Minggu, 23 Maret 2014

BIBEL, QUR-AN, DAN SAINS MODERN



BIBEL, QUR-AN, DAN SAINS MODERN

I. PENGANTAR

S. Petrus Dedesio Leonardo
Mantan Pastor Digereja Khatolik
Kabupaten Lospalos Propinsi Dili Timor-Timur Dari Tahun 1986-1989


Secara apriori mengasosiasikan Qur-an dengan  Sains,  adalah mengherankan,   apalagi  jika  asosiasi  tersebut  berkenaan dengan  hubungan  harmonis  dan  bukan  perselisihan  antara Qur-an  dan  Sains.  Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan pemikiran-pemikiran  yang  tak  ada  hubungannya seperti  ilmu  pengetahuan, merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada zaman ini? Sesungguhnya sekarang  para ahli   Sains   yang  kebanyakannya  terpengaruh  oleh  teori materialis, menunjukkan sikap acuh  tak  acuh  bahkan  sifat merendahkan   terhadap   soal-soal   agama,  karena  mereka memandangnya  sebagai  hal  yang  didasarkan  atas  legenda.
Selain  daripada itu, di negeri Barat (negeri pengarang, dan kalangan orang-orang yang terpelajar menurut sistem  Barat), jika seseorang berbicara tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai agama Yahudi dan Kristen tetapi tak ada orang  yang  memasukkan  Islam dalam kata agama itu. Tentang Islam, orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan  karena itu  mereka  juga menunjukkan penilaian yang salah, sehingga sampai hari ini sangat susah bagi mereka  untuk  mendapatkan gambaran  yang  tepat  dan  sesuai  dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Sebagai pengantar untuk konfrontasi antara Wahyu  Islam  danSains,  adalah  sangat perlu untuk memberikan suatu tinjauan tentang agama yang  sangat  tidak  dikenal  di  negeri  kita (Europa, Perancis).

Penilaian  yang  salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan   secara   istematis.   Akan   tetapi  di  antara kekeliruan-kekeliruan yang tersiar,  yang  paling  berbahaya adalah  kekeliruan-kekeliruan  atau  pemalsuan  fakta;  jika kekeliruan penilaian dapat dimaafkan, maka  penyajian  fakta yang  bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan.   Adalah   menyedihkan    jika    kita    membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat  ahli. Umpamanya  kita  baca  dalam Encyclopedia Universalis, jilid VI,  artikel  :  Evangile  (Injil),  suatu  isyarat   kepada perbedaan   antara   Injil  dan  Qur-an.  Pengarang  artikel tersebut   menulis:   "Pengarang-pengarang    Injil    tidak mengaku-aku,   seperti   Qur-an,   menyampaikan  otobiografi (riwayat hidup diri  sendiri)  yang  didiktekan  oleh  Tuhan kepada  Rasulnya  secara ajaib." Begitulah kata penulis itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat.  Terjemahan  Qur-an  yang  paling  jelek juga dapat mengungkapkan  kenyataan  ini   kepada   pengarang   artikel tersebut.  Pernyataan  tersebut  di atas, yakni bahwa Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya  dengan  orang  yang mengatakan    bahwa   Injil   itu   adalah   riwayat   hidup pengarangnya.Yang  bertanggung   jawab   tentang   pemalsuan terhadap  idea  Qur-an  itu  adalah  seorang  guru  besar di Fakultas teologi Yesuite di kota  Lion  (Perancis  selatan); tersiarnya  kekeliruan  semacam  ini  telah membantu memberi gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam.

Walaupun begitu tetap ada harapan untuk memperbaiki keadaan,karena  sekarang  agama-agama  tidak hidup sendiri-sendiri; banyak agama yang mencari perkenalan  dan  pemahaman  timbalbalik. Kita terharu dengan fakta bahwa pada eselon tertinggi orang-orang  Katolik  berusaha  untuk  memelihara   hubungan dengan  umat  Islam,  serta menghilangkan kesalahfahaman danmengoreksi gambaran-gambaran yang keliru tentang Islam.

Saya  telah  Melihat   perubahan   besar   yang   terjadi pada-tahun-tahun  yang  terakhir  ini  dan  menyebutkan pula suatu dokumen  yang  dikeluarkan  oleh  Sekretariat  Vatikan untuk  orang-orang bukan Kristen. Dokumen tersebut berjudul: Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan  umat  Islam, dokumen  itu sangat berarti karena sikap-sikap baru terhadap Islam. Dalam cetakan  ketiga  (1970)  kita  dapatkan  ajakan untuk "meninjau kembali sikap-sikap kita terhadap Islam, dan mengkritik purbasangka kita" kita  dapatkan  pula  kata-kata seperti "kita harus bekerja keras lebih dahulu untuk merubah cara berfikir saudara-saudara umat Kristen, secara bertahap; ini  adalah  yang  paling penting," "kita harus meninggalkan gambaran gambaran kuno yang kita  warisi  dari  masa  lampau atau  gambaran-gambaran  yang  dirubah  oleh  prasangka  dan fitnahan,"  "kita  harus  mengakui   ketidak   adilan   yang dilakukan  oleh  Barat  yang  beragama Kristen terhadap umat Islam."  Dokumen Vatikan yang terdiri dari 150  halaman  itu menolak pandangan-pandangan kuno umat Kristen terhadap Islam dan menerangkan hal-hal yang sebenarnya .

Di   bawah   judul:   "membebaskan   diri   kita    daripada prasangka-prasangka   yang   sangat  mashur,"  para  penulis dokumen tersebut mengajak umat Kristen sebagai berikut:  "Di sini kita harus melakukan pembersihan yang mantap dalam cara berfikir  kita.  Secara  khusus  kami   pikirkan   penilaian tertentu  yang  "sudah  jadi"  yang  sering  dilakukan orang secara sembrono terhadap Islam. Adalah sangat penting  untuk tidak   menghidup-hidupkan   dalam   hati   sanubari   kita, pandangan-pandangan yang dangkal  dan  arbitrer  yang  tidak dikenal oleh orang Islam yang jujur.

Salah  satu  daripada pandangan arbitrer yang sangat penting untuk  diberantas  adalah  pandangan  yang  mendorong  untuk memakai  kata  "Allah"  secara  sistematis untuk menunjukkan Tuhannya umat Islam, seakan-akan  Tuhannya  umat  Islam  itu bukan Tuhannya umat Kristen.

Allah  dalam bahasa Arab berarti Tuhan, Tuhan yang maha Esa,maha Tunggal. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya  dalam bahasa  Perancis  kita harus rnemakai kata "Dieu," dan tidak cukup hanya mengambil alih kata arab ("Allah")  karena  kata ini  tak  dimengerti  orang Perancis. Bagi umat Islam, Allah itu adalah  Tuhannya para Rasul dari Nabi Adam bersamanya,  sampai dengan Nabi Muhammad SAW.

Dokumen  Sekretariat  Vatikan  bagi   umat   bukan   Kristen menekankan hal yang fundamental ini sebagai berikut:

"Adalah  tak berguna untuk mengikuti pendapat beberapa orang Barat bahwa Allah itu sesungguhnya  bukan  Tuhan!  Teks-teks yang  dihasilkan oleh Konsili telah membenarkan kata-kata di atas. Orang tidak akan dapat meringkaskan kepercayaan  Islam tentang  Tuhan,  secara  lebih  baik  dari  kata-kata  Lumen Gentium (cahaya bagi manusia ) bagian dari  Dokumen  Konsili Vatikan  II  (1962-1965)  yang  berbunyi: "Orang-orang Islam yang mengikuti aqidah Nabi Ibrahim  menyembah  bersama  kita kepada  Tuhan  yang  Tunggal, yang maha penyayang, yang akan mengadili manusia pada hari akhir."

Semenjak itu orang mengerti mengapa  orang  Islam  melakukanprotes  terhadap  kebiasaan orang Barat memakai kata 'Allah'untuk  Tuhan.  Orang-orang  Islam  yang  terpelajar   memuji terjemahan  Qur-an  oleh  D. Masson yang memakai kata "Dieu" (Tuhan) dan tidak memakai kata "Allah."

Orang Islam dan orang  Kristen  menyembah  Tuhan  yang  maha Tunggal.

Kemudian Dokumen Vatikan mengkritik penilaian-penilaian lainyang salah terhadap Islam.

"Fatalisme"  Islam,  suatu  prasangka  yang  tersiar   luas,dibahas   dengan  mengutip  beberapa  ayat  Qur-an.  Dokumen Vatikan tersebut menunjukkan hal-hal yang sebalik Fatalisme,yakni  bahwa manusia itu akan diadili menurut tindakannya di Dunia.

Dokumen  Vatikan  tersebut  juga  menunjukkan  bahwa  konsep yuridisme  atau  legalisme dalam Islam itu salah, yang benaradalah   sebaliknya,   yakni   kesungguhan    dalam    Iman.
Dibawakannya  pula  dua ayat yang sangat tidak dikenal orang di Barat. Ayat pertama: "Tak ada paksaan dalam agama" (Surat 2  ayat  256). Ayat kedua: "Dan Tuhan tidak menjadikan dalam agama sesuatu hal yang memaksa." (Surat 22 ayat 78)

Dokumen Vatikan tersebut juga  menentang  ide  yang  tersiar luas   bahwa  Islam  itu  adalah  agama  "rasa  takut,"  dan menjelaskan bahwa Islam adalah  agama  cinta,  cinta  kepada orang-orang yang dekat, cinta yang berakar dalam Iman kepada Allah. Dokumen Vatikan tersebut juga menolak anggapan  bahwa tak ada "moral Islam," serta anggapan yang dianut oleh orang Yahudi dan  orang  Kristen  bahwa  Islam  itu  adalah  agama fanatisme.   Dalam  hal  ini  Dokumen  tersebut  mengatakan: "Sesungguhnya, Islam dalam  sejarahnya  tidak  pernah  lebih fanatik  daripada  kota-kota suci Kristen ketika kepercayaan Kristen  bercampur  dengan  nilai  politik."  Di  sini  para pengarang Dokumen Vatikan menyantumkan ayat-ayat Qur-an yang diterjemahkan oleh orang Barat sebagai "Perang Suci."

"Perang suci yang dimaksudkan, dalam bahasa Arabnya  adalah: Al  Jihad  fi  sabililah, usaha keras untuk menyiarkan agama Islam  dan  mempertahankannya  terhadap   orang-orang   yang melakukan     agressi."     Dokumen    Vatikan    meneruskan keterangannya: "Al Jihad bukan "kherem" yang tersebut  dalam Injil.  Jihad  tidak bermaksud untuk memusnahkan orang lain, akan tetapi  untuk  menyiarkan  hak-hak  Tuhan  dan  hak-hak manusia di negeri-negeri baru."

Kekerasan  yang timbul dalam Jihad adalah gejala-gejala yang orang-    Islam    yang    selalu    melakukan   pembantaian besar-besaran.

Dokumen  Vatikan  akhirnya  membicarakan  purbasangka  bahwa Islam itu adalah agama beku yang mengungkung para pengkutnya dalam Abad Pertengahan  yang  sudah  lampau  dan  menjadikan mereka tidak sanggup untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan tehnik  pada  zaman  modern.  Dokumen  tersebut  menyebutkan perbandingan  dengan situasi-situasi serupa yang terdapat di negara-negara Kristen dan menyatakan "Kami  menemukan  dalam perkembangan   tradisional  pemikiran  Islam  suatu  prinsip evolusi  yang  dapat  menjadi   pedoman   untuk   masyarakat beradab."

Bahwa   Vatikan   mempertahankan  Islam,  saya  yakin,  akan mengherankan pengikut-pengikut  agama  masa  kini,  baik  ia orang   Yahudi,  orang  Kristen  atau  orang  lslam.  Gejala tersebut merupakan manifestasi kesungguhan dan pikiran  yang terbuka  yang bertentangan sama sekali dengan sikap-sikap di masa  dahulu.   Tetapi   sayang,   sangat   sedikit   sekali
orang-orang  Barat  yang  mengetahui  pergantian  sikap yang diambil oleh eselon tertinggi daripada Gereja Katolik.

Setelah kita mengetahui hal  tersebut  di  atas  kita  tidak begitu  heran  untuk  mendengarkan  langkah-langkah  konkrit selanjutnya  yang   dilaksanakan   untuk   pendekatan   ini.
Mula-mula  adalah kunjungan resmi kepala Secretariat Vatikan untuk  orang-orang  bukan  Kristen  kepada  (almarhum)   Sri Baginda  Raja  Faesal, raja Saudi Arabia, kemudian kunjungan ulama-ulama Besar dari Saudi Arabia kepada Sri Paus Paul  Vl pada  tahun  1974.  Kita merasakan arti spiritual yang dalam ketika Monsigneur  Elchinger  menerima  para  ulama  itu  di Cathedral   Strasbourg   dan   mempersilahkan  mereka  untuk sembahyang di tengah-tengah Cathedral, walaupun menghadap ke arah Ka'bah.



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR PENTERJEMAH
KATA PENGANTAR
PERJANJIAN LAMA
 
 I. TINJAUAN UMUM
    Siapakah pengarang Perjanjian Lama?
    Asalnya Bibel (Perjanjian Lama)
 
II. KITAB-KITAB (FASAL-FASAL) PERJANJIAN LAMA
    Taurah atau Pentateuque
    Perincian Pembagian Teks Yahwist dan Teks Sakerdotal
       dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian
    Bagian-Bagian yang Mengenai Sejarah
    Fasal-fasal Kenabian
    Fasal Syair-syair dan hikmah
 
III. PERJANJIAN LAMA DAN SAINS, SEKEDAR MENGEMUKAKAN FAKTA
    Penciptaan Alam
    Riwayat Pertama
    Fasal 1, ayat 1 dan 2,
    Ayat 3  sampai 5
    Ayat 6 sampai 8
    Ayat 9 sampai 13
    Ayat 14 sampai 19
    Ayat 20 sampai 23
    Ayat 24 sampai 31
    Riwayat Kedua
    Fasal 2, 4b-7
    Tahun penciptaan alam dan tahun munculnya 
       manusia di atas bumi
    A. Dari Adam sampai Ibrahim
       Silsilah Nabi Adam
    B. Dari Nabi Ibrahim Sampai Nabi Isa
       Banjir Nabi Nuh
 
IV. SIKAP PENGARANG PENGARANG KRISTEN TERHADAP
    KESALAHAN ILMIAH DARI TEKS BIBEL
    Penelitian Mereka Yang Kritis
V. KESIMPULAN
 
INJIL
 I. PENGANTAR
II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH
    Agama Yahudi Kristen (Judeo-Christianisme) dan Paulus
 
III. INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA
    Injil karangan Matius
    Injil Markus
    Injil Lukas
    Injil Yahya
    Sumber-sumber Injil
    Sejarah teks
 
 
 
 
 
 
 
 
 
IV. INJIL-INJIL DAN SAINS MODERN
    Silsilah Keturunan Yesus
    Silsilah keturunan Yesus
    Kitab Asal-usul Yesus Kristus, Anak Daud, Anak Ibrahim
    Silsilah Yesus Sebelum David
    Silsilah Yesus Sesudah David
    Perbedaan-Perbedaan Menurut Manuskrip dan dalam
       Hubungannya dengan Perjanjian Lama
    a). Injil Matius
    b). Injil Lukas
    Penyelidikan kritik mengenai teks
    1. Periode dari Adam sampai Ibrahim
    2. Periode dari Abraham sampai David
    3. Periode sesudah David
    4. Tafsiran Para Ahli Tafsir Modern
 
V.  KONTRADIKSI-KONTRADIKSI DAN KEKELIRUAN KEKELIRUAN RIWAYAT
    Riwayat-riwayat penyaliban
    Dalam Injil Yahya, Lembaga Ekaristi tak disebut-sebut
    Yesus yang dibangkitkan dari Kubur menampakkan Diri
    Yesus Naik ke Langit
    Percakapan Yesus yang terakhir.
    Paraklet yang tersebut dalam Injil Yahya
 
VI. KESIMPULAN             


Kata Pengantar Penterjemah
 
Pada bulan Maret 1977 saya  mendapat  kesempatan  untuk menghadiri  konferensi  internasional  Islam-Kristen di kota Cordoba di Spanyol. Bepergian saya tersebut sangat berfaedah,  karena memberi gambaran kepada saya tentang masa gemilang umat  Islam  di  negeri  Spanyol.  Masjid Kurtubah yang sudah berusia 12 abad (didirikan 786) itu masih berdiri dengan  megahnya,  wulaupun  sudah  tidak dipakai  untuk  sembahyang  dan  di  dalamnya didirikan sebuah Katedral.
 
Setelah selesai konferensi, saya mengunjungi Kota Paris untuk  mengenang masa muda saya, ketika pada tahun 1956 saya mempertahankan tesis saya di Sorbonne. Pada  suatu hari,  saya  mengunjungi  Masjid  Paris yang megah, dan secara tidak sengaja, saya  dapatkan  tempat  penjualan gamban-gambar Masjid, yang disukai oleh tourist-tourist asing. Di tempat itu saya ketemukan buku yang  berjudul La  Bible,  le  Coran  et la Science (Bibel, Qur-an dan Sains modern). Segera saya  membeli  satu  naskah,  dan terus pulang ke Hotel. Buku itu saya baca sampai tamat.
 
Buku  tersebut  telah  menarik hati saya. Seorang tabib ahli bedah berkebangsaan Perancis,  yaitu  Dr.  Maurice Bucaille  telah  mengadakan studi perbandingan mengenai Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dan  Qur-an serta  Sains  modern.  Akhirnya  ia mendapat kesimpulan bahwa  dalam  Bibel  terdapat  kesalahan   ilmiah   dan sejarah,  karena  Bibel  telah ditulis oleh manusia dan mengalami perubahan-perubahan yang dibuat oleh manusia.
Mengenai   Al   Qur-an   ia  berpendapat  bahwa  sangat mengherankan bahwa suatu wahyu yang diturunkan 14  abad yang  lalu, memuat soal-soal ilmiah yang baru diketahui manusia pada abad XX atau  abad  XIX  dan  XVIII.  Atas
dasar  itu, Dr. Maurice Bucaille berkesimpulan bahwa Al Qur-an adalah wahyu Ilahi yang murni dan Nabi  Muhammad adalah Nabi terakhir.
 
Setelah  membaca  buku tersebut, saya merasa bahwa sayaharus menyampaikan  isi  buku  tersebut  kepada  bangsaIndonesia,  yang selalu menunjukkan perhatiannya kepada agama.
 
Maka saya terjemahkan  buku  tersebut,  dengan  harapan mudah-mudahan  isinya  dapat  dimanfaatkan  oleh mereka yang mencari  kebenaran  dan  mencari  pegangan  hidup, khususnya    para   cendekiawan   yang   tidak   sempat mempelajari Islam dari sumber-sumber yang memuaskan.
 
Saya panjatkan syukur kepada Allah  s.w.t.  yang  telah memberi saya tenaga untuk melaksanakan terjemahan ini.
 
 
 
 
 
 
 
Jakarta 1 September 1978.
M. Rasjidi.



Kata Pengantar Pengarang:
Masing-masing dari tiga agama Samawi mempunyai kumpulan kitab  yang khusus. Dokumen-dokumen itu merupakan dasar kepercayaan tiap penganut  agama  itu,  baik  ia  orang Yahudi, orang Kristen atau orang Islam. Dokumen-dokumen tersebut bagi mereka itu merupakan penjelmaan  material daripada  wahyu  Ilahi,  yang  bersifat  wahyu langsung seperti yang diterima oleh Nabi Ibrahim atau Nabi Musa, atau  merupakan wahyu yang tidak langsung seperti dalam hal Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi Isa  berkata  atas nama Bapa dan Nabi Muhammad menyampaikan kepada seluruh manusia  wahyu-wahyu  Tuhan  yang  ia   terima   dengan perantaraan malaikat Jibril.

Untuk  membicarakan sejarah Agama, saya mengambil sikap untuk menempatkan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru  dan Qur-an   dalam   tempat   yang  sejajar  sebagai  wahyu tertulis. Sikap  saya  tersebut  yang  pada  prinsipnya dapat  disetujui  oleh  umat Islam, tidak diterima oleh pengikut agama di negeri-negeri Barat yang  terpengaruh oleh agama Yakudi dan Kristen, karena rnereka itu tidak mengakui Qur-an sebagai suatu kitab yang diwahyukan.

Sikap  seperti  tersebut  nampak  dalam   masing-masing kelompok  jika  menghadapi  kedua  agama lainnya, dalam soal Kitab Suci.

Kitab Sucinya agama Yahudi adalah Bibel  Ibrani.  Bibel bahasa  Ibrani  ini  berbeda  daripada  Perjanjian Lama menurut   agama   Masehi    dengan    tambahan-tambahan fasal-fasal yang tak terdapat dalam bahasa Ibrani. Dari
segi praktek, perbedaan ini tidak menyebabkan perubahan dalam  aqidah.  Akan  tetapi  orang-orang  Yahudi tidak percaya kepada adanya sesuatu wahyu sesudah kitab  sucimereka.

Agama  Masehi  menerima Bibel Ibrani dengan menambahkan beberapa tambahan. Akan  tetapi  tidak  dapat  menerima segala   sesuatu   yang   termuat   di  dalamnya  untuk membuktikan kenabian Isa. Gereja Masehi telah melakukan potongan-potongan yang sangat penting dalam fasal-fasal yang mengenai  kehidupan  Isa  serta  ajaran-ajarannya. Gereja  Masehi  tidak  memasukkan dalam Perjanjian Baru kecuali tulisan-tulisan yang sangat terbatas jumlahnya, yang  terpenting  ialah  Injil yang empat. Agama Masehi tidak menganggap adanya wahyu yang turun  sesudah  Nabi Isa dan sahabatnya. Dengan begitu mereka tidak mengakui Al Qur-an.

Enam abad setelah Nabi Isa,  Al  Qur-an  sebagai  wahyu terakhir,  banyak menyebutkan Bibel Ibrani serta Injil. Al Qur-an sering menyebut Torah1 dan Injil.  Al  Qur-an mewajibkan  kepada  semua  orang  muslim  untuk percaya kepada kitab-kitab sebelumnya (surat 4  ayat  136).  Al Qur-an  menonjolkan  kedudukan  tinggi para Rasul dalam sejarah Wahyu, seperti Nabi  Nuh,  Nabi  Ibrahim,  Nabi Musa  dan  para  Nabi Bani Israil, dan juga kepada NabiIsa (Yesus) yang mempunyai kedudukan istimewa di antara mereka.  Kelahiran  Yesus  telah  dilukiskan  dalam  AlQur-an  sebagai  suatu  kejadian  ajaib  (supernatural)seperti   juga   dilukiskan   oleh   Injil.  Al  Qur-an menyebutkan Maryam secara istimewa. Bukankah surat  no.19 dalam Qur-an bernama surat Maryam?

Perlu  saya  nyatakan bahwa hal-hal yang mengenai Islam pada  umumnya  tak  diketahui  orang  di  negeri-negeri Barat.  Hal  ini tidak mengherankan jika kita mengingat bagaimana generasi-generasi diberi pelajaran agama  dan bagaimana   selama  itu  mereka  itu  dikungkung  dalam ketidak  tahuan  mengenai  Islam.  Pemakaian  kata-kata "religion  Mahometane"  (Mohamedanism)  dan  Mahometans  (Mohamedans)  sampai  sekarang  masih  sering  dipakai, untuk  memelihara suatu anggapan yang salah yakni bakwa Islam adalah kepercayaan yang  disiarkan  oleh  seorang manusia,  dan dalam Islam itu tak ada tempat bagi Tuhan (sebagaimana yang difahamkan oleh kaum Masehi).  Banyak kaum  terpelajar  zaman  sekarang  yang  tertarik  oleh aspek-aspek    Islam    yang     mengenai     filsafat,kemasyarakatan atau ketatanegaraan, tetapi mereka tidak menyelidiki lebih  lanjut  bagaimana  dalam  mengetahui aspek-aspek  itu  mereka  sesungguhnya bersumber kepadawahyu  Islam.  Biasanya  orang  bertitik   tolak   dari anggapan  bahwa  Mohammad  bersandar kepada wahyu-wahyu yang diterima nabi-nabi  sebelum  dia  sendiri,  dengan begitu   mereka   ingin   mengelak  dari  mempersoalkan"wahyu."

Orang-orang Islam selalu dianggap remeh  oleh  golongan tertentu  dalam umat Kristen. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini, ketika ssya berusaha  mengadakan  dialog untuk  penelitian  perbandingan  antara  teks Bibel dan teks  Qur-an  mengenai  sesuatu  masalah;  saya  selalu disambut  dengan  penolakan  untuk  menyelidiki sesuatu yang mungkin diungkapkan oleh  Al  Qur-an  tentang  hal tersebut.   Hal   seperti   ini   seakan-akan   berarti menganggap bahwa  Qur-an  itu  ada  hubungannya  dengan Syaitan.

Pada  akhir-akkir  ini  telah  terjadi  perubahan besar dalam tingkat tertinggi daripada Dunia Kristen. Setelah konsili  Vatican  II  (1963-1965),  sekretariat Vatican (Departemen)  untuk  urusan-urusan  dengan  umat  bukan Kristen,  menyiarkan  Dokumen  "Orientasi  untuk dialog antara umat Kristen dan  umat  Islam;"  cetakan  ketiga terbit  pada  tahun  1972. Dokumen tersebut menunjukkan pergantian sikap yang mendalam secara resmi,  mula-mula Dokumen  tersebut  mengajak  untuk  melempar jauh image yang diperoleh umat Kristen tentang Islam  yaitu  image usang  yang  telah  diwarisi  dari masa yang silam atau image  yang  salah  karena  didasarkan  prasangka   dan fitnahan. Kemudian Dokumen tersebut mengakui terjadinya ketidak adilan  pada  masa  yang  lalu,  yaitu  ketidak adilan  yang dilakukan oleh Pendidikan Kristen tethadap umat Islam" diantaranya mengenai gambaran umat  Kristen yang  salah  tentang  fatalisma Islam, juridisma Islam, fanatisma dan lain-lain.  Dokumen  tersebut  menegaskan kesatuan  akan  Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Serta menyebutkan bahwa Kardinal Koenig telah  membikin para pendengarnya tercengang ketika dalam ceramah resmi di  Universitas  Al  Azhar  pada   bulan   Maret   1969 menerangkan   hal   tersebut.   Dokumen  tersebut  juga mengatakan  bahwa   sekretariat   (Departemen)   urusan non-Kristen mengajak umat Kristen pada tahun 1967 untuk mengucapkan selamat kepada umat Islam sehubungan denganbulan   puasa   Ramadlan   "sesuatu  nilai  agama  yang autentik."

Usaha-usaha untuk pendekatan antara Vatican  dan  Islam telah  diikuti  dengan  bermacam-macam  manifestasi dan pertemuan yang konkrit. Tetapi hal-hal  tersebut  hanya diketahui  oleh  jumlah  yang  sangat  sedikit di Barat walaupun mass media seperti pers,  radio  dan  telerisi tidak kurang.

Surat-surat kabar menyiarkan tentang kunjungan Kardinal Pignedoli, Ketua Departemen urusan bukan Kristen kepada Baginda  (almarhum) raja Faisal dari Saudi Arabia, pada tanggal 24 April 1974. Harian Le Monde (Dunia)  tanggal 25  April  1974  hanya memuat berita itu dalam beberapa baris. Tetapi berita  tersebut  adalah  penting  karena Kardinal  Pignedoli  menyampaikan  kepada  Sri  Baginda pesan dari Paus Paulus VI yang berisi: rasa hormat Paus Paulus VI, yang diiringi dengan keyakinan yang mendalam tentang kesatuan Dunia Islam  dan  Dunia  Kristen  yang kedua-duanya menyembah Tuhan yang Satu.

Enam  bulan  kemudian  pada  bulan  Oktober  1974, Paus Paulus  VI  secara  resmi  menerima  ulama-ulama  Saudi Arabia di Vatican. Pada waktu itu juga diadakan diskusi antara pihak Islam dan pihak Kristen mengenai:  Hak-hak manusia  dalam Islam. Surat kabar Vatican L'observatore Romano yang terbit pada tanggal 26 Oktober 1974  memuat  berita   diskusi   tersebut   pada   halaman   pertama.
Berita-berita  tersebut  mengambil  tempat  yang  lebih besar  daripada  berita tentang penutupan sidang Synode uskup-uskup di Roma.

Ulama-ulama Arabia kemudian mengunjungi Majelis Ekumeni
Gereja   di   Geneva   dan   diterima  oleh  Monsigneur Elchenger, uskup Strasburg yang kemudian meminta kepada mereka   untuk   sembahyang  lohor  di  Kathedral.  Hal tersebut saya sajikan  karena  luar  biasa  dan  karena artinya  yang  besar.  Tetapi  meskipun  begitu sedikit sekali   orang   yang   saya   tanya   dapat   mengerti  kejadian-kejadian tersebut.

Sikap  keterbukaan  terhadap  Islam  yang diperlihatkan oleh Paus Paulus VI yang pernah berkata, dijiwai dengan kepercayaan  penah  tentang  kesatuan  Dunia  Islam dan Kristen yang rnenyembah Tuhan Yang Satu,  akan  membuka halaman  baru  dalam  hubungan  kedua  agama. Mengingat sikap Kepala Gereja Katolik terhadap umat Islam  adalah perlu  sekali,  karena  banyak orang Kristen terpelajar masih berfikir seperti  yang  dilukiskan  oleh  Dokamen Orientasi  untuk  Dialog  antara  umat Kristen dan umat Islam  dan  tetap  menolak  menyelidiki   ajaran-ajaran Islam.  Dan  karena  sikap  tersebut mereka tetap tidak memahami realitas dan  tetap  berpegangan  kepada  idea yang sangat salah mengenai Wahyu Islam.

Bagaimanapun  juga  adalah  sangat wajar jika seseorang mempelajari aspek wahyu dalam suatu  agama  Samawi,  ia akan  mengadakan  perbandingan dengan dua agama lainnya mengenai  persoalan  yang  sama.  Sesuatu  penyelidikan tentang   sekelompok   masalah-masalah   lebih  menarik daripada penyelidikan tentang  hanya  sesuatu  masalah.
Oleh karena itu konfrontasi dengan hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan abad XX mengenai masalah-masalah  yang tersebut  dalam  kitab suci, adalah penting bagi ketiga agama itu. Bukankah lebih baik jika  ketiga  agama  itu merupakan  suatu  blok  yang  kompak  dalam  menghadapi bahaya materialisma yang mengancam  Dunia.  Pada  waktu ini,  di  kalangan-kalangan  ilmu  pengetahuan, baik di negeri-negeri  yang  di  bawah  pengaruh  agama  Yahudi Kristen  (Barat)  maupun  di negeri-negeri Islam banyak orang berpendapat  bakwa  agama  dan  Sains  tak  dapat disesuaikan.  Untuk  membicarakan  soal  ini, agama dan ilmu, perlu pembahasan yang sangat  luas.  Akan  tetapi saya   hanya   akan   membicarakan  satu  aspek  yaitu:
penyelidikan   tentang    Kitab-kitab    Suci    dengan mempergunakan pengetahuan Sains modern.

Maksud   tersebut   mendorong  untuk  mengajukan  suatu pertanyaan yang fundamental: Sampai di mana kita  dapat menganggap  teks  kitab-kitab suci yang kita miliki itu autentik? Soal ini  mendorong  kita  untuk  menyelidiki kejadian-kejadian   yang   terjadi   sebelum  pembukuan Kitab-kitab Suci tersebut sehingga sampai  kepada  kita sekarang Penyelidikan  tentang  Kitab  Suci  dengan  menggunakan kritik  teks  adalah  baru.   Mengenai   Bibel,   yakni Perjanjian    Lama    dan   Perjanjian   Baru,   selama berabad-abad manusia sudah  puas  dengan  menerima  apa adanya.  Membaca  Kitab  Suci tersebut hanya diperlukan untuk maksud-maksud apologetik (mempertahankan  agama).
Adalah  suatu  dosa  untuk  menunjukkan  pikiran kritik terhadap isi Kitab Suci  itu.  Para  rohaniawan  Gereja mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang menyeluruh tentang Kitab-kitab Suci. Adapun orang  awam kebanyakan   hanya   menerima   potongan-potongan  yang dipilih untuk dipakai dalam do'a atau khutbah.Kritik teks, suatu ilmu yang  telah  dibagi-bagi  dalam jurusan-jurusan   telah  berguna  untuk  membuka  tabir tentang adanya persoalan-persoalan yang sangat penting, akan  tetapi  kita  sering merasa sangat kecewa membaca buku-buku yang dinamakan kritik, tetapi  yang  nyatanya berhadapan   dengan  kesulitan-kesulitan  interpretasi, hanya  dapat  menyajikan  argumentasi  apologetik  yang dimaksudkan  unhwk  menutupi kejahilan pengarang. Dalam keadaan semacam ini, bagi orang yang  tetap  memelihara kekuatan  berfikir dan secara obyektif, kontradiksi dan kesalahan akan  tetap  berkesan;  ia  akan  menyesalkan sikap    yang    berlawanan    dengan   logika,   untuk mempertahankan bagian-bagian yang mengandung  kesalahan dalam   Kitab   Suci.   Hal  yang  semacam  ini  sangat membahayakan keutuhan  kepercayaan  kepada  Tuhan  Yang Maha Esa bagi orang-orang yang terpelajar.

Bagaimanapun juga pengalaman menunjukkan bahwa walaupun sebagian orang  dapat  menunjukkan  beberapa  kesalahan semacam  itu,  namun  mayoritas  besar dan umat Kristen tidak  tahu-menahu  tentang  adanya,  dan  tetap  tidak mengetahui  ketidaksesuaian-ketidaksesuaian  kitab suci dengan  pengetahuan  umum  yang  kadang-kadang   bahkan bersifat elementer.

Islam  mempunyai Hadits, dan Hadits ini dapat disamakan dengan Injil. Hadits  adalah  kumpulan  kata-kata  Nabi Muhammad   serta  riwayat  tindakan-tindakannya.  Injil adalah seperti Hadits  dalam  soal-soal  yang  mengenai Nabi  Isa.  Kumpulan  yang  pertama dari Hadits ditulis beberapa puluh tahun sesudah  wafatnya  Nabi  Muhammad, sebagaimana  Injil ditulis orang sesudah beberapa puluh tahun setelah Nabi Isa wafat.  Kedua-duanya,  merupakan kesaksian manusia tentang kejadian-kejadian dalam waktu yang sudah lampau. Berlainan dari apa yang dikira  oleh orang  banyak,  Injil  empat  (Matius,  Lukas,  Markus, Yahya) dikarang oleh orang-orang yang tidak menyaksikan kejadian-keiadian  yang  termuat  dalam Injil tersebut.Keadaannya sama dengan kumpulan Hadits.

Perbandingan antara Hadits  dan  Injil  harus  berhenti disini,  oleh  karena  jika kita membicarakan kebenaran Hadits ini atau Hadits  itu,  kita  akan  mirip  kepada orang   yang  kembali  kepada  abad-abad  pertama  dari Gereja, di mana  orang  hanya  menentukan  Injil  empat walaupun di antara empat itu terdapat kontradiksi dalam beberapa persoalan. Adapun Injil-Injil  yang  ada  pada waktu  itu  harus  disembunyikan,  itulah sebabnya maka Injil-Injil  selain  yang  empat  itu  dinamakan  Injil apokrif yakni yang tersembunyi.

Ada  lagi  perbedaan yang fundamental antara Kitab Suci dalam agama Masehi dan dalam Islam  yaitu  bakwa  agama Masehi  tidak mempunyai teks yang diwahyukan, jadi teks yang tetap,  sedang  Islam  mempunyai  Al  Qur-an  yang memenuhi syarat wahyu dan tetap.

Al  Qur-an  adalah  penjelmaan wahyu yang diterima oleh Muhammad dari Tuhan dengan perantaraan Jibril.  Setelah ditulis,  dan dihafal, Qur-an dibaca oleh kaum muslimin di waktu sembahyang dan khususnya pada bulan  Ramadlan, Al  Qur-an  dibagi-bagi  dalam  surat-surat  oleh  Nabi Muhammad sendiri. Setelah Nabi Muhammad meninggal, pada zaman Khalifah Usman (tahun 12-14 setelah wafatnya Nabi Muhammad) Qur-an  dibukukan  sehingga  menjadi  seperti yang kita lihat sekarang.

Berbeda  sekali  dengan  apa  yang terjadi dalam Islam, wahyu   (Kitab   Suci)    Kristen    didasarkan    atas kesaksian-kesaksian  manusia  yang  bermacam-macam  dan tidak langsung. Orang Kristen tak  mempunyai  kesaksian dari  seorang  saksi  hidup  dari zaman Yesus, walaupun banyak sekali orang Kristen  tak  mengetahui  hal  ini.Dengan    begitu    maka   timbullah   soal   kebenaran (autentitas) teks kitab suci  Kristen  dan  teks  kitab suci Islam.

Di  samping  hal  tersebut  di atas, konfrontasi antara teks Kitab Suci Kristen dengan penemuan-penemuan ilmiah selalu menjadi bahan pemikiran manusia. Mula-mula orang berpendirian bahwa keserasian antara Kitab Suci (Injil) dan  Sains  merupakan  unsur yang pokok dalam kebenaran (autentitas) teks Kitab  Suci.  Santo  Agustinus  dalam suratnya  no.  82  yang  akan  kami  muat  nanti, telah menetapkan prinsip tersebut  secara  formal.  Kemudian, setelah     Sains     berkembang,     terasa     adanya perbedaan-perbedaan  antara   Bibel   dan   Sains   dan pemimpin-pemimpin  agama  Kristen tidak mengadakan lagi pendekatan  antara   keduanya.   Dengan   begitu   maka timbullah  suatu  situasi yang berbahaya dan pada waktu ini berhadapanlah  ahli  Bibel  dan  para  ahli  Sains.
Sesungguhnya  tak  mungkin orang mengatakan bahwa wahyu Illahi dapat menyebutkan sesuatu hal yang secara ilmiah sudah  dibuktikan  keliru.  Hanya  ada satu jalan untuk penyesuaian   logis,  yaitu  dengan  mengatakan   terus terang  bahwa bagian-bagian dari Bibel yang menyebutkan hal-hal yang tidak dapat diterirna  oleh  Sains,  harus dinyatakan  salah.  Tetapi  pemecahan persoalan seperti tersebut tidak pernah dilakukan.  Orang  Kristen  tetap berpegang  teguh  kepada  kemurnian teks Bibel, dan hal ini memaksa  ahli-ahfi  tafsir  Injil  untuk  mengambil sikap yang bertentangan dengan akal ilmiah.

Islam, seperti Santo Agustinus bersikap terhadap Bibel, mengatakan bakwa antara teks Al Qur-an dan  fakta-fakta ilmiah  selalu  ada  keserasian.  Penyelidikan  teks Al Qur-an pada zaman modern  tidak  menunjukkan  perlunya, peninjauan  baru  tentang  sikap  tersebut.  Al Qur-an,sebagai  nanti  akan  diterangkan  secara   terperinci, menyebutkan  fakta-fakta yang banyak hubungannya denganSains, dan dalam jumlah yang jauh lebih besar  daripada masalah-masalah   dalam  Injil.  Tak  ada  perbandinganantara jumlah terbatas daripada  sikap  Injil  mengenaipengetahuan dengan jumlah yang besar daripada soal-soalilmiah yang tersebut dalam Al Quran. Tak ada  soal-soalyang  tersebut  dalam  Al Qur-an yang dapat dibohongkanoleh Sains. Inilah hasil yang pokok  dari  penyelidikan ini.

Di  lain pihak pembaca akan mendapatkan pada akkir bukuini bahwa mengenai kumpulan sabda-sabda  Nabi  (hadits) yang  tidak  merupakan  teks wahyu Qur-an, keadaan agakberlainan, karena beberapa hadits  tertentu  tak  dapat diterima menurut Sains. Hadits-hadits semacam itu telahdiselidiki   menurut   prinsip-prinsip   Qur-an    yangmenganjurkan pemakaian fakta dan akal dan sebagai hasil penyelidikan  ini,  beberapa  Hadits  telah  dinyatakan tidak autentik (tidak benar).

Pemikiran  tentang  ciri-ciri  yang dapat diterima atau ditolak  secara  ilmiah  mengenai  teks   Kitab   Suci,memerlukan  suatu  penjelasan. Jika kita bicara tentang hasil ilmiah, kita maksudkan hanya hal-hal  yang  sudah dinyatakan  secara  definitif. Dengan begitu kita harus menjauhkan   theori-theori   explicatif    (teori-teoripenafsiran)  yang  berfaedah  untuk  memberi penjelasantentang sesuatu fenomena, tetapi yang mungkin  sebentarlagi  terpaksa  dihapuskan  dan  diganti  dengon theorilainnya yang lebih sesuai dengan  perkembangan  ilmiah.
Yang  saya selidiki di sini adalah fakta-fakta yang tak dapat dikembalikan  kepada  masa  sebelumnya,  walaupunSains  hanya  memberi  penjelasan yang kurang sempurna,tetapi  cukup  kuat   dan   tidak   mengandung   resiko
kesalahan.

Umpamanya, kita tidak tahu kapan manusia mulai hidup di atas  bumi  ini,  walaupun  secara  kira-kira;   tetapikemudian  telah ditemukan bekas-bekas pekerjaan manusia yang oleh ilmu pengetakuan dianggap secara pasti  telah terjadi  10  ribu tahun sebelum lahirnya Nabi Isa. Atas dasar  tersebut  maka   kita   tidak   dapat   menerima pernyataan  Bibel  bahwa asal manusia (penciptaan Adam) adalah pada abad ke 37 sebelum Nabi  Isa  sebagai  yang disebutkan   oleh  Perjanjian  Lama  (Kitab  Kejadian).
Mungkin dikemudian hari Sains dapat  menentukan  secara lebih pasti dari pengetahuan kita sekarang, akan tetapi kita sudah yakin dari sekarang bahwa tak mungkin  orangmembuktikan bahwa manusia sudah berada di bumi semenjak 5736 tahun seperti yang dikatakan oleh Perjanjian Lama.
Dengan  begitu  maka  keterangan  Bibel tentang umurnyajenis manusia sudah terang salah.

Konfrontasi  dengan  Sains   tidak   akan   menyinggung soal-soal  yang  semata-mata  bersifat  keagamaan. JadiSains tak akan dapat menjelaskan cara  bagaimana  Tuhan menampakkan   kehadiranNya   kepada   Nabi  Musa,  atau menjelaskan rahasia yang  mengelilingi  kelahiran  Nabi Isa   dengan  tak  mempunyai  Bapak  alamiah.  Mengenai hal-hal tersebut Kitab-kitab Suci  juga  tidak  memberi penjelasan. Penyelidikan dalam buku ini adalah mengenai kejadian-kejadian alamiah bermacam-macam yang  tersebut dalam    kitab-kitab    Suci    dan   disertai   dengan tafsiran-tatsiran bermacam-macam pula.  Dalam  hal  ini perlu  kita  perhatikan  kekayaan  yang  melimpah  yang terkandung dalam  Al  Qur-an-dan  kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Barumengenai hal yang sama.

Saya menyelidiki keserasian teks  Qur-an  dengan  Sains modern  secara obyektif dan tanpa prasangka. Mula-mula,saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa  Qur-an menyebutkan  bermacam-macam  fenomena  alamiah,  tetapi dengan membaca terjemahan  itu  saya  hanya  memperoleh pengetahuan  yang  samar (ringkas). Dengan membaca teks Arab  secara  teliti  sekali  saya   dapat   mengadakan inventarisasi  yang  membuktikan  bakwa Al Qur-an tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik  dari segi pandangan ilmiah di zaman modern ini.

Saya  telah  melakukan  penyelidikan yang sama terhadap Perjanjian Lama dan  Injil.  Mengenai  Perjanjian  Lama saya  tak  perlu  menyelidiki  lebih  jauh  dari  Kitab Kejadian untuk mendapatkan pernyataan-pernyataan;  yang tak   dapat   disesuaikan  dengan  hal-hal  yang  sudahditetapkan secara pasti oleh Sains di zaman sekarang.

Mengenai  Injil  (Perjanjian  Baru),   dengan   membaca genealogi  (silsilah  keturunan) Nabi Isa yang terdapat dalam halaman  pertama,  saya  telah  terjerumus  dalam persoalan  yang sangat serius, karena teks Injil Matius dalam hal ini sangat kontradiksi  dengan  Injil  Lukas, dan Injil Lukas menunjukkan ketidakserasian dengan ilmu pengetahuan modern mengenai asal mula manusia  di  atas bumi.

Adanya  kontradiksi,  ketidak  serasian  ini, saya kira tidak akan merubah  kepercayaan  kepada  adanya  Tuhan, karena  hal-hal tersebut hanya mengenai tulisan-tulisan manusia. Tak ada orang yang dapat menerangkan bagaimana teks  yang  asli  dan  yang mana yang merupakan redaksi yang aneh dan yang mana yang merupakan  perubahan  yang dimasukkan dengan sengaja atau yang mana yang merupakan perubahan yang tak disengaja.

Yang sangat  menarik  perhatian  pada  waktu  sekarang, adalah bahwa menghadapi kontradiksi dan ketidakserasian dengan hasil Sains, para ahli  penyelidikan  Bibel  ada yang  pura-pura  tidak  mengetahuinya dan ada pula yang mengetahui   kesalahan-kesalahan   itu;   akan   tetapi berusaha  untuk  menutupinya dengan akrobatik dialektik (permainan kata-kata).

Mengenai Injil Matius dan Injil Yahya saya akan memberi contoh tentang cara-cara apologetik yang diberikan oleh ahli-ahli tafsir Injil yang ternama. Cara-cara menutupi(camuflaseJ    kesalahan    atau   kontradiksi   dengan menamakannya secara halus  "kesukaran"  biasanya  dapat berhasil,  dan  ini  menunjukkan  bahwa  terlalu banyak orang Kristen yang tidak mengetahui kesalahan-kesalahan yang  serius dalam beberapa bagian dari Perjanjian Lama dan Perjanjian  Baru.  Para  pembaca  akan  mendapatkan contoh-contoh yang tepat dalam bagian pertama dan kedua dalam buku ini!

Dalam bagian ketiga, pembaca  akan  mendapatkan  contoh aplikasi  Sains  dalam  menyelidiki Kitab Suci, bantuan dari  ilmu  pengetahuan  modern  untuk  lebih  memahami ayat-ayat   Qur-an  yang  sampai  sekarang  masih  jadi teka-teki atau masih belum dapat difahami. Hal ini  tak perlu  mengherankan karena dalam Islam agama, dan Sains selalu dianggap sebagai saudara  kembar.  Dari  semula, mempelajari   Sains  merupakan  bagian  dari  kewajiban keagamaan,  Aplikasi  ajaran  ini  telah   menghasilkan kekayaan  ilmiah  yang melimpah pada zaman perkembangan kebudayaan Islam, yang juga telah menjadi  sumber  bagi  Barat pada zaman sebelum renaissance.

Pada   zaman  sekarang  kemajuan  yang  diperoleh  oleh manusia karena Sains  dalam  menafsirkan  ayat-ayat  Al Qur-an  yang  selama  ini  tak  dimengerti atau disalah tafsirkan, merupakan puncak daripada konfrontasi antara Kitab Suci dengan Sains


Asalnya Bibel
(Perjanjian Lama)

Sebelum   tersusun   menjadi   kumpulan    fasal-fasal,Perjanjian  Lama  merupakan  tradisi  rakyat yang tidak mempunyai  sandaran,  kecuali  dalam  ingatan  manusia, satu-satunya     faktor    untuk    tersiarnya    idea, tradisi-tradisi tersebut selalu dinyanyikan.
 
Edmond Jacob menulis:  "Dalam  tahap  permulaan,  semuaorang  menyanyi; di Israil seperti di tempat lain, puisi lebih dahulu daripada prosa. Bani Israil menyanyi  baikdan   banyak.  Nyanyian  itu  mempunyai  bermacam-macam ekspresi,  tergantung  kepada  kejadian-kejadian  dalam sejarah dengan enthusiasme yang memuncak atau putus asa yang menenggelamkan."  Mereka  menyanyi  dalam  keadaan yang   bermacam-macam,  dan  Edmond  Jacob  menyebutkan sebagian di mana nyanyian  yang  menyertainya  terdapat dalam  Perjanjian  Lama:  nyanyian makan pagi, nyanyian akhir panen, nyanyian yang menyertai pekerjaan, seperti nyanyian  Sumur (Bilangan 21, 17), nyanyian perkawinan, nyanyian kematian, nyanyian perang yang  sangat  banyak dalam  Bibel  seperti  nyanyian Debarah (Hakim-hakim 5, 1-32) yaitu nyanyian yang memuja kemenangan Israil yang dikehendaki  oleh  Yahweh  dalam  suatu peperangan yang dipimpin oleh Yahweh sendiri (Bilangan 10, 35).  Ketika Peti  Suci  sudah  pergi, Musa berkata-kata: "Bangunlah Yahweh,  mudah-mudahan  musuh-musuhmu   terserak-serak. Mudah-mudahan  mereka  yang  benci  kepadamu  akan laritunggang langgang di hadapan wajahmu."
 
Nyanyian-nyanyian itu juga merupakan kata-kata  mutiara serta  perumpamaan  kata-kata  yang  berisi berkat atau laknat, peraturan-peraturan yang dibikin untuk  manusia oleh  para  Nabi  sesudah  mereka itu menerima perintah Ilahi.
 
Edmond  Jacob  mengatakan  bahwa   kata-kata   tersebut diwariskan   dengan   jalan   keluarga   atau   melalui rumah-rumah ibadat dalam  bentuk  sejarah  Bangsa  yang terpilih   olehTuhan.   Sejarah  ini  kemudian  menjadi dongeng seperti dongengan Jatam (Kitab  Hakim-hakim  9, 7-21)  dimana tertulis: "Pohon-pohon itu berjalan untukmengusapkan  minyak  kasturi  kepada  raja  mereka  dan mereka  berkata  kepada pohon Zaitun, pohon Tien, pohon anggur dan pohon duri." Hal tersebut  mendorong  Edmond Jacob   untuk   menulis  "karena  dijiwai  oleh  fungsidongeng, maka penyajian  hikayat  seperti  tersebut  di atas  tidak dirasakan janggal karena mengenai soal-soal dan periode-periode yang sejarahnya tak dikenal orang."
 
Edmond  Jacob  kemudian  menyimpulkan:  "Adalah  sangat mungkin  bahwa apa yang dikisahkan oleh Perjanjian Lamatentang Nabi Musa dan  pemimpin-pemimpin  agama  Yahudi tidak  sesuai  dengan  yang terjadi dalam sejarah, akan tetapi para tukang dongeng dalam  masa  riwayat  secara lisan  sudah  dapat  mengisikan keindahan dan imaginasi untuk merangkai episode yang  bermacam-macam,  sehingga mereka  berhasil  menyajikannya  sebagai  sejarah  yang nampak    besar    kemungkinan    kebenarannya     bagi pikiran-pikiran   yang   kritis,   yaitu  sejarah  yang mengenai asal alam dan manusia."
 
Perlu kita ingat bahwa setelah bangsa Yahudi tinggal di Kan'an, yakni kira-kira pada akhir abad XIII sebelum al masih, tulisan sudah mulai dipakai untuk memelihara dan meriwayatkan  dongeng-dongeng, akan tetapi tidak secara tepat, meskipun yang  dikatakan  itu  mengenai  hal-hal yang  harus  tepat  sekali,  yakni soal hukum. Mengenai hukum  ini,  perlu  diterangkan  bahwa  hukum   sepuluh (Dekalog)  yang  dikatakan  telah  datang langsung dari tangan Tuhan telah diriwayatkan dalam  Perjanjian  Lama menurut  dua  versi  yakni:  Kitab Keluaran (Exodus 20, 1-21) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy 5, 1-30).  Jiwanya sama,  tetapi  perbedaan  tetap  ada.  Kemudian  muncul keinginan  untuk   menetapkan   dokumentasi-dokumentasi penting    seperti    kontrak,    surat-surat,   daftar orang-orang  (hakim-hakim,  pegawai-pegawai  tinggi  di kota-kota),    daftar    silsilah   keturunan,   daftarkurban-kurban dan daftar harta jarahan.  Dengan  begit u terjadilah arsip-arsip yang berisi dokumen-dokumen yangkemudian mengisi kitab-kitab  (fasal-fasal)  Perjanjian Lama  yang  sekarang ini. Dengan begitu dalam tiap-tiap fasal terdapat bentuk literer yang tercampur. Para ahli kemudian  menyelidiki  sebab-sebab yang mendorong untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang berbeda-beda  menjadisatu.
 
Adalah  sangat  menarik  untuk membandingkan penyusunanPerjanjian Lama dengan dasar tradisi lisan, dengan  apa yang  terjadi  di  bidang  lain  dan  pada  zaman  yang berlainan, yaitu masa timbulnya kesusasteraan primitif.
 
Marilah kita mengambil contoh dari sastra Perancis pada zaman  Kerajaan  Perancis.  Tradisi-tradisi lisan telah muncul lebih  dahulu  sebelum  peristiwa  sejarah  yang besar  dicatat  dalam  sejarah,  yakni kejadian seperti perang  untuk  mempertahankan  agama   Kristen,   drama tentang pahlawan-pahlawan yang kemudian diabadikan oleh pengarang-pengarang dan penulis-penulis sejarah. Dengan cara  begitu mulai abad XI M timbul nyanyian dan tarian dimana yang benar dan  yang  khayal  menjadi  satu  dan menjadi  satu epik (syair kepahlawanan). Di antara epik itu yang termasyhur adalah  syair  Roland  (Chanson  de Roland),  tentang  pahlawan  perang yang bernama Roland yang menjadi komandan penjaga Kaisar Charlemagne  (Karl yang  Agung)  waktu  kembali dari berperang di Spanyol. 
Pengorbanan  Roland  bukannya   satu   dongengan   yang dibikin-bikin   untuk  sekedar  dongengan;  pengorbanan Roland terjadi pada tanggal 5 Agustus tahun 778,  yaitu pada  waktu  serangan orang Basque (Penduduk pegunungan Pyrenes).   Karya   kesusasteraan   tidak   semata-mata bersifat   legenda,  tetapi  mempunyai  dasar  sejarah; walaupun begitu  ahli-ahli  sejarah,  tidak-memahaminya secara harafiah. 
 
Persamaan  antara lahirnya Bibel dan kesusasteraan yang  bukan  agama  nampaknya  memang  riil.  Hal  ini  tidak  berarti  bahwa kita menolak keseluruhan teks Bibel yang  dimiliki  oleh  orang-orang  yang  mempunyai   kumpulan buku-buku  mitologi,  yakni seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan; orang dapat  percaya kepada kebenaran bahwa Tuhan menciptakan alam, bahwa Tuhan menyerahkan sepuluh  perintah  kepada Musa,  bahwa  Tuhan  mencampuri  urusan-urusan manusia, umpamanya pada ajaran Raja (Nabi) Sulaiman; orang dapat percaya  bahwa  essensi dari kejadian-kejadian tersebut telah disampaikan kepada kita, akan tetapi  kita  harus ingat  bahwa  rincian  penyajian  soal  tersebut  harus diperiksa dengan  teliti,  dengan  kritik  yang  ketat, karena   sumbangan  manusia  dalam  menjadikan  tradisi lisan, menjadi buku tertulis adalah sangat besar.
Kebanyakan  pembaca  Perjanjian  Lama   yang   menerima pertanyaan   tersebut  di  atas  akan  menjawab  dengan mengulangi apa  yang  pernah  mereka  baca  dalam  Kata Pengantar  Bibel, yaitu yang mengatakan bahwa fasal itu  semua adalah  karangan  Tuhan,  walaupun  ditulis  oleh orang-orang yang mendapat wahyu dari Ruhul Kudus.
 
Kadang-kadang  orang  yang  memperkenalkan  Bibel  tadi menganggap  cukup  dengan  keterangan singkat tersebut, dan  dengan  begitu  ia   menutup   kemungkinan   untuk pertanyaan   lebih   lanjut;  tetapi  kadang-kadang  ia menambah     penjelasan     bahwa      mungkin      ada perincian-perincian  yang  ditambahkan orang dalam teks lama, akan  tetapi  meskipun  begitu,  perbedaan  faham tentang   sesuatu   ayat,   tidak   merubah   kebenaran keseluruhan. Orang selalu menekankan kepada "Kebenaran" yang  dijamin  oleh  Kepala  Gereja,  yaitu  orang yang mendapat bantuan dari Ruhul Kudus,  satu-satunya  pihak yang berhak menerangkan sesuatu kepada orang-orang yang percaya. Bukankah Gereja, semenjak konsili-konsili abad ke  4  telah  meresmikan daftar Kitab Suci yaitu daftar yang dikuatkan oleh  konsili  Florence  (1441),  Trente (1546)  dan Vatikan I (1870) untuk menjadi Kanon (Injil Induk).   Belum   lama   ini,   setelah    mengeluarkan  bermacam-macam    encyclique   (dekrit),   Paus   telah  mengumumkan suatu keterangan tentang  Refelasi  (wahyu) dalam  bentuk  suatu  teks  yang  sangat  penting  yang disusun selama tiga tahun  (1962  -  1965).  Kebanyakan orang  yang  membaca  Bibel   mendapatkan   keterangan- keterangan yang menenteramkan   hati  itu  di permulaan cetakan  modern  serta  merasa  puas    dengan  jaminan  kebenaran yang  telah  diberikan  selama  beberapa abad dan  mereka itu tak pernah memikirkan bahwa orang dapat mendiskusikan isi Bibel.
 
Akan  tetapi  jika  seseorang  membaca  buku-buku  yang ditulis  oleh  ahli-ahli  agama,  yakni  buku-buku yang tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh orang awam, ia akan menyadari  bahwa  soal autentitas kitab dalam Bibel itu jauh lebih kompleks  daripada  pemikiran  orang  biasa. 
Jika  salah  seorang  membaca umpamanya, cetakan modern dari pada Bibel yang diterjemahkan ke  bahasa  Perancis di   bawah   asuhan  Lembaga  Bibel  di  Yerusalem  dan diterbitkan  dalam  bagian-bagian  terpisah,  ia   akan mendapatkan  suara  yang  sangat  berbeda,  dan ia akan mengerti bahwa Perjanjian Lama, seperti juga Perjanjian Baru,  telah  menimbulkan  problema-problema  yang para ahli tafsir tidak  menyembunyikan  unsur-unsurnya  yang menimbulkan khilaf.
 
Kita  juga  mendapatkan  unsur-unsur  yang  pasti dalam pembahasan yang lebih  ringkas  akan  tetapi  obyektif, seperti  dalam  buku  karangan  Professor  Edmond Yacob "Perjanjian  Lama,"  yang   diterbitkan   oleh   Presse Universitaire  de  France,dalam seri yang berjudul: Que Sais-je, (apakah yang  saya  ketahui?).  Buku  tersebut memberi gambaran yang menyeluruh.
 
Banyak  orang  yang tidak tahu bahwa pada permulaannya, seperti yang dikatakan Edmond Jacob, terdapat  beberapa teks  Perjanjian Lama dan bukan teks tunggal. Pada abad III SM sedikitnya ada  tiga  teks  Ibrani,  yaitu  teks massorethique, teks yang dipakai untuk terjemahanYunani dan teks kitab Taurat Samaria. Pada  abad  pertama  SM, ada  kecenderungan  untuk  membentuk teks tunggal, akan tetapi hal tersebut baru terlaksana satu abad kemudian. 
 
Jika kita mempunyai tiga teks tersebut di  atas,  tentu kita   dapat  melakukan  studi  perbandingan  dan  kita mungkin dapat mempunyai idea tentang  teks  yang  asli, akan  tetapi  kita tak mempunyai teks tersebut di atas. 
Selain gulungan-gulungan yang terdapat  di  gua  Qumran pada tahun 1947, yaitu gulungan yang berasal dari zaman sebelum timbulnya  agama  Kristen,  dan  dekat  sebelum munculnya  Nabi  Isa,  telah terdapat Papyrus Decalogue berasal   dari    abad    II    M,    dan    mengandung perbedaan-perbedaan   dari  teks  klasik,  begitu  juga fragmen Perjanjian Lama, yang ditulis orang pada abad V M.  (Fragmen  Geniza,  Cairo);  selain  itu semua, teks Bibel Ibrani yang paling tua adalah teks abad IX M. 
 
Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani  terjadi pada   abad   III  sebelum  Masehi.  Teksnya  dinamakan Septante (berarti tujuh puluh; yakni jumlah orang  yang  menterjemahkan).  Terjemahan  tersebut  dilakukan  oleh orang-orang Yahudi di  Alexandria.  Pengarang-pengarang Perjanjian  Baru  bersandar  kepada  teks tersebut, danteks tersebut dipakai orang sampai  abad  VII  M.  Pada waktu  sekarang  teks Yunani yang dipakai Dunia Kristen  adalah manuskrip (tulisan tangan) yang dinamakan  Codex Vaticanus yang disimpan di Vatican dan Codex Sinaiticus  (berasal dari Sinai) yang disimpan di British Museum di London. Manuskrip tersebut ditulis pada abad IV M. 
 
Terjemahan  dalam  bahasa  Latin  dilakukan oleh Jerome dari dokumen-dokumen Ibrani pada permulaan  abad  V  M.
Terjemahan  Latin  ini  kemudian dinamakan Vulgate olehkarena telah tersebar diseluruh Dunia sesudah abad  VIIM.
 
Perlu  kita  ketahui  juga bahwa ada terjemahan Aramaik dan Syriaks akan tetapi terjemahan itu  hanya  mengenai beberapa bagian dari Perjanjian Lama.
 
Bermacam-macam  terjemahan  tersebut  telah diolah oleh beberapa orang ahli dan dijadikan  teks  tengah-tengah; yakni yang merupakan kompromi antara bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Ada pula yang mengumpulkan bermacam-macam terjemahan  disamping  Bibel  Ibrani seperti terjemahan Yunani,  Latin,  Syriak,  Aramaik  dan  Arab.  Kumpulan itulah  yang  tersohor dengan nama Bibel Walton (London tahun 1657).
 
Perlu kita tambahkan pula bahwa diantara  Gereja-gereja Masehi  yang  bermacam-macam sekarang keadaannya adalah bahwa Gereja-gereja itu tidak menerima fasal-fasal yang sama dalam Bibel, dan Gereja-gereja tersebut juga tidak mempunyai     pengesahan     yang     sama     mengenai terjemahan-terjemahan  dalam  satu  bahasa. Usaha-usaha untuk  mempersatukan  masih  dilakukan  dan  terjemahan Ekumenik  (persatuan)  yang  dilakukan  oleh  ahli-ahli Katolik dan Protestan mengenai Perjanjian Lama ternyata akan meng hasilkan sintesa (perpaduan).
 
Dengan   begitu   maka   usaha  manusia  mengenai  teks Perjanjian Lama ternyata sangat besar, dan dengan mudah kita  mengetahui  bahwa  sebagai akibat koreksi-koreksi antara versi yang bermacam-macam  dan  terjemahan  yang bermacam-macam, teks yang asli sudah berubah selama duaribu tahun.

Kitab-kitab Perjanjian Lama
Perjanjian Lama  merupakan  kumpulan  fasal-fasal  yang panjangnya   tidak   sama  dan  isinya  bermacam-macam, ditulis selama lebih dari sembilan abad dalam  beberapa bahasa  dan  dimulai  dengan tradisi lisan. Fasal-fasal itu banyak yang telah dikoreksi dan dilengkapkan sesuai dengan   kejadian-kejadian   atau   kebutuhan-kebutuhan tertentu,  pada  waktu-waktu  yang  berjauhan  jaraknya antara satu dengan lainnya.
 
Sangat   boleh  jadi  bahwa  munculnya  literatur  yangmelimpah ini terjadi pada permulaan monarki Yahudi pada abad   XI  SM,  yaitu  pada  waktu  timbulnya  kelompok pegawai-pegawai       Raja        yang        merupakan sekretaris-sekretaris,  yakni  orang-orang  pandai yang pekerjaannya tidak terbatas dalam sekedar menulis. Darizaman   itulah  bermula  tulisan-tulisan  parsial  yang tersebut   dalam   fasal-fasal   sebelum   ini,   yaknitulisan-tulisan yang penting untuk ditetapkan waktunya,seperti  nyanyian-nyanyian  yang  tersebut   di   atas,kata-kata  yang  diucapkan  oleh  nabi  Ya'kub dan nabiDawud, Sepuluh Perintah dan lebih umum  lagi  teks-tekslegislatif  yang  membentuk  tradisi  keagamaan sebelumtersusunnya undang-undang. Teks-teks tersebut merupakanbagian-bagian    yang    terpisah   disana-sini   dalam bagian-bagian Perjanjian Lama.
 
Kemudian kira-kira abad X SM tersusunlah teks "Yahwist" dari  Pentateuque  (Torat)  yang  merupakan  lima fasal pertama.  Kemudian  orang   menambahkan   kepada   teks tersebut,  bagian-bagian yang dinamakan "versi Elohist" dan  versi  "Sakerdotal".2  Teks  Yahwist  membicarakan periode  permulaan  alam  sampai  matinya  Yakob.  Teks tersebut berasal dari Kerajaan Selatan (Israel Selatan) atau Yuda.
 
Pada  akhir abad IX dan pertengahan abad VIII SM, dalam Kerajaan Yahudi Utara (Israil)3 telah tersiar  pengaruh Elia  dan  Elisa; yakni dua orang nabi yang kita jumpai tulisannya dalam Perjanjian Lama. Periode teks  Elohist lebih   singkat  daripada  teks  Yahwist;  karena  teks Elohist hanya  menceritakan  kejadian-kejadian  tentang Abraham  (Ibrahim),  Yacob  (Ya'kub) dan Yosef (Yusuf).
Kitab (fasal) Yusak dan Hakim-hakim  juga  berasal  dan zaman ini. 
 
Abad  VIII SM adalah abad nabi-nabi penulis, yaitu Amos dan Hosea di  Israil(Kerajaan  Utara)  dan  Isaiah  dan Mikah dalam Kerajaan Selatan (Yuda) Pada  tahun  721  SM  Kerajaan Samaria mencaplok negara Israil, dan dengan begitu maka Kerajaan Yuda  mengambil alih  warisan  keagamaan.  Kumpulan peribahasa tersusun pada periode ini dan menunjukkan campuran  antara  teks Yahwist  dan  Elohist.  Dengan begitu tersusunlah kitab Taurah. Penyusunan Kitab  Ulangan  juga  terjadi  dalam periode ini.
 
Pemerintahan Yosias dalam pertengahan kedua abad VII SM bersamaan dengan permulaan  zaman  nabi  Jeremia,  akan tetapi   karangan   Jeremia  ini  baru  berbentuk  yang definitif satu abad kemudian.
 
Kenabian- Zefanya, Nahum dan  Habakuk  terjadi  sebelum  orang  Israil  dideportasi (diasingkan) ke Babylon pada takun 598 SM, yakni karena Babylon menang atas  Samaria yang mencaplok Israil pada tahun 721 SM. Pada waktu itu Nabi Yehezkiel sudah menyelesaikan  tugas  kenabiannya.
Deportasi  kedua  terjadi  ketika  Yerusalem jatuh pada tahun 587 SM, dan pengasingan  itu  baru  selesai  pada tahun 538 SM.
 
Kitab (fasal) Yehezkiel, seorang nabi Yahudi yang besar pada  zaman  pengasingan  ke  Babylon  baru   dibukukan setelah  ia  meninggal.  Para  penulis  fasal Yehezkiel tersebut juga menulis versi sakerdotal  mengenai  Kitab Kejadian,  yakni  mengenai  periode  dari  waktu  Dunia diciptakan oleh Tuhan  sampai  matinya  Ya'kub.  Dengan begitu  maka  di  antara  teks Yahwist dan teks Elohist telah diselipkan teks  ketiga  yang  perbedaan  umurnya adalah  empat dan dua abad lebih dahulu. Pada waktu itu sudah   terdapat   kitab   "Nudub"   (tangisan)    atau Lamentation.
 
Karena  perintah  raja  Persia,  Cyrus yang mengalahkan Babylonia, pengasingan ke Babylon diakhiri  pada  tahun 538  SM.  Orang-orang  Yahudi  kembali ke Palestina dan mendirikan lagi tempel mereka di kota itu. Nampak  pula nabi-nabi  baru  dan  kitab  (fasal) baru seperti kitab (fasal) Hagai, Zakarya, Israil,  Maleachi,  Daniel  dan Baruch.
 
Setelah  Bani Israil diasingkan ke Babylon terkumpullah fasal-fasal  dalam  perjanjian  lama  sebagai  berikut: Amstal  Sulaiman (Proverbs) kurang lebih pada tahun 480 SM, fasal Ayub pada pertengahan abad V  SM,  al  Khatib (Ecelesiaste atau chronick), pada abad III SM bersamaan dengan nyanyian (song of Salomon),  dua  fasal  Berita, fasal   Esdras,   fasal   Nehemia;  eclesiastique  atau seracide  baru  muncul   pada   abad   II   SM,   fasal kebijaksanaan  Sulaiman,  dua  fasal  Maccabees ditulis pada abad I SM, fasal Ruth Esther,  Yunus;  Tobias  dan Yudit  adalah sukar untuk dipastikan abad penulisannya.
Keterangan-keterangan tersebut masih dapat berubah jika ada  riset-riset  baru,  oleh  karena  Perjanjian  Lama seluruhnya baru terkumpul pada abad  I  SM  dan  secara definitif, baru pada abad I M
 
Dengan  begitu  maka  Perjanjian  Lama  merupakan  satu monumen literatur bangsa Yahudi, yang terkumpul sedikit demi    sedikit   sehingga   periode   Agama   Nasrani.
Kitab-kitab   (fasal-fasal)    nya    telah    ditulis, disempurnakan  dan  ditinjau  kembali antara abad X dan abad I SM.  Faktor  ini  bukan  sekedar  pendapat  saya pribadi   akan  tetapi  saya  kutip  dari  Encyclopedia Universalis, cetakan tahun 1974, jilld III halaman  246 -  253,  ditulis  oleh  S.P  Sandraz  guru  besar  pada fakultas dominikan di Soulchoir; untuk memahami  apakah Perjanjian  Lama  itu,  kita  harus  ingat  hasil-hasil penyelidikan para spesialis yang sangat kompeten.
 
Suatu wahyu telah tercampur dengan tulisan-tulisan itu, akan  tetapi  pada  waktu  ini  yang  kita miliki hanya hal-hal yang ditinggalkan oleh orang-orang  yang  telah merubah  teks  asli  menurut  situasi  dan kondisi yang dihadapi mereka.
 
Jika kita bandingkan hal-hal obyektif tersebut di  atas dengan hal-hal yang tersebut dalam mukaddimah atau kata pengantar bermacam-macam Bibel yang dicetak untuk awam, kita  rasakan  ada  perbedaan. Dalam kata pengantar itu tak disebutkan hal-hal yang mengenai  pembukuan  Bibel; hal-hal   yang   samar-samar  dan  kabur  tidak  diberi penjelasan sehingga membingungkan pembaca,  dan  banyak soal-soal  yang  diperkecil  sehingga  memberi gambaranyang salah. Dengan begitu maka pengantar-pengantar  itu banyak  yang  merubah  kebenaran.  Banyak kitab (fasal) yang dirubah beberapa kali; seperti dalam kasus Taurah, tetapi  dalam  edisi  hanya  diterangkan,  mungkin  ada perinci-perinci  yang  ditambahkan.  Kadang-kadang  ada pengarang   yang  mengadakan  diskusi  tentang  sesuatu bagian yang tidak penting,  akan  tetapi  ia  melupakan bagian  yang sangat penting dan menolak pembahasan yang mendalam. Sungguh menyedihkan jika kita melihat hal-hal yang   tidak  benar  dilakukan  oleh  orang-orang  yang menyiarkan Bibel untuk awam.

Taurah atau Pentateuque

Taurah adalah nama dalam bahasa Semit.  Kalimat  Yunani yang  sekarang  dipakai  dalam  bahasa  Perancis adalah Pentateuque yang artinya kitab yang terdiri  dari  lima bagian: Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, Bilangan dan Ulangan, yaitu lima  fasal  yang  pertama  dari  37 fasal yang terdapat dalam Perjanjian Lama.
 
Kumpulan   teks  ini  membicarakan  asal  alam,  sampai masuknya  bangsa  Israil   di   Kana'an,   tanah   yang dijanjikan  sesudah mereka menjadi budak di Mesir; atau lebih tepat lagi  sampai  wafatnya  nabi  Musa.  Tetapi riwayat   kejadian-kejadian  sejarah  itu  dipergunakan sebagai kerangka untuk menerangkan kehidupan  keagamaan dan  sosial bangsa Yahudi. Dari sinilah nama Hukum atau Taurah.
 
Orang-orang  Yahudi  dan  orang-orang  Kristen   selama berabad-abad  berpendapat  bahwa pengarang Taurah (lina bagian pertama daripada Perjanjian  Lama)  adalah  Nabi Musa  sendiri.  Barangkali pendapat tersebut didasarkan atas ayat (Keluaran 17, 14)  yang  berbunyi:  "Tulislah itu  (kekalahan  kaum  Amalek)  dalam Kitab," atau atas ayat (Bilangan 33, 2) tentang  keluarnya  orang  Yahudi dari  Mesir  yang  berbunyi  "Musa  menerangkan  dengan tulisan tempat-tempat  mereka  berangkat,"  atau  dalam (kitab  Ulangan  3,  9)  yang  berbunyi:  "Musa menulis aturan (hukum) ini." Semenjak abad Pertama S.M.  banyak orang   yang   mempertahankan  anggapan  bahwa  seluruh Pentateuque  ditulis  oleh   Nabi   Musa,   di   antara orang-orang  itu adalah: Flavius Joseph dan Philon dari Alexandria.
 
Pada waktu sekarang anggapan seperti tersebut  di  atas sudah   ditinggalkan  orang.  Tetapi  meskipun  begitu, Perjanjian Baru masih mempertahankannya.  Paulus  dalam suratnya   kepada  orang-orang  Rum  (10,  5)  mengutip kata-kata   orang   Levi:   "Musa    sendiri    menulis aturan-aturan yang datang dari Taurah." Yahya, pengarang Injil  yang  keempat,  dalam  fasal   5,   ayat   46-47meriwayatkan  bahwa  Yesus  berkata:  "Jika  kamu telah melihat Musa, kamu tentu akan percaya  kepadaku  karena ia  (Musa)  telah  menulis  tentang  diriku. Kalau kamu tidak  percaya  kepada  apa  yang  ditulis  oleh  Musa,bagaimana  kamu  dapat  percaya  kepada  apa  yang  aku katakan?"
 
Di sini kekeliruan timbul daripada redaksi;  teks  asli bahasa  Yunani  adalah "episteute" yang berarti "fasal" dan bukan "menulis." Dengan begitu maka Yahya,  penulis Injil  ke  empat  telah  memberi  keterangan salah yang digambarkan telah diucapkan oleh Yesus.
 
Saya meminjam bahan-bahan di atas dari  R.P.  de  Vaux, direktur  Lembaga  Bibel di Yerusalem. Dalam terjemahan "kitab Kejadian" tahun 1962 ia memberi  pengantar  umum yang   memuat   argumentasi  yang  bertentangan  dengan keterangan   Injil   mengenai   siapa   yang    menulis "Pentateuque"  (lima  fasal  pertama  dalam  Perjanjian Lama).
 
R.P. de Vaux memperingatkan bahwa tradisi  Yahudi  yang menjadi  pedoman bagi Yesus dan para rasul (sahabat)nya telah diterima sampai akhir abad pertengahan. Pada abad XII,  Aben Isra adalah satusatunya orang yang menentang anggapan itu. Pada abad XVI,  Carlstadt  memperingatkan kita  bahwa  Nabi Musa tentu tidak dapat menulis berita tentang kematiannya, seperti yang tersebut dalam  kitab (fasal) Ulangan 34, 512. Pengarang kemudian menyebutkan kritik-kritik lainnya yang mengatakan bahwa tidak  semua Taurah itu karangan Musa; secara khusus disebutkan buku karangan Richard Simon yang berjudul: Histoire Critique du  Vieux  Testament (Sejarah Kritik tentang Perjanjian Lama) tahun 1678 yang  menonjolkan  kesulitan-kesulitan kronologis     (urutan    Sejarah),    ulangan-ulangan,tulisan-tulisan    yang     tak     teratur     tentang riwayat-riwayat,  serta  perbedaan-style  (tata bahasa) dalam  Taurah.  Karangan  R.   Simon   tersebut   telah menyebabkan  heboh,  tetapi  orang tidak lagi mengikuti argumentasi R. Simon; buku-buku sejarah dari  permulaan abad  18  selalu  menyebutkan:  "Apa yang telah ditulis oleh Musa" untuk menunjukkan sumber yang sangat kuno.
 
Kita dapat mengerti  betapa  susahnya  menentang  suatu dongengan (Legende) yang berdasarkan atas sandaran yang (digambarkan)  telah   diberikan   oleh   Yesus   dalam Perjanjian   Baru.  Kita  berhutang  budi  kepada  Yean Astruc,  tabib  pribadi  Raja  Louis  XV   yang   telah memberikan argumen yang kuat.
 
Pada  tahun 1753 ia menerbitkan bukunya: Dugaan tentang catatan-catatan asli, yang dipakai oleh Nabi Musa untuk menulis  kitab  (fasal)  Kejadian.  Dalam  buku itu, ia menitik beratkan adanya bermacam-macam sumber. Ia sudah terang,  bukannya  orang  pertama yang menulis hal ini,akan  tetapi  ia  adalah  orang  pertama  yang   berani mengumumkan  suatu kenyataan yang sangat penting, yaitu bahwa mengenai kitab:  (fasal)  Kejadian  terdapat  dua teks  yang  berbeda-beda;  yang  satu  menamakan  Tuhan dengan kata Yahwe, yang lainnya menyebut  Tuhan  dengan kata   Elohim.   Eichhorn   (1780-1783)   mengungkapkan penemuan yang sama mengenai empat kitab (fasal) lainnya dalam  Taurah  (Pentateuque). Kemudian pada tahun 1798, Ilgen  merasa  bahwa  satu  daripada  dua   teks   yang diselidiki  oleh  Astruc  yaitu  teks  yang di dalamnya Tuhan  dinamakan  Elohim,  harus  dibagi  menjadi  dua. Dengan  begitu  maka  Pentateuque  menjadi  benar-benar terpecah-pecah.
 
Pada abad XIX telah  dilakukan  penelitian  yang  telah mantap  mengenai  sumber-sumber  Perjanjian  Lama. Pada tahun 1854,  orang  berpendapat  bahwa  ada  4  sumber, yaitu:  dokumen  Yahwist, dokumen Elohist, Deuteronomy, kitab-(fasal) Ulangan dan kode Sakerdotal  (hukum  para pendeta).  Dokumen  Yahwist  telah  ditulis di Kerajaan Yuda pada abad IX S.M.  Dokumen  Elohist  adalah  lebih baru, dan ditulis di kerajaan Israil Deuteronomy (Kitab Ulangan) menurut Edmond Yacob ditulis  pada  abad  VIII S.M.,  dan  menurut  R.P. de Vaux ditulis pada abad VII S.M. pada zaman Yosias. Dan akhirnya,  code  Sakerdotal (hukum-hukum  pendeta) ditulis pada abad VI S.M., yakni pada  zaman  pengasingan   Israil   di   Babylon   atau sesudahnya.
 
Dengan  begitu  maka teks Taurah telah berangsur-angsur tertulis selama sedikitnya tiga abad.
 
Akan tetapi masalahnya jauh lebih kompleks. Pada  tahun 1941,   A.   Lods  mengatakah  bahwa  document  Yahwist mempunyai 3 sumber, dokumen Elohist mempunyai 4 sumber, kitab   ulangan  mempunyai  6  sumber  dan  hukum-hukum pendeta  mempunyai  9  sumber,  di  samping   tambahan-tambahan  yang   dibagi-bagi  antara 8 penulis, sebagai yang dikatakan oleh R.P. de Vaux.
 
Kemudian orang mulai berfikir bahwa banyak  hukum-hukum dalam  Taurah yang sama dengan hukum-hukum lama di luar Bibel, dan banyak  riwayat-riwayat  dalam  Taurah  yang memberi  kesan  berasal dari lingkungan lain yang lebih kuno; dengan demikian maka  persoalannya  menjadi  jauh lebih kompleks.
 
Sumber-sumber yang banyak  itu  menyebabkan  perbedaan-perbedaan  dan  ulangan-ulangan.  R.P.  de Vaux memberi contoh tentang tercampurnya tradisi yang berbeda-  bedamengenai  penciptaan alam, anak keturunan Cain (Habil), banjir Nabi Nuh, penculikan Nabi Yusuf,  petualangannya di   Mesir,  perbedaan  nama  seseorang, penyajian yangberbeda-beda mengenai sesuatu ke}adian.
 
Dengan begitu maka Taurah (Pentateuque) nampak tersusun daripada tradisi bermacam-macam  yang  dihimpun  secara baik   oleh  penyusun-penyusunnya,  yang  kadang-kadang menjajarkan kumpulan mereka dan  kadang-kadang  merubah kumpulan-kumpulan itu dengan maksud menimbulkan sintesa di antaranya; meskipun dalam melakukan hal terakhir ini mereka     tidak    menghilangkan    perbedaan    serta keragu-raguan sehingga hal-hal  ini  menarik  perhatian orang-orang  zaman sekarang untuk mengadakan penelitian mengenai sumber-sumber asli.
 
Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah (Pentateuque) memberi  contoh  yang  amat  jelas  tentang  perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia,  pada  bermacam-macam  periode    sejarah  bangsa Yahudi, tradisi lisan dan  teks-teks  yang  berasal  dari   generasi-generasi terdahulu.
 
Taurah  bermula pada abad X atau IX S.M. dengan tradisi Yahwist yang menceriterakan permulaan penciptaan  alam, kemudian  menyusun  sejarah  bangsa Israil, dan seperti kata R.P de Vaux, menempatkannya  dalam  rencana  Tuhan untuk   seluruh   kemanusiaan.  Akhirnya  Taurah  terus tersusun   pada   abad   VI    S.M    dengan    tradisi pendeta-pendeta,  yang  mementingkan tahun dan silsilah keturunan (Genealogi).4
 
Pernyataan-pernyataan yang  sedikit  atau  jarang  yang tetap terdapat dalam tradisi ini, menurut R.P. de Vaux, menunjukkan perhatian besar yang mengenai hukum seperti istirahat  pada  hari  Sabtu  setelah menciptakan alam, aliansi dengan Nuh,  aliansi  dengan  Ibrahim,  khitan, pembelian  gua  Makpeh  yang  memberi  hak milik kepada pendeta-pendeta di  Kana'an.  Kita  perlu  ingat  bahwa tradisi  sakerdotal  (pendeta-pendeta)  muncul  setelah bangsa Israil kembali dari  pengasingannya  di  Babylon dan  mendiami  Palestina mulai tahun 583 S.M. Jadi soal agama dan soal politik tercampur.
 
Mengenai kitab (fasal) Kejadian, pembagian  dalam  tiga sumber  pokok  telah dianggap benar: R.P. de Vaux dalam terjemahannya membawakan teks-teks yang  menjadi  dasar bagi  teks  yang  ada  sekarang  dalam  fasal Kejadian.
Dengan  mendasarkan   penyelidikan   kepada   teks-teks tersebut,  siapa saja dapat menunjukkan hubungan antara teks dalam fasal Kejadian dengan teks dalam tiga sumber pokok   tersebut  di  atas.  Umpamanya,  mengenai  yangberhubungan dengan penciptaan alam, dengan  banjir  dan periode semenjak banjir sampai munculnya Ibrahim, yaitu ceritera dalam  11  bagian  yang  pertama  dalam  kitab (fasal)  Kejadian,  kita  dapat menemukan sebagian teks Yahwist dan sebagian lainnya teks Sakerdotal.
 
Teks Elohist tak  terdapat  dalam  11  bagian  pertama. Percampuran  antara  teks Yahwist dan Sakerdotal nampak dengan jelas.  Adapun  yang  mengenai  penciptaan  alam sampai   Zaman   Nabi  Nuh  (5  bagian  yang  pertama), susunannya lebih mudah; satu bagian Yahwist  bergantian dengan  satu  susunan  Sakerdotal dari permulaan sampai akhir. Mengenai Banjir, khususnya mengenai bagian 7 dan 8,   potongan-potongan   teks   menurut   sumber   asli memisahkan beberapa bagian-bagian yang  sangat  pendek.
Dalam  meneliti  100  baris  teks Prancis, kita beralih dari satu teks kepada teks  yang  lain  lebih  dari  17 kali.  Dari  sinilah  timbulnya perbedaan-perbedaan dan kontradiksi dalam pembacaan Taurah dalam Injil yang ada sekarang.  (Lihatlah  gambar yang menjelaskan pembagian sumber-sumber di bawah ini).
 
Perincian Pembagian Teks Yahwist  dan  Teks  Sakerdotal dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian  Angka pertama menunjukkan fasal (Bagian).
 
Angka kedua  antara  dua  kurung  menunjukkan  nomornya kata-kata  (phrase)  yang  kadang-kadang dibagi menjadi dua bagian, a dan b Huruf Y menunjukkan teks Yahwist.
 
 Huruf S menunjukkan teks Sakerdotal.
 
Contoh: baris pertama daripada  tabel  ini  menunjukkan bahwa dari fasal (bagian) pertama, kata-kata (phrase) 1sampai bagian 2 kata-kata (phrase) 4a,  teks  yang  ada sekarang dalam Bibel adalah teks Sakerdotal.
 
 
 
 
 
 Fasal(bagian)  Phrase s/d Fasal    Phrase      Teks
 
        1        (1)        2        (4a)        S
        2        (4b)       4        (2b)        Y
        5        (1)        5        (32)        S
        6        (1)        6        (8)         Y
        6        (9)        6        (22)        S
        7        (1)        7        (5)         Y
        7        (6)       ...       ...         S
        7        (7)        7        (10)        Y
        7        (11)      ...       ...         S
        7        (12)      ...       ...         Y
        7        (13)       7        (16a)       S
        7        (16B)      7        (17)        Y
        7        (18)       7        (21)        S
        7        (22)       8        (23)        Y
        7        (24)       8        (2a)        S
        8        (2b)      ...       ...         Y
        8        (3)        8        (5)         S
        8        (6)        8        (12)        Y
        8        (13a)     ...       ...         S
        8        (13b)     ...       ...         Y
        8        (14)       8        (19)        S
        8        (20)       8        (22)        Y
        9        (1)        9        (17)        S
        9        (18)       9        (27)        Y
        9        (28)       10       (7)         S
        10       (8)        10       (19)        Y
        10       (20)       10       (23)        S
        10       (24)       10       (30)        Y
        10       (31)       10       (32)        S
        11       (1)       (11)      (9)         Y
        11       (10)       11       (32)        S
 
 
Ini semua adalah gambaran  yang  sangat  jelas  tentang
permainan yang dilakukan oleh manusia mengenai Bibel.


Bagian-bagian Mengenai Sejarah

Dalam bagian-bagian yang mengenai Sejarah dalam  Bibel, kita  dapatkan  sejarah bangsa Yahudi semenjak masuk ke daerah yang dijanjikan (kira-kira pada abad XIII  S.M.) sampai  deportasi (pengasingan) ke Babylon pada abad VI S.M.

Dalam sejarah itu ditekankan "kejadian  nasional"  yang digambarkan   sebagai  pelaksanaan  janji  Tuhan.  Akan tetapi  dalam  hikayat  ini  tak  terdapat   ketelitian historis.   Suatu   fasal  seperti  fasal  Yusak  hanya mempunyai  dasar  teologi.  Dalam  hal  ini,  professor Edmond   Yacob   mengingatkan   kita   tentang   adanya kontradiksi  yang  jelas  antara  arkeologi  dan   teks Perjanjian Lama mengenai kerusakan kota Jericho dan Ay.

Kitab    (fasal)    Hakim-hakim    dimaksudkan    untuk mempertahankan   bangsa    yang    terpilih    terhadap musuh-musuh    yang    melingkunginya,   yakni   dengan pertolongan Tuhan Fasal itu berkali-kali  dirubah;  hal ini  dijelaskan  oleh  R.P.A.  Lefevre dalam mukaddimah Bibel Crampon. Kata-kata pengantar yang bercampur  aduk susunannya   serta   tambahan-tambahan   di   belakang, menunjukkan fakta tersebut. Sejarah Ruth ada hubunganya dengan fasal Hakim-hakim.

Fasal    Samuel    dan    Fasal   Raja-raja   merupakan kumpulan-kumpulan biografik yang menarik  bagi  Samuel, Saul,   David   dan  Salomon  Tetapi  nilai  sejarahnya disangsikan. Edmond Yacob menemukan di dalamnya  banyak kesalahan-kesalahan;   kadang-kadang  sesuatu  kejadian diriwayatkan dua atau tiga kali. Nabi-nabi Elia, Elisa, Yesaya  dalam  bagian  itu juga mendapat tempat, tetapi sejarah  mereka  tercampur  dengan  legenda,   walaupun menurut R.P.A. Lefevre nilai sejarahnya sangat penting.

Bagian  pertama  dan kedua dari kitab (fasal) Tawarikh, fasal-fasal Ezra dan Nehemia ditulis  oleh  satu  orang yang  hidup  pada  akhir  abad  IV S.M. Ia meriwayatkan sejarah dari masa penciptaan Tuhan  sampai  waktu  itu, akan tetapi silsilah keturunan (genealogi) hanya sampai nabi Dawud.  Ia  mengambil  dan  menjiplak  dari  fasal Samuel  dan  fasal Raja-raja dengan tidak memperhatikan kepincangannya; begitulah kata E. Yacob; akan tetapi ia menambah   hal-hal   yang  pasti  yang  dikuatkan  oleh arkeologi.   Dalam   fasal-fasal   tersebut,    sejarah disesuaikan   dengan  teologi.  Edmond  Yacob  berkata: kadang-kadang  pengarang  menulis   sejarah   bersandar kepada teologi. Umpamanya, untuk menerangkan bahwa Raja Manassi,   seorang   yang    fasiq    dan    menganiaya pemeluk-pemeluk  agama  tetapi memerintah lama dan masa pemerintahannya  penuh  dengan  kemakmuran,   pengarang Injil  mengatakan  bahwa  raja tersebut telah mengikuti agama Yahudi ketika berada di Assyrie (Tawarikh,  fasal dua,  33/11),  padahal  soal tersebut tak terdapat baik dalam sumber-sumber Bibel atau di luarnya.

Fasal Ezra dan Nehemia  telah  menjadi  sasaran  kritik yang   banyak   oleh  karena  fasal  itu  penuh  dengan kekaburan dan karena fasal-fasal tersebut  menceritakan tentang  suatu  periode  sejarah  yang  sampai sekarang belum terang benar kecuali jika kita pakai  dokumen  di luar Bibel, yaitu periode abad IX S.M.

Di  antara  fasal-fasal  yang mengenai sejarah terdapat fasal  Tobias,  Yudith  dan  Ester.  Dalam  fasal-fasal tersebut  terdapat perubahan-perubahan terhadap sejarah seperti penggantian nama-nama orang, dan kejadian  yang tak   pernah   ada;  semua  itu  untuk  sesuatu  maksud keagamaan.   Fasal-fasal   tersebut   lebih   merupakan berita-berita  yang  bersifat  petunjuk-petunjuk  moral akan tetapi penuh dengan kekeliruan sejarah.

Mengenai dua fasal tentang Maccabee  yang  membicarakan kejadian-kejadian  abad  II S.M., dapat dikatakan bahwa fasal  itu  meriwayatkan  sejarah   dengan   baik   dan mempunyai nilai yang besar.

Dengan  begitu  maka  kesimpulan-kesimpulan fasal-fasal sejarah:  merupakan  kumpulan  yang  pincang.   Sejarah ditulis,  sebagian  secara  ilmiah  dan  sebagian  lagi secara khayalan.

Pasal-pasal Mengenai Kenabian
Fasal-fasal Kenabian ini memuat ajaran-ajaran Nabi-nabi yang  namanya  tersebut  dalam Perjanjian Lama terpisah daripada  nama-nama  Nabi-nabi  yang  besar  dan   yang ajarannya  dimuat  dalam  fasal lain seperti fasal nabi Musa, Samuel, Elia dan Elisa.
 
Fasal-fasal kenabian ini  meliputi  periode  dari  abad VIII sampai abad II S.M.
 
Pada  abad  VIII S.M., kita dapatkan fasal Amos, Hosea, Yesaya  dan  Micha.  Amos,  mashur  karena   ia   telah melakukan  kesalahan  keagamaan  sehingga  ia  terpaksa menderita dengan badannya, yaitu ketika ia kawin dengan seorang  pelacur  suci5 dalam agama kafir. Ia menderita sebagaimana  Tuhan  menderita  karena  makhlukNya  yang tidak   rnengikuti   petunjukNya,  tetapi  Tuhan  tetap mencintai mereka. Isaiah adalah seorang tokoh  politik; ia  menguasai  kejadian-kejadian karena Raja-raja minta nasehat kepadanya. Ia adalah  seorang  Nabi  besar.  Di samping  karya  pribadinya,  petuah-petuahnya disiarkan oleh  murid-muridnya  sampai  abad  III  S.M.,  seperti protes   terhadap  ketidakadilan,  takut  kepada  hukum Tuhan, pengumuman tentang akan adanya  pembebasan  pada waktu  orang Yahudi dalam pengasingan, pengumuman bahwa orang Yahudi akan kembali ke Palestina. Dalam Isaiah II dan   III,   persoalan   kenabian   berbarengan  dengan persoalan Politik. Ramalan Micha yang hidup pada  waktu yang sama dengan Isaiah, bertitik tolak dari idea, yang sama.
 
Pada abad VII S. M., Zefanya, Jeremia,  Nahum,  Habakuk menjadi  mashur  dalam  kenabian. Jeremie mati dibunuh.
Petuah-petuahnya dikumpulkan oleh  Baruch,  mungkin  ia adalah pengarang fasal Tangisan (Nudub).
 
Pengasingan  di  Babylon  pada  permulaan  abad VI S.M. menyebabkan adanya aktivitas  kenabian  yang  intensif.
Tokoh  besarnya  adalah  Yehezkiel sebagai seorang yang menenteramkan  teman-temannya  dan  memberikan  harapan kepada  mereka.  Fasal  Abdias  ada  hubungannya dengan Yerusalem yang telah jatuh di tangan musuh.
 
Sesudah pengasingan yang selesai pada tahun  538  S.M., Nabi  Hagai  dan  Zakora   enunjukkan  aktivitas  dalam menganjurkan membina  temple  kembali.  Setelah  Temple dibina kembali, kita dapatkan fasal Malaoko yang berisi petuah-petuah spiritual.
 
Mengapa fasal Yunus dimasukkan  dalam  fasal  Nabi-nabi meskipun Perjanjian Lama tidak menyebutkan teks khusus? Jawabnya, Yunus adalah suatu sejarah yang dapat memberi kesimpulan   pokok   yaitu:   menyerahkan  diri  kepada Kehendak Tuhan.
 
Fasal Daniel adalah suatu fasal yang kabur, dan menurut ahli  tafsir  Kristen,  ia  merupakan  asal yang sulit, tertulis dalam 3  bahasa,  yakni  Ibrani,  Aramean  dan Yunani. Fasal Daniel adalah suatu karangan dari abad II S.M, Pengarangnya ingin meyakinkan bangsanya yang hidup dalam   zaman   kesusahan   yang  mendalam  bahwa  saat kebebasan  sudah  dekat.  Ini  adalah   untuk   menjaga keimanan mereka (Edmond Yacob).

Pasal Mengenai Syair dan Hikmah
Fasal-fasal  ini  merupakan   kumpulan   tulisan   yang mempunyai keseragaman literer yang nyata.
 
Yang  pertama  adalah Psaumen (nyanyian) yang merupakan puncak daripada puisi Ibrani. Sebagian terbesar disusun oleh  Nabi  Dawud,  sebagian lagi oleh para pendeta dan orang-orang Lewi. Themanya adalah memuja Tuhan,  mendoa (memohon) dan meditasi. Fungsinya adalah liturgi, yakni dibaca waktu sembahyang.
 
Fasal Job (Ayub)  merupakan  fasal  hikmah  dan  taqwa; tertulis pada tahun 400 atau 500 S.M.
 
Fasal   Nudub  (Tangisan)  karena  jatuhnya  Yerusalem, ditulis pada permulaan abad  VI  S.M.  mungkin  ditulis oleh Jeremia.
 
Kita   juga   harus   menyebutkan  fasal  Cantiqus  des Cantiques (suatu kumpulan nyanyian tentang cinta kepada Tuhan),   fasal  peribahasa,  kumpulan  kata-kata  Nabi Sulaeman dan  orang-orang  bijaksana  di  Istana,  Imam  (Eclesiast)  atau  qoheleth dimana orang memperdebatkan antara kebahagiaan dunia dan kebijaksanaan.
 
Bagaimana kumpulan yang sangat berbeda-beda  dari  segi isinya,   yang  fasal-fasalnya  ditulis  selama  paling sedikit 700 tahun,  dan  mempunyai  sumber-sumber  yang sangat   berbeda,  kemudian  semua  itu  dipadukan  dan dimasukkan dalam satu buku, bagaimana kumpulan  semacam itu  dalam  beberapa abad dapat merupakan kesatuan yang tak  terpisah-pisah  dan  menjadi  Kitab  Wahyu  Yahudi Kristen  (dengan  sedikit  perbedaan-perbedaan  menurut kelompok) dan menjadi hukum (Kanon) yakni suatu kalimat Yunani yang mengandung arti (tidak boleh disentuh).
 
Pengumpulan  bahan-bahan  Perjanjian Lama tidak terjadi pada zaman  Kristen,  akan  tetapi  masih  dalam  zaman Yahudi,  dan  dimulai  secara  pasti pada abad VII S.M. Fasal-fasal lainnya dimuat sesudah fasal-fasal pertama. Tetapi  perlu  kita  ingat  bahwa  5 fasal pertama yang merupakan Taurah (Pentateuk) selalu mempunyai kedudukan yang  lebih  tinggi daripada fasal-fasal lain. Kemudian orang   menambah   fasal-fasal   Taurah   itu    dengan Pengumuman-pengumuman  para  Nabi  (siksaan  Tuhan bagi orang yang berdosa), serta janji-janji  mereka,  karena Taurah sudah merupakan fasal-fasal yang diterima rakyat pada abad II S.M., Kanon para Nabi sudah jadi.
 
Fasal-fasal  lain  seperti  nyanyian  Nabi  Dawud  yang dipakai  untuk  sembahyang,  ditambahkan  pula  bersama dengan fasal Tangisan dan hikmat Suleman atau Ayub.
 
Agama Kristen,  atau  lebih  tepat  pada  permulaannya, agama  Yahudi  Kristen,  sebagai  yang  akan kita lihat nanti, yaitu agama yang telah  banyak  dipelajari  oleh sarjana-sarjana modern seperti Kardinal Danielou, agama Kristen  sebelum  mengalami  perubahan-perubahan  pokok yang  disebabkan  oleh  pengaruh Paulus, telah menerima warisan Perjanjian Lama. Para  pengarang  Injil  sangat tertarik kepada Perjanjian Lama.
 
Akan tetapi jika kita melakukan pembersihan-pembersihan terhadap Injil empat dengan menghilangkan hal-hal  yang apokrif  (yang misterius, tidak benar, tidak autentik), kita  tidak  perlu  melakukan  hal  yang   sama   untuk Perjanjian   Lama.  Ini  berarti  bahwa  kita  menerima seluruh atau hampir seluruh isi Perjanjian Lama.
 
Siapakah yang  berani  mempersoalkan  sesuatu  mengenai kumpulan-kumpulan  yang  pincang  ini sampai akhir abadPertengahan, sedikitnya di Barat? Tak ada  atau  hampir tak  ada. Mulai akhir abad Pertengahan sampai permulaan abad modern telah timbul beberapa  kritik.  Kita  sudah membaca  sebagian  kritik  tersebut pada permulaan bukuini, akan tetapi gereja-gereja selalu dapat  memaksakan kekuasaannya  .  Suatu  kritik  autentik  mengenai teks memang  sudah  ada  sekarang,  akan  tetapi  jika  para pendeta-pendeta  spesialis  dapat mempergunakan pikiran lebih banyak untuk menyelidiki perincian-perincian dari bermacan-macam  persoalan,  mereka kemudian berpendapat bahwa lebih baik  jangan  masuk  terlalu  jauh  kedalam "hal-hal   yang  sukar."  Nampaknya  mereka  itu  tidakmenyelidiki  "hal-hal  yang  sukar  itu"  dengan  sinarpengetahuan    modern.   Jika   kita   mau   mengadakan perbandingan  dalam  sejarah,  apalagi  kalau  terdapat persesuaian  antara  mereka  dan Bibel, maka sebetulnya mereka  itu  belum  berhasrat   sungguh-sungguh   untuk melakukan  perbandingan  yang  mendalam dan blak-blakan dengan  idea-idea  ilmiah  yang  mereka  rasakan   akan menyanggah  idea-idea  tentang kebenaran isi Injil yang sampai waktu ini tidak pernah dibantah.

Perjanjian Lama dan Sains

SEKEDAR MENGEMUKAKAN FAKTA

Hanya sedikit hal-hal yang  tersebut  dalam  Perjanjian Lama,  dan  juga dalam Perjanjian Baru yang menimbulkan konfrontasi  dengan  pengetahuan  modern.  Tetapi  jika terdapat  hal-hal  yang  tidak sesuai antara teks Bibel dengan Sains, maka soalnya menjadi sangat penting.

Dalam bab-bab  yang  terdahulu,  kita  telah  menemukan dalam  Bibel kesalahan-kesalahan sejarah dan kita telah menyebutkan beberapa  masalah  yang  telah  d ibicarakan oleh  ahli tafsir Yahudi dan Kristen. Ahli-ahli Kristen condong   untuk   mengecilkan   persoalannya.    Mereka berpendapat  bahwa adalah normal jika seorang pengarang buku  agama  menyajikan  fakta-fakta   sejarah   dengan menghubungkannya  dengan teologi, menulis sejarah untuk keperluan agama. Kita akan melihat dalam Injil  Matius, sikap  yang  bebas terhadap sesuatu kenyataan, dan kita dapatkan   tafsiran-tafsiran   yang   tujuannya   untuk menjadikan   yang  tidak  benar  menjadi  benar;  suatu pikiran yang obyektif dan logis tidak akan merasa  puas dengan cara yang demikian.

Dengan  memakai  logika, orang dapat menunjukkan banyak kontradiksi  dan   kekeliruan   dalam   Bibel.   Adanya sumber-sumber  yang  berlainan telah menyebabkan adanya versi yang berlainan mengenai sesuatu  hikayat.  Tetapi di  samping itu kita dapatkan bermacam-macam perubahan, bermacam-macam  tambahan.  Pada  mulanya  tambahan  itu sebagai  tafsiran,  tetapi  kemudian  naskah  asli  dan tafsiran disalin lagi dan semua isinya  dianggap  asli.
Semua  ini  sudah diketahui oleh ahli-ahli kritik teks, dan mereka kemukakan secara jujur.

Mengenai Taurah, R.P. de Vaux dalam bukunya:  Pengantar Umum   (Introduction  Generale)  yang  ditulis  sebelum menterjemahkan Taurah telah menunjukka n  bermacam-macam kepincangan  yang  tak  perlu  lagi saya ulangi di sini karena  banyak  lagi  yang  akan  saya  sebutkan  dalam penyelidikan  ini.  Kesimpulan  dari  semu a  itu adalah bahwa kita tidak boleh memahami teks-teks Taurah secara harafiah.

Di bawah ini adalah suatu oontoh yang menarik:

Dalam  Kitab  Kejadian (6, 3) Tuhan memutuskan, sebelum Banjir Nabi Nuh, untuk membatasi umur  manusia,  paling panjang  hanya  120  tahun.  "Hidupnya tidak akan lebih dari 120 tahun." Tetapi kemudian, dalam Kitab  Kejadian(II, 10-32) kita dapatkan bahwa sepuluh orang keturunan Nabi Nuh hidup sampai umur antara  148  dan  600  tahun (lihatlah  tabel  mengenai anak turunan Nabi Nuh sampai Abraham).  Kontradiksi  antara  dua  kalimat   tersebut adalah menyolok. Tetapi adalah mudah untuk menerangkan.
Kalimat  pertama  (Kitab  Kejadian  6,3)  adalah   teks Yahwist,   yang  sebagai  kita  telah  membicarakannya, dibuat pada abad X S.M. Sedangkan kalimat kedua  (Kitab Kejadian  II,  10-32)  merupakan  teks  yang lebih muda (abad   VI   S.M.)   dari    tradisi    pendeta-pendeta (Sakerdotal)   yang   merupakan   dasar  dari  silsilah keturunan (genealogi)  yang  memberi  gambaran  tentang lamanya  hidup  seseorang  secara tepat tetapi ternyatatidak benar dalam keseluruhannya.

Kontradiksi dengan Sains modern  terdapat  dalam  Kitab Kejadian, yaitu mengenai tiga persoalan:

1). Penciptaan alam dan tahap-tahapnya.
2). Waktu penciptaan alam dan waktu timbulnya     manusia di atas bumi.
3). Riwayat banjir Nuh.
Penciptaan Alam
Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux,  Kitab Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan alam. Oleh karena  itu  kita  perlu  menyelidiki  kedua riwayat    itu   secara   terpisah   untuk   mengetahui kesesuaiannya dengan penyeilidikan-penyelidikan ilmiah.
 
RIWAYAT PERTAMA
 
Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat  pertama dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat menonjol  tentang  ketidaktepatan  ilmiah.  Kita  perlu melakukan  kritik  sebaris demi sebaris. Teks yang kita muat di sini adalah  teks  menurut  terjemahan  Lembaga Bibel  Yerusalem,  (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).
 
Fasal 1, ayat 1 dan 2,
 
1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit   dan bumi.
 
2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu  hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah    melayang-layang diatas muka air itu."
 
 Kita  dapat  menerima  bahwa  pada  tahap  bumi   belum diciptakan,  apa  yang  kemudian menjadi alam yang kita ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan,  akan tetapi  tersebutnya  adanya  air  pada periode tersebut hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin  sekali ini  adalah  terjemahan  suatu mitos. Kita akan melihat dalam bagian ketiga dari  buku  ini  bahwa  pada  tahap permulaan  dari  terciptanya  alam yang terdapat adalah gas.  Maka  disebutkannya  air  di  situ  adalah  suatu kekeliruan.
 
 
 
Ayat 3  sampai 5
 
3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu    terangpun jadilah.
 
4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya,   lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap.
 
5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan    gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah    hari yang pertama."
 
Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi kompleks  yang  terjadi  pada  bintang-bintang. Hal ini akan kita bicarakan pada bagian  ketiga  daripada  buku ini.  Pada  tahap  penciptaan  alam yang kita bicarakan sekarang,   menurut   Bibel,   bintang-bintang    belum diciptakan,  karena  sinar  di  langit  baru disebutkan dalam  ayat  14  dari  Kitab  Kejadian,  yaitu  sebagai ciptaan  pada  hari  keempat,  untuk  "memisahkan siang daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini  semua betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek (sinar)   pada   hari   pertama,   dengan   menempatkan penciptaan     benda     yang     menyebabkan     sinar (bintang-bintang)  tiga  hari  sesudah  itu.   Lagipula menempatkan  malam  dan  pagi  pada hari pertama adalah alegori (kiasan) semata-mata,  karena  malam  dan  pagi sebagai   unsur  hari  tak  dapat  digambarkan  kecualisesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah  sinar planetnya yaitu matahari.
 
Ayat 6 sampai 8
 
6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan   pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.
 
7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta   diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan    air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.
 
8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit.  Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua."
 
Mitos air diteruskan dalam  ayat-ayat  tersebut  dengan memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah langit.  Dalam  riwayat   Banjir   Nabi   Nuh,   langit membiarkan  air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua  kelompok tak dapat diterima secara ilmiah.
 
Ayat 9 sampai 13
 
9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di    bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya     kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.
 
10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat,  dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut;  maka dilihat Allah itu baiklah adanya.
 
11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan  rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang   berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di atas bumi itu; maka jadilah demikian.
 
12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang   berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya; maka dilihat Allah itu baiklah adanya
 
13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang    ketiga."
 
Fakta bahwa pada  suatu  periode  dalam  sejarah  bumi, ketika  bumi  ini  masih  tertutup  dengan air,terjadi bahwa daratan-daratan mulai muncul,  adalah  suatu  hal yang  dapat  diterima  secara ilmiah. Akan tetapi bahwa pohon yang  mengandung  biji-biji  bermunculan  sebelum terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa  siang  dan malam  silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.
 
Ayat 14 sampai 19
 
14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda  terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya    siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa   dan hari dari tahun.
 
15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada   bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah   demikian.
 
16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang besar itu, yaitu terang yang besar itu akan  memerintahkan siang dan terang yang kecil akan  memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.
 
17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit  akan memberi terang di atas bumi.
 
18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan   menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah  itu baik adanya.
 
19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke   empat."
 
Di sini gambaran yang diberikan  oleh  pengarang  Injil  dapat  diterima.  Satu-satunya  kritik  yang dapat kita lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi dan bulan  telah  memisahkan  diri  daripada  matahari; menempatkan   penciptaan  matahari  dan  bulan  sesudah penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang  sudah  disetujui  secara  pasti  dalam ilmu pengetahuan mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.
 
Ayat 20 sampai 23
 
20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang  sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di  atas bumi dalam bentangan langit.
 
21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang   menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan  segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka  dilihat Allah itu baik adanya.
 
22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun bertambah-tambah di atas bumi.
 
23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang  kelima."
 
Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal  yang  tak  dapat diterimaTimbulnya  binatang-binatang,  menurut  Kitab Kejadian, bermula    dengan    binatang-binatang     laut     dan burung-burung.   Menurut   Bibel,   adalah   pada  hari keesokannya bahwa bumi  dihuni  oleh  binatang-binatang (kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);
 
Sudah  terang  bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita akan  membicarakan  hal  tersebut  pada  bagian  ketiga daripada  buku  ini.  Setelah adanya kehidupan di laut, daratan  dihuni  oleh  binatang-binatang.   Di   antara binatang-binatang  yang  hidup  diatas  bumi, ada suatu jenis reptil (binatang melata)  yang  dinamakan  pseudo suchiens   yang  hidup  pada  periode  kedua  dan  yang dikirakan   menjadi   asal   burung-burung.    Beberapa sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan ini. Tetapi binatang-binatang  darat  tidak  disebutkan
oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah munculnya burung-burung, oleh karena  itu  maka  urutan munculnya  binatang  darat  dan burung-burung tak dapat diterima.
 
Ayat 24 sampai 31
 
24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada  yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap  dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.
 
25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar  di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang   yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang   yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baiklah adanya.
 
26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi  dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.
 
27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya  yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka    dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.
 
28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan  penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia,     dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang  menjalar di atas bumi.
 
29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah  memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.
 
30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada  nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah demikian.
 
31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya.  Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke enam."
 
Ini adalah gambaran selesainya penciptaan  alam.  Dalam gambaran  itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang hidup   yang   tidak   disebutkan    sebelumnya,    dan mengingatkan  kepada  bahan makanan yang bermacam-macam yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.
 
Kesalahannya, sebagai yang  telah  kita  lihat,  adalah dalam  menempatkan  munculnya  binatang-binatang  darat sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas bumi   di  tempatkan  secara  benar  sesudah  munculnya makhluk-makhluk hidup yang lain.
 
Riwayat  penciptaan  alam  selesai  dengan  tiga   ayat pertama dari fasal II.
 
1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta dengan segala isinya.
 
2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah  disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya  itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.
 
3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari  pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan  menyempurnakan dia.
 
4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan  langit dan bumi. "
 
Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:
 
Pertama mengenai arti kata-kata. Teks  tersebut  adalah terjemahan  dari  Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan  bumi serta  dengan  segala isinya." Perkataan terakhir dalam  bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al  Kitab  Yerusalem berbunyi  "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan segala bala tentaranya.
 
Ayat kedua mengandung  kata,  berhentilah  ia  daripada pekerjaannya.  Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah, sebagai terjemahan Ibrani "chabbat."  Dan  sampai  hari ini,  hari  Sabtu  merupakan  hari istirahat bagi orang Yahudi.
 
Sudah terang bahwa  "istirahat"  yang  dilakukan  Tuhan setelah  bekerja  keras  selama  enam hari adalah suatu legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya.  Kita harus  ingat  bahwa  riwayat penciptaan Tuhan yang kita bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau tradisi  pendeta-pendeta,  yakni  tradisi  yang ditulis oleh  para  pendeta  atau  juru  tulis  yang  merupakan pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada waktu pengasingan di Babylon, pada  abad  VI  SM.  Kita mengetahui  bahwa  para  pendeta mengolah versi Yahwist dan  Elohist  daripada  Kitab   Kejadian,   menyusunnya menurut  selera  mereka,  dan  menurut  adat  kebiasaan mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan oleh  R.P.  de  Vaux.  Kita telah membicarakan segi ini pada lain tempat.
 
Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah  lebih  tua beberapa  abad  daripada  teks  Sakerdotal,  dan  tidak menyebutkan bahwa Tuhan  beristirahat  setelah  bekerja keras  enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks Sakerdotal.  Penulis  teks  Sakerdotal  membagi   waktu penciptaan  alam  dalam hari-hari yang disamakan dengan hari-hari  seminggu   yang   biasa   serta   menekankan istirahat   hari   Sabtu   yang   mereka   rasa   harus dipertahankan kepada  pengikut-pengikut  mereka  dengan mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini, maka  riwayat  penciptaan  alam disajikan dengan logika keagamaan  yang  semu,  yang  hasil-hasil  penyelidikan ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.
 
Menyelipkan  hari  ke  tujuh  (daripada  hari-hari satu minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti yang dilakukan oleh pengarang  sumber  Sakerdotal,  tak  dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang, semua orang tahu bahwa terciptanya  alam,  termasuk  di dalamnya  bumi  tempat  hidup  kita telah terjadi dalam tahap waktu  yang  sangat  panjang,  yang  penyelidikan ilmiah  belum  dapat memastikan walaupun secara "kurang lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga daripada  buku  ini, yakni pada waktu kita membicarakan tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.
 
Seandainya riwayat penciptaan alam selesai  pada  malam hari  yang  ke  6,  dan tidak menyebutkan hari ke tujuh atau Sabat waktu Tuhan  beristirahat,  atau  seandainya kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai enam periode seperti yang  tersebut  dalam  Al  Qur-an, riwayat  Sakerdotal  tetap  tak  dapat  diterima karena urutan  periode-periode  tersebut  sangat   kontradiksi dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.
 
Dengan   begitu   maka   riwayat  Sakerdotal  merupakan konstruksi imaginatif yang lihayt yang  mempunyai  suatu tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu  kebenaran.
Riwayat kedua  tentang  penciptaan  alam  yang  termuat dalam  Kitab  Kejadian  sesudah riwayat pertama, dengan tanpa peralihan (transisi) dan  tanpa  komentar,  tidak menjadi   sasaran   kritik  yang  dilancarkan  terhadap riwayat pertama.
 
Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode yang  jauh  lebih  kuno,  kira-kira 3 abad. Riwayat ini pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan manusia   dan   surga  dunia  di  samping  membicarakan penciptaan  bumi  dan  langit  secara  sangat  singkat.
Beginilah bunyinya:
 
Fasal 2, 4b-7
 
4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa    itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan    langit  dan bumi.
 
5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas    bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum    lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum    ada orang akan membelakan tanah itu.
 
6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan    segala tanah itu.
 
7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada    debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang    hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa    yang hidup adanya."
 
Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel  yang kita  miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian ditambah  dengan  riwayat   Sakerdotal,   memang   dari permulaan  adalah  sangat  singkat?  Tak ada orang yang dapat mengatakan bahwa teks  Yahwist  pernah  dipotong, dan  tak  ada  pula  orang  yang dapat mengatakan bahwa beberapa baris yang kita miliki  itu  merupakan  segala sesuatu   yang  termuat  dalam  teks  yang  lebih  kuno daripada Bibel mengenai penciptaan alam.
 
Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan terbentuknya  bumi  dan  langit. Riwayat tersebut hanya memberi  gambaran  bahwa   ketika   Tuhan   menciptakan manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari  dalam bumi  menutupi  dataran  bumi. Teks selanjutnya memberi konfirmasi karena ayat 8  mengatakan:  "Maka  diperbuat Tuhan  Allah  pula  suatu  taman dalam Eden, di sebelah Timur, maka di sanalah  ditaruhnya  akan  manusia  yang telah  dirupakannya  itu."  Dengan  ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu  yang sama  dengan  diciptakannya  manusia. Ini secara ilmiah tidak benar, manusia muncul di atas bumi  lama  setelah tumbuh-tumbuhan  ada,  walaupun  kita tidak tahu berapa juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.
 
Itulah  satu-satunya  kritik  yang  dapat   dilontarkan kepada  teks  Yahwist.  Dengan  tidak  mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya alam  dan  bumi,  dua  hal  yang  dikatakan  oleh  teks Sakerdotal sebagai dua  hal  yang  terjadi  dalam  satu minggu,  teks  Yahwist terhindar dari kritik berat yang dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.
 
Mengulas kefiktifan redaksi Perjanjian Lama dalam menceritakan penciptaan dunia oleh Tuhan.
 
Kesalahan Perjanjian Lama dalam menceritakan
 
TAHUN PENCIPTAAN ALAM DAN TAHUN MUNCULNYA  MANUSIA DI ATAS BUMI
 
 
Menurut  bahan-bahan  yang  terdapat  dalam  Perjanjian Lama,   kalender  Yahudi  menempatkan  tahun-tahun  itu secara pasti. Pertengahan kedua  daripada  tahun  1975, sama  dengan  permulaan  tahun  yang  ke  5736 daripada penciptaan alam. Manusia yang diciptakan Tuhan beberapa hari  sesudah  terciptanya  alam,  mempunyai  usia yang sama, menurut kalender Yahudi.
 
Tentu saja tahun tersebut perlu dikoreksi, karena tahun Yahudi  dihitung menurut gerak bulan sedangkan kalender Barat  didasarkan  atas  tahun  matahari,  akan  tetapi koreksi  sebanyak  3%  agar  menjadi  tepat,  tidak ada artinya. Untuk tidak meruwetkan perhitungan, lebih baik tidak  melakukan  koreksi  itu.  Yang  penting  di sini adalah soal kebenaran, maka  tidak  penting  jika  masa berjuta tahun itu berselisih 30 tahun untuk lebih dekat kepada kebenaran, marilah kita  katakan  bahwa  menurut perhitungan  Yahudi, terciptanya alam terjadi pada abad XXXVII SM.
 
Apakah yang diajukan kepada  kita  oleh  Sains  modern? Sukarlah   kiranya   untuk   menjawab  pertanyaan  yang mengenai terbentuknya alam;  yang  dapat  kita  katakan adalah  waktu  terbentuknya  sistem  matahari (solair). karena ini dapat kita  kira-kirakan  dengan  cara  yang memuaskan.   Orang  memperkirakan  bahwa  antara  waktu terciptanya  alam  dan  waktu  sekarang,  kirakira  4.5 milliard tahun. Dengan begitu dapat kita ukur perbedaan antara  kebenaran  yang  sudah  ditetapkan  oleh   ilmu pengetahuan   (dan  yang  akan  kita  bicarakan  secara panjang dalam bagian ketiga dari buku ini) dan  hal-hal yang dibicarakan oleh Perjanjian Lama. Hal-hal terakhir ini adalah hasil dari penyelidikan yang teliti terhadap teks  Bibel.  Kitab  Kejadian  memberi  keterangan yang persis  mengenai  perbedaan  waktu  antara   Adam   dan Ibrahim.  Daftar tahun antara Nabi Ibrahim dan Nabi Isa tidak lengkap dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber lain.  
 
A.    Dari Adam sampai Ibrahim.
B.     Kitab Kejadian dalam fasal 4, 5, 11, 21, dan 25 memberi
C.     silsilah  nenek  moyang  Ibrahim sampai Nabi Adam dalam
D.    garis lurus, secara sangat teliti.  Dengan  menyebutkan
E.     umur  masing-masing,  umur  bapak ketika anaknya lahir,
F.      daftar  itu  memudahkan  kita  untuk  menemukan   tahun
G.    kelahiran  dan  kematian  tiap-tiap  orang  tua, sampai
H.    kepada Adam, seperti tertera dalam daftar di bawah ini.
I.        
J.      SILSILAH NABI ADAM
K.     
L.     No. Nama     Tahun kelahiran   Lama   Tahun kematian
M.                sesudah tercipta  hidup      sesudah
N.                      Adam        (tahun) terciptanya Adam
O.     
P.       1. Adam           000          930         930
Q.     2. Seth           130          912        1042
R.      3. Enokh          235          905        1140
S.       4. Kenan          325          910        1235
T.       5. Mahaleel       395          895        1290
U.     6. Jered          460          962        1422
V.     7. Henoe          622          365         987
W.    8. Meluschelach   687          969        1656
X.     9. Lemek          876          777        1653
Y.    10. Noch          1056          950        2006
Z.     11. Sem           1556          600        2156
AA.     12. Arpasehad     1658          438        2096
BB.      13. Sehelach      1693          433        2126
CC.      14. Heber         1723          464        2187
DD.     15. Peleg         1757          239        1996
EE.16. Rehu          1787          239        2026
FF. 17. Serug         1819          230        2049
GG.     18. Nakhar        1849          148        1997
HH.     19. Terah         1878          205        2083
II.    20. Ibrahim       1948          175        2123
JJ.     
KK.      
LL.Daftar ini disusun menurut keterangan yang berasal dari
MM.   teks  Sakerdotal daripada Kitab Kejadian. Teks tersebut
NN.     adalah satu-satunya teks yang memberi  kepastian.  Kita
OO.     dapat  mengambil  kesimpulan  dari  teks tersebut bahwa
PP. Nabi Ibrahim, menurut Bibel, dilahirkan pada tahun 1948
QQ.     sesudah Nabi Adam.

B. Dari Nabi Ibrahim Sampai Nabi Isa
 
Untuk periode tersebut, Bibel tidak memberi  keterangan angka-angka   yang   dapat   menyampaikan  kita  kepada evaluasi tepat  sebagaimana  kita  mendapat  keterangan mengenai nenek moyang Nabi Ibrahim dari Kitab Kejadian.
Untuk  mengukur  waktu  yang  memisahkan  antara   Nabi Ibrahim  dan  Nabi  Isa, kita harus mencari bantuan dan sumber lain.
 
Pada waktu ini orang menempatkan  Nabi  Ibrahim  kurang lebih  18  abad  S.M.  Hal  ini jika digabungkan dengan keterangan  Kitab  Kejadian  mengenai  perbedaan  waktu antara  Nabi  Ibrahim dan Nabi Adam, akan memberi hasil bahwa Adam hidup 38 abad sebelum Nabi Isa.  Perhitungan ini  sudah  terang  salah. Kesalahannya disebabkan oleh perhitungan  Bibel  mengenai  waktu  antara  Adam   dan Ibrahim,  yaitu  perhitungan yang dijadikan dasar untuk membikin kalender Yahudi. Pada  waktu  ini  kita  dapat membantah  mereka  yang  mempertahankan kebenaran Bibel dengan menunjukkan kepincangan antara ilmu  pengetahuan modern  dengan  perkiraan  khayalan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta   Yahudi   abad   VI    S.M.;    selama berabad-abad  perkiraan pendeta tersebut selalu menjadi dasar hubungan antara zaman sejarah  kuno  dengan  Nabi Isa.
 
Bibel  yang diterbitkan sebelum zaman modern menyajikan kronologi  kejadian-kejadian  yang   terjadi   semenjak penciptaan  alam  sampai  waktu Bibel tersebut dicetak.
Kronologi tersebut biasanya  dimuat  dalam  suatu  kata pengantar  yang  mengandung  angka-angka  yang  sedikit berlain-lainan menurut waktu pencetakan Bibel tersebut.
Sebagai    contoh,   Vulgate   Clement   (tahun   1621) menempatkan Ibrahim pada  waktu  yang  lebih  kuno  dan menempatkan  penciptaan  alam  pada  abad  XL SM. Bibel Walton yang dicetak pada abad  XVII  menyajikan  kepada pembacanya,  suatu  tabel yang mirip dengan tabel nenek moyang Nabi Ibrahim, sebagai tambahan kepada teks dalam beberapa   bahasa;  pada  umumnya  perkiraannya  sesuai  dengan angka-angka yang tersebut dalam tabel yang  kita muat.
 
Pada    zaman    modern,   orang   tidak   lagi   dapat mempertahankan  kronologi  khayalan  yang  bertentangan dengan   ilmu   pengetahuan  modern  yang  telah  dapat membuktikan bahwa penciptaan alam  telah  terjadi  pada waktu  yang  sangat  jauh  lebih  dahulu.  Tetapi orang merasa puas hanya dengan menghilangkan  kata  pengantar dan  tabel,  dan  tidak  berani  mengatakan kepada para pembaca tentang kelemahan  teks  Bibel  yang  dijadikan dasar  untuk  membuat  tabel,  sehingga  teks Bibel tak dapat dianggap mengatakan kebenaran. Orang  lebih  suka memasang  tabir, dan mencari cara untuk berdebat secara halus agar teks Bibel  tersebut  dapat  diterima  tanpa dikurangi.
 
Karena  inilah maka silsilah keturunan (genealogi) teks Sakerdotal  sampai  sekarang  masih  dihormati   orang, meskipun orang pada abad XX ini tak dapat lagi menerima dasar-dasar khayalan.
 
Mengenai tahun munculnya manusia di  atas  bumi,  hasil pengetahuan modern baru dapat memberi penjelasan sampai batas tertentu. Kita dapat merasa yakin  bahwa  manusia telah ada di atas bumi ini, dengan kekuatan berfikirnya dan   kekuatan   bertindaknya,   dua   kekuatan    yang membedakannya daripada binatang-binatang yang bentuknya hampir serupa manusia, yaitu  dalam  waktu  yang  lebih mutakhir  pada  periode yang dapat diperkirakan, tetapi tidak dengan kepastian yang mutlak.
 
Orang sudah dapat mengatakan sekarang bahwa bekas-bekas manusia  yang  berfikir  dan bertindak telah ditemukan, dan umur bekas-bekas  itu  dapat  diukur  dengan  jarak puluhan ribu tahun.
 
Penetapan  perkiraan  waktu  ini ada hubungannya dengan type manusia prasejarah yang telah diungkapkan  sebagai yang   paling   baru,  seperti  manusia  neo-Anthropien (cromagnon).  Memang  ada  bekas-bekas   lain   tentang manusia  telah  diungkapkan  di  beberapa tempat, yaitu mengenai  manusia   yang   kurang   berevolusi   (paleo Anthropies)  yang  diperkirakan  umurnya  sudah ratusan ribu tahun. Tapi apakah mereka itu betul manusia?
 
Bagaimanapun juga,  bukti-bukti  ilmiah  adalah  pasti, mengenai  neo-Anthropien,  mereka  adalah sebelum zaman manusia pertama yang dilukiskan  oleh  Kitab  Kejadian.
Dengan   begitu   maka   terdapat   kepincangan  antara angka-angka yang tersebut dalam Kitab Kejadian mengenai munculnya  manusia  di  atas  bumi  dengan  pengetahuan
ilmiah yang sudah pasti di waktu ini.
 
C. Banjir Nabi Nuh
 
Fasal 6, 7 dan 8 daripada Kitab  Kejadian  dipergunakan untuk  meriwayatkan  banjir  untuk  lebih  tepat,  saya katakan bahwa ada dua riwayat yang tidak  ditulis  satu di   samping   lainnya,  akan  tetapi  terpisah  dengan kalimat-kalimat  yang  memberi  kesan  seperti   adanya kesinambungan   antara   berbagai-bagai  dongeng.  Akan tetapi sesungguhnya dalam tiga fasal tersebut  terdapat kontradiksi  yang  menyolok. Kontradiksi tersebut dapat diterangkan dengan adanya dua  sumber  yang  berlainan, yaitu sumber Yahwist dan sumber Sakerdotal.
 
Kita   telah  melihat  sebelum  ini  bahwa  dua  sumber tersebut membentuk suatu campuran  yang  pincang.  Tiap teks  asli  dipotong-potong dalam paragraf-paragraf dan kalimat-kalimat,  dengan  unsur  daripada  satu  sumber berseling  dengan  unsur-unsur  dari  sumber yang lain,sehingga dalam teks Perancis, orang melompat dari  satu sumber  ke sumber yang lain tujuh belas kali, sepanjang hanya seratus baris.
 
Secara  keseluruhan,  hikayat  banjir  adalah   sebagai berikut:
 
Karena   maksiat   manusia  sudah  sangat  umum,  Tuhan memutuskan    untuk     memusnahkan     manusia     danmakhluk-makhluk  hidup lainnya, Tuhan memberi tahu Nabi Nuh dan  memerintahnya  untuk  membikin  perahu,  serta membawa  muatan yang terdiri dari isterinya, tiga orang anaknya dengan  isteri-isteri  mereka,  serta  beberapa makhluk hidup lain. Mengenai makhluk-makhluk hidup ini, dua sumber berbeda.  Satu  riwayat  yang  berasal  dari sumber  Sakerdotal  mengatakan  Nuh membawa satu pasang dari tiap jenis. Kemudian  dalam  kata-kata  berikutnya (berasal  dan  sumber  Yahwist)  dikatakan  bahwa Tuhan memerintahkan mengambil 7 dari tiap-tiap  jenis  jantan dan  betina dari jenis yang suci, dan hanya satu pasang dari jenis yang tidak suci.
 
Akan tetapi lebih  lanjut  lagi,  dikatakan  bahwa  Nuh hanya  membawa  dalam  perahu  itu satu pasang daripada tiap jenis. Ahli-ahli Perjanjian Lama seperti  R.P.  de Vaux  mengatakan  bahwa teks semacam itu merupakan teks Yahwist yang sudah dirubah.
 
Satu paragraf (dari sumber  Yahwist)  mengatakan  bahwa sebab  banjir  adalah  air  hujan, sedang paragraf lain (dari sumber Sakerdotal) mengatakan bahwa sebab  banjir adalah  dua  yaitu  air  hujan  dan  sumber-sumber dari tanah.
 
Seluruh  bumi  telah  tenggelam  sampai  diatas  puncak gunung.  Segala  kehidupan  musnah. Setelah satu tahun, Nabi Nuh keluar dari perahunya yang telah berada diatas puncak gunung Ararat setelah air bah menurun.
 
Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40 hari sedang sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari.
 
Sumber Yahwist tidak memastikan pada umur berapa banjir itu dialami oleh Nabi  Nuh,  tetapi  sumber  Sakerdotalmengatakan  bahwa  banjir  itu  terjadi  waktu Nabi Nuh berumur 600 tahun.
 
Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun terjadinya  banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik dari segi Nabi Adam maupun dari segi Nabi Ibrahim. Oleh karena  menurut  perhitungan  yang dilakukan atas dasarKitab Kejadian, Nabi Nuh dilahirkan 1056 tahun  sesudah Nabi  Adam  (silahkan  lihat  tabel  nenek  moyang dari Ibrahim) maka banjir telah terjadi 1656  tahun  sesudah lahirnya  Nabi Adam. Akan tetapi dilihat dari segi Nabi Ibrahim, Kitab Kejadian menempatkan  terjadinya  banjir pada 292 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim tersebut.
 
Menurut  Kitab  Kejadian, banjir mengenai seluruh jenis manusia dengan seluruh makhluk  hidup  yang  diciptakan oleh  Tuhan  telah mati di atas bumi. Kemanusiaan telah dibangun kembali, dimulai dengan tiga orang  putra  Nuh dan  isteri-isteri  mereka,  sedemikian rupa bahwa tiga abad kemudian lahirlah Nabi Ibrahim, dan  Nabi  Ibrahim mendapatkan  jenis  manusia  sudah  pulih kembali dalam kelompok-kelompok bangsa. Bagaimana  dalam  waktu  yang singkat,  jenis  manusia  dapat pulih kembali? Soal ini telah menghilangkan kepercayaan kepada  riwayat  banjir tersebut.
 
Di   samping   itu,   bukti-bukti  sejarah  menunjukkan ketidakserasian   riwayat    tersebut    dengan    ilmu pengetahuan   modern.   Sekarang   ini   ahli   sejarah menempatkan Nabi Ibrahim pada tahun 1800-1850 SM.  Jika banjir  telah  terjadi  3  abad  sebelum  Nabi  Ibrahim seperti yang  diterangkan  oleh  Kitab  Kejadian  dalam silsilah  keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir telah terjadi pada abad XXI atau XXII  SM.  Pada  waktu itu, menurut ilmu sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini sudah bermunculan  bermacam-inacam  peradaban yang  bekas-bekasnya  telah  sampai  kepada kita. Waktu itu, bagi  Mesir  merupakan  periode  sebelum  Kerajaan Pertengahan  (tahun 2100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum dinasti ke sebelas. Waktu  itu,  adalah periode  dinasti  ketiga  di kota Ur atau Babylon. Kita tahu dengan pasti  bahwa  tak  ada  keterputusan  dalam kebudayaan,  jadi  tak  ada  pemusnahan  jenis  manusia seperti dikehendaki oleh Bibel.
 
Oleh karena itu maka  kita  tak  dapat  memandang  tiga riwayat  Bibel  sebagai menggambarkan kejadian-kejadian yang sesuai dengan kebenaran. Jika kita ingin  bersikap obyektif  kita harus mengakui bahwa teks-teks yang kita hadapi tidak merupakan pernyataan kebenaran. Mungkinkah Tuhan  memberikan  sebagai  wahyu  kecuali hal-hal yang benar? Kita tak dapat menggambarkan Tuhan yang  memberi pelajaran  kepada manusia dengan perantaraan khayal dan khayal  yang  kontradiksi.  Dengan  begitu  maka   kita terpaksa  membentuk hipotesa bahwa Bibel adalah tradisi yang secara lisan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi  yang  lain,  atau hipotesa bahwa Bibel adalah suatu teks dari tradisi-tradisi yang sudah tetap.  Jika seseorang  mengatakan  bahwa  suatu karya seperti Kitab Kejadian telah dirubah-rubah sedikitnya dua kali selama tiga   abad,   maka   tidak   mengherankan   jika  kita mendapatkan   didalamnya   kekeliruan-kekeliruan   atau riwayat  yang  tidak  sesuai  dengan hal-hal yang telah diungkapkan oleh kemajuan  pengetahuan  manusia,  yaitu kemajuan  yang  jika  tidak memberi ilmu tentang segala sesuatu,   sedikitnya   kemajuan   yang    memungkinkan seseorang mendapat pengetahuan yang cukup untuk menilai keserasian dengan riwayat-riwayat kuno. Tidak ada  yang lebih  logis  daripada  berpegangan  bahwa interpretasi kesalahan teks-teks Bibel itu hanya menyangkut manusia.
 
Sangat  disayangkan,  bahwa  interpretasi  semacam  ini tidak  diakui  oleh  kebanyakan ahli tafsir Bibel, baik orang Yahudi  maupun  orang  Kristen.  Tetapi  walaupun begitu argumentasi mereka perlu kita perhatikan.
 
 
Penelitian yang kritis
 
IV. SIKAP PENGARANG PENGARANG KRISTEN TERHADAP KESALAHAN ILMIAH DARI TEKS BIBEL     
 
PENELITIAN MEREKA YANG KRITIS
 
Kita merasa heran karena reaksi yang berbeda-beda  yang ditunjukkan oleh ahli tafsir Kristen terhtadap kumpulan kesalahan-kesalahan, kekeliruan dan kontradiksi ini. Di antara    mereka    ada    yang    mengakui    sebagian kesalahan-kesalahan  tersebut  dan  tidak   segan-segan membicarakan    soal-soal    yang   rumit   itu   dalam karangan-karangan mereka. Ada golongan lain yang secara lihai menghindari hal-hal yang tak dapat dipertahankan, tetap mempertahankan kemurnian  Bibel  kata  demi  kata serta    berusaha    meyakinkan   orang   lain   dengan keterangan-keterangan yang bersifat  apologetik  dengan memakai argumentasi yang tak terduga, dan dengan begitu mengharap orang  lain  akan  melupakan  soal-soal  yang ditolak oleh logika.
 
R.   P.  de  Vaux,  dalam  pengantar  terjemahan  Kitab Kejadian mengakui  adanya  kritik-kritik  dan  mengakui pula  kebenaran  kritik-kritik  tersebut,  akan tetapi, baginya, tidaklah penting untuk  mengadakan  penyusunan baru  terhadap kejadian-kejadian pada masa yang lampau. Ia  menulis  dalam  catatan-catatannya:   bahwa   Bibel menyebutkan  kenangan sesuatu atau beberapa banjir yang dahsyat  di  lembah   Tigris   atau   Euphrate,   yaitu banjir-banjir   yang   dibesar-besarkan  dalam  tradisi sehingga menjadi  suatu  bencana  dunia,  adalah  tidak penting;  yang  penting  adalah  bahwa  pengarang Kitab Kejadian telah mengisi kenangan itu dengan ajaran abadi mengenai  keadilan  dalam rahmat Tuhan, serta kejahatan manusia, dan keselamatan bagi orang yang benar.
 
Dengan begitu maka untuk merubah suatu  legenda  rakyat menjadi  suatu  kejadian  suci yang perlu diyakini oleh umat  beragama,  adalah  suatu  tindakan   yang   dapat dibenarkan  selama  pengarang  memakainya  untuk contoh dalam pelajaran agama.  Sikap  apologetik  semacam  itu akan    membenarkan    segala    macam   penyalahgunaan tulisan-tulisan yang dianggap suci dan mengandung sabda Tuhan.  Membenarkan campur tangan manusia dalam hal-hal yang suci berarti menutupi  segala  perubahan-perubahan yang  dilakukan  oleh manusia terhadap teks Bibel. Jika terdapat suatu maksud teologik  maka  segala  perubahan dibolehkan,  dan  dengan  begitu maka orang membenarkan perubahan-perubahan      yang      dilakukan       oleh  pengarang-pengarang  Sakerdotal  (pendeta-pendeta) pada abad  VI  serta  kesibukan-kesibukan  legalistis   yang akhirnya  menghasilkan  riwayat-riwayat  khayalan  yang sudah kita lihat.
 
Ada kelompok yang tidak kecil daripada ahli-ahli tafsir Kristen    yang   merasa   bangga   untuk   menerangkan kekeliruan, kesalahan  dan  kontradiksi  yang  terdapat dalam  Bibel  dengan  mengemukakan  alasan  bahwa  para pengarang Bibel terpengaruh oleh  faktor-faktor  sosial daripada  peradaban  atau  mental  yang  berbeda dengan peradaban  dan  mental  sekarang;  ini  berarti   bahwa persoalan  kekeliruan dan kontradiksi tersebut berakhir dan menjelma menjadi suatu jenis yang  khusus  daripada kesusasteraan.  Penggunaan  istilah  "suatu  jenis yang khusus daripada  kesusasteraan"  ini  dalam  perdebatan yang rumit di antara para ahli tafsir Bibel telah dapat menutupi segala kesulitan. Tiap kontradiksi antara  dua teks  dapat  dijelaskan dengan: perbedaan cara ekspresi daripada  tiap  pengarang,  khususnya  perbedaan   gaya sastranya.  Sudah  tentu  argumentasi seperti ini tidak dapat diterima oleh  semua  orang,  karena  argumentasi tersebut  tidak  serius.  Tetapi  argumentasi  tersebut masih ada orang yang  memakainya  sekarang,  dan  dalam membicarakan   Perjanjian   Baru,   kita  akan  melihat orang-orang menafsirkan kontradiksi yang ada didalamnya dengan cara yang berlebihan.
 
Suatu cara lain untuk memaksakan hal-hal yang tak dapat diterima oleh logika dalam  teks  Bibel  adalah  dengan mengelilingi         teks        tersebut        dengan pertimbangan-pertimbangan  apologetik.  Dengan   begitu maka  perhatian pembaca dialihkan dari problema crucial mengenai kebenaran kepada problema-problema lain.
 
Pemikiran-pemikiran Kardinal Danielou  mengenai  Banjir yang  dimuat  dalam  majalah  Dieu  Vivant  (Tuhan yang hidup), nomor 38 tahun 1947 halaman 95-112 dengan judul "Banjir  Pembaptisan  dan  Hukuman,"  menunjukkan  cara tersebut.  Ia  menulis:  "Tradisi  yang   paling   kuno daripada  Gereja  telah  terlihat dalam Teologi Banjir, gambar Yesus Kristus  dan  gambar  Gereja.  Ini  adalah hikayat   yang   besar  sekali  artinya.  Hukuman  yang mengenai  seluruh  umat  manusia."   Setelah   mengutip Origene   yang   dalam   karangan:   "Ceramah   tentang Yehezkiel," membicarakan tentang  tenggelamnya  seluruh Dunia   dan   diselamatkannya  dalam  Perahu,  Kardinal Danielou tersebut membicarakan tentang pentingnya angka delapan    (yang    menunjukkan   jumlah   orang   yang diselamatkan oleh Perahu; Nuh dan isterinya serta  tiga orang  anaknya dan isteri-isteri mereka). Ia mengulangi yang ditulis oleh Yusten dalam  Dialognya  "mereka  itu memberikan  simbol  hari ke delapan, hari Yesus Kristus dibangkitkan dari mati"  dan  ia  menulis:  "Nuh,  yang dilahirkan  pertama  daripada  penciptaan  baru,  suatu citra  Yesus   Kristus   yang   merealisir   apa   yang digambarkan   oleh  Nuh."  Ia  meneruskan  perbandingan antara Nuh yang diselamatkan oleh  kayunya  perahu  dan  oleh air yang mengapungkannya, dan air pembaptisan (air Banjir  yang  melahirkan  kemanusiaan  baru)  dan  kayu salib. Kardinal menekankan nilai simbolisme dan menutup uraiannya  dengan  menekankan  kekayaan  spiritual  dan doktrinal daripada sakramen Banjir!
 
Banyak    sekali    yang   dapat   dikatakan   mengenai pendekatan-pendekatan  apologetik.  Pendekatan  semacam itu   menerangkan   suatu   kejadian   yang  tak  dapat dipertahankan  kebenarannya,  dan   pada   waktu   yang diterangkan oleh Bibel, dengan penjelasan yang bersifat universal. Dengan tafsiran seperti  yang  ditulis  oleh Kardinal  Danielou  kita kembali ke abad pertengahan di mana kita harus menerima teks  apa  adanya  dan  segala pembicaraan  mengenainya  terlarang kecuali pembicaraan yang menguatkan.
 
Meskipun  begitu,  saya  merasa  segar  bahwa   sebelum periode  obscurantisme  yang  dipaksakan ini, kita baca sikap-sikap yang logik  seperti  sikap  Agustinus  yang menunjukkan  pemikiran yang maju, lebih dahulu daripada pemikiran yang ada pada masa hidupnya.
 
Pada periode pendeta-pendeta  Gereja,  problema  kritik teks  sudah terasa oleh karena Agustinus menyebutkannya dalam  suratnya  no.   82,   yaitu   yang   mengandung kalimat-kalimat penting sebagai berikut: "Khusus kepada fasal-fasal dari Bibel, yang  dinamakan  kanonik  (yang telah dilegalisir oleh Paus) saya memberi perhatian dan kehormatan, dan saya yakin seyakin-yakinnya  bahwa  tak seorangpun  daripada  para  pengarang-pengarangnya yang melakukan  kekeliruan  dalam  menulisnya.  Jika   dalam fasal-fasal  itu  saya  jumpai  suatu  pernyataan  yang kelihatan  bertentangan  dengan  kebenaran,  maka  saya tidak  ragu  untuk  mengatakan  bahwa:  teks (yang saya baca)   itu   salah,   atau   si   penterjemah    tidak menterjemahkan  teks  asli sebaik-baiknya, atau pikiran saya kurang cerdas.
 
Bagi Agustinus, tak terbayang bahwa  suatu  teks  kitab suci  dapat  mengandung  kesalahan.  Agustinus  memberi penjelasan tentang "dogma bahwa Bibel tidak bisa salah" secara  terang dan jelas. Jika ada kalimat-kalimat yang nampaknya  kontradiksi  dengan  kebenaran,  ia  mencari sebabnya,  dan tidak mengenyampingkan kemungkinan sebab itu datang dari manusia. Sikap semacam itu adalah sikap orang  yang  percaya  dan  mempunyai  daya kritik. Pada zaman Agustinus ( 354 - 430 M ) belum  ada  kemungkinan konfrontasi   antara   teks   Bibel  dan  Sains.  Suatu pandangan  yang  luas  yang  serupa  dengan   pandangan Agustinus  akan  menghilangkan kesulitan-kesulitan yang disebabkan konfrontasi antara beberapa teks dalam Bibel dengan pengetahuan ilmiah.
 
Sebaliknya,  para  spesialis  pada  masa  kita sekarang merasa bangga untuk mempertahankan teks Bibel  terhadap sangkaan  kesalahan.  R.P.  de  Vaux,  dalam  Pengantar kepada  Kitab  Kejadian  memberikan  sebab-sebab   yang mendorongnya  untuk mempertahankan teks Bibel, walaupun teks tersebut ternyata tidak dapat  diterima  dan  segi sejarah  atau  dari segi Sains. Ia meminta kita "supaya jangan memandang sejarah dalam  Bibel  dengan  kacamata metode-metode  yang  diikuti  oleh orang-orang modern," seakan-akan ada beberapa cara  untuk  menulis  sejarah. Jika  sejarah itu ditulis dengan cara yang tidak betul, maka ia menjadi roman sejarah. Tetapi  dalam  hal  ini, sejarah   menjadi  terlepas  dari  konsep-konsep  kita.
Ahli-ahli tafsir Bibel menolak  pengamatan  teks  Bibel dengan  geologi,  paleontologi dan ilmu pra sejarah. Ia menulis:  Bibel  tidak  ada  sangkut   pautnya   dengan disiplin-disiplin   tersebut.   Jika   seseorang  ingin mengkonfrontasikan Bibel dengan ajaran Sains, ia  hanya akan mencapai sebagai hasilnya, suatu pertentangan yang tidak riil, atau suatu persesuaian yang  "semu."  Perlu diterangkan   disini   bahwa   pemikiran-pemikiran  ini dikemukakan  berhubung  dengan  hal-hal  yang  terdapat dalam  Kitab  Kejadian  yang  sama  sekali tidak sesuai dengan Sains modern  yakni  yang  terkandung  dalam  11 fasal yang pertama. Tetapi jika ada bagian-bagian Bibel yang sekarang  ini  diperkuat  oleh  ilmu  pengetahuan, umpamanya  beberapa hikayat dari zaman nabi-nabi bangsa Israil, pengarang tidak segan-segan memakai pengetahuan modern  untuk  menunjang  kebenaran  Bibel.  Ia menulis dalam halaman 34: Keragu-raguan  terhadap  hikayat  ini harus  disingkirkan  karena sejarah dan arkeologi Timur telah memberikan kesaksian yang  menguntungkan.  Dengan kata  lain:  jika Sains berfaedah untuk menguatkan teks Bibel ia menggunakannya;  jika  Sains  melemahkan  teks Bibel,   orang  tak  boleh  mempergunakan  Sains  untuk menyesuaikan  hal-hal  yang  tidak  dapat  disesuaikan, yakni  untuk  menyesuaikan teori bahwa Bibel itu mutlak benar. Dengan kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Perjanjian   Lama,  ahli-ahli  teologi  modern  mencoba meninjau  kembali  tentang   konsep   klasik   mengenai kebenaran.    Untuk   menyebutkan   secara   terperinci argumentasi-argumentasi  rumit  yang  berkembang  dalam karangan-karangan   mengenai  Kebenaran  Bibel  seperti karangan O. Lorentz (1972) "Apakah kebenaran Bibel  itu (quelle  est  la verite de la Bibel), akan membawa kita keluar dari rangka buku ini; cukuplah kiranya jika kita cantumkan disini pantangannya mengenai Sains."
 
Penulis    menyebutkan   bahwa   Konsili   Vatikan   II berhati-hati  untuk  memberi  patokan  guna  membedakan antara    kekeliruan   dan   kebenaran   dalam   Bibel. Pertimbangan-pertimbangan fundamental menunjukkan bahwa hal  tersebut  adalah m ustahil oleh karena Gereja tidak dapat memutuskan kebenaran atau kesalahan metode ilmiah sehingga ia juga tidak dapat memutuskan kebenaran Bibel secara umum dan menurut prinsip.
 
Memang jelas bahwa Gereja tak  dapat  mengatakan  terus terang  mengenai  metode  ilmiah  sebagai  usaha  untuk sampai kepada Pengetahuan.  Tapi  itu  bukan  persoalan yang    kita   bicarakan.   Kita   tidak   membicarakan teori-teori  tetapi  membicarakan  fakta  yang   jelas.
Apakah  kita  harus menjadi pendeta besar di zaman kita ini untuk mengetahui bahwa alam  itu  tidak  diciptakan dan  bahwa  manusia  itu  tidak  timbul  di  dunia  ini semenjak  37  atau  38  abad,  atau  mengetahui   bahwa perkiraan yang didasarkan atas silsilah keturunan dalam Bibel  mungkin  dianggap  salah,   tanpa   ada   resiko kekeliruan.  Pengarang yang namanya disebut di sini (O. Lorentz)  tentu  mengetahui  hal  ini.   Keteranganrrya tentang   Sains  hanya  dimaksudkan  untuk  mengelakkan persoalan, karena ia tidak membahas persoalan  tersebut secara yang semestinya.
 
Bahwa  kita  menyebutkan  sikap  para pengarang Kristen dalam menghadapi kekeliruan  ilmiah  dalam  teks  Bibel menunjukkan   kesulitan   yang   timbul  karenanya  dan menunjukkan pula bahwa tidak mungkin untuk  menerangkan sikap   yang   logis   kecuali  dengan  mengakui  bahwa kekeliruan-kekeliruan  itu  berasal  dari  manusia  dan rasanya     tidak     mungkinlah     untuk     menerima kekeliruan-kekeliruan  tersebut  sebagai  suatu  bagian daripada wahyu.
 
Krisis  yang mencekam kalangan-kalangan Gereja mengenai wahyu  telah  terungkap  dalam   Konsili   Vatikan   II (1962-1965),  di  mana  diperlukan lebih dari 5 redaksi untuk sampai kepada suatu teks final sesudah perdebatan selama 3 tahun. Dengan begitu maka berakhirlah "situasi yang parah dan  mengancam  bubarnya  Konsili,"  menurut kata-kata  Monsieur Weber dalam kata pengantarnya untuk dokumen no. 4 mengenai: Wahyu.
 
Dua kalimat  dalam  dokumen  Konsili  Vatikan  mengenai Perjanjian   Lama  (fasal  4,  halaman  3)  menyebutkan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan  beberapa teks dengan cara yang tidak dapat lagi dibantah.
 
Dengan  mengingat  situasi  manusia sebelum keselamatan yang  ditegakkan  oleh   Yesus   Kristus,   kitab-kitab (fasal-fasal)  Perjanjian Lama memungkinkan kepada kita semua  untuk  mengetahui  siapa  Tuhan  itu  dan  siapa manusia   itu,   begitu   juga   rasanya   Tuhan  dalam keadilanNya dan rahmatNya bertindak  terhadap  manusia. Kitab-kitab   (fasal-fasal)   itu  walaupun  mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan lemah, merupakan  saksi dari pendidikan ilahi yang benar.6
 
Dengan  kata  "imparfait"  (tidak  sempuma) dan "Caduc" (lemah) yang dipakai untuk memberi ciri kepada beberapa teks,  berarti  bahwa teks-teks tersebut dapat dikritik dan dapat  ditinggalkan.  Prinsip  ini  telah  diterima secara jelas sekali.
 
Teks  ini merupakan satu bagian daripada deklarasi umum yang mendapat 2344  suara  pro  dan  6  kontra.  Tetapi sesungguhnya  tidak  diperlukan  adanya gambaran hampir aklamasi. Dalam tafsiran dokumen resmi, di bawah  tanda tangan  Monsigneur  Weber  kita  dapatkan suatu kalimat yang  dengan   jelas   mengoreksi   adanya   "caducite" (kelemahan) beberapa teks yang termasuk dalam deklarasi agung daripada  Konsili  "Tidak  ada  syak  lagi  bahwa beberapa   fasal  dari  Bibel  Israil  mempunyai  sifat "sementara" dan sifat "tidak sempurna." "Caduc" suatu kata dalam deklarasi resmi, tidak sinonim dengan "sifat sementara" yang dipakai oleh juru tafsir. Mengenai  kata  sifat  "Israilite"  yang   ditambahkan, memberi  kesan  bahwa  deklarasi  Konsili  hanya  dapat mengkritik versi Ibrani; padahal soalnya tidak  begitu. Yang  menjadi  sasaran  Konsili adalah Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama  itulah  yang  dianggap  mengandung kekurangan dan kelemahan dalam beberapa bagiannya.
 
V. KESIMPULAN
 
Kita harus  memandang  Bibel  bukan  dengan  melekatkan kepadanya  secara  resmi sifat-sifat yang kita inginkan untuknya, tetapi, dengan menelitinya sebagaimana adanya secara  obyektif.  Ini  memerlukan  pengetahuan tentang teks  dan  juga  tentang  sejarah  teks-teks  tersebut. Sejarah  teks memungkinkan kita memperoleh idea tentang keadaan-keadaan  yang   mendorong   kepada   terjadinya perubahan-perubahan  teks  selama beberapa abad, kepada terbentuknya teori yang kita miliki secara  pelan-pelan dengan beberapa pengurangan atau penambahan.
 
Hal-hal   tersebut   memungkinkan  sekali  bahwa  dalam Perjanjian Lama kita mendapatkan  versi  bermacam-macam mengenai     sesuatu    hikayat,    atau    mendapatkan kontradiksi-kontradiksi, kekeliruan sejarah,  kesalahan dan  ketidak  sesuaian  dengan  pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah pasti. Hal-hal yang akhir ini  sangat wajar  dalam  karya  manusia  kuno, sehingga wajar pula jika kita menemukannya  dalam  buku-buku  yang  ditulis dalam kondisi tersusunnya teks Bibel.
 
Sebelum  problema  ilmiah muncul, dalam periode di mana  orang  belum  dapat   mengatakan   tidak   benar   atau kontradiksi,  seseorang  yang berperasaan sehat seperti Agustinus,  berpendapat  bahwa  Tuhan   tidak   mungkin mengajarkan  kepada  manusia  hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran, dan ia membentuk suatu prinsip yaitu: kemustahilan  bahwa pernyataan yang tidak sesuai dengan kebenaran itu berasal dari Tuhan.  Dan  karena  itu  ia bersedia  untuk  mengeluarkan hal yang semacam itu dari Bibel.
 
Kemudian,  ketika  orang  sudah  dapat  memahami  bahwa beberapa  bagian  Bibel tidak sesuai dengan pengetahuan modern, manusia  tidak  suka  mengikuti  sikap  seperti tersebut   di   atas.   Dengan  begitu  kita  mengalami perkernbangan teratur yang bertujuan  untuk  memelihara dalam   Bibel   teks-teks  yang  mestinya  sudah  tidak mempunyai tempat lagi.
 
Konsili Vatikan II (1962-1965)  telah  meredakan  sikap yang   keras  ini  dengan  mengemukakan  reserve  untuk "fasal-fasal Perjanjian Lama" yang mengandung  "hal-hal yang  kurang  sempurna  dan hal-hal yang lemah." Apakah sifat reserve tersebut merupakan suatu pandangan  taqwa semata-mata  atau  akan  disusul dengan perubahan sikap terhadap hal-hal yang tak dapat diterima lagi pada abad XX   dalam   buku-buku   yang  jika  diselamatkan  dari perubahan-perubahan yang dibikin  oleh  manusia,  hanya akan   dijadikan  oleh  Tuhan  sebagai  saksi  daripada pendidikan suci yang hakiki.
 
Perjanjian Baru
 
 
INJIL
 
I. PENGANTAR
 
Banyak  pembaca  Injil  yang  merasa   bingung   bahkan ragu-ragu  jika mereka memikirkan arti beberapa hikayat atau mengadakan perbandingan  antara  versi-versi  yang bermacam-macam mengenai suatu kejadian yang diceritakan dalam  beberapa  Injil.  Hal  tersebut   adalah   suatu konstatasi  yang  diberikan  oleh  R.P.  Rouguet  dalam bukunya:  Pembimbing   kepada   Injil   (Initiation   al'Evangile)  cetakan  Seuil  1973. Dengan pengalamannyaselama beberapa tahun sebagai redaktur  suatu  mingguan Katolik  yang ditugaskan untuk menjawab pembaca-pembaca yang mendapatkan kesulitan memahami  teks  Injil,  R.P. Rouguet  dapat  mengukur  pentingnya  kebingungan  para pembaca. Ia merasakan bahwa permintaan penjelasan  dari para  pembaca  yang  datang dari lapisan masyarakat dan kebudayaan orang bermacam-macam  adalah  mengenai  teks  yang   kabur,   yang   tak   dapat   dimengerti,   yang kontradiksi, absurd dan memalukan. Tidak ada syak  lagi bahwa membaca teks Injil seluruhnya dapat membingungkan umat Kristen.
 
Pengamatan semacam ini adalah baru; buku  R.P.  Rouguet diterbitkan  pada tahun 1973. Pada masa-masa yang belum terlalu lama, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui ayat-ayat yang dipilih oleh pendeta, dibacakan di waktu sembahyang atau ceramah agama. Di luar kaum  Protestan, jarang  sekali  orang  membaca  seluruh  Injil, di luar kesempatan-kesempatan tersebut.
 
Buku-buku pelajaran agama hanya memuat kutipan-kutipan Tak  ada  teks  lengkap  yang  beredar. Pada waktu saya menjadi siswa sekolah  menengah  katolik,  saya  selalu memiliki  buku-buku  karangan Virgile dan Plato, tetapi tidak memiliki Perjanjian Baru, pada  hal  teks  Yunani Perjanjian   Baru   sangat  berfaedah.  Baru  kemudian, setelah terlambat, saya baru tahu  mengapa  kami  tidak disuruh  menterjemahkan  kitab  suci Kristen. Pokoknya, terjemahan kitab  itu  akan  mendorong  kami  memajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
 
Hal-hal  yang  dipertanyakan  oleh  pikiran yang kritis setelah membaca Injil secara menyeluruh telah mendorong Gereja  untuk  campur  tangan dan membantu para pembaca mengatasi  kesulitan  mereka.  R.P.  Rouguet   berkata: "Banyak  orang  Kristen yang memerlukan belajar membaca Injil," mungkin orang setuju atau tidak setuju terhadap kata-kata  tersebut,  akan  tetapi  jasa  seorang  yang menghadapi   problema-problema    yang    rumit    amat diperlukan.  Sangat disayangkan bahwa kita tidak selalu menjumpai sikap semacam itu  dalam  buku-buku  mengenaiWahyu Kristen yang banyak jumlahnya.
 
Dalam  edisi-edisi  Bibel  yang  disediakan untuk awam, biasanya  terdapat  kata  pengantar   yang   menyajikan beberapa  uraian  dengan  tujuan  untuk meyakinkan para pembaca  bahwa  Injil   tidak   menimbulkan   persoalan mengenai   personnya,  penulis-penulis  fasal-fasalnya, keaslian teksnya dan kebenaran isinya,  padahal  banyak pengarang-pengarang  yang tak terkenal, dan banyak pula keterangan yang memberi kesan benar dan  pasti  padahal hanya      merupakan      hipotesa;      di      antara keterangan-keterangan  tersebut  ada  yang   mengatakan bahwa     pengarang    Injil    tertentu    menyaksikan kejadian-kejadian    yang    diriwayatkannya    padahal buku-buku  para  ahli  mengatakan sebaliknya. Perbedaan waktu  antara  hidupnya  Nabi  Isa   dengan   timbulnya Injil-Injil  dilukiskan sangat singkat. Ada usaha untuk meyakinkan orang banyak, bahwa hanya  ada  satu  naskah semenjak  tradisi  lisan,  padahal  perubahan-perubahan teks telah dibuktikan oleh para ahli. Memang  ada  yang membicarakan  kesulitan  penafsiran,  tetapi  orang itu tergelincir    dalam    kontradiksi-kontradiksi    yang menyolok. Dalam kamus kecil yang disusun di akhir edisi Bibel tersebut,  yaitu  kamus  yang  dimaksudkan  untuk menambah  kata-kata  pendahuluan  yang meyakinkan tadi, sering  terdapat  bahwa  kekeliruan,  kontradiksi  atau kesalahan-kesalahan yang besar dihilangkan atau ditutup dengan alasan apologetik yang  lihai.  Keadaan  semacam itu  adalah  menyedihkan  karena menunjukkan sifat yang menyesatkan.
 
Hal-hal yang saya sebutkan di atas  tentu  mengherankan para  pembaca  yang  belum  pernah  memikirkan  hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebelum memasuki  pembicaraan yang  lebih  dalam,  saya  ingin menyajikan contoh yang menyolok.
 
Matius dan Yahya tidak pernah membicarakan kenaikan  Al Masih  ke  langit.  Lukas menempatkan kejadian itu pada hari Yesus dihidupkan  kembali.  Hal  ini  ia  sebutkan dalam  Injilnya,  padahal  dalam fasal: "Perbuatan Para Rasul" yang ia sendiri  menulisnya,  kejadian  tersebut ditempatkan  empat  puluh hari kemudian. Adapun Markus, ia menyebutkannya dengan tidak pakai waktu, dalam  satu paragraf  yang  sekarang  sudah dianggap tidak autentik lagi. Dengan begitu maka kenaikan Al  Masih  ke  langit tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam Perjanjian Baru. Walaupun begitu para ahli tafsir  menganggap  soal  ini sangat enteng.
 
A.   Tricot,   dalam   bukunya:   Kamus  Kecil  Tentang Perjanjian  Baru   (Petit   Dictionnaire   du   Nouveau Testament)  dari  Bibel  Crampon, yaitu suatu buku yang tersebar luas (terbit tahun 1960) tidak memuat  artikel Ascension  (kenaikan  Al  Masih). Synopse des Evangiles (Ringkasan  Injil-Injil)  karangan  R.  P.  Benoit  dan Boismard,   gurubesar-gurubesar  di  sekolah  Bibel  di Yerusalem  (cetakan  1972)  mengatakan  pada  jilid  11 halaman  451  dan  452  bahwa  kontradiksi antara Lukas dalam Injilnya dan Lukas  dalam  fasal  Perbuatan  Para Rasul  dapat  diterangkan  dengan "artifice Litteraire" (penipuan sastra). Apakah artinya ini?
 
Nampaknya R.P. Rouguet dalam:  Pengantar  kepada  Injil (Initiation  a Evangile) cetakan 1973 halaman 187 tidak tertarik dengan (penipuan sastra) tersebut. Akan tetapi penjelasan  yang  ia  kemukakan  adalah  aneh,  seperti berikut: "Di sini, seperti dalam  beberapa  kasus  yang sama,   persoalannya  dapat  dipecahkan,  kecuali  jika seseorang memahami isi kitab suci secara  harafiah  dan melupakan  arti  keagamaannya.  Di  sini  soalnya bukan untuk  memecahkan  fakta-fakta  dalam  simbolisme  yang tidak   konsisten   tetapi   untuk  menyelidiki  maksud teologik     dari     mereka     yang     mengungkapkan rahasia-rahasia,  dengan  memberikan  kepada kita fakta yang dapat diterima pancaindera dan alamat-alamat  yang sesuai   dengan   kecenderungan-kecenderungan  badaniah daripada jiwa kita."
 
Bagaimana  kita  dapat  merasa  puas  dengan   tafsiran semacam itu? Cara-cara apologi seperti itu hanya sesuai dengan orang-orang yang bersifat dogmatis!
 
Tetapi  pernyataan  R.P.  Rouguet  penting  karena   ia mengatakan bahwa dalam Injil terdapat hal-hal yang sama dengan persoalan kenaikan  Nabi  Isa  ke  langit.  Oleh karena itu kita perlu membicarakan persoalan ini secara menyeluruh, mendalam  dan  obyektif.  Adalah  bijaksana jika  kita  mencari penjelasan dalam pembahasan tentang kondisi  waktu  Injil-Injil  itu  ditulis  dan  suasana keagamaan      pada     waktu     itu.     Pengungkapan perubahan-perubahan redaksi asli  semenjak  menjelmanya dari  tradisi  lisan,  perubahan-perubahan  teks selama dialihkan dari generasi ke generasi  sampai  hari  ini, telah  menjadikan  kita tidak terlalu terperanjat dalam menghadapi  bagian-bagian   yang   kabur   yang   tidak dimengerti,  yang  keliru,  yang menjurus untuk menjadi absurd atau tidak sesuai dengan realitas-realitas  yang  telah   dibuktikan   oleh  kemajuan  ilmu  pengetahuan.  Kenyataan-kenyataan semacam itu menunjukkan partisipasi manusia  dalam  menyusun  Injil  dan  menunjukkan  pula perubahan-perubahan teks yang terjadi kemudian.
 
Semenjak   beberapa   puluh    tahun    telah    timbul kecenderungan   untuk   mempelajari   kitab-kitab  suci -dengan jiwa penyelidikan yang  obyektif.  Dalam  suatu karangan  baru  yang  berjudul "Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi" (Kepercayaan bahwa Yesus  hidup kembali,  Kehidupan  kembali  dari  kepercayaan). R. P. Kannengiesser, Guru  Besar  pada  Institut  Katolik  di Paris   memberikan   gambaran  tentang  perubahan  yang mendalam ini sebagai berikut: "Orang-orang yang percaya hampir  tidak  mengetahui  bahwa  suatu  revolusi dalam metode penafsiran Bibel telah terjadi semenjak  periode Paus  Pius  XII  (1939-1958). Revolusi yang dibicarakan itu  memang  baru.  Revolusi  tersebut  dimulai  dengan memperpanjang waktu pendidikan-pendidikan pemeluk agama Kristen, sedikitnya mengenai bahan-bahan yang diajarkan oleh  ahli-ahli  Injil  yang memiliki jiwa pembaharuan.
Suatu pembalikan terhadap perspektif yang telah  sangat mantap  tentang  tradisi  para  pendeta, telah berjalan sedikit atau banyak dengan  timbulnya  revolusi  metode menafsirkan ini."
 
R.P. Kannengiesser memperingatkan kita "Jangan memahami secara harafiah" segala hal yang diceritakan oleh Injil tentang  Yesus,  karena  "Injil  itu adalah fasal-fasal yang  ditulis  pada  keadaan-keadaan  tertentu'?   atau merupakan       "fasal-fasal      perjuangan"      yang pengarang-pengarangnya   bermaksud   untuk   memelihara dengan   tulisan  segala  dongengan  masyarakat  mereka tentang Yesus. Mengenai  dihidupkannya  Yesus  kembali, yaitu   hal   yang   dibicarakan   dalam   bukunya,  ia menandaskan bahwa tak ada pengarang  Injil  yang  dapat mengatakan dirinya sebagai saksi mata.
 
Hal  ini  berarti  bahwa, mengenai masa kenabian Yesus, keadaannya juga begitu, yakni tak ada  pengarang  Injil yang  menjadi  saksi  mata, oleh karena tak ada seorang rasul  (Hawari)  selain  Yudas,7  yang  berpisah   dari gurunya   (yakni   dari  Yesus)  dari  semenjak  mereka mengikutinya sampai  akhir  penjelmaannya  diatas  bumi (Padahal para penulis Injil bukan Hawari).
 
Dengan  begitu,  maka  kita  sudah menjadi terlalu jauh dari  sikap  tradisional  yang  masih  dipegang  dengan khusuknya  oleh  Konsili Vatikan II, baru sepuluh tahun yang lalu; sikap tradisional tersebut juga masih  terus nampak  dalam buku-buku modern yang ditulis untuk awam. Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran itu nampak juga.  
Memang tidak mudah  untuk  menangkap  kebenaran  selama tradisi   yang  sudah  turun  temurun  lama  itu  tetap dipertahankan. Jika  seseorang  ingin  me}epaskan  diri dari tradisi tersebut ia harus meneliti permasalahannya dari    dasarnya,    artinya    ia    harus    meneliti keadaan-keadaan yang meliputi lahirnya agama Kristen.
 
 
 
 
 
 
 
Mengingat Kembali Sejarah
 
 
II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH
 
AGAMA YAHUDI KRISTEN (JUDEO-CHRISTIANISME) DAN PAULUS
 
Kebanyakan umat Kristen mengira bahwa  Injil-Injil  itu ditulis   oleh   saksi-saksi   mata   yang  menyaksikan kehidupan Yesus  secara  langsung,  dan  dengan  begitu mereka   itu   merupakan  saksi-saksi  yang  tak  dapat disangsikan  lagi   mengenai   kejadian-kejadian   yang memenuhi  kehidupannya dan dakwahnya. Dengan menghadapi jaminan-jaminan tentang kebenaran Injil, dapatkah orang mempersoalkan  ajaran-ajaran  yang  dapat  diambil dari Injil  tersebut?  Dapatkah  orang   ragu-ragu   tentang kebenaran  kelembagaan  Gereja  yang  didirikan menurut petunjuk-petunjuk  umum  yang  diberikan   oleh   Yesus sendiri?    Cetakan-cetakan    Injil    sekarang   yang diperuntukkan bagi orang awam memuat  komentar-komentar yang   dimaksudkan   untuk   menyebarluaskan  idea-idea tersebut diantara mereka.
 
Kepada pengikut-pengikut agama yang setia,  ditonjolkan aksioma  bahwa  para pengarang Injil adalah saksi-saksi mata. Bukankah Yustin pada  abad  II  mengatakan  bahwa Injil-Injil  itu  adalah  memoir (catatan-catatan) para Rasul (sahabat-sahabat Nabi  Isa).  Kemudian  diberikan pula keterangan yang terperinci mengenai para pengarang Injil  sehingga  orang  tidak   ragu-ragu   lagi   akan kebenarannya.  Umpamanya:  Matius  adalah  seorang yang sangat terkenal "pegawai bea Cukai  di  Kafrna'um,  "Ia faham   bahasa   Aramaik   dan  bahasa  Yunani.  Markus disebutkan sebagai teman  Petrus;  sudah  terang  bahwa Markus  bukan  saksi  mata  yang melihat Yesus sendiri. Lukas adalah seorang tabib, sehingga Paulus  mengatakan bahwa   keterangan-keterangan  tentang  Lukas  tersebut sangat tepat. Yahya adalah rasul (sahabat) yang  selalu dekat  dengan  Yesus, anak dari Zebede, seorang nelayan di danau Genesareth.
 
Penyelidikan-penyelidikan  modern   tentang   permulaan agama   Kristen  menunjukkan  bahwa  penyajian  seperti tersebut di atas tidak sesuai  dengan  kenyataan.  Kita nanti  akan  mengetahui siapa pengarang-pengarang Injil itu. Mengenai  periode  beberapa  puluh  tahun  setelah Yesus  tak ada lagi, kita harus tahu bahwa yang terjadi tidak seperti apa yang dikatakan, dan  bahwa  kunjungan Petrus   ke   Roma  tidak  mendirikan  Gereja  Katolik. Sebaliknya antara waktu  Yesus  meninggalkan  bumi  ini sampai  pertengahan  abad  II,  yakni selama lebih dari satu abad telah terjadi perjuangan  antara  dua  aliran yakni   agama   Kristen   menurut   Paulus   dan  agama Yahudi-Kristen;  dengan   pelan-pelan   aliran   Paulus mendesak aliran asli yakni agama Yahudi-Kristen.
 
Banyak  karangan-karangan  yang  muncul  pada  beberapa dasawarsa  yang  akhir   ini   dan   yang   berdasarkan penemuan-penemuan  yang  terungkap di zaman kita, telah memungkinkan kita memahami pikiran-pikiran modern  yang disajikan   oleh   Kardinal   Danielou.   Artikel  yang diterbitkan pada bulan-  Desember  1967  dalam  majalah Etude  (penyelidikan)  berjudul:  Suatu  pandangan baru tentang asal agama  Kristen  atau  Yudeo-Christianisme. Dengan  mengutip  karangan-karangan  yang terdahulu, ia menjelajahi  sejarah  dan   memungkinkan   kita   untuk menempatkan  Injil  dalam  konteks  yang sangat berbeda dengan apa yang dapat  kita  baca  dalam  uraian-uraian yang  ditulis  untuk  kaum  awam.  Di  bawah  ini  kita cantumkan ringkasan pikiran-pikiran pokok dalam artikeltersebut, dengan kutipan-kutipan:
 
Sesudah Yesus, tidak ada lagi kelompok kecil para rasul (sahabat) yang merupakan suatu "sekte Yahudi yang setia kepada ibadat dan upacara temple." Tetapi ketika banyak orang-orang baru yang masuk agama  Kristen  dari  agama Kafir  (Pagan), mereka mengusulkan suatu aturan Khusus; konsili Yerusalem tahun 49 M  membebaskan  mereka  dari khitan  dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang-orang, Yahudi-Kristen  yang  tidak  setuju  dengan   perlakuan khusus  ini.  Kelompok  ini memisahkan diri dan Paulus.
Malahan  telah  terjadi  bentrokan  antara  Paulus  dan kelompok  Yahudi  Kristen  pada  tahun 49 M itu juga di Antioch. Bagi Paulus, khitan, liburan  hari  Sabtu  dan upacara di temple tidak perlu lagi, baik untuk pengikut Yesus atau untuk orang Yahudi  sendiri.  Agama  Kristen harus  membebaskan diri dari hubungan politico religius dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil (yang bukan Yahudi).
  
Dalam  pandangan orang Yahudi Kristen yang tetap setia, kepada  ajaran  Yahudi,  Paulus   adalah   orang   yang berkhianat.  Dokumen-dokumen  mereka  mengatakan  bahwa Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan  taktik  dua muka;  tetapi  sampai  tahun  70 M Yudeo—Christianisme merupakan  "mayoritas   dalam   gereja"   dan   "Paulus merupakan   orang   yang   terasing."   Ketua  daripada masyarakat Yudeo-Christian adalah Jack, seorang kerabat Yesus.  Jack  didampingi  Petrus  dan Yahya. Jack dapat dianggap  sebagai  tiangnya  Yudeo-Christianisme,  yang sengaja  setia  kepada  agama  Yahudi  menentang  agama Kristen yang dipimpin Paulus. Keluarga  Yesus  memegang peranan  dalam  gereja  Yudeo-Christian  di  Yerusalem. Pengganti Jack  adalah  Simon,  anak  Cleopas,  saudara sepupu Yesus.
 
Kardinal   Danielou   mengutip   tulisan-tulisan  Yudeo Christian yang mengungkapkan pandangan  kelompok  Yudeo Christian  yang  terbentuk sekitar para rasul (sahabat) terhadap  Yesus:  Injil  orang-orang  Ibrani  (mengenai masyarakat  Yahudi Kristen di Mesir), Hypotesa karangan Clement,  rasa  syukur   Clement   (Reconnaissance   de Clement), Apocalypse Jack dan Injil Thomas.8
 
Orang-orang   Yahudi   Kristen   itulah   yang  menulis dokumen-dokumen Kristen  kuno  yang  disebutkan  secara terperinci olel Kardinal Danielou.
 
"Pada  abad  I  M,  agama Yahudi Kristen tidak hanya di Yerusalem dan Palestina, akan tetapi  di  tempat-tempat lain juga, yakni sebelum aliran Paulus tersiar. Hal ini memberi penerangan mengapa  surat-surat  Paulus  selalu menyebutkan adanya konflik," memang di mana-mana Paulus mendapat rintangan yang  sama,  di  Galitea,  Korintus , Kolose, Roma dan Antioch.
 
Di  tanah  pesisir  Siria  Palestina,  dari Gaza sampai Antioch, orang-orang  menganut  agama  Yahudi  Kristen, seperti  yang  diterangkan  oleh surat-surat para rasul dan tulisan-tulisan Clement."
 
Di Asia kecil  adanya  pengikut-pengikut  agama  Yahudi Kristen telah dibuktikan oleh surat untuk orang Galitia dan surat untuk orang  Kolose,  keduanya  dikirim  oleh Paulus. Tulisan-tulisan Papias memberi gambaran tentang agama Yahudi Kristen  di  Phrygie.  Di  negeri  Yunani, khususnya   di   Apollos,  surat  Paulus  kepada  orang Korintus menunjukkan tersiarnya agama  Yahudi  Kristen. Roma  merupakan  suatu  pusat  penting,  menurut  surat Clement  dan  Pendeta  dari  Hernias.  Di  Suetone  dan Tacite,  orang-orang  Kristen  merupakan  sekte Yahudi. Kardinal Danielou berpendapat bahwa agama Kristen  yang masuk  Afrika,  mula-mula  adalah agama Yahudi Kristen.
Ini   dikuatkan   oleh   Injil   orang    Ibrani    dan tulisan-tulisan Clement dari Alexandria.
  
Adalah  sangat  penting  untuk  mengetahui  fakta-fakta tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil-lnjil itu ditulis  pada  suasana  perjuangan antara dua kelompok. Penyebaran teks  yang  kita  punyai  sekarang,  setelah diadakannya  perubahan-perubahan  dalam teks sumbernya, dimulai sekitar  tahun  70  M,  yaitu  waktu  bentrokan antara  kedua  kelompok yang bersaingan. Pada waktu itu kelompok Yahudi Kristen  lebih  banyak.  Tetapi  dengan terjadinya  Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan jatuhnya  Yerusalem  pada  tahun  70,  keadaan  menjadi terbalik.
 
Kardinal  Danielou  menerangkan  kemunduran ini sebagai berikut:
  
"Karena orang-orang  Yahudi  tidak  dipercaya  lagi  di dalam   Kerajaan   Romawi,   maka  orang-orang  Kristen menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang tersiar  di  negeri  Yunani  mendapat  kemajuan. Paulus mendapat kemenangan  sesudah  ia  sendiri  mati.  Agama Kristen  memisahkan  diri dari agama Yahudi baik secara sosiologik maupun secara politik, dan menjadi  kelompok ketiga,  yakni  di  samping  Yahudi  dan  Kafir. Tetapi meskipun  begitu  sampai  pemberontakan   Yahudi   yang terjadi  pada  tahun  140,  agamaYahudi  Kristen  masih dominan secara kebudayaan."
 
Dari tahun 70 sampai  kira-kira  tahun  110,  timbullah empat  Injil,  yakni  yang ditulis oleh Markus, Matius, Lukas dan Yahya.  Injil  itu  tidak  merupakan  dokumen Kristen  yang pertama; sebelumnya telah ada surat-surat Paulus. Menurut O. Culmann, Paulus menulis surat kepada orang  Tesalonika  pada  tahun 50. Tetapi sudah terang, Paulus meninggal beberapa tahun  sebelum  Injil  Markus selesai ditulis.
 
Paulus  adalah  seorang  yang  banyak  dipersoalkan dan dianggap pengkhianat kepada ajaran Yesus oleh  keluarga Yesus  sendiri,  dan  oleh rasul-rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa) yang tinggal di Yerusalem dengan Jack. Paulus dianggap  telah menyiarkan ajaran-ajarannya sendiri dan merugikan para sahabat-sahabat  yang  dikumpulkan  oleh Yesus  sendiri  untuk menyiarkan ajaran-ajarannya. Oleh karena Paulus tidak pernah bertemu dengan  Yesus,  maka ia  memberi  dasar untuk perbuatannya dengan mengatakan bahwa Yesus yang telah hidup kembali setelah di  kubur, nampak  kepadanya  di  jalan  ke  Damascus.  Kita dapat bertanya-tanya bagaimana yang  mestinya  terjadi  dalam agama Kristen seandainya Paulus tidak muncul; tentu ada bermacam-macam hypotesa. Akan tetapi,  dalam  hal  yang mengenai  Injil-Injil, kita dapat mengatakan bahwa jika suasana bentrokan antara dua kelompok  yang  disebabkan oleh  ajaran  Paulus  yang  menyeleweng  itu tiada ada, tentunya kita tidak akan menemukan Injil-lnjil  seperti yang   ada   sekarang.   Karena   ditulis   pada  waktu pertentangan antara dua kelompok, maka  tulisan-tulisan perjuangan  (ecrits  de  Combat) seperti yang dinamakan oleh   R.P.   Kannengiesser,    telah    muncul    dari tulisan-tulisan  mengenai  Yesus  ketika  agama Kristen menurut ajaran Paulus telah menang dan sedang  menyusun kumpulan  teks-teks  resmi  atau Canon, yaitu teks yang menghukum segala teks lain  yang  tidak  sesuai  dengan garis  yang  dipilih  oleh  Gereja  serta menganggapnya sebagai bertentangan dengan ortodoksi.
 
Setelah  pengikut  agama  Yahudi  Kristen  tidak   lagi  rnerupakan   kelompok   yang  berpengaruh,  mereka  itu biasanya dinamakan "Yudaisants" yakni orang-orang  yang condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielou menulis:  "Orang-orang  Yudeo  Kristen terputus dari Gereja Besar yang membebaskan diri dari pengaruh Yahudi, dan  mereka itu  musnah  dengan  cepat di Barat. Akan tetapi mereka masih terdapat di Timur pada abad III dan IV, khususnya di  Palestina,  Arabia, Yordania, Syria dan Mesopotamia (Irak). Di antara  mereka  banyak  yang  memeluk  agama Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari suatu segi, lainnya mengikuti  ortodoksi  Gereja  Besar dengan  mempertahankan  kebudayaan Semit;" seperti yang masih terdapat di Ethiopia dan Babylon.
 
 
 
Sejarah empat Injil
 
III. INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA
 
Dalam karangan-karangan  yang  ditulis  pada  permulaan sejarah  agama  Kristen,  Injil  baru  disebutkan, lama sesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang  adanya lnjil-Injil  baru  terdapat pada pertengahan abad II M, dan lebih tepat lagi sesudah tahun 140, padahal  banyak pengarang-pengarang  Kristen  dari  permulaan  abad  II sudah mengetahui adanya surat-surat Paulus.
 
Pernyataan-pernyataan yang dimuat dalam  l'Introduction a la Traduction oecumeniq de la Bible Nouveau Testament (Pengantar  kepada   terjemahan   bersama   Protestant, Katolik - Perjanjian Baru) cetakan tahun 1972 tersebut, perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula bahwa buku  Pengantar  tersebut  adalah  hasil karya kolektif yang  mengumpulkan  sarjanae-sarjana   Protestant   dan Katholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.
 
Injil  yang  kemudian  menjadi resmi atau Kanonik, baru diketahui lama sesudah itu, meskipun  redaksinya  sudah selesai  pada  permulaan  abad  II.  Menurut terjemahan ekumenik orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat  Injil mulai  pertengahan  abad  II, "akan tetapi selalu sukar untuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu  disebutkan menurut    teks    tertulis    atau    hanya    menurut ingatan-ingatan fragmen daripada tradisi lisan."
 
"Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada  orang yang  mengetahui  tentang  kumpulan  fasal-fasal Injil; begitulah  yang  kita  baca  dalam  komentar   mengenai terjemahan   Bibel."   Keterangan   tersebut   di  atas bertentangan dengan apa yang  ditulis  oleh  A.  Tricot (tahun 1960) dalam komentar terjemahan Perjanjian Baru . "Dari pagi-pagi semenjak permulaan abad II,  telah  ada kebiasaan  memakai  perkataan  Injil, untuk menunjukkan fasal-fasal yang disekitar tahun 150  Yustin  menamakan memoar  para Rasul." Pernyataan yang semacam itu sangat sering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaran yang keliru tentang waktu pengumpulan Injil.
 
Injil-Lnjil  menjadi  suatu  kesatuan satu abad setelah Yesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. Terjemahan Ekumenik  Bibel mengira-ngirakan bahwa Injil yang empat itu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun170.
 
Pernyataan  Yustin yang mengatakan bahwa para pengarang Injil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat  lagi diterima  pada  waktu ini, seperti yang akan kita lihat nanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A.  Tricot menerangkan  bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah disusun sebelum tahun  70.  Pernyataan  tersebut  tidak dapat  diterima  kecuali  yang  mengenai  Markus.  Juru tafsir, A. Tricot ini, seperti juru-juru tafsir lainnya merasa  berbuat  amal  kebajikan untuk melukiskan ba hwa para   penulis   Injil    adalah    rasul-rasul    atau sahabat-sahabat   Yesus,  dan  dengan  begitu  maka  ia memajukan waktu  penyusunannya  sehingga  dekat  kepada waktu  hidupnya  Yesus. Adapun Yahya yang oleh A. Tnco t digambarkan sebagai seorang  yang  hidup  sampai  tahun 100,   orang-orang   Kristen   biasa   membaca  namanya disebutkan  dekat   Yesus   dalam   peristiwa-peristiwa penting,  akan  tetapi  sangat  sukar  untuk memastikan bahwa orang itu adalah  pengarang  Injil  yang  membawa nama  Injil  Yahya.  Rasul Yahya (sebagai juga Matius), bagi A.Tricot dan beberapa ahli tafsir  lainnya  adalah saksi   yang   cakap   dan   boleh  dipercaya  mengenai kejadian-kejadian    yang    diriwayatkannya;    tetapi kebanyakan  ahli  kritik  tidak  menerima hypotesa yang mengatakan bahwa sahabat  Yahya  itu  adalah  pengara ng Injil keempat
 
Tetapi jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secara memuaskan sebagai memoar para rasul atau  para  sahabat Yesus, darimanakah asal Injil-Injil itu?
 
O.Culmann   dalam   bukunya:  Perjanjian  Baru  (1967), Presses Universitaire de France,  menulis  bahwa  "para pengarang  Injil  adalah  juru  bicara  dari masyarakat Kristen asli yang menentukan tradisi lisan;  selama  30 tahun  atau  40  tahun,  Injil  hanya  ada dalam bentuk tradisi  lisan;  tradisi  meriwayatkan  kata-kata  atau hikayat-hikayat  yang  terpisah-pisah.  Para  pengarang Injil  menghubungkan   hal-hal   yang   terpisah   itu, masing-masing   menurut  caranya  dan  seleranya  serta perhatian   teolognya   yang   khusus.    Pengelompokan kata-kata   Yesus   sebagai  rangkaian  riwayat-riwayat dengan kata-kata penghubung yang kabur seperti: sesudah itu,  selekasnya,  dan  lain-lain  yang  terdapat dalam Injil-Injil Sinoptik9 hanya merupakan  susunan  literer dan tidak mempunyai dasar sejarah."
 
Pengarang  tersebut meneruskan: "Kita harus ingat bahwa  yang menjadi pedoman  kelompok  primitif  (asli)  dalam menentukan   tradisi  mengenai  kehidupan  Yesus  bukan perhatian terhadap sejarah  hidup  Yesus,  akan  tetapi kebutuhan  untuk  berdakwah  untuk pendidikan dan untuk beribadah.   Para   rasul    menggambarkan    kebenaran kepercayaan   yang   mereka   dakwahkan   dengan   cara meriwayatkan kejadian-kejadian dalam  kehidupan  Yesus.
Khotbah-khotbah    mereka    itulah   yang   menentukan hikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus  diriwayatkan khususnya dalam pengajaran kateketiknya Gereja asli.
 
Para  penyusun  "Terjemahan  Ekumenik  dari pada Bibel" tidak menyebutkan  mengenai  penyusunan  Bibel  kecuali terbentuknya    tradisi   lisan   di   bawah   pengaruh nasehat-nasehat  murid  Yesus  dan   juru-juru   dakwah lainnya.  Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam Injil adalah     dengan      jalan      dakwah,      liturgi, pengajian-pengajian  para  penganut  agama  yang setia. 
Kemungkinan  tersusunnya   bentuk   tertulis   mengenai kepercayaan,  kata-kata  tertentu danpada Yesus seperti Hikayat  Penyaliban  umpamanya,  para  pengarang  Injil memakai  bentuk  tertulis  bersama  dengan tradisi oral untuk menghasilkan teks yang sesuai  dengan  lingkungan yang  bermacam-macam,  untuk memenuhi kebutuhan Gereja, untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab  suci,  untuk membetulkan  yang  salah dan untuk menjawab argumentasi lawan.  Dengan  begitu  maka   para   pengarang   Injil mengumpulkan   secara   tertulis  hal-hal  yang  mereka dapatkan sebagai tradisi lisan,  masing-masing  menurut pandangan dan seleranya."
 
Sikap  kolektif yang diperlihatkan oleh 100 ahli tafsir Perjanjian Baru Katolik dan Protestant  berbeda  sekali dengan  garis  yang  ditetapkan oleh Konsili Vatikan II dalam  penyusunan   dogmatik   tentang   Wahyu,   yaitu penyusunan  yang dikerjakan antara tahun 1962 dan tahun 1965. Kita telah menyebutkan di  atas  tentang  dokumen penting  yang dihasilkan oleh Konsili tersebut mengenai Perjanjian Lama. Konsili Vatikan  II  telah  mengatakan bahwa  fasal-fasal  Perjanjian  Lama mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan  lemah  (imparfait  et  caduc), akan tetapi Konsili tersebut tidak memberikan "reserve" yang sama terhadap Injil. Sebaliknya  Konsili  tersebut menyebutkan:
 
"Semua orang tahu bahwa di antara tulisan-tulisan Kitab suci, termasuk yang  terdapat  dalam  Perjanjian  Baru, Injil-Injil menunjukkan kelebihan yang menonjol, karena Injil itu merupakan kesaksian  yang  tertinggi  tentang kehidupan  dan  ajaran kata Tuhan yang menjelma menjadi manusia, juru selamat kita.  Di  mana  saja  dan  kapan saja,  Gereja  selalu  mempertahankan bahwa empat Injil itu berasal dari para Rasul (sahabat Isa).  Injil-Injil itu  adalah apa yang telah diceramahkan oleh para Rasul dengan mengikuti perintah Yesus. Oleh karena  itu  maka para  Rasul  dan  orang-orang  yang selalu dekat dengan mereka, telah mendapat inspirasi suci dari Ruhul  Kudus dan  meriwayatkan  tulisantulisan  yang merupakan dasar kepercayaan  Kristen,   yakni   Injil,   dengan   empat bentuknya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya." "Ibu Suci (Gereja)  selalu  berpegang dengan   kuat  bahwa  empat  Injil  yang  diberi  sifat bersejarah  telah  menyampaikan  dengan  penuh   amanat segala  apa  yang  diperbuat  dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan, selama ia hidup di antara  manusia  sampai ia  diangkat  ke  langit.  Para pengarang suci kemudian menyusun Injil empat yang memberikan kepada kita segala yang benar dan jujur mengenai Yesus."
 
Kata-kata  yang  kita kutip daripada Konsili Vatikan II itu menunjukkan secara tegas  kepercayaan  bahwa  Injil telah  meriwayatkan perbuatan dan perkataan Yesus. Akan tetapi kita merasakan ketidakserasian antara pernyataan Konsili  tersebut dengan pernyataan pengarang-pengarang yang kita sebutkan sebelumnya, khususnya kata kata R.P. Kannengiesser:  "Kita  tidak boleh memahami Injil-lnjil secara  harafiah,  oleh  karena  Injil  itu   merupakan tulisan-tulisan  daripada keadaan-keadaan tertentu atau tulisan-tulisan  perjuangan   yang   penulis-penulisnya memelihara  tradisi  masyarakat  mereka  mengenai Yesus dengan tulisan."  "Injil-Injil adalah teks-teks  yang  menyesuaikan  diri dengan      bermacam-macam     lingkungan,     memenuhi kebutuhan-kebutuhan Gereja, melontarkan pikiran-pikiran mengenai  Kitab  suci,  membetulkan kesalahan-kesalahan dan  menjawab   argumentasi   lawan.   Dengan   begitu, Injil-injil mengumpulkan dan menuliskan apa yang mereka terima dari tradisi lisan, menurut  pandangan-pandangan pribadi mereka." (Terjemahan Ekumenik dari Injil).
  
Nyata sekali hahwa antara deklarasi Konsili Vatikan dan sikap-sikap yang lebih baru terdapat kontradiksi. Tidak mungkin  untuk  menyesuaikan  deklarasi Vatikan II yang mengatakan bahwa dalam Injil,  kita  menemukan  riwayat yang  jujur  tentang  perbuatan  dan  perkataan  Yesus, dengan  adanya  kontradiksi,  kekeliruan,  kemustahilan material   dan  pemberitaan  yang  bertentangan  dengan realitas ilmiah yang sudah pasti.
  
Sebaliknya, jika kita memandang Injil sebagai  ekspresi dari pandangan-pandlangan pribadi dari orang-orang yang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan yang terdapat  dalam bermacam-macam  kelompok,  kita tidak merasa heran jika kita     menemukan      dalam      Injil-Injil      itu keterangan-keterangan     yang     menunjukkan    bahwa Injil-lnjil tersebut  ditulis  oleh  orang-orang  dalam suasana  yang  telah kita terangkan di atas. Mereka itu dapat saja  merupakan  orang-orang  yang  sangat  jujur walaupun  mereka  itu  meriwayatkan hal-hal yang memuat kontradiksi  dengan  pengarang-pengarang  lain   karena mereka   sendiri   tak   pernah   merasa   curiga  akan kebenarannya, atau mungkin sekali karena ada persaingan keagamaan  antara  dua  kelompok, mereka itu menyajikan riwayat kehidupan Yesus menurut kaca mata  yang  sangat berlainan dengan kaca mata lawannya.
 
Kita  telah membaca bahwa konteks sejarah adalah sesuai dengan   cara   memandang   Injil   seperti   tersebut. Bahan-bahan  untuk  menyelidiki  Injil yang kita miliki semua menguatkan pandangan semacam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar