam selesai pada malam hari yang ke 6, dan tidak menyebutkan hari ke tujuh atau Sabat waktu Tuhan beristirahat, atau seandainya kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai enam periode seperti yang tersebut dalam Al Qur-an, riwayat Sakerdotal tetap tak dapat diterima karena urutan periode-periode tersebut sangat kontradiksi dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.
Dengan begitu maka riwayat Sakerdotal merupakan konstruksi imaginatif yang lihayt yang mempunyai suatu tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu kebenaran.
Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap riwayat pertama.
Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad. Riwayat ini pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan manusia dan surga dunia di samping membicarakan penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.
Beginilah bunyinya:
Fasal 2, 4b-7
4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi.
5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum ada orang akan membelakan tanah itu.
6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan segala tanah itu.
7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa yang hidup adanya."
Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong, dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno daripada Bibel mengenai penciptaan alam.
Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang telah dirupakannya itu." Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.
Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.
Mengulas kefiktifan redaksi Perjanjian Lama dalam menceritakan penciptaan dunia oleh Tuhan.
Kesalahan Perjanjian Lama dalam menceritakan
TAHUN PENCIPTAAN ALAM DAN TAHUN MUNCULNYA MANUSIA DI ATAS BUMI
Menurut bahan-bahan yang terdapat dalam Perjanjian Lama, kalender Yahudi menempatkan tahun-tahun itu secara pasti. Pertengahan kedua daripada tahun 1975, sama dengan permulaan tahun yang ke 5736 daripada penciptaan alam. Manusia yang diciptakan Tuhan beberapa hari sesudah terciptanya alam, mempunyai usia yang sama, menurut kalender Yahudi.
Tentu saja tahun tersebut perlu dikoreksi, karena tahun Yahudi dihitung menurut gerak bulan sedangkan kalender Barat didasarkan atas tahun matahari, akan tetapi koreksi sebanyak 3% agar menjadi tepat, tidak ada artinya. Untuk tidak meruwetkan perhitungan, lebih baik tidak melakukan koreksi itu. Yang penting di sini adalah soal kebenaran, maka tidak penting jika masa berjuta tahun itu berselisih 30 tahun untuk lebih dekat kepada kebenaran, marilah kita katakan bahwa menurut perhitungan Yahudi, terciptanya alam terjadi pada abad XXXVII SM.
Apakah yang diajukan kepada kita oleh Sains modern? Sukarlah kiranya untuk menjawab pertanyaan yang mengenai terbentuknya alam; yang dapat kita katakan adalah waktu terbentuknya sistem matahari (solair). karena ini dapat kita kira-kirakan dengan cara yang memuaskan. Orang memperkirakan bahwa antara waktu terciptanya alam dan waktu sekarang, kirakira 4.5 milliard tahun. Dengan begitu dapat kita ukur perbedaan antara kebenaran yang sudah ditetapkan oleh ilmu pengetahuan (dan yang akan kita bicarakan secara panjang dalam bagian ketiga dari buku ini) dan hal-hal yang dibicarakan oleh Perjanjian Lama. Hal-hal terakhir ini adalah hasil dari penyelidikan yang teliti terhadap teks Bibel. Kitab Kejadian memberi keterangan yang persis mengenai perbedaan waktu antara Adam dan Ibrahim. Daftar tahun antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber lain.
A. Dari Adam sampai Ibrahim.
B. Kitab Kejadian dalam fasal 4, 5, 11, 21, dan 25 memberi
C. silsilah nenek moyang Ibrahim sampai Nabi Adam dalam
D. garis lurus, secara sangat teliti. Dengan menyebutkan
E. umur masing-masing, umur bapak ketika anaknya lahir,
F. daftar itu memudahkan kita untuk menemukan tahun
G. kelahiran dan kematian tiap-tiap orang tua, sampai
H. kepada Adam, seperti tertera dalam daftar di bawah ini.
I.
J. SILSILAH NABI ADAM
K.
L. No. Nama Tahun kelahiran Lama Tahun kematian
M. sesudah tercipta hidup sesudah
N. Adam (tahun) terciptanya Adam
O.
P. 1. Adam 000 930 930
Q. 2. Seth 130 912 1042
R. 3. Enokh 235 905 1140
S. 4. Kenan 325 910 1235
T. 5. Mahaleel 395 895 1290
U. 6. Jered 460 962 1422
V. 7. Henoe 622 365 987
W. 8. Meluschelach 687 969 1656
X. 9. Lemek 876 777 1653
Y. 10. Noch 1056 950 2006
Z. 11. Sem 1556 600 2156
AA. 12. Arpasehad 1658 438 2096
BB. 13. Sehelach 1693 433 2126
CC. 14. Heber 1723 464 2187
DD. 15. Peleg 1757 239 1996
EE.16. Rehu 1787 239 2026
FF. 17. Serug 1819 230 2049
GG. 18. Nakhar 1849 148 1997
HH. 19. Terah 1878 205 2083
II. 20. Ibrahim 1948 175 2123
JJ.
KK.
LL.Daftar ini disusun menurut keterangan yang berasal dari
MM. teks Sakerdotal daripada Kitab Kejadian. Teks tersebut
NN. adalah satu-satunya teks yang memberi kepastian. Kita
OO. dapat mengambil kesimpulan dari teks tersebut bahwa
PP. Nabi Ibrahim, menurut Bibel, dilahirkan pada tahun 1948
QQ. sesudah Nabi Adam.
B. Dari Nabi Ibrahim Sampai Nabi Isa
Untuk periode tersebut, Bibel tidak memberi keterangan angka-angka yang dapat menyampaikan kita kepada evaluasi tepat sebagaimana kita mendapat keterangan mengenai nenek moyang Nabi Ibrahim dari Kitab Kejadian.
Untuk mengukur waktu yang memisahkan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa, kita harus mencari bantuan dan sumber lain.
Pada waktu ini orang menempatkan Nabi Ibrahim kurang lebih 18 abad S.M. Hal ini jika digabungkan dengan keterangan Kitab Kejadian mengenai perbedaan waktu antara Nabi Ibrahim dan Nabi Adam, akan memberi hasil bahwa Adam hidup 38 abad sebelum Nabi Isa. Perhitungan ini sudah terang salah. Kesalahannya disebabkan oleh perhitungan Bibel mengenai waktu antara Adam dan Ibrahim, yaitu perhitungan yang dijadikan dasar untuk membikin kalender Yahudi. Pada waktu ini kita dapat membantah mereka yang mempertahankan kebenaran Bibel dengan menunjukkan kepincangan antara ilmu pengetahuan modern dengan perkiraan khayalan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Yahudi abad VI S.M.; selama berabad-abad perkiraan pendeta tersebut selalu menjadi dasar hubungan antara zaman sejarah kuno dengan Nabi Isa.
Bibel yang diterbitkan sebelum zaman modern menyajikan kronologi kejadian-kejadian yang terjadi semenjak penciptaan alam sampai waktu Bibel tersebut dicetak.
Kronologi tersebut biasanya dimuat dalam suatu kata pengantar yang mengandung angka-angka yang sedikit berlain-lainan menurut waktu pencetakan Bibel tersebut.
Sebagai contoh, Vulgate Clement (tahun 1621) menempatkan Ibrahim pada waktu yang lebih kuno dan menempatkan penciptaan alam pada abad XL SM. Bibel Walton yang dicetak pada abad XVII menyajikan kepada pembacanya, suatu tabel yang mirip dengan tabel nenek moyang Nabi Ibrahim, sebagai tambahan kepada teks dalam beberapa bahasa; pada umumnya perkiraannya sesuai dengan angka-angka yang tersebut dalam tabel yang kita muat.
Pada zaman modern, orang tidak lagi dapat mempertahankan kronologi khayalan yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern yang telah dapat membuktikan bahwa penciptaan alam telah terjadi pada waktu yang sangat jauh lebih dahulu. Tetapi orang merasa puas hanya dengan menghilangkan kata pengantar dan tabel, dan tidak berani mengatakan kepada para pembaca tentang kelemahan teks Bibel yang dijadikan dasar untuk membuat tabel, sehingga teks Bibel tak dapat dianggap mengatakan kebenaran. Orang lebih suka memasang tabir, dan mencari cara untuk berdebat secara halus agar teks Bibel tersebut dapat diterima tanpa dikurangi.
Karena inilah maka silsilah keturunan (genealogi) teks Sakerdotal sampai sekarang masih dihormati orang, meskipun orang pada abad XX ini tak dapat lagi menerima dasar-dasar khayalan.
Mengenai tahun munculnya manusia di atas bumi, hasil pengetahuan modern baru dapat memberi penjelasan sampai batas tertentu. Kita dapat merasa yakin bahwa manusia telah ada di atas bumi ini, dengan kekuatan berfikirnya dan kekuatan bertindaknya, dua kekuatan yang membedakannya daripada binatang-binatang yang bentuknya hampir serupa manusia, yaitu dalam waktu yang lebih mutakhir pada periode yang dapat diperkirakan, tetapi tidak dengan kepastian yang mutlak.
Orang sudah dapat mengatakan sekarang bahwa bekas-bekas manusia yang berfikir dan bertindak telah ditemukan, dan umur bekas-bekas itu dapat diukur dengan jarak puluhan ribu tahun.
Penetapan perkiraan waktu ini ada hubungannya dengan type manusia prasejarah yang telah diungkapkan sebagai yang paling baru, seperti manusia neo-Anthropien (cromagnon). Memang ada bekas-bekas lain tentang manusia telah diungkapkan di beberapa tempat, yaitu mengenai manusia yang kurang berevolusi (paleo Anthropies) yang diperkirakan umurnya sudah ratusan ribu tahun. Tapi apakah mereka itu betul manusia?
Bagaimanapun juga, bukti-bukti ilmiah adalah pasti, mengenai neo-Anthropien, mereka adalah sebelum zaman manusia pertama yang dilukiskan oleh Kitab Kejadian.
Dengan begitu maka terdapat kepincangan antara angka-angka yang tersebut dalam Kitab Kejadian mengenai munculnya manusia di atas bumi dengan pengetahuan
ilmiah yang sudah pasti di waktu ini.
C. Banjir Nabi Nuh
Fasal 6, 7 dan 8 daripada Kitab Kejadian dipergunakan untuk meriwayatkan banjir untuk lebih tepat, saya katakan bahwa ada dua riwayat yang tidak ditulis satu di samping lainnya, akan tetapi terpisah dengan kalimat-kalimat yang memberi kesan seperti adanya kesinambungan antara berbagai-bagai dongeng. Akan tetapi sesungguhnya dalam tiga fasal tersebut terdapat kontradiksi yang menyolok. Kontradiksi tersebut dapat diterangkan dengan adanya dua sumber yang berlainan, yaitu sumber Yahwist dan sumber Sakerdotal.
Kita telah melihat sebelum ini bahwa dua sumber tersebut membentuk suatu campuran yang pincang. Tiap teks asli dipotong-potong dalam paragraf-paragraf dan kalimat-kalimat, dengan unsur daripada satu sumber berseling dengan unsur-unsur dari sumber yang lain,sehingga dalam teks Perancis, orang melompat dari satu sumber ke sumber yang lain tujuh belas kali, sepanjang hanya seratus baris.
Secara keseluruhan, hikayat banjir adalah sebagai berikut:
Karena maksiat manusia sudah sangat umum, Tuhan memutuskan untuk memusnahkan manusia danmakhluk-makhluk hidup lainnya, Tuhan memberi tahu Nabi Nuh dan memerintahnya untuk membikin perahu, serta membawa muatan yang terdiri dari isterinya, tiga orang anaknya dengan isteri-isteri mereka, serta beberapa makhluk hidup lain. Mengenai makhluk-makhluk hidup ini, dua sumber berbeda. Satu riwayat yang berasal dari sumber Sakerdotal mengatakan Nuh membawa satu pasang dari tiap jenis. Kemudian dalam kata-kata berikutnya (berasal dan sumber Yahwist) dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan mengambil 7 dari tiap-tiap jenis jantan dan betina dari jenis yang suci, dan hanya satu pasang dari jenis yang tidak suci.
Akan tetapi lebih lanjut lagi, dikatakan bahwa Nuh hanya membawa dalam perahu itu satu pasang daripada tiap jenis. Ahli-ahli Perjanjian Lama seperti R.P. de Vaux mengatakan bahwa teks semacam itu merupakan teks Yahwist yang sudah dirubah.
Satu paragraf (dari sumber Yahwist) mengatakan bahwa sebab banjir adalah air hujan, sedang paragraf lain (dari sumber Sakerdotal) mengatakan bahwa sebab banjir adalah dua yaitu air hujan dan sumber-sumber dari tanah.
Seluruh bumi telah tenggelam sampai diatas puncak gunung. Segala kehidupan musnah. Setelah satu tahun, Nabi Nuh keluar dari perahunya yang telah berada diatas puncak gunung Ararat setelah air bah menurun.
Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40 hari sedang sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari.
Sumber Yahwist tidak memastikan pada umur berapa banjir itu dialami oleh Nabi Nuh, tetapi sumber Sakerdotalmengatakan bahwa banjir itu terjadi waktu Nabi Nuh berumur 600 tahun.
Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun terjadinya banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik dari segi Nabi Adam maupun dari segi Nabi Ibrahim. Oleh karena menurut perhitungan yang dilakukan atas dasarKitab Kejadian, Nabi Nuh dilahirkan 1056 tahun sesudah Nabi Adam (silahkan lihat tabel nenek moyang dari Ibrahim) maka banjir telah terjadi 1656 tahun sesudah lahirnya Nabi Adam. Akan tetapi dilihat dari segi Nabi Ibrahim, Kitab Kejadian menempatkan terjadinya banjir pada 292 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim tersebut.
Menurut Kitab Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis manusia dengan seluruh makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah dibangun kembali, dimulai dengan tiga orang putra Nuh dan isteri-isteri mereka, sedemikian rupa bahwa tiga abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan Nabi Ibrahim mendapatkan jenis manusia sudah pulih kembali dalam kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana dalam waktu yang singkat, jenis manusia dapat pulih kembali? Soal ini telah menghilangkan kepercayaan kepada riwayat banjir tersebut.
Di samping itu, bukti-bukti sejarah menunjukkan ketidakserasian riwayat tersebut dengan ilmu pengetahuan modern. Sekarang ini ahli sejarah menempatkan Nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM. Jika banjir telah terjadi 3 abad sebelum Nabi Ibrahim seperti yang diterangkan oleh Kitab Kejadian dalam silsilah keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir telah terjadi pada abad XXI atau XXII SM. Pada waktu itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini sudah bermunculan bermacam-inacam peradaban yang bekas-bekasnya telah sampai kepada kita. Waktu itu, bagi Mesir merupakan periode sebelum Kerajaan Pertengahan (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum dinasti ke sebelas. Waktu itu, adalah periode dinasti ketiga di kota Ur atau Babylon. Kita tahu dengan pasti bahwa tak ada keterputusan dalam kebudayaan, jadi tak ada pemusnahan jenis manusia seperti dikehendaki oleh Bibel.
Oleh karena itu maka kita tak dapat memandang tiga riwayat Bibel sebagai menggambarkan kejadian-kejadian yang sesuai dengan kebenaran. Jika kita ingin bersikap obyektif kita harus mengakui bahwa teks-teks yang kita hadapi tidak merupakan pernyataan kebenaran. Mungkinkah Tuhan memberikan sebagai wahyu kecuali hal-hal yang benar? Kita tak dapat menggambarkan Tuhan yang memberi pelajaran kepada manusia dengan perantaraan khayal dan khayal yang kontradiksi. Dengan begitu maka kita terpaksa membentuk hipotesa bahwa Bibel adalah tradisi yang secara lisan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi yang lain, atau hipotesa bahwa Bibel adalah suatu teks dari tradisi-tradisi yang sudah tetap. Jika seseorang mengatakan bahwa suatu karya seperti Kitab Kejadian telah dirubah-rubah sedikitnya dua kali selama tiga abad, maka tidak mengherankan jika kita mendapatkan didalamnya kekeliruan-kekeliruan atau riwayat yang tidak sesuai dengan hal-hal yang telah diungkapkan oleh kemajuan pengetahuan manusia, yaitu kemajuan yang jika tidak memberi ilmu tentang segala sesuatu, sedikitnya kemajuan yang memungkinkan seseorang mendapat pengetahuan yang cukup untuk menilai keserasian dengan riwayat-riwayat kuno. Tidak ada yang lebih logis daripada berpegangan bahwa interpretasi kesalahan teks-teks Bibel itu hanya menyangkut manusia.
Sangat disayangkan, bahwa interpretasi semacam ini tidak diakui oleh kebanyakan ahli tafsir Bibel, baik orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi walaupun begitu argumentasi mereka perlu kita perhatikan.
Penelitian yang kritis
IV. SIKAP PENGARANG PENGARANG KRISTEN TERHADAP KESALAHAN ILMIAH DARI TEKS BIBEL
PENELITIAN MEREKA YANG KRITIS
Kita merasa heran karena reaksi yang berbeda-beda yang ditunjukkan oleh ahli tafsir Kristen terhtadap kumpulan kesalahan-kesalahan, kekeliruan dan kontradiksi ini. Di antara mereka ada yang mengakui sebagian kesalahan-kesalahan tersebut dan tidak segan-segan membicarakan soal-soal yang rumit itu dalam karangan-karangan mereka. Ada golongan lain yang secara lihai menghindari hal-hal yang tak dapat dipertahankan, tetap mempertahankan kemurnian Bibel kata demi kata serta berusaha meyakinkan orang lain dengan keterangan-keterangan yang bersifat apologetik dengan memakai argumentasi yang tak terduga, dan dengan begitu mengharap orang lain akan melupakan soal-soal yang ditolak oleh logika.
R. P. de Vaux, dalam pengantar terjemahan Kitab Kejadian mengakui adanya kritik-kritik dan mengakui pula kebenaran kritik-kritik tersebut, akan tetapi, baginya, tidaklah penting untuk mengadakan penyusunan baru terhadap kejadian-kejadian pada masa yang lampau. Ia menulis dalam catatan-catatannya: bahwa Bibel menyebutkan kenangan sesuatu atau beberapa banjir yang dahsyat di lembah Tigris atau Euphrate, yaitu banjir-banjir yang dibesar-besarkan dalam tradisi sehingga menjadi suatu bencana dunia, adalah tidak penting; yang penting adalah bahwa pengarang Kitab Kejadian telah mengisi kenangan itu dengan ajaran abadi mengenai keadilan dalam rahmat Tuhan, serta kejahatan manusia, dan keselamatan bagi orang yang benar.
Dengan begitu maka untuk merubah suatu legenda rakyat menjadi suatu kejadian suci yang perlu diyakini oleh umat beragama, adalah suatu tindakan yang dapat dibenarkan selama pengarang memakainya untuk contoh dalam pelajaran agama. Sikap apologetik semacam itu akan membenarkan segala macam penyalahgunaan tulisan-tulisan yang dianggap suci dan mengandung sabda Tuhan. Membenarkan campur tangan manusia dalam hal-hal yang suci berarti menutupi segala perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia terhadap teks Bibel. Jika terdapat suatu maksud teologik maka segala perubahan dibolehkan, dan dengan begitu maka orang membenarkan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pengarang-pengarang Sakerdotal (pendeta-pendeta) pada abad VI serta kesibukan-kesibukan legalistis yang akhirnya menghasilkan riwayat-riwayat khayalan yang sudah kita lihat.
Ada kelompok yang tidak kecil daripada ahli-ahli tafsir Kristen yang merasa bangga untuk menerangkan kekeliruan, kesalahan dan kontradiksi yang terdapat dalam Bibel dengan mengemukakan alasan bahwa para pengarang Bibel terpengaruh oleh faktor-faktor sosial daripada peradaban atau mental yang berbeda dengan peradaban dan mental sekarang; ini berarti bahwa persoalan kekeliruan dan kontradiksi tersebut berakhir dan menjelma menjadi suatu jenis yang khusus daripada kesusasteraan. Penggunaan istilah "suatu jenis yang khusus daripada kesusasteraan" ini dalam perdebatan yang rumit di antara para ahli tafsir Bibel telah dapat menutupi segala kesulitan. Tiap kontradiksi antara dua teks dapat dijelaskan dengan: perbedaan cara ekspresi daripada tiap pengarang, khususnya perbedaan gaya sastranya. Sudah tentu argumentasi seperti ini tidak dapat diterima oleh semua orang, karena argumentasi tersebut tidak serius. Tetapi argumentasi tersebut masih ada orang yang memakainya sekarang, dan dalam membicarakan Perjanjian Baru, kita akan melihat orang-orang menafsirkan kontradiksi yang ada didalamnya dengan cara yang berlebihan.
Suatu cara lain untuk memaksakan hal-hal yang tak dapat diterima oleh logika dalam teks Bibel adalah dengan mengelilingi teks tersebut dengan pertimbangan-pertimbangan apologetik. Dengan begitu maka perhatian pembaca dialihkan dari problema crucial mengenai kebenaran kepada problema-problema lain.
Pemikiran-pemikiran Kardinal Danielou mengenai Banjir yang dimuat dalam majalah Dieu Vivant (Tuhan yang hidup), nomor 38 tahun 1947 halaman 95-112 dengan judul "Banjir Pembaptisan dan Hukuman," menunjukkan cara tersebut. Ia menulis: "Tradisi yang paling kuno daripada Gereja telah terlihat dalam Teologi Banjir, gambar Yesus Kristus dan gambar Gereja. Ini adalah hikayat yang besar sekali artinya. Hukuman yang mengenai seluruh umat manusia." Setelah mengutip Origene yang dalam karangan: "Ceramah tentang Yehezkiel," membicarakan tentang tenggelamnya seluruh Dunia dan diselamatkannya dalam Perahu, Kardinal Danielou tersebut membicarakan tentang pentingnya angka delapan (yang menunjukkan jumlah orang yang diselamatkan oleh Perahu; Nuh dan isterinya serta tiga orang anaknya dan isteri-isteri mereka). Ia mengulangi yang ditulis oleh Yusten dalam Dialognya "mereka itu memberikan simbol hari ke delapan, hari Yesus Kristus dibangkitkan dari mati" dan ia menulis: "Nuh, yang dilahirkan pertama daripada penciptaan baru, suatu citra Yesus Kristus yang merealisir apa yang digambarkan oleh Nuh." Ia meneruskan perbandingan antara Nuh yang diselamatkan oleh kayunya perahu dan oleh air yang mengapungkannya, dan air pembaptisan (air Banjir yang melahirkan kemanusiaan baru) dan kayu salib. Kardinal menekankan nilai simbolisme dan menutup uraiannya dengan menekankan kekayaan spiritual dan doktrinal daripada sakramen Banjir!
Banyak sekali yang dapat dikatakan mengenai pendekatan-pendekatan apologetik. Pendekatan semacam itu menerangkan suatu kejadian yang tak dapat dipertahankan kebenarannya, dan pada waktu yang diterangkan oleh Bibel, dengan penjelasan yang bersifat universal. Dengan tafsiran seperti yang ditulis oleh Kardinal Danielou kita kembali ke abad pertengahan di mana kita harus menerima teks apa adanya dan segala pembicaraan mengenainya terlarang kecuali pembicaraan yang menguatkan.
Meskipun begitu, saya merasa segar bahwa sebelum periode obscurantisme yang dipaksakan ini, kita baca sikap-sikap yang logik seperti sikap Agustinus yang menunjukkan pemikiran yang maju, lebih dahulu daripada pemikiran yang ada pada masa hidupnya.
Pada periode pendeta-pendeta Gereja, problema kritik teks sudah terasa oleh karena Agustinus menyebutkannya dalam suratnya no. 82, yaitu yang mengandung kalimat-kalimat penting sebagai berikut: "Khusus kepada fasal-fasal dari Bibel, yang dinamakan kanonik (yang telah dilegalisir oleh Paus) saya memberi perhatian dan kehormatan, dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa tak seorangpun daripada para pengarang-pengarangnya yang melakukan kekeliruan dalam menulisnya. Jika dalam fasal-fasal itu saya jumpai suatu pernyataan yang kelihatan bertentangan dengan kebenaran, maka saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa: teks (yang saya baca) itu salah, atau si penterjemah tidak menterjemahkan teks asli sebaik-baiknya, atau pikiran saya kurang cerdas.
Bagi Agustinus, tak terbayang bahwa suatu teks kitab suci dapat mengandung kesalahan. Agustinus memberi penjelasan tentang "dogma bahwa Bibel tidak bisa salah" secara terang dan jelas. Jika ada kalimat-kalimat yang nampaknya kontradiksi dengan kebenaran, ia mencari sebabnya, dan tidak mengenyampingkan kemungkinan sebab itu datang dari manusia. Sikap semacam itu adalah sikap orang yang percaya dan mempunyai daya kritik. Pada zaman Agustinus ( 354 - 430 M ) belum ada kemungkinan konfrontasi antara teks Bibel dan Sains. Suatu pandangan yang luas yang serupa dengan pandangan Agustinus akan menghilangkan kesulitan-kesulitan yang disebabkan konfrontasi antara beberapa teks dalam Bibel dengan pengetahuan ilmiah.
Sebaliknya, para spesialis pada masa kita sekarang merasa bangga untuk mempertahankan teks Bibel terhadap sangkaan kesalahan. R.P. de Vaux, dalam Pengantar kepada Kitab Kejadian memberikan sebab-sebab yang mendorongnya untuk mempertahankan teks Bibel, walaupun teks tersebut ternyata tidak dapat diterima dan segi sejarah atau dari segi Sains. Ia meminta kita "supaya jangan memandang sejarah dalam Bibel dengan kacamata metode-metode yang diikuti oleh orang-orang modern," seakan-akan ada beberapa cara untuk menulis sejarah. Jika sejarah itu ditulis dengan cara yang tidak betul, maka ia menjadi roman sejarah. Tetapi dalam hal ini, sejarah menjadi terlepas dari konsep-konsep kita.
Ahli-ahli tafsir Bibel menolak pengamatan teks Bibel dengan geologi, paleontologi dan ilmu pra sejarah. Ia menulis: Bibel tidak ada sangkut pautnya dengan disiplin-disiplin tersebut. Jika seseorang ingin mengkonfrontasikan Bibel dengan ajaran Sains, ia hanya akan mencapai sebagai hasilnya, suatu pertentangan yang tidak riil, atau suatu persesuaian yang "semu." Perlu diterangkan disini bahwa pemikiran-pemikiran ini dikemukakan berhubung dengan hal-hal yang terdapat dalam Kitab Kejadian yang sama sekali tidak sesuai dengan Sains modern yakni yang terkandung dalam 11 fasal yang pertama. Tetapi jika ada bagian-bagian Bibel yang sekarang ini diperkuat oleh ilmu pengetahuan, umpamanya beberapa hikayat dari zaman nabi-nabi bangsa Israil, pengarang tidak segan-segan memakai pengetahuan modern untuk menunjang kebenaran Bibel. Ia menulis dalam halaman 34: Keragu-raguan terhadap hikayat ini harus disingkirkan karena sejarah dan arkeologi Timur telah memberikan kesaksian yang menguntungkan. Dengan kata lain: jika Sains berfaedah untuk menguatkan teks Bibel ia menggunakannya; jika Sains melemahkan teks Bibel, orang tak boleh mempergunakan Sains untuk menyesuaikan hal-hal yang tidak dapat disesuaikan, yakni untuk menyesuaikan teori bahwa Bibel itu mutlak benar. Dengan kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Perjanjian Lama, ahli-ahli teologi modern mencoba meninjau kembali tentang konsep klasik mengenai kebenaran. Untuk menyebutkan secara terperinci argumentasi-argumentasi rumit yang berkembang dalam karangan-karangan mengenai Kebenaran Bibel seperti karangan O. Lorentz (1972) "Apakah kebenaran Bibel itu (quelle est la verite de la Bibel), akan membawa kita keluar dari rangka buku ini; cukuplah kiranya jika kita cantumkan disini pantangannya mengenai Sains."
Penulis menyebutkan bahwa Konsili Vatikan II berhati-hati untuk memberi patokan guna membedakan antara kekeliruan dan kebenaran dalam Bibel. Pertimbangan-pertimbangan fundamental menunjukkan bahwa hal tersebut adalah m ustahil oleh karena Gereja tidak dapat memutuskan kebenaran atau kesalahan metode ilmiah sehingga ia juga tidak dapat memutuskan kebenaran Bibel secara umum dan menurut prinsip.
Memang jelas bahwa Gereja tak dapat mengatakan terus terang mengenai metode ilmiah sebagai usaha untuk sampai kepada Pengetahuan. Tapi itu bukan persoalan yang kita bicarakan. Kita tidak membicarakan teori-teori tetapi membicarakan fakta yang jelas.
Apakah kita harus menjadi pendeta besar di zaman kita ini untuk mengetahui bahwa alam itu tidak diciptakan dan bahwa manusia itu tidak timbul di dunia ini semenjak 37 atau 38 abad, atau mengetahui bahwa perkiraan yang didasarkan atas silsilah keturunan dalam Bibel mungkin dianggap salah, tanpa ada resiko kekeliruan. Pengarang yang namanya disebut di sini (O. Lorentz) tentu mengetahui hal ini. Keteranganrrya tentang Sains hanya dimaksudkan untuk mengelakkan persoalan, karena ia tidak membahas persoalan tersebut secara yang semestinya.
Bahwa kita menyebutkan sikap para pengarang Kristen dalam menghadapi kekeliruan ilmiah dalam teks Bibel menunjukkan kesulitan yang timbul karenanya dan menunjukkan pula bahwa tidak mungkin untuk menerangkan sikap yang logis kecuali dengan mengakui bahwa kekeliruan-kekeliruan itu berasal dari manusia dan rasanya tidak mungkinlah untuk menerima kekeliruan-kekeliruan tersebut sebagai suatu bagian daripada wahyu.
Krisis yang mencekam kalangan-kalangan Gereja mengenai wahyu telah terungkap dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), di mana diperlukan lebih dari 5 redaksi untuk sampai kepada suatu teks final sesudah perdebatan selama 3 tahun. Dengan begitu maka berakhirlah "situasi yang parah dan mengancam bubarnya Konsili," menurut kata-kata Monsieur Weber dalam kata pengantarnya untuk dokumen no. 4 mengenai: Wahyu.
Dua kalimat dalam dokumen Konsili Vatikan mengenai Perjanjian Lama (fasal 4, halaman 3) menyebutkan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan beberapa teks dengan cara yang tidak dapat lagi dibantah.
Dengan mengingat situasi manusia sebelum keselamatan yang ditegakkan oleh Yesus Kristus, kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Lama memungkinkan kepada kita semua untuk mengetahui siapa Tuhan itu dan siapa manusia itu, begitu juga rasanya Tuhan dalam keadilanNya dan rahmatNya bertindak terhadap manusia. Kitab-kitab (fasal-fasal) itu walaupun mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan lemah, merupakan saksi dari pendidikan ilahi yang benar.6
Dengan kata "imparfait" (tidak sempuma) dan "Caduc" (lemah) yang dipakai untuk memberi ciri kepada beberapa teks, berarti bahwa teks-teks tersebut dapat dikritik dan dapat ditinggalkan. Prinsip ini telah diterima secara jelas sekali.
Teks ini merupakan satu bagian daripada deklarasi umum yang mendapat 2344 suara pro dan 6 kontra. Tetapi sesungguhnya tidak diperlukan adanya gambaran hampir aklamasi. Dalam tafsiran dokumen resmi, di bawah tanda tangan Monsigneur Weber kita dapatkan suatu kalimat yang dengan jelas mengoreksi adanya "caducite" (kelemahan) beberapa teks yang termasuk dalam deklarasi agung daripada Konsili "Tidak ada syak lagi bahwa beberapa fasal dari Bibel Israil mempunyai sifat "sementara" dan sifat "tidak sempurna." "Caduc" suatu kata dalam deklarasi resmi, tidak sinonim dengan "sifat sementara" yang dipakai oleh juru tafsir. Mengenai kata sifat "Israilite" yang ditambahkan, memberi kesan bahwa deklarasi Konsili hanya dapat mengkritik versi Ibrani; padahal soalnya tidak begitu. Yang menjadi sasaran Konsili adalah Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama itulah yang dianggap mengandung kekurangan dan kelemahan dalam beberapa bagiannya.
V. KESIMPULAN
Kita harus memandang Bibel bukan dengan melekatkan kepadanya secara resmi sifat-sifat yang kita inginkan untuknya, tetapi, dengan menelitinya sebagaimana adanya secara obyektif. Ini memerlukan pengetahuan tentang teks dan juga tentang sejarah teks-teks tersebut. Sejarah teks memungkinkan kita memperoleh idea tentang keadaan-keadaan yang mendorong kepada terjadinya perubahan-perubahan teks selama beberapa abad, kepada terbentuknya teori yang kita miliki secara pelan-pelan dengan beberapa pengurangan atau penambahan.
Hal-hal tersebut memungkinkan sekali bahwa dalam Perjanjian Lama kita mendapatkan versi bermacam-macam mengenai sesuatu hikayat, atau mendapatkan kontradiksi-kontradiksi, kekeliruan sejarah, kesalahan dan ketidak sesuaian dengan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah pasti. Hal-hal yang akhir ini sangat wajar dalam karya manusia kuno, sehingga wajar pula jika kita menemukannya dalam buku-buku yang ditulis dalam kondisi tersusunnya teks Bibel.
Sebelum problema ilmiah muncul, dalam periode di mana orang belum dapat mengatakan tidak benar atau kontradiksi, seseorang yang berperasaan sehat seperti Agustinus, berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran, dan ia membentuk suatu prinsip yaitu: kemustahilan bahwa pernyataan yang tidak sesuai dengan kebenaran itu berasal dari Tuhan. Dan karena itu ia bersedia untuk mengeluarkan hal yang semacam itu dari Bibel.
Kemudian, ketika orang sudah dapat memahami bahwa beberapa bagian Bibel tidak sesuai dengan pengetahuan modern, manusia tidak suka mengikuti sikap seperti tersebut di atas. Dengan begitu kita mengalami perkernbangan teratur yang bertujuan untuk memelihara dalam Bibel teks-teks yang mestinya sudah tidak mempunyai tempat lagi.
Konsili Vatikan II (1962-1965) telah meredakan sikap yang keras ini dengan mengemukakan reserve untuk "fasal-fasal Perjanjian Lama" yang mengandung "hal-hal yang kurang sempurna dan hal-hal yang lemah." Apakah sifat reserve tersebut merupakan suatu pandangan taqwa semata-mata atau akan disusul dengan perubahan sikap terhadap hal-hal yang tak dapat diterima lagi pada abad XX dalam buku-buku yang jika diselamatkan dari perubahan-perubahan yang dibikin oleh manusia, hanya akan dijadikan oleh Tuhan sebagai saksi daripada pendidikan suci yang hakiki.
Perjanjian Baru
INJIL
I. PENGANTAR
Banyak pembaca Injil yang merasa bingung bahkan ragu-ragu jika mereka memikirkan arti beberapa hikayat atau mengadakan perbandingan antara versi-versi yang bermacam-macam mengenai suatu kejadian yang diceritakan dalam beberapa Injil. Hal tersebut adalah suatu konstatasi yang diberikan oleh R.P. Rouguet dalam bukunya: Pembimbing kepada Injil (Initiation al'Evangile) cetakan Seuil 1973. Dengan pengalamannyaselama beberapa tahun sebagai redaktur suatu mingguan Katolik yang ditugaskan untuk menjawab pembaca-pembaca yang mendapatkan kesulitan memahami teks Injil, R.P. Rouguet dapat mengukur pentingnya kebingungan para pembaca. Ia merasakan bahwa permintaan penjelasan dari para pembaca yang datang dari lapisan masyarakat dan kebudayaan orang bermacam-macam adalah mengenai teks yang kabur, yang tak dapat dimengerti, yang kontradiksi, absurd dan memalukan. Tidak ada syak lagi bahwa membaca teks Injil seluruhnya dapat membingungkan umat Kristen.
Pengamatan semacam ini adalah baru; buku R.P. Rouguet diterbitkan pada tahun 1973. Pada masa-masa yang belum terlalu lama, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui ayat-ayat yang dipilih oleh pendeta, dibacakan di waktu sembahyang atau ceramah agama. Di luar kaum Protestan, jarang sekali orang membaca seluruh Injil, di luar kesempatan-kesempatan tersebut.
Buku-buku pelajaran agama hanya memuat kutipan-kutipan Tak ada teks lengkap yang beredar. Pada waktu saya menjadi siswa sekolah menengah katolik, saya selalu memiliki buku-buku karangan Virgile dan Plato, tetapi tidak memiliki Perjanjian Baru, pada hal teks Yunani Perjanjian Baru sangat berfaedah. Baru kemudian, setelah terlambat, saya baru tahu mengapa kami tidak disuruh menterjemahkan kitab suci Kristen. Pokoknya, terjemahan kitab itu akan mendorong kami memajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
Hal-hal yang dipertanyakan oleh pikiran yang kritis setelah membaca Injil secara menyeluruh telah mendorong Gereja untuk campur tangan dan membantu para pembaca mengatasi kesulitan mereka. R.P. Rouguet berkata: "Banyak orang Kristen yang memerlukan belajar membaca Injil," mungkin orang setuju atau tidak setuju terhadap kata-kata tersebut, akan tetapi jasa seorang yang menghadapi problema-problema yang rumit amat diperlukan. Sangat disayangkan bahwa kita tidak selalu menjumpai sikap semacam itu dalam buku-buku mengenaiWahyu Kristen yang banyak jumlahnya.
Dalam edisi-edisi Bibel yang disediakan untuk awam, biasanya terdapat kata pengantar yang menyajikan beberapa uraian dengan tujuan untuk meyakinkan para pembaca bahwa Injil tidak menimbulkan persoalan mengenai personnya, penulis-penulis fasal-fasalnya, keaslian teksnya dan kebenaran isinya, padahal banyak pengarang-pengarang yang tak terkenal, dan banyak pula keterangan yang memberi kesan benar dan pasti padahal hanya merupakan hipotesa; di antara keterangan-keterangan tersebut ada yang mengatakan bahwa pengarang Injil tertentu menyaksikan kejadian-kejadian yang diriwayatkannya padahal buku-buku para ahli mengatakan sebaliknya. Perbedaan waktu antara hidupnya Nabi Isa dengan timbulnya Injil-Injil dilukiskan sangat singkat. Ada usaha untuk meyakinkan orang banyak, bahwa hanya ada satu naskah semenjak tradisi lisan, padahal perubahan-perubahan teks telah dibuktikan oleh para ahli. Memang ada yang membicarakan kesulitan penafsiran, tetapi orang itu tergelincir dalam kontradiksi-kontradiksi yang menyolok. Dalam kamus kecil yang disusun di akhir edisi Bibel tersebut, yaitu kamus yang dimaksudkan untuk menambah kata-kata pendahuluan yang meyakinkan tadi, sering terdapat bahwa kekeliruan, kontradiksi atau kesalahan-kesalahan yang besar dihilangkan atau ditutup dengan alasan apologetik yang lihai. Keadaan semacam itu adalah menyedihkan karena menunjukkan sifat yang menyesatkan.
Hal-hal yang saya sebutkan di atas tentu mengherankan para pembaca yang belum pernah memikirkan hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebelum memasuki pembicaraan yang lebih dalam, saya ingin menyajikan contoh yang menyolok.
Matius dan Yahya tidak pernah membicarakan kenaikan Al Masih ke langit. Lukas menempatkan kejadian itu pada hari Yesus dihidupkan kembali. Hal ini ia sebutkan dalam Injilnya, padahal dalam fasal: "Perbuatan Para Rasul" yang ia sendiri menulisnya, kejadian tersebut ditempatkan empat puluh hari kemudian. Adapun Markus, ia menyebutkannya dengan tidak pakai waktu, dalam satu paragraf yang sekarang sudah dianggap tidak autentik lagi. Dengan begitu maka kenaikan Al Masih ke langit tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam Perjanjian Baru. Walaupun begitu para ahli tafsir menganggap soal ini sangat enteng.
A. Tricot, dalam bukunya: Kamus Kecil Tentang Perjanjian Baru (Petit Dictionnaire du Nouveau Testament) dari Bibel Crampon, yaitu suatu buku yang tersebar luas (terbit tahun 1960) tidak memuat artikel Ascension (kenaikan Al Masih). Synopse des Evangiles (Ringkasan Injil-Injil) karangan R. P. Benoit dan Boismard, gurubesar-gurubesar di sekolah Bibel di Yerusalem (cetakan 1972) mengatakan pada jilid 11 halaman 451 dan 452 bahwa kontradiksi antara Lukas dalam Injilnya dan Lukas dalam fasal Perbuatan Para Rasul dapat diterangkan dengan "artifice Litteraire" (penipuan sastra). Apakah artinya ini?
Nampaknya R.P. Rouguet dalam: Pengantar kepada Injil (Initiation a Evangile) cetakan 1973 halaman 187 tidak tertarik dengan (penipuan sastra) tersebut. Akan tetapi penjelasan yang ia kemukakan adalah aneh, seperti berikut: "Di sini, seperti dalam beberapa kasus yang sama, persoalannya dapat dipecahkan, kecuali jika seseorang memahami isi kitab suci secara harafiah dan melupakan arti keagamaannya. Di sini soalnya bukan untuk memecahkan fakta-fakta dalam simbolisme yang tidak konsisten tetapi untuk menyelidiki maksud teologik dari mereka yang mengungkapkan rahasia-rahasia, dengan memberikan kepada kita fakta yang dapat diterima pancaindera dan alamat-alamat yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan badaniah daripada jiwa kita."
Bagaimana kita dapat merasa puas dengan tafsiran semacam itu? Cara-cara apologi seperti itu hanya sesuai dengan orang-orang yang bersifat dogmatis!
Tetapi pernyataan R.P. Rouguet penting karena ia mengatakan bahwa dalam Injil terdapat hal-hal yang sama dengan persoalan kenaikan Nabi Isa ke langit. Oleh karena itu kita perlu membicarakan persoalan ini secara menyeluruh, mendalam dan obyektif. Adalah bijaksana jika kita mencari penjelasan dalam pembahasan tentang kondisi waktu Injil-Injil itu ditulis dan suasana keagamaan pada waktu itu. Pengungkapan perubahan-perubahan redaksi asli semenjak menjelmanya dari tradisi lisan, perubahan-perubahan teks selama dialihkan dari generasi ke generasi sampai hari ini, telah menjadikan kita tidak terlalu terperanjat dalam menghadapi bagian-bagian yang kabur yang tidak dimengerti, yang keliru, yang menjurus untuk menjadi absurd atau tidak sesuai dengan realitas-realitas yang telah dibuktikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Kenyataan-kenyataan semacam itu menunjukkan partisipasi manusia dalam menyusun Injil dan menunjukkan pula perubahan-perubahan teks yang terjadi kemudian.
Semenjak beberapa puluh tahun telah timbul kecenderungan untuk mempelajari kitab-kitab suci -dengan jiwa penyelidikan yang obyektif. Dalam suatu karangan baru yang berjudul "Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi" (Kepercayaan bahwa Yesus hidup kembali, Kehidupan kembali dari kepercayaan). R. P. Kannengiesser, Guru Besar pada Institut Katolik di Paris memberikan gambaran tentang perubahan yang mendalam ini sebagai berikut: "Orang-orang yang percaya hampir tidak mengetahui bahwa suatu revolusi dalam metode penafsiran Bibel telah terjadi semenjak periode Paus Pius XII (1939-1958). Revolusi yang dibicarakan itu memang baru. Revolusi tersebut dimulai dengan memperpanjang waktu pendidikan-pendidikan pemeluk agama Kristen, sedikitnya mengenai bahan-bahan yang diajarkan oleh ahli-ahli Injil yang memiliki jiwa pembaharuan.
Suatu pembalikan terhadap perspektif yang telah sangat mantap tentang tradisi para pendeta, telah berjalan sedikit atau banyak dengan timbulnya revolusi metode menafsirkan ini."
R.P. Kannengiesser memperingatkan kita "Jangan memahami secara harafiah" segala hal yang diceritakan oleh Injil tentang Yesus, karena "Injil itu adalah fasal-fasal yang ditulis pada keadaan-keadaan tertentu'? atau merupakan "fasal-fasal perjuangan" yang pengarang-pengarangnya bermaksud untuk memelihara dengan tulisan segala dongengan masyarakat mereka tentang Yesus. Mengenai dihidupkannya Yesus kembali, yaitu hal yang dibicarakan dalam bukunya, ia menandaskan bahwa tak ada pengarang Injil yang dapat mengatakan dirinya sebagai saksi mata.
Hal ini berarti bahwa, mengenai masa kenabian Yesus, keadaannya juga begitu, yakni tak ada pengarang Injil yang menjadi saksi mata, oleh karena tak ada seorang rasul (Hawari) selain Yudas,7 yang berpisah dari gurunya (yakni dari Yesus) dari semenjak mereka mengikutinya sampai akhir penjelmaannya diatas bumi (Padahal para penulis Injil bukan Hawari).
Dengan begitu, maka kita sudah menjadi terlalu jauh dari sikap tradisional yang masih dipegang dengan khusuknya oleh Konsili Vatikan II, baru sepuluh tahun yang lalu; sikap tradisional tersebut juga masih terus nampak dalam buku-buku modern yang ditulis untuk awam. Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran itu nampak juga.
Memang tidak mudah untuk menangkap kebenaran selama tradisi yang sudah turun temurun lama itu tetap dipertahankan. Jika seseorang ingin me}epaskan diri dari tradisi tersebut ia harus meneliti permasalahannya dari dasarnya, artinya ia harus meneliti keadaan-keadaan yang meliputi lahirnya agama Kristen.
Mengingat Kembali Sejarah
II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH
AGAMA YAHUDI KRISTEN (JUDEO-CHRISTIANISME) DAN PAULUS
Kebanyakan umat Kristen mengira bahwa Injil-Injil itu ditulis oleh saksi-saksi mata yang menyaksikan kehidupan Yesus secara langsung, dan dengan begitu mereka itu merupakan saksi-saksi yang tak dapat disangsikan lagi mengenai kejadian-kejadian yang memenuhi kehidupannya dan dakwahnya. Dengan menghadapi jaminan-jaminan tentang kebenaran Injil, dapatkah orang mempersoalkan ajaran-ajaran yang dapat diambil dari Injil tersebut? Dapatkah orang ragu-ragu tentang kebenaran kelembagaan Gereja yang didirikan menurut petunjuk-petunjuk umum yang diberikan oleh Yesus sendiri? Cetakan-cetakan Injil sekarang yang diperuntukkan bagi orang awam memuat komentar-komentar yang dimaksudkan untuk menyebarluaskan idea-idea tersebut diantara mereka.
Kepada pengikut-pengikut agama yang setia, ditonjolkan aksioma bahwa para pengarang Injil adalah saksi-saksi mata. Bukankah Yustin pada abad II mengatakan bahwa Injil-Injil itu adalah memoir (catatan-catatan) para Rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa). Kemudian diberikan pula keterangan yang terperinci mengenai para pengarang Injil sehingga orang tidak ragu-ragu lagi akan kebenarannya. Umpamanya: Matius adalah seorang yang sangat terkenal "pegawai bea Cukai di Kafrna'um, "Ia faham bahasa Aramaik dan bahasa Yunani. Markus disebutkan sebagai teman Petrus; sudah terang bahwa Markus bukan saksi mata yang melihat Yesus sendiri. Lukas adalah seorang tabib, sehingga Paulus mengatakan bahwa keterangan-keterangan tentang Lukas tersebut sangat tepat. Yahya adalah rasul (sahabat) yang selalu dekat dengan Yesus, anak dari Zebede, seorang nelayan di danau Genesareth.
Penyelidikan-penyelidikan modern tentang permulaan agama Kristen menunjukkan bahwa penyajian seperti tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan. Kita nanti akan mengetahui siapa pengarang-pengarang Injil itu. Mengenai periode beberapa puluh tahun setelah Yesus tak ada lagi, kita harus tahu bahwa yang terjadi tidak seperti apa yang dikatakan, dan bahwa kunjungan Petrus ke Roma tidak mendirikan Gereja Katolik. Sebaliknya antara waktu Yesus meninggalkan bumi ini sampai pertengahan abad II, yakni selama lebih dari satu abad telah terjadi perjuangan antara dua aliran yakni agama Kristen menurut Paulus dan agama Yahudi-Kristen; dengan pelan-pelan aliran Paulus mendesak aliran asli yakni agama Yahudi-Kristen.
Banyak karangan-karangan yang muncul pada beberapa dasawarsa yang akhir ini dan yang berdasarkan penemuan-penemuan yang terungkap di zaman kita, telah memungkinkan kita memahami pikiran-pikiran modern yang disajikan oleh Kardinal Danielou. Artikel yang diterbitkan pada bulan- Desember 1967 dalam majalah Etude (penyelidikan) berjudul: Suatu pandangan baru tentang asal agama Kristen atau Yudeo-Christianisme. Dengan mengutip karangan-karangan yang terdahulu, ia menjelajahi sejarah dan memungkinkan kita untuk menempatkan Injil dalam konteks yang sangat berbeda dengan apa yang dapat kita baca dalam uraian-uraian yang ditulis untuk kaum awam. Di bawah ini kita cantumkan ringkasan pikiran-pikiran pokok dalam artikeltersebut, dengan kutipan-kutipan:
Sesudah Yesus, tidak ada lagi kelompok kecil para rasul (sahabat) yang merupakan suatu "sekte Yahudi yang setia kepada ibadat dan upacara temple." Tetapi ketika banyak orang-orang baru yang masuk agama Kristen dari agama Kafir (Pagan), mereka mengusulkan suatu aturan Khusus; konsili Yerusalem tahun 49 M membebaskan mereka dari khitan dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang-orang, Yahudi-Kristen yang tidak setuju dengan perlakuan khusus ini. Kelompok ini memisahkan diri dan Paulus.
Malahan telah terjadi bentrokan antara Paulus dan kelompok Yahudi Kristen pada tahun 49 M itu juga di Antioch. Bagi Paulus, khitan, liburan hari Sabtu dan upacara di temple tidak perlu lagi, baik untuk pengikut Yesus atau untuk orang Yahudi sendiri. Agama Kristen harus membebaskan diri dari hubungan politico religius dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil (yang bukan Yahudi).
Dalam pandangan orang Yahudi Kristen yang tetap setia, kepada ajaran Yahudi, Paulus adalah orang yang berkhianat. Dokumen-dokumen mereka mengatakan bahwa Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan taktik dua muka; tetapi sampai tahun 70 M Yudeo—Christianisme merupakan "mayoritas dalam gereja" dan "Paulus merupakan orang yang terasing." Ketua daripada masyarakat Yudeo-Christian adalah Jack, seorang kerabat Yesus. Jack didampingi Petrus dan Yahya. Jack dapat dianggap sebagai tiangnya Yudeo-Christianisme, yang sengaja setia kepada agama Yahudi menentang agama Kristen yang dipimpin Paulus. Keluarga Yesus memegang peranan dalam gereja Yudeo-Christian di Yerusalem. Pengganti Jack adalah Simon, anak Cleopas, saudara sepupu Yesus.
Kardinal Danielou mengutip tulisan-tulisan Yudeo Christian yang mengungkapkan pandangan kelompok Yudeo Christian yang terbentuk sekitar para rasul (sahabat) terhadap Yesus: Injil orang-orang Ibrani (mengenai masyarakat Yahudi Kristen di Mesir), Hypotesa karangan Clement, rasa syukur Clement (Reconnaissance de Clement), Apocalypse Jack dan Injil Thomas.8
Orang-orang Yahudi Kristen itulah yang menulis dokumen-dokumen Kristen kuno yang disebutkan secara terperinci olel Kardinal Danielou.
"Pada abad I M, agama Yahudi Kristen tidak hanya di Yerusalem dan Palestina, akan tetapi di tempat-tempat lain juga, yakni sebelum aliran Paulus tersiar. Hal ini memberi penerangan mengapa surat-surat Paulus selalu menyebutkan adanya konflik," memang di mana-mana Paulus mendapat rintangan yang sama, di Galitea, Korintus , Kolose, Roma dan Antioch.
Di tanah pesisir Siria Palestina, dari Gaza sampai Antioch, orang-orang menganut agama Yahudi Kristen, seperti yang diterangkan oleh surat-surat para rasul dan tulisan-tulisan Clement."
Di Asia kecil adanya pengikut-pengikut agama Yahudi Kristen telah dibuktikan oleh surat untuk orang Galitia dan surat untuk orang Kolose, keduanya dikirim oleh Paulus. Tulisan-tulisan Papias memberi gambaran tentang agama Yahudi Kristen di Phrygie. Di negeri Yunani, khususnya di Apollos, surat Paulus kepada orang Korintus menunjukkan tersiarnya agama Yahudi Kristen. Roma merupakan suatu pusat penting, menurut surat Clement dan Pendeta dari Hernias. Di Suetone dan Tacite, orang-orang Kristen merupakan sekte Yahudi. Kardinal Danielou berpendapat bahwa agama Kristen yang masuk Afrika, mula-mula adalah agama Yahudi Kristen.
Ini dikuatkan oleh Injil orang Ibrani dan tulisan-tulisan Clement dari Alexandria.
Adalah sangat penting untuk mengetahui fakta-fakta tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil-lnjil itu ditulis pada suasana perjuangan antara dua kelompok. Penyebaran teks yang kita punyai sekarang, setelah diadakannya perubahan-perubahan dalam teks sumbernya, dimulai sekitar tahun 70 M, yaitu waktu bentrokan antara kedua kelompok yang bersaingan. Pada waktu itu kelompok Yahudi Kristen lebih banyak. Tetapi dengan terjadinya Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70, keadaan menjadi terbalik.
Kardinal Danielou menerangkan kemunduran ini sebagai berikut:
"Karena orang-orang Yahudi tidak dipercaya lagi di dalam Kerajaan Romawi, maka orang-orang Kristen menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang tersiar di negeri Yunani mendapat kemajuan. Paulus mendapat kemenangan sesudah ia sendiri mati. Agama Kristen memisahkan diri dari agama Yahudi baik secara sosiologik maupun secara politik, dan menjadi kelompok ketiga, yakni di samping Yahudi dan Kafir. Tetapi meskipun begitu sampai pemberontakan Yahudi yang terjadi pada tahun 140, agamaYahudi Kristen masih dominan secara kebudayaan."
Dari tahun 70 sampai kira-kira tahun 110, timbullah empat Injil, yakni yang ditulis oleh Markus, Matius, Lukas dan Yahya. Injil itu tidak merupakan dokumen Kristen yang pertama; sebelumnya telah ada surat-surat Paulus. Menurut O. Culmann, Paulus menulis surat kepada orang Tesalonika pada tahun 50. Tetapi sudah terang, Paulus meninggal beberapa tahun sebelum Injil Markus selesai ditulis.
Paulus adalah seorang yang banyak dipersoalkan dan dianggap pengkhianat kepada ajaran Yesus oleh keluarga Yesus sendiri, dan oleh rasul-rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa) yang tinggal di Yerusalem dengan Jack. Paulus dianggap telah menyiarkan ajaran-ajarannya sendiri dan merugikan para sahabat-sahabat yang dikumpulkan oleh Yesus sendiri untuk menyiarkan ajaran-ajarannya. Oleh karena Paulus tidak pernah bertemu dengan Yesus, maka ia memberi dasar untuk perbuatannya dengan mengatakan bahwa Yesus yang telah hidup kembali setelah di kubur, nampak kepadanya di jalan ke Damascus. Kita dapat bertanya-tanya bagaimana yang mestinya terjadi dalam agama Kristen seandainya Paulus tidak muncul; tentu ada bermacam-macam hypotesa. Akan tetapi, dalam hal yang mengenai Injil-Injil, kita dapat mengatakan bahwa jika suasana bentrokan antara dua kelompok yang disebabkan oleh ajaran Paulus yang menyeleweng itu tiada ada, tentunya kita tidak akan menemukan Injil-lnjil seperti yang ada sekarang. Karena ditulis pada waktu pertentangan antara dua kelompok, maka tulisan-tulisan perjuangan (ecrits de Combat) seperti yang dinamakan oleh R.P. Kannengiesser, telah muncul dari tulisan-tulisan mengenai Yesus ketika agama Kristen menurut ajaran Paulus telah menang dan sedang menyusun kumpulan teks-teks resmi atau Canon, yaitu teks yang menghukum segala teks lain yang tidak sesuai dengan garis yang dipilih oleh Gereja serta menganggapnya sebagai bertentangan dengan ortodoksi.
Setelah pengikut agama Yahudi Kristen tidak lagi rnerupakan kelompok yang berpengaruh, mereka itu biasanya dinamakan "Yudaisants" yakni orang-orang yang condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielou menulis: "Orang-orang Yudeo Kristen terputus dari Gereja Besar yang membebaskan diri dari pengaruh Yahudi, dan mereka itu musnah dengan cepat di Barat. Akan tetapi mereka masih terdapat di Timur pada abad III dan IV, khususnya di Palestina, Arabia, Yordania, Syria dan Mesopotamia (Irak). Di antara mereka banyak yang memeluk agama Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari suatu segi, lainnya mengikuti ortodoksi Gereja Besar dengan mempertahankan kebudayaan Semit;" seperti yang masih terdapat di Ethiopia dan Babylon.
Sejarah empat Injil
III. INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA
Dalam karangan-karangan yang ditulis pada permulaan sejarah agama Kristen, Injil baru disebutkan, lama sesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang adanya lnjil-Injil baru terdapat pada pertengahan abad II M, dan lebih tepat lagi sesudah tahun 140, padahal banyak pengarang-pengarang Kristen dari permulaan abad II sudah mengetahui adanya surat-surat Paulus.
Pernyataan-pernyataan yang dimuat dalam l'Introduction a la Traduction oecumeniq de la Bible Nouveau Testament (Pengantar kepada terjemahan bersama Protestant, Katolik - Perjanjian Baru) cetakan tahun 1972 tersebut, perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula bahwa buku Pengantar tersebut adalah hasil karya kolektif yang mengumpulkan sarjanae-sarjana Protestant dan Katholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.
Injil yang kemudian menjadi resmi atau Kanonik, baru diketahui lama sesudah itu, meskipun redaksinya sudah selesai pada permulaan abad II. Menurut terjemahan ekumenik orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat Injil mulai pertengahan abad II, "akan tetapi selalu sukar untuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu disebutkan menurut teks tertulis atau hanya menurut ingatan-ingatan fragmen daripada tradisi lisan."
"Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada orang yang mengetahui tentang kumpulan fasal-fasal Injil; begitulah yang kita baca dalam komentar mengenai terjemahan Bibel." Keterangan tersebut di atas bertentangan dengan apa yang ditulis oleh A. Tricot (tahun 1960) dalam komentar terjemahan Perjanjian Baru . "Dari pagi-pagi semenjak permulaan abad II, telah ada kebiasaan memakai perkataan Injil, untuk menunjukkan fasal-fasal yang disekitar tahun 150 Yustin menamakan memoar para Rasul." Pernyataan yang semacam itu sangat sering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaran yang keliru tentang waktu pengumpulan Injil.
Injil-Lnjil menjadi suatu kesatuan satu abad setelah Yesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. Terjemahan Ekumenik Bibel mengira-ngirakan bahwa Injil yang empat itu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun170.
Pernyataan Yustin yang mengatakan bahwa para pengarang Injil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat lagi diterima pada waktu ini, seperti yang akan kita lihat nanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A. Tricot menerangkan bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah disusun sebelum tahun 70. Pernyataan tersebut tidak dapat diterima kecuali yang mengenai Markus. Juru tafsir, A. Tricot ini, seperti juru-juru tafsir lainnya merasa berbuat amal kebajikan untuk melukiskan ba hwa para penulis Injil adalah rasul-rasul atau sahabat-sahabat Yesus, dan dengan begitu maka ia memajukan waktu penyusunannya sehingga dekat kepada waktu hidupnya Yesus. Adapun Yahya yang oleh A. Tnco t digambarkan sebagai seorang yang hidup sampai tahun 100, orang-orang Kristen biasa membaca namanya disebutkan dekat Yesus dalam peristiwa-peristiwa penting, akan tetapi sangat sukar untuk memastikan bahwa orang itu adalah pengarang Injil yang membawa nama Injil Yahya. Rasul Yahya (sebagai juga Matius), bagi A.Tricot dan beberapa ahli tafsir lainnya adalah saksi yang cakap dan boleh dipercaya mengenai kejadian-kejadian yang diriwayatkannya; tetapi kebanyakan ahli kritik tidak menerima hypotesa yang mengatakan bahwa sahabat Yahya itu adalah pengara ng Injil keempat
Tetapi jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secara memuaskan sebagai memoar para rasul atau para sahabat Yesus, darimanakah asal Injil-Injil itu?
O.Culmann dalam bukunya: Perjanjian Baru (1967), Presses Universitaire de France, menulis bahwa "para pengarang Injil adalah juru bicara dari masyarakat Kristen asli yang menentukan tradisi lisan; selama 30 tahun atau 40 tahun, Injil hanya ada dalam bentuk tradisi lisan; tradisi meriwayatkan kata-kata atau hikayat-hikayat yang terpisah-pisah. Para pengarang Injil menghubungkan hal-hal yang terpisah itu, masing-masing menurut caranya dan seleranya serta perhatian teolognya yang khusus. Pengelompokan kata-kata Yesus sebagai rangkaian riwayat-riwayat dengan kata-kata penghubung yang kabur seperti: sesudah itu, selekasnya, dan lain-lain yang terdapat dalam Injil-Injil Sinoptik9 hanya merupakan susunan literer dan tidak mempunyai dasar sejarah."
Pengarang tersebut meneruskan: "Kita harus ingat bahwa yang menjadi pedoman kelompok primitif (asli) dalam menentukan tradisi mengenai kehidupan Yesus bukan perhatian terhadap sejarah hidup Yesus, akan tetapi kebutuhan untuk berdakwah untuk pendidikan dan untuk beribadah. Para rasul menggambarkan kebenaran kepercayaan yang mereka dakwahkan dengan cara meriwayatkan kejadian-kejadian dalam kehidupan Yesus.
Khotbah-khotbah mereka itulah yang menentukan hikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus diriwayatkan khususnya dalam pengajaran kateketiknya Gereja asli.
Para penyusun "Terjemahan Ekumenik dari pada Bibel" tidak menyebutkan mengenai penyusunan Bibel kecuali terbentuknya tradisi lisan di bawah pengaruh nasehat-nasehat murid Yesus dan juru-juru dakwah lainnya. Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam Injil adalah dengan jalan dakwah, liturgi, pengajian-pengajian para penganut agama yang setia.
Kemungkinan tersusunnya bentuk tertulis mengenai kepercayaan, kata-kata tertentu danpada Yesus seperti Hikayat Penyaliban umpamanya, para pengarang Injil memakai bentuk tertulis bersama dengan tradisi oral untuk menghasilkan teks yang sesuai dengan lingkungan yang bermacam-macam, untuk memenuhi kebutuhan Gereja, untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab suci, untuk membetulkan yang salah dan untuk menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu maka para pengarang Injil mengumpulkan secara tertulis hal-hal yang mereka dapatkan sebagai tradisi lisan, masing-masing menurut pandangan dan seleranya."
Sikap kolektif yang diperlihatkan oleh 100 ahli tafsir Perjanjian Baru Katolik dan Protestant berbeda sekali dengan garis yang ditetapkan oleh Konsili Vatikan II dalam penyusunan dogmatik tentang Wahyu, yaitu penyusunan yang dikerjakan antara tahun 1962 dan tahun 1965. Kita telah menyebutkan di atas tentang dokumen penting yang dihasilkan oleh Konsili tersebut mengenai Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II telah mengatakan bahwa fasal-fasal Perjanjian Lama mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan lemah (imparfait et caduc), akan tetapi Konsili tersebut tidak memberikan "reserve" yang sama terhadap Injil. Sebaliknya Konsili tersebut menyebutkan:
"Semua orang tahu bahwa di antara tulisan-tulisan Kitab suci, termasuk yang terdapat dalam Perjanjian Baru, Injil-Injil menunjukkan kelebihan yang menonjol, karena Injil itu merupakan kesaksian yang tertinggi tentang kehidupan dan ajaran kata Tuhan yang menjelma menjadi manusia, juru selamat kita. Di mana saja dan kapan saja, Gereja selalu mempertahankan bahwa empat Injil itu berasal dari para Rasul (sahabat Isa). Injil-Injil itu adalah apa yang telah diceramahkan oleh para Rasul dengan mengikuti perintah Yesus. Oleh karena itu maka para Rasul dan orang-orang yang selalu dekat dengan mereka, telah mendapat inspirasi suci dari Ruhul Kudus dan meriwayatkan tulisantulisan yang merupakan dasar kepercayaan Kristen, yakni Injil, dengan empat bentuknya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya." "Ibu Suci (Gereja) selalu berpegang dengan kuat bahwa empat Injil yang diberi sifat bersejarah telah menyampaikan dengan penuh amanat segala apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan, selama ia hidup di antara manusia sampai ia diangkat ke langit. Para pengarang suci kemudian menyusun Injil empat yang memberikan kepada kita segala yang benar dan jujur mengenai Yesus."
Kata-kata yang kita kutip daripada Konsili Vatikan II itu menunjukkan secara tegas kepercayaan bahwa Injil telah meriwayatkan perbuatan dan perkataan Yesus. Akan tetapi kita merasakan ketidakserasian antara pernyataan Konsili tersebut dengan pernyataan pengarang-pengarang yang kita sebutkan sebelumnya, khususnya kata kata R.P. Kannengiesser: "Kita tidak boleh memahami Injil-lnjil secara harafiah, oleh karena Injil itu merupakan tulisan-tulisan daripada keadaan-keadaan tertentu atau tulisan-tulisan perjuangan yang penulis-penulisnya memelihara tradisi masyarakat mereka mengenai Yesus dengan tulisan." "Injil-Injil adalah teks-teks yang menyesuaikan diri dengan bermacam-macam lingkungan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan Gereja, melontarkan pikiran-pikiran mengenai Kitab suci, membetulkan kesalahan-kesalahan dan menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu, Injil-injil mengumpulkan dan menuliskan apa yang mereka terima dari tradisi lisan, menurut pandangan-pandangan pribadi mereka." (Terjemahan Ekumenik dari Injil).
Nyata sekali hahwa antara deklarasi Konsili Vatikan dan sikap-sikap yang lebih baru terdapat kontradiksi. Tidak mungkin untuk menyesuaikan deklarasi Vatikan II yang mengatakan bahwa dalam Injil, kita menemukan riwayat yang jujur tentang perbuatan dan perkataan Yesus, dengan adanya kontradiksi, kekeliruan, kemustahilan material dan pemberitaan yang bertentangan dengan realitas ilmiah yang sudah pasti.
Sebaliknya, jika kita memandang Injil sebagai ekspresi dari pandangan-pandlangan pribadi dari orang-orang yang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan yang terdapat dalam bermacam-macam kelompok, kita tidak merasa heran jika kita menemukan dalam Injil-Injil itu keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa Injil-lnjil tersebut ditulis oleh orang-orang dalam suasana yang telah kita terangkan di atas. Mereka itu dapat saja merupakan orang-orang yang sangat jujur walaupun mereka itu meriwayatkan hal-hal yang memuat kontradiksi dengan pengarang-pengarang lain karena mereka sendiri tak pernah merasa curiga akan kebenarannya, atau mungkin sekali karena ada persaingan keagamaan antara dua kelompok, mereka itu menyajikan riwayat kehidupan Yesus menurut kaca mata yang sangat berlainan dengan kaca mata lawannya.
Kita telah membaca bahwa konteks sejarah adalah sesuai dengan cara memandang Injil seperti tersebut. Bahan-bahan untuk menyelidiki Injil yang kita miliki semua menguatkan pandangan semacam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar